Temu Pendidik Nusantara VIII, Ada Apa?

Bapak dan Ibu Guru sudah mempraktikkan merdeka belajar? Ingin menambah inspirasi? Mengembangkan kompetensi dan karier? Atau ingin melakukan perubahan dalam dunia pendidikan?. Dalam Temu Pendidik Nusantara VIII akan menjadi momen refleksi menyeluruh terhadap merdeka belajar, menjadi sebuah asesmen formatif untuk penggerak perubahan pendidikan, karena merdeka belajar sebagai cita tidak hanya membutuhkan peran pendidik saja tetapi juga membutuhkan ekosistem yang merdeka belajar. Tidak hanya guru yang belajar, tetapi juga kepala sekolah, kepala madrasah, bahkan pengawas yang yang sering ditakuti oleh guru, tetapi ternyata dapat berjumpa dan berkolaborasi dalam semangat yang sama yaitu merdeka belajar.  Dalam Temu Pendidik Nusantara guru tidak hanya ikut begitu saja, tetapi guru dapat memilih. Setiap guru dapat memilih perannya dapat sebagai peserta, pembicara atau relawan panitia.  Setiap guru yang memilih menjadi peserta, juga bisa memilih topik yang ingin dipelajarinya. Berbeda dengan kebanyakan kegiatan lainnya, biasanya guru dituntut belajar topik yang ditentukan pihak lain, bukan pilihannya sendiri. Di Temu Pendidik Nusantara VIII, guru dapat memilih topik yang sesuai kebutuhan dan keinginannya. Topik yang dipilih yang dapat membantu dalam mengatasi permasalahan di kelas maupun sekolah. Guru yang sudah memiliki pengalaman mengajar juga mendapatkan kesempatan untuk menjadi pembicara. Guru yang menjadi pembicara dapat menyampaikan pengalaman dan keadaannya ketika di lapangan. Guru yang menjadi pembicara diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi guru lain, memberikan dampak yang luas dan memberikan perubahan, mengawali karier menjadi pelatih, dan dikenal oleh 30.000 guru se-nusantara.  Tidak hanya belajar, tetapi guru juga mengembangkan karir. Karena sejak tahun lalu, Temu Pendidik Nusantara sudah dirancang sebagai kegiatan pengembangan karier guru. Pembagian kegiatan di Temu Pendidik Nusantara dilakukan untuk memberi pengalaman dan tantangan karier yang beragam. Peserta Temu Pendidik Nusantara akan belajar mencoba suatu strategi pengajaran di kelas kemerdekaan, mengembangkan potensi di kelas kompetensi, dan memperluas kesempatan dan jejaring belajar di kelas kolaborasi. Peserta Temu Pendidik Nusantara juga bisa belajar dan mengetahui bahwa menjadi kepala sekolah bukanlah satu-satunya pilihan karier guru. Di kelas karier, peserta Temu Pendidik Nusantara dapat belajar bahwa profesi guru dapat menghasilkan banyak spesialisasi. Dengan mempelajari perjuangan setiap pembicara dalam merintis kariernya. Di Pameran Karier, peserta Temu Pendidik Nusantara juga bisa menyaksikan dan mendapatkan karya dan layanan guru. Harapannya setelah mengikuti Temu Pendidik Nusantara, peserta mendapatkan pelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan karier untuk merintis dan mengembangkan kariernya. Peserta tidak hanya menjadi pendengar, tidak hanya dimintai kartu nama untuk tindak lanjut presentasi produk atau layanan. Tetapi peserta menjadi berdaya karena mendapatkan kesempatan menghasilkan karya yang bermanfaat baik untuk sesama guru maupun masyarakat luas. Peserta Temu Pendidik Nusantara diajak untuk berdaya, dalam melangkah dari jenjang ke jenjang lebih lanjut hingga menghasilkan karya. Baca Juga : Inilah 5 Keistimewaan Temu Pendidik Nusantara Tidak hanya berkembang, tetapi juga melakukan perubahan. Meski terbuka untuk umum, sebagian besar peserta Temu Pendidik Nusantara adalah guru-guru dari beragam organisasi profesi dan komunitas yang menjadi bagian dari perubahan pendidikan Indonesia. Seperti dari Yayasan Guru Belajar, Cerita Guru Belajar, Kampus Guru Cikal, Sekolah Merdeka Belajar, Komunitas Guru Nusantara, Komunitas Pengawas Belajar, Jaringan Sekolah Madrasah Belajar, Ikatan Guru Indonesia, Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia, Lingkar Daerah Belajar, Federasi Guru Independen Indonesia, Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia, PERGUNU, Forum Guru Muhammadiyah, dan Badan Musyawarah Perguruan Swasta. Disponsori oleh Nusantarun, Sekolah.mu, Wardah Inspiring Teacher, dan Nutrifood. Serta diliput oleh media-media Kumparan.com, Tempo.com, dan Kompas.com. Organisasi-organisasi ini hadir bukan sekedar belajar untuk kepentingan dan capaian pribadi, tetapi juga untuk mengubah praktik pengajaran dan menyebarkannya ke guru-guru yang lain. Tidak semua bertahan, namun mereka yang hadir adalah mereka yang berkomitmen kuat pada tujuan, yang menunjukkan ciri dari guru merdeka belajar. Konten pada Temu Pendidik Nusantara diharapkan dapat menjadi konten yang menjawab kebutuhan ekosistem guru dan pendidikan di Indonesia. Konten Temu Pendidik Nusantara dirancang dan dipilih sesuai dengan topik Temu Pendidik Nusantara juga selaras dengan semangat merdeka belajar. Konten yang dapat membantu guru memandu murid menjadi pelajar merdeka. Namun keistimewaan yang utama pada Temu Pendidik Nusantara bukan berkaitan dengan konten, kelas, maupun pembicara. Temu Pendidik Nusantara istimewa karena menjadi wadah perjumpaan antar guru yang berbagi cerita dan membahas bagaimana momen asesmen nasional dapat digunakan oleh semua pemangku kepentingan untuk mendesain, mengembangkan, mewujudkan ekosistem yang membantu semua dan setiap murid untuk mengalami pengalaman merdeka belajar di rumah, di kelas, dan di komunitasnya.  Apakah Bapak dan Ibu Guru berminat untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII?  Yuk jangan lupa untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem belajar.  Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara.  Mari daftar di Temu Pendidik Nusantara VIII!  klik : https://tpn.gurubelajar.org

Mengembangkan Bakat Murid saat Pembelajaran di Masa Pandemi Melalui Asesmen Diagnosis

