Meningkatkan Motivasi Belajar pada Praktik Merdeka Belajar

Apakah murid Bapak dan Ibu guru malas belajar? Tampak kurang memiliki motivasi belajar? Ketika pembelajaran murid menundukkan kepala di atas meja, pasif, dan cuek. Bingung bagaimana cara untuk mengatasinya? Bu Ameliasari Tauresia Kesuma  adalah guru yang mengajar pelajaran Ekonomi dan Akuntansi di Madrasah Aliyah Negeri Salatiga. Bu Amel akan berbagi pengalamannya dalam meningkatkan motivasi belajar pada praktik merdeka belajar. Bu Amel memiliki satu kelas yang istimewa dengan jumlah 20 murid laki-laki dan 15 murid perempuan berusia sekitar 16-17 tahun. Murid laki-laki ini kurang  menunjukkan motivasi belajarnya. Mereka juga belum melakukan empati karena mereka sering rebahan di meja, mendengarkan musik, dan bermain gawai. Selain itu mereka juga sering melakukan membolos dan terlambat masuk kelas. Latar belakang ekonomi keluarga murid laki-laki sebagian besar kurang mampu dan ada yang keluarganya bercerai. Bu Amel merasa kesulitan ketika belajar bersama mereka di dalam kelas karena tugas yang diberikan dikerjakan secara setengah-setengah. Pernah diputarkan video inspiratif tetapi komentar mereka menunjukkan ketidakpeduliannya dan ketika dijelaskan mereka malah cuek. Keadaan semakin parah,  Bu Amel sampai membuat kesepakatan jika terlambat masuk kelas, konsekuensinya adalah harus ke ruang bimbingan konseling untuk mengambil surat izin masuk kelas. Setelah dari ruang bimbingan konseling mereka mendapatkan surat pernyataan yang tertulis mereka tidak akan mengulangi perbuatannya. Tetapi pada kenyataannya mereka tidak menyesali perbuatanya, sehingga Bu Amel merobek surat pernyataan mereka. Bu Amel tidak suka permintaan maaf yang palsu dan terkesan formalitas saja. Semua guru yang mengajar di kelas istimewa ternyata juga mengeluhkan hal yang sama seperti yang dirasakan Bu Amel. Bu Amel merasa kasihan karena ada 15 murid perempuan yang tentu akan terganggu karena sikap murid laki-laki. Bu Amel teringat tentang murid-muridnya Erin Gruwell dalam film Freedom Writer, Louanne Johnson, Dangerous Mind, dan Ron Clark. Bu Amel kemudian mendapatkan inspirasi dari film Freedom Writer. Rencananya jam pelajaran ke-3 dan ke-4 dialihkan untuk ulangan harian. Bu Amel memberikan selembar kertas putih untuk kemudian membuat jadwal apa yang ingin mereka lakukan saat pelajarannya selama tiga minggu menjelang ujian akhir semester. Bu Amel juga memberikan pilihan belajar yang sesuai rincian silabus pembelajaran seperti membaca artikel, membaca buku, mendengarkan musik, dan kegiatan sesuai yang murid inginkan seperti menggambar, mempelajari pelajaran lain, tidur, main gawai, merenung, dan apa saja. Bagi murid yang tidak belajar dengan Bu Amel, diwajibkan menulis kisahnya saat belajar bebas tentang apa yang ditemukan, dirasakan, atau apa saja. Setelah itu Bu Amel merekap data jadwal muridnya dan menempelkan di kelas. Dengan cara seperti itu semua tau apa yang diinginkan saat belajar bersama Bu Amel. Bu Amel mencoba menghargai keinginan murid-muridnya, tetapi tetap kondusif. Setelah itu Bu Amel merekap jadwal yang sudah dibuat murid-murid di komputer. Ketika pertemuan berikutnya Bu Amel menampilkan rekapan jadwal di depan kelas. Murid-murid yang tidak ingin belajar dengan Bu Amel diberikan selembar kertas untuk menuliskan apa saja yang akan mereka lakukan. Sebagian murid yang ingin belajar dengan Bu Amel mengerjakan berbagai worksheet yang sudah dipersiapkan. Bu Amel merasa tidak sabar karena menunggu hasil tulisan murid yang tidak ingin belajar bersamanya. Muncul pertanyaan apakah mereka mau menuliskan kisahnya sendiri?. Dan hasilnya ternyata, mereka mau menuliskan kisahnya sendiri. Tulisan yang mereka tulis sangat menarik ada yang lucu, menyenangkan, dan mengharukan. Bu Amel terkejut ketika membaca bahwa ada yang menulis meminta untuk didoakan supaya cepat sadar dan semangat karena sudah di kelas akhir dan sebentar lagi akan ujian nasional. Ada juga yang menjelaskan tentang perasaannya yang mau malas-malasan atau rajin mengikuti kelas dengan Bu Amel. Sebagian ada juga yang menulis tentang balapan, modifikasi motor, dan sepak bola. Baca juga : Gaya Belajar Murid & Merdeka Belajar Bu Amel merasa heran ketika pertemuan berikutnya bahwa murid-murid yang sebelumnya tidak ingin ikut belajar bersamanya, menjadi ingin ikut pelajaran. Mereka beralasan malu karena menulis. Padahal Bu Amel menyukai tulisan mereka dan ingin terus membaca serta mengetahui apa saja yang mereka sampaikan. Bu Amel juga merasa kaget ketika mereka meminta untuk tambahan waktu belajar bersamanya. Pada saat motivasi internal murid sudah muncul, maka merdeka belajar dapat dilakukan. Ternyata tujuan mereka adalah lulus ujian nasional. Hal itu memberikan tantangan Bu Amel untuk mengubah pola pikir mereka. Mungkin mereka tidak tahu bahwa ada tujuan lainnya ketika belajar Akuntansi. Bu Amel mengajak mereka mengobrol tentang menjadi pengusaha, berdagang, menghitung laba, menghitung kekayaan dan akhirnya mereka tau manfaatnya. Bu Amel mengajarkan berbagai metode belajar yang dapat dipilih murid-muridnya supaya membantu dalam belajar akuntansi. Bu Amel membuat asesmen akhir menjadi nyaman karena penilaian kemampuan didiskusikan bersama. Murid yang biasanya mendapatkan rangking akan merasa heran karena tidak ada yang baik dan jelek. Sehingga tidak ada persaingan, tetapi yang ada adalah saling membantu untuk maju bersama dan paham bersama. Bu Amel sangat menyadari karena butuh energi yang banyak untuk mengubah pola pikir merdeka belajar. Dengan begitu Bu Amel dan murid-murid akhirnya tau apa yang yang mereka inginkan saat belajar, mereka merasa dihargai dan didengarkan. Tumbuhnya kesadaran karena hidup membutuhkan belajar. Bagaimana Bapak dan Ibu Guru, apakah pengalaman Bu Amel menginspirasi dan memberikan solusi? Jangan lupa Bapak dan Ibu Guru mari ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem merdeka belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Mari daftar di Temu Pendidik Nusantara VIII!  Klik : https://tpn.gurubelajar.org

Praktik Literasi Merdeka Belajar: “Menulis Surat ke Moro”

