Kemerdekaan Belajar Bukan Diberikan Tetapi Kita Gerakkan

“Yang kita inginkan adalah anak-anak yang punya aspirasi tinggi, yang punya cita cita melampaui langit, sebetulnya. Melampaui batas ruang kelas, melampaui batas dunianya. Dan ini hanya akan terjadi pada saat anak-anak punya kemerdekaan belajar. Tapi kemerdekaan murid-murid hanya akan terjadi pada saat kita sebagai pendidik juga sebetulnya  memiliki kemerdekaan”. Penggalan kalimat di atas adalah pernyataan awal penyemangat dari ibu Najelaa Shihab lewat video nonton bareng atau nobar yang sebelumnya diunduh di sebuah link yang tertulis pada  buku panduan nonton bareng video Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN). Dalam pemaparan Inisiator Guru Merdeka Belajar ini, menyampaikan pesan tersirat sarat makna yang meminta guru untuk serius menjadi guru merdeka belajar.  “Apakah Ibu dan Bapak Guru sudah merasa merdeka?” ungkap ibu Elaa, panggilan akrab ibu Najelaa Shihab dengan nada tanya. Setelah itu ia lanjutkan lagi dengan narasi yang sangat menyentuh empati diri kita sebagai guru, bahwa kalau tidak merasa merdeka tidak perlu ada datang dan belajar.  Pertanyaan dan pernyataan ibu Elaa tersebut, bukan tanpa sebab atau bukan tanpa alasan. Semua sudah melewati fase realitas perjalanan dan pandangan mata di kehidupan guru dengan beragam cara dan kemampuan guru di sekitarnya. Tentunya dalam memaknai diri untuk maju dan paham akan tugas dan tanggung jawabnya sejak mengemban amanah sebagai guru.  Asumsi pemahaman tentang guru merdeka belajar ini menjadi titik fokus para guru di KGB Sinjai dengan digelar nonton bareng hari Ahad, 25 Oktober 2020 lalu. Mengingat situasi masih dalam masa pandemi Covid 19, kegiatan nobar ini digelar secara daring melalui aplikasi Microsoft Teams yang dimulai pukul 10.00 Wita.  Acara ini dipandu langsung guru Arni Idawati dengan tim teknis daring via Teams guru Takdir Kahar dan guru Hj Yuliani, ketiga guru ini adalah Penggerak KGB Sinjai. Kegiatan ini diikuti 35 peserta dari berbagai tingkatan sekolah seperti guru sekolah dasar, guru sekolah menengah pertama, dan guru sekolah menengah atas. Bukan hanya itu, kegiatan nobar guru merdeka belajar ini juga diikuti  dua  pengawas sekolah dalam lingkup Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. Memaknai Merdeka Belajar Sebelum nobar Guru Merdeka Belajar diputar via Microsoft Teams, Moderator acara yang dipandu guru Arni Idawati memulai dengan menyapa semua peserta Nobar yang sebelumnya sudah mendaftar via link Microsoft Forms serta sudah bergabung dalam grup WhatsApp Nobar MGMB KGB Sinjai. Melihat semangat peserta yang begitu tinggi untuk segera melihat paparan video konsep Guru Merdeka Belajar dari Ibu Najelaa Shihab, maka tak berlama-lama di pembukaan acara, langsung moderator melempar pertanyaan reflektif ke peserta nobar, bahwa apa yang mereka pahami tentang Merdeka Belajar? Tak pelak saja, tidak sampai satu menit setelah pertanyaan di lempar langsung disambut sejumlah analogi peserta tentang pemahaman mereka tentang guru merdeka belajar. Seperti pernyataan guru Anshar dari SMAN 12 Sinjai, bahwa merdeka belajar itu ketika guru memiliki kemampuan dan semangat untuk belajar. Hal sama juga diungkapkan  guru Fariati dari SMAN 10 Sinjai, bahwa merdeka belajar itu adalah merdeka dalam belajar kepada siapapun dan merdeka dalam mengajar dengan kewenangan guru menentukan sendiri metode pembelajaran tanpa keluar dari tujuan pembelajaran. Ada juga pernyataan mengejutkan dari guru Rosdiana dari SDN 1 Balangnipa Sinjai. Bahwa guru merdeka belajar itu ketika sang guru mampu membuat perubahan kelas menjadi kelas yang menyenangkan. Bukan hanya itu, sebagai guru harus yakin bahwa dirinya adalah guru yang memiliki sisi lain yang luar biasa untuk selalu belajar dan bermanfaat bagi orang lain.  Senada dengan guru Hj Hasniar dari SMAN 3 Sinjai memberi sebuah gambaran, bahwa hakikat guru merdeka memiliki ciri-ciri  yaitu punya tujuan dan komitmen pada tujuan, guru harus memiliki sikap kemandirian, serta  selalu melakukan refleksi untuk  mencari sisi masukan dan penguatan dari pembelajaran yang selesai dilaksanakan. Pernyataan penguatan tentang apa itu merdeka belajar juga disampaikan pak Madalle Aqil, koordinator pengawas pendidikan untuk wilayah Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Selayar Provinsi Sulawesi Selatan.  Dijelaskan bahwa guru merdeka itu adalah guru yang selalu belajar sepanjang hayat dengan memiliki tiga hakikat dasar sebagai guru. Pertama, guru merdeka belajar harus memiliki sifat dan sikap keikhlasan. Artinya, aktivitas guru yang mewarnai dalam kegiatan pembelajarannya di ruang-ruang kelas,  siap menerima segala tantangan dan terpenting selalu melakukan perbaikan. Kedua, guru merdeka belajar mampu mempraktikkan aksi atau tindakan. Artinya, segala tindakan yang dilakukan  adalah nyata karena sesuai dengan yang dibutuhkan  saat ini. Ketika salah maka dicoba dan dilakukan lagi atau tidak mudah putus asa. Ketiga, guru merdeka belajar terus belajar. Artinya, bukan berarti ketika sudah selesai mengajar, maka dianggap tujuan juga sudah tercapai. Tapi guru harus belajar dan berani melakukan refleksi dari apa yang sudah dilakukan dalam kegiatan pembelajarannya. Merebut Emansipasi Belajar Setiap alur narasi ibu Najelaa Shihab selalu ada ledakan makna dalam pemaparan tentang guru merdeka belajar. Sehingga praktis  kalimat demi kalimat yang disampaikan semuanya seperti kalimat pokok atau kalimat utama yang tidak boleh dibiarkan berlalu. Rugi rasanya ketika terlewatkan satu kata, lebih-lebih satu kalimat atau beberapa kalimat.  Dalam penjelasannya memantik peserta dengan melempar sebuah pernyataan mengejutkan. Bahwa ketika sepakat dengan konsep pendidikan di negara tercinta Indonesia adalah demokrasi, maka ia berani melisensi tentang keberadaan guru-guru yang bergabung dalam komunitas guru belajar sudah berada di tempat atau forum yang tepat.  “Anda berada di forum  yang tepat, karena di Komunitas Guru Belajar sangat percaya bahwa proses kemerdekaan itu sebetulnya bukan diberikan, tapi sesuatu yang kita gerakkan,” ungkap ibu Najelaa. Artinya segala kegiatan guru adalah sebuah proses sama-sama belajar seperti  proses emansipasi tidak dikasih atau tidak diberikan tetapi harus direbut, kemerdekaan belajar adalah sesuatu yang kita gerakkan. Tentunya guru harus memiliki komitmen, kemandirian, serta selalu melakukan refleksi. Penjelasan lain yang paling menyentuh adalah atas tindakan guru dalam ruang-ruang pembelajaran di sekolah untuk berani melawan miskonsepsi. Seperti anggapan yang sering muncul bahwa guru mau belajar kalau ada insentif atau uang serta ada sertifikatnya, padahal belajar adalah kebutuhan alamiah dari setiap guru. Anggapan lain seperti guru baru mau  belajar kalau dari sumber ahli atau dari pakar pendidikan. Ditemu pendidik sudah membuktikan, jika sumber belajar paling efektif adalah sesama guru yang sudah banyak pengalaman dan belajar melakukan perbaikan dari setiap ia di posisi kegagalan. Penjelasan lain tentang miskonsepsi adalah  belajar cukup terbatas ‘How To’ tidak mau ribet atau pusing dalam mengajar, padahal belajar itu dengan tujuan yang dapat  menyesuaikan diri dengan … Read more