Bingung bagaimana memfasilitasi bakat murid saat pembelajaran di masa pandemi? Sulit menemukan wadah untuk menyalurkan bakat dan minat mereka? Padahal murid sudah sangat jenuh belajar dari rumah. Tidak ada lagi kegiatan semacam ekstrakulikuler yang dapat mereka ikuti seperti saat PTM (Pembelajaran Tatap Muka). Mungkin hal ini yang sekarang masih membuat Bapak dan Ibu guru bimbang. Tenang Bapak Ibu, karena pada tulisan kali ini kita akan membahas kisah dari guru belajar yang mengalami kasus serupa namun bisa menanganinya melalui asesmen diagnosis. Benar, melalui asesmen diagnosis guru ini mampu menghadirkan pembelajaran yang bisa mengembangkan bakat murid di saat pembelajaran di masa pandemi. Guru ini bernama Bu Fitriana. Bu Fitriana merupakan guru di SDN Tugu Utara 05 sekaligus menjadi anggota Komunitas Guru Belajar (KGB) Jakarta Selatan. Sejak diberlakukannya PJJ dibarengi munculnya kebijakan Asesmen Nasional (AN) dalam bentuk survei karakter, survei lingkungan belajar, dan asesmen kompetensi minimum menuntun Bu Fitri untuk mencari informasi dan bergerak mengikuti perkembangan mengenai hal yang masih dianggapnya baru tersebut. Bu Fitri banyak mengikuti kegiatan webinar seperti Wardah Inspiring Teacher (WIT) 2020. Dari kegiatan ini Bu Fitri belajar mengenai empati kepada murid. Tak berselang lama, Bu Fitri juga mengikuti Seri Guru Belajar yang diadakan oleh Kemendikbud. Dari sini Bu Fitri belajar tentang Asesmen Nasional, macam-macam asesmen dan cara menindaklanjutinya. Selain itu Bu Fitri juga mendapat pemahaman tentang kegiatan pembelajaran yang mempertimbangkan kondisi murid (tidak memberatkan murid) dengan menghadirkan pembelajaran yang lebih variatif, inovatif, dan kreatif agar potensi murid dapat dioptimalkan. Sebelum melaksanakan pembelajaran, Bu Fitri melakukan asesmen diagnosis guna menggali informasi terkait kondisi murid-muridnya. Informasi tersebut Bu Fitri jaring dengan menyebar kuesioner kesiapan belajar kelas VI-A dalam Google Form. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa orangtua murid dominan bekerja sebagai buruh. Selain itu, Bu Fitri juga tahu keberagaman hobi murid, mulai dari futsal hingga menari. Data menunjukkan jika 50% muridnya sudah menggunakan gawai milik sendiri. Untuk hambatan saat pembelajaran di masa pandemi, murid Bu Fitri sebagian besar mengeluh akan bosannya belajar dari rumah, keterbatasan kuota, gangguan jaringan atau sinyal, dan merepotkan orang tua karena tidak bisa terus mendampingi mereka. Dari hasil asesmen diagnosis tersebut, Bu Fitri memulai pembelajaran dengan kegiatan proyek perkenalan diri. Dimulai dengan murid mengenal Bu Fitri melalui media sosialnya, kemudian murid diminta untuk menyimpulkan tentang Bu Fitri. Proyek ini cukup ampuh untuk membuat murid mengenal dan dekat dengan Bu Fitri. Bu Fitri juga memberikan opsi pada pengumpulan tugas, bisa berbentuk mind map, video, atau voice note. Dari kegiatan tersebut, Bu Fitri memberi kesempatan murid mengembangkan bakat-nya. Baca juga: Implementasi Asesmen Diagnosis untuk Membangun Disiplin Murid Di luar pembelajaran, murid-murid juga mengalami kejenuhan karena tidak bisa menyalurkan bakat dan minatnya di kegiatan ekskul ataupun kegiatan memperingati hari besar nasional seperti saat PTM dulu. Dengan melihat data hasil asesmen diagnosis yang menunjukkan bahwa 50% muridnya menggunakan gawai sendiri, Bu Fitri berencana untuk membuat panggung virtual dengan memanfaatkan aplikasi Stream Yard, Zoom, dan YouTube sebagai medianya. Bu Fitri mengajak teman-teman guru berdiskusi membahas peringatan HUT RI  dengan menyelenggarakan lomba-lomba secara virtual. Mulai dari jenis lomba, teknis lomba, sistem penilaian dan hadiahnya diusahakan persis seperti saat pandemi belum datang. Contoh lomba yang berhasil diselenggarakan dapat ditonton melalui tautan berikut: https://youtu.be/1y-q4d1HqX8  Namun setelah melakukan refleksi, Bu Fitri merasa kegiatan tersebut belum sepenuhnya dapat memaksimalkan potensi dan minat bakat murid. Bu Fitri mulai melibatkan orangtua murid dengan mengajak mereka berdiskusi. Bu Fitri sadar bahwa peran orangtua sangat besar dalam membantu murid menampilkan unjuk kreasi mereka.  Oleh karena itu, saat Hari Guru, Bu Fitri dan teman-teman guru mengadakan kegiatan lagi berupa pentas seni dan penampilan terbaik dari tiap kelas. Kegiatan dapat dilihat melalui tautan berikut: https://youtu.be/AMf05WTBESs. Namun setelah melakukan refleksi kembali, ternyata masih ditemukan beberapa hambatan seperti h beberapa murid yang tampil dari setiap kelas, kendala sinyal, dan kuota internet.  Pantang menyerah, demi mengembangkan bakat murid, Bu Fitri dan teman-teman guru di sekolahnya kembali memanfaatkan momen yang pas yakni ketika Isra Mikraj sebagai wadah menyalurkan bakat dan minat murid-muridnya. Berbekal refleksi sebelumnya, Bu Fitri kembali mengadakan kegiatan pentas seni dengan menambah tema dan pengisi acara dalam kegiatan tersebut. Kegiatan dapat dilihat melalui tautan berikut: https://youtu.be/H54Ui-SLuHw  Dan Bu Fitri tidak menyangka banyak yang mengirim video dari tiap kelas. Artinya banyak yang ingin tampil di pentas seni virtual. Mereka sangat antusias menyaksikan penampilan teman-temannya melalui YouTube. Mereka juga tidak sabar menanti penampilan mereka ditayangkan. Murid-murid menyaksikan kegiatan tersebut hingga akhir tanpa takut kuota mereka habis. Nah, bagaimana Bapak Ibu guru, apakah cerita inspiratif di atas sudah cukup menghilangkan kebingungan Bapak dan Ibu? Atau Bapak Ibu masih ingin mendapat cerita-cerita inspiratif lainnya? Yuk langsung aja daftar di Temu Pendidik Nusantara (TPN) VIII dengan tema Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar yang akan diselenggarakan pada 20-21 November 2021. Di sini Bapak Ibu akan mendapat inspirasi dari #1000Pembicara lho! Langsung aja klik tpn.gurubelajar.org Sumber: Surat Kabar Guru Belajar No.28 

Asesmen Diagnosis adalah Langkah Agar Murid Gemar Belajar!

Sebal menghadapi murid yang malas belajar saat pandemi? Sudah menggunakan Asesmen Diagnosis? Asesmen Diagnosis adalah langkah menyelenggarakan pembelajaran yang berorientasi pada murid. Lalu bagaimana merancangnya di situasi pandemi? Pembelajaran berorientasi pada murid dalam situasi ruang kelas yang sama saja masih manjadi keresahan dan tantangan guru, apa lagi saat pandemi. Dimana keberagaman situasi setiap murid sangat mempengaruhi pembelajaran. Ketersedian sarana prasarana memadai, pendampingan orang dewasa untuk murid jenjang bawah, juga kondisi keluarga setiap murid menjadi tambahan pertimbangan guru merancang strategi pembelajaran berorientasi pada murid. Tentunya setelah guru memahami pribadi setiap murid, minatnya, modalitas belajarnya, juga tahapan perkembangan kognitifnya. Untuk itu hal yang penting bagi guru lakukan adalah asesmen diagnosis, untuk mengetahui dan memahami profil setiap murid. Dari hasil asesmen diagnosis tersebut menjadi acuan guru merancang strategi pembelajaran yang sesuai bagi murid. Kamis, 8 Juli 2021 rekan guru di Kabupaten Lamongan mempersiapkan melakukan asesmen diagnosis dengan mengadakan Temu Pendidikan Daerah (TPD) Kabupaten Lamongan dalam Webinar Asesmen Diagnosis bersama Ibu Elisabet Indah Susanti sebagai narasumber dari Kampus Guru Cikal Webinar dibuka dengan mendengar sambutan dari Bapak Chusnul Yuli Setyo selaku Kadisdikbud Kabupaten Lamongan yang menekankan soal upaya mempersiapkan PTM terbatas dengan aman. Menurut beliau ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu: 1) Persiapkan Lembaga; 2) Persiapan Guru; dan 3) Persiapan Strategi Pembelajaran. Bapak Setyo juga mengungkapkan bahwa persiapan yang dilakukan perlu didukung oleh literasi digital. Hal ini dikuatkan oleh Kepala Kemenag Kabupaten Lamongan Bapak Firdaus Markus dalam sambutannya yang mengungkapkan, “ajarilah anak sesuai zamannya”. Menurut beliau sesungguhnya murid mudah beradaptasi dengan literasi digital, namun guru juga harus berapatasi sehingga mampu menemukan formula dan strategi pengajaran tepat pada masa pandemi. Hal yang tidak kalah penting diungkapkan Pak Firdaus dalam sambutannya ialah semangat dan motivasi belajar murid-murid yang perlu dipertahankan dengan merancang strategi pembelajaran sesuai kondisi setiap murid.  Setelah melakukan refleksi mengenai kata belajar & asesmen, Bu Elisabet Indah Susanti sebagai narasumber menyampaikan “sayangnya dalam praktik pembelajaran masih terdapat miskonsepsi belajar”. Setidaknya terdapat dua kriteria miskonsepsi berlajar, yaitu:  strategi pembelajaran yang masih berorientasi pada target, dengan hanya mengacu pada kurikulum, penyampaian satu arah untuk mengejar ketuntasan konten dan  asesmen pembelajaran yang masih berorientasi pada asesmen sumatif sebagai nilai akhir tanpa membedakan dengan pengambilan nilai asesmen formatif.  Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Seharusnya guru dalam merancang strategi pembelajaran berorientasi pada murid, dengan memadukan kurikulum dan kebutuhan murid. Aktivitas yang dilakukan beragam untuk penguasaan kompetensi, serta tentunya dengan pertimbangan kemampuan awal murid. Dalam proses dari merancang, manjalankan, sampai mencapai tujuan belajar untuk kompetensi diperkuat dengan asesmen pebelajaran. Tentunya dengan prinsip asesmen yang ideal. Terdapat 3 prinsip asesmen, yaitu:  asesmen untuk belajar, melalui asesmen diagnosis untuk menggali & menganalisis kebutuhan setiap murid dalam merancang pembelajaran. asesmen sebagai proses belajar, melalui asesmen formatif salah satunya menggunakan beragam metode yang menggali strategi belajar dan cara berpikir murid. asesmen terhadap hasil belajar, untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan orangtua dan pihak lain terkait capaian kurikulum. Ini baru berbicara soal nilai akhir rekan guru belajar melalui asesmen sumatif. Selama ini kita salah kaprah terhadap proporsi dari ketiga prinsip asesmen tersebut. Kita lebih banyak fokus pada asesmen terhadap hasil belajar dengan mengejar nilai. Kurangnya asesmen sebagai proses belajar, bahkan tidak melakukan asesmen untuk belajar dengan mendiagnosis kebutuhan belajar murid. Ada beragam cara untuk melakukan asesmen diagnosis, salah satunya bisa dengan tes, wawancara, atau observasi.  Dengan demikian tujuan asesmen untuk mendapatkan informasi bagi guru dan murid mengenai proses belajar dan pencapaian belajar secara berkala akan tercapai. Jadi kalaupun melihat kurikulum hanya dijadikan acuan untuk meningkatkan kompetensi yang kontekstual. Sehingga diharapkan rekan guru dapat membangun keberlajutan dengan mengaitkan antara rancangan pengajaran, pembelajaran, dan juga asesmen menjadi satu kesatuan proses yang saling berhubungan.  Jika kita memperhatikan arah perubahan pendidikan dengan adanya penyederhanaan aturan administrasi, orientasi pada murid, serta perubahan sistem asesmen rasanya kita diberi ruang dan waktu lebih banyak untuk mengenali masing-masing murid melalui asesmen diagnosis. Dalam melakukan asesmen ini, guru dapat dianalogikan bagai dokter bagi murid-muridnya. Seorang dokter itu tugasnya melakukan asesmen, bentuknya pemeriksaan kalau dokter. Pemeriksaan terhadap gejala, kemudian mengevaluasi, lalu tindak lanjut dengan memberikan resep obat sebagai solusi. Ketika kita sebagai guru melakukan asesmen diagnosis, berarti kita melakukan medical check up kepada murid-murid kita. Dengan hasil asesmen diagnosis, kita punya indikator analisis untuk mendapatkan informasi tentang kebutuhkan murid masing-masing. Lalu apa yang harus dilakukan setelah itu? Maka sama seperti dokter akan melakukan tindak lanjut dari gejala yang didapatkan. Guru pun akan melakukan tindak lanjut dengan merancang strategi pembelajaran yang berorientasi pada murid. Setelah Bu Susan selesai menyampaikan materi, rekan guru yang tergabung dalam Webinar Asesmen Diagnosis antusias bertanya dan berdiskusi. Pertanyaan yang cukup penting  adalah yang ditanyakan moderator dalam akun zoom Anis Ceha, apakah asesmen diagnosis hanya dilakukan kepada murid saja atau orang tua juga? “Pertanyaan bagus Bu” ungkap Bu Susan memberikan apresiasi. Asesmen diagnosis selain dilakukan kepada murid juga perlu dilakukan pada orang tua, karena latar belakang orang tua akan mempengaruhi proses belajar murid. Pengaruhnya terhadap inisiatif murid dan juga dukungan orang tua selam proses belajar. Pertanyaan berikutnya dari Bu Fatma, kalau untuk murid baru pada tingkat SD/MI pendekatan seperti apa yang digunakan untuk mengenali karakter murid pada saat PJJ? Secara kan murid barunya dari TK. “Perlu interaksi personal pada setiap murid lebih banyak. Strateginya bisa dengan kelas dikelompokan kecil” jawab Bu Susan yang juga mengingatkan untuk memberi waktu lebih banyak mendengarkan murid bercerita. Diskusi dan tanya jawab yang tidak semua dapat dituliskan, ditutup oleh penyataan penutup dari Bu Susan, “Asesmen diagnosis hal yang mungkin tidak kita alami dulu sebagai murid, namun untuk pembelajaran yang berpihak pada murid hal ini sangat esensial dan perlu dilakukan. Apalagi pada situasi pandemi saat ini.” Bagaimana rekan guru belajar  metode apa yang akan dipilih untuk melakukan asesmen diagnosis? Metode apapun yang akan Anda pilih, pada intinya hasil dari asesmen diagnosis diperlukan untuk merancang pembelajaran berorientasi pada murid. Sehingga akhirnya akan tercipta pembelajaran yang merdeka belajar. Salam Merdeka Belajar Neneng Nurbaeti 

