Yayasan Guru Belajar Ajak Orprof Kolaborasi Merdeka Belajar

“Apakah mungkin guru menerapkan merdeka belajar? Bagaimana dengan standar penilaian sekolah?” “Bagaimana saya bisa memperhatikan potensi setiap anak, jika saya menangani lebih dari 30 anak dalam satu kelas?” Pertanyaan di atas mungkin menjadi pertanyaan semua para pendidik ketika mendengar konsep merdeka belajar. Bagi banyak pihak, konsep ini terlalu progresif dan utopis untuk diterapkan terlebih jika sekolah bukan berada di wilayah urban. Apakah Bapak/Ibu salah satunya? Oleh karenanya, Yayasan Guru Belajar (YGB) hadir mendampingi banyak guru untuk mewujudkan merdeka belajar. Tahun 2021 ini, YGB telah mendampingi guru dari 38 daerah, bertambah 34 wilayah dari tahun sebelumnya. Prestasi bagi YGB, namun demikian angka ini masih kecil membandingkannya dengan luas cakupan wilayah Indonesia. Artinya, perjuangan masih panjang. Teori Difusi Inovasi: Mengapa Kolaborasi Penting? YGB telah mengusung konsep merdeka belajar sejak yayasan ini didirikan tahun 2016. Selama lima tahun banyak kegiatan diadakan untuk mendukung pemberdayaan guru agar menjadi penggerak perubahan melalui pendidikan.   Sebagai upaya meningkatkan dampak, pada 19 November 2021, YGB mengajak berbagai organisasi profesi (orprof) guru turut serta untuk mendukung gerakan tersebut melalui program kolaborasi Pendidik Penggerak Merdeka Belajar (PPMB). Baca juga: Guru Merdeka Belajar, Guru yang Berdaya dengan Berkolaborasi Beberapa orprof seperti Sekolah Guru Indonesia, Komunitas Pengawas Belajar, Jaringan Sekolah Madrasah Belajar, Ikatan Guru Indonesia, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama, dan Komunitas Guru Belajar Nusantara hadir dalam acara pengenalan ini. Bukik menjelaskan bahwa program PPMB berangkat dari kesadaran bahwa banyak organisasi bergerak pada bidang pendidikan namun sibuk berjalan sendiri-sendiri. Padahal dalam teori difusi inovasi, perubahan membutuhkan penggerak atau innovator. Penggerak adalah orang yang berani untuk mencoba suatu hal baru serta siap menerima tantangan dan resiko ketika melakukannya. Sehingga melangkah sendirian akan sangat sulit. Apa Itu Sebenarnya Pendidik Penggerak Merdeka Belajar? Lebih lanjut Bukik menjelaskan bahwa PPMB merupakan program kerjasama yang memiliki tiga bentuk kerjasama, sebagai berikut. Pengembangan Organisasi: hibah untuk pengembangan kapasitas organisasi, terutama untuk memberdayakan penggerak merdeka belajar. Manajemen Program: hibah untuk pendampingan peserta program. Hibah Pelaksanaan Program: hibah ketika peserta mengikuti modul program. Melalui program PPMB, Bukik berharap semakin banyak orprof serta guru di dalamnya terlibat menjadi penggerak merdeka belajar. Sebab menurutnya, dengan kolaborasi maka pergerakan akan semakin kuat. Setelah kuat, maka gerakan ini baru bisa berdampak pada perubahan pendidikan. Apakah Merdeka Sama Dengan Bebas? Setelah pemaparan mengenai YGB secara umum dan PPMB khususnya, muncul beberapa pertanyaan menarik dari para perwakilan orprof. Salah satunya, apa maksud dari “merdeka”? Apakah sama dengan bebas? Menjawab pertanyaan tersebut, Bukik mengatakan bahwa merdeka tidak sama dengan bebas. Banyak pula yang mengaitkan dengan nilai liberalisme (klasik), namun menurutnya merdeka juga tidak menyamai paham tersebut. Sebab merdeka belajar tidak berarti siswa dapat memiliki kebebasan mutlak terhadap proses belajar. Namun demikian mereka memiliki hak untuk turut mengatur tujuan, cara, dan cara belajarnya. Bukik menjelaskan bahwa kata kunci dari merdeka belajar adalah pelibatan . Pelibatan anak, guru, dan orang tua dalam penentuan proses belajar. Siswa pada umumnya belum dapat memahami sepenuhnya apa yang mereka inginkan dan butuhkan, sehingga mereka perlu bimbingan guru maupun orang tua.  Jika ingin disamakan dengan suatu paham tertentu, maka merdeka belajar lebih sejalan dengan demokrasi. Sebab konsep pendidikan ini mengutamakan dialog, negosiasi, dan konsensus dari guru, murid, serta orang tua. Apakah Mungkin Menerapkan Merdeka Belajar? Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, banyak pihak menilai bahwa merdeka adalah konsep yang utopis. Hal tersebut juga menjadi pemikiran beberapa perwakilan orprof saat pertama kali mendengarkan penyampaian Bukik pada hari itu. Beberapa guru dari orprof menyampaikan kendala yang mungkin akan mereka hadapi ketika membayangkan ketika merealisasikan merdeka belajar. Seperti misalnya standar dari sekolah, beban kerja yang berlebih hingga harus mengajar 40 jam perminggu, dan masih diandalkannya penilaian sumatif untuk menilai hasil belajar siswa. Menanggapi keresahan itu, Bukik mengatakan bahwa hal tersebutlah yang menjadi tujuan PPMB yaitu mengedukasi ekosistem agar mau menjadi penggerak. Dalam satu sekolah mungkin hanya berawal dari satu guru, lalu satu guru tersebut berbagi dengan guru lainnya. Pada akhirnya, tercipta ekosistem guru penggerak dalam satu sekolah yang bisa mengadvokasi ke kepala sekolah untuk berubah. Begitu seterusnya secara struktural ke atas. Baca juga: Kemerdekaan Belajar Bukan Diberikan Tetapi Kita Gerakkan Bukik menilai bahwa transformasi memang sebaiknya dimulai dari lingkup daerah. Pasalnya, apabila pusat menentukan suatu regulasi tertentu, hal tersebut akan sia-sia apabila daerah tersebut tidak berdaya. Ujungnya, implementasi nol besar. Oleh karenanya, Ia menegaskan betapa pentingnya peran tamu undangan yang hadir untuk ikut turut sebagai penggerak melalui PPMB. Praktik Nyata di Pesantren Afkaaruna: Santri Merdeka Menentukan Proses Pembelajaran Meskipun terasa utopis bagi banyak orang, namun tidak sedikit guru yang telah membuktikan bahwa merdeka belajar bisa dipraktikkan. Dalam kesempatan tersebut, YGB membagikan buku “Merdeka Belajar di Ruang Kelas” karya Najeela Shihab dan Komunitas Guru Belajar kepada seluruh perwakilan orprof yang hadir.. Buku tersebut berisi kumpulan cerita praktik baik dari para guru dari berbagai wilayah di Indonesia. Selain itu, ada satu guru inspiratif dari Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) yang berbagi langsung bagaimana praktik merdeka belajar di sekolah tempatnya mengajar. Namanya Wardania Dewi, guru bahasa Inggris di Pesantren Afkaaruna, Yogyakarta.Wardania menjelaskan bahwa pesantren tempatnya mengajar menggunakan kurikulum  campuran baik internasional maupun nasional. Kurikulum tersebut kemudian diolah oleh para guru dan dipaparkan ke para santri sebelum tahun ajaran dimulai. Pada kesempatan tersebut, santri boleh menyampaikan pendapatnya mengenai rencana pembelajaran. Seperti misalnya ada yang ingin mereka ubah atau geser ke semester berikutnya. Wardania mengungkapkan bahwa proses ini yang pihak pesantren inginkan, yaitu para santri dengan percaya diri mengungkapkan opini. Terkait asesmen, pesantren Afkaaruna menggabungkan metode sumatif dan formatif. Wardania mengatakan bahwa tempatnya mengajar masih tetap mengadakan ujian untuk mendapatkan nilai angka. Namun demikian, hasil akhir penilaian tidak hanya berdasarkan nilai-nilai tersebut. Pada rapor, pesantren Afkaaruna menyertakan tabel yang menjelaskan bagaimana proses pendidikan santri selama di pesantren. “Mungkin ini seperti raport anak PAUD ya. Jadi penuh dengan kalimat yang menjelaskan perkembangan santri,” ungkap Wardania. Menerapkan cara yang belum umum dilakukan oleh banyak sekolah tentu bukan hal yang mudah. “Ada orang tua yang bertanya mengapa anak mereka diberi kemerdekaan seperti itu. Bahkan ada orang tua santri yang menyebut pesantren Afkaaruna tidak memiliki power atas proses pembelajaran santrinya,” jelas Wardania. Namun hal tersebut tidak menyurutkan langkah pendidik dari pesantren Afkaaruna untuk terus menjalankan metodenya tersebut. … Read more

