Motivasi Guru Penggerak Merdeka Belajar, Berani Berubah Meskipun Tertatih-Tatih

Ketika pandemi melanda beberapa waktu yang lalu, bapak dan ibu guru pasti merasakan dan mengalami untuk beradaptasi dengan perubahan kebiasaan tersebut tampak jelas terasa karena pada saat kondisi normal, belajar menggunakan sistem tatap muka (luring), lalu berubah menjadi pembelajaran jarak jauh (daring) yang dijalankan sekolah. Oleh karena itu, apakah bapak dan ibu guru pernah merasa bingung, galau, dan tidak mengetahui harus memulai dari mana saat pembelajaran secara daring dilakukan? Untuk lebih jelasnya, mari kita dengarkan cerita inspirasi guru penggerak merdeka belajar yaitu Ibu Theresia A. T. Astuti yang mengajar di TK Yos Sudarso Bandung, dan beliau juga merupakan anggota Komunitas Guru Belajar Bandung. Pandemi Covid-19 adalah awal cerita inspirasi Ibu Tere ini dimulai. Pada Tahun Pelajaran 2020/2021, Ibu Tere mendapat tugas baru, diberi kepercayaan untuk memimpin TK Yos Sudarso Bandung. Ini merupakan pengalaman pertama beliau untuk pindah tugas setelah selama 16 tahun menjadi guru di tempat yang sama, atau berada di zona nyaman beliau.  Tempat baru, suasana baru, rekan kerja baru, dan beban tugas baru yang belum pernah terbayang sebelumnya harus Ibu Tere hadapi. Banyak cerita negatif yang beliau dengar tentang sekolah ini. Seketika Ibu Tere merasa ciut, ragu, minder, dan tidak percaya diri. “Apakah saya sanggup melakukan perubahan?”, ujar Ibu Tere dalam hati. Lantas, beliau dan dua rekan guru pun memutuskan untuk melakukan perubahan. Awalnya beliau memiliki perasaan yang sama dengan bapak dan ibu guru kebanyakan, beliau merasa bingung, galau, dan tidak mengetahui harus memulai dari mana saat pembelajaran secara daring wajib dilaksanakan. Baca juga: Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan Pembelajaran pun dimulai. Para guru melakukan tugasnya, melayani murid secara daring. Pembelajaran saat normal ditransfer menjadi daring. Tidak ada yang berbeda. Para guru melakukan pembelajaran dengan menggunakan aplikasi WhatsApp. Pembelajaran berfokus pada materi dan tema. Berbagai saran dan masukan coba Ibu Tere berikan agar pembelajaran tidak monoton. Namun, berbagai alasan dilontarkan para guru. Mereka berdalih adanya keterbatasan sarana, baik pihak guru maupun murid, serta keterbatasan penguasaan teknologi. Dan lebih kurang tiga bulan pembelajaran model ini dilakukan. Menurut Ibu Tere, pembelajaran terasa hambar, interaksi terbatas, satu arah, dan inisiatif serta instruksi selalu dari guru. Ibu Tere menyaksikan, setiap hari para guru melakukan komunikasi dengan orang tua murid melalui telepon atau video call untuk menjalin kedekatan. Namun, relasi yang harmonis belum tampak. Para guru mulai lelah dan mengeluh. Mereka merasa respons yang terlalu biasa, baik dari orang tua maupun murid. Ibu Tere mengungkapkan jika beliau dan mayoritas guru lainnya di sekolahan tersebut adalah guru senior. Tepatnya guru jadul yang belum terbuka dan paham banyak penggunaan teknologi, sehingga dalam melakukan pembelajaran hanya mengedepankan rasa, insting, dan pengalaman. Saat briefing pagi ataupun pertemuan, Ibu Tere berulang kali memberi masukan kepada rekan guru agar melakukan perubahan. Beliau mencoba mengajak mereka lebih terbuka, berani mencoba hal baru. Setelah sekian lama, akhirnya muncul juga keinginan salah satu guru untuk melakukan perbaikan pembelajaran. Dia mengajak guru lain mempelajari berbagai aplikasi pembelajaran berbasis teknologi sebagai variasi dalam pembelajaran daring. Tujuannya agar murid dapat lebih antusias. Awalnya, tampak gurat keraguan dalam diri guru yang diajak belajar. Mereka terpaksa saat belajar bersama. Lewat pendekatan secara pribadi, akhirnya terwujud juga kegiatan belajar bersama. Berbagai cara dan variasi pembelajaran mulai dipelajari. Ibu Tere mendukung dan mendampingi para guru, turut belajar dan mengembangkan diri. Beliau merasa jika belajar dari siapa pun dan dari mana pun. Terutama tentang penggunaan aplikasi yang dapat digunakan supaya pembelajaran lebih menarik. Para guru memerlukan waktu lama untuk memahami pengetahuan baru. Namun, di sini Ibu Tere melihat semangat mereka, keinginan kuat untuk terus belajar, mencoba, dan mempraktikkan pengetahuan maupun keterampilan baru yang berhubungan dengan teknologi. Guru saling belajar, berbagi pengetahuan dan praktik baik, menguatkan, dan membantu. Bahkan, persiapan pembelajaran dilakukan secara bersama-sama. Sedikit demi sedikit pembelajaran mulai bervariasi. Berbagai aplikasi dipraktikkan dalam pembelajaran. Namun, Ibu Tere merasa masih ada yang kurang dan masih terasa hambar. Peran guru masih sangat dominan di sini. Mereka belum konsisten melakukan perubahan pembelajaran, masih mengadopsi cara dan pola lama. Pada pertengahan Oktober 2020, melalui platform Sekolah.mu, Ibu Tere berkenalan dengan Merdeka Belajar. Kemudian, beliau sering mendengar istilah tersebut. Namun saat itu, Ibu Tere belum memahami maknanya. Akhirnya, beliau mengikuti program Sekolah Lawan Corona. Ibu Tere dan para guru pun belajar bersama. Dari program ini akhirnya beliau menyadari bahwa pembelajaran yang selama ini, pelayanan yang kami berikan, masih mengalami miskonsepsi. Bersama para guru, Ibu Tere belajar membuat persiapan pembelajaran dengan