Diferensiasi Pembelajaran yang Disukai Murid

Diferensiasi pembelajaran itu apa sih? Lalu bagaimana menerapkannya? Apa dampaknya bagi murid? Temu pendidik daerah Makassar berjalan dengan penuh semangat saat pemandu acara membuka dan memperkenalkan narasumber ibu Dina Marta Aulia Ningrum seorang guru SMK Negeri 1 Kedungwuni Pekalongan. Ibu Dina membagi pengalaman mengajarnya dalam menghadapi beragam karakter murid. Saat ibu Dina memaparkan presentasinya yang membahas tentang deferensiasi. Inilah yang membuat saya dan beberapa teman KGBN Makassar turut ambisius untuk menyimak isi materi tentang pengalaman ibu Dina mampu membuat murid merasa nyaman dan semangat dalam belajar. Sekalipun pelajaran sulit, namun ibu Dina berhasil mengambil hati para muridnya dengan ide kreatifnya. Berikut ulasan terkait pengalaman ibu Dina dalam menerapkan diferensiasi pembelajaran. Berawal dari pembelajaran anekdot yang diberikan ibu Dina Marta Aulia Ningrum kepada muridnya, ia mendapat beberapa pengalaman sebagai bahan refleksi terhadap proses pembelajaran yang diterapkan. Dengan pembelajaran yang berfokus pada satu arah yaitu sekadar instruksi kepada murid mengerjakan “tugas” membuat anekdot menggunakan video. Namun, Ibu Dina belum memahami bahwa tidak semua murid bisa menggunakan video atau cenderung kurang berminat dalam menggunakan video. Serta ketidakpahaman murid terhadap pelajaran tentang anekdot.  Saat tiba hari pengumpulan tugas, hanya sebagian murid menyetor tugasnya dengan alasan sulit membuat anekdot dan video. Melihat hasil kerja murid yang jauh dari harapan, ibu Dina mulai berpikir langkah strategis untuk mencapai pembelajaran yang menyenangkan dan dapat mendorong semangat murid dalam belajar dan mengerjakan tugas anekdot yang diberikan. Ibu Dina mencari tahu kesukaan, kemamapuan, serta keahlian para muridnya. Jawaban murid beragam dengan berbagai pendapat. Ada yang suka menggambar, puisi, dan membuat pantun. Ibu Dina sontak melihat keberagaman bakat minat muridnya, namun dari situlah ibu Dina memberi kesempatan murid untuk memilih tantangan belajarnya sendiri sesuai potensi yang dimiliki.  Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Tantangan terbesar ibu Dina dalam menerapkan diferensiasi yaitu murid merasa aneh, karena penerapan murid berbeda dalam mengerjakan tugasnya. Namun Ibu Dina telah menjelaskan manfaat dari model deferensiasi ini. Deferensiasi dapat memaksimalkan potensi masing-masing murid dengan mambawa kedalam ranah pembelajaran agar bakat, minat murid dapat berkembang dan pembelajaran juga bisa menyenangkan.  Sebagai guru kita mengetahui bahwa setiap murid memiliki latar belakang bakat dan minat yang berbeda. Dan hal itulah yang membuat ibu Dina menyadari bahwa dalam menerapkan pembelajaran di kelas kita perlu melakukan diferensiasi/memahami kebutuhan murid. Maka dari itu, ibu Dina mengemas pembelajaran tentang anekdot dengan kolaborasi kemampuan murid. Artinya, murid mengerjakan tugas sesuai dengan hobi/passion masing-masing.  Sebagai contoh, murid yang suka musik bisa menyusun lagu menggunakan kata-kata anekdot. murid yang suka menggambar bisa menuangkan ide gambarnya ditambahkan kata anekdot di dalamnya. murid yang suka puisi, bisa menyusun puisi  menggunakan kalimat-kalimat anekdot. Bahkan ibu Dina memiliki murid yang bisa mendesain, maka ia membuat sebuah desain baju dengan kata-kata anekdot. Setelah selesai murid tersebut mencoba untuk mengirim ke sosial media. Alhasil baju yang ia desain dengan kata-kata anekdot yang dibuatnya menjadi laris. Ini adalah salah satu pencapaian yang sangat menakjubkan baik kepada guru maupun murid. Dalam hal ini bisa meningkatkan motivasi murid, semangat belajarnya, dan dapat juga memberi sumbangsih yang positif terhadap hasil belajar mereka. Tentu hal tersebut juga menjadi motivasi terhadap murid lainnya. Dan langkah yang inovatif ini bisa menjadi cerminan bagi guru-guru lain dimanapun berada. Bahwa kita perlu mengembangkan pelajaran menjadi menyenangkan dan bermakna.  Selain dari model pembelajaran yang diterapkan ibu Dina terkait diferensiasi/pembelajaran sesuai kebutuhan murid. Ibu Dina juga menerapkan sistem pengumpulan tugas sesuai keputusan bersama murid. Dengan melakukan musyawarah seperti ini, membuat murid juga ikut terlibat menyumbangkan ide mereka, dan murid merasa keberadaan mereka dihargai oleh guru. Bukan hanya perintah satu arah dari guru. Tapi kita mencoba mendiskusikan setiap kegiatan kelas dengan murid. Bahkan dalam menentukan durasi pengerjaan tugas. Meskipun mereka sudah sepakat mengumpulkan dalam waktu sepekan, namun beberapa murid telah menyelesaikan tugas sebelum deadline. Sebagai salah satu alasan murid bisa mengerjakan tugas sebelum deadline adalah mereka menganggap bahwa tugas yang diberika ibu Dina menyenangkan, karena mereka bebas membuat anekdot sambal memadukan passion mereka.  Dari sinilah kita mengerti, bahwa pembelajaran yang inovatif, kreatif menyenangkan bagi murid akan mendorong murid semangat dalam belajar. Untuk menjadikan murid kita paham dan berminat untuk belajar tentu yang pertama kita lakukan adalah menjamah hati mereka, mencari hal-hal yang mereka suka seperti hobi dan minat mereka. Dari minat itulah kita padukan dengan pelajaran. Dengan penuh yakin, point pelajaran yang hendak kita sampaikan dapat diterima dengan baik disebabkan pengemasannya juga bagus dan menarik perhatian murid. Ibu Dina berpesan sebagai seorang guru kita harus sering merefleksi diri dengan memberikan pertanyaan yang memantik agar dapat memacu semangat kita dalam mengajar dan mendidik yaitu “Apa upaya saya sebagai guru membantu murid dalam memahamkan pembelajaran dengan menciptakan beberapa inovasi selain pemberian teks saja yang kadang membuat anak-anak jenuh”.  Langkah yang diterapkan ibu Dina dalam hal diferensiasi ini lebih kepada empati kepada murid, memanusiakan hubungan dengan menjalin hubungan yang komunikatif dengan murid. Empatinya adalah berusaha memahami kebutuhan belajar murid yang memadukan pembelajaran sesuai dengan passion/hobi murid. Dan langkah memanusiakan hubungan yaitu kita dapat mengajak murid ikut terlibat dalam menentukan kesepakatan kelas, kesepkatan deadline pengumpulan tugas dan kegiatan-kegiatan belajar. Dipenghujung acara temu pendidik daerah komunitas guru belajar Makassar, beberapa peserta memberi apresiasi melalui kolom komentar di youtube dan termotivasi untuk menerapkan model pembelajaran yang diterapkan Ibu Dina. Selain dari itu, beberapa peserta juga melakukan sharing dengan bertanya apa yang menjadi kelebihan serta kekurangan dari model diferensiasi ini. Yang menjadi kelebihan serta kekurangannya telah dipaparkan pada paragraph sebelumnya bahwa diferensiasi pembelajaran tentu membuat murid senang dalam mengerjakan tugaas karena mereka bebas berkreasi tanpa mengurangi makna dari inti pembelajaran tentang anekdot misalnya. Kita juga bisa merasakan bahwa murid yang mengerjakan tugas dengan persaan senang dan semangat tentu berpengaruh pada kecepatan mereka mengerjakan tugas, serta pembelajaran akan mudah berkesan dalam hati dan ingatan mereka. Adapun kekurangannya kami merasa tidak begitu nampak, karena murid mengerjakan dengan senang hati, hanya saja dikembaalikaan pada murid terkait biaya dalam mengerjakan tugas tersebut seperti membuat desain baju menggunakan kata-kata anekdot tentu itu membutuhkan biaya untuk mendesain. Berbeda jika murid menulis anekdot di buku tulis tentu biayanya berbeda jauh dan lebih murah. Namun kembali lagi pada kualitas kerja. Tentu dengan pekerjaan yang berkualitas juga akan … Read more

