Memahami Karakter Generasi Z

Banyak orang tua dan atau guru bercerita tentang susahnya mendidik anak-anak usia sekolah saat ini. Sangat berbeda dengan generasi terdahulu. Sebagian menyadari ini sebagai dampak perkembangan zaman, internet, bahkan revolusi industri 4.0, tapi sebagian orang tua atau guru tetap memaksakan untuk mendidik dengan cara yang dulu mereka dapatkan. Apa yang perlu kita pahami dari anak-anak saat ini agar kita sebagai orang tua atau guru bisa menentukan bentuk pendidikan yang tepat? Yuk cek liputan KGB on Air di Ria FM Solo berikut, dengan narasumber Guru Atik Astrini, dan Agus Riyanto dari KGB Solo Raya. Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Penguin (2004) didalamnya memuat sebuah teori generasi (Generation Theory) yang dikemukakan Graeme Codrington & Sue Grant-Marshall. Generasi manusia pasca perang dunia dibedakan 5 generasi manusia berdasarkan tahun kelahirannya, yaitu: (1) Generasi Baby Boomer, lahir 1946-1964; (2) Generasi X, lahir 1965-1980; (3) Generasi Y, lahir 1981-1994, sering disebut generasi millennial; (4) Generasi Z, lahir 1995-2010 (disebut juga iGeneration, GenerasiNet, Generasi Internet). DAN (5) Generasi Alpha, lahir 2011-2025. Menilik dari uraian di atas, maka anak-anak kita yang saat ini duduk di bangku sekolah adalah generasi Z. Generasi Z ini lahir saat internet sudah dapat diakses (di Indonesia akses internet dipegang oleh Indonet tahun 1994). Artinya generasi ini sangat akrab dengan teknologi. Mereka lahir di era digital yang semua hal dapat mereka akses secara mudah. Jika kita berbicara tentang revolusi industri 4.0 yang saat ini gencar, maka generasi ini paling terkena dampaknya. Sehingga kita sebagai guru atau orang tua memang harus mengenali hal ini. Jangan memaksakan untuk mendidik mereka dengan cara pendidikan yang kita terima. Sudah jauh berbeda, sangat berbeda. Karakter Generasi Z Melihat kondisi yang telah diuraikan tadi, bahwasanya generasi Z lebih akrab dengan teknologi dan informasi yang mereka akses melalui internet. Hal ini tentunya memutus jarang, ruang, dan waktu mereka dalam bersosialisasi terhadap orang lain di dunia nyata. Bagaimana sebenarnya karakter mereka? Betul sekali. Banyak sekali waktu mereka habis dengan dunia mereka secara digital. Mereka lebih rela menabung untuk beli kuota internet dibandingkan beli sepatu baru atau baju. Setidaknya ada beberapa karakteristik generasi Z yang perlu kita pahami.  Pertama, Fasih Teknologi , tech-savvy, web-savvy, appfriendly generation. Mereka adalah “generasi digital” yang mahir dan gandrung akan teknologi informasi dan berbagai aplikasi komputer. Mereka dapat mengakses berbagai informasi yang mereka butuhkan secara mudah dan cepat, baik untuk kepentingan pendidikan maupun kepentingan hidup kesehariannya. Kedua, Sosial. Mereka sangat intens berinteraksi melalui media sosial dengan semua kalangan. Mereka sangat intens berkomunikasi dan berinteraksi dengan semua kalangan, khususnya dengan teman sebaya melalui berbagai situs jejaring, seperti: FaceBook, twitter, atau melalui SMS. Melalui media ini, mereka bisa mengekspresikan apa yang dirasakan dan dipikirkannya secara spontan. Ketiga, Ekspresif. Mereka cenderung toleran dengan perbedaan kultur dan sangat peduli dengan lingkungan Keempat, Multitasking. Mereka terbiasa dengan berbagai aktivitas dalam satu waktu yang bersamaan. Mereka bisa membaca, berbicara, menonton, atau mendengarkan musik dalam waktu yang bersamaan. Mereka menginginkan segala sesuatunya dapat dilakukan dan berjalan serba cepat. Mereka tidak menginginkan hal-hal yang bertele-tele dan berbelit-belit. Kelima, Cepat berpindah dari satu