Nobar Guru Belajar Lamongan

Nonton bareng atau umumnya dikenal dengan istilah nobar, apakah nonton bareng itu? Nobar sejenis kegiatan menyaksikan suatu pertunjukan yang bisa jadi menarik ataupun tidak menarik, bergantung dari bagaimana kita menikmatinya. Nobar ala kami di Komunitas Guru Belajar Lamongan adalah menyaksikan video tentang Merdeka Belajar oleh Ibu Najelaa Shihab. Nobar yang kami selenggarakan tidak seperti biasanya, karena di tengah pandemi Covid-19 maka kegiatan tersebut kami laksanakan secara virtual.  Meskipun demikian saya tetap siap mengadakan nobar dan siap menjadi penggerak komunitas guru belajar. Nobar yang kami selenggarakan di MI Ma’arif NU Sunan Drajat Lamongan baru yang pertama kalinya, tapi kami cukup senang karena antusias teman-teman guru sangat luar bisa. Sehingga pesertanya mecapai kurang lebih limapuluh orang.  Saya, Azmil Futihatur Rizqiyyah, dari MI Ma’arif NU Sunan Drajat Lamongan. Pada hari Kamis, tepatnya tanggal 29 Juli 2021, jam 10.00, saya mengadakan nobar guru merdeka belajar bersama teman-teman penggerak KGB Lamongan. Kegiatan ini diawali dengan sosialisasi KGB dan dilanjutkan nobar. Kami mengadakan nobar, bertujuan untuk mensosialisasikan Komunitas Guru Belajar, agar kita sebagai pendidik maupun praktisi pendidikan mempunyai semangat yang lebih untuk terus belajar. Belajar bagaimana memahami pendidikan yang terus menerus berubah seiring perkembangan zaman dan perkembangan teknologi. Sebagai guru pada khususnya, kegiatan guru belajar di Lamongan masih jarang sekali peminatnya, kalaupun ada tentu kami berasal dari berbagai daerah yang menyebar di kabupaten Lamongan. Acara dipandu oleh saudari Sri Ida Mulyani yang menghantarkan acara menjadi lebih semarak. Acara diawali dengan sosialisasi dan sharing pengenalan KGB oleh Bu Anis Choirun Niswah selaku ketua KGB Lamongan. “Terimaksih atas partisipasi dari guru-guru di MI Sunan Drajat yang antusias dalam mengikuti kegiatan ini, semoga bisa bergerak dan menjadikan kualitas pembelajaran lebih baik”, ungkap beliau.  Bu Ida sapaan dari penggerak yang satu ini mengatakan bahwa nobar adalah suatu kegiatan nonton bareng sebagai syarat menjadi penggerak guru belajar. Tidak sulit sebenarnya menjadi penggerak, yang penting mau belajar dan bersama-sama belajar.  Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Acara kedua yaitu sosialisasi praktik baik oleh Pak Alif Zulfikar dari KGB Lamongan. Beliau menceritakan bagaimana nyamannya belajar di grup guru belajar. Bagaimana mengikuti diklat gratis yang hampir setiap hari dan bagaimana mengikuti diklat online jarak jauh. Meskipun jarak jauh, ilmu yang didapatkan tetap dengan kualitas terbaik, hal ini dikarenakan para tentor yang ilmunya tak pelit untuk dibagi-bagi dengan tujuan semuanya mendapatkan manfaat terbaik. “Setelah mengikuti nobar ini mengatakan bahwa garis besar dari komunitas ini adalah menyadarkan guru akan tugas utamanya, kemudian adanya momen-momen seperti KGB ini sangat baik untuk guru-guru karena bisa sharing dan hearing, berdiskusi, berbagi cerita, berbagi solusi, menambah tali silaturrahim demi terlaksananya pendidikan yang lebih baik”. Demikian menurut Pak Alif. Ust. Ubaidillah (guru MI Sunan Drajat) secara virtual pun mengutarakan kesenangannya mengikuti kegiatan nobar ini. “Dengan mengikuti kegiatan nobar guru belajar, saya bisa mendapatkan pengetahuan baru tentang dunia kependidikan berdasarkan kebutuhan siswa, metode dan cara mengajar yang baik bagi siswa, serta teknik belajar yang benar.  Sebaik apapun persiapan yang kami lakukan tetap saja kendala teknis terjadi yaitu koneksi sinyal yang tidak begitu baik, sehingga kegiatan kami kurang bisa berjalan maksimal. Meskipun demikian keinginan untuk melakukan kegiatan nobar kembali selalui ada, semoga pandemi segera berakhir dan bisa melaksanakan kegiatan secara tatap muka agar lebih maksimal. Karena kita sebagai guru harus memaksa diri untuk belajar agar dapat memenuhi kebutuhan murid belajar. (Azmil F. Rizqiyyah, KGB Lamongan)

Belajar tentang Merdeka Belajar

