Project-Based Learning dan Penerapannya

Bagaimana Menerapkan Project-Based Learning yang benar? Koordinator Pengembangan Program Yayasan Guru Belajar, Ilona Christina Kakerissa, menjadi salah satu narasumber pembekalan Kampus Mengajar angkatan ketiga pada Senin (21/02/2022). Kampus Mengajar merupakan program Kemendikbud dan Ristek yang melibatkan mahasiswa untuk membantu menyelesaikan permasalahan pembelajaran di sekolah akibat pandemi. Pada kesempatan tersebut, Ilona mengungkapkan masih banyak guru yang mengalami miskonsepsi terhadap project–based learning (PBL) atau pembelajaran berbasis proyek. Ilona menjelaskan, ada perbedaan sangat mendasar antara Project-Based Learning dengan hanya  mengerjakan proyek. Menurutnya, mengerjakan proyek seringkali hanya mementingkan produk akhir, diseragamkan untuk semua murid, tidak relevan dengan lingkungan nyata murid dan dilaksanakan berdasarkan instruksi guru. “Misalnya, guru meminta murid mengamati keadaan sekitar rumahnya yang banyak sampah. Kemudian guru meminta murid membuat poster agar orang tidak membuang sampah sembarangan. Ini bukan proses PBL,” terangnya. PBL seharusnya digerakkan oleh student’s inquiry yang mana murid memang harus aktif dalam setiap prosesnya. PBL berkaitan dengan masalah yang nyata berada di lingkungan murid. Hal tersebut seringkali dilewatkan oleh guru, bahkan oleh banyak pembicara yang memandu PBL.  “Ada tujuan besar yang mau dicapai dari PBL yaitu untuk pengembangan karakter dan keterampilan sebagaimana yang dicita-citakan di dalam profil pelajar Pancasila.Di dalam PBL, murid merekonstruksi sendiri penemuannya akan suatu pengetahuan, keterampilan yang dia dapatkan selama proses PBL,” jelas Ilona. Sedangkan mengerjakan proyek bertujuan hanya untuk mengaplikasikan materi yang sudah diajarkan sebelumnya. “Seperti kolaborasi Fisika dan Matematika, guru mengajak murid membuat roket dari botol yang bisa diterbangkan. Sangat asik, ya. Tapi kemudian ketika murid kembali ke masyarakat, akan bertanya, untuk apa saya tadi menerbangkan roket? Relevansinya dengan kehidupan saya bagaimana?,” tukas Ilona.  4 Langkah Penerapan Project-Based Learning Ilona kemudian menjelaskan empat langkah yang tidak boleh dilewatkan guru saat melaksanakan PBL. Pertama, mendorong murid untuk mengobservasi lingkungan sekitar dan mendefinisikan masalah. Biasanya akan muncul pertanyaan-pertanyaan sebelum akhirnya mereka dapat menemukan masalah yang ada. “Pada tahap pertama ini saja, sudah ada pelajaran penting untuk murid yaitu belajar untuk peka terhadap lingkungan sekitar. Kemampuan observasi dan mengajukan pertanyaan itu tentu bukan hal yang mudah kalau tidak dibiasakan,” jelas Ilona. Selanjutnya yakni tahapan menghasilkan ide. Di tahap ini biarkan murid saling bertukar pikiran dengan teman-temannya mengenai apa yang mereka dapatkan setelah observasi. Ilona menjelaskan, pada fase ini seringkali guru tidak mengapresiasi ide yang dihasilkan oleh murid. “Selalu apresiasi ide murid, segila apa pun, entah baik maupun buruk. Sebab kreativitas dan kemampuan bernalar murid muncul dan berkembang dari proses ini.” Fase berikutnya, yaitu perancangan prototipe solusi. Murid dapat berkreasi untuk menentukan pilihan solusi terhadap permasalahan yang mereka temukan. Pilihan solusi dapat disesuaikan dengan minat dan bakat mereka. Intinya dalam setiap proses, biarkan suara dan pilihan murid yang bekerja.  Lalu tahapan terakhir yakni uji coba. Ilona merekomendasikan agar pengujian dilaksanakan tidak hanya dengan rekayasa, tetapi diuji coba secara langsung. Seperti yang ditunjukkan dalam video yang sempat ia putarkan sebelumnya. Baca Juga: Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek: Students’ Movie Project “Tidak menutup kemungkinan seperti yang ada di video tadi. Pada penerapan uji coba, guru mengundang pejabat kota untuk mendengarkan masukan dari anak kelas 2 SD terhadap permasalahan yang ada di taman kota,” tukasnya. Pada akhir acara, Ilona menyatakan harapan, mahasiswa peserta Kampus Mengajar dapat membantu menyelesaikan miskonsepsi yang ada di berbagai sekolah terkait PBL. Pasalnya, PBL yang benar dapat membantu murid menumbuhkan ribuan keterampilan, karakter. “PBL merayakan proses, bukan hasil akhir. Proses dalam PBL membantu guru mempersiapkan murid untuk siap hidup ketika kembali ke masyarakat. Bukan belajar hanya untuk menyelesaikan materi dan mendapat nilai 100 di atas kertas saja,” pungkas Ilona.

Drilling Soal Menggunakan Teknologi Tidak Membuat Murid Siap Hidup

Apakah Bapak Ibu termasuk yang memanfaatkan teknologi untuk Drilling Soal ke murid? Transformasi digital berlangsung lebih cepat sejak masa pandemi. Menurut data Kementerian Informasi dan Komunikasi (Kominfo), setidaknya 200 juta masyarakat telah menjadi pengguna internet dalam kesehariannya. Semua bidang terdampak, termasuk dunia pendidikan. Memberikan beragam keuntungan pun tantangan bagi para pendidik, baik guru maupun dosen.  Ilona Christina Kakerissa selaku Koordinator Pengembangan Program Yayasan Guru Belajar mengatakan, teknologi memang tidak akan menggantikan profesi guru namun pendidik yang tidak fasih dengan teknologi akan tergantikan dengan mereka yang mampu memanfaatkannya dengan baik. Ilona mengungkapkan terdapat model jaringan karya Ruben Puentedura yang mengkategorikan empat derajat integrasi teknologi dalam pembelajaran. Kategori tersebut yakni substitution, augmentation, modification, dan redefinition. “Model ini bisa kita gunakan untuk evaluasi. Sudah sampai mana kita memanfaatkan dan mengintegrasikan teknologi untuk pembelajaran? Masih tahapan peningkatan atau sudah transformasi?,” terang Ilona saat menjadi narasumber di webinar Kominfo bertajuk “Konten Pendidikan untuk Generasi Muda” pada Kamis (24/02/2022). Ilona menjelaskan teknologi hanya menjadi substitution atau pengganti apabila hanya memindahkan soal yang dulunya ada di dalam Lembar Kerja SIswa (LKS) ke dalam komputer. Sedangkan pada tahapan augmentation, terdapat sedikit perubahan pengalaman murid ketika belajar. Misalnya mengerjakan soal dengan menggunakan google form atau kahoot, yang mana setelahnya mereka bisa langsung mendapatkan umpan balik guru.  Pada level modification, perubahan desain pembelajaran karena adanya teknologi terasa lebih aktual dan signifikan. Pendidik harus mampu mendorong murid agar tugas pembelajarannya tidak hanya bertujuan mendapatkan nilai namun juga berguna untuk orang banyak. Sebagai contoh, membuat konten di media sosial yang bisa dimanfaatkan oleh banyak orang. “Kalau sudah pada tahapan redefinition, kita memberikan tugas pada murid atau mahasiswa tidak hanya agar mereka membuat konten untuk dinikmati banyak orang. Tapi bagaimana mereka bisa menciptakan inovasi yang baru dengan memanfaatkan teknologi yang ada,” jelas Ilona. Lebih lanjut Ilona mengungkapkan, selama ini pendidik di Indonesia masih terjebak pada tahapan substitution. Sehingga penggunaan teknologi tidak membantu untuk keluar dari krisis pembelajaran yang bahkan terjadi sebelum pandemi.. Menurut riset World Bank, kemampuan murid kita di Indonesia yang belajar hingga kelas 12 sebenarnya hanya setara dengan murid kelas 8. “Teknologi kita sudah maju, ada VR, AR, AI, dan lainnya. Tapi kemajuan teknologi ini masih dibarengi dengan strategi pembelajaran (pedagogi) gaya lama. Misalnya, drilling soal dalam les online. Dunia industri membutuhkan angkatan kerja yang siap memecahkan persoalan nyata bukan soal di layar laptop” jelasnya. Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Oleh karenanya, Ilona menegaskan, perlu ada irisan antara penguasaan konten, pemilihan strategi pembelajaran dan penggunaan teknologi yang sesuai untuk mendorong inovasi dan transformasi.  “Sebagai guru kita punya content knowledge, kita cari dulu teknologi apa yang mendukung untuk media transfernya. Tapi ini tidak akan bermakna kalau tidak ditunjang dengan pedagogi yang tepat. Apa itu pedagogi? Strategi kita. Metode apa yang kita pakai agar pembelajaran sampai ke murid,” pungkasnya.