Sebagaimana mendukung kegiatan literasi, banyak sekolah yang sudah membuat program literasi dan menerapkan praktik literasi ini. Kegiatan rutin ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca murid serta meningkatkan keterampilan membaca. Mayoritas fokus kegiatan ini adalah meminta murid untuk membaca buku, membuat sebuah rangkuman dari buku yang dibaca, dan membacakan ulang secara singkat tentang buku yang dibaca. Apakah bapak dan ibu guru banyak yang memiliki keresahan yang sama di mana tetap saja murid sudah membaca buku tetapi belum bisa memahami isinya, atau murid sudah memiliki kemampuan literasi tetapi kurang melakukan berbagai kegiatan yang bermakna? Ya, ternyata praktik literasi banyak dianggap tidak memberikan insight pada murid hingga akhirnya karena dianggap tidak ada kemajuan dalam program kegiatan ini, program kegiatan literasi pun terpaksa berhenti di tengah jalan.  “Literasi adalah kemampuan menalar yang berkait dengan kemampuan analisa, sintesa, dan evaluasi informasi yang bisa ditumbuhkan dengan terintegrasi dalam pelajaran.” (Shihab, 2019). Namun apakah bapak dan ibu guru pernah memikirkan untuk memahami karakter murid sebelum menerapkan program literasi ini? Apakah bapak dan ibu guru memikirkan bagaimana konsep penerapan literasi yang sesuai dengan karakter setiap murid? Karena apa pentingnya literasi bagi murid jika murid sendiri tidak paham akan makna literasi dan tidak menawarkan perubahan bagi mereka. Nah, dari sini kita akan membahas lebih lanjut cerita tentang praktik literasi ini, yaitu Menulis Surat ke Moro. Baca juga Literasi adalah Cara Menggerakkan Negeri Awalnya saat setiap hari Sabtu di sekolah tempat Ibu Titik mengajar yaitu di SD Muhammadiyah 1 Muntilan memiliki kegiatan literasi sesuai jadwal yang sudah dibentuk di sekolah, yang mana merupakan hasil diskusi para guru. Kegiatan literasi 15 menit ini disertai jargon “Menggalakkan Literasi”membuat para guru pun sangat antusias dan berekspektasi jika siswa-siswa akan menikmati dan menyukainya. Tidak hanya itu saja, para guru juga mencanangkan kegiatan literasi mingguan yang disusun perbulannya. Pada minggu-minggu pertama pelaksanaan kegiatan literasi ini, Ibu Titik mengamati jika ekspresi murid seperti merasa kagok dan kurang menikmati, namun beliau mencoba untuk berprasangka baik, “Mungkin para murid belum terbiasa”. Namun berdasar hasil pengamatan beliau setelah beberapa minggu kemudian, kegiatan literasi seolah menjadi beban tersendiri bagi murid. Hal ini dilihat dari ekspresi murid ketika jam kegiatan literasi berlangsung dengan mengatakan, “Yah, literasi lagi..”. Contoh lainnya adalah ketika diminta untuk merangkum buku dari perpustakaan, beberapa murid melangkan malas dan hanya membuat ringkasan ala kadarnya. Di sini Ibu Titik merasa ada yang salah dengan kegiatan ini. Beliau berekspektasi jika literasi akan menjadi suatu gerakan yang membudaya, namun praktiknya ternyata masih sebuah istilah. Hal inilah yang menjadi tantangan dalam menjalankan program literasi ini. Akhirnya Bu Titik pun melakukan survey ketertarikan pada program literasi sekolah ini. ternyata program literasi yang gagal diminati oleh siswa yaitu kegiatan membaca, bercerita di depan kelas, dan menulis di buku diary. Dan faktanya, beberapa anak merasa literasi ini adalah paksaan, bahkan ada murid yang mengatakan “Karena saya tidak suka menulis dan saya merasa terpaksa setiap diminta menulis dan bercerita”. Hal inilah yang menjadi tantangan dalam menjalankan program literasi ini.  Akhirnya Ibu Titik pun mengetahui sebab kegagalan dari goals literasi ini. Beliau merasa perlu belajar lagi untuk memahami murid. Ternyata selama ini beliau merasa belum memenuhi hak mereka untuk tahu dan paham tujuan dari kegiatan literasi ini. Beliau menambahkan jika kesalahan kegiatan ini bukan pada rancangan programnya, melainkan pada penerapannya. Beliau menyadari jika tidak menyukai menulis, membaca, atau nyaman saat diminta bercerita kepada orang lain. Namun Ibu Titik memiliki keyakinan yang kuat jika suatu hari nanti mereka akan enjoy menjalankan kegiatan literasi ini dan sebagai seorang pendidik, beliau berkewajiban menumbuhkan keyakinan itu kepada muridnya.  Lalu Ibu Titik memiliki ide untuk merubah konsep kegiatan ini. Ia melibatkan siswanya untuk mencari tahu tentang Moro melalui gambar dan video, beliau juga bercerita tentang kehidupan temannya yang mengajar di SD Negeri 005 Moro, Kecamatan Moro, di Kabupaten Karimun. Awalnya murid-murid Ibu Titik ini heran mengapa tidak melaksanakan rutinitas literasi seperti biasanya. Namun lama-kelamaan, mereka mulai menikmati hal tersebut. Kemudian beliau meminta siswanya untuk menganalisis gambar tentang keberadaan di sana. Lalu, muncullah pertanyaan-pertanyaan dari siswanya ini. Mereka sangat antusias menanyakan pertanyaan tentang kehidupan dan pembelajaran murid-murid di Moro. Kemudian sesuai kesepakatan, Ibu Titik membuat sebuah kegiatan bernama “Menulis Surat ke Moro”.  Sesuai kesepakatan, murid-murid akan mendapatkan waktu satu minggu untuk menuliskan apa saja yang ingin mereka tanyakan kepada murid-murid di SDN 005 Moro. siswa pun menuliskan pertanyaan mereka kepada siswa di Moro. Tak terasa waktu seminggu tersebut benar-benar mereka gunakan untuk membuat surat sebaik-baiknya. Banyak dari para murid yang berkonsultasi dengan Ibu Titik tentang penyampaian bahasa yang sesuai di dalam suratnya, bahkan banyak dari murid yang menyertakan hadiah di dalam surat tersebut.  Di sini Ibu Titik merasa terharu, karena ketika belajar tentang bagian surat dahulu, muridnya tidak pernah seantusias ini. Dan yang membuat Ibu Titik hampir menangis adalah ketika muridnya yang dahulu menyatakan bahwa dirinya tidak suka menulis dan merasa terpaksa setiap diminta menulis dan bercerita, ternyata menyerahkan sebuah surat yang dibuatnya sepanjang dua lembar folio.  Akhirnya setelah semua surat terkumpul, Ibu Titik mengemasnya dalam satu kardus besar dan mengirimkannya melalui POS. Setelah surat dikirimkan, Ibu Titik merasa kewalahan oleh muridnya yang menanyakan kapan surat-surat tersebut dibalas. Hingga akhirnya satu bulan kemudian, surat-surat balasan yang ditunggu pun tiba. Ibu Titik lagi-lagi dibuat haru ketika melihat ekspresi murid-muridnya berebut balasan surat yang mereka kirim. Mereka merasa bahagia ketika mengetahui bahwa mereka bisa mendapat jawaban dari apa yang mereka tanyakan melalui surat ini, Ibu Titik dapat melihat ekspresi muridnya yang begitu puas ketika rasa ingin tahunya tersalurkan, dan betapa senangnya mereka ketika hadiah yang dikirimkan ternyata dibalas dengan hadiah juga dari teman barunya. Terakhir, yang membuat Ibu Titik Bahagia adalah ketika refleksi muridnya dalam kegiatan ini adalah mengungkapkan jika metode pengajaran tentang surat merupakan yang terbaik yang mereka pernah lakukan, dan tanpa harus memaksakan siswa. Ibu Titik pun menemukan kesepakatan jika literasi lebih luas maknanya daripada sekadar kegiatan rutinan untuk memenuhi kewajiban melaksanakan perintah dari pemerintah. Sebagai penutup, Ibu Titik menyampaikan jika kebahagiaan hakiki bagi seorang pendidik adalah ketika melihat murid-muridnya bisa merdeka dalam belajar karena semangat yang tumbuh dalam dirinya sendiri. Saat melihat raut wajah dan ekspresi bahagia murid-murid, beliau merasa menjadi … Read more

Merdeka Belajar di PAUD, Bagaimana Menerapkannya?

Menerapkan merdeka belajar di PAUD susah? Bagaimana cara menetapkan tujuan belajarnya, kan harus melibatkan murid? Lalu cara menentukan asesmennya bagaimana, kan mereka masih kecil? Namun akan sangat sayang sekali kalau tidak segera diimplementasikan, karena merdeka belajar ini menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna sehingga murid menjadi berdaya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadikan guru khususnya di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) masih ragu dan bimbang untuk menerapkan merdeka belajar pada muridnya. Keraguan ini juga pernah dialami oleh Bu Anik Puspowati, guru di TK Sekolah Alam Arridho Semarang.  Berawal ketika mengikuti pelatihan Guru Merdeka Belajar, dari sini Bu Anik paham untuk menjadi pendidik yang merdeka belajar, perlu memiliki tiga hal esensial antara lain: komitmen pada tujuan, mandiri, dan reflektif. Awalnya Bu Anik sempat ragu untuk menerapkan proses menentukan tujuan belajar bersama anak usia dini. Namun Bu Anik tetap memberanikan diri untuk mencoba. Bu Anik menyatakan bahwa masa prasekolah merupakan masa yang sangat krusial dalam pendidikan seorang anak. Usia 0-6 tahun sering disebut sebagai masa emas perkembangan anak, karena otak anak mampu menyerap informasi hingga 80  persen. Di masa-masa ini, anak mulai terbentuk aspek perkembangannya: kognisi, bahasa, fisik-motorik, sosial-emosi, moral, kemandirian, dan seni. Bu Anik ingin memaksimalkan aspek-aspek perkembangan muridnya tersebut secara menyenangkan dan bermakna. Bu Anik mengidentifikasi gaya pembelajaran yang cocok dengan muridnya adalah gaya belajar kinestetik. Anak bisa mengeksplorasi dengan pancaindranya secara langsung pada objek pembelajaran dan secara tidak langsung hal tersebut mampu menumbuhkan aspek-aspek perkembangan mereka. Bu Anik menganggap belajar langsung dari objek belajarnya membuat anak lebih senang dan memiliki pengalaman bermakna. Metode yang digunakan Bu Anik adalah outing (belajar di luar kelas) atau belajar bersama alam istilahnya. Waktu itu tema pembelajaran mengenai ternak, kebetulan di dekat sekolah Bu Anik ada peternakan kuda pacu. Maka Bu Anik memanfaatkan tempat tersebut sebagai tempat pembelajaran yang kebetulan relevan dengan tema pembelajarannya. Sebelum berangkat mereka bersepakat tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama perjalanan dan ketika berkunjung. Ketika sampai di peternakan kuda, Bu Anik dan murid-muridnya berkumpul melingkar dan melakukan ice breaking. Hal seperti itu memang sudah biasa mereka lakukan sebelum memulai kegiatan. Lalu Bu Anik segera mengeluarkan kertas dan menempelkannya di papan tulis. Bu Anik mengajak tanya jawab murid-muridnya seputar apa yang mereka ketahui tentang ternak. Ada yang menjawab “ingin mengenal macam-macam binatang ternak (dalam hal ini kuda)”, dan lebih mengejutkan lagi ada yang menjawab “biar sayang sama ciptaan Allah”. Dan jawaban-jawaban tersebut ditulis Bu Anik sebagai tujuan pembelajaran. Dilanjutkan pembuatan rubrik penilaian sederhana ala anak-anak usia dini. Kriteria beserta dimensinya ditentukan bersama oleh Bu Anik dan murid-muridnya. Mereka menggunakan kriteria keren banget, keren dan keren sedikit. Keren banget untuk mengukur capaian kriteria tertinggi, keren berada di tengah antara capaian tertinggi dan terendah. Sebagai contoh, jika anak tidak berani mendekati kuda masuk kriteria keren sedikit, takut tapi mau mendekat masuk kriteria keren dan berani mendekat dan tidak takut masuk kriteria keren banget. Rubrik penilaian ini yang dijadikan sebagai bentuk asesmen. Berikut gambarannya. Secara umum rubrik penilaian seperti gambar di atas juga bisa digunakan untuk mengukur capaian murid dalam menguasai pembelajaran. Baca juga Memahami Merdeka Belajar Di tempat pembelajaran, anak-anak seolah sudah mengerti akan apa yang akan mereka lakukan. Mereka bahkan tidak sungkan untuk bertanya langsung (wawancara) dengan bapak-bapak pengurus istal di sana. Bertanya apa saja yang ingin mereka ketahui tanpa takut dan sungkan. Setelah outing, mereka kembali berdiskusi tentang apa yang mereka dapatkan atau mereka pelajari di tempat outing. Mereka merefleksikannya bersama. Anak-anak sangat antusias bercerita tentang apa yang telah mereka dapatkan melalui pancaindranya. Anak mampu belajar mengenai warna, ukuran besar-kecil, juga mampu belajar dengan indra peraba (kasar atau halus) ketika mengelus kuda. Mereka bahkan juga mendapatkan kosakata baru. Beberapa murid berinisiatif memberi makan kuda dan bahkan mencabut rumput untuk diberikan pada anak kuda. Ada juga anak yang awalnya takut mendekati kuda, lama kelamaan meminta Bu Anik untuk menemaninya mendekati kuda dan akhirnya berani mengelus dan tersenyum dengan senang. Tidak ada paksaan dan tekanan bagi murid yang masih takut. Bu Anik merasa tugasnya sebagai fasilitator belajar murid jauh lebih asyik dan mudah, karena pembelajaran dengan metode ini dirasa lebih mengakomodasi kebutuhan anak yang berbeda-beda. Dari cerita Bu Anik Puspowati yang bersumber dari buku Merdeka Belajar di Ruang Kelas karya Najelaa Shihab dan Komunitas Guru Belajar di atas dapat disimpulkan bahwasanya merdeka belajar bisa diterapkan pada murid usia dini. Yang perlu dilakukan guru adalah paham konsep merdeka belajar dan berani menerapkannya dengan kreatifitas masing-masing. Yang menunda keberhasilan bukanlah kegagalan melainkan keraguan dan ketakutan untuk mencoba. Nah, bagaimana Bapak Ibu guru? Apakah cerita guru merdeka belajar di atas sudah menjawab keraguan Bapak Ibu? Sebenarnya masih banyak lho cerita guru merdeka belajar yang inspiratif dan solutif lainnya. Dan semuanya akan Bapak Ibu temukan di Temu Pendidik Nusantara VIII dengan tema Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar yang akan diselenggarakan pada 20-21 November 2021. Yuk buruan daftar dengan klik tpn.gurubelajar.org dan jangan lupa catat tanggalnya ya!