mengedepankan prinsip 5M, belajar membuat dan menggunakan kanvas RPP yang diawali dengan melakukan pemetaan profil murid. Pembelajaran di Sekolah Lawan Corona sudah beliau tuntaskan. Ibu Tere yakin, banyak hal, informasi, dan ilmu baru yang guru dapatkan. Namun, pengimbasan ataupun dampaknya dalam pembelajaran belum terasa. Belum tampak perubahan yang signifikan. Padahal, pengetahuan, keterampilan, dan semangat sudah ada dalam diri para guru. Lantas, Ibu Tere tertantang mencari akar masalahnya. Rasa penasaran dan keinginan kuat menuntun beliau mencari informasi, belajar dari berbagai sumber. Faktor ini menjadi pemicu beliau untuk mengikuti beberapa program di Sekolah.mu, beliau mengharapkan jika ini dapat membantunya melakukan tugas sebagai pemimpin. Ibu Tere mengikuti program Guru Merdeka Belajar dari Kampus Guru Cikal, berdampingan dengan program Menjadi Pemimpin Merdeka Belajar dari Sekolah Merdeka Belajar. Kemudian, teori dan tips sebagai pemimpin merdeka belajar sudah beliau dapatkan. Ternyata masih ada miskonsepsi yang beliau lakukan dalam melakukan percakapan dan pengamatan sebagai pemimpin merdeka belajar. Dalam melakukan percakapan, Ibu Tere merasa perlu fokus dan selalu mengarahkan kepada tujuan. Percakapan beliau lakukan dengan lebih santai. Ibu Tere duduk bersama sambil menyelesaikan pekerjaan atau membuat persiapan pembelajaran bersama. Setelah melakukan obrolan dan percakapan dengan guru, beliau merasa ada yang kurang, “Gregetnya belum ada”. Hal ini terutama bila mendengar keluhan atau curhatan guru tentang murid yang dinilai terlalu berinisiatif. Misalnya sudah mengerjakan pekerjaan atau tugas yang seharusnya belum dikerjakan atau belum diperintahkan. Sebagai pemimpin, Ibu Tere mengingatkan mereka melalui percakapan untuk melakukan pembelajaran yang berpihak kepada murid. Beliau mengajak mereka melihat sisi positifnya: murid itu kreatif. Dengan demikian, perlu kreativitas guru dalam merancang pembelajaran dengan memaksimalkan pemanfaatan fasilitas dan penugasan yang berdiferensiasi. Ibu Tere merasa saat ini rekan-rekan guru sudah memahami bahwa pembelajaran harus fokus kepada kebutuhan anak, memaksimalkan pemanfaatan fasilitas yang … Read more

Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan

“Memaknai Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan, oleh karena itu sebagai seorang guru, maka akan menghadapi banyak sekali tuntutan yang saling bersaing, tetapi untuk setiap tantangan yang bapak dan ibu guru hadapi, ada imbalan yang setara atau lebih besar. Saat bapak dan ibu guru memasuki profesi yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi kehidupan orang lain, bapak dan ibu guru juga mengambil bagian dalam karier yang penuh makna.” Profesi sebagai seorang guru bisa dikatakan adalah garda paling penting dari kehidupan masyarakat kita. Guru mendukung murid menentukan tujuan, memfasilitasi murid memperoleh kompetensi untuk sukses sebagai warga dunia kita, dan mengilhami mereka dorongan untuk berbuat baik dan sukses dalam hidup. Murid-murid hari ini adalah pemimpin masa depan, dan peran guru adalah titik kritis yang membuat murid siap untuk masa depan mereka.  “Menjadi seorang guru tidak akan membuat siapapun menjadi kaya—namun ini adalah salah satu karier paling berharga di dunia ini. Seorang guru dapat memiliki dampak besar pada kehidupan seorang murid, dan melihat seorang murid berkembang dan tumbuh adalah sesuatu yang membawa sukacita besar bagi seorang guru.” Ketika berbicara dengan semua guru yang ada, maka hanya sedikit yang akan memberi tahu  bahwa menjadi guru adalah sesuatu yang mereka sesali lakukan, bahkan hampir tidak ada. Alasan umum dari semua itu adalah bahwa mereka menemukan kepuasan menjadi seorang guru dalam mempengaruhi murid dan membantu mereka dalam membentuk masa depan. Meskipun mungkin tidak sama untuk setiap pendidik, akan selalu ada alasan bagus untuk menjadi satu. Oleh karena itu dalam tulisan kali ini kita akan membahas tentang “Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan”. Baca Juga: Guru Merdeka Belajar, Cukupkah Jadi Pendidik? Atau Perlu Jadi Penggerak? Menjadi Guru itu Penting Murid-murid membawa apa yang dipelajari kepada mereka di usia muda ke sepanjang hidup mereka. Mereka akan menggunakan apa yang telah mereka pelajari untuk mempengaruhi masyarakat. Bapak dan ibu guru mungkin mengetahui juga bahwa generasi muda hari ini akan menjadi pemimpin masa depan, dan para guru memiliki akses untuk mendidik generasi muda di tahun-tahun mereka yang paling berkesan — baik itu dalam mengajar prasekolah, mengajar ekstrakurikuler, olahraga, atau kelas konvensional. Guru memiliki kemampuan untuk membentuk pemimpin masa depan dengan cara terbaik bagi masyarakat untuk membangun generasi masa depan yang positif dan menginspirasi dan oleh karena itu merancang masyarakat, baik dalam skala lokal maupun global. Dan faktanya, guru memiliki pekerjaan paling penting di dunia. Peran bapak dan ibu guru saat ini yang berdampak pada anak-anak masyarakat memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan. Bukan hanya untuk anak-anak itu sendiri, tetapi untuk kehidupan banyak orang. Peran Seorang Guru Membawa Perubahan dalam Kehidupan Murid Percayalah peran seorang guru ternyata memberi perubahan dalam kehidupan murid. Peran