Pameran Karya Sekolah: Lebih dari Sekadar Promosi

Memamerkan karya anak dalam gelaran pameran karya murid di sekolah / madrasah bukan hanya soal promosi. Banyak hal yang terangkai di sana. Apa saja? Menurut Marsaria Primadona, Manajer Program Sekolah Cikal dalam Obrolan #PemimpinMerdekaBelajar Minggu (21/2), tujuan pameran karya adalah berbagi. Karena dengan berbagi itu, anak/murid bahkan gurunya akan belajar dari tanggapan yang dilontarkan. Yakni, dari mereka yang menonton atau menyaksikan pameran karya tersebut. “Selain belajar percaya diri untuk memamerkan karyanya, juga mencari umpan balik dari karya-karya tersebut,” ungkapnya.  Dipandu oleh Niamil Hida, Ketua Jaringan Sekolah Madrasah Belajar (JSMB), Primadonna atau yang akrab disapa Pima dalam acara yang diunggah dalam youtube channel Sekolah Merdeka Belajar ini juga mengatakan bahwa yang terpenting dari itu semua, justru bukan hasil atau produk akhirnya. Melainkan proses yang dilakukan anak.  Pengalamannya di Sekolah Cikal, apa yang dipamerkan anak memang bukan hanya produk akhir hasil karya anak. Tetapi juga proses dari awal sampai jadi. “Jadi anak mempresentasikan proses itu,” sambungnya. Sebelumnya Pameran ini diadakan di GSG Cikal. Tata caranya murid presentasi dan ada tamu yang dijadwalkan untuk melihat dan menyimak presentasi dari murid. Jadi murid mempresentasikan proses.  Dalam praktiknya, ia kerap menggunakan formula ATAP, yakni awal, tantangan, aksi, dan perubahan ketika melihat anak melakukan proses karyanya. Di mana anak bisa memulai sendiri karyanya, dari tugas-tugas yang diberikan di hari-hari biasa, hingga menemukan tantangan, aksi, dan memberikan refleksi atas apa yang sudah mereka mulai.  Pima menyebut konsep ini sebagai berpikir desain (design thinking). Di mana dalam menentukan karya awal yang dibuat diawali dari berempati (empathize). Yaitu wawasan utuh mengenai apa yang akan mereka kerjakan dengan alasan-alasan yang diutarakan si murid sendiri. Sebelum kemudian menetapkannya (define), menguji masalah tersebut dengan ide-ide mereka (ideate), lalu melakukan uji coba awal dan mengetesnya (prototype and testing). Setelah rentetan hal tersebut dilakukan, maka produk karya murid siap dipamerkan/diluncurkan (launch). Di setiap pameran karya selalu ada lapisan mentoring, lapisan pameran karya yang dilakukan sebagai berikut: Murid memilih Tema dengan didampingi oleh bu Pima dan Guru Kelas. Murid-murid memilih mentor. Mentor bisa dari guru subjek atau dari guru jenjang lainnya asal tetap satu sekolah. Contoh, murid SD dibimbing oleh guru TK. Intinya murid berpasang dengan mentor yang memiliki passion tema yang sama. Sinergi. Setelah memilih mentor, jenjang berikutnya mentor ini dikoordinatori oleh guru kelas. Optimalisasi. Guru-guru kelas inilah yang dimentori oleh manajer/koordinator/kepala sekolah, dalam hal ini adalah Bu Pima. Dengan adanya lapisan mentor seperti di atas, langkah pertama ialah mentor briefing menggunakan jamboard. Mentor Briefing ini dilaksanakan oleh guru kelas dan Pima. Isian kegiatanya ialah pertanyaan, jadi Pima dan guru kelas bertanya untuk brainstorming. Terkadang murid masih bertanya lagi tentang pertanyaan yang diajukan, jadi guru harus menanyakan dengan pertanyaan berlapis atau bisa disebut lebih rinci dan dapat ditangkap oleh murid. Usai brainstorming, baru membuat kesepakatan untuk menentukan kapan diskusi tentang persiapan pameran karya. Baca Juga: Lebih Penting Pameran Karya atau Memajang Nilai Murid?  Biasanya dengan kegiatan pameran karya seperti ini, guru menganggap tugas tambahan dan belum siap mengatur. Langkah yang dilakukan Pima ialah gerilya dan menanyakan ke guru apa saja yang perlu dibantu agar siap menjadi mentor. Bermula dari hal itu, Pima paham kebutuhan guru yang akan jadi mentor. Pima juga menawarkan bantuan dan siap terjun untuk membantu jika ada kesulitan di tengah mentoring. Ketika membentuk mentoring, harus ada perbandingan mentor dan murid. Agar seimbang dan sesuai target. “Bu, bagaimana cara kita berempati dengan kebutuhan murid? Saya mengajar SMK dengan 300-an murid?” tanya Bu Eka Yuliana. Di Cikal murid diberikan pilihan antara Pameran Karya atau Presentasi. Jadi tidak semua memilih pameran dan presentasi. Ada pula juga yang memilih kelompok, sebab bersinggungan dengan tugas mata pelajaran.  