Personalisasi Belajar Merdeka Belajar

Sering pusing menghadapi murid beragam? Dalam pembelajaran melibatkan murid dengan segala keragamannya, guru terkadang bingung merancang pembelajaran yang memfasilitasi keunikan setiap murid. Alhasil beberapa guru cenderung menyeragamkan proses pembelajaran dan mengabaikan kebutuhan personal murid, sehingga tidak terjadi personalisasi belajar. Setiap murid memiliki keunikan dan karakteristik yang beragam. Ada murid yang hobi bernyanyi, menggambar bahkan menari. Guru tidak dapat menyamaratakan hobi dan minat murid yang beragam. Bagaimana cara memfasilitasi keunikan murid yang beragam dalam proses pembelajaran? Guru perlu memfasilitasi pembelajaran yang dapat mengembangkan potensi dan membuat murid berpetualang melalui personalisasi belajar. Pada 17 Agustus 2021 yang juga bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia, Obrolan Guru Merdeka Belajar membahas petualangan murid dalam proses belajar dengan judul Personalisasi Petualangan Merdeka Belajar.  Pemandu membuka obrolan dengan menanyakan apa sih sebenarnya personalisasi belajar itu? Pak Mohammad Rizky Satria sebagai salah satu narasumber menjelaskan bahwa personalisasi belajar itu artinya proses penyesuaian aktivitas belajar dengan keunikan dan kebutuhan setiap individu. Tentu saja maknanya lebih dalam dari itu, dengan personalisasi belajar ini kita sebisa mungkin harus kembali pada hakikat belajar itu sendiri. Bahwa pada hakikatnya belajar itu adalah suatu yang alamiah, sesuatu yang melekat dalam diri setiap manusia, seperti anak-anak yang banyak bertanya, serta belajar banyak hal tanpa diminta. Paradigma belajar seperti ini yang perlu dibangun dalam personalisasi belajar. Namun selama ini terkadang karena belajar itu didominasi oleh sekolah atau guru kesannya belajar menjadi sesuatu yang formal & prosedural, padahal sebetulnya tidak demikian. Setelah memahami hakikat belajar sebagai proses alamiah, lalu muncul pertanyaan belajar seperti apa yang paling sesuai, paling tepat, serta dapat optimal? Jawabannya adalah belajar yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan kita, disitulah muncul personalisasi belajar. Pak Rizky juga mengungkapkan dengan momen hari kemerdekaan ini menjadi waktu yang baik untuk kita mereflesikan kembali makna belajar, mengembalikan hakikat belajar dari keterkungkungan dan miskonsepsi belajar-belajar yang prosedural. Lebih luas dari itu kita bisa menyesuaikan aktivitas belajar seperti apa yang sesuai dengan diri kita, ini yang menjadi makna persoanalisasi belajar lebih jauh. Pa Rizky yang juga seorang guru dari SMP Cikal Serpong menyampaikan berkaitan dengan makna personaliasasi belajar secara umum, dalam konteks pembelajaran peran guru menjadi lebih krusial. Bahwa selain guru bisa mempersonalisasi belajar untuk dirinya sendiri, harus membantu murid juga untuk memfasilitasi aktivitas belajar sesuai dengan kebutuhan setiap murid. Guru perlu mengupayakan pembelajaran yang memberi ruang untuk murid sesuai gaya belajarnya sendiri, punya semangat belajar yang baik, punya pemikiran terhadap belajar yang tepat, dan kemudian bisa memahami dirinya sendiri. Menariknya dalam Obrolan Guru Merdeka Belajar berjudul Personalisasi Petualangan Merdeka Belajar juga menghadirkan murid sebagai narasumber yaitu Ayunda Damai Fatmarani. “Kalau dari aku mungkin mengajar dan memberikan tugas itu satu bagian sendiri tapi di sebelum itu biasanya aktivitas belajar dalam satu semester kali ya, itu dimulai dari menetapkan tujuan belajar (goal setting) masing-masing murid termasuk aku” ungkap Damai membuka cerita pengalaman personalisasi belajarnya.   Damai sebagai murid dari sekolah Cikal Surabaya juga menjelaskan setelah mengetahui ekspektasi masing-masing di awal yang sudah ditetapkan melalui tujuan belajar, selanjutnya bisa disesuaikan juga dalam proses pembelajarannya. Misal yang suka diskusi akan dibuat group diskusi, bagi yang lebih suka membaca akan dicarikan sumber bacaan untuk dibaca sebelum diskusi. Pemberian tugas juga sama bisa dipersonalisasikan dengan melihat dari tujuan belajar yang sudah ditetapkan. Selain itu Damai pun menceritakan pengalaman personalisasi belajar saat mengerjakan asesmen sumatif tahun lalu, untuk pembelajaran bahasa inggris materinya sendiri tentang literatur. “Jadi kami diminta untuk membaca salah satu buku, kebetulan bukunya sama, tetapi setelah itu diminta untuk menganalisa isi bukunya dengan topik yang sesuai minat murid-muridnya. Menganalisa apa sih yang paling menarik dari buku tersebut, untuk aku sendiri menganalisa bagaimana tata bahasa dan diskursus itu bisa digunakan untuk mengontrol masyarakat. Tapi teman-teman aku ada yang menganalisa tentang emosi karakternya dan bagaimana itu membentuk ceritanya, ada juga yang membahas sejarah dan menganalisa betapa pentingnya masa lalu, ada juga tentang relasi antar karakter dan itu benar-benar dipersonalisasi sih akhirnya per murid” cerita Damai terlihat semangat menikmati proses dan petualangan belajarnya.  Setelah mendengar cerita Damai Bu Fatrica sebagai pemandu obrolan bertanya apakah personalisasi belajar hanya akan menambah beban guru? Pak Rizky pun menegaskan “jika pertanyaannya apa menambah beban guru? Jawabannya iya, tapi apakah hanya menambah beban guru? Tentu saja tidak, karena upaya lebih yang dilakukan guru untuk memahami muridnya akan setimpal di akhir nanti ketika bisa melihat karya-karya murid seperti karya Damai dan teman-temannya tadi. Dengan personalisasi belajar potensi murid bisa muncul, murid bisa punya pilihan memanfaatkan ruang yang guru berikan dan memanfaatkan aktivitas belajar yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan setiap murid. Namun saya lebih suka menyebutnya tantangan atau tanggung jawab bukan beban. Tantangannya meningkat yang tadinya hanya mengajar sesuai dengan yang saya inginkan menjadi sesuai dengan yang murid-murid inginkan, kompromi dengan apa yang sudah saya susun. Atau tanggung jawabnya lebih yang tadinya hanya menyampaikan materi saja sekarang tanggung jawabnya membantu mengoptimalkan potensi setiap individu, kalau seperti itu jadinya lebih positif” ungkapnya dengan lugas. Bagaimana Ibu dan Bapak guru, apakah Anda sudah siap memilih tantangan melakukan personalisasi belajar? Tenang, berikut ada dua tips dari Pak Rizky Satria untuk mempersiapkan personalisasi belajar, yaitu: Merancang strategi untuk bisa memahami karakteristik dan kebutuhan setiap murid Disini kita bisa melakukan berbagai cara seperti asesmen diagnostik di awal untuk bisa membuat pemetaan bagaimana komposisi murid-murid di kelas, selain itu diagnostiknya tidak hanya di awal tapi berlanjut seiring proses pembelajaran. Bisa juga melakukan observasi dengan menjadikan murid teman ngobrol. Dengan berteman dan sering ngobrol kita dapat memahami karakter murid lebih baik. Strategi menerapkan personalisasi dengan diferensiasi Bahwa dalam satu kali aktivitas belajar itu ada beragam cara yang dapat kita hadirkan. Ada yang dibedakan kontennya, ada yang prosesnya, dan ada juga dibedakan produknya. Memberikan beragam pilihan kepada murid, untuk itu pentingnya memahami murid di awal. Dengan memahami kita bisa mendesain pembelajaran yang memfasilitasi keberagaman murid.  Selanjutnya pemandu mengarahkan obrolan untuk menjawab pertanyaan peserta yang menyaksikan baik dari platform youtube Kampus Guru Cikal maupun dari sekolah.mu program Obrolan Guru Merdeka Belajar. Sebagian peserta bertanya kepada Damai mengenai pengalamannya mendapatkan dan melakukan personalisasi belajar. Damai pun menceritakan mulai dari pengalaman personalisasi belajar paling berkesan yaitu setiap proses diskusi dalam hal apapun bersama guru … Read more

Asesmen Diagnosis adalah Langkah Agar Murid Gemar Belajar!

