Pasar Praktik Baik itu Bernama Kelas Kemerdekaan

Mana yang lebih seru? Belanja di pasar tradisional atau di supermarket modern? Anda termasuk tim mana? Kalau tim pasar tradisional dan tim supermarket modern berjumpa, bisa berdebat berhari-hari membahas mana yang lebih seru. Pasar tradisional maupun supermarket modern mempunyai kelebihannya sendiri. Pasar tradisional lebih kaya dengan interaksi, bisa bercakap-cakap dengan beragam orang, ada beragam barang termasuk yang tidak diduga, kualitas barang tidak terstandar dan kondisi pasar biasanya becek atau tidak terlalu nyaman. Supermarket modern lebih nyaman dikunjungi, bersih dan dingin, persediaan barang terencana, kualitas barang terstandar, suasanya lebih tenang, dan tanpa atau sedikit percakapan yang terjadi. Bila sudah jelas barang yang dibutuhkan, dan waktunya terbatas, bisa jadi supermarket modern adalah pilihan terbaik. Bila ada waktu, butuh interaksi dan mencari barang yang otentik, bisa jadi pasar tradisional adalah pilihan terbaik. Apa hubungannya dengan kelas kemerdekaan? Sabar 🙂 Dalam ekosistem guru lebih dikenal kegiatan pengembangan guru yang karakteristiknya mirip supermarket modern. Topik direncanakan, kualitas terstandar, pelaksanaan di ruang yang nyaman, dan suasananya cenderung tenang. Karakteristik yang penting untuk proses pengembangan kompetensi guru yang terstruktur. Kita butuh tapi tidak boleh tergantung pada pembelajaran kompetensi yang terstruktur sebagai satu-satunya mode pengembangan kompetensi guru. Karena proses yang mirip pasar modern tersebut tidak memadai untuk menjawab dinamika kebutuhan di lapangan. Semakin banyak tantangan, semakin butuh beragam solusi yang praktis. Moda pengembangan kompetensi guru yang mirip dengan karakteristik pasar tradisional menawarkan sudut pandang baru. Lebih banyak percakapan reflektif, berjumpa lebih banyak orang, dan lebih besar kemungkinan menemukan praktik yang otentik. Pada Temu Pendidik Nusantara, moda pertama disebut sebagai Kelas Kompetensi dan moda kedua disebut Kelas Kemerdekaan. Mana yang lebih seru? Keduanya 🙂 Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Kelas Kemerdekaan diisi beragam pembicara mulai dari guru yang baru mengajar dua tahun hingga guru dan ahli yang sudah berpengalaman. Seperti pasar tradisional, Kelas Kemerdekaan lebih chaos, beragam dan lebih banyak diwarnai antusiasme para pembicara baru. Dalam hal antusiasme, tidak ada yang mengalahkan amatir. Kelas Kemerdekaan menjadi langkah pertama bagi guru mana pun melakukan rintisan. Bisa rintisan dalam berkarier, bisa rintisan mengenalkan praktik baik pembelajaran atau kepemimpinan yang baru diterapkan. Pengembangan praktik baik tidak bisa langsung lengkap dan sempurna tapi melalui upaya mencoba, membagikan, mendapatkan umpan balik dan melakukan perbaikan penerapan selanjutnya. Siapa yang bisa mengisi Kelas Kemerdekaan? Semua guru yang telah mengajar setidaknya 1 tahun. Mengapa? Dalam 1 tahun, semua guru pasti mengalami banyak tantangan. Dari sejumlah tantangan tersebut, pasti ada tantangan yang berhasil diselesaikan. Pengalaman mengatasi tantangan tersebut layak dibagikan di kelas kemerdekaan. Apa manfaat Kelas Kemerdekaan? Pada kelas konversi kemerdekaan sebenarnya sedang terjadi proses konversi dari pengetahuan tacit (tacit knowledge) yang dipraktikkan sehari-hari menjadi pengetahuan eksplisit yang dibagikan pada guru yang lain. Dengan melakukan konversi tersebut, guru yang menjadi narasumber Kelas Kemerdekaan menjadi berkembang kompetensinya pada level yang lebih kompleksi dibandingkan pengembangan kompetensi sebagai peserta pelatihan. Apa pentingnya pemimpin sekolah/madrasah memotivasi gurunya mengisi Kelas Kemerdekaan? Riset yang dilakukan oleh Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) menunjukkan bahwa kompetensi literasi murid yang diajar oleh guru yang berbagi praktik baik pembelajaran di Kelas Kemerdekaan hingga level Temu Pendidik Nusantara LEBIH TINGGI dibandingkan murid yang gurunya tidak berbagi praktik baik pembelajaran. Kesimpulan tersebut terjadi baik di Kota Batu yang perkotaan maupun Kabupaten Probolinggo yang pedesaan. (Baca di Kilas 22 dan Kilas 23) Jadi, bila Anda seorang pemimpin sekolah/madrasah yang ingin meningkatkan kompetensi literasi murid, maka salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah memfasilitasi guru berbagi praktik baik pembelajaran dengan format Kelas Kemerdekaan di level sekolah, level kecamatan, level daerah hingga level Temu Pendidik Nusantara. Lebih optimal lagi, bila mekanismenya diintegrasikan dengan manajemen kinerja sekolah. (Mari kita diskusikan lebih lanjut) Kembali ke pasar tradisional 🙂 Kelas Kemerdekaan prosesnya lebih egaliter sebagaimana di pasar tradisional. Di Kelas Kemerdekaan, tidak ada ahli yang super bisa. Semuanya dianggap setara karena itu dihindarkan tanya jawab ke narasumber. Pertanyaan yang ada adalah pertanyaan reflektif yang dijawab oleh semua orang, pembicara maupun peserta. Tapi sebagaimana pasar tradisional, proses di Kelas Kemerdekaan lebih chaos, setidaknya jauh dari tertata. Ada pembicara yang mungkin masih mengalami kebingungan sehingga kurang fokus dan bahkan melenceng pembahasannya. Ada pembicara yang belum bisa memahami pentingnya kenyamanan peserta dalam belajar. Dua keluhan yang disampaikan seorang guru kepada saya mengenai proses Kelas Kemerdekaan di Temu Pendidik Nusantara ke-7. Tapi begitulah pasar tradisional, meski ramai, meski becek, meski chaos, tapi orang tetap berkunjung. Begitu pula di Kelas Kemerdekaan, peserta hadir untuk untuk berjumpa rekan seperjuangan, untuk melakukan percakapan bermakna, dan untuk menemukan solusi-solusi yang di luar dugaan. Apabila pada sebuah Kelas Kemerdekaan tidak menemukan solusi yang dicari, bergeser lah pada Kelas Kemerdekaan yang lain. Ada ratusan pilihan Kelas Kemerdekaan, sebagaimana ratusan lapak di pasar tradisional. Ayo merdeka belajar mulai dari Kelas Kemerdekaan 🙂 Tulisan ini adalah refleksi dari pelaksanaan Temu Pendidik Nusantara ke-7.

