Program Literasi Sudah Terlaksana, Anak Mahir Baca, Namun Tak Paham Artinya

Sudah mengadakan banyak program Literasi di kelas. Niatnya sih meningkatkan kemampuan literasi anak. Mulai dari membuat pojok baca, kegiatan membaca 15 menit di kelas, membaca bersama di pagi hari, berkunjung ke perpustakaan. Waktu dites sih bisa baca eh kok waktu dikasih soal pertanyaan bacaan salah semua hasilnya. Sebelum kita masuk ke materi , saya akan memperkenalkan narasumber kita pada malam hari ini. Guru Indah Nova Ida Manurung dari penabur Internasional Jakarta, KGB Jakarta Barat. Tulisannya telah terbit di media lokal dan nasional  dan Guru Ari Wibowo, Sekolah Cikal Cilandak, KGB Jakarta Selatan. Menggeluti bidang videografi dan menjadi youtuber channel pendidikan. Untuk materi yang pertama kita persilahkan pak ari untuk menyampaikannya dan dilanjutkan oleh bu Indah. Program Literasi Digital yang Memanusiakan Hubungan Ari Wibowo Malam kita akan mengelaborasi literasi. Saya akan berbagi area literasi digital. Materi yang saya sampaikan saya ambil dari buku memanusiakan hubungan dan saya sesuaikan dengan perkembangan kurikulum abad 21.  Terkait dengan literasi digital yang akan saya bagi malam ini saya akan mulai dari pengalaman belajar saya di awal karir menjadi guru di Sekolah Cikal. Apa reaksi anda jika anda bukan seorang yang berlatar belakang pendidikan dengan gelar ahli teknologi / ICT dan anda diminta untuk mengajar atau membawakan materi ajar dengan menempatkan penggunaan teknologi di ruang kelas anda? Atau sebaliknya. Tantangan inilah yang 9 tahun terakhir sampai sekarang terus saya alami di sekolah. Sejak awal, Sekolah sangat terbuka untuk memasukan teknologi dalam basis kurikulumnya. Terasa sekali waktu itu ketika tahun 2010 administrasi sekolah dan pelaporan hasil belajar siswa/i setelah kita buat dengan program Ms, Excel kita laporkan ke kepala sekolah untuk mendapat persetujuan lalu kita cetak (itu jika laporannya 100% benar maka bisa langsung cetak). Saya dan guru-guru lainnya kemudian terbantu dengan sistem akademik sekolah berbasis online yang tentunya membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menguasai program tersebut. Yang mau saya sampaikan adalah ketika label Digital immigrant melekat di diri kita , itu membuat saya termotivasi untuk belajar, Iya, belajar mengenai teknologi yang khususnya akan bersentuhan di lingkungan sekolah dan tentunya murid-murid. Namun, pertanyaanya apakah proses pendidikan terjadi begitu saja di depan layar komputer atau ipad? Apakah murid-murid akan mendapatkan pengalaman yang sama seperti di ruang kelas ketika mereka sedang mengakses Gawai mereka? Lalu bagaimana dengan orang tua yang notabene memberikan pengaruh besar kepada murid ketika mengakses teknologi dirumah? Hubungan-hubungan inilah yang juga menjadi tantangan besar saya sebagai pengajar di abad 21 ini. Tak pernah terbayangkan dalam hidup saya bahwa profesi sebagai seorang guru yang saya jalani sekarang begitu menyenangkan dan menantang. Institusi pendidikan tempat dimana saya bernaung jika saya boleh memberikan dua jempol, kenapa? Karena selama 9 tahun saya mengajar di Sekolah ini saya sangat merasakan perubahan perubahan signifikan terhadap diri saya sebagai seorang pendidik. Oh iya, di kalimat kedua saya katakan profesi saya sebagai guru sangat menyenangkan sekaligus menantang. Kenapa demikian? Saya sadar bahwa saya hidup di abad 21 dan berhadapan dengan situasi pendidikan yang juga berevolusi dan beradaptasi dengan teknologi pendidikan yang pastinya saya dan murid-murid saya temui setiap hari. Saya sadar bahwa saya ini dikategorikan sebagai Digital immigrant sebutan untuk orang-orang yang lahir dibawah tahun 2000-an yang masa hidupnya berlangsung sebelum berkembangnya teknologi komputer seperti sekarang dan murid-murid yang saya ajar konon disebut Digital natives atau mereka sejak lahir sudah akrab dengan teknologi canggih seperti komputer, Ipad, animasi dan sebagainya. Lalu bagaimana saya menempatkan diri sebagai pengajar zaman now yang harus dan mau tidak mau meningkatkan kemampuan tidak hanya dalam menerapkan strategi belajar mengajar namun bagaimana menerapkan dan menggunakan teknologi pendidikan