Kecerdasan Buatan akan Menggantikan Guru

Apakah judul tulisan tentang kecerdasan buatan ini mengada-ada?Apakah Bapak Ibu guru sudah merasakan “ancaman” kecerdasan buatan? Kecerdasan buatan atau istilah kerennya Artificial Intellegence (AI) semakin mudah ditemui. Sebut saja Google Asisten di Android, Siri di perangkat Apple, Cortana di Microsoft Windows dan Alexa di Amazon. Betapa mudahnya kita meminta bantuan pada kecerdasan buatan ini, dari aktivitas sebagai mesin pencari, pemandu jalan, melakukan panggilan, bahkan menyalakan perangkat listrik di rumah yang sudah tersambung.“Ah itu kan aktivitas sederhana”Oke, coba lihat betapa “mengerikannya” kecerdasan buatan. Di media sosial kita bisa disuguhkan informasi yang didasarkan apa yang kita suka. Iklan-iklan yang muncul berdasarkan kebiasaan kita, dengan memanfaatkan kecerdasan buatan yang mampu mengenali karakteristik jenis foto/gambar yang kita sukai, juga notifikasi/pemberitahuan yang disesuaikan sehingga kita betah berlama-lama. Bahkan ada kecerdasan buatan yang dapat “berkembang kecerdasannya” seperti yang ditanam pada game sepak bola. Pemain yang dijalankan komputer bisa memahami kondisi lapangan, berhati-hati agar melakukan tackle tanpa melanggar aturan. Sadar akan waktu pertandingan dan bahkan menyesuaikan cara bermain lawan. Terdapat pula fitur yang dapat menganalisis hingga memberikan gelar man of the match pada pemain terbaik di pertandingan. Kecanggihan kecerdasan buatan juga sudah dihadirkan di berbagai film baik dokumenter maupun fiksi ilmiah. Mulai dari The Social Dilemma di Netflix, film terkenal Terminator, tayangan anak Kamen Rider Zero-One, hingga AI yang bisa menyembuhkan orang sakit di Transcendence. Bayangkan, bagaimana jika anak bisa difasilitasi belajarnya oleh kecerdasan buatan?Kecerdasan buatan yang akan memberikan informasi baik teks, gambar, video hingga simulasi digital sesuai topik yang sedang dipelajari.Kecerdasan buatan yang akan memberi notifikasi agar murid tenang saat belajar. Kecerdasan buatan yang akan menunjukkan warna merah, suara mengerikan, saat murid melanggar aturan. Kecerdasan buatan yang akan memberikan banyak bintang saat murid berbuat baik. “Kan kecerdasan buatan tidak ada sentuhan personal yang memanusiakan?”Lho, justru teknologi bisa melakukan diagnosis perilaku, dan memberikan personalisasi yang dapat disesuaikan dengan pengguna secara cepat. Bukankah personalisasi yang memanusiakan itu malah jadi tantangan berat jika kita melakukan pembelajaran sekadar dengan cara ceramah? Lalu bagaimana agar guru tidak digantikan kecerdasan buatan? Semangat menghadirkan teknologi masa depan, di pembelajaran masa kini dilakukan oleh #1000Pembicara beserta 3460 peserta saat #BelajarDiTPN7 (Temu Pendidik Nusantara). Terdapat lebih dari 380 kelas di acara yang diselenggarakan Komunitas Guru Belajar Nusantara dan Kampus Guru Cikal ini. Pada 12 – 13 Desember 2020 para guru saling belajar dan berbagi praktik baik pembelajaran. Alih-alih menyalahkan teknologi, para guru justru mengombinasikannya dengan pedagogi. Para guru yang tidak sekadar menggunakan teknologi untuk mempermudah pembelajaran direpetisi. Tidak sekadar menjadikan teknologi sebagai alat mengalirkan informasi. Bukti bahwa kecerdasan buatan tidak bisa menggantikan para guru ini. Baca Juga: Pasar Praktik Baik itu Bernama Kelas Kemerdekaan Seperti apa pembelajaran yang dibagikan dan dipelajari di Temu Pendidik Nusantara ke-7?Seperti apa guru yang sulit digantikan kecerdasan buatan?Yaitu guru yang menerapkan pembelajaran 5M (Memanusiakan Hubungan, Memahami Konsep, Membangun Keberlanjutan, Memilih Tantangan, Memberdayakan Konteks). 1. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Memanusiakan HubunganPara guru memanfaatkan teknologi untuk membangun relasi dengan murid dan orangtua. Sehingga pembelajaran yang dirancang menyesuaikan kondisi mereka. Seperti apa penerapannya?Pembuatan media pembelajaran yang diawali dengan proses empati. Memanfaatkan media untuk memahami emosi murid. Penggunaan formulir asesmen diagnostik untuk menentukkan cara yang akan digunakan dalam pembelajaran. Juga pemanfaatan teknologi untuk menghadirkan belajar dengan kegembiraan. Sehingga guru mampu mengajak murid belajar tanpa iming-iming reward seperti bintang, maupun hukuman. Apakah hal serupa sudah Bapak Ibu lakukan? 2. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Memahami Konsep“Kalau hanya memberi informasi, google lebih jago.”Saat ini jika orang penasaran, maka google di genggaman tangan akan menjadi jawaban. Para guru belajar di Temu Pendidik Nusantara ke-7 tidak ingin menjadi guru yang sekadar memberi informasi. Para guru ini melawan miskonsepsi, tidak mau jika hanya memindahkan ceramah ke media virtual. Alih-alih demikian, guru memodifikasi permainan, lagu, video, dan bahkan strategi pembelajaran dengan mengangkat konteks lingkungan untuk membantu murid membangun pemahaman. 3. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Membangun KeberlanjutanJika sekadar memberikan tanda benar dan salah pada jawaban murid, serta memberi nilai berupa angka pada lembar soal, tentu beragam tools sudah tersedia. Nah, saat #BelajarDiTPN7 para guru membahas cara memberikan umpan balik, proses refleksi, hingga memperluas manfaat pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi. Dari proses memberi umpan balik melalui permainan, hingga menyebarkan praktik baik pembelajaran ke lebih banyak jangkauan. 4. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Memilih Tantangan“Mengapa banyak orang kecanduan gawai, tapi sedikit yang kecanduan belajar?”Tahukah Bapak Ibu apa yang membuat game bikin ketagihan? Dan mengapa pembelajaran membuat bosan?Game memberikan berbagai pilihan dan jenjang tantangan. Karena jika hanya ada satu pilihan yang terlalu sulit, maupun satu pilihan saja yang terlalu mudah, sama-sama membuat bosan dan bahkan stres.Apakah pembelajaran di kelas kita juga demikian? #BelajarDiTPN7 menghadirkan para guru yang sudah memberikan pilihan jenis dan cara mengerjakan tugas. Karena para guru ini sadar, bahwa tidak mungkin semua murid diminta membuat tugas berupa video, atau bahkan hanya boleh menulis di kertas folio. Apalagi di saat pandemi mewabah, fasilitas belajar di rumah tidak seperti di sekolah. 5. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Memberdayakan Konteks Bapak Ibu bisa melihat beragam kelas kolaborasi di TPN ke-7, silakan klik di sini. Para guru berbagi bagaimana tetap berdaya di tengah pandemi. Tidak hanya sendiri, namun menggerakkan orang lain dan batas jarak pun dilampaui. Gerakan membagikan praktik baik selama pandemi dengan komik digital, media sosial, hingga berbagi panggung virtual. Banyak sekolah yang saling belajar bersama, meskipun berasal dari daerah yang berbeda. Panduan Pembelajaran 5M bisa diunduh di sini Jadi, apakah Bapak Ibu siap digantikan kecerdasan buatan?Atau pembelajaran 5M akan Bapak Ibu terapkan?Poin mana yang akan Bapak Ibu lakukan?Yuk tulis di komentar, dan juga sebarluaskan!

Miskonsepi Literasi

Ternyata Literasi Tak Cuma Soal Baca Tulis Selama ini banyak sekali kekeliruan dalam menafsirkan dan memaknai konsep dari literasi. Padahal konsep literasi itu bersifat dinamis. Di masa kini, ada banyak perubahan dan perluasan makna literasi yang sudah berbeda dari makna kata dasarnya. Pada Temu Pendidik Mingguan ke-81 yang dilaksanakan di telegram.me/mudikmingguan hari Jum’at, 18 Januari 2019, pukul 18.30 – 20.30 WIB, dibahas mengenai berbagai miskonsepsi literasi yang perlu dipahami. Ibu Najelaa Shihab, Pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru Belajar, menjadi Narasumber pada Temu Pendidik Mingguan kali ini dan dipandu oleh Ibu Rani Indriani Kusumah, Guru Sekolah Cikal Amri Setu dan KGB JakartaTimur, sebagai moderator. Profil Narasumber Pendidikan adalah belajar, bergerak dan bermakna. Pendidik adalah kita, “semua murid semua guru.” Hal tersebut yang mendorong Najelaa Shihab terus berusaha berkontribusi dalam reformasi pendidikan Indonesia yang utuh melalui karya-karya nyata. Najelaa Shihab menyelesaikan studi S1 dan S2 di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan setelah memulai karirnya di kampus yang sama, memutuskan untuk mendirikan Sekolah Cikal pada 1999, saat ini berada di 9 lokasi di berbagai kota di Indonesia, melayani ribuan murid – mulai tingkat pra sekolah sampai dengan Sekolah Menengah Atas dan Kampus Guru Cikal. Lahir 11 September 1976 dari keluarga dengan nilai-nilai mendalam mengenai pendidikan dan kehidupan menumbuhkan keyakinannya untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya pada masyarakat. Elaa, panggilan akrabnya, dikaruniai tiga orang anak. Kontribusinya di dunia pendidikan selama puluhan tahun, dilakukan dengan meluncurkan berbagai inisiatif dan mendirikan organisasi pendidikan. Najelaa bukan hanya sekedar peduli pada kebutuhan anak-anak di berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga sangat yakin bahwa perubahan yang cepat yang terjadi di dunia saat ini, membuat kolaborasi dengan pemerintah, pendidik/guru, orang tua, keluarga, mutlak diperlukan untuk masa depan anak-anak kita. Mendirikan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) sejak 2007, Keluarga Kita dengan RANGKUL (relawan keluarga kita) sejak 2012, inibudi.org yang mengajak Guru Berbudi dan Teman Belajar sejak 2012, IslamEdu sejak 2013, Komunitas Guru Belajar Nusantara dengan penggerak-nya sejak 2014, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) di 2015, Sinedu, serta Youthmanual sejak 