Dalam komunikasi yang dilakukan, murid diberikan pilihan untuk menentukan. Jika ini dilakukan di SMK, malah lebih canggih dan bisa dibentuk kepanitiaan. Jadi murid bisa dilibatkan dalam penyelenggaraan. Jika di TK, bisa melibatkan orangtua. “Itu teknik-teknik percakapan yang menggerakkan ya, Bu?” tanya Bu Umi Kalsum.  Tentu saja, harus ada komunikasi yang terjalin antarguru, orangtua, dan murid. Hal ini akan memudahkan penyelenggaraan pameran. Maupun dalam proses menuju ke sana. Proses inilah yang nantinya akan memberikan percakapan-percakapan yang semakin mendekatkan guru dan murid, maupun para orangtua.  Perkembangan saat ini, Bu Pima mengatakan memang dibutuhkan adaptasi untuk menggelar pameran karya di sekolah. Mengingat adanya pandemi dan semua dilakukan serba online. Namun menurutnya, hal itu malah menjadi keuntungan. Karena guru dan murid bisa makin kreatif dalam menyajikan proses dan hasil karyanya. (*) Silakan tonton ulang Program Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar di bawah ini.

Lebih Penting Pameran Karya atau Memajang Nilai Murid?

Pernahkah kita berpikir, apa esensi sekolah? Mengapa sekolah harus menerbitkan rapor murid dan menyerahkannya kepada orangtua? Pentingkah nilai-nilai itu? Atau, sebenarnya sekolah harusnya punya visi misi lain yang lebih bermakna? Mengapa nilai murid lebih sering dipajang, namun jarang ada pameran karya? Dalam obrolan #PemimpinMerdekaBelajar yang digelar 13 Februari 2021, hal itulah yang jadi topik pembahasan. Dipandu oleh bu Puti Almirsha, obrolan kali ini berfokus pada bagaimana sebenarnya esensi sekolah. Mengapa sekolah didirikan dan menjadi bagian belajar murid? Termasuk hubungannya dengan pameran karya sebagai instrumen pembelajaran.  Pak Bukik Setiawan, Ketua Yayasan Guru Belajar (YGB) sebagai narasumber menyatakan pemahaman yang tepat atas sekolah ini sangat penting. Apalagi, ketika dihadapkan dengan realita saat ini. Di mana, dunia sudah begitu terbuka. Sekat-sekat karir yang sebelumnya terbatasi dalam segmentasi tertentu, kini menjadi lebih cair dan beragam. “Di zaman ini, siapa yang menduga, menjadi youtuber bisa menjadi karir,” ujar Bukik.  Menurutnya, realitas yang berkembang ini harus diimbangi dengan kesadaran bahwa sekolah harus kembali mencari tujuan yang tepat. “Bagaimana sebenarnya sekolah itu?” sambungnya dalam obrolan #PemimpinMerdekaBelajar yang ditayangkan channel You Tube Sekolah Merdeka Belajar ini.  Pak Bukik mengatakan, pemahaman tentang sekolah atau madrasah ini, akan menentukan mau seperti apa output yang dicapai. Jika misalnya, sekolah dimaknai sebagai lembaga birokrasi, maka tentu saja output yang dihasilkan adalah laporan pertanggungjawaban keuangan dan program. Laporan yang disampaikan kepada lembaga birokrasi yang lebih tinggi. Begitu seterusnya.  Demikian halnya, ketika sekolah dipandang sebagai lembaga penyuplai sumber daya manusia (SDM). Maka output yang dihasilkan adalah daftar panjang tentang sejauh mana SDM dalam hal ini murid berkembang. Sebatas keterangan tentang penilaian (scoring) dan rangking.   Apakah kedua konsepsi ini tepat? Pak Bukik mengatakan realitas itu terjadi. Tapi menurutnya, sekolah seharusnya menjadi tempat pendidikan anak. Tempat anak belajar. “Pertanggungjawaban sekolah itu adalah menunjukkan bukti bahwa anak di sekolah/madrasah itu telah belajar,” ujarnya.  Dengan cara apa? Di sinilah, lanjut Pak Bukik, pameran karya bisa menjadi solusi. Di mana, pameran karya siswa akan menjadi semacam etalase sekolah untuk menunjukkan proses belajar yang telah dilakukan. Sehingga, tidak perlu menunggu sampai lulus dan menunjukkan profil lulusan mereka, sekolah/madrasah bisa memulainya dengan membuat pameran karya anak, yang bisa dikerjakan dalam rentang yang lebih pendek.  