Magang Guru Merdeka Belajar: Siapkan Calon Guru Penggerak

Kuliah sudah hampir lulus tapi belum siap untuk mengajar? Atau bahkan sudah lulus tapi ragu untuk jadi guru? Mungkin karena kamu belum mendapatkan ilmu mengajar merdeka seperti yang sudah didapatkan teman-teman peserta Magang Guru Merdeka Belajar (MGMB). Awalnya, teman-teman peserta MGMB juga meresahkan banyak hal terkait mengajar, seperti; “Ternyata susah bikin murid fokus. Lima menit mengajar, semua sudah pada sibuk sendiri. Haruskah aku jadi guru yang galak agar mereka jadi nurut? ”  “Kok sepertinya guru-guru pusing banget ya sama RPP? Ternyata aplikasinya kok sulit, aku bisa nggak ya nantinya?” Mengapa Harus “Guru Merdeka Belajar”? Saat memutuskan untuk menjadi guru, apa yang kamu bayangkan? Mungkin kamu akan membayangkan datang setiap hari ke sekolah, masuk ke kelas, menjelaskan materi, menyiapkan soal ulangan, dan memasukkan nilai ke raport. Baca juga: 5 Cerita Inspiratif Mentor dan Mentee Magang Guru Merdeka Belajar Jika ada murid yang dapat nilai jelek, kamu akan berpikir mereka butuh mendapat pengajaran tambahan di luar kelas. Atau yang paling buruk adalah melabeli murid tersebut bodoh. Sebaliknya, murid dengan nilai 90 ke atas adalah murid yang pintar. Sayangnya hal tersebut adalah hasil miskonsepsi belajar yang sudah mendarah daging di dunia pendidikan kita. Murid yang belajar tapi malah menjadi objek dari aktivitas guru mengajar. Berikut beberapa miskonsepsi belajar yang pasti sering kamu temukan; 1. Belajar hanya untuk ujian2.  Kendali belajar ada pada guru3.  Pelajar dipaksa memiliki kebutuhan belajar dan minat yang sama4.  Belajar itu menghafal dan menggunakan rumus5. Keberhasilan belajar terstandar dengan nilai angka6. Penilaian belajar sepenuhnya adalah wewenang guru Padahal, menurut Ki Hajar Dewantara, anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik memiliki peran yang besar namun hanya sampai pada titik merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu. Dengan kata lain, murid harus merdeka dalam proses belajarnya. Dengan menjadi peserta Magang Guru Merdeka Belajar, kamu bisa menjadi penggerak perubahan agar tidak ada lagi miskonsepsi seperti di atas yang sangat merugikan murid. Pada akhirnya, prinsip ini juga akan membantu kamu untuk menghadapi permasalahan dan keresahan seperti pada bagian awal tulisan ini. Apa Itu Magang Guru Merdeka Belajar (MGMB)? MGMB adalah program magang Kampus Guru Cikal (KGC) yang secara resmi menjadi mitra industri Kemendikbud dan Ristek melalui program Magang dan Studi Independen Bersertifikat pada tahun 2021. KGC memberikan kesempatan pada mahasiswa dengan latar studi keguruan maupun non keguruan minimal semester 5 untuk menjadi peserta magang ini. “Kami menerima 107 mahasiswa dari 51 perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia,” jelas Elisabet Susan, ketua KGC. Setelah mengikuti mentoring pedagogi selama satu bulan secara daring, peserta magang akan praktik mengajar dengan model blended learning. “Mahasiswa magang ditugaskan ke sekolah/madrasah di berbagai wilayah. Untuk tahun ini berada di 17 titik yang tersebar di 4 pulau besar di Indonesia,” lanjut Elisabet. Baca juga: Katrol Nilai dengan Hasil Asesmen Formatif, Bolehkah? WIlayah penempatan peserta Magang Guru Merdeka Belajar yakni Binjai, Tangerang, Tangerang Selatan, Depok, Jakarta Selatan, Bandung, Sukabumi, Jombang, Lamongan, Batu, Sidoarjo, Surabaya, Hulu Sungai Tengah, Sanggau, Makassar, dan Gowa. Seluruh sekolah yang menerima mahasiswa magang merupakan sekolah dari Jaringan  Sekolah Madrasah Belajar dan Komunitas Guru Belajar Nusantara. Selama magang, mahasiswa akan mendapatkan uang saku termasuk uang akomodasi penuh termasuk saat penempatan mengajar tatap muka. Elisabet mengungkapkan bahwa tujuan MGMB adalah agar semakin banyak mahasiswa yang tergerak untuk menjadi penggerak pendidikan dan melakukan perubahan ekosistem pendidikan yang lebih kolaboratif dan berpihak pada anak. “(Harapannya) semakin banyak calon guru merdeka belajar yang siap terjun ke sekolah-sekolah, sehingga semakin banyak murid yang mengalami merdeka belajar di kelas,” pungkasnya. Apa Kata Mentee? Riswan, salah satu mentee Magang Guru Merdeka Belajar angkatan pertama berharap bahwa kedepannya semakin banyak mahasiswa yang tertarik untuk mengikuti program magang yang diselenggarakan oleh KGC ini. Harapan tersebut tidak lepas dari pengalaman mahasiswa Universitas Negeri Makassar itu saat menjalani MGMB. Ia merasa banyak belajar dari para mentor dan lebih siap untuk mengajar nantinya setelah lulus. “Sebelumnya sudah magang di tempat lain. Saat program tersebut, aku tanya-tanya bagaimana caranya mengajar dan sebagainya. Aku menemukan banyak guru yang mengeluh. Seperti misalnya membuat RPP yang sangat banyak, lalu ada yang tidak diterapkan,” ungkap Riswan. “Tapi setelah ikut Magang Guru Merdeka Belajar kan dapat banyak modul, salah satunya modul Guru Merdeka Belajar. Pandanganku berubah drastis. Guru merdeka belajar itu enjoy-enjoy menjalankan tugasnya. RPP yang mereka rancang tidak memberatkan dan semua dapat diterapkan” lanjut mentee yang mendapat penempatan praktik di SDI Binakheir Depok ini. Selain itu, Riswan juga mendapat pandangan baru bahwa menjadi guru tidak hanya sekadar mengajar atau menyelesaikan target kurikulum. Ia menyampaikan bahwa orientasi pembelajaran adalah murid sehingga poin-poin pencapaian pun harus merupakan kesepakatan yang melibatkan murid. Apa Kata Mentor? Theresia Tri Darini merupakan salah satu mentor Magang Guru Merdeka Belajar berasal dari Yayasan Salib Suci Bandung. Keputusan Guru Theresia untuk menjadi mentor tidak lepas dari keresahannya ketika sulit mencari guru merdeka belajar untuk mengajar di tempat Ia bekerja. “Jangan sampai yang baru lulus hendak jadi guru, masih terpola dengan pola pendidikan konvensional. Hal ini terasa banget ketika saya banyak melakukan wawancara dengan pelamar-pelamar calon guru,” ungkapnya. Baca juga: Asesmen Nasional: Memperpanjang Derita atau Sebaliknya? “Sehingga kemudian sempat terpikir perubahan mindset ini harus dimulai dari bangku universitas. Berharap para pendatang bukan yang akan terpengaruh dengan gaya mengajar lama, tapi justru memberikan aura baru (yang merdeka belajar),” lanjut Guru Theresia. Ia pun mengatakan bahwa sangat senang menerima mentee dari program Magang Guru Merdeka Belajar. Sebagai mentor, ia dilibatkan dalam setiap proses sehingga merasa memiliki peran pada mahasiswa untuk menyiapkan bekal dunia kerja secara nyata. “Saya terlibat dengan apa yang mentee lakukan. Dari menyusun bersama bahan observasi, diskusi, hingga merencanakan prototype sesuai kebutuhan siswa,” jelas Guru Theresia. “Sebelumnya pernah jadi tempatnya belajar mahasiswa namun serasa hanya tempat,” lanjutnya. Guru Theresia mengungkapkan bahwa mahasiswa magang yang ia terima dari KGC sangat kritis dan percepatan belajarnya luar biasa. Ia menilai bahwa mahasiswa ini adalah jembatan antara (guru) yang konvensional dan millennial. Yuk Berproses di #AyoJadiGuru! Belum sempat ikut Magang Guru Merdeka Belajar tapi siap berproses untuk jadi guru yang merdeka belajar? Nantikan program #AyoJadiGuru dari Kampus Guru Cikal tahun 2022 ini!  #AyoJadiGuru merupakan program persiapan dan sertifikasi profesi guru yang terstruktur untuk mempersiapkanmu untuk jadi guru … Read more

Yayasan Guru Belajar Ajak Orprof Kolaborasi Merdeka Belajar

“Apakah mungkin guru menerapkan merdeka belajar? Bagaimana dengan standar penilaian sekolah?” “Bagaimana saya bisa memperhatikan potensi setiap anak, jika saya menangani lebih dari 30 anak dalam satu kelas?” Pertanyaan di atas mungkin menjadi pertanyaan semua para pendidik ketika mendengar konsep merdeka belajar. Bagi banyak pihak, konsep ini terlalu progresif dan utopis untuk diterapkan terlebih jika sekolah bukan berada di wilayah urban. Apakah Bapak/Ibu salah satunya? Oleh karenanya, Yayasan Guru Belajar (YGB) hadir mendampingi banyak guru untuk mewujudkan merdeka belajar. Tahun 2021 ini, YGB telah mendampingi guru dari 38 daerah, bertambah 34 wilayah dari tahun sebelumnya. Prestasi bagi YGB, namun demikian angka ini masih kecil membandingkannya dengan luas cakupan wilayah Indonesia. Artinya, perjuangan masih panjang. Teori Difusi Inovasi: Mengapa Kolaborasi Penting? YGB telah mengusung konsep merdeka belajar sejak yayasan ini didirikan tahun 2016. Selama lima tahun banyak kegiatan diadakan untuk mendukung pemberdayaan guru agar menjadi penggerak perubahan melalui pendidikan.   Sebagai upaya meningkatkan dampak, pada 19 November 2021, YGB mengajak berbagai organisasi profesi (orprof) guru turut serta untuk mendukung gerakan tersebut melalui program kolaborasi Pendidik Penggerak Merdeka Belajar (PPMB). Baca juga: Guru Merdeka Belajar, Guru yang Berdaya dengan Berkolaborasi Beberapa orprof seperti Sekolah Guru Indonesia, Komunitas Pengawas Belajar, Jaringan Sekolah Madrasah Belajar, Ikatan Guru Indonesia, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama, dan Komunitas Guru Belajar Nusantara hadir dalam acara pengenalan ini. Bukik menjelaskan bahwa program PPMB berangkat dari kesadaran bahwa banyak organisasi bergerak pada bidang pendidikan namun sibuk berjalan sendiri-sendiri. Padahal dalam teori difusi inovasi, perubahan membutuhkan penggerak atau innovator. Penggerak adalah orang yang berani untuk mencoba suatu hal baru serta siap menerima tantangan dan resiko ketika melakukannya. Sehingga melangkah sendirian akan sangat sulit. Apa Itu Sebenarnya Pendidik Penggerak Merdeka Belajar? Lebih lanjut Bukik menjelaskan bahwa PPMB merupakan program kerjasama yang memiliki tiga bentuk kerjasama, sebagai berikut. Pengembangan Organisasi: hibah untuk pengembangan kapasitas organisasi, terutama untuk memberdayakan penggerak merdeka belajar. Manajemen Program: hibah untuk pendampingan peserta program. Hibah Pelaksanaan Program: hibah ketika peserta mengikuti modul program. Melalui program PPMB, Bukik berharap semakin banyak orprof serta guru di dalamnya terlibat menjadi penggerak merdeka belajar. Sebab menurutnya, dengan kolaborasi maka pergerakan akan semakin kuat. Setelah kuat, maka gerakan ini baru bisa berdampak pada perubahan pendidikan. Apakah Merdeka Sama Dengan Bebas? Setelah pemaparan mengenai YGB secara umum dan PPMB khususnya, muncul beberapa pertanyaan menarik dari para perwakilan orprof. Salah satunya, apa maksud dari “merdeka”? Apakah sama dengan bebas? Menjawab pertanyaan tersebut, Bukik mengatakan bahwa merdeka tidak sama dengan bebas. Banyak pula yang mengaitkan dengan nilai liberalisme (klasik), namun menurutnya merdeka juga tidak menyamai paham tersebut. Sebab merdeka belajar tidak berarti siswa dapat memiliki kebebasan mutlak terhadap proses belajar. Namun demikian mereka memiliki hak untuk turut mengatur tujuan, cara, dan cara belajarnya. Bukik menjelaskan bahwa kata kunci dari merdeka belajar adalah pelibatan . Pelibatan anak, guru, dan orang tua dalam penentuan proses belajar. Siswa pada umumnya belum dapat memahami sepenuhnya apa yang mereka inginkan dan butuhkan, sehingga mereka perlu bimbingan guru maupun orang tua.  Jika ingin disamakan dengan suatu paham tertentu, maka merdeka belajar lebih sejalan dengan demokrasi. Sebab konsep pendidikan ini mengutamakan dialog, negosiasi, dan konsensus dari guru, murid, serta orang tua. Apakah Mungkin Menerapkan Merdeka Belajar? Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, banyak pihak menilai bahwa merdeka adalah konsep yang utopis. Hal tersebut juga menjadi pemikiran beberapa perwakilan orprof saat pertama kali mendengarkan penyampaian Bukik pada hari itu. Beberapa guru dari orprof menyampaikan kendala yang mungkin akan mereka hadapi ketika membayangkan ketika merealisasikan merdeka belajar. Seperti misalnya standar dari sekolah, beban kerja yang berlebih hingga harus mengajar 40 jam perminggu, dan masih diandalkannya penilaian sumatif untuk menilai hasil belajar siswa. Menanggapi keresahan itu, Bukik mengatakan bahwa hal tersebutlah yang menjadi tujuan PPMB yaitu mengedukasi ekosistem agar mau menjadi penggerak. Dalam satu sekolah mungkin hanya berawal dari satu guru, lalu satu guru tersebut berbagi dengan guru lainnya. Pada akhirnya, tercipta ekosistem guru penggerak dalam satu sekolah yang bisa mengadvokasi ke kepala sekolah untuk berubah. Begitu seterusnya secara struktural ke atas. Baca juga: Kemerdekaan Belajar Bukan Diberikan Tetapi Kita Gerakkan Bukik menilai bahwa transformasi memang sebaiknya dimulai dari lingkup daerah. Pasalnya, apabila pusat menentukan suatu regulasi tertentu, hal tersebut akan sia-sia apabila daerah tersebut tidak berdaya. Ujungnya, implementasi nol besar. Oleh karenanya, Ia menegaskan betapa pentingnya peran tamu undangan yang hadir untuk ikut turut sebagai penggerak melalui PPMB. Praktik Nyata di Pesantren Afkaaruna: Santri Merdeka Menentukan Proses Pembelajaran Meskipun terasa utopis bagi banyak orang, namun tidak sedikit guru yang telah membuktikan bahwa merdeka belajar bisa dipraktikkan. Dalam kesempatan tersebut, YGB membagikan buku “Merdeka Belajar di Ruang Kelas” karya Najeela Shihab dan Komunitas Guru Belajar kepada seluruh perwakilan orprof yang hadir.. Buku tersebut berisi kumpulan cerita praktik baik dari para guru dari berbagai wilayah di Indonesia. Selain itu, ada satu guru inspiratif dari Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) yang berbagi langsung bagaimana praktik merdeka belajar di sekolah tempatnya mengajar. Namanya Wardania Dewi, guru bahasa Inggris di Pesantren Afkaaruna, Yogyakarta.Wardania menjelaskan bahwa pesantren tempatnya mengajar menggunakan kurikulum  campuran baik internasional maupun nasional. Kurikulum tersebut kemudian diolah oleh para guru dan dipaparkan ke para santri sebelum tahun ajaran dimulai. Pada kesempatan tersebut, santri boleh menyampaikan pendapatnya mengenai rencana pembelajaran. Seperti misalnya ada yang ingin mereka ubah atau geser ke semester berikutnya. Wardania mengungkapkan bahwa proses ini yang pihak pesantren inginkan, yaitu para santri dengan percaya diri mengungkapkan opini. Terkait asesmen, pesantren Afkaaruna menggabungkan metode sumatif dan formatif. Wardania mengatakan bahwa tempatnya mengajar masih tetap mengadakan ujian untuk mendapatkan nilai angka. Namun demikian, hasil akhir penilaian tidak hanya berdasarkan nilai-nilai tersebut. Pada rapor, pesantren Afkaaruna menyertakan tabel yang menjelaskan bagaimana proses pendidikan santri selama di pesantren. “Mungkin ini seperti raport anak PAUD ya. Jadi penuh dengan kalimat yang menjelaskan perkembangan santri,” ungkap Wardania. Menerapkan cara yang belum umum dilakukan oleh banyak sekolah tentu bukan hal yang mudah. “Ada orang tua yang bertanya mengapa anak mereka diberi kemerdekaan seperti itu. Bahkan ada orang tua santri yang menyebut pesantren Afkaaruna tidak memiliki power atas proses pembelajaran santrinya,” jelas Wardania. Namun hal tersebut tidak menyurutkan langkah pendidik dari pesantren Afkaaruna untuk terus menjalankan metodenya tersebut. … Read more

Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek: Students’ Movie Project

Murid lesu, tidak bersemangat dan termotivasi, sering membuat kegaduhan di kelas, atau prestasi terus menerus mengalami penurunan? Apakah bapak dan ibu guru pernah mendapati keadaan seperti ini? Bisa jadi ini adalah gejala-gejala ketika murid sedang merasa bosan dengan metode pembelajaran, dan mungkin juga ini adalah bentuk keluhan murid jika mereka sedang bosan dengan metode pembelajaran yang diterapkan. Jika iya jangan dibiarkan ya bapak dan ibu guru, karena ini tentunya akan menghambat murid dalam belajar. Namun tenang bapak dan ibu guru, kali ini bapak dan ibu guru akan dikenalkan dengan Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek. Lantas, apa sih Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek itu? Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek adalah metode pengajaran di mana murid memperoleh pengetahuan dan keterampilan dengan secara aktif terlibat dalam dunia nyata dan proyek yang bermakna secara pribadi atau berkelompok. Dalam Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek ini, murid akan memanfaatkan keterampilan membangun tim melalui kolaborasi. Murid dibebaskan memberikan pembagian tugas dalam tim dan merencanakan bagaimana mereka akan bekerja sama. Lalu, bagaimana contoh nyata dari Praktik Pembelajaran Proyek ini? Untuk lebih jelasnya, mari kita simak cerita dari Pak Madya Giri Aditama, yang merupakan anggota KGB Batang serta mengajar di STKIP Muhammadiyah Batang.  Menerapkan pembelajaran yang dapat membangun dan mengembangkan kompetensi serta kreativitas murid merupakan tujuan keberlanjutan yang ingin dicapai semua guru. Begitu juga dengan Pak Madya, dalam pembelajaran bahasa Inggris yang diampunya, murid dituntut menguasai empat kemampuan dasar, yaitu Berbicara (speaking), mendengar (listening), membaca (reading), serta menulis (writing). Menurut beliau, tentu saja ini membutuhkan waktu dan instrumen lebih banyak jika melakukan asesmen terhadap setiap kemampuan dasar secara terpisah. Pak Madya menerapkan kegiatan asesmen formatif yang dilakukan secara berkala dan bertahap sehingga dapat membantu murid untuk lebih memahami materi pembelajaran dengan lebih matang. Dikatakan oleh Pak Madya jika hambatan dan kendala yang sering dilakukan oleh murid dalam praktik bahasa Inggris diantaranya adalah keterbatasan kosa kata (vocabulary) yang dimiliki, tata bahasa (grammar), serta pelafalan (pronunciation). Faktor-faktor tersebut sangat penting dalam pembelajaran bahasa serta penerapannya dalam kehidupan nyata. Ditambah lagi jika durasi dan jumlah pertemuan yang terbatas juga mempengaruhi tingkat keberhasilan murid dalam memahami konteks isi pembelajaran dengan sempurna. Oleh karenanya, menurut beliau sangat penting bagi murid untuk menguasai keempat kemampuan dasar tersebut beserta faktor penunjang yang menjadi komponen dalam kemampuan dasar bahasa Inggris tersebut.  Baca juga: Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar, Solusi Persoalan Guru Lantas, Pak Madya pun memikirkan untuk menerapkan metode pembelajaran berbasis proyek. Hal ini yang telah coba diterapkan oleh Pak Madya dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk mahasiswa semester 2 di Universitas Muhammadiyah Surakarta program English for International Class (EIC) selama tiga tahun dan mahasiswa semester 2 di STKIP Muhammadiyah Batang selama dua tahun ini. Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek berupa asesmen yang beliau terapkan dilakukan dengan menggunakan satu metode yang dapat melakukan asesmen terhadap semua kriteria penilaian yang ada dalam pembelajaran bahasa Inggris secara bertahap dan berkelanjutan. Ternyata prasangka tentang kesulitan belajar dan menggunakan bahasa Inggris masih menjadi momok serta kendala dalam pembelajaran bahasa Inggris, terutama bagi mahasiswa di luar program studi bahasa Inggris. Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek yang melibatkan strategi, dan media yang variatif dirasa cocok oleh Pak Madya guna meningkatkan ketertarikan murid dapat mengembangkan rasa ingin tahu dan kesadaran akan kebutuhan bahasa Inggris. Walaupun sudah dewasa, tetap tidak mudah dalam memberikan pemahaman tentang pentingnya bahasa asing kepada mahasiswa. Kesadaran akan kebutuhan penguasaan bahasa Inggris perlu disampaikan di awal pembelajaran agar guru dapat memetakan tahap-tahap asesmen dan evaluasi. Praktik Pembelajaran Berbasis Proyek memudahkan guru dalam melakukan asesmen Bernama Students’ Movie Project, yang mana adalah kegiatan serta tugas yang Pak Madya berikan kepada mahasiswa untuk merancang, merekam suatu cerita dengan menggunakan bahasa Inggris, serta mengemasnya dalam suatu video yang menarik dan mendidik. Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan kemampuan literasi digital, murid tidak mendapat beban berat dalam mengadakan alat untuk mengerjakan tugas karena semua bisa menggunakan gawai yang mereka miliki. Di sini ada beberapa tahap yang Pak Madya lakukan dalam penyusunan Students’ Movie Project, sekaligus sebagai asesmen formatif. Diawali dengan membentuk kelompok, kemudian dilanjutkan dengan merencanakan konsep cerita serta menulis naskah percakapan yang akan dibawakan oleh setiap anggota kelompok. Beliau memberikan kebebasan dalam menentukan topik (tema), sesuai dengan kesukaan dan ketertarikan murid, selama sesuai dengan pendidikan dan motivasi remaja, serta tidak mengandung unsur sara dan ditentukan secara berdiskusi. Pada proses penulisan cerita dan naskah, Pak Madya melakukan asesmen kemampuan menulis (writing), sekaligus memberikan revisi dan koreksi pada sesi konsultasi. Hasil tulisan dijadikan sebagai sumber latihan pembacaan naskah guna melancarkan serta menghafalkan pengucapan yang benar. Pada tahap ini, beliau sekaligus melakukan asesmen kemampuan membaca (reading), sembari memberikan umpan balik terhadap cara eksekusi membaca murid. Konsep cerita dan naskah yang telah dihafalkan dibawakan secara spontan dan dikembangkan sesuai dengan improvisasi masing-masing. Pada sesi ini beliau juga melakukan asesmen kemampuan berbicara (speaking) tahap awal sebelum asesmen pada hasil akhir nanti. Setelah tahap tersebut cukup, dilanjutkan tahap perekaman video. Proses ini tidak berlangsung secara cepat. Diperlukan waktu dan percobaan berulang-ulang guna menghasilkan cerita dan pengucapan yang tepat. Proses penyuntingan, pemilihan gambar, dan penyelesaian keseluruhan dilakukan secara berkelompok dan merupakan bentuk hasil karya buah kerja sama seluruh anggota kelompok. Video hasil akhir pembuatan tugas ini dikumpulkan dan diputar untuk dievaluasi bersama. Evaluasi dan tukar pendapat dilakukan dengan murid dari kelompok lain guna mendapatkan umpan balik variatif dan membangun. Dalam evaluasi bersama ini diterapkan asesmen kemampuan mendengar (listening), yaitu dengan meminta murid untuk menyimak, menuliskan ulang konsep cerita, serta menjawab pertanyaan mengenai video hasil karya kelompok lain. Dari hasil akhir evaluasi karya, dapat diketahui perbedaan dan perkembangan dalam memahami dan melakukan eksekusi terhadap perbaikan yang telah dilakukan pada setiap tahapan asesmen dalam proses pembuatan tugas tersebut. Hasil akhir dalam pembelajaran bahasa Inggris adalah praktik. Dengan menerapkan movie project ini, murid dapat melakukan praktik berbahasa Inggris dengan senang dan terkonsep. Guru dapat melakukan asesmen dalam setiap tahap proses. Setidaknya ada lima tahap pembuatan tugas. Pertama, tahap penyusunan dan penulisan cerita serta naskah. Kedua, proses berlatih membaca naskah. Ketiga, proses berlatih berbicara dan peran. Keempat, proses perekaman dan penyuntingan. Kelima, penyelesaian tugas dan evaluasi bersama. Seperti kata peribahasa: sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui, dalam keseluruhan tahap tersebut Pak Madya melakukan … Read more

Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar, Solusi Persoalan Guru

Bapak dan Ibu guru masih memiliki persoalan dalam kegiatan pembelajaran? Apakah bapak dan ibu guru belum menemukan solusi yang pas dalam mengatasi hal tersebut? Apakah bapak dan ibu guru pernah mendengar Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar? Tenang bapak dan ibu guru, melalui pembahasan di tulisan ini mungkin bapak dan ibu guru akan bisa menemukan solusi dari persoalan yang bapak dan ibu guru rasakan dengan Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar. Ya, karena pada tulisan kali ini, kita akan membahas dan mengenalkan kepada bapak dan ibu guru tentang “Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar, Solusi Persoalan Guru”, tanpa perlu berlama-lama, yuk mari kita simak tulisan di bawah ini Mengapa Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar Menjadi Solusi atas Persoalan Guru? Kurikulum ini sendiri dirancang dengan pendekatan praktis, sehingga nantinya bapak dan ibu guru dapat berdaya dengan merancang dan mempraktikkan solusi berlandaskan teori dan dan menyesuaikannya dengan konteks kelas dan kondisi di daerahnya masing-masing.  Berikutnya, kurikulum ini juga dirancang secara modular agar fleksibel dalam memenuhi kebutuhan guru. Dengan pendekatan modular, bapak dan ibu guru dapat memilih dan mengikuti modul pembelajaran yang sesuai untuk mengatasi persoalan di kelasnya. Di sini setiap guru memiliki kemerdekaan untuk merancang dan mengalami personalisasi pengalaman belajar.  Kurikulum ini juga dirancang sebagai solusi terhadap kebutuhan guru yang telah teruji lebih dari 20 tahun. Kurikulum ini bukan saja telah digunakan untuk pendidikan guru pada satu sekolah, namun telah diterapkan di lebih dari 1000 sekolah di berbagai penjuru nusantara.  Baca juga: Memahami Merdeka Belajar Lalu, Apa itu Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar? Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar ialah kurikulum yang bertujuan mengembangkan kompetensi pedagogik guru melalui cara melalui 5 cara, yaitu; Memanusiakan Hubungan, Memahami Konsep, Membangun Keberlanjutan, Memilih Tantangan, dan Memberdayakan Konteks. Cara ini lebih dikenal dengan cara 5M,  sehingga nantinya mampu menumbuhkan murid yang Merdeka Belajar, yang mana murid yang belajar karena kemauan sendiri. Bapak dan ibu guru bisa mempelajari Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar dengan mengunduh di https://pembelajaran.kampusgurucikal.com/ Kurikulum ini terdiri dari 1 pondasi, 3 blok modular dan 1 atap. Pondasinya ialah program Guru Merdeka Belajar. Dilanjut Blok Modular yang terdiri dari tiga blok yaitu:  A. Manajemen Kelas Merdeka Belajar  B. Strategi Pembelajaran Merdeka Belajar C. Asesmen Pembelajaran Merdeka Belajar Lalu, kurikulum ini dilengkapi dengan Atap yang mana kitab isa melihat program Karier Guru Merdeka Belajar Di setiap blok modular terdiri dari program yang disusun berdasarkan alur penguasaan kompetensi guru merdeka Belajar. Dimulai level 0, level 1, level 2 dan seterusnya. Lantas, Bagaimana Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar Menjadi Solusi atas Persoalan Guru? Nah, Alur Belajar kurikulum ini, yang mana Langkah pertamanya adalah pijak pondasi, ikuti program Guru Merdeka Belajar. Setelah mendapat pijakan pondasi, langkah berikutnya adalah dengan mengikuti blok modular. Setiap blok modular dimulai pada level 1, namun bila bapak dan ibu guru masih kesulitan pada level 1, bapak dan ibu guru bisa coba ikuti level 0. Sementara, apabila bapak dan ibu guru sudah menguasai level 1, maka bapak dan ibu guru bisa melanjutkan ke level yang lebih tinggi sesuai persoalan pembelajaran dan kebutuhan belajar. Bila ingin mengembangkan karier, ikuti program yang termasuk pada kategori Atap, yang mana bapak dan ibu guru dapat mengembangkan Karier Guru Merdeka Belajar. Kemudian, Bagaimana Contoh Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar Menjadi Solusi untuk Persoalan Guru? Mari kita gambarkan contohnya seperti ini. Awalnya di sebuah sekolah, ada seorang guru, sebut saja Guru Agus. Di sini guru Agus curhat jika muridnya ribut dan mencari perkara, dari ramai di kelas, tidak taat protokol kesehatan . Ia coba mengatasi persoalan tersebut dengan cara sederhana namun tetap saja tidak terjadi perubahan pada muridnya. Hal ini hingga membuat guru Agus pusing bagaimana mendisiplinkan muridnya tersebut. Lantas, bagaimana cara menertibkannya? dan kira-kira apa program yang bisa membantu guru Agus menyelesaikan persoalan tersebut? Akhirnya guru Agus mencoba untuk mulai mengikuti program Guru Merdeka Belajar. Yang mana pada program tersebut Guru Agus melihat-lihat pada blok modular. Lalu, apa ya blok modular yang cocok untuk guru Agus? Ternyata, setelah direnungkan beberapa saat, Guru Agus merasa bahwa persoalannya kali ini adalah terkait dengan kemampuannya dalam melakukan manajemen kelas. Ia pun fokus mempelajari blok modular Manajemen Kelas Merdeka Belajar tersebut. Dan kemudian ia pun memutuskan mengikuti program Kesepakatan Kelas Merdeka Belajar. Demikianlah cerita guru Agus dalam yang menemukan solusi atas persoalannya selama ini dengan mengikuti contoh Guru Merdeka Belajar, yang mana bersinergi dengan kurikulum ini. Nah, bagaimana bapak dan ibu guru, apakah pembahasan ini bisa memberikan insight baru dan menjawab persoalan bapak dan ibu guru saat ini? Jika bapak dan ibu guru masih penasaran, yuk bapak dan ibu guru pelajari lebih dalam lagi dan akses modul-modul di Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar lainnya dengan mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII pada 20-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem merdeka belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Ayo Jadi Guru Merdeka Belajar! Guru Penggerak Perubahan Pendidikan! Mari berjumpa rekan seperjuangan di Temu Pendidik Nusantara VIII, untuk #DukungGuruBelajar bergerak bersama demi Pendidikan. Perubahan pada diri Bapak dan Ibu Guru adalah awal perubahan untuk masa depan murid Indonesia! Klik: https://tpn.gurubelajar.org

Motivasi Guru Penggerak Merdeka Belajar, Berani Berubah Meskipun Tertatih-Tatih

Ketika pandemi melanda beberapa waktu yang lalu, bapak dan ibu guru pasti merasakan dan mengalami untuk beradaptasi dengan perubahan kebiasaan tersebut tampak jelas terasa karena pada saat kondisi normal, belajar menggunakan sistem tatap muka (luring), lalu berubah menjadi pembelajaran jarak jauh (daring) yang dijalankan sekolah. Oleh karena itu, apakah bapak dan ibu guru pernah merasa bingung, galau, dan tidak mengetahui harus memulai dari mana saat pembelajaran secara daring dilakukan? Untuk lebih jelasnya, mari kita dengarkan cerita inspirasi guru penggerak merdeka belajar yaitu Ibu Theresia A. T. Astuti yang mengajar di TK Yos Sudarso Bandung, dan beliau juga merupakan anggota Komunitas Guru Belajar Bandung. Pandemi Covid-19 adalah awal cerita inspirasi Ibu Tere ini dimulai. Pada Tahun Pelajaran 2020/2021, Ibu Tere mendapat tugas baru, diberi kepercayaan untuk memimpin TK Yos Sudarso Bandung. Ini merupakan pengalaman pertama beliau untuk pindah tugas setelah selama 16 tahun menjadi guru di tempat yang sama, atau berada di zona nyaman beliau.  Tempat baru, suasana baru, rekan kerja baru, dan beban tugas baru yang belum pernah terbayang sebelumnya harus Ibu Tere hadapi. Banyak cerita negatif yang beliau dengar tentang sekolah ini. Seketika Ibu Tere merasa ciut, ragu, minder, dan tidak percaya diri. “Apakah saya sanggup melakukan perubahan?”, ujar Ibu Tere dalam hati. Lantas, beliau dan dua rekan guru pun memutuskan untuk melakukan perubahan. Awalnya beliau memiliki perasaan yang sama dengan bapak dan ibu guru kebanyakan, beliau merasa bingung, galau, dan tidak mengetahui harus memulai dari mana saat pembelajaran secara daring wajib dilaksanakan. Baca juga: Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan Pembelajaran pun dimulai. Para guru melakukan tugasnya, melayani murid secara daring. Pembelajaran saat normal ditransfer menjadi daring. Tidak ada yang berbeda. Para guru melakukan pembelajaran dengan menggunakan aplikasi WhatsApp. Pembelajaran berfokus pada materi dan tema. Berbagai saran dan masukan coba Ibu Tere berikan agar pembelajaran tidak monoton. Namun, berbagai alasan dilontarkan para guru. Mereka berdalih adanya keterbatasan sarana, baik pihak guru maupun murid, serta keterbatasan penguasaan teknologi. Dan lebih kurang tiga bulan pembelajaran model ini dilakukan. Menurut Ibu Tere, pembelajaran terasa hambar, interaksi terbatas, satu arah, dan inisiatif serta instruksi selalu dari guru. Ibu Tere menyaksikan, setiap hari para guru melakukan komunikasi dengan orang tua murid melalui telepon atau video call untuk menjalin kedekatan. Namun, relasi yang harmonis belum tampak. Para guru mulai lelah dan mengeluh. Mereka merasa respons yang terlalu biasa, baik dari orang tua maupun murid. Ibu Tere mengungkapkan jika beliau dan mayoritas guru lainnya di sekolahan tersebut adalah guru senior. Tepatnya guru jadul yang belum terbuka dan paham banyak penggunaan teknologi, sehingga dalam melakukan pembelajaran hanya mengedepankan rasa, insting, dan pengalaman. Saat briefing pagi ataupun pertemuan, Ibu Tere berulang kali memberi masukan kepada rekan guru agar melakukan perubahan. Beliau mencoba mengajak mereka lebih terbuka, berani mencoba hal baru. Setelah sekian lama, akhirnya muncul juga keinginan salah satu guru untuk melakukan perbaikan pembelajaran. Dia mengajak guru lain mempelajari berbagai aplikasi pembelajaran berbasis teknologi sebagai variasi dalam pembelajaran daring. Tujuannya agar murid dapat lebih antusias. Awalnya, tampak gurat keraguan dalam diri guru yang diajak belajar. Mereka terpaksa saat belajar bersama. Lewat pendekatan secara pribadi, akhirnya terwujud juga kegiatan belajar bersama. Berbagai cara dan variasi pembelajaran mulai dipelajari. Ibu Tere mendukung dan mendampingi para guru, turut belajar dan mengembangkan diri. Beliau merasa jika belajar dari siapa pun dan dari mana pun. Terutama tentang penggunaan aplikasi yang dapat digunakan supaya pembelajaran lebih menarik. Para guru memerlukan waktu lama untuk memahami pengetahuan baru. Namun, di sini Ibu Tere melihat semangat mereka, keinginan kuat untuk terus belajar, mencoba, dan mempraktikkan pengetahuan maupun keterampilan baru yang berhubungan dengan teknologi. Guru saling belajar, berbagi pengetahuan dan praktik baik, menguatkan, dan membantu. Bahkan, persiapan pembelajaran dilakukan secara bersama-sama. Sedikit demi sedikit pembelajaran mulai bervariasi. Berbagai aplikasi dipraktikkan dalam pembelajaran. Namun, Ibu Tere merasa masih ada yang kurang dan masih terasa hambar. Peran guru masih sangat dominan di sini. Mereka belum konsisten melakukan perubahan pembelajaran, masih mengadopsi cara dan pola lama. Pada pertengahan Oktober 2020, melalui platform Sekolah.mu, Ibu Tere berkenalan dengan Merdeka Belajar. Kemudian, beliau sering mendengar istilah tersebut. Namun saat itu, Ibu Tere belum memahami maknanya. Akhirnya, beliau mengikuti program Sekolah Lawan Corona. Ibu Tere dan para guru pun belajar bersama. Dari program ini akhirnya beliau menyadari bahwa pembelajaran yang selama ini, pelayanan yang kami berikan, masih mengalami miskonsepsi. Bersama para guru, Ibu Tere belajar membuat persiapan pembelajaran dengan mengedepankan prinsip 5M, belajar membuat dan menggunakan kanvas RPP yang diawali dengan melakukan pemetaan profil murid. Pembelajaran di Sekolah Lawan Corona sudah beliau tuntaskan. Ibu Tere yakin, banyak hal, informasi, dan ilmu baru yang guru dapatkan. Namun, pengimbasan ataupun dampaknya dalam pembelajaran belum terasa. Belum tampak perubahan yang signifikan. Padahal, pengetahuan, keterampilan, dan semangat sudah ada dalam diri para guru. Lantas, Ibu Tere tertantang mencari akar masalahnya. Rasa penasaran dan keinginan kuat menuntun beliau mencari informasi, belajar dari berbagai sumber. Faktor ini menjadi pemicu beliau untuk mengikuti beberapa program di Sekolah.mu, beliau mengharapkan jika ini dapat membantunya melakukan tugas sebagai pemimpin. Ibu Tere mengikuti program Guru Merdeka Belajar dari Kampus Guru Cikal, berdampingan dengan program Menjadi Pemimpin Merdeka Belajar dari Sekolah Merdeka Belajar. Kemudian, teori dan tips sebagai pemimpin merdeka belajar sudah beliau dapatkan. Ternyata masih ada miskonsepsi yang beliau lakukan dalam melakukan percakapan dan pengamatan sebagai pemimpin merdeka belajar. Dalam melakukan percakapan, Ibu Tere merasa perlu fokus dan selalu mengarahkan kepada tujuan. Percakapan beliau lakukan dengan lebih santai. Ibu Tere duduk bersama sambil menyelesaikan pekerjaan atau membuat persiapan pembelajaran bersama. Setelah melakukan obrolan dan percakapan dengan guru, beliau merasa ada yang kurang, “Gregetnya belum ada”. Hal ini terutama bila mendengar keluhan atau curhatan guru tentang murid yang dinilai terlalu berinisiatif. Misalnya sudah mengerjakan pekerjaan atau tugas yang seharusnya belum dikerjakan atau belum diperintahkan. Sebagai pemimpin, Ibu Tere mengingatkan mereka melalui percakapan untuk melakukan pembelajaran yang berpihak kepada murid. Beliau mengajak mereka melihat sisi positifnya: murid itu kreatif. Dengan demikian, perlu kreativitas guru dalam merancang pembelajaran dengan memaksimalkan pemanfaatan fasilitas dan penugasan yang berdiferensiasi. Ibu Tere merasa saat ini rekan-rekan guru sudah memahami bahwa pembelajaran harus fokus kepada kebutuhan anak, memaksimalkan pemanfaatan fasilitas yang … Read more

Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan

“Memaknai Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan, oleh karena itu sebagai seorang guru, maka akan menghadapi banyak sekali tuntutan yang saling bersaing, tetapi untuk setiap tantangan yang bapak dan ibu guru hadapi, ada imbalan yang setara atau lebih besar. Saat bapak dan ibu guru memasuki profesi yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi kehidupan orang lain, bapak dan ibu guru juga mengambil bagian dalam karier yang penuh makna.” Profesi sebagai seorang guru bisa dikatakan adalah garda paling penting dari kehidupan masyarakat kita. Guru mendukung murid menentukan tujuan, memfasilitasi murid memperoleh kompetensi untuk sukses sebagai warga dunia kita, dan mengilhami mereka dorongan untuk berbuat baik dan sukses dalam hidup. Murid-murid hari ini adalah pemimpin masa depan, dan peran guru adalah titik kritis yang membuat murid siap untuk masa depan mereka.  “Menjadi seorang guru tidak akan membuat siapapun menjadi kaya—namun ini adalah salah satu karier paling berharga di dunia ini. Seorang guru dapat memiliki dampak besar pada kehidupan seorang murid, dan melihat seorang murid berkembang dan tumbuh adalah sesuatu yang membawa sukacita besar bagi seorang guru.” Ketika berbicara dengan semua guru yang ada, maka hanya sedikit yang akan memberi tahu  bahwa menjadi guru adalah sesuatu yang mereka sesali lakukan, bahkan hampir tidak ada. Alasan umum dari semua itu adalah bahwa mereka menemukan kepuasan menjadi seorang guru dalam mempengaruhi murid dan membantu mereka dalam membentuk masa depan. Meskipun mungkin tidak sama untuk setiap pendidik, akan selalu ada alasan bagus untuk menjadi satu. Oleh karena itu dalam tulisan kali ini kita akan membahas tentang “Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan”. Baca Juga: Guru Merdeka Belajar, Cukupkah Jadi Pendidik? Atau Perlu Jadi Penggerak? Menjadi Guru itu Penting Murid-murid membawa apa yang dipelajari kepada mereka di usia muda ke sepanjang hidup mereka. Mereka akan menggunakan apa yang telah mereka pelajari untuk mempengaruhi masyarakat. Bapak dan ibu guru mungkin mengetahui juga bahwa generasi muda hari ini akan menjadi pemimpin masa depan, dan para guru memiliki akses untuk mendidik generasi muda di tahun-tahun mereka yang paling berkesan — baik itu dalam mengajar prasekolah, mengajar ekstrakurikuler, olahraga, atau kelas konvensional. Guru memiliki kemampuan untuk membentuk pemimpin masa depan dengan cara terbaik bagi masyarakat untuk membangun generasi masa depan yang positif dan menginspirasi dan oleh karena itu merancang masyarakat, baik dalam skala lokal maupun global. Dan faktanya, guru memiliki pekerjaan paling penting di dunia. Peran bapak dan ibu guru saat ini yang berdampak pada anak-anak masyarakat memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan. Bukan hanya untuk anak-anak itu sendiri, tetapi untuk kehidupan banyak orang. Peran Seorang Guru Membawa Perubahan dalam Kehidupan Murid Percayalah peran seorang guru ternyata memberi perubahan dalam kehidupan murid. Peran guru menjadi berpengaruh dalam kehidupan murid, menginspirasi dan memotivasi mereka untuk mencapai potensi mereka. Suatu hari nanti mungkin murid bapak dan ibu akan menjadi pemenang penghargaan Nobel, pebisnis terkemuka, pemimpin hebat, perdana menteri dan seniman terkenal atau individu yang berpengetahuan luas dengan cinta untuk belajar. Bukan hanya karena itu adalah profesi yang mulia, tetapi menjadi seorang guru juga memungkinkan bapak dan ibu untuk terus berkreasi dan menjadi lebih baik secara profesional. Peran guru saat ini memiliki banyak kesempatan di tangan mereka untuk menjadi kreatif dan menggunakan semua metode yang mungkin untuk membuat lingkungan belajar yang optimal bagi murid. Lalu, guru dapat bertindak sebagai sistem pendukung yang kurang di tempat lain dalam kehidupan murid. Dan menjadi seorang guru pasti akan menjadi panutan dan inspirasi murid untuk melangkah lebih jauh dan bermimpi lebih besar. Dengan menjadi seorang guru dan penggerak di bidang pendidikan, maka bapak dan ibu akan memberi manfaat bagi murid terlebih masyarakat secara keseluruhan. Kesan yang bapak dan ibu buat pada murid di kelas akan terus berlanjut ke generasi berikutnya. Ini adalah keistimewaan karir menjadi seorang guru, yang mana bapak dan ibu memiliki kesempatan untuk membawa sebuah perubahan bagi generasi kehidupan. Peran Seorang Guru sebagai Pembelajar Sepanjang Hayat Pendidikan telah banyak berubah mengikuti perkembangan zaman ini. Saat ini pendidikan lebih interaktif dengan intrusi media digital. Penerapan teknologi kini seperti kecerdasan buatan, augmented reality membuka dimensi baru dalam pendidikan. Namun, ada peran besar bapak dan ibu guru yang tetap berjalan hingga saat ini dan tidak bisa tergantikan. Sebagai seorang guru, bapak dan ibu harus mengeluarkan yang terbaik dalam diri murid dan menginspirasi mereka untuk berjuang demi kebesaran. Murid dianggap sebagai masa depan bangsa dan umat manusia, dan peran bapak dan ibu guru diyakini sebagai pemandu yang kredibel untuk kemajuan mereka.. Guru dapat melihat kekuatan dan kelemahan setiap murid dan dapat memberikan bantuan dan bimbingan untuk mempercepat atau mendorong mereka lebih tinggi. Sebagai seorang guru tidak hanya membimbing murid dalam bidang akademik atau kegiatan ekstrakurikuler, tetapi guru juga bertanggung jawab untuk mendukung masa depan murid, menjadikannya manusia yang lebih baik. Seorang guru menanamkan pengetahuan, nilai-nilai baik, tradisi, tantangan zaman modern dan cara-cara untuk menyelesaikannya dalam diri murid.  Bapak dan ibu guru juga menjadi sumber inspirasi dan motivasi. Guru menginspirasi murid untuk melakukannya dengan baik, dan memotivasi mereka untuk bekerja keras dan menjaga tujuan akademik mereka tetap pada jalurnya. Menjadi seorang guru sebagai pembelajar sepanjang hayat memungkinkan bapak dan ibu guru untuk terus belajar dan berkembang dalam pengetahuan. Perang Seorang Guru sebagai Penggerak Pendidikan Pengetahuan dan pendidikan merupakan dasar dari segala sesuatu yang dapat dicapai dalam kehidupan. Guru memberikan kekuatan pendidikan kepada generasi muda saat ini, sehingga memberi mereka kemungkinan untuk masa depan yang lebih baik. Pola pikir guru sebagai penggerak pendidikan ialah memperlakukan kesalahan dan tantangan sebagai bagian dari proses belajar. Bapak dan ibu guru diminta untuk tidak melihat kesalahan sebagai kegagalan. Kesalahan memberi murid sebuah pengalaman atau informasi baru yang dapat mereka gunakan saat mereka terus menemukan cara untuk memecahkan masalah atau tantangan. Guru juga tidak pernah tahu jenis pertanyaan apa yang akan diajukan oleh murid. Sebagai penggerak Pendidikan, guru menjadikan belajar sebagai kebiasaan rutin untuk beradaptasi dengan perubahan dan tindakan murid. Dedikasi dalam Peran Seorang Guru Salah satu bagian terpenting dalam peran seorang guru adalah memiliki dedikasi. Bapak dan ibu guru mungkin merasakan jika peran guru tidak hanya mendengarkan, tetapi juga melatih dan membimbing murid. Guru mampu membantu membentuk tujuan akademik dan berdedikasi untuk membuat murid  mencapainya. Bapak dan ibu guru memiliki … Read more

