Wardah Inspiring Teacher Jakarta: Membuat Media Inovasi Melalui Empati

Wardah Inspiring Teacher memasuki kota pamungkas, Jakarta.

Pagi itu, Bu Didi, Bu Cynthia dan saya, Mahayu sudah berada di Ballroom hotel Mercure Jakarta. Berkenalan (kembali) dengan Tim dari Wardah, ada Mbak Suci dan Mbak Fifi. Peserta sudah mulai berdatangan, mulai bersalaman dan berkenalan satu dan lainnya. Hm, menarik karena ternyata beberapa guru ada yang berasal dari Tangerang, Bekasi, dll. Jadi hari ini, tim Kampus Guru Cikal akan berada diantara guru-guru yang menginspirasi karena berada di ruangan ini adalah bentuk apresiasi dan rekomendasi dari yang terinspirasi oleh mereka, para guru.

Semua peserta begitu antusias ketika Najeela Shihab turut hadir dan memberikan materi di Sabtu pagi, memulai percakapan dengan bertanya kabar. Sesi Bu Elaa hari ini tentang Pendidikan Abad 21, dimana Kampus Guru Cikal percaya bahwa guru harus memiliki 4K, Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi dan Karier. Bu Elaa mengajak guru berefleksi tentang apa tantangan guru di masa dahulu dan sekarang dan juga cita dan cara untuk menjawab tantangan di masa sekarang. Begitu banyak guru bercerita tentang pengalaman masa lalu, pengalaman tersebut beberapa memicu rasa rendah diri dan beberapa juga sadar diri untuk segera memperbaiki, seperti apa yang diceritakan oleh Bu Wuri dari Sekolah Tanpa Batas. Begitu banyak, guru-guru bertukar cerita dan saling mendengarkan satu dan lainnya. Namun sesi 90 menit ini memang cukup singkat terasa karena masih banyak pertanyaan yang ingin dijawab. Di akhir sesi Bu Elaa, kita semua yang berada di ruangan ini dan juga guru-guru di luar sana percaya bahwa guru harus merdeka belajar untuk memajukan pendidikan di Indonesia.

Read more

Perayaan Kerja Barengan: Pesta Pendidikan Kota Batu 2019

Hampir satu tahun Kampus Guru Cikal bersama dengan Keluarga Kita, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan dan Inibudi sepakat untuk melakukan kerja barengan melalui Kolaborasi Literasi Bermakna di Kota Batu. Hari Sabtu, 16 November 2019 kami merayakan kerja barengan melalui Pesta Pendidikan Batu 2019, perayaan kerja barengan Kolaborasi Literasi Bermakna-INOVASI, Sekolah Mitra, Dinas Pendidikan Kota Batu serta pemangku kepentingan yang mendukung ekosistem pendidikan yang lebih baik. Peserta yang hadir pun bervariasi dari sekolah mitra dan sekolah non mitra, juga berasal dari Batu, Malang, Lamongan dan Probolinggo.

photo6278447094272469572

Read more

Foundation Program Batch 41 Jakarta: Ketika Guru Baru Bertemu

Awal dan akhir tahun ajaran merupakan waktu yang paling ditunggu, bukan hanya murid tetapi juga guru. Namun, Sekolah Cikal punya cara asik menggunakan waktu liburan untuk menyiapkan tahun ajaran baru dengan Foundation Program dan juga waktu untuk berkenalan dengan guru baru.

Foundation, kalau mendengar kata tersebut langsung teringat dengan alas bedak atau pondasi rumah, sama-sama memiliki makna yang kuat dan kokoh. Kalau alas bedak yang kuat, make up bisa bertahan lama, kalau pondasi rumah kokoh, akan sanggup menopang bangunan yang berdiri di atasnya. Lah, iya gimana? Lalu hubungannya dengan tulisan ini?

2019_0624_15275800

Hari ini, 24 Juni 2019 Foundation Program Batch 41 Sekolah Cikal dimulai bertempat di GSG Sekolah Cikal Cilandak, terdapat Cikal Team Member dari Sekolah Cikal, Rumah Main Cikal, Kampus Guru Cikal dan Head Office yang mengikuti program ini, beberapa ada yang sudah bergabung dan juga ada yang baru bergabung. Foundation Program dilaksanakan selama 3 bulan dengan metode blended learning, 6 hari ke depan akan bersama-sama menguatkan tujuan kita berada di Cikal. Foundation Program adalah salah satu cara untuk menyiapkan tahun ajaran baru dan ketika guru baru bertemu.