Petikan Pelajaran Kolaborasi Literasi Bermakna

Setahun sudah kami bersama menjalankan program Kolaborasi Bermakna. Ada banyak kegiatan, tapi lebih banyak lagi pelajaran. Setiap anggota tim dan peserta program mempunyai banyak pemaknaan personal yang beragam terhadap perjalanan ini. Kami mencoba merangkum petikan pelajaran yang didapatkan dari program Kolaborasi Literasi Bermakna. Pelajaran yang akan kami bawa dalam program yang lain, dan menurut kami penting juga dipelajari oleh penggiat pendidikan di seluruh penjuru negeri. Dari Sendiri Menuju Kolaborasi  Tantangan pertama dan utama dari Kolaborasi Literasi Bermakna adalah mengubah pola kerja dari yang biasanya asyik sendiri menjadi seru berkolaborasi. Kolaborasi itu indah diucapkan. Begitu mudah disampaikan dalam pidato-pidato, tapi kenyataannya begitu menantang.  Kolaborasi Literasi Bermakna digawangi empat organisasi yang mempunyai bidang fokus yang berbeda. Kampus Guru Cikal yang menangani guru. Keluarga Kita yang menangani orangtua. Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan yang menangani riset dan advokasi kebijakan. Inibudi yang menangani pembuatan konten belajar. Masing-masing organisasi mempunyai keahlian tersendiri. Setiap organisasi melayani segmen dengan agendanya sendiri. Melalui program Kolaborasi Literasi Bermakna, kami belajar mensinergikan agenda dan prioritas sekaligus membangun relasi saling percaya. Banyak gesekan dan perdebatan untuk menentukan pilihan yang bisa mengakomodasi semua. Pelajaran penting yang kami dapatkan adalah berpihak kepada anak. Menjadikan kepentingan anak sebagai kriteria untuk mengambil keputusan. Bila antar-organisasi sulit mengalah, tapi ketika berpihak kepada anak menjadi kriteria, maka organisasi bisa lebih melonggarkan agenda dan menerima kesepakatan.  Kolaborasi Literasi Bermakna bisa berjalan jauh dan mengerjakan banyak kegiatan semata-mata karena mengedepankan kepentingan anak. Cita-cita menyaksikan anak-anak Batu dan Probolinggo bisa belajar karena cinta, bukan karena terpaksa. Bila ada perbedaan, pemersatunya adalah anak.  Dari Penunjukan Menuju Partisipasi  Pada sebagian besar program, keterlibatan orangtua dan guru sering kali ditentukan melalui jalur penunjukan. Dinas Pendidikan menunjuk kepala sekolah. Kepala sekolah menunjuk guru dan orangtua untuk mengikuti program. Kebanyakan guru dan orangtua akan terlibat program karena takut melanggar penunjukan tersebut. Takut mendapat sanksi.  Kampus Guru Cikal dan Keluarga Kita punya pengalaman berbeda. Jalur penunjukan memang membuat orang terlibat program, tetapi bukan karena kesadaran sendiri, sering kali karena terpaksa. Oleh karena itu, kami mencoba jalur partisipasi dalam melibatkan guru dan orangtua dalam program pengembangan. Kami percaya bahwa guru dan orangtua yang berniat belajar pasti mencari cara agar bisa mendapat kesempatan belajar. Dalam lima tahun, kami membangun komunitas guru dan orangtua berdasarkan prinsip partisipasi dan kerelawanan dengan segala dinamikanya.  Pada Kolaborasi Literasi Bermakna, keyakinan tersebut kami praktikkan dalam sebuah program yang terukur dan terencana secara ketat. Sebuah pilihan yang mengandung risiko tentunya. Apakah dengan kesibukan orangtua dan guru mau meluangkan waktu terlibat dalam program yang tanpa memberi imbalan apa-apa? Bagaimana kalau yang awalnya sukarela mengikuti program kemudian punya kesibukan lain? Apakah guru dan orangtua yang menjadi peserta program akan menjalankannya dengan sungguh-sungguh? Berdasarkan bukti dari pengalaman sebelumnya, kami memilih untuk mengambil risiko dari jalan partisipasi.  Setelah membereskan hati sendiri, langkah kami berikutnya adalah meyakinkan pemangku kepentingan dari program Kolaborasi Literasi Bermakna. Tidak mudah karena pemangku kepentingan punya pengalaman yang berbeda. Tidak percaya bahwa ada guru dan orangtua yang sukarela mau belajar. ‘Dipaksa saja susah, kok, diminta sukarela,’ mungkin itu pikiran yang terlintas. Namun, setelah dengan sejumlah argumentasi dan cerita pengalaman kami sebelumnya, jalur partisipasi diterima dengan sejumlah catatan. Di akhir program Kolaborasi Literasi Bermakna, kami sungguh bahagia bisa menunjukkan bahwa guru dan orangtua belajar banyak dengan semangat sukarela, bukan dipaksa. Dari Hadiah dan Hukuman Menuju Kesempatan dan Dukungan Keterlibatan dalam program yang berdurasi satu tahun tidaklah mudah. Menjaga konsentrasi dalam hitungan menit saja susah. Karena itu, pengelola program mempunyai sejumlah strategi untuk memotivasi peserta program terlibat secara penuh mulai dari awal hingga akhir. Meski ada banyak strategi, secara umum kesemuanya berdasarkan prinsip hadiah dan hukuman. Hadiah untuk yang menunjukkan perilaku baik, hukuman bagi yang menyimpang.  Tantangan bagi Kolaborasi Literasi Bermakna adalah menemukan strategi yang tidak menggunakan prinsip hadiah dan hukuman yang biasa dipakai. Pelibatan dalam program dimulai dari partisipasi, kesadaran dari dalam diri, tentu kami butuh mencari strategi memotivasi yang selaras.  Tantangan terbesar bukan mencari strategi memotivasi yang tepat, tetapi pengelolaan diri dari keseluruhan kami, seluruh anggota tim Kolaborasi Literasi Bermakna, baik yang bertugas di Jakarta maupun daerah. Sering kali yang terjadi adalah khawatir gagal yang berlebihan. Semua pengelola program pasti ingin berhasil mencapai target. Keinginan yang wajar, tetapi bila berlebihan akan menggoda kami menggunakan strategi memotivasi berdasarkan hadiah dan hukuman.  Bersikap empati terhadap orangtua dan guru yang menjadi peserta program membantu kami keluar dari tekanan menggunakan hadiah dan hukuman. Kami menempatkan diri menjadi peserta program dan berpikir apa yang kami butuhkan untuk berubah lebih baik. Lahir kesadaran bahwa peserta program lebih butuh kesempatan dan dukungan untuk berubah. Kesempatan berbagi praktik baik, kesempatan untuk unjuk diri, dukungan berupa umpan balik, pengakuan terhadap apa yang sudah baik dan koreksi mana yang perlu diperbaiki. Kesadaran yang membuat kami melakukan tambahan kegiatan berupa pendampingan sesuai kebutuhan guru dan orangtua. Dari Penyeragaman Menuju Berjenjang  Dalam program yang terukur dan direncanakan secara ketat, sering kali fokus pengelola program adalah pada pelaksanaan kegiatan dan pencapaian target. Program yang sudah direncanakan sejak awal dilaksanakan sebagaimana pakemnya. Persoalannya kemudian, apakah yang sudah direncanakan di awal sesuai dengan tantangan di lapangan dan kebutuhan peserta program?  Kolaborasi Literasi Bermakna sedari awal sebenarnya sudah melakukan sejumlah kegiatan untuk memahami tantangan di lapangan dan kebutuhan peserta program. Pemahaman yang kami gunakan untuk melakukan penyesuaian rancangan program agar lebih efektif. Namun, pemahaman awal pun ternyata masih belum cukup kaya dibandingkan dengan pemahaman yang didapatkan selama pelaksanaan program. Intensitas interaksi dan percakapan bermakna menghasilkan pemahaman baru yang lebih luas. Jangankan antar-personel, kemajuan program antar-daerah pun tidak sama. Pelaksanaan program Kolaborasi Literasi Bermakna yang berawal dari pendekatan yang seragam pada perjalanannya disesuaikan. Penyesuaian strategi menjadi lebih personalisasi pada tujuan, cara, dan alat bantu refleksi. Peserta program yang lebih dahulu menguasai sasaran program mendapat kesempatan lebih luas. Sementara, peserta program yang butuh waktu tambahan mendapat dukungan sesuai kebutuhan mereka untuk berkembang.  Dengan memfasilitasi proses refleksi, kami mengajak orangtua dan guru memahami kemampuan dan kecepatan belajarnya. Jadi, bukan kami yang menentukan kebutuhan belajar, tapi peserta program sendiri yang melakukan penilaian diri untuk menyusun agenda belajarnya. Partisipasi bukan hanya saat pelibatan awal, tapi juga hingga menentukan intensitas belajar. Dari Berbasis Sekolah Menuju Berbasis … Read more

