Sekolah Lawan Corona Jawa Tengah

Corona membuat tidak sedikit guru merasa kebingungan untuk melakukan pembelajaran. Karena Corona pembelajaran tidak lagi dilakukan Sekolah. Dari hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengenai Pembelajaran jarak jauh, berikut adalah kendala-kendala yang guru hadapi : 67,11 % kendala guru terkait kemampuan mengoperasikan perangkat digital, 29, 45% kendala guru terkait sarana dan prasarana, 14,47% terkait faktor internal murid dan sebagainya. Melihat masalah tersebut Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar sejak awal menunjukkan komitmennya dalam membantu guru. Komitmen tersebut bisa dilihat dari inisiasi yang dibuat, yaitu Sekolah Lawan Corona yang mulai berjalan sejak 16 Maret 2020. Inisiasi ini memulai dari pembuatan kegiatan rutin yaitu Temu Pendidik Spesial, membuat panduan pembelajaran jarak jauh hingga membuat surat kabar guru belajar yang berisi praktik baik pembelajaran jarak jauh para guru. Namun seiring berjalannya waktu, kami melakukan refleksi. Temu Pendidik Spesial yang kami adakan rutin setiap pukul 18.30 – 20.30 tiap harinya masih kurang efektif, kurang membangun keberlanjutan bagi para guru yang mengikuti. Banyak peserta yang mengulang-ulang pertanyaan, ada yang memulainya dari awal juga walaupun materi sudah sampai pada level tertentu. Dari refleksi ini, kemudian kami berpikir, bagaimana membantu guru belajar dari hal yang paling dasar, hingga ia bisa membuat pembelajaran jarak jauh yang bermakna untuk murid? Akhirnya dari refleksi tersebut, lahirlah kurikulum Sekolah Lawan Corona yang bisa dilihat di bawah. Kurikulum ini dimulai dari asesmen, tujuannya agar mengetahui pemahaman dan kompetensi guru mengenai pembelajaran jarak jauh. Jika dari asesmen guru tersebut berada pada level 1, maka guru masih perlu mengembangkan kompetensinya dalam penguasaan teknologi, seperti Whatsaap, Gmail, Google Meet, dsb. Sehingga para guru tidak memulai kurikulum Sekolah Lawan Corona ini pada level yang sama, ada yang memulai dari level 2, 3, bahkan ada yang bisa mulai dari level 5 jika guru tersebut melalui asesmen menunjukkan kompetensi yang perlu dimiliki guru level 5. Kurikulum Sekolah Lawan Corona pertama kali dijalankan yaitu di Jawa Tengah, hal tersebut dilakukan karena Wakil Gubernur Jawa Tengah, Bapak Taj Yasin Maimoen beserta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah sangat mendukung inisiasi ini. Program Sekolah Lawan Corona di Jawa Tengah Sendiri dibuka langsung oleh bapak Wakil Gubernur dan Bu Najelaa Shihab selaku inisiator pada tanggal 19 Mei 2020. “Inisiatif Sekolah Lawan Corona ini sebetulnya diluncurkan sebagai gerakan oleh Komunitas Guru Belajar, Kampus Guru Cikal, SekolahMu dan Keluarga Kita yang akan berlangsung di berbagai daerah.” tutur Najelaa Shihab dalam kegiatan launching tersebut. Najelaa Shihab juga menambahkan bahwa Jawa Tengah adalah daerah pertama yang mendapatkan kesempatan mengikuti Sekolah Lawan Corona, adapun pelaksanaanya akan dibagi menjadi 3 tahap berdasarkan keaktifan dan keberdayaan Komunitas Guru Belajar dalam berkolaborasi dan menggerakkan ekosistem pendidikan, yang bisa dilihat pembagiannya sebagai berikut. “Saya mendukung Sekolah Lawan Corona di Jawa Tengah ini, inisiasi ini akan membantu guru dalam beradaptasi dengan budaya baru pembelajaran.” ungkap Wakil Gubernur Jawa Tengah.  