Pelatihan Pemetaan Potensi Karir ABK Pasca Pendidikan Menengah

Pelatihan ini dilaksanakan selama 3 hari yaitu pada hari Kamis sampai Sabtu, 3 – 5 Oktober 2019 yang bertempat di LPP Garden Hotel, Yogyakarta. Peserta yang ikut  sejumlah 26 orang ,19 orang perempuan dan 7 orang laki-laki. Sebagai gambaran, bimbingan karir untuk anak berkebutuhan khusus adalah hal penting yang prosesnya tidak terjadi begitu saja. Berbagai persiapan untuk membimbing anak berkebutuhan khusus adalah proses yang cukup panjang yang harus dilalui oleh seorang guru untuk membuat analisa, profil dan Program Pembelajaran Individu. Pelatihan Pemetaan Potensi Karier Murid ABK ini merupakan sebuah pelatihan tatap muka yang diselenggarakan oleh Kampus Guru Cikal dan Nusantarun dengan tujuan memberikan pembekalan guru-guru di Jawa Tengah untuk bisa memetakan potensi ABK dan membuat Program Pembelajaran Individu. Pelatihan dibuka dengan pemaparan mengenai Kampus Guru Cikal (KGC), Komunitas Guru Belajar (KGB), dan profil tim KGC yang akan mendampingi peserta selama pelatihan. Aktivitas selanjutnya adalah para  peserta diminta  untuk berkenalan melalui kegiatan “Sepatu Bicara”. Peserta diminta untuk melepas sepatu sisi kiri dan meletakkannya di tengah. Setelah itu, kembali ke tempat duduknya masing-masing. Setelah duduk, peserta diminta mengambil sepatu secara acak yang bukan sepatunya sendiri. Setelah itu, mereka diminta untuk mencari pasangan sepatunya. Ketika menemukan jodoh pasangan sepatunya, peserta diminta untuk saling bercerita. Pada pelatihan sebelumnya, peserta belajar mengenai asesmen, wawancara, observasi, serta minat berdasarkan teori Holland. Beberapa peserta juga mengemukakan perasaan dan pengalamannya dalam melakukan asesmen dan membuat laporan profiling, seperti kesulitan menyesuaikan kosakata saat wawancara dengan anak tunagrahita. Setelah review, pelatih memaparkan mengenai alur pelatihan dan meminta peserta untuk menuliskan apa yang sudah mereka ketahui (S) dan apa yang ingin mereka ketahui (I) mengenai bimbingan karir ABK pada kertas post-it. Peserta lalu diminta untuk mengisi kolom S, I dan P. Berikutnya peserta dijelaskan tentang tujuan dan alur pelatihan, sebelum akhirnya sesi ini ditutup dengan menyepakati kesepakatan bersama tentang apa yang dapat dilakukan agar pelatihan berjalan secara lancar. Peserta telah paham mengenai tujuan dan metode-metode asesmen (seperti observasi, wawancara, dan tes). Pada saat aktivitas refleksi profiling pelatih membuka dengan membagi kelompok menjadi berpasangan dengan kegiatan mencari jodoh melalui potongan kertas dalam kalimat. Masing-masing anggota kelompok berdiskusi mengenai keberhasilan dan tantangan yang dihadapi dalam membuat profiling asesmen yang mereka jalani sebelum pelatihan ini. Kemudian peserta diminta untuk menempelkan profiling asesmennya di meja, dan melakukan gallery walk, yaitu membaca profiling assessment yang lain, dan memberikan umpan balik dengan menuliskan post it dan menempelkan di kertas profiling assessment temannya. Kemudian setelah semua peserta menerima umpan balik dari peserta lainnya, peserta kembali kepada pasangannya dan bersama merumuskan kunci keberhasilan dan tantangan dalam membuat profiling assessment. Lalu dalam kelompok besar, pelatih membuat daftar dari hasil diskusi dalam tabel tampak seperti dan tidak seperti. Kemudian masing-masing peserta membuat catatan untuk revisi profil assessment yang sudah dibuat oleh masing-masing. Kegiatan ini berhasil membuat para peserta untuk berpikir kembali mengenai apa saja yang harus dilakukan dan penting dilakukan untuk membuat profiling assessment. Kegiatan selanjutnya adalah  Analisa Hasil Profiling  dengan mengajak para peserta bermain peran dengan menjadi detektif.  Peserta diminta untuk menyimak baik-baik  kasus, alat bukti dan dugaan yang dilakukan. Selanjutnya peserta diminta untuk menjelaskan motifnya dan siapa pelakunya.  Melalui kegiatan bermain peran ini para  peserta terlihat sangat antusias pada saat kegiatan menonton video. Beberapa peserta bisa memberikan jawaban pertanyaan dari video yang telah ditonton seperti apa saja hal yang diamati oleh sang detektif, menjelaskan kesimpulan yang diambil oleh sang detektif, bagaimana cara detektif bisa membuat kesimpulan dan apa yang bisa dipelajari dari cara detektif mengambil kesimpulan tersebut. Di hari  kedua Jumat, 4 Oktober 2019 para peserta belajar tentang Program Pembelajaran Individu (PPI): Konsep, Tujuan, Cara Kerja. Sesi dimulai dengan diskusi bersama peserta mengenai analisa profil yang sudah mereka buat sudah dapat langsung dibuat menjadi PPI. Sebagian peserta menjawab belum cukup, harus dibicarakan lagi dengan orang tua. Lalu dilanjutkan dengan apa yang mereka ketahui tentang PPI. Setelah itu pelatih memaparkan tujuan, konsep, dan prinsip PPI. Setelah itu, sesi pun diakhiri dengan contoh lembar PPI beserta penjelasan mengenai isinya. Beberapa peserta sudah familiar dengan istilah konferensi. Beberapa peserta juga memiliki pengalaman melakukan konferensi kelas dengan orang tua. Saat menuliskan apa yang ada di pikiran mereka mengenai PPI, sebagian besar sudah memiliki pandangan yang sesuai dan sama mengenai PPI. Peserta mengetahui bahwa PPI bersifat individu sesuai dengan kebutuhan dan minat anak, berisikan identitas, target/rencana perilaku yang ingin dicapai, waktu pelaksanaan, kemampuan anak saat ini, materi yang diberikan, strategi pengajaran, serta evaluasi yang dilakukan. Mereka juga sudah tahu kalau PPI merupakan program yang disusun berdasarkan informasi dari berbagai pihak yang terlibat dengan anak.  Pada saat materi tentang keterampilan komunikasi dengan murid dan orangtua ABK  dimulai dengan diskusi apa saja yang peserta ketahui tentang keterampilan komunikasi, terutama dengan ABK dan orang tua ABK. Kegiatan berikutnya adalah berbagi pengalaman melihatkan orangtua murid ABK dalam merencanakan karirnya. Dilanjutkan dengan diskusi tantangan terbesar dalam berkomunikasi dengan orang tua dan murid saat merencanakan karirnya diteruskan  dengan paparan tentang konferensi 2 dan 3 arah. Pada saat masuk materi PPI, peserta diberikan  penjelasan tentang elemen dalam PPI seperti deskripsi kemampuan siswa saat ini yang bisa diperoleh dari lembar konferensi, menentukan tujuan umum yang akan dicapai dan harus  relevan, fungsional dan rasional. Pelatih menjelaskan setelah menuliskan tujuan umum peserta bisa membuat tujuan pembelajaran khusus dan deskripsi tentang pembelajaran yang menunjang tujuan pembelajaran. Dengan ini program pembelajaran individual setidaknya bisa diukur tingkat keberhasilannya.  Penentuan waktu pelaksanaan program dan berakhirnya kapan  juga perlu dituliskan di awal dikarenakan akan menentukan kapan akan dilakukan evaluasi program.  Selanjutnya para peserta diminta untuk membuat PPI dari studi kasus Wira dan setelah itu mereka mempresentasikannya kedepan. Kegiatan selanjutnya adalah membuat lembar konferensi 3 arah dari profiling murid masing-masing dan berlanjut membuat program pembelajaran individual  dari lembar konferensi 3 arah yang telah mereka buat. Pada hari ketiga peserta  belajar tentang Program Bimbingan Karir dengan tujuan   Menggali pemahaman peserta  tentang apa itu bimbingan karir bagi abk.   Pada  materi Perencanaan Bimbingan Karir dan Menyusun Rancangan Bimbingan Karir. Sesi awal,  peserta diminta diskusi mengenai perbedaan pendidikan vokasional dan pendidikan akademik, beserta karakteristik anak yang direkomendasikan pada masing-masing pendidikan tersebut. Setelah itu pelatih memaparkan mengenai hal penting dalam menyusun rancangan bimbingan karir, … Read more