guru menjadi berpengaruh dalam kehidupan murid, menginspirasi dan memotivasi mereka untuk mencapai potensi mereka. Suatu hari nanti mungkin murid bapak dan ibu akan menjadi pemenang penghargaan Nobel, pebisnis terkemuka, pemimpin hebat, perdana menteri dan seniman terkenal atau individu yang berpengetahuan luas dengan cinta untuk belajar. Bukan hanya karena itu adalah profesi yang mulia, tetapi menjadi seorang guru juga memungkinkan bapak dan ibu untuk terus berkreasi dan menjadi lebih baik secara profesional. Peran guru saat ini memiliki banyak kesempatan di tangan mereka untuk menjadi kreatif dan menggunakan semua metode yang mungkin untuk membuat lingkungan belajar yang optimal bagi murid. Lalu, guru dapat bertindak sebagai sistem pendukung yang kurang di tempat lain dalam kehidupan murid. Dan menjadi seorang guru pasti akan menjadi panutan dan inspirasi murid untuk melangkah lebih jauh dan bermimpi lebih besar. Dengan menjadi seorang guru dan penggerak di bidang pendidikan, maka bapak dan ibu akan memberi manfaat bagi murid terlebih masyarakat secara keseluruhan. Kesan yang bapak dan ibu buat pada murid di kelas akan terus berlanjut ke generasi berikutnya. Ini adalah keistimewaan karir menjadi seorang guru, yang mana bapak dan ibu memiliki kesempatan untuk membawa sebuah perubahan bagi generasi kehidupan. Peran Seorang Guru sebagai Pembelajar Sepanjang Hayat Pendidikan telah banyak berubah mengikuti perkembangan zaman ini. Saat ini pendidikan lebih interaktif dengan intrusi media digital. Penerapan teknologi kini seperti kecerdasan buatan, augmented reality membuka dimensi baru dalam pendidikan. Namun, ada peran besar bapak dan ibu guru yang tetap berjalan hingga saat ini dan tidak bisa tergantikan. Sebagai seorang guru, bapak dan ibu harus mengeluarkan yang terbaik dalam diri murid dan menginspirasi mereka untuk berjuang demi kebesaran. Murid dianggap sebagai masa depan bangsa dan umat manusia, dan peran bapak dan ibu guru diyakini sebagai pemandu yang kredibel untuk kemajuan mereka.. Guru dapat melihat kekuatan dan kelemahan setiap murid dan dapat memberikan bantuan dan bimbingan untuk mempercepat atau mendorong mereka lebih tinggi. Sebagai seorang guru tidak hanya membimbing murid dalam bidang akademik atau kegiatan ekstrakurikuler, tetapi guru juga bertanggung jawab untuk mendukung masa depan murid, menjadikannya manusia yang lebih baik. Seorang guru menanamkan pengetahuan, nilai-nilai baik, tradisi, tantangan zaman modern dan cara-cara untuk menyelesaikannya dalam diri murid.  Bapak dan ibu guru juga menjadi sumber inspirasi dan motivasi. Guru menginspirasi murid untuk melakukannya dengan baik, dan memotivasi mereka untuk bekerja keras dan menjaga tujuan akademik mereka tetap pada jalurnya. Menjadi seorang guru sebagai pembelajar sepanjang hayat memungkinkan bapak dan ibu guru untuk terus belajar dan berkembang dalam pengetahuan. Perang Seorang Guru sebagai Penggerak Pendidikan Pengetahuan dan pendidikan merupakan dasar dari segala sesuatu yang dapat dicapai dalam kehidupan. Guru memberikan kekuatan pendidikan kepada generasi muda saat ini, sehingga memberi mereka kemungkinan untuk masa depan yang lebih baik. Pola pikir guru sebagai penggerak pendidikan ialah memperlakukan kesalahan dan tantangan sebagai bagian dari proses belajar. Bapak dan ibu guru diminta untuk tidak melihat kesalahan sebagai kegagalan. Kesalahan memberi murid sebuah pengalaman atau informasi baru yang dapat mereka gunakan saat mereka terus menemukan cara untuk memecahkan masalah atau tantangan. Guru juga tidak pernah tahu jenis pertanyaan apa yang akan diajukan oleh murid. Sebagai penggerak Pendidikan, guru menjadikan belajar sebagai kebiasaan rutin untuk beradaptasi dengan perubahan dan tindakan murid. Dedikasi dalam Peran Seorang Guru Salah satu bagian terpenting dalam peran seorang guru adalah memiliki dedikasi. Bapak dan ibu guru mungkin merasakan jika peran guru tidak hanya mendengarkan, tetapi juga melatih dan membimbing murid. Guru mampu membantu membentuk tujuan akademik dan berdedikasi untuk membuat murid  mencapainya. Bapak dan ibu guru memiliki … Read more

Nobar Guru Belajar Lamongan

Nonton bareng atau umumnya dikenal dengan istilah nobar, apakah nonton bareng itu? Nobar sejenis kegiatan menyaksikan suatu pertunjukan yang bisa jadi menarik ataupun tidak menarik, bergantung dari bagaimana kita menikmatinya. Nobar ala kami di Komunitas Guru Belajar Lamongan adalah menyaksikan video tentang Merdeka Belajar oleh Ibu Najelaa Shihab. Nobar yang kami selenggarakan tidak seperti biasanya, karena di tengah pandemi Covid-19 maka kegiatan tersebut kami laksanakan secara virtual.  Meskipun demikian saya tetap siap mengadakan nobar dan siap menjadi penggerak komunitas guru belajar. Nobar yang kami selenggarakan di MI Ma’arif NU Sunan Drajat Lamongan baru yang pertama kalinya, tapi kami cukup senang karena antusias teman-teman guru sangat luar bisa. Sehingga pesertanya mecapai kurang lebih limapuluh orang.  