Sekolah Lawan Corona Bantaeng : Program Pengembangan Guru di Masa Pandemi

Sekolah Lawan Corona telah berjalan hampir 1 bulan di Kabupaten Bantaeng, guru dan kepala sekolah telah mengikuti kurikulum dasar Guru Merdeka Belajar yang terdiri dari berbagai 5 level. Program diikuti guru secara otomatisasi di platform Sekolah.mu. Para peserta dari 16 sekolah ditemani oleh rekan-rekan guru dari KGB Bantaeng sebagai pendamping. Seminggu setelah kegiatan peluncuran program Sekolah Lawan Corona pada 18 September 2020, peserta mulai mengikuti program dari pengenalan platform yang digunakan dan kegiatan nonton bareng Guru Merdeka Belajar. Pada saat kegiatan nonton bareng, peserta diajak untuk berefleksi sebagai guru. “Melihat video guru Wanti, saya melihat guru Wati adalah seorang guru yang mempunyai komitmen dan dedikasi yang tinggi untuk membuat perubahan.” tutur guru Dharmawati, seorang peserta guru dari SDN Inpres Loka. Tidak hanya terinspirasi dengan perjuangan guru Wanti, saat kegiatan nonton bareng banyak guru yang merasa diingatkan dengan miskonsepsi guru belajar. Ada beberapa miskonsepsi yang sering guru lakukan selama ini. Misalnya Guru Amir dari SD Inpres Jatia, yang selama ini masih terjebak pada miskonsepsi belajar perlu insentif eksternal (sertifikat, uang transport), dan belajar harus dari ahli. Dari kegiatan nonton bareng Guru Merdeka Belajar ini juga, Guru dan Kepala Sekolah peserta program Sekolah Lawan Corona mendapatkan inspirasi tentang 3 elemen pada merdeka belajar yaitu Komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara, dan refleksi. Banyak yang menyetujui pendapat tersebut. Misalnya guru Ramli dari SDN Borong Tarampang setuju tentang elemen-elemen merdeka belajar karena belajar tanpa tujuan tidak ada arah yang akan kita capai dengan adanya tujuan yang pasti kita dapat merefleksikan kegiatan berikutnya dan dapat mengetahui kekurangan yang kita lakukan sebelumnya. Setelah kegiatan nonton bareng dan pengenalan platform, para peserta langsung dihadapkan pada level-level program otomatisasi. Tidak mudah melaksanakan program secara daring, ada beberapa kendala yang dihadapi peserta. Dari masalah sinyal, hingga kesulitan mengakses program. Namun peserta menyerah dengan adanya kendala-kendala tersebut. Para peserta mencari cara agar tetap bisa menyelesaikan program hingga level 5, dan selanjutnya mengikuti sesi mentoring. Komitmen peserta dibantu oleh pendamping membuat peserta dari 16 sekolah banyak yang telah menyelesaikan program hingga level 5.  “Dari program Sekolah Lawan Corona ini banyak manfaat yang didapatkan guru-guru di Bantaeng : Guru bisa bertambah wawasannya tentang ilmu pedagogi, kompetensi guru meningkat, guru bisa menjadi guru merdeka belajar dan juga sekolah bisa mengembangkan diri menjadi Sekolah Merdeka Belajar.” tutur Drs. Muhammad Haris, M.Si selaku kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantaeng. Selain itu, juga banyak peserta yang merasa terbantu dengan adanya program Sekolah Lawan Corona di Bantaeng. “Alhamdulilah setelah mengikuti program SLC kesulitan-kesulitan dalam melakukan pembelajaran dapat teratasi termasuk cara membuat RPP, saya juga mulai membuat kesepakatan dalam kelas.” tutur guru Syariffudin dari SDN 38 Janna Jannaya. Setelah melaksanakan program otomatisasi, peserta akan mengikuti program mentoring dan kurikulum kedua yaitu Sekolah Merdeka Belajar. Ingin sekolah Bapak Ibu mengikuti program Sekolah Lawan Corona juga?Yuk daftar! klik tombol di bawah ini:

Peluncuran Sekolah Lawan Corona di Kabupaten Bantaeng

“Saya besar di Papua. Bila orang membicarakan pendidikan daerah, maka saya mengalaminya sendiri. Saya mengalami sendiri kesulitan mencari buku bacaan. Saya mengalami sendiri kesulitan mencari guru dan sekolah berkualitas. Saya mengalami sendiri arti keterbatasan. Karena itu ketika menjadi seorang bapak, saya bermimpi mendirikan sekolah agar anak saya bisa mendapatkan kualitas pendidikan yang layak  Tapi setelah terjun menjadi aktivis pendidikan,  saya merevisi impian itu. Saya bermimpi ekosistem pendidikan yang kolaboratif agar anak-anak Indonesia mendapatkan kualitas pendidikan yang layak.” ujar Bukik Setiawan Ketua Yayasan Guru Belajar. Pada hari itu memang terjadi peristiwa seperti yang Bukik Setiawan ucapkan pada pidato pembukaan. Bahwa ada kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi profesi guru, lembaga pengembangan guru, lembaga pendidikan keluarga dan penyedia layanan sekolah  digital. Langkah awal yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan pembelajaran pada masa Covid 19 ini. Langah awal itu bernama Sekolah Lawan Corona. Sekolah Lawan Corona Bantaeng Setelah berhasil mengajak 128 sekolah yang terdiri atas 256 guru dan 128 Kepala Sekolah dari berbagai daerah di Jawa Tengah (baca juga Sekolah Lawan Corona Jawa Tengah) Kali ini program Sekolah Lawan Corona hadir di Bantaeng, dan akan diikuti kurang lebih 80 guru dan kepala sekolah dari 16 sekolah di Bantaeng. “Tuntutan guru yang memiliki kreativitas dan inovasi tidak hanya untuk masa pandemi saja, kita menghadirkan program Sekolah Lawan Corona untuk membantu guru membuat pembelajaran yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan keseharian.” ujar Bupati Bantaeng, Ilham Azikin dalam sambutannya. Kurikulum Sekolah Lawan Corona memang bertujuan untuk : Membantu kepala sekolah dan guru melakukan pembelajaran jarak jauh yang merdeka belajar. Membantu kepala sekolah dan guru melakukan strategi pembelajaran dan kepemimpinan berdasarkan prinsip cara 5M (Memanusiakan Hubungan, Memahami Konsep, Membangun Keberlanjutan, Memilih Tantangan dan Memberdayakan Konteks) Membangun jejaring sekolah merdeka belajar yang mempraktikkan pembelajaran dan kepemimpinan merdeka belajar secara berkelanjutan. Harapannya setelah program Sekolah Lawan Corona lahir Guru dan Kepala Sekolah Merdeka Belajar yang mampu menggerakkan pendidikan di Bantaeng. “Saya berharap jangan ada sekolah unggulan di Bantaeng. Yang saya mau semua sekolah unggul dengan kelebihannya masing-masing,” ujar Bupati di akhir sambutannya. Dalam peluncuran program Sekolah Lawan Corona Bukik Setiawan juga menekankan pentingnya berpihak pada anak. “Makna kita sebagai pendidik adalah anak-anak. Mau sehebat apa pun pendidik, tanpa anak-anak maka tak ada artinya. Mau sehebat apa pun sekolah, tanpa anak-anak pun kehilangan artinya. Bahkan sekolah yang jumlah muridnya yang terus menerus menurun akan ditutup. Tidak peduli sekolah swasta maupun sekolah negeri. Karena itu, wajar dan sudah pada tempatnya kita selalu mengingat-mengingat peran utama anak-anak dalam ekosistem pendidikan. Untuk apa kita mengajar? Untuk apa kita mendidik? Untuk apa kita bersusah payah di sini? Tidak lain dan tidak bukan untuk anak-anak, khususnya anak-anak Bantaeng.” Sekolah Anda ingin mengikuti Sekolah Lawan Corona?KLIK DISINI

