KGB Binjai Mensosialisasikan Merdeka Belajar

Sejak akhir bulan Februari 2020, para penggerak KGB Binjai aktif melakukan sosialisasi merdeka belajar ke sekolah-sekolah. Semua ini berawal dari istilah merdeka belajar yang disampaikan Bapak Mendikbud Nadiem Makarim menjelang akhir tahun 2019. Pihak sekolah menyambut baik kedatangan para penggerak karena penasaran dengan istilah ‘merdeka belajar’. Setelah serangkaian sosialisasi yang kadang menegangkan dan melelahkan namun tetap menyenangkan, hari ini, Selasa, tanggal 10 Maret 2020, sosialisasi merdeka belajar kembali hadir di SMPN 1 Binjai pada pertemuan MGMP IPA Kota Binjai. Jumlah peserta sebanyak 28 orang guru IPA di kota Binjai. Siang itu panas sekali, namun tidak menyurutkan semangat para penggerak KGB Binjai untuk hadir di SMPN 1 Binjai. Satu per satu, penggerak hadir lalu berkoordinasi dengan pihak sekolah dan ketua MGMP IPA Kota Binjai, Bapak Joyo Martono, S.Pd. Beliau menghargai kedatangan para penggerak dan sangat berharap mendapatkan pencerahan dari sosialisasi ini. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Acara dibuka oleh Bu Lusi dengan memperkenalkan diri dan para penggerak KGB Binjai yang hadir, yaitu Pak Surya, Bu Ega, Bu Erma, Pak Arif, dan Bu Susi. Selanjutnya, Bu Lusi juga mengajak peserta untuk memperkenalkan diri secara singkat. Bu Lusi kemudian memaparkan urutan acara sosialisasi dan mengajak peserta untuk membuat kesepakatan bersama selama acara berlangsung, yaitu berpartisipasi aktif, saling menghargai, dan bersenang-senang. Berikutnya, Pak Surya menyampaikan profil singkat KGC dan KGB serta memperkenalkan Ibu Najelaa Shihab sebagai inisiator KGC dan KGB. Tidak lupa menyampaikan kehebohan TPN 2019 yang baru berlalu dengan menyajikan foto-foto kegiatan selama TPN 2019. Salah satu fotonya adalah kehadiran Bapak Nadiem Makarim di kelas TPN 2019. Profil KGB Binjai juga disajikan secara singkat. Sekaligus mengajak peserta untuk bergabung menjadi anggota KGB Binjai. Supaya lebih meyakinkan, maka Pak Arif, sebagai penggerak baru, didaulat untuk menyampaikan alasannya mengapa tertarik untuk masuk ke dalam KGB Binjai. Seperti sosialisasi yang telah diadakan sebelumnya, salah satu bagian acara yang tidak boleh tidak ada, wajib ada, adalah nobar video merdeka belajar. Untuk bagian ini, Bu Susi yang berperan sebagai fasilitator mengajak peserta melakukan refleksi.  Selesai refleksi, giliran Bu Erma menyampaikan dengan lebih spesifik tentang 3 dimensi merdeka belajar, yaitu tujuan, cara, dan refleksi. Bu Ega melengkapi penjelasan dengan memaparkan praktik baik mengajar yang pernah dilakukan secara pribadi maupun yang pernah dilakukan oleh anggota KGB yang ada di seluruh nusantara. Memasuki sesi tanya jawab, keringat bercucuran. Ruang guru tempat kita melakukan acara hanya menggunakan kipas untuk mendinginkan ruangan. Namun syukurlah, para guru tetap bertahan dan ada yang mencoba bercanda sehingga suasana terasa tetap santai walau gerah. Ibu