Saya, Azmil Futihatur Rizqiyyah, dari MI Ma’arif NU Sunan Drajat Lamongan. Pada hari Kamis, tepatnya tanggal 29 Juli 2021, jam 10.00, saya mengadakan nobar guru merdeka belajar bersama teman-teman penggerak KGB Lamongan. Kegiatan ini diawali dengan sosialisasi KGB dan dilanjutkan nobar. Kami mengadakan nobar, bertujuan untuk mensosialisasikan Komunitas Guru Belajar, agar kita sebagai pendidik maupun praktisi pendidikan mempunyai semangat yang lebih untuk terus belajar. Belajar bagaimana memahami pendidikan yang terus menerus berubah seiring perkembangan zaman dan perkembangan teknologi. Sebagai guru pada khususnya, kegiatan guru belajar di Lamongan masih jarang sekali peminatnya, kalaupun ada tentu kami berasal dari berbagai daerah yang menyebar di kabupaten Lamongan. Acara dipandu oleh saudari Sri Ida Mulyani yang menghantarkan acara menjadi lebih semarak. Acara diawali dengan sosialisasi dan sharing pengenalan KGB oleh Bu Anis Choirun Niswah selaku ketua KGB Lamongan. “Terimaksih atas partisipasi dari guru-guru di MI Sunan Drajat yang antusias dalam mengikuti kegiatan ini, semoga bisa bergerak dan menjadikan kualitas pembelajaran lebih baik”, ungkap beliau.  Bu Ida sapaan dari penggerak yang satu ini mengatakan bahwa nobar adalah suatu kegiatan nonton bareng sebagai syarat menjadi penggerak guru belajar. Tidak sulit sebenarnya menjadi penggerak, yang penting mau belajar dan bersama-sama belajar.  Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Acara kedua yaitu sosialisasi praktik baik oleh Pak Alif Zulfikar dari KGB Lamongan. Beliau menceritakan bagaimana nyamannya belajar di grup guru belajar. Bagaimana mengikuti diklat gratis yang hampir setiap hari dan bagaimana mengikuti diklat online jarak jauh. Meskipun jarak jauh, ilmu yang didapatkan tetap dengan kualitas terbaik, hal ini dikarenakan para tentor yang ilmunya tak pelit untuk dibagi-bagi dengan tujuan semuanya mendapatkan manfaat terbaik. “Setelah mengikuti nobar ini mengatakan bahwa garis besar dari komunitas ini adalah menyadarkan guru akan tugas utamanya, kemudian adanya momen-momen seperti KGB ini sangat baik untuk guru-guru karena bisa sharing dan hearing, berdiskusi, berbagi cerita, berbagi solusi, menambah tali silaturrahim demi terlaksananya pendidikan yang lebih baik”. Demikian menurut Pak Alif. Ust. Ubaidillah (guru MI Sunan Drajat) secara virtual pun mengutarakan kesenangannya mengikuti kegiatan nobar ini. “Dengan mengikuti kegiatan nobar guru belajar, saya bisa mendapatkan pengetahuan baru tentang dunia kependidikan berdasarkan kebutuhan siswa, metode dan cara mengajar yang baik bagi siswa, serta teknik belajar yang benar.  Sebaik apapun persiapan yang kami lakukan tetap saja kendala teknis terjadi yaitu koneksi sinyal yang tidak begitu baik, sehingga kegiatan kami kurang bisa berjalan maksimal. Meskipun demikian keinginan untuk melakukan kegiatan nobar kembali selalui ada, semoga pandemi segera berakhir dan bisa melaksanakan kegiatan secara tatap muka agar lebih maksimal. Karena kita sebagai guru harus memaksa diri untuk belajar agar dapat memenuhi kebutuhan murid belajar. (Azmil F. Rizqiyyah, KGB Lamongan)

Teknik Jitu Pemimpin Sekolah Menggerakkan Sekolah/Madrasah dengan Coaching

“Tantangan mengajak guru untuk berubah itu ketika guru merasa mereka digurui”.  Kalimat diatas merupakan bentuk kegelisahan yang dialami oleh salah satu pimpinan sekolah/madrasah yaitu Ibu Emi Hardyanti. Memberdayakan para pendidik merupakan tantangan bagi sebagian Pemimpin Merdeka Belajar. Hal ini ternyata tidak hanya dialami oleh Ibu Emi saja, sebagian para pemimpin sekolah/madrasah melalui curhatannya mereka ternyata juga memiliki keresahan yang sama: “Tantangan mengajak para guru untuk keluar dari zona nyaman agar mau belajar tentang hal-hal baru.” oleh Bunda Pelangi “Penuh tantangan membudayakan hal baru ke guru-guru untuk melangkah lebih merdeka belajar” oleh Ibu Dias Fujihara  “Adakah cara jitu atau suntikan imun agar hal baru yang mau kita sampaikan tidak menjadi bumerang bagi kita sendiri?” oleh Rumah Tahfidz QC Canggu Management  USAA Baca Juga: Tantangan Kepemimpinan pada Perjalanan Tahun Kelima Kegelisahan-kegelisahan diatas disampaikan oleh Bapak Ibu Pemimpin dimana mereka mendorong para pendidik untuk melakukan inovasi pembelajaran di kelas termasuk diharapkan para pendidik mampu menyelesaikan masalah tanpa menunggu dari  atasan.  Nah, oleh karena kegelisahan-kegelisahan tersebut menarik untuk didiskusikan lebih lanjut oleh Pak Theo dan Pak Rudi tentang bagaimana cara jitu Bapak Ibu Pemimpin menggunakan teknik coaching secara efektif pada sekolah/madrasah Bapak Ibu! Untuk dapat memahami topik ini, Bapak Ibu Pemimpin perlu mengetahui terlebih dahulu pengertian apa itu coaching. Berdasarkan International Coaching Federation atau disingkat dengan ICF yang dipaparkan oleh Pak Rudi, coaching didefisinisikan sebagai berikut:  “Coaching is partnering with client is a thought provoking creative process that inspiring them to maximize personal and professional potential”  Sederhananya, coaching itu dilakukan melalui percakapan menginspirasi dan menggugah untuk memaksimalkan potensi seseorang yaitu potensi baik secara personal maupun profesional.  Dimulai dari filosofinya sendiri bahwa teknik coaching tersebut mempercayai keberadaan human potential artinya setiap manusia memiliki potensi untuk bisa mengembangkan dirinya dan mampu menyelesaikan yang dihadapinya.  