Pak Daus menyapa peserta yang sudah hadir dan Foundation Program resmi dibuka oleh Bu Renny, GM HR Sekolah Cikal dan berlanjut ke sesi materi. Eh, tak kenal maka harus kenalan. Pelatih dari Kampus Guru Cikal, Bukik Setiawan mengajak peserta untuk berdiri berurutan sesuai abjad film yang ditonton, secara berpasangan peserta berkenalan dan juga bercerita tentang film favorit selama 3 menit. Seru? Seru donk, aku sih sempat menyimak ada beberapa peserta yang film favoritnya Avengers dan mengidolakan tokoh Iron Man, yee sama *lah dan mereka bergabung menjadi 6 kelompok, The Power Puff Girl, Guardian of Cikal, Ades, Breakfast Club, Hobi Makan dan Rainbow.

Read more

Pesisir Selatan, Menulis Kenangan Manis

Memasuki kunjungan terakhir ke Pesisir Selatan dengan agenda Pelatihan Menulis dan membuat video guru belajar dan penyerahan buku donasi kepada Bapak Ibu Guru Peserta Pelatihan, semua jadwal dan pelatih sudah disiapkan dan diumumkan. Namun, terjadi perubahan mendadak yang membuat jadwal maju dan mundur juga pelatih yang berangkat. Dengan berbagai pertimbangan, yang berangkat adalah saya dan Rizqy Rahmat Hani.

 

Siap Berangkat!

Senin pagi itu kami sudah berada di Bandara Soekarno Hatta menunggu waktu keberangkatan menuju Padang. Seperti dugaan, cuaca di atas sedang musim hujan dan angin kencang. Lima menit take off, yang terlihat hanya awan gelap dan angin yang berhembus kencang. Disusul dengan turbulensi yang cukup membuat jantung makin kencang, tanda penggunaan sabuk pengaman pun belum mati. 30 menit tanpa henti dengan turbulensi, pramugari tetap senyum untuk menawarkan menu sarapan. Muncul pengumuman dari Pilot agar segera menggunakan sabuk pengaman, saat itu aku melihat pramugari yang sedang bertugas segera membenahi troli makanan dan bergegas duduk memakai sabuk pengaman. Huh, 30 menit tersebut cukup mencekam dan sepanjang perjalanan selalu minta sama Allah yang terbaik, pun terdengar dari penumpang lainnya.

Read more

Butuh Jeda dan Hanya Tertawa

Kampus Guru Cikal - Honje

Dua hari sebelum berangkat, belum juga diputuskan akan menggunakan transportasi apa menuju kesana, Honje Ecolodge. Bagaimana kalau kita menggunakan transportasi umum atau membawa mobil saja? Keputusan belum jelas, akhirnya kami memilih menuliskannya. 4 orang memilih transportasi umum dan 2 orang menggunakan mobil. Kami sepakat untuk menggunakan transportasi umum yang sebenarnya agak buat deg-degan juga sih.