Cerminan Humanisme dalam Merdeka Belajar

“Utlubul ‘ilma minal mahdi ilal ahdi”, berikut merupakan Hadis Nabi Muhammad saw. yang artinya “menuntut ilmu mulai dari buaian hingga akhir hayat”. Pada hadis tersebut memiliki makna bahwa belajar merupakan hak dan kewajiban bagi siapapun dimulai saat seorang manusia lahir hingga saat terakhir di dunia. Tidak terpatok pada status, usia, gender, jenjang pendidikan, dan sebagainya. Belajar sendiri banyak bentuknya, ada yang belajar dalam hal teori maupun praktek. Hal inilah yang menjadi prinsip saya dalam menjalankan amanah menjadi guru. Guru dalam pendangan orang lain adalah seseorang kunci dari pendidikan dan merupakan uswatun hasanah tidak hanya bagi muridnya tetapi juga masyarakat di sekitarnya. Perasaan yang muncul untuk memenuhi tanggung jawab dan ekspektasi sebagai seorang pendidik akhirnya mengantarkan saya untuk ikut dalam Komunitas Guru Belajar Nusantara di daerah Sidoarjo. Kegiatan yang baru-baru ini saya ikuti dalam proses pengembangan diri bersama KGBN adalah mengikuti acara Nonton Bersama Guru Merdeka Belajar yang diadakan oleh Pengurus KGBN daerah Sidoarjo pada tanggal 13 September 2020 yang dimulai pada pukul 19.00 WIB via Zoom Meeting. Dalam tayangan tersebut, terdapat ungkapan dari Bu Najelaa Shihab selaku founder dari Kampus Guru Cikal dan Inisiator dari KGBN yakni “proses merdeka itu bukan sesuatu yang diberikan, tetapi sesuatu yang kita gerakkan” yang dimana ungkapan tersebut seakan-akan menjadi refleksi bagi saya bahwa menjadi guru yang merdeka tidak bisa dengan bergantung pada tercapainya tujuan pembelajaran oleh murid dan lembaga pendidikan. Kadang saya lupa bahwa guru memiliki kuasa untuk merdeka. Tidak hanya pemenuhan nilai dan prestasi maka seorang guru baru bisa dikatakan guru yang sukses namun lebih kepada pemaknaan dalam pembelajaran yang diharapkan akan selalu dihayati murid.  Bu Najelaa mengemukakan bahwa konsep pendidikan yang merdeka belajar apabila mempunyai komitmen tujuan, mandiri, dan refleksi yang sayangnya masih menimbulkan miskonsepsi. Miskonsepsi tersebut menimbulkan rasa insecure pada diri saya yang juga senada dengan yang dirasakan oleh Bu Sari yang mengatakan bahwa konsep merdeka belajar bagi beliau masihlah gelap karena adanya sistem di lembaga pendidikan yang kurang ingin maju dan hanya bergantung pada atasan suatu lembaga tersebut, apakah memberikan fasilitas bagi gurunya untuk mencapai kemerdekaan atau tidak. Namun bukan dipungkiri bahwa harapan itu selalu ada tergantung pada pendidik apakah ingin merdeka dengan bergerak atau menunggu diberikan. Apabila pendidik mampu merubah miskonsepsi menjadi sugesti yang dibarengi dengan strong-will maka bukan tidak mungkin ketiga rumus tersebut mampu mengantarkan murid pada pengalaman belajar yang baru. Sehingga hasil akhir dari merdeka belajar yang dilakukan guru tentu akan membawa dampak merdeka pula bagi para murid. Banyak sisi dari tayangan tersebut yang memacu saya untuk menggali potensi saya lebih dalam untuk bergerak dan merdeka. Tidak hanya saya, Bu Ildia juga mengungkapkan bahwa dulu ia terjebak dengan segala pemenuhan administrasi sehingga lupa mengupgrade diri namun dengan penyadaran yang kami dapatkan melalui tayangan tersebut maka memacu keinginan kami untuk merdeka dan memfasilitasi kemerdekaan murid yang dapat dilakukan dengan berpartisipasi aktif di setiap kegiatan di KGBN khususnya daerah Sidoarjo. Saya pun mengungkapkan bahwa bentuk dari partisipasi yang bisa saya berikan adalah mengikuti kegiatan pengembangan yang diberikan oleh KGBN daerah Sidoarjo dan mempraktekkannya di lembaga pendidikan saya. Selain itu, saya juga ingin mengajak teman-teman saya, yang saya tahu bahwa mereka masih banyak yang tersesat dan terbelenggu pada konsep pendidikan yang belum merdeka untuk sama-sama belajar dan berkembang di KGBN. Hal tersebut juga banyak diaminkan oleh teman-teman guru lainnya dengan antusias. Bertemu dengan kata merdeka, saya teringat dengan konsep humanisme pada teori belajar yang digagas oleh Maslow dengan jargon memanusiakan manusia agar dapat mengaktualisasikan dirinya secara holistik. Apabila selama ini konsep humanisme sering dikemukakan hanya terfokus pada tumbuh kembang murid maka dalam merdeka belajar, konsep tersebut juga menyentuh guru karena dengan merdeka belajar, guru secara bebas namun tetap terkonsep untuk menggali potensi yang dimilikinya serta mengembangkan potensi tersebut. Tentu hal tersebut akan menimbulkan keberpihakkan tidak hanya pada murid tetapi juga pada guru. Dengan konsep humanisme pada merdeka belajar maka murid akan merasa senang dan termotivasi untuk melakukan kegiatan pembelajaran begitu pula dengan guru yang akan mampu memahami pola pikir murid. Sehingga menurut saya, merdeka belajar adalah kill two birds with one stone yang dimana sangat urgent untuk dipelajari dan dipraktekkan oleh guru pada pembelajaran dengan murid. Yang tentu, disini guru harus bisa menjadi penggerak bukan penerima yang menunggu kemerdekaan diberikan. Baca Juga: Melek Literasi dengan Memanusiakan Hubungan Pemanfaatan merdeka belajar yang sangat saya rasakan terlebih di masa pandemi ini adalah peran guru merdeka belajar dalam melakukan maintain konsep belajar yang menyenangkan dan tidak membebani psikis murid. Dengan mendalami konsep guru merdeka belajar, saya lebih berpihak pada murid, bersikap mengerti dan maklum dengan keadaan setiap murid yang tentunya memiliki kondisi yang berbeda antara satu dengan yang lain. Trait tersebut semakin memacu saya untuk mengeksplor kemampuan saya dalam mendidik, menggunakan strategi, media, dan pendukung pelaksanaan pembelajaran lain untuk menuju merdeka belajar.