Mengenal Asesmen Nasional Lebih Dekat

Sebenarnya apa sih, AN dan AKM itu?Apakah Asesmen Nasional adalah UN versi baru atau justru ada sesuatu yang benar-benar baru dan belum banyak kita tahu?Mari mengenal Asesmen Nasional lebih dekat. Asesmen Nasional dan AKM sedang naik daun di Indonesia. Sejumlah persiapan telah dilakukan sekolah. Meskipun ramai diperbincangkan, tapi nyatanya masih ada miskonsepsi AN & AKM yang berkembang. Loh, kok bisa ya?Apa urgensi keduanya dan strategi apa yang harus dipersiapkan sekolah? KGB Jakarta Timur dengan bangga mempersembahkan Temu Pendidik Daerah (TPD) ke-21 yang dilaksanakan pada hari Jumat, 2 April 2021 pukul 19.30-21.00 WIB. Acara ini dilaksanakan secara live di kanal Youtube KGB Jakarta Timur. Mengangkat topik Mengenal Asesmen Nasional (AN). TPD kali ini dipandu oleh Ibu Fitria Juwita Santi, S.Pd dari SDN Rawamangun 12 Pagi selaku moderator dan Pak Ari Wibowo dari Yayasan Guru Belajar selaku pembicara. Harapannya apa yang dibahas di TPD kali ini bisa jadi pencerahan sekaligus kesempatan belajar bareng untuk teman-teman pendidik yang masih bingung mempersiapkan AN.  Acara dibuka dengan doa oleh Pak Tohirin dari SMA PB Soedirman Jakarta lalu dilanjutkan sambutan dari Ketua KGB Jakarta Timur, Ibu Ida Widaningsih dari SMPN 160 Jakarta. Bu Ida selaku ketua juga menyampaikan beberapa hal, mulai dari Program Guru Merdeka Belajar yang kini dialihkan ke KGB daerah, lalu program TPD sebagai agenda rutin yang diadakan setiap bulannya, dan juga keterbukaan KGB Jakarta Timur untuk menerima masukan terkait program KGB ke depannya. Mengawali pemaparannya saat itu, Pak Ari Wibowo dari Yayasan Guru Belajar mengajak semua peserta TPD merefleksikan pengalaman tentang ujian. Menurutnya, ini jadi bagian penting juga dalam pembahasan mengenal Asesmen Nasional. Refleksi dimaksudkan sebagai pemantik dalam asesmen awal untuk mengetahui kebutuhan belajar yang dalam konteks ini adalah mengenal Asesmen Nasional. Momen ini langsung disambut baik oleh peserta yang hadir. Terlihat dari beberapa komentar di kolom chat, salah satunya dari Pak Fandi Karami. “tergantung. Kalo mata pelajaran yang dikuasai yang A, kalo gak yang B”.  Beliau juga menambahkan lagi komentarnya. “datang, kerjakan, lupakan“ Komentar tersebut seakan memperkuat gambaran ujian yang mungkin Pak Fandi rasakan dulu. Ada juga komentar senada dari peserta lain yaitu dari Bu Wiwit. “ B B B B masa sekolah dulu Pak Ari, tapi masih ada juga zaman sekarang “ Seakan memahami perasaan peserta, Pak Ari langsung memberikan penguatan dengan melanjutkan pemaparannya dan mengajak peserta untuk flashback ke masa pendidikan di zaman abad 20. Pendidikan saat itu jauh dari kata merdeka. Tidak banyak guru saat itu yang menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna. Selain itu, ada banyak salah kaprah atau miskonsepsi dalam proses belajar, pembelajaran dilakukan hanya dengan satu cara, dan tidak heran akhirnya banyak murid tidak suka belajar UN Dihapus? Untuk menjawab pertanyaan tersebut,  Pak Ari membagikan beberapa fakta berupa hasil riset, diantaranya : 1.  Tahun 2014, tagar #TolakUN jadi salah satu aksi yang mengawali perubahan saat ini. Gerakan beberapa tahun lalu ini jadi saksi betapa tidak adilnya UN untuk Pendidikan Indonesia. Pak Ari kemudian mengajak peserta mengingat kembali analogi yang dibuat Albert Einstein tentang Sistem Pendidikan. Einstein menggambarkan ketidakadilan dimana hanya ada satu ujian yang digunakan untuk individu yang beragam. Analogi ini tentu bisa dikaitkan dengan gambaran ketidakadilan UN untuk murid di Indonesia saat itu. 2.  Riset dari Smeru.or.id melalui rise program yang dilakukan selama 4 tahun ( 2000-2014). Dari riset ini disimpulkan bahwa banyak anak pergi ke sekolah tetapi tidak belajar dilihat dari skor awal yang rendah, sedikitnya peningkatan kompetensi murid antar jenjang kelas, dan menurunnya capaian belajar murid selama 4 tahun. Hasil riset ini tentunya semakin meyakinkan pendidik bahwa keadaan Pendidikan Indonesia saat itu memang tidak baik-baik saja. 3.  Hasil Skor PISA Indonesia mengalami penurunan, terkonfirmasi dari hasil UN selama 5 tahun terakhir. Kebanyakan murid bisa membaca tetapi belum bisa memahami makna apa yang dibacanya. Hasil riset ini menyimpulkan bahwa UN tidak sesuai dengan kebutuhan murid karena terbukti hanya berfokus pada konten kurikulum bukan berfokus pada kebutuhan belajar murid. Murid tidak mendapatkan proses pengalaman belajar yang bermakna dan belum dipersiapkan untuk menghadapi real life. Saat UN masih diwajibkan, bisa dikatakan bahwa UN adalah tujuan belajar dan kini AN menghadirkan solusi salah kaprah ini. Menurut Pak Ari, guru yang merdeka belajar harus tahu mulai dari mana. Jika dulu terjebak miskonsepsi, sekarang belajar lagi mana yang harus diperbaiki. Misalnya saja mulai melibatkan murid dalam membuat kesepakatan kelas, merancang pembelajaran yang berpihak dan mengakomodasi kebutuhan murid, dan melakukan berbagai cara untuk melakukan penilaian yang menggambarkan proses serta hasil belajar murid. Tentang AN dan AKM Lalu, apakah AN sama dengan UN? Pak Ari mengajak peserta flashback kembali. Dulu saat UN menentukan kelulusan murid, pastinya semua merasakan ada ritual tersendiri. Bahkan, ada yang mengambil jalan pintas dan menghalalkan segala cara demi kelulusan murid. Kini, mari  memahami AN dengan cara baru. Penetapan AN memiliki beberapa perbedaan yang mencolok dengan UN, seperti: 1.  AN bukan sebagai penentu kelulusan murid 2.  Hasil AN digunakan sebagai informasi tentang pemetaan kemampuan murid dan sekolah. 3.  AN meliputi 3 instrumen, yaitu : AKM, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan belajar. Nah, hubungan antara AKM dan AN dimulai dari sini. AKM adalah salah satu dari aspek penilaian AN. AKM menekankan pada literasi dan numerasi. Lalu mengapa minimum? karena harapannya setelah menempuh pendidikan di sekolah, murid bisa menjadi problem solver di kehidupan nyata. Selain AKM ada juga Survei Karakter. Instrumen ini mengukur karakter yang diperoleh murid selama proses pembelajaran yang telah dialami di sekolah. Maksudnya, melalui instrumen ini murid bisa merefleksikan pengalaman dari sikap-sikap yang berwawasan Pancasila.  Baca Juga: Siap AN, Siap Berubah? Sementara Survei Lingkungan Belajar memotret lingkungan sosial murid. Dimulai dari lingkungan di rumah yang menekankan kembali pentingnya pembentukan karakter anak, guru yang membentuk proses belajar murid agar bermakna, serta kepala sekolah yang kini tidak lagi hanya jadi pemimpin sekolah melainkan terlibat dalam proses belajar guru bersama murid. Mengapa hanya di level/kelas tertentu? Untuk AKM, memang dilaksanakan hanya di kelas 5,8, dan 11. Tujuannya agar ada umpan balik untuk perbaikan. Mulai dari perubahan cara, berbagai inovasi, praktik baik,dan lainnya. Lalu di tengah pemaparan, salah satu peserta bertanya. “ AKM perlu les ya pak ? “ Tidak seperti UN yang menjadi penentu kelulusan, AN hanya mengukur kemampuan murid … Read more