2016. Najelaa menginisiasi Pesta Pendidikan di tahun 2016, yang mengawali jaringan Semua Murid Semua Guru (SMSG). Jaringan ini bertujuan untuk menjadi simpul kolaborasi antar pemangku kepentingan pendidikan. SMSG juga berupaya meningkatkan kapasitas komunitas dan organisasi pendidikan untuk berinovasi dan memberikan contoh praktik baik dalam berbagai isu pendidikan yang penting disebarluaskan. Saat ini lebih dari 400 komunitas/organisasi yang beroperasi di 252 kota di Indonesia telah bergabung dalam jaringan. Merdeka Belajar, Merdeka dari Miskonsepsi Literasi Membaca adalah memahami rangkaian makna, bukan sekadar mengeja bahan pustaka. Artinya, pandai membaca adalah proses yang terus dipelajari, jauh sesudah kita bisa menggabungkan suku kata yang berarti. Karenanya, pembaca jagoan adalah yang terus mengusahakan pengenalan lingkungan, bukan sekadar melafalkan tulisan. Belajar membaca tidak sederhana. Dimulai dari bayi yang membaca emosi diri dan mengobservasi apa yang terjadi. Anak yang membedakan kanan dan kiri, mengeksplorasi bunyi dan pengalaman lain yang kadang tidak disadari, tapi sebenarnya bagian dari persiapan literasi dini. Berada di lingkungan yang kaya tulisan, seperti papan pengumuman atau koran di meja makan cukup untuk menunjukkan ke anak tentang pentingnya peraturan dan membuatnya mengenal pesan. Namun tidak ada yang lebih berkesan daripada orang dewasa dan teman sebaya yang meneladankan kegemaran bertukaran pikiran setelah menikmati bacaan. Karena dengan terlibat percakapan, anak belajar mendengarkan dan membuktikan kekuatan gagasan. Cita-cita agar literasi bisa membumi di negeri ini terasa hanya sekadar janji. Selama ini proses pendidikan menumbuhkan kegemaran membaca dengan sangat terbatas, menghafal lagu tentang vokal dan konsonan, kadang kala ditakuti ujian masuk sekolah dasar. Saat anak belum menguasai mekanik membaca, semua pemangku kepentingan “bekerjasama” membuatnya cepat bisa menamatkan buku. Guru PAUD khawatir dilabel tidak kompeten, orangtua ingin pamer anak pintar pada tetangga, toko buku bahkan tempat les membaca menyediakan sebanyak-banyaknya pilihan untuk anak usia dini. “Konspirasi” bertolak belakang terjadi saat anak sudah “bisa” membaca. Tugas bacaan di buku pegangan makin tidak relevan, semangat orang tua membacakan cerita tidak lagi jadi prioritas, bahkan penerbit dan pengarang buku pun tidak tertarik berusaha karena anggaran membeli bacaan terkalahkan biaya jajan atau permainan. Tidak heran hasil tes internasional menunjukkan walau anak Indonesia cukup mampu bersaing di pengukuran kemampuan dasar membaca usia dini, saat diukur beberapa tahun kemudian kita terus turun peringkat karena gagal memahami bacaan atau mengevaluasi informasi berkualitas. Tidak perlu tercengang, saat rasio antara warga dan perpustakaan kita cukup tinggi, pengunjung rutin bangunannya sering bisa dihitung jari. Dalam literasi kita seringkali mudah puas dengan pencapaian tujuan jangka pendek. Sulit untuk bisa mengharapkan ada perubahan signifikan bila propaganda pemerintah 72 tahun setelah kemerdekaan masih sekadar kesuksesan pemberantasan buta huruf. Tantangan masyarakat masa kini dan masa depan sudah banyak disuarakan, satu hal yang perlu reformasi segera adalah melek literasi. Reformasi tersebut adalah perjuangan melawan miskonsepsi literasi agar upaya menuju melek literasi mengarah pada tujuan esensial, bukan hanya untuk memenuhi kepentingan jangka pendek. Inilah lima miskonsepsi literasi Bukan hanya kemampuan membaca tapi juga kemampuan menalarLiterasi berkait kompetensi berpikir dan memproses informasi, karenanya bukan hanya soal keterampilan membaca apalagi mengeja. Seseorang dengan tingkat literasi tinggi, mempunyaikemampuan penalaran dan pemecahan masalah dalam berbagai bidang, berkait sains dan numerasi juga finansial. Belajar untuk membaca tapi tidak membaca untuk belajarBelajar untuk membaca berkait dengan kemampuan bahasa dalam mengenal huruf, mengeja dan instruksi yang cendrung lebih sederhana, bisa dikuasai di tingkat dasar dalam waktu singkat. Membaca untuk belajar adalah kemampuan lintas disiplin yang menempatkan membaca sebagai alat untuk memahami dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan. Membaca bukan tujuan akhir, tapi alat untuk tujuan belajar yang lebih besar. Aktif membaca tapi tidak membaca aktifMembaca banyak tulisan, tidak otomatis meningkatkan kemampuan, malah terkadang menurunkan minat atau menghasilkan pengetahuan yang tidak tepat. Kunci keberhasilan dari setiap aktivitas membaca adalah membaca aktif. Memprediksi isi bacaan atau berempati dengan latar belakang penulis sebelum membaca, mempertanyakan argumen dan beridentifikasi dengan karakter selama membaca, menyimpulkan dan mengaplikasikan dengan hal yang relevan dalam kehidupan sesudah membaca. Jangan bangga pada jumlah buku atau lama waktu membaca, belajar terjadi dari interaksi dengan literasi. Tidak menghubungkan kemampuan menulis dengan kemampuan membacaSalah satu cara paling efektif meningkatkan kemampuan sebagai penulis adalah pelajaran dari bacaan berkualitas. Semakin beragam bacaan, dari sudut genre, format ataupun penulis yang dipaparkan … Read more