Atas penjelasan tersebut, Pak Theo penasaran dengan alasan penggunaan kata ”Provocate” = provokasi dimana kata tersebut menggelitik Pak Theo karena biasanya bermakna konotasi negatif. Alasan Pak Rudi menterjemahkan “Provocate” ke terjemahan bahasa Indonesia menjadi “Provokasi” karena kata yang digunakan “provokasi” tersebut mampu menjelaskan maksud dalam proses coaching itu biasanya si cochee hanya mengenali pada permukaan (surface) saja. Melalui bantuan si coach tersebut akan menggali lebih untuk menentukan tujuan dan membangkitkan kesadaran diri (awareness) yang dibarengi dengan pergolakan batin melalui bentuk pertanyaan-pertanyaan yang mengena kepada setiap coachee (orang yang dicoaching). Teknik proses coaching yang dilakukan oleh si coach tersebut merupakan diskusi dua arah berupa bentuk pertanyaan bermakna (powerful questioning) dari si coach untuk mendengarkan respond para coachee dimana mereka menceritakan permasalahan dan keluhan mereka.  Selanjutnya setelah si coachee mampu menemukan penggalian awareness, realita potensi, peluang dan dukungan  di dalam dirinya, untuk meminimalisir kesalahan (failure) maka si coachee digali lebih dalam menganalisis tantangan, resiko, hambatan, kelebihan dan kekurangannya dimana adanya proses refleksi selama proses coaching tersebut. Agar membantu Bapak Ibu Pemimpin memahami teknik coaching, kita dapat membandingkan perbedaan teknik-teknik lainnya:  Mentoring and Training Coaching Transfer pengetahuan dan keahlian (Transfer knowledge and skills) dari seorang mentor/traineer kepada orang lain (client). Menggugah dan menggali pikiran terdalamnya tentang tujuan dan kesadaran (awareness) dari mendengar permasalahan yang dihadapi oleh coachee (client) untuk dapat mengatasinya sendiri. Design dirancang oleh mentor/traineer kepada client Design dirancang sendiri oleh si coachee dari hasil refleksinya Pelibatannya rendah (low engagement) dalam proses mentoring & training Pelibatannya tinggi (high engagement) dalam proses coaching dari coach kepada coachee Memperbaiki kejadian sebelumnya yang dilakukan Berpikir memperbaiki saat ini dan merancang masa yang akan datang untuk lebih baik Umpan balik (feedback) Umpan lanjut / umpan maju (feedforward) Selalu memberikan saran (advice) kepada client untuk memperbaiki kejadian sebelumnya Bertindak sebagai fasilitator/pemandu (facilitator), tidak selalu memberikan saran (advice) “wah tugasnya seperti ini, coba perbaiki pada bagian-bagian ini” “terima kasih ya Bapak/Ibu telah berusaha , nah dari sini apa yang bisa ditingkatkan” Teknik Coaching ini bisa jadi alat (tool) untuk mengembangkan satuan pendidikan baik sekolah dan madrasah Bapak Ibu. Pak Rudi sampaikan berdasarkan peninjauan dari Brian Emerson & Anne Loehr yang menulis buku “A Manager’s Guide To Coaching”, teknik coaching dipertimbangkan dalam pengembangan sumber daya manusia termasuk dalam aspek-aspek : Bakat (Aptitude) → kecakapan, kemampuan Sikap (Attitude) → Fokus, cara sikap, percaya diri Sarana Pendukung (Available resource) → peralatan dan waktu Dalam proses coaching ini terjadi dialog diskusi untuk menciptakan kesadaran (awareness), selama sesi tersebut si coachee dapat melakukan sendiri atau bersama dengan lain untuk berefleksi dan  mencari sumber ilmu agar mendapatkan kecakapan, misalnya. Selama proses coaching tersebut timbul frekuensi yang sama antara si coach dan si coachee. Nah, selanjutnya setelah dijelaskan tentang teknik coaching, pertanyaan menarik dari Ibu Ngatiningsih Ning tentang : “Bagaimana jika pemimpin sekolah sudah memberikan kemerdekaan untuk meningkatkan kreatifitas guru, menjadi coaching pada teman sejawat, agar guru tidak tergantung Kepsek tetapi guru masih merasa kurang enak pada senior?” Tanggapan dari Pak Rudi perihal pertanyaan tersebut : Apakah guru senior telah di coaching juga hingga menimbulkan perasan tidak enak dari guru junior? Seberapa jauh peluang dan tantangan yang digali untuk mengatasinya?  Jawabannya adalah bisa jadi semua itu karena hanya perasaan dan prasangka saja, sehingga penggalian yang mendalam untuk dilakukan dan meminimalisir kesalahan.  Semakin tertarik bukan, Bapak Ibu Pemimpin untuk melakukan perubahan kepada para guru dan tenaga pendidikannya di satuan pendidikannya? Yuk ikuti Program “Coaching Pengembangan Tim Merdeka Belajar” melalui tautan : . Program tersebut mendapatkan beasiswa sebesar 70% dengan kode voucher “CPJUNI” (aktivasi kode voucher bisa diakses mulai 08 Juni 2021, kode voucher berlaku selama bulan Juni 2021). Dalam program ini, 5 peserta yang telah mengikuti program ini (peserta yang telah mengikuti modul coaching, mempraktekannya, dan membuat testimoni) berkesempatan untuk mendapatkan sesi personal coach!  Seru bukan?Yuk ikuti program ini dan selamat belajarBapak Ibu Pemimpin Merdeka Belajar! Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar dapat ditonton ulang pada video berikut

Asesmen Formatif Membuat Murid Berkembang, Guru Senang, Orang Tua Tenang