Mastina memberikan respon bahwa dia mendapatkan pengertian merdeka belajar sebagai suatu kondisi memberikan keamanan dan kenyamanan dalam proses belajar. Kondisi merdeka adalah kondisi dimana kita merasa aman dan nyaman dalam melakukan segala sesuatu. Bu Ega mendukung pemahaman Bu Mastina sembari menambahkan peran guru adalah mengetahui potensi yang dimiliki anak dan mengarahkan anak untuk merasa merdeka mempelajari sesuatu yang menjadi bakatnya.  Pak Mukhlis mempersoalkan RPP yang sering tidak dikerjakan dengan benar. Dia memberi contoh tindakan guru yang copy paste RPP SD padahal mengajar di PAUD. Dia juga mempertanyakan KI dan KD seperti apa yang sesuai dengan merdeka belajar. Bu Ega menanggapi agar tetap mengikuti kurikulum yang ada. Mengubah kurikulum adalah sebuah proses yang membutuhkan waktu yang lama. Yang dilakukan guru merdeka belajar adalah bagaimana cara memenuhi KI dan KD sesuai dengan kemampuan dan kondisi anak. Berpihak kepada anak. Beberapa guru memberikan respon bahwa mereka masih bingung dengan konsep merdeka belajar. Selama ini, guru terbiasa mendapatkan juknis dalam mengerjakan tupoksi. Saat diminta untuk merdeka, semua kebingungan. Bu Ega memberikan ilustrasi tentang seekor ikan paus yang dikerangkeng dengan dinding kaca di dalam laut. Berkali-kali sang ikan mencoba mendobrak dinding kaca agar bisa menangkap ikan di balik kaca, namun tidak berhasil dan merasa kesakitan. Demikian terjadi selama bertahun-tahun hingga sang ikan akhirnya tidak lagi mendobrak kaca dan hanya menangkap ikan di sekitar bagian dalam kaca. Suatu hari, saat kaca tersebut diangkat, sang ikan tetap tidak berenang melewati daerah yang pernah dibatasi oleh kaca. Itulah kondisi yang sedang terjadi saat ini. Guru kebingungan karena diminta untuk ‘berenang melewati dinding kaca’. Sesuatu yang selama ini dirasakan mustahil/tidak pernah dilakukan. Karena hari sudah semakin sore, akhirnya Bu Lusi diminta untuk menutup acara. Bu Lusi  mengajak peserta menenangkan diri diiringi sebuah lagu yang dibunyikan dari telepon genggamnya. Sambilan Bu Lusi membacakan sebuah teks yang isinya mengajak peserta berefleksi tentang tugasnya sebagai guru.  Selesai acara, para penggerak berbicara santai dengan beberapa guru.  Dari percakapan, para penggerak mendapat kesan bahwa para peserta masih belum puas terhadap sosialisasi yang diberikan. Harapan para guru adalah mendapatkan semacam ‘rumus’ melaksanakan merdeka belajar. Para penggerak manggut-manggut menyadari bahwa para peserta adalah guru IPA yang umumnya memiliki cara berpikir sistematis dan terstruktur. Bagi para penggerak, hal ini menjadi sebuah refleksi. Sama seperti ketika mengajar murid atau kelas yang berbeda, maka tindakan yang diberikan juga harus berbeda, tidak bisa disamakan semua. Sosialisasi kali ini sungguh luar biasa. Tidak sabar untuk menunggu sosialisasi beikutnya. Semangat KGB Binjai! Bapak Ibu ingin mengikuti pelatihan Guru Merdeka Belajar?

Menerapkan Merdeka Belajar Yuk!

