Hibernasi dan Berefleksi

Would you know my nameIf I saw you in heavenWill it be the sameIf I saw you in heavenI must be strong,and carry onCause I knowI don’t belong Here in heaven Lagu lawas dari Eric Clapton itu mengiringiku menulis pagi ini. Lagu yang bersejarah bagi Eric. Tanggal 20 Maret 1991, Connor Clapton anaknya meninggal karena jatuh dari sebuah apartemen. Hari itu sampai 9 bulan setelahnya Eric berkabung. Eric sangat-sangat terpukul kehilangan anak. Ia berdiam diri di rumah, ia memilih untuk tidak tampil, ia konsentrasi kepada apa yang baru menimpanya. Sembilan bulan setelahnya, ia kembali. Eric kembali dengan perbedaan. Musiknya lebih lembut, reflektif dan kuat. Salah satunya ia tunjukkan di lagu Tears in Heaven, lagu yang ia tujukkan untuk Connor Clapton. “Sering kali kita memang butuh berdiam diri, merefleksikan apa yang dilakukan dan memulai kembali dengan semangat yang baru” Itulah mengapa tim Kampus Guru Cikal Jumat, 16 November 2018 melakukan sebuah perjalanan ke Honje Ecolodge di Ujung Kulon. Salah satunya adalah untuk berefleksi. Setiap hari dihadapkan dengan Komunitas Guru Belajar yang ada di 145 daerah dengan beragam aktivitasnya dari Temu Pendidik Daerah, Temu Pendidik Mingguan, Temu Pendidik Nusantara, Surat Kabar Guru Belajar, Guru Promotor, konten harian, penggerak. Tiap hari ada puluhan percakapan di grup, media sosial. Ini yang saya salut dari teman-teman di Kampus Guru Cikal. Bergerak setiap hari. Dan kami memang membutuhkan waktu untuk berdiam. Waktu untuk berefleksi dari semua itu. Jumat siang itu kami memutuskan untuk melakukan perjalanan yang berbeda. Kami bisa saja menyewa mobil dan tidur sampaillah kami di tempat yang kami tuju. Tapi kami memilih naik KRL kemudian disambung naik angkot. Tapi yang terjadi dalam perjalanan tersebut sungguh luar biasa. Banyak obrolan yang kami lakukan. Belum sampai lokasinya saja, banyak refleksi dari obrolan singkat nan bermakna. Seperti yang saya tulis di awal, bahwa kegiatan kami ke Ujung Kulon adalah refleksi. Maka tiap aktivitas pun dirancang agar kami berefleksi. Nah mungkin ide-ide di bawah ini bisa di-ATM (Amati – Tirukan –Modifikasi) di sekolah Bapak Ibu untuk melakukan refleksi. A. Hunting Foto Bukan sekadar hunting foto, tapi hunting foto bermakna. “Ya jadi dalam hunting foto ini masing-masing harus mengambil dua foto. Satu foto tentang ‘perubahan positif’ dan satunya lagi tentang ‘harapan’. Kemudian nanti kita presentasikan ya! Waktunya satu jam dalam mengambil foto.” Kami pun menyebar untuk mencari foto yang sesuai  dua frasa tersebut. Ada yang ke bagian barat pantai, ada yang ke timur, ada yang masuk ke dalam penginapan, ada yang berdiam diri. Semua mencari foto sambil menikmati ‘waktu sendiri’. Akhirnya seperti waktu yang ditentukkan, kami pun berkumpul di gazebo depan penginapan untuk membahas foto yang diambil. Ada yang mengambil gambar karang, pohon, buku, kano. Satu per satu anggota KGC mempresentasikan hasil jepretannya. “Aku tu ambil foto ini karena mpresentasikan perubahan positif aku semenjak di KGC…..” “Nah ini adalah harapanku ke depan, kayak penginapan kita ini. Mmebangun namun tidak menggerus…” Senang sekali mendengar hasil presentasi teman-teman.   