“Sudah nerapin merdeka belajar, nih. Tapi bingung, asesmen bagaimana, ya? Jangan-jangan praktik asesmen saya tidak sesuai, bahkan bertentangan dengan esensi merdeka belajar. Bagaimana, dong?” “Murid saya sebenarnya paham, tapi kalau ulangan kok hasilnya mengecewakan? Orang tua juga mempertanyakan kualitas pembelajaran setelah tahu nilai anaknya.” Punya pengalaman yang sama? Wah, jadi masalah juga kalau asasmen kita bukan asesmen merdeka belajar.  Jadinya kan tidak sinkron dengan tujuan kita.  Ini terjadi di sebuah sekolah. Seorang guru rajin sekali memberikan tugas-tugas kepada muridnya. Namun, murid tidak mendapatkan umpan balik. Tugas yang dikumpulkan hanya menumpuk saja. Guru tersebut sudah menjalin hubungan yang memanusiakan dengan murid. Juga selalu menyesuaikan materi pelajaran dengan situasi kontekstual. Namun lacur, usahanya sia-sia ketika murid-murid tidak mendapatkan umpan balik. Adakah yang seperti guru tersebut? Bagaimana langkah memperbaikinya?  Nah, Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar pada  13 Maret 2021 menjadi tempat untuk mencari jawabannya. Menghadirkan Guru Irma Nurul Fatimah, Kepala SMP Lazuardi Al Falah, dipandu Guru Andrie Firdaus dari Sekolah CIkal, obrolan berlangsung menarik.   Tema yang diangkat memang sangat dinantikan oleh para pemimpin sekolah dan guru merdeka belajar. Terbukti, jauh sebelum acara dibuka, yang antre “di depan pintu” sudah banyak. Kolom chat di channel Youtube hangat oleh salam dan sapa penonton yang sudah menunggu. Membuka obrolan, Bu Irma menceritakan pengalamannya pada awal menjadi memimpin di sekolah. Jenjang karier adalah kesempatan belajar.  Tantangannya adalah tidak ada resep yang sama untuk menjadi kepala sekolah, sebab karakter setiap orang berbeda-beda.  Oleh karena itu, Bu Irma terus mencari mentor dan refernsi yang bisa membantunya belajar menjadi pemimpin di sekolah. Beruntung, dia menemukan Komunitas Guru Belajar. Di komunitas inilah Bu Irma bertemu banyak guru yang fokus kepada murid.  Hal itu sesuai dengan konsernnya, yakni semua masalah diselesaikan dengan mempertimbangkan kebutuhan murid.   Tantangan lainnya adalah membangun percakapan di kalangan guru di sekolahnya tentang asesmen yang lebih berpihak kepada murid. Harus disadari bahwa ketika guru mengajar, belum tentu murid belajar. Itulah mengapa perlu ada assessment as learning (asesmen sebagai proses belajar). Asesmen ini bisa dilakukan secara mandiri oleh murid, dengan syarat mereka memahami tujuan yang ingin dicapai dan indikatornya.  Ketika sudah paham tujuan dan indikator pencapaian hasil belajar, murid dapat mengukur kemajuan belajarnya. Murid mendapatkan umpan balik dan melakukan refleksi untuk mengembangkan kemampuannya. Jadi, asesmen tidak melulu tentang tes. Asesmen bisa berwujud umpan balik yang membuat murid mengetahui kualitas hasil belajarnya, dan paham bagaimana meningkatkannya.   Berbeda situasi kalau murid hanya diberi nilai angka. Dia akan membandingkan nilainya dengan nilai temannya. Kemungkinannya dua: murid tersebut puas karena merasa nilainya lebih baik atau berkeil hati sebab nilai teman lebih tinggi. Akhirnya tercipta iklim kompetisi. Yang pasti, sekadar memberikan skor tidak membuat murid mengetahui kualitas dirinya secara utuh: bagian mana yang sudah oke, hal apa yang perlu ditingkatkan.  Ketika dilakukan tes yang konvensional (paper and pencil test), beberapa murid yang saat pembelajaran sudah paham,  ternyata  tidak bisa jawab pertanyaan-pertanyaan dalam tes tersebut.  Menghadapi hal demikian, guru-guru melakukan refleksi.  Karena  belum tahu jawabannya, kemudian mencari referensi. Namun, ternyata justru muri-murid yang “menuntun” guru menemukan jawabannya.  Di kelas, ada saja murid yang pura-pura sudah tahu.  Dia menyatakan sudah paham saat ditanya, semata malu bila dianggap belum paham.  Ketika ada murid yang seperti ini, perlu pendekatan individual (personalisasi). Biasanya, kalau di kelas mereka malu atau merasa tidak nyaman menyatakan kendala yang dihadapinya. Ketika berinteraksi empat mata, mereka lebih terbuka menceritakan kesulitan yang dialami. Guru menanyakan apa yang murid sudah ketahui dan apa yang ingin mereka ketahui. Dengan demikian, guru lebih cepat mendeteksi kendali, untuk kemudian memberikan treatment yang tepat. Dengan teknik personalisasi, guru mendapatkan informasi dan dapat mendiagnosis kebutuhan personal murid. Memang lebih melelahkan, tapi kalau hal tersebut tidak dilakukan, guru tidak mendapat informasi yang akurat.  Guru tidak bisa membuat peta masalah secara akurat.  Akibatnya, perlakukan kepada murid juga tidak akan sesuai dengan kondisi murid yang bersangkutan. Personalisasi bisa dilakukan dengan dengan lebih banyak bertanya dan diskusi terbuka. Guru hendak sabar, tidak melakukan terlalu cepat melakukan intervensi.  Caranya, guru memberi kesempatan yang besar kepada murid untuk membangun percakapan di antara mereka. Selama proses belajar, guru sebaiknya tidak  memberikan jawaban. Guru menstimulasi murid-murid menemukan banyak  cara. Misalnya dengan mengajukan pertanyaan: “Kenapa kamu pakai cara itu?” Adakah cara lain yang bisa digunakan?” Ketika ada murid yang mengemukakan cara belajarnya, berikan umpan kepada murid-murid yang lain agar terjadi diskusi sehingga ditemukan cara yang paling efektif.  Nah, kepada murid yang kurang aktif, entah karena pemalu atau memang belum tahu, guru bisa mengajukan pertanyaan yang memantik dia untuk berpendapat. Misalnya, “Bagaimana menurut kamu?” Ternyata tujuan asesmen, yakni memetakan tingkat kemampuan dan perkembangang murid, bisa dilakukan dengan banyak cara. Lebih efektif bila menggunakan model pembelajaran berbasis proyek.  Dalam pembelajaran berbasis proyek, murid mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.  