Pengertian Merdeka Belajar

Apakah pengertian merdeka belajar itu guru bebas dari aturan administrasi yang menumpuk dan menyesakkan. Apakah pengertian merdeka belajar itu guru sesuka hati mau mengajar atau tidak. Merdeka belajar itu siswa bebas dari tugas dan PR, Merdeka Belajar itu siswa belajar dan paham pembelajaran secara mandiri. Apakah pengertian Merdeka Belajar itu demikian? Sabtu, 05 September 2020 berlokasi di Prestige Bilingual School diselenggarakan kegiatan Nobar (nonton bareng) Merdeka Belajar. Sesuai dengan protokol kesehatan, kegiatan ini dihadiri kurang dari 20 orang guru yang merupakan perwakilan guru dari Prestige Bilingual School, SDIT Ar-Raudah, dan SMA Muhammadiyah 19. Selain itu, acara Nobar ini juga dihadiri oleh perwakilan KGB (kelompok guru belajar) Binjai, yaitu Bu Ega, Pak Surya, dan Pak Arif. Kegiatan Nobar dibuka oleh koordinator, Bu Niar, Kepala SDIT AR-Raudah dan dilanjutkan oleh moderator, Bu Ade selaku Kepala Prestige Bilingual School. Moderator memulai dengan sebuah pertanyaan,” Apa yang Anda pahami tentang Merdeka Belajar?” Ms. Ina, salah satu guru Prestige Bilingual School menjawab,”Pengertian Merdeka Belajar adalah bebas berekspresi, dimana guru dan siswa memiliki kesempatan yang sama untuk mengutarakan pemikirannya, dimana guru bukanlah sumber utama dalam pembelajaran, siswa bukanlah kertas kosong.” Bunda Ulfa, salah satu guru dari SD IT Ar-Raudah mengatakan bahwa, Merdeka Belajar adalah bagaimana guru, siswa, dan serta orangtua saling belajar untuk bersinergi dalam proses pembelajaran.” Hal ini ditambahkan lagi oleh Pak Adam, salah satu guru dari SD IT Ar-Raudah. Pak Adam menambahkan bahwa yang dikatakan dengan Merdeka Belajar adalah kontekstual, dimana pembelajaran tidaklah terpatok pada dinas  ataupun kurikulum yang kaku semata, namun tetap mencapai esensi dari pembelajaran itu sendiri. Kegiatan dilanjutkan ke acara inti yaitu Nobar video Merdeka Belajar oleh Najelaa Shihab. Dalam video, Najelaa Shihab selaku Pendiri Kampus Cikal dan Inisiator Kegiatan Guru Belajar memaparkan apa itu Merdeka Belajar. Najelaa Shihab memulai pemaparannya dengan menggambarkan bahwa, sebagian besar anak- anak Indonesia hanya memiliki dunia seluas ruang kelas sekolahnya, mereka  hanya memiliki impian setinggi tunjukan tangan ketika menjawab pertanyaan guru, sedangkan yang kita harapkan adalah anak- anak yang memiliki impian dan cita-cita setinggi langit, melampaui ruang kelas melampaui dunianya. Hal tersebut akan terjadi apabila murid memiliki kemerdekaan belajar, dan murid yang merdeka belajar akan muncul apabila para pendidik juga memiliki kemerdekaan. Lebih lanjut dalam video tersebut Najelaa Shihab juga memaparkan bahwa proses untuk meraih Merdeka Belajar bukanlah hal yang mudah namun pasti bisa diraih apabila para pendidiknya telah merdeka. Dalam video tersebut juga dijelaskan, dalam Komunitas Guru Belajar, Pendidik yang merdeka adalah pendidik yang memahami dan terus melaksanakan 3 esensi dalam pendidikan yaitu komitmen pada tujuan, mandiri, serta refleksi. Selama ini kebanyakan dari pendidik dan pemangku kebijakan hanya fokus terhadap esensi yang kedua, yaitu mandiri. Fokus terhadap cara bagaimana anak- anak bisa paham, bagaimana cara guru bisa menyelesaikan buku, bagaimana sekolah tetap meraih akreditasi sempurna dari dinas dan lain sebagainya tanpa melirik esensi lain yaitu tujuan pendidikan itu sendiri dan serta refleksi terkait cara ataupun proses yang telah terlaksana.  Dalam video Merdeka Belajar yang dipaparkan oleh Najelaa Shihab juga memaparkan tentang miskonsepsi guru belajar. Dikutip dari ucapan Najelaa pada video tersebut, “banyak yang bilang pendidikan itu penting namun tidak menjadikannya prioritas.” Ada beberapa miskonsepsi tentang belajar yang dipahami banyak orang dan terjadi di sekitar masyarakat yang dipaparkan di dalam video; Guru Belajar perlu insentif eksternal, namun kenyataanya guru belajar merupakan kebutuhan alamiah. Guru hanya bisa belajar dari para ahli, namun nyatanya pembelajaran paling ampuh adalah apabila guru belajar dari sesama rekan guru.     Guru cukup belajar cara “how to”, namun nyatanya guru perlu belajar tujuan dalam konteks “why”. Guru diburu target yang dipaksakan, padahal nyatanya guru perlu waktu untuk belajar. Kompetensi bersifat individu sehingga banyak yang mejadikan guru kunci pendidikan dimana guru adalah input yang harus menghasilkan output yang bagus, nyatanya  kompetensi tumbuh bersama lingkungan. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Menutup pemaparannya dalam video, Najelaa juga menyebutkan tentang mimpi komunitas guru belajar yaitu membalikkan piramida pendidikan dimana kebijakan pendidikan yang awalnya berpusat dari pemerintah pusat, turun ke daerah, kepala sekolah, lalu guru menjadi berawal dari pemikiran dan praktik baik yang dilakukan guru menuju kepada penetapan kebijakan pendidikan di pusat. “Tidak ada pendidik yang ahli, semuanya perlu dan terus perlu belajar. Pendidik itu beragam, sehingga perlu terkoneksi satu sama lain berbagi pengetahuan dan juga emosi untuk mewujudkan tujuan pendidikan bersama. Tidak perlu menunggu siapapun untuk Merdeka Belajar, mulai dari kita” tutup Najelaa dalam video Merdeka Belajar. Setelah Nobar, Bu Ade selaku moderator mengajak para pendidik melakukan refleksi terhadap video Merdeka Belajar yang telah disaksikan bersama dengan menanyakan beberapa pertanyaan di antaranya tentang miskonsepsi guru belajar, ciri guru merdeka, dan juga praktik merdeka belajar yang sudah dilakukan oleh para pendidik yang hadir pada acara Nobar tersebut. Para pendidik yang hadir sangat antusias untuk membagikan pemikiran dan pengalaman belajar mereka. Ms. Elly (salah satu guru Prestige Bilingual School) mengatakan,” saya sangat setuju dengan guru lebih efektif belajar dari sesama guru, karena tidak semua ahli adalah guru yang turun langsung di dunia mengajar, namun jika belajar dengan sesama guru pastilah akan dapat berbagi cerita dan praktik baik selama mengajar dan belajar”. Hal itu dudukung oleh Bu Niar (kepala Sekolah SDIT Ar-Raudah), beliau mengatakan,”selama PJJ guru belajar menguasai teknologi untuk mendukung terlaksananya PJJ dengan belajar membuat video pembelajaran serta menggunakan aplikasi- aplikasi yang memang baru untuk sebagian guru dan itu dipelajari oleh sesama guru. Inilah guru yang merdeka, mengajar dan selalu siap belajar” Selain kegiatan Nobar, acara ini juga diisi pendalaman materi tentang apa itu Merdeka Belajar dan Komunitas Guru Belajar oleh KGB Binjai. “Tugas guru bukanlah sekedar menanam benih, sekedar menyampaikan apa yang ia tahu, namun lebih dari itu. Guru menumbuhi benih, menyiram, memberi pupuk, serta merawat benih tersebut sehingga menjadi tanaman yang tumbuh dan berbuah” ujar Pak Surya, penggerak KGB Binjai yang juga tergabung sebagai Pelatih Kampus Guru Cikal. “Merdeka Belajar bukanlah bebas namun harus komitmen pada tujuan” ujar Bu Ega salah satu koordinator KGB Binjai. Beliau juga mengajak para pendidik yang hadir untuk selalu melibatkan murid dalam setiap proses pembelajaran serta memanusiakan hubungan, karena guru bukanlah pemimpin yang selalu benar dan berada paling depan, namun guru adalah coach atau pembimbing yang selalu siap mendengar aspirasi … Read more