Merdeka Belajar Bukan Jargon

Merdeka Belajar tiba-tiba jadi populer setelah disebutkan oleh Menteri Nadiem Makarim. Apa sebenarnya merdeka belajar itu? Apakah jargon baru dari Mas Menteri? Kisah Guru Merdeka Belajar Lima tahun yang lalu, saya mendapat tanggung jawab menginisiasi dan mendampingi #KomunitasGuruBelajar. Ada banyak kisah guru penggerak di berbagai daerah. Kisah Bu Wanti salah satunya. Kami dipertemukan oleh media sosial dalam sebuah kesempatan diskusi daring. Bu Wanti adalah guru PNS yang mengajar di SDN 34 Borang, Sanggau, 6 jam perjalanan dari Pontianak. Pada obrolan grup Guru Belajar, beliau mengaku sebagai guru kampung. Guru di sekolah kampung yang fasilitasnya tidak memadai untuk menciptakan proses belajar yang berkualitas. Ada benarnya karena Bu Wanti mengajar di kampung yang pada saat itu belum ada akses listrik dan jaringan telepon, tapi tidak sepenuhnya benar. Setidaknya demikian pendapat anggota grup Guru Belajar pada saat mendengar kisah Bu Wanti. Rekan guru yang lain menunjukkan praktik baik pengajaran berkualitas di daerah lain yang tidak mensyaratkan fasilitas. Praktik baik yang saya ingat adalah ruang kelas raksasa yang ditulis Guru Hesti di Sorowako. Bu Hesti memanfaatkan lingkungan sekolah buat memandu muridnya belajar bahasa sekaligus matematika. Kisah guru belajar yang menginspirasi Bu Wanti untuk melakukan perubahan praktik pengajaran di ruang kelasnya. Hari ini ia masih mengajar di sekolah yang sama, tapi praktik pengajaran yang dilakukan jauh berbeda. Tulisan praktik baiknya diterbitkan di Surat Kabar Guru Belajar, buku Memanusiakan Hubungan dan dipresentasikan di Temu Pendidik Nusantara. Belum ada perubahan fasilitas, belum ada perubahan tempat mengajar, belum ada perubahan beban administrasi guru. Lalu apa yang berubah? Spirit Bu Wanti yang kami sebut sebagai merdeka belajar! Bu Wanti bersama ribuan guru yang lain memilih berpihak pada anak dengan mengusung paradigma merdeka belajar. Mengenal Merdeka Belajar Perhatian publik tertuju pada merdeka belajar ketika konsep tersebut ditulis sebagai tagar di naskah pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Hari Guru Nasional tahun 2019. Beberapa sebaran di media sosial mengubahnya menjadi merdeka bergerak atau istilah lain, seolah hanya sebuah jargon. Apa sebenarnya merdeka belajar? Spirit kemerdekaan dalam pendidikan Indonesia dicetuskan pertama kali oleh Ki Hadjar Dewantara. “…kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu “dipelopori”, atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain (1952). Konsep merdeka belajar sebenarnya konsep lama, sudah dikaji baik di luar negeri maupun di Indonesia. Pada waktu lampau, dunia pendidikan termasuk kami di Kampus Guru Cikal mengenalnya sebagai pembelajaran mandiri sebagai terjemahan dari konsep self regulated learning. Namun refleksi kami menemukan bahwa istilah pembelajaran mandiri tidak tepat secara konsep dan diplesetkan secara praktik. Secara konsep, mandiri hanyalah satu dimensi dari 3 dimensi self regulated learning, yang berarti istilah yang menggambarkan secara parsial, tidak utuh. Pada sisi praktik, pembelajaran mandiri yang tidak memadai secara konsep menghasilkan praktik yang tidak berpihak pada anak. Anak dituntut belajar secara mandiri tapi untuk melayani tujuan belajar yang ditetapkan semena-mena oleh guru, sekolah maupun kurikulum nasional. Proses dan hasil belajarnya pun dinilai tanpa melibatkan murid. Jauh dari konsep self regulated learning. Miskonsepsi self regulated learning tersebut harus dipatahkan, baik secara konsep maupun secara praktik. Secara konsep, kami mengkaji ulang konsep Self Regulated Learning dengan mempelajari 3 dimensinya yaitu yaitu komitmen pada tujuan, mandiri pada cara dan refleksi. Pada titik ini, kami bersepakat untuk menggunakan istilah merdeka belajar, sebagai pengganti istilah pembalajaran mandiri. Merdeka belajar menggambarkan 3 hal, (1) menetapkan tujuan belajar sesuai kebutuhan, minat dan aspirasinya, bukan karena didikte pihak lain, (2) menentukan prioritas, cara dan ritme belajar, termasuk beradaptasi dengan cara baru yang lebih efektif; (3) melakukan evaluasi diri untuk menentukan mana tujuan dan cara belajar yang sudah efektif dan mana yang perlu diperbaiki. Merdeka bukan berarti bebas (freedom), tapi kemerdekaan (independence) mengarahkan tujuan, cara dan penilaian belajar. Sebagaimana negara merdeka, guru merdeka belajar berarti menentukan dan mengarahkan nasib dan masa depannya, dalam suatu konteks kehidupan bersama. Penerapan di Ruang Kelas Merdeka belajar di ruang kelas diawali dari diri guru yang merdeka belajar, sadar dan memprioritaskan esensi tujuan pendidikan, fleksibel dalam menentukan strategi belajar dan menjadikan respon murid sebagai bahan untuk berefleksi. Guru yang merdeka belajar akan menjadi penggerak kelas merdeka belajar. Dari lingkup diri disebarkan menjadi lingkup kelas. Murid dilibatkan dalam mengelola kelas, seperti penggunaan kesepakatan kelas, komunikasi positif dan menghindari sogokan dan hukuman untuk memotivasi murid. Pada proses pengajaran, guru merdeka belajar melibatkan murid dalam menentukan tujuan belajar. Guru menjadi penghubung antara tujuan belajar pada kurikulum dengan kebutuhan murid. Pemahaman terhadap kebutuhan dan potensi murid dijadikan pertimbangan bagi guru untuk menyusun pilihan cara belajar di kelas. Guru melibatkan murid dalam merancang penilaian terhadap proses dan hasil belajar. Pada akhir pelajaran, guru meminta masukan dari murid untuk melakukan perbaikan. Ketika pertama mensosialisasikan merdeka belajar, baik melalui media sosial, diskusi grup daring, maupun seri pelatihan merdeka belajar, kami mendapatkan banyak respon terkejut dari kebanyakan guru yang bisa dikategorikan menjadi 2 kategori: otonomi dan orientasi pada anak. Kategori otonomi menggambarkan kekhawatiran dan keraguan guru mempunyai otonomi dalam mengajar. Isinya kekhawatiran guru terhadap tuntutan kepala sekolah dan pengawas, meski mereka jarang berkunjung ke kelas. Keraguan apakah guru mempunyai kewenangan dalam merancang proses belajar di kelas. Kategori orientasi pada anak menggambarkan ketidakpercayaan guru dalam melibatkan murid. Isinya pandangan yang meragukan atau merendahkan kemampuan dan kemauan murid untuk terlibat dalam proses belajar. Mereka khawatir murid jadi besar kepala dan menjadi berlagak di kelas. Namun sejumlah guru tetap meyakini merdeka belajar dan mempraktikkannya di ruang kelas. Dari mereka lahir praktik baik pengajaran merdeka belajar yang disebarkan dalam Komunitas Guru Belajar. Banyak guru yang tertular dan akhirnya terbit buku Merdeka Belajar di Ruang Kelas, yang berisi praktik pengajaran merdeka belajar di berbagai daerah dari jenjang menengah, dasar hingga anak usia dini. Bukti praktik pengajaran merdeka belajar selaras dengan temuan risetnya. Sejumlah riset (semisal oleh Moos & Ringdal, 2012) menunjukkan bahwa pengajaran merdeka belajar berkorelasi positif pada capaian belajar murid baik pada pendidikan dasar maupun menengah. Lebih jauh lagi, merupakan prediktor terbaik untuk memprediksi kinerja guru (Kamyabi Gol, Atiyeh & Royaei, Nahid, 2013). Riset di Indonesia pun menunjukkan korelasi positif antara merdeka belajar dengan penurunan prokrastinasi dan peningkatan capaian belajar. Gebrakan Merdeka Belajar Bagaimanapun, dibandingkan istilah sebelumnya, merdeka belajar lebih renyah diucapkan dan terdengar lebih keren. Namun lebih … Read more

