Peluncuran Sekolah Lawan Corona di Kabupaten Bantaeng

“Saya besar di Papua. Bila orang membicarakan pendidikan daerah, maka saya mengalaminya sendiri. Saya mengalami sendiri kesulitan mencari buku bacaan. Saya mengalami sendiri kesulitan mencari guru dan sekolah berkualitas. Saya mengalami sendiri arti keterbatasan. Karena itu ketika menjadi seorang bapak, saya bermimpi mendirikan sekolah agar anak saya bisa mendapatkan kualitas pendidikan yang layak  Tapi setelah terjun menjadi aktivis pendidikan,  saya merevisi impian itu. Saya bermimpi ekosistem pendidikan yang kolaboratif agar anak-anak Indonesia mendapatkan kualitas pendidikan yang layak.” ujar Bukik Setiawan Ketua Yayasan Guru Belajar. Pada hari itu memang terjadi peristiwa seperti yang Bukik Setiawan ucapkan pada pidato pembukaan. Bahwa ada kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi profesi guru, lembaga pengembangan guru, lembaga pendidikan keluarga dan penyedia layanan sekolah  digital. Langkah awal yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan pembelajaran pada masa Covid 19 ini. Langah awal itu bernama Sekolah Lawan Corona. Sekolah Lawan Corona Bantaeng Setelah berhasil mengajak 128 sekolah yang terdiri atas 256 guru dan 128 Kepala Sekolah dari berbagai daerah di Jawa Tengah (baca juga Sekolah Lawan Corona Jawa Tengah) Kali ini program Sekolah Lawan Corona hadir di Bantaeng, dan akan diikuti kurang lebih 80 guru dan kepala sekolah dari 16 sekolah di Bantaeng. “Tuntutan guru yang memiliki kreativitas dan inovasi tidak hanya untuk masa pandemi saja, kita menghadirkan program Sekolah Lawan Corona untuk membantu guru membuat pembelajaran yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan keseharian.” ujar Bupati Bantaeng, Ilham Azikin dalam sambutannya. Kurikulum Sekolah Lawan Corona memang bertujuan untuk : Membantu kepala sekolah dan guru melakukan pembelajaran jarak jauh yang merdeka belajar. Membantu kepala sekolah dan guru melakukan strategi pembelajaran dan kepemimpinan berdasarkan prinsip cara 5M (Memanusiakan Hubungan, Memahami Konsep, Membangun Keberlanjutan, Memilih Tantangan dan Memberdayakan Konteks) Membangun jejaring sekolah merdeka belajar yang mempraktikkan pembelajaran dan kepemimpinan merdeka belajar secara berkelanjutan. Harapannya setelah program Sekolah Lawan Corona lahir Guru dan Kepala Sekolah Merdeka Belajar yang mampu menggerakkan pendidikan di Bantaeng. “Saya berharap jangan ada sekolah unggulan di Bantaeng. Yang saya mau semua sekolah unggul dengan kelebihannya masing-masing,” ujar Bupati di akhir sambutannya. Dalam peluncuran program Sekolah Lawan Corona Bukik Setiawan juga menekankan pentingnya berpihak pada anak. “Makna kita sebagai pendidik adalah anak-anak. Mau sehebat apa pun pendidik, tanpa anak-anak maka tak ada artinya. Mau sehebat apa pun sekolah, tanpa anak-anak pun kehilangan artinya. Bahkan sekolah yang jumlah muridnya yang terus menerus menurun akan ditutup. Tidak peduli sekolah swasta maupun sekolah negeri. Karena itu, wajar dan sudah pada tempatnya kita selalu mengingat-mengingat peran utama anak-anak dalam ekosistem pendidikan. Untuk apa kita mengajar? Untuk apa kita mendidik? Untuk apa kita bersusah payah di sini? Tidak lain dan tidak bukan untuk anak-anak, khususnya anak-anak Bantaeng.” Sekolah Anda ingin mengikuti Sekolah Lawan Corona?KLIK DISINI

Menyambut Panduan Pembelajaran Jarak Jauh