Diskusi Merdeka Belajar di Mojokerto

KGB Mojokerto mengadakan Nonton Bareng dan diskusi tentang Guru Merdeka Belajar (GMB). Bertempat di ruang serba guna SMK PGRI Sooko Kabupaten Mojokerto. Dan bertepatan dengan hari Jumat tanggal 7 Agustus 2020. Pelatihan tersebut diikuti 20 peserta dengan latar belakang Pengurus KGB dan guru, mulai jenjang PAUD, SD, SMP/MTs, maupun SMA/SMK. Antusias peserta untuk mengikuti Nobar sangat tinggi, terbukti dengan dimulai acara pukul 13.00 WIB yang merupakan waktu istirahat dari aktifitas mengajar, tanpa lelah para peserta hadir dengan semangat untuk mengetahui lebih jauh apa makna merdeka belajar itu.  Nobar Guru Merdeka Belajar Mojokerto ini dikoordinatori oleh Bu Nur Lutfiyatul Khaqimah, S.Pd.I, yang di buka oleh Miss Eko Rini Rahayu sebagai Moderator. Selama kegiatan senantiasa di dampingi oleh bu Umi Hasanah, S.Pd, MPd sebagai Ketua KGB Mojokerto yang memberikan wawasan tentang gerak dan Langkah KGB Mojokerto sebagai opening.  Selanjutnya kegiatan inti yaitu acara Nobar dipandu Ibu Nur Lutfiyatul K, SPdI yang kemudian berkolaborasi dengan Miss Eko Rini Rahayu sebagai Moderator yang atraktif menghidupkan suasana Nobar dengan diskusi interaktif setelah Nobar Ibu Najelaa Shihab.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Diskusi yang membahas tentang miskonsepsi Guru Merdeka Belajar. Miskonsepsi yang sering terjadi dilingkungan sekitar yaitu : Guru belajar menunggu instruksi sekolah/dinas atau mendapat intensif. Miskonsepsi yang kedua guru hanya mau belajar dari pakar dan ahli. Guru hanya belajar “how to” bagaimana cara mengajar. Guru berharap belajar bisa instan. Miskonsepsi yang kelima guru bisa belajar sendirian. Miskonsepsi ditelaah dengan tujuan dapat memahami lebih dalam apa makna Merdeka Belajar. Harapannya menjadi Guru Masa Depan yang mandiri mengembangkan kompetensi, aktif berkolaborasi, mengembangkan jalur karirnya,terus mengembangkan kompetensi. Memiliki kesesuaian potensi dan aspirasinya, tak ketinggalan tentunya Merdeka Belajar.  Pada pukul 15.00 Wib yang menjadi akhir sesi Nobar Guru Merdeka Belajar. Peserta diminta untuk mengisi refleksi sudah sampai tahap apakah mereka berada. Dalam jenjang atau tahapan sebagai guru merdeka belajar jika diidentifikasi dari empat kunci pengembangan guru atau bisa disebut 4K; yaitu : Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi dan Karier. Hal ini berguna untuk menjadi landasan dan tolak ukur apa yang harus dilakukan kedepan. Dan apa kebutuhan yang harus dipenuhi untuk menjadi guru yang merdeka belajar. Para peserta berharap selalu diadakannya pelatihan yang berkelanjutan. Sehingga ada wadah yang membuat mereka semangat untuk selalu belajar secara bermakna. Dan membuat mereka berkarya dan mengembangkan karier mereka untuk kedepannya.