Komunitas Guru Belajar dan Tradisi Bertanya

Kepada yang TerhormatMas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RIDi Jakarta. Tabik. Semoga Tuhan yang Maha Kuasa meridhoi semua usaha dan aktivitas hari ini. Perkenalkan, nama saya Usman Djabbar Mappisona, mewakili Komunitas Guru Belajar Nusantara. Hari ini, kami bergembira. Betapa senangnya mendapatkan undangan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Perkumpulan guru yang baru saja mendeklarasikan dirinya sebagai organisasi profesi guru, hari ini bisa berkumpul dengan Mas Menteri, kawan-kawan Asosiasi Profesi, para pakar dan tokoh pendidikan di negeri ini. Di undangan yang dikirimkan kepada kami, tertera kesediaan untuk menuliskan dua atau tiga masalah yang mendesak yang harus segera diselesaikan oleh kita semua. Masalah-masalah itu tentu saja versi kami, berdasarkan pengalaman kawan-kawan guru di berbagai daerah. Masalah yang kami ungkap adalah aspirasi yang disampaikan rekan-rekan sejawat kami pada Kongres pertama yang berlangsung baru-baru ini. Pada sesi kebutuhan dan kontribusi daerah. Apa masalah yang dihadapi oleh kawan-kawan guru di daerah dan kontribusi apa yang bisa diberikan. Kebutuhan dan kontribusi tersebut kemudian kami padatkan menjadi tiga poin. Mas Menteri yang terhormat, Poin pertama, sesungguhnya sudah dilakukan pihak kementerian minggu ini: mendengarkan masalah-masalah yang harus segera diselesaikan. Jujur Mas, kami sudah lama menunggu untuk ditanya-tanya. Diajak bicara. Membangun percakapan. Apa saja masalah yang terjadi setiap hari di sekolah, ruang kelas dan ruang lain sepulang murid-murid dari sekolah. Puji Tuhan, hari ini pihak kementerian mewujudkannya. Harapan kami, ini menjadi tradisi saling bertanya. Menjadi budaya dari atas sampai bawah. Dimulai dari kementerian, kepala dinas pendidikan provinsi/kabupaten, kepala sekolah dan para guru di ruang kelas. Betapa berdampaknya tradisi ini: setiap guru akan selalu bertanya pada setiap murid-muridnya. Mohon izin Mas Menteri, kami memberi satu contoh.Tentang kemerdekaan guru memilih pelatihan sendiri. Kami merasa saat ini belum pernah ditanya-ditanya jenis pelatihan apa saja yang paling kami butuhkan. Setiap undangan yang datang ke sekolah hanya untuk menghadiri. Apalah daya kami untuk menolak? Akibatnya jelas. Kegiatan pelatihan bersifat rutin, membosankan dan kehilangan daya tarik sama sekali. Banyak yang merasa terpaksa mengikuti diklat karena perintah pimpinan bukan karena kebutuhannya. Cerita yang berserakan, kerap terdengar. Bagaimana diklat gratis di hotel berbintang hanya untuk memenuhi kuota peserta, bukan karena benar-benar dibutuhkan. Bagaimana seharusnya? Siapkanlah formulir yang berisi pertanyaan: untuk meningkatkan keterampilan Anda sebagai guru, jenis pelatihan apa yang dibutuhkan? Percayalah, kami pasti menjawab sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi di ruang kelas. Hasilnya pasti dahsyat. Tersedia semacam bank data kebutuhan pelatihan. Sebutlah dengan pemetaan. Sudilah pihak kementerian memfasilitasi kawan-kawan guru kami mengikuti satu atau beberapa diklat yang diminati, yang sesuai dengan kebutuhan, yang cocok dengan situasi kelas yang dihadapinya. Percayalah. Jika tradisi bertanya ini terus dirawat, maka akan berlanjut ke ruang kelas. Para guru juga akan terbiasa untuk bertanya pada murid-muridnya: ‘mengapa penting menguasai’, bukannya ‘bagaimana menguasainya’. Mengapa penting untuk belajar, bukan bagaimana harus belajar. Keduanya berbeda. Mas Menteri yang terhormat. Tradisi bertanya yang kami rawat ini kemudian mengarahkan pada soal yang kedua. Menjawab pertanyaan-pertanyaan murid dan sejumlah masalah yang kami hadapi di ruang kelas kemudian berkembang menjadi praktik baik. Besar keinginan kami untuk menyampaikan kepada bapak Menteri bahwa dihari deklarasi kemarin kawan-kawan kami di daerah telah menulis dan berbagi 293 praktik baik pengajaran. Semua praktik baik ini kami rangkum dalam Surat Kabar Guru sebanyak 23 edisi dan empat buku. Praktik baik yang ditulis oleh guru, editornya berasal dari guru dan dipraktikkan kembali oleh guru. Praktik belajar putaran ganda. Kawan kami dari kabupaten Sanggau mengembangkan kecakapan literasi murid-muridnya dengan membuat adonan kue. Dari merumuskan rencana kegiatan, menyiapkan bahan, membuat adonan sampai proses akhir: melakukan refleksi. Pada bagian mana yang harus diperbaiki? Kawan kami dari Makassar memainkan Congklak bersama murid-muridnya untuk melatih keterampilan memutuskan. Guru Pekalongan mengembangkan keterampilan berbahasa Indonesia melalui minat dan kegemaran murid-muridnya. Lalu apa masalahnya? Kawan-kawan kami di daerah masih merasa berjalan sendirian. Praktik baik belum menjadi tradisi sekolah, tradisi dinas pendidikan atau mungkin tradisi kementerian. Kami gembira mendengar bahwa kegiatan berbagi praktik mengajar juga telah diampu pihak kementerian melalui kegiatan pengembangan kompetensi guru berbasis zonasi. Semoga saja program ini berkelanjutan, tidak berhenti hanya sebagai bahan ajar pelatihan. Mas Nadiem Makarim. Poin ketiga yang ingin kami sampaikan adalah terkait dukungan terhadap organisasi profesi. Kami percaya bahwa persoalan pendidikan tidak bisa dilakukan sendirian. Kompetensi guru bukan hanya urusan kementerian saja. Mesti serempak dan berbarengan. Kami ingin terlibat. Setelah melakukan perjalanan panjang selama lima tahun, kami telah telah melakukan ribuan temu pendidik. Akhirnya, pada tanggal 25 Oktober 2019, 1.300 guru sepakat, Komunitas Guru Belajar mendeklarasikan dirinya sebagai salah organisasi profesi guru. Benar. Kami masih sangat muda usia. Harus belajar sebanyak-banyaknya dari berbagai pihak. Tapi percayalah Mas, kami punya niat yang baik untuk mengajak rekan guru saling menguatkan dan berkolaborasi. Kami ingin berdiri dan bergerak bersama kawan-kawan dari perkumpulan guru yang telah berdiri lebih awal. Kami ingin melibatkan diri memajukan profesi guru. Bukankah ini maksud dan tujuan pertemuan kita? Mohon dukungannya. Demikian tiga hal yang menurut kami perlu untuk disampaikan. Terima kasih telah diundang hadir. Jakarta, 4 November 2019Usman Djabbar MappisonaKetua UmumKomunitas Guru Belajar Nusantara

Belajar Bahasa Bukan Sekadar Struktur Kalimat, Namun Persoalan Komunikasi

Ingatkah Anda bagaimana sewaktu belajar Bahasa Inggris dulu? Kalau saya, yang paling terekam di memori adalah betapa sulitnya menghafalkan verb 1, verb, 2, dan verb 3 dan kaitannya dengan tenses dalam Bahasa Inggris. Sungguh, pelajaran Bahasa Inggris tidak terlalu menyenangkan karena diisi dengan menghafal dan juga perasaan takut bila menjawab soal dengan salah. Beruntungnya, lewat Kampus Guru Cikal, saya semakin memahami bahwa belajar Bahasa Inggris murni adalah persoalan berkomunikasi, bukan sekadar perkara mengetahui subject+verb+ing+bla bla bla. Lewat undangan dari ThaiTESOL dan British Council, saya semakin memahami bahwa Pendidikan Bahasa Inggris adalah perihal keterampilan berkomunikasi yang utuh, yang mengukuhkan bahwa kompetensi komunikatif adalah sasaran utama dalam pembelajaran bahasa Inggris, yang merupakan kemampuan untuk mengetahui kapan, kepada siapa, mengapa, dan bagaimana kita menggunakan bahasa yang sesuai. ThaiTESOL sendiri merupakan organisasi non-profit dan non-politik, berlokasi di Thailand, yang bertujuan untuk menguatkan Pendidikan Bahasa Inggris untuk semua level, melakukan riset dalam pengajaran Bahasa Inggris sebagai pengantar bahasa kedua, pemberian beasiswa, dan juga untuk diseminasi informasi. ThaiTESOL tahun ini agak sedikit berbeda. Banyak sekali pembahasan menarik mengenai apa yang terjadi dalam pembelajaran Bahasa Inggris dan bagaimana hal tersebut bisa berkontribusi kepada masa yang akan datang. Dengan mengusung tema “Changes and Chances in English Language Teaching”, pada sesi Keynote Dr. Tinsiri Siribodhi membicarakan mengenai perubahan-perubahan yang terjadi seputar Pendidikan Bahasa Inggris yang diantaranya adalah prioritas area pada pengembangan SDM. Perubahan yang merupakan tantangan di depan mata adalah mengenai perubahan pada area teknologi. Saya yakin saya semakin merasa tertantang dengan pertanyaan bagaimana kita bisa beradaptasi pada ekosistem yang telah berubah, gaya hidup, dan perilaku murid yang semakin lama semakin berjarak dengan bagaimana guru belajar dulu dan bagaimana guru hidup di era sekarang. Oleh karena itu, tantangan perubahan yang bisa sama-sama kita pikirkan adalah bagaimana pendidik di Asia Tenggara dapat menjadi guru yang mengikuti perkembangan jaman dengan mempertimbangkan kemampuan kognitif, sosial-emosional, dan juga perilaku, dan bagaimana proses belajar kita bisa mengakomodir pikiran, hati, dan juga dapat diterapkan sesuai dengan perkembangan jaman. ThaiTESOL 2019 yang saya hadiri menyajikan beragam kelas-kelas yang dapat dipilih. Satu kelas bertajuk “Applying Science of Learning Principles” yang dipimpin oleh Jeff Puccini yang mengajar di Thailand menarik perhatian saya. Beliau memaparkan bagaimana perilaku belajar dapat membantu kita mempelajari suatu hal yang baru. Strategi yang dapat membantu kita adalah dengan membagi pengetahuan maupun keterampilan ke dalam beberapa bagian serta membagi waktu belajar ke dalam bagian-bagian kecil, semisal 20 menit dalam sehari dapat membantu kita untuk belajar dengan lebih baik. Memberikan jarak dalam belajar juga membantu kita dalam belajar, semisal belajar sesuatu 10 menit sebelum tidur dan mengulang kembali sesaat setelah bangun tidur dapat membantu otak kita bekerja dengan lebih baik untuk ingatan jangka panjang. Di sisi lain, belajar semua hal dalam satu waktu akan membuat otak kita bekerja dengan lebih lambat, karena seperti halnya sesuatu yang bersifat elastis, otak kita perlu jeda untuk bisa menyerap segala informasi. Pada sesi plenary, Ms. Marsha J. Chan memaparkan apa yang perlu guru ketahui dalam pronounciation. Setidaknya ada tiga hal yang dipelajari. Pertama, comprehensibility, yakni mempertimbangkan persepsi pendengar terhadap seberapa mudah atau seberapa sulit dalam memahami teknik wicara. Kedua, intelligibility, kemampuan pendengar untuk memahami maksud pembicara. Ketiga, aksen. Yang perlu diperhatikan pada aksen adalah pengukuran perbedaan fonologi dari produksi wicara yang berbeda dari kedua pembicara. Terakhir, bahwa tujuan dari instruksi dalam pembelajaran pola pengucapan adalah untuk mengembangkan intelligibility  dan comprehensibility. Dari hari kedua konferensi, saya banyak belajar mengenai bagaimana mengembangkan guru dan komunitas belajarnya. Dari paparan Ngoc Nguyen dari Vietnam, saya belajar tentang bagaimana mengkolaborasikan guru, lingkungan sekitar, para ahli dan juga praktisi dalam pengembangan guru Bahasa Inggris. Sudah banyak yang saya rasa yang sudah dilakukan oleh Komunitas Guru Belajar, namun bagaimana para ahli terlibat dan bagaimana perannya perlu didefinisikan lebih baik. Selain itu, saya juga belajar pentingnya tujuan awal dari sebuah komunitas untuk berefleksi dan mengukur pencapaian hasil belajarnya. Beragam strategi diterapkan, seperti halnya survey dan interview secara mendalam, yang saya juga percaya dapat memberikan umpan baik dalam pengembangan proses dan juga programnya. Yang tidak kalah menarik adalah sesi dengan judul “PD Needs of In-service Teachers of English”. Dari Bapak Peter Beech, University of Nottingham, muncul beberapa pertanyaan dalam bagaimana pembelajaran Bahasa Inggris dilakukan sepanjang pengetahuan saya: Di sekolah, sejauh apa aspek komunikatif telah diases, dan bagaimana asesmen tersebut dilakukan? Mengapa mempelajari kosakata Bahasa Inggris terus-menerus didorong untuk dilakukan di rumah? Sesi tersebut kembali mengingatkan tentang bagaimana kelas Bahasa Inggris terus menerus dilakukan, seolah-olah dengan bisa mencongak dan melafalkan kosakata dalam Bahasa Inggris, persoalan komunikasi bisa selesai. Semoga situasi ini tidak menggambarkan kelas kita semua :). Sesi selanjutnya yang saya hadiri adalah bagaimana Bahasa Inggris diases di sekolah-sekolah di Thailand. Sesi ini merupakan penjabaran hasil riset yang dilakukan oleh Richard Watson Todd. Dua hal yang paling saya pelajari adalah bahwa asesmen dalam pembelajaran Bahasa Inggris terlalu banyak bergantung pada asesmen sumatif dan yang kedua adalah kurangnya keterbukaan pada proses asesmen tersebut. Hal ini menguatkan keyakinan bahwa perubahan hanya akan dapat terjadi apabila umpan balik terus-menerus diberikan lewat asesmen formatif sehingga murid dapat mengetahui kekurangannya dan mencari cara untuk memperbaiki dan membuat perbaikan, tanpa menunggu hasil akhir yang belum tentu menggambarkan pengetahuan dan keterampilannya secara utuh. Banyak juga hasil riset yang dipaparkan dalam konferensi ini. Hal tersebut meyakinkan saya bahwa guru dapat mengambil peran sebagai peneliti. Tidak semua hasil risetnya juga membuktikan semua asumsi yang diajukan di awal penelitian. Namun, jelas terlihat bahwa pembicara yang juga merupakan guru merasa berdaya untuk menyelesaikan persoalan di dalam kelasnya secara ilmiah, yang dapat dibuktikan dengan data. Hal tersebut tentu saja membantu guru yang hadir pada saat itu untuk dapat merefleksikan praktiknya, dan mengambil pelajaran untuk dapat diterapkan di ruang kelas.    Pengalaman belajar di ThaiTESOL memberikan banyak pencerahan dan pengukuhan terhadap pengetahuan yang saya miliki sebelumnya. Jadi, siap belajar Bahasa Inggris bersama saya? 18-19 Januari 2019ThaiTESOLThe Ambassador Hotel, Bangkok, Thailand Chusnul ChotimahManajer Akademik Head Office Sekolah & Rumah Main Cikal

Cikal PYP Exhibition : Proyek Murid yang Bermakna

“Melihat proses belajar di Cikal PYP Exhibition ini dekat sekali dengan kehidupan. Latar belakang murid membuat sebuah proyek tidak jauh dengan kehidupan mereka” ujar Ahdiyat seorang guru dari SMP Fitrah Insani yang datang bersama murid-muridnya. PYP (Primary Years Program) Exhibition adalah kegiatan tahunan bagi kelas 5 Sekolah Cikal dalam bentuk pameran. Sebelum pameran ada tahap penelitian yang dilakukan murid kelas 5. Dimulai dari menemukan isu dan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan memikirkan solusi untuk kontribusi kepada masyarakat. Bagaimana agar murid kelas 5 SD bisa menemukan isu yang ada dalam kehidupan sehari-hari? Serunya di sini, isu yang diangkat murid tidak tiba-tiba muncul, ada tahapan bernama Tuning In. Dalam #CikalPYPX tahun ini yang bertema sains, guru-guru mengajak murid untuk berkunjung ke museum IPTEK. Dengan pertanyaan-pertanyaan esensial, guru mencoba menggali inkuiri murid. Setelah Tuning In, ada tahapan Finding Out, murid mencari informasi awal berdasar pertanyaan esensial. Sorting Out, memikirkan, menganalisis, dan memvisualkan hasil observasi. Dan terakhir adalah Going Futher, tahapan di mana murid memikirkan dan merencanakan tindakan dari hasil olahan informasi. Sampai akhirnya karya bisa dilihat dalam pameran. Karena bertema sains, maka karya-karya yang ditampilkan pada Rabu dan Kamis (13 dan 14 Februari 2019) ini memiliki konsep sains. Dari proyek membuat alat untuk menurunkan kecemasan murid, kertas yang terbuat dari ubi kuning, robot yang bisa diajak latihan anggar, tangan elektronik yang dibuat karena terinspirasi atlet disabilitas, sarung tangan yang berfungsi sebagai remote control mobil, es krim yang terbuat dari sayuran dan masih banyak yang lainnya. Murid yang mengerjakan proyek ini dengan antusias menjelaskan bagaimana karya ini bisa jadi kepada pengunjung yang notabennya dari berbagai kalangan. Di sini terlihat murid memang menguasai apa yang ia lakukan. Selain itu murid tak canggung menyampaikan kegagalan yang ia lakukan selama mengerjakan proyek. Dan menuliskannya dalam kolom refleksi. Dan juga meminta umpan balik kepada para pengunjung. “Saya berharap kalau hari ini sekedar prototipe, maka suatu hari nanti apa yang dibuat anak-anak ini bisa diteruskan menjadi karya yang berdampak” ujar Emil, salah satu orangtua murid Sekolah Cikal. Apa yang saya lihat hari ini mengingatkanku kepada dua hal. Satu, teringat adegan terakhir film 3 Idiots, di mana murid-murid di sekolah yang Rancho buat, berkarya membuat alat-alat yang berguna bagi kehidupan. Kedua, teringat akan puisi karangan WS Rendra berjudul “Seonggok Jagung”. Seonggok JagungWS Rendra Seonggok jagung di kamar Dan seorang pemuda Yang kurang sekolahan Memandang jagung itu Sang pemuda melihat ladang Ia melihat petani Ia melihat panen Dan suatu hari subuh Para wanita dengan gendongan Pergi ke pasar Dan ia juga melihat Suatu pagi hari Di dekat sumur Gadis-gadis bercanda Sambil menumbuk jagung Menjadi maisena Sedang di dalam dapur Tungku-tungku menyala Di dalam udara murni Tercium bau kue jagung Seonggok jagung di kamar Dan seorang pemuda Ia siap menggarap jagung Ia melihat menggarap jagung Ia melihat kemungkinan Otak dan tangan Siap bekerja Tetapi ini Seonggok jagung di kamar Dan seorang pemuda tamat S.L.A Tak ada uang, tak bisa jadi mahasiswa Hanya ada seonggok jagung di kamarnya Ia memandang jagung itu Dan ia melihat dirinya terlunta-lunta Ia melihat dirinya ditendang dari discotheque Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase Ia melihat sainganya naik sepeda motor Ia melihat nomer-nomer lotere Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal Seonggok jagung ia di kamar Tidak menyangkut pada akal Tidak akan menolongnya Seonggok jagung di kamar Tak akan menolong seorang pemuda Yang pandangan hidupnya berasal dari buku Dan tidak dari kehidupan Yang tidak terlatih dalam metode Dan hanya penuh hafalan kesimpulan Yang hanya terlatih sebagai pemakai Tetapi kurang latihan bebas berkarya Pendidikan telah memisahkanya dari kehidupanya Aku bertanya : Apakah gunanya pendidikan Bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing Di tengah kenyataan persoalanya?? Apakah gunanya pendidikan Bila hanya mendorong seseorang Menjadi layang-layang di ibukota Kikuk pulang ke daerahnya?? Apakah gunanya seseorang Belajar filsafat,teknologi,ilmu kedokteran,atau apa saja. Ketika ia pulang ke daerahnya,lalu berkata : “disini aku merasa asing dan sepi”

Tiga pelajaran dari Nusantarun untuk Komunitas Guru Belajar

Mengubah hobi menjadi kontribusi adalah pelajaran terpenting yang saya dapatkan dari Nusantarun. Bagaimana ceritanya?  Nusantarun sebenarnya sudah tidak asing lagi. Saya mengenalnya sejak 2 tahun yang lalu dalam kerjasama program pengembangan guru sekolah inklusi SMP Permata Hati Purwokerto, bagian dari program donasi Nusantarun ke-4. Meski begitu, saya sendiri lebih banyak berkutat dalam pengelolaan program sehingga tidak banyak berinteraksi dengan tim Nusantarun.  Tahun 2018 ini berbeda, saya selaku Ketua Kampus Guru Cikal berinteraksi lebih intens dengan tim Nusantarun untuk mengembangkan program pengembangan murid disabilitas. Interaksi mulai pertemuan, siaran langsung hingga pada awal Desember 2018 yang lalu, saya hadir bersama tim Kampus Guru Cikal dalam kegiatan inti, berlari 169 km dari Wonosobo menuju Gunung Kidul. Nusantarun tahun ingin memasang target menggalang donasi sebesar 2,5 milyar untuk membiayai pengembangan murid disabilitas di Jawa Tengah dan Yogya. Dan luar biasa, target tersebut tercapai berkat perjuangan para pelari melakukan penggalangan dana. Informasi penggalangan dana Nusantarun bisa dilihat di halaman KitaBisa.com. View this post on Instagram Para Pelari, Relawan, Rekan Guru Belajar menggaungkan Lagu Indonesia Raya dipimpin rekan SLBN Temanggung _______ Malam ini, 210 Pelari NusantaRun memulai perjuangan berlari 169 km dari Wonosobo, Wates hingga Gunungkidul! Mari kita beri doa dan dukungan untuk para pelari! Serentakkan langkah demi #PendidikanUntukSemua dengan cara: 1. Posting foto selfie sendiri atau bersama murid membawa kertas/poster bertuliskan #PendidikanUntukSemua di sosial media 2. Tag akun sosial media Kampus Guru Cikal dan NusantaRun 3. Tag dan tantang minimal 3 teman untuk berpartisipasi di #PendidikanUntukSemua A post shared by Kampus Guru Cikal (@kampusgurucikal) on Dec 7, 2018 at 5:24am PST Tim Kampus Guru Cikal bersama Komunitas Guru Belajar dan murid-murid penyandang disabilitas hadir pada titik pemberangkatan, titik tengah dan titik akhir. Kami sampai di titik pemberangkatan di Wonosobo pada Kamis malam dengan mengendarai kereta sampai di Pekalongan dan dilanjutkan dengan mobil. Seusai pemberangkatan pelari, kami masih menginap di Wonosobo. Sabtu pagi meluncur ke titik tengah untuk ikut pada penerimaan dan pelepasan pelari pada titik tengah. Sabtu sore meluncur ke Gunung Kidul untuk menyambut pelari di titik akhir di Pantai Sepanjang.  Tiga hari petualangan seru bersama tim Nusatarun, para pelari, panitia, dari relawan dari berbagai komunitas. Capek pastinya, tidak terbayanng capeknya pelari, panitia dan relawan yang menyusuri sepanjang perjalanan. Senang pastinya, bisa terlibat bukan sekedar kegiatan lari, tapi kegiatan pendidikan. Tapi lebih dari itu semua, saya belajar banyak hal dari keseluruhan kegiatan Nusantarun.  Memahami kebutuhan dan aspirasi komunitas. Setiap komunitas tentu punya kebutuhan dan aspirasinya sendiri. Setiap kegiatan tentu harus berpihak pada kebutuhan dan aspirasi dari komunitas yang mengikuti kegiatan tersebut. Dari kegiatan Nusantarun, saya belajar menyiapkan kegiatan yang bisa memenuhi kebutuhan dan aspirasi komunitas guru. Bukan sekedar diangankan atau kebutuhan yang bersifat umum, tapi ditulis secara rinci. Bukan sekedar menyiapkan, tapi juga menata alur penggunaannya secara sistematis. Semuanya akan berujung pada pengalaman pengguna yang memuaskan. Melibatkan pemangku kepentingan dalam kegiatan berlari. Sama sekali tidak menduga, ternyata banyak sekali pemangku kepentingan yang terlibat dalam kegiatan Nusantarun. Ada banyak peran yang disediakan untuk para pemangku kepentingan. Siapa saja pemangku kepentingan? Ada komunitas, perusahaan, dan lembaga lokal. Kuncinya pada memberi peran yang tepat pada pemangku kepentingan. Saya membayangkan bahwa panitia tidak menyiapkan penawaran standar yang berlaku umum. Penawaran selalu mengacu pada kekuatan dari pemangku kepentingan.  Mengubah hobi menjadi berkontribusi. Ini pelajaran paling penting. Nusantarun berangkat dari sekelompok pelari yang peduli pada pendidikan. Mereka berpikir bagaimana dari hobi berlari bisa menjadi kontribusi terhadap pendidikan. Lahirlah format lari Nusantarun yang menggabungkan berlari dengan kontribusi. Para pelari memasang target donasi untuk dipenuhi sebagai syarat mengikuti Nusantarun. Bayangkan, mereka menggalang donasi untuk bisa berlari 169 Km. Luar biasa! Dan Nusantarun berhasil mengubah kegiatan berlari menjadi kegiatan berkontribusi. Dari hobi menjadi kontribusi. Itulah 3 pelajaran yang saya dapatkan dari Nusantarun. Dalam konteks pekerjaan, harapannya pelajaran tersebut bisa digunakan oleh Komunitas Guru Belajar dalam menyelenggarakan konferensi tahunan, Temu Pendidik Nusantara 2019. Dalam konteks personal, jadi tantangan buat saya bagaimana mengubah hobi bisa menjadi kontribusi terhadap pendidikan. Terima kasih Nusantarun untuk pelajarannya. Bagaimana hobi Anda bisa diubah menjadi kontribusi terhadap pendidikan?

Berlari dan Berkontribusi untuk Pendidikan Murid Disabilitas

“Saya tidak pernah absen menjadi pelari sekaligus fundriser NusantaRun sejak chapter pertama. Awalnya saya pikir kaki saya bisa copot setelah mengikuti NusantaRun yang menempuh puluhan bahkan ratusan kilometer.”, Sandy, salah satu pelari NusantaRun chapter 6 bercerita tentang pengalamanya berlari di NusantaRun. NusantaRun Chapter 6 adalah perhelatan tahunan yang mengusung ultra marathon for charity. Bukan sekadar event lari, namun juga wujud nyata pelari dalam berkontribusi untuk pendidikan di Indonesia. “Jika para pelari ingin berlari, banyak event yang bisa diikuti. Kalau pelari mau ikut event lari sekaligus bisa berkontribusi, bisa melakukannya di NusantaRun” ujar Chirtopher Tobing, co-founder NusantaRun. Dalam event lari NunsantaRun selain berlari, para pelari tidak hanya berlari puluhan kilometer. Namun juga menggalang donasi. Untuk chapter 6 ini penggalangan donasi dimulai sejak 24 Agustus 2018 dan akan berakhir 11 januari 2019. Adapun target yang ingin dicapai NusantaRun adalah sebesar 2,5 milyar. Donasi tersebut akan digunakan untuk program Pengembangan Pendidikan Murid Penyandang Disabilitas di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal. Berdasarkan riset potret pendidikan  inklusi di dua provinsi tersebut sudah ada arah untuk mengembangkan pendidikan inklusi, ini terlihat dari kebijakan dan pertaturan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. Namun di lapangan, implementasi kebijakan tersebut masih jauh dari harapan. “Melalui program tersebut kami berharap ada contoh nyata keberhasilan pendidikan inklusi yang dapat meyakinkan orangtua, guru, dan masyarakat luas mengenai potensi murid penyandang disabilitas”, ujar Najelaa Shihab, pendiri Kampus Guru Cikal Najelaa Shihab menyebut bahwa ada tiga pilar utama untuk program yang akan dijalankan yaitu : 1) menyiapkan guru bimbingan karier yang bisa mengarahkan dan memberi dukungan bagi anak penyandang disabilitas, 2) pengembangan Komunitas Komunitas Guru Belajar Bimbingan Karier sebagai sistim dukungan bagi murid penyandang disabilitas, dan 3) pengembangan diri dan penyediaan beasiswa pendidikan tinggi bagi murid penyandang disabilitas. Pada chapter 6 ini akan dilaksanakan dari tanggal 7 Desember hingga 9 Desember 2018. Ada dua kategori yang akan ditempuh pelari, yaitu half course (86 km) dan full course (169 km) yang akan berjuang menuju garis finish di Pantai Sepanjang, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Walaupun menuju garis finish yang sama, namun kedua kategori tersebut memulai lari dari garis start yang berbeda. Pelari kategori full course akan mulai berlari di garis start yang berada di Kledung Pass Hotel, Wonosobo, Jawa Tengah dan pelari half course akan mulai berlari di garis start yang berada di Kantor Kepala Desa Karangwuni, Wates, Daerah Istimewa Yogyakarta. “Untuk  chapter 6 ini saya sudah menyiapkannya dari bulan Januari tahun ini. Mulai darilatihan 5 km, 10 km dan juga mengikuti beberapa race.” Ujar Irene peserta lariNusantaRun 6 ini yang tidak pernah melewatkan ajang lari ini. Kolaborasi dari berbagai pihak dalam mendorong kemajuan pendidikan bagi penyandang disablitias menjadi semangat yang ingin disebarkan NusantaRun tahun ini. “Kami meyakini bahwa siapapun dapat berkontribusi memajukan pendidikan Indonesia. Dengan semangat power of contribution serta fokus terhadap isu pendidikan bagi penyandang disabilitas, kami berharap dapat membuka mata banyak orang bahwa sejatinya pendidikan harus dapat diakses oleh siapapun tanpa terkecuali.’ Kata Cristopher. “Benar, bahwa kolaborasi antarpihak yang dilakukan oleh NusantaRun ini penting. Karena pendidikan bukan sekedar urusan guru dan murid yang berkecimpung langsung di masyarakat, namun juga urusan bersama” ujar Najelaa Shihab.

