Kolaborasi Dukung ABK Menuju Bangku Perkuliahan

Perencanaan masa depan bagi siswa penyandang disabilitas  sangat dibutuhkan bagi siswa dan orang tua. Mereka dianugrahi Tuhan karena anaknya memiliki kebutuhan khusus. Bagaimana kelanjutan kehidupan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)? Selain itu orang tua juga dihadapkan dengan  kelanjutan studi ABK setelah anaknya menuntaskan pendidikan di sekolah khusus ataupun di Inklusi. Secercah harapan  terlihat saat Kampus Guru Cikal yang bekerjasama dengan Nusantarun dan SLB Negeri 1 Gunungkidul mengadakan seminar “pendidikan untuk semua” yang dilaksanakan pada hari Selasa, 17 Desember 2019. Seminar yang dilaksanakan di SLB Negeri 1 Gunungkidul ini menghadirkan empat  narasumber yang dinilai memberikan solusi dan pemecahan masalah tentang kelanjutan studi ABK. Pembicara pertama adalah Rio Walua, S.Pd.I yang mana merupakan penyandang disabilitas mata ( Tunanetra). Beliau menceritakan pengalamannya ketika kuliah di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. “Mas Rio”, begitu cara Rio Walua, S.Pd.I memperkenalkan dirinya. Beliau beralasan, “karena merasa belum pantas dipanggil bapak !” ucapnya, sembari mencoba memecahkan keheningan. Mas Rio menceritakan semua pengalamannya sejak menapakkan kaki pertama di halaman kampus, kisah kesehariannya saat kuliah, mengikuti demo mahasiswa di kampus, bahkan tentang beberapa mahasiswi yang berhasil beliau dapat hatinya. Hari-hari dalam kuliah sebagai penyandang disabilitas tidak begitu berbeda dengan mahasiswa pada umumnya. Rio Walua, S.Pd.I merasa sangat bersyukur, karena dukungan dari keluarga yang tak henti-hentinya menyuntikkan semangat agar dirinya mampu menjalani proses studi di dunia kampus dan menjadi pantang patah arang saat menemui berbagai hambatan. Ketua Pusat Studi Disabilitas UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta  Dr. Arif Maftuhin, M.A menjadi pembicara kedua. Dalam  seminar tersebut mengungkapkan bahwa kadang masyarakat kita masih memandang disabilitas itu dengan pandangan miring. Lembaga pendidikan tinggi pun masih memandang mahasiswa dengan disabilitas adalah beban bagi kelas mereka. Padahal menurut Dr. Arif Maftuhin, M.A, jika ditemukan kegagalan yang terjadi pada mahasiswa dengan disabilitas maka sebenarnya kampuslah yang gagal mendidik mahasiswa tersebut. Belum banyak pihak yang sadar, tetapi beberapa perguruan tinggi telah memfasilitasi pendaftaran mahasiswa baru dengan “kursi” khusus untuk penyandang disabilitas. Menurut Dr. Arif Maftuhin, M.A kampus seperti UIN Sunan Kalijaga, UNY, dan UNS sudah memfasilitasi pendidikan tinggi untuk siswa berkebutuhan khusus, bahkan di UIN sendiri terdapat jalur khusus untuk siswa dengan disabilitas. Pembicara ke tiga adalah bapak Daviq Prasetian, S.Pd. Beliau membahas tentang pentingnya kolaborasi dan dukungan dari sekolah serta orang tua untuk dapat mendorong siswa ABK menuju bangku perkuliahan. Selain itu, beliau juga mengungkapkan beberapa tantangan yang muncul karena perbedaaan kurikulum yang ada di SLB dan di sekolah pada umumnya. Hal tersebut dapat mempengaruhi kemampuan siswa saat seleksi masuk perguruan tinggi. Ibu Rofiqoh dari Kampus Guru Cikal menjadi pembicara terakhir, beliau menceritakan bagaimana program “pendidikan untuk semua” ini dimulai, dan tujuan yang diharapkan dari program ini. Hal yang terakhir dibahas