Sebal menghadapi murid yang malas belajar saat pandemi? Sudah menggunakan Asesmen Diagnosis? Asesmen Diagnosis adalah langkah menyelenggarakan pembelajaran yang berorientasi pada murid. Lalu bagaimana merancangnya di situasi pandemi? Pembelajaran berorientasi pada murid dalam situasi ruang kelas yang sama saja masih manjadi keresahan dan tantangan guru, apa lagi saat pandemi. Dimana keberagaman situasi setiap murid sangat mempengaruhi pembelajaran. Ketersedian sarana prasarana memadai, pendampingan orang dewasa untuk murid jenjang bawah, juga kondisi keluarga setiap murid menjadi tambahan pertimbangan guru merancang strategi pembelajaran berorientasi pada murid. Tentunya setelah guru memahami pribadi setiap murid, minatnya, modalitas belajarnya, juga tahapan perkembangan kognitifnya. Untuk itu hal yang penting bagi guru lakukan adalah asesmen diagnosis, untuk mengetahui dan memahami profil setiap murid. Dari hasil asesmen diagnosis tersebut menjadi acuan guru merancang strategi pembelajaran yang sesuai bagi murid. Kamis, 8 Juli 2021 rekan guru di Kabupaten Lamongan mempersiapkan melakukan asesmen diagnosis dengan mengadakan Temu Pendidikan Daerah (TPD) Kabupaten Lamongan dalam Webinar Asesmen Diagnosis bersama Ibu Elisabet Indah Susanti sebagai narasumber dari Kampus Guru Cikal Webinar dibuka dengan mendengar sambutan dari Bapak Chusnul Yuli Setyo selaku Kadisdikbud Kabupaten Lamongan yang menekankan soal upaya mempersiapkan PTM terbatas dengan aman. Menurut beliau ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu: 1) Persiapkan Lembaga; 2) Persiapan Guru; dan 3) Persiapan Strategi Pembelajaran. Bapak Setyo juga mengungkapkan bahwa persiapan yang dilakukan perlu didukung oleh literasi digital. Hal ini dikuatkan oleh Kepala Kemenag Kabupaten Lamongan Bapak Firdaus Markus dalam sambutannya yang mengungkapkan, “ajarilah anak sesuai zamannya”. Menurut beliau sesungguhnya murid mudah beradaptasi dengan literasi digital, namun guru juga harus berapatasi sehingga mampu menemukan formula dan strategi pengajaran tepat pada masa pandemi. Hal yang tidak kalah penting diungkapkan Pak Firdaus dalam sambutannya ialah semangat dan motivasi belajar murid-murid yang perlu dipertahankan dengan merancang strategi pembelajaran sesuai kondisi setiap murid.  Setelah melakukan refleksi mengenai kata belajar & asesmen, Bu Elisabet Indah Susanti sebagai narasumber menyampaikan “sayangnya dalam praktik pembelajaran masih terdapat miskonsepsi belajar”. Setidaknya terdapat dua kriteria miskonsepsi berlajar, yaitu:  strategi pembelajaran yang masih berorientasi pada target, dengan hanya mengacu pada kurikulum, penyampaian satu arah untuk mengejar ketuntasan konten dan  asesmen pembelajaran yang masih berorientasi pada asesmen sumatif sebagai nilai akhir tanpa membedakan dengan pengambilan nilai asesmen formatif.  Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Seharusnya guru dalam merancang strategi pembelajaran berorientasi pada murid, dengan memadukan kurikulum dan kebutuhan murid. Aktivitas yang dilakukan beragam untuk penguasaan kompetensi, serta tentunya dengan pertimbangan kemampuan awal murid. Dalam proses dari merancang, manjalankan, sampai mencapai tujuan belajar untuk kompetensi diperkuat dengan asesmen pebelajaran. Tentunya dengan prinsip asesmen yang ideal. Terdapat 3 prinsip asesmen, yaitu:  asesmen untuk belajar, melalui asesmen diagnosis untuk menggali & menganalisis kebutuhan setiap murid dalam merancang pembelajaran. asesmen sebagai proses belajar, melalui asesmen formatif salah satunya menggunakan beragam metode yang menggali strategi belajar dan cara berpikir murid. asesmen terhadap hasil belajar, untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan orangtua dan pihak lain terkait capaian kurikulum. Ini baru berbicara soal nilai akhir rekan guru belajar melalui asesmen sumatif. Selama ini kita salah kaprah terhadap proporsi dari ketiga prinsip asesmen tersebut. Kita lebih banyak fokus pada asesmen terhadap hasil belajar dengan mengejar nilai. Kurangnya asesmen sebagai proses belajar, bahkan tidak melakukan asesmen untuk belajar dengan mendiagnosis kebutuhan belajar murid. Ada beragam cara untuk melakukan asesmen diagnosis, salah satunya bisa dengan tes, wawancara, atau observasi.  Dengan demikian tujuan asesmen untuk mendapatkan informasi bagi guru dan murid mengenai proses belajar dan pencapaian belajar secara berkala akan tercapai. Jadi kalaupun melihat kurikulum hanya dijadikan acuan untuk meningkatkan kompetensi yang kontekstual. Sehingga diharapkan rekan guru dapat membangun keberlajutan dengan mengaitkan antara rancangan pengajaran, pembelajaran, dan juga asesmen menjadi satu kesatuan proses yang saling berhubungan.  Jika kita memperhatikan arah perubahan pendidikan dengan adanya penyederhanaan aturan administrasi, orientasi pada murid, serta perubahan sistem asesmen rasanya kita diberi ruang dan waktu lebih banyak untuk mengenali masing-masing murid melalui asesmen diagnosis. Dalam melakukan asesmen ini, guru dapat dianalogikan bagai dokter bagi murid-muridnya. Seorang dokter itu tugasnya melakukan asesmen, bentuknya pemeriksaan kalau dokter. Pemeriksaan terhadap gejala, kemudian mengevaluasi, lalu tindak lanjut dengan memberikan resep obat sebagai solusi. Ketika kita sebagai guru melakukan asesmen diagnosis, berarti kita melakukan medical check up kepada murid-murid kita. Dengan hasil asesmen diagnosis, kita punya indikator analisis untuk mendapatkan informasi tentang kebutuhkan murid masing-masing. Lalu apa yang harus dilakukan setelah itu? Maka sama seperti dokter akan melakukan tindak lanjut dari gejala yang didapatkan. Guru pun akan melakukan tindak lanjut dengan merancang strategi pembelajaran yang berorientasi pada murid. Setelah Bu Susan selesai menyampaikan materi, rekan guru yang tergabung dalam Webinar Asesmen Diagnosis antusias bertanya dan berdiskusi. Pertanyaan yang cukup penting  adalah yang ditanyakan moderator dalam akun zoom Anis Ceha, apakah asesmen diagnosis hanya dilakukan kepada murid saja atau orang tua juga? “Pertanyaan bagus Bu” ungkap Bu Susan memberikan apresiasi. Asesmen diagnosis selain dilakukan kepada murid juga perlu dilakukan pada orang tua, karena latar belakang orang tua akan mempengaruhi proses belajar murid. Pengaruhnya terhadap inisiatif murid dan juga dukungan orang tua selam proses belajar. Pertanyaan berikutnya dari Bu Fatma, kalau untuk murid baru pada tingkat SD/MI pendekatan seperti apa yang digunakan untuk mengenali karakter murid pada saat PJJ? Secara kan murid barunya dari TK. “Perlu interaksi personal pada setiap murid lebih banyak. Strateginya bisa dengan kelas dikelompokan kecil” jawab Bu Susan yang juga mengingatkan untuk memberi waktu lebih banyak mendengarkan murid bercerita. Diskusi dan tanya jawab yang tidak semua dapat dituliskan, ditutup oleh penyataan penutup dari Bu Susan, “Asesmen diagnosis hal yang mungkin tidak kita alami dulu sebagai murid, namun untuk pembelajaran yang berpihak pada murid hal ini sangat esensial dan perlu dilakukan. Apalagi pada situasi pandemi saat ini.” Bagaimana rekan guru belajar  metode apa yang akan dipilih untuk melakukan asesmen diagnosis? Metode apapun yang akan Anda pilih, pada intinya hasil dari asesmen diagnosis diperlukan untuk merancang pembelajaran berorientasi pada murid. Sehingga akhirnya akan tercipta pembelajaran yang merdeka belajar. Salam Merdeka Belajar Neneng Nurbaeti 

Diferensiasi Pembelajaran yang Disukai Murid

Diferensiasi pembelajaran itu apa sih? Lalu bagaimana menerapkannya? Apa dampaknya bagi murid? Temu pendidik daerah Makassar berjalan dengan penuh semangat saat pemandu acara membuka dan memperkenalkan narasumber ibu Dina Marta Aulia Ningrum seorang guru SMK Negeri 1 Kedungwuni Pekalongan. Ibu Dina membagi pengalaman mengajarnya dalam menghadapi beragam karakter murid. Saat ibu Dina memaparkan presentasinya yang membahas tentang deferensiasi. Inilah yang membuat saya dan beberapa teman KGBN Makassar turut ambisius untuk menyimak isi materi tentang pengalaman ibu Dina mampu membuat murid merasa nyaman dan semangat dalam belajar. Sekalipun pelajaran sulit, namun ibu Dina berhasil mengambil hati para muridnya dengan ide kreatifnya. Berikut ulasan terkait pengalaman ibu Dina dalam menerapkan diferensiasi pembelajaran. Berawal dari pembelajaran anekdot yang diberikan ibu Dina Marta Aulia Ningrum kepada muridnya, ia mendapat beberapa pengalaman sebagai bahan refleksi terhadap proses pembelajaran yang diterapkan. Dengan pembelajaran yang berfokus pada satu arah yaitu sekadar instruksi kepada murid mengerjakan “tugas” membuat anekdot menggunakan video. Namun, Ibu Dina belum memahami bahwa tidak semua murid bisa menggunakan video atau cenderung kurang berminat dalam menggunakan video. Serta ketidakpahaman murid terhadap pelajaran tentang anekdot.  Saat tiba hari pengumpulan tugas, hanya sebagian murid menyetor tugasnya dengan alasan sulit membuat anekdot dan video. Melihat hasil kerja murid yang jauh dari harapan, ibu Dina mulai berpikir langkah strategis untuk mencapai pembelajaran yang menyenangkan dan dapat mendorong semangat murid dalam belajar dan mengerjakan tugas anekdot yang diberikan. Ibu Dina mencari tahu kesukaan, kemamapuan, serta keahlian para muridnya. Jawaban murid beragam dengan berbagai pendapat. Ada yang suka menggambar, puisi, dan membuat pantun. Ibu Dina sontak melihat keberagaman bakat minat muridnya, namun dari situlah ibu Dina memberi kesempatan murid untuk memilih tantangan belajarnya sendiri sesuai potensi yang dimiliki.  Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Tantangan terbesar ibu Dina dalam menerapkan diferensiasi yaitu murid merasa aneh, karena penerapan murid berbeda dalam mengerjakan tugasnya. Namun Ibu Dina telah menjelaskan manfaat dari model deferensiasi ini. Deferensiasi dapat memaksimalkan potensi masing-masing murid dengan mambawa kedalam ranah pembelajaran agar bakat, minat murid dapat berkembang dan pembelajaran juga bisa menyenangkan.  Sebagai guru kita mengetahui bahwa setiap murid memiliki latar belakang bakat dan minat yang berbeda. Dan hal itulah yang membuat ibu Dina menyadari bahwa dalam menerapkan pembelajaran di kelas kita perlu melakukan diferensiasi/memahami kebutuhan murid. Maka dari itu, ibu Dina mengemas pembelajaran tentang anekdot dengan kolaborasi kemampuan murid. Artinya, murid mengerjakan tugas sesuai dengan hobi/passion masing-masing.  Sebagai contoh, murid yang suka musik bisa menyusun lagu menggunakan kata-kata anekdot. murid yang suka menggambar bisa menuangkan ide gambarnya ditambahkan kata anekdot di dalamnya. murid yang suka puisi, bisa menyusun puisi  menggunakan kalimat-kalimat anekdot. Bahkan ibu Dina memiliki murid yang bisa mendesain, maka ia membuat sebuah desain baju dengan kata-kata anekdot. Setelah selesai murid tersebut mencoba untuk mengirim ke sosial media. Alhasil baju yang ia desain dengan kata-kata anekdot yang dibuatnya menjadi laris. Ini adalah salah satu pencapaian yang sangat menakjubkan baik kepada guru maupun murid. Dalam hal ini bisa meningkatkan motivasi murid, semangat belajarnya, dan dapat juga memberi sumbangsih yang positif terhadap hasil belajar mereka. Tentu hal tersebut juga menjadi motivasi terhadap murid lainnya. Dan langkah yang inovatif ini bisa menjadi cerminan bagi guru-guru lain dimanapun berada. Bahwa kita perlu mengembangkan pelajaran menjadi menyenangkan dan bermakna.  Selain dari model pembelajaran yang diterapkan ibu Dina terkait diferensiasi/pembelajaran sesuai kebutuhan murid. Ibu Dina juga menerapkan sistem pengumpulan tugas sesuai keputusan bersama murid. Dengan melakukan musyawarah seperti ini, membuat murid juga ikut terlibat menyumbangkan ide mereka, dan murid merasa keberadaan mereka dihargai oleh guru. Bukan hanya perintah satu arah dari guru. Tapi kita mencoba mendiskusikan setiap kegiatan kelas dengan murid. Bahkan dalam menentukan durasi pengerjaan tugas. Meskipun mereka sudah sepakat mengumpulkan dalam waktu sepekan, namun beberapa murid telah menyelesaikan tugas sebelum deadline. Sebagai salah satu alasan murid bisa mengerjakan tugas sebelum deadline adalah mereka menganggap bahwa tugas yang diberika ibu Dina menyenangkan, karena mereka bebas membuat anekdot sambal memadukan passion mereka.  Dari sinilah kita mengerti, bahwa pembelajaran yang inovatif, kreatif menyenangkan bagi murid akan mendorong murid semangat dalam belajar. Untuk menjadikan murid kita paham dan berminat untuk belajar tentu yang pertama kita lakukan adalah menjamah hati mereka, mencari hal-hal yang mereka suka seperti hobi dan minat mereka. Dari minat itulah kita padukan dengan pelajaran. Dengan penuh yakin, point pelajaran yang hendak kita sampaikan dapat diterima dengan baik disebabkan pengemasannya juga bagus dan menarik perhatian murid. Ibu Dina berpesan sebagai seorang guru kita harus sering merefleksi diri dengan memberikan pertanyaan yang memantik agar dapat memacu semangat kita dalam mengajar dan mendidik yaitu “Apa upaya saya sebagai guru membantu murid dalam memahamkan pembelajaran dengan menciptakan beberapa inovasi selain pemberian teks saja yang kadang membuat anak-anak jenuh”.  Langkah yang diterapkan ibu Dina dalam hal diferensiasi ini lebih kepada empati kepada murid, memanusiakan hubungan dengan menjalin hubungan yang komunikatif dengan murid. Empatinya adalah berusaha memahami kebutuhan belajar murid yang memadukan pembelajaran sesuai dengan passion/hobi murid. Dan langkah memanusiakan hubungan yaitu kita dapat mengajak murid ikut terlibat dalam menentukan kesepakatan kelas, kesepkatan deadline pengumpulan tugas dan kegiatan-kegiatan belajar. Dipenghujung acara temu pendidik daerah komunitas guru belajar Makassar, beberapa peserta memberi apresiasi melalui kolom komentar di youtube dan termotivasi untuk menerapkan model pembelajaran yang diterapkan Ibu Dina. Selain dari itu, beberapa peserta juga melakukan sharing dengan bertanya apa yang menjadi kelebihan serta kekurangan dari model diferensiasi ini. Yang menjadi kelebihan serta kekurangannya telah dipaparkan pada paragraph sebelumnya bahwa diferensiasi pembelajaran tentu membuat murid senang dalam mengerjakan tugaas karena mereka bebas berkreasi tanpa mengurangi makna dari inti pembelajaran tentang anekdot misalnya. Kita juga bisa merasakan bahwa murid yang mengerjakan tugas dengan persaan senang dan semangat tentu berpengaruh pada kecepatan mereka mengerjakan tugas, serta pembelajaran akan mudah berkesan dalam hati dan ingatan mereka. Adapun kekurangannya kami merasa tidak begitu nampak, karena murid mengerjakan dengan senang hati, hanya saja dikembaalikaan pada murid terkait biaya dalam mengerjakan tugas tersebut seperti membuat desain baju menggunakan kata-kata anekdot tentu itu membutuhkan biaya untuk mendesain. Berbeda jika murid menulis anekdot di buku tulis tentu biayanya berbeda jauh dan lebih murah. Namun kembali lagi pada kualitas kerja. Tentu dengan pekerjaan yang berkualitas juga akan … Read more

Katrol Nilai Murid dengan Hasil Asesmen Formatif, Bolehkah?