Siang hari itu cerah sekali. Matahari bersinar terang. Para penggerak Komunitas Guru Belajar (KGB) Binjai dengan semangat sudah mempersiapkan bahan dan alat di ruangan yang disediakan pihak café Seven Stars Binjai. Berbagai sumber belajar KGB diletakkan di dekat tempat duduk peserta, diantaranya Buku Memanusiakan Hubungan berisi kumpulan kisah guru yang mempraktikkan memanusikan hubungan, buku Merdeka Belajar di Ruang Kelas yang membahas konsep merdeka belajar dan cerita para guru yang sudah menerapkan merdeka belajar, Buku Literasi Menggerakkan Negeri, Buku Differensiasi, dan beberapa cetakan Surat Kabar Guru Belajar (SKGB). Semangat Guru Penggerak KGB Binjai Hari ini, Jumat, tanggal 27 Desember 2019, KGB Binjai melaksanakan TPD yang ke-12 dengan judul ‘Nobar dan Meet up KGB Binjai’. Acara seharusnya dimulai jam 13.30, sesuai dengan waktu yang tertulis di brosur. Namun saat ini, waktu telah menunjukkan jam 14.00, tetapi masih belum ada peserta yang hadir. Para guru penggerak sempat gelisah, namun tidak berputus asa. Para guru penggerak pun mulai menghubungi peserta yang telah mengkonfirmasi untuk hadir. Banyak yang mengatakan akan datang terlambat. Para penggerak akhirnya menunggu lagi. Saat jam menunjukkan pukul 14.30, satu per satu peserta mulai muncul. Tidak disangka, akhirnya ada 6 peserta yang hadir. Menjelang jam 15.00 sore, TPD pun dimulai. Kegiatan dibuka oleh Pak Surya. Pak Surya mengajak peserta untuk melakukan yel-yel Merdeka Belajar. Setelah itu, satu per satu peserta diminta untuk memperkenalkan diri. Tidak disangka beberapa peserta yang hadir adalah guru-guru berprestasi yang telah memenangkan beberapa penghargaan. Setelah perkenalan diri selesai, Pak Surya mengajak semua untuk menonton bersama video Merdeka Belajar. Para peserta terlihat mengangguk-angguk saat Bu Najelaa memaparkan tentang Merdeka Belajar di dalam video yang ditayangkan. Setelah video selesai, belum diadakan diskusi, karena waktu yang tidak memungkinkan. Café hanya menyediakan tempat hingga jam 18.00. Karena setelah jam 18.00, ada yang menyewa ruangan yang dipakai saat ini. Pak Surya menjelaskan kepada peserta bahwa kita akan mengadakan diskusi dan tanya jawab setelah materi Merdeka Belajar disampaikan oleh Bu Ega. Bu Ega menyampaikan dengan antusias materi Merdeka Belajar yang telah disampaikan oleh Pak Bukik, ketua Kampus Guru Cikal, dan Pak Usman, Ketua KGBN, di grup Telegram pada Temu Pendidik Spesial tanggal 15 Desember 2019. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Setelah pemaparan materi selesai, tidak disangka peserta sangat bersemangat memberikan respon. Para penggerak menjadi terpacu untuk menjelaskan lebih banyak hal kepada peserta. Waktu seakan tidak cukup. Pak Firman merespon sangat positif terhadap apa yang disampaikan di video Merdeka Belajar. Pak Firman berharap semua yang disampaikan dalam video dapat tercapai. Penyederhanaan administrasi sangat penting. Menurutnya, kesejahteraan guru dapat mempengaruhi tercapainya standar dalam pendidikan. UN memang sebaiknya diganti. Perlu adanya