Hibernasi dan Berefleksi

Would you know my nameIf I saw you in heavenWill it be the sameIf I saw you in heavenI must be strong,and carry onCause I knowI don’t belong Here in heaven Lagu lawas dari Eric Clapton itu mengiringiku menulis pagi ini. Lagu yang bersejarah bagi Eric. Tanggal 20 Maret 1991, Connor Clapton anaknya meninggal karena jatuh dari sebuah apartemen. Hari itu sampai 9 bulan setelahnya Eric berkabung. Eric sangat-sangat terpukul kehilangan anak. Ia berdiam diri di rumah, ia memilih untuk tidak tampil, ia konsentrasi kepada apa yang baru menimpanya. Sembilan bulan setelahnya, ia kembali. Eric kembali dengan perbedaan. Musiknya lebih lembut, reflektif dan kuat. Salah satunya ia tunjukkan di lagu Tears in Heaven, lagu yang ia tujukkan untuk Connor Clapton. “Sering kali kita memang butuh berdiam diri, merefleksikan apa yang dilakukan dan memulai kembali dengan semangat yang baru” Itulah mengapa tim Kampus Guru Cikal Jumat, 16 November 2018 melakukan sebuah perjalanan ke Honje Ecolodge di Ujung Kulon. Salah satunya adalah untuk berefleksi. Setiap hari dihadapkan dengan Komunitas Guru Belajar yang ada di 145 daerah dengan beragam aktivitasnya dari Temu Pendidik Daerah, Temu Pendidik Mingguan, Temu Pendidik Nusantara, Surat Kabar Guru Belajar, Guru Promotor, konten harian, penggerak. Tiap hari ada puluhan percakapan di grup, media sosial. Ini yang saya salut dari teman-teman di Kampus Guru Cikal. Bergerak setiap hari. Dan kami memang membutuhkan waktu untuk berdiam. Waktu untuk berefleksi dari semua itu. Jumat siang itu kami memutuskan untuk melakukan perjalanan yang berbeda. Kami bisa saja menyewa mobil dan tidur sampaillah kami di tempat yang kami tuju. Tapi kami memilih naik KRL kemudian disambung naik angkot. Tapi yang terjadi dalam perjalanan tersebut sungguh luar biasa. Banyak obrolan yang kami lakukan. Belum sampai lokasinya saja, banyak refleksi dari obrolan singkat nan bermakna. Seperti yang saya tulis di awal, bahwa kegiatan kami ke Ujung Kulon adalah refleksi. Maka tiap aktivitas pun dirancang agar kami berefleksi. Nah mungkin ide-ide di bawah ini bisa di-ATM (Amati – Tirukan –Modifikasi) di sekolah Bapak Ibu untuk melakukan refleksi. A. Hunting Foto Bukan sekadar hunting foto, tapi hunting foto bermakna. “Ya jadi dalam hunting foto ini masing-masing harus mengambil dua foto. Satu foto tentang ‘perubahan positif’ dan satunya lagi tentang ‘harapan’. Kemudian nanti kita presentasikan ya! Waktunya satu jam dalam mengambil foto.” Kami pun menyebar untuk mencari foto yang sesuai  dua frasa tersebut. Ada yang ke bagian barat pantai, ada yang ke timur, ada yang masuk ke dalam penginapan, ada yang berdiam diri. Semua mencari foto sambil menikmati ‘waktu sendiri’. Akhirnya seperti waktu yang ditentukkan, kami pun berkumpul di gazebo depan penginapan untuk membahas foto yang diambil. Ada yang mengambil gambar karang, pohon, buku, kano. Satu per satu anggota KGC mempresentasikan hasil jepretannya. “Aku tu ambil foto ini karena mpresentasikan perubahan positif aku semenjak di KGC…..” “Nah ini adalah harapanku ke depan, kayak penginapan kita ini. Mmebangun namun tidak menggerus…” Senang sekali mendengar hasil presentasi teman-teman.   B. Mengutarakan “Tampak seperti dan tidak tampak seperti” Nah setelah sesi foto, masih di tempat yang sama. Pak Maman meminta kami untuk mengungkapkan apa yang sudah sesuai dan tidak sesuai dengan prinsip Cikal. “Medianya bebas apa saja, boleh menggambar, boleh menulis, boleh juga menyanyi” Kami pun melakukan apapun yang membuat kami nyaman mengungkapkanya. Dari sesi ini akhirnya aku pribadi tahu, masih banyak sekali hal yang kurang selama ini. Masih banyak evaluasi yang perlu diperbaiki. Dan masukan teman-teman menambah semakin tahu apa yang perlu diperbaiki ke depannya. C. Menggambar Malam hari, kami semua di kumpulkan di depan penginapan untuk sesi berikutnya. Kalau sebelumnya adalah sesi refleksi individu, sekarang sesi refleksi ketua KGC, yaitu mas Bukik. Kami diminta menggambar apa saja yang menggambarkan ketua KGC, pun dengan pemilihan warna spidol, harus memiliki arti. Ada yang gambar pohon, ada yang gambar tangga, dan lain sebagainya. Aku pribadi menggambar tangga, karena aku merasa banyak tantangan baru saat mas Bukik menjadi ketua KGC, dan tantangan-tantangan itu semakin membuatku belajar. Selain hal positif, kami juga mengutarakan hal-hal evaluasi mas Bukik sebagai ketua. Seneng banget karena dari sini bisa lebih leluasa mengutarakan apapun. Dan suka dengan apa yang mas Bukik lakukan. Suatu saat kalau jadi pemimpin akan kayak dia ah.. hehhe D. Tukar Kado Setelah sesi refleksi ketua KGC, kegiatan berikutnya yaitu tukar kado. Kami telah menyiapkan kado sebelumnya, dan malam itu kado kami saling ditukar. Kadonya lucu-lucu. Tapi rahasia ya. Dari sesi ini kami merasa semakin dekat satu sama lain di tim KGC. E. Truth and Dare Ini adalah aktivitas yang menakutkan buatku. Dengan botol di tengah, setiap orang berhak memutarkan botol tersebut secara bergantian. Setelah botol diputar, dan ujung botol mengarah ke seseorang, maka seseorang tersebut harus melmilih untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pemutar botol dengan jujur atau memilih melakukan aktivitas yang diinginkan oleh pemutar botol. Ini sesi yang membuat kami tertawa bersama malam itu. Membuat kami semakin tahu satu sama lain. Dan entah kenapa 2 hari tersebut benar-benar membuat kami semakin semangat untuk bareng-bareng berjuang bersama mendampingi teman-teman Komunitas Guru Belajar. Seperti Eric Clapton, semoga apa yang kami lakukan bisa membuat kami benar-benar berefleksi dan melakukan hal dengan lebih baik dalam mendampingi teman-teman KGB.