“Kami bukan robot, kami butuh istirahat”, begitu bunyi status WA murid kelas 3 yang kebetulan berteman dengan saya. Entah apa yang melatarbelakangi statusnya yang demikian, apakah karena tugas dari guru yang menumpuk? Bisa jadi. Memang, harus diakui, pembelajaran jarak jauh membawa guru pada kegamangan tanpa panduan. ‘Penutupan’ sekolah secara tiba-tiba membuat guru bingung harus mengajar seperti apa. Mereka belum punya gambaran sama sekali. Bahkan, bagi sebagian guru istilah itu mungkin baru didengar pertama kali. Di tengah kebingungan itu, satu-satunya cara yang diketahui oleh guru guna memastikan murid tetap belajar di rumah, hanya dengan membagikan tugas, tugas dan tugas.  Sabtu 04 Juli 2020, Pemerintah Kabupaten Bantaeng melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Bantaeng meluncurkan panduan pembelajaran jarak jauh. Guna memberikan gambaran dan rambu-rambu bagaimana melaksanakan PJJ (pembelajaran jarak jauh) yang efektif dan efisien. Panduan Pembelajaran Jarak Jauh ini, tak bersifat teknis, karena bagaimanapun—menurut Pak Kadis—kerja-kerja teknis lebih diketahui oleh guru, sebab guru tentu lebih mengenal situasi dan kondisi di lapangan. Di akhir peluncuran, Pak Kadis mengingatkan bahwasanya untuk membahas lebih mendalam panduan ini, maka beliau mengharapkan organisasi profesi guru untuk melakukan kerja-kerja kebaikan guna mengawal rekan-rekan guru pada pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh yang bermakna. “ Saya berharap organisasi profesi guru bisa turut terlibat aktif merangkul teman-teman, belajar bersama, dan mendiskusikan lebih lanjut panduan ini.” Menindaklanjuti hal tersebut, Komunitas Guru Belajar (KGB) Bantaeng di TPD ke-4 mengajak para guru untuk belajar bersama merancang desain rencana pelaksanaan pembelajaran jarak jauh yang dilakukan via live streaming di channel YouTube KGB Bantaeng. Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut di antaranya: Pak Hasirun (Koordinator Pengawas Kabupaten Bantaeng), Pak Drs. Pammusu (Ketua MGMP IPA SMP) dan Pak Very Fadly (Guru PJOK SD Inpres Tindangkeke) dan dipandu langsung oleh Pak Muhammad Yaqub selaku Host. Meski dilaksanakan secara virtual untuk pertama kalinya, di tengah pandemic Covid-19. Antusiasme belajar guru sungguh luar bisa, tak kurang dari 40-an guru dengan pelbagai latar belakang jenjang pendidikan hadir dan menyaksikan diskusi tersebut. Menjadi Guru Handal dalam Pembelajaran Jarak Jauh Narasumber pertama, Bapak Hasirun memaparkan bahwa untuk mendesain pelaksanaan pembelajaran mesti dimulai dari mengenal prinsip pembelajaran itu sendiri. Salah satu prinsip yang mesti dipegang teguh oleh guru adalah interaksi positif. Interaksi yang dibangun dari kesepakatan guru-murid. Interaksi yang baik hanya bisa terjadi jika komunikasi terjalin antara keduanya. Tak selalu didominasi oleh guru. Perlu diingat pula, bahwa komunikasi mesti juga melibatkan orangtua murid, sebagai ‘teman’ belajar murid di rumah. Guru harus peka melihat kondisi murid, orangtua dan lingkungan guna menyesuaikan dengan pembelajaran yang akan dilakukan.  Nah, Pak Hasirun memberikan tips panduan bagaimana menjadi guru yang handal dalam melakukan Pembelajaran Jarak Jauh. Penasaran? Berikut tipsnya:  Pertama, guru memberikan tugas yang simple pada murid, simple dalam artian bahwa tugas yang diberikan sedapat mungkin guru memberikan tugas kepada siswa, bukan tugas yang baru, tetapi tugas yang sudah pernah diberikan sebelumnya dengan modifikasi yang lebih jauh.  