penilaian karakter, penekanan di literasi dan numerasi, serta assessment yang benar. Terakhir, Pak Firman membuat kita geli. Karena saking semangatnya merespon, Pak Firman lupa akan pertanyaan yang hendak disampaikan. Bagaimana Menerapkan Merdeka Belajar? Bu Lia mempertanyakan lebih lanjut tentang Tujuan, Cara, dan Refleksi dalam menerapkan Merdeka Belajar. Mengingat kurikulum yang harus dikejar, kondisi kelas yang beragam, dan motivasi belajar sebagian murid yang rendah. Setelah dijelaskan para penggerak, ternyata Bu Lia mengatakan bahwa selama ini dia sudah melakukan berbagai variasi strategi dalam mengajar. Namun belum sampai tahap melibatkanmurid. Hal ini menjadi sesuatu yang baru dan menantang baginya. Bu Lia juga merespon tentang dana yang dibutuhkan untuk sarana dan prasarana menerapkan Merdeka Belajar. Untuk hal ini, disarankanuntuk kembali melihat apa tujuan pembelajaran. Apakah peralatan yang mahal diperlukan. Belajar seharusnya tidak mahal. Semua bahan belajar tersedia di sekeliling kita. Kisah Pak Nuno Riza yang mengajar komputer tanpa sarana komputer di sekolah pun disampaikan agar para guru jangan mau terhalang oleh sarana pra sarana saat mengajar. Kesadaran untuk Menerapkan Merdeka Belajar Bu Susi mempertanyakan bagaimana membuat guru sadar untuk menerapkan Merdeka Belajar. Para penggerak KGB Binjai menceritakan pengalaman selama menjalankan KGB. Memang tidak mudah, namun harus terus diupayakan. Dengan terus berbagi praktik baik dalam pengajaran. Bu Susi juga mempertanyakan tentang berbagai komunitas guru, MGMP, dan beberapa aturan dalam pemerintah yang menyulitkan gerakan guru. Para penggerak menceritakan bagaimana KGB hadir karena keresahan para guru. Perjuangan belum selesai. Para penggerak mengajak peserta untuk terus bergerak bersama. Bu Lusi memberikan dukungan kepada KGB. Saran yang diberikan adalah agar KGB memberikan program konkret yang memenuhi kebutuhan anggota. Bagi penggerak, TPD kali ini cukup spesial karena respon yang penuh semangat dari peserta. Waktu sudah tidak memungkinkan lagi, namun masih banyak yang ingin dibahas. Peserta diajak untuk mengikuti TPD yang akan datang. Juga diajak untuk menulis di SKGB, membagikan praktik baikpengajaran yang pernah dilakukan. Belajar Melalui Temu Pendidik Daerah Guru Penggerak KGB Binjai menawarkan untuk melaksanakan kelas kemerdekaan di Temu Pendidik Daerah (TPD) mendatang, disambut dengan penuh antusiasme oleh peserta. Penggerak KGB Binjai sungguh mengucap syukur melihat antusiasme para peserta kali ini. Kelelahan pasti karena mempersiapkan kegiatan ini di tengah tengah padatnya kegiatan akhir tahun. Tapi semua terbayarkan saat melihat wajah-wajah para peserta yang penuh semangat setelah TPD selesai. Terima kasih Bapak Ibu guru. Semangat kalian terasa mengalir juga kepada kami. Ayo, mari kita terus bergerak untuk anak didik kita semua. Salam Merdeka Belajar! Sampai jumpa di TPD KGB Binjai yang selanjutnya! Anda masih penasaran tentang penerapan merdeka belajar? Yuk ikuti pelatihan daring Klik:

Kecerdasan Potensial Anak?