Pembelajaran Jarak Jauh dengan 5M

Masih mengangkat tema Pembelajaran 5M untuk mengoptimalkan pengalaman belajar jarak jauh anak di masa pandemi Covid-19. Memasuki hari ke -2 (dua) Temu Pendidik Daerah (TPD) dengan  kelompok guru yang berbeda di hari pertama mengingat perlu diperhatikan protokol kesehatan.  Kegiatan Komunitas Guru Belajar Makassar pada Temu Pendidik Daerah yang ke -28 pada Kamis , 23 Juni 2020 berlangsung di Ruang Guru SDIT Darussalam Makassar. Acara tersebut dimulai sejak pukul 08.00 WITA hingga pukul 10.00 WITA.  pada hari ke 2 tersebut dihadiri peserta yang berbeda  sekitar 22  orang. Masih sama seperti Temu Pendidik Sebelumnya, acara pertama diawali dengan nonton bareng video Merdeka Belajar yang menghadirkan narasumber ibu Najelaa Shihab. Masih sama dengan konsep hari pertama, Hadir menjadi narasumber dalam kegiatan workshop tersebut guru Maurensyiah guru SMK Darussalam Makassar yang juga sebagai pengurus dan sekaligus penggerak Komunitas Guru Belajar Makassar. Selanjutnya kegiatan tersebut juga menghadirkan guru Tasmin untuk membawakan materi pelatihan Office 365. Guru Tasmin adalah guru SDIT Darussalam Makassar.  Awal kegiatan masih sama dengan hari pertama, diawali dengan pemutaran video Guru Merdeka Belajar lalu dilanjutkan ke diskusi. Oleh narasumber menyampaikan materi dengan memberikan umpan balik. Kata narasumber, “menurut bapak/ibu guru seperti apakah guru merdeka itu ?” dan apakah bapak/ibu sudah merdeka ? Pertanyaan umpan balik tersebut kemudian direspon oleh para guru. Ada guru yang mengatakan bahwa guru merdeka itu adalah guru yang tahu bagaimana mengajar yang sesungguhnya. Ada juga guru yang mengatakan bahwa guru merdeka itu adalah guru yang bebas, bebas dalam teknik dan cara mengajar. Oleh narasumber dalam merespon jawaban-jawaban guru, lalu mengarahkan kembali ke tayangan video.  Oleh narasumber mengatakan guru yang merdeka seperti yang dijelaskan dalam tayangan video tersebut, bahwa guru merdeka adalah guru merdeka itu adalah guru yang yang mempunyai komitmen, guru yang  memiliki kemandirian dan guru yang mampu berefleksi atas setiap proses pembelajaran, semua demi para murid.  Selanjutnya, narasumber mulai menjelaskan lebih rinci tentang guru merdeka, hingga mengenalkan Komunitas Guru Belajar sebagai wadah untuk belajar dan berbagi. Dilanjutkan dengan penjelasan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan konsep 5M ala Kampus Guru Cikal yang telah digunakan oleh rekan-rekan guru anggota Komunitas Guru Belajar Nusantara. Oleh narasumber mengatakan bahwa belajar di rumah, belajar di sekolah, tetap berpihak pada anak. Bagaimana caranya? Guru dan orangtua yang berdaya menciptakan pengalaman belajar yang melibatkan anak. Sangat penting kolaborasi orangtua, guru dan murid untuk berdaya belajar dalam menghadapi situasi darurat akibat wabah virus Corona. Guru harus memastikan anak mendapatkan personalisasi pengalaman belajar yang bermakna, menantang dan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak. Narasumber mengatakan dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), poin paling utama yang perlu guru perhatikan adalah memanusiakan hubungan. Memanusiakan hubungan yang dimaksud adalah Praktik pembelajaran yang dilandasi orientasi pada anak berdasarkan relasi positif yang saling memahami antara guru, murid dan orangtua, ini adalah konsep 5M yang pertama. Konsep 5M yang kedua kemudian kembali dijelaskan oleh  narasumber, Memahami Konsep dimana seorang guru hendaknya memahami bahwa praktik pembelajaran yang memandu murid bukan sekedar menguasai konten tapi menguasai pemahaman mendalam terhadap konsep yang dapat diterapkan di beragam konteks. Selanjutnya narasumber membahas konsep 5M yang ketiga yaitu membangun keberlanjutan. Maksud dari 5 M yang ketiga tersebut adalah Praktik pembelajaran yang memandu murid mengalami rute pengalaman belajar yang terarah dan berkelanjutan melalui umpan balik dan berbagi praktik baik. Selanjutnya 5 M yang keempat kembali dijelaskan oleh narasumber Praktik pembelajaran yang memandu murid menguasai keahlian melalui proses yang berjenjang dengan pilihan tantangan yang bermakna yaitu memilih tantangan. Dan pada 5M yang ke 5, memberdayakan konteks yaitu Praktik Pembelajaran yang memandu murid melibatkan sumber daya dan kesempatan di komunitas sebagai sumber belajar sekaligus kesempatan berkontribusi terhadap perubahan.  Baca Juga: Sekolah Lawan Corona Narasumber mengingatkan bahwa di masa pandemi seperti saat ini, guru perlu memperhatikan kondisi psikologis  murid, janganlah diberikan beban yang pada akhirnya membuat mereka bukannya merasa nyaman belajar justru stress menghadapi guru yang justru memberikan beban tugas yang sungguh tidak memanusiakan hubungan, yang ada murid justru stress. Guru harus mampu menjadi partner yang baik bagi murid dan orang tua. Caranya bangun kolaborasi yang baik. Di akhir pembicaraan narasumber menutup dengan closing statemen, jadilah guru yang berdaya, guru yang tahu bagaiman membawa para murid memperoleh pengalaman belajar yang bermakna. Dan mari belajar bersama Komunitas Guru Belajar untuk membuat perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. Kepala sekolah SDIT Darussalam dalam merespon diskusi lalu mengatakan sangat mendukung guru-guru SDIT untuk belajar dan mengembangkan diri. Laporan Liputan oleh Maurensyiah Komunitas Guru Belajar Makassar.  Unduh Panduan Pembelajaran Jarak Jauh, klik tombol di bawah ini