Membela Bu Ela

Kenapa bu Ela harus dibela? Bukan karena Bu Ela tidak berdaya. Sebaliknya, karena berdaya maka tidak boleh dibiarkan sendiri.   Saya sudah tiba di Makassar. Tiga hari di Jakarta mengikuti Temu Pendidik Nusantara 2018. Beasiswa penuh. Semua transportasi dan penginapan ditanggung panitia. Ucap syukur pada kawan-kawan panitia. Sebagai peserta beasiswa, saya berkewajiban membagi pengetahuan, keterampilan dan pengalaman baru selama Temu Pendidik Nusantara. Catatan ini dimaksudkan untuk maksud di atas. Puncak Temu Pendidik Nusantara 2018 dipusatkan di GOR PKP Jakarta Timur. Saya duduk di area 1 C dari tiga area yang disiapkan panitia. Duduk paling depan bersama guru dari KGB Wajo dan perwakilan PGRI.  Di area yang saya tempati dipenuhi kawan-kawan guru dari berbagai daerah di Indonesia.  Acara utama dimulai. Ibu Najelaa Shihab tampil ke panggung utama. Panggungnya luas. Di lantai, terpampang tiga kata: inspirasi, aksi dan refleksi. Tulisan itu adalah pesan. Guru adalah sumber inspirasi di kelas. Untuk menginspirasi, guru terus menerus melakukan aksi-aksi. Dengan apa?  Pembaruan cara mengajar. Setiap guru harus membekali dirinya dengan beragam penguasaan keterampilan mengajar. Jika tidak, cepat atau lambat guru akan ditinggalkan para pengikut.  Muaranya adalah refleksi. Apakah aksi yang sudah dilakukan berdampak atau tidak. Dampaknya bisa besar atau kecil. Harus diukur. Hasil pengukuran akan  menentukan tindakan selanjutnya. Begitulah guru yang merdeka belajar menunaikan tugasnya.  Bukan Ibu Ela yang menyampaikan. Saya yang menafsirnya begitu. Apa yang diucapkan ibu Ela sebagai penggagas TPN tidak mudah saya ingat dengan baik. Saya tidak bisa mengandalkan ingatanku yang bermasalah. Mencatat semua yang beliau sampaikan akan menyulitkanku fokus  dan bertepuk tangan.  Saya tidak bisa menahan haru ketika  ibu Ela mengajak ibu Rahmi dan Ibu Wanti  naik ke panggung. Lelaki macam apa saya: kumisan plus cambang, duduk paling depan tapi berlinang air mata. Percayalah, jika hati bapak-ibu masih ditempatnya, akan mengalami hal yang sama.  Ibu Rahmi dari Pesisir Selatan. Ibu Wanti dari Sanggau. Keduanya mengajar di pedalaman, akses yang terbatas. Jika hujan, Ibu Wanti berjalan kaki cukup jauh untuk sampai di sekolahnya. Saya tidak bisa menahan tangis melihat gambar ibu Wanti mendorong motor di jalan berlumpur. Lumpurnya sampai di lutut. Cerita ibu Rahmi juga menyedihkan. Saya belajar, fasilitas  bukan segalanya. Ibu Ela benar, guru-murid adalah sekutu utama. Ibu Rahmi dan Bu Wanti sudah menunaikan tugasnya sebagai guru yang merdeka belajar.  Kenapa bu Ela harus dibela? Bukan karena Bu Ela tidak berdaya. Sebaliknya, karena berdaya maka tidak boleh dibiarkan sendiri.  Perjuangannya tentang kemerdekaan belajar harus dibagi di seluruh pelosok negeri. Semua guru semua murid harus terasa di setiap ruang waktu. Ibu Najelaa telah memilih berdiri di sisi bu Rahmi dan Bu Wanti, memperjuangkan cita guru yang merdeka belajar. Mendengarkan cerita ibu Najelaa, serasa dibawa kembali masa silam, hadir pada pertemuan Selasa Kliwon  di Puri Pakualaman. Rumah pendiri taman siswa. Ada kegelisahan dan juga banyak harapan. Ki Hajar Dewantara prihatin dengan kemerdekaan berpikir para peserta didik. Ki Hajar kukuh berjuang pada tiga hal: bahwa pendidikan harus mencakup wilayah yang luas. Bahwa perjuangan itu menuntut kemandirian. Bahwa Pendidikan kita harus mengajarkan sistem ketahanan diri.  Guru berdaya tidak lahir dengan tiba-tiba. Guru harus bersentuhan dengan beragam peristiwa dan kesulitan. Semua guru mesti membangun banyak relasi dan hubungan dengan rekan sesama guru di banyak tingkatan. Ini akan menguatkan sekaligus mengayakan. Taman Siswa adalah dialektika. Temu Pendidik Nusantara juga begitu. Kolaborasi dengan banyak unsur adalah kemestian. Karena alasan itulah saya ingin berdiri bersama ibu Ela, Ibu Wanti dan juga Bu Rahmi. Perjalanan dari GOR PKP ke Bandara butuh waktu 1 jam 45 menit. Saya baca di aplikasi transportasi. Saya percaya dampak TPN pada guru, tapi tidak dengan waktu tempuh  perjalanan di Jakarta. Kepastian jarak tempuh di Jakarta hanya Tuhan yang tahu. Karena kepercayaan ini, saya tidak sempat pamit pada panitia. Terima kasih saya ucapkan pada panitia Temu Pendidik Nusantara 2018. Makassar, 8 Oktober 2018 Tulisan ini pertama dipublikasikan sebagai status Facebook.