Pusing dengan nilai murid menjelang rapotan? Sebelum rapot dibagikan, Bapak dan Ibu Guru mungkin memiliki kebiasaan baru (atau mungkin mengulang kebiasaan yang sudah ada), ketika makin pusing dan makin sering mengusap balsem atau minyak kayu putih di kepala, guru pun mengumpulkan seluruh catatan murid untuk mendapat nilai. Untuk apa sih? Kemungkinan besar adalah untuk mengangkat nilai murid atau yang sering disebut katrol nilai.  Loh, tapi yang mau dinilai kan kemampuan akhir murid? Kenapa para guru mengumpulkan nilai-nilai tugas yang sifatnya asesmen formatif untuk memberikan nilai akhir? Apakah praktik ini betul? Pertanyaan di atas menjadi bahasan utama dari OGMB 7. Pada tanggal 25 Mei 2021, dua narasumber, yaitu Pak Mirwan Abdul Aziz dan Ibu Amalia Jiandra,  membagikan informasi mengenai asesmen formatif berdasarkan pengalaman mereka masing-masing. Dalam obrolan yang dipandu oleh moderator Ibu Ilona Christina, Bapak dan Ibu Guru dapat mengetahui lebih jauh mengenai penggunaan asesmen formatif yang tepat dan bagaimana penggunaannya. Apa itu Asesmen Formatif? Untuk membuka OGMB, Pak Mirwan dan Bu Amel menjelaskan apa yang dimaksud dengan asesmen formatif. Pak Mirwan menjabarkan asesmen formatif sebagai “proses yang digunakan oleh guru atau murid untuk mendapatkan umpan balik”. Sesuai dengan komentar Aris Ariyanti mengenai asesmen formatif, yaitu “asesmen untuk mengecek pemahaman murid”, Pak Mirwan menjabarkan lebih lanjut manfaat asesmen formatif. Bagi murid, data asesmen formatif dapat digunakan untuk mengetahui celah pemahaman yang dimiliki dengan tujuan pembelajaran. Untuk mencapai tujuan ini, penting bagi murid untuk mengetahui tujuan pembelajaran sehingga mereka dapat melakukan refleksi diri dari hasil asesmen formatif. Di sisi lain, asesmen formatif dapat digunakan pula oleh guru. Bila diolah dengan baik, data asesmen formatif dapat dimanfaatkan untuk melakukan penyesuaian proses belajar mengajar guna meningkatkan pencapaian siswa. Dengan kata lain, asesmen formatif bukan hanya memberikan informasi bagi murid, tetapi juga untuk guru.  Bu Amel kemudian mengungkapkan beberapa miskonsepsi mengenai asesmen formatif yang sering terjadi di antara para guru. Seperti yang sudah disebutkan di atas, asesmen formatif dianggap berfungsi untuk mengatrol nilai akhir. Bila murid tampak belum paham, akan semakin banyak asesmen formatif yang diberikan guru kepada murid tersebut. Padahal asesmen formatif adalah bagian dari asesmen sebagai proses belajar, bukan asesmen terhadap belajar. Dengan kata lain, tujuan asesmen formatif berbeda dengan asesmen yang dilakukan di akhir semester, atau asesmen sumatif.  Masih terkait dengan nilai akhir, Bu Amel mengutarakan miskonsepsi lain, yaitu asesmen formatif sering digunakan untuk langsung menentukan nilai akhir, atau keputusan akhir, kemampuan yang dimiliki murid. Beliau menjelaskan miskonsepsi ini dengan analogi kesalahan diagnosis penyakit, yaitu pemberian diagnosis di saat seseorang hanya menunjukkan satu gejala. Satu kali murid gagal dalam asesmen formatif, maka guru langsung memberikan label bahwa murid tidak mampu. Praktik ini tentu berlawanan dengan proses asesmen formatif yang harusnya berlangsung selama proses belajar berlangsung. Perlu diingat juga bahwa asesmen formatif tidak bertujuan menggambarkan kompetensi yang dimiliki murid di akhir semester. Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Pengambilan Data dan Tindak Lanjut Asesmen Formatif sama Pentingnya “Saya keinget, cara Pak Mirwan ajak anak-anak refleksi, sampe ada yang nyebut “Saya ga pengen jadi baligh, nanti nanggung dosa” Artinya refleksinya bener-bener nunjukkan anak sudah paham.”, komentar Maman, salah seorang peserta OGMB. Selain refleksi, apa saja cara yang bisa dilakukan dalam asesmen formatif ya? Pak Mirwan membagikan beberapa cara yang pernah beliau lakukan dalam proses belajar mengajar di kelas. Salah satunya adalah melalui cara self-assessment. Murid diberikan sebuah kertas kosong dan diminta untuk menuliskan pemahaman dari materi yang baru saja diajarkan. Hasilnya menarik karena murid dapat menggambarkan pemahaman mereka dalam berbagai cara di kertas tersebut. Ada murid yang menjelaskan pemahaman mereka, ada pula yang membuat mind-map. Ketika masa pandemi, beliau menggunakan bantuan beberapa aplikasi agar murid dapat mengomunikasikan pemahaman mereka. Terlepas dari cara apa yang digunakan, sekali lagi Pak Mirwan berpesan agar guru tidak hanya fokus pada cara melakukan asesmen formatif, tetapi juga bagaimana menindaklanjuti data yang sudah ada. Mengaitkan dengan salah satu komentar peserta, diferensiasi merupakan bentuk tindak lanjut yang dapat dipilih oleh guru. Ini tidak berarti bahwa guru harus membedakan cara pengajaran untuk masing-masing anak. Guru justru dapat melakukan pengelompokkan murid berdasarkan asesmen formatif dan mengajak murid yang dinilai lebih mampu untuk membantu temannya yang membutuhkan bantuan dalam memahami materi, atau sering disebut tutor sebaya. Asesmen Formatif Membantu Guru dan Murid Menjadi Merdeka Belajar Terakhir, Bu Amel menekankan adanya proses berkelanjutan dari asesmen formatif. Asesmen formatif berguna bagi guru dalam memodifikasi cara pengajaran secara berkala agar dapat memfasilitasi murid untuk mencapai tujuan pembelajaran. Murid juga dapat terus menerus merefleksikan pemahaman yang dimiliki melalui adanya asesmen formatif. Pak Mirwan menambahkan pula bahwa guru perlu memahami tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam memilih cara melakukan asesmen formatif. Cara yang dibagikan beliau belum tentu sesuai dengan tujuan pembelajaran dan kondisi murid di sekolah yang lain. Begitu pula sebaliknya. Yang terpenting adalah guru mau mencoba melakukan asesmen formatif guna membantu murid dan menyesuaikan proses pengajarannya. Dengan begitu, guru dan murid dapat mengalami Merdeka Belajar di dalam kelas.  Baca Juga Dari penjelasan Pak Mirwan dan Bu Amel, Bapak dan Ibu Guru dapat merefleksikan pemahaman mengenai asesmen formatif. Adakah miskonsepsi tentang asesmen formatif yang Bapak dan Ibu Guru miliki selama ini? Setelah mendengar obrolan ini, adakah perubahan dalam melakukan asesmen formatif yang ingin dilakukan? Bila Bapak dan Ibu Guru melewatkan atau ingin melihat kembali Obrolan Guru Merdeka Belajar “Salah Paham Guru Terhadap Asesmen Formatif”, Bapak dan Ibu Guru dapat menyaksikan di tautan berikut ini:

Menjemput Beasiswa Guru Merdeka Belajar

“Wah…banyak teman rupanya di Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) ini. Baru sadar aku,  ternyata sangat seru sekali bergabung di sisi.” Ucap seorang teman yang baru bergabung di KGBN. Ya, pada hari ini tepatnya Minggu, 28 Maret 2021 kami mengadakan Temu Pendidik Daerah KGBN Pesisir Selatan dengan materi Sosialisasi Program Beasiswa Guru Merdeka Belajar dengan narasumber Bu Linda Ermaida. Beliau adalah ketua KGBN Pesisir Selatan. Semangat beliau sangat luar biasa sekali dalam berbagi ilmu dengan teman-teman di KGBN. Beliau tidak hanya mengobarkan waktu dan pikiran, tapi juga mengobarkan materi demi kegiatan di KGBN. Jauh-jauh beliau datang dari kecamatan Koto Sebelas Tarusan menuju kecamatan Linggo sari Baganti. Membutuhkan waktu 3 jam untuk beliau sampai di Kecamatan Linggo Sari Baganti. Semangat merdeka belajar beliau memang patut diacungi jempol. Tanpa memikirkan biaya, tanpa dibayar sepeser pun  beliau bersedia datang dan berbagi ilmu dengan teman-teman di KGBN. Bahkan saya sering beliau telpon, “Dani kapan kita sosialisasi mengenai beasiswa guru merdeka belajar ini?”. Saya bilang, “tunggu  ya Bu” . Beliau juga sering mengajak teman-teman di KGBN mengadakan zoom, guna mencari solusi bagaimana anggota KGBN bisa berkembang di kabupaten Pesisir Selatan. Beliau menargetkan tiap-tiap anggota penggerak agar mencari teman sebanyak mungkin untuk dijadikan anggota KGBN atau Penggerak KGBN. Kebetulan beliau menyuruh saya mencari teman sebanyak tiga orang, maklum saya baru menjadi anggota KGBN. Belum menjadi penggerak karena sampai saat sekarang ini saya belum mengadakan nonton bareng video merdeka belajar.  Alhamdulillah sekali saya bisa bergabung di KGBN ini. Karena saat sekarang ini mencari teman-teman yang mau belajar dan berbagi ilmu itu sangat susah. Nah KGBN adalah salah  satu tempat mencari ilmu dan berbagi ilmu. Belajar dimana saja dan dari siapa saja tidak harus dari ahli. Teman sejawat  yang punya praktek baik,  berhasil setelah mengalami kegagalan bisa kita jadikan sumber belajar. Memang kalau saya lihat teman-teman penggerak di KGBN mempunyai semangat luar biasa sekali dalam belajar. Salah satu Bu Rini Suriati, Beliau juga jauh-jauh datang dari kecamatan Lunang ke Kecamatan Linggo Sari Baganti untuk menjadi moderator pada kegiatan TPD kali ini yang menempuh jarak perjalanan tiga jam. Tanpa di bayar sepeser pun. Salut banget sama teman-teman di KGBN. Kegiatan TPD kali ini kami mencari tempat rekreasi, alasan ini dipertimbangkan supaya setelah selesai belajar bisa refreshing juga.  Akhirnya dibuatlah kesepakatan di salah satu pantai di tempat kami namanya Pantai Kito. Tidak berapa lama setelah itu saya mendapatkan informasi kalau di Pantai Kito itu ramai sekali. Untuk belajar rasanya tidak terlalu bagus karena bising dengan orang-orang yang ramai. Akhirnya kami dengan bu Azizah selaku tuan rumah mencari tempat yang lain. Hari Sabtu tanggal 27 Maret  Pukul 17:30 satu hari sebelum acara saya dengan bu Azizah survei ke tempat pantai yang lain. Sesampainya di Pantai tersebut kami langsung disambut dengan merdunya suara azan magrib. Kami pun langsung menuju tempat wudu. Ternyata tempat berwudu tersebut kurang bersih sehingga kami memutuskan untuk menumpang salat magrib di  tempat menantu beliau. Ketika kami akan menuju rumah menantu bu Azizah, kami melihat sebuah tempat yang rasanya nyaman untuk belajar. Tapi, orang yang punya tempat tersebut tidak ada. Kami pun bertanya kepada orang yang ada di sebelah.  Ketika kami berbincang- bincang, Datanglah yang punya tempat tersebut. Rupanya dia seorang operator SD. Kami pun langsung numpang salat. Setelah selesai salat akhirnya kami membicarakan mengenai Temu Pendidik Daerah (TPD) yang akan dilaksanakan. Rencananya kami mau memakai tempat tersebut untuk kegiatan TPD. Alhamdulillah dia bersedia memberikan izin. Akhirnya saya dengan bu Azizah pulang ke rumah masing-masing dan juga tidak lupa menyampaikan kepada teman-teman tentang perubahan tempat pertemuan.  Pukul 10:00 bu Linda Ermaida sudah sampai ke kecamatan kami, sementara saya dan bu Azizah selaku tuan rumah belum juga sampai karena pada saat itu saya menunggu teman. Jadi malu juga sama bu ketua. Singkat cerita akhirnya kami semua telah berkumpul di lokasi. Namun, kenapa yang punya tempat belum datang. Ada apa gerangan?. Tentu kami tidak bisa mulai acara karena yang punya tempat belum datang. Akhirnya saya telepon, tapi nomor hpnya tidak aktif. Akhirnya kami buat keputusan jika dalam waktu lima belas menit yang punya tempat tidak datang, kami akan cari tempat yang lain. Waktu itu rasa bersalah saya semakin meningkat. Udah terlambat, nah sekarang ditambah lagi tempat yang  bermasalah. Namun, belum lima belas menit kami menunggu, yang punya tempat datang. Alhamdulillah, ucap saya. Tidak jadi pindah. Jadi malu juga sama teman-teman kalau seandainya pindah tempat lagi. Acara pun kami mulai dengan pembukaan dari moderator. Selanjutnya bu Linda Ermaida menyampaikan tentang cara membuat akun di sekolahmu. Kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi Beasiswa Guru Merdeka Belajar. Setelah pembahasan beasiswa guru merdeka belajar, Pak Nofri Mayasril selaku narasumber dua langsung mempraktekkan cara membuat akun sekolah mu kepada peserta. Setelah selesai pembuatan akun di sekolahmu semua peserta di bimbing lagi untuk lanjut menyelesaikan program Guru Merdeka Belajar. Saat Nofri Mayasril sibuk mengajarkan teman-teman, sementara saya sibuk sedang membuat video kegiatan tiba-tiba bu Azizah menarik saya. “Tolong bantu Ibuk” kata beliau. saya menjawab “apa yang mesti saya bantu bu?”. Beliau menjawab lagi “Untuk menyelesaikan ini”. “Ibu sayang, ini untuk teman-teman yang baru bergabung, Ibu kan sudah penggerak”. Jawab saya sambil tersenyum. “Oh begitu,” jawab beliau sambil tersenyum. Saya salut juga sama bu Azizah ini. Beliau juga penggerak di KGBN yang mempunyai semangat yang tinggi untuk belajar. Bahkan di TPN 2019 beliau datang ke Jakarta dengan biaya mandiri. Jarang-jarang ada kepala sekolah seperti beliau. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Tak terasa azan zuhur sudah berkumandang, saya minta izin teman-teman untuk salat dulu. Setelah selesai salat tak terasa Sumatera Tengah sudah lapar. Akhirnya kami pun memesan makanan. Setelah selesai makan acara pun ditutup oleh bu Rini Suryati selaku moderator. Sesi selanjutnya yaitu dokumentasi. Dengan gaya masing-masing kami berfoto ria. Klik…kliik begitulah bunyi kamera. Kegiatan terakhir kami lanjutkan dengan jalan-jalan di tepi pantai. Kameranya bunyi lagi deh, klik, klik, klik dan kliik. Tak terasa waktu begitu cepat. Sekitar pukul 14:00 kami memutuskan pulang ke rumah masing-masing dengan membawa semangat merdeka belajar. Banyak teman, dapat ilmu dan banyak lagi manfaat yang lain yang kami rasakan bergabung di KGBN. “Orang yang berhak mengajar adalah orang yang mau belajar.” Itulah kutipan yang saya … Read more

Gaya Belajar Murid & Merdeka Belajar

Rabu 10 Maret 2021 pukul 10.00 WIB, adalah hari dimana Komunitas Guru Belajar (KGB) Pesisir Selatan  khususnya di Kecamatan Ranah Pesisir yang bertempat d UPT SDN 19 Padang Sirih. Kegiatan ini memiliki aktivitas berupa nonton bareng Guru Merdeka Belajar dan belajar mengenai “Memahami Gaya Belajar Murid”. Kegiatan nobar ini dimoderatori oleh kepala sekolah saya Rosmaini dan alhamdulilah di koordinatori oleh pengawas ibu Hafni Zahara dan di akhir nanti ada pemaparan dari penggerak KBG Pessel  Nofri Mayasril. Perkenalkan saya Eka Putri Rosdiani salah satu calon penggerak KGB, dan saya salah satu penerima beasiswa Guru Merdeka Belajar angkatan 1, dalam acara nobar kali ini saya sebagai pemandu acara nobar mengenai guru merdeka belajar dan sesi belajar mengenai memahami gaya belajar murid di akhir acara nobar ini. Kegiatan ini sebenarnya direncanakan diadakan tahun 2020, tapi karena berhubung keadaan dan situasi yang tidak memungkinkan karena adanya Covid 19 makanya kegiatan ini tertunda selama setahun. Alhamdulillah kegiatan ini dapat dilaksanakan hari ini dengan tetap memperhatikan protocol kesehatan dan dengan peserta yang hanya 14 orang saja untuk menghindari kerumunan. Acara ini yang semula dijadwalkan jam 10.00 WIB tertunda sekitar 15 menit karena ada kesalahan beberapa peralatan yang tidak pada semestinya. Akhirnya acara ini dimulai dengan dibuka oleh moderator kepala sekolah saya sendiri kemudian beliau mempersilakan kepada saya untuk memulai acaranya. Di awal acara saya memberikan kata sambutan dan menjelaskan sedikit tentang kegiatan yang akan dilaksanakan hari ini. Kemudian saya memaparkan bahwa acara hari ini pengambilan absen secara online dan linknya dibagikan oleh bapak Nofril Mayasril. Para peserta merasa terkejut dan banyak yang bilang tidak bisa. Kemudian bapak Nofril Mayasril membantu saya memberikan penjelasan kepada peserta bagaimana caranya pengambilan absen secara online. Dalam pengambilan absen sedikit mengalami kesulitan karena ada beberapa faktor salah satunya karena jaringan di tempat pelaksanaan kurang lancar. Tapi alhamdulillah akhirnya dengan kerjasama dan penjelasan serta bimbingan dari saya dan Bapak Nofril Mayasril akhirnya peserta bisa mengisi absen online. Kegiatan dilanjutkan dengan nobar video dari Najelaa Shihab. Sebelum pemutaran video bapak Nofri memberikan pertanyaan kepada peserta “apa yang bapak ibu ketahui tentang merdeka belajar?” Para peserta hanya diam dan tidak ada tanggapan. Akhirnya bapak Nofri memberikan penjelasan bahwa untuk menjawab pertanyaan tersebut terdapat dalam video berikut.  Peserta mengikuti dengan tenang dan mendengarkan dengan seksama video tersebut dan ada beberapa guru peserta yang saya perhatikan mencatat hal hal penting yang terdapat dalam penyampaian video tersebut. Kegiatan nonton bareng pun selesai, kemudian bapak Nofril Mayasril langsung memberikan  penjelasan bahwa peserta diminta untuk menuliskan refleksi dari video yang telah ditonton dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut pada kertas yang telah dibagikan.  Para peserta menjawab pertanyaan tersebut sambil dipandu oleh Nofri dan dijawab pada kertas yang telah diberikan. Kemudian peserta menjawab pertanyaan tersebut sambil ada beberapa guru mengajukan pertanyaan dan meminta penjelasan dari pertanyaan tersebut. Seperti salah seorang peserta bertanya ”Apakah semua pertanyaan tersebut harus dijawab? Dan apa kami perlu ikut KGB untuk pengembangan diri? Pertanyaan tersebut dijawab oleh bapak Nofri dengan senyum dan santai. Bahwa dalam menjawab pertanyaan dipersilakan semuanya, tapi kalau bapak ibu tidak sanggup boleh semampunya saja. Dan untuk pengembangan diri sebenarnya boleh dimana dan bagaimananya. Tapi KGB merupakan sarana untuk berbagi dan bekerjasama untuk memberikan praktik baik dan pembelajaran yang bermakna bagi murid. Akhirnya refleksi pun selesai dan peserta diminta untuk menempelkan hasil refleksi yang ditulis ke papan tulis. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Acara refleksi pun selesai kemudian pak Nofri memberikan sedikit penjelasan mengenai KGB terutama KGB Pesisir selatan. Kemudian Pak Nofri mempersilakan kepada pengawas sebagai koordiantor acara untuk memberikan sedikit motivasi kepada para peserta nobar kali ini. Dalam penjelasannya beliau menyampaikan merasa bangga dan senang dengan adanya acara ini dapat menambah ilmu dan motivasi kepada guru guru peserta dan beliau memberikan motivasi yang bagus kepada para peserta. Setelah acara Nobar merdeka belajar dan refleksi selesai acara dilanjutkan dengan pemaparan materi “Memahami gaya belajar murid”. Sesi dibawakan dengan cukup menarik oleh bapak Nofri. Hal ini terlihat dari antusiasnya para peserta mendengarkan materi yang disampaikan dan sesekali dalam penyampaian materi ada tanya jawab antara peserta dan bapak Nofri. Dan dalam penyampaian materi ini ada beberapa kali antara bapak Nofri dan peserta bercanda dan tertawa membahas banyaknya macam gaya dan tabiat murid yang dialami di lapangan.  Acara diakhiri dengan beberapa kesimpulan, komitmen dan kesepakatan bahwa kita para guru akan berusaha memberikan yang terbaik kepada murid, memberikan pembelajaran yang merdeka dan bermakna bagi murid. Para peserta bisa bergabung di KGB khususnya KGB Pesisir Selatan untuk saling berbagi ilmu, sama sama belajar dan berbagi praktik baik untuk kemajuan pendidikan dimasa yang akan datang. Acara perdana saya di KGB ini sangat menantang bagi saya, dan sangat besar manfaatnya bagi saya. Sangat memotivasi saya dalam menambah ilmu, saling berbagi dengan teman, dan juga sebagai wadah dan tempat komunikasi antar guru dalam berbagi ilmu dan permasalahan yang kita temui sebagai guru di lapangan tempat kita mengajar di sekolah masing masing. Tidak ada yang tidak mungkin dilakukan jika kita punya komitmen dan niat yang tulus terhadap tujuan. Ayo kita sebagai guru benahi diri kita, jadilah guru yang merdeka, berilmu dan melahirkan penerus bangsa yang bermartabat dan madani dan tetap fokus pada tujuan memajukan kehidupan bangsa. Semua yang dilaksanakan harus dengan komitmen dengan tujuan dan niatkan hati untuk mencapai tujuan. Semua tahap yang dilalui adalah proses tidak instan untuk mencapai tujuan.