Read more

IniBudi, Ini Jaktim, Ini Bekasi, Ini Kami yang Berdaya

Halo. Selamat Sore Penggerak KGB Jakarta Timur dan Bekasi! Kita Mudik yuk barengan sama INIBUDI bikin video pembelajaran. Gimana? Siap? Pelaksanaan Pembuatan Video Pembelajaran INIBUDI dilaksakan di 25 Agustus 2018. Mau tahu berapa lama persiapannya? 2 bulan! Koordinasi dilaksanakan selama dua bulan Bersama Bu Mitha, Pak Rachmad, Pak Bayu, Bu Ana dan Bu Ida. Persiapan awal, menentukan tempat. Ada dramanya? Ada! Rupanya tempat kegiatan mendadak berganti dua minggu sebelum pelaksanaan. Terima kasih ya MAN 14 Jakarta Timur untuk kesediaannya! Persiapan lainnya adalah menentukan konsumsi, mau makan apa? Sungguh, menentukan makanan butuh waktu lama sampai akhirnya memutuskan untuk memesan pie, arem-arem, pistel, ayam bakar dan diakhiri dengan donat. Tak lupa dibawakan cucur oleh Pak Yasin dan juga teh dan kopi hangat oleh MAN 14. Terima kasih loh Pak Bu! Lanjut ke persiapan berikutnya, konfirmasi peserta dimulai dari H-7 sampai H-1. Begitulah, banyak yang berguguran tapi tak menggugurkan minat guru lain untuk ikut belajar. Kita melakukan diskusi via WAGroup tentang persiapan pembuatan video pembelajaran dengan Pak Rizqy Rahmat. Mau tahu apa yang dipertanyakan banyak guru, “Besok bawa apa saja ya? Kenapa materinya Bahasa Indonesia untuk SD?” Besok bawa handphone ya Pak Bu dan juga semangat untuk belajar barengan! Tenang, sampai pagi acara dimulai pun masih pada bertanya bawa apa saja. Kenapa Bahasa Indonesia? Menurut riset dan riset, materi pembelajaran Bahasa Indonesia masih sangat minim, jadi ini salah satu bentuk untuk menyebarkan kepada guru-guru lain yang membutuhkan inspirasi dan metode pembelajaran yang seru. Peregangan agar senang belajar hari ini sekaligus perkenalan, ternyata banyak sekali Bapak Ibu Guru yang hadir tidak hanya dari Bekasi atau Jakarta Timur dan ada yang dari Jakarta Selatan juga loh! Selanjutnya acara dipandu langsung oleh Bu Upi dan Tim INIBUDI untuk menyampaikan proses pembuatan video pembelajaran, mulai dari pencarian ide, format skenario, sampai teknis dalam pengambilan gambar. Lalu bagaimana prosesnya? Beberapa yang mengambil peran sebagai Talent deg-degan, beberapa lainnya gemeteran memegang kamera, beberapa lainnya ikut merasakan deg-degan kapan gilirannya tiba dan lain sebagainya. Proses pengambilan video selesai di jam 14.30 WIB. Ada yang mengambilnya di dalam aula, di lapangan, di ruangan kelas dan juga di masjid. Keren kan! Lebih keren lagi saat penjelasan tentang proses editing, dimana peserta diminta mendownload aplikasi. Pertanyaan demi pertanyaan keluar dan juga pernyataan di sesi refleksi. Oh, ternyata bisa semudah ini ya, bisa diterapkan juga ke siswa, bias mempermudah proses pembelajaran. Terima kasih Bapak Ibu Guru sudah mau menggunakan waktu luangnya untuk belajar Bersama. Beberapa meyakini bahwa teknologi itu menyusahkan tetapi kali ini kita membuktikan bahwa ada teknologi yang juga memudahkan.

