Cerminan Humanisme dalam Merdeka Belajar

“Utlubul ‘ilma minal mahdi ilal ahdi”, berikut merupakan Hadis Nabi Muhammad saw. yang artinya “menuntut ilmu mulai dari buaian hingga akhir hayat”. Pada hadis tersebut memiliki makna bahwa belajar merupakan hak dan kewajiban bagi siapapun dimulai saat seorang manusia lahir hingga saat terakhir di dunia. Tidak terpatok pada status, usia, gender, jenjang pendidikan, dan sebagainya. Belajar sendiri banyak bentuknya, ada yang belajar dalam hal teori maupun praktek. Hal inilah yang menjadi prinsip saya dalam menjalankan amanah menjadi guru. Guru dalam pendangan orang lain adalah seseorang kunci dari pendidikan dan merupakan uswatun hasanah tidak hanya bagi muridnya tetapi juga masyarakat di sekitarnya. Perasaan yang muncul untuk memenuhi tanggung jawab dan ekspektasi sebagai seorang pendidik akhirnya mengantarkan saya untuk ikut dalam Komunitas Guru Belajar Nusantara di daerah Sidoarjo. Kegiatan yang baru-baru ini saya ikuti dalam proses pengembangan diri bersama KGBN adalah mengikuti acara Nonton Bersama Guru Merdeka Belajar yang diadakan oleh Pengurus KGBN daerah Sidoarjo pada tanggal 13 September 2020 yang dimulai pada pukul 19.00 WIB via Zoom Meeting. Dalam tayangan tersebut, terdapat ungkapan dari Bu Najelaa Shihab selaku founder dari Kampus Guru Cikal dan Inisiator dari KGBN yakni “proses merdeka itu bukan sesuatu yang diberikan, tetapi sesuatu yang kita gerakkan” yang dimana ungkapan tersebut seakan-akan menjadi refleksi bagi saya bahwa menjadi guru yang merdeka tidak bisa dengan bergantung pada tercapainya tujuan pembelajaran oleh murid dan lembaga pendidikan. Kadang saya lupa bahwa guru memiliki kuasa untuk merdeka. Tidak hanya pemenuhan nilai dan prestasi maka seorang guru baru bisa dikatakan guru yang sukses namun lebih kepada pemaknaan dalam pembelajaran yang diharapkan akan selalu dihayati murid.  Bu Najelaa mengemukakan bahwa konsep pendidikan yang merdeka belajar apabila mempunyai komitmen tujuan, mandiri, dan refleksi yang sayangnya masih menimbulkan miskonsepsi. Miskonsepsi tersebut menimbulkan rasa insecure pada diri saya yang juga senada dengan yang dirasakan oleh Bu Sari yang mengatakan bahwa konsep merdeka belajar bagi beliau masihlah gelap karena adanya sistem di lembaga pendidikan yang kurang ingin maju dan hanya bergantung pada atasan suatu lembaga tersebut, apakah memberikan fasilitas bagi gurunya untuk mencapai kemerdekaan atau tidak. Namun bukan dipungkiri bahwa harapan itu selalu ada tergantung pada pendidik apakah ingin merdeka dengan bergerak atau menunggu diberikan. Apabila pendidik mampu merubah miskonsepsi menjadi sugesti yang dibarengi dengan strong-will maka bukan tidak mungkin ketiga rumus tersebut mampu mengantarkan murid pada pengalaman belajar yang baru. Sehingga hasil akhir dari merdeka belajar yang