pemikiran/pekerjaan ke pemikiran/pekerjaan lain (fast switcher). Keenam, Senang berbagi. Dari pelbagai karakter ini sebenarnya kita sebagai guru atau orang tua justru dimudahkan dalam hal pendidikan. Kita cukup memfasilitasi dan mengontrol saja dunia mereka. Yang menjadi masalah utama karena mereka jiwa sosialnya cenderung di dunia maya sehingga sedikit bertentangan dengan adat budaya kita sebagai bangsa Indonesia yang terkenal memiliki jiwa gotong royong tinggi dan kadang tidak mengenal tentangga di sekitarnya. Perilaku Generasi Z yang Dikeluhkan Orang Tua dan Guru Generasi Z dengan ciri dan karakternya tersebut sebenarnya justru memudahkan kita dalam pendidikan karena banyak sumber belajar bisa mereka akses. Mengapa justru saat ini banyak orang tua atau guru yang mengeluhkan perilaku mereka? Ada beberapa penyebab mengapa perilaku mereka terutama dalam karakter dan tatakrama yang menjadi keluhan orang tua dan guru dalam mendidik, antara lain: Pertama, kekurang pahaman orang tua atau guru tentang karakteristik anak-anak generasi Z. Kekurangpahaman ini tentu akan berakibat pada pemberian tindakan yang kurang tepat. Orang tua atau guru sadar atau tidak masih saja memaksakana model pendidikan lama. Generasi Z menyukai hal yang baru, dan tidak menyukai banyak aturan. Mereka merasa bahwa segala sesuatu bisa dilakukan secara mudah dan instan, mengapa harus bertele-tele. Hal ini membosankan bagi mereka, tidak menantang untuk dilakukan. Kedua, kesibukan orang tua atau banyaknya kegiatan guru sehingga kadang justru mengekang waktu belajar orang tua atau guru itu sendiri. Padahal sebagai orang tua atau guru, seharusnya kita berpegang teguh bahwa belajar itu sepanjang hayat. Tetapi coba kita lihat di lapangan. Orang tua kadang terlalu sibuk bekerja dan seolah menyepelekan pendidikan anaknya di rumah. Guru dengan pelbagai kegiatannya justru membiaskan kewajibannya sebagai yang digugu lan ditiru untuk terus belajar. Jika demikian dibiarkan maka karakter dan tatakrama anak pasti akan selalu seperti ini. Ketiga, kurangnya komunikasi dan rasa persahabatan antara orang tua dan atau guru dengan anak. Orang tua atau guru kadang masih menempatkan mereka pada posisi yang sederajat lebih tinggi. Memaksa anak generasi Z menghormati sungguh sangat sulit, tetapi dengan sedikit memberikan pengertian dan kedekatan hubungan akan lahirlah kesadaran dalam diri mereka tentang nilai dan karakter untuk menghormati sesama. Jadi orang tua dan guru jangan kaku, jangan konservatif, jangan minta dihormati, dan masih banyak lagi yang justru akan kontradiktif jika dilakukan terhadap generasi Z. Bagaimana Cara Memperlakukan Generasi Z Melihat beberapa penyebab tersebut, tentu kita berpikir bagaimana cara untuk memperlakukan mereka? Apapun mereka harus tetap diberikan pendidikan. Kita sebagai orang tua dan guru juga harus menyadari bahwa pendidikan sejatinya justru menekankan pada pembentukan karakter dan tatakrama sebagai indikator keberhasilannya. Bagaiman pendapat anda? Ada beberapa hal setelah kita memahami uraian-uraian tentang generasi Z tersebut sebagai titik awal dalam menentukan tindakan terbaik. Agar pendidikan yang dilakukan berhasil secara holistik (kognitif, affektif, dan psikomotor). Agar karakter dan tatakrama yang menjadi kebanggan bangsa tetap tertanam dalam jiwa anak-anak generasi Z. Pertama, belajar. Orang tua dan guru harus belajar. Menjaga agar kita semangat dalam belajar coba ikutlah dalam komunitas-komunitas. Salah satunya Komunitas Guru Belajar. Komunitas ini berprinsip bahwa semua orang bisa menjadi murid dan bisa menjadi guru. Semua tempat adalah sekolah, dan semua orang adalah guru. … Read more

