Learning Gap dan Transformasi Visi Pendidikan untuk Mengatasinya

Apa itu Learning Gap? Mengapa kita perlu memberi perhatian pada Learning Gap? Murid yang kesulitan belajar serta guru kesulitan mengajar adalah tantangan besar yang dihadapi di masa pandemi. Banyak yang tidak siap ketika pembelajaran yang biasa dilakukan dengan tatap muka, dilakukan dengan cara-cara baru. Hal ini berdampak langsung pada kualitas pembelajaran yang diperoleh murid. Terkait fenomena ini, “Darurat Learning Gap” menjadi salah satu topik forum pada Konferensi Pendidikan Indonesia 2022 (KPI). Forum yang diselenggarakan oleh Jaringan Semua Murid Semua Guru sejak Jumat (25/02/2022) ini melibatkan komunitas organisasi pendidikan, pemangku kebijakan, korporasi hingga media. Anindito Aditomo, Kepala Badan Standar, Kurikulum & Asesmen Pendidikan yang akrab dipanggil Nino menyatakan, “learning gap atau kesenjangan kualitas pendidikan, sebenarnya dan sayangnya bukan sesuatu yang baru, bukan yang muncul karena pandemi, (namun) pandemi memperparah itu dan membuat kita sadar itu masalah yang besar.” Nino menyampaikan, sistem pendidikan Indonesia begitu kompleks, baik kualitas maupun kesenjangan merupakan masalah sistemik, tidak akan mungkin dipecahkan oleh pemerintah saja. Sehingga pihaknya membutuhkan kritik substantif dari berbagai komunitas pendidikan. Sependapat dengan Nino, Bukik Setiawan, Ketua Yayasan Guru Belajar (YGB) mengajak para hadirin untuk menyalakan tanda bahaya. “Indonesia telah mengalami krisis pembelajaran bahkan sejak sebelum pandemi, banyak anak Indonesia yang bersekolah namun tidak banyak yang mengalami pembelajaran bermakna,” ungkap Bukik. Kerja keras yang sudah dilakukan untuk memaksa murid belajar, namun penguasaan kompetensi murid Indonesia justru masih jauh dari yang diharapkan. Bukik melengkapi pernyataan ini dengan mengungkapkan hasil riset Bank Dunia yang menunjukkan bahwa murid yang lulus kelas 12 hanya menguasai kompetensi setara kelas 8. “Learning loss telah terjadi sebelum pandemi, kenyataan yang sering tidak terlihat karena kaburnya pandangan ya kita, akibat terjebak pada salah kaprah pembelajaran. Kita gembira murid juara padahal itu tidak menggambarkan capaian keseluruhan murid. Kita gembira melihat murid mendapat nilai tinggi padahal kita tahu murid tersebut belum menguasai kompetensi, kita gembira melihat murid mengerjakan latihan soal berulang, meski kita tahu latihan soal tersebut tidak relevan dengan kehidupan.” papar Bukik. Pandemi covid menghajar di tengah pendidikan yang sebenarnya sudah goyah berdiri di situasi biasa. Riset yang dilakukan Pusmenjar dan Inovasi menunjukkan bahwa learning loss selama pandemi membuat 5-6 bulan hilang dalam 1 tahun pembelajaran. Dampak terbesar learning loss dialami oleh anak-anak dalam kelompok rawan, dibandingkan anak-anak yang mempunyai akses dan dukungan orangtua, jurang pembelajaran semakin lebar. Krisis pembelajaran tersebut menjadi ancaman yang nyata bagi murid Indonesia. Anak mengalami penurunan kapasitas untuk mengelola informasi dan relasi, siap hidup mandiri, berkarya, maupun berkontribusi pada negara. “Pada ujungnya berakibat pada turunnya kapasitas bangsa kita untuk berkontribusi secara global,” jelas Bukik. Baca Juga: Yayasan Guru Belajar Ajak Orprof Kolaborasi Merdeka Belajar Merespon krisis tersebut, Bukik mengajak peserta yang hadir di forum untuk melakukan tiga aksi. Pertama transformasi visi, adakan kegiatan untuk mendiskusikan dan memikirkan ulang tujuan esensial dari pendidikan Indonesia. “Dari memperbanyak kompetisi menjadi memperbanyak kolaborasi, dari latihan soal berulang menjadi pembelajaran berbasis proyek, dari berorientasi nilai dan piala menjadi berorientasi karya nyata,” tukasnya. Kedua transformasi aksi, adakan program yang mendorong transformasi pembelajaran, prioritaskan pada program yang berdampak sebesar-besarnya pada kelompok yang rentan. Ketiga transformasi daya, alihkan sumber daya termasuk prioritas, personil anggaran untuk mengadakan program transformasi belajar. “Ayo serentak bergerak, wujudkan merdeka belajar, belajar bergerak bermakna, semua murid, semua guru,” pungkas Bukik.

Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan

“Memaknai Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan, oleh karena itu sebagai seorang guru, maka akan menghadapi banyak sekali tuntutan yang saling bersaing, tetapi untuk setiap tantangan yang bapak dan ibu guru hadapi, ada imbalan yang setara atau lebih besar. Saat bapak dan ibu guru memasuki profesi yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi kehidupan orang lain, bapak dan ibu guru juga mengambil bagian dalam karier yang penuh makna.” Profesi sebagai seorang guru bisa dikatakan adalah garda paling penting dari kehidupan masyarakat kita. Guru mendukung murid menentukan tujuan, memfasilitasi murid memperoleh kompetensi untuk sukses sebagai warga dunia kita, dan mengilhami mereka dorongan untuk berbuat baik dan sukses dalam hidup. Murid-murid hari ini adalah pemimpin masa depan, dan peran guru adalah titik kritis yang membuat murid siap untuk masa depan mereka.  “Menjadi seorang guru tidak akan membuat siapapun menjadi kaya—namun ini adalah salah satu karier paling berharga di dunia ini. Seorang guru dapat memiliki dampak besar pada kehidupan seorang murid, dan melihat seorang murid berkembang dan tumbuh adalah sesuatu yang membawa sukacita besar bagi seorang guru.” Ketika berbicara dengan semua guru yang ada, maka hanya sedikit yang akan memberi tahu  bahwa menjadi guru adalah sesuatu yang mereka sesali lakukan, bahkan hampir tidak ada. Alasan umum dari semua itu adalah bahwa mereka menemukan kepuasan menjadi seorang guru dalam mempengaruhi murid dan membantu mereka dalam membentuk masa depan. Meskipun mungkin tidak sama untuk setiap pendidik, akan selalu ada alasan bagus untuk menjadi satu. Oleh karena itu dalam tulisan kali ini kita akan membahas tentang “Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan”. Baca Juga: Guru Merdeka Belajar, Cukupkah Jadi Pendidik? Atau Perlu Jadi Penggerak? Menjadi Guru itu Penting Murid-murid membawa apa yang dipelajari kepada mereka di usia muda ke sepanjang hidup mereka. Mereka akan menggunakan apa yang telah mereka pelajari untuk mempengaruhi masyarakat. Bapak dan ibu guru mungkin mengetahui juga bahwa generasi muda hari ini akan menjadi pemimpin masa depan, dan para guru memiliki akses untuk mendidik generasi muda di tahun-tahun mereka yang paling berkesan — baik itu dalam mengajar prasekolah, mengajar ekstrakurikuler, olahraga, atau kelas konvensional. Guru memiliki kemampuan untuk membentuk pemimpin masa depan dengan cara terbaik bagi masyarakat untuk membangun generasi masa depan yang positif dan menginspirasi dan oleh karena itu merancang masyarakat, baik dalam skala lokal maupun global. Dan faktanya, guru memiliki pekerjaan paling penting di dunia. Peran bapak dan ibu guru saat ini yang berdampak pada anak-anak masyarakat memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan. Bukan hanya untuk anak-anak itu sendiri, tetapi untuk kehidupan banyak orang. Peran Seorang Guru Membawa Perubahan dalam Kehidupan Murid Percayalah peran seorang guru ternyata memberi perubahan dalam kehidupan murid. Peran guru menjadi berpengaruh dalam kehidupan murid, menginspirasi dan memotivasi mereka untuk mencapai potensi mereka. Suatu hari nanti mungkin murid bapak dan ibu akan menjadi pemenang penghargaan Nobel, pebisnis terkemuka, pemimpin hebat, perdana menteri dan seniman terkenal atau individu yang berpengetahuan luas dengan cinta untuk belajar. Bukan hanya karena itu adalah profesi yang mulia, tetapi menjadi seorang guru juga memungkinkan bapak dan ibu untuk terus berkreasi dan menjadi lebih baik secara profesional. Peran guru saat ini memiliki