Guru Penggerak Jombang dan Merdeka Belajar

Melihat kabar teman-teman di grup Penggerak Komunitas Guru Belajar Nasional. KGB berbagai daerah bercerita tentang perkembangan mereka yang sudah mulai sosialisasi tentang Merdeka Belajar. Penggerak dari Komunitas Guru Belajar Jombang pun ngiler. Ingin Jombang segera punya agenda tersebut. Sungguh, setelah hampir satu bulan akhirnya kami pun mendapat kesempatan itu. Tepatnya tanggal 22 januari Pak Ubed mendapat kabar jika KKG MI Kelas 1 dan PAUD menghendaki kita untuk menjadi narasumber untuk belajar memaknai Merdeka Belajar. Segera penggerak Komunitas Guru Belajar merapat untuk membahas hal tersebut, untuk menyamakan konsep dan membagi tugas saat kegiatan nanti. Ternyata, hampir semua penggerak yang akan ikut andil acara ini merasa nervous . Saya yang biasanya akan presentasi merasa biasa saja, ini rasanya agak mules-mules gitu, hahaha. Ya, secara kita akan menyebarkan salah satu kebijakan yang lagi hot. Tim kami pertama datang pun ada adegan lucu. Kami dikira anak-anak akan menyuntik. Lalu saya bertanya ”Apakah wajah kami seperti dokter, Nak?”. Mereka menjawab, “Iya, Bu.” Kami tertawa dan setelah mereka pergi, kami tertawa. Dalam hati berkata, ya nak kami akan menyuntik semangat Merdeka Belajar untuk bapak ibu guru. Acara dimulai pada hari Kamis tanggal 30 Januari 2020 jam 9.30 di MISS 2 Bandung, Kecamatan Diwek karena sambil menunggu peserta datang. Peserta yang datang pada saat itu ada 26 orang. Acara dimulai dengan sambutan ketua dan dilanjutkan dengan moderator, mbak Utari membuka acaranya. Sebelum memasuki presentasi beliau mengajak semua peserta untuk melakukan aksi gerakan tangan “Merdeka Belajar”. Mereka terlihat senang, dan antusias mengikuti. Setelah itu, memasuki acara presentasi ganti saya yang handle. Menceritakan tentang Komunitas Guru Belajar dan Kampus Guru Cikal juga 4 kunci pengembangan kompetensi guru. Saya ceritakan juga tentang KGB Jombang. Guru Penggerak Menyebarkan Merdeka Belajar Sebelum memutar video, saya mengajak teman-teman untuk menuliskan dahulu pemahaman mereka tentang apa itu merdeka belajar. Segera kami bagi post it dan menempel kertas plano. Dari hasil tempelan tersebut, rata-rata belum menggambarkan 3 kunci merdeka belajar. Nak, saat akan memutar video notebook saya tidak bisa mengeluarkan suaranya. Ada tim bagian teknisi, saya tetap handle teman-teman dengan mengajaknya yel-yel merdeka belajar. Akhirnya dicoba dengan notebook satunya. Ternyata sama juga, kami pun tak kehilangan akal. Akhirnya dua notebook dinyalakan dengan berbagi tugas, antara tayangan gambar dan suara hahahaha. Melihat tayangan video peserta tampak bersemangat. Hingga pemutaran video selesai, saya lanjutkan dengan mengajak teman-teman berdiri untuk berkelompok setelah saya menghitung 2-6. Semua sudah berkelompok. Dan mereka pun lanjut diskusi tentang refleksi setelah melihat video. Sepuluh menit kemudian, ada perwakilan kelompok presentasi. Setelah presentasi, ketua bertanya ke saya, “Jika saya saat mengajar sudah menyampaikan tujuan ke murid, pengajaran pun saya beri kesempatan murid untuk memilih materi mana dulu yang disukainya. Tidak lupa di akhir pembelajaran saya tanya ke murid untuk refleksi”. “Apakah pengajaran ini sudah merdeka belajar Bapak Ibu?” Saya tidak langsung menjawab. Tapi, saya ajak untuk memasuki materi selanjutnya untuk segera bisa menjawab sendiri apakah sudah merdeka belajar apa belum.