Komunitas Guru Belajar dan Tradisi Bertanya

Kepada yang TerhormatMas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RIDi Jakarta. Tabik. Semoga Tuhan yang Maha Kuasa meridhoi semua usaha dan aktivitas hari ini. Perkenalkan, nama saya Usman Djabbar Mappisona, mewakili Komunitas Guru Belajar Nusantara. Hari ini, kami bergembira. Betapa senangnya mendapatkan undangan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Perkumpulan guru yang baru saja mendeklarasikan dirinya sebagai organisasi profesi guru, hari ini bisa berkumpul dengan Mas Menteri, kawan-kawan Asosiasi Profesi, para pakar dan tokoh pendidikan di negeri ini. Di undangan yang dikirimkan kepada kami, tertera kesediaan untuk menuliskan dua atau tiga masalah yang mendesak yang harus segera diselesaikan oleh kita semua. Masalah-masalah itu tentu saja versi kami, berdasarkan pengalaman kawan-kawan guru di berbagai daerah. Masalah yang kami ungkap adalah aspirasi yang disampaikan rekan-rekan sejawat kami pada Kongres pertama yang berlangsung baru-baru ini. Pada sesi kebutuhan dan kontribusi daerah. Apa masalah yang dihadapi oleh kawan-kawan guru di daerah dan kontribusi apa yang bisa diberikan. Kebutuhan dan kontribusi tersebut kemudian kami padatkan menjadi tiga poin. Mas Menteri yang terhormat, Poin pertama, sesungguhnya sudah dilakukan pihak kementerian minggu ini: mendengarkan masalah-masalah yang harus segera diselesaikan. Jujur Mas, kami sudah lama menunggu untuk ditanya-tanya. Diajak bicara. Membangun percakapan. Apa saja masalah yang terjadi setiap hari di sekolah, ruang kelas dan ruang lain sepulang murid-murid dari sekolah. Puji Tuhan, hari ini pihak kementerian mewujudkannya. Harapan kami, ini menjadi tradisi saling bertanya. Menjadi budaya dari atas sampai bawah. Dimulai dari kementerian, kepala dinas pendidikan provinsi/kabupaten, kepala sekolah dan para guru di ruang kelas. Betapa berdampaknya tradisi ini: setiap guru akan selalu bertanya pada setiap murid-muridnya. Mohon izin Mas Menteri, kami memberi satu contoh.Tentang kemerdekaan guru memilih pelatihan sendiri. Kami merasa saat ini belum pernah ditanya-ditanya jenis pelatihan apa saja yang paling kami butuhkan. Setiap undangan yang datang ke sekolah hanya untuk menghadiri. Apalah daya kami untuk menolak? Akibatnya jelas. Kegiatan pelatihan bersifat rutin, membosankan dan kehilangan daya tarik sama sekali. Banyak yang merasa terpaksa mengikuti diklat karena perintah pimpinan bukan karena kebutuhannya. Cerita yang berserakan, kerap terdengar. Bagaimana diklat gratis di hotel berbintang hanya untuk memenuhi kuota peserta, bukan karena benar-benar dibutuhkan. Bagaimana seharusnya? Siapkanlah formulir yang berisi pertanyaan: untuk meningkatkan keterampilan Anda sebagai guru, jenis pelatihan apa yang dibutuhkan? Percayalah, kami pasti menjawab sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi di ruang kelas. Hasilnya pasti dahsyat. Tersedia semacam bank data kebutuhan pelatihan. Sebutlah dengan pemetaan. Sudilah pihak kementerian memfasilitasi kawan-kawan guru kami mengikuti satu atau beberapa diklat yang diminati, yang sesuai dengan kebutuhan, yang cocok dengan situasi kelas yang dihadapinya. Percayalah. Jika tradisi bertanya ini terus dirawat, maka akan berlanjut ke ruang kelas. Para guru juga akan terbiasa untuk bertanya pada murid-muridnya: ‘mengapa penting menguasai’, bukannya ‘bagaimana menguasainya’. Mengapa penting untuk belajar, bukan bagaimana harus belajar. Keduanya berbeda. Mas Menteri yang terhormat. Tradisi bertanya yang kami rawat ini kemudian mengarahkan pada soal yang kedua. Menjawab pertanyaan-pertanyaan murid dan sejumlah masalah yang kami hadapi di ruang kelas kemudian berkembang menjadi praktik baik. Besar keinginan kami untuk menyampaikan kepada bapak Menteri bahwa dihari deklarasi kemarin kawan-kawan kami di daerah telah menulis dan berbagi 293 praktik baik pengajaran. Semua praktik baik ini kami rangkum dalam Surat Kabar Guru sebanyak 23 edisi dan empat buku. Praktik baik yang ditulis oleh guru, editornya berasal dari guru dan dipraktikkan kembali oleh guru. Praktik belajar putaran ganda. Kawan kami dari kabupaten Sanggau mengembangkan kecakapan literasi murid-muridnya dengan membuat adonan kue. Dari merumuskan rencana kegiatan, menyiapkan bahan, membuat adonan sampai proses akhir: melakukan refleksi. Pada bagian mana yang harus diperbaiki? Kawan kami dari Makassar memainkan Congklak bersama murid-muridnya untuk melatih keterampilan memutuskan. Guru Pekalongan mengembangkan keterampilan berbahasa Indonesia melalui minat dan kegemaran murid-muridnya. Lalu apa masalahnya? Kawan-kawan kami di daerah masih merasa berjalan sendirian. Praktik baik belum menjadi tradisi sekolah, tradisi dinas pendidikan atau mungkin tradisi kementerian. Kami gembira mendengar bahwa kegiatan berbagi praktik mengajar juga telah diampu pihak kementerian melalui kegiatan pengembangan kompetensi guru berbasis zonasi. Semoga saja program ini berkelanjutan, tidak berhenti hanya sebagai bahan ajar pelatihan. Mas Nadiem Makarim. Poin ketiga yang ingin kami sampaikan adalah terkait dukungan terhadap organisasi profesi. Kami percaya bahwa persoalan pendidikan tidak bisa dilakukan sendirian. Kompetensi guru bukan hanya urusan kementerian saja. Mesti serempak dan berbarengan. Kami ingin terlibat. Setelah melakukan perjalanan panjang selama lima tahun, kami telah telah melakukan ribuan temu pendidik. Akhirnya, pada tanggal 25 Oktober 2019, 1.300 guru sepakat, Komunitas Guru Belajar mendeklarasikan dirinya sebagai salah organisasi profesi guru. Benar. Kami masih sangat muda usia. Harus belajar sebanyak-banyaknya dari berbagai pihak. Tapi percayalah Mas, kami punya niat yang baik untuk mengajak rekan guru saling menguatkan dan berkolaborasi. Kami ingin berdiri dan bergerak bersama kawan-kawan dari perkumpulan guru yang telah berdiri lebih awal. Kami ingin melibatkan diri memajukan profesi guru. Bukankah ini maksud dan tujuan pertemuan kita? Mohon dukungannya. Demikian tiga hal yang menurut kami perlu untuk disampaikan. Terima kasih telah diundang hadir. Jakarta, 4 November 2019Usman Djabbar MappisonaKetua UmumKomunitas Guru Belajar Nusantara