di kelas serta mengkomunikasikannya kepada orang tua. Harapanya setelah TPM malam ini bapak ibu bisa menerapkan kembali di lingkungan masing-masing bagaimana menjadi CERDAS DIGITAL  Beberapa “Salah Kaprah” seputar anak dan Dunia Digital Anak tidak perlu belajar keteramoilan di dunia digital, nanti akan mahir sendirinya Etika di dunia maya beda dengan dunia nyata Semua yang dipublikasikan didunia maya akan hilang dengan sendirinya Transisi antara angkatan analog dengan digital Reaksi wajah terhadap hal baru: CEMAS atau ACUH Jadi jika dianalogikan internet itu seperti pasar. Apakah bapak ibu pernah menyuruh anaknya ke pasar sendiri? Iya sendiri. Bayangkan juga jika pasar itu jauh, bayangkan juga di pasar itu ada apa saja?hmmm iyak tentu ada pedagang, pembeli,orang lain yang tidak kita kenal, penjahat, polisi dan lain lain. Bagaimana peran, guru, dan orang tua dipasar itu? Apa yang dapat anak capai di pasar itu? Bagaimana membuat dan mengatur program literasi digital di rumah dan di sekolah? WAKTU DI DEPAN LAYAR DIGITAL Pastikan waktu berimbang antara waktu di depan layar dan tidak di depan layar, serta jenis kegiatan yang dilakukan saat di depan layar. Sebagai contoh, bermain game selama 30 menit tentu berbeda dengan Skype bersama eyang selama 30 menit, walaupun sama-sama di depan layar. Selain itu membuat suasana belajar di kelas menyenangkan itu bukan datang dari teknologinya saja loh, tapi itu hasil kerja keras kita para guru dalam mempersiapkan materi ajar berminggu-minggu sebelumnya, butuh diskusi panjang untuk merencanakan kegiatan  serta memikirkan media belajar yang sesuai. Dalam memilih dan mencari video pembelajaran misalnya, saya paling sering menggunakan portal youtube untuk mencari video-video pembelajaran dan butuh waktu untuk melihat serta mensortir isi video tersebut apakah layak untuk dimasukan ke rencana pengajaran atau tidak. Murid akan sangat senang memang jika materi ajar disampaikan dan ditambah dengan adanya video tadi karena saya yakin tidak semua murid betah untuk didongengi gurunya tentang Bencana alam, Komunikasi visual, Ekonomi dan lain lain tanpa adanya bantuan teknologi visual. Dalam literasi digital ada istilah 4K dalam proses belajar efektifnya (CERDASDIGITAL.COM) yaitu: KRITIS : Berpikir sebelum berbicara/posting/kirim pesan/gambar Benar : Memeriksa apa yang dibaca, didengar, dan dilihat, di Internet (Nami, 8 tahun) Memberikan dan menyebarkan informasi dengan sadar, siapa yang meminta dan kenapa diperlukan (Liam, 13 tahun) Salah: Sekadar melarang dan berkata tidak, tanpa menjelaskan alasan atau membantu meluruskan tindakan yang tidak tepat (Fia, ibu 2 anak usia 11 tahun dan 9 tahun)  KEAMANAN: Bertanggung jawab dengan menghormati privasi, reputasi, dan etika Benar : Tidak memalsukan usia saat bermain media sosialSalah: Mengirim video/foto untuk mengejek dan mempermalukan orang lain di grup chat/pesan singkat (Amel, 13 tahun)  KOLABORASI: Bertanggung … Read more

Literasi Menantang: Dari Aksara ke Sinema

Yeay senangnya!Mengangkat topik literasi, Komunitas Guru Belajar (KGB) Depok mengadakan TPD (Temu Pendidik Daerah) lagi. setelah 3 bulan off. Kali ini TPD berlokasi di kediaman Pak Pandji (salah satu pembicara yang juga anggota KGB) yakni di Kebun Biru, Jl. H. Suaib, Krukut, Limo Depok dengan jumlah peserta 14 orang yang berasal dari TK dan SD di Depok. Seperti biasanya kami juga menyepakati untuk potluck, yakni membawa makanan masing-masing untuk dimakan bersama. TPD yang ke-15 ini kami mengangkat dua materi. Materi pertama adalah “Literasi Menantang: Dari Aksara ke Sinema“. Materi ini dibawakan oleh Pak Uhan Subhan dari SMP Islam Fitrah Al Fikri. Yang kedua berjudul “Keterlibatan Orang Tua dalam Kegiatan Belajar di PAUD”. Dibawakan oleh Pak Pandji Widya dari TK Islam Dian Didaktika. Namun, sebelum materi pertama dan kedua, ada sekilas info tentang TPD dan TPN (Temu Pendidik Nusantara) yang dibawakan oleh Pak Arifin dari SD Binakheir. Dan, yang membuat TPD kali ini makin seru, setelah materi inti selesai ada sesi sharing tentang pendidikan di Finlandia bersama Pak Muhammad Tholchah yang merupakan kandidat Doktor di Tampere University Finland. Wow! Acara dimulai pukul 