Motivasi Guru Penggerak Merdeka Belajar, Berani Berubah Meskipun Tertatih-Tatih

Ketika pandemi melanda beberapa waktu yang lalu, bapak dan ibu guru pasti merasakan dan mengalami untuk beradaptasi dengan perubahan kebiasaan tersebut tampak jelas terasa karena pada saat kondisi normal, belajar menggunakan sistem tatap muka (luring), lalu berubah menjadi pembelajaran jarak jauh (daring) yang dijalankan sekolah. Oleh karena itu, apakah bapak dan ibu guru pernah merasa bingung, galau, dan tidak mengetahui harus memulai dari mana saat pembelajaran secara daring dilakukan? Untuk lebih jelasnya, mari kita dengarkan cerita inspirasi guru penggerak merdeka belajar yaitu Ibu Theresia A. T. Astuti yang mengajar di TK Yos Sudarso Bandung, dan beliau juga merupakan anggota Komunitas Guru Belajar Bandung. Pandemi Covid-19 adalah awal cerita inspirasi Ibu Tere ini dimulai. Pada Tahun Pelajaran 2020/2021, Ibu Tere mendapat tugas baru, diberi kepercayaan untuk memimpin TK Yos Sudarso Bandung. Ini merupakan pengalaman pertama beliau untuk pindah tugas setelah selama 16 tahun menjadi guru di tempat yang sama, atau berada di zona nyaman beliau.  Tempat baru, suasana baru, rekan kerja baru, dan beban tugas baru yang belum pernah terbayang sebelumnya harus Ibu Tere hadapi. Banyak cerita negatif yang beliau dengar tentang sekolah ini. Seketika Ibu Tere merasa ciut, ragu, minder, dan tidak percaya diri. “Apakah saya sanggup melakukan perubahan?”, ujar Ibu Tere dalam hati. Lantas, beliau dan dua rekan guru pun memutuskan untuk melakukan perubahan. Awalnya beliau memiliki perasaan yang sama dengan bapak dan ibu guru kebanyakan, beliau merasa bingung, galau, dan tidak mengetahui harus memulai dari mana saat pembelajaran secara daring wajib dilaksanakan. Baca juga: Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan Pembelajaran pun dimulai. Para guru melakukan tugasnya, melayani murid secara daring. Pembelajaran saat normal ditransfer menjadi daring. Tidak ada yang berbeda. Para guru melakukan pembelajaran dengan menggunakan aplikasi WhatsApp. Pembelajaran berfokus pada materi dan tema. Berbagai saran dan masukan coba Ibu Tere berikan agar pembelajaran tidak monoton. Namun, berbagai alasan dilontarkan para guru. Mereka berdalih adanya keterbatasan sarana, baik pihak guru maupun murid, serta keterbatasan penguasaan teknologi. Dan lebih kurang tiga bulan pembelajaran model ini dilakukan. Menurut Ibu Tere, pembelajaran terasa hambar, interaksi terbatas, satu arah, dan inisiatif serta instruksi selalu dari guru. Ibu Tere menyaksikan, setiap hari para guru melakukan komunikasi dengan orang tua murid melalui telepon atau video call untuk menjalin kedekatan. Namun, relasi yang harmonis belum tampak. Para guru mulai lelah dan mengeluh. Mereka merasa respons yang terlalu biasa, baik dari orang tua maupun murid. Ibu Tere mengungkapkan jika beliau dan mayoritas guru lainnya di sekolahan tersebut adalah guru senior. Tepatnya guru jadul yang belum terbuka dan paham banyak penggunaan teknologi, sehingga dalam melakukan pembelajaran hanya mengedepankan rasa, insting, dan pengalaman. Saat briefing pagi ataupun pertemuan, Ibu Tere berulang kali memberi masukan kepada rekan guru agar melakukan perubahan. Beliau mencoba mengajak mereka lebih terbuka, berani mencoba hal baru. Setelah sekian lama, akhirnya muncul juga keinginan salah satu guru untuk melakukan perbaikan pembelajaran. Dia mengajak guru lain mempelajari berbagai aplikasi pembelajaran berbasis teknologi sebagai variasi dalam pembelajaran daring. Tujuannya agar murid dapat lebih antusias. Awalnya, tampak gurat keraguan dalam diri guru yang diajak belajar. Mereka terpaksa saat belajar bersama. Lewat pendekatan secara pribadi, akhirnya terwujud juga kegiatan belajar bersama. Berbagai cara dan variasi pembelajaran mulai dipelajari. Ibu Tere mendukung dan mendampingi para guru, turut belajar dan mengembangkan diri. Beliau merasa jika belajar dari siapa pun dan dari mana pun. Terutama tentang penggunaan aplikasi yang dapat digunakan supaya pembelajaran lebih menarik. Para guru memerlukan waktu lama untuk memahami pengetahuan baru. Namun, di sini Ibu Tere melihat semangat mereka, keinginan kuat untuk terus belajar, mencoba, dan mempraktikkan pengetahuan maupun keterampilan baru yang berhubungan dengan teknologi. Guru saling belajar, berbagi pengetahuan dan praktik baik, menguatkan, dan membantu. Bahkan, persiapan pembelajaran dilakukan secara bersama-sama. Sedikit demi sedikit pembelajaran mulai bervariasi. Berbagai aplikasi dipraktikkan dalam pembelajaran. Namun, Ibu Tere merasa masih ada yang kurang dan masih terasa hambar. Peran guru masih sangat dominan di sini. Mereka belum konsisten melakukan perubahan pembelajaran, masih mengadopsi cara dan pola lama. Pada pertengahan Oktober 2020, melalui platform Sekolah.mu, Ibu Tere berkenalan dengan Merdeka Belajar. Kemudian, beliau sering mendengar istilah tersebut. Namun saat itu, Ibu Tere belum memahami maknanya. Akhirnya, beliau mengikuti program Sekolah Lawan Corona. Ibu Tere dan para guru pun belajar bersama. Dari program ini akhirnya beliau menyadari bahwa pembelajaran yang selama ini, pelayanan yang kami berikan, masih mengalami miskonsepsi. Bersama para guru, Ibu Tere belajar membuat persiapan pembelajaran dengan mengedepankan prinsip 5M, belajar membuat dan menggunakan kanvas RPP yang diawali dengan melakukan pemetaan profil murid. Pembelajaran di Sekolah Lawan Corona sudah beliau tuntaskan. Ibu Tere yakin, banyak hal, informasi, dan ilmu baru yang guru dapatkan. Namun, pengimbasan ataupun dampaknya dalam pembelajaran belum terasa. Belum tampak perubahan yang signifikan. Padahal, pengetahuan, keterampilan, dan semangat sudah ada dalam diri para guru. Lantas, Ibu Tere tertantang mencari akar masalahnya. Rasa penasaran dan keinginan kuat menuntun beliau mencari informasi, belajar dari berbagai sumber. Faktor ini menjadi pemicu beliau untuk mengikuti beberapa program di Sekolah.mu, beliau mengharapkan jika ini dapat membantunya melakukan tugas sebagai pemimpin. Ibu Tere mengikuti program Guru Merdeka Belajar dari Kampus Guru Cikal, berdampingan dengan program Menjadi Pemimpin Merdeka Belajar dari Sekolah Merdeka Belajar. Kemudian, teori dan tips sebagai pemimpin merdeka belajar sudah beliau dapatkan. Ternyata masih ada miskonsepsi yang beliau lakukan dalam melakukan percakapan dan pengamatan sebagai pemimpin merdeka belajar. Dalam melakukan percakapan, Ibu Tere merasa perlu fokus dan selalu mengarahkan kepada tujuan. Percakapan beliau lakukan dengan lebih santai. Ibu Tere duduk bersama sambil menyelesaikan pekerjaan atau membuat persiapan pembelajaran bersama. Setelah melakukan obrolan dan percakapan dengan guru, beliau merasa ada yang kurang, “Gregetnya belum ada”. Hal ini terutama bila mendengar keluhan atau curhatan guru tentang murid yang dinilai terlalu berinisiatif. Misalnya sudah mengerjakan pekerjaan atau tugas yang seharusnya belum dikerjakan atau belum diperintahkan. Sebagai pemimpin, Ibu Tere mengingatkan mereka melalui percakapan untuk melakukan pembelajaran yang berpihak kepada murid. Beliau mengajak mereka melihat sisi positifnya: murid itu kreatif. Dengan demikian, perlu kreativitas guru dalam merancang pembelajaran dengan memaksimalkan pemanfaatan fasilitas dan penugasan yang berdiferensiasi. Ibu Tere merasa saat ini rekan-rekan guru sudah memahami bahwa pembelajaran harus fokus kepada kebutuhan anak, memaksimalkan pemanfaatan fasilitas yang … Read more

Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan

“Memaknai Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan, oleh karena itu sebagai seorang guru, maka akan menghadapi banyak sekali tuntutan yang saling bersaing, tetapi untuk setiap tantangan yang bapak dan ibu guru hadapi, ada imbalan yang setara atau lebih besar. Saat bapak dan ibu guru memasuki profesi yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi kehidupan orang lain, bapak dan ibu guru juga mengambil bagian dalam karier yang penuh makna.” Profesi sebagai seorang guru bisa dikatakan adalah garda paling penting dari kehidupan masyarakat kita. Guru mendukung murid menentukan tujuan, memfasilitasi murid memperoleh kompetensi untuk sukses sebagai warga dunia kita, dan mengilhami mereka dorongan untuk berbuat baik dan sukses dalam hidup. Murid-murid hari ini adalah pemimpin masa depan, dan peran guru adalah titik kritis yang membuat murid siap untuk masa depan mereka.  “Menjadi seorang guru tidak akan membuat siapapun menjadi kaya—namun ini adalah salah satu karier paling berharga di dunia ini. Seorang guru dapat memiliki dampak besar pada kehidupan seorang murid, dan melihat seorang murid berkembang dan tumbuh adalah sesuatu yang membawa sukacita besar bagi seorang guru.” Ketika berbicara dengan semua guru yang ada, maka hanya sedikit yang akan memberi tahu  bahwa menjadi guru adalah sesuatu yang mereka sesali lakukan, bahkan hampir tidak ada. Alasan umum dari semua itu adalah bahwa mereka menemukan kepuasan menjadi seorang guru dalam mempengaruhi murid dan membantu mereka dalam membentuk masa depan. Meskipun mungkin tidak sama untuk setiap pendidik, akan selalu ada alasan bagus untuk menjadi satu. Oleh karena itu dalam tulisan kali ini kita akan membahas tentang “Guru Penggerak dalam Peran Pendidikan”. Baca Juga: Guru Merdeka Belajar, Cukupkah Jadi Pendidik? Atau Perlu Jadi Penggerak? Menjadi Guru itu Penting Murid-murid membawa apa yang dipelajari kepada mereka di usia muda ke sepanjang hidup mereka. Mereka akan menggunakan apa yang telah mereka pelajari untuk mempengaruhi masyarakat. Bapak dan ibu guru mungkin mengetahui juga bahwa generasi muda hari ini akan menjadi pemimpin masa depan, dan para guru memiliki akses untuk mendidik generasi muda di tahun-tahun mereka yang paling berkesan — baik itu dalam mengajar prasekolah, mengajar ekstrakurikuler, olahraga, atau kelas konvensional. Guru memiliki kemampuan untuk membentuk pemimpin masa depan dengan cara terbaik bagi masyarakat untuk membangun generasi masa depan yang positif dan menginspirasi dan oleh karena itu merancang masyarakat, baik dalam skala lokal maupun global. Dan faktanya, guru memiliki pekerjaan paling penting di dunia. Peran bapak dan ibu guru saat ini yang berdampak pada anak-anak masyarakat memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan. Bukan hanya untuk anak-anak itu sendiri, tetapi untuk kehidupan banyak orang. Peran Seorang Guru Membawa Perubahan dalam Kehidupan Murid Percayalah peran seorang guru ternyata memberi perubahan dalam kehidupan murid. Peran guru menjadi berpengaruh dalam kehidupan murid, menginspirasi dan memotivasi mereka untuk mencapai potensi mereka. Suatu hari nanti mungkin murid bapak dan ibu akan menjadi pemenang penghargaan Nobel, pebisnis terkemuka, pemimpin hebat, perdana menteri dan seniman terkenal atau individu yang berpengetahuan luas dengan cinta untuk belajar. Bukan hanya karena itu adalah profesi yang mulia, tetapi menjadi seorang guru juga memungkinkan bapak dan ibu untuk terus berkreasi dan menjadi lebih baik secara profesional. Peran guru saat ini memiliki banyak kesempatan di tangan mereka untuk menjadi kreatif dan menggunakan semua metode yang mungkin untuk membuat lingkungan belajar yang optimal bagi murid. Lalu, guru dapat bertindak sebagai sistem pendukung yang kurang di tempat lain dalam kehidupan murid. Dan menjadi seorang guru pasti akan menjadi panutan dan inspirasi murid untuk melangkah lebih jauh dan bermimpi lebih besar. Dengan menjadi seorang guru dan penggerak di bidang pendidikan, maka bapak dan ibu akan memberi manfaat bagi murid terlebih masyarakat secara keseluruhan. Kesan yang bapak dan ibu buat pada murid di kelas akan terus berlanjut ke generasi berikutnya. Ini adalah keistimewaan karir menjadi seorang guru, yang mana bapak dan ibu memiliki kesempatan untuk membawa sebuah perubahan bagi generasi kehidupan. Peran Seorang Guru sebagai Pembelajar Sepanjang Hayat Pendidikan telah banyak berubah mengikuti perkembangan zaman ini. Saat ini pendidikan lebih interaktif dengan intrusi media digital. Penerapan teknologi kini seperti kecerdasan buatan, augmented reality membuka dimensi baru dalam pendidikan. Namun, ada peran besar bapak dan ibu guru yang tetap berjalan hingga saat ini dan tidak bisa tergantikan. Sebagai seorang guru, bapak dan ibu harus mengeluarkan yang terbaik dalam diri murid dan menginspirasi mereka untuk berjuang demi kebesaran. Murid dianggap sebagai masa depan bangsa dan umat manusia, dan peran bapak dan ibu guru diyakini sebagai pemandu yang kredibel untuk kemajuan mereka.. Guru dapat melihat kekuatan dan kelemahan setiap murid dan dapat memberikan bantuan dan bimbingan untuk mempercepat atau mendorong mereka lebih tinggi. Sebagai seorang guru tidak hanya membimbing murid dalam bidang akademik atau kegiatan ekstrakurikuler, tetapi guru juga bertanggung jawab untuk mendukung masa depan murid, menjadikannya manusia yang lebih baik. Seorang guru menanamkan pengetahuan, nilai-nilai baik, tradisi, tantangan zaman modern dan cara-cara untuk menyelesaikannya dalam diri murid.  Bapak dan ibu guru juga menjadi sumber inspirasi dan motivasi. Guru menginspirasi murid untuk melakukannya dengan baik, dan memotivasi mereka untuk bekerja keras dan menjaga tujuan akademik mereka tetap pada jalurnya. Menjadi seorang guru sebagai pembelajar sepanjang hayat memungkinkan bapak dan ibu guru untuk terus belajar dan berkembang dalam pengetahuan. Perang Seorang Guru sebagai Penggerak Pendidikan Pengetahuan dan pendidikan merupakan dasar dari segala sesuatu yang dapat dicapai dalam kehidupan. Guru memberikan kekuatan pendidikan kepada generasi muda saat ini, sehingga memberi mereka kemungkinan untuk masa depan yang lebih baik. Pola pikir guru sebagai penggerak pendidikan ialah memperlakukan kesalahan dan tantangan sebagai bagian dari proses belajar. Bapak dan ibu guru diminta untuk tidak melihat kesalahan sebagai kegagalan. Kesalahan memberi murid sebuah pengalaman atau informasi baru yang dapat mereka gunakan saat mereka terus menemukan cara untuk memecahkan masalah atau tantangan. Guru juga tidak pernah tahu jenis pertanyaan apa yang akan diajukan oleh murid. Sebagai penggerak Pendidikan, guru menjadikan belajar sebagai kebiasaan rutin untuk beradaptasi dengan perubahan dan tindakan murid. Dedikasi dalam Peran Seorang Guru Salah satu bagian terpenting dalam peran seorang guru adalah memiliki dedikasi. Bapak dan ibu guru mungkin merasakan jika peran guru tidak hanya mendengarkan, tetapi juga melatih dan membimbing murid. Guru mampu membantu membentuk tujuan akademik dan berdedikasi untuk membuat murid  mencapainya. Bapak dan ibu guru memiliki … Read more

