Praktik Asesmen Diagnosis, Tatap Maya Seindah Tatap Muka

Bapak dan Ibu guru merasa praktik asesmen diagnosis saat tatap maya tak seindah tatap muka? Merasakan banyak yang hilang dan memengaruhi proses belajar di kelas? Yap, pandemi yang datang ternyata menjungkirbalikkan kebiasaan-kebiasaan bapak dan ibu guru. Mungkin banyak para guru yang sudah memiliki kebiasaan pembelajaran dengan praktik asesmen diagnosis tatap muka namun tiba-tiba harus menjalankan pembelajaran praktik asesmen diagnosis tatap maya.  Tapi tenang bapak dan ibu guru, di dalam tulisan ini kita akan bahas lebih lanjut bagaimana sih membuat praktik asesmen diagnosis saat tatap maya seindah tatap muka. Tanpa berlama-lama, kita akan dengarkan cerita dari Ibu Anggi Rizka Pustika, yang mana anggota KGB Klaten dan mengajar di SD Negeri Bogem 2. Baca Juga: Praktik Asesmen Formatif dalam Pembelajaran Jarak Jauh “Lah, bikin nilai anak, ya tinggal kasih soal, beri nilai. Udah, deh. Beres! Ngapain repot mikir lainnya? Jawaban anaknya itu, ya udah itu nilai dia. Titik!” Proses belajar itu ya murid datang ke sekolah, guru membuka pertemuan, memberikan penjelasan, berlatih soal, membahas soal. Sudah cukup. Ketika materi habis, oh, ini artinya murid akan guru berikan ulangan untuk tahu capaian belajar mereka. Ulangan, koreksi, beri nilai selesai. Ya, semudah itulah saat awal-awal kegiatan Ibu Anggi dalam melakukan penilaian kepada murid. Apalagi belia seringkali mendengar kalimat-kalimat seperti ini. “Ah, guru itu gak bikin ulangan, gak koreksi aja udah tahu mana murid yang pinter mana yang enggak” atau “Hanya melihat wajahnya saja sudah hafal. Sudahlah tidak perlu repot. Seperti teman pada umumnya saja)”. Lagi-lagi tidak usah repot adalah kata sakti yang sempat membuat Ibu Anggi meyakini ketika melakukan penilaian kepada murid: yo wes (ya sudah). Gak usah repot. Lalu, tiba-tiba pandemi datang dan menjungkirbalikkan kebiasaan-kebiasaan yang selama ini Ibu Anggi lakukan. Ibu Anggi, guru yang sudah memiliki kebiasaan mengajar lebih dari delapan tahun, merasa bingung seketika. Tidak ada interaksi fisik langsung. Tidak ada teriakan, yang dari jauh dulu beliau tahu ini adalah suara si A. “Ya ampun….! Ini lembar kerja milik siapa? Kenapa gak dikasih nama, sih?” Ibu Anggi benar-benar merasa kebingungan, padahal sebelumnya beliau hafal tulisan setiap muridnya. Ibu Anggi merasa ada banyak yang hilang dan memengaruhi proses belajar di kelas. Beliau pun sempat menganggap jika tatap maya tak seindah tatap muka. Termasuk dalam proses penilaian. Keyakinan beliau bahwa penilaian gak usah repot, goyah.  “Si B suaranya kenceng. Mengerjakan tugas pasti dengan mengetuk-ngetuk meja. Kekuatannya ada pada numerasi, lemah dalam seni.”. Suara, gestur, tulisan, sifat, sikap, cara mengerjakan biasanya bisa beliau kenali dengan interaksi langsung. Lalu saat pandemi? Benar-benar menjadi big problem bagi Ibu Anggi. Beliau gak bisa mengetahui perkembangan si A ini bagaimana, si F seperti apa, si C kuat di bagian apa. Beliau merasa asing dengan murid-murid. Lantas beliau  bertanya kepada dirinya sendiri, “Kalau begini caranya, bagaimana bisa saya melakukan penilaian tanpa repot?”. Beruntunglah pada 2017, Ibu Anggi dipertemukan dengan Komunitas Guru Belajar. Kebingungannya tentang proses belajar kala pandemi mendapat jawaban dari komunitas ini. Termasuk tentang penilaian. Asesmen diagnosis menjadi jawaban atas masalah beliau dalam mengenal murid. Melalui KGB, Ibu Anggi menjadi paham bahwa penilaian untuk murid itu menyeluruh. Bukan hanya kasih soal, koreksi, beri nilai, selesai. Asesmen bagi murid itu hal yang kompleks dan butuh beragam cara untuk mendapat hasil yang akurat. Mudahnya, asesmen bisa diibaratkan seperti proses ketika kita sakit dan butuh pergi ke dokter. Ketika kita datang, dokter tidak akan langsung memvonis, “Oh, kamu sakit X”. Dokter akan memberikan beberapa pertanyaan terlebih dahulu. “Apa yang Anda rasakan? Sejak kapan? Bagian mana yang sakit?” Setelah itu, barulah pemeriksaan dimulai. Dokter akan mengaitkan hasil pemeriksaan dengan gejala yang nampak. Jika diperlukan, didukung dengan hasil tes laboratorium untuk menegaskan diagnosisnya. Ibu Anggi pun sadar, proses yang dilakukan oleh dokter ini seharusnya beliau lakukan pula kepada muridnya. Sayangnya, beliau tidak lakukan. Hasil belajar di KGB kemudian Ibu Anggi terapkan, refleksi. Apa yang selama ini bisa dengan mudah beliau ketahui ketika tatap muka, lantas beliau catat. Apa yang butuh beliau ketahui dari murid, beliau jadikan acuan untuk membuat asesmen diagnosis, membuat profil murid. Ibu Anggi kemudian membuat daftar pertanyaan melalui Google Form. Pertanyaan tersebut beliau klasifikasikan menjadi dua jenis, berupa daftar pertanyaan yang umum dan daftar pertanyaan yang khusus serta detail. Daftar pertanyaan yang umum itu seperti ketika kita membuat biodata bagi murid baru. Pertanyaannya seputar nama orang tua, nama anak, alamat tinggal, serta pekerjaan. Jika biasanya dalam biodata isian diwakilkan data ayah, maka dalam data ini Ibu Anggi meminta diisi baik data ayah maupun ibu. Untuk apa? Untuk mendapatkan gambaran detail apakah anak ini tinggal bersama orang tua atau keluarga lainnya. Data pekerjaan membuat beliau memahami apakah orang tua bekerja semua atau ada salah satu yang di rumah. Jika di rumah, apa yang dia kerjakan? Dilanjutkan dengan pertanyaan khusus. Ibu Anggi mulai dengan menanyakan jumlah anggota keluarga serta dengan siapa tinggal dalam satu rumah. Data ini bermanfaat untuk mengetahui orang dewasa yang berpotensi untuk menjadi pendamping belajar murid selain ayah atau ibunya. Berapa jumlah gawai yang dimiliki dan apa saja juga beliau tanyakan. PJJ dalam gambaran Ibu Anggi pastinya akan sangat membutuhkan gawai. Oleh karena itu kepemilikan gawai ini sangat penting untuk beliau ketahui agar beliau dapat menentukan bagaimana proses belajar yang sesuai dengan kondisi mereka. Salah satu pertanyaan penting lainnya adalah berapa rupiah yang digunakan seluruh keluarga dalam satu bulan untuk kuota internet. Akan sangat tidak bijak jika Ibu Anggi tidak tahu hal ini, lalu setiap hari mengajak murid menggunakan video conference, padahal untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari orang tua masih mengalami kesulitan. Oh, iya, Ibu Anggi tanyakan hal ini sebelum ada kuota dari Kemendikbud. Ibu Anggi merasa tetap penting juga untuk mengetahui meskipun saat ini telah ada kuota bantuan dari Kemendikbud.  Setelah Ibu Anggi kirimkan tautan Google Form ini ke grup WhatsApp, orang tua merespon dengan sangat baik. Tak berapa lama, beliau sudah mendapatkan data anak-anak dari orang tua. Ibu Anggi juga meminta murid untuk menceritakan dirinya untuk mendapatkan data diri yang lebih personal. Beliau ajukan pertanyaan panduan seperti yang beliau ajukan kepada orang tua mereka. Ada pertanyaan umum dan khusus juga. Pertanyaan umum seperti nama diri, alamat tinggal, nama orang tua, dan pekerjaan orang tua. Pertanyaan khusus seperti … Read more

Penerapan Asesmen Sumatif di PAUD, Bagaimana?

Apakah Bapak dan Ibu pernah bingung dalam mendesain asesmen yang pas untuk diberikan ke murid? Atau bapak dan ibu guru pernah mendengar miskonsepsi jika asesmen cenderung dilakukan hanya untuk mengukur hasil belajar murid? Mendesain pembelajaran di awal tahun pelajaran merupakan sebuah hal yang biasa dilakukan oleh bapak dan ibu guru. Desain pembelajaran tersebut juga harus dilengkapi dengan asesmen baik asesmen formatif maupun asemen sumatif.  Ternyata Asesmen bukanlah sekadar untuk mengetahui pencapaian hasil belajar murid. Asesmen dapat meningkatkan kemampuan murid dalam proses belajar mengidentifikasi murid yang membutuhkan bantuan. Hal penting lainnya tentang asesmen bagi guru ialah untuk mengecek pemahaman dan pencapaian murid serta merencanakan dan merancang personalisasi pembelajaran dalam proses belajar. Pentingnya asesmen ini bukan hanya diperlukan oleh murid jenjang dasar sampai menengah, tetapi juga di jenjang anak usia dini. Di jenjang pendidikan usia dini, murid-murid perlu mendapatkan asesmen dalam aspek tumbuh kembangnya. Aspek tersebut meliputi perkembangan motorik, sosial emosi, bahasa, kognisi, moral, agama, dan seni. Lalu, bagaimana esensi “penting” dalam penerapan asesmen sumatif di jenjang usia dini? Berikut kita akan bahas cerita Ibu Anik Puspowati dari KGB Semarang yang mengajar di Fatiha Edu tentang pentingya penerapan asesmen sumatif di PAUD. Awalnya sebagai seorang guru yang mengajar anak-anak usia dini, Ibu Anik merasa bahwa dirinya memerlukan data untuk mengetahui capaian perkembangan murid-muridnya, sekaligus sebagai bahan refleksi dalam mengelola pembelajaran di kelasnya, tentang apa yang perlu beliau evaluasi dan apa yang sudah baik dari perencanaan pembelajaran yang sudah beliau tentukan. Menurut Ibu Anik, jika beliau tidak memiliki data maka tidak akan mampu menganalisis ketercapaian tujuan belajar murid-muridnya. Tanpa data, beliau juga tidak mempunyai bukti untuk melaporkan perkembangan murid-muridnya saat pertemuan dengan orang tua nanti. Oleh karena itu, beliau berinisiatif untuk menentukan metode yang saya butuhkan untuk mengumpulkan informasi. Baca juga Asesmen Nasional 2021, Siap(a) Berubah? Beliau pun memilih untuk mencoba melakukan teknik observasi dan mendokumentasikan kegiatan atau percakapan maupun perilaku murid, baik saat bermain sendiri maupun ketika dalam kelompok kecil atau kelompok besar, serta melalui catatan anekdot. Beliau juga mencoba dengan berinteraksi ringan dengan murid-muridnya, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, lalu mencatat semua respons mereka. Tidak lupa, Ibu Anik juga menggunakan ceklis untuk mencatat perkembangan spesifik, misalnya keterampilan motorik muridnya, sosial emosi, dan sebagainya. Berikutnya, beliau juga mengumpulkan hasil karya murid-muridnya, baik itu gambar, prakarya, atau penugasan lainnya. Dan terakhir, beliau juga intens bertanya kepada orang tua/wali murid terkait perkembangan anak mereka di rumah. Yang mana ada kalanya perilaku murid muncul di rumah tetapi tidak muncul di sekolah. Beliau juga mencari tahu dan mencatat keterangan dari guru-guru sebelumnya.  Ketika sudah memiliki begitu banyak data dari setiap murid, lantas Ibu Anik berpikir tentang  bagaimana membuat asesmen sumatif dari sekian banyak data yang beliau peroleh? Perlukah merencanakan asesmen tersendiri untuk kebutuhan penilaian akhir tema dan akhir semester? Jika iya, beliau merasa pasti akan kewalahan dalam mengelolanya. Akhirnya, Ibu Anik  mengumpulkan semua data yang ada, lalu menentukan mana yang akan dijadikan basis data untuk asesmen formatif dan mana yang dijadikan penilaian sumatif. Oleh beliau semua data tersebut dikelola dengan dikumpulkan dalam portofolio berdasarkan tanggal dan identitas murid. Hasil dari kumpulan data tersebut berupa foto hasil karya murid, rekaman suara, video kegiatan, dan sebagainya. Ibu Anik menyimpan seluruh data pertumbuhan dan perkembangan murid di dalam satu folder penilaian dan menyiapkan satu folder untuk setiap anak dalam Google Drive sehingga memudahkan beliau ketika mencarinya. Ibu Anik melakukan pengolahan data secara berkala, mingguan dan bulanan dengan menggunakan skala. Beliau menetapkan empat skala capaian perkembangan murid, yaitu BB (belum berkembang), MB (mulai berkembang), BSH (berkembang sesuai harapan), dan BSB (berkembang sangat baik). Beliau memasukkan semua data yang terkumpul setiap minggunya ke dalam format bulanan. Untuk menentukan capaian akhir setiap bulan, beliau melihat capaian tertinggi yang dicapai sepanjang bulan itu. Ketika Ibu Anik ingin mendapatkan hasil penilaian satu semester, maka memasukkan capaian akhir bulan di format bulanan untuk setiap bulan dalam satu semester ke format penilaian akhir semester. Untuk menentukan capaian akhir semester, beliau memilih capaian tertinggi yang telah dicapai murid pada setiap akhir bulan. Hasil capaian ini menjadi dasar untuk pembuatan laporan perkembangan anak pada semester tersebut. Ibu Anik biasanya menyampaikan laporan ini dengan dilakukan secara tatap muka sehingga tercipta hubungan dan informasi timbal balik antara guru dengan orang tua. Namun, dikarenakan dalam masa pandemi ini penyampaian laporan perkembangan, beliau lakukan melalui media daring dalam bentuk PDF (lewat e-mail atau WhatsApp orang tua). Laporan Perkembangan Anak biasanya beliau tulis langsung dalam bentuk narasi, sehingga dapat membaca laporan tersebut tidak hanya berupa data melainkan sebuah cerita singkat. Ketika waktu menyampaikan Laporan Perkembangan Anak, Ibu Anik juga menyampaikan keadaan murid, yaitu saat murid belajar secara fisik, sosial, dan emosional di sekolah. Selanjutnya, beliau melaporkan hal berupa kemampuan atau kompetensi yang sudah dan yang belum dikuasai murid. Kemudian yang terakhir, beliau menyampaikan apa saja yang harus dilakukan orang tua untuk membantu dan mengembangkan murid lebih lanjut. Waktu penyampaian Laporan Perkembangan Anak kepada orang tua dilakukan satu semester sekali, pada setiap akhir semester tahun pelajaran. Ibu Anik merasa jika strategi dalam mengelola asesmen ini membantunya dalam banyak hal, termasuk dalam mengelola waktu dan energi. Beliau belajar bahwa sebagai guru kita perlu untuk benar-benar memahami murid dan mampu membuat analisa dari data yang ada supaya tidak salah dalam menilai perkembangan murid. Bagi beliau, seorang guru memerlukan semua informasi tentang tingkat pencapaian dan perkembangan hasil belajar murid secara nyata yang bersumber pada data otentik dan berdasarkan fakta. Selanjutnya, guru membutuhkan strategi untuk mengelola dan menganalisanya supaya akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Terakhir, Ibu Anik mengatakan jika hal yang jauh lebih penting adalah refleksi terhadap apa yang kita lakukan sebagai guru dalam melihat hasil belajar murid-murid, lalu menggunakan refleksi tersebut untuk mendesain pembelajaran yang lebih baik kedepannya. Bagaimana Bapak dan Ibu Guru, Apakah cerita tersebut memberikan insight tentang pentingnya asesmen sumatif di jenjang usia dini? Temukan lebih banyak cerita menarik guru-guru lainnya dengan mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII pada 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem merdeka belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Mari #BelajarDiTPNVIII!  Klik https://tpn.gurubelajar.org Sumber Buku: Surat Kabar Guru Belajar  Edisi IV Tahun Keenam

Praktik Asesmen pada Perilaku Murid

Bapak dan Ibu Guru sedang mengalami permasalahan perilaku murid? Seperti murid sering marah-marah, teriak, guling-guling, dan sampai menangis? Praktik asesmen apa saja yang perlu dilakukan? Jangan khawatir pertanyaan tersebut akan terjawab dalam pengalaman Bu Amalia Ahadini. Bu Amalia Ahadini adalah guru yang mengajar di Sekolah Luar Biasa Negeri Pembina, Yogyakarta. Ketika bulan Agustus, Bu Amalia mendapatkan informasi bahwa akan ada murid pindahan dari sekolah lain. Secara prosedur, praktik asesmen kepada murid baru dilakukan oleh tim asesmen sekolah, seperti mendata murid tentang profil keluarga dan kemampuan umum yang akan menjadi bahan materi dalam praktik asesmen yang dilakukan oleh tim sekolah. Hasil data dari tim sekolah selanjutnya diserahkan kepada Bu Amalia yang akan menjadi guru kelas bagi murid baru pindahan dari sekolah lain. Setelah diamati hasil datanya, ternyata masih banyak hal yang perlu Bu Amalia ketahui sebagai guru kelasnya.  Bu Amalia mulai menghubungi Ibu calon murid barunya melalui WhatsApp. Bu Amalia meminta ibu calon muridnya untuk mengisi asesmen non-kognitif, asesmen kemampuan bahasa, asesmen kemampuan berhitung, asesmen prakarya, dan asesmen kemampuan kemandirian melalui Google Form. Sebelumnya murid Bu Amalia juga mengisi instrumen asesmen yang sama pada awal tahun ajaran baru. Ibu calon murid menjelaskan perilaku anaknya yang sering marah di rumah dalam asesmen non-kognitif. Bu Amalia juga melakukan komunikasi yang intensif dengan ibu calon murid, serta melakukan asesmen non-formal melalui pesan WhatsApp. Dengan begitu Bu Amalia mengetahui gambaran tentang kemampuan murid dalam bidang menghitung, bahasa, prakarya, dan kemandirian. Tetapi, ternyata Bu Amalia juga mengetahui bahwa murid barunya memiliki beberapa hambatan. Ibunya bercerita tentang perilaku anaknya yang tidak ingin belajar dan setiap hari selalu minta uang jajan sampai tiga kali sambil marah-marah, berkata kurang baik, dan suka bermain di luar rumah seharian. Beberapa tetangga sering menegur ibu calon murid untuk mendidik anaknya dengan benar. Bu Amalia meminta tolong kepada ibu calon murid barunya untuk merekam perilaku anaknya di rumah secara diam-diam, karena untuk mendapatkan informasi dan gambaran yang lengkap tentang perilaku murid barunya. Setelah menerima rekaman, ternyata benar bahwa murid barunya marah-marah dengan berteriak, berguling-guling sampai menangis karena meminta uang. Bu Amalia mengirimkan pesan motivasi untuk memberikan dukungan dan menguatkan ibu calon murid supaya tabah dan sabar. Menurut Bu Amalia mungkin, anggapan murid barunya ketika ibunya menolak untuk memberikan uang, permintaannya dianggap sepele bagi ibunya, sehingga murid barunya berperilaku marah-marah sampai menangis. Bu Amalia bersama ibu calon murid membuat prioritas masalah yang harus ditemukan solusinya. Sebelumnya ibu calon murid ingin memperbaiki kemampuan kognitif anaknya.Bu Amel menyakinkan ibu calon murid bahwa ketika belum ada kepatuhan dari anaknya, pasti tetap tidak mau belajar. Bu Amalia akhirnya membuat beberapa pertanyaan dasar tentang perilaku, lalu dilanjutkan berkomunikasi menggunakan WhatsApp. Setelah itu, Bu Amalia mencari instrumen yang sudah sesuai terkait perilaku. Bu Amalia mempraktikan asesmen menggunakan skala asesmen motivasi yang juga dapat disebut motivation assessment scale (MSA) yang didapatkan pada waktu mengikuti diklat. Bu Amalia mencoba mencari tahu penyebab perilaku yang kurang baik pada murid barunya dengan bertanya tentang pola pengasuhan, trauma masa kecil, dan hukuman yang pernah dialami murid barunya. Data praktik asesmen yang didapatkan langsung dianalisis dan dikonsultasikan dengan guru yang memiliki pengalaman tentang permasalahan perilaku. Hasil praktik asesmen Bu Amalia lalu disampaikan kepada ibu calon murid barunya. Bu Amalia menyampaikan bahwa perilaku anaknya yang suka marah-marah terjadi karena objek atau kegiatan tertentu (tangible). Maka agar tidak terjadi perilaku tersebut harus menghindari pemicunya. Berdasarkan asesmen, menunjukan bahwa ibu calon murid baru adalah single parent yang tinggal bersama orang tuanya. Tantangan terbesar mendidik anak dengan kakek dan nenek biasanya disebut inkonsistensi pengasuhan. Baca Juga :  Meningkatkan Motivasi Belajar pada Praktik Merdeka Belajar Ibu calon murid juga bercerita bahwa sering terjadi, pada saat anaknya meminta uang dan tidak diberi, anaknya akan teriak-teriak, marah dan menangis, tetapi neneknya terburu-buru menenangkan anaknya dengan memberikan uang. Alasan neneknya bertindak seperti itu karena tidak tega mendengar cucunya menangis minta uang. Pola pengasuhan yang berbeda dalam satu rumah akan membuat anak kebingungan. Anak akan mencari dan memilih tempat yang nyaman ketika merasa terancam seperti dimarahi. Ibu calon murid setuju perbedaan pola pengasuhan adalah penyebab yang mempengaruhi perilaku anaknya. Bu Amalia meminta ibu calon muridnya dalam memastikan anaknya menjadi bagian dalam keluarganya serta melibatkan anak berperan aktif di dalam rumah. Bu Amalia mengajak ibu, nenek, dan murid baru untuk membuat kesepakatan bersama. Contohnya pada saat murid tidak menunjukkan perilaku yang kurang baik, maka murid berhak mendapatkan kesempatan untuk menonton selama 15 menit. Proses perubahan perilaku pasti tidak mudah. Maka Bu Amalia selalu menguatkan ibu calon murid untuk sabar. Setelah itu, seluruh anggota keluarga diajak untuk membuat rutinitas yang terprediksi. Contohnya, ketika pagi hari setelah ibadah, mandi, dan makan, murid baru diajak neneknya ke warung. Murid baru diajarkan perilaku pengganti yang wajar. Jika biasanya murid berteriak dan berkata kurang baik ketika meminta sesuatu, murid diajari untuk berkata baik dan sopan saat meminta sesuatu. Peran nenek adalah memberikan motivasi cucunya. Setelah strategi dicoba ternyata perubahan perilaku murid belum terlihat. Akhirnya Bu Amalia membuat kesepakatan baru yaitu setiap hari, tugas murid adalah melakukan tiga kebaikan dengan bukti foto ketika murid melakukan kebaikan, dan ibunya memberikan pujian yang sesuai setelah anaknya melakukan kebaikan. Ternyata, strategi tersebut berhasil. Setiap hari murid baru dengan senang hati melakukan tiga tugas kebaikan. Kebaikan yang dilakukan seperti makan sendiri, mengembalikan piring ke tempat cuci piring, membantu mencuci sepeda motor, dan kegiatan baik lainnya. Tugas melakukan kebaikan ini merupakan strategi yang berfokus pada kegiatan perilaku baik. Solusi dalam menangani permasalahan perilaku yang kurang baik adalah dengan menumbuhkan perilaku yang baik melalui kegiatan kebaikan. Ibu calon murid merasa senang atas perubahan perilaku anaknya, meskipun terkadang masih marah ketika keinginan anaknya tidak dituruti, tetapi sudah tidak berkata kotor lagi. Bu Amalia menyadari pentingnya asesmen yang diterapkan seiring proses belajar akan membuat perubahan perilaku murid menjadi lebih baik. Bagaimana Bapak dan Ibu Guru apakah pengalaman Bu Amalia menginspirasi? Bapak dan Ibu Guru mari ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Mari daftar di Temu Pendidik Nusantara VIII!  Klik : https://tpn.gurubelajar.org

Meningkatkan Motivasi Belajar pada Praktik Merdeka Belajar

Apakah murid Bapak dan Ibu guru malas belajar? Tampak kurang memiliki motivasi belajar? Ketika pembelajaran murid menundukkan kepala di atas meja, pasif, dan cuek. Bingung bagaimana cara untuk mengatasinya? Bu Ameliasari Tauresia Kesuma  adalah guru yang mengajar pelajaran Ekonomi dan Akuntansi di Madrasah Aliyah Negeri Salatiga. Bu Amel akan berbagi pengalamannya dalam meningkatkan motivasi belajar pada praktik merdeka belajar. Bu Amel memiliki satu kelas yang istimewa dengan jumlah 20 murid laki-laki dan 15 murid perempuan berusia sekitar 16-17 tahun. Murid laki-laki ini kurang  menunjukkan motivasi belajarnya. Mereka juga belum melakukan empati karena mereka sering rebahan di meja, mendengarkan musik, dan bermain gawai. Selain itu mereka juga sering melakukan membolos dan terlambat masuk kelas. Latar belakang ekonomi keluarga murid laki-laki sebagian besar kurang mampu dan ada yang keluarganya bercerai. Bu Amel merasa kesulitan ketika belajar bersama mereka di dalam kelas karena tugas yang diberikan dikerjakan secara setengah-setengah. Pernah diputarkan video inspiratif tetapi komentar mereka menunjukkan ketidakpeduliannya dan ketika dijelaskan mereka malah cuek. Keadaan semakin parah,  Bu Amel sampai membuat kesepakatan jika terlambat masuk kelas, konsekuensinya adalah harus ke ruang bimbingan konseling untuk mengambil surat izin masuk kelas. Setelah dari ruang bimbingan konseling mereka mendapatkan surat pernyataan yang tertulis mereka tidak akan mengulangi perbuatannya. Tetapi pada kenyataannya mereka tidak menyesali perbuatanya, sehingga Bu Amel merobek surat pernyataan mereka. Bu Amel tidak suka permintaan maaf yang palsu dan terkesan formalitas saja. Semua guru yang mengajar di kelas istimewa ternyata juga mengeluhkan hal yang sama seperti yang dirasakan Bu Amel. Bu Amel merasa kasihan karena ada 15 murid perempuan yang tentu akan terganggu karena sikap murid laki-laki. Bu Amel teringat tentang murid-muridnya Erin Gruwell dalam film Freedom Writer, Louanne Johnson, Dangerous Mind, dan Ron Clark. Bu Amel kemudian mendapatkan inspirasi dari film Freedom Writer. Rencananya jam pelajaran ke-3 dan ke-4 dialihkan untuk ulangan harian. Bu Amel memberikan selembar kertas putih untuk kemudian membuat jadwal apa yang ingin mereka lakukan saat pelajarannya selama tiga minggu menjelang ujian akhir semester. Bu Amel juga memberikan pilihan belajar yang sesuai rincian silabus pembelajaran seperti membaca artikel, membaca buku, mendengarkan musik, dan kegiatan sesuai yang murid inginkan seperti menggambar, mempelajari pelajaran lain, tidur, main gawai, merenung, dan apa saja. Bagi murid yang tidak belajar dengan Bu Amel, diwajibkan menulis kisahnya saat belajar bebas tentang apa yang ditemukan, dirasakan, atau apa saja. Setelah itu Bu Amel merekap data jadwal muridnya dan menempelkan di kelas. Dengan cara seperti itu semua tau apa yang diinginkan saat belajar bersama Bu Amel. Bu Amel mencoba menghargai keinginan murid-muridnya, tetapi tetap kondusif. Setelah itu Bu Amel merekap jadwal yang sudah dibuat murid-murid di komputer. Ketika pertemuan berikutnya Bu Amel menampilkan rekapan jadwal di depan kelas. Murid-murid yang tidak ingin belajar dengan Bu Amel diberikan selembar kertas untuk menuliskan apa saja yang akan mereka lakukan. Sebagian murid yang ingin belajar dengan Bu Amel mengerjakan berbagai worksheet yang sudah dipersiapkan. Bu Amel merasa tidak sabar karena menunggu hasil tulisan murid yang tidak ingin belajar bersamanya. Muncul pertanyaan apakah mereka mau menuliskan kisahnya sendiri?. Dan hasilnya ternyata, mereka mau menuliskan kisahnya sendiri. Tulisan yang mereka tulis sangat menarik ada yang lucu, menyenangkan, dan mengharukan. Bu Amel terkejut ketika membaca bahwa ada yang menulis meminta untuk didoakan supaya cepat sadar dan semangat karena sudah di kelas akhir dan sebentar lagi akan ujian nasional. Ada juga yang menjelaskan tentang perasaannya yang mau malas-malasan atau rajin mengikuti kelas dengan Bu Amel. Sebagian ada juga yang menulis tentang balapan, modifikasi motor, dan sepak bola. Baca juga : Gaya Belajar Murid & Merdeka Belajar Bu Amel merasa heran ketika pertemuan berikutnya bahwa murid-murid yang sebelumnya tidak ingin ikut belajar bersamanya, menjadi ingin ikut pelajaran. Mereka beralasan malu karena menulis. Padahal Bu Amel menyukai tulisan mereka dan ingin terus membaca serta mengetahui apa saja yang mereka sampaikan. Bu Amel juga merasa kaget ketika mereka meminta untuk tambahan waktu belajar bersamanya. Pada saat motivasi internal murid sudah muncul, maka merdeka belajar dapat dilakukan. Ternyata tujuan mereka adalah lulus ujian nasional. Hal itu memberikan tantangan Bu Amel untuk mengubah pola pikir mereka. Mungkin mereka tidak tahu bahwa ada tujuan lainnya ketika belajar Akuntansi. Bu Amel mengajak mereka mengobrol tentang menjadi pengusaha, berdagang, menghitung laba, menghitung kekayaan dan akhirnya mereka tau manfaatnya. Bu Amel mengajarkan berbagai metode belajar yang dapat dipilih murid-muridnya supaya membantu dalam belajar akuntansi. Bu Amel membuat asesmen akhir menjadi nyaman karena penilaian kemampuan didiskusikan bersama. Murid yang biasanya mendapatkan rangking akan merasa heran karena tidak ada yang baik dan jelek. Sehingga tidak ada persaingan, tetapi yang ada adalah saling membantu untuk maju bersama dan paham bersama. Bu Amel sangat menyadari karena butuh energi yang banyak untuk mengubah pola pikir merdeka belajar. Dengan begitu Bu Amel dan murid-murid akhirnya tau apa yang yang mereka inginkan saat belajar, mereka merasa dihargai dan didengarkan. Tumbuhnya kesadaran karena hidup membutuhkan belajar. Bagaimana Bapak dan Ibu Guru, apakah pengalaman Bu Amel menginspirasi dan memberikan solusi? Jangan lupa Bapak dan Ibu Guru mari ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem merdeka belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Mari daftar di Temu Pendidik Nusantara VIII!  Klik : https://tpn.gurubelajar.org