Guru Desa: Empat Keanehan Temu Pendidik Nusantara

Ketika guru yang lain menatap kagum, guru desa satu ini justru merasakan keanehan Temu Pendidik Nusantara. Apa keanehannya? “Bu Lani, saya mau menjadi penggerak”Saya mengumpulkan segenap keberanian untuk menuliskan chat tersebut ke bu Lany waktu itu beliau masih menjadi koordinator penggerak untuk wilayah Sumatera. Inisiatif tersebut saya kemukakan bukan tanpa alasan karena satu ada kuota beasiswa untuk penggerak untuk ikut Temu Pendidik Nusantara, dan sangat sayang untuk dilewatkan. Oh ya sebelumnya saya sudah mendiskusikannya di grup Guru Belajar Pesisir Selatan siapa yang akan ditunjuk menjadi penggerak dan ternyata tidak ada respon. ketika itu grup kami masih berisi sekitar 25 orang dan masih sangat pasif dan anggota gruppun kebanyakkan teman-teman yang belum saya kenal, karena ketika grup dibuat oleh pak Bukik Setiawan isinya hanya kita bertiga, pak Bukik, Bu Lany dan saya. Ada banyak keanehan yang saya rasakan di Temu Pendidik Nusantara 2017. Saya merasa dunia saya mulai berubah. *Keanehan Pertama* Saya adalah seorang guru dari pelosok di pesisir pantai Sumatera yang sempat ketinggalan telepon genggam di bandara, gugup karena baru pertama kali naik pesawat, dan sempat berfikir di udara jika pesawat jatuh kemana saya akan menapak.. Saya berangkat bersama 4 orang penggerak hebat lainnya Pak Adhan Chaniago Bungsu, Pak Dicky Irawan, dan Bu Verawati Koto yang mewakili 4 Kabupaten di Sumatera Barat. Sesampai di Soeta kami dipandu oleh relawan menuju penginapan. Saya beserta dua teman menginap di LPMP dan salah dan satu teman saya menginap di rumah relawan orang tua murid Sekolah Cikal. Hari pertama saya masuk kelas penggerak karena penggerak wajib mengikuti kelas ini, saya bersama teman-teman mendapat materi tentang Guru Merdeka Belajar oleh Ibu Najelaa Shihab dan Pak Bukik Setiawan. Dari pemaparan beliau berdua tentang salah kaprah guru mardeka belajar terjadi pergulatan batin dalam diri saya. Logika saya seperti dibolak-balik, ada pertentangan batin untuk menerima itu semua. Saya sempat ragu apakah saya tidak salah masuk? Apakah saya berteman dengan orang-orang yang tepat? Apakah saya tidak salah pilih teman dan lain sebagainya? Hmmm tak mudah memang untuk merubah keyakinan yang sudah terbangun selama puluhan tahun. *Keanehan kedua* Saya adalah seorang guru dari pelosok desa yang terbiasa dengan pola pelatihan konvensional, dilatih dengan narasumber ahli, wajib bawa laptop, duduk manis walaupun terkantuk-kantuk, siap menampung materi dari pagi sampai malam, duduk diruangan yang sama. Di Temu Pendidik Nusantara, kondisinya berbanding terbalik. Saya belajar bersama guru-guru yang memiliki pengalaman berhadapan langsung dengan anak-anak, antar jenjang dan antar lintas, mulai TK,SD, SMP, SMA/SMK, perguruan tinggi bahkan orang-orang yang yang peduli dengan pendidikan. Belajar dengan antusias, energi positif memenuhi seluruh rungan, tepukan riuh pertanda memberi dukungan sehingga membangun percaya diri. Setiap sesi dengan kelas yang berbeda dan suasana yang berbeda. Tak jarang saya belajar di luar ruangan dan harus pindah mencari kelas yang sesuai, dan laptop saya sempat nganggur selama pelatihan. *Keanehan ketiga* Saya adalah guru dari sebuah desa yang terheran-heran dengan gaya menulis teman-teman. Ada yang menulis dengan banyak kotak-kotak, memakai banyak panah, berbentuk gambar, diagram dan begitu banyak spidol dalam tas mereka untuk membuat tulisannya menjadi berwarna. Mungkin bagi sebagian orang menulis seperti itu sangat biasa tapi waktu itu saya menganggap itu sesuatu yang sangat luar biasa. *Keanehan keempat* Saya guru desa yang tak pernah bermimpi bertemu dengan Ibu Menteri Sri Pujiastuti. Namun, di Temu Pendidik Nusantara 2017, saya bertemu dengan beliau dan hanya dibatasi jarak beberapa buah kursi. Dari cerita beliau saya jadi tahu, kesukaan beliau adalah membaca dan beliau pernah membaca habis seluruh buku perpustaaan yang ada di desanya. Beliau masih ingat dengan sebagian besar judul buku-buku yang pernah dibacanya puluhan tahun silam. Beliau juga cerita sering lupa waktu ketika membaca, karena kebiasaan tersebut orang tuanya sempat marah tapi tak mengentikan kebiasaannya membaca dengan bersembunyi di kolong tempat tidurnya. Ternyata keanehan di TPN 2017 silam berlanjut sampai detik ini, saya masih merasa aneh kenapa bisa menulis sepanjang ini (walaupun masih banyak teknik yang mungkin harus dibenahi). Padahal beberapa waktu yang lalu untuk menulis satu baris status di FB saja harus butuh waktu lamaaaa baru bisa menuliskannya. Sampai saat ini saya masih merasa aneh sudah mulai terbiasa bicara di depan umum padahal dulu sering gemetar dan tidak percaya diri, dan satu lagi yang sangat-saaaaaangat aneh menurut saya adalah ketika memberanikan diri untuk menjadi pembicara di Temu Pendidik Nusantara 2018. Temu Pendidik Nusantara ini tingkat Nasional Meeeeen masih ada rasa tak percaya, apa iya aku bisa… Entah apalagi keanehan yang akan ditawarkan oleh TPN 2018, yang pasti saya ingin kembali merasakannya. See you TPN 2018. Pesisir Selatan, Negeri Sejuta PesonaSabtu, 8 September 2018 RahmiGuru SMP Negeri Lengayang Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Status Facebook.