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Hingga akhirnya sampai pada sesi, teman-teman saya ajak untuk berdiri. Karena ruangan tidak memadai untuk bergeser ke kanan atau kiri, maka saya ajak untuk mengacungkan tangan saja. Jika setuju dengan pernyataan tersebut mengacungkan tangan kanan dan sebaliknya. Rata-rata dari jawaban mereka sudah benar. Ketika saya membacakan tentang puisi merdeka belajar, duh rasanya merinding saya. Keren abis itu puisi. Pasti yang membuat pakai hati hingga bisa masuk ke hati. Refleksi Pengajaran Merdeka Belajar Materi sudah tersampaikan. Saya kemudian membawa hal yang saya dapat dari Pelatihan Guru Merdeka Belajar yang pernah saya ikuti. Tentang praktik 2 adegan pengajaran. Setelah itu, saya ajak teman-teman untuk refleksi rasa yang mereka rasakan saat menjadi murid. Perwakilan teman-teman maju ke depan untuk menyampaikan perasaannya. Jelas mereka lebih senang saat pengajaran ke-2  karena murid merasa dihargai, penyampaian materi langsung pada praktik, dan suasana terbangun dengan hangat. Sebelum saya akhiri, saya menyampaikan bahwa kegiatan ini akan berlanjut lagi, dengan kanvas merdeka belajar dan lain-lain tentang Komunitas Guru Belajar. Tidak lupa kami promosikan produk KGB yang bisa diperoleh di dan saya juga menunggu kabar baik dari teman-teman tentang praktik baiknya di sekolah. Dan tentunya, akan menerbitkannya menjadi buku. Akhirnya moderator menutup acara. Setelah itu, kami lanjutkan dengan refleksi dan tindak lanjut. Sayangnya, kami belum membaca hasilnya dibawa ketua. Tapi, itu PR kami untuk menanyakan hasil refleksi dan tindak lanjut teman-teman. Tidak lupa acara ditutup dengan foto-foto memakai banner keren KGB Jombang dan banner keren dari KKG MI Kelas 1. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Berbagi Kisah Belajar dengan Guru Se-Nusantara

Taraaa… Akhirnya Temu Pendidik Daerah (TPD) Ke-3 dengan Tema “Tebar Ilmu TPN 2018” dari Komunitas Guru Belajar (KGB) Jombang dapat terealisasi, setelah sempat maju mundur syantiiikk. Kegiatan TPD ke-3 KGB Jombang dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 28 Oktober 2018 pukul 09.00-11.00 mundur 1 jam dari jadwal karena masih ada proses pengambilan pemesanan merchandise Kampus Guru Cikal pada saat Temu Pendidik Nusantara (TPN) 2018. Sambil menunggu satu demi satu rekan seperjuangan datang. Saya kaget, karena kami kedatangan dua rekan seperjuangan dari Nganjuk yang menempuh jarak sekitar 40 km, yaitu Bu Hus dan Bu Nuraini. Mengetahui acara ini melalui info yang dibagi  Bu Alfi di grup-grup WA, ikut karena penasaran dan ingin tahu tentang KGB. Rekan lain, yaitu bu Pinta, meski belum masuk di KGB Jombang, pun tertarik mengikuti TPD, beliau bertiga akhirnya bergabung di KGB Jombang. Temu Pendidik kali ini dimulai dengan jumlah peserta 14 orang. Kegiatan KGB diawali dengan pembukaan oleh moderator, Ibu Rukiatin. Ibu yang gaul dan dapat mencairkan suasana dengan banyolannya. Selanjutnya, pengenalan narasumber Alfi Lailatin. Narasumber Bu Umaiyyah dari KGB Lamongan tidak dapat hadir karena ada anggota keluarganya yang sakit. Bu Alfi membagikan fotokopi hasil ringkasan ilmu yang diperoleh dari TPN 2018. Bayangkan, 13 materi kami diskusikan untuk pertemuan kali ini. Tetapi, untuk lebih rinci akan kami bahas di TPD selanjutnya. Kami sengaja tidak memakai LCD Proyektor agar diskusi berjalan tidak kaku dan lebih komunikatif antara peserta dengan narasumber. Pembukaan dimulai dengan kutipan dari Bu Ella: “Kalau kamu melakukan satu hal dan kamu tidak takut itu berarti yang kamu lakukan biasa saja, tapi jika kamu melakukan satu hal dan kamu takut berarti yang kamu lakukan itu luar biasa”. Sederhana tapi merupakan percikan semangat bagi kami. Karena ilmu yang kami dapatkan dari komunitas ini, memang tidak sama dengan yang umum ada di luar sana.  