Kebutuhan Belajar

Sewaktu SMA saya tidak berani ke ibukota sendirian, karena kabar-kabar dari televisi, dari omongan orang bahwa ibukota kejam, tidak aman, macet dan sulit tranportasinya. Namun beberapa tahun belakangan ini, banyak murid saya seusia SMA yang sudah bolak-balik ke ibukota. Ketakutan-ketakutan saya dulu sepertinya sudah mulai berkurang. “Kamu kok berani ke Jakarta sendirian?” tanyaku.“Sekarang apa-apa mudah kok Pak. Kemarin beli tiket kereta saja tidak perlu ke stasiun. Kalau udah sampai Jakarta juga mudah Pak, ada banyak ojek online, langsung sampai rumah orangtua di Jakarta”, jawabnya. Apa yang menjadi masalahku sewaktu SMA dulu ada jawabannya sekarang. Masyarakat butuh kenyamanan, kemudahan dan keamaan dalam memakai transportasi umum, muncullah aplikasi transportasi online. Masyarakat butuh kemudahan dalam pembelian tiket, pemesanan hotel muncullah Traveloka, Airbnb,dsb. Masyarakat butuh kemudahan berbelanja, muncullah tokopedia, bukalapak, shopee dan sebagainya. Startup-startup di atas memahami masalah yang ada pada masyarakat dan kemudian menciptakan solusi, menjawab persoalan kebutuhan yang selama ini tidak terpikirkan. Ya, kebutuhan! Seringkali kita lupa hal yang mendasar yaitu kebutuhan. Sebagai guru contohnya : Menghabiskan uang untuk membeli media-media pembelajaran, sampai berjuta-juta. Namun nyatanya hanya untuk pajangan di kelas. Membeli rencana pelaksanaan pembelajaran, yang nyatanya apa yang ada di dalamnya tidak sesuai dengan murid yang diajar. Ikut-ikutan trends tidak memberikan tugas di rumah, ikut-ikutan cara mengajar guru di suatu sekolah yang nyatanya tidak pas diterapkan di lingkungan tempat kita mengajar. Tidak pernah bertanya pada diri sendiri “Apa sekolahku butuh ini ya?”, “Apa kelasku butuh ini ya?” “Apakah murid yang aku ajar benar-benar butuh?” Para pendiri strartup-startup tahu benar apa yang dibutuhkan masyarakat, melakukan riset bertahun-tahun, memetakkan apa yang dibutuhkan, menciptakan jawaban dari kebutuhan itu. Pertanyaanya adalah sudahkah kita melakukan riset di kelas? Memetakkan apa yang menjadi kebutuhan belajar murid?

Semangat Merdeka Belajar di Pesisir Selatan

Semangat guru Pesisir Selatan dalam mengikuti pelatihan sungguh luar biasa. Padahal mereka guru PNS yang sering dinilai tidak suka mengembangkan diri. Kok bisa? Saya bersama dua pelatih, Ibu Unun dan Ibu Nuli berangkat ke Pesisir Selatan. Kami akan mengadakan pelatihan Merdeka Belajar dan Memanusiakan Hubungan yang berlokasi di kota Painan yang merupakan ibu kota Pesisir Selatan. Jarak Painan dari kota Padang kurang lebih 72 kilometer yang membutuhkan waktu tempuh 2 jam. Pelatihan tiga hari ini merupakan bagian dari Playground of Minang, program Sekolah Cikal untuk berkontribusi terhadap kualitas pendidikan Indonesia. Pada tahun ini, Cikal memilih Minang sebagai fokus belajar yang dipelajari para murid sehingga disebut sebagai Playground of Minang. Kegiatan ini melibatkan murid, guru, orangtua, manajemen dari Rumah Main Cikal, Sekolah Cikal dan Kampus Guru Cikal. Kami datang di lokasi pelatihan jam 07.00, UPTD kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan. Para peserta pelatihan yang merupakan guru dan kepala sekolah datang dengan semangat membara. Pelatihan dimulai dengan kegiatan penyemangat, setiap peserta mendapatkan kertas dengan berbagai jenis aktivitas dengan maksud agar mengenal satu sama lain. Setelah itu pelatih menyampaikan materi Merdeka Belajar. Mengapa diawali dengan Merdeka Belajar, padahal tema POMIN tahun ini adalah “2000 Anak Sumatera Barat Melek Literasi dengan Memanusiakan Hubungan”? Pelatih menjelaskan pentingnya mempelajari materi dasar sebelum mempelajari literasi. Karena melalui merdeka belajar, guru dapat mengembangkan belajar berkelanjutan baik pada diri sendiri maupun pada muridnya. Ciri merdeka belajar itu sendiri yaitu berkomitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara, dan melakukan refleksi. Pada hari kedua dan ketiga, peserta mempelajari Memanusiakan Hubungan dengan semangat merdeka belajar yang telah dipelajari sebelumnya. Tujuan dari materi ini adalah adanya pemahaman bermakna bahwa keberlangsungan kegiatan belajar mengajar memerlukan interaksi positif antarmanusia yang ada di sekolah. Peserta dipandu membuat kesepakatan bersama, membedakan antara hukuman dan konsekuensi dan menerapkan lima posisi kontrol sebagai acuan komunikasi dalam membangun disiplin positif. Semangat para peserta semakin membara di hari terakhir pelatihan. Semua antusias dan terlibat dalam semua aktivitas yang dipandu oleh pelatih. “Pelatihan ini merupakan pelatihan yang jelas, jelas dalam artian kami jadi tahu tujuan kami,  dimana posisi kami dan apa yang harus kami lakukan untuk mencapai tujuan dan semoga kami tidak bergerak sendirian, tapi juga didukung oleh sekolah” tutur Ibu Rahmi yang juga merupakan penggerak Komunitas Guru Belajar setelah mengikuti pelatihan. Pelatihan ditutup dengan tanya jawab bersama Kepala Dinas Pendidikan Pesisir Selatan. Pada sesi penutup, para peserta mengungkapkan harapan mereka agar pelatihan seperti ini diadakan lebih sering dan dapat dihadiri oleh lebih banyak guru. Mereka juga meminta dukungan dari pihak Dinas Pendidikan agar para kepala sekolah dapat mendukung proses penerapan praktik hasil pelatihan di sekolah mereka. “Pelatihan hebat yang belum pernah saya dapatkan selama kurang lebih 10 tahun saya menjadi seorang pendidik di SD, ternyata selama ini kami pendidik di Pesisir Selatan khususnya, banyak sekali kurangnya dari segala segi, semoga Kampus Guru Cikal selalu membimbing kami baik daring maupun luring” tutur Ibu Elvadeni salah satu peserta pelatihan.