Kebutuhan Belajar

Sewaktu SMA saya tidak berani ke ibukota sendirian, karena kabar-kabar dari televisi, dari omongan orang bahwa ibukota kejam, tidak aman, macet dan sulit tranportasinya. Namun beberapa tahun belakangan ini, banyak murid saya seusia SMA yang sudah bolak-balik ke ibukota. Ketakutan-ketakutan saya dulu sepertinya sudah mulai berkurang. “Kamu kok berani ke Jakarta sendirian?” tanyaku.“Sekarang apa-apa mudah kok Pak. Kemarin beli tiket kereta saja tidak perlu ke stasiun. Kalau udah sampai Jakarta juga mudah Pak, ada banyak ojek online, langsung sampai rumah orangtua di Jakarta”, jawabnya. Apa yang menjadi masalahku sewaktu SMA dulu ada jawabannya sekarang. Masyarakat butuh kenyamanan, kemudahan dan keamaan dalam memakai transportasi umum, muncullah aplikasi transportasi online. Masyarakat butuh kemudahan dalam pembelian tiket, pemesanan hotel muncullah Traveloka, Airbnb,dsb. Masyarakat butuh kemudahan berbelanja, muncullah tokopedia, bukalapak, shopee dan sebagainya. Startup-startup di atas memahami masalah yang ada pada masyarakat dan kemudian menciptakan solusi, menjawab persoalan kebutuhan yang selama ini tidak terpikirkan. Ya, kebutuhan! Seringkali kita lupa hal yang mendasar yaitu kebutuhan. Sebagai guru contohnya : Menghabiskan uang untuk membeli media-media pembelajaran, sampai berjuta-juta. Namun nyatanya hanya untuk pajangan di kelas. Membeli rencana pelaksanaan pembelajaran, yang nyatanya apa yang ada di dalamnya tidak sesuai dengan murid yang diajar. Ikut-ikutan trends tidak memberikan tugas di rumah, ikut-ikutan cara mengajar guru di suatu sekolah yang nyatanya tidak pas diterapkan di lingkungan tempat kita mengajar. Tidak pernah bertanya pada diri sendiri “Apa sekolahku butuh ini ya?”, “Apa kelasku butuh ini ya?” “Apakah murid yang aku ajar benar-benar butuh?” Para pendiri strartup-startup tahu benar apa yang dibutuhkan masyarakat, melakukan riset bertahun-tahun, memetakkan apa yang dibutuhkan, menciptakan jawaban dari kebutuhan itu. Pertanyaanya adalah sudahkah kita melakukan riset di kelas? Memetakkan apa yang menjadi kebutuhan belajar murid?

Semangat Merdeka Belajar di Pesisir Selatan

Semangat guru Pesisir Selatan dalam mengikuti pelatihan sungguh luar biasa. Padahal mereka guru PNS yang sering dinilai tidak suka mengembangkan diri. Kok bisa? Saya bersama dua pelatih, Ibu Unun dan Ibu Nuli berangkat ke Pesisir Selatan. Kami akan mengadakan pelatihan Merdeka Belajar dan Memanusiakan Hubungan yang berlokasi di kota Painan yang merupakan ibu kota Pesisir Selatan. Jarak Painan dari kota Padang kurang lebih 72 kilometer yang membutuhkan waktu tempuh 2 jam. Pelatihan tiga hari ini merupakan bagian dari Playground of Minang, program Sekolah Cikal untuk berkontribusi terhadap kualitas pendidikan Indonesia. Pada tahun ini, Cikal memilih Minang sebagai fokus belajar yang dipelajari para murid sehingga disebut sebagai Playground of Minang. Kegiatan ini melibatkan murid, guru, orangtua, manajemen dari Rumah Main Cikal, Sekolah Cikal dan Kampus Guru Cikal. Kami datang di lokasi pelatihan jam 07.00, UPTD kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan. Para peserta pelatihan yang merupakan guru dan kepala sekolah datang dengan semangat membara. Pelatihan dimulai dengan kegiatan penyemangat, setiap peserta mendapatkan kertas dengan berbagai jenis aktivitas dengan maksud agar mengenal satu sama lain. Setelah itu pelatih menyampaikan materi Merdeka Belajar. Mengapa diawali dengan Merdeka Belajar, padahal tema POMIN tahun ini adalah “2000 Anak Sumatera Barat Melek Literasi dengan Memanusiakan Hubungan”? Pelatih menjelaskan pentingnya mempelajari materi dasar sebelum mempelajari literasi. Karena melalui merdeka belajar, guru dapat mengembangkan belajar berkelanjutan baik pada diri sendiri maupun pada muridnya. Ciri merdeka belajar itu sendiri yaitu berkomitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara, dan melakukan refleksi. Pada hari kedua dan ketiga, peserta mempelajari Memanusiakan Hubungan dengan semangat merdeka belajar yang telah dipelajari sebelumnya. Tujuan dari materi ini adalah adanya pemahaman bermakna bahwa keberlangsungan kegiatan belajar mengajar memerlukan interaksi positif antarmanusia yang ada di sekolah. Peserta dipandu membuat kesepakatan bersama, membedakan antara hukuman dan konsekuensi