Tutor Merdeka Belajar – Memang Bisa?

Pendidikan Kesetaraan kian diminati oleh masyarakat Banda Aceh. Selain proses belajar yang efisien, materi pelajaran yang diajarkan juga tidak terlalu menuntut peserta didik, tidak seperti sekolah formal pada umumnya. Sehingga kebanyakan peserta yang mendaftar ialah yang sedang bekerja. Melihat kondisi ini, sangat diperlukan Pengajar / Tutor yang tidak biasa pula, tutor yang merdeka belajar. Namun faktanya, Tutor di tempat saya mengajar masih sangat konservatif dan meremehkan kepentingan tujuan dasar pendidikan, bahkan termasuk saya sendiri. Hal ini pula yang mendasari saya mengajak rekan-rekan Tutor, baik yang di Sekolah Pendidikan Non Formal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Banda Aceh maupun tidak, agar bergabung dengan Komunitas Guru Belajar (KGB) untuk saling membagi ilmu, mengamalkan ilmu, dan menyerap ilmu. Nonton Bareng (Nobar) Guru Merdeka Belajar adalah kegiatan pertama yang berhasil saya adakan pada tanggal 06 September 2019 di SPNF SKB Kota Banda Aceh. Kegiatan ini diikuti oleh Tutor-tutor Bantu sebagai tenaga pengajar di lembaga tersebut. Saya belum bisa mengundang Tutor dari lembaga lain karena instruksi yang diberikan oleh Kepala Sekolah SPNF SKB Kota Banda Aceh, Pak Budi Pramono, agar kegiatan nobar merdeka belajar ini dikhususkan kepada tutor di lembaga sendiri terlebih dahulu. Mungkin untuk tahap selanjutnya akan diadakan dalam skala luas.  Rangkaian acara yang direncanakan akan dimulai pukul 09.00 WIB telah saya persiapkan mulai dari pembukaan, ice breaking, materi yang akan disampaikan, slide presentasi, refleksi yang akan ditampilkan, perkiraan pertanyaan serta jawaban yang akan diberikan. Akan tetapi, ketika saya tiba di kantor, rekan-rekan saya mengajak untuk nongkrong terlebih dahulu. Maka berubahlah ide ice breaking tadi menjadi bersantai di warung kopi sambil menikmati pemandangan dan sarapan. Dan ternyata sangat membantu saya dalam menyampaikan materi ketika acara dimulai.  Sekitar pukul 10.00, kami sudah tiba kembali di kantor. Saya langsung mempersiapkan segala alat yang diperlukan; proyektor, laptop, speaker, dan alat tulis untuk refleksi. Alhamdulillah, rekan Tutor membantu saya menyiapkan tempat duduk dan perlengkapan juga untuk mendukung nobar merdeka belajar. Sebelum saya membuka acara, saya pastikan terlebih dahulu teman-teman sudah siap mendengarkan apa yang akan disampaikan. Ada yang sudah siap dengan memeluk bantal, dengan melipat tangan di atas meja, bahkan ada yang sudah santai dengan kaki terlipat di bangku depan. Setelah memastikan peserta siap mendengarkan, saya memulai acara dengan pembukaan salam dan menanyakan kabar. Dikarenakan pesertanya juga teman-teman saya sendiri, maka gaya yang saya bawa pun santai dan tidak terlalu menekan. Pertama, saya memulai acara nonton bareng ini dengan menanyakan teman-teman saya apa itu merdeka. Berikut jawaban yang diberikan teman-teman: “Bebas, Mentari” jawab Pak Ade, Tutor Penjas. Bu Laida, Tutor Sosial, menjawab “Tanpa ada ikatan!”  “Tidak ada hambatan”, ujar Pak Munawir, Tutor Penjas. Saya membenarkan untuk semua jawaban yang telah diberikan. Kemudian saya mengaitkannya dengan Guru Merdeka Belajar untuk membuat teman-teman lebih paham mengenai makna Guru Merdeka Belajar (GMB). Setelah itu, baru saya jelaskan kaitan GMB, KGB dan Temu Pendidik. Dari sesi penjelasan pertama ini, banyak yang menyela untuk memastikan keyakinan pemahaman mereka. Jadi, sesi Nobar Merdeka Belajar ini lebih seperti diskusi sesama tutor. Walaupun demikian, teman-teman saya kelihatan agak sedikit ragu dengan penjelasan saya mengenai temu pendidik dan guru belajar. Terlihat jelas dari raut wajah tak percaya mereka seolah bertanya memang bisa?. Solusinya menurut saya adalah dengan menonton video Guru Merdeka Belajar yang disampaikan oleh Ibu Najelaa Shihab. Video berdurasi kurang lebih 14 menit yang membahas tentang kunci sukses menjadi Guru yang merdeka belajar serta miskonsepsi kebanyakan guru di Indonesia saat ini.   