Misalnya, lanjut Pak Bukik, sekolah/madrasah bisa mendorong para guru untuk membuat check point asesmen formatif dalam bentuk karya. Waktunya bisa 1 – 3 bulan sekali. “Dan, karena ini formatif, tidak perlu di-grading atau digunakan untuk menentukan nilai akhir,” ujarnya. Yang penting, lanjutnya, pemeran karya ini diharapkan bisa menjadi bahan percakapan antar murid  maupun murid dengan gurunya. “Sekaligus bukti anak belajar di sekolah/madrasah,” bebernya.    Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Membuka Mata Stakeholder Pendidikan  Tentu, selain mempunyai fungsi idealis, yakni menjadi bukti belajar murid di sekolah, pameran karya juga memiliki fungsi pragmatis. Pak Bukik mengatakan, dalam kenyataan di lapangan, tak bisa dipungkiri sekolah/madrasah membutuhkan murid. Keberlanjutan sebuah sekolah/madrasah bergantung dari banyak sedikitnya murid. Jika banyak, maka akan lebih lama bertahan, karena dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang terkucur semakin banyak. Jika sedikit, maka akan sempoyongan berdiri karena BOS yang diterima juga sedikit.   Maka dari itu, sekolah memerlukan sebuah ‘pertunjukkan’ yang bisa dilihat oleh banyak orang. Sehingga, hasil pembelajaran di sekolah terlihat secara masif oleh para stakeholder pendidikan. Jika rapor hanya menghubungkan hasil pendidikan murid, dari guru ke orangtua masing-masing, maka pameran karya menjadi solusi agar sekolah/madrasah bisa dikenal lebih luas.  Banyak yang akan melihat, jika misalnya satu sekolah berhasil menampilkan karya murid-muridnya yang punya karakter. Daya tarik itulah yang diharapkan bisa membuat sekolah mendapatkan banyak murid. “Ini sisi pragmatisnya,” ujar Pak  Bukik.   Lihat Potensi, lalu Kolaborasi  “Jangan melihat yang tidak ada,” kata pak Bukik menjawab pertanyaan dari seorang guru yang bertanya soal hambatan penyelenggaraan pameran karya di sekolah/madrasah kampung. Dengan kondisi anggaran terbatas dan fasilitas seadanya, apalagi mungkin jaringan internet yang sulit, menyelenggarakan pameran karya memang butuh upaya ekstra. Tapi pak Bukik mengatakan yang paling penting, bukan soal itu. Tetapi bagaimana sekolah/madrasah bisa membaca apa saja yang ada dan menarik untuk menjadi karya. “Lihat potensinya,” tandasnya.  Menurut pak Bukik, misalnya di sebuah desa, orangtua murid mencari nafkah dengan menjual tempe, maka tugas anak/murid harus berkaitan dengan itu. Mulai dari proses produksi misalnya, hingga ke pemasaran dan inovasi produk. “Pekerjaan orangtua dikolaborasikan dengan tugas murid,” bebernya.  Tentang pandemi dan kegiatan yang serba virtual? Pak Bukik mengatakan, bahkan jika pameran karya dilakukan secara luar jaringan (luring/offline), maka ia menyarankan agar ada upaya untuk memvirtualisasikan atau mengunggahnya ke media-media sosial. Baik guru, orangtua, atau murid sendiri.  Karena hal itu, lanjutnya, akan berdampak pada proses mengenalkan sekolah dalam cakupan yang lebih luas. “Keterbatasan adalah kesempatan untuk kreativitas kita,” tegas pak Bukik.  Karya yang Jadi Bahan Percakapan Dalam pameran karya ini, pak Bukik menyampaikan sekolah sebaiknya memamerkan karya yang otentik. Dalam artian, merupakan karya asli murid, dengan beraneka imajinasi dan kreativitasnya.  Menukil Alfie Kohn, dalam bukunya Memilih Sekolah Terbaik Untuk Anak: Mendobrak cara ajar Tradisional (2010), pak Bukik menyatakan bahwa secara umum, yang ditampilkan sekolah/madrasah biasanya adalah artifisial. Bukan hanya saat pameran karya, tetapi juga ornamen di dinding-dinding kelas. “Biasanya buatan guru atau barang-barang pabrikan,” ungkapnya. Jika yang sajikan dalam pemeran karya demikian, maka tidak akan ketemu tujuannya. Karena buat apa menyajikan karya yang biasa. Tidak unik karena sudah diproduksi pabrik. Karena jangankan dilirik, hal itu justru tidak sehat dan memicu pandangan miring bagi pendidikan di sekolah/madrasah. “Semakin otentik, maka akan semakin jadi bahan percakapan,” ujar pak Bukik. (*)