adalah beasiswa dari Nusantarun untuk membantu siswa ABK dalam studi lanjut di universitas. Pak Panggung seorang wali siswa mengungkapkan, betapa tertariknya beliau akan acara seperti ini. Beliau sudah lama mencari solusi untuk anaknya yang ingin melanjutkan studi tetapi memiliki keterbatasan kemampuan. Dengan adanya acara yang langsung mendatangkan narasumber dari universitas, memberikan dirinya banyak informasi dan semangat untuk dapat memfasilitasi anaknya dalam melanjutkan studi di bangku universitas. Hal senada juga diungkapkan dari beberapa penanya. Banyak orang tua yang tidak tahu alur pendaftaran untuk ABK, selain itu mereka juga khawatir akan kondisi putra-putrinya kelak jika benar sampai menempuh kuliah. Acara seminar ini ditutup dengan penyerahan piagam kepada para narasumber dari kampus guru Cikal. Harapan kami, seminar ini dapat menambahkan kepercayaan  orangtua tentang putra-putrinya. Orangtua lebih memahami kondisi putra-putrinya, serta mengetahui kondisi perkuliahan di perguruan tinggi. Penulis : Daviq Prasetian (Guru SLBN Gunungkidul)

Liputan Tentang Seminar Pendidikan Untuk Semua

Pertama kali aku menulis untuk dikirim khalayak luas, tentunya jari jemariku terasa berat dan kelu untuk menuju ke keybord laptop miniku, tetapi apadaya ini adalah sebuah amanah yang harus dijalankan untuk masa depan anak anak didikku yang spesial dan membanggakan dengan merajut sebuah harapan dan mimpi indahnya. Tulisanku aku mulai dengan judul “LIPUTAN TENTANG SEMINAR PENDIDIKAN UNTUK SEMUA” . Dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 17 Desember tahun 2019  di SLB Negeri 1 Sleman tepatnya jalan Kaliurang km 17,5 Pakemgede, Pakembinangun, Pakem Sleman Yogakarta di satu ruang pertemuan. Kami mengadakan kegiatan yang tak terbayangkan sebelumnya yaitu seminar bagi orang tua peyandang disalitas yang akan menentukan jejang karier berikutnya. Setelah lulus jenjang pendidik atas atau jenjang pendidikan SMA dan sederajat ke jenjang perkuliahan.  Kegiatan seminar  merupakan acara yang sangat spesial buat kami dan merupakah sebuah penghormatan untuk kami sebagai tuan rumah dimana kami dipercaya oleh Kampus guru Cikal. Acara seminar ini merupakan serangkaian kegiaan yang di promotori oleh Kampus Guru cikal  berkerja sama dengan NusanRun yang sangat konsent mengembangkan generasi muda Indonesia khusunya anak anak kami yang special needs. Kami sebagai pendidik anak anak disabilitas terlebih dahulu sudah mendapatkan pembekalan dan workshop. Pembekalan tersebut selama dua minggu dan terbagi menjadi dua kali pertemuan dengan agenda kegiatan. Peserta worskhop adalah guru yang diharapkan mampu memahami kebutuhan peserta didik disabilitas sehingga dapat memetakan kemampuan dan jenjang karier siswa secara tepat dan sesuai dengan hobi, bakat dan minat siswa disabilitas.  Seminar ini  merupakan program berkelanjutan dari program bagi guru pendidik anak anak disabilitas. Seminar ini diperuntukan bagi para orangtua penyandang disabilitas kelas XII dan siswa yang sudah lulus tapi belum berkuliah yang berada di daerah Sleman dan sekitarnya. Seminar Pendidikan untuk semua yang mengambil tema”KARIER MURID PENYANDANG DISABILITAS” dengan narasumber Nur Azizah dari Universitas Negeri Yogyakarta, Ida Putri dari Wartawan “Solider”, Winda Dyah Uningrumjati dari kampus Guru Cikal dan Istiyani penulis dari SLB Negeri 1 sleman.  