Asesmen Diagnosis adalah Langkah Agar Murid Gemar Belajar!

Sebal menghadapi murid yang malas belajar saat pandemi? Sudah menggunakan Asesmen Diagnosis? Asesmen Diagnosis adalah langkah menyelenggarakan pembelajaran yang berorientasi pada murid. Lalu bagaimana merancangnya di situasi pandemi? Pembelajaran berorientasi pada murid dalam situasi ruang kelas yang sama saja masih manjadi keresahan dan tantangan guru, apa lagi saat pandemi. Dimana keberagaman situasi setiap murid sangat mempengaruhi pembelajaran. Ketersedian sarana prasarana memadai, pendampingan orang dewasa untuk murid jenjang bawah, juga kondisi keluarga setiap murid menjadi tambahan pertimbangan guru merancang strategi pembelajaran berorientasi pada murid. Tentunya setelah guru memahami pribadi setiap murid, minatnya, modalitas belajarnya, juga tahapan perkembangan kognitifnya. Untuk itu hal yang penting bagi guru lakukan adalah asesmen diagnosis, untuk mengetahui dan memahami profil setiap murid. Dari hasil asesmen diagnosis tersebut menjadi acuan guru merancang strategi pembelajaran yang sesuai bagi murid. Kamis, 8 Juli 2021 rekan guru di Kabupaten Lamongan mempersiapkan melakukan asesmen diagnosis dengan mengadakan Temu Pendidikan Daerah (TPD) Kabupaten Lamongan dalam Webinar Asesmen Diagnosis bersama Ibu Elisabet Indah Susanti sebagai narasumber dari Kampus Guru Cikal Webinar dibuka dengan mendengar sambutan dari Bapak Chusnul Yuli Setyo selaku Kadisdikbud Kabupaten Lamongan yang menekankan soal upaya mempersiapkan PTM terbatas dengan aman. Menurut beliau ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu: 1) Persiapkan Lembaga; 2) Persiapan Guru; dan 3) Persiapan Strategi Pembelajaran. Bapak Setyo juga mengungkapkan bahwa persiapan yang dilakukan perlu didukung oleh literasi digital. Hal ini dikuatkan oleh Kepala Kemenag Kabupaten Lamongan Bapak Firdaus Markus dalam sambutannya yang mengungkapkan, “ajarilah anak sesuai zamannya”. Menurut beliau sesungguhnya murid mudah beradaptasi dengan literasi digital, namun guru juga harus berapatasi sehingga mampu menemukan formula dan strategi pengajaran tepat pada masa pandemi. Hal yang tidak kalah penting diungkapkan Pak Firdaus dalam sambutannya ialah semangat dan motivasi belajar murid-murid yang perlu dipertahankan dengan merancang strategi pembelajaran sesuai kondisi setiap murid.  Setelah melakukan refleksi mengenai kata belajar & asesmen, Bu Elisabet Indah Susanti sebagai narasumber menyampaikan “sayangnya dalam praktik pembelajaran masih terdapat miskonsepsi belajar”. Setidaknya terdapat dua kriteria miskonsepsi berlajar, yaitu:  strategi pembelajaran yang masih berorientasi pada target, dengan hanya mengacu pada kurikulum, penyampaian satu arah untuk mengejar ketuntasan konten dan  asesmen pembelajaran yang masih berorientasi pada asesmen sumatif sebagai nilai akhir tanpa membedakan dengan pengambilan nilai asesmen formatif.  Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Seharusnya guru dalam merancang strategi pembelajaran berorientasi pada murid, dengan memadukan kurikulum dan kebutuhan murid. Aktivitas yang dilakukan beragam untuk penguasaan kompetensi, serta tentunya dengan pertimbangan kemampuan awal murid. Dalam proses dari merancang, manjalankan, sampai mencapai tujuan belajar untuk kompetensi diperkuat dengan asesmen pebelajaran. Tentunya dengan prinsip asesmen yang ideal. Terdapat 3 prinsip asesmen, yaitu:  asesmen untuk belajar, melalui asesmen diagnosis untuk menggali & menganalisis kebutuhan setiap murid dalam merancang pembelajaran. asesmen sebagai proses belajar, melalui asesmen formatif salah satunya menggunakan beragam metode yang menggali strategi belajar dan cara berpikir murid. asesmen terhadap hasil belajar, untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan orangtua dan pihak lain terkait capaian kurikulum. Ini baru berbicara soal nilai akhir rekan guru belajar melalui asesmen sumatif. Selama ini kita salah kaprah terhadap proporsi dari ketiga prinsip asesmen tersebut. Kita lebih banyak fokus pada asesmen terhadap hasil belajar dengan mengejar nilai. Kurangnya asesmen sebagai proses belajar, bahkan tidak melakukan asesmen untuk belajar dengan mendiagnosis kebutuhan belajar murid. Ada beragam cara untuk melakukan asesmen diagnosis, salah satunya bisa dengan tes, wawancara, atau observasi.  Dengan demikian tujuan asesmen untuk mendapatkan informasi bagi guru dan murid mengenai proses belajar dan pencapaian belajar secara berkala akan tercapai. Jadi kalaupun melihat kurikulum hanya dijadikan acuan untuk meningkatkan kompetensi yang kontekstual. Sehingga diharapkan rekan guru dapat membangun keberlajutan dengan mengaitkan antara rancangan pengajaran, pembelajaran, dan juga asesmen menjadi satu kesatuan proses yang saling berhubungan.  Jika kita memperhatikan arah perubahan pendidikan dengan adanya penyederhanaan aturan administrasi, orientasi pada murid, serta perubahan sistem asesmen rasanya kita diberi ruang dan waktu lebih banyak untuk mengenali masing-masing murid melalui asesmen diagnosis. Dalam melakukan asesmen ini, guru dapat dianalogikan bagai dokter bagi murid-muridnya. Seorang dokter itu tugasnya melakukan asesmen, bentuknya pemeriksaan kalau dokter. Pemeriksaan terhadap gejala, kemudian mengevaluasi, lalu tindak lanjut dengan memberikan resep obat sebagai solusi. Ketika kita sebagai guru melakukan asesmen diagnosis, berarti kita melakukan medical check up kepada murid-murid kita. Dengan hasil asesmen diagnosis, kita punya indikator analisis untuk mendapatkan informasi tentang kebutuhkan murid masing-masing. Lalu apa yang harus dilakukan setelah itu? Maka sama seperti dokter akan melakukan tindak lanjut dari gejala yang didapatkan. Guru pun akan melakukan tindak lanjut dengan merancang strategi pembelajaran yang berorientasi pada murid. Setelah Bu Susan selesai menyampaikan materi, rekan guru yang tergabung dalam Webinar Asesmen Diagnosis antusias bertanya dan berdiskusi. Pertanyaan yang cukup penting  adalah yang ditanyakan moderator dalam akun zoom Anis Ceha, apakah asesmen diagnosis hanya dilakukan kepada murid saja atau orang tua juga? “Pertanyaan bagus Bu” ungkap Bu Susan memberikan apresiasi. Asesmen diagnosis selain dilakukan kepada murid juga perlu dilakukan pada orang tua, karena latar belakang orang tua akan mempengaruhi proses belajar murid. Pengaruhnya terhadap inisiatif murid dan juga dukungan orang tua selam proses belajar. Pertanyaan berikutnya dari Bu Fatma, kalau untuk murid baru pada tingkat SD/MI pendekatan seperti apa yang digunakan untuk mengenali karakter murid pada saat PJJ? Secara kan murid barunya dari TK. “Perlu interaksi personal pada setiap murid lebih banyak. Strateginya bisa dengan kelas dikelompokan kecil” jawab Bu Susan yang juga mengingatkan untuk memberi waktu lebih banyak mendengarkan murid bercerita. Diskusi dan tanya jawab yang tidak semua dapat dituliskan, ditutup oleh penyataan penutup dari Bu Susan, “Asesmen diagnosis hal yang mungkin tidak kita alami dulu sebagai murid, namun untuk pembelajaran yang berpihak pada murid hal ini sangat esensial dan perlu dilakukan. Apalagi pada situasi pandemi saat ini.” Bagaimana rekan guru belajar  metode apa yang akan dipilih untuk melakukan asesmen diagnosis? Metode apapun yang akan Anda pilih, pada intinya hasil dari asesmen diagnosis diperlukan untuk merancang pembelajaran berorientasi pada murid. Sehingga akhirnya akan tercipta pembelajaran yang merdeka belajar. Salam Merdeka Belajar Neneng Nurbaeti 

Observasi Kelas Merdeka Belajar

Pusing menghadapi murid yang acuh dalam belajar khususnya saat PJJ? Ragu akan pentingnya observasi dalam pembelajaran di kelas? Bingung cara apalagi yang bisa dilakukan untuk melakukan asesmen selain asesmen kognitif? Yuk ikuti Obrolan Guru Merdeka Belajar (OGMB)! Deretan pertanyaan di atas terjawab tuntas pada Obrolan Guru Merdeka Belajar pada hari Selasa tanggal 31 Agustus 2021 secara live streaming di youtube. Obrolan berupa bincang seru ini dihadiri oleh dua narasumber keren. Ada ibu Cornelia Amita atau yang akrab disapa bu Mita yang juga berprofesi sebagai konselor middle school di Sekolah Cikal Serpong. Selain itu hadir juga ibu Anik Puspowati seorang guru PAUD di Fatif Edu. Bincang seru ini digawangi oleh moderator keren ibu Ira Ari Nuraini dari Kampus Guru Cikal. Perbincangan yang berlangsung secara santai selama tapi sarat makna dan kaya pengetahuan serta berdasarkan pengalaman empiris dua nara sumber yang mumpuni di bidangnya ini benar-benar mencerahkan. Peserta yang berasal dari guru-guru pembelajar seluruh Indonesia, dosen dan praktisi pendidikan ini membahas tentang pentingnya melakukan observasi yang dapat berfungsi sebagai asesmen di kelas-kelas merdeka belajar. Waktu 90 menit berlalu tak terasa karena diskusi mengalir dengan lugas dan berkualitas. Ketika membahas tentang pentingnya observasi bagi murid, bu Anik  memaparkan agar guru bisa memahami muridnya. Kenapa murid A begini. Guru bisa mengidentifikasi kemampuan dan aspek perkembangannya. Saat ditanya tentang caranya agar bisa mengenal murid lebih baik secara kognitif maupun nonkognitif, kedua narasumber sepakat melakukannya melalui observasi di kelas merdeka belajar. Menurut bu Mita, observasi adalah melakukan pengamatan dengan tujuan. Apalagi saat PJJ dimana kita hanya ketemu murid melalui tatap maya. Sebagian murid remaja menurut bu Mita cenderung untuk off cam karena sebagian murid usia remaja ini feeling insecure dengan penampilan fisiknya di layar. “Sebaiknya kita buat suatu kesepakatan bersama atau essential agreement dimana 10 menit pertama mereka harus buka kamera”, saran bu Mita. Beliau juga menjelaskan bahwa dari penampilan fisik murid, chatnya di WAG kelas dan memfollow IG nya, kita bisa mendapatkan data primer tentang murid. Selain itu, kita bisa mendapatkan dokumen sekunder dari rekaman, video bersama orang tuanya dan informasi dari guru sebelumnya. Baca juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Sementara itu, bu Anik yang merupakan seorang pendidik di tingkat PAUD justru menemukan kalau murid-muridnya lebih senang, kalau wajahnya kelihatan di kamera, karena usia seperti memang lebih suka melakukan eksplorasi dengan memencet tombol yang ada di piranti gawai atau laptop saat PJJ daring. Setelah itu, para murid akan berlari-lari terang bu Anik. Sama dengan bu Mita, bu Anik juga setuju, kalau dengan mengamati rekaman sesi zoomnya dan obrolan di WAG wali murid, data tentang murid akan didapatkan. Mengenai hal apa yang perlu disiapkan sebelum melakukan asesmen observasi di kelas merdeka belajar, kedua narasumber sepakat mengenai perlunya persiapan khusus. Menurut bu Anik, kita perlu mempersiapkan apa, kapan, bagaimana cara serta metodenya. Persiapan menyangkut format check list, anecdote, foto, HP , kertas dan sticky note. Sementara bu Mita lebih melihat ke tujuan asesmennya dan evaluasi kegiatan sebelumnya. Disamping itu, menurut beliau hendaknya ada semacam guidelines, check list, dan template untuk memasukkan foto dan video. Sasaran observasi menyangkut murid, orang tua atau teman-temannya juga perlu dipersiapkan agar bisa lebih fokus. Bu Ira sebagai pemandu diskusi juga menanyakan tentang sasaran yang tepat untuk observasi. Bu Anik menegaskan bahwa semua anak bisa diobservasi. Murid dilihat tumbuh kembangnya, orang tua diobservasi kondisi keluarganya serta bagaimana mereka berinteraksi dengan anaknya. Warga sekolah berupa orang dewasa sekitar anakpun tak luput menjadi sasaran observasi. Bu Mita menyatakan hal yang sama bahwa semua anak berhak, dan harus diobservasi. Observasi bisa berupa semacam personal treatment dan preferences yang hanya dimiliki anak. Atau dengan kata lain ada benchmark bagi setiap anak. Kita biasanya cenderung mengingat anak yang paling pintar atau paling sulit belajar. Ketika ditanya adakah cerita menarik selama melakukan observasi, keduanya kompak menjawab. Menurut bu Mita, di awal tahun ajaran baru selalu ada kejutan seperti murid kelihatan lebih cantik atau ganteng. Terkadang kita kaget dengan respon murid yang out of the box secara akademik. Makanya kita janganlah membatasi informasi yang masuk karena kita punya standar sendiri. Sering terjadi kejutan saat asesmen atau saat belajar. Menurut bu Anik, beliau kadang terkejut dengan anak yang bertambah tinggi badannya pas saat masuk sekolah lagi. Hal yang mengagetkan menurut beliau, kadang saat daring mereka berlarian, tapi saat luring bisa lebih fokus belajarnya. Bahkan murid yang hanya merepon dengan mengangguk atau menggeleng saat daring , bisa memberikan respon lebih saat luring. Berbicara soal tindak lanjut yang tepat setelah mendapatkan data observasi primer dan sekunder, kedua narasumber menyampaikan kalau mereka amat paham dengan beban administrasi guru yang banyak. Bu Mita mengingatkan para guru agar lebih teliti dalam menyeleksi data dan bukti pembelajaran, lalu melakukan kompilasi sehingga lebih paham akan tujuan observasi. Disamping itu, disarankan untuk sharing dengan guru kelas dalam rangka pengerucutan data serta mendiskusikan hasilnya dengan orang tua murid. Sedangkan bu Anik juga mengungkapkan hal yang senada. Data yang didapat disimpulkan, diinterpretasi dan hasilnya dibawa untuk bahan diskusi dengan orang tua. Hasil observasi disusun dalam google drive. Setelah sebulan, data tersebut diidentifikasi tindak lanjutnya sehingga didapat informasi aktual misalnya masih ada anak yang belum bisa mewarnai di usianya dan menggambar tidak sesuai dengan kemauannya. Pertanyaan terakhir dari bu Ira sebagai pemandu jalannya diskusi menyangkut bagaimana mengaitkan berbagai asesmen seperti proyek, observasi, wawancara, tugas dan tes tertulis. Hal ini dijawab secara lugas oleh bu Mita bahwa keseluruhan asesmen di atas saling terkait dan dapat dijadikan bahan untuk saling memperkaya pemahaman terhadap anak sehingga kita memiliki pemahaman yang utuh terhadap seorang anak. Bu Anik menambahkan perlu adanya penekanan pada aspek mana yang akan disasar dan tujuan pembelajarannya. Intinya menurut beliau, sebagai guru kita harus cerdas dalam memilih asesmen. Sementara itu, peserta terlihat sangat antusias dengan mengajukan berbagai pertanyaan di kolom chat. Diantaranya ada Ibu Supadmi yang meminta contoh observasi di tingkat SD dan kapan pelaksanaanya. Ada lagi ibu Anggun Dwi Lestari yang menanyakan bagaimana bentuk asesmen murid dengan tingkat kognitif rendah saat PJJ. Ibu Ayu Ade Irene ingin tahu adakah bentuk asesmen khusus untuk observasi. Berikutnya ada ibu Carla Adi Pramono yang bertanya tentang pengalaman empiris terkait asesmen observasi  yang digunakan … Read more

Katrol Nilai Murid dengan Hasil Asesmen Formatif, Bolehkah?

Pusing dengan nilai murid menjelang rapotan? Sebelum rapot dibagikan, Bapak dan Ibu Guru mungkin memiliki kebiasaan baru (atau mungkin mengulang kebiasaan yang sudah ada), ketika makin pusing dan makin sering mengusap balsem atau minyak kayu putih di kepala, guru pun mengumpulkan seluruh catatan murid untuk mendapat nilai. Untuk apa sih? Kemungkinan besar adalah untuk mengangkat nilai murid atau yang sering disebut katrol nilai.  Loh, tapi yang mau dinilai kan kemampuan akhir murid? Kenapa para guru mengumpulkan nilai-nilai tugas yang sifatnya asesmen formatif untuk memberikan nilai akhir? Apakah praktik ini betul? Pertanyaan di atas menjadi bahasan utama dari OGMB 7. Pada tanggal 25 Mei 2021, dua narasumber, yaitu Pak Mirwan Abdul Aziz dan Ibu Amalia Jiandra,  membagikan informasi mengenai asesmen formatif berdasarkan pengalaman mereka masing-masing. Dalam obrolan yang dipandu oleh moderator Ibu Ilona Christina, Bapak dan Ibu Guru dapat mengetahui lebih jauh mengenai penggunaan asesmen formatif yang tepat dan bagaimana penggunaannya. Apa itu Asesmen Formatif? Untuk membuka OGMB, Pak Mirwan dan Bu Amel menjelaskan apa yang dimaksud dengan asesmen formatif. Pak Mirwan menjabarkan asesmen formatif sebagai “proses yang digunakan oleh guru atau murid untuk mendapatkan umpan balik”. Sesuai dengan komentar Aris Ariyanti mengenai asesmen formatif, yaitu “asesmen untuk mengecek pemahaman murid”, Pak Mirwan menjabarkan lebih lanjut manfaat asesmen formatif. Bagi murid, data asesmen formatif dapat digunakan untuk mengetahui celah pemahaman yang dimiliki dengan tujuan pembelajaran. Untuk mencapai tujuan ini, penting bagi murid untuk mengetahui tujuan pembelajaran sehingga mereka dapat melakukan refleksi diri dari hasil asesmen formatif. Di sisi lain, asesmen formatif dapat digunakan pula oleh guru. Bila diolah dengan baik, data asesmen formatif dapat dimanfaatkan untuk melakukan penyesuaian proses belajar mengajar guna meningkatkan pencapaian siswa. Dengan kata lain, asesmen formatif bukan hanya memberikan informasi bagi murid, tetapi juga untuk guru.  Bu Amel kemudian mengungkapkan beberapa miskonsepsi mengenai asesmen formatif yang sering terjadi di antara para guru. Seperti yang sudah disebutkan di atas, asesmen formatif dianggap berfungsi untuk mengatrol nilai akhir. Bila murid tampak belum paham, akan semakin banyak asesmen formatif yang diberikan guru kepada murid tersebut. Padahal asesmen formatif adalah bagian dari asesmen sebagai proses belajar, bukan asesmen terhadap belajar. Dengan kata lain, tujuan asesmen formatif berbeda dengan asesmen yang dilakukan di akhir semester, atau asesmen sumatif.  Masih terkait dengan nilai akhir, Bu Amel mengutarakan miskonsepsi lain, yaitu asesmen formatif sering digunakan untuk langsung menentukan nilai akhir, atau keputusan akhir, kemampuan yang dimiliki murid. Beliau menjelaskan miskonsepsi ini dengan analogi kesalahan diagnosis penyakit, yaitu pemberian diagnosis di saat seseorang hanya menunjukkan satu gejala. Satu kali murid gagal dalam asesmen formatif, maka guru langsung memberikan label bahwa murid tidak mampu. Praktik ini tentu berlawanan dengan proses asesmen formatif yang harusnya berlangsung selama proses belajar berlangsung. Perlu diingat juga bahwa asesmen formatif tidak bertujuan menggambarkan kompetensi yang dimiliki murid di akhir semester. Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Pengambilan Data dan Tindak Lanjut Asesmen Formatif sama Pentingnya “Saya keinget, cara Pak Mirwan ajak anak-anak refleksi, sampe ada yang nyebut “Saya ga pengen jadi baligh, nanti nanggung dosa” Artinya refleksinya bener-bener nunjukkan anak sudah paham.”, komentar Maman, salah seorang peserta OGMB. Selain refleksi, apa saja cara yang bisa dilakukan dalam asesmen formatif ya? Pak Mirwan membagikan beberapa cara yang pernah beliau lakukan dalam proses belajar mengajar di kelas. Salah satunya adalah melalui cara self-assessment. Murid diberikan sebuah kertas kosong dan diminta untuk menuliskan pemahaman dari materi yang baru saja diajarkan. Hasilnya menarik karena murid dapat menggambarkan pemahaman mereka dalam berbagai cara di kertas tersebut. Ada murid yang menjelaskan pemahaman mereka, ada pula yang membuat mind-map. Ketika masa pandemi, beliau menggunakan bantuan beberapa aplikasi agar murid dapat mengomunikasikan pemahaman mereka. Terlepas dari cara apa yang digunakan, sekali lagi Pak Mirwan berpesan agar guru tidak hanya fokus pada cara melakukan asesmen formatif, tetapi juga bagaimana menindaklanjuti data yang sudah ada. Mengaitkan dengan salah satu komentar peserta, diferensiasi merupakan bentuk tindak lanjut yang dapat dipilih oleh guru. Ini tidak berarti bahwa guru harus membedakan cara pengajaran untuk masing-masing anak. Guru justru dapat melakukan pengelompokkan murid berdasarkan asesmen formatif dan mengajak murid yang dinilai lebih mampu untuk membantu temannya yang membutuhkan bantuan dalam memahami materi, atau sering disebut tutor sebaya. Asesmen Formatif Membantu Guru dan Murid Menjadi Merdeka Belajar Terakhir, Bu Amel menekankan adanya proses berkelanjutan dari asesmen formatif. Asesmen formatif berguna bagi guru dalam memodifikasi cara pengajaran secara berkala agar dapat memfasilitasi murid untuk mencapai tujuan pembelajaran. Murid juga dapat terus menerus merefleksikan pemahaman yang dimiliki melalui adanya asesmen formatif. Pak Mirwan menambahkan pula bahwa guru perlu memahami tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam memilih cara melakukan asesmen formatif. Cara yang dibagikan beliau belum tentu sesuai dengan tujuan pembelajaran dan kondisi murid di sekolah yang lain. Begitu pula sebaliknya. Yang terpenting adalah guru mau mencoba melakukan asesmen formatif guna membantu murid dan menyesuaikan proses pengajarannya. Dengan begitu, guru dan murid dapat mengalami Merdeka Belajar di dalam kelas.  Baca Juga Dari penjelasan Pak Mirwan dan Bu Amel, Bapak dan Ibu Guru dapat merefleksikan pemahaman mengenai asesmen formatif. Adakah miskonsepsi tentang asesmen formatif yang Bapak dan Ibu Guru miliki selama ini? Setelah mendengar obrolan ini, adakah perubahan dalam melakukan asesmen formatif yang ingin dilakukan? Bila Bapak dan Ibu Guru melewatkan atau ingin melihat kembali Obrolan Guru Merdeka Belajar “Salah Paham Guru Terhadap Asesmen Formatif”, Bapak dan Ibu Guru dapat menyaksikan di tautan berikut ini:

Konsep Asesmen di Berbagai Bidang

Sebelumnya kita sudah membahas mengenai miskonsepsi asesmen. Bagaimana pemahaman Bapak Ibu mengenai konsep asesmen sudah betul? Kali ini kita akan memperdalam pemahaman tentang konsep asesmen, apakah asesmen bisa dipraktikkan hanya digunakan di dunia pendidikan saja atau juga ada di berbagai bidang lain? Yuk, kita lihat pandangan asesmen dari berbagai sudut pandang dan latar belakang pekerjaan yang beragam. Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Seperti yang kita pahami sebelumnya, secara konsep dan praktik asesmen tidak hanya penilaian yang bentuknya angka (scoring), tetapi asesmen adalah sekumpulan kegiatan yang melibatkan pengumpulan dan analisis informasi dengan melihat kinerja murid, menginformasikan apa yang diketahui, dipahami, dapat dilakukan, dan dirasakan serta merasakan pada tahapan mana murid dalam proses pembelajaran, yang nantinya dapat dijadikan pandangan awal atau bekal dalam mempersiapkan dan menjalankan proses pembelajaran. Asesmen dalam Bidang Kedokteran yang Berpengaruh Pada Kesehatan Pasien Konsep asesmen dalam Bidang Kedokteran dijelaskan oleh FX Kristandiyoko MPH  yang berprofesi dokter di salah satu RSUD Simo Boyolali. Asesmen dalam bidang kedokteran dikenal dengan istilah asesmen pasien dimana tahapan proses dokter mengevaluasi data pasien baik data subjektif maupun data objektif dalam membuat suatu keputusan terkait status kesehatan pasien. Status kesehatan pasien ini diperlukan untuk mengetahui kondisi riwayat kesehatan, hasil pemeriksaan fisik, asesmen psikologi dan asesmen sosial ekonomi pasien, kumpulan informasi atau asesmen terbentuk menjadi kesimpulan yang disebut dengan diagnosis.  Selain asesmen pasien digunakan untuk mendiagnosa seorang pasien, asesmen pasien juga diperlukan dalam mengetahui kebutuhan pasien dalam hal perawatan, contohnya untuk menentukan pasien ditempatkan di ruang inap biasa, ruang HCU atau ICU, dan asesmen pasien digunakan untuk mengintervensi pasien dalam perbaikan atau perburukan riwayat perjalanan penyakitnya, dan yang terakhir digunakan sebagai bahan mengevaluasi pasien sudah dapat dinyatakan sembuh atau belum.  Informasi data pasien tertuang dalam rekam medis pasien yang berupa berkas yang berisi catatan dan dokumen identitas pasien, pemeriksaan pasien, pengobatan yang diberikan, tindakan medis yang sudah dan akan dilakukan, dan layanan informasi lain yang diberikan dan dibutuhkan. Asesmen pasien ini dilakukan oleh dokter sebagai penanggung jawab masing-masing pasien yang menjadi salah satu indikator mutu yang menggambarkan tentang pemenuhan harapan pasien dan tanggung jawab dokter. Asesmen adalah salah satu standar nasional akreditasi suatu rumah sakit. Begitu detail dan kompleks kebutuhan akan asesmen yang dilakukan dalam bidang kedokteran ini karena menyangkut dengan nyawa seseorang dan memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi pasien.  Asesmen dalam Bidang Keuangan yang Berpengaruh pada Pembiayaan Sebuah Perusahaan Narasumber berikutnya datang dari bidang keuangan, akuntansi dan pajak yaitu Tuti Noor Ermayanti, asesmen digunakan untuk data pelaporan dengan pihak ketiga yaitu pihak perbankan, stakeholder yang memiliki andil dalam sebuah perusahaan ataupun pemerintah dalam hal pelaporan pajak dan untuk kepentingan good governance lainnya. Asesmen dalam bidang keuangan dan akuntansi dapat dibedakan kedalam 2 hal, Pertama, nilai kekayaan untuk mengetahui posisi nilai kekayaan yang dimiliki yang diukur melalui laporan neraca. Kedua, dilihat dari asesmen prestasi manajemen yang bisa dilihat melalui laporan laba-rugi. Setelah dua asesmen ini akan ada yang proses audit yang dilakukan oleh pihak ketiga untuk mengetahui apakah keuangan yang dijalani bisa dikatakan wajar atau tidak karena akan menjadi bukti pertanggungjawaban kepada pihak-pihak yang turut andil dalam keuangan tersebut. Pencatatan keuangan sendiri dilakukan berdasarkan klasifikasi atau yang sudah menjadi standar dalam hal akuntansi, yang disebut dengan Pedoman Standar Akuntansi Keuangan. Asesmen menjadi kunci untuk pihak ketiga untuk dapat menilai kinerja suatu perusahaan dan menilai kekayaan dalam perusahaan tersebut.  Asesmen prestasi manajemen untuk mengetahui perjalanan suatu perusahaan apakah mengalami profit, stagnan atau justru naik turun keuangan suatu perusahaan. Pihak ketiga sebagai seorang investor baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang akan melihat laporan analisa fundamental perusahaan kurang lebih selama 5 tahun kebelakang dalam menilai keadaan perusahaan apakah cocok atau tidak dengan melakukan analisis beberapa tahapan, seperti menilai dari angka yang terdapat pada laporan laba-rugi, laporan neraca, mengukur seberapa jauh dan seberapa bagus suatu perusahaan, kemudian menetapkan apakah akan berinvestasi atau tidak baik dalam jangka waktu yang pendek atau panjang.  Dari sisi kekayaan perusahaan dapat dilihat melalui laporan neraca perusahaan, untuk mengetahui seberapa kuat aset perusahaan untuk dapat membayar kewajiban-kewajiban yang keluar dari suatu perjanjian yang dilakukan antar perusahaan.  Asesmen dalam Perusahaan untuk Memahami Kebutuhan Kinerja Karyawan Selanjutnya akan membahas asesmen dalam bidang Talent Development (HRD)  oleh Fricilia Yesica Simbolon, dalam bidang HRD ini perusahaan bergerak dalam mengelola sumber daya manusia yang dipekerjakan dalam hal ini asesmen sangat penting terkait dalam proses perekrutan maupun ketika seseorang sudah bergabung di suatu perusahaan. Asesmen dalam perusahaan dikenal dengan istilah asesmen kinerja atau Key Performance Indicators (KPI), asesmen ini diukur berdasarkan pencapaian target perusahaan terhadap kinerja karyawannya, penilaian dapat dilakukan oleh perusahaan dalam rentang waktu bulanan, semester ataupun tahunan, walaupun pada umumnya perusahaan melakukan asesmen kinerja dalam rentang waktu tahunan.  Selain asesmen kinerja perusahaan juga memiliki asesmen pengembangan diri, yang memiliki tujuan untuk melihat kompetensi seseorang dalam bekerja. Kemudian asesmen yang dilakukan adalah talent mapping, dimana memetakan talenta ke dalam box-box, box itu sendiri terbagi menjadi 2 bagian yaitu box dari kiri bawah sampai kanan atas yang menggambarkan rentang kinerja karyawan, sedangkan box dari bawah lurus ke atas menggambarkan potensi karyawan. Melalui asesmen ini menjadi pedoman perusahaan atau HRD dalam menilai kinerja seorang atau sekelompok karyawan berada di tahapan mana, yang nanti bisa dilakukan untuk perusahaan atau karyawan yang bersangkutan merefleksikan kira-kira apa yang perlu ditingkatkan dan dikembangkan lagi. Tujuan asesmen dalam bidang HRD adalah untuk memahami kebutuhan karyawan dan perusahaan, yang nantinya dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan muncul kedepannya.  Asesmen dalam Bidang Seni Peran yang Berpengaruh pada Kualitas Produksi Film Terakhir dengan Muhammad Firdaus yang menggeluti bidang cinematography atau perfilman, dalam pembuatan sebuah produk dalam hal ini adalah film ada sebuah proses mendesain berbagai macam informasi yang kemudian terbentuklah sebuah asesmen yang disebut dengan asesmen kreatif. Asesmen kreatif ini digunakan untuk menganalisa target market sebuah film akan dimasukkan pada rentang usia berapa, bagaimana penampilan karakter yang akan dimunculkan, setelah asesmen kreatif ini didiskusikan dan dianalisa akan berkembang lagi menjadi asesmen terkait dengan peralatan yang digunakan apa saja dan besaran biaya yang akan dikeluarkan. Di dunia seni peran sendiri memiliki asesmen yang disebut dengan asesmen based on competencies untuk mengetahui kemampuan dan kompetensi yang diperlukan dari … Read more

Pameran Karya Sekolah: Lebih dari Sekadar Promosi

Memamerkan karya anak dalam gelaran pameran karya murid di sekolah / madrasah bukan hanya soal promosi. Banyak hal yang terangkai di sana. Apa saja? Menurut Marsaria Primadona, Manajer Program Sekolah Cikal dalam Obrolan #PemimpinMerdekaBelajar Minggu (21/2), tujuan pameran karya adalah berbagi. Karena dengan berbagi itu, anak/murid bahkan gurunya akan belajar dari tanggapan yang dilontarkan. Yakni, dari mereka yang menonton atau menyaksikan pameran karya tersebut. “Selain belajar percaya diri untuk memamerkan karyanya, juga mencari umpan balik dari karya-karya tersebut,” ungkapnya.  Dipandu oleh Niamil Hida, Ketua Jaringan Sekolah Madrasah Belajar (JSMB), Primadonna atau yang akrab disapa Pima dalam acara yang diunggah dalam youtube channel Sekolah Merdeka Belajar ini juga mengatakan bahwa yang terpenting dari itu semua, justru bukan hasil atau produk akhirnya. Melainkan proses yang dilakukan anak.  Pengalamannya di Sekolah Cikal, apa yang dipamerkan anak memang bukan hanya produk akhir hasil karya anak. Tetapi juga proses dari awal sampai jadi. “Jadi anak mempresentasikan proses itu,” sambungnya. Sebelumnya Pameran ini diadakan di GSG Cikal. Tata caranya murid presentasi dan ada tamu yang dijadwalkan untuk melihat dan menyimak presentasi dari murid. Jadi murid mempresentasikan proses.  Dalam praktiknya, ia kerap menggunakan formula ATAP, yakni awal, tantangan, aksi, dan perubahan ketika melihat anak melakukan proses karyanya. Di mana anak bisa memulai sendiri karyanya, dari tugas-tugas yang diberikan di hari-hari biasa, hingga menemukan tantangan, aksi, dan memberikan refleksi atas apa yang sudah mereka mulai.  Pima menyebut konsep ini sebagai berpikir desain (design thinking). Di mana dalam menentukan karya awal yang dibuat diawali dari berempati (empathize). Yaitu wawasan utuh mengenai apa yang akan mereka kerjakan dengan alasan-alasan yang diutarakan si murid sendiri. Sebelum kemudian menetapkannya (define), menguji masalah tersebut dengan ide-ide mereka (ideate), lalu melakukan uji coba awal dan mengetesnya (prototype and testing). Setelah rentetan hal tersebut dilakukan, maka produk karya murid siap dipamerkan/diluncurkan (launch). Di setiap pameran karya selalu ada lapisan mentoring, lapisan pameran karya yang dilakukan sebagai berikut: Murid memilih Tema dengan didampingi oleh bu Pima dan Guru Kelas. Murid-murid memilih mentor. Mentor bisa dari guru subjek atau dari guru jenjang lainnya asal tetap satu sekolah. Contoh, murid SD dibimbing oleh guru TK. Intinya murid berpasang dengan mentor yang memiliki passion tema yang sama. Sinergi. Setelah memilih mentor, jenjang berikutnya mentor ini dikoordinatori oleh guru kelas. Optimalisasi. Guru-guru kelas inilah yang dimentori oleh manajer/koordinator/kepala sekolah, dalam hal ini adalah Bu Pima. Dengan adanya lapisan mentor seperti di atas, langkah pertama ialah mentor briefing menggunakan jamboard. Mentor Briefing ini dilaksanakan oleh guru kelas dan Pima. Isian kegiatanya ialah pertanyaan, jadi Pima dan guru kelas bertanya untuk brainstorming. Terkadang murid masih bertanya lagi tentang pertanyaan yang diajukan, jadi guru harus menanyakan dengan pertanyaan berlapis atau bisa disebut lebih rinci dan dapat ditangkap oleh murid. Usai brainstorming, baru membuat kesepakatan untuk menentukan kapan diskusi tentang persiapan pameran karya. Baca Juga: Lebih Penting Pameran Karya atau Memajang Nilai Murid?  Biasanya dengan kegiatan pameran karya seperti ini, guru menganggap tugas tambahan dan belum siap mengatur. Langkah yang dilakukan Pima ialah gerilya dan menanyakan ke guru apa saja yang perlu dibantu agar siap menjadi mentor. Bermula dari hal itu, Pima paham kebutuhan guru yang akan jadi mentor. Pima juga menawarkan bantuan dan siap terjun untuk membantu jika ada kesulitan di tengah mentoring. Ketika membentuk mentoring, harus ada perbandingan mentor dan murid. Agar seimbang dan sesuai target. “Bu, bagaimana cara kita berempati dengan kebutuhan murid? Saya mengajar SMK dengan 300-an murid?” tanya Bu Eka Yuliana. Di Cikal murid diberikan pilihan antara Pameran Karya atau Presentasi. Jadi tidak semua memilih pameran dan presentasi. Ada pula juga yang memilih kelompok, sebab bersinggungan dengan tugas mata pelajaran.  Dalam komunikasi yang dilakukan, murid diberikan pilihan untuk menentukan. Jika ini dilakukan di SMK, malah lebih canggih dan bisa dibentuk kepanitiaan. Jadi murid bisa dilibatkan dalam penyelenggaraan. Jika di TK, bisa melibatkan orangtua. “Itu teknik-teknik percakapan yang menggerakkan ya, Bu?” tanya Bu Umi Kalsum.  Tentu saja, harus ada komunikasi yang terjalin antarguru, orangtua, dan murid. Hal ini akan memudahkan penyelenggaraan pameran. Maupun dalam proses menuju ke sana. Proses inilah yang nantinya akan memberikan percakapan-percakapan yang semakin mendekatkan guru dan murid, maupun para orangtua.  Perkembangan saat ini, Bu Pima mengatakan memang dibutuhkan adaptasi untuk menggelar pameran karya di sekolah. Mengingat adanya pandemi dan semua dilakukan serba online. Namun menurutnya, hal itu malah menjadi keuntungan. Karena guru dan murid bisa makin kreatif dalam menyajikan proses dan hasil karyanya. (*) Silakan tonton ulang Program Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar di bawah ini.

Asesmen Nasional : Memperpanjang Derita atau Sebaliknya?

Senin lalu, 01 Februari 2021, lepas tengah hari, saat orang-orang bergegas pulang dari aktivitas  kerja, tepatnya pukul 16.00 Wita, Komunitas Guru Belajar Nusantara Makassar kembali menggelar Temu Pendidik Daerah di awal tahun dengan topik Asesmen Nasional sebagai  Pemetaan Pendidikan. Apa yang Harus Dilakukan Sekolah, Guru, dan Murid?  Topik ini sedang hangat-hangatnya jadi buah bibir dan akan digadang-gadang sebagai tema besar  Temu Pendidik Nusantara VIII nantinya. Lewat kanal Youtube KGB Makassar, Pak Ari Wibowo,  Pelatih Kampus Guru Cikal, sebagai pembicara, praktis dengan tegas dan terukur memulai webinar dengan pernyataan penolakan Ujian Nasional yang dulu telah lama dicetuskan oleh  Menteri Pendidikan Nasional era Kabinet Indonesia Bersatu, Bambang Sudibyo,sejak tahun 2005.  “Ujian Nasional sudah tidak relevan menjadi alat ukur dalam menentukan kompetensi murid.”  terang Pak Ari.  Sederet Menteri pun ikut menggaungkan wacana tersebut. Mulai dari M. Nuh, Anies Baswedan,  dan Muhadjir Effendy. Bahkan, saya dulu menganggap bahwa penghapusan Ujian Nasional merupakan hal utopis.  Tapi siapa sangka, di bawah Nadiem Makarim, hal itu terwujud. Kegaduhan terjadi dibanyak  tempat. Sekolah dan guru akhir-akhir ini sibuk tak karuan setelah Menteri Pendidikan dan  Kebudayaan mengeluarkan kebijakan yang tak terduga: Menghapus Ujian Nasional dan  menghadrikan Asesmen Nasional yang meliputi, Asesmen Kompetensi Minimum, Survei  Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.  Di tengah jalannya webinar, salah satu peserta, Emi Hardyanti, tiba-tiba mencurahkan  kegelisahannya di kolom live chat, “Bagaimana, Pak? Di luar sana banyak agen yang menawarkan  buku latihan untuk Asesmen Nasional, nyaris dipahami bahwa Asesmen Nasional merupakan  pengganti Ujian Nasional.”   Lalu disusul juga oleh Ibu Permata Hati, seperti namanya, komentarnya di kolom live chat ia  sampaikan dengan penuh emosional, “Sekarang banyak pelatihan pembuatan soal Asesmen  Kompetensi Minimum, bahkan buku pembahasannya juga ada. Apakah ini tidak berdampak pada  persaingan nilai? Jadinya, tujuan Asesmen Kompetensi Minimum malah tersamarkan.”  Dua celetukan dari peserta webinar membuat pembicara dan pemandu, Pak Multazam, Guru  MTsN 2 Maluku Tenggara yang baru saja hijrah dari Makassar, menahan tawa dengan sedikit rasa  heran. “Iya, Bu. Masih ada oknum-oknum yang memanfaatkan momen-momen seperti ini,” kata  Pak Ari.  Kedua komentar dari peserta menggambarkan bahwa selama ini tercipta miskonsepsi. Apa yang  diresahkan oleh peserta Temu Pendidik Daerah, mungkin itu juga yang dirasakan sebagian  teman-teman guru yang lain. Jadinya, guru kembali lagi terjebak pada konsep yang lama dan  menyamarkan tujuan cita-cita Asesmen Nasional.  Pembicara lanjut menyampaikan materinya, ia mengutip pernyataan dari Mas Bukik Setiawan,  “Ada perbedaan yang nyata pada konsep baru, tapi tidak akan bermakna bila pemahaman lama  yang digunakan untuk memahami konsep baru.”  Pada Temu Pendidik Daerah kali ini, pembicara berusaha mendobrak gap tersebut. Ia  menerangkan tiga dasar tujuan Asesmen Nasional. Pertama, ingin melihat kualitas pembelajaran  di sekolah. Kedua, mendapatkan umpan balik peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.  Ketiga, menjadi dasar untuk penyusunan program-program dalam meningkatkan proses  pembelajaran di sekolah.  “Pak, kenapa siswa yang menjadi target Asesmen Kompetensi Minimum hanya diperuntukkan  bagi siswa yang berada di kelas 5, 8, dan 11?” tanya peserta lagi.  Pertanyaan dari peserta langsung direspon oleh pembicara dengan menampilkan tabel  perbandingan Asesmen Nasional dan Ujian Nasional. Tabel itu menggambarkan tujuh perbedaan  dari masing-masing program.  Lanjut, pembicara mulai menjelaskan tiap-tiap perbandingan. Ia menegaskan sekali lagi bahwa  dalam Asesmen Kompetensi Minimum, tujuannya bukan untuk menilai hasil akhir, tapi keinginan  perbaikan yang diharapkan oleh pemangku kebijakan. Dengan menjadikan siswa kelas 5, 8, dan  11 sebagai sasaran, tujuannya tentu agar tahun depan siswa yang sudah naik tingkat ke kelas 6,  9, dan 12 ikut merasakan perubahan iklim yang berada di sekolah.  Jika Ujian Nasional mendapat bobot butir soal yang sama untuk mengukur kompetensi, Asesmen  Kompetensi Minimum malah bersifat adaptif yang menekankan pada kompetensi Literasi dan  Numerasi. Semuanya ini, bertolak pada hasil PISA beberapa tahun belakangan ini.  Bahkan, sasaran juga tidak hanya ditujukan kepada siswa, melainkan guru dan kepala sekolah  dalam ranah survei karakter yang termaktub dalam profil pelajar Pancasila dan survei lingkungan  belajar untuk melihat kualitas proses belajar mengajar di sekolah.  Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Jadi sudah menjadi barang yang jelas, bahwa Asesmen Nasional tidak berpacu pada target  seberapa banyak siswa yang berhasil lulus, tetapi berpacu pada target capaian sekolah tahun tahun sebelumnya agar tercipta peradaban dalam lingkungan sekolah.  Untuk mencapai itu, pembicara memaparkan lima strategi yang harus dilakukan sekolah, terlebih  pemimpin sekolah dalam hal ini kepala sekolah. Langkah pertama, kepala sekolah tidak  mengambil jalan pintas, misalnya menghimbau guru dan siswa untuk melakukan latihan  pengerjaan soal, tapi melihat kesemua sisi.   Kedua, kepala sekolah harus memprioritaskan waktu dan energi lebih banyak untuk memandu  perencanaan, pendampingan, dan refleksi proses pembelajaran dan melibatkan seluruh elemen,  termasuk orang tua murid. Ketiga, melakukan pembelajaran yang kolaboratif. Maksudnya, kepala  sekolah memastikan semua mata pelajaran harus terintegrasi pada kompetensi literasi, numerasi  dan karakter.  Keempat, mengembangkan kebiasaan berbagi praktik baik di lingkungan sekolah sebagai wadah  bertukar pikiran, karena belajar yang nyata itu ialah belajar dengan sesama rekan seperjuangan.  Terakhir, hapus program-program yang sudah tidak relevan, apalagi memakan anggaran yang  cukup banyak dan segera memulai menyusun program-program jangka panjang yang lebih relevan.  Nah, pilihan itu bergantung pada kita semua. Saya harap, setelah ini, ajaklah murid belajar untuk  hidup, bukan sekadar belajar untuk ujian. Sebab kata Einstein, “Seni tertinggi guru adalah  membangun kegembiraan dalam ekspresi kreatif dan pengetahuan.”