Pelaksanaan Sekolah Lawan Corona Setelah dibuka secara formal oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, inisiasi Sekolah Lawan Corona mulai dijalankan di 5 daerah yaitu Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Semarang, Kota Semarang dan juga Kota Surakarta. Adapun jumlah peserta yang mendaftar dari 5 daerah tersebut berjumlah 881 peserta, dan dibagi ke dalam 3 tahap. Tahap 1 dimulai bulan Juni, tahap 2 dimulai Juli bersama daerah yang berada pada tahap berkembang dan tahap 3 dimulai Agustus dimulai bersama daerah yang berada pada tahap perluasan. Di tahap 1 sendiri ada 392 peserta yang memulai program dengan mengisi asesmen, dari asesmen yang diisi peserta, ternyata ada beberapa peserta di 5 daerah tersebut memulai program dari level 1, 2, 3 bahkan ada yang memulai dari level 5. Peserta yang memulai program dari level 1 mendapat pendampingan khusus oleh fasilitator melalui grup Whatsapp. Ada sebuah cerita menarik dari fasilitator Kota Surakarta, karena peserta di grup ini mengalami kesulitan koordinasi melalui Whatsapp, maka diadakan pertemuan langsung dengan mematuhi protokol kesehatan. Dalam pertemuan tersebut, Guru Nasrudin mendampingi 5 guru yang ingin menyelesaikan level 1. Ada dua tipe program dalam kurikulum Sekolah Lawan Corona, yang otomatisasi dan program diperlukan interaksi. Selain program level 1, program level 3B, 4A, dan juga 5B membutuhkan interaksi. Sehingga peserta-peserta yang sudah melewati level tersebut, akan mendapat pendampingan langsung dari fasilitator. 3B misalnya akan mendapatkan sesi refleksi mengenai pembelajaran, sesi 4A akan mendapatkan pendampingan tentang pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, dan sesi 5B akan mendapat pendampingan bagaimana membuat program di SekolahMu. “Saya senang sekali dengan modul 4B, karena di sini saya belajar banyak mengenai karakter, kebutuhan anak, dan belajar mengajak murid bertanya. Pembelajaran akan lebih aktif nantinya.” tutur guru Ambar. Yuk unduh GRATISSurat Kabar Guru Belajar EdisiSekolah Lawan CoronaKlik link di bawah ini Ingin sekolah Bapak Ibu mengikuti program Sekolah Lawan Corona juga?Yuk daftar! klik 👉 Daftar Sekarang!

Persiapkan Karier Murid Disabilitas di Masa Depan lewat Pelatihan Pemetaan Potensi ABK Yogyakarta

Hermawan, Penyandang Disabilitas Grahita asal Solo Jawa Tengah, pasca lulus SMALB 2 tahun lalu merasa bingung dengan arah karir nya. Pasca lulus ia masih datang ke Sekolah untuk sekedar main. Sudah tidak tercatat sebagai murid di sekolah, aktifitas Hermawan hanya duduk-duduk di halaman sekolah. Hingga tiba waktu pulang, Hermawan akan ikut pulang bersama  murid lain. Cerita tersebut tidak hanya dialami oleh Hermawan, tetapi juga dialami sebagian besar murid disabilitas di Indonesia. Pasca lulus di jenjang Sekolah Menengah Atas, sebagian besar anak dan orangtua bingung apa yang harus dilakukan, mau diarahkan kemana karier si anak kedepan. Berangkat dari permasalahan tersebut, Kampus Guru Cikal  bekerja sama dengan Nusantarun menyelenggarakan Pelatihan Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas. Acara yang berlangsung di LPP Hotel tersebut diikuti oleh 40 peserta yang berlatar belakang guru SMALB, Guru BK SMA inklusi dan Guru BK Sekolah reguler. Pelatihan ini adalah rangkaian Acara Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas Jateng & DIY. Pelatihan yang berlangsung selama 3 hari ini (27-29  Agustus 2019) bertujuan untuk peserta memiliki persepsi yang sama mengenai tujuan pendidikan inklusi, dan mampu melakukan asesmen untuk mengetahui arah karier ABK. Sehingga kedepan guru mampu memetakan potensi peserta didik dan membantu peserta didik penyandang disabilitas untuk menentukan arah kariernya. Ada 4 pelatih yang memberikan materi pada pelatihan ini, Dina Febrina Ekasari, Yulita Patricia Semet dan Amalia Jiandra dan Budi Setiawan. Acara pelatihan ini diawali dengan sesi