Pemanfaatan Permainan Papan untuk Proses Belajar yang Bermakna

Bagaimana aktivitas belajar dengan bermain, yang bermakna itu? Kami dari Komunitas Guru Belajar Jeneponto hadir di Kecamatan Tarowang, Sabtu, 11 Januari 2020 dengan agenda pelatihan “Aktivitas Belajar Bermakna dengan Permainan Papan Jelajah Nusantara” yang merupakan rangkaian Program Playground of Ujung Pandang dari Sekolah Cikal & Kampus Guru Cikal, dalam pelatihan ini juka dilaksanakan pemberian permainan papan dari Cikal kepada guru-guru yang hadir. Pelatihan ini dibuka langsung oleh Korwil Kecamatan Tarowang Bapak Taufik,S.Sos,MM, dalam sambutannya beliau menyampaikan mengenai 4 kebijakan baru Mas Menteri dan kaitannya dengan Guru Merdeka Belajar. Belajar sambil bermain bukan hal yang baru dalam pembelajaran. salah satu permainan yang biasa dilakukan itu adalah permainan Monopoli, ular tangga, dan halma adalah permainan papan yang sudah dikenal sejak masih SD. Bahkan permainan Monopoli, ular tangga dan halma permainan yang telah ada sejak awal abad ke-20 ini sangat populer di Indonesia dan booming tahun 1970-1980-an. Permainan ini biasanya dilakukan hanya untuk mengisi waktu luang dan sekedar untuk bersenang-senang saja dan tidak bermakna padahal media permainan papan sebenarnya punya potensi untuk membangkitkan daya literasi. Untuk itu Komunitas Guru Belajar melalui Kampus Guru Cikal mengembangkan Permainan Papan sebagai media pembelajaran agar belajar bermakna dan salah satunya melalui aktivitas belajar bermakna dengan Permainan Papan Jelajah Nusantara. Pelatihan ini dimulai dengan arahan moderator Bu Ninik Anggraeni sambil melakukan sesi perkenalan dengan membuat kalimat berirama. Sesi berikutnya moderator mempersilakan pelatih Hadrawi yang biasa disapa Pak Awi untuk memulai kegiatan dengan dinamika kelompok untuk membagi peserta kedalam beberapa kelompok berdasarkan kecerahan warna pakaian. Kelompok yang sudah terbentuk kemudian dibimbing untuk membagi tugas dalam setiap kelompok. Sesi potret belajar S-I-P dimulai dengan Apa yang sudah anda ketahui tentang belajar dan Apa yang ingin anda ketahui tentang belajar dengan bermakna dan tiap kelompok mempresentasikan S dan I. Peserta kemudian diberi kesempatan untuk memaparkan, Pak Suaib menyampaikan “Saya masih membutuhkan bimbingan mengajar yang bermakna, masih merasakan bingung mengenai belajar dengan bermain yang bermakna.” Peserta lain, Pak Mansyur bertanya “Bagaimana guru mengajar sambil bermain yang bermakna, Bagaimana cara saya membuat inovasi belajar sambil bermain dengan bermakna” Sesi dilanjutkan dengan diskusi desain pengajaran dengan puzzle desain pengajaran dan tiap kelompok mempresentasikan desain pengajaran yang sudah dirancang dalam tiap kelompok. Berlanjut dengan penggunaan Permainan Papan Jelajah Nusantara dalam permainan ini kami bagi dalam 2 sesi bermain, sesi pertama juru bicara dalam kelompok ditugaskan untuk membaca petunjuk permainan selama  5 menit selanjutnya juru bicara memberikan arahan permainan dalam kelompoknya berdasar petunjuk permainan. Pada sesi pertama para pemain masih terlihat kebingungan bagaimana memainkan papan permainannya ada yang membagi rata kartu, ada yang menghambur kartu diatas meja permainan dan berbagai keseruan lainnya. sesi pertama diakhiri dengan meminta peserta menyampaikan problem yang dihadapi pada saat bermain dengan papan permainan dengan memberikan tanggapan terhadap pemandu pertama. Ibu Kasma pada sesi pertama menyampaikan tentang kurangnya penyampaian dari juru bicara, kurang membaca petunjuk, sedangkan Ibu Pariah menyampaikan kalau pemandu dalam membaca petunjuk tidak sesuai urutan petunjuk permainan. Pak Irpan Jaya menyatakan masih bermasalah dari juru bicara yang tidak tuntas dalam memberikan petunjuk bermain. Sesi bermain kedua dimulai dengan meminta tiap kelompok  untuk berbagi tugas dengan juru bicara yang baru dengan bimbingan pelatih Pak Awi dan Pak Syam permainan dimulai berdasar petunjuk permainan yang ada pemandu kedua membaca buku petunjuk sesuai urutan petunjuk permainan sehingga permainan lebih terarah dan pemain dengan mudah paham melakukan permainan. Usai permainan peserta melakukan refleksi, salah satunya dari Pak Mansyur yang menyatakan bahwa permainan ini menumbuhkan banyak nilai karakter dan sangat bermakna ketika dilakukan dalam pengajaran di kelas untuk menumbuhkan karakter murid. Unduh Permainan Papan Jelajah Nusantaraklik tombol di bawah ini

Wardah Inspiring Teacher Jakarta: Membuat Media Inovasi Melalui Empati

Wardah Inspiring Teacher memasuki kota pamungkas, Jakarta.