Baca Juga: Siap AN, Siap Berubah? Selain itu, dalam pembelajaran berbasis proyek, murid mempunyai pengalaman belajar bersama, mengemukakan ide (gagasan) berinteraksi (bekerja sama) untuk mencapai tujuan, dan presentasi. Dengan demikian, murid terbiasa menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi.  Kuncinya adalah murid mampu melakukan analisa. Supaya kemampuan analisa berkembang, setiap hari guru bisa memberikan pertanyaan-pertanyaan pemantik yang membuat murid berpikir dan berpendapat. Syaratnya, murid merasakan suasana aman dan nyaman terlebih dahulu. Aman dari cemoohan dan reaksi negatif lainnya saat melakukan kesalahan. Nyaman karena semua warga kelas respek terhadap usaha yang ditunjukkannya. Membuat guru-guru percaya, yakin, dan mau melakukan asesmen formatif itu bukan hal yang mudah. Di sekolah yang dipimpin Bu Irma, awalnya cuma ada dua guru yang mau mencoba. Namun, Bu Irma tidak patah semangat. Dari dua guru ini, kalau gerakannya berdampak, pasti asesmen formatif akan menular kepada guru yang lain. Dengan dua guru itulah Bu Irma sering berdiskusi di depan guru-guru yang lain. Tujuannya agar guru-guru yang lain mengetahui apa yang dilakukan kedua guru tersebut di kelas dan bagaiamana perkembangan murid-murid setelah ada perlakuan yang berbeda. Ternyata, guru-guru yang lain melihat hasilnya. Murid-murid di kelas kedua guru tersebut berkembang lebih baik baik. Akhirnya, mereka tertarik untuk mengikuti langkah kedua guru tersebut.  Inilah yang disebut menyebarkan “virus” kebaikan. Dimulai dari satu orang yang memulai, yang dianggap “gila” karena dinalai aneh. Kemudian muncul pengikut pertama (jumlahnya tidak selalu satu) yang mengikuti gerakan. Ketika dampak gerakan terlihat, maka orang-orang … Read more

Menghidupkan Visi Sekolah dengan Asesmen

Beberapa waktu yang lalu, Nadiem Makarim umumkan bahwa UN dihapuskan. Kabar ini menggembirakan, sekaligus membingungkan. Hal ini menggembirakan karena kebijakan yang kurang mengapresiasi keunikan murid itu telah dihapuskan. Namun, hal ini pun membingungkan bagi sebagian pemimpin sekolah. Pemimpin sekolah seakan kehilangan tujuan. Bila bukan mengejar nilai, lalu mengejar apa? Pemimpin sekolah bingung akan diarahkan kemana guru dan murid yang dipimpinnya.  Adanya keresahan ini mendorong @SekolahMerdekaBelajar mengadakan Obrolan #PemimpinMerdekaBelajar (OPMB), pada 6 Maret 2021 di YouTube. Kali ini mengundang ibu-ibu pembelajar, yang akrab disapa Bu Andri dari Lazuardi Al-Falah Klaten sebagai narasumber dan Bu Pima dari Sekolah Cikal sebagai pemandu obrolan. OPMB kali ini mengangkat judul Bagaimana Asesmen Menghidupkan Visi Sekolah.  Kembali ke Visi Ibu Andri yang sempat memiliki keresahan tersebut pun akhirnya tersadar bahwa tidak perlu merasa kehilangan tujuan, kembalikan saja lagi pada visi sekolah, dimana hal ini nampak pada profil lulusan sekolah.  Membuat Program Asesmen Untuk mewujudkan profil lulusan yang sekolah cita-citakan. Salah satu langkah awalnya adalah dengan melakukan asesmen diagnostik. Asesmen ini dilakukan bukan untuk melabeli murid atau calon murid. Asesmen ini dilakukan untuk memetakan ada di titik mana warga sekolah berada, sehingga selanjutnya dapat dirumuskan strategi-strategi untuk mewujudkan profil murid yang dicita-citakan.  Bagaimana Bu Andri melakukan asesmen? Bu Andri menjawab, “Saya pakai inkuiri. Jadi betul-betul, saya memakai kekuatan bertanya. Dan saya melihat sebenarnya proses inkuiri itu setara atau selaras dengan visi misi kita.” Ia melanjutkan, “Kenapa? Karena saya ingin kalau saya banyak bertanya, guru-guru juga banyak bertanya, dan kemudian anak-anak pun juga akan banyak bertanya.” Terdapat 3 pertanyaan yang biasa Bu Andri tanyakan, “Apa yang kira-kira sudah oke? Apa yang belum oke? Dan kalau belum oke, kira-kira saya bisa bantu apa?” Ia pun menambahkan bahwa program asesmen ini bukan hanya memetakan kognitif, melainkan juga non kognitif. Bukan hanya dilakukan pada murid, melainkan juga pada guru. Dengan memetakan murid dan guru, maka pemimpin dapat menemukan bila ada gap di antara keduanya. Lalu pemimpin dapat membantu pengembangan guru, agar guru dapat memenuhi kebutuhan murid.  Dinamika Melaksanakan Asesmen Ketika menyimak obrolan, para peserta membayangkan penerapannya di sekolah masing-masing. Tentunya juga membayangkan tantangan-tantangan yang mungkin dihadapi. Para peserta nampak begitu penasaran dengan mengajukan banyak pertanyaan. Salah satu pertanyaannya adalah “Apakah rekan pemimpin atau guru lain langsung setuju, ketika diajak untuk melakukan asesmen tersebut? Bila tidak, apa yang ibu lakukan?” Bu Andri menyatakan bahwa belum tentu guru itu menolak, ada kemungkinan bahwa guru itu ragu-ragu. Guru butuh dukungan, bantuan, dan keyakinan bahwa ia mampu melakukannya. Guru butuh rasa aman bahwa dirinya tidak akan ditinggal, sehingga pemimpin mesti siap membantu ketika guru butuh bantuan. Ketika itulah pemimpin perlu menyiapkan dengan berbagai hal dan membantu dengan berbagai cara, agar guru menjadi mampu melakukannya.  Baca Juga: Siap AN, Siap Berubah? Begitulah cara Bu Andri menjawab kebingungannya atas kebijakan Nadiem Makarim menghapus UN. Bagaimana cara Bapak/Ibu mengatasi kebingungan serupa? Apa Bapak/Ibu terinspirasi melakukan asesmen yang selaras dengan visi sekolah?