08.55 WIB dan selesai pukul 12.50 WIB (padahal rencana awal jam 12.00 selesai, karena saking asyiknya diskusi jadi kebablasan, hehe ☺ ) dengan dipandu oleh Bu Handayanih dari SDIT Mutiara Islam sebagai MC. Pembukaan oleh MC dan Pembacaan Ayat suci Al Qur’an oleh Pak Faiz Biamrillah dari SD Islam Kamila Insan Cita hingga jam 09.15. Setelah itu dilanjutkan dengan info TPD dan TPN hingga jam 09.50. Saat memberikan info-info Pak Arifin menggunakan slide yang diantaranya terdapat foto-foto yang membuat peserta tertarik. Salah satu info yang disampaikan adalah bahwa TPN 2019 diadakan tanggal 25-27 Oktober 2019 di Sekolah Cikal, temanya adalah . Aktivitas Literasi dengan Komik dan Youtube Akhirnya materi inti yang pertama pun digelar, yakni tentang Literasi Menantang yang disampaikan berdasarkan pengalaman Pak Uhan di sekolahnya yang notabene adalah siswa SMP. Di awal materi, beliau memaparkan literasi dalam pandangan awam, diantaranya adalah: membaca bukan aktivitas penting, membaca hanya membuang waktu, dan membaca adalah aktivitas berbahaya. Beliau pun memaparkan tahapan menjadikan bacaan menjadi sebuah film yang bisa dinikmati oleh lebih banyak orang dan bernilai seni tinggi serta membuat bangga orang-orang yang berkontribusi di dalamnya. Diawali dengan membaca semua novel yang berjudul sama, siswa kemudian diminta untuk membuat alur grafis dalam sebuah kertas besar, lalu dibuat menjadi komik. Setelah itu, siswa menjadikan komik itu sebuah film pendek dengan produser, sutradara, pemeran, dan semua kru berasal dari siswa dan diunggah ke youtube. Apakah berakhir sampai disini? Oh tidak! dewan guru masih ingin memberikan tantangan pada siswa dengan mengadakan festival dan mengundang banyak orang. Selain itu tiap ada kegiatan di luar para siswa juga mempertontonkan film hasil karyanya hingga membuat mereka bahagia. Pak Uhan memberikan inspirasi baru bagi kita semua, ternyata dari sebuah bacaan dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang jauh lebih menarik. Beliau juga menekankan pentingnya guru hingga mencoba membuat buku sebagai sebuah karya. Melibatkan Orangtua di Sekolah Pemaparan materi kedua dimulai pukul 10.45 hingga 11.15, yakni tentang pengalaman Pak Pandji selama bergelut dengan dunia PAUD dan TK. Beliau memberikan banyak tips pada para peserta bagaimana caranya agar orangtua dapat terlibat aktif di sekolah. Tips diantaranya: saat pertemuan awal dengan orang tua ada akad (perjanjian). Salah satu isinya tentang kewajiban orang tua hadir saat ada kegiatan parenting. Menugaskan kordinator kelas (korlas) sebagai seksi dokumentasi saat ada kegiatan. Berikan wewenang pada mereka untuk menyebarkan hasilnya ke orang tua siswa yang lain; memberikan tantangan pembelajaran di rumah untuk siswa bersama orang tuanya. Tips dan trik dari Pak Pandji sangat membantu kami mendapatkan ide-ide baru dalam upaya merangkul orang tua. Sehingga orangtua bisa terlibat aktif dan membantu dalam proses pendidikan anak-anak. Sesi terakhir adalah sharing dari teman pak Pandji, pak Tholchah. Beliau tinggal di Finlandia dan saat ini sedang pulang ke Indonesia. Selama 3 bulan di Indonesia melakukan penelitian tentang guru TK laki-laki. Beliau memberikan pencerahan pada kami tentang pendidikan di sana. Banyak hal yang selama ini belum kami ketahui terutama tentang tidak mudahnya negeri kita mengikuti sistem seperti di sana. Karena banyak perbedaan antara Indonseia dengan Finlandia. Ada beberapa hal yang bisa kita adopsi namun ada juga yang tak bisa. Dan tentu saja kita harus bersyukur dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh bangsa ini. Insyaallah bisa menjadi modal untuk kemajuan pendidikan kita ke depannya. Alhamdulillah, setelah sekian lama tidak mengadakan TPD, di hari itu kami semua merasa puas. Dan mendapat banyak pencerahan dan inspirasi. Terima kasih Bu Widhya dan Pak Arifin sebagai Koordinator. Terima kasih kepada panitia, terima kasih para pembicara, dan terima kasih pada semua peserta. Mari senantiasa semangat belajar untuk menjadi Guru yang Merdeka Belajar! Ingin Memahami Tentang Literasi Lebih Lanjut? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 19Miskonsepsi LiterasiUnduh Gratis klik