Orangtua Memaksa Murid, Guru Bagaimana?
Pernah menghadapi orangtua memaksa murid.Orangtua inginnya anaknya A.Eh kita tahu kalau anaknya sebenarnya minatnya di bidang B.Bagaimana ya guru mengkomunikasikannya? Yuk simak Liputan Temu Pendidik Mingguan ke 125 dengan tema orangtua memaksa murid.(#SeminarOnline Telegram). Jumat, 31 Januari 2020. Pengalaman Menghadapi Orangtua yang Memaksa Murid Ermaida: Teman teman adakah orangtua yang memaksa murid dengan keinginannya dalam belajar. Alinnila:Ada Bu. Orangtua memaksa murid Anak dituntut dapat peringkat 1. Kalau dapat nilai kurang memuaskan yang disalahkan gurunya. Imroatus Solikah:Pernah orangtua memaksa murid. Membawa anak ke tempat les dan memarahi anak ketika tidak mau belajar di tempat les bu biasanya. Ermaida:Bu Alinila apakah pernah ditegur sama orangtua yang memaksa murid. Karena murid tidak dapat rangking 1? Cerita dong saya penasaran membayangkanya Alinnila: Bukan saya sih Bu yang menghadapi orangtua memaksa murid. Tapi rekan guru saya. Kebetulan jadi wali kelas. Ermaida:Sepertinya diskusi kita sebentar lagi kita mulai ya Sebelumnya saya minta maaf kalau nanti tiba saya terlihat menghilang ini karena pengaruh sinyal. Ini profil narasumber kita hari: Kristijorini mengajar di KB / Tk Kr. Widya wacana Pasar Legi Surakarta. Hobi menulis Menulis beberapa buku kolaborasi (Memanusiakan Hubungan, Literasi Menggerakkan Negeri, Menenun Rinai Hujan, dll dan 1 buku karya sendiri : CPR (salah satu solusi memahami orangtua dan murid) Tinggal di Solo dan punya anak 1 usia 8 tahun Kristijorini:Selamat malam bapak ibu. perkenalkan saya Rini. Narasumber hari ini yang ingin belajar bersama bapak ibu semua. Ermaida:Silakan ibu narasumber Refleski Narasumber Kristijorini:Terima kasih bu Linda. Ternyata kita mengalami hal yang sama. Orangtua memaksa murid ☺☺ Tulisan berikut adalah tulisan saya yang di muat di buku Memanusiakan hubungan. silakan dibaca dulu pengalaman saya ini: Menjadi guru yang berbaur dengan berbagai karakter anak adalah tantangan yang menyenangkan. Menyelami tiap pribadi yang unik butuh keahlian khusus yang tidak hanya didapat ketika kuliah. Namun butuh juga menyelami pribadi mereka. Anak adalah duplikat orangtuanya. Mereka adalah bentuk mini dari orangtua. Memahami karakter anak tidak bisa tanpa memahami orangtua. Untuk itulah sekolah perlu melakukan komunikasi yang intens dengan keluarga. Dalam komunikasi dengan orangtua, pasti sering terjadi kesalahpahaman. Kenapa? Karena ekspektasi orangtua pada anak berbeda dengan keinginan anak. Kadang kala guru juga begitu pada anak. Bagaimana guru, murid dan orangtua dapat bersinergi untuk memahami kebutuhan murid? Untuk memahami bakatnya? Untuk memahami keinginan murid? Gunakan data anak. Makin banyak data yang kita punya, makin mudah kita memahami mereka. Hasil asesmen kita sangat penting. Penting untuk membuka kesadaran guru tentang bakat dan keinginan anak. Jika guru sudah menyadari apa yang dimiliki oleh anak, pasti akan mudah mengkomunikasikannya pada orangtua. Tidak hanya guru, orangtua dan murid saja yang harus saling memahami. Tapi juga pihak lembaga secara keseluruhan. Nah inilah tantangan nya. Tidak mudah. Butuh waktu untuk bisa saling memahami. Menerima kelebihan dan kekurangan murid? Tidak memaksakan kehendak baik orangtua, guru apalagi lembaga sekolah hanya dengan dalih peringkat sekolah Baca juga: Amalia Jiandra:Silakan dibaca ya bapak-ibu Kami beri waktu 10 menit untuk membaca Amalia Jiandra:Atau adakah yang mau cerita tentang pengalaman yang serupa yang pernah di alami di sekolah/kelas? Sambil