Seminar diawali dengan pembukaan dengan doa dan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta sambutan sambutan. Pertama sambutan dari kepala SLB Negeri 1 Sleman dan Perwakilan dari kampus guru cikal. Dilanjutkan dengan acara inti  seminar yaitu pengembangan Karier Anak disabilitas oleh Ida Putri, beliau penyandang disabilitas fisik dengan karier sederet dan semangat yang sangat hebat. Ida Putri memulai pemaparan, sharing pengalamannya dari awal sampai saat ini yang ibarat tidak semudah membalikan telapak tangan, kata orang sih. Memulai pemaparan “dia pernah menganggur selama 3 tahun dan sering ditolak pada saat melamar pekerjaan, habis wawancara tidak ada kabar lagi dan kenapa sekarang saya menjadi wartawan. “tutur Ida Putri”. Bahwa disini membuktikan bahwa diskriminasi difabel masih ada, maka saya berfikir dan mencari jalan untuk mencari pekerjaan dengan beralih transformasi dari sektor non-profit dan selalu tertantang untuk meningkatkan kapasitas diri. Ida melanjutkan ceritanya bahwa Ia berasal dari orangtua pendidik dan di dalam pengasuhan keluarga diterapkan konsep kesamaan. Dalam konsep ini semua mempunyai hak dan kewajiban yang sama, hanya pada disabilitas saja yang harus diberikan perhatian  dan disesuaikan dengan kondisi dan kemampuanya. Lebih jelas Ida Putri memberikan contoh dalam pekerjaan rumah seperti menyapu, mencuci baju dan semua dikerjakan sendiri. Pengambilan keputusan didalam keluarga selalu melibatkan orang tua saya dan memberikan motivasi kepada saya saat saya mendapatkan ejekan dari teman dan masyarakat. Orang tua memberikan pemahaman bahwa mereka dengan berkata seperti itu karena belum tau, “itu” yang membesarkan hati saya hingga kini saat ini.  Dalam pendidikan Ida Putri menempuh sekolah dengan jalur pendidik umum dari TK sampai Perguruan Tinggi. Ida  Putri mengambil jurusan kimia, fakultas MIPA UGM lewat jalur seleksi umum. Selama kuliah tidak ada kendala karena kampus dan teman teman sangat membantu serta akses di kampus juga mendukung. Lebih lanjut Ida Putri memaparkan teman teman sangat perhatian dalam aksesibilitas, misalnya saat kuliah ada di lantai atas saya akan digendong, saat praktikum teman teman juga banyak membantu. Di kost tidak ada masalah karena sudah terbiasa menyelesaikan pekerjaan rumah tangga secara mandiri. Transportasi ke kampus dari kos naik becak. Pada ujian skripsi, Kajur ikut menata ruangan agar aksesibel yang berada di laboratorium kimia komputasi. Ida putri melanjutkan jenjang S2 lewat jalur beasiswa di Filipina Jurusan Global Politics dari ADMU. Pendidikan ini Ida Putri didapat dari hasil berburu beasiswa selama 4 tahun, dan pendidikan yang dia dapat dia dapatkan lewat jalur beasiswa. Hal ini tentunya melewati perjuangan yang gigih dari Ida putri, tetapi hal ini tak berasa karena Ida putri selalu mendapatkan dukungan dari pihak orang tua. Pemaparan terakhirnya bahwa untuk meningkatkan kesempatan difabel bekerja dan mendapatkan pendidikan tinggi adalah hak setiap anak dan warga negara Indonesia. Karenanya orang tua, keluarga serta lingkungan masyarakat memberikan dukungan dan layanan yang tepat sesuai dengan  kebutuhan difabel. Selanjutnya anak akan bisa menjadi jati dirinya sendiri dan dapat membuktikan bahwa difabel bisa berkarir, dengan kata kunci komunikasi dan kolaborasi, sukses bagi difabel tutur ida dalam penutup pemaparannya.  