dan menerapkan lima posisi kontrol sebagai acuan komunikasi dalam membangun disiplin positif. Semangat para peserta semakin membara di hari terakhir pelatihan. Semua antusias dan terlibat dalam semua aktivitas yang dipandu oleh pelatih. “Pelatihan ini merupakan pelatihan yang jelas, jelas dalam artian kami jadi tahu tujuan kami,  dimana posisi kami dan apa yang harus kami lakukan untuk mencapai tujuan dan semoga kami tidak bergerak sendirian, tapi juga didukung oleh sekolah” tutur Ibu Rahmi yang juga merupakan penggerak Komunitas Guru Belajar setelah mengikuti pelatihan. Pelatihan ditutup dengan tanya jawab bersama Kepala Dinas Pendidikan Pesisir Selatan. Pada sesi penutup, para peserta mengungkapkan harapan mereka agar pelatihan seperti ini diadakan lebih sering dan dapat dihadiri oleh lebih banyak guru. Mereka juga meminta dukungan dari pihak Dinas Pendidikan agar para kepala sekolah dapat mendukung proses penerapan praktik hasil pelatihan di sekolah mereka. “Pelatihan hebat yang belum pernah saya dapatkan selama kurang lebih 10 tahun saya menjadi seorang pendidik di SD, ternyata selama ini kami pendidik di Pesisir Selatan khususnya, banyak sekali kurangnya dari segala segi, semoga Kampus Guru Cikal selalu membimbing kami baik daring maupun luring” tutur Ibu Elvadeni salah satu peserta pelatihan.

Belajar Menjadi Guru Belajar

Awal tahun 2015, saya janjian ketemu dengan dua pendidik perempuan, Najelaa Shihab dan Tari Sandjojo di sebuah cafe di pusat Jakarta. Sambil sesekali menghirup minuman, kami membicarakan berbagai kemungkinan kerjasama untuk melakukan perubahan pendidikan. Hasil pembicaraan tersebut, saya bergabung di Cikal. Saya bergabung di Cikal sejak 1 Mei 2015, tepatnya di Lifelong Learning – School of Education (LLE), lembaga Cikal yang bergerak melakukan pelatihan guru, yang sekarang lebih dikenal sebagai Kampus Guru Cikal. Peran saya sebagai Manajer Pengembangan yang bertanggung jawab melakukan persiapan pendirian pendidikan S1 guru. Sebuah rencana yang sampai saat ini masih menjadi rencana karena terkendala moratorium ijin pendirian pendidikan keguruan. Cerita awalnya bisa dibaca di sini. Pada awalnya, komitmen saya bertahan di Cikal adalah dua tahun, dengan asumsi tanggung jawab bisa selesai dalam 2 tahun. Sekarang sudah lebih dari 3 tahun dan saya memilih bertahan di Cikal. Apa yang membuat saya bertahan di Cikal? Judul tulisan ini adalah jawaban singkatnya, belajar menjadi guru belajar. Jawaban panjangnya akan saya coba uraikan Belajar pendidikan menumbuhkan Ketika dikenalkan dengan tim Cikal, biasanya saya dikenalkan sebagai penulis buku Anak Bukan Kertas Kosong dan tentu ada ekspresi kagum. Padahal ketika saya mengikuti Foundation Training, pelatihan untuk tim baru Cikal, saya justru belajar banyak sekali tentang pendidikan menumbuhkan. Belajar pendidikan bukan dari para ahli, tapi dari guru yang mempraktikkan pendidikan menumbuhkan setiap hari. Apa yang dulu menjadi angan-angan ideal, saya saksikan di kenyataan. Pengalaman tentang Fondation Training bisa dibaca di sini. Saya belajar disiplin positif, pendekatan untuk menumbuhkan kedisiplinan tanpa hukuman dan sogokan. Saya belajar strategi inkuiri, pendekatan untuk memandu murid menemukan pemahaman yang esensial. Saya belajar diferensiasi, pendekatan untuk mengembangkan cara pengajaran yang beragam berpusat pada murid. Saya belajar asesmen, pendekatan untuk memberi umpan balik pada murid dan guru sepanjang proses belajar. Saya belajar service learning, pendekatan untuk memandu murid menyelesaikan persoalan nyata di kehidupan. (Di kemudian hari, poin-poin yang saya pelajari ini disebut sebagai Cara Mengajar 5M). Jangan bayangkan kerumitannya. Saya belajar hal sederhana. Dulu ketika jadi fasilitator, saya mengajak peserta yang orang dewasa melakukan refleksi. Ternyata di Cikal, saya dibuat kagum dengan hasil refleksi yang dilakukan murid, bahkan pada kelas kecil. Saya baca hasil refleksi para murid yang ditempel di dinding kelas, dan membayangkan semangat belajar dibalik tulisan tersebut. Saya belajar dari sebuah sekolah yang bisa memberi contoh baik untuk guru maupun sekolah yang lain. Belajar bersama guru dari penjuru nusantara Saya lupa persisnya, tapi yang jelas di antara sejumlah obrolan dengan Najelaa Shihab, tercetus gagasan mengembangkan komunitas guru. Satu