Membahas Asesmen Kompetensi Minimum

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim memastikan Ujian Nasional (UN) ditiadakan. Kemudian diluncurkan Asesmen Kompetensi Minimum dan survey karakter. Asesmen Kompetensi Minimum dan survey karakter bukanlah pengganti UN, karena memiliki tujuan yang berbeda dari UN. Asesmen ini akan menilai kompetensi literasi dan numerasi. Selain asesmen kompetensi, juga akan memberlakukan konsep survei karakter. Survei karakter ini digunakan untuk mengetahui karakter anak di sekolah. Untuk mengetahui ekosistem di sekolahnya bagaimana implementasi gotong-royong. Serta Survei itu, digunakan untuk menjadi tolok ukur supaya sekolah-sekolah memberikan umpan balik bagi kegiatan pembelajarannya. Selama ini  murid selalu dikejar-kejar dengan tuntutan prestasi dengan berbagai tekanan untuk mencapai nilai tinggi, selalu dibayangin keresahan dan  rasa takut untuk tidak lulus pada hasil ujian sehingga berbagai cara dilakukan untuk mendapatkannya. Tekanan itu bukan hanya dirasakan oleh murid saja tetapi juga guru karena menginginkan agar muridnya memperoleh nilai yang tinggi dan dinyatakan lulus. Hal senada disampaikan oleh Pak Ari Wibowo dari Cerita Guru Belajar yang menjadi Narasumber pada TPD KGBN Jeneponto dengan topik NGOPI (Ngobrol Pintar) Asesmen Kompetensi Minimum yang dipandu oleh Bu Ninik Angraeni penggerak KGBN Jeneponto. Pak Ari mengawali materinya dengan menyampaikan pertanyaan Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Pendidikan Kita? Dari pertanyaan tersebut tergambar bahwa yang banyak terjadi adalah masih banyaknya miskonsepsi belajar mulai dari miskonsepsi di ruang belajar, strategi pembelajaran yang berdasar target, asesmen pembelajaran yang berorientasi sumatif. Pada kesempatan ini Pak Ari mengupas habis mengenai konsep merdeka belajar di ruang kelas, pembelajaran berorientasi pada murid dan asesmen berorientasi diagnosis dan formatif. Lanjut Pak Ari, pada kesempatan ini juga menyampaikan perbandingan antara UN dan AN baik dari segi tujuan, aspek yang dinilai, jenis responden, penentuan responden, level responden, penentuan butir soal serta bentuk laporan. Pada UN bertujuan menjadi Penentuan kelulusan murid dan menjadi Pemetaan kualitas satuan pendidikan dan daerah. Aspek yang dinilai berfokus pada Penguasaan konten dari mata pelajaran yang diajarkan, murid menjadi responden tunggal yang ditentukan melalui sensus sekolah dan murid, yang pelaksanaannya pada murid tingkat akhir di setiap tingkatan, semua murid memperoleh bobot soal yang sama,bentuk laporan berdasar capaian murid. Sedangkan pada AN bertujuan Pemetaan kualitas satuan pendidikan dan daerah, Aspek yang dinilai Penguasaan kompetensi literasi dan numerasi, Penguasaan kompetensi sosial emosional yang tercakup pada Profil Pelajar. Baca Juga: Siap AN, Siap Berubah? Pancasila melalui survey karakter, Kualitas proses belajar di sekolah melalui survey lingkungan belajar, respondennya murid, guru dan kepala sekolah yang ditentukan melalui Sensus sekolah, sensus guru dan kepala sekolah, serta survei murid (sampling) level responden yakni murid Kelas 5, 8, 11, penentuan butir soal Murid mendapat butir soal yang disesuaikan atau bersifat adaptif (khusus AKM) serta bentuk laporannya tidak ada capaian murid dimana Capaian sekolah dibandingkan tahun sebelumnya. Pada sesi diskusi dan tanya jawab, salah satu peserta yakni Pak Syam menyampaikan kaitannya dengan penerapan asesmen nasional di kalangan teman-teman guru di Jeneponto masih banyak ditemukan miskonsepsi mengenai asesmen nasional dimana masih banyak guru yang beranggapan bahwa AN masih sama dengan UN yang akan menjadi penentu kelulusan murid, Bagaimana mengubah pemikiran guru yang selama ini sudah menjadikan kebiasaan mendrilling murid dengan soal-soal yang dibuku? Jawab Pak Ari, Untuk berubah memang butuh tantangan yang cukup berat dimana kita akan melalui jalan terjal dan berliku, tetapi itu bukan sebuah halangan untuk guru berubah. Pemerintah saja melakukan transformasi besar-besaran untuk sebuah perubahan. Olehnya itu Sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah dan Guru didorong untuk melakukan kolaborasi untuk berubah. Dengan asesmen nasional miskonsepsi yang ada kita harus tinggalkan secara menyeluruh karena hasil AN bukan menjadi penentu kelulusan tetapi dikembalikan ke sekolah sebagai potret kualitas hasil pembelajaran murid di Sekolah, olehnya itu Sekolah dituntut  untuk terus melakukan terobosan berupa inovasi untuk capain mutu pembelajaran. View this post on Instagram A post shared by Kampus Guru Cikal (@kampusgurucikal) Pertanyaan berikutnya dari Pak Murdin Guru SMK. Mengapa AN diterapkan?. Lanjut Pak Ari Menjawab, Kenapa AN diterapkan karena kita ingin terhubung dengan sistem pendidikan global dengan model asesemen yang diterapkan. Pada kesempatan ini hadir pula membersamai teman guru Jeneponto ketua KGBN Pak Usman dengan memberi semangat belajar, Apakah Sekolah untuk hidup atau hidup untuk sekolah. Serta pada kesempatan ini peserta membangun komitmen bersama untuk SIAP AN, SIAP Berubah serta komitmen untuk terus belajar dan sesi ditutup dengan foto bersama. Ingin mengikuti program Siap AN, Siap Berubah?Klik tombol di bawah ini