Pemaparan kedua oleh Nur Azizah dari Ketua Pusat Studi dan Layanan Disabilitas sekaligus dosen Pendidikan Luar Biasa di UNY. Memulai pemaparan bahwa Universitas Negeri Yogyakarta merupakan salah satu perguruan tinggi penyelenggara pendidikan inklusi. Universitas Negeri Yogyakarta memiliki prodi PLB sejak tahun 1963, dari dulu sudah memiliki mahasiswa berkebutuhan khusus akan tetapi belum terdata dengan baik. Dahulu kalau ada  mahasiswa disabilitas diarahkan untuk masuk jurusan PLB pendidikan luar biasa, akan tetapi sekarang tidak lagi. Mahasiswa penyandang disabilitas bisa menempuh jalur perkuliahan sesuai dengan minat yang telah ditentukan. Nur Azizah melanjutkan pemaparannya bahwa Pusat studi layanan disabilitas di UNY diresmikan pada 17 Juli 2017. Visinya menumbuh-kebangkan sumber daya manusia unggul demi mewujudkan kampus dan masyarakat inklusif. Misi dari  pendidikan inklusi adalah (1) menyelenggarakan layanan kepada mahasiswa penyandang disabilitas (2) melakukan penelitian terkait isu isu yang berhubungan dengan disabilitas (3) meningkatkan kepekaan civitas akademik Universitas Negeri Yogyakarta dan masyarakat terkait isu-isu disabilitas.  Adapun total mahasiswa yang sudah tercatat sejak berdirinya pusat studi dan layanan disabilitas ini ada 13 orang yang mengambil berbagai jurusan dan mahasiswa pasca sarjana ada 1 orang dengan total keseluruhan 14 orang disabilitas. Di Universitas Negeri Yogyakarta sendiri sudah mempunyai berbagai kegiatan dan program  yang diperuntukan bagi mahasiswa disabilitas, meliputi pendampingan mahasiswa disabilitas, mengkoordinasikan layanan kepada mahasiswa disabilitas, meningkatkan kompetensi dosen dalam memberikan pelayanan kepada … Read more

Karier Murid Penyandang Disabilitas

Pendidikan pasca sekolah sangat penting bagi kelangsungan hidup murid penyandang Disabilitas dalam bermasyarakat, karena melalui pendidikan anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk kembali ke lingkungan masyarakat dan dapat diterima sebagaimana anak normal lainnya tanpa adanya diskriminasi. Tidaklah mudah mewujudkan hal tersebut karena selama ini hanya sedikit sekali siswa SLB yang dapat melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi. Menurut hasil survey SMALB Jawa Tengah Tahun 2019 yang dilakukan oleh PSD LPPM UNS bahwa dari 159 murid lulusan SMALB hanya 19 murid yang minat masuk ke Perguruan Tinggi. Rendahnya persepsi orang tua, keluarga dan masyarakat tentang pendidikan tinggi menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi permasalahan tersebut.  Menyiapkan murid untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi menjadi sebuah tantangan terbesar. Persepsi Orang tua terhadap anaknya menjadi faktor penting dalam pengembangan karir murid penyandang disabilitas. Orang tua adalah seseorang yang paling dekat dengan anak, sehingga dukungan dari mereka sangat berpengaruh besar dalam pengembangan karir khususnya dalam melanjutkan ke perguruan tinggi.”Apakah anak saya mampu melanjutkan ke Perguruan Tinggi?’’tanya salah satu wali murid SLB Negeri Sukoharjo saat diberi undangan seminar. Dalam hal ini, orang tua ragu akan kemampuan anaknya. Minimnya informasi tentang seleksi masuk ke Perguruan Tinggi juga menjadi salah satu faktor yang menjadikan orang tua memilih untuk tidak melanjutkan studi anaknya ke Perguruan Tinggi.  