Persiapkan Karier Murid Disabilitas di Masa Depan lewat Pelatihan Pemetaan Potensi ABK Yogyakarta

Hermawan, Penyandang Disabilitas Grahita asal Solo Jawa Tengah, pasca lulus SMALB 2 tahun lalu merasa bingung dengan arah karir nya. Pasca lulus ia masih datang ke Sekolah untuk sekedar main. Sudah tidak tercatat sebagai murid di sekolah, aktifitas Hermawan hanya duduk-duduk di halaman sekolah. Hingga tiba waktu pulang, Hermawan akan ikut pulang bersama  murid lain. Cerita tersebut tidak hanya dialami oleh Hermawan, tetapi juga dialami sebagian besar murid disabilitas di Indonesia. Pasca lulus di jenjang Sekolah Menengah Atas, sebagian besar anak dan orangtua bingung apa yang harus dilakukan, mau diarahkan kemana karier si anak kedepan. Berangkat dari permasalahan tersebut, Kampus Guru Cikal  bekerja sama dengan Nusantarun menyelenggarakan Pelatihan Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas. Acara yang berlangsung di LPP Hotel tersebut diikuti oleh 40 peserta yang berlatar belakang guru SMALB, Guru BK SMA inklusi dan Guru BK Sekolah reguler. Pelatihan ini adalah rangkaian Acara Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas Jateng & DIY. Pelatihan yang berlangsung selama 3 hari ini (27-29  Agustus 2019) bertujuan untuk peserta memiliki persepsi yang sama mengenai tujuan pendidikan inklusi, dan mampu melakukan asesmen untuk mengetahui arah karier ABK. Sehingga kedepan guru mampu memetakan potensi peserta didik dan membantu peserta didik penyandang disabilitas untuk menentukan arah kariernya. Ada 4 pelatih yang memberikan materi pada pelatihan ini, Dina Febrina Ekasari, Yulita Patricia Semet dan Amalia Jiandra dan Budi Setiawan. Acara pelatihan ini diawali dengan sesi Pesta Permen. Sesi ini bertujuan sebagai sesi perkenalan antar peserta. Setelah sesi perkenalan,  Pelatih Budi Setiawan mengawali sesi pelatihan dengan memberikan gambaran dan alur secara keseluruhan tentang Program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas serta menjelaskan tentang Kampus Guru Cikal. Pelatih Budi menjelaskan, Program ini merupakan program yang sumber dananya berasal dari masyarakat yang digalang oleh pelari Nusantarun. Sumber dana ini digunakan untuk pengembangan murid penyandang disabilitas Jateng & DIY. Sesi selanjutnya diisi materi orientasi pelatihan oleh Pelatih Dina Febriana. Selanjutnya, peserta diminta untuk mengisi kolom S, I dan P.  Berikutnya peserta dijelaskan tentang tujuan dan alur pelatihan, sebelum akhirnya sesi ini ditutup dengan menyepakati kesepakatan bersama tentang apa yang dapat dilakukan agar pelatihan berjalan secara lancar. Pada Sesi Keberagaman Karakteristik ABK, Pelatihan diawali dengan menebak profesi orang dengan kebutuhan khusus dari fotonya (tuna daksa, tuna rungu) lalu berdiskusi dengan tantangan yang dialami oleh orang tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Materi Keragaman karakteristik disampaikan melalui pemainan kartu. Peserta nampak antusias dengan permainan kartu yang diberikan oleh pelatih. Sesi selanjutnya adalah sesi Miskonsepsi Pendidikan Inklusi. Dalam Sesi ini, pelatih Dina mengorek tajam mengenai salah kaprah pendidikan inklusi yang selama ini menjadi opini masyarakat. Hari ketiga, peserta materi diberi materi tentang Prinsip, Tujuan dan Asas asesmen. Tujuan dari penyampaian materi ini adalah diharapkan guru dapat memetakan potensi murid disabilitas. Materi ini dilanjutkan dengan materi Ragam Asesmen yang disampaikan oleh Pelatih Dina. Melalui pasangan janji yang di jam tertentu, awalnya peserta diminta untuk berdiskusi menggunakan kegiatan think-pair-share tentang asesmen sumatif dan formatif. Beberapa peserta diminta untuk berbagi pendapat hasil diskusinya. Lalu peserta diberikan penjelasan tentang asesmen untuk, terhadap dan sebagai proses belajar. Dari penjelasan tersebut, peserta lalu diajak melakukan kegiatan simulasi tentang 3 kegiatan yang berbeda. Untuk kegiatan ini peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Setelah simulasi, peserta diminta untuk menentukan jenis asesmen mana yang dapat dilakukan dari masing-masing kegiatan, sesuai dengan karakteristik asesmen yang telah dijabarkan Sesi selanjutnya adalah praktik pembuatan asesmen. Pembuatan Asesmen ini bertujuan agar peserta dapat memetakan potensi peserta didiknya. Nantinya, hasil asesmen ini akan dijadikan acuan untuk membantu peserta didik menentukan arah kariernya. Pelatihan ini disambut baik oleh peserta. “Alhamdulillah…terima untuk pelatihan yang asyik dari tim Kampus Guru Cikal. Materi yang menarik jadi semakin menyenangkan dibungkus dengan games yang seru. InsyaAllah sangat bermanfaat bagi saya.” Ujar Amelia, peserta pelatihan yang berasal dari SLBN Pembina Yogyakarta. Sejalan dengan pendapat Amelia, Fatrik Marandau, guru SMA Tumbuh mengatakan “Terimakasih kampus Guru Cikal sudah memperlengkapi kami dengan pemahaman yang semakin lengkap dan keterampilan yang baru, untuk kami dapat semakin efektif mendampingi anak-anak. Sukses untuk Bapak Ibu semua. Sukses juga untuk Kampus Guru Cikal. Mari terus tebarkan kebaikan kepada anak-anak kita! Terimakasih”