Refleksi Diri : Memanusiakan Hubungan

Supir bus Sinar Jaya memasuki bus yang sudah penuh dengan penumpang yang tak sabar bertemu sanak saudara di kampung halaman. Dengan gaya yang necis ia memasuki bus dan langsung menyalakan televisi. “Halo Bapak, Ibu hari ini ingin memutar lagu apa untuk menemani perjalanan?” tanyanya sambil berdiri di depan layar televisi 32 inch yang ada di dalam bus tersebut. “Via Valen wae Pak..” “Muter film Dono aja..” “Dangdut koplo mantap Kang..” Suara saling bersautan menyampaikan apa yang ingin menjadi keinginanya. Pak supir, menengahinya dengan memilih memutar video kompilasi dangdut koplo yang menjadi pilihan terbanyak sore itu. Bus melaju kencang, seorang penumpang menghampiri supir dan memintanya untuk menurunkan suhu AC. Pak supir langsung menurunkan suhu AC, dan penumpang kembali tertidur nyenyak. Tak sampai di situ, setiap penumpang turun ia selalu bilang ‘terima kasih’. Hampir setiap minggu aku pulang kampung, namun tidak pernah menjumpai supir yang seperti ini. Biasanya naik bus – memutar lagu sesukanya dengan volume sesukanya – memaki-maki penumpang jika meminta AC diturunkan – cuek dan kadang memarahi penumpang yang turun sewaktu-waktu. Kalau saya menyebutnya adalah supir yang memanusiakan manusia, menganggap penumpangnya adalah sesama manusia yang memiliki hati dan pikiran. Maka proses interaksi yang terjadi adalah selayaknya dengan manusia. Bukan dengan robot. Hal yang sama juga aku temui saat mengisi pelatihan videografi bersama Inibudi.org di Palembang akhir minggu kemarin (4 Agustus 2018). Selesai pelatihan video, Inibudi.org menyempatkan diri untuk membuat profil salah satu pengusaha makanan tradisional Palembang, yaitu Bunda Raya. Selama proses shooting Bunda Raya menceritakan prosesnya hingga menjadi seperti sekarang ini. Ada beberapa poin yang saya pelajari dari cerita Bunda Raya tersebut. Ia adalah sosok yang selalu suka mengobrol dengan pelangganya, apapun obrolannya ia selalu layani. Beberapa malah ada yang mengobrol tentang rumah tangga. Pengikutnya di akun Instagram sudah 20.000 (yang sebelumnya sudah mencapai 40.000 namun terkena hack), dan ia selalu memposting apapun sendiri tanpa bantuan admin. Setiap komentar ia balas satu per satu dengan bahasa khasnya. “Saya kadang tidur jam 12 malam karena harus membalas semua pesan WA dan Instagram” tuturnya di akhir sesi wawancara. Itulah kunci dari sukses usaha yang digeluti Bunda Raya, memanusiakan pelanggan. Seperti supir tadi, ia menganggap pelangganya adalah manusia yang memiliki hati dan pikiran. Kini banyak artis ibukota yang jika datang ke Palembang selalu mengunjungi toko Bunda Raya, dengan sukarela mempromokan di akun instagramnya. Saya belajar banyak dari Bunda Raya dan Pak Supir, sebagai manusia harus memanusiakan hubungan dengan manusia, apapun profesinya. Karena kita hidup di bumi manusia…