Mengubah persepsi orang tua menjadi langkah awal untuk melakukan perubahan dan membuat sistem dukungan bagi murid penyandang Disabilitas. Kampus Guru Cikal, pelari Nusantarun dan UNS Surakarta berkolaborasi untuk mengadakan sebuah acara seminar orang tua yang bertempat di SLB Negeri Sukoharjo. Ada 48 Orang tua murid penyandang Disabilitas yang mengikuti seminar ini. Seminar  Orang Tua berjudul “Pendidikan Untuk Semua Karir Murid Penyandang Disabilitas” menjadi salah satu program untuk mengubah persepsi orang tua terhadap anaknya yang nantinya akan melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi. Seminar ini di laksanakan pada hari Senin 16 Desember 2019. Pembicara dalam seminar ini adalah mahasiswa Disabilitas Tunarungu dari Demak, Dosen prodi PLB UNS, perwakilan dari kampus guru cikal, dan guru yang mengikuti sosialisasi program pengembangan murid penyandang Disabilitas Jawa Tengah. Dalam seminar tersebut Cindy yang merupakan mahasiswa disabilitas Tunarungu menceritakan pengalaman belajarnya selama menjadi mahasiswa Disabilitas di UNS. Bagaimana dia harus belajar dari literatur, berjuang lebih dari mahasiswa umum, dan beberapa kompensasi yang harus dilakukan agar dapat menjalankan dengan baik perannya sebagai mahasiswa. Pembicara selanjutnya adalah dosen dari  prodi PLB UNS yang menyampaikan iklim inklusivitas pembelajaran di UNS, tata cara, proses seleksi serta pendampingan mahasiswa Disabilitas yang dilaksanakan UNS Surakarta melalui Pusat Studi Difabilitas (PSD) LPPM UNS. Perwakilan dari Kampus Guru Cikal menyampaikan program terkait beasiswa Nusantarun untuk murid penyandang Disabilitas yang masuk ke perguruan tinggi. Terakhir paparan dari guru yang mengikuti sosialisasi program pengembangan murid Disabilitas Jawa tengah yang merupakan salah satu Guru di SLB Negeri Sukoharjo, tentang pengalaman selama mengikuti program tersebut. Ibarat sebuah paket lengkap, Orang Tua memperoleh informasi dan gambaran apabila anaknya masuk ke Perguruan Tinggi. Dalam sesi tanya jawab orang tua bertanya berkaitan dengan jurusan yang cocok untuk murid penyandang Disabilitas Tunarungu, pertanyaan yang berkaitan dengan universitas mana saja selain UNS yang sudah menerima mahasiswa dengan penyandang Disabilitas, dan pertanyaan yang berkaitan dengan bagaimana mempersiapkan murid penyandang Disabilitas Autis memasuki jenjang Perguruan Tinggi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dengan baik oleh pembicara dan dapat diterima oleh orang tua. Pasca seminar ini, beberapa perubahan terjadi di lingkungan SLB Negeri Sukoharjo. Orang tua terlihat lebih bersemangat dan lebih aktif bertanya kepada guru kelas tentang seleksi masuk ke perguruan tinggi. Pihak SLB Negeri Sukoharjo dan orang tua berencana membuat program untuk mempersiapkan murid yang ada di SLB Negeri Sukoharjo memasuki perguruan tinggi. Asesmen sejak dini dari jenjang SDLB menjadi salah satu program yang direncanakan untuk pemetaan murid apakah nantinya akan melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi atau kearah vokasional. Selain itu direncanakan juga program tambahan jam pelajaran untuk murid yang nantinya disiapkan ke perguruan tinggi melalui bimbingan belajar yang lebih intensif. Dari sosialisasi program penyandang Disabilitas membuat orang tua mengerti, bahwa murid penyandang Disabilitas mampu melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi apabila memperoleh