kalimat yang saya ingat, “Kita ingin anak-anak di seluruh Indonesia bisa mendapatkan pendidikan berkualitas seperti Cikal, dengan maupun tanpa harus masuk Cikal”. Dari cita-cita itu, Cikal menginisiasi komunitas guru yang disebut Komunitas Guru Belajar. Namanya sederhana, tiga kata esensial yang menggambarkan cita dan cara. Cita dan cara yang dirumuskan dalam buku Panduan Komunitas Guru Belajar 1.0. Saya pun mulai menghubungi teman-teman yang menjadi guru di berbagai daerah. Saya jelaskan misi komunitas, manfaat dan aktivitasnya. Seorang teman di Sorowako, Bu Hesti, tertarik bergabung dan mengadakan Temu Pendidik pertama yang mengikuti Panduan Komunitas Guru Belajar. Saya berangkat ke Sorowako melalui dua penerbangan. Kisah Temu Pendidik Sorowako bisa dibaca di sini. Kiprah Komunitas Guru Belajar Sorowako menjadi bahan cerita sehingga akhirnya beberapa teman tertarik dan terlibat dalam pendirian Komunitas Guru Belajar. Mereka bersama rekan guru yang lain dari 10 daerah pada akhirnya ikut deklarasi pendirian Komunitas Guru Belajar yang dilakukan pada Temu Pendidik Nusantara 2015. Dan semenjak itu, saya melakukan perjalanan ke berbagai daerah untuk belajar dari guru, seperti ke Pekanbaru, Maluku, Makassar, Sinjai atau safari 6 kota di Jawa Timur. Beberapa perjalanan memang penugasan resmi dari Cikal, beberapa perjalanan adalah agenda pribadi yang saya selipin agenda Komunitas Guru Belajar. Sekali mengayuh, dua tiga pulau terlampui 🙂 Saya belajar dari guru tentang keterbatasan, kerumitan administrasi, dan resiko politik. Saya belajar bagaimana segala kesulitan tersebut tidak meruntuhkan semangat belajar. Saya berjumpa dengan guru-guru yang sama sekali berbeda dengan sosok guru yang ditampilkan di media atau jadi bahan obrolan di media sosial. Sosok di media dan media sosial seringkali menampilkan guru yang tidak berdaya, layak dikasihani dan butuh bantuan. Saya justru menemui guru berdaya, penuh perjuangan, dan butuh teman seperjuangan. Bagi saya pribadi, sebuah kehormatan bisa menjadi teman perjalanan para guru berdaya tersebut. Dalam sebuah obrolan dengan Najelaa Shihab, saya merevisi komitmen saya, “Saya berkomitmen dua tahun di Cikal, tapi menjadi teman perjalanan Komunitas Guru Belajar adalah komitmen saya sepanjang hidup”. Belajar menghadapi tantangan perubahan Saya bocorkan rahasia Cikal……..Cikal itu bukan lembaga yang sempurna, banyak hal yang perlu diperbaiki dan dikembangkan lagi. Meski tidak sempurna, Cikal adalah lembaga yang selalu belajar. Setiap tahunnya ada saja inisiatif perubahan yang dilakukan, minor maupun mayor, improvisasi maupun inovasi. Dan setiap kali inisiatif perubahan, setiap kali pula kesempatan bagi semua anggota, bisa terlibat di dalamnya. Sepanjang tahun yang saya alami, sepanjang itu pula saya mendapat tantangan perubahan. Saya beri contoh sederhana yang tampak mata, Temu Pendidik Nusantara. Pada tahun 2014, LLE (sebelum menjadi Kampus Guru Cikal) mengadakan konferensi pendidikan sehari, gabungan seminar dan kelas lokakarya. Pada tahun 2015, konferensi tersebut berubah nama menjadi Temu Pendidik Nusantara, dengan format yang relatif tetap. Pada tahun 2016, Temu Pendidik Nusantara resmi disebut sebagai Konferensi Tahunan Komunitas Guru Belajar. Formatnya masih sama, seminar dilanjutkan dengan kelas lokakarya, hanya jumlah hari bertambah, kelas bertambah, peserta bertambah dan Komunitas Guru Belajar daerah yang terlibat pun bertambah. Kisah TPN 2016 bisa dibaca di sini. Temu Pendidik Nusantara 2017 menjadi semakin jelas arahnya, kegiatan untuk pengembangan guru. Bila sebelumnya, seminar dengan pembicara kunci di awal kegiatan dengan asumsi memancing minat peserta, maka seminar di TPN 2017 digeser menjadi penutupan, karena ternyata guru hadir lebih didorong untuk kemajuan belajar dan berkolaborasi dengan sesama guru, dibandingkan berjumpa pembicara kunci. Jenis dan format kelasnya pun mengikuti Kerangka 4 Kunci Pengembangan Guru: Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi dan Karier. Setiap jenis kelas menggambarkan tahapan dan memenuhi kebutuhan berbeda dalam perjalanan karier seorang guru. Jadi bila dulu, guru cukup puas dengan menjadi pelatih di kelas lokakarya, kini masih ada dua kunci lainnya, kolaborasi dan karier. Perubahan mendasar ini mendapat respon luar biasa dari peserta. … Read more