Pagi itu, Bu Didi, Bu Cynthia dan saya, Mahayu sudah berada di Ballroom hotel Mercure Jakarta. Berkenalan (kembali) dengan Tim dari Wardah, ada Mbak Suci dan Mbak Fifi. Peserta sudah mulai berdatangan, mulai bersalaman dan berkenalan satu dan lainnya. Hm, menarik karena ternyata beberapa guru ada yang berasal dari Tangerang, Bekasi, dll. Jadi hari ini, tim Kampus Guru Cikal akan berada diantara guru-guru yang menginspirasi karena berada di ruangan ini adalah bentuk apresiasi dan rekomendasi dari yang terinspirasi oleh mereka, para guru.

Semua peserta begitu antusias ketika Najeela Shihab turut hadir dan memberikan materi di Sabtu pagi, memulai percakapan dengan bertanya kabar. Sesi Bu Elaa hari ini tentang Pendidikan Abad 21, dimana Kampus Guru Cikal percaya bahwa guru harus memiliki 4K, Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi dan Karier. Bu Elaa mengajak guru berefleksi tentang apa tantangan guru di masa dahulu dan sekarang dan juga cita dan cara untuk menjawab tantangan di masa sekarang. Begitu banyak guru bercerita tentang pengalaman masa lalu, pengalaman tersebut beberapa memicu rasa rendah diri dan beberapa juga sadar diri untuk segera memperbaiki, seperti apa yang diceritakan oleh Bu Wuri dari Sekolah Tanpa Batas. Begitu banyak, guru-guru bertukar cerita dan saling mendengarkan satu dan lainnya. Namun sesi 90 menit ini memang cukup singkat terasa karena masih banyak pertanyaan yang ingin dijawab. Di akhir sesi Bu Elaa, kita semua yang berada di ruangan ini dan juga guru-guru di luar sana percaya bahwa guru harus merdeka belajar untuk memajukan pendidikan di Indonesia.

Read more

Bermain Sambil Belajar, Perlukah?

Bermain sambil belajar. Hal ini sering dianggap sebagai solusi untuk agar tertarik belajar. Sebelum kita bahas lebih lanjut, yuk lihat percakapan berikut:A: “Si W ternyata setiap pulang sekolah kalau tidak ke warnet gim, ya ke rental playstation, pantas nilainya turun”B: “Lhah kalau Si X, Y, Z kata orangtua si X kalau di rumah suka main game di HP bersama di teras sampai maghrib, kewalahan buat memberi tahu”A: “Pantas nilai mereka turun, kapan belajarnya “ Familiar dengan percakapan ini?Kita mungkin pernah menyimpulkan bahwa murid lebih mementingkan hobi, atau bahkan bermain dibanding sekolahnya. Lalu guru tertentu justru menjadikan hobi murid, dan bermain sambil belajar sebagai media atau sumber belajar. Seperti yang bisa dilihat pada kolom komentar post instagram.com/kampusgurucikal ini View this post on Instagram A post shared by Kampus Guru Cikal (@kampusgurucikal) on Nov 3, 2019 at 4:19am PST Dari kolom komentar kita dapat temui guru yang bercerita pernah membahas permainan kesukaan murid, dan bahkan mengajak murid bermain sambil belajar di kelas. Namun sebenarnya perlukah kita memakai permainan di dalam kelas saat proses pengajaran? Pada Temu Pendidik Nusantara 26 Oktober 2019 yang lalu. Kampus Guru Cikal menyajikan topik “Aktivitas Belajar Bermakna Melalui Permainan Papan”. Kelas ini menjadi salah satu kelas kompetensi yang bisa dipilih peserta. Ada 27 orang termasuk 6 orang guru Jeneponto dari Program Playground of Ujung Pandang menjadi peserta kelas ini. Kami belajar mengurai miskonsepsi belajar melalui permainan. Belajar sambil bermain. Kita juga belajar menyusun pengajaran bermakna melalui permainan papan Jelajah Nusantara Edisi Ujung Pandang. Kelas ini dipandu oleh 2 orang pelatih, Guru Maman Basyaiban dan Guru Hadrawi. Guru Maman dari Kampus Guru Cikal sedangkan Guru Hadrawi dari Komunitas Guru Belajar Regional Sulawesi Selatan. Agar membangun keakraban antarpeserta yang juga berasal dari berbagai daerah. Di sesi awal pelatih mengajak bermain peserta melalui berkenalan dengan menyusun kalimat berima. “Perkenalkan nama saya Maman, saya suka menyiram tanaman”. Setelah mencari diksi yang tepat untuk kalimatnya, peserta “berburu.” Apa yang diburu? Peserta berburu untuk berkenalan satu sama lain. Muncullah kalimat seperti “Nama saya Misbah yang tetap Tabah”. Adapula “Saya biasa dipanggil Joko, dan saya orang jowo” dll. Usai perkenalan dan pembagian kelompok. Kelas dilanjutkan dengan drama dua cara pengajaran bermain sambil belajar dengan Tema Jual Beli. Peserta berperan sebagai murid, pelatih sebagai guru. Tidak hanya bertindak sebagai murid, peserta akan mendiskusikan perbedaan pengajaran 1 dan pengajaran 2 dari sudut pandang murid. Saat pengajaran satu, guru mengajak murid bermain sambil belajar. Permainan dilakukan dengan bernyanyi lagu Naik Delman membentuk lingkaran. Sembari lagu dinyanyikan kartu bergambar barang-barang yang dijual di pasar diedarkan. Barang kemudian berpindah tangan antarmurid. Saat lagu berhenti maka kartu yang dipegang adalah kartu yang didapat murid. Guru kemudian mengajak murid menulis barang yang didapat sesuai gambar di kartu. Guru meminta murid secara acak untuk segera mengumpulkan tugas dengan batasan waktu 3 menit. Berpindah ke pengajaran 2. Guru membuka kelas dengan menanyakan aktivitas apa yang sering dilakukan saat di rumah. Murid menyebutkan berbagai aktivitas dari bermain, berkumpul keluarga, hingga dimintai tolong orang tua. Obrolan guru murid ini berlanjut pada topik membantu orangtua, hingga guru mengajak murid melakukan bermain sambil belajar. Permainan dilakukan dengan kartu membantu orangtua belanja. Pemain harus menghapal daftar belanjaan dari kartu yang teks dan gambarnya berbeda. Selesai permainan guru mengajak murid mendiskusikan. “Apa yang sulit saat berbelanja dalam permainan?” Murid mengatakan lupa daftar belanja. Guru pun meminta murid berdiskusi bagaimana tips agar bisa belanja dengan baik. Beragam jawaban dipresentasikan oleh murid. Dari mengucap berulang, fokus, membawa catatan, membawa contoh barang dll. Guru dan murid memberikan umpan balik atas jawaban yang muncul. Setelah mengalamai dua cara pengajaran dengan permainan. Peserta pelatihan mengidentifikasi perbedaan dari pikiran, perasaan, perilaku murid. Peserta pun menyatakan bahwa cara pengajaran 1 bagian seru hanya di awal saat menyanyi. Namun pengajaran 1 saat penugasan tidak dikoreksi. “Guru memburu-buru pengerjaan tugasnya jadi kadang takut.” “Tugas akhirnya hanya begitu saja.” Sedangkan di pengajaran 2 permainan mengajak murid merasa tertantang. Murid boleh berpikir menemukan cara sendiri untuk solusi permasalahan yang ada sehari-hari. Peserta menyepakati bahwa pengajaran nomor 2 adalah pengajaran dengan bermain yang bermakna. Kelas berlanjut dengan diskusi bagaimana desain strategi belajar dengan permainan yang bermakna. Peserta menyusun puzzle kanvas desain pengajaran. Puzzle disusun di kelompok masing-masing kemudian dipresentasikan. Diskusi begitu dinamis. Beberapa peserta menyusun sambil berargumen dengan memaparkan struktur RPP. Adapula yang mengurutkan dengan alur aktivitas yang biasa dilakukan saat merancang RPP. Di tengah diskusi, bapak Nadiem Makarim. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Datang mengunjungi kelas kami. Beliau ingin mendengar apa yang dirasakan para guru di daerah masing-masing.”Ketika harus mengurus berkas ke provinsi, kadang harus meninggalkan kelas, karena jarak dari sekolah ke provinsi sampai lebih dari 3 jam, belum lagi jika mengurusnya tidak bisa sehari jadi.” Ujar Guru Vivi dari Pesisir Selatan. Dengan antusias kami kemudian melakukan foto bersama. Ada peserta yang mengatakan “Saya pasang foto ini di medsos, kemudian diberi komentar, jadi orang Jeneponto pertama berfoto dengan Mas Menteri yang baru dilantik”. Belajar Memandu Permainan Papan menjadi topik selanjutnya. Peserta mempelajari panduan permainan. Secara bergantian mencoba menjadi pemain dengan pemandu yang berbeda antarkelompok. Pada percobaan pertama beberapa pemandu nampak langsung mengeluarkan semua komponen permainan papan dan menjelaskannya. Peserta tampak menunggu, karena permainan tidak segera dimulai. Pada percobaan kedua, semakin banyak pemandu yang fokus mengikuti alur yang ada pada panduan pemainan. Selesai bermain kami melakukan refleksi. Kondisi apa yang membingungkan peserta? Penjelasan seperti apa yang akhirnya membuat paham? Salah satu peserta mengatakan “Tadi saya bingung, karena melihat pemandu membolak-balik komponen, mengeluarkan semuanya, namun belum dipakai. Pemandunya bingung pemainnya ikut bingung. Sedangkan kami jadi paham ketika pemandu tidak buru-buru dan menjelaskan alurnya satu persatu.” Kami kemudian membuat simpulan Tips Memandu Permainan Papan dengan tabel tampak seperti dan tidak tampak seperti. Selesai sesi memandu permainan papan, peserta menanyakan lebih lanjut tentang permainan papan Jelajah Nusantara. Kita membahas tentang ilustrasi yang dibuat murid-murid Cikal, serta tokoh yang ada dalam permainan. Guru Syam, peserta dari Jeneponto ikut berbicara “Kami orang Sulawesi jadi tahu, tentang Karaeng Pattingalloang, ternyata ada raja dari Gowa-Tallo yang cinta pengetahuan, tadi saya juga mengabarkannya lewat chat ke teman-teman guru yang lain tentang tokoh ini.” Permainan ini menjadi media yang dibongkar … Read more