kesempatan dan dukungan yang sama seperti mahasiswa pada umumnya. Seperti yang diungkapkan orang tua dari Lia, salah satu murid di SLB Negeri Sukoharjo ”Ternyata ada ya bu murid SLB yang melanjutkan ke Perguruan Tinggi, tahun depan saya didampingi ya bu untuk memasukkan Lia ke Perguruan Tinggi”. Lega rasanya mendengar hal tersebut, akhirnya dari sosialisasi, orang tua mengerti bahwa murid penyandang Disabilitas mampu melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi apabila mendapatkan kesempatan dan dukungan dari semua pihak. Penulis : Zuzina Nur Susanti (Guru SLBN Sukoharjo)

Kampus Memberi Akses Pendidikan bagi Difabel

Pagi itu Dhomas menceritakan pengalamannya ketika kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di hadapan para orangtua. Uniknya Dhomas berbicara dalam Bahasa Isyarat. Di kursi pojok paling barat tampak seorang relawan dari Pusat Studi Disabilitas UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dengan mahir mahasiswa tersebut menerjemahkan Bahasa Dhomas ke dalam Bahasa Indonesia. Dhomas Erika yang merupakan alumni UIN menceritakan peengalamannya ketika kuliah dan tantangan serta cara menghadapinya. Pemandangan luar biasa ini merupakan salah satu momen dalam Seminar Pendidikan Untuk Semua. Seminar yang ditujukan untuk orangtua murid dengan disabilitas ini bertujuan untuk memotivasi para orangtua dalam pengembangan karir anak disabilitas. Seminar yang dilaksanakan di SLB Negeri Pembina Yogyakarta pada hari Senin tanggal 16 Desember 2019 ini menghadirkan empat narasumber. Pada kesempatan tersebut hadir Ketua Pusat Studi Disabilitas UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta  Dr. Arif Maftuhin, M.A.. Arif membuka materinya dengan menyampaikan tentang urgensi dari pendidikan inklusif. Salah satu pernyataan Arif yang menarik adalah bahwa sebenarnya disabilitas tercipta karena lingkungan belum memberikan akses pada semua kalangan. Lingkunganlah yang menciptakan tembok bagi manusia, yang membatasi manusia karena penilaian terhadap suatu kondisi. Sebagai contoh ketika ada murid disabilitas autis yang ingin kuliah tapi tidak bisa. Sebenarnya hal ini terjadi bukan karena kesalahan murid tersebut, tapi lingkungan kampus lah yang gagal memberikan kesempatan bagi murid tersebut. Dalam penerimaan mahasiswa baru UIN Sunan Kalijaga memberikan alokasi lebih kurang 15 “kursi” bagi calon mahasiswa dengan disabilitas. Dan kabar baiknya bagi calon mahasiswa dengan disabilitas, ada banyak mahasiswa lain yang bersedia menjadi relawan bagi temannya yang disabilitas. Para relawan yang tergabung dalam Pusat Studi Disabilitas ini siap mendampingi mahasiswa dengan disabilitas tidak hanya dalam bantuan fisik, namun juga bantuan dalam bidang yang lain, seperti belajar bersama. Ada juga Guru Amalia yang membicarakan tentang kolaborasi antara pihak sekolah dengan orangtua dalam kesuksesan karir murid dengan disabilitas. Dan yang ditunggu-tunggu informasi yang disampaikan oleh Rofiqoh dari Kampus Guru Cikal  yang menceritakan tentang alur program Pendidikan untuk Semua dan beasiswa ini. Ibu Lia Marliana yang berasal dari Jawa Barat mengungkapkan bahwa beliau merasa sangat beruntung mengikuti seminar ini.”Mengikuti seminar ini merupakan berkah buat saya. Anak saya baru 3 bulan ini sekolah di SLB N 2 Bantul. Dia sekarang sudah kelas 12, dan sebagai ibu saya resah. Setiap malam saya