Gaya Belajar Murid & Merdeka Belajar

Rabu 10 Maret 2021 pukul 10.00 WIB, adalah hari dimana Komunitas Guru Belajar (KGB) Pesisir Selatan  khususnya di Kecamatan Ranah Pesisir yang bertempat d UPT SDN 19 Padang Sirih. Kegiatan ini memiliki aktivitas berupa nonton bareng Guru Merdeka Belajar dan belajar mengenai “Memahami Gaya Belajar Murid”. Kegiatan nobar ini dimoderatori oleh kepala sekolah saya Rosmaini dan alhamdulilah di koordinatori oleh pengawas ibu Hafni Zahara dan di akhir nanti ada pemaparan dari penggerak KBG Pessel  Nofri Mayasril. Perkenalkan saya Eka Putri Rosdiani salah satu calon penggerak KGB, dan saya salah satu penerima beasiswa Guru Merdeka Belajar angkatan 1, dalam acara nobar kali ini saya sebagai pemandu acara nobar mengenai guru merdeka belajar dan sesi belajar mengenai memahami gaya belajar murid di akhir acara nobar ini. Kegiatan ini sebenarnya direncanakan diadakan tahun 2020, tapi karena berhubung keadaan dan situasi yang tidak memungkinkan karena adanya Covid 19 makanya kegiatan ini tertunda selama setahun. Alhamdulillah kegiatan ini dapat dilaksanakan hari ini dengan tetap memperhatikan protocol kesehatan dan dengan peserta yang hanya 14 orang saja untuk menghindari kerumunan. Acara ini yang semula dijadwalkan jam 10.00 WIB tertunda sekitar 15 menit karena ada kesalahan beberapa peralatan yang tidak pada semestinya. Akhirnya acara ini dimulai dengan dibuka oleh moderator kepala sekolah saya sendiri kemudian beliau mempersilakan kepada saya untuk memulai acaranya. Di awal acara saya memberikan kata sambutan dan menjelaskan sedikit tentang kegiatan yang akan dilaksanakan hari ini. Kemudian saya memaparkan bahwa acara hari ini pengambilan absen secara online dan linknya dibagikan oleh bapak Nofril Mayasril. Para peserta merasa terkejut dan banyak yang bilang tidak bisa. Kemudian bapak Nofril Mayasril membantu saya memberikan penjelasan kepada peserta bagaimana caranya pengambilan absen secara online. Dalam pengambilan absen sedikit mengalami kesulitan karena ada beberapa faktor salah satunya karena jaringan di tempat pelaksanaan kurang lancar. Tapi alhamdulillah akhirnya dengan kerjasama dan penjelasan serta bimbingan dari saya dan Bapak Nofril Mayasril akhirnya peserta bisa mengisi absen online. Kegiatan dilanjutkan dengan nobar video dari Najelaa Shihab. Sebelum pemutaran video bapak Nofri memberikan pertanyaan kepada peserta “apa yang bapak ibu ketahui tentang merdeka belajar?” Para peserta hanya diam dan tidak ada tanggapan. Akhirnya bapak Nofri memberikan penjelasan bahwa untuk menjawab pertanyaan tersebut terdapat dalam video berikut.  Peserta mengikuti dengan tenang dan mendengarkan dengan seksama video tersebut dan ada beberapa guru peserta yang saya perhatikan mencatat hal hal penting yang terdapat dalam penyampaian video tersebut. Kegiatan nonton bareng pun selesai, kemudian bapak Nofril Mayasril langsung memberikan  penjelasan bahwa peserta diminta untuk menuliskan refleksi dari video yang telah ditonton dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut pada kertas yang telah dibagikan.  Para peserta menjawab pertanyaan tersebut sambil dipandu oleh Nofri dan dijawab pada kertas yang telah diberikan. Kemudian peserta menjawab pertanyaan tersebut sambil ada beberapa guru mengajukan pertanyaan dan meminta penjelasan dari pertanyaan tersebut. Seperti salah seorang peserta bertanya ”Apakah semua pertanyaan tersebut harus dijawab? Dan apa kami perlu ikut KGB untuk pengembangan diri? Pertanyaan tersebut dijawab oleh bapak Nofri dengan senyum dan santai. Bahwa dalam menjawab pertanyaan dipersilakan semuanya, tapi kalau bapak ibu tidak sanggup boleh semampunya saja. Dan untuk pengembangan diri sebenarnya boleh dimana dan bagaimananya. Tapi KGB merupakan sarana untuk berbagi dan bekerjasama untuk memberikan praktik baik dan pembelajaran yang bermakna bagi murid. Akhirnya refleksi pun selesai dan peserta diminta untuk menempelkan hasil refleksi yang ditulis ke papan tulis. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Acara refleksi pun selesai kemudian pak Nofri memberikan sedikit penjelasan mengenai KGB terutama KGB Pesisir selatan. Kemudian Pak Nofri mempersilakan kepada pengawas sebagai koordiantor acara untuk memberikan sedikit motivasi kepada para peserta nobar kali ini. Dalam penjelasannya beliau menyampaikan merasa bangga dan senang dengan adanya acara ini dapat menambah ilmu dan motivasi kepada guru guru peserta dan beliau memberikan motivasi yang bagus kepada para peserta. Setelah acara Nobar merdeka belajar dan refleksi selesai acara dilanjutkan dengan pemaparan materi “Memahami gaya belajar murid”. Sesi dibawakan dengan cukup menarik oleh bapak Nofri. Hal ini terlihat dari antusiasnya para peserta mendengarkan materi yang disampaikan dan sesekali dalam penyampaian materi ada tanya jawab antara peserta dan bapak Nofri. Dan dalam penyampaian materi ini ada beberapa kali antara bapak Nofri dan peserta bercanda dan tertawa membahas banyaknya macam gaya dan tabiat murid yang dialami di lapangan.  Acara diakhiri dengan beberapa kesimpulan, komitmen dan kesepakatan bahwa kita para guru akan berusaha memberikan yang terbaik kepada murid, memberikan pembelajaran yang merdeka dan bermakna bagi murid. Para peserta bisa bergabung di KGB khususnya KGB Pesisir Selatan untuk saling berbagi ilmu, sama sama belajar dan berbagi praktik baik untuk kemajuan pendidikan dimasa yang akan datang. Acara perdana saya di KGB ini sangat menantang bagi saya, dan sangat besar manfaatnya bagi saya. Sangat memotivasi saya dalam menambah ilmu, saling berbagi dengan teman, dan juga sebagai wadah dan tempat komunikasi antar guru dalam berbagi ilmu dan permasalahan yang kita temui sebagai guru di lapangan tempat kita mengajar di sekolah masing masing. Tidak ada yang tidak mungkin dilakukan jika kita punya komitmen dan niat yang tulus terhadap tujuan. Ayo kita sebagai guru benahi diri kita, jadilah guru yang merdeka, berilmu dan melahirkan penerus bangsa yang bermartabat dan madani dan tetap fokus pada tujuan memajukan kehidupan bangsa. Semua yang dilaksanakan harus dengan komitmen dengan tujuan dan niatkan hati untuk mencapai tujuan. Semua tahap yang dilalui adalah proses tidak instan untuk mencapai tujuan.

Asesmen Nasional : Memperpanjang Derita atau Sebaliknya?