Kedua, guru harus membuat jadwal kegiatan mingguan. Hal ini sangat penting, agar murid mengetahui apa pelajaran dan keterampilan yang diperoleh pekan itu. Ketiga, berani memodifikasi kurikulum. Memodifikasi kurikulum adalah bagian dari kemerdekaan yang diberikan pada guru, hal ini dimaksudkan agar guru dalam memberikan pengalaman belajar pada murid, bisa keluar dari kebiasaan yang ada. “Dengan begitu, maka ada kebebasan, keleluasaan dan keluar dari tekanan pada diri guru-murid dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.” Lanjut Pak Korwas. Keempat, tetap menjadi guru. Menjadi guru di tengah pandemi menuntut guru untuk tahan banting. “Guru itu jangan mudah baper, terlalu tegang, dan jangan lemah, tetapi menjadilah guru seutuhnya; tegas, tapi penyayang.” Kata Pak Hasirun. Kelima, isi atau konten mata pelajaran bisa dari mana saja. Ini memungkinkan terjadinya variasi sumber belajar agar murid tidak mudah bosan. Hal-hal yang berada di sekitar murid bisa mereka jadikan sebagai sumber belajar. Misalnya, belajar menghitung dari sampah-sampah yang ada di halaman rumah. Mengajar adalah Melayani Drs. Pammusu, ketua MGMP IPA selaku narasumber kedua menjelaskan bahwa, situasi pandemi mengklasifikasi model belajar siswa menjadi dua; daring dan luring. Berlapikkan pada dua model belajar tersebut, MGMP IPA menyiapkan dua jurus jitu, yaitu; membuat video pembelajaran dan juga modul pembelajaran. Dengan dua jurus tersebut, diharapkan kedua kelompok ini bisa terlayani dengan baik. Yang memiliki gawai bisa belajar dengan melihat video pembelajaran yang dibuat sendiri oleh guru mereka, sedang yang tidak dilengkapi fasilitas akan diberikan modul kegiatan murid. Kedua perlakuan berbeda inilah yang disebut dengan diferensiasi. Guru mengidentifikasi kebutuhan dan ketersediaan fasilitas belajar murid, lalu kemudian membuat desain pembelajaran sesuai dengan konteks yang ada. Murid dilayani betul dalam proses belajarnya. “Video pembelajaran yang dibuat durasinya tidaklah panjang, cukup 8-10 menit dengan dengan penjelasan yang demonstratif agar murid tidak bosan dan bisa dipraktekkan murid di rumah secara mandiri.” Tutur Drs. Pammusu. Hal tersebut juga berlaku dengan modul luring bagi murid yang tidak dilengkapi fasilitas gawai. Modul yang diberikan sebisa mungkin memudahkan murid untuk mengerjakannya secara mandiri, mudah, tapi tidak dimudah-mudahkan. Sehingga anak benar-benar bisa berkembang kompetensinya.  “ Ini adalah bagian kecil dari sumbangsih kami kepada para murid untuk melayani proses belajar mereka.” Tutup Pak Drs. Pammusu. Baca Juga: Sekolah Lawan Corona Guru adalah Desainer “Saya memegang prinsip, anak adalah sekutu guru”, Pak Very membuka pembicaraan. Untuk menjadi sekutu yang baik, tentu harus mengenal murid dengan baik. Semakin kita mengenal murid, semakin mudah kita mengantarkan mereka pada pencapaian kompetensi. Bagaimana caranya mengenal murid? Apakah cukup dengan mengetahui nama mereka? Tentu tidak. Menurut Pak Very, mengenal murid bisa dengan membuat profil masing-masing, yang dipetakan dalam 4 hal: minat, gaya belajar, pekerjaan orangtua dan sarana prasarana. Hal ini menjadi penting, mengingat setiap anak berbeda. Karena mereka berbeda dalam banyak hal, rasanya sangat tidak bijak jika memperlakukan mereka sama dalam proses belajar. Contoh sederhananya, murid yang orangtuanya berada di tanah rantau, tak bisa diperlakukan sama dengan murid yang tinggal bersama orangtuanya. Juga murid yang sudah bisa belajar mandiri, tentu tidak bisa disamakan perlakuannya dengan murid yang masih butuh bimbingan guru. Begitu seterusnya. Pak Very juga memperkenalkan kanvas RPP merdeka belajar, yang menurutnya bisa menjadi pijakan awal sebelum membuat RPP pembelajaran jarak jauh. Kanvas ini memberikan gambaran pada guru bagaimana model pembelajaran yang akan diberikan pada murid. Isi kanvasnya terdiri … Read more