banyak kesempatan di tangan mereka untuk menjadi kreatif dan menggunakan semua metode yang mungkin untuk membuat lingkungan belajar yang optimal bagi murid. Lalu, guru dapat bertindak sebagai sistem pendukung yang kurang di tempat lain dalam kehidupan murid. Dan menjadi seorang guru pasti akan menjadi panutan dan inspirasi murid untuk melangkah lebih jauh dan bermimpi lebih besar. Dengan menjadi seorang guru dan penggerak di bidang pendidikan, maka bapak dan ibu akan memberi manfaat bagi murid terlebih masyarakat secara keseluruhan. Kesan yang bapak dan ibu buat pada murid di kelas akan terus berlanjut ke generasi berikutnya. Ini adalah keistimewaan karir menjadi seorang guru, yang mana bapak dan ibu memiliki kesempatan untuk membawa sebuah perubahan bagi generasi kehidupan. Peran Seorang Guru sebagai Pembelajar Sepanjang Hayat Pendidikan telah banyak berubah mengikuti perkembangan zaman ini. Saat ini pendidikan lebih interaktif dengan intrusi media digital. Penerapan teknologi kini seperti kecerdasan buatan, augmented reality membuka dimensi baru dalam pendidikan. Namun, ada peran besar bapak dan ibu guru yang tetap berjalan hingga saat ini dan tidak bisa tergantikan. Sebagai seorang guru, bapak dan ibu harus mengeluarkan yang terbaik dalam diri murid dan menginspirasi mereka untuk berjuang demi kebesaran. Murid dianggap sebagai masa depan bangsa dan umat manusia, dan peran bapak dan ibu guru diyakini sebagai pemandu yang kredibel untuk kemajuan mereka.. Guru dapat melihat kekuatan dan kelemahan setiap murid dan dapat memberikan bantuan dan bimbingan untuk mempercepat atau mendorong mereka lebih tinggi. Sebagai seorang guru tidak hanya membimbing murid dalam bidang akademik atau kegiatan ekstrakurikuler, tetapi guru juga bertanggung jawab untuk mendukung masa depan murid, menjadikannya manusia yang lebih baik. Seorang guru menanamkan pengetahuan, nilai-nilai baik, tradisi, tantangan zaman modern dan cara-cara untuk menyelesaikannya dalam diri murid.  Bapak dan ibu guru juga menjadi sumber inspirasi dan motivasi. Guru menginspirasi murid untuk melakukannya dengan baik, dan memotivasi mereka untuk bekerja keras dan menjaga tujuan akademik mereka tetap pada jalurnya. Menjadi seorang guru sebagai pembelajar sepanjang hayat memungkinkan bapak dan ibu guru untuk terus belajar dan berkembang dalam pengetahuan. Perang Seorang Guru sebagai Penggerak Pendidikan Pengetahuan dan pendidikan merupakan dasar dari segala sesuatu yang dapat dicapai dalam kehidupan. Guru memberikan kekuatan pendidikan kepada generasi muda saat ini, sehingga memberi mereka kemungkinan untuk masa depan yang lebih baik. Pola pikir guru sebagai penggerak pendidikan ialah memperlakukan kesalahan dan tantangan sebagai bagian dari proses belajar. Bapak dan ibu guru diminta untuk tidak melihat kesalahan sebagai kegagalan. Kesalahan memberi murid sebuah pengalaman atau informasi baru yang dapat mereka gunakan saat mereka terus menemukan cara untuk memecahkan masalah atau tantangan. Guru juga tidak pernah tahu jenis pertanyaan apa yang akan diajukan oleh murid. Sebagai penggerak Pendidikan, guru menjadikan belajar sebagai kebiasaan rutin untuk beradaptasi dengan perubahan dan tindakan murid. Dedikasi dalam Peran Seorang Guru Salah satu bagian terpenting dalam peran seorang guru adalah memiliki dedikasi. Bapak dan ibu guru mungkin merasakan jika peran guru tidak hanya mendengarkan, tetapi juga melatih dan membimbing murid. Guru mampu membantu membentuk tujuan akademik dan berdedikasi untuk membuat murid  mencapainya. Bapak dan ibu guru memiliki … Read more

Merdeka Belajar di PAUD, Bagaimana Menerapkannya?