Praktik Asesmen Diagnosis, Tatap Maya Seindah Tatap Muka

Bapak dan Ibu guru merasa praktik asesmen diagnosis saat tatap maya tak seindah tatap muka? Merasakan banyak yang hilang dan memengaruhi proses belajar di kelas? Yap, pandemi yang datang ternyata menjungkirbalikkan kebiasaan-kebiasaan bapak dan ibu guru. Mungkin banyak para guru yang sudah memiliki kebiasaan pembelajaran dengan praktik asesmen diagnosis tatap muka namun tiba-tiba harus menjalankan pembelajaran praktik asesmen diagnosis tatap maya.  Tapi tenang bapak dan ibu guru, di dalam tulisan ini kita akan bahas lebih lanjut bagaimana sih membuat praktik asesmen diagnosis saat tatap maya seindah tatap muka. Tanpa berlama-lama, kita akan dengarkan cerita dari Ibu Anggi Rizka Pustika, yang mana anggota KGB Klaten dan mengajar di SD Negeri Bogem 2. Baca Juga: Praktik Asesmen Formatif dalam Pembelajaran Jarak Jauh “Lah, bikin nilai anak, ya tinggal kasih soal, beri nilai. Udah, deh. Beres! Ngapain repot mikir lainnya? Jawaban anaknya itu, ya udah itu nilai dia. Titik!” Proses belajar itu ya murid datang ke sekolah, guru membuka pertemuan, memberikan penjelasan, berlatih soal, membahas soal. Sudah cukup. Ketika materi habis, oh, ini artinya murid akan guru berikan ulangan untuk tahu capaian belajar mereka. Ulangan, koreksi, beri nilai selesai. Ya, semudah itulah saat awal-awal kegiatan Ibu Anggi dalam melakukan penilaian kepada murid. Apalagi belia seringkali mendengar kalimat-kalimat seperti ini. “Ah, guru itu gak bikin ulangan, gak koreksi aja udah tahu mana murid yang pinter mana yang enggak” atau “Hanya melihat wajahnya saja sudah hafal. Sudahlah tidak perlu repot. Seperti teman pada umumnya saja)”. Lagi-lagi tidak usah repot adalah kata sakti yang sempat membuat Ibu Anggi meyakini ketika melakukan penilaian kepada murid: yo wes (ya sudah). Gak usah repot. Lalu, tiba-tiba pandemi datang dan menjungkirbalikkan kebiasaan-kebiasaan yang selama ini Ibu Anggi lakukan. Ibu Anggi, guru yang sudah memiliki kebiasaan mengajar lebih dari delapan tahun, merasa bingung seketika. Tidak ada interaksi fisik langsung. Tidak ada teriakan, yang dari jauh dulu beliau tahu ini adalah suara si A. “Ya ampun….! Ini lembar kerja milik siapa? Kenapa gak dikasih nama, sih?” Ibu Anggi benar-benar merasa kebingungan, padahal sebelumnya beliau hafal tulisan setiap muridnya. Ibu Anggi merasa ada banyak yang hilang dan memengaruhi proses belajar di kelas. Beliau pun sempat menganggap jika tatap maya tak seindah tatap muka. Termasuk dalam proses penilaian. Keyakinan beliau bahwa penilaian gak usah repot, goyah.  “Si B suaranya kenceng. Mengerjakan tugas pasti dengan mengetuk-ngetuk meja. Kekuatannya ada pada numerasi, lemah dalam seni.”. Suara, gestur, tulisan, sifat, sikap, cara mengerjakan biasanya bisa beliau kenali dengan interaksi langsung. Lalu saat pandemi? Benar-benar menjadi big problem bagi Ibu Anggi. Beliau gak bisa mengetahui perkembangan si A ini bagaimana, si F seperti apa, si C kuat di bagian apa. Beliau merasa asing dengan murid-murid. Lantas beliau  bertanya kepada dirinya sendiri, “Kalau begini caranya, bagaimana bisa saya melakukan penilaian tanpa repot?”. Beruntunglah pada 2017, Ibu Anggi dipertemukan dengan Komunitas Guru Belajar. Kebingungannya tentang proses belajar kala pandemi mendapat jawaban dari komunitas ini. Termasuk tentang penilaian. Asesmen diagnosis menjadi jawaban atas masalah beliau dalam mengenal murid. Melalui KGB, Ibu Anggi menjadi paham bahwa penilaian untuk murid itu menyeluruh. Bukan hanya kasih soal, koreksi, beri nilai, selesai. Asesmen bagi murid itu hal yang kompleks dan butuh beragam cara untuk mendapat hasil yang akurat. Mudahnya, asesmen bisa diibaratkan seperti proses ketika kita sakit dan butuh pergi ke dokter. Ketika kita datang, dokter tidak akan langsung memvonis, “Oh, kamu sakit X”. Dokter akan memberikan beberapa pertanyaan terlebih dahulu. “Apa yang Anda rasakan? Sejak kapan? Bagian mana yang sakit?” Setelah itu, barulah pemeriksaan dimulai. Dokter akan mengaitkan hasil pemeriksaan dengan gejala yang nampak. Jika diperlukan, didukung dengan hasil tes laboratorium untuk menegaskan diagnosisnya. Ibu Anggi pun sadar, proses yang dilakukan oleh dokter ini seharusnya beliau lakukan pula kepada muridnya. Sayangnya, beliau tidak lakukan. Hasil belajar di KGB kemudian Ibu Anggi terapkan, refleksi. Apa yang selama ini bisa dengan mudah beliau ketahui ketika tatap muka, lantas beliau catat. Apa yang butuh beliau ketahui dari murid, beliau jadikan acuan untuk membuat asesmen diagnosis, membuat profil murid. Ibu Anggi kemudian membuat daftar pertanyaan melalui Google Form. Pertanyaan tersebut beliau klasifikasikan menjadi dua jenis, berupa daftar pertanyaan yang umum dan daftar pertanyaan yang khusus serta detail. Daftar pertanyaan yang umum itu seperti ketika kita membuat biodata bagi murid baru. Pertanyaannya seputar nama orang tua, nama anak, alamat tinggal, serta pekerjaan. Jika biasanya dalam biodata isian diwakilkan data ayah, maka dalam data ini Ibu Anggi meminta diisi baik data ayah maupun ibu. Untuk apa? Untuk mendapatkan gambaran detail apakah anak ini tinggal bersama orang tua atau keluarga lainnya. Data pekerjaan membuat beliau memahami apakah orang tua bekerja semua atau ada salah satu yang di rumah. Jika di rumah, apa yang dia kerjakan? Dilanjutkan dengan pertanyaan khusus. Ibu Anggi mulai dengan menanyakan jumlah anggota keluarga serta dengan siapa tinggal dalam satu rumah. Data ini bermanfaat untuk mengetahui orang dewasa yang berpotensi untuk menjadi pendamping belajar murid selain ayah atau ibunya. Berapa jumlah gawai yang dimiliki dan apa saja juga beliau tanyakan. PJJ dalam gambaran Ibu Anggi pastinya akan sangat membutuhkan gawai. Oleh karena itu kepemilikan gawai ini sangat penting untuk beliau ketahui agar beliau dapat menentukan bagaimana proses belajar yang sesuai dengan kondisi mereka. Salah satu pertanyaan penting lainnya adalah berapa rupiah yang digunakan seluruh keluarga dalam satu bulan untuk kuota internet. Akan sangat tidak bijak jika Ibu Anggi tidak tahu hal ini, lalu setiap hari mengajak murid menggunakan video conference, padahal untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari orang tua masih mengalami kesulitan. Oh, iya, Ibu Anggi tanyakan hal ini sebelum ada kuota dari Kemendikbud. Ibu Anggi merasa tetap penting juga untuk mengetahui meskipun saat ini telah ada kuota bantuan dari Kemendikbud.  Setelah Ibu Anggi kirimkan tautan Google Form ini ke grup WhatsApp, orang tua merespon dengan sangat baik. Tak berapa lama, beliau sudah mendapatkan data anak-anak dari orang tua. Ibu Anggi juga meminta murid untuk menceritakan dirinya untuk mendapatkan data diri yang lebih personal. Beliau ajukan pertanyaan panduan seperti yang beliau ajukan kepada orang tua mereka. Ada pertanyaan umum dan khusus juga. Pertanyaan umum seperti nama diri, alamat tinggal, nama orang tua, dan pekerjaan orang tua. Pertanyaan khusus seperti … Read more