Menggerakkan Perubahan Bersama Jaringan Sekolah Madrasah Belajar

Tidak bisa dipungkiri bahwa Kepala Sekolah turut merasakan dan harus bisa memberikan solusi yang bisa dipraktikkan, seperti jumlah murid yang berkurang akibat adanya pandemi karena anak-anak yang kurang memiliki fasilitas yang menunjang untuk pembelajaran jarak jauh, pada beberapa sekolah terutama di daerah dimana jumlah guru dan anak-anak yang tidak sepadan atau sebaliknya, bahkan tidak adanya dukungan dari masyarakat di lingkungan sehingga sekolah kurang dapat  berkembang secara maksimal. Seperti yang kita ketahui, di dalam keluarga ada yang namanya Kepala Keluarga, sekolah mempunyai Kepala Sekolah, yayasan mempunyai Ketua Yayasan, perusahaan mempunyai Direktur, dan sebutan lainnya sebagai seorang pemimpin pada suatu lembaga atau organisasi. Seorang pemimpin dapat mempengaruhi suatu proses yang berjalan dan menjadi pemberi contoh bagi para anggotanya untuk dapat mencapai tujuan suatu organisasi. Pemimpin harus memiliki standar kualitas yang tinggi sehingga pemimpin itu sendiri yang akan memberikan contoh yang baik secara langsung dan nyata kepada anggotanya. Pandangan seorang pemimpin yang visioner dan realistis dapat mengalirkan suatu program kerja yang mendukung anggotanya untuk bisa saling bekerjasama untuk berdaya dan berkarya bersama. Namun, tak dipungkiri bahwa di dalam suatu organisasi atau lembaga jika di dalam dunia pendidikan seperti sekolah mengalami beberapa hambatan atau tantangan yang dihadapi oleh seorang pemimpin, terutama yang berkaitan dengan komunikasi. Seorang pemimpin harus memiliki jaringan komunikasi yang luas untuk memudahkan para anggotanya yaitu guru untuk memahami tujuan yang akan dicapai. Pemimpin juga harus mampu mendengarkan dengan cara memberikan kesempatan secara bijaksana untuk memahami kebutuhan dan kesulitan yang dialami oleh guru di sekolah. Maju mundurnya kondisi sekolah dan tinggi rendahnya kualitas pendidikan tidak lepas dari peran seorang pemimpin yaitu Kepala Sekolah. Bisa dikatakan Kepala Sekolah adalah nahkoda kapal dalam perubahan di sekolah yang dipimpinnya. Banyak tanggung jawab yang dipikul oleh Kepala Sekolah, yang menjadikan perlu adanya dukungan yang diberikan secara riil dan berkelanjutan bahwa Kepala Sekolah tidak bekerja sendiri, tetapi bisa bekerja sama dan berkolaborasi dengan berbagai pihak yang menghasilkan dampak yang bisa dipraktikkan dan dibagikan secara luas. Bertepatan dengan Konferensi Tahunan yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar dan Yayasan Guru Belajar yaitu #BelajarDiTPNVII diluncurkan jaringan dengan nama “Jaringan Sekolah Madrasah Belajar” (JSMB). JSMB ini akan menjadi organisasi untuk bisa mewujudkan cita dan tujuan guru dan orang tua untuk berkolaborasi secara langsung dalam mendidik anak-anak, memberikan dukungan dengan mengoptimalkan guru dan murid untuk mencapai kemerdekaan belajar yang sesungguhnya, cuplikan penjelasan Pak Bukik mengenai pentingnya Jaringan Sekolah Merdeka Belajar. Mengutip apa yang telah dikatakan oleh Ibu Najelaa Shihab bahwa “Kemerdekaan Belajar adalah pondasi yang perlu menjadi bagian dari kompetensi dari semua individu yang menyatakan sebagai pendidik, dan memiliki kompetensi untuk saling berkolaborasi”. Adanya Jaringan Sekolah Madrasah Belajar atau JSMB ini menjadi salah satu jembatan sekolah maupun madrasah untuk  melakukan perubahan pendidikan Indonesia dengan saling berkolaborasi dan bekerja sama. Sudah saatnya sekolah dan madrasah melakukan perubahan dengan menginisiasi, mengkonstruksikan program-program yang sudah berjalan secara konvensional selama bertahun-tahun bertransformasi menjadi program yang merdeka belajar melalui penggerak-penggerak, seperti pemimpin, guru dan orangtua. Sebagai tambahan #BelajarDiTPNVII Jaringan Sekolah Madrasah Belajar memiliki 3 tujuan utama yang telah dipaparkan oleh ketua JSMB secara langsung yaitu Bapak Muhammad Niamil Hida, yang pertama untuk mengembangkan kapasitas kepemimpinan di setiap lembaga; kedua mengembangkan kapasitas lembaga pendidikan beserta stakeholder; dan yang ketiga untuk meningkatkan jaringan-jaringan sekolah dan madrasah bisa saling berkolaborasi untuk perubahan pendidikan yang lebih berdampak terutama untuk murid-murid. Kegiatan Jaringan Sekolah Madrasah ini diharapkan menjadi jembatan untuk saling belajar,berdiskusi, bertukar pikiran, berkolaborasi termasuk para guru yang ingin mengembangkan karier sebagai pemimpin. Kegiatan JSMB dikembangkan dalam Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar, pelatihan, pendampingan, serta kolaborasi yang diciptakan oleh jejaring yang ada pada Jaringan Sekolah Madrasah Belajar. Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar (OPMB) sendiri sudah diadakan 26 kali obrolan secara live melalui kanal youtube Kampus Guru Cikal, OPMB ini merupakan sesi diskusi dengan para pemimpin yang membahas mengenai permasalahan yang dihadapi dan sharing mengenai praktik baik yang telah dilakukan di masing-masing lembaga atau sekolah yang dipimpin. Adanya Jaringan Sekolah Madrasah Belajar diharapkan dapat menunjang para pemimpin dan guru untuk berkontribusi secara aktif dengan mengembangkan program-program merdeka belajar baik di dalam lingkup lembaga atau secara luas. Sekolah maupun madrasah menjadi awal gerakan perubahan dimulai, dengan memberikan kesempatan para pemimpin, guru, orang tua dan murid menjadi bagian dalam perubahan pendidikan melalui proses pembelajaran yang berlangsung selama di sekolah maupun secara mandiri di rumah, karena dengan saling keterlibatan tersebut akan adanya kesiapan program-program yang mendukung merdeka belajar dan siap menghadapi tantangan secara bersama. Tidak perlu ragu-ragu lagi untuk Sekolah atau Madrasah yang ingin menggerakkan perubahan, karena sudah ada wadah yang bisa menjembatani, jadi masih tunggu apalagi? Oleh karena itu, Jaringan Sekolah Madrasah Belajar yang diinisiasi ini direalisasikan dan dimanfaatkan sebaik mungkin, tidak hanya sekolah tetapi madrasah juga akan memberikan kontribusinya, karena memiliki tujuan yang sama yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan menggerakkan perubahan pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. Perubahan akan terjadi jika dilakukan secara kolaborasi, bukan berjalan sendiri-sendiri, perubahan yang dimulai dari pengembangan pada lingkup internal untuk dikembangkan secara eksternal melalui jaringan-jaringan yang sudah terbentuk. Kerja sama atau kolaborasi bisa diciptakan tidak hanya antar guru atau guru dengan pemimpin (kepala sekolah), tetapi kolaborasi bisa dilakukan dengan pihak diluar sekolah baik guru/pemimpin dari sekolah lain atau stakeholder sesuai dengan kompetensinya. Semakin banyak pihak yang terlibat menunjukkan tanda  suatu kemajuan   “Jadi untuk para pemimpin dan guru, bersiaplah menjadi bagian terpenting untuk berkolaborasi dan memberikan kontribusi terbaiknya melalui Jaringan Sekolah Madrasah Belajar”. Tunggu apalagi penggerak perubahan, jadilah bagian dari perubahan. Yuk bergabung bersama JSMB.Klik