Banyak Program Gemar Membaca, Murid Masih Sulit Mengeja, Solusinya?
Suhud Rois Jauh sebelum gerakan literasi menjadi viral, di awal menjadi guru (awal dekade 2000-an), untuk kelas yang saya pegang, saya sudah punya program membaca setiap pagi. Persis seperti sekarang yang banyak dipraktikkan, yakni sebelum mulai jam reguler. Waktu itu saya sangat yakin akan pentingnya kebiasaan membaca. Tentu saja sampai saat ini saya pun masih tetap yakin. Begitu bersemangatnya, saya sampai membawa beberapa koleksi pribadi ke kelas dan selalu menyempatkan berburu koleksi bacaan yang cocok bagi anak-anak. Tak ketinggalan, saya mengerahkan orang tua –lewat anak-anak tentu saja― untuk merelakan sebagian buku bacaan disimpan di kelas. Mendapat beragam bacaan, anak-anak tentu saja antusias. Menceritakan hal-hal asyik dari sebuah buku menjadi sarana efektif memantik rasa penasaran anak-anak, yang mendorong mereka membaca dan membaca lagi. Tentu saja hati saya berbunga-bunga. Keinginan saya menyebarkan kegemaran membaca tercapai sudah. Wow! Sama sekali tidak ada yang salah dengan kegiatan membaca. Namun apa yang saya lakukan, seiring berjalannya waktu, memunculkan titik-titik jenuh. Semakin lama, titik-titik itu semakin banyak dan membesar. Awalnya saya berpikir itu sebuah kejenuhan yang wajar. Untungnya, saya cepat sadar. Ada sesuatu yang salah. Bukan semua. Bukan kegiatan membacanya yang salah. Sesuatu yang lain. Apa itu? Saya belum tahu. Suhud Rois Fenomena itu membuat saya harus berhenti sejenak. Saya perlu jeda untuk melangkah lebih jauh. Jeda yang saya maksud tidak dengan menghentikan kegiatan membaca. Alih-alih menghentikan, saya justru mencari kegiatan lagi yang dilakukan setelah membaca. Ide-ide beterbangan. Muncul sangat banyak dan dari berbagai sumber. Saya sangat bergairah kalau sudah begini. Maka, kegiatan membaca bertambah. Bukan sekadar membaca, ada kegiatan setelahnya. Menuliskan kembali isi buku tidak saya masukkan sebagai alternatif kegiatan. Itu sudah sangat mainstream dan punya potensi besar membuat kebosanan. Saya cari ide-ide yang lebih “gila”. Menurut saya, hal terpenting membaca bukan mengerti apa yang dibaca. Saya ulangi: hal terpenting membaca bukan mengerti apa yang dibaca. Kok? Ada yang lebih penting dari mengerti apa yang dibaca, yaitu mendapatkan ide baru. Ini bukan lagi penting, tapi sangat penting. Setidaknya menurut saya. Ide adalah barang mahal. Tidak semua kelas dan sekolah bisa menghadirkan ide-ide baru dalam proses belajarnya. Nah, membaca harus menghasilkan ide. Itu yang saya pikirkan. Bahkan membaca cerita fiksi pun harus membuat anak berkembang kreativitasnya. Ternyata, ketika satu pintu terbuka, maka pintu-pintu yang lain akan terlihat dan terbuka. Kita tinggal memasukinya. Ketika saya mencoba sebuah kegiatan setelah membaca, maka saya menemukan alternatif kegiatan yang semakin beragam. Dimulai dengan meneruskan cerita versi anak-anak, saya punya ide-ide lain. Misalnya, dibalik ceritanya. Misalnya bagaimana jika tokoh antagonis menjadi tokoh protagonis, dan sebaliknya. Mendapat sesuatu yang baru, anak tertantang. Mereka antusias dan bebas mengembangkan imajinasinya. Satu hal lagi yang saya pelajari, yakni tantangan. Anak-anak perlu tantangan. Sadar bahwa anak-anak selalu butuh tantangan dan hal baru, maka kegiatan setelah membaca pun beragam. Beberapa yang saya ingat adalah:1. Merancang kaus sesuai dengan karakter tokoh2. Membuat menu makan siang kesukaan tokoh3. Menulis surat kepada penerbit tentang buku yang dibaca4. Membuat cover baru5. Kalau ceritanya difilmkan, siapa aktor dan aktris yang cocok memerankan tokohnya?6. Kalau kamu jadi tokohnya, apa yang kamu lakukan? Mengapa?7. Kalau kamu jadi penulisnya, bagaimana membuat akhir ceritanya lebih dramatis?8. Membuat boneka9. Membuat buku pintar10. Tidak mungkin saya sebutkan semuanya. Semua kegiatan itu ada benang merahnya. Benang merahnya adalah hal tersebut tidak akan dapat dilakukan kalau anak sekadar mengerti apa yang dibacanya. Anak harus punya ide baru, seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Ini saya sebut mengikat makna. Sesuatu ada maknanya kalau mempunyai daya guna. Sebuah bacaan akan bermakna kalau mempunyai daya menggerakkan pembacanya. Membaca akan bermakna bila setelahnya muncul kekuatan untuk bergerak dan produktif. Ketika di usia sekolah dasar mereka mendapatkan stimulasi seperti di atas, perubahan besarnya tidak akan tampak dalam waktu singkat. Yang jelas kelihatan adalah kegembiraan dan antusiasme saja. Namun, dampaknya akan terlihat beberapa tahun ke depan. Saya yakin. So, kegiatan literasi tidak boleh berhenti pada titik membaca dan melaporkan isi bacaan. Membangun generasi literat harus dimulai dari dini, dengan kegiatan yang lebih terstruktur. Jadikan membaca sebagai kegiatan literasi yang menumbuhkan, bukan sekadar prestise yang diukur dengan kuantitas semata tapi miskin kualitas. Itu baru dalam tataran membaca. Keterampilan literasi yang lain juga harus dikembangkan. Literasi bukan sekadar membaca tulisan, tetapi juga membaca tanda-tanda. Tanda yang dimaksud bisa berupa papan petunjuk atau peringatan, bahasa tubuh, mimik muka, gejala-gejala sosial, sampai tanda-tanda (gejala-gejala) alam. Rofiqoh Wah benar-benar membuka mata kita bahwa keterampilan literasi tidak hanya sebatas membaca saja Sepertinya bapak ibu disini sudah tidak sabar ingin bertanya kepada narasumber kita malam ini. Rofiqoh Untuk itu, bagi bapak ibu yang ingin bertanya kami persilahkan untuk 3 penanya terlebih dahulu.. Boleh acungkan tangannya🖐 Makhmudah . Saya mengajar di kelas 1 jumlah siswanya Ada 15 anak. Ada 6 anak yang belum bisa baca dan tulis. Namun, berjalannya waktu saya coba lebih fokus untuk belajar menulis terlebih dahulu kemudian membaca. Perlahan-lahan kemampuan menulisnya membaik. Namun, dalam membaca untuk membuat anak menghafal a b c d (abjad ) ini saya masih kebingungan bahkan susah membedakannya dan cenderung lupa. Karena, ada beberapa anak yang sulit fokus. Bagaimana ya bu/bapak untuk menangani dan membantu anak-anak supaya kemampuan membaca dan menulis menjadi berkembang lebih baik? Rofiqoh Untuk Pak Suhud, saya persilahkan untuk bisa langsung menjawab pertanyaan dari bu Makhmudah terlebih dahulu Pupu Siti Marpuah Assalamualaikum selamat malam Pak senang bisa bergabung disini. tahun ini saya mendapat kepercayaan untuk mengajar kelas 1 dan semenjak 8 tahun mengajar baru kali ini mengajar kelas 1. di kelas saya ada 24 anak.. pertanyaan yang saya ajukan.. lebih baik manakah qt lebih memfokuskan belajar menulis atau membaca dan pertanyaan kedua ada beberapa murid yang sudah lancar membaca bacalah 2 tapi ketika diperintahkan untuk menulis satu kata dia seperti kebingungan bahkan bertanya hurufnya apa saja.. saya jadi bingung sendiri Pak kenapa bisa begitu apakah menggunakan bacalah sudah tepat atau seperti apa yang lebih baik dalam mengajarkan membaca.. terima kasih Pak😊 Suhud Rois Kalau pengalaman saya, di rumah maupun di kelas, ketika anak sudah bisa membaca, maka ia bisa juga menulis. Kemampuan membaca dan menulis tiap anak tidak sama. Ini yang harus dipahami. Penyebabnya pun ada beberapa hal. Bisa jadi ada hambatan khusus, disleksia … Read more