Perayaan Kerja Barengan: Pesta Pendidikan Kota Batu 2019

Hampir satu tahun Kampus Guru Cikal bersama dengan Keluarga Kita, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan dan Inibudi sepakat untuk melakukan kerja barengan melalui Kolaborasi Literasi Bermakna di Kota Batu. Hari Sabtu, 16 November 2019 kami merayakan kerja barengan melalui Pesta Pendidikan Batu 2019, perayaan kerja barengan Kolaborasi Literasi Bermakna-INOVASI, Sekolah Mitra, Dinas Pendidikan Kota Batu serta pemangku kepentingan yang mendukung ekosistem pendidikan yang lebih baik. Peserta yang hadir pun bervariasi dari sekolah mitra dan sekolah non mitra, juga berasal dari Batu, Malang, Lamongan dan Probolinggo.

photo6278447094272469572

Read more

Ikuti Temu Pendidik Nusantara, Guru Murid Penyandang Disabilitas Dapatkan Beasiswa Penuh Nusantarun

Apa yang terjadi jika ada orang yang benar-benar  haus, ia menginginkan segelas es teh manis, tetapi yang ada dihidangkan di meja hanya gulai ayam berkuah santan kental ? Orang itu tentu saja tidak akan menikmati sajian gulai tersebut. Beranjak dari meja gulai, ia pergi ke meja berikutnya untuk mencari pelepas dahaga yang ia butuhkan. Lagi-lagi, yang ia temukan hanyalah lauk pepes pindang, tempe mendoan dan tongseng kambing. Orang tersebut lantas frustasi. Ia makan sajian yang dihidangkan di meja. Meskipun ia telah melahap banyak hidangan, rasa hausnya tak juga sirna. Ia pasrah, karena ia tak dapat memilih makanan apa yang ia mau. Kondisi tersebut merupakan analogi dari pelatihan guru yang selama ini didapatkan oleh guru. Selama ini pelatihan yang didapat hanya bertema seputar kurikulum, perangkat pembelajaran yang sebenarnya kurang dibutuhkan oleh guru. “Selama ini pelatihan hanya berkisar seputar kurikulum. Padahal yang kami butuhkan adalah bagaimana cara untuk memperbaiki pembelajaran di kelas” ujar Dyah Erna, guru SLB Tawangsari Jawa Tengah. Berangkat dari permasalahan tersebut, Guru-guru Guru BK SMA/SMK/SLB  asal Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang tergabung dalam Program Pendidikan Untuk Semua diberangkatkan menuju Temu Pendidik Nusantara yang diselenggarakan di Jakarta, 25-28 Oktober 2019 melalui jalur Beasiswa Nusantarun. Program Pendidikan Untuk Semua merupakan project kolaborasi antara Nusantarun bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal untuk memberikan pelatihan kepada guru-guru Di Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta dalam mempersiapkan karier murid penyandang disabilitas di masa depan. Ada sekitar 125 guru yang terlibat dalam program ini melalui mekanisme seleksi yang panjang. Dari keseluruhan peserta, selanjutnya dipilih 28 peserta yang diberangkatkan untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara. 28 peserta tersebut mendapat beasiswa penuh dari Program Pendidikan Untuk Semua untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara (TPN). Beasiswa tersebut meliputi biaya Tiket TPN, Akomodasi, Transportasi dari daerah asal dan selama di Jakarta. Pagi masih buta kala itu, semua peserta TPN dari Program Beasiswa Nusantarun melanjutkan perjalanan ke Wisma Handayani di daerah Cilandak, tempat penginapan yang disediakan oleh panitia Penyelenggara TPN. Antusiasme peserta terlihat di raut wajah seluruh peserta. Pendamping Program Pendidikan untuk semua, Rofiqoh Nur Istiqomah dan Winda Dyah Uningrumjati menyambut peserta di Wisma Handayani. Rofiqoh dan Winda memberikan pengarahan singkat mengenai rundown acara esok hari dan memberikan informasi bahwa peserta harus segera bersiap-siap untuk berangkat menuju lokasi TPN. Selepas subuh, antuasiasme peserta sangat tinggi, terbukti mereka berkumpul di lobby tepat waktu. Mereka kemudian terbagi menjadi 2 rombongan dengan 2 shuttle bus yang berbeda. Rombongan guru Tingkat Pendidikan Dasar (SD) dan Guru Tingkat Pendidik Menengah (SMP dan SMA/SMK). Rombongan Tingkat Dasar diantar shuttle bus ke Sekolah Cikal Cilandak, Jakarta Selatan. Rombongan kedua diantar shuttle bus Ke Sekolah Cikal Setu, Jakarta Timur menggunakan shuttle bus. Tahun ini antusiasme peserta TPN yang mengangkat tema “Literasi Menggerakkan Negeri” begitu luar biasa. TPN diikuti oleh 1000 peserta yang berasal dari 120 daerah di Indonesia. Ada 4 jenis kelas yang dapat diikuti peserta : Kelas Kemerdekaan, Kelas Kompetensi, Kelas Kolaborasi dan Kelas Karier. Dari Empat jenis kelas tersebut, ada ratusan kelas yang bisa dipilih peserta sesuai kebutuhan masing-masing. Uniknya lagi, hampir seluruh pembicara di TPN adalah guru yang siap berbagi praktik baik pembelajaran. Jadi ilmu yang dibagikan tidak melulu tentang teori, tetapi ilmu dari hasil pengalaman guru-guru di lapangan yang langsung dapat di praktikkan oleh peserta.         Hari pertama TPN terdapat 3 jenis kelas yang dapat diikuti peserta. Ada Kelas Kemerdekaan, Kelas Kolaborasi dan Kelas Kompetensi. Kelas Kemerdekaan ialah kelas yang memantik inspirasi peserta untuk menemukan kebutuhan belajarnya. Kelas Kolaborasi adalah kelas yang berkolaborasi dengan sesama pendidik, komunitas, maupun perusahaan. Kelas kolaboKelas kompetensi adalah kelas yang membantu guru mengembangkan kompetensinya. Zuzina Nur Susanti, Guru SLBN Negeri Sukoharjo Jawa Tengah yang merupakan peserta TPN jalur beasiswa Nusantarun mengaku sangat senang menjadi bagian dari TPN 2019. “Baru kali ini mengikuti pelatihan guru yang ia dapat merdeka belajar dengan memilih topik kelas sesuai kebutuhan mengajar saya di kelas” ujarnya. Ia memilih  kelas Asesmen Pengajaran Merdeka Belajar. Ia berharap ilmu yang ia dapat di TPN dapat ia gunakan sebagai dasar asesmen pemetaan peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah tempat Ia mengajar. Sejalan dengan yang dirasakan oleh Zuzina, Kadiyono juga senang sekali dapat belajar di TPN. Guru SLB Kendal ini memilih kelas yang sesuai dengan kebutuhanya agar dapat melakukan pembelajaran yang lebih inovatif kepada siswa-siswa nya. Ia memilih kelas Aktivitas Belajar Bermakna dengan Permainan Papan (Board Game) Antusiasme peserta meningkat saat mengetahui kehadiran Nadiem Makarim di hari pertamanya setelah ia dilantik menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ia hadir ditengah-tengah guru dan mendengar aspirasi langsung dari guru. Moment ini dimanfaatkan oleh para guru untuk menyampaikan aspirasi seputar pendidikan. Hari Kedua TPN merupakan acara puncak TPN. Najeela Shihab memberikan inspirasi dan suntikan semangat kepada lebih dari 1000 guru pada acara puncak TPN. Acara ini diiringi oleh berbagai pertuntukkan seni yang dibawakan oleh murid-murid sekolah cikal. Seusai acara puncak, acara dilanjutkan dengan kelas karier yang dapat dipilih peserta sesuai kebutuhan belajar masing-masing peserta. Ada beberapa pilihan yang dapat dipilih peserta saat mengikuti kelas karier, diantaranya, Membangun Layanan, Membangun kelas, Guru berdaya dengan menulis buku, & permainan untuk mengembangkan karier guru. Sore hari setelah kelas puncak dan kelas karier, Peserta TPN Beasiswa Nusantarun kembali ke daerah masing-masing dengan gelas terisi penuh. Mereka merasa senang karena telah terbuka wawasanya. Mengisi penuh gelas yang mereka sebelumnya mereka kosongkan dengan suntikan energi dan inspirasi. Meninggalkan Jakarta naik kereta dari stasiun Pasar Senen, mereka berjanji tidak akan meninggalkan kenangan mengikuti TPN hanya di memori saja. Tetapi mereka siap berbagi pengalaman kepada guru-guru di daerah masing-masing. Tak hanya itu, melalui pembelajaran TPN, mereka semakin memiliki bekal untuk mempersiapkan karier dan masa depan peserta didik berkebutuhan khusus.

Kunci Pengembangan Guru di Wardah Inspiring Teacher 2019

Namanya Ernawati, beliau adalah guru SMP 1 Wates, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Guru Erna merupakan salah satu peserta program Wardah Inspiring Teacher 2019 yang diadakan di Yogyakarta. Saat kegiatan berlangsung, Guru Erna tampak antusias mengikuti sesi belajar berempati dengan murid sebelum membuat media ajar. Beberapa kali menyampaikan pendapatnya, antusias menyampaikan idenya, dan lincah bergerak saat pelatihan. Hal yang membuat kami kaget adalah ketika mengetahui beliau sudah berusia 53 tahun dan masih menjalani serangkaian perawatan penyakit kankernya. Apa sebenarnya yang bisa membuat guru Ernawati bisa antusias mengikuti program? Kalau di Kampus Guru Cikal, kami percaya 4 kunci pengembangan guru : Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi dan Karier.  Kampus Guru Cikal dan Wardah diawal sepakat bahwa kegiatan Wardah Inspiring Teacher bukan kegiatan kompetisi antarguru. Tidak ada arahan pada guru untuk mengalahkan guru yang lain, tapi lebih pada arahan agar guru menetapkan dan mencapai penguasaan kompetensi yang lebih tinggi. Tidak ada sogokan dan hukuman bagi guru agar termotivasi mengikuti program, tapi lebih pada kesempatan lebih pada guru yang belajar lebih cepat dan dukungan pada guru yang butuh waktu belajar lebih banyak. Peserta mengikuti kegiatan bukan karena ada hadiahnya, bukan karena perintah dari atasan, namun karena kemauan dari diri sendiri. Inilah yang disebut kunci Kemerdekaan.  Kemerdekaan, itulah yang menjadi alasan mengapa guru Ernawati semangat mengikuti kegiatan Wardah Inspiring Teacher. Guru Erna sadar akan tujuan, tahu tujuan belajarnya, tidak mudah menyerah menghadapi tantangan, tidak cepat menyalahkan keadaan dan selalu mencari cara yang lebih efektif mencapai tujuan. Dalam pelatihan Wardah Inspiring Teacher, Kampus Guru Cikal di awal pelatihan tidak langsung memberikan materi tentang “Bagaimana Membuat Media Ajar A, B, atau C?” . Kami mengajak peserta untuk memahami “Why”-nya. Kami ajak peserta untuk bisa berempati kepada murid. “Jika kondisi muridnya seperti ini, media seperti apa yang sesuai?” Karenanya, guru bisa lebih inovatif di beragam situasi. Karena kompetensi harus bisa ditunjukkan di mana saja, kepada murid yang bagaimana dan dalam hal mengerjakan apa. Dari sini kami melihat beragam media yang diciptakan peserta. Guru Wahyu Hidayat seorang guru Sekolah Menengah Atas membuat papan permainan yang terinspirasi dari game online yang marak dimainkan remaja. Papan permainan tersebut dibuat karena banyaknya murid yang lebih tertarik bermain game online daripada mengikuti pengajarannya. Guru Helvira membuat buku untuk meningkatkan kemampuan fungsional murid-murid berkebutuhan khusus yang diajarnya. Guru Anas membuat alat yang membantu murid SD yang diajarnya memahami dengan mudah langkah-langkah berwudhu. Guru Anggi yang mengamati muridnya lebih suka bergaul dengan tukang mainan daripada gurunya, oleh karenanya, kemudian ia memulai menciptakan permainan untuk muridnya. Guru Dina melihat banyak murid yang lebih suka audio visual, oleh karena itu ia membuat film dokumenter dalam materi biografi. Guru-guru tersebut alih-alih menyalahkan muridnya, memilih untuk mencari cara agar muridnya bisa belajar. Dalam proses pembuatan media, kami mengajak peserta untuk membuat prototipenya terlebih dahulu. Dari prototipe tersebut kemudian diuji cobakan kepada peserta lainnya, murid, dan lainnya. Dari hasil uji coba, didapatkan beberapa umpan balik yang kemudian digunakan guru-guru peserta program sebagai acuan memperbaiki media yang dibuatnya. Kolaborasi inilah yang membuat media yang awalnya biasa saja, bisa lebih baik. Masukkan guru lain, murid bahkan narasumber ahli membantu guru dalam menyempurnakan medianya. “Murid-muridku merasa permainannya kurang menantang, cepat selesai” “Lagu ciptaanku buat pengajaran ternyata sekadar membantu murid menghafal, sehingga perlu dikombinasikan agar bisa lebih bermakna.” “Ide media ajar yang aku buat prototipenya dipoles oleh temanku seorang desainer grafis.” Pengalaman kolaborasi ini membuat guru mendapat inspirasi dan praktik baik yang sudah teruji.  Kunci pengembangan guru yang keempat adalah karier.  Selama ini karier yang tersedia melalui jalur formal adalah kepala sekolah, itupun terbatas tidak untuk semua guru. Kami di Kampus Guru Cikal mendorong karier guru yang protean. Guru bisa terus menjadi guru, tetapi juga mengembangkan karier di bidang yang beragam. Guru bisa menjadi pelatih guru lain, penulis, pembuat media ajar, pendongeng, dsb.  Di Wardah Inspiring Teacher 2019 ini, Kampus Guru Cikal merancang kegiatan Temu Inovasi yaitu kegiatan pameran media guru. Harapannya dari pameran ini, banyak guru yang mulai berinisiatif mengembangkan kariernya walaupun kegiatan Wardah Inspiring Teacher sudah selesai.  “Di Temu Inovasi saya memasang media saya dan poster ‘How to Play’, tidak disangka ternyata banyak yang tertarik, dan kemudian saya jelaskan bagaimana proses membuat media ini. Mereka semakin tertarik dan kemudian membeli media saya. Dan laku sekitar 20 buah Pak. Tidak berhenti sampai di situ, banyak yang repeat order melalui Instagram@kadoka_edu …” Itulah cerita dari Guru Puspita Demy Amalia, seorang guru dari Homesantren Kebaikan Surabaya yang menjadi salah satu peserta Wardah Inspiring Teacher 2019.  Guru Imam Setiawan dari Sekolah Alam Atifa Bogor pun sama, setelah pameran Guru Imam memoles kembali media ajar yang ia buat untuk dipasarkan. Saat ini, media yang ia buat yaitu berupa buku, masih dalam tahap pengurusan ISBN. Anda sudah siap untuk Wardah Inspiring Teacher 2020?