dilakukan guru tentu akan membawa dampak merdeka pula bagi para murid. Banyak sisi dari tayangan tersebut yang memacu saya untuk menggali potensi saya lebih dalam untuk bergerak dan merdeka. Tidak hanya saya, Bu Ildia juga mengungkapkan bahwa dulu ia terjebak dengan segala pemenuhan administrasi sehingga lupa mengupgrade diri namun dengan penyadaran yang kami dapatkan melalui tayangan tersebut maka memacu keinginan kami untuk merdeka dan memfasilitasi kemerdekaan murid yang dapat dilakukan dengan berpartisipasi aktif di setiap kegiatan di KGBN khususnya daerah Sidoarjo. Saya pun mengungkapkan bahwa bentuk dari partisipasi yang bisa saya berikan adalah mengikuti kegiatan pengembangan yang diberikan oleh KGBN daerah Sidoarjo dan mempraktekkannya di lembaga pendidikan saya. Selain itu, saya juga ingin mengajak teman-teman saya, yang saya tahu bahwa mereka masih banyak yang tersesat dan terbelenggu pada konsep pendidikan yang belum merdeka untuk sama-sama belajar dan berkembang di KGBN. Hal tersebut juga banyak diaminkan oleh teman-teman guru lainnya dengan antusias. Bertemu dengan kata merdeka, saya teringat dengan konsep humanisme pada teori belajar yang digagas oleh Maslow dengan jargon memanusiakan manusia agar dapat mengaktualisasikan dirinya secara holistik. Apabila selama ini konsep humanisme sering dikemukakan hanya terfokus pada tumbuh kembang murid maka dalam merdeka belajar, konsep tersebut juga menyentuh guru karena dengan merdeka belajar, guru secara bebas namun tetap terkonsep untuk menggali potensi yang dimilikinya serta mengembangkan potensi tersebut. Tentu hal tersebut akan menimbulkan keberpihakkan tidak hanya pada murid tetapi juga pada guru. Dengan konsep humanisme pada merdeka belajar maka murid akan merasa senang dan termotivasi untuk melakukan kegiatan pembelajaran begitu pula dengan guru yang akan mampu memahami pola pikir murid. Sehingga menurut saya, merdeka belajar adalah kill two birds with one stone yang dimana sangat urgent untuk dipelajari dan dipraktekkan oleh guru pada pembelajaran dengan murid. Yang tentu, disini guru harus bisa menjadi penggerak bukan penerima yang menunggu kemerdekaan diberikan. Baca Juga: Melek Literasi dengan Memanusiakan Hubungan Pemanfaatan merdeka belajar yang sangat saya rasakan terlebih di masa pandemi ini adalah peran guru merdeka belajar dalam melakukan maintain konsep belajar yang menyenangkan dan tidak membebani psikis murid. Dengan mendalami konsep guru merdeka belajar, saya lebih berpihak pada murid, bersikap mengerti dan maklum dengan keadaan setiap murid yang tentunya memiliki kondisi yang berbeda antara satu dengan yang lain. Trait tersebut semakin memacu saya untuk mengeksplor kemampuan saya dalam mendidik, menggunakan strategi, media, dan pendukung pelaksanaan pembelajaran lain untuk menuju merdeka belajar.