Komunitas Guru Belajar Binjai mengadakan Temu Pendidik (Mudik) Daring di tengah masa liburan. Tidak disangka, banyak yang tertarik untuk berpartisipasi pada mudik 27 Desember 2018 lalu. Diskusi bahkan masih berlangsung setelah waktunya selesai. Ada yang kesulitan sinyal karena sedang hujan deras. Namun syukurlah mudik berjalan dengan baik. Narasumber kita kali ini adalah Guru Ayu. Guru Ayu adalah lulusan UIN Jakarta. Saat ini mengajar di SMP PABA Binjai, Pelajaran Prakarya dan Pendidikan Kewarganegaraan, juga bertanggung jawab di bidang kesiswaan. Guru Ayu memulai materi dengan memberikan sebuah pertanyaan menarik. Apa itu kecerdasan? Beberapa peserta mencoba memberikan jawaban. Selanjutnya Guru Ayu menjelaskan, menurut seorang psikolog, yaitu Dr. Howard Gardner, manusia itu bisa memiliki lebih dari satu kecerdasan atau yang sekarang kita kenal dengan teori multiple intelligence/kecerdasan majemuk. Dengan mengetahui potensi kecerdasan yang dimiliki oleh anak, akan membantu pendidik dalam mendukung perkembangan kecerdasan anak dengan lebih baik lagi. Ada 9 kecerdasan yang berpotensi dimiliki oleh seseorang: Kecerdasan Linguistic  Kecerdasan ini menjelaskan tentang kemampuan anak dalam memahami, mengolah dan mengutarakan kata. Anak mampu memahami bahasa dengan mudah, daya ingat terhadap kosa kata banyak, suka membaca , dan lainnya. Kecerdasan Logic-Math Dikenal juga sebagai kecerdasan logis matematik. Kecerdasan ini menerangkan kemampuan anak dalam berfikir logis, mampu berfikir secara matematis, cepat dalam hitung menghitung, mampu memahami data yang berkaitan dengan angka, mampu merespon dan memproses data secara spontan dan cepat. Kecerdasan Visual Spatial Kecerdasan ini menjelaskan kemampuan anak dalam mengingat letak, bentuk, warna suatu objek. Anak mampu memvisualisasikan hal-hal yang pernah dilihat ataupun dialami dan punya kemampuan navigasi yang baik. Kecerdasan Musical Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan anak mengenali nada, suara, ritme, dsb. biasanya apapun yang dilakukan anak, akan terasa lebih baik jika dibarengi dengan musik. Kecerdasan Kinesthetic Kecerdasan ini menjelaskan tentang kemampuan anak dalam menggunakan anggota tubuhnya sesuai fungsi. Kemampuannya mengontrol gerak tubuhnya, mengkoordinasikan segala gerak tubuh sesuai dengan kebutuhannya. Kecerdasan Interpersonal Kecerdasan ini menjelaskan tentang kemampuan anak dalam memahami orang-orang di sekitarnya. Kemampuan anak dalam memilah sikap dan tindakan dalam bersosialisasi maupun dalam menanggapi orang-orang di sekelilingnya. Melalui kecerdasan ini, sikap empati anak timbul. Kecerdasan Intrapersonal Kecerdasan ini menjelaskan tentang kemampuan anak dalam memahami kebutuhan diri, mengontrol dirinya dan mengetahui apa yang harus dia lakukan untuk membuat perubahan. Kecerdasan Naturalis Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan anak dalam memahami bahwa kehidupan di alam ini merupakan elemen yang saling terhubung dimana makhluk hidup lain juga memiliki perasaan yang sama, yaitu rasa ingin disayang, dilindungi, merasa aman dan damai. Dengan kesadaran itu membuat anak faham bahwa apa yang dia lakukan terhadap alam akan berdampak pula pada kehidupannya. Kecerdasan Spiritual atau Eksistensi Kecerdasan ini menjelaskan tentang kemampuan anak dalam memahami tujuan hidupnya berdasarkan kaidah spiritualnya. Anak memahami apa yang harus dan yang tidak harus dia lakukan sesuai dengan tingkat spiritualnya (hubungannya dengan tuhannya). Kecerdasan ini sebenarnya melingkupi kedelapan kecerdasan sebelumnya karena setiap kecerdasan sebelumnya pada akhirnya akan mengembalikan pola pikir anak tentang spiritualitasnya (keimanannya). Nah, termasuk kecerdasan manakah anak didik kita? Dengan mengetahuinya, akan lebih mudah bagi kita untuk mengarahkan anak didik untuk belajar dengan menggunakan kecerdasan yang dimilikinya. Untuk mengetahui kecerdasan potensial anak, ada yang menganalisa melalui sidik jari dan ada juga tes lainnya. Namun penting untuk diperhatikan, walaupun kita mengetahui kecerdasan potensial anak melalui berbagai tes, kecerdasan itu tidak akan berkembang jika lingkungan tidak mendukung. Jadi Bapak Ibu pendidik, mari kita mengamati dengan lebih baik lagi anak-anak didik kita. Apa potensi yang mereka miliki? Bagaimana kita membantu mereka mengembangkan potensi tersebut? Temu Pendidik dilanjutkan melalui sesi tanya jawab Guru Gusik : Dalam diri seorang anak terdapat berapa kecerdasan ya Bu Widayu?Apakah semuanya ada ataukah beberapa saja? Guru Ayu : Dalam satu individu bisa saja memiliki kesembilannya. Tapi jikapun memiliki kesembilannya, pasti ada yg lebih dominan diantara semuanya. Namun pada umumnya, setiap orang pasti memiliki kecerdasan lebih dari 1 kecerdasan. Guru Gusik : Untuk mengetahui dominan yang mana apakah ada test ataukah hanya dengan pengamatan saja bu? Guru Ayu : Sejauh ini saya melakukannya melalui analisa. Kalaupun tes, biasanya saya tesnya non formal. Guru Rianty : Apakah faktor gen dari orang tua dominan mempengaruhi kecerdasan potensial anak? Guru Afrida : Apakah kecerdasan seorang anak bisa terbentuk dari lingkungan nya ataupun berdasarkan pengalaman ? Guru Ayu : Kalau menurut saya,, gen bisa mempengaruhi,, tapi lingkungan dan pengalaman lapangan lebih banyak mempengaruhi,, buu.. Guru Rianty : Oke Bu terima kasih, jadi lingkungan dan pengalaman yg seperti apa yg sangat mendukung dalam terbentuk nya kecerdasan seseorang anak ? Guru Ayu : Standar atau patokan bakunya tidak ada buu.. Krna ada orang yg bisa memiliki kecerdasan majemuk dg baik di lingkungan yg krg baik dg pengalaman yg berat (menurut kita).. Ada juga yg memiliki kecerdasan majemuk di lingkungan yang serba nyaman dan pengalaman lapangan yg tidak lbh berat. Guru Afrida : Berarti belum bisa jadi penentu ya Bu ? Cerdas atau tidaknya mereka ? Guru Ayu : Tidak ada patokan yang baku, semuanya masih relatif. Bergantung kita (sebagai pengarah) mengarahkan anak pada kecerdasan potensial yang mana yang dimiliki anak. Guru Afrida : Berapa besar persentase pengaruh gen dan lingkungan?  Karena saya pernah mendapatkan murid yang secara kemampuan menceritakan tentang game yang disukainya sangat berbeda dengan kecerdasan emosionalnya. Guru Ayu : Kalau persentase, saya belum pernah mengambil data, jadi saya belum bisa menjawab Guru Rinesha : Ada anak remaja suka sekali dengan olah raga (kecerdasan kinestetik), namun tidak tertarik atau  merasa stress dengan pelajaran matematika. Apakah kita harus memfokuskan pada kinestetik saja untuk mengoptimalkan kemampuannya dan tidak terlalu menekannya dalam matematika? Mengingat di Indonesia, kurikulumnya begitu berat, banyak sekali mata pelajarannya dan ada KKM pula. Guru Ayu : Kita harus pahami dulu, apa yang membuatnya merasa stress ketika menghadapi Matematika? Setelah tahu, kita baru bisa menentukan pendekatan yang membantu dia untuk memahami materi Matematikanya. Meski tidak sepenuhnya memenuhi yang sesuai kurikulum, setidaknya kita buat dulu dia nyaman dan enjoy, baru kita bisa menemukan lagi cara untuk meningkatkan kemampuan Matematikanya. Sedangkan untuk kinestetiknya tetep difokuskan, tapi dengan kontrol juga, tidak dilepas begitu saja.. Guru Ayu memberikan satu quote sebagai penutup Dalam diri setiap anak, pasti ada minimal satu kecerdasan, jangan biarkan satu anak pun terabaikan. Mari terus semangat … Read more