kita menunggu teman-teman lain membaca materinya Ermaida:Teman teman guru setelah membaca karya tulis Bu Rini. Adakah yang ingin bertanya? Silakan 2 orang penanya tunjuk tangannya. Kristijorini:Paling susah kalau orangtua memaksa ya bu pakai banget. Merasa paling benar. Nah gimana tuh? Kristijorini:Seru nih. Kita berdua ngobrol bu linda. Cerita serunya diomeli orangtua Umi Hani:Boleh ya bu cerita sedikit, dulu teman satu sekolah pernah diomeli orangtua murid. Gara- gara peraturan sekolah yang tidak sesuai dengan keinginan orangtua. Kristijorini:Silakan bu Umi. Bagi yang baru online juga boleh curhat. Kita curhat bersama. Kita cari solusinya Umi Hani:Di sekolah kami dilarang bawa HP. Tetapi saat sidak murid tersebut membawa HP. Maka guru menindaklanjuti hal tersebut sebagai pelanggaran, dengan ketentuan yang sudah disampaikan di awal. Yakni HP tersebut disita selama 1 bulan. Namun belum genap 1 bulan, ibu murid tersebut marah dan mengatai hal yang tidak sepantasnya. Kristijorini:Boleh tanya bu? Aturan itu disepakati bersama kah dengan orangtua dan anak? Atau memang aturan itu yang buat pihak sekolah saja? Sudah disosialisasikan kah? Umi Hani:Iya aturan tersebut sudah disampaikan di awal bu. Namun sepertinya beliau tidak mau tahu. Juga sudah disosialisasikan. Kristijorini:Maaf sekolahnya Jenjang SD, atau SMP, atau SMA bu? Umi Hani:SMP bu Ternyata setelah melakukan penelusuran, bunda dari murid tersebut memang seperti itu. Karena di jenjang sebelumnya, apabila anaknya salah akan selalu membela. Atau menuruti kemauan sang anak (memanjakan). Bagaimana ya mengatasi orangtua yang menganggap sang anak (murid) selalu benar? Mungkin bisa dibagi ilmunya Kristijorini:Masa remaja memang masa paling seru. Masa-masa membangkang dan menjadi jati diri. Pun begitu juga orangtua. Sering dibikin pusing dengan si anak. Tipe orangtua juga perlu diperhatikan. Kalau saya biasanya melihat aturan tersebut berpihak pada anak atau belum. Relevankah konsekuensi dengan kesalahan anak? Bolehkah kita mendisiplin murid dengan menghukumnya seperti itu? Adakah konsekuensi itu sudah disepakati oleh semua pihak? Sudah tepatkah dengan undang-undang perlindungan anak? Nah jika memang sudah ada sosialisasi dan disepakati bersama semua pihak tapi anak nekat dan orangtua marah-marah, bagaimana pendekatan kita? Daciel Junior:Maaf klo sedikit keluar jalur hehheee Saya punya teman main (sebutan murid bagi saya) dia anaknya cerdas kemandiriannya tinggi, bahkan jika ada home challenge dari sekolah dia bisa mengerjakannya dengan mandiri, temen saya ini anaknya nga enakan, jadi apa yang orangtuanya suruh pasti selalu dilakukan, bahkan hal-hal yang terkadang temen saya ini nggak suka tetap ia lakukan demi orangtuanya. Untuk tahun ini kegiatan dia semakin banyak, mulai dari les akademik, les olahraga, sampai les agama. Kegiatan hariannya full. Pernah suatu ketika orangtua nya minta pelajaran tambahan ke saya. Saya sudah coba komunikasikan kalau anak itu cerdas dan mandiri. Tapi orangtuanya tetap minta anaknya untuk les. Akhirnya saya tetap ngelesi dia. 40% belajar , 60%nya saya coba ajak dia untuk bermain edukasi yang ringan. Saya tahu dia udah terlalu capek, kadang dia lebih berani curhat kesaya dari pada ke orangtuanya, karna dia takut mengecewakan orangtuanya) Kalau seperti itu ada tips mengkomunikasikan ke orangtuanya, pak, bu ? Saya sudah coba, tapi karena orangtuanya idealis jadi merasa cara mereka benar, dan itu semua demi kebaikan anaknya Memahami Murid dan Orangtua Kristijorini:Biasanya di awal tahun ajaran atau tengah tahun ajaran, … Read more