Pesta Permen. Sesi ini bertujuan sebagai sesi perkenalan antar peserta. Setelah sesi perkenalan,  Pelatih Budi Setiawan mengawali sesi pelatihan dengan memberikan gambaran dan alur secara keseluruhan tentang Program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas serta menjelaskan tentang Kampus Guru Cikal. Pelatih Budi menjelaskan, Program ini merupakan program yang sumber dananya berasal dari masyarakat yang digalang oleh pelari Nusantarun. Sumber dana ini digunakan untuk pengembangan murid penyandang disabilitas Jateng & DIY. Sesi selanjutnya diisi materi orientasi pelatihan oleh Pelatih Dina Febriana. Selanjutnya, peserta diminta untuk mengisi kolom S, I dan P.  Berikutnya peserta dijelaskan tentang tujuan dan alur pelatihan, sebelum akhirnya sesi ini ditutup dengan menyepakati kesepakatan bersama tentang apa yang dapat dilakukan agar pelatihan berjalan secara lancar. Pada Sesi Keberagaman Karakteristik ABK, Pelatihan diawali dengan menebak profesi orang dengan kebutuhan khusus dari fotonya (tuna daksa, tuna rungu) lalu berdiskusi dengan tantangan yang dialami oleh orang tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Materi Keragaman karakteristik disampaikan melalui pemainan kartu. Peserta nampak antusias dengan permainan kartu yang diberikan oleh pelatih. Sesi selanjutnya adalah sesi Miskonsepsi Pendidikan Inklusi. Dalam Sesi ini, pelatih Dina mengorek tajam mengenai salah kaprah pendidikan inklusi yang selama ini menjadi opini masyarakat. Hari ketiga, peserta materi diberi materi tentang Prinsip, Tujuan dan Asas asesmen. Tujuan dari penyampaian materi ini adalah diharapkan guru dapat memetakan potensi murid disabilitas. Materi ini dilanjutkan dengan materi Ragam Asesmen yang disampaikan oleh Pelatih Dina. Melalui pasangan janji yang di jam tertentu, awalnya peserta diminta untuk berdiskusi menggunakan kegiatan think-pair-share tentang asesmen sumatif dan formatif. Beberapa peserta diminta untuk berbagi pendapat hasil diskusinya. Lalu peserta diberikan penjelasan tentang asesmen untuk, terhadap dan sebagai proses belajar. Dari penjelasan tersebut, peserta lalu diajak melakukan kegiatan simulasi tentang 3 kegiatan yang berbeda. Untuk kegiatan ini peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Setelah simulasi, peserta diminta untuk menentukan jenis asesmen mana yang dapat dilakukan dari masing-masing kegiatan, sesuai dengan karakteristik asesmen yang telah dijabarkan Sesi selanjutnya adalah praktik pembuatan asesmen. Pembuatan Asesmen ini bertujuan agar peserta dapat memetakan potensi peserta didiknya. Nantinya, hasil asesmen ini akan dijadikan acuan untuk membantu peserta didik menentukan arah kariernya. Pelatihan ini disambut baik oleh peserta. “Alhamdulillah…terima untuk pelatihan yang asyik dari tim Kampus Guru Cikal. Materi yang menarik jadi semakin menyenangkan dibungkus dengan games yang seru. InsyaAllah sangat bermanfaat bagi saya.” Ujar Amelia, peserta pelatihan yang berasal dari SLBN Pembina Yogyakarta. Sejalan dengan pendapat Amelia, Fatrik Marandau, guru SMA Tumbuh mengatakan “Terimakasih kampus Guru Cikal sudah memperlengkapi kami dengan pemahaman yang semakin lengkap dan keterampilan yang baru, untuk kami dapat semakin efektif mendampingi anak-anak. Sukses untuk Bapak Ibu semua. Sukses juga untuk Kampus Guru Cikal. Mari terus tebarkan kebaikan kepada anak-anak kita! Terimakasih”

Udinus Berdayakan Teknologi untuk Mahasiswa Penyandang Disabilitas