Menerapkan merdeka belajar di PAUD susah? Bagaimana cara menetapkan tujuan belajarnya, kan harus melibatkan murid? Lalu cara menentukan asesmennya bagaimana, kan mereka masih kecil? Namun akan sangat sayang sekali kalau tidak segera diimplementasikan, karena merdeka belajar ini menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna sehingga murid menjadi berdaya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadikan guru khususnya di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) masih ragu dan bimbang untuk menerapkan merdeka belajar pada muridnya. Keraguan ini juga pernah dialami oleh Bu Anik Puspowati, guru di TK Sekolah Alam Arridho Semarang.  Berawal ketika mengikuti pelatihan Guru Merdeka Belajar, dari sini Bu Anik paham untuk menjadi pendidik yang merdeka belajar, perlu memiliki tiga hal esensial antara lain: komitmen pada tujuan, mandiri, dan reflektif. Awalnya Bu Anik sempat ragu untuk menerapkan proses menentukan tujuan belajar bersama anak usia dini. Namun Bu Anik tetap memberanikan diri untuk mencoba. Bu Anik menyatakan bahwa masa prasekolah merupakan masa yang sangat krusial dalam pendidikan seorang anak. Usia 0-6 tahun sering disebut sebagai masa emas perkembangan anak, karena otak anak mampu menyerap informasi hingga 80  persen. Di masa-masa ini, anak mulai terbentuk aspek perkembangannya: kognisi, bahasa, fisik-motorik, sosial-emosi, moral, kemandirian, dan seni. Bu Anik ingin memaksimalkan aspek-aspek perkembangan muridnya tersebut secara menyenangkan dan bermakna. Bu Anik mengidentifikasi gaya pembelajaran yang cocok dengan muridnya adalah gaya belajar kinestetik. Anak bisa mengeksplorasi dengan pancaindranya secara langsung pada objek pembelajaran dan secara tidak langsung hal tersebut mampu menumbuhkan aspek-aspek perkembangan mereka. Bu Anik menganggap belajar langsung dari objek belajarnya membuat anak lebih senang dan memiliki pengalaman bermakna. Metode yang digunakan Bu Anik adalah outing (belajar di luar kelas) atau belajar bersama alam istilahnya. Waktu itu tema pembelajaran mengenai ternak, kebetulan di dekat sekolah Bu Anik ada peternakan kuda pacu. Maka Bu Anik memanfaatkan tempat tersebut sebagai tempat pembelajaran yang kebetulan relevan dengan tema pembelajarannya. Sebelum berangkat mereka bersepakat tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama perjalanan dan ketika berkunjung. Ketika sampai di peternakan kuda, Bu Anik dan murid-muridnya berkumpul melingkar dan melakukan ice breaking. Hal seperti itu memang sudah biasa mereka lakukan sebelum memulai kegiatan. Lalu Bu Anik segera mengeluarkan kertas dan menempelkannya di papan tulis. Bu Anik mengajak tanya jawab murid-muridnya seputar apa yang mereka ketahui tentang ternak. Ada yang menjawab “ingin mengenal macam-macam binatang ternak (dalam hal ini kuda)”, dan lebih mengejutkan lagi ada yang menjawab “biar sayang sama ciptaan Allah”. Dan jawaban-jawaban tersebut ditulis Bu Anik sebagai tujuan pembelajaran. Dilanjutkan pembuatan rubrik penilaian sederhana ala anak-anak usia dini. Kriteria beserta dimensinya ditentukan bersama oleh Bu Anik dan murid-muridnya. Mereka menggunakan kriteria keren banget, keren dan keren sedikit. Keren banget untuk mengukur capaian kriteria tertinggi, keren berada di tengah antara capaian tertinggi dan terendah. Sebagai contoh, jika anak tidak berani mendekati kuda masuk kriteria keren sedikit, takut tapi mau mendekat masuk