Asesmen Nasional 2021, Siap(a) Berubah?

Jam menunjukkan pukul 11.00 ketika kegiatan seri webinar bertajuk “Siap Asesmen Nasional, Siap Berubah” pada 24 juni 2021 dimulai. Guru-guru sudah standby di depan gawai dan laptop masing-masing. Bahkan, saking antusiasnya para peserta, room Zoom yang disiapkan panitia tidak cukup. Hingga panitia mesti memutar otak, mengarahkan sebagian peserta untuk menonton live di YouTube. Ya, dengan sedikit usaha, kebaikan akan menemukan jalannya sendiri. Kegiatan diawali dengan doa, dilanjutkan pengantar oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantaeng, Drs. Muhammad Haris, M.Si. Dipandu langsung oleh Bu Ilona Christina dari Kampus Guru Cikal. Dan menghadirkan Bu Elisabet Indah Susanti sebagai Narasumber, selaku ketua Kampus Guru Cikal. Dalam sambutannya Pak Kadis mengingatkan, bahwa program ini haruslah dijalankan oleh seluruh stakeholder secara integratif, hal ini guna meningkatkan kualitas pendidikan. Karenanya, kementerian pendidikan memberikan amanah kepada sekolah untuk mewujudkan murid yang memiliki profil Pancasila. Dan hal ini bagi Pak Kadis bisa dimulai dengan peningkatan kapasitas guru dan kepala sekolah. Ini menjadi fundamental, karena merupakan kunci bagi reformasi pendidikan, khususnya di Kabupaten Bantaeng. Bagi Pak Kadis, guru dan kepala sekolah adalah elemen penting dalam pembenahan tata kelola pendidikan kini. “Nah, kegiatan kita hari ini akan sangat mendukung guru dan kepala sekolah di Kabupaten Bantaeng.” Terang Pak Kadis. Ini pun sebangun dengan visi misi Pemerintah Kabupaten Bantaeng, di mana peningkatan sumber daya manusia menjadi program utamanya. Hal tersebut, jika dipilah, maka ada dua hal esensial yang mesti dipikirkan bersama. Pertama, bagaimana tata kelola Dinas Pendidikan Kabupaten Bantaeng sebagai induk dari lembaga satuan pendidikan. Kedua, pengembangan sumber daya manusia di satuan pendidikan, agar supaya selalu ada ikhtiar untuk menambah kapasitas dan kapabilitasnya dalam menjalankan peran dan fungsinya masing-masing. Lebih khusyuk, Pak Kadis kemudian memaparkan problem pendidikan di Bantaeng. Berlapik pada data Badan Pusat Statistik (BPS), mengatakan bahwa angka rata-rata lama sekolah kita, masih digolongkan rendah, dan ini memengaruhi human index development. Di mana salah satu ukuran utamanya adalah pendidikan. Inilah yang seyogianya menjadi perhatian kita bersama. Problem kedua adalah Pemetaan Mutu Pendidikan (PMP) yang masih dinilai rendah.  Problem ketiga, adalah kemampuan literasi yang rendah. Hal ini—menurut Pak Kadis—dimungkinkan karena sebagian guru tidak melakukan rencana tindak lanjut dari program yang sudah ada, yaitu Calistung (baca, tulis, dan hitung). Bagian refleksi yang seyogyanya menjadi bagian penting dari sebuah proses tampaknya tidak dimaksimalkan betul oleh guru-guru. “Saya ingin program ini berlanjut dan dibahas di forum KKKG/MGMP, serta terintegrasi dengan KKKS/MKKS agar supaya ada rencana yang berkesinambungan dari hasil refleksi. Menambah yang kurang. Memperbaiki yang salah.” Pak Kadis mengingatkan. Sebagai penutup, Pak Kadis menasihati guru dengan sebuah petuah bijak, “Hari ini kita guru, besok kita guru, dan hingga mati tetap menjadi guru. Sehingga pepatah dalam bahasa Makassar benar-benar menyata dalam hidup, jappo buku-buku tala jappo kana-kana baji (hancur tulang belulang, tidak habis cerita-cerita baik).”  Meluruskan Miskonsepsi Belajar  Membuka pembicaraan Bu Susan kemudian mengajak para guru melakukan refleksi: apakah murid inisiatif belajar meski tidak disuruh guru/orangtua? Seberapa banyak murid yang sedih ketika lonceng jam pulang berbunyi? Seberapa banyak murid yang belajar ketika jam kosong? Pertanyaan refleksi di atas sudah kita ketahui bersama jawabannya. Nah, apa sebenarnya yang terjadi dengan pendidikan kita? Murid yang tidak punya inisiatif, tidak belajar jika tak disuruh adalah bukti bahwa kita sedang menghadapi sebuah krisis pembelajaran. Memang banyak murid yang sekolah, tapi sedikit yang belajar.  Sekotahnya menjadi bahan renungan bersama. Sepertinya memang ada miskonsepsi tujuan pendidikan kita selama ini. Inilah yang kemudian dipaparkan oleh Bu Susan dengan sangat apik. Penulis pun menyadari bahwa inilah yang seyogianya menjadi perhatian utama guru jika ingin mereposisi tujuan pendidikan. Seperti, apakah tujuan pendidikan adalah siap sekolah, atau siap hidup? Nilai angka, atau kompetensi yang membekali murid dengan life skill? Ujian terstandar, atau ujian yang bermakna? Apakah murid harus menghafal, atau menalar? Murid dituntut untuk terus patuh, atau diajari untuk mandiri?  Sekolah adalah miniatur kehidupan. Karenanya, sekolah dituntut untuk bisa membekali murid dengan keterampilan-keterampilan yang membantunya kelak hidup di tengah-tengah masyarakat. Jika kita percaya bahwa menghafal tidak akan membantu, maka mulai sekarang kita mesti mengajar murid untuk menalar. Memaksimalkan akal pikiran yang dianugerahkan Tuhan.  “Murid ketika dihadapkan pada kehidupan nyata, tidak hanya dituntut untuk menghafal saja, kok. Karena belajar itu bukan hanya tentang konten/pengetahuan. Yang lebih prioritas adalah bagaimana murid untuk dapat menalar/berpikir kritis.” Terang Bu Susan. Sayangnya—menurut Bu Susan—kita masih banyak terjebak pada banyak miskonsepsi belajar. Inilah yang harus dihadapi terlebih dahulu, karena bicara soal asesmen nasional, maka dituntut perubahan paradigma berpikir tentang pelajaran. Nah, menghadapi asesmen nasional bukanlah mengondisikan murid, tetapi menyiapkan guru. Supaya guru mampu merubah praktik pembelajaran di kelasnya. Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional 2021 Nah, apa saja miskonsepsi belajar yang dimaksud Bu Susan? Check this out. Pertama, dari segi manajemen kelas. Di kelas murid masih terjajah belajar, ini ditandai dengan murid yang dituntut untuk patuh sepenuhnya. Guru mendikte aturan pada murid, sedang murid cukup melaksanakannya saja. Jika melanggar dapat hukuman, patuh dapat reward. Bagaimana idealnya? Dalam konsep merdeka belajar, murid diharapkan mandiri, dilibatkan dalam membuat kesepakatan kelas, sehingga murid juga bisa menyuarakan keinginannya. Serta dilanjutkan dengan refleksi yang dialogis. Murid dan guru melakukan komunikasi dua arah dalam proses belajar. Kedua, dari segi strategi pembelajaran. Di kelas, pembelajaran masih berorientasi target. Hanya mengacu pada kurikulum, dengan penyampaian konten yang satu arah, juga mengejar ketuntasan konten. Sayangnya, guru berhasil menuntaskan kurikulum, tapi murid tak menguasai kurikulum. Padahal dalam konsep merdeka belajar, pembelajaran seyogianya berorientasi pada murid. Kurikulum mestinya dipadukan dengan kebutuhan murid. Melakukan kegiatan yang mengarah pada penguasaan kompetensi. Bu Susan mengigatkan bahwa diksi kompetensi yang digunakan mengacu pada tiga hal: pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Serta bagaimana murid melakukan aksi guna menyelesaikan masalah. Jadi concern dari kompetensi bukan pengetahuan semata.  Ketiga, dari segi asesmen pembelajaran. Di kelas, semua penilaian digunakan untuk menentukan nilai akhir. Ulangan harian, PR, ulangan semester, ujian akhir, kesemuanya diakumulasi dengan menggunakan rumus tertentu, hingga jadilah nilai akhir. Murid tidak diberikan asesmen diagnostik dan asesmen formatif. Padahal inilah bagian yang paling menentukan. Guna meluruskan miskonsepsi ini, maka amat penting untuk melakukan asesmen yang lebih berorientasi diagnosis dan formatif. Apa sih asesmen diagnosis dan formatif itu? Asesmen diagnosis adalah asesmen yang dilakukan untuk mengidentifikasi dan memahami kondisi … Read more

Menyambut Panduan Pembelajaran Jarak Jauh

“Kami bukan robot, kami butuh istirahat”, begitu bunyi status WA murid kelas 3 yang kebetulan berteman dengan saya. Entah apa yang melatarbelakangi statusnya yang demikian, apakah karena tugas dari guru yang menumpuk? Bisa jadi. Memang, harus diakui, pembelajaran jarak jauh membawa guru pada kegamangan tanpa panduan. ‘Penutupan’ sekolah secara tiba-tiba membuat guru bingung harus mengajar seperti apa. Mereka belum punya gambaran sama sekali. Bahkan, bagi sebagian guru istilah itu mungkin baru didengar pertama kali. Di tengah kebingungan itu, satu-satunya cara yang diketahui oleh guru guna memastikan murid tetap belajar di rumah, hanya dengan membagikan tugas, tugas dan tugas.  Sabtu 04 Juli 2020, Pemerintah Kabupaten Bantaeng melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Bantaeng meluncurkan panduan pembelajaran jarak jauh. Guna memberikan gambaran dan rambu-rambu bagaimana melaksanakan PJJ (pembelajaran jarak jauh) yang efektif dan efisien. Panduan Pembelajaran Jarak Jauh ini, tak bersifat teknis, karena bagaimanapun—menurut Pak Kadis—kerja-kerja teknis lebih diketahui oleh guru, sebab guru tentu lebih mengenal situasi dan kondisi di lapangan. Di akhir peluncuran, Pak Kadis mengingatkan bahwasanya untuk membahas lebih mendalam panduan ini, maka beliau mengharapkan organisasi profesi guru untuk melakukan kerja-kerja kebaikan guna mengawal rekan-rekan guru pada pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh yang bermakna. “ Saya berharap organisasi profesi guru bisa turut terlibat aktif merangkul teman-teman, belajar bersama, dan mendiskusikan lebih lanjut panduan ini.” Menindaklanjuti hal tersebut, Komunitas Guru Belajar (KGB) Bantaeng di TPD ke-4 mengajak para guru untuk belajar bersama merancang desain rencana pelaksanaan pembelajaran jarak jauh yang dilakukan via live streaming di channel YouTube KGB Bantaeng. Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut di antaranya: Pak Hasirun (Koordinator Pengawas Kabupaten Bantaeng), Pak Drs. Pammusu (Ketua MGMP IPA SMP) dan Pak Very Fadly (Guru PJOK SD Inpres Tindangkeke) dan dipandu langsung oleh Pak Muhammad Yaqub selaku Host. Meski dilaksanakan secara virtual untuk pertama kalinya, di tengah pandemic Covid-19. Antusiasme belajar guru sungguh luar bisa, tak kurang dari 40-an guru dengan pelbagai latar belakang jenjang pendidikan hadir dan menyaksikan diskusi tersebut. Menjadi Guru Handal dalam Pembelajaran Jarak Jauh Narasumber pertama, Bapak Hasirun memaparkan bahwa untuk mendesain pelaksanaan pembelajaran mesti dimulai dari mengenal prinsip pembelajaran itu sendiri. Salah satu prinsip yang mesti dipegang teguh oleh guru adalah interaksi positif. Interaksi yang dibangun dari kesepakatan guru-murid. Interaksi yang baik hanya bisa terjadi jika komunikasi terjalin antara keduanya. Tak selalu didominasi oleh guru. Perlu diingat pula, bahwa komunikasi mesti juga melibatkan orangtua murid, sebagai ‘teman’ belajar murid di rumah. Guru harus peka melihat kondisi murid, orangtua dan lingkungan guna menyesuaikan dengan pembelajaran yang akan dilakukan.  Nah, Pak Hasirun memberikan tips panduan bagaimana menjadi guru yang handal dalam melakukan Pembelajaran Jarak Jauh. Penasaran? Berikut tipsnya:  Pertama, guru memberikan tugas yang simple pada murid, simple dalam artian bahwa tugas yang diberikan sedapat mungkin guru memberikan tugas kepada siswa, bukan tugas yang baru, tetapi tugas yang sudah pernah diberikan sebelumnya dengan modifikasi yang lebih jauh.  Kedua, guru harus membuat jadwal kegiatan mingguan. Hal ini sangat penting, agar murid mengetahui apa pelajaran dan keterampilan yang diperoleh pekan itu. Ketiga, berani memodifikasi kurikulum. Memodifikasi kurikulum adalah bagian dari kemerdekaan yang diberikan pada guru, hal ini dimaksudkan agar guru dalam memberikan pengalaman belajar pada murid, bisa keluar dari kebiasaan yang ada. “Dengan begitu, maka ada kebebasan, keleluasaan dan keluar dari tekanan pada diri guru-murid dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.” Lanjut Pak Korwas. Keempat, tetap menjadi guru. Menjadi guru di tengah pandemi menuntut guru untuk tahan banting. “Guru itu jangan mudah baper, terlalu tegang, dan jangan lemah, tetapi menjadilah guru seutuhnya; tegas, tapi penyayang.” Kata Pak Hasirun. Kelima, isi atau konten mata pelajaran bisa dari mana saja. Ini memungkinkan terjadinya variasi sumber belajar agar murid tidak mudah bosan. Hal-hal yang berada di sekitar murid bisa mereka jadikan sebagai sumber belajar. Misalnya, belajar menghitung dari sampah-sampah yang ada di halaman rumah. Mengajar adalah Melayani Drs. Pammusu, ketua MGMP IPA selaku narasumber kedua menjelaskan bahwa, situasi pandemi mengklasifikasi model belajar siswa menjadi dua; daring dan luring. Berlapikkan pada dua model belajar tersebut, MGMP IPA menyiapkan dua jurus jitu, yaitu; membuat video pembelajaran dan juga modul pembelajaran. Dengan dua jurus tersebut, diharapkan kedua kelompok ini bisa terlayani dengan baik. Yang memiliki gawai bisa belajar dengan melihat video pembelajaran yang dibuat sendiri oleh guru mereka, sedang yang tidak dilengkapi fasilitas akan diberikan modul kegiatan murid. Kedua perlakuan berbeda inilah yang disebut dengan diferensiasi. Guru mengidentifikasi kebutuhan dan ketersediaan fasilitas belajar murid, lalu kemudian membuat desain pembelajaran sesuai dengan konteks yang ada. Murid dilayani betul dalam proses belajarnya. “Video pembelajaran yang dibuat durasinya tidaklah panjang, cukup 8-10 menit dengan dengan penjelasan yang demonstratif agar murid tidak bosan dan bisa dipraktekkan murid di rumah secara mandiri.” Tutur Drs. Pammusu. Hal tersebut juga berlaku dengan modul luring bagi murid yang tidak dilengkapi fasilitas gawai. Modul yang diberikan sebisa mungkin memudahkan murid untuk mengerjakannya secara mandiri, mudah, tapi tidak dimudah-mudahkan. Sehingga anak benar-benar bisa berkembang kompetensinya.  “ Ini adalah bagian kecil dari sumbangsih kami kepada para murid untuk melayani proses belajar mereka.” Tutup Pak Drs. Pammusu. Baca Juga: Sekolah Lawan Corona Guru adalah Desainer “Saya memegang prinsip, anak adalah sekutu guru”, Pak Very membuka pembicaraan. Untuk menjadi sekutu yang baik, tentu harus mengenal murid dengan baik. Semakin kita mengenal murid, semakin mudah kita mengantarkan mereka pada pencapaian kompetensi. Bagaimana caranya mengenal murid? Apakah cukup dengan mengetahui nama mereka? Tentu tidak. Menurut Pak Very, mengenal murid bisa dengan membuat profil masing-masing, yang dipetakan dalam 4 hal: minat, gaya belajar, pekerjaan orangtua dan sarana prasarana. Hal ini menjadi penting, mengingat setiap anak berbeda. Karena mereka berbeda dalam banyak hal, rasanya sangat tidak bijak jika memperlakukan mereka sama dalam proses belajar. Contoh sederhananya, murid yang orangtuanya berada di tanah rantau, tak bisa diperlakukan sama dengan murid yang tinggal bersama orangtuanya. Juga murid yang sudah bisa belajar mandiri, tentu tidak bisa disamakan perlakuannya dengan murid yang masih butuh bimbingan guru. Begitu seterusnya. Pak Very juga memperkenalkan kanvas RPP merdeka belajar, yang menurutnya bisa menjadi pijakan awal sebelum membuat RPP pembelajaran jarak jauh. Kanvas ini memberikan gambaran pada guru bagaimana model pembelajaran yang akan diberikan pada murid. Isi kanvasnya terdiri … Read more