Membuka Jalur Karier Guru yang Tak Hanya Kepala Sekolah

Bagaimana guru bisa menjadi profesi yang juga tidak hanya mengajar dan belajar, tapi juga bisa sebagai inovator? Apakah bisa? Ternyata dalam pelatihan selama Wardah Inspiring Teacher ini, pertanyaan tersebut bisa terjawab. Pelatihan Wardah Inspiring Teacher 2019 ini dimulai dari belajar Proses Berpikir Desain, dimana para guru dalam pelatihan ini ditantang untuk menjadi guru yang berinovasi. Apa yang para guru ini akan inovasi? Yaitu media belajar yang digunakan untuk sehari-hari mengajarkan konsep atau pengetahuan yang menjadi tujuan pembelajarannya. Pelatihan yang diadakan pada tanggal Sabtu, 14 Juli 2019 di Ruang Ballroom Hotel Crystal Lotus, Yogyakarta ini merupakan tahap lanjutan dari proses Pelatihan Wardah Inspiring Teacher 2019. Kira-kira 20 orang peserta yang datang dari berbagai penjuru daerah Jogjakarta dan sekitarnya dimulai dengan meninjau kembali sampai dimana perjalanan para guru dalam belajar berinovasi. Para peserta diajak melihat kembali tahapan berpikir desain, dan menilai diri sendiri melalui yang disebut Pohon Blob, sampai dimana perjalanan mereka, dan diskusi dengan teman sebelahnya mengapa menurut mereka tahap itulah yang mereka pilih. Salah satu peserta berbagi dengan temannya dengan menganalogikan dirinya dengan gambar orang sedang bergantung kepada dahan pohon, “Karena saya masih coba untuk memanjat pohon seperti saya sedang dalam proses mencapai puncak pembelajaran saya.” Begitu kata salah satu guru menjelaskan tentang proses perjalanannya.  Pelatihan lanjutan kali ini berfokus kepada bagaimana para peserta bisa memperoleh umpan balik untuk media ajar yang dibuatnya. Diskusi mengenai pertanyaan apa saja yang bisa menjadi umpan balik, kemudian para peserta juga belajar untuk memberikan umpan balik kepada dirinya sendiri, dengan menggunakan perangkat rubrik yang memudahkan pembuat media belajar untuk menilai medianya sendiri.  Bagian paling seru dan dinanti-nantikan dalam pelatihan ini adalah dimana para peserta menguji coba media belajarnya dalam kelompok. Berbagai produk media belajar yang sudah didesain oleh para peserta dipresentasikan, diuji coba, dan diberikan umpan balik oleh peserta lainnya. Hampir semua produk media belajar yang ditampilkan sangat menarik untuk diulas, namun berikut beberapa yang memancing banyak komentar maupun umpan balik: Keran Wudhu dan Urutannya, media untuk belajar urutan berwudhu dalam pelajaran agama, dibuat dengan gambar di atas keran, sehingga siswa tinggal mengikuti urutan wudhu dalam belajar urutan wudhu dengan benar. Video Biografi, video buatan guru yang menginspirasi bagaimana cara membuat Biografi yang menggugah dan menginspirasi orang yang menontonnya. Berbagai modifikasi Board Games dan Flash Card, belajar tentang sains maupun bahasa Inggris. Pelatihan ditutup dengan bintang tamu dua orang guru yang sudah menjadi inspirasi di komunitasnya yaitu Pak Nuno dari Petungkriyono yang menggunakan media belajar Asesmen dengan QR Codenya sempat dimuat surat kabar lokal maupun nasional, beliau memperluas ranah medianya ke Board Games, sehingga mendapatkan proyek permainan yang bertema pelestarian binatang bernilai jutaan dari sebuah badan konservasi. Perjalanan belajar dari Pak Nuno, membuktikan bahwa guru yang berinovasi yang bermulai dari masalah, bisa membawanya menuju karier protean, yaitu jenjang karier yang bisa capai oleh guru, selain menjadi kepala sekolah, wakil kepala sekolah atau pengawas.  Salah satu narasumber lainnya yaitu ibu Pima Aditya dari Sekolah Cikal, beliau adalah koordinator kurikulum SD Cikal Cilandak yang juga mengembangkan karirnya sebagai Teknologi Integrator, walaupun Ibu Pima tidak punya latar belakang IT maupun Komputer Sains. Beliau terpilih menjadi salah satu Apple Distinguished Educator dari Indonesia. Pekerjaan sehari-hari ibu Pima adalah memetakan kurikulum dan proses belajar dengan teknologi. Menurut ibu Pima Pendidikan adalah Teknologi dan Teknologi adalah Pendidikan, tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, para guru harus berani menghadapi perubahan, dan juga membuat perubahan dengan berinovasi melalui media belajar. Acara pelatihan ditutup oleh video yang mengatakan: The Future of Education is You.  Masa depan pendidikan adalah: anda, sang guru.