Awal tahun ajaran baru 2020/2021 di masa pandemi keadaan pendidikan masih belum stabil seperti hari-hari biasanya. Guru-guru masih berkutat dengan kegiatan anak di rumah yang semakin hari semakin bosan dan tertekan karena kurangnya inovasi. Belajar untuk menuju Merdeka Belajar semakin terasa dibutuhkan Pada bulan juli ada ajakan dari ibu KASI Paud kabupaten Lamongan untuk menghadiri acara TPD (Temu Pendidik Daerah) yang dikemas dalam kegiatan Mudik KGB Spesial PAUD yang diadakan oleh teman-teman guru dari KGBN Lamongan. Saya tertarik dengan judul yang sangat spesial ini, seperti berjodoh saya menerima tantangan dari teman-teman KGB untuk menjadi moderator di kegiatan tersebut meski awalnya saya tidak pernah tahu tentang kegiatan KGB. Dari sana saya bertemu dengan orang-orang yang seperjuangan memimpikan merdeka belajar bagi murid, guru dan juga orang tua. Di kegiatan MUDIK ini saya mendapat sekali banyak ilmu dan pengalaman dalam mengolah pembelajaran di masa pandemi ini. Satu hal yang saya ingat dan terapkan sampai saat ini, bahwa dalam masa PJJ ini kita harus bisa menjadi guru yang paham dan mengerti akan kebutuhan anak dan juga orang tua di rumah. Ditemu pendidik daerah ini narasumber memberikan materi yang sangat berharga yaitu Mengenal Strategi 5M  saat masa PJJ. Dijelaskan oleh guru Andri dari KGB Depok juga Guru Rosa dari KGB Semarang pentingnya kita memanusiakan hubungan dengan orang tua, anak dan juga masyarakat agar tercapai tujuan pembelajaran yang merdeka belajar. Dari sana, berlanjut saya bergabung dengan KGB Lamongan dan mengadakan nobar guru merdeka belajar di sekolah saya. Meski antusias teman-teman tidak begitu banyak karena masih dalam masa pandemi, tapi semangat teman-teman dari KGB sangat luar biasa. Dilanjutkan dengan nonton bareng video penjelasan tentang merdeka belajar oleh ibu Najelaa Shihab. Banyak cerita-cerita menarik dan inspiratif dari teman-teman ketika selesai menonton video yang mana bu Najelaa Shihab memberikan semangat yang luar biasa untuk teman-teman dalam mewujudkan merdeka belajar. Setelah menonton video tersebut saya jadi tersadar, bahwa selama ini saya jauh sekali dari kata guru merdeka belajar. Seperti hal nya yang disampaikan ibu Najelaa Shihab “Guru merdeka belajar adalah guru yang mempunyai komitmen, guru yang mandiri dan guru yang selalu berefleksi”. Dan inilah yang menjadi tantangan untuk kita semua.  Baca Juga: Apa Itu Merdeka Belajar? Pada sesi selanjutnya diisi dengan sesi diskusi tentang pengalaman selama menjadi guru, yang dipandu langsung oleh teman-teman guru dari  KGB N Lamongan. Menurut Ibu Suweni dari TK Dharma Wanita Desa Brumbun beliau menyampaikan keinginannya untuk totalitas meluangkan waktu pada pembelajaran anak-anak, beliau juga berpendapat selama ini terbebani oleh tugas-tugas administrasi, UPK, UKG dll, ini juga selaras dengan apa yang disampaikan oleh Ibu Najelaa Shihab tentang komitmen bahwa tantangan kita saat ini adalah bagaimana membedakan cara dan juga tujuan, kita sering terjebak dalam tugas-tugas administratif, kita terjebak dalam ketentuan-ketentuan birokratis hingga ujian, akreditasi, seleksi, dan nilai yang sebetulnya semua hanya cara kemudian menjadi  tujuan dan prioritas utama, bahkan lebih tinggi dari prioritas tujuan utama pendidikan itu sendiri.  Menurut ibu Ma’rufah dari TK Muslimat Maduran menyatakan bahwa menjadi guru merdeka belajar sangat mudah mengucapkan, namun kesulitan dalam memulainya. Ini juga sama seperti yang disampaikan oleh ibu Najelaa Shihab bahwa guru merdeka belajar harus bisa komitmen, mandiri dan refleksi, tapi susahnya sangat minta ampun. Padahal tujuannya untuk anak-anak bisa lebih percaya akan dirinya sendiri, memiliki cita-cita melampaui batas ruang kelas menembus tingginya gedung sekolah. Dilanjut oleh ibu Astutik dari TK PGRI dengan adanya merdeka belajar dapat memberikan tingkat eksplorasi yang luas untuk pembelajaran anak-anak.  