“Sepuluh tahun yang lalu, ada salah satu orangtua mahasiswa yang meminta anaknya yang notabennya penyandang disabilitas untuk bisa mengenyam pendidikan di Udinus. Kami belum punya pengalaman untuk mendampingi anak berkebutuhan khusus belajar, namun bagi kami ini tantangan. Akhirnya kami terima, dan kami kemudian mencari cara agar anak tersebut bisa belajar dengan maksimal.” , tutur Prof Dr Ir Edi Noersasongko M.Kom Rektor Universitas Dian Nuswantoro Semarang (Udinus) yang kami temui Kamis (16 Mei 2019) di Gedung rektorat Udinus, Semarang. Dalam pertemuan bertajuk audiensi program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas untuk NusantaRun 6 ini rektor Udinus menceritakan bagaimana Udinus memulai kepeduliannya dengan mahasiswa penyandang disabilitas. Seperti cerita di atas, untuk menghadapi tantangan tersebut pak Edi meminta beberapa dosennya untuk belajar, membuat riset mengenai penyandang disabilitas. Ternyata, usahanya tidak sia-sia, banyak dosen yang akhirnya tergerak membuat riset mengenai penyandang disabilitas. Misalnya Muljono S.Si, M.Kom dosen Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) yang mengembangkan Sistem Sintesis Ujaran Audio-Visual (SSUAV) untuk Bahasa Indonesia yaitu sebuah sistem yang dapat membangkitkan ujaran audiio visual secara simultan dari teks yang diinputkan, sistem tersebut memanfaatkan alat bernama Job Access With Speech (JAWS). Sistem dan alat ini mampu membantu para tunanetra untuk menggunakan komputer. Dalam kerjanya aplikasi tersebut membaca layar komputer dan mampu melafalkan teks. Selain Muljono, mahasiswa Teknik Biomedis Udinus juga menciptakan kursi roda berteknologi modern yaitu bisa berjalan hanya dengan kendali jari. Dari riset tersebut banyak mahasiswa penyandang disabilitas terbantu, salah satunya adalah Eka Pratiwi Taufanti, mahasiswa jurusan S1 Sastra Inggris Udinus ini berhasil menemukan jalan kariernya sebagai penulis saat belajar di Udinus. Berikut salah satu tulisan Eka : “Aku tentu bangga dan bahagia dengan apa yang kudapat sekarang ini. Memang yang kudapat ini belum apa-apa jika dibandingkan dengan teman-teman lainnya, namun aku tetap bersyukur karena meskipun aku harus tinggal berpisah dengan orang tuaku yang berjualan pecel serta nasi di luar jawa, namun aku bisa tetap melanjutkan pendidikanku. Pelita di kedua mataku kini memang telah tiada , terganti gulita yang sesakkan dada. Namun berkat rasa syukur dan mimpi yang berpijar dalam jiwa, gulita itu seolah bukan apa-apa. Pelita lain, pelita baru yang lebih benderang dari cahaya optic pada indera penglihatanku kini berpijar, menyinari kehidupan seorang anak manusia yang dianugerahi sebuah ketunanetraan, seorang anak manusia yang meski memiliki keterbatasan namun tetap memiliki mimpi sebesar bahkan lebih besar dari mereka; individu-individu yang sempurna secara fisik. Seseorang dengan keterbatasan nyatanya dapat menembus keterbatasan tanpa batas, berlari mengejar mimpi dengan keyakinan penuh dalam hati. Bagiku hidup adalah berawal dari mimpi, maka jangan takut bermimpi karena ketika kita takut bermimpi, kehidupan ini tak akan ada untuk kita. Kuncinya, ikhlas dengan takdir yang ada and do believe that God will give a hand for us!!” Udinus memang tak main-main dengan apa yang mereka lakukan untuk penyandang disabilitas, pada tahun 2017 Udinus mengundang perwakilan organisasi dan komunitas difabel untuk mengikuti Focuss Group Discussion (FGD) untuk menyusun bahan ajar yang aksesibel bagi mahasiswa difabel netra. Dalam audiensi tersebut, Kampus Guru Cikal yang diwakili Bukik Setiawan dan Rizqy Rahmat Hani ini mengajak Udinus menjadi salah satu perguruan tinggi tujuan calon mahasiswa penyandang disabilitas untuk program Pengembangan Murid Disabilitas. Gayung bersambut, pak rektor menyambut hangat ajakan kami.