Foundation Program Batch 41 Jakarta: Ketika Guru Baru Bertemu

Awal dan akhir tahun ajaran merupakan waktu yang paling ditunggu, bukan hanya murid tetapi juga guru. Namun, Sekolah Cikal punya cara asik menggunakan waktu liburan untuk menyiapkan tahun ajaran baru dengan Foundation Program dan juga waktu untuk berkenalan dengan guru baru.

Foundation, kalau mendengar kata tersebut langsung teringat dengan alas bedak atau pondasi rumah, sama-sama memiliki makna yang kuat dan kokoh. Kalau alas bedak yang kuat, make up bisa bertahan lama, kalau pondasi rumah kokoh, akan sanggup menopang bangunan yang berdiri di atasnya. Lah, iya gimana? Lalu hubungannya dengan tulisan ini?

2019_0624_15275800

Hari ini, 24 Juni 2019 Foundation Program Batch 41 Sekolah Cikal dimulai bertempat di GSG Sekolah Cikal Cilandak, terdapat Cikal Team Member dari Sekolah Cikal, Rumah Main Cikal, Kampus Guru Cikal dan Head Office yang mengikuti program ini, beberapa ada yang sudah bergabung dan juga ada yang baru bergabung. Foundation Program dilaksanakan selama 3 bulan dengan metode blended learning, 6 hari ke depan akan bersama-sama menguatkan tujuan kita berada di Cikal. Foundation Program adalah salah satu cara untuk menyiapkan tahun ajaran baru dan ketika guru baru bertemu.

Pak Daus menyapa peserta yang sudah hadir dan Foundation Program resmi dibuka oleh Bu Renny, GM HR Sekolah Cikal dan berlanjut ke sesi materi. Eh, tak kenal maka harus kenalan. Pelatih dari Kampus Guru Cikal, Bukik Setiawan mengajak peserta untuk berdiri berurutan sesuai abjad film yang ditonton, secara berpasangan peserta berkenalan dan juga bercerita tentang film favorit selama 3 menit. Seru? Seru donk, aku sih sempat menyimak ada beberapa peserta yang film favoritnya Avengers dan mengidolakan tokoh Iron Man, yee sama *lah dan mereka bergabung menjadi 6 kelompok, The Power Puff Girl, Guardian of Cikal, Ades, Breakfast Club, Hobi Makan dan Rainbow.

Read more

Guru Berinovasi, Pendidikan Bergerak Pasti

PT Paragon Technology and Innovation (Wardah) bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal mengadakan pelatihan tahap 1 Wardah Inspiring Teacher Yogyakarta pada tanggal 24-25 Maret 2019. Pelatihan ini adalah bagian dari program CSR Wardah. Tujuan dari program ini adalah memberikan apresiasi dan  pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru. Ada 28 Guru yang mengikuti program ini. Peserta bukan hanya dari Yogyakarta saja, namun juga daerah sekitarnya, bahkan ada yang berasal dari Pekalongan yang jaraknya kurang lebih 200 KM dari Yogyakarta. Menjadi guru bukanlah hal yang mudah, butuh begitu banyak dedikasi dan usaha untuk selalu mengikuti perkembangan zaman. belum lagi sebagai guru harus mengenal dan memahami murid untuk dapat mengetahui hal-hal apa yang dapat membantu atau menjadi hambatan dalam proses belajar. Guru sebagai inovator adalah jawaban dari berbagai masalah yang dihadapi guru dalam mengajar. Dalam pelatihan ini guru dibagi berdasarkan jenjang kelas yang diajar, hal ini untuk memudahkan guru dalam berdiskusi dan mengembangkan ide inovasinya. Dalam pelatihan ini guru diajak untuk berempati dan memahami anak, karena inovasi yang berhasil dibangun atas dasar empati. Selanjutnya guru diajak untuk memahami tahap perkembangan anak serta menggali lebih dalam permasalahan yang dihadapi oleh murid. Hal ini bertujuan agar guru dapat menganalisa dan memilih permasalahan apa yang ingin diselesaikan. Dari pelatihan ini banyak guru yang merasa tercerahkan. bahwa sebenarnya guru bisa menyelesaikan masalah yang dihadapinya, asal guru mau selalu belajar dan terbuka terhadap perubahan. perubahan bukan untuk dihindari, karena perubahan adalah sesuatu yang pasti. jadi tugas utama kita sebagai seorang guru adalah belajar. Belajar memahami murid, belajar melihat tujuan besar, belajar mandiri terhadap cara untuk mencapai tujuan dan belajar untuk konsisten berefleksi.

Kenapa Guru Harus Melek Film?

