Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek: Students’ Movie Project

Murid lesu, tidak bersemangat dan termotivasi, sering membuat kegaduhan di kelas, atau prestasi terus menerus mengalami penurunan? Apakah bapak dan ibu guru pernah mendapati keadaan seperti ini? Bisa jadi ini adalah gejala-gejala ketika murid sedang merasa bosan dengan metode pembelajaran, dan mungkin juga ini adalah bentuk keluhan murid jika mereka sedang bosan dengan metode pembelajaran yang diterapkan. Jika iya jangan dibiarkan ya bapak dan ibu guru, karena ini tentunya akan menghambat murid dalam belajar. Namun tenang bapak dan ibu guru, kali ini bapak dan ibu guru akan dikenalkan dengan Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek. Lantas, apa sih Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek itu? Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek adalah metode pengajaran di mana murid memperoleh pengetahuan dan keterampilan dengan secara aktif terlibat dalam dunia nyata dan proyek yang bermakna secara pribadi atau berkelompok. Dalam Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek ini, murid akan memanfaatkan keterampilan membangun tim melalui kolaborasi. Murid dibebaskan memberikan pembagian tugas dalam tim dan merencanakan bagaimana mereka akan bekerja sama. Lalu, bagaimana contoh nyata dari Praktik Pembelajaran Proyek ini? Untuk lebih jelasnya, mari kita simak cerita dari Pak Madya Giri Aditama, yang merupakan anggota KGB Batang serta mengajar di STKIP Muhammadiyah Batang.  Menerapkan pembelajaran yang dapat membangun dan mengembangkan kompetensi serta kreativitas murid merupakan tujuan keberlanjutan yang ingin dicapai semua guru. Begitu juga dengan Pak Madya, dalam pembelajaran bahasa Inggris yang diampunya, murid dituntut menguasai empat kemampuan dasar, yaitu Berbicara (speaking), mendengar (listening), membaca (reading), serta menulis (writing). Menurut beliau, tentu saja ini membutuhkan waktu dan instrumen lebih banyak jika melakukan asesmen terhadap setiap kemampuan dasar secara terpisah. Pak Madya menerapkan kegiatan asesmen formatif yang dilakukan secara berkala dan bertahap sehingga dapat membantu murid untuk lebih memahami materi pembelajaran dengan lebih matang. Dikatakan oleh Pak Madya jika hambatan dan kendala yang sering dilakukan oleh murid dalam praktik bahasa Inggris diantaranya adalah keterbatasan kosa kata (vocabulary) yang dimiliki, tata bahasa (grammar), serta pelafalan (pronunciation). Faktor-faktor tersebut sangat penting dalam pembelajaran bahasa serta penerapannya dalam kehidupan nyata. Ditambah lagi jika durasi dan jumlah pertemuan yang terbatas juga mempengaruhi tingkat keberhasilan murid dalam memahami konteks isi pembelajaran dengan sempurna. Oleh karenanya, menurut beliau sangat penting bagi murid untuk menguasai keempat kemampuan dasar tersebut beserta faktor penunjang yang menjadi komponen dalam kemampuan dasar bahasa Inggris tersebut.  Baca juga: Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar, Solusi Persoalan Guru Lantas, Pak Madya pun memikirkan untuk menerapkan metode pembelajaran berbasis proyek. Hal ini yang telah coba diterapkan oleh Pak Madya dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk mahasiswa semester 2 di Universitas Muhammadiyah Surakarta program English for International Class (EIC) selama tiga tahun dan mahasiswa semester 2 di STKIP Muhammadiyah Batang selama dua tahun ini. Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek berupa asesmen yang beliau terapkan dilakukan dengan menggunakan satu metode yang dapat melakukan asesmen terhadap semua kriteria penilaian yang ada dalam pembelajaran bahasa Inggris secara bertahap dan berkelanjutan. Ternyata prasangka tentang kesulitan belajar dan menggunakan bahasa Inggris masih menjadi momok serta kendala dalam pembelajaran bahasa Inggris, terutama bagi mahasiswa di luar program studi bahasa Inggris. Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek yang melibatkan strategi, dan media yang variatif dirasa cocok oleh Pak Madya guna meningkatkan ketertarikan murid dapat mengembangkan rasa ingin tahu dan kesadaran akan kebutuhan bahasa Inggris. Walaupun sudah dewasa, tetap tidak mudah dalam memberikan pemahaman tentang pentingnya bahasa asing kepada mahasiswa. Kesadaran akan kebutuhan penguasaan bahasa Inggris perlu disampaikan di awal pembelajaran agar guru dapat memetakan tahap-tahap asesmen dan evaluasi. Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek memudahkan guru dalam melakukan asesmen Bernama Students’ Movie Project, yang mana adalah kegiatan serta tugas yang Pak Madya berikan kepada mahasiswa untuk merancang, merekam suatu cerita dengan menggunakan bahasa Inggris, serta mengemasnya dalam suatu video yang menarik dan mendidik. Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan kemampuan literasi digital, murid tidak mendapat beban berat dalam mengadakan alat untuk mengerjakan tugas karena semua bisa menggunakan gawai yang mereka miliki. Di sini ada beberapa tahap yang Pak Madya lakukan dalam penyusunan Students’ Movie Project, sekaligus sebagai asesmen formatif. Diawali dengan membentuk kelompok, kemudian dilanjutkan dengan merencanakan konsep cerita serta menulis naskah percakapan yang akan dibawakan oleh setiap anggota kelompok. Beliau memberikan kebebasan dalam menentukan topik (tema), sesuai dengan kesukaan dan ketertarikan murid, selama sesuai dengan pendidikan dan motivasi remaja, serta tidak mengandung unsur sara dan ditentukan secara berdiskusi. Pada proses penulisan cerita dan naskah, Pak Madya melakukan asesmen kemampuan menulis (writing), sekaligus memberikan revisi dan koreksi pada sesi konsultasi. Hasil tulisan dijadikan sebagai sumber latihan pembacaan naskah guna melancarkan serta menghafalkan pengucapan yang benar. Pada tahap ini, beliau sekaligus melakukan asesmen kemampuan membaca (reading), sembari memberikan umpan balik terhadap cara eksekusi membaca murid. Konsep cerita dan naskah yang telah dihafalkan dibawakan secara spontan dan dikembangkan sesuai dengan improvisasi masing-masing. Pada sesi ini beliau juga melakukan asesmen kemampuan berbicara (speaking) tahap awal sebelum asesmen pada hasil akhir nanti. Setelah tahap tersebut cukup, dilanjutkan tahap perekaman video. Proses ini tidak berlangsung secara cepat. Diperlukan waktu dan percobaan berulang-ulang guna menghasilkan cerita dan pengucapan yang tepat. Proses penyuntingan, pemilihan gambar, dan penyelesaian keseluruhan dilakukan secara berkelompok dan merupakan bentuk hasil karya buah kerja sama seluruh anggota kelompok. Video hasil akhir pembuatan tugas ini dikumpulkan dan diputar untuk dievaluasi bersama. Evaluasi dan tukar pendapat dilakukan dengan murid dari kelompok lain guna mendapatkan umpan balik variatif dan membangun. Dalam evaluasi bersama ini diterapkan asesmen kemampuan mendengar (listening), yaitu dengan meminta murid untuk menyimak, menuliskan ulang konsep cerita, serta menjawab pertanyaan mengenai video hasil karya kelompok lain. Dari hasil akhir evaluasi karya, dapat diketahui perbedaan dan perkembangan dalam memahami dan melakukan eksekusi terhadap perbaikan yang telah dilakukan pada setiap tahapan asesmen dalam proses pembuatan tugas tersebut. Hasil akhir dalam pembelajaran bahasa Inggris adalah praktik. Dengan menerapkan movie project ini, murid dapat melakukan praktik berbahasa Inggris dengan senang dan terkonsep. Guru dapat melakukan asesmen dalam setiap tahap proses. Setidaknya ada lima tahap pembuatan tugas. Pertama, tahap penyusunan dan penulisan cerita serta naskah. Kedua, proses berlatih membaca naskah. Ketiga, proses berlatih berbicara dan peran. Keempat, proses perekaman dan penyuntingan. Kelima, penyelesaian tugas dan evaluasi bersama. Seperti kata peribahasa: sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui, dalam keseluruhan tahap tersebut Pak Madya melakukan … Read more

Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar, Solusi Persoalan Guru

Bapak dan Ibu guru masih memiliki persoalan dalam kegiatan pembelajaran? Apakah bapak dan ibu guru belum menemukan solusi yang pas dalam mengatasi hal tersebut? Apakah bapak dan ibu guru pernah mendengar Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar? Tenang bapak dan ibu guru, melalui pembahasan di tulisan ini mungkin bapak dan ibu guru akan bisa menemukan solusi dari persoalan yang bapak dan ibu guru rasakan dengan Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar. Ya, karena pada tulisan kali ini, kita akan membahas dan mengenalkan kepada bapak dan ibu guru tentang “Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar, Solusi Persoalan Guru”, tanpa perlu berlama-lama, yuk mari kita simak tulisan di bawah ini Mengapa Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar Menjadi Solusi atas Persoalan Guru? Kurikulum ini sendiri dirancang dengan pendekatan praktis, sehingga nantinya bapak dan ibu guru dapat berdaya dengan merancang dan mempraktikkan solusi berlandaskan teori dan dan menyesuaikannya dengan konteks kelas dan kondisi di daerahnya masing-masing.  Berikutnya, kurikulum ini juga dirancang secara modular agar fleksibel dalam memenuhi kebutuhan guru. Dengan pendekatan modular, bapak dan ibu guru dapat memilih dan mengikuti modul pembelajaran yang sesuai untuk mengatasi persoalan di kelasnya. Di sini setiap guru memiliki kemerdekaan untuk merancang dan mengalami personalisasi pengalaman belajar.  Kurikulum ini juga dirancang sebagai solusi terhadap kebutuhan guru yang telah teruji lebih dari 20 tahun. Kurikulum ini bukan saja telah digunakan untuk pendidikan guru pada satu sekolah, namun telah diterapkan di lebih dari 1000 sekolah di berbagai penjuru nusantara.  Baca juga: Memahami Merdeka Belajar Lalu, Apa itu Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar? Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar ialah kurikulum yang bertujuan mengembangkan kompetensi pedagogik guru melalui cara melalui 5 cara, yaitu; Memanusiakan Hubungan, Memahami Konsep, Membangun Keberlanjutan, Memilih Tantangan, dan Memberdayakan Konteks. Cara ini lebih dikenal dengan cara 5M,  sehingga nantinya mampu menumbuhkan murid yang Merdeka Belajar, yang mana murid yang belajar karena kemauan sendiri. Bapak dan ibu guru bisa mempelajari Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar dengan mengunduh di https://pembelajaran.kampusgurucikal.com/ Kurikulum ini terdiri dari 1 pondasi, 3 blok modular dan 1 atap. Pondasinya ialah program Guru Merdeka Belajar. Dilanjut Blok Modular yang terdiri dari tiga blok yaitu:  A. Manajemen Kelas Merdeka Belajar  B. Strategi Pembelajaran Merdeka Belajar C. Asesmen Pembelajaran Merdeka Belajar Lalu, kurikulum ini dilengkapi dengan Atap yang mana kitab isa melihat program Karier Guru Merdeka Belajar Di setiap blok modular terdiri dari program yang disusun berdasarkan alur penguasaan kompetensi guru merdeka Belajar. Dimulai level 0, level 1, level 2 dan seterusnya. Lantas, Bagaimana Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar Menjadi Solusi atas Persoalan Guru? Nah, Alur Belajar kurikulum ini, yang mana Langkah pertamanya adalah pijak pondasi, ikuti program Guru Merdeka Belajar. Setelah mendapat pijakan pondasi, langkah berikutnya adalah dengan mengikuti blok modular. Setiap blok modular dimulai pada level 1, namun bila bapak dan ibu guru masih kesulitan pada level 1, bapak dan ibu guru bisa coba ikuti level 0. Sementara, apabila bapak dan ibu guru sudah menguasai level 1, maka bapak dan ibu guru bisa melanjutkan ke level yang lebih tinggi sesuai persoalan pembelajaran dan kebutuhan belajar. Bila ingin mengembangkan karier, ikuti program yang termasuk pada kategori Atap, yang mana bapak dan ibu guru dapat mengembangkan Karier Guru Merdeka Belajar. Kemudian, Bagaimana Contoh Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar Menjadi Solusi untuk Persoalan Guru? Mari kita gambarkan contohnya seperti ini. Awalnya di sebuah sekolah, ada seorang guru, sebut saja Guru Agus. Di sini guru Agus curhat jika muridnya ribut dan mencari perkara, dari ramai di kelas, tidak taat protokol kesehatan . Ia coba mengatasi persoalan tersebut dengan cara sederhana namun tetap saja tidak terjadi perubahan pada muridnya. Hal ini hingga membuat guru Agus pusing bagaimana mendisiplinkan muridnya tersebut. Lantas, bagaimana cara menertibkannya? dan kira-kira apa program yang bisa membantu guru Agus menyelesaikan persoalan tersebut? Akhirnya guru Agus mencoba untuk mulai mengikuti program Guru Merdeka Belajar. Yang mana pada program tersebut Guru Agus melihat-lihat pada blok modular. Lalu, apa ya blok modular yang cocok untuk guru Agus? Ternyata, setelah direnungkan beberapa saat, Guru Agus merasa bahwa persoalannya kali ini adalah terkait dengan kemampuannya dalam melakukan manajemen kelas. Ia pun fokus mempelajari blok modular Manajemen Kelas Merdeka Belajar tersebut. Dan kemudian ia pun memutuskan mengikuti program Kesepakatan Kelas Merdeka Belajar. Demikianlah cerita guru Agus dalam yang menemukan solusi atas persoalannya selama ini dengan mengikuti contoh Guru Merdeka Belajar, yang mana bersinergi dengan kurikulum ini. Nah, bagaimana bapak dan ibu guru, apakah pembahasan ini bisa memberikan insight baru dan menjawab persoalan bapak dan ibu guru saat ini? Jika bapak dan ibu guru masih penasaran, yuk bapak dan ibu guru pelajari lebih dalam lagi dan akses modul-modul di Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar lainnya dengan mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII pada 20-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem merdeka belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Ayo Jadi Guru Merdeka Belajar! Guru Penggerak Perubahan Pendidikan! Mari berjumpa rekan seperjuangan di Temu Pendidik Nusantara VIII, untuk #DukungGuruBelajar bergerak bersama demi Pendidikan. Perubahan pada diri Bapak dan Ibu Guru adalah awal perubahan untuk masa depan murid Indonesia! Klik: https://tpn.gurubelajar.org

Motivasi Guru Penggerak Merdeka Belajar, Berani Berubah Meskipun Tertatih-Tatih