Kita seringkali terjebak dalam miskonsepsi belajar, sebagian dari kita hanya membuat alasan untuk berubah, seringkali kita tidak mau bergerak dengan alasan murid tidak mengerti, orang tua akan menentang dan masyarakat belum paham padahal sebenarnya itu adalah ketakutan dari diri kita sendiri untuk menuju perubahan. Banyak guru yang masih beranggapan bahwa menimba ilmu itu harus dari pakar atau ahli pendidikan. Disini saya mengajak teman-teman guru untuk menjadi guru belajar dimana kita bisa belajar dari siapa saja dan kapan saja karena kita belajar untuk kebutuhan alamiah kita. Seperti yang disampaikan oleh teman-teman bahwa mereka bangga ketika belajar dari pakar atau ahli pendidikan. Dengan ini mereka menyadari sebenarnya narasumber yang lebih baik adalah guru-guru lain yang belajar dan mempraktikan serta guru yang belajar dari banyak kesalahan kegagalan sebelum mereka berhasil. Saya sangat bersyukur bertemu dengan Komunitas Guru Belajar Nusantara ini, dimana saya dipertemukan dengan guru-guru yang ingin bergerak bersama untuk memprioritaskan pendidikan bukan hanya menjadi kepenting saja. KGB ini adalah wadah yang tepat untuk mewujudkan hal tersebut. Saya bertekad untuk menjadi guru merdeka belajar dan mematahkan miskonsepsi selama ini yang saya lakukan. Saya juga akan turut berkontribusi dalam komunitas ini karena kompetensi tidak harus dimiliki sendiri tapi kita sama-sama belajar berbagi ilmu, berbagi praktik baik dan berbagi pengalaman dari siapa saja dan untuk siapa saja selama dalam peningkatan mutu pendidikan.

Kemerdekaan Belajar Bukan Diberikan Tetapi Kita Gerakkan

“Yang kita inginkan adalah anak-anak yang punya aspirasi tinggi, yang punya cita cita melampaui langit, sebetulnya. Melampaui batas ruang kelas, melampaui batas dunianya. Dan ini hanya akan terjadi pada saat anak-anak punya kemerdekaan belajar. Tapi kemerdekaan murid-murid hanya akan terjadi pada saat kita sebagai pendidik juga sebetulnya  memiliki kemerdekaan”. Penggalan kalimat di atas adalah pernyataan awal penyemangat dari ibu Najelaa Shihab lewat video nonton bareng atau nobar yang sebelumnya diunduh di sebuah link yang tertulis pada  buku panduan nonton bareng video Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN). Dalam pemaparan Inisiator Guru Merdeka Belajar ini, menyampaikan pesan tersirat sarat makna yang meminta guru untuk serius menjadi guru merdeka belajar.  “Apakah Ibu dan Bapak Guru sudah merasa merdeka?” ungkap ibu Elaa, panggilan akrab ibu Najelaa Shihab dengan nada tanya. Setelah itu ia lanjutkan lagi dengan narasi yang sangat menyentuh empati diri kita sebagai guru, bahwa kalau tidak merasa merdeka tidak perlu ada datang dan belajar.  Pertanyaan dan pernyataan ibu Elaa tersebut, bukan tanpa sebab atau bukan tanpa alasan. Semua sudah melewati fase realitas perjalanan dan pandangan mata di kehidupan guru dengan beragam cara dan kemampuan guru di sekitarnya. Tentunya dalam memaknai diri untuk maju dan paham akan tugas dan tanggung jawabnya sejak mengemban amanah sebagai guru.  Asumsi pemahaman tentang guru merdeka belajar ini menjadi titik fokus para guru di KGB Sinjai dengan digelar nonton bareng hari Ahad, 25 Oktober 2020 lalu. Mengingat situasi masih dalam masa pandemi Covid 19, kegiatan nobar ini digelar secara daring melalui aplikasi Microsoft Teams yang dimulai pukul 10.00 Wita.  Acara ini dipandu langsung guru Arni Idawati dengan tim teknis daring via Teams guru Takdir Kahar dan guru Hj Yuliani, ketiga guru ini adalah Penggerak KGB Sinjai. Kegiatan ini diikuti 35 peserta dari berbagai tingkatan sekolah seperti guru sekolah dasar, guru sekolah menengah pertama, dan guru sekolah menengah atas. Bukan hanya itu, kegiatan nobar guru merdeka belajar ini juga diikuti  dua  pengawas sekolah dalam lingkup Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. Memaknai Merdeka Belajar Sebelum nobar Guru Merdeka Belajar diputar via Microsoft Teams, Moderator acara yang dipandu guru Arni Idawati memulai dengan menyapa semua peserta Nobar yang sebelumnya sudah mendaftar via link Microsoft Forms serta sudah bergabung dalam grup WhatsApp Nobar MGMB KGB Sinjai. Melihat semangat peserta yang begitu tinggi untuk segera melihat paparan video konsep Guru Merdeka Belajar dari Ibu Najelaa Shihab, maka tak berlama-lama di pembukaan acara, langsung moderator melempar pertanyaan reflektif ke peserta nobar, bahwa apa yang mereka pahami tentang Merdeka Belajar? Tak pelak saja, tidak sampai satu menit setelah pertanyaan di lempar langsung disambut sejumlah analogi peserta tentang pemahaman mereka tentang guru merdeka belajar. Seperti pernyataan guru Anshar dari SMAN 12 Sinjai, bahwa merdeka belajar itu ketika guru memiliki kemampuan dan semangat untuk belajar. Hal sama juga diungkapkan  guru Fariati dari SMAN 10 Sinjai, bahwa merdeka belajar itu adalah merdeka dalam belajar kepada siapapun dan merdeka dalam mengajar dengan kewenangan guru menentukan sendiri metode pembelajaran tanpa keluar dari tujuan pembelajaran. Ada juga pernyataan mengejutkan dari guru Rosdiana dari SDN 1 Balangnipa Sinjai. Bahwa guru merdeka belajar itu ketika sang guru mampu membuat perubahan kelas menjadi kelas yang menyenangkan. Bukan hanya itu, sebagai guru harus yakin bahwa dirinya adalah guru yang memiliki sisi lain yang luar biasa untuk selalu belajar dan bermanfaat bagi orang lain.  Senada dengan guru Hj Hasniar dari SMAN 3 Sinjai memberi sebuah gambaran, bahwa hakikat guru merdeka memiliki ciri-ciri  yaitu punya tujuan dan komitmen pada tujuan, guru harus memiliki sikap kemandirian, serta  selalu melakukan refleksi untuk  mencari sisi masukan dan penguatan dari pembelajaran yang selesai dilaksanakan. Pernyataan penguatan tentang apa itu merdeka belajar juga disampaikan pak Madalle Aqil, koordinator pengawas pendidikan untuk wilayah Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Selayar Provinsi Sulawesi Selatan.  Dijelaskan bahwa guru merdeka itu adalah guru yang selalu belajar sepanjang hayat dengan memiliki tiga hakikat dasar sebagai guru. Pertama, guru merdeka belajar harus memiliki sifat dan sikap keikhlasan. Artinya, aktivitas guru yang mewarnai dalam kegiatan pembelajarannya di ruang-ruang kelas,  siap menerima segala tantangan dan terpenting selalu melakukan perbaikan. Kedua, guru merdeka belajar mampu mempraktikkan aksi atau tindakan. Artinya, segala tindakan yang dilakukan  adalah nyata karena sesuai dengan yang dibutuhkan  saat ini. Ketika salah maka dicoba dan dilakukan lagi atau tidak mudah putus asa. Ketiga, guru merdeka belajar terus belajar. Artinya, bukan berarti ketika sudah selesai mengajar, maka dianggap tujuan juga sudah tercapai. Tapi guru harus belajar dan berani melakukan refleksi dari apa yang sudah dilakukan dalam kegiatan pembelajarannya. Merebut Emansipasi Belajar Setiap alur narasi ibu Najelaa Shihab selalu ada ledakan makna dalam pemaparan tentang guru merdeka belajar. Sehingga praktis  kalimat demi kalimat yang disampaikan semuanya seperti kalimat pokok atau kalimat utama yang tidak boleh dibiarkan berlalu. Rugi rasanya ketika terlewatkan satu kata, lebih-lebih satu kalimat atau beberapa kalimat.  Dalam penjelasannya memantik peserta dengan melempar sebuah pernyataan mengejutkan. Bahwa ketika sepakat dengan konsep pendidikan di negara tercinta Indonesia adalah demokrasi, maka ia berani melisensi tentang keberadaan guru-guru yang bergabung dalam komunitas guru belajar sudah berada di tempat atau forum yang tepat.  “Anda berada di forum  yang tepat, karena di Komunitas Guru Belajar sangat percaya bahwa proses kemerdekaan itu sebetulnya bukan diberikan, tapi sesuatu yang kita gerakkan,” ungkap ibu Najelaa. Artinya segala kegiatan guru adalah sebuah proses sama-sama belajar seperti  proses emansipasi tidak dikasih atau tidak diberikan tetapi harus direbut, kemerdekaan belajar adalah sesuatu yang kita gerakkan. Tentunya guru harus memiliki komitmen, kemandirian, serta selalu melakukan refleksi. Penjelasan lain yang paling menyentuh adalah atas tindakan guru dalam ruang-ruang pembelajaran di sekolah untuk berani melawan miskonsepsi. Seperti anggapan yang sering muncul bahwa guru mau belajar kalau ada insentif atau uang serta ada sertifikatnya, padahal belajar adalah kebutuhan alamiah dari setiap guru. Anggapan lain seperti guru baru mau  belajar kalau dari sumber ahli atau dari pakar pendidikan. Ditemu pendidik sudah membuktikan, jika sumber belajar paling efektif adalah sesama guru yang sudah banyak pengalaman dan belajar melakukan perbaikan dari setiap ia di posisi kegagalan. Penjelasan lain tentang miskonsepsi adalah  belajar cukup terbatas ‘How To’ tidak mau ribet atau pusing dalam mengajar, padahal belajar itu dengan tujuan yang dapat  menyesuaikan diri dengan … Read more

Belajar dari Video Guru Merdeka Belajar

Rangkaian acara graduation RPP Merdeka Belajar KGBN Sidoarjo terdiri dari 4 sesi, dimulai dari webinar praktik baik literasi yang dibawakan oleh Bapak Wahyu Hidayat, M.Pd,  dilanjutkan review buku antologi praktik baik pembelajaran oleh Ibu Devi Aryani, M.Psi dan Nobar (nonton bareng) video guru merdeka belajar yang dipandu oleh Inka Valentine Haris (saya sendiri).  Video guru merdeka belajar digagas oleh komunitas guru belajar nusantara dan kampus guru cikal dalam rangka menyambut Hardiknas. Dalam kegiatan ini, nonton bareng video guru merdeka belajar sengaja dihadirkan sebagai pelengkap program bantu kuatkan guru dan memiliki tujuan sebagai berikut,    Ciri guru merdeka belajar adalah komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara belajar dan selalu melakukan refleksi. Bebas dari tekanan, bebas dari tuntutan, inisiatif dari dalam hati merupakan kunci mendasar untuk mencapai tujuan pengembangan guru.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Nonton Bareng video Merdeka belajar hadir dimanfaatkan bagi para pendidik untuk berefleksi terhadap upaya-upaya yang telah dilakukan dalam mendidik murid. Guru berdiskusi mengenai bagaimana pembelajaran yang selama ini disajikan kepada murid. Kajian mengenai kebemaknaan belajar murid, seberapa dekat hubungan yang terjalin dengan murid, bagaimana guru menyikapi masalah dan tantangan yang ada. Seperti pernyataan guru Ni Nyoman Sri Widanti “menjadi guru yang merdeka adalah suatu kebahagiaan demikian pula dalam pembelajaran. merdeka yang bermartabat merdeka yang inspiratif dan merdeka yang inovatif adalah cita-cita guru”.  Keseruan acara nobar terletak pada sesi refleksi, beberapa guru berbagi kisah, pengalaman dan solusi dengan penuh semangat. Kisah Guru Nani menjadi perhatian peserta saat itu, Ibu Nani menceritakan bahwa, Selama ini saya menjadi guru memberi materi, tugas, menilai tugas murid, mengisi rapot. semakin lama belajar bukan hanya memberi materi, tetapi belajar memahami karakter masing-masing murid agar bisa lebih mudah mentransfer ilmu. Lalu, semakin berfikir bukan hanya materi pelajaran yg harus diberikan. tetapi juga memberikan motivasi secara spiritual pada anak-anak agar pondasi agama dan karakter mereka menjadi lebih baik. Kekurangan yang terasa adalah tidak menemukan rekan yang sepemahaman. terlalu banyak aplikasi untuk merdeka belajar, tapi tidak dipakai. Jadi mencoba secara perlahan melakukannya sendiri sambil belajar di KGBN Sidoarjo, bertemu kawan-kawan yang seide. Sehingga menjadi lebih semangat untuk mentransfer ilmu pada teman-teman dan pastinya ingin menjadi agen perubahan walaupun sulit tapi tetap semangat. Ibu Ildia Ayu-SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo-juga membagikan pengalamannya. “Dahulu kala, saya terjebak dengan segala sesuatu printilan yang bersifat administratif, sehingga lupa untuk mengupgrade dan memerdekakan diri dalam dunia pendidikan.” Setuju sekali, karena semua komponen tersebut (komitmen, tanggung jawab, dan selalu berefleksi) adalah wujud upaya untuk kemerdekaan belajar bagi guru. “Tentu saja saya ingin menjadi guru yang merdeka, sehingga bisa memfasilitasi kemerdekaan belajar para murid. Insyaallah saya masih ingin terus berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan KGBN Sidoarjo, terutama yang sejalan dengan minat saya.” Dari pengalaman Guru Nani dan guru lain yang hadir dalam acara, kami membuat kesimpulan bahwa guru harus memiliki komitmen kemandirian, kebutuhan murid dan orang tua, situasi yang ada di lingkungan tempat tinggal murid. Penilaian keberhasilan pembelajaran yang kita lakukan dapat diperoleh dari hasil refleksi, maka guru merdeka belajar harus berani meminta refleksi dari murid. Menilai antar teman guru dan menilai diri sendiri secara objektif juga penting dilakukan.  Terima kasih Kampus guru cikal yang telah menggerakkan para guru se-nusantara untuk menjadi guru pembelajar sepanjang hayat. Salam Guru Merdeka Belajar, Salam panjang umur perjuangan.

Nobar Video Guru Merdeka Belajar Najelaa Shihab

Saya menghadiri TPD yang mengadakan acara Nonton Bareng Video Guru Merdeka Belajar Najelaa Shihab, yang bertempat di aula Dinas Pendidikan Kabupaten Sijunjung. TPD tersebut berlangsung dari pukul 10.00 – 12.00 dan dihadiri oleh lebih kurang 15 peserta yang terdiri dari guru-guru yang mengajar di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, dan SMK. Kegiatan ini dimoderatori oleh ibu Novi Edmawati selaku ketua KGB Sijunjung dan dipandu oleh dua guru penggerak KGB Sijunjung, yaitu ibu Desy Delarosa selaku narasumber untuk topik Merdeka Belajar dan ibu Sri Hastuti selaku narasumber untuk topik Miskonsepsi Belajar. Tahun 2020 menorehkan sejarah baru bagi dunia. Munculnya virus Corona ( Covid-19 ) membuat perubahan yang sangat besar dalam tatanan kehidupan masyarakat. Sebagai seorang guru, saya sangat merasakan efek dari hadirnya virus ini. Mulai dari diliburkannya sekolah sampai pada pengenalan pembelajaran dengan metode daring, yang sepertinya akan terus digunakan sesuai kondisi zaman saat ini. Tetapi, salah satu kejadian yang sangat berkesan bagi saya selama masa pamdemi ini adalah untuk pertama kalinya saya kenal dengan KGB Sijunjung. Dan semua itu bermula saat saya ikut ambil bagian dalam pembuatan RPP PJJ yang diadakan oleh KGBN dan KGC. Ini adalah TPD pertama yang diadakan setelah hampir 4 bulan diberlakukannya PSBB di kabupaten Sijunjung dengan tetap mematuhi protokoler kesehatan. Kegiatan ini diawali pembukaan oleh ketua KGB dan dilanjutkan dengan menggenalkan diri masing masing peserta sambil sedikit menceritakan awal bergabung dengan KGB. Banyak sekali cerita-cerita inspiratif yang mengalir dalam waktu yang sesingkat itu. Kegiatan selanjutnya adalah nonton bareng video Guru Merdeka Belajar. Semua guru yang hadir, khususnya guru guru yang baru bergabung dalam KGB sangat fokus dalam memperhatikan setiap slide dan penjelasan Merdeka Belajar dari ibu Najelaa Shihab pada video tersebut. “ Yang kita inginkan adalah anak-anak yang punya aspirasi tinggi, yang punya cita cita melampaui langit, sebetulnya. Melampaui batas kelas, melapaui batas dunianya. Dan ini hanya akan terjadi pada saat anak-anak memiliki kemerdekaan belajar. Dan kemerdekaan murid-murid hanya akan terjadi pada saat kita sebagai pendidik juga memiliki kemerdekaan.“. “Apakah Ibu dan Bapak Guru merasa merdeka?”.  Pernyataan dan pertanyaan yang diucapkan oleh ibu Najelaa Shihab pada menit menit awal video membuat saya tersentak. “Dalam Komunitas Guru Belajar, kita percaya pendidik yang merdeka itu punya komitmen, memiliki kemandirian dan selalu refleksi. Dan ini susahnya minta ampun.” Lanjut beliau. Setelah itu dilanjutkan dengan penjelasan beliau mengenai “Miskonsepsi Belajar” yang terasa menjadi teguran bagi para guru yang menonton pada saat itu. Setelah menonton video tersebut, saya menjadi tersadar bahwa selama ini saya belum merdeka. Padahal guru yang merdeka belajarlah yang sangat dibutuhkan oleh murid murid untuk bisa merdeka belajar juga. Begitu juga dengan Miskonsepsi Belajar yang saya lakukan selama menjadi guru. Pada sesi diskusi, ibu Sri Hastuti menjelaskan bahwa banyak pendidik yang melakukan Miskonsepsi Belajar. Hanya mau belajar bila ada insentif, hanya mau belajar dari para ahli saja, Belajar cukup terbatas “How to”, belajar diburu target yang dipaksakan, Kompetensi bersifat individual. Miskonsepsi yang paling sering saya lakukan adalah Belajar diburu target yang dipaksakan. Bahkan dalam mengajarpun yang lebih saya dulukan adalah mengejar target untuk menyelesaikan semua KD dalam pelajaran saya. Tanpa mempertimbangkan apakah murid nyaman atau tidak. Para guru yang lain pun turut menyampaikan miskonsepsi belajar yang sering mereka lakukan. Misalnya ibu Hilda, salah satu guru yang baru bergabung di KGB, menyampaikan bahwa miskonsepsi yang beliau lakukan adalah Belajar hanya dari ahli saja. Menurut beliau ada kebanggaan bila menghadiri pelatihan yang narasumbernya seorang professor dari universitas terkenal. Dan akhirnya beliau menyadari bahwa narasumber terbaik justru adalah guru guru di sekitar kita yang belajar dari banyak kegagalan sebelum akhirnya berhasil. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Saya sangat bersyukur dan bahagia, dipertemukan dengan komunitas ini. Dipertemukan dengan gurur-guru penggerak yang sangat luar biasa dan menginspirasi. Guru-guru penggerak yang merubah cara pandang saya melihat murid, melihat proses belajar, dan yang bersedia membagi praktik baik pengajaran. Masa pandemic ini membawa berkah tersendiri bagi saya. Saya akan berusaha keras untuk mematahkan miskonsepsi yang selama ini saya lakukan. Saya bertekad untuk menjadi guru yang merdeka belajar. Dan saya yakin, KGB ini adalah wadah yang tepat untuk mewujudkan hal tersebut. Saya akan turut memberikan kontribusi bagi komunitas ini karena disini kompetensi tidak bersifat individual. Kita akan sama-sama belajar, saling berbagi ilmu, sama sama menjadi guru yang memerdekakan murid-murid. Teruslah bergerak bagi pendidikan, Komunitas Guru Belajar Indonesia!! Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk ikuti pelatihan Guru Merdeka Belajar

Merdeka Belajar, Tak Sesempit Arti Bebas

Pada hari Senin, 27 Mei 2019 yang bertepatan dengan 22 Ramadhan 1440, Komunitas Guru Belajar Solo Raya mengadakan acara Temu Pendidik Sekolah yang bertempat di MIM PK Kateguhan Boyolali. Sesi terakhir dari rangkaian acara Komunitas Guru Belajar yang bekerja sama dengan Guru-guru MIM PK Kateguhan Boyolali adalah nobar. Nonton bareng cuplikan video Najelaa Shihab (Bu Elaa) yang menjelaskan terkait “Merdeka Belajar” dalam acara Temu Pendidik Nusantara pada tahun 2016.  Acara ini dipandu oleh Kak Una, selaku anggota dari KGB Solo Raya. Kemudian sebelum video diputar ada beberapa untaian kata dari Bu Heni selaku Penggerak dari KGB Solo Raya, beliau mengatakan bahwa adanya Komunitas Guru Belajar ini sebagai wadah untuk menampung segala ide praktek belajar, tempat berbagi materi cerdas mengajar kepada guru-guru dari berbagai media. Bu Elaa dalam video tersebut menjelaskan bahwa sebagian besar anak Indonesia itu dunianya hanya sebatas ruang kelasnya, mimpinya hanya sebatas tingginya tangan untuk menjawab pertanyaan gurunya, yang kita inginkan adalah anak-anak yang mempunyai aspirasi tinggi, memiliki cita-cita yang melampaui langit, menembus batas, melampaui dunianya dan ini hanya terjadi pada saat anak-anak memiliki kemerdekaan belajar, tapi kemerdekaan belajar murid-murid hanya akan terjadi pada saat kita semua sebagai pendidik juga sebetulnya memiliki kemerderkaan. Dan kita sangat percaya bahwa proses kemerdekaan itu sebetulnya bukan sesuatu yang diberikan tapi sesuatu yang kita gerakkan dan harus diperjuangkan. Sebagai pendidik yang merdeka belajar adalah harus memiliki komitmen, memiliki kemandirian dan selalu reflektif. Pada saat kita berbicara tentang komitmen kita sebetulnya berbicara tentang komitmen terhadap tujuan, tapi semua dari kita yang setiap hari bergerak pasti dia tahu betapa susahnya untuk bisa konsisten terhadap tujuan. Tantangan utamanya adalah membedakan cara dengan tujuan, kita terjebak pada tugas-tugasadministratif, ketentuan-ketentuan birokrasi sehingga ujian, akreditasi, seleksi, nilai, yang sebetulnya semua hanya cara kemudian menjadi tujuan dan menjadi prioritas utama. Selanjutnya terkait kemandirian, kemandirian juga sulit, karena sebetulnya pada saat ketika kita melihat proses kemandirian pada tingkatan-tingkatannya itu banyak sekali. seperti manipulasi, kesadaran, interaksi/dialog, masukan/konsultasi, kemitraaan, pemberdayaan, Kenyataan dilapangan dalam upaya pengembangan guru yang penuh dengan manipulasi, banyak ketentuan, sebagian dari kita mungkin berhenti pada tingkatan ketiga yaitu menjadi teman konsultasi atau memberikan masukan, tapi masih jauh perjalanannya untuk sampai berdaya dan memegang kendali atas proses belajar kita sendiri. Kemudian hal yang menjadi bagian dari pendidik yang merdeka belajar adalah kemampuan untuk refleksi, refleksi ini mudah dikatakan tapi sulit sekali dilakukan, sebagian dari kita cenderung menutup mata menolak untuk melihat cermin dengan seribu satu alasan. Kita bilang masyarakat belum faham, kita bilang anak-anak tidak mengerti, kita bilang orang tua akan menentang, padahal itu sebetulnya alasan dari ketakutan diri kita sendiri untuk menuju  perubahan. Kita itu sedang melawan miskonsepsi, melawan miskonsepsi tentang guru belajar. Banyak yang bilang guru itu mau belajar kalau ada insentifnya, guru mau belajar kalau mendapatkan sertifikat atau uang, seharusnyaadalah guru-guru yang belajar berdasarkan kebutuhan alamiah. Banyak juga yang bilang bahwa guru itu hanya bisa belajar dari yang ahli,  dari pakar pendidikan, di temu pendidik ini kita buktikan bahwa guru itupaling belajar efektif dari sesama guru. Guru itu tidak perlu figur sempurna yang serba ahli, guru itu perlu figur yang realistis, yang belajar, mempraktekan apa yang dia pelajari, yang belajar banyak sekali kegagalan sebelum akhirnya berhasil. Guru profesional itu sebenarnya guru yang adaptif, kita yang ketemu anak setiap hari pasti tahu betapa pentingnya peran guru yang adaptif, setiap tahun ajaran, setiap pekan bahkan setiap hari, setiap murid kita butuh hal yang berbeda dari kita, sehingga tahu kenapa menjadi sangat esensial. Kita melawan target-target belajar yang diburu-buru dan dipaksakan, guru belajar itu butuh waktu. Pendidikan itu tidak pernah kekurangan inovasi, banyak sekali inovasi yang terjadi setiap saat, yang selalu kita katakan adalah guru butuh waktu, butuh waktu untuk memahami inovasi, butuh waktu untuk memiliki inovasi, butuh waktu untuk membuktikan apakah inovasi itu sesuatu yang sesuai atau sesuatu yang tidak bisa dipakai. Kita juga membuktikan bahwa kompetensi itu bukan soal individu, perlu kita sadari bahwa guru adalah kunci dalam pendidikan itu tidak cukup, tapi guru yang merdeka belajar adalah kunci. Karena pada saat orang bicara guru adalah kunci, sebetulnya yang sering ada dalam bayangannya adalah ini pabrik, gurunya input sehingga dia menjadi kunci terhadap sebuah output yang dihasilkan murid-murid kita, tapi pada saat kita bicara guru yang merdeka belajar adalah kunci maka kita yakin bahwa kompetensi itu bukan kompetensi individual. Kompetensi itu adalah potensi individu yang didukung oleh ekosistem yang baik, tidak ada guru yang bisa belajar sendirian, tidak ada guru yang bisa kompeten sendirian dan tidak ada guru yang bisa merdeka belajar sendirian. Setelah nonton bareng Kak Una selaku pemandu acara ini, kemudian mengajak para guru untuk merefleksikan terkait video merdeka belajar yang dipadukan dengan pengalaman praktek dilapangan. Pada acara itu, yang pertama memberikan ulasan adalah Bu Erma, beliau mengatakan: “Pertama, kami ucapkan terima kasih sekali kepada komunitas guru belajar solo raya, yang telah berkenan dan membagi ilmunya di sekolah kami. Alhamdulillah sudah membuka mindset kami semua, bahwa belajar yang sesungguhnya adalah yang seperti itu, kita bisa merasakan merdeka, dalam keadaan yang tak terbatasi dengan kelas, dengan kurikulum dsb. Namun, di lapangan kita masih sering terjebak dengan hal itu. Sebenarnya, jika sesi ini bisa dilanjutkan lagi, kami ingin lebih fokus; misalnya inspirasi mengelola kelas, untuk memanajemen peserta didik dan menelurkan materi-materi dalam media-media yang menarik, karena bapak-ibu guru yang ada di kelas atau sekolah tingkat dasar ini sangat memerlukan sekali. Supaya guru dan murid bisa belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar. Kami harap pertemuan yang singkat ini, bisa berlanjut ketahapan selanjutnya secara off-air atau on-air, offline ataupun online.” Kemudian dilanjutkan oleh Bu Narni, beliau mengatakan:“Senang sekali, siang ini bisa menikmati salah satu figur tentang Kampus Guru Cikal. Beberapakali di sosial media saya pernah melihat ada teman yang ikut juga, cuma saya tidak terlalu mengikuti lebih mendalam. Ternyata, sebuah komunitas yang menarik, gimana dengan tajuknya ‘merdeka belajar’. Ketika melihat kondisi kelas yang sekarang, mulai murid masuk kelas duduk, ya sepertinya belum merdeka belajar ya Bu.. sama yang diungkapkan oleh Ibu Kepala tadi, maka tantangannya kalau ingin merdeka belajar itu, gimana caranya jika dilihat sendiri misalnya sekolah formal kecuali memang mereka yang home schooling atau mereka yang melaksakan … Read more