berdoa semoga anak saya bisa kuliah. Dan bagi saya seminar ini merupakan jawaban dari doa saya. Saya jadi tahu bahwa kampus juga memberikan akses pendidikan bagi anak disabilitas. Terimakasih untuk penyelenggara yang telah mengundang saya.” Wah merinding sekali ya, testimoni Bu Lia setelah mengikuti seminar. Setelah pelaksanaan seminar Pendidikan Untuk Semua yang mengambil tema Pengembangan Karir Murid Disabilitas ini, selanjutnya dilakukan penjaringan bagi murid dengan disabilitas yang memiliki impian untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Semoga niat mulia ini berjalan lancar dan melalui program ini rekan penyandang disabilitas dapat meraih masa depan yang lebih cerah. Dan berperan dalam menyebarluaskan informasi mengenai program Pendidikan untuk Semua ini juga salah satu cara untuk berkontribusi dalam pendidikan. Setuju? Penulis : Amalia Ahadini (Guru SLB Pembina Yogyakarta)

Seminar Pendidikan untuk Semua, Karier Murid Disabilitas

Murid penyandang disabilitas sudah waktunya untuk berkarir sesuai minat dan kemampuannya. Mengapa tidak? Akses belajar ke Perguruan Tinggi kini semakin terbuka lebar untuk mereka, salah satunya adalah Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) Semarang, yang setapak demi setapak setiap tahunnya selalu membenahi diri dengan melengkapi sarana dan prasarananya yang ramah difabel serta berusaha menambah jenis Program Studi yang selaras dan sesuai bagi penyandang disabilitas. Sebut saja Henok Bagus Wijaya salah seorang mahasiswa aktif di UDINUS yang menjadi narasumber dalam  Seminar “Pendidikan Untuk Semua” yang menjadi Mahasiswa di Udinus semester akhir ini, mengatakan bahwa “Awalnya saya ragu ragu kuliah di UDINUS, apakah saya mampu mengikuti perkuliahan di UDINUS, dengan kondisi saya  yang Tuna Netra ini? Berkat informasi dan dukungan dari Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) Jawa Tengah, akhirnya saya percaya diri sampai sekarang bahwa saya mampu dan bisa mengikuti perkuliahan di UDINUS”. “ Disini sekalipun saya difabel saya mendapat perlakuan yang sama dengan mahasiswa reguler lainnya, tidak dibedakan. Saya mendapatkan materi perkuliahan dan tugas yang sama dengan mahasiswa lain serta saya mengerjakan soal ujian yang sama tapi fasilitas yang saya peroleh dari UDINUS yang berbeda dengan  teman yang lain karena saya dibantu dengan ‘Laptop bicara’. Paparan materi tentang pengalaman Denok Bagus Wijaya  belajar di UDINUS ini mendapat antusias yang cukup tinggi dari peserta Seminar yang diselenggarakan di YPAC Semarang pada tanggal 16 Desember 2019, Seminar ini diikuti oleh orang tua siswa dari berbagai SLB di Jawa Tengah seta SMA /SMK Inklusi di sekitar kota Semarang, di antaranya : SLBN BLORA, Sekolah inklusi SMA N 3 Demak, SLB ITB Kendal dan SLB C / D YPAC SEMARANG selaku tuan rumah.Hadir selaku Narasumber dari UDINUS diantaranya Bapak Mulyono dan Bapak Raden Arief Nugroho. Dalam paparannya Bapak Mulyono dan Bapak Raden Arief Nugroho yang tampil kolaborasi ini menjelaskan bahwa UDINUS sangat terbuka bagi anak disabilitas yang ingin belajar di Perguruan Tinggi berwawasan IT yang terbaik di Jawa Tengah ini. Ada beberapa alumni mahasiswa difabel UDINUS yang sekarang melanjutkan studi S3 di Australia dengan beasiswa dari UDINUS. Hal ini membuktikan bahwa UDINUS siap melayani mahasiswa difabel yang dapat berprestasi dengan baik. Ada 2 Fