Menyusun RPP PJJ Merdeka Belajar
Pada hari Selasa tanggal 23 Juni 2020. Komunitas guru Belajar Pesisir selatan mengadakan Temu Pendidikan Sekolah (TPS) yang ke-1 di UPT SDN 01 Pancung Soal. Saya (Yeni Fitri) sebagai narasumber penyusunan RPP Satu lembar dan RPP PJJ. Acara ini diselenggarakan dalam rangka Lokakarya Guru UPT SDN 01 dan 05 Pancung Soal. TPS dihadiri 22 orang peserta. Peserta terdiri dari majelis guru UPT SDN 01 Pancung Soal, dan majelis guru UPT SDN 05 Pancung Soal. Dimoderatori oleh ibu Ferlindiati, S.Pd selaku Kepala UPT SDN 05 Pancung Soal. Koordinator acara ini ibu Suryati Ningsih, S.Pd selaku Kepala UPT SDN 01 Pancung Soal. TPS ini merupakan kegiatan hari kedua lokakarya bagi majelis guru UPT SDN 01 dan UPT SDN 05 Pancung Soal. Setelah sebelumnya mereka membahas tentang instrumen dan kelengkapan bahan penyusunan KTSP di satuan pendidikan yang dipandu oleh ibu Ita Jumaidarti, S.Pd selaku Pengawas UPT SD Kecamatan Pancung soal. Walaupun ini merupakan hari kedua lokakarya. Namun semangat dan kemauan para majelis guru UPT SDN 01 dan SDN 05 Pancung Soal untuk terus belajar tetap berkobar. Dapat dilihat dari antusiasnya peserta dalam mengikuti lokakarya. Terbukti dengan hadirnya seluruh majelis guru dari kedua sekolah tersebut. Walau ada beberapa orang guru dari UPT SDN 05 Pancung Soal yang terlambat hadir karena ada keperluan lain. Namun mereka tetap menyempatkan diri untuk hadir dan belajar bersama di ruang pertemuan UPT SDN 01 Pancung Soal ini. Karena ini sudah merupakan hari kedua dari kegiatan lokakarya. Maka acara pembukaan dari moderator tidak terlalu panjang lebar, dan kata sambutan dari koordinator pun disampaikan dengan singkat dan padat. Beliau berharap agar peserta dapat mengimplementasikan ilmu yang telah didapat. Baik itu terkait dengan merdeka belajar. Maupun cara pembuatan RPP Merdeka Belajar dan RPP PJJ yang nantinya akan disampaikan oleh narasumber. Saya mengenalkan dulu konsep merdeka belajar yang telah dicetuskan oleh Kampus Guru Cikal (KGC) dan Komunitas Guru Belajar (KGB). Saya menanyakan persepsi dari rekan guru yang hadir terlebih dahulu. Apa konsep merdeka belajar yang selama ini mereka tau dan mereka dengar. Ada yang berpendapat bahwa merdeka belajar itu murid bebas dalam belajar. Adapula yang mengatakan bahwa merdeka belajar itu kebebasan bagi guru dalam mengajar. Melengkapi pendapat sebelumnya guru Vhera dari UPT SDN 05 Pancung Soal ikut berpendapat bahwa merdeka belajar itu kebebasan bagi guru dalam memilih proses pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan murid Terkait dengan konsep merdeka belajar, saya mengenalkan tentang KGB dan KGC kepada para peserta workshop, apa itu KGB dan KGC. Apa saja yang dihadirkan KGC untuk membantu meningkatkan kompetensi guru. Serta praktik baik rekan guru di seluruh Nusantara yang tergabung dalam anggota KGB dan pengalaman saya selama bergabung dengan KGB. Hal ini sebagai gambaran bagi peserta TPS untuk ikut bergabung dan belajar bersama di Komunitas Guru Belajar (KGB). Untuk lebih memberikan pemahaman dan kesamaan persepsi tentang merdeka belajar dan Guru Merdeka Belajar. Saya mengajak peserta Temu Pendidik Sekolah (lokakarya) melakukan Nobar Guru Merdeka Belajar. Menonton video pemaparan ibu Najelaa Shihab pada Temu Pendidik Nusantara (TPN) tahun 2016. Peserta tampak antusias sekali dalam menyaksikan video tersebut. Setelah selesai menyaksikan video Guru Merdeka Belajar, saya mengajak para peserta untuk berefleksi tentang miskonsepsi Guru Merdeka Belajar. Dari sekian banyak miskonsepsi Merdeka belajar yang dikemukakan oleh ibu Elaa, kira-kira poin mana yang mencerminkan diri peserta. Banyak diantara peserta yang mengaku bahwa mereka masih terjebak dalam miskonsepsi belajar. Belajar jika hanya ada perintah dari atasan, belajar jika hanya mendapatkan sertifikat, belajar jika hanya ada uang transportasi dan akomodasi, dan lain sebagainya. Peserta masih merasa merupakan cerminan dari. Dari sini saya mengajak rekan guru yang hadir pada saat itu untuk melakukan perubahan. Berubah menjadi Guru yang Merdeka Belajar, yang bisa membawa perubahan terhadap proses belajar peserta didik. Saya juga sampaikan konsep pendidikan KI Hajar Dewantoro. Guru adalah teladan dan panutan bagi muridnya, untuk itu kita harus mampu menjadi guru yang belajar agar murid kita juga bisa menjadi murid yang belajar. Guru harus menjadi guru merdeka belajar, supaya murid juga bisa menjadi murid yang merdeka belajar. Kegiatan dilanjutkan dengan cara penyusunan RPP satu lembar. MembahasSurat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 14 tahun 2019. Disini saya sampaikan kembali bahwa esensi RPP satu lembar bukan terletak di banyak lembarannya, tetapi bagaimana kita guru mampu merancang proses pembelajaran yang berorientasi dan berpihak pada murid. Di KGB RPP ini dikenal dengan istilah RPP Merdeka Belajar. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Saya juga sampaikan penyusunan RPP Merdeka Belajar ini harus memperhatikan profil murid. Semuanya dapat dituangkan dalam Kanvas Strategi Pembelajaran yang merupakan alat bantu dalam penyusunan RPP. Saya tayangkan dan sampaikan kepada peserta apa itu Kanvas strategi pembelajaran. Apa-apa saja poin yang terkandung di dalamnya, serta bagaimana cara menyusunnya. Pada saat saya menyampaikan cara memetakan profil murid, ada peserta yang bertanya. Apakah profil tersebut boleh ditambah dengan poin lain, selain pekerjaan orang tua minat dan cara belajar? Jawabannya boleh, sesuai dengan kebutuhan kita. Kemudian ada juga peserta yang bertanya bagaimana jika minat anak itu banyak, tidak hanya 3 itu saja. Saya jelaskan kembali, untuk kesemuanya itu kita bisa pilih yang mayoritas dulu. Dan ketika sampai pada pemaparan materi pemilihan strategi pembelajaran. Saya sampaikan Strategi 5M Kampus Guru Cikal dalam memilih strategi pembelajaran yang berpihak kepada murid. Tampak sekali antusias peserta dalam mengikuti kegiatan ini. Hal ini dapat dilihat dari banyak nya pertanyaan, sanggahan, serta masukan dan pendapat tentang strategi ini. Seperti saat saya sampaikan strategi 5 M dengan memilih tantangan sesuai dengan bakat dan kemampuan. Bahwa dalam proses pembelajaran kita harus memperhatikan kemampuan murid yang beragam. Maka proses dan evaluasi juga bisa beragam, sesuai dengan kemampuan murid. Hasil pembelajaran tidak hanya mengutamakan capaian akhir, tetapi juga proses yang sudah dilakukan murid. Disini saya mendapat sanggahan dari salah seorang guru SDN 01 Pancung soal ibu Sri Desmiati. Beliau berkata bagaimana kita tidak mengutamakan hasil akhir, sedangkan kita dituntut dengan capaian KKM yang harus dituntaskan murid. Saat ini murid tidak dibenarkan untuk tinggal kelas. Semua murid harus mencapai KKM. Sehingga murid yang tidak mampu disulaplah nilai nya untuk mencapai KKM tadi. Hal ini jelas sekali bertentangan dengan prinsip 5M. Disinilah letak kekeliruan kita selama ini. Kita … Read more