Menuju Kolaborasi #PendidikanUntukSemua

Dalam pelaksanaan program Pengembangan Murid Disabilitas di Jawa Tengah dan DIY, butuh beberapa pihak untuk membuat program tersebut berjalan baik. Selain perguruan tinggi sebagai lembaga yang akan menerima murid penyandang disabilitas, butuh pihak sebagai sistem pendukung murid disabilitas tersebut, yaitu sekolah, guru dan orangtua. Oleh karena itulah langkah berikutnya yang kami lakukan adalah melakukan audiensi kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah dan Kementrian Agama Kanwil Jawa Tengah. Dalam audiensi tersebut, kami juga bertemu dengan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen. Beruntunglah kami, karena Jawa Tengah sedang membangun diri menjadi pioner pendidikan inklusi di Indonesia. Sebulan sebelum kami mengajak bekerjasama, ternyata sudah ada pertemuan yang dilakukan oleh pemerintah Provinisi Jawa Tengah berkaitan dengan inklusi. Artikel bisa dibaca di sinihttps://jatengprov.go.id/publik/sekolah-inklusi-dorong-abk-tak-minder-bersosialisasi/ “Saya ingin Jawa Tengah yang menjadi pionir tumbuhnya pendidikan inklusi. Kami ingin mendorong bahwa Jawa Tengah peduli dan tidak membeda-bedakan antara anak yang berkebutuhan khusus dan anak-anak yang normal,” ucap Gus Yasin dalam pertemuan tersebut. Gus Yasin juga menceritakan anak keduanya yang bersekolah di sekolah inklusi di sebuah sekolah di Rembang, terlihat berbeda dalam bersikap. Lebih peduli dan berjiwa sosial. Apa yang menjadi mimpi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sejalan dengan misi program Pendidikan Murid Disabilitas. Mimpinya sama-sama mencipttakan ekosistem pendidikan untuk semua. Sehingga apa yang Kampus Guru Cikal presentasikan di depan 3 pihak, langsung disepakati untuk dijalankan bersama. “Bagaimana kalau kegiatan tersebut kita laksanakan di Balai Pengembangan Pendidikan Khusus, karena kami memiliki gedung BP-Diksus di Jalan Elang. Sehingga kegiatan 3 acara tersebut bisa dilaksanakan di satu tempat. Lebih efisien.” Ungkap Dr. Padmaningrum, kepala bidang Pembinaan Pendidikan Khusus (Diksus) Dindikbud Jawa Tengah. Setelah berpamitan dengan Wakil Gubernur dan Kabid Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Jawa Tengah, akhirnya tim Kampus Guru Cikal dan tim Bidang Pendidikan Khusus Dindikbud menuju lokasi. Gedung yang berjejeran dengan SLBN Semarang ini sering digunakan untuk kegiatan-kegiatan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Ada beberapa kamar dan aula untuk pertemuan. Pertemuan dengan berbagai pihak, dari perguruan tinggi hingga dinas yang terkait semata-mata untuk mewujudkan pendidikan inklusi. Harapannya dengan adanya murid-murid disabilitas yang menempuh hingga perguruan tinggi, bisa menjadi bukti, menjadi penyemangat bagi semua pelaku pendidikan, baik orangtua, guru bahwa murid disabilitas pun punya potensi dan harus diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi.