Pada awal pemutaran video ini, teman-teman saya memperhatikan dengan kurang penuh perhatian. Hilir mudiknya pendatang yang keluar masuk pintu, pendatang yang masuk selalu bersuara dan bertanya, dan anak-anak yang berlalu lalang berhasil memecah konsentrasi teman-teman saya yang sedang menyaksikan Ibu Elaa berbicara. Fokus teman-teman saya itu kembali ketika Bu Elaa sedang membahas mengenai miskonsepsi yang selama ini hinggap pada guru-guru di Indonesia. Guru hanya mau belajar jika mendapat insentif, guru harus belajar dari ahlinya, guru hanya belajar jika disuruh, guru hanya belajar jika dipaksa, dan guru belajar hanya untuk diri sendiri. Mereka semuanya terdiam dan fokus sekali pada apa yang dikatakan oleh Ibu Elaa tentang bagaimana ada guru di luar sana yang melakukan hal yang berlawanan dengan miskonsepsi di atas. Alhamdulillah, sampai video selesai, fokus mereka tidak hilang dan tetap fokus pada pemaparan Ibu Elaa.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Video selesai diputar dan saatnya sesi tanya jawab. Ada beberapa pertanyaan yang muncul.  Bu Laida bertanya, “Berarti Mentari, di kegiatan ini, kita gak akan belajar dari ahlinya?” Saya menjelaskan kembali konsep yang saya paparkan di awal ketika pembukaan kegiatan ini. Bahwa fungsi dari terbentuknya forum temu pendidik ini ialah sharing ilmu dan pengalaman sehingga bisa saling memberikan manfaat dan membantu. Saya memberikan contoh bagaimana metode Bu Laida pernah mengajar di kelas. Nanti metode itu diceritakan ke teman yang lain, yang mana tau bisa digunakan di kelas juga. Bahkan kita bisa belajar dari PKBM lain yang ada disekitar kita seperti PKBM Ruman Aceh dan PKBM Kiat Usaha. Oleh sebab itu, sangat bermanfaat jika ada forum tutor ini. Bila ada dukungan, bisa jadi kita mendatangkan ahli juga untuk menguatkan apa yang telah dilakukan. Bu Laida juga bertanya lagi mengenai konsep kemitraan di poin pembahasan mengenai kemandirian guru merdeka belajar. Saya mencoba menjelaskan dengan contoh yang memang sudah pernah teman-teman lakukan di kantor. Yaitu bagaimana kebingungan Bu Amidiah ketika dibebankan pelajaran keterampilan. Bu Laida dan Bu Zuhra sepakat sama-sama akan membantu Bu Amidiah untuk mengisi kelas. Sudah dilakukan, Bu Elaa hanya menyampaikan dalam bentuk bahasanya saja, yaitu kemitraan. Pak Ade tidak bertanya, hanya memastikan kembali mengenai tangga kemandirian. Bahwa kemandirian guru selama ini baru sampai pada tahap konsultasi saja. “Guru yang merdeka belajar akan memberdayakan dan memegang kendali atas proses belajar yang kita lakukan” begitu kata Bu Elaa. Setelah selesai sesi tanya jawab, dilanjutkan dengan sesi refleksi. Saya memberikan empat pertanyaan yaitu: Diantara semua miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri teman-teman? Ciri Guru Merdeka Belajar adalah komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara belajar, dan melakukan refleksi. Apakah teman-teman setuju? Mengapa? Apakah teman-teman ingin menjadi Guru Merdeka Belajar? Mengapa? Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa perubahan yang ingin teman-teman lakukan di kelas? Mungkin dikarenakan jam sudah menunjukkan … Read more

Merdeka Belajar – Apakah Merdeka Berarti Bebas?

Pada tanggal 10 september 2019 kemarin, saya Intan Rizki dan rekan saya Suhaimi mengadakan kegiatan nonton bareng Guru Merdeka Belajar bersama seluruh guru di sekolah tempat kami mengajar yaitu IVS ALFATA Banda Aceh. Alhamdulillah, turut serta hadir salah satu guru dari Al-Fityan Islamic School Banda Aceh yang bernama Bu Dian. Di awal saya informasikan kepada teman-teman mengenai kegiatan ini, banyak diantara mereka yang bingung, sehingga ada yang bertanya: “Nonton bareng?” “Film kah?”, atau “Ohh.. nonton bareng film yang ada unsur pendidikannya ya?” dan berbagai pertanyaan lainnya.  Sedikit informasi, di sekolah kami yang namanya upgrading ilmu bagi guru-guru bukanlah hal yang langka. Setiap hari kamis merupakan hari training bagi guru-guru di sekolah, yang dipimpin langsung oleh Ketua Yayasan dan Kepala Sekolah dengan berbagai materi kependidikan dan ilmu pola asuh.  Nah, ketika kami (pihak penyelenggara) menyampaikan tentang judul nobarnya yaitu Guru Merdeka Belajar, semua teman-teman guru sangat excited dengan kata MERDEKA. Sehingga memunculkan pertanyaan “Apakah karena kita baru saja merayakan 17 Agustus sehingga judulnya seperti itu?” atau “merdeka apa ini?” Saat nonton bareng di mulai, saya melemparkan beberapa pertanyaan pemantik bagi para peserta yaitu: Apa itu merdeka? Kebebasan seperti apa ? Lantas, apa kaitannya merdeka dengan belajar? Awalnya mereka sedikit bingung dan takut untuk menjelaskan maksud dari merdeka itu sendiri. Akhirnya setelah saya persilakan satu per satu baru ada yang menjawab bahwa merdeka itu adalah bebas. Ms. Nisa, salah satu peserta saat itu menjelaskan bahwa merdeka belajar itu adalah kebebasan seseorang dalam proses belajar mengajarnya. Ms. Julika juga menambahkan makna dari merdeka belajar adalah kebebasan seorang anak dalam belajar sehingga tidak ada intervensi dari orang tua, keluarga, lingkungan hingga siapapun, dan jawaban-jawaban serupa dari para peserta lainnya, sehingga menimbulkan diskusi dan tanya jawab diantara para peserta. Menarik! Nah, untuk lebih memantapkan lagi diskusi ini, kami pun langsung saja memutarkan video dari Ibu Najelaa Shihab mengenai apa itu guru merdeka belajar. Video berdurasi 15 menit ini berhasil mencuri hati dan mengalihkan sudut pandang beberapa orang peserta. Maklum saja, di sekolah kami ada guru-guru yang fresh graduated sehingga banyak sekali informasi-informasi dan ilmu-ilmu baru bagi mereka atau bahkan ada yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya. Setelah menonton video ini, kegalauan dan kebimbangan mulai terlihat di raut wajah peserta. Langsung saja kami selaku pihak penyelenggara menunjukkan pertanyaan refleksi yang tersedia sebagai ajang refleksi bagi diri sendiri. Para peserta sudah mulai mesem-mesem sendiri, karena mereka mulai menilai ke diri mereka masing-masing. “Ternyata banyak sekali miskonsepsi yang terjadi di diri kita selama ini” papar salah seorang dari mereka. Diantaranya adalah masih adanya rasa ego yang tinggi dalam menuntut ilmu dan mengembangkan ilmu; sehingga terkesan seperti sedang berkompetisi satu diantara lainnya yang tujuannya adalah untuk terlihat hebat di mata teman atau atasan. Kemudian, masih adanya pemahaman belajar kepada yang lebih senior tanpa mempertimbangkan kesesuaian ilmu tersebut apakah layak atau tidak untuk diterapkan di era seperti sekarang ini. Ada juga guru yang ilmu dan pemahamannya akan pendidikan sudah mumpuni, namun kurang cukup waktu untuk merefleksi diri dikarenakan banyaknya pekerjaan sampingan yang ingin mereka kerjakan. Maka dari itulah, miskonsepsi ini terus terjadi di lingkungan tenaga pendidik.  