Temu Inovasi Karya : Langkah Awal Meniti Karier Guru

Saya pernah mengikuti lomba guru berprestasi dan menjuarai kejuaraan tersebut. Namun setelah saya mendapat piala dan beberapa hadiah, tidak ada proses setelah itu. Apa yang saya ciptakan sekadar untuk lomba tersebut. Lomba selesai, kegiatan berinovasi selesai. Membuat inovasi pengajaran lagi ketika ada lomba lagi. Seakan inovasi pengajaran bukan berdasar kepada kebutuhan belajar murid, tapi keinginan saya mendapat piala. Saya tidak memiliki kemerdekaan dalam merancang inovasi pengajaran, saya hanya fokus kepada track record juri, sejarah pemenang inovasi pengajaran tahun-tahun sebelumnya, hadiah yang jumlahnya tentu tidak sedikit.  Saat Kampus Guru Cikal diajak Wardah untuk merancang Wardah Inspiring Teacher 2019 hal yang paling pertama dibicarakan adalah bagaimana agar kegiatan ini dihilangkan kesan kompetisinya. Maka sedari awal walau ada hadiah studi banding ke New Zealand bagi 2 guru di akhir program, kami tidak pernah menyampaikan hal tersebut. Kami ingin guru yang mengikuti program ini bukan semata-mata karena hadiahnya. Awalnya sih sangsi, apakah kegiatan tanpa iming-iming dan akan berlangsung cukup lama (Maret – September) peserta akan bertahan hingga akhir? Jangan-jangan di tengah peserta berguguran dan tidak melanjutkan hingga akhir program? Proses demi proses kami jalani, dari pelatihan dasar yang mana guru diajak berempati kepada murid untuk membuat media. Pra pelatihan lanjutan, guru dikenalkan kepada berbagai jenis media, canvas media ajar hingga diajak untuk membuat prototipe. Menariknya pada pra pelatihan lanjutan ini dilakukan secara online, namun peserta masih saja antusias mengikuti dan mengirimkan tugas demi tugas. Dilanjutkan pelatihan lanjutan mengenai validasi karya. Peserta diajak membuat poin-poin penilaian dari karya yang dibuat, dan melakukan uji coba kepada beberapa pihak, terutama kepada murid. Dari proses uji coba ini membuat media yang dibuat guru peserta program mendapat umpan balik baik dari narasumber ahli, murid, dsb. Tidak disangka sampai tahap akhir ada sekitar 60 guru yang masih bertahan. Kami melihat 60 guru ini mewakili guru-guru yang memiliki kemerdekaan. Mereka sadar akan tujuan, merasa apa yang dilakukan sesuai kebutuhan belajar. Bukan semata-mata karena hadiahnya.  Di sesi akhir sebagai apresiasi, kami undang sekitar 40 guru untuk melakukan pameran karya di Temu Pendidik Nusantara 2019, dimana banyak guru dari berbagai daerah datang ke sini. Harapannya dari sini, guru-guru peserta Wardah Inspiring Teacher 2019 bisa mengenalkan media ajar yang dibuatnya dan awal guru-guru memulai karier protean. Pameran digelar di Gedung Serba Guna Sekolah Cikal Cilandak pada tanggal 26-27 Oktober 2019. Berbagai media guru yang dibuat dipamerkan beserta poster proses pembuatan media tersebut. Banyak guru dari berbagai daerah berdatangan untuk mencoba media yang dipamerkan. “Di Temu Inovasi saya memasang media saya dan poster ‘How to Play’, tidak disangka ternyata banyak yang tertarik, dan kemudian saya jelaskan bagaimana proses membuat media ini. Mereka semakin tertarik dan kemudian membeli media saya. Dan laku sekitar 20 buah Pak. Tidak berhenti sampai di situ, banyak yang repeat order melalui Instagram@kadoka_edu …” Itulah cerita dari Guru Puspita Demy Amalia, seorang guru dari Homesantren Kebaikan Surabaya yang menjadi salah satu peserta Wardah Inspiring Teacher 2019.  Guru Imam Setiawan dari Sekolah Alam Atifa Bogor pun sama, setelah pameran Guru Imam memoles kembali media ajar yang ia buat untuk dipasarkan. Saat ini, media yang ia buat yaitu berupa buku, masih dalam tahap pengurusan ISBN. Kampus Guru Cikal percaya kunci pengembangan guru ada 4 yaitu kemerdekaan, kompetensi, kolaborasi dan karier. Tidak berhenti saat guru mendapat piala, namun mengajak guru untuk mengembangkan kariernya sebagai guru.