Guru Merdeka Belajar adalah Pelajar Sepanjang Hayat

Siang terik tak menyulutkan semangat pada calon penggerak untuk melaksanakan kegiatan Nobar Merdeka Belajar, TPD III – Komunitas Guru Belajar Sidoarjo (KGB). Perubahan kondisi tempat, membuat ide-ide kreatif calon penggerak untuk tetap mempersiapkan acara Nobar tetap terlaksana, mulai dari mengkondisikan tempat, menyiapkan perlengkapan yang unik karena layar proyektor menggunakan kain polos kepunyaan pendidik yang tergabung dalam KGB yang kemudian disandarkan pada etalase Warung Barokah yang di atasnya diberi tumpukkan minuman supaya kain tidak bergeser tempat. Selain itu, tidak lupa menyiapkan camilan dan minuman sederhana yang nantinya akan menemani kegiatan sampai selesai, dan dibeli dari dana pribadi pak Zen penggerak KGB Sidoarjo.  Saya hanya berdecak kagum dalam hati, begitu berdaya teman-teman calon penggerak yang mau ikut berkontribusi agar acara bisa terlaksana. Agenda nonton bareng Film Merdeka Belajar hadir untuk memfasilitasi para pendidik merefleksikan diri dan berbagi solusi tentang keresahan yang dihadapi saat pembelajaran dikelas. “Agenda nonton bareng ini tidak hanya sekadar menjadi agenda nonton bareng, tapi punya aspek yang bermanfaat lainnya, yang berguna bagi para pendidik yang tergabung dalam KGB,” ungkap Zen Penggerak KGB Sidoarjo.  Ternyata kegiatan nonton bareng ini mampu menghidupkan forum, untuk bersama-sama sesama pendidik merefleksikan diri dan berbagi pengalaman bagaimana menjadi guru merdeka belajar. Satu persatu teman pendidik menyampaikan bahwa apa motivasi mereka mengikuti kegiatan nonton bareng yang difasilitasi KGB Sidoarjo, seperti halnya bu Ainun yang menjawab “Motivasi saya ikut kegiatan nonton bareng KGB Sidoarjo adalah agar bisa belajar dan mempunyai motivasi menjadi pembelajar”. “Belajar tidak memandang usia, karena usia bukan pembatas untuk berhenti belajar”, ujar Bu Nafisa guru dari sekolah AN-NAHL Sidoarjo.  “Jejaring komunitas seperti ini, ibarat lilin seketika lilin yang menyala salah satunya padam, maka masih ada lilin lainnya yang tetap menyala dan menyinari”, ungkap Bu Anggi calon penggerak KGB Sidoarjo. Kegiatan yang membawa manfaat ini sangat berdampak bagi kami yang siang itu datang mengikuti kegiatan nonton bareng video Merdeka Belajar sampai selesai. Guru Merdeka belajar mempunyai 3 makna yaitu komitmen, mandiri dan refleksi. Komitmen terkait pengakuan dalam diri untuk mampu dan mau menjadi guru pembelajar dengan ikhlas ingin memberikan ilmu yang bermanfaat, mandiri dalam arti bagaimana mencari solusi keresahan yang dialami pendidik, menggali kebutuhan dan minat belajar murid. Yang ketiga adalah refleksi, dan mempunyai makna bahwa setiap pendidik harus bercermin apakah model, media, cara pembelajaran yang sudah diterapkan sesuai atau tidak dengan kebutuhan peserta didik, sudah nyamankah mereka belajar bersama kita di dalam kelas.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Masuk pada sesi refleksi ada ungkapan yang mendalam diucapkan oleh beberapa pendidik terkait pertanyaan moderator yaitu “Apa perubahan di dalam kelas yang ingin dilakukan setelah mengikuti KGB?”.  “ Komitmen terkait menjaga dan menata niat kita, yang mengutip pernyataan KH. Maimoen Zubair, bahwa ketika kita menjadi guru jangan menuntut murid kita pintar, nanti yang ada malah kita marah-marah, cukup doakan saja agar kelak dia bermanfaat”, ungkap Bu Ainun.  Rangkaian kegiatan hari ini yang begitu membawa banyak manfaat bagi teman-teman pendidik maupun diri saya pribadi, bahwa dengan bersama-sama merefleksikan diri secara tidak langsung kita bergegas dan bergerak menjadi Guru Merdeka Belajar. Dan mulai sekarang kami bersepakat bahwa menjadi guru merdeka belajar adalah mengawali diri untuk mau menjadi guru pembelajar sepanjang hayat bukan hanya memenuhi kewajiban tetapi berkomitmen menjalankan kewajiban untuk ikut berperan dalam tujuan pendidikan nasional. Terima Kasih KGB Sidoarjo, terima kasih teman-teman pendidik, terima kasih Kampus Guru Cikal yang telah mempertemukan dan memfasilitasi kami para pendidik dengan kegiatan yang sangat bermanfaat. Salam Guru Merdeka Belajar Ingin Tahu Bagaimana Praktik Merdeka Belajar di Kelas? Klik link di bawah ini