Senin lalu, 01 Februari 2021, lepas tengah hari, saat orang-orang bergegas pulang dari aktivitas  kerja, tepatnya pukul 16.00 Wita, Komunitas Guru Belajar Nusantara Makassar kembali menggelar Temu Pendidik Daerah di awal tahun dengan topik Asesmen Nasional sebagai  Pemetaan Pendidikan. Apa yang Harus Dilakukan Sekolah, Guru, dan Murid?  Topik ini sedang hangat-hangatnya jadi buah bibir dan akan digadang-gadang sebagai tema besar  Temu Pendidik Nusantara VIII nantinya. Lewat kanal Youtube KGB Makassar, Pak Ari Wibowo,  Pelatih Kampus Guru Cikal, sebagai pembicara, praktis dengan tegas dan terukur memulai webinar dengan pernyataan penolakan Ujian Nasional yang dulu telah lama dicetuskan oleh  Menteri Pendidikan Nasional era Kabinet Indonesia Bersatu, Bambang Sudibyo,sejak tahun 2005.  “Ujian Nasional sudah tidak relevan menjadi alat ukur dalam menentukan kompetensi murid.”  terang Pak Ari.  Sederet Menteri pun ikut menggaungkan wacana tersebut. Mulai dari M. Nuh, Anies Baswedan,  dan Muhadjir Effendy. Bahkan, saya dulu menganggap bahwa penghapusan Ujian Nasional merupakan hal utopis.  Tapi siapa sangka, di bawah Nadiem Makarim, hal itu terwujud. Kegaduhan terjadi dibanyak  tempat. Sekolah dan guru akhir-akhir ini sibuk tak karuan setelah Menteri Pendidikan dan  Kebudayaan mengeluarkan kebijakan yang tak terduga: Menghapus Ujian Nasional dan  menghadrikan Asesmen Nasional yang meliputi, Asesmen Kompetensi Minimum, Survei  Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.  Di tengah jalannya webinar, salah satu peserta, Emi Hardyanti, tiba-tiba mencurahkan  kegelisahannya di kolom live chat, “Bagaimana, Pak? Di luar sana banyak agen yang menawarkan  buku latihan untuk Asesmen Nasional, nyaris dipahami bahwa Asesmen Nasional merupakan  pengganti Ujian Nasional.”   Lalu disusul juga oleh Ibu Permata Hati, seperti namanya, komentarnya di kolom live chat ia  sampaikan dengan penuh emosional, “Sekarang banyak pelatihan pembuatan soal Asesmen  Kompetensi Minimum, bahkan buku pembahasannya juga ada. Apakah ini tidak berdampak pada  persaingan nilai? Jadinya, tujuan Asesmen Kompetensi Minimum malah tersamarkan.”  Dua celetukan dari peserta webinar membuat pembicara dan pemandu, Pak Multazam, Guru  MTsN 2 Maluku Tenggara yang baru saja hijrah dari Makassar, menahan tawa dengan sedikit rasa  heran. “Iya, Bu. Masih ada oknum-oknum yang memanfaatkan momen-momen seperti ini,” kata  Pak Ari.  Kedua komentar dari peserta menggambarkan bahwa selama ini tercipta miskonsepsi. Apa yang  diresahkan oleh peserta Temu Pendidik Daerah, mungkin itu juga yang dirasakan sebagian  teman-teman guru yang lain. Jadinya, guru kembali lagi terjebak pada konsep yang lama dan  menyamarkan tujuan cita-cita Asesmen Nasional.  Pembicara lanjut menyampaikan materinya, ia mengutip pernyataan dari Mas Bukik Setiawan,  “Ada perbedaan yang nyata pada konsep baru, tapi tidak akan bermakna bila pemahaman lama  yang digunakan untuk memahami konsep baru.”  Pada Temu Pendidik Daerah kali ini, pembicara berusaha mendobrak gap tersebut. Ia  menerangkan tiga dasar tujuan Asesmen Nasional. Pertama, ingin melihat kualitas pembelajaran  di sekolah. Kedua, mendapatkan umpan balik peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.  Ketiga, menjadi dasar untuk penyusunan program-program dalam meningkatkan proses  pembelajaran di sekolah.  “Pak, kenapa siswa yang menjadi target Asesmen Kompetensi Minimum hanya diperuntukkan  bagi siswa yang berada di kelas 5, 8, dan 11?” tanya peserta lagi.  Pertanyaan dari peserta langsung direspon oleh pembicara dengan menampilkan tabel  perbandingan Asesmen Nasional dan Ujian Nasional. Tabel itu menggambarkan tujuh perbedaan  dari masing-masing program.  Lanjut, pembicara mulai menjelaskan tiap-tiap perbandingan. Ia menegaskan sekali lagi bahwa  dalam Asesmen Kompetensi Minimum, tujuannya bukan untuk menilai hasil akhir, tapi keinginan  perbaikan yang diharapkan oleh pemangku kebijakan. Dengan menjadikan siswa kelas 5, 8, dan  11 sebagai sasaran, tujuannya tentu agar tahun depan siswa yang sudah naik tingkat ke kelas 6,  9, dan 12 ikut merasakan perubahan iklim yang berada di sekolah.  Jika Ujian Nasional mendapat bobot butir soal yang sama untuk mengukur kompetensi, Asesmen  Kompetensi Minimum malah bersifat adaptif yang menekankan pada kompetensi Literasi dan  Numerasi. Semuanya ini, bertolak pada hasil PISA beberapa tahun belakangan ini.  Bahkan, sasaran juga tidak hanya ditujukan kepada siswa, melainkan guru dan kepala sekolah  dalam ranah survei karakter yang termaktub dalam profil pelajar Pancasila dan survei lingkungan  belajar untuk melihat kualitas proses belajar mengajar di sekolah.  Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Jadi sudah menjadi barang yang jelas, bahwa Asesmen Nasional tidak berpacu pada target  seberapa banyak siswa yang berhasil lulus, tetapi berpacu pada target capaian sekolah tahun tahun sebelumnya agar tercipta peradaban dalam lingkungan sekolah.  Untuk mencapai itu, pembicara memaparkan lima strategi yang harus dilakukan sekolah, terlebih  pemimpin sekolah dalam hal ini kepala sekolah. Langkah pertama, kepala sekolah tidak  mengambil jalan pintas, misalnya menghimbau guru dan siswa untuk melakukan latihan  pengerjaan soal, tapi melihat kesemua sisi.   Kedua, kepala sekolah harus memprioritaskan waktu dan energi lebih banyak untuk memandu  perencanaan, pendampingan, dan refleksi proses pembelajaran dan melibatkan seluruh elemen,  termasuk orang tua murid. Ketiga, melakukan pembelajaran yang kolaboratif. Maksudnya, kepala  sekolah memastikan semua mata pelajaran harus terintegrasi pada kompetensi literasi, numerasi  dan karakter.  Keempat, mengembangkan kebiasaan berbagi praktik baik di lingkungan sekolah sebagai wadah  bertukar pikiran, karena belajar yang nyata itu ialah belajar dengan sesama rekan seperjuangan.  Terakhir, hapus program-program yang sudah tidak relevan, apalagi memakan anggaran yang  cukup banyak dan segera memulai menyusun program-program jangka panjang yang lebih relevan.  Nah, pilihan itu bergantung pada kita semua. Saya harap, setelah ini, ajaklah murid belajar untuk  hidup, bukan sekadar belajar untuk ujian. Sebab kata Einstein, “Seni tertinggi guru adalah  membangun kegembiraan dalam ekspresi kreatif dan pengetahuan.”

Belajar tentang Merdeka Belajar

Awal tahun ajaran baru 2020/2021 di masa pandemi keadaan pendidikan masih belum stabil seperti hari-hari biasanya. Guru-guru masih berkutat dengan kegiatan anak di rumah yang semakin hari semakin bosan dan tertekan karena kurangnya inovasi. Belajar untuk menuju Merdeka Belajar semakin terasa dibutuhkan Pada bulan juli ada ajakan dari ibu KASI Paud kabupaten Lamongan untuk menghadiri acara TPD (Temu Pendidik Daerah) yang dikemas dalam kegiatan Mudik KGB Spesial PAUD yang diadakan oleh teman-teman guru dari KGBN Lamongan. Saya tertarik dengan judul yang sangat spesial ini, seperti berjodoh saya menerima tantangan dari teman-teman KGB untuk menjadi moderator di kegiatan tersebut meski awalnya saya tidak pernah tahu tentang kegiatan KGB. Dari sana saya bertemu dengan orang-orang yang seperjuangan memimpikan merdeka belajar bagi murid, guru dan juga orang tua. Di kegiatan MUDIK ini saya mendapat sekali banyak ilmu dan pengalaman dalam mengolah pembelajaran di masa pandemi ini. Satu hal yang saya ingat dan terapkan sampai saat ini, bahwa dalam masa PJJ ini kita harus bisa menjadi guru yang paham dan mengerti akan kebutuhan anak dan juga orang tua di rumah. Ditemu pendidik daerah ini narasumber memberikan materi yang sangat berharga yaitu Mengenal Strategi 5M  saat masa PJJ. Dijelaskan oleh guru Andri dari KGB Depok juga Guru Rosa dari KGB Semarang pentingnya kita memanusiakan hubungan dengan orang tua, anak dan juga masyarakat agar tercapai tujuan pembelajaran yang merdeka belajar. Dari sana, berlanjut saya bergabung dengan KGB Lamongan dan mengadakan nobar guru merdeka belajar di sekolah saya. Meski antusias teman-teman tidak begitu banyak karena masih dalam masa pandemi, tapi semangat teman-teman dari KGB sangat luar biasa. Dilanjutkan dengan nonton bareng video penjelasan tentang merdeka belajar oleh ibu Najelaa Shihab. Banyak cerita-cerita menarik dan inspiratif dari teman-teman ketika selesai menonton video yang mana bu Najelaa Shihab memberikan semangat yang luar biasa untuk teman-teman dalam mewujudkan merdeka belajar. Setelah menonton video tersebut saya jadi tersadar, bahwa selama ini saya jauh sekali dari kata guru merdeka belajar. Seperti hal nya yang disampaikan ibu Najelaa Shihab “Guru merdeka belajar adalah guru yang mempunyai komitmen, guru yang mandiri dan guru yang selalu berefleksi”. Dan inilah yang menjadi tantangan untuk kita semua.  Baca Juga: Apa Itu Merdeka Belajar? Pada sesi selanjutnya diisi dengan sesi diskusi tentang pengalaman selama menjadi guru, yang dipandu langsung oleh teman-teman guru dari  KGB N Lamongan. Menurut Ibu Suweni dari TK Dharma Wanita Desa Brumbun beliau menyampaikan keinginannya untuk totalitas meluangkan waktu pada pembelajaran anak-anak, beliau juga berpendapat selama ini terbebani oleh tugas-tugas administrasi, UPK, UKG dll, ini juga selaras dengan apa yang disampaikan oleh Ibu Najelaa Shihab tentang komitmen bahwa tantangan kita saat ini adalah bagaimana membedakan cara dan juga tujuan, kita sering terjebak dalam tugas-tugas administratif, kita terjebak dalam ketentuan-ketentuan birokratis hingga ujian, akreditasi, seleksi, dan nilai yang sebetulnya semua hanya cara kemudian menjadi  tujuan dan prioritas utama, bahkan lebih tinggi dari prioritas tujuan utama pendidikan itu sendiri.  Menurut ibu Ma’rufah dari TK Muslimat Maduran menyatakan bahwa menjadi guru merdeka belajar sangat mudah mengucapkan, namun kesulitan dalam memulainya. Ini juga sama seperti yang disampaikan oleh ibu Najelaa Shihab bahwa guru merdeka belajar harus bisa komitmen, mandiri dan refleksi, tapi susahnya sangat minta ampun. Padahal tujuannya untuk anak-anak bisa lebih percaya akan dirinya sendiri, memiliki cita-cita melampaui batas ruang kelas menembus tingginya gedung sekolah. Dilanjut oleh ibu Astutik dari TK PGRI dengan adanya merdeka belajar dapat memberikan tingkat eksplorasi yang luas untuk pembelajaran anak-anak.  Kita seringkali terjebak dalam miskonsepsi belajar, sebagian dari kita hanya membuat alasan untuk berubah, seringkali kita tidak mau bergerak dengan alasan murid tidak mengerti, orang tua akan menentang dan masyarakat belum paham padahal sebenarnya itu adalah ketakutan dari diri kita sendiri untuk menuju perubahan. Banyak guru yang masih beranggapan bahwa menimba ilmu itu harus dari pakar atau ahli pendidikan. Disini saya mengajak teman-teman guru untuk menjadi guru belajar dimana kita bisa belajar dari siapa saja dan kapan saja karena kita belajar untuk kebutuhan alamiah kita. Seperti yang disampaikan oleh teman-teman bahwa mereka bangga ketika belajar dari pakar atau ahli pendidikan. Dengan ini mereka menyadari sebenarnya narasumber yang lebih baik adalah guru-guru lain yang belajar dan mempraktikan serta guru yang belajar dari banyak kesalahan kegagalan sebelum mereka berhasil. Saya sangat bersyukur bertemu dengan Komunitas Guru Belajar Nusantara ini, dimana saya dipertemukan dengan guru-guru yang ingin bergerak bersama untuk memprioritaskan pendidikan bukan hanya menjadi kepenting saja. KGB ini adalah wadah yang tepat untuk mewujudkan hal tersebut. Saya bertekad untuk menjadi guru merdeka belajar dan mematahkan miskonsepsi selama ini yang saya lakukan. Saya juga akan turut berkontribusi dalam komunitas ini karena kompetensi tidak harus dimiliki sendiri tapi kita sama-sama belajar berbagi ilmu, berbagi praktik baik dan berbagi pengalaman dari siapa saja dan untuk siapa saja selama dalam peningkatan mutu pendidikan.