Basamo Mangko Manjadi

Biar Lamo Tak Pulang, Ambo Urang Awak Jugo Bisa tebak lagu dari daerah mana? Yep! Minang! Balik ke Sumatera Barat lagi. Tempat yang saya idamkan sejak dulu karena demokrasi lokalnya yang memberdayakan masyarakat sekitar. Kali kedua menuju Painan, Pesisir Selatan dan tak sabar disuguhkan dengan paket komplit, dimana sejauh mata memandang kita akan berucap wah dengan mata berbinar, disana banyak cerita tentang gunung, sawah, laut, sungai, air terjun dan pasti makanannya jadi mau bilang “Tambo cie, uda”. Jangan salah fokus, guru-guru disana juga sungguh jadi candu loh! Mau Ngapain di Pesisir Selatan? Mau bawa pelatih literasi dan numerasi, Bu Puti Hamid dan Bu Anya bertemu dengan guru-guru hebatnya Pesisir Selatan buat Pelatihan di tanggal 28 dan 29 Agustus 2018. Kenapa saya bilang guru-gurunya hebat? Karena seusai pelatihan Merdeka Belajar dan Memanusiakan Hubungan di 26-28 Juli 2018, energi hebat dan positifnya guru-guru yang ikut pelatihan tak hanya diterapkan di ruangan kelas tapi juga disebarkan ke guru-guru lain dengan Temu Pendidik Daerah yang dilakukan di Tapan. Bangga Pesisir Selatan! Penasaran banget sih kalau kesana langsung bagaimana ya energinya mereka? Pelatihan besok diruangan itu lagi, UPTD IV Jurai dimana energi terurai dan tersebar luas. Terima kasih ya Bu Muldifia sudah selalu bersedia menyiapkan ruang belajar untuk kami. Kenapa tempatnya disana lagi? For Your Information, itu daerah yang terjangkau dari semua guru yang tersebar disepanjang 218 km. Kebayang usaha mereka buat belajar gimana? Saya sih, baca chatnya elus-elus mata karena haru. Hari Pertama, dimulai! Pelatihan hari ini dibawakan Bu Puti tentang Literasi “Berpetualang Melalui Membaca”. Kenapa literasi? Dengan memberikan topik ini diharapkan para peserta mengerti mengenai miskonsepsi dari literasi dan membaca, memahami tahapan perkembangan dalam membaca dan dapat digunakan sebagai dasar acuan untuk menentukan atau membuat materi ajar yang sesuai dengan tahapan usia anak. Literasi, apa itu literasi? Apa yang sudah diketahui? Apa yang ingin diketahui? Apa yang sudah dipelajari? Selama 6 jam, selama itu pula Bapak Ibu Guru asik mencari, memahami dan mengangguk-angguk tentang Literasi. Sesi paling menarik ketika pembahasan tentang Konsep dan Miskonsepsi. Kenapa? Karena sesi ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk membuka dan melihat kembali konsep yang dimilikinya mengenai literasi, dalam hal ini membaca. Ada empat pernyataan, yang membuat sebagian setuju, sebagian lainnya tidak setuju dan beberapa diantaranya mengalami fase bimbang dan berpikir mau ada di baris setuju atau tidak setuju. Sesi-sesi yang dilalui hari ini bukan hanya guru yang belajar tapi kami, saya dan pelatih juga belajar banyak dari Bapak Ibu Guru Pesisir Selatan. Refleksi adalah tanda akhir sesi pelatihan literasi hari ini. Semua tulisan mengesankan sekaligus menyenangkan buat saya dan pastinya pelatih saat membacanya. “Rupanya membaca itu tidak saja merangkai kata tapi melihat, menceritakan dan menyampaikan pesan kepada orang lain”. “Saya mendapat berbagai tingkatan pemahaman membaca sesuai usia anak” dan “Membaca itu memahami makna-makna dari sekitar kita”. Hari kedua berlangsung! Pelatihan Numerasi dibawakan oleh Bu Anya, Bu Anya deg-degan nih karena Kepala Dinas Pendidikan Pesisir Selatan Bapak Zulkifli juga hadir di pelatihan sebagai peserta. Guru-gurunya bagaimana? Rupanya,k eikutsertaan Pak Zul merupakan bahan bakar bagi guru-guru karena ini pertama kalinya Beliau hadir sebagai peserta. Apa hal paling menarik dari pelatihan hari ini? Sesi Konsep dan Miskonsepsi memang selalu paling menarik. Pak Zul pun ikut bersuara pengalamannya bahwa numerasi di pelajaran matematika selalu menantang, selain kaku pun tujuan dari belajar matematika cukup abstrak dan belum paham akan digunakan dimana saat bekerja nanti. Betul saja, satu per satu pun berteriak sama termasuk saya. Sesi ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk membuka dan melihat kembali konsep yang dimilikinya mengenai numerasi, dalam hal ini matematika. Selain sesi konsep dan miskonsepsi, sesi pelatihan numerasi sangat menarik dan juga membawa suasana belajar makin riuh. Kenapa? Ternyata belajar matematika tidak abstrak! Bisa seru dan juga membuat ketagihan. Bapak Ibu Guru saja ketagihan, bagaimana murid dikelas nanti ya? Memahami tahapan memahami matematika mempermudah untuk dikembangkan metode apa yang akan diterapkan di kelas misalnya bermain tebakan, bermain peran dan juga bermain estafet. Pulang dengan Kenangan dan Senyuman Sepanjang dua hari pelatihan, kelas kami diiringi lagu yang sedang membakar semangat para Atlet yang sedang berjuang di ASIAN Games 2018. Dua hari melihat Bapak Ibu Guru berjuang mulai dari berangkat sampai pulang untuk belajar di pelatihan yang mereka pilih sendiri. Dua hari, bukan hanya mereka yang belajar, saya juga. Belajar itu adalah kebutuhan, tidak perlu menunggu untuk diberi karena jika kamu butuh kamu akan berusaha mencari. Belajar itu bukan tentang siapa guru dan siapa murid, percayalah bahwa semua murid semua guru. Belajar itu pilihan, karena jika sebuah paksaan tanpa kesadaran, setelahnya akan kececeran. Belajar itu menyenangkan bahkan bias menjadikannya kekuatan untuk menjalani kehidupan. Esok harinya sampai tulisan ini selesai, saya tersenyum bahagia dan percaya ketika menerima berita bahwa Bapak Ibu Guru Pesisir Selatan sedang berjuang untuk Pendidikan yang lebih baik, melalui implementasi di kelas dan juga menyusun strategi agar bisa tersebar untuk guru-guru lainnya! Basamo Mangko Manjadi