Ketika pandemi melanda beberapa waktu yang lalu, bapak dan ibu guru pasti merasakan dan mengalami untuk beradaptasi dengan perubahan kebiasaan tersebut tampak jelas terasa karena pada saat kondisi normal, belajar menggunakan sistem tatap muka (luring), lalu berubah menjadi pembelajaran jarak jauh (daring) yang dijalankan sekolah. Oleh karena itu, apakah bapak dan ibu guru pernah merasa bingung, galau, dan tidak mengetahui harus memulai dari mana saat pembelajaran secara daring dilakukan? Untuk lebih jelasnya, mari kita dengarkan cerita inspirasi guru penggerak merdeka belajar yaitu Ibu Theresia A. T. Astuti yang mengajar di TK Yos Sudarso Bandung, dan beliau juga merupakan anggota Komunitas Guru Belajar Bandung. Pandemi Covid-19 adalah awal cerita inspirasi Ibu Tere ini dimulai. Pada Tahun Pelajaran 2020/2021, Ibu Tere mendapat tugas baru, diberi kepercayaan untuk memimpin TK Yos Sudarso Bandung. Ini merupakan pengalaman pertama beliau untuk pindah tugas setelah selama 16 tahun menjadi guru di tempat yang sama, atau berada di zona nyaman beliau.  Tempat baru, suasana baru, rekan kerja baru, dan beban tugas baru yang belum pernah terbayang sebelumnya harus Ibu Tere hadapi. Banyak cerita negatif yang beliau dengar tentang sekolah ini. Seketika Ibu Tere merasa ciut, ragu, minder, dan tidak percaya diri. “Apakah saya sanggup melakukan perubahan?”, ujar Ibu Tere dalam hati. Lantas, beliau dan dua rekan guru pun memutuskan untuk melakukan perubahan. Awalnya beliau memiliki perasaan yang sama dengan bapak dan ibu guru kebanyakan, beliau merasa bingung, galau, dan tidak mengetahui harus memulai dari mana saat pembelajaran secara daring wajib dilaksanakan. Baca juga: Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan Pembelajaran pun dimulai. Para guru melakukan tugasnya, melayani murid secara daring. Pembelajaran saat normal ditransfer menjadi daring. Tidak ada yang berbeda. Para guru melakukan pembelajaran dengan menggunakan aplikasi WhatsApp. Pembelajaran berfokus pada materi dan tema. Berbagai saran dan masukan coba Ibu Tere berikan agar pembelajaran tidak monoton. Namun, berbagai alasan dilontarkan para guru. Mereka berdalih adanya keterbatasan sarana, baik pihak guru maupun murid, serta keterbatasan penguasaan teknologi. Dan lebih kurang tiga bulan pembelajaran model ini dilakukan. Menurut Ibu Tere, pembelajaran terasa hambar, interaksi terbatas, satu arah, dan inisiatif serta instruksi selalu dari guru. Ibu Tere menyaksikan, setiap hari para guru melakukan komunikasi dengan orang tua murid melalui telepon atau video call untuk menjalin kedekatan. Namun, relasi yang harmonis belum tampak. Para guru mulai lelah dan mengeluh. Mereka merasa respons yang terlalu biasa, baik dari orang tua maupun murid. Ibu Tere mengungkapkan jika beliau dan mayoritas guru lainnya di sekolahan tersebut adalah guru senior. Tepatnya guru jadul yang belum terbuka dan paham banyak penggunaan teknologi, sehingga dalam melakukan pembelajaran hanya mengedepankan rasa, insting, dan pengalaman. Saat briefing pagi ataupun pertemuan, Ibu Tere berulang kali memberi masukan kepada rekan guru agar melakukan perubahan. Beliau mencoba mengajak mereka lebih terbuka, berani mencoba hal baru. Setelah sekian lama, akhirnya muncul juga keinginan salah satu guru untuk melakukan perbaikan pembelajaran. Dia mengajak guru lain mempelajari berbagai aplikasi pembelajaran berbasis teknologi sebagai variasi dalam pembelajaran daring. Tujuannya agar murid dapat lebih antusias. Awalnya, tampak gurat keraguan dalam diri guru yang diajak belajar. Mereka terpaksa saat belajar bersama. Lewat pendekatan secara pribadi, akhirnya terwujud juga kegiatan belajar bersama. Berbagai cara dan variasi pembelajaran mulai dipelajari. Ibu Tere mendukung dan mendampingi para guru, turut belajar dan mengembangkan diri. Beliau merasa jika belajar dari siapa pun dan dari mana pun. Terutama tentang penggunaan aplikasi yang dapat digunakan supaya pembelajaran lebih menarik. Para guru memerlukan waktu lama untuk memahami pengetahuan baru. Namun, di sini Ibu Tere melihat semangat mereka, keinginan kuat untuk terus belajar, mencoba, dan mempraktikkan pengetahuan maupun keterampilan baru yang berhubungan dengan teknologi. Guru saling belajar, berbagi pengetahuan dan praktik baik, menguatkan, dan membantu. Bahkan, persiapan pembelajaran dilakukan secara bersama-sama. Sedikit demi sedikit pembelajaran mulai bervariasi. Berbagai aplikasi dipraktikkan dalam pembelajaran. Namun, Ibu Tere merasa masih ada yang kurang dan masih terasa hambar. Peran guru masih sangat dominan di sini. Mereka belum konsisten melakukan perubahan pembelajaran, masih mengadopsi cara dan pola lama. Pada pertengahan Oktober 2020, melalui platform Sekolah.mu, Ibu Tere berkenalan dengan Merdeka Belajar. Kemudian, beliau sering mendengar istilah tersebut. Namun saat itu, Ibu Tere belum memahami maknanya. Akhirnya, beliau mengikuti program Sekolah Lawan Corona. Ibu Tere dan para guru pun belajar bersama. Dari program ini akhirnya beliau menyadari bahwa pembelajaran yang selama ini, pelayanan yang kami berikan, masih mengalami miskonsepsi. Bersama para guru, Ibu Tere belajar membuat persiapan pembelajaran dengan mengedepankan prinsip 5M, belajar membuat dan menggunakan kanvas RPP yang diawali dengan melakukan pemetaan profil murid. Pembelajaran di Sekolah Lawan Corona sudah beliau tuntaskan. Ibu Tere yakin, banyak hal, informasi, dan ilmu baru yang guru dapatkan. Namun, pengimbasan ataupun dampaknya dalam pembelajaran belum terasa. Belum tampak perubahan yang signifikan. Padahal, pengetahuan, keterampilan, dan semangat sudah ada dalam diri para guru. Lantas, Ibu Tere tertantang mencari akar masalahnya. Rasa penasaran dan keinginan kuat menuntun beliau mencari informasi, belajar dari berbagai sumber. Faktor ini menjadi pemicu beliau untuk mengikuti beberapa program di Sekolah.mu, beliau mengharapkan jika ini dapat membantunya melakukan tugas sebagai pemimpin. Ibu Tere mengikuti program Guru Merdeka Belajar dari Kampus Guru Cikal, berdampingan dengan program Menjadi Pemimpin Merdeka Belajar dari Sekolah Merdeka Belajar. Kemudian, teori dan tips sebagai pemimpin merdeka belajar sudah beliau dapatkan. Ternyata masih ada miskonsepsi yang beliau lakukan dalam melakukan percakapan dan pengamatan sebagai pemimpin merdeka belajar. Dalam melakukan percakapan, Ibu Tere merasa perlu fokus dan selalu mengarahkan kepada tujuan. Percakapan beliau lakukan dengan lebih santai. Ibu Tere duduk bersama sambil menyelesaikan pekerjaan atau membuat persiapan pembelajaran bersama. Setelah melakukan obrolan dan percakapan dengan guru, beliau merasa ada yang kurang, “Gregetnya belum ada”. Hal ini terutama bila mendengar keluhan atau curhatan guru tentang murid yang dinilai terlalu berinisiatif. Misalnya sudah mengerjakan pekerjaan atau tugas yang seharusnya belum dikerjakan atau belum diperintahkan. Sebagai pemimpin, Ibu Tere mengingatkan mereka melalui percakapan untuk melakukan pembelajaran yang berpihak kepada murid. Beliau mengajak mereka melihat sisi positifnya: murid itu kreatif. Dengan demikian, perlu kreativitas guru dalam merancang pembelajaran dengan memaksimalkan pemanfaatan fasilitas dan penugasan yang berdiferensiasi. Ibu Tere merasa saat ini rekan-rekan guru sudah memahami bahwa pembelajaran harus fokus kepada kebutuhan anak, memaksimalkan pemanfaatan fasilitas yang … Read more

Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan

“Memaknai Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan, oleh karena itu sebagai seorang guru, maka akan menghadapi banyak sekali tuntutan yang saling bersaing, tetapi untuk setiap tantangan yang bapak dan ibu guru hadapi, ada imbalan yang setara atau lebih besar. Saat bapak dan ibu guru memasuki profesi yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi kehidupan orang lain, bapak dan ibu guru juga mengambil bagian dalam karier yang penuh makna.” Profesi sebagai seorang guru bisa dikatakan adalah garda paling penting dari kehidupan masyarakat kita. Guru mendukung murid menentukan tujuan, memfasilitasi murid memperoleh kompetensi untuk sukses sebagai warga dunia kita, dan mengilhami mereka dorongan untuk berbuat baik dan sukses dalam hidup. Murid-murid hari ini adalah pemimpin masa depan, dan peran guru adalah titik kritis yang membuat murid siap untuk masa depan mereka.  “Menjadi seorang guru tidak akan membuat siapapun menjadi kaya—namun ini adalah salah satu karier paling berharga di dunia ini. Seorang guru dapat memiliki dampak besar pada kehidupan seorang murid, dan melihat seorang murid berkembang dan tumbuh adalah sesuatu yang membawa sukacita besar bagi seorang guru.” Ketika berbicara dengan semua guru yang ada, maka hanya sedikit yang akan memberi tahu  bahwa menjadi guru adalah sesuatu yang mereka sesali lakukan, bahkan hampir tidak ada. Alasan umum dari semua itu adalah bahwa mereka menemukan kepuasan menjadi seorang guru dalam mempengaruhi murid dan membantu mereka dalam membentuk masa depan. Meskipun mungkin tidak sama untuk setiap pendidik, akan selalu ada alasan bagus untuk menjadi satu. Oleh karena itu dalam tulisan kali ini kita akan membahas tentang “Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan”. Baca Juga: Guru Merdeka Belajar, Cukupkah Jadi Pendidik? Atau Perlu Jadi Penggerak? Menjadi Guru itu Penting Murid-murid membawa apa yang dipelajari kepada mereka di usia muda ke sepanjang hidup mereka. Mereka akan menggunakan apa yang telah mereka pelajari untuk mempengaruhi masyarakat. Bapak dan ibu guru mungkin mengetahui juga bahwa generasi muda hari ini akan menjadi pemimpin masa depan, dan para guru memiliki akses untuk mendidik generasi muda di tahun-tahun mereka yang paling berkesan — baik itu dalam mengajar prasekolah, mengajar ekstrakurikuler, olahraga, atau kelas konvensional. Guru memiliki kemampuan untuk membentuk pemimpin masa depan dengan cara terbaik bagi masyarakat untuk membangun generasi masa depan yang positif dan menginspirasi dan oleh karena itu merancang masyarakat, baik dalam skala lokal maupun global. Dan faktanya, guru memiliki pekerjaan paling penting di dunia. Peran bapak dan ibu guru saat ini yang berdampak pada anak-anak masyarakat memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan. Bukan hanya untuk anak-anak itu sendiri, tetapi untuk kehidupan banyak orang. Peran Seorang Guru Membawa Perubahan dalam Kehidupan Murid Percayalah peran seorang guru ternyata memberi perubahan dalam kehidupan murid. Peran guru menjadi berpengaruh dalam kehidupan murid, menginspirasi dan memotivasi mereka untuk mencapai potensi mereka. Suatu hari nanti mungkin murid bapak dan ibu akan menjadi pemenang penghargaan Nobel, pebisnis terkemuka, pemimpin hebat, perdana menteri dan seniman terkenal atau individu yang berpengetahuan luas dengan cinta untuk belajar. Bukan hanya karena itu adalah profesi yang mulia, tetapi menjadi seorang guru juga memungkinkan bapak dan ibu untuk terus berkreasi dan menjadi lebih baik secara profesional. Peran guru saat ini memiliki banyak kesempatan di tangan mereka untuk menjadi kreatif dan menggunakan semua metode yang mungkin untuk membuat lingkungan belajar yang optimal bagi murid. Lalu, guru dapat bertindak sebagai sistem pendukung yang kurang di tempat lain dalam kehidupan murid. Dan menjadi seorang guru pasti akan menjadi panutan dan inspirasi murid untuk melangkah lebih jauh dan bermimpi lebih besar. Dengan menjadi seorang guru dan penggerak di bidang pendidikan, maka bapak dan ibu akan memberi manfaat bagi murid terlebih masyarakat secara keseluruhan. Kesan yang bapak dan ibu buat pada murid di kelas akan terus berlanjut ke generasi berikutnya. Ini adalah keistimewaan karir menjadi seorang guru, yang mana bapak dan ibu memiliki kesempatan untuk membawa sebuah perubahan bagi generasi kehidupan. Peran Seorang Guru sebagai Pembelajar Sepanjang Hayat Pendidikan telah banyak berubah mengikuti perkembangan zaman ini. Saat ini pendidikan lebih interaktif dengan intrusi media digital. Penerapan teknologi kini seperti kecerdasan buatan, augmented reality membuka dimensi baru dalam pendidikan. Namun, ada peran besar bapak dan ibu guru yang tetap berjalan hingga saat ini dan tidak bisa tergantikan. Sebagai seorang guru, bapak dan ibu harus mengeluarkan yang terbaik dalam diri murid dan menginspirasi mereka untuk berjuang demi kebesaran. Murid dianggap sebagai masa depan bangsa dan umat manusia, dan peran bapak dan ibu guru diyakini sebagai pemandu yang kredibel untuk kemajuan mereka.. Guru dapat melihat kekuatan dan kelemahan setiap murid dan dapat memberikan bantuan dan bimbingan untuk mempercepat atau mendorong mereka lebih tinggi. Sebagai seorang guru tidak hanya membimbing murid dalam bidang akademik atau kegiatan ekstrakurikuler, tetapi guru juga bertanggung jawab untuk mendukung masa depan murid, menjadikannya manusia yang lebih baik. Seorang guru menanamkan pengetahuan, nilai-nilai baik, tradisi, tantangan zaman modern dan cara-cara untuk menyelesaikannya dalam diri murid.  Bapak dan ibu guru juga menjadi sumber inspirasi dan motivasi. Guru menginspirasi murid untuk melakukannya dengan baik, dan memotivasi mereka untuk bekerja keras dan menjaga tujuan akademik mereka tetap pada jalurnya. Menjadi seorang guru sebagai pembelajar sepanjang hayat memungkinkan bapak dan ibu guru untuk terus belajar dan berkembang dalam pengetahuan. Perang Seorang Guru sebagai Penggerak Pendidikan Pengetahuan dan pendidikan merupakan dasar dari segala sesuatu yang dapat dicapai dalam kehidupan. Guru memberikan kekuatan pendidikan kepada generasi muda saat ini, sehingga memberi mereka kemungkinan untuk masa depan yang lebih baik. Pola pikir guru sebagai penggerak pendidikan ialah memperlakukan kesalahan dan tantangan sebagai bagian dari proses belajar. Bapak dan ibu guru diminta untuk tidak melihat kesalahan sebagai kegagalan. Kesalahan memberi murid sebuah pengalaman atau informasi baru yang dapat mereka gunakan saat mereka terus menemukan cara untuk memecahkan masalah atau tantangan. Guru juga tidak pernah tahu jenis pertanyaan apa yang akan diajukan oleh murid. Sebagai penggerak Pendidikan, guru menjadikan belajar sebagai kebiasaan rutin untuk beradaptasi dengan perubahan dan tindakan murid. Dedikasi dalam Peran Seorang Guru Salah satu bagian terpenting dalam peran seorang guru adalah memiliki dedikasi. Bapak dan ibu guru mungkin merasakan jika peran guru tidak hanya mendengarkan, tetapi juga melatih dan membimbing murid. Guru mampu membantu membentuk tujuan akademik dan berdedikasi untuk membuat murid  mencapainya. Bapak dan ibu guru memiliki … Read more

Praktik Asesmen Diagnosis, Tatap Maya Seindah Tatap Muka

Bapak dan Ibu guru merasa praktik asesmen diagnosis saat tatap maya tak seindah tatap muka? Merasakan banyak yang hilang dan memengaruhi proses belajar di kelas? Yap, pandemi yang datang ternyata menjungkirbalikkan kebiasaan-kebiasaan bapak dan ibu guru. Mungkin banyak para guru yang sudah memiliki kebiasaan pembelajaran dengan praktik asesmen diagnosis tatap muka namun tiba-tiba harus menjalankan pembelajaran praktik asesmen diagnosis tatap maya.  Tapi tenang bapak dan ibu guru, di dalam tulisan ini kita akan bahas lebih lanjut bagaimana sih membuat praktik asesmen diagnosis saat tatap maya seindah tatap muka. Tanpa berlama-lama, kita akan dengarkan cerita dari Ibu Anggi Rizka Pustika, yang mana anggota KGB Klaten dan mengajar di SD Negeri Bogem 2. Baca Juga: Praktik Asesmen Formatif dalam Pembelajaran Jarak Jauh “Lah, bikin nilai anak, ya tinggal kasih soal, beri nilai. Udah, deh. Beres! Ngapain repot mikir lainnya? Jawaban anaknya itu, ya udah itu nilai dia. Titik!” Proses belajar itu ya murid datang ke sekolah, guru membuka pertemuan, memberikan penjelasan, berlatih soal, membahas soal. Sudah cukup. Ketika materi habis, oh, ini artinya murid akan guru berikan ulangan untuk tahu capaian belajar mereka. Ulangan, koreksi, beri nilai selesai. Ya, semudah itulah saat awal-awal kegiatan Ibu Anggi dalam melakukan penilaian kepada murid. Apalagi belia seringkali mendengar kalimat-kalimat seperti ini. “Ah, guru itu gak bikin ulangan, gak koreksi aja udah tahu mana murid yang pinter mana yang enggak” atau “Hanya melihat wajahnya saja sudah hafal. Sudahlah tidak perlu repot. Seperti teman pada umumnya saja)”. Lagi-lagi tidak usah repot adalah kata sakti yang sempat membuat Ibu Anggi meyakini ketika melakukan penilaian kepada murid: yo wes (ya sudah). Gak usah repot. Lalu, tiba-tiba pandemi datang dan menjungkirbalikkan kebiasaan-kebiasaan yang selama ini Ibu Anggi lakukan. Ibu Anggi, guru yang sudah memiliki kebiasaan mengajar lebih dari delapan tahun, merasa bingung seketika. Tidak ada interaksi fisik langsung. Tidak ada teriakan, yang dari jauh dulu beliau tahu ini adalah suara si A. “Ya ampun….! Ini lembar kerja milik siapa? Kenapa gak dikasih nama, sih?” Ibu Anggi benar-benar merasa kebingungan, padahal sebelumnya beliau hafal tulisan setiap muridnya. Ibu Anggi merasa ada banyak yang hilang dan memengaruhi proses belajar di kelas. Beliau pun sempat menganggap jika tatap maya tak seindah tatap muka. Termasuk dalam proses penilaian. Keyakinan beliau bahwa penilaian gak usah repot, goyah.  “Si B suaranya kenceng. Mengerjakan tugas pasti dengan mengetuk-ngetuk meja. Kekuatannya ada pada numerasi, lemah dalam seni.”. Suara, gestur, tulisan, sifat, sikap, cara mengerjakan biasanya bisa beliau kenali dengan interaksi langsung. Lalu saat pandemi? Benar-benar menjadi big problem bagi Ibu Anggi. Beliau gak bisa mengetahui perkembangan si A ini bagaimana, si F seperti apa, si C kuat di bagian apa. Beliau merasa asing dengan murid-murid. Lantas beliau  bertanya kepada dirinya sendiri, “Kalau begini caranya, bagaimana bisa saya melakukan penilaian tanpa repot?”. Beruntunglah pada 2017, Ibu Anggi dipertemukan dengan Komunitas Guru Belajar. Kebingungannya tentang proses belajar kala pandemi mendapat jawaban dari komunitas ini. Termasuk tentang penilaian. Asesmen diagnosis menjadi jawaban atas masalah beliau dalam mengenal murid. Melalui KGB, Ibu Anggi menjadi paham bahwa penilaian untuk murid itu menyeluruh. Bukan hanya kasih soal, koreksi, beri nilai, selesai. Asesmen bagi murid itu hal yang kompleks dan butuh beragam cara untuk mendapat hasil yang akurat. Mudahnya, asesmen bisa diibaratkan seperti proses ketika kita sakit dan butuh pergi ke dokter. Ketika kita datang, dokter tidak akan langsung memvonis, “Oh, kamu sakit X”. Dokter akan memberikan beberapa pertanyaan terlebih dahulu. “Apa yang Anda rasakan? Sejak kapan? Bagian mana yang sakit?” Setelah itu, barulah pemeriksaan dimulai. Dokter akan mengaitkan hasil pemeriksaan dengan gejala yang nampak. Jika diperlukan, didukung dengan hasil tes laboratorium untuk menegaskan diagnosisnya. Ibu Anggi pun sadar, proses yang dilakukan oleh dokter ini seharusnya beliau lakukan pula kepada muridnya. Sayangnya, beliau tidak lakukan. Hasil belajar di KGB kemudian Ibu Anggi terapkan, refleksi. Apa yang selama ini bisa dengan mudah beliau ketahui ketika tatap muka, lantas beliau catat. Apa yang butuh beliau ketahui dari murid, beliau jadikan acuan untuk membuat asesmen diagnosis, membuat profil murid. Ibu Anggi kemudian membuat daftar pertanyaan melalui Google Form. Pertanyaan tersebut beliau klasifikasikan menjadi dua jenis, berupa daftar pertanyaan yang umum dan daftar pertanyaan yang khusus serta detail. Daftar pertanyaan yang umum itu seperti ketika kita membuat biodata bagi murid baru. Pertanyaannya seputar nama orang tua, nama anak, alamat tinggal, serta pekerjaan. Jika biasanya dalam biodata isian diwakilkan data ayah, maka dalam data ini Ibu Anggi meminta diisi baik data ayah maupun ibu. Untuk apa? Untuk mendapatkan gambaran detail apakah anak ini tinggal bersama orang tua atau keluarga lainnya. Data pekerjaan membuat beliau memahami apakah orang tua bekerja semua atau ada salah satu yang di rumah. Jika di rumah, apa yang dia kerjakan? Dilanjutkan dengan pertanyaan khusus. Ibu Anggi mulai dengan menanyakan jumlah anggota keluarga serta dengan siapa tinggal dalam satu rumah. Data ini bermanfaat untuk mengetahui orang dewasa yang berpotensi untuk menjadi pendamping belajar murid selain ayah atau ibunya. Berapa jumlah gawai yang dimiliki dan apa saja juga beliau tanyakan. PJJ dalam gambaran Ibu Anggi pastinya akan sangat membutuhkan gawai. Oleh karena itu kepemilikan gawai ini sangat penting untuk beliau ketahui agar beliau dapat menentukan bagaimana proses belajar yang sesuai dengan kondisi mereka. Salah satu pertanyaan penting lainnya adalah berapa rupiah yang digunakan seluruh keluarga dalam satu bulan untuk kuota internet. Akan sangat tidak bijak jika Ibu Anggi tidak tahu hal ini, lalu setiap hari mengajak murid menggunakan video conference, padahal untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari orang tua masih mengalami kesulitan. Oh, iya, Ibu Anggi tanyakan hal ini sebelum ada kuota dari Kemendikbud. Ibu Anggi merasa tetap penting juga untuk mengetahui meskipun saat ini telah ada kuota bantuan dari Kemendikbud.  Setelah Ibu Anggi kirimkan tautan Google Form ini ke grup WhatsApp, orang tua merespon dengan sangat baik. Tak berapa lama, beliau sudah mendapatkan data anak-anak dari orang tua. Ibu Anggi juga meminta murid untuk menceritakan dirinya untuk mendapatkan data diri yang lebih personal. Beliau ajukan pertanyaan panduan seperti yang beliau ajukan kepada orang tua mereka. Ada pertanyaan umum dan khusus juga. Pertanyaan umum seperti nama diri, alamat tinggal, nama orang tua, dan pekerjaan orang tua. Pertanyaan khusus seperti … Read more

Praktik Asesmen Formatif dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Bapak dan ibu guru merasa lebih susah mengajar saat pandemi? Lantas, apakah bapak dan ibu guru juga merasakan kebingungan dan ketidakpastian dalam beradaptasi dengan proses belajar mengajar selama pandemi ini? Pandemi ini ternyata mulai mengubah tatanan kehidupan, tak terkecuali pada dunia pendidikan di Indonesia. Proses belajar mengajar yang semula dilakukan dengan tatap muka, namun kini proses belajar mengajar dilakukan secara jarak jauh dengan memanfaatkan jaringan internet, serta teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini pun memengaruhi juga dalam penerapan asesmen yang diberikan baik praktik asesmen formatif dan sumatif yang dilakukan oleh bapak dan ibu guru. Dari segi manfaat, dilakukannya pembelajaran jarak jauh telah menjejakkan proses pendidikan di Indonesia ke arah digitalisasi. Namun di sisi lain, hal itu juga menimbulkan beberapa tantangan. Tantangan berupa bagaimana menerapkan praktik asesmen formatif maupun sumatif, dan juga bagi daerah yang mengalami kendala akses internet dan ketiadaan gawai yang dimiliki murid karena beberapa hal, ini menjadikan pembelajaran jarak jauh cukup sulit untuk dilakukan. Lantas bagaimana menjawab tantangan mengenai pembelajaran jarak jauh dan juga penerapan praktik asesmen formatif dari perspektif guru? Berikut kita simak cerita dari Ibu Arni Idawati, guru di SMA Negeri 5 Sinjai, Sulawesi Selatan. Seperti yang dirasakan oleh guru-guru lain di Indonesia, awalnya Ibu Arni juga merasakan jika tantangan mengajar lebih besar saat pandemi ini, beliau pun juga mencoba beradaptasi dengan proses belajar mengajar di tengah kebingungan dan ketidakpastian selama pandemi ini. Ibu Arni pun mencoba untuk  mendesain cara dan metode pembelajaran terbaik yang karakternya sangat berbeda dengan pembelajaran tatap muka, dengan harapan tujuan pembelajaran yang beliau  rancang tersebut dapat tercapai. Meski demikian, masih ditemukan murid yang belum aktif, seperti tidak mengikuti saat online class berlangsung atau tidak bisa dihubungi saat online class berlangsung.. Imbasnya, murid tersebut tidak memahami konten, dan tentunya tidak mampu menggunakannya dalam konteks kehidupan nyata. Kondisi tersebut diketahui oleh Ibu Arni dari hasil penilaian yang beliau praktikkan. Ternyata Ibu Arni hanya fokus kepada asesmen sumatif yang menekankan perolehan hasil belajar murid. Padahal, murid lebih membutuhkan pengalaman belajar yang berorientasi kepada proses, umpan balik, dan tindak lanjut pencapaian belajar. Bukan sekadar penugasan melalui tes dan pemberian nilai. Baca juga: Asesmen Formatif Membuat Murid Berkembang, Guru Senang, Orang Tua Tenang Berangkat dari hal tersebut, dalam pembelajaran tentang fluida (zat yang dapat mengalir) di kelas XI IPA, Ibu Arni menerapkan asesmen diagnosis untuk mendapatkan informasi tingkat kompetensi murid dalam ranah sikap, pengetahuan, maupun keterampilan. Diketahui jika murid di kelas tersebut rata-rata berusia 16 – 17 tahun, dengan komposisi putra-putri sebesar 1:2. Sebagian besar murid suka menonton YouTube, belajar menggunakan ponsel, dan terbiasa menggunakan ponsel dalam aktivitas sehari-hari. Data ini beliau peroleh dari diagnosis awal yang dilakukan pada awal tahun pelajaran. Adapun tujuan pembelajaran yang hendak dicapai dalam materi fluida adalah murid dapat menjelaskan tekanan, memformulasikan tekanan, menjelaskan tekanan hidrostatis, memformulasikan tekanan hidrostatis, menerapkan tekanan hidrostatis dalam kehidupan sehari-hari. Ibu Arni pun melakukan praktik asesmen formatif karena beliau benar menyadari bahwa murid membutuhkan penilaian yang berorientasi kepada proses pembelajaran agar mereka memperoleh umpan balik dari guru untuk memperbaiki capaian belajar. Melalui bimtek guru belajar di masa pandemi yang diselenggarakan oleh Kemendikbud secara daring melalui Sim PKB, beliau semakin paham bahwa pada masa pandemi praktik asesmen formatif jauh lebih penting dibandingkan praktik asesmen sumatif untuk mengetahui perkembangan penguasaan kompetensi. Saat melakukan praktik asesmen formatif, Ibu Arni juga mengumpulkan informasi yang bisa membantu beliau dalam memberi umpan balik dan tindak lanjut proses belajar, serta membantu murid memperbaiki cara belajar dengan menentukan kembali strategi belajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Skenario pembelajaran untuk memperbaiki proses dan hasil pembelajaran, yang dibuktikan dengan kemampuan murid menerapkan konten materi dalam kehidupan sehari-hari, dapat Ibu Arni gambarkan seperti berikut ini. Pada awal pertemuan, Ibu Arni memberi tautan Google Teams kepada muridnya. Mereka menonton video yang menjelaskan kompetensi dasar fluida statis dalam materi tekanan hidrostatis. Setelah itu, beliau meminta murid untuk menjawab beberapa pertanyaan untuk mengetahui tingkat pemahaman awal mereka. Pertanyaan-pertanyaan yang beliau berikan seperti ini: 1. Mengapa paku dibuat runcing?  2. Apa hubungan antara paku runcing dengan tekanan?  3. Mengapa ban mobil jip berbeda dengan ban mobil sedan? 4. Apa hubungannya dengan tekanan? Kemudian, saya berikan pertanyaan lagi pertanyaan simpulan tentang persamaan tekanan. Setelah murid mendefinisikan materi tekanan, beliau pun bertanya, “Mengapa struktur jembatan semakin ke bawah semakin tebal?” Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut murid dapat menjelaskan dan memformulasikan persamaan tekanan hidrostatis. Selanjutnya murid mengerjakan soal-soal latihan sederhana tentang formulasi persamaan tekanan dan tekanan hidrostatis menggunakan Google Form. Berikutnya, beliau meminta murid menyaksikan tayangan video singkat tentang tekanan hidrostatis dan pembuktian materi ini dengan percobaan sederhana menggunakan botol bekas. Murid membuat lubang di kedalaman yang berbeda, kemudian mengamati dan menghitung jarak pancuran air di kedalaman yang berbeda. Lalu, murid mengamati bagaimana pancuran air jika botol dalam keadaan terbuka dan bagaimana jika botol dalam keadaan tertutup. Mereka menjatuhkan botol dari ketinggian tertentu untuk menyelidiki ada tidaknya pengaruh gravitasi terhadap air yang keluar pada botol. Pada tahap ini, murid belajar mandiri, secara kontekstual membuktikan teori. Mulai dari tahap identifikasi, pengumpulan data, pengolahan data, pembuktian, dan menarik kesimpulan. Selain itu, murid dilatih berpikir kreatif dalam pemecahan masalah dan pembuktian konsep. Akhirnya, tiba saatnya murid mengaplikasikan konten dalam kehidupan nyata, yakni melakukan percobaan bersama kelompoknya. Sebagai tagihan, murid mendesain produk berupa sebuah video pembuktian materi tekanan hidrostatis dengan menggunakan botol bekas. Ada hal yang sangat membuat Ibu Arni bangga. Desain yang dirancang murid beragam. Mulai dari melakukan pengamatan langsung struktur jembatan/pelabuhan; kemudian merumuskan masalah dari berdasarkan hasil pengamatan, menjelaskan materi, melakukan percobaan untuk membuktikan teori, sampai kepada kesimpulan akhir. Video yang dihasilkan menunjukkan keragaman cara, teknik, dan model yang digunakan dalam percobaan. Berarti murid dapat meningkatkan kompetensi dengan cara yang berbeda-beda, tapi tetap bermakna.  Ada kelompok yang melakukan percobaan dengan menggunakan dua botol bekas. Dari kedua botol itu, ada yang dilubangi secara vertikal untuk mengamati pancuran air dari lubang di kedalaman yang berbeda. Botol yang lain dilubangi secara horizontal. Dalam percobaan ini, murid mengamati jarak pancuran jika botol dilubangi secara horizontal, bagaimana pancuran air ketika botol dalam keadaan tertutup dan dalam keadaan terbuka, apa hubungannya dengan tekanan hidrostatis, apa yang terjadi jika botol dijatuhkan pada ketinggian tertentu, dan adakah pengaruh gravitasi terhadap … Read more

Penerapan Asesmen Sumatif di PAUD, Bagaimana?

Apakah Bapak dan Ibu pernah bingung dalam mendesain asesmen yang pas untuk diberikan ke murid? Atau bapak dan ibu guru pernah mendengar miskonsepsi jika asesmen cenderung dilakukan hanya untuk mengukur hasil belajar murid? Mendesain pembelajaran di awal tahun pelajaran merupakan sebuah hal yang biasa dilakukan oleh bapak dan ibu guru. Desain pembelajaran tersebut juga harus dilengkapi dengan asesmen baik asesmen formatif maupun asemen sumatif.  Ternyata Asesmen bukanlah sekadar untuk mengetahui pencapaian hasil belajar murid. Asesmen dapat meningkatkan kemampuan murid dalam proses belajar mengidentifikasi murid yang membutuhkan bantuan. Hal penting lainnya tentang asesmen bagi guru ialah untuk mengecek pemahaman dan pencapaian murid serta merencanakan dan merancang personalisasi pembelajaran dalam proses belajar. Pentingnya asesmen ini bukan hanya diperlukan oleh murid jenjang dasar sampai menengah, tetapi juga di jenjang anak usia dini. Di jenjang pendidikan usia dini, murid-murid perlu mendapatkan asesmen dalam aspek tumbuh kembangnya. Aspek tersebut meliputi perkembangan motorik, sosial emosi, bahasa, kognisi, moral, agama, dan seni. Lalu, bagaimana esensi “penting” dalam penerapan asesmen sumatif di jenjang usia dini? Berikut kita akan bahas cerita Ibu Anik Puspowati dari KGB Semarang yang mengajar di Fatiha Edu tentang pentingya penerapan asesmen sumatif di PAUD. Awalnya sebagai seorang guru yang mengajar anak-anak usia dini, Ibu Anik merasa bahwa dirinya memerlukan data untuk mengetahui capaian perkembangan murid-muridnya, sekaligus sebagai bahan refleksi dalam mengelola pembelajaran di kelasnya, tentang apa yang perlu beliau evaluasi dan apa yang sudah baik dari perencanaan pembelajaran yang sudah beliau tentukan. Menurut Ibu Anik, jika beliau tidak memiliki data maka tidak akan mampu menganalisis ketercapaian tujuan belajar murid-muridnya. Tanpa data, beliau juga tidak mempunyai bukti untuk melaporkan perkembangan murid-muridnya saat pertemuan dengan orang tua nanti. Oleh karena itu, beliau berinisiatif untuk menentukan metode yang saya butuhkan untuk mengumpulkan informasi. Baca juga Asesmen Nasional 2021, Siap(a) Berubah? Beliau pun memilih untuk mencoba melakukan teknik observasi dan mendokumentasikan kegiatan atau percakapan maupun perilaku murid, baik saat bermain sendiri maupun ketika dalam kelompok kecil atau kelompok besar, serta melalui catatan anekdot. Beliau juga mencoba dengan berinteraksi ringan dengan murid-muridnya, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, lalu mencatat semua respons mereka. Tidak lupa, Ibu Anik juga menggunakan ceklis untuk mencatat perkembangan spesifik, misalnya keterampilan motorik muridnya, sosial emosi, dan sebagainya. Berikutnya, beliau juga mengumpulkan hasil karya murid-muridnya, baik itu gambar, prakarya, atau penugasan lainnya. Dan terakhir, beliau juga intens bertanya kepada orang tua/wali murid terkait perkembangan anak mereka di rumah. Yang mana ada kalanya perilaku murid muncul di rumah tetapi tidak muncul di sekolah. Beliau juga mencari tahu dan mencatat keterangan dari guru-guru sebelumnya.  Ketika sudah memiliki begitu banyak data dari setiap murid, lantas Ibu Anik berpikir tentang  bagaimana membuat asesmen sumatif dari sekian banyak data yang beliau peroleh? Perlukah merencanakan asesmen tersendiri untuk kebutuhan penilaian akhir tema dan akhir semester? Jika iya, beliau merasa pasti akan kewalahan dalam mengelolanya. Akhirnya, Ibu Anik  mengumpulkan semua data yang ada, lalu menentukan mana yang akan dijadikan basis data untuk asesmen formatif dan mana yang dijadikan penilaian sumatif. Oleh beliau semua data tersebut dikelola dengan dikumpulkan dalam portofolio berdasarkan tanggal dan identitas murid. Hasil dari kumpulan data tersebut berupa foto hasil karya murid, rekaman suara, video kegiatan, dan sebagainya. Ibu Anik menyimpan seluruh data pertumbuhan dan perkembangan murid di dalam satu folder penilaian dan menyiapkan satu folder untuk setiap anak dalam Google Drive sehingga memudahkan beliau ketika mencarinya. Ibu Anik melakukan pengolahan data secara berkala, mingguan dan bulanan dengan menggunakan skala. Beliau menetapkan empat skala capaian perkembangan murid, yaitu BB (belum berkembang), MB (mulai berkembang), BSH (berkembang sesuai harapan), dan BSB (berkembang sangat baik). Beliau memasukkan semua data yang terkumpul setiap minggunya ke dalam format bulanan. Untuk menentukan capaian akhir setiap bulan, beliau melihat capaian tertinggi yang dicapai sepanjang bulan itu. Ketika Ibu Anik ingin mendapatkan hasil penilaian satu semester, maka memasukkan capaian akhir bulan di format bulanan untuk setiap bulan dalam satu semester ke format penilaian akhir semester. Untuk menentukan capaian akhir semester, beliau memilih capaian tertinggi yang telah dicapai murid pada setiap akhir bulan. Hasil capaian ini menjadi dasar untuk pembuatan laporan perkembangan anak pada semester tersebut. Ibu Anik biasanya menyampaikan laporan ini dengan dilakukan secara tatap muka sehingga tercipta hubungan dan informasi timbal balik antara guru dengan orang tua. Namun, dikarenakan dalam masa pandemi ini penyampaian laporan perkembangan, beliau lakukan melalui media daring dalam bentuk PDF (lewat e-mail atau WhatsApp orang tua). Laporan Perkembangan Anak biasanya beliau tulis langsung dalam bentuk narasi, sehingga dapat membaca laporan tersebut tidak hanya berupa data melainkan sebuah cerita singkat. Ketika waktu menyampaikan Laporan Perkembangan Anak, Ibu Anik juga menyampaikan keadaan murid, yaitu saat murid belajar secara fisik, sosial, dan emosional di sekolah. Selanjutnya, beliau melaporkan hal berupa kemampuan atau kompetensi yang sudah dan yang belum dikuasai murid. Kemudian yang terakhir, beliau menyampaikan apa saja yang harus dilakukan orang tua untuk membantu dan mengembangkan murid lebih lanjut. Waktu penyampaian Laporan Perkembangan Anak kepada orang tua dilakukan satu semester sekali, pada setiap akhir semester tahun pelajaran. Ibu Anik merasa jika strategi dalam mengelola asesmen ini membantunya dalam banyak hal, termasuk dalam mengelola waktu dan energi. Beliau belajar bahwa sebagai guru kita perlu untuk benar-benar memahami murid dan mampu membuat analisa dari data yang ada supaya tidak salah dalam menilai perkembangan murid. Bagi beliau, seorang guru memerlukan semua informasi tentang tingkat pencapaian dan perkembangan hasil belajar murid secara nyata yang bersumber pada data otentik dan berdasarkan fakta. Selanjutnya, guru membutuhkan strategi untuk mengelola dan menganalisanya supaya akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Terakhir, Ibu Anik mengatakan jika hal yang jauh lebih penting adalah refleksi terhadap apa yang kita lakukan sebagai guru dalam melihat hasil belajar murid-murid, lalu menggunakan refleksi tersebut untuk mendesain pembelajaran yang lebih baik kedepannya. Bagaimana Bapak dan Ibu Guru, Apakah cerita tersebut memberikan insight tentang pentingnya asesmen sumatif di jenjang usia dini? Temukan lebih banyak cerita menarik guru-guru lainnya dengan mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII pada 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem merdeka belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Mari #BelajarDiTPNVIII!  Klik https://tpn.gurubelajar.org Sumber Buku: Surat Kabar Guru Belajar  Edisi IV Tahun Keenam

Praktik Literasi Merdeka Belajar: “Menulis Surat ke Moro”

Sebagaimana mendukung kegiatan literasi, banyak sekolah yang sudah membuat program literasi dan menerapkan praktik literasi ini. Kegiatan rutin ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca murid serta meningkatkan keterampilan membaca. Mayoritas fokus kegiatan ini adalah meminta murid untuk membaca buku, membuat sebuah rangkuman dari buku yang dibaca, dan membacakan ulang secara singkat tentang buku yang dibaca. Apakah bapak dan ibu guru banyak yang memiliki keresahan yang sama di mana tetap saja murid sudah membaca buku tetapi belum bisa memahami isinya, atau murid sudah memiliki kemampuan literasi tetapi kurang melakukan berbagai kegiatan yang bermakna? Ya, ternyata praktik literasi banyak dianggap tidak memberikan insight pada murid hingga akhirnya karena dianggap tidak ada kemajuan dalam program kegiatan ini, program kegiatan literasi pun terpaksa berhenti di tengah jalan.  “Literasi adalah kemampuan menalar yang berkait dengan kemampuan analisa, sintesa, dan evaluasi informasi yang bisa ditumbuhkan dengan terintegrasi dalam pelajaran.” (Shihab, 2019). Namun apakah bapak dan ibu guru pernah memikirkan untuk memahami karakter murid sebelum menerapkan program literasi ini? Apakah bapak dan ibu guru memikirkan bagaimana konsep penerapan literasi yang sesuai dengan karakter setiap murid? Karena apa pentingnya literasi bagi murid jika murid sendiri tidak paham akan makna literasi dan tidak menawarkan perubahan bagi mereka. Nah, dari sini kita akan membahas lebih lanjut cerita tentang praktik literasi ini, yaitu Menulis Surat ke Moro. Baca juga Literasi adalah Cara Menggerakkan Negeri Awalnya saat setiap hari Sabtu di sekolah tempat Ibu Titik mengajar yaitu di SD Muhammadiyah 1 Muntilan memiliki kegiatan literasi sesuai jadwal yang sudah dibentuk di sekolah, yang mana merupakan hasil diskusi para guru. Kegiatan literasi 15 menit ini disertai jargon “Menggalakkan Literasi”membuat para guru pun sangat antusias dan berekspektasi jika siswa-siswa akan menikmati dan menyukainya. Tidak hanya itu saja, para guru juga mencanangkan kegiatan literasi mingguan yang disusun perbulannya. Pada minggu-minggu pertama pelaksanaan kegiatan literasi ini, Ibu Titik mengamati jika ekspresi murid seperti merasa kagok dan kurang menikmati, namun beliau mencoba untuk berprasangka baik, “Mungkin para murid belum terbiasa”. Namun berdasar hasil pengamatan beliau setelah beberapa minggu kemudian, kegiatan literasi seolah menjadi beban tersendiri bagi murid. Hal ini dilihat dari ekspresi murid ketika jam kegiatan literasi berlangsung dengan mengatakan, “Yah, literasi lagi..”. Contoh lainnya adalah ketika diminta untuk merangkum buku dari perpustakaan, beberapa murid melangkan malas dan hanya membuat ringkasan ala kadarnya. Di sini Ibu Titik merasa ada yang salah dengan kegiatan ini. Beliau berekspektasi jika literasi akan menjadi suatu gerakan yang membudaya, namun praktiknya ternyata masih sebuah istilah. Hal inilah yang menjadi tantangan dalam menjalankan program literasi ini. Akhirnya Bu Titik pun melakukan survey ketertarikan pada program literasi sekolah ini. ternyata program literasi yang gagal diminati oleh siswa yaitu kegiatan membaca, bercerita di depan kelas, dan menulis di buku diary. Dan faktanya, beberapa anak merasa literasi ini adalah paksaan, bahkan ada murid yang mengatakan “Karena saya tidak suka menulis dan saya merasa terpaksa setiap diminta menulis dan bercerita”. Hal inilah yang menjadi tantangan dalam menjalankan program literasi ini.  Akhirnya Ibu Titik pun mengetahui sebab kegagalan dari goals literasi ini. Beliau merasa perlu belajar lagi untuk memahami murid. Ternyata selama ini beliau merasa belum memenuhi hak mereka untuk tahu dan paham tujuan dari kegiatan literasi ini. Beliau menambahkan jika kesalahan kegiatan ini bukan pada rancangan programnya, melainkan pada penerapannya. Beliau menyadari jika tidak menyukai menulis, membaca, atau nyaman saat diminta bercerita kepada orang lain. Namun Ibu Titik memiliki keyakinan yang kuat jika suatu hari nanti mereka akan enjoy menjalankan kegiatan literasi ini dan sebagai seorang pendidik, beliau berkewajiban menumbuhkan keyakinan itu kepada muridnya.  Lalu Ibu Titik memiliki ide untuk merubah konsep kegiatan ini. Ia melibatkan siswanya untuk mencari tahu tentang Moro melalui gambar dan video, beliau juga bercerita tentang kehidupan temannya yang mengajar di SD Negeri 005 Moro, Kecamatan Moro, di Kabupaten Karimun. Awalnya murid-murid Ibu Titik ini heran mengapa tidak melaksanakan rutinitas literasi seperti biasanya. Namun lama-kelamaan, mereka mulai menikmati hal tersebut. Kemudian beliau meminta siswanya untuk menganalisis gambar tentang keberadaan di sana. Lalu, muncullah pertanyaan-pertanyaan dari siswanya ini. Mereka sangat antusias menanyakan pertanyaan tentang kehidupan dan pembelajaran murid-murid di Moro. Kemudian sesuai kesepakatan, Ibu Titik membuat sebuah kegiatan bernama “Menulis Surat ke Moro”.  Sesuai kesepakatan, murid-murid akan mendapatkan waktu satu minggu untuk menuliskan apa saja yang ingin mereka tanyakan kepada murid-murid di SDN 005 Moro. siswa pun menuliskan pertanyaan mereka kepada siswa di Moro. Tak terasa waktu seminggu tersebut benar-benar mereka gunakan untuk membuat surat sebaik-baiknya. Banyak dari para murid yang berkonsultasi dengan Ibu Titik tentang penyampaian bahasa yang sesuai di dalam suratnya, bahkan banyak dari murid yang menyertakan hadiah di dalam surat tersebut.  Di sini Ibu Titik merasa terharu, karena ketika belajar tentang bagian surat dahulu, muridnya tidak pernah seantusias ini. Dan yang membuat Ibu Titik hampir menangis adalah ketika muridnya yang dahulu menyatakan bahwa dirinya tidak suka menulis dan merasa terpaksa setiap diminta menulis dan bercerita, ternyata menyerahkan sebuah surat yang dibuatnya sepanjang dua lembar folio.  Akhirnya setelah semua surat terkumpul, Ibu Titik mengemasnya dalam satu kardus besar dan mengirimkannya melalui POS. Setelah surat dikirimkan, Ibu Titik merasa kewalahan oleh muridnya yang menanyakan kapan surat-surat tersebut dibalas. Hingga akhirnya satu bulan kemudian, surat-surat balasan yang ditunggu pun tiba. Ibu Titik lagi-lagi dibuat haru ketika melihat ekspresi murid-muridnya berebut balasan surat yang mereka kirim. Mereka merasa bahagia ketika mengetahui bahwa mereka bisa mendapat jawaban dari apa yang mereka tanyakan melalui surat ini, Ibu Titik dapat melihat ekspresi muridnya yang begitu puas ketika rasa ingin tahunya tersalurkan, dan betapa senangnya mereka ketika hadiah yang dikirimkan ternyata dibalas dengan hadiah juga dari teman barunya. Terakhir, yang membuat Ibu Titik Bahagia adalah ketika refleksi muridnya dalam kegiatan ini adalah mengungkapkan jika metode pengajaran tentang surat merupakan yang terbaik yang mereka pernah lakukan, dan tanpa harus memaksakan siswa. Ibu Titik pun menemukan kesepakatan jika literasi lebih luas maknanya daripada sekadar kegiatan rutinan untuk memenuhi kewajiban melaksanakan perintah dari pemerintah. Sebagai penutup, Ibu Titik menyampaikan jika kebahagiaan hakiki bagi seorang pendidik adalah ketika melihat murid-muridnya bisa merdeka dalam belajar karena semangat yang tumbuh dalam dirinya sendiri. Saat melihat raut wajah dan ekspresi bahagia murid-murid, beliau merasa menjadi … Read more