“Wah parah ini film tidak mendidik!” “Hati-hati ya para guru, film ini tidak cocok ditonton anak-anak” Sering mendengar perkataan ini? Atau bahkan petisi? Sebenarnya yang salah filmnya atau jangan-jangan kita yang belum melek film? Nah lho…. Film selalu menjadi media belajar yang menarik bagi murid, Baik itu dari jenjang kelas paling kecil PAUD sampai tingkat SMA. Saya teringat ketika dulu waktu masih sekolah, ketika SMP saya selalu antusias ketika ada kegiatan menonton film. Sekalipun ada tugas mencatat kosata yang terdapat di dialog semua terasa menyenangkan. Banyak alasan yang membuat film menjadi media belajar yang menarik. Dalam film ada gambar dan suara sehingga cenderung lebih atraktif bahkan terkadang anak-anak bisa hanyut dalam alur ceritanya. Namun yang perlu disadari terkadang guru belum menggunakan film dengan baik dan maksimal. Waktu dulu saya mengajar, terkadang guru-guru membuat kegiatan menonton film yang tidak sesuai dengan anak. Misalnya film yang berbahasa Inggris dengan durasi panjang untuk kelas 1 SD, sedangkan anak-anak belum paham bahasa Inggris sehingga anak-anak sibuk bermain sendiri. Guru juga cenderung kebingungan membuat kegiatan setelah menonton film. Sedikit fenomena yang terjadi, membuat Sinedu bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal mengadakan Guru Melek Film. Apa itu Guru Melek Film? Guru Melek Film merupakan program pemberdayaan guru untuk menjadi penggerak literasi film di daerahnya. Kegiatan berupa pelatihan dalam rangka peningkatan kompetensi dan pengalaman memanfaatkan film sebagai media belajar yang menarik dan bermanfaat serta mampu menciptakan interaksi dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Tanggal 27 April 2019 lalu, Sinedu dan Kampus Guru Cikal mengadakan pelatihan Guru Melek Film di Pekalongan. Pernah nggak nonton film yang sebenarnya untuk umur 17+ tapi ada orang tua yang membawa anak di bioskop beberapa menit kemudian orang tua tersebut keluar dari bioskop? Pengalaman tersebut sama persis dengan yang dirasakan salah satu peserta, Pak Ahyat “Dulu saya punya pengalaman nonton sama anak saya. Kapok. Karena nggak sesuai ternyata untuk anak-anak. Sebaiknya memang menonton filmnya terlebih dahulu, sebelum menonton bersama anak-anak”  ujar beliau ketika sesi cerita pengalaman menonton film. Ada tips dari Sinedu “Bagaimana agar sebagai orang dewasa tidak salah pilih film?” Baca dulu sinopsi film Lihat dulu batasan umur filmnya Lalu, Bagaimana penggunaan film untuk pembelajaran? Seperti saat mengajak anak menonton film di bioskop, begitu pula untuk pembelajaran. Guru perlu memilih film yang tepat. Bagaimana caranya?    Memilih Film Yang Tepat Identifikasi kebutuhan pembelajaran, siswa dan guru. Cari referensi film di www.sinedu.id atau website lain. Pilih film sesuai dengan rating usia dan genre yang tepat. Tonton film dan buat catatan hal-hal menarik sepanjang film. Menurut beberapa peserta mengaku bahwa sering kali film yang dipakai tidak ditonton dulu atau terkadang asal pilih karena piihan terbatas.   Karena itu Guru harus Melek Film! Dengan guru yang melek film, guru menjadi pemikir yang kritis. Guru memiliki kemampuan evaluasi dan memahami, Di akhir sesi, peserta diajak menonton film yang ada dalam daftar website Sinedu. Setelah itu, peserta secara berkelompok membuat pembelajaran dengan menjadikan film sebagai media pembelajaran. Salah satu peserta melakukan simulasi pengajaran, setelah menonton film murid-murid diajak untuk melakukan aktivitas yang sama seperti yang ada di film. Menurut salah satu peserta mengaku bahwa sekarang menjadi lebih terbuka tentang pemanfaatan film sebagai media pembelajaran. Tidak hanya menonton lalu tanya jawab seputar film, tetapi bisa dihubungkan dengan pembelajaran lain, Misal olahraga atau bermain drama. Selain itu juga bisa dengan media atraktif seperti bermain dadu. Salah satu peserta dari KGB Pekalongan Pak Wahyu berinisiatif untuk membuat boardgames film. Guru, Belum Melek Film? Yuk ikutan Guru Melek Film yang akan diadakan di kota-kota lain. Tunggu pengumuman di Instagram Kampus Guru Cikal @KampusGuruCikal  

Berbagi Praktik Baik dengan Guru Se-Asia Tenggara

Pada 21-23 Januari 2019 yang lalu, sebagai perwakilan dari kampus Guru Cikal saya menghadiri sebuah workshop yang bertajuk “Developing Teachers’ Assosiation” di King Mongkut University of Technology Thonbury Bangkok, yang merupakan inisiasi dari British Council dan Hornby Educational Trust. Kampus Guru Cikal, yang merupakan inisiator dari Komunitas Guru Belajar, berperan untuk menceritakan praktik baik dalam mengembangkan Komunitas Guru Belajar yang selama beberapa tahun terakhir pesat perkembangannya dan juga belajar dari asosiasi profesi Guru Bahasa Inggris dari negara di Asia tenggara. Peserta dari workshop ini berasal dari 8 negara, Indonesia, Malaysia, Cambodia, Laos, Vietnam, Filipina, Myanmar, dan Thailand. Tujuan dari workshop ini adalah untuk mereview kembali bagaimana, di tahun 2019, organisasi kerelawanan dalam Pendidikan Bahasa Inggris, seperti Asosiasi Profesi Guru Bahasa Inggris, bisa menaungi kebutuhan anggota, terutama dalam skala Asia Tenggara. Diskusi dalam kegiatan ini membuka percakapan tentang apa yang terjadi pada asosiasi di negara masing-masing. Seperti negara Vietnam misalnya, yang baru saja meresmikan asosiasi profesi pengajar Bahasa Inggris, yang tentu saja menceritakan betapa tangguh proses dan juga persiapan bertahun-tahun sebelumnya. Lain hal dengan MELTA (Malaysian English Language Teahers Association) yang sudah lebih lama berdiri dan memiliki banyak praktik baik hingga dapat mengadvokasi kebijakan ke kementrian pendidikannya terkait pengajaran Bahasa Inggris. Perwakilan dari Cambodia juga memaparkan banyak sekali hal yang bisa dipelajari. Bagaimana mereka menginisiasi CamTESOL setiap tahunnya dan mengintegrasikan teknologi dalam pengelolaan konferensinya bisa ditiru. Sikap terbuka dan keinginan untuk membantu negara lain juga sangat terlihat dari apa yang dipaparkan. Indonesia? Dengan banyaknya organisasi dan asosiasi tentu saja menjadi tantangan tersendiri dalam mengembangkan asosiasi profesi ini. Diskusi tiga hari dalam workshop ini menghasilkan empat inisiatif, yakni: Adanya keinginan untuk membuat ASEANELTA yaitu asosiasi pengajar bahasa inggris se-Asia Tenggara untuk berbagi praktik baik dan advokasi kebijakan berdasarkan konteks pengajaran bahasa inggris sebagai bahasa kedua/asing. Teknis akan dikerjakan sepanjang tahun oleh para PIC dari workshop di bangkok. Adanya keinginan untuk menghubungkan pengajar bahasa inggris se-Asia Tenggara dalam sebuah platform digital. Adanya keinginan untuk mengukur dampak pengembangan guru dan asosiasi profesi pengajar Bahasa Inggris. Adanya keinginan untuk mengusahakan pendanaan terhadap ASIANELTA, agar bisa terus berjalan dalam mengembangkan kegiatan di organisasi beserta para anggotanya. Tidak ada inisiatif yang tidak menguntungkan tentu saja. Keinginan untuk terhubung dengan negara-negara di Asia Tenggara membuka wawasan untuk kemudian membantu kita mengembangkan kualitas pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia. Berangkat dari situasi permasalahan yang hampir mirip, perwakilan dari setiap negara bersepakat bahwa Asia Tenggara harus bersatu dan berbagi praktik baik. Oleh karena itu, Guru Bahasa Inggris, yang mengajar dengan Bahasa Inggris, dan juga yang tertarik untuk mengembangkan kemampuan Bahasa Inggris di Komunitas Guru Belajar mari bersatu. Kita lanjutkan diskusi lewat temu pendidik dan lakukan sesuatu untuk berkontribusi pada kemampuan Bahasa Inggris murid-murid kita di masa kini dan masa depan, berangkat dari persoalan yang ingin kita selesaikan di masa kini. Jadi, sudahkah Anda siap terhubung dengan guru-guru se-Asia Tenggara? 21-23 Januari 2019KMUTT, Bangkok, Thailand Chusnul ChotimahManajer Akademik Head Office Sekolah dan Rumah Main Cikal082111539935