Refleksi Enam Bulan di Kampus Guru Cikal

Tak ada pekerjaan yang tak membuat lelah, tak ada pekerjaan malah akan membuatmu lelah bukan kepalang. Bagaimana kondisi pekerjaanmu dan juga kantormu? Apakah sudah tepat untuk membuatmu berkembang dan membuatmu menjadi ‘The Best Version of Yourself’?

Bekerja di bidang pendidikan adalah cita-cita saya. Dulu sekali ingin punya Taman Kanak-Kanak bahkan ingin jadi Dosen. Tapi proses bekerja di bidang pendidikan dan untuk berada disini cukuplah berkelok bagi saya.

WhatsApp Image 2018-09-18 at 11.20.09 (2)

Tiga bulan awal bekerja, saya pun masih penuh tanda tanya di kepala. Apa saya berada di tempat yang tepat? Ada satu tantangan lagi yang melekat di kepala saya, Apakah Bapak Ibu Guru mau berdampingan dengan saya? Iya, saya yang bukan dari background pendidikan atau psikologi dan juga pekerjaan saya sebelumnya adalah Finance Officer. Apa mereka mau belajar dari usia saya yang relatif muda, 27 tahun?

Read more

Salah Kaprah Pendidikan dan Saya

“Patriarki sesungguhnya adalah purwarupa dari segala bentuk eksploitasi, tidak hanya eksploitasi kelas, tetapi juga eksploitasi separuh umat manusia oleh setengah yang lain. Perubahan hanya dimungkinkan kala mayoritas orang pada suatu hari nanti mampu melihat bahwa keadaan tidak bisa berlanjut seperti saat ini, kita harus melepaskan ilusi kita.” Kutipan kalimat dari Buku yang belum habis untuk dicerna namun beberapa lembar saja sudah membuatku mengangguk dan tersenyum manis. Hampir enam bulan belajar di Kampus Guru Cikal, proses menuju babak ini pun cukup tidak mudah. Satu per satu melempar pertanyaan, kenapa pindah dari perusahaan sebelumnya? Kamu mau cari apa sih di dalam hidup? Kamu suka menantang hidup ya, jadi pegawai dengan hidup terjamin itu kan idaman banyak perempuan dan orang. Bagaimana tanggapan orangtua? Kenapa bidang pendidikan? Begini ceritanya: Bersekolah di sekolah unggulan dan masuk peringkat 10 besar adalah kewajiban. Saat kelas kecil ada beberapa guru yang menerapkan murid membaca saat malam hari lalu esoknya diskusi, sungguh saya senang sekali belajar tidak hanya dengan metode ceramah tetapi aksi nyata. Saya terkena drama matematika, kalau salah terkena hukuman fisik! Padahal di rumah dan di sekolah saya diajarkan untuk jujur kalau belum mengerti atau tidak bisa mengerjakan, kenapa saya dihukum? Akhirnya saya membenci matematika, karena ujung-ujungnya nilai. Hal ini berlanjut, setiap matematika ya contekan donk (keahlian mencontek saya hanya untuk matematika, prinsipnya bohong disini, pelajaran lain jujur), saya bawa sampai tingkat menengah atas. “Kenapa sih harus belajar x dan y diterapkan kapan di kehidupan sehari-hari? Kenapa kalau saya salah mengerjakan tugas dihukum? Kenapa saya dicap bodoh hanya karena tidak bisa matematika padahal saya cukup pintar di pelajaran lainnya? Hal ini berubah saat saya bersekolah di sekolah menengah atas yang tidak berstatus unggulan dan terletak di ujung sana, saya bertemu guru matematika yang membuat saya mau belajar. “Bu Nelly, maaf ya saya belum mengerti