Merayakan Kebaikan

“Menyenangkan hatiMenempati lazuardi, melintasiAnganku cemerlangBerhiasakan warna-warna..” Lirik lagu berjudul Warna-Warna yang dinyanyikan Andien menjadi pamungkas yang tepat untuk acara Rayakan Kebaikan. Dengan berbagai warna-warna kostum bertema pantai, para pelari, media, pihak yang terlibat dalam penggalangan dan penyaluran dana berkumpul di ONBC NISP Tower, Kuningan Jakarta Selatan pada Sabtu, 9 Februari 2019 untuk merayakan kebaikkan. Acara ini diadakan dalam rangka penyerahan donasi kepada Kampus Guru Cikal yang dipercaya untuk merancang dan melaksanakan program Pengembangan Murid Disabilitas di Jawa Tengah dan DIY. Seperti nama acaranya Rayakan Kebaikkan, runtutan acara pun memperlihatkan kebaikan-kebaikkan yang ada dalam proses penggalangan dana oleh para pelari. Cerita pak Rahmat salah satu pelari tertua yang berhasil menyelesaikan 169 Km, cerita para relawan yang dengan sigap membantu para pelari, cerita media tentang event ini, cerita Jurian Andika dan Cristopher Tobing sebagai founder NusantaRun tentang awal mula mereka melakukan ini, cerita Syn film mengapa mereka mau berkontribusi dalam event ini, cerita yayasan IOA tentang apa yang mereka lakukan dalam program sebelumnya, cerita Kampus Guru Cikal tentang program yang akan dilakukan dan cerita Andien melalui lagu Warna-Warna yang menyiratkan bahwa kontribusi dari berbagai warna akan disalurkan kepada murid-murid disabilitas dengan berbagai warna. Dana yang terkumpul dari penggalangan dana pelari sebesar Rp 2.650.073.357. Dana tersebut akan digunakan oleh Kampus Guru Cikal untuk program Pengembangan Murid Disabilitas di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Program ini dilakukan karena hanya 54,26% penyandang disabilitas yang berpendidikan SD ke atas, bandingkan dengan non disabilitas yang mencapai angka 87,31%.  Selain itu penyandang disabilitas yang berpartisipasi dalam pasar kerja hanya 51,2 %, bandingkan dengan non disabilitas yang mencapai 70,40%. Beberapa penyebab mengapa ada angka-angka tersebut salah satunya karena faktor persepsi keluarga, guru dan masyarakat yang menjadi hambatan utama bagi penyandang disabilitas untuk mendapatkan akses pendidikan dan pekerjaan. Faktor lain: perlakuan diskriminatif, sarana dan prasarana yang tidak menunjang. Oleh karena itu dalam program ini, Kampus Guru Cikal tidak sekadar fokus kepada murid penyandang disabilitasnya, namun sistem pendukungnya juga akan menjadi fokus program ini. Guru, orangtua, lingkungan sekolah, perguruan tinggi akan menjadi fokus program Pengembangan Murid Disabilitas Jawa Tengah dan Yogyakarta. Harapan dari program ini antara lain : Adanya kesadaran sekolah, guru dan orangtua untuk memberikan dukungan bagi anak penyandang disabilitas Adanya guru bimbingan karier yang bisa mengarahkan dan memberi dukungan bagi anak penyandang disabilitas Adanya komunitas guru belajar bimbingan karier sebagai sistem dukungan bagi anak penyandang disabilitas Pengembangan diri dan penyediaan beasiswa pendidikan tinggi bagi murid penyandang disabilitas. Adanya kerjasama dengan perguruan tinggi yang bersedia menerima dan mendukung murid penyandang disabilitas Tongkat estafet yang diberikan oleh para pelari ini masih panjang perjalanannya, ada banyak tantangan di depan dalam menjalankan program ini. Namun kebaikan teman-teman akan menjadi semangat bagi Kampus Guru Cikal.