kriteria keren dan berani mendekat dan tidak takut masuk kriteria keren banget. Rubrik penilaian ini yang dijadikan sebagai bentuk asesmen. Berikut gambarannya. Secara umum rubrik penilaian seperti gambar di atas juga bisa digunakan untuk mengukur capaian murid dalam menguasai pembelajaran. Baca juga Memahami Merdeka Belajar Di tempat pembelajaran, anak-anak seolah sudah mengerti akan apa yang akan mereka lakukan. Mereka bahkan tidak sungkan untuk bertanya langsung (wawancara) dengan bapak-bapak pengurus istal di sana. Bertanya apa saja yang ingin mereka ketahui tanpa takut dan sungkan. Setelah outing, mereka kembali berdiskusi tentang apa yang mereka dapatkan atau mereka pelajari di tempat outing. Mereka merefleksikannya bersama. Anak-anak sangat antusias bercerita tentang apa yang telah mereka dapatkan melalui pancaindranya. Anak mampu belajar mengenai warna, ukuran besar-kecil, juga mampu belajar dengan indra peraba (kasar atau halus) ketika mengelus kuda. Mereka bahkan juga mendapatkan kosakata baru. Beberapa murid berinisiatif memberi makan kuda dan bahkan mencabut rumput untuk diberikan pada anak kuda. Ada juga anak yang awalnya takut mendekati kuda, lama kelamaan meminta Bu Anik untuk menemaninya mendekati kuda dan akhirnya berani mengelus dan tersenyum dengan senang. Tidak ada paksaan dan tekanan bagi murid yang masih takut. Bu Anik merasa tugasnya sebagai fasilitator belajar murid jauh lebih asyik dan mudah, karena pembelajaran dengan metode ini dirasa lebih mengakomodasi kebutuhan anak yang berbeda-beda. Dari cerita Bu Anik Puspowati yang bersumber dari buku Merdeka Belajar di Ruang Kelas karya Najelaa Shihab dan Komunitas Guru Belajar di atas dapat disimpulkan bahwasanya merdeka belajar bisa diterapkan pada murid usia dini. Yang perlu dilakukan guru adalah paham konsep merdeka belajar dan berani menerapkannya dengan kreatifitas masing-masing. Yang menunda keberhasilan bukanlah kegagalan melainkan keraguan dan ketakutan untuk mencoba. Nah, bagaimana Bapak Ibu guru? Apakah cerita guru merdeka belajar di atas sudah menjawab keraguan Bapak Ibu? Sebenarnya masih banyak lho cerita guru merdeka belajar yang inspiratif dan solutif lainnya. Dan semuanya akan Bapak Ibu temukan di Temu Pendidik Nusantara VIII dengan tema Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar yang akan diselenggarakan pada 20-21 November 2021. Yuk buruan daftar dengan klik tpn.gurubelajar.org dan jangan lupa catat tanggalnya ya!

Refleksi Enam Bulan di Kampus Guru Cikal

Tak ada pekerjaan yang tak membuat lelah, tak ada pekerjaan malah akan membuatmu lelah bukan kepalang. Bagaimana kondisi pekerjaanmu dan juga kantormu? Apakah sudah tepat untuk membuatmu berkembang dan membuatmu menjadi ‘The Best Version of Yourself’?

Bekerja di bidang pendidikan adalah cita-cita saya. Dulu sekali ingin punya Taman Kanak-Kanak bahkan ingin jadi Dosen. Tapi proses bekerja di bidang pendidikan dan untuk berada disini cukuplah berkelok bagi saya.

WhatsApp Image 2018-09-18 at 11.20.09 (2)

Tiga bulan awal bekerja, saya pun masih penuh tanda tanya di kepala. Apa saya berada di tempat yang tepat? Ada satu tantangan lagi yang melekat di kepala saya, Apakah Bapak Ibu Guru mau berdampingan dengan saya? Iya, saya yang bukan dari background pendidikan atau psikologi dan juga pekerjaan saya sebelumnya adalah Finance Officer. Apa mereka mau belajar dari usia saya yang relatif muda, 27 tahun?

Read more