Memahami Konsep dengan Teknologi

Teknologi merupakan sejumlah kompetensi, metode dan proses menghasilkan produk atau layanan untuk mencapai tujuan sedangkan. Memahami Konsep adalah menguasai pemahaman terhadap konsep yang dapat diterapkan di beragam konteks. Nah apakah teknologi dapat membuat murid lebih memahami konsep yang esensial? Pada Temu pendidik daerah ke 44 yang berlangsung pukul 16:00, sabtu tanggal 21 Oktober 2020 pada kanal youtube komunitas guru belajar makassar, yang di pandu oleh Ibu Rienda Noor Asyifa yang sering disapa ibu Noor dengan tema Teknologi untuk Memahami Konsep yang dibawakan langsung oleh Ketua KGB Makassar Ibu Anita Taurisia Putri yang sering disapa ibu Anita. Mengawali materinya ibu Anita menjelaskan beberapa miskonsepsi yang kerap terjadi dalam penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran utamanya pada masa pandemi saat ini yakni, miskonsepsi yang pertama pendayagunaan teknologi pendidikan hanya sekedar untuk latihan soal atau penjelajahan pengetahuan. Padahal sesungguhnya murid menggunakan aplikasi untuk mendukung keterampilan berpikir tingkat tinggi, dalam proses pembelajaran yang dilakukan bu Anita dalam menggunakan aplikasi dengan murid-murid yang pertama bu Anita lakukan bukan sekedar mengirimkan soal-soal dengan menggunakan learning manajemen sistem (LMS), namun apakah dengan menggunakan aplikasi LMS terbaru murid dapat menggunakan kemampuan berpikir kritisnya? Sebagai contoh ketika guru mengirimkan soal menggunakan aplikasi apakah murid akan menggunakan kemampuan berpikir kritis untuk menjawab soal tersebut atau murid hanya sekedar menjawab soal-soal. Miskonsepsi yang kedua Penggunaan teknologi membuat proses memahami konsep dalam belajar menjadi lebih cepat, padahal sesungguhnya teknologi membuat proses memahami konsep lebih terstruktur secara personal. Integrasi digital yang membangun pemahaman utuh. Sebagai contoh ketika guru bertanya tentang suatu aplikasi dalam proses pembelajaran, namun ada murid yang mengalami kendala dalam hal aplikasi tersebut, ketika terjadi hal tersebut menurut bu Anita guru seharusnya menggunakan Teknologi yang secara personal bisa digunakan secara menyeluruh oleh semua murid. Miskonsepsi yang ketiga Platform digital hanya dinilai dari jumlah kumpulan konten yang diproduksinya, padahal sesungguhnya integrasi digital memungkinkan kesempatan kolaborasi dengan berbagai sumber pengetahuan yang ada. Di Masa awal PJJ yang bu Anita lakukan dalam menerapkan teknologi dalam memahami konsep dengan menentukan strategi pembelajaran, dalam pembelajaran yang pertama bu Anita lakukan adalah memetakan lokasi murid yang berbeda, karena seluruh murid bu Anita tersebar di beberapa kabupaten kota di Indonesia sehingga diperlukan pemetaan terkait kondisi jaringan. Memetakan kondisi orang tua hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana peran orang tua dalam PJJ. Berkomunikasi dengan orang tua/wali murid hal ini dilakukan agar capaian tujuan belajar dan teknologi yang digunakan dalam PJJ dapat terjangkau oleh semua murid dan orang tua. Memandu murid dalam pembelajaran jarak jauh.  Memandu murid untuk menguasai pemahaman mendalam konsep di beragam konteks. Mengapa hal tersebut dilakukan ibu Anita karena keseharian dari murid sebelum PJJ yang tinggal di pesantren terbiasa tidak menggunakan gawai dan PC. “Teknologi akan menjadi pembeda ketika guru melakukan proses pembelajaran. Teknologi mempunyai potensi membantu murid untuk mengembangkan pemahaman, mengkonstruksi pengetahuan dan mengembangkan kemampuan bernalar murid yang harus dipegang sebagai guru” – Anita Taurisia Putri Menurut bu Anita dalam melakukan praktik pembelajaran di kelas dalam hal menggunakan teknologi, masih banyak miskonsepsi seperti halnya banyak guru yang menggunakan teknologi hanya sekedar proses mengunduh materi seperti mengunduh materi di youtube. Bu Anita ingin Teknologi bukan hanya sampai pada proses mengunduh tetapi murid dapat menggunakan kemampuannya untuk memilih berbagai jenis proses belajar seperti, memverifikasi, menemukan pembeda, membandingkan, mensintesis, mengklarifikasi, berdiskusi, menguji/coba dan memproduksi pengetahuan. Bu Anita juga memberikan contoh proses proses belajar yang dialami semasa dirinya di sekolah dimana buku yang menjadi sumber belajar utama, berbeda dengan yang dialami anaknya sekarang yang duduk di bangku SMP dengan menggunakan teknologi murid dapat berkreasi dan mencipta dengan teknologi yang dikuasai oleh murid sehingga inilah yang menjadi pembeda proses belajar dengan adanya teknologi agar kemampuan bernalar murid menjadi berkembang. Baca Juga: Pembelajaran Jarak Jauh dengan 5M Salah satu contoh penggunaan teknologi untuk memahami konsep yang dibagikan oleh ibu Anita yakni “Mengajar Berekspresi dengan Roda Emosional” yang dilakukan oleh Elia Yovan Chandra dari KGB Tangerang Selatan Sekolah Cikal serpong. Dalam proses ini guru Elia Yovan mengajarkan murid untuk berekspresi. sehingga membantu murid-murid untuk memahami konsep berekspresi saat bermain dengan menggunakan roda emosional. Dengan bermain murid menjadi termotivasi sehingga konsep lebih mudah mengendap dengan roda emosional. “tolak ukur dari keberhasilan sebuah pembelajaran ialah bagaimana guru mampu membuat murid-muridnya tidak hanya sekedar paham materi tetapi juga mampu mengaplikasikan materi tersebut” Apa peran Asesmen dalam teknologi?” Pertanyaan dari salah satu peserta TPD. Dengan menggunakan teknologi. Teknologi biasa digunakan sebagai asesmen formatif dan asesmen sumatif, namun bu Anita memberikan saran agar sekolah menyepakati terlebih dahulu teknologi apa yang akan digunakan sehingga murid tidak menjadi bingung. Bagaimana Tips menyusun panduan belajar terkait teknologi agar murid dapat memahami konsep ? Tips menyusun panduan belajar terkait teknologi agar murid dapat memahami konsep. Dalam Menyusun panduan belajar sebelum memilih teknologi guru diharapkan Backward Thinking (Berpikir Mundur) dengan membuat profil murid, sehingga bisa dituangkan dalam RPP Merdeka Belajar sehingga guru lebih mudah nantinya dalam memilih teknologi dan membuat panduan belajar. Sebagai kesimpulan bahwa memahami konsep dalam usia belajar butuh proses yang tidak instan, kapan dan bagaimana teknologi digunakan konten serta integrasi digital seperti apa yang dipilih dalam rute pembelajaran sesungguhnya ditentukan oleh tujuan. Tujuan pembelajaran memastikan bahwa pengalaman belajar bukan hasil berisi ceklis informasi yang perlu diketahui yang tidak terintegrasi. Dalam membangun pemahaman utuh tentang hubungan antara tujuan pembelajaran dan pada akhirnya mampu memberikan umpan balik pada semua pemangku kepentingan tentang capaian pemahaman. Ingin mendapat inspirasi pembelajaran jarak jauh?Unduh Surat Kabar Guuru belajar Edisi Sekolah Lawan CoronaKlik gambar di bawah ini