Merayakan Kebaikan

“Menyenangkan hatiMenempati lazuardi, melintasiAnganku cemerlangBerhiasakan warna-warna..” Lirik lagu berjudul Warna-Warna yang dinyanyikan Andien menjadi pamungkas yang tepat untuk acara Rayakan Kebaikan. Dengan berbagai warna-warna kostum bertema pantai, para pelari, media, pihak yang terlibat dalam penggalangan dan penyaluran dana berkumpul di ONBC NISP Tower, Kuningan Jakarta Selatan pada Sabtu, 9 Februari 2019 untuk merayakan kebaikkan. Acara ini diadakan dalam rangka penyerahan donasi kepada Kampus Guru Cikal yang dipercaya untuk merancang dan melaksanakan program Pengembangan Murid Disabilitas di Jawa Tengah dan DIY. Seperti nama acaranya Rayakan Kebaikkan, runtutan acara pun memperlihatkan kebaikan-kebaikkan yang ada dalam proses penggalangan dana oleh para pelari. Cerita pak Rahmat salah satu pelari tertua yang berhasil menyelesaikan 169 Km, cerita para relawan yang dengan sigap membantu para pelari, cerita media tentang event ini, cerita Jurian Andika dan Cristopher Tobing sebagai founder NusantaRun tentang awal mula mereka melakukan ini, cerita Syn film mengapa mereka mau berkontribusi dalam event ini, cerita yayasan IOA tentang apa yang mereka lakukan dalam program sebelumnya, cerita Kampus Guru Cikal tentang program yang akan dilakukan dan cerita Andien melalui lagu Warna-Warna yang menyiratkan bahwa kontribusi dari berbagai warna akan disalurkan kepada murid-murid disabilitas dengan berbagai warna. Dana yang terkumpul dari penggalangan dana pelari sebesar Rp 2.650.073.357. Dana tersebut akan digunakan oleh Kampus Guru Cikal untuk program Pengembangan Murid Disabilitas di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Program ini dilakukan karena hanya 54,26% penyandang disabilitas yang berpendidikan SD ke atas, bandingkan dengan non disabilitas yang mencapai angka 87,31%.  Selain itu penyandang disabilitas yang berpartisipasi dalam pasar kerja hanya 51,2 %, bandingkan dengan non disabilitas yang mencapai 70,40%. Beberapa penyebab mengapa ada angka-angka tersebut salah satunya karena faktor persepsi keluarga, guru dan masyarakat yang menjadi hambatan utama bagi penyandang disabilitas untuk mendapatkan akses pendidikan dan pekerjaan. Faktor lain: perlakuan diskriminatif, sarana dan prasarana yang tidak menunjang. Oleh karena itu dalam program ini, Kampus Guru Cikal tidak sekadar fokus kepada murid penyandang disabilitasnya, namun sistem pendukungnya juga akan menjadi fokus program ini. Guru, orangtua, lingkungan sekolah, perguruan tinggi akan menjadi fokus program Pengembangan Murid Disabilitas Jawa Tengah dan Yogyakarta. Harapan dari program ini antara lain : Adanya kesadaran sekolah, guru dan orangtua untuk memberikan dukungan bagi anak penyandang disabilitas Adanya guru bimbingan karier yang bisa mengarahkan dan memberi dukungan bagi anak penyandang disabilitas Adanya komunitas guru belajar bimbingan karier sebagai sistem dukungan bagi anak penyandang disabilitas Pengembangan diri dan penyediaan beasiswa pendidikan tinggi bagi murid penyandang disabilitas. Adanya kerjasama dengan perguruan tinggi yang bersedia menerima dan mendukung murid penyandang disabilitas Tongkat estafet yang diberikan oleh para pelari ini masih panjang perjalanannya, ada banyak tantangan di depan dalam menjalankan program ini. Namun kebaikan teman-teman akan menjadi semangat bagi Kampus Guru Cikal.

Perubahan Pendidikan, Mulai Darimana? : Kisah dari Nusa Tenggara Barat

Ketika sehari-hari kita masih sering melihat orang-orang yang tidak taat lalu lintas atau menyerobot ketika mengantri, apakah kita bisa menyimpulkan ini sebuah kegagalan pendidikan? Atau ketika peringkat PISA Indonesia masih jauh dari negara-negara lain, apakah itu pertanda kualitas pendidikan kita masih jauh dibanding negara lain? Lalu, siapa yang harus pertanggung jawab? Bagaimana memulai perubahan? Mulai dari kebijakan pemerintah harus diubah….. Yang bertanggung jawab pemerintah dong……. Setuju dengan pernyataan itu? Kisah Nusa Tenggara Barat Belakangan ini ada kabar bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi di Nusa Tenggara Barat menempati peringkat ke-29 dari 34 provinsi di Indonesia tahun 2017.  Apa reaksi pemerintah dengan kabar tersebut? Bayangkan, anak anda dateng dateng ngabarin kalau dia dapat peringkat 3 terbawah di kelas. Kalau saya sih, biasa aja (lah kok?). Tapi kebanyakan tidak seperti itu sih reaksinya.  Saya ingat waktu dulu ada teman saya yang dapat peringkat terakhir di kelas. Dia dicibir teman-teman. Saya masih ingat sekali wajahnya, sedih merunduk malu. Besoknya saya dapat kabar dia pindah sekolah. Sangat disayangkan ya? Bagaimana peringkat dipandang harga mati keberhasilan seseorang.  Lalu bagaimana jika ini peringkat IPM sebuah provinsi?  Mendengar hal tersebut tidak membuat pemerintah Nusa Tenggara Barat merasa berkecil hati, mereka memilih berdaya dengan mengajak berkolaborasi dengan Kampus Guru Cikal, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), dan  Keluarga  Kita dengan membuat Program Peningkatan PAUD Berkualitas. Seperti yang selalu Kampus Guru Cikal percaya, kekuatan pendidikan ada pada Guru Berdaya.  Dengan Pemerintah yang berdaya, kitapun bisa mengajak guru-guru dan masyarakat juga berdaya. Program Peningkatan PAUD Berkualitas ini fokus mengembangkan 50 PAUD berkualitas di desa Prioritas Penanganan Penanggulangan Kemiskinan (P3K) di NTB  melalui peningkatan kualitas guru dan orang tua. Penandatangan Nota Kesepahaman Pengembangan PAUD Berkualitas NTB antara PKK Prov. NTB dengan Kampus Guru Cikal Mengapa harus berkolaborasi? Kenapa tidak mengubah kebijakan saja? Mengapa tidak memperbaiki kualitas guru saja? Kenapa juga melibatkan orang tua? Tak Sendiri, Kolaborasi Dalam pidatonya Bu  Sitti Rohmi Djalilah (Wakil Gubernur NTB), menyatakan pentingnya kolaborasi. Bahwa dalam upaya perubahan pendidikan perlu berkerjasama dengan semua elemen dalam masyarakat. Setali tiga uang, begitu yang selalu ditekankan oleh Bu Najelaa Shihab (penggagas Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan, Kampus Guru Cikal dan Keluarga Kita) bahwa pentingnya kolaborasi. Beliau menambahkan ketika bicara tentang Pendidikan Anak Usia Dini, pentingnya peran keluarga  terutama peran orang tua yang menCINTAi lebih baik. Orang tua yang selalu ingat cita-cita yang tinggi untuk anaknya dan menerima tanpa drama.  Bu Elaa (panggilan akrab Bu Najelaa Shihab) juga menjelaskan guru belajar adalah kunci perubahan pendidikan. Guru yang punya cita-cita, punya kemerdekaan dan yang berkolaborasi. Bu Najelaa Shihab berdiskusi dengan peserta Kampus Guru Cikal percaya bahwa kita tidak bisa berjuang sendirian. Kami percaya pada pentingnya kolaborasi. Dari kepercayaan tersebut dalam Program Peningkatan PAUD Berkualitas ini juga melibatkan masyarakat umum dengan memilih mentor-mentor  yang mewakili tiap daerah yang nantinya akan membantu intervensi dalam meningkatkan PAUD di setiap daerah.  Dari pelamar 230 orang, dipilih 34 orang yang diseleksi dengan wawancara dan  Focus Group Discussion (FGD), kemudian terpilihlah 7 orang  Mentor.  Sebelum mentor-mentor tersebut terjun di lapangan, mereka dibekali dengan pelatihan yang diadakan oleh Kampus Guru Cikal, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), dan Keluarga Kita. Dua hari mentor-mentor belajar berbagai macam; Komunikasi Efektif, Salah Kaprah Guru Belajar, Coaching.  Mentor-mentor antusias sekali ketika berdiskusi bersama, mereka ikut bercerita bagaimana kondisi pendidikan di lingkungan mereka dan apa yang sudah mereka lakukan selama ini. Tua, Muda, Sama Ketika bicara tentang gerakan perubahan banyak yang berpendapat “Susahlah kalau ngajak yang tua tua. Pemikirannya kolot” atau “Anak muda jaman sekarang suka mikirin diri sendiri aja. Beda sama kita dulu waktu muda”. Hal tersebut yang tidak terlihat dari para mentor. Mentor-mentor ini berasal dari berbagai daerah, ada yang asli NTB ada yang pendatang, ada yang umur 20-an ada yang sudah punya anak ABG (Anak Baru Gede), ada yang masih bujang ada yang sudah berkeluarga. Ketika berdiskusi tentang “Apa Faktor Pendukung dan Penghambat Guru Belajar” para mentor saling bertukar pendapat dan cerita baik dari sisi guru, orang tua, pengalamannya sebagai Assessor, pengalamannya sebagai penggiat literasi. Tak ada yang merasa lebih tahu, semua mencari tahu. Kebanyakan mentor adalah orang-orang yang sudah lama terjun di dunia Pendidikan. Bu Jessica, seorang mahasiswa S2 PAUD yang aktif membuat gerakan dongeng dan membuat PAUD di daerah Mataram, Bu Wiwin guru PAUD yang aktif mencari tahu solusi  pembelajaran di kelas, Bu Atul seorang assessor dan mendirikan sekolah karena prihatin dengan kondisi pendidikan di sekitar. Sebelum ada program ini, mereka memulai langkah mereka sendiri, tidak menunggu yang lain, berbuat apa yang mereka bisa. Tua muda sama, karena pembedanya bukan usia tapi semangat berdaya.  Foto bersama PKK, mentor-mentor, perwakilan Kampus Guru Cikal, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) dan Keluarga Kita Kisah Bu Mar, PAUD yang tidak punya bangunan sendiri bisa bertahan Tentang Tua Muda, ada kisah menarik ketika perwakilan Kampus Guru Cikal, PSPK, Keluarga Kita, para Mentor dan Bu Elaa berkunjung ke sebuah sekolah di Mataram. Kami bertemu seorang kepala sekolah, namanya Bu Mar. Bu Mar menceritakan bagaimana sekolahnya yang dulunya hanya sepetak sekarang ada beberapa kelas dan sudah ada tempat bermain. Beliau menceritakan bagaimana dalam perjalanannya  mengembangkan sekolah tersebut selalu dipertemukan dengan orang-orang baik. Beliau menuturkan kepada kami bahwa jika niat kita baik maka Tuhan akan selalu memudahkan jalan kita. “Niatnya saya ngobrol ngobrol aja, cerita tentang sekolah. Kok tahu tahu ada yang menawarkan mau bantu bangun sekolah, Saya bersyukur sekali”, begitu ujar Bu Mar. Beliau juga menceritakan bagaimana kegiatan murid-murid di sekolahnya, tidak perlu pembelajaran yang mahal, beliau lebih sering mengajak anak-anak bermain di Sawah. Karena menurut beliau kita bisa membuat pembelajaran dengan media yang ada di sekitar atau memanfaatkan lingkungan sekitar. Dari Kisah Bu Mar, dimana ada keinginan tulus dan kuat selalu ada solusi. Tidak menyalahkan, menghakimi pihak tertentu, Merdeka dan Berdaya.    Dari Kisah Nusa Tenggara Barat, kita belajar bahwa menyalahkan salah satu pihak tidak akan membuat masalah tersebut selesai. Mulai dari diri sendiri, memilih merdeka, berdaya. Jangan merasa sendiri, kolaborasi. Tua Muda bersama-sama. Menuju Perubahan. Mari kita mulai perubahan, dari diri sendiri.  Lihat sekitar, apa yang bisa kita lakukan. Mau ikut menuju perubahan?