Fungsi Asesmen Formatif: Mendukung Murid Belajar

Apakah Bapak dan Ibu guru sering bingung ketika mengisi penilain Kompetensi Dasar murid di akhir semester? Biasanya Bapak dan Ibu isi dengan apa? Nilai tugas akhir atau ulangan akhir murid yang hanya berupa angka? Apakah Bapak dan Ibu guru yakin penilaian semacam itu akurat dan dapat dipertanggungjawabkan? Dengan adanya standar pencapaian angka tertentu untuk mengukur keberhasilan murid dan memunculkan pelabelan terhadap murid seperti bisa atau tidak bisa, bukankah hal itu sudah termasuk tindak penghakiman? Dan bagaimana sih rasanya jadi orang yang dihakimi? Tertekan, takut, tidak nyaman, pengin marah atau protes tapi tidak bisa. Mungkin perasaan semacam itu yang sekarang dirasakan oleh murid Bapak dan Ibu. Atau mungkin yang Bapak dan Ibu rasakan sewaktu jadi murid dulu? Lalu apa kaitannya dengan Asesmen Formatif? Apa itu asesmen formatif dan fungsi-nya dalam kegiatan pembelajaran? Harap tenang! Bapak dan Ibu guru jangan risau karena pada tulisan kali ini akan membahas solusi dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Bersumber dari Surat Kabar Guru Belajar (SKGB) Edisi ke-3 tahun keenam dengan tema Asesmen Formatif sebagai Upaya Merawat Kemerdekaan Belajar, terdapat kisah guru belajar yang mengalami masalah serupa. Guru Maryati Hulalata namanya, mengajar di SMP Lazuardi dan anggota Komunitas Guru Belajar Depok. Lalu bagaimana beliau mengatasi pertanyaan-pertanyaan yang meresahkan di atas? Semuanya akan diulas dalam tulisan ini. Yuk Bapak dan Ibu segera simak kisahnya di bawah ini! Setiap awal tahun pelajaran, guru-guru diminta menyiapkan berbagai instrumen administrasi, seperti Program Tahunan , Program Semester, dan Program Project Plan atau yang sering dikenal dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Tidak hanya masalah administrasi, intrumen pra-mengajar pun tidak kalah penting untuk disiapkan, salah satunya adalah Rencana Asesmen. Namun Guru Maryati sering mengenyampingkannya, beliau hanya akan menyalin file tahun lalu yang sering kali sudah tidak relevan. Hingga Pandemi datang dan PJJ diberlakukan, Guru Maryati bingung untuk memberi nilai Kompetensi Dasar murid-muridnya karena pembelajaran seluruhnya dilakukan secara online. Pasalnya semua penugasan langsung diberikan skor tanpa ada masukan perbaikan dan penyesuaian pengajaran di dalam kelas online-nya. Guru Maryati merasa seperti kembali ke masa lalu ketika penilaian berpatok pada angka dan penghakiman bisa atau tidak bisa dan tahu atau tidak tahu. Memberi nilai layaknya sebuah ulangan harian waktu sekolah dulu. Ulangan harian yang kemudian menjadi nilai tambah nilai ujian akhir. Guru Maryati menganggap penilaian semaca itu tidaklah akurat dan kurang dapat dipertanggungjawabkan. Beliau merasa kecolongan, ketika kelas yang dibawakan sudah demikian menarik, penugasan proyek yang menantang, eh nilai diberikan begitu saja tanpa memberi masukan berkala. Setelah menyadari kekeliruan besar yakni dengan tidak menerapkan Asesmen Formatif dalam pembelajarannya, Guru Maryati segera membuka catatan ketika mengikuti pelatihan asesmen yang pernah diselenggarakan sekolahnya dan berdiskusi dengan rekan guru lainnya. Selain itu, Guru Maryati juga amat terbantu dengan konten-konten yang membahas mengenai asesmen dari media sosial Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar. Beliau membaca dan berusaha memahami kembali mengenai asesmen. “Asesmen sejatinya merupakan alat bantu kita untuk mengetahui kemajuan murid dan membantu mereka mencapai target pembelajaran. Asesmen tidak melulu sesuatu yang diberi nilai, berupa angka dan dilakukan di akhir” (Maryati Hulalata) Baca juga: Merdeka Belajar di PAUD, Bagaimana Menerapkannya? Guru Maryati melakukan refleksi pembelajaran selama satu semester yang lalu. Sudahkah memberikan kesempatan murid-muridnya untuk merefleksikan pembelajaran dan mengevaluasi diri sendiri? Sudahkah memberi umpan balik sepanjang proses belajar yang membantu murid melakukan perbaikan? Menyadari betapa esensialnya peran sebuah asesmen khususnya fungsi asesmen formatif, di awal semester baru Guru Maryati menyediakan waktu untuk menyusun rencana asesmen dengan memperhatikan asesmen formatif secara seksama dan dilaksanakan dengan benar agar tujuan asesmen tercapai. Berbekal format yang diberikan sekolahnya, Guru Maryati memulai dari tujuan belajar yang diambil dari Kompetensi Dasar. 1.      Tujuan belajar ini dibuat lebih pendek penjelasannya dan langsung pada kegiatan yang akan dilakukan di kelas. 2.      Di sebelah kolom Learning Goals, ada kolom jenis asesmen yang dilakukan. Ini penting, sebagai bentuk informasi kegiatan apa yang membutuhkan masukan intensif dan mana yang bisa diambil penilaian berupa angka. 3.      Menuliskan bentuk asesmen. Tidak kalah penting karena membantu untuk mempersiapkan proses asesmen agar menjadi lebih terarah sesuai dengan tujuan pembelajaran. 4.      Terdapat kolom untuk rencana diferensiasi (akomodasi) dan rubrik. Kolom diferensiasi disiapkan sebagai tindakan awal , meskipun saat pelaksanaan sangat bisa disesuaikan sesuai kebutuhan. Sedangkan kolom rubrik hanya sebagai pelengkap dan pengingat. Dengan merencanakan asesmen secara matang, kini Guru Maryati sudah tidak pusing untuk memberi penilaian di akhir pembelajaran saat kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring. Dan yakin jika penilaian yang diberikan sudah akurat dan dapat dipertanggungjawabkan serta tidak menghakimi. Guru Maryati tidak ingin keliru lagi dan berupaya memastikan efektivitas asesmen formatif dan memaksimalkan fungsi-nya dalam proses belajar murid. Selain itu murid juga terbantu dengan adanya asesmen ini. mereka menyadari keberadaan guru yang siap membantu dan peran rekan sebaya yang masukannya membantu mereka memperbaiki kualitas kerja. Bagaimana Bapak dan Ibu guru, apakah kisah guru belajar di atas sudah meyakinkan Bapak dan Ibu guru untuk memberi nilai kepada murid secara akurat dengan menerapkan Aseesmen Formatif? Atau Bapak dan Ibu guru masih membutuhkan kisah-kisah inspiratif dan solutif dari  guru belajar lainnya? Tenang, semua yang Bapak dan Ibu guru cari bisa didapatkan dengan mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII yang akan diselenggarakan pada 20-21 November 2021 dengan tema Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000Pembicara. Caranya gimana? Gampang banget, tinggal klik tpn.gurubelajar.org