Menggerakkan Perubahan Bersama Jaringan Sekolah Madrasah Belajar

Tidak bisa dipungkiri bahwa Kepala Sekolah turut merasakan dan harus bisa memberikan solusi yang bisa dipraktikkan, seperti jumlah murid yang berkurang akibat adanya pandemi karena anak-anak yang kurang memiliki fasilitas yang menunjang untuk pembelajaran jarak jauh, pada beberapa sekolah terutama di daerah dimana jumlah guru dan anak-anak yang tidak sepadan atau sebaliknya, bahkan tidak adanya dukungan dari masyarakat di lingkungan sehingga sekolah kurang dapat  berkembang secara maksimal. Seperti yang kita ketahui, di dalam keluarga ada yang namanya Kepala Keluarga, sekolah mempunyai Kepala Sekolah, yayasan mempunyai Ketua Yayasan, perusahaan mempunyai Direktur, dan sebutan lainnya sebagai seorang pemimpin pada suatu lembaga atau organisasi. Seorang pemimpin dapat mempengaruhi suatu proses yang berjalan dan menjadi pemberi contoh bagi para anggotanya untuk dapat mencapai tujuan suatu organisasi. Pemimpin harus memiliki standar kualitas yang tinggi sehingga pemimpin itu sendiri yang akan memberikan contoh yang baik secara langsung dan nyata kepada anggotanya. Pandangan seorang pemimpin yang visioner dan realistis dapat mengalirkan suatu program kerja yang mendukung anggotanya untuk bisa saling bekerjasama untuk berdaya dan berkarya bersama. Namun, tak dipungkiri bahwa di dalam suatu organisasi atau lembaga jika di dalam dunia pendidikan seperti sekolah mengalami beberapa hambatan atau tantangan yang dihadapi oleh seorang pemimpin, terutama yang berkaitan dengan komunikasi. Seorang pemimpin harus memiliki jaringan komunikasi yang luas untuk memudahkan para anggotanya yaitu guru untuk memahami tujuan yang akan dicapai. Pemimpin juga harus mampu mendengarkan dengan cara memberikan kesempatan secara bijaksana untuk memahami kebutuhan dan kesulitan yang dialami oleh guru di sekolah. Maju mundurnya kondisi sekolah dan tinggi rendahnya kualitas pendidikan tidak lepas dari peran seorang pemimpin yaitu Kepala Sekolah. Bisa dikatakan Kepala Sekolah adalah nahkoda kapal dalam perubahan di sekolah yang dipimpinnya. Banyak tanggung jawab yang dipikul oleh Kepala Sekolah, yang menjadikan perlu adanya dukungan yang diberikan secara riil dan berkelanjutan bahwa Kepala Sekolah tidak bekerja sendiri, tetapi bisa bekerja sama dan berkolaborasi dengan berbagai pihak yang menghasilkan dampak yang bisa dipraktikkan dan dibagikan secara luas. Bertepatan dengan Konferensi Tahunan yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar dan Yayasan Guru Belajar yaitu #BelajarDiTPNVII diluncurkan jaringan dengan nama “Jaringan Sekolah Madrasah Belajar” (JSMB). JSMB ini akan menjadi organisasi untuk bisa mewujudkan cita dan tujuan guru dan orang tua untuk berkolaborasi secara langsung dalam mendidik anak-anak, memberikan dukungan dengan mengoptimalkan guru dan murid untuk mencapai kemerdekaan belajar yang sesungguhnya, cuplikan penjelasan Pak Bukik mengenai pentingnya Jaringan Sekolah Merdeka Belajar. Mengutip apa yang telah dikatakan oleh Ibu Najelaa Shihab bahwa “Kemerdekaan Belajar adalah pondasi yang perlu menjadi bagian dari kompetensi dari semua individu yang menyatakan sebagai pendidik, dan memiliki kompetensi untuk saling berkolaborasi”. Adanya Jaringan Sekolah Madrasah Belajar atau JSMB ini menjadi salah satu jembatan sekolah maupun madrasah untuk  melakukan perubahan pendidikan Indonesia dengan saling berkolaborasi dan bekerja sama. Sudah saatnya sekolah dan madrasah melakukan perubahan dengan menginisiasi, mengkonstruksikan program-program yang sudah berjalan secara konvensional selama bertahun-tahun bertransformasi menjadi program yang merdeka belajar melalui penggerak-penggerak, seperti pemimpin, guru dan orangtua. Sebagai tambahan #BelajarDiTPNVII Jaringan Sekolah Madrasah Belajar memiliki 3 tujuan utama yang telah dipaparkan oleh ketua JSMB secara langsung yaitu Bapak Muhammad Niamil Hida, yang pertama untuk mengembangkan kapasitas kepemimpinan di setiap lembaga; kedua mengembangkan kapasitas lembaga pendidikan beserta stakeholder; dan yang ketiga untuk meningkatkan jaringan-jaringan sekolah dan madrasah bisa saling berkolaborasi untuk perubahan pendidikan yang lebih berdampak terutama untuk murid-murid. Kegiatan Jaringan Sekolah Madrasah ini diharapkan menjadi jembatan untuk saling belajar,berdiskusi, bertukar pikiran, berkolaborasi termasuk para guru yang ingin mengembangkan karier sebagai pemimpin. Kegiatan JSMB dikembangkan dalam Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar, pelatihan, pendampingan, serta kolaborasi yang diciptakan oleh jejaring yang ada pada Jaringan Sekolah Madrasah Belajar. Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar (OPMB) sendiri sudah diadakan 26 kali obrolan secara live melalui kanal youtube Kampus Guru Cikal, OPMB ini merupakan sesi diskusi dengan para pemimpin yang membahas mengenai permasalahan yang dihadapi dan sharing mengenai praktik baik yang telah dilakukan di masing-masing lembaga atau sekolah yang dipimpin. Adanya Jaringan Sekolah Madrasah Belajar diharapkan dapat menunjang para pemimpin dan guru untuk berkontribusi secara aktif dengan mengembangkan program-program merdeka belajar baik di dalam lingkup lembaga atau secara luas. Sekolah maupun madrasah menjadi awal gerakan perubahan dimulai, dengan memberikan kesempatan para pemimpin, guru, orang tua dan murid menjadi bagian dalam perubahan pendidikan melalui proses pembelajaran yang berlangsung selama di sekolah maupun secara mandiri di rumah, karena dengan saling keterlibatan tersebut akan adanya kesiapan program-program yang mendukung merdeka belajar dan siap menghadapi tantangan secara bersama. Tidak perlu ragu-ragu lagi untuk Sekolah atau Madrasah yang ingin menggerakkan perubahan, karena sudah ada wadah yang bisa menjembatani, jadi masih tunggu apalagi? Oleh karena itu, Jaringan Sekolah Madrasah Belajar yang diinisiasi ini direalisasikan dan dimanfaatkan sebaik mungkin, tidak hanya sekolah tetapi madrasah juga akan memberikan kontribusinya, karena memiliki tujuan yang sama yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan menggerakkan perubahan pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. Perubahan akan terjadi jika dilakukan secara kolaborasi, bukan berjalan sendiri-sendiri, perubahan yang dimulai dari pengembangan pada lingkup internal untuk dikembangkan secara eksternal melalui jaringan-jaringan yang sudah terbentuk. Kerja sama atau kolaborasi bisa diciptakan tidak hanya antar guru atau guru dengan pemimpin (kepala sekolah), tetapi kolaborasi bisa dilakukan dengan pihak diluar sekolah baik guru/pemimpin dari sekolah lain atau stakeholder sesuai dengan kompetensinya. Semakin banyak pihak yang terlibat menunjukkan tanda  suatu kemajuan   “Jadi untuk para pemimpin dan guru, bersiaplah menjadi bagian terpenting untuk berkolaborasi dan memberikan kontribusi terbaiknya melalui Jaringan Sekolah Madrasah Belajar”. Tunggu apalagi penggerak perubahan, jadilah bagian dari perubahan. Yuk bergabung bersama JSMB.Klik