Tetapi, memang inilah yang harus kami lakukan, yaitu bergerak untuk perubahan yang bermakna bagi murid kita. Pemaparan materi oleh Bu Alfi tentang tebar ilmu dari kelas penggerak. Hal ini dilakukan agar tumbuh penggerak-penggerak yang lain di KGB Jombang. Beliau menyampaikan bagaimana beliau dapat mengikuti acara Kece ini dengan fasilitas gratis. Intinya bukan karena gratisnya, tetapi kesempatan untuk  mengikuti acara yang penuh dengan tebaran ilmu rekan seperjuangan se-Nusantara. Wowwww… keren dan pingin banget tahun depan bisa ikut. Pemaparan kedua, ilmu dari kelas kemerdekaan pertama yang Bu Alfi ikuti yaitu perubahan pengajaran pada lingkup sekolah.  Hal ini dilakukan dengan perumusan pertanyaan di Lesson Study sebagai ruang belajar dan inspirasi guru serta evaluasi Kurikulum Sekolah, Pertemuan Agung, dan memanusiakan ruang kelas. Pemaparan ketiga, ilmu dari Kelas Kemerdekaan kedua, yaitu mengembangkan kesepakatan, menjalankan konsekuensi. Pemaparan keempat dengan ilmu dari Kelas Kompetensi. Kelas pertama yang dibagikan beliau adalah Ragam Strategi Memahami Murid. Kelas kedua yang dibagikan beliau adalah Merancang Musik untuk Belajar Apapun. Kelas ketiga pun tak kalah seru, yaitu pemaparan tentang kelas kolaborasi. Yaitu Menyebar praktik baik melalui buku. Dan pemaparan kelima dari kelas karier dipaparkan tentang Dongeng Dialektika, Guru Merdeka – Guru Berdaya, Karier Protean – Karier Guru di Abad Ke-21, dan Batik folder, Belajar Melalui Budaya Lokal. Acara tanya jawab kemudian dilanjutkan dan diserahkan kepada moderator. Moderator untuk bertanya lanjut dari ringkasan yang telah dibagikan dan disajikan oleh narasumber. Sesi yang pertama dibuka dengan sharing Ibu Hus. Beliau bercerita, punya anak asuh, karena kedua orang tuanya sibuk. Tetapi, sikap anak ini khusus. Dia tipe anak yang temperamen dan belum dapat mengikuti pembelajaran di kelas, sehingga sering membuat masalah di kelasnya. Lalu Bu Hus bertanya, bagaimana cara menangani anak tersebut. Pertanyaan kedua oleh Bu Ennay, yang bertanya lebih lanjut tentang sesi kelas perdamaian, karena beliau mempunyai murid yang sering mengalami perundungan dan guru yang lain sering menganggap sebelah mata murid tersebut. Moderator selanjutnya memberikan waktu untuk narasumber. Selain jawaban dari narasumber, rekan yang lain pun, saling memberikan solusi dari praktik baik yang pernah mereka lakukan. Demikian juga untuk pertanyaan bu Ennay. Pada acara ini pun kami mendapat tambahan ilmu, melalui diskusi tentang “Sampahku Tanggung Jawabku” meski di luar materi, tetapi ini juga merupakan materi yang ada di TPN, sayangnya narasumber tidak mengikuti kelas tersebut. Tetapi, dari berbagi praktik cerdas rekan-rekan seperjuangan ini menambah pengingat dan gerakan kita. Sebelum ditutup, Bu Alfi menunjukkan buku Memanusiakan Hubungan yang diberikan oleh Kampus Guru Cikal kepada KGB Jombang untuk dipinjamkan kepada anggota secara bergantian. Bu Alfi menutup dengan pesan “Kami tunggu praktik cerdas rekan-rekan seperjuangan di kelasnya, untuk dibagi dengan rekan yang lainnya dan diupload di Grup Whatsapp”. Refleksi sebagai penutup dengan mengajak rekan untuk menuliskan apa saja yang didapatkan dari kegiatan TPD ini. Bu Nadroh, sangat senang sekali akhirnya dapat menemukan KGB Jombang. Karena, awalnya beliau mengikuti Temu Pendidik Mingguan di Telegram. Sehingga, beliau sangat mendukung sebuah komunitas yang isinya peduli dan mau bergerak untuk perubahan pendidikan yang lebih baik. Selesai acara, kami pun melakukan pemilahan sampah bungkus makanan yang kami. Sebagai bukti langsung praktik kita dalam TPD kali ini.