Situasi semakin jelas, ketika mereka mulai menuliskan jawaban atas pertanyaan refleksi yang kami berikan. Sesi refleksi ini, menjadi ajang muhasabah diri bagi para peserta. Alhasil, membutuhkan waktu lebih dari 20 menit. Di tengah-tengah kegiatan, Bu Dian, pamit undur diri dari acara ini karena mendapatkan kabar bahwa anaknya sakit. Sehingga, Bu Dian tidak bisa menyelesaikan tulisan hasil refleksi pada saat itu. Yang di kemudian waktu, dikirimkan melalui pesan whatsapp kepada kami.  Setelah sesi menulis refleksi selesai, para peserta terlebih guru-guru fresh graduated mulai menyadari kendala yang mereka dapatkan di diri mereka selama ini, yaitu selama ini mereka “dibesarkan” dengan pemahaman konservatif yang membuat mereka sendiri belum merdeka belajar. Sehingga semua peserta sangat setuju sekali dengan istilah Guru Merdeka Belajar. Yang mana tidak memenjarakan diri akan keingintahuan suatu ilmu dan mematikan kreativitas seseorang yang mengikuti alur miskonsepsi selama ini.  Diakhir acara, para peserta menyimpulkan bahwa mereka sangat setuju dengan 3 poin penting yang dipaparkan Ibu Najelaa Shihab, yaitu: 1. Komitmen pada tujuan Bahwa selama ini, para peserta belum sepenuhnya berkomitmen pada diri sendiri apa tujuan akhir mereka belajar. Pun, apa tujuan mereka menjadi guru selain karena mengikuti jejak orang tuanya yang berprofesi guru dan menambah pendapatan bulanan. 2. Mandiri terhadap cara belajar Selama ini begitu banyak kita menjiplak gaya dan cara belajar seseorang yang tanpa kita sadari sebenarnya kita bisa saja lebih menarik daripada itu. Secara otomatis kita lupa, bahwa Tuhan menciptakan manusia itu penuh dengan keunikan dan keberagaman sehingga di setiap diri seseorang terdapat gayanya sendiri dalam belajar atau mengajar. 3. Melakukan refleksi Inilah poin yang sangat sulit atau bahkan hampir tidak pernah dilakukan oleh tenaga pendidik yaitu merefleksi diri. Terkadang kita terlalu bangga akan status guru yang melekat di diri kita sehingga kita merasa tidak ada yang kurang atau salah pada diri seorang guru. Padahal dengan melakukan refleksi diri kita bisa terus berubah dan berbenah diri untuk kemajuan anak didik kita nanti. Inilah tiga poin penting yang mengubah sudut pandang para peserta. Yang mana di akhir acara mereka masih mendiskusikan ilmu dan pemahaman yang luar biasa ini. Semoga dengan adanya kegiatan nonton bareng ini, para peserta menjadi paham akan esensi mengembangkan semangat belajar bagi tenaga pendidik seperti kita. Sebagai kalimat penutup, saya mewawancarai salah satu peserta dengan bertanya “Apa pengembangan diri yang ingin mereka capai sebagai  Guru Merdeka Belajar?” Sebuah jawaban yang meluluhkan hati saya yaitu “Saya ingin peserta didik saya merasakan kebermaknaan dari apa yang ia pelajari”. Ya inilah, Merdeka Belajar!