Memahami Merdeka Belajar

Mengapa harus memahami merdeka belajar? Kata merdeka belajar pada dasarnya sudah tidak asing dikalangan para pendidik. Istilah Merdeka belajar sudah lama digaungkan oleh Menteri Pendidikan. Namun masih yang banyak salah arti terhadap kata tersebut.  Temu Pendidik Daerah ke 8 ini  dilaksanakan secara daring memanfaatkan aplikasi zoom. Hal ini dilakukan karena pandemic Covid 19 yang masih belum mereda. Tanpa Mengurangi semangat, TPD dilaksanakan secara Daring dengan peserta sejumlah 60 Guru-guru Kota Batu yang sebelumnya sudah mendaftar dan terhimpun dalam Whatsapp Grup. Para guru beranggapan mereka belajar adalah kebebasan dalam melakukan pembelajaran, bebas tidak menjelaskan, bebas menghukum, tidak membawa buku ketika mengajar dan pengertian sempit lainnya. Para guru memahami merdeka belajar adalah kebebasan siswa untuk bebas tidak mengerjakan tugas, atau belajar sesuka hatinya tanpa mematuhi aturan dan komitmen.  Kesalahpahaman dalam memahami merdeka belajar ini kami tanggapi melalui kegiatan Nonton Bareng Merdeka Belajar. Karena telah dipahami bahwa tujuan belajar tidak hanya menjawab soal, atau mengerjakan matematika saja, namun seharusnya memberi pengalaman bermakna pada siswa agar dapat menyelesaikan permasalahan hidup sehari-hari.  Nonton Bareng Video “Merdeka Belajar” Kegiatan Nobar dilaksanakan pada hari Selasa/ 07 Juli 2020. Pada Pukul 09.00-10.30 WIB. Dengan Host pak Guru Herdy, dan moderator Pak guru Yudi Herdianto yang merupakan anggota KGB Kota Batu.  10 menit sebelum kegiatan berlangsung dilakukan perkenalan dan sharing tujuan mengikuti kegiatan Nobar merdeka Belajar ini. Moderator menyampaikan peraturan selama mengikuti kegiatan Nobar, diantaranya dengan menonaktifkan speaker, dan aktif di chat untuk menuliskan pertanyaan atau pendapat dari hasil Nobar.  Berikut peraturan yang disampaikan, agar kegiatan Nobar dan diskusi dapat berlangsung dengan lancar.  Selama pelaksanaan acara, Bapak/Ibu yang bergabung melalui Zoom Meeting tidak diperkenankan log-out. Host akan menonaktifkan pelantang (microphone) Bapak/Ibu ketika berlangsung acara. Pendapat atau curhat dapat diajukan melalui raise hand di aplikasi Zoom Meeting dan melalui fasilitas chatroom. Tetap  aktif dan memantau wa grup, jika terdapat tambahan informasi.  Kegiatan Nobar berlangsung lancar dan tanpa kendala. Selama 15 menit video diputar dengan lancar. Selanjutnya dibuka sesi Tanya jawab dan diskusi. Moderator ( Pak Guru Yudi) mengatur jalannya diskusi. Berikut pertanyaan yang diungkapkan beberapa peserta dari 60 peserta Nobar.  Diantara semua miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri anda? Urutan jawaban terbanyak dari peserta adalah utamanya adalah  Belajar diburu target yang dipaksakan, seperti disampaikan bu Diana bahwa “ selama ini saya pribadi termasuk yang belajar diburu target. memenuhi target terasa sebagai kewajaran, sebagai tuntutan pekerjaan.  Kedua adalah kompetensi bersifat individual, seperti disampaikan bu Mustika Alam bahwa kita dapat meningkatkan kompetensi juga melalui keberadaan siswa, karena dengan memahami karakter siswa saya akan dapat meningkatkan kemampuan mengajar. Ketiga belajar memerlukan insentif/sertifikat, mematahkan miskonsepsi bahwa belajar untuk kebutuhan murid bukan kebutuhan sertifikat, pergantian kurikulum tanpa di imbangai komitmen guru juga tidaka kan berhasil, demikian yang disampaikan oleh ibu Sri Wahyuni  Ke empat belajar sebatas HOW TO, membutuhkan pemahaman dan menikmati indahnya merdeka belajar tidak terbatas, demikian disampaikan oleh Pak Fajar. Kelima belajar harus dari ahli.  Seperti dikatakan oleh saudari Sri Indayani saya belajar hanya dengan orang yang ahli dibidangnya, ternyata kurang. Ciri guru merdeka belajar adalah komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara belajar dan melakukan refleksi. Apakah anda setuju dengan pernyataan tersebut? apa alasannya? jawaban :  Diana Librawati : setuju, karena tujuan guru adalah untuk memberi pelayanan sebaik mungkin kepada anak didik. Mustika Alam : setuju, sebab tujuan pembelajaran guru adalah menyampaikan materi sehingga diperlukan kemandirian dan refleksi Fia : setuju, dengan ciri merdeka belajar berorientasi pada komitmen terhadap tujuan, kemandirian dan refleksi Apakah anda ingin menjadi guru merdeka belajar? apa alasannya? sebagai peserta memberikan tanggapan Siap, berusaha, mencoba dan menyampaikan siap tidak siap harus siap dengan beberapa alasan antara lain karena tantangan, kebutuhan siswa, tantangan PJJ. Sebagai guru merdeka belajar, apa perubahan yang ingin anda lakukan di kelas? Sri Indayani : mengeksplor metode Rubiyati : menumbuhkan kemandirian Istiqomah : merubah pola pikir mengajar Mismiati : meningkatkan kreatifitas Evia : menumbuhkan perubahan perilaku lebih baik Fajar : mengembangkan penilaian Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Sebagai guru merdeka belajar, apa pengembangan diri yang ingin anda lakukan bersama komunitas guru belajar? Dian Anggraeni : mewujudkan tujuan belajar yang merdeka belajar Sumarmi : Berbagi praktek baik Titik Obarwati : menentukan kegiatan belajar Sri Wahyuni : mengembangkan cara/ metode/ media pembelajaran Fita Safitri : Saling berbagi ilmu Mismiati : merdeka belajar bersama teman guru Moderator memberikan kesempatan sesi curhat tentang pembelajaran selama ini : Tutik : perbedaan pembelajaran yang sebelum ada merdeka belajar  dengan setelah ada merdeka belajar terletak pada usaha sadar untuk belajar setiap saat. Guru Sri Wahyuni  menyatakan bahwa Reward atau pujian dapat menumbuhkan motivasi anak dalam belajar. Sedangkan Guru Diana  menuturkan bahwa  dengan memerdekakan diri dari tuntutan target kurikulum saya menginginkan murid saya juga merasakan merdeka dalam belajar dan berharap nantinya mendapatkan hasil belajar yang lebih baik. Kesimpulan  “ Guru yang merdeka memahami kewajiban, tetapi juga memiliki otonomi dan menggunakan otoritas dengan bijak” “ Tidak  ada guru yang bisa belajar sendirian dan tidak ada guru yang bisa merdeka belajar sendirian” Guru guru Kota Batu mengalami miskonsepsi  Miskonsepsi  1: Guru hanya akan akan belajar bila ada insentif, janji sertifikat, ataupun penghargaan. Miskonsepsi 2: Guru hanya bisa belajar dari pakar dan ahli. Miskonsepsi 3 : Guru hanya perlu mengikuti resep standar, “how to” bagaimana melakukan sesuatu. Miskonsepsi 4: Pengembangan guru bisa dilakukan instan, dipaksakan dengan target terburu-buru. Miskonsepsi 5: Kompetensi guru adalah soal kemampuan dan pengukuran individu. Guru merdeka belajar adalah kunci dari perubahan pendidikan. (Najelaa Shihab) Akhirnya  kegiatan ditutup dengan membaca hamdalah bersama dan berharap semua kegiatan di TPD ke 8 dapat memberikan manfaat dan memotivasi peserta dengan semangat untuk menjadi guru yang Merdeka Belajar. 

Merek Dagang Merdeka Belajar Dihibahkan

Sebagai merek dagang, apakah istilah Merdeka Belajar boleh digunakan semua orang? Pertanyaan tersebut menjadi polemik masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Setelah mendengarkan masukan sejumlah pihak, Cikal memutuskan untuk menghibahkan merek dagang Merdeka Belajar kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Silakan baca siaran pers lengkapnya Jakarta, 14 Agustus 2020 – Sekolah Cikal yang menginisiasi sejumlah lembaga dan jaringan pendidikan di Indonesia, akan menghibahkan hak atas merek “Merdeka Belajar” yang dimilikinya kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Penggunaan Merdeka Belajar sejak 2015, dimaksudkan Cikal untuk menggerakkan perubahan pendidikan dan telah dipraktikkan dalam kurikulum, pelatihan dan publikasi Yayasan Guru Belajar. Sebelumnya, Cikal juga telah menyatakan tidak ada kompensasi apapun untuk penggunaan merk atas jasa dan barang Merdeka Belajar oleh Kemendikbud dan untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan. “Atas masukan berbagai pihak, sekarang kami memperkuat surat pernyataan itu dengan keputusan menghibahkan hak atas merek Merdeka Belajar ke Kemendikbud,” tandas Najelaa Shihab, pendiri Cikal. Pengalihan hak atas merek ini diharapkan mengakhiri polemik penggunaan kata Merdeka Belajar. “Demi kemajuan pendidikan Indonesia, kami memutuskan menghibahkan hak atas merek Merdeka Belajar kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tanpa biaya dan/atau kewajiban pembayaran apapun. Dengan catatan, kami dan siapapun masih bisa menggunakannya tanpa kompensasi apapun untuk kepentingan pendidikan sesuai ketentuan yang berlaku,” ujar Najelaa Shihab. Mendikbud Nadiem Makarim pada akhir tahun lalu mengumumkan nama “Merdeka Belajar” sebagai payung besar kebijakan pendidikan nasional. Belakangan penggunaan idiom Merdeka Belajar oleh Kemendikbud dipertanyakan oleh sejumlah pihak karena sudah sejak lama didaftarkan sebagai merek oleh Sekolah Cikal. Mereka ingin memastikan bahwa penggunaan idiom Merdeka Belajar tidak akan menimbulkan implikasi hukum di kemudian hari. Menurut Najelaa, sejak 2004, lima tahun setelah pendirian Cikal,  pelajar merdeka (berkomitmen, mandiri, reflektif) sudah menjadi bagian dari cita-cita menumbuhkan kompetensi yang utuh bagi semua dan setiap murid serta guru.  Pada tahun 2014, melalui Kampus Guru Cikal mengembangkan Merdeka Belajar sebagai karakteristik ekosistem yang pada intinya merupakan gerakan pendidikan yang meningkatkan kompetensi, kolaborasi dan inovasi semua pemangku kepentingan, mulai dari guru, orang tua, komunitas dan organisasi. Merdeka Belajar terinspirasi dari pemikiran sejumlah tokoh, di antaranya Ki Hadjar Dewantara, Rahmah Al Yunusiah (tokoh pendidikan pendiri Sekolah Diniyah Putri) dan Barry Zimmerman (peneliti pendidikan yang dikenal dengan teorinya tentang belajar mandiri/ self- regulated learning).  diwujudkan dalam bentuk pengembangan guru penggerak dan komunitas guru belajar yang berdaya di ratusan kabupaten/kota, maupun publikasi praktik baik yang dilakukan di lapangan. Merdeka Belajar juga selalu digaungkan di setiap Temu Pendidik Nusantara dan Temu Pendidikan Daerah dan Regional yang diselenggarakan selama 6 tahun terakhir. Cikal juga menerbitkan buku Merdeka Belajar di Ruang Kelas (2017)  serta surat kabar Guru Belajar secara rutin sejak 2015 hingga saat ini untuk menyebarluaskan konsep Merdeka Belajar sesuai paradigma dan cara yang dilakukan oleh Komunitas Guru Belajar dan Jaringan Sekolah Merdeka Belajar di penjuru Nusantara.  Pada 1 Maret 2018, Sekolah Cikal kemudian mendaftarkan hak atas merek Merdeka Belajar ke Ditjen HKI Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), sebagai upaya mencatatkan dan melindungi keberlangsungan upaya-upaya yang telah dilakukan selama ini, yang kemudian disetujui oleh Kemenkumham pada 2020. “Kami mendaftarkan hak atas merek Merdeka Belajar, bukan hak paten. Sejak awal, kami tidak bermaksud untuk mencari keuntungan komersial. Sesuai yang kami nyatakan dan lakukan, selama ini kami tidak pernah mempersoalkan penggunaan Merdeka Belajar untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan”, ungkap Najelaa. Hingga saat ini, Kemendikbud telah meluncurkan lima episode Merdeka Belajar. Pada Episode 1 Merdeka Belajar mengubah Ujian Nasional menjadi asesmen kompetensi minimum dan survei karakter, menghapus Ujian Sekolah Berstandar Nasional, menyederhanakan rencana pelaksanaan pembelajaran, dan menyesuaikan kuota penerimaan peserta didik baru berbasis zonasi. Merdeka Belajar Episode 2: Kampus Merdeka, memberikan kemudahan pelaksanaan pembelajaran di perguruan tinggi. Merdeka Belajar 3: perubahan mekanisme Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun anggaran 2020, Merdeka Belajar 4: Program Organisasi Penggerak, dan Episode 5 yaitu Guru Penggerak. (*)

Guru Belajar Membahas Persoalan Guru

Komunitas Guru Belajar (KGB) bagi sebagian guru mungkin belum terlalu akrab di telinga. Namun ada juga yang sudah sangat akrab dan mungkin sudah mengikuti kegiatan-kegiatannya setiap hari. KGB adalah sebuah wadah bagi guru untuk membahas segala keresahan permasalahan yang dihadapi dalam menghadapi murid. Di dalam KGB antara guru yang satu dengan yang lain dapat berkolaborasi dan saling bersinergi untuk bertukar pengalaman dalam memperbaiki kualitas mengajarnya. Adanya pandemi Covid 19 telah sedikit banyak menghalangi komunitas ini untuk saling bertemu, namun begitu kecanggihan teknologi sudah bisa mengatasinya. Dengan protokol kesehatan kegiatan Nobar (Nonton Bareng) tetap dapat dilaksanakan di Semarang. Peserta Nobar adalah peserta workshop persiapan pembelajaran daring di masa pandemi covid 19 dengan jumlah peserta 40 orang dan di antaranya adalah peserta pelatihan Sekolah Lawan Corona Angkatan 1 Jawa Tengah. Bertempat di aula Korwilcam Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang pada hari Selasa, 14 Juli 2020. Apa yang dimaksud Guru Merdeka Belajar? Sebelum menonton video Nobar, kami membahas pendapat kami tentang Guru Merdeka Belajar. “Guru yang bebas dalam merancang segala aktivitas untuk murid dan bebas dalam menentukan kriteria untuk keberhasilan murid.” Tutur Ibu Ayu, SDN Bergaslor 01. Sedangkan menurut Bapak Irkham, SDN Karangjati 03 “Guru merdeka belajar adalah guru yang tidak dituntut dengan segala administrasi kelas yang banyak sekali.” Kemudian kami menonton video penjelasan dari ibu Najelaa Shihab, Kampus Guru Cikal. Ibu Elaa memaparkan tentang pendidikan dan murid, ciri guru serta tiga dimensi Merdeka Belajar. Baca Juga Merdeka Belajar Bukan Jargon Aktivitas kami dilanjutkan untuk membahas pertanyaan “Bapak/ ibu guru setelah melihat tayangan, kita sebagai guru termasuk dalam tipe guru yang mana?” Bapak Zein, Ketua KKG PAI Kec. Bergas memaparkan pendapatnya “Saya mungkin termasuk yang baru punya komitmen, refleksi jarang sekali saya laksanakan, rata-rata kita sudah terlalu tergesa-gesa dengan waktu dan tidak memberi kesempatan kepada murid untuk sekedar berkeluh kesah tentang sesuatu yang sedang dihadapinya. Setelah ini saya akan banyak melakukan kegiatan refleksi untuk menggali lebih tentang profil murid saya sehingga pembelajaran saya bisa maksimal.” Sedangkan Bapak Achmad Eko, Ketua KKG Kelas 6 Kec. Bergas menceritakan pendapatnya “Selama ini guru kurang berkreatifitas dalam mengembangkan pengajarannya, guru hanya mengajar sesuai dengan tuntutan kurikulum, namun mengingat kondisi seperti pandemi seperti ini akan agak susah untuk sesuai dengan target kurikulum. Sekaranglah mungkin saatnya guru harus benar-benar merasakan yang namanya merdeka belajar demi menciptakan kreatifitas dalam mengajar. Satu lagi saya baru tahu kalau istilah merdeka belajar berawal dari video yang saya lihat tadi.” Setelah Nobar dan refleksi, para guru menyadari bahwa tiga hal dalam merdeka belajar komitmen, mandiri dan refleksi adalah sebuah tiga kata yang memiliki makna yang dalam dan akan dilaksanakan sebagai wujud dari guru merdeka belajar. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk ikuti pelatihan Guru Merdeka Belajar