materi ini. Ibu mau ulang lagi materinya? Mau bantuin saya gak Bu? Bu Nelly mengangguk dan meningkatkan kepercayaan diri saya. Meski tidak pintar tapi saya mengerjakan matematika, hanya hitungan jari saya remedial. Saya senang belajar dari orang yang saya sukai, saya belajar dari orang yang tidak menghakimi. Saya masuk IPS dengan kepercayaan bahwa anak IPS juga bisa sukses. Saya masuk Ilmu Pemerintahan melalui jalur PKAB dengan kepercayaan bahwa kelak yang bisa menjadi guru bukan hanya lulusan FKIP, saya juga ingin mematahkan anggapan mahasiswa yang mengurusi organisasi bisa lulus tepat waktu, bahkan pertama diangkatannya. Saya juga lulusan Desain Grafis, mendapat kucuran dana saat menjadi pelatih Corel Draw. Disisi lain, akhirnya saya tidak menyelesaikan Sastra Inggris di semester akhir. Menjadi penyanyi, penyiar, presenter, pembawa acara membawa saya bertemu dengan tokoh-tokoh penting, Walikota, Gubernur, Pejabat Politik bahkan Menteri sekalipun. Menjadi Liasion Officer beberapa event lokal bahkan menjadi asisten dosen untuk beberapa mata kuliah. Hal-hal ini yang saya tekuni disela padatnya kegiatan akademik. Yeay! Lulus dengan predikat berprestasi dan punya segudang pengalaman kerja itu menyenangkan dan membanggakan untuk saya, sekalian hadiah bisa mematahkan prasangka kepada orang yang tidak cukup pintar di matematika. 2014, akhirnya saya bekerja dan berubah status menjadi perantau. Mulai tidak betah kalau hanya kantor dan kosan. Mencari aktivitas lain, sebagai guru privat untuk anak usia dini dengan banyak sekali karakter di setiap sore saat pulang kerja. Akhirnya berhenti, karena masih bingung bagaimana memahami murid yang usianya dini. Menjadi relawan di sosial pendidikan, sampai akhirnya bertemu dengan kegiatan peningkatan kapasitas guru. Ulala, senang sekali rasanya membawakan materi disiplin positif di depan bapak ibu guru dan mendengar cerita mereka setelahnya. 2016, “Selamat Pagi Kampus Guru Cikal, Bagaimana ya menjadi relawan di Komunitas Guru Belajar Palembang? Tapi saya bukan seorang guru” E-mail perdana saya tapi tidak kunjung ada balasan. 2017, saya meyakinkan untuk menjadi seorang guru, di beberapa sekolah yang sudah saya kirimkan lamarannya, termasuk Sekolah Cikal. Tahun ini juga, saya bergabung dan menjadi Penggerak KGB Palembang serta mendapatkan beasiswa TPN 2017. Yeay! Sebagai seorang Account Officer dan mengikuti kegiatan guru ini tambah kebelet pengen jadi guru tapi belum ada yang mau menerima. Yu, kamu lagi sibuk kegiatan apa? Cari rezeki Pak, kerjaan baru. Oh gitu, dimana? Jadi guru sih, di beberapa sekolah. (((Percakapan berlanjut via telegram sesaat sepulang TPN) Halo. Selamat Siang Mahayu! Saya Rangga dari Sekolah Cikal ingin mengabarkan bahwa Anda berhak mengikuti tahapan seleksi disini. Tiba-tiba berdering, bersuara dan seakan mengiyakan harapan lama. Tebak posisi apa? (((Cerita Bersambung))) Salah kaprah pendidikan pertama bagi saya yang saya alami adalah bersekolah di sekolah unggulan dan mendapatkan peringkat terbaik di sekolah.  Kalau Anda, bagaimana?