B. Mengutarakan “Tampak seperti dan tidak tampak seperti” Nah setelah sesi foto, masih di tempat yang sama. Pak Maman meminta kami untuk mengungkapkan apa yang sudah sesuai dan tidak sesuai dengan prinsip Cikal. “Medianya bebas apa saja, boleh menggambar, boleh menulis, boleh juga menyanyi” Kami pun melakukan apapun yang membuat kami nyaman mengungkapkanya. Dari sesi ini akhirnya aku pribadi tahu, masih banyak sekali hal yang kurang selama ini. Masih banyak evaluasi yang perlu diperbaiki. Dan masukan teman-teman menambah semakin tahu apa yang perlu diperbaiki ke depannya. C. Menggambar Malam hari, kami semua di kumpulkan di depan penginapan untuk sesi berikutnya. Kalau sebelumnya adalah sesi refleksi individu, sekarang sesi refleksi ketua KGC, yaitu mas Bukik. Kami diminta menggambar apa saja yang menggambarkan ketua KGC, pun dengan pemilihan warna spidol, harus memiliki arti. Ada yang gambar pohon, ada yang gambar tangga, dan lain sebagainya. Aku pribadi menggambar tangga, karena aku merasa banyak tantangan baru saat mas Bukik menjadi ketua KGC, dan tantangan-tantangan itu semakin membuatku belajar. Selain hal positif, kami juga mengutarakan hal-hal evaluasi mas Bukik sebagai ketua. Seneng banget karena dari sini bisa lebih leluasa mengutarakan apapun. Dan suka dengan apa yang mas Bukik lakukan. Suatu saat kalau jadi pemimpin akan kayak dia ah.. hehhe D. Tukar Kado Setelah sesi refleksi ketua KGC, kegiatan berikutnya yaitu tukar kado. Kami telah menyiapkan kado sebelumnya, dan malam itu kado kami saling ditukar. Kadonya lucu-lucu. Tapi rahasia ya. Dari sesi ini kami merasa semakin dekat satu sama lain di tim KGC. E. Truth and Dare Ini adalah aktivitas yang menakutkan buatku. Dengan botol di tengah, setiap orang berhak memutarkan botol tersebut secara bergantian. Setelah botol diputar, dan ujung botol mengarah ke seseorang, maka seseorang tersebut harus melmilih untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pemutar botol dengan jujur atau memilih melakukan aktivitas yang diinginkan oleh pemutar botol. Ini sesi yang membuat kami tertawa bersama malam itu. Membuat kami semakin tahu satu sama lain. Dan entah kenapa 2 hari tersebut benar-benar membuat kami semakin semangat untuk bareng-bareng berjuang bersama mendampingi teman-teman Komunitas Guru Belajar. Seperti Eric Clapton, semoga apa yang kami lakukan bisa membuat kami benar-benar berefleksi dan melakukan hal dengan lebih baik dalam mendampingi teman-teman KGB.

Memang Beda, Tapi Kami Memilih Jalan Bersama

Berangkat dari arah berbeda, kami berkumpul di Stasiun Rawa Buntu, menuju satu tujuan, melakukan refleksi bersama. Saya berangkat dari Kantor Pusat Cikal di Cilandak. Amel, anggota terbaru kami, berangkat dari kos seusai penerbangan Lombok – Jakarta. Empat anggota tim yang lain, Baja, Rizqy, Mahayu dan Maman berangkat dari kantor kami. Lengkap lah enam orang tim Kampus Guru Cikal. Kami berenam merasakan terik siang yang sama, terik yang menusuk kulit kepala. Kami menantikan kereta yang sama, kereta yang akan membawa kami ke Ujungkulon, menuju Honje Ecoledge.  Kami berenam memang berasal dari daerah yang berbeda, dua berasal dari Jawa Timur, dua berasal dari Jawa Tengah, satu dari Jakarta dan satu dari Sumatera. Kami berbeda pula masa bergabungnya di Kampus Guru Cikal. Baja dan saya adalah anggota terlama, disusul oleh Rizqy. Awal tahun ini bergabung Mahayu, dan semester ini, Maman dan Amel baru saja bergabung. Meski bekerja di kantor yang sama, kami menjalankan peran yang berbeda. Saya dan Amel di Manajemen Belajar, Mahayu dan Baja di Pelibatan Komunitas, sementara Rizqy dan Maman di Manajemen Pengetahuan. Bila mau mencari perbedaan kami, sama sekali tidak susah. Dari hal-hal yang kasat mata saja sudah berbeda, belum lagi bicara keterampilan, minat, aspirasi, kepribadian dan cita-cita. Kami memang beda. Tapi Jumat siang itu, kami bersepakat melakukan perjalanan, tujuan dan cara yang sama. Perjalanan refleksi akhir tahun.  Di dunia perhotelan dikenal istilah peak season. Begitu kiranya akhir tahun bagi kami, lembaga pengembangan karier guru. Selepas Temu Pendidik Nusantara, kami sudah dihadapkan dengan berbagai proyek, di luar misi utama kami menemani Komunitas Guru Belajar. Proyek literasi Pesisir Selatan dan proyek bersama IniBudi di ujung selesai. Kami sudah dinanti proyek literasi di Jawa Timur (2 daerah), proyek pengembangan guru PAUD di NTB (2 daerah), proyek pengembangan murid penyandang disabilitas bersama Nusantarun (2 – 3 daerah), proyek Foundation Program untuk penyiapan guru baru Cikal (1 daerah) dan proyek Temu Pendidik Nusantara 2019 (9 daerah). Satu tim, enam orang, tujuh proyek dan banyak daerah 🙂 Apa yang harus kami lakukan? Alih-alih ngebut mengerjakan proyek, kami memilih berhenti, karena sadar jalan masih panjang. Perjalanan panjang butuh banyak bekal. Bekal sebagai tim berupa pengalaman positif bersama, pengalaman yang layak diperbincangkan bertahun-tahun kemudian.  Dua hari sebelumnya, kami memutuskan menggunakan voting untuk menentukan moda transportasi. Empat dari kami memilih moda transportasi kereta kemudian baru memikirkan di tempat tujuan antara. Pilihan nekat karena perjalanan panjang yang menuntut berganti moda transportasi. Itulah kenapa di siang yang terik ini justru kami berkumpul di stasiun Rawa Buntu menuju stasiun terakhir di Rangkas Bitung.  Tantangan pertama berdiri di kereta hampir dua jam. Sudah dihajar panas terik, lanjut berdiri pula. Lima dari kami ngobrol iseng, satu yang lain membaca buku dari penulis favoritnya. Sampai di Rangkas Bitung, kami keluar dari stasiun dan mulai mencari kendaraan untuk melanjutkan perjalanan 4 jam menuju Ujungkulon. Kami menuju terminal, mencari mobil bak terbuka atau angkutan umum yang mau disewa. Cari sana sini, akhirnya kami memilih seorang sopir angkutan umum untuk menemani perjalanan kami. Awalnya kami mau diantar ke terminal Mandala untuk mencari kendaraan ke arah Ujung Kulon, tapi di sepanjang perjalanan terjadi obrolan disertai tawar menawar. Akhirnya sang bapak bersedia mengantar sampai ke tempat tujuan.  Dua jam pertama perjalanan penuh semangat. Mobil angkot yang kami tumpangi melaju pada kecepatan rata-rata 50 km/jam, kecuali di 1 – 2 titik tertentu. Kami pun masih penuh semangat, obrolan ringan disertai karaoke tembang kenangan *eh. Satu jam berikutnya, keadaan sudah mulai sunyi. Pak sopirnya pun sesekali lepas konsentrasi yang mengakibatkan angkotnya melompat sekali dua kali di jalan dan jembatan yang memberi kejutan. Mulai bertanya, apakah masih jauh? Mana tujuan sebenarnya? Pertanyaan yang mengusik di perjalanan yang semakin banyak diwarnai tanjakan dan turunan curam.  Satu jam terakhir, suasana terus menurun. Pak sopir mulai bicara ditunggu temannya. Jalan semakin sempit. Dan banyak sekali bagian badan jalan yang rusak parah. Kecepatan maksimal 30 km/jam, kecepatan rata-rata turun menjadi 15 km/jam, karena seringkali kendaraan terpaksa berjalan 5 – 10 km/jam karena jalan yang rusak. Saya sudah berpikir apa jadinya bila Pak Sopir menolak melanjutkan perjalanan. Akankah kami jalan kaki menembus hutan yang gelap? Pak Sopirnya sendiri sudah mengeluh tidak berani balik pulang sendiri. Bukan takut pada orang, tapi takut pada penghuni hutan. Entah apa  Setelah menempuh satu jam menegangkan, kami pun tiba di Honje Ecoledge sekitar pukul 8 malam. Legaaaaaa……… Kami disambut makan malam yang nikmat. Atau karena kami lapar setelah bergoncang di angkot selama 4 jam?  Setelah sebagian mandi (tebak siapa?), sebagian lagi tetap duduk santai. Malam itu, acara tidak sesuai rencana. Kami memilih duduk di beranda rumah penginapan. Topik obrolan tentang fiml dan serba-serbinya. Tanpa terasa sudah hampir tengah malam. Kami pun masuk ke tiga kamar di rumah penginapan.  Apa artinya waktu berhenti? Itu lah yang saya rasakan pada hari Sabtu di Honje. Pagi subuh sebagian dari kami sudah di tepi pantai yang sepelemparan batu dari rumah penginapan. Tepat sesuai jadwal, Baja memimpin kami untuk senam pagi. Senam sebentar dan kemudian lanjut melakukan aktivitas pantai bagi yang mau. Sebentar saja, ketua panitia sudah memanggil. Kami pun makan dan mandi pagi untuk memulai sesi refleksi personal.  Kami diminta untuk berburu dua foto yang menggambarkan perubahan positif yang kami alami dan harapan di masa mendatang. Waktunya satu jam. Saya memanfaatkan waktu dengan berburu foto ke area pantai yang belum saya kunjungi pada dua kunjungan sebelumnya. Area pantai yang ditumbuhi pohon, sebagian diantaranya pohon bakau. Saya dibuat kagum oleh sejumlah pohon. Ada satu pohon yang tegak lurus berdiri meski sendiri dikelilingi air laut. Ada tiga pohon yang berdiri sejajar, seolah bergandengan tangan menghadang ombak. Keduanya saya foto dan ceritakan di sesi refleksi personal.  Saya punya banyak teman sepemikiran. Saya pun dulu mendidik mahasiswa untuk memenuhi panggilan hidup, mengaktualkan potensi dan mengejar cita. Tidak banyak yang bertahan. Lebih banyak memilih bekerja semata mendapatkan uang. Ketika muda, mahasiswa saya bertanya tentang idealisme. Semakin lama, semakin jarang dan memilih jalan kompromi. Awalnya kompromi untuk tetap jadi idealis, makin lama kompromi hanya demi kompromi, menjadi satu. Teman dari masa lalu menjadi semakin sedikit yang sejalan. Terlebih masuk dunia pendidikan. Pendidikan menumbuhkan adalah jalan yang sepi. Mayoritas masyarakat, bukan saja … Read more

Membela Bu Ela

Kenapa bu Ela harus dibela? Bukan karena Bu Ela tidak berdaya. Sebaliknya, karena berdaya maka tidak boleh dibiarkan sendiri.   Saya sudah tiba di Makassar. Tiga hari di Jakarta mengikuti Temu Pendidik Nusantara 2018. Beasiswa penuh. Semua transportasi dan penginapan ditanggung panitia. Ucap syukur pada kawan-kawan panitia. Sebagai peserta beasiswa, saya berkewajiban membagi pengetahuan, keterampilan dan pengalaman baru selama Temu Pendidik Nusantara. Catatan ini dimaksudkan untuk maksud di atas. Puncak Temu Pendidik Nusantara 2018 dipusatkan di GOR PKP Jakarta Timur. Saya duduk di area 1 C dari tiga area yang disiapkan panitia. Duduk paling depan bersama guru dari KGB Wajo dan perwakilan PGRI.  Di area yang saya tempati dipenuhi kawan-kawan guru dari berbagai daerah di Indonesia.  Acara utama dimulai. Ibu Najelaa Shihab tampil ke panggung utama. Panggungnya luas. Di lantai, terpampang tiga kata: inspirasi, aksi dan refleksi. Tulisan itu adalah pesan. Guru adalah sumber inspirasi di kelas. Untuk menginspirasi, guru terus menerus melakukan aksi-aksi. Dengan apa?  Pembaruan cara mengajar. Setiap guru harus membekali dirinya dengan beragam penguasaan keterampilan mengajar. Jika tidak, cepat atau lambat guru akan ditinggalkan para pengikut.  Muaranya adalah refleksi. Apakah aksi yang sudah dilakukan berdampak atau tidak. Dampaknya bisa besar atau kecil. Harus diukur. Hasil pengukuran akan  menentukan tindakan selanjutnya. Begitulah guru yang merdeka belajar menunaikan tugasnya.  Bukan Ibu Ela yang menyampaikan. Saya yang menafsirnya begitu. Apa yang diucapkan ibu Ela sebagai penggagas TPN tidak mudah saya ingat dengan baik. Saya tidak bisa mengandalkan ingatanku yang bermasalah. Mencatat semua yang beliau sampaikan akan menyulitkanku fokus  dan bertepuk tangan.  Saya tidak bisa menahan haru ketika  ibu Ela mengajak ibu Rahmi dan Ibu Wanti  naik ke panggung. Lelaki macam apa saya: kumisan plus cambang, duduk paling depan tapi berlinang air mata. Percayalah, jika hati bapak-ibu masih ditempatnya, akan mengalami hal yang sama.  Ibu Rahmi dari Pesisir Selatan. Ibu Wanti dari Sanggau. Keduanya mengajar di pedalaman, akses yang terbatas. Jika hujan, Ibu Wanti berjalan kaki cukup jauh untuk sampai di sekolahnya. Saya tidak bisa menahan tangis melihat gambar ibu Wanti mendorong motor di jalan berlumpur. Lumpurnya sampai di lutut. Cerita ibu Rahmi juga menyedihkan. Saya belajar, fasilitas  bukan segalanya. Ibu Ela benar, guru-murid adalah sekutu utama. Ibu Rahmi dan Bu Wanti sudah menunaikan tugasnya sebagai guru yang merdeka belajar.  Kenapa bu Ela harus dibela? Bukan karena Bu Ela tidak berdaya. Sebaliknya, karena berdaya maka tidak boleh dibiarkan sendiri.  Perjuangannya tentang kemerdekaan belajar harus dibagi di seluruh pelosok negeri. Semua guru semua murid harus terasa di setiap ruang waktu. Ibu Najelaa telah memilih berdiri di sisi bu Rahmi dan Bu Wanti, memperjuangkan cita guru yang merdeka belajar. Mendengarkan cerita ibu Najelaa, serasa dibawa kembali masa silam, hadir pada pertemuan Selasa Kliwon  di Puri Pakualaman. Rumah pendiri taman siswa. Ada kegelisahan dan juga banyak harapan. Ki Hajar Dewantara prihatin dengan kemerdekaan berpikir para peserta didik. Ki Hajar kukuh berjuang pada tiga hal: bahwa pendidikan harus mencakup wilayah yang luas. Bahwa perjuangan itu menuntut kemandirian. Bahwa Pendidikan kita harus mengajarkan sistem ketahanan diri.  Guru berdaya tidak lahir dengan tiba-tiba. Guru harus bersentuhan dengan beragam peristiwa dan kesulitan. Semua guru mesti membangun banyak relasi dan hubungan dengan rekan sesama guru di banyak tingkatan. Ini akan menguatkan sekaligus mengayakan. Taman Siswa adalah dialektika. Temu Pendidik Nusantara juga begitu. Kolaborasi dengan banyak unsur adalah kemestian. Karena alasan itulah saya ingin berdiri bersama ibu Ela, Ibu Wanti dan juga Bu Rahmi. Perjalanan dari GOR PKP ke Bandara butuh waktu 1 jam 45 menit. Saya baca di aplikasi transportasi. Saya percaya dampak TPN pada guru, tapi tidak dengan waktu tempuh  perjalanan di Jakarta. Kepastian jarak tempuh di Jakarta hanya Tuhan yang tahu. Karena kepercayaan ini, saya tidak sempat pamit pada panitia. Terima kasih saya ucapkan pada panitia Temu Pendidik Nusantara 2018. Makassar, 8 Oktober 2018 Tulisan ini pertama dipublikasikan sebagai status Facebook.

Belajar Menjadi Guru Belajar

Awal tahun 2015, saya janjian ketemu dengan dua pendidik perempuan, Najelaa Shihab dan Tari Sandjojo di sebuah cafe di pusat Jakarta. Sambil sesekali menghirup minuman, kami membicarakan berbagai kemungkinan kerjasama untuk melakukan perubahan pendidikan. Hasil pembicaraan tersebut, saya bergabung di Cikal. Saya bergabung di Cikal sejak 1 Mei 2015, tepatnya di Lifelong Learning – School of Education (LLE), lembaga Cikal yang bergerak melakukan pelatihan guru, yang sekarang lebih dikenal sebagai Kampus Guru Cikal. Peran saya sebagai Manajer Pengembangan yang bertanggung jawab melakukan persiapan pendirian pendidikan S1 guru. Sebuah rencana yang sampai saat ini masih menjadi rencana karena terkendala moratorium ijin pendirian pendidikan keguruan. Cerita awalnya bisa dibaca di sini. Pada awalnya, komitmen saya bertahan di Cikal adalah dua tahun, dengan asumsi tanggung jawab bisa selesai dalam 2 tahun. Sekarang sudah lebih dari 3 tahun dan saya memilih bertahan di Cikal. Apa yang membuat saya bertahan di Cikal? Judul tulisan ini adalah jawaban singkatnya, belajar menjadi guru belajar. Jawaban panjangnya akan saya coba uraikan Belajar pendidikan menumbuhkan Ketika dikenalkan dengan tim Cikal, biasanya saya dikenalkan sebagai penulis buku Anak Bukan Kertas Kosong dan tentu ada ekspresi kagum. Padahal ketika saya mengikuti Foundation Training, pelatihan untuk tim baru Cikal, saya justru belajar banyak sekali tentang pendidikan menumbuhkan. Belajar pendidikan bukan dari para ahli, tapi dari guru yang mempraktikkan pendidikan menumbuhkan setiap hari. Apa yang dulu menjadi angan-angan ideal, saya saksikan di kenyataan. Pengalaman tentang Fondation Training bisa dibaca di sini. Saya belajar disiplin positif, pendekatan untuk menumbuhkan kedisiplinan tanpa hukuman dan sogokan. Saya belajar strategi inkuiri, pendekatan untuk memandu murid menemukan pemahaman yang esensial. Saya belajar diferensiasi, pendekatan untuk mengembangkan cara pengajaran yang beragam berpusat pada murid. Saya belajar asesmen, pendekatan untuk memberi umpan balik pada murid dan guru sepanjang proses belajar. Saya belajar service learning, pendekatan untuk memandu murid menyelesaikan persoalan nyata di kehidupan. (Di kemudian hari, poin-poin yang saya pelajari ini disebut sebagai Cara Mengajar 5M). Jangan bayangkan kerumitannya. Saya belajar hal sederhana. Dulu ketika jadi fasilitator, saya mengajak peserta yang orang dewasa melakukan refleksi. Ternyata di Cikal, saya dibuat kagum dengan hasil refleksi yang dilakukan murid, bahkan pada kelas kecil. Saya baca hasil refleksi para murid yang ditempel di dinding kelas, dan membayangkan semangat belajar dibalik tulisan tersebut. Saya belajar dari sebuah sekolah yang bisa memberi contoh baik untuk guru maupun sekolah yang lain. Belajar bersama guru dari penjuru nusantara Saya lupa persisnya, tapi yang jelas di antara sejumlah obrolan dengan Najelaa Shihab, tercetus gagasan mengembangkan komunitas guru. Satu kalimat yang saya ingat, “Kita ingin anak-anak di seluruh Indonesia bisa mendapatkan pendidikan berkualitas seperti Cikal, dengan maupun tanpa harus masuk Cikal”. Dari cita-cita itu, Cikal menginisiasi komunitas guru yang disebut Komunitas Guru Belajar. Namanya sederhana, tiga kata esensial yang menggambarkan cita dan cara. Cita dan cara yang dirumuskan dalam buku Panduan Komunitas Guru Belajar 1.0. Saya pun mulai menghubungi teman-teman yang menjadi guru di berbagai daerah. Saya jelaskan misi komunitas, manfaat dan aktivitasnya. Seorang teman di Sorowako, Bu Hesti, tertarik bergabung dan mengadakan Temu Pendidik pertama yang mengikuti Panduan Komunitas Guru Belajar. Saya berangkat ke Sorowako melalui dua penerbangan. Kisah Temu Pendidik Sorowako bisa dibaca di sini. Kiprah Komunitas Guru Belajar Sorowako menjadi bahan cerita sehingga akhirnya beberapa teman tertarik dan terlibat dalam pendirian Komunitas Guru Belajar. Mereka bersama rekan guru yang lain dari 10 daerah pada akhirnya ikut deklarasi pendirian Komunitas Guru Belajar yang dilakukan pada Temu Pendidik Nusantara 2015. Dan semenjak itu, saya melakukan perjalanan ke berbagai daerah untuk belajar dari guru, seperti ke Pekanbaru, Maluku, Makassar, Sinjai atau safari 6 kota di Jawa Timur. Beberapa perjalanan memang penugasan resmi dari Cikal, beberapa perjalanan adalah agenda pribadi yang saya selipin agenda Komunitas Guru Belajar. Sekali mengayuh, dua tiga pulau terlampui 🙂 Saya belajar dari guru tentang keterbatasan, kerumitan administrasi, dan resiko politik. Saya belajar bagaimana segala kesulitan tersebut tidak meruntuhkan semangat belajar. Saya berjumpa dengan guru-guru yang sama sekali berbeda dengan sosok guru yang ditampilkan di media atau jadi bahan obrolan di media sosial. Sosok di media dan media sosial seringkali menampilkan guru yang tidak berdaya, layak dikasihani dan butuh bantuan. Saya justru menemui guru berdaya, penuh perjuangan, dan butuh teman seperjuangan. Bagi saya pribadi, sebuah kehormatan bisa menjadi teman perjalanan para guru berdaya tersebut. Dalam sebuah obrolan dengan Najelaa Shihab, saya merevisi komitmen saya, “Saya berkomitmen dua tahun di Cikal, tapi menjadi teman perjalanan Komunitas Guru Belajar adalah komitmen saya sepanjang hidup”. Belajar menghadapi tantangan perubahan Saya bocorkan rahasia Cikal……..Cikal itu bukan lembaga yang sempurna, banyak hal yang perlu diperbaiki dan dikembangkan lagi. Meski tidak sempurna, Cikal adalah lembaga yang selalu belajar. Setiap tahunnya ada saja inisiatif perubahan yang dilakukan, minor maupun mayor, improvisasi maupun inovasi. Dan setiap kali inisiatif perubahan, setiap kali pula kesempatan bagi semua anggota, bisa terlibat di dalamnya. Sepanjang tahun yang saya alami, sepanjang itu pula saya mendapat tantangan perubahan. Saya beri contoh sederhana yang tampak mata, Temu Pendidik Nusantara. Pada tahun 2014, LLE (sebelum menjadi Kampus Guru Cikal) mengadakan konferensi pendidikan sehari, gabungan seminar dan kelas lokakarya. Pada tahun 2015, konferensi tersebut berubah nama menjadi Temu Pendidik Nusantara, dengan format yang relatif tetap. Pada tahun 2016, Temu Pendidik Nusantara resmi disebut sebagai Konferensi Tahunan Komunitas Guru Belajar. Formatnya masih sama, seminar dilanjutkan dengan kelas lokakarya, hanya jumlah hari bertambah, kelas bertambah, peserta bertambah dan Komunitas Guru Belajar daerah yang terlibat pun bertambah. Kisah TPN 2016 bisa dibaca di sini. Temu Pendidik Nusantara 2017 menjadi semakin jelas arahnya, kegiatan untuk pengembangan guru. Bila sebelumnya, seminar dengan pembicara kunci di awal kegiatan dengan asumsi memancing minat peserta, maka seminar di TPN 2017 digeser menjadi penutupan, karena ternyata guru hadir lebih didorong untuk kemajuan belajar dan berkolaborasi dengan sesama guru, dibandingkan berjumpa pembicara kunci. Jenis dan format kelasnya pun mengikuti Kerangka 4 Kunci Pengembangan Guru: Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi dan Karier. Setiap jenis kelas menggambarkan tahapan dan memenuhi kebutuhan berbeda dalam perjalanan karier seorang guru. Jadi bila dulu, guru cukup puas dengan menjadi pelatih di kelas lokakarya, kini masih ada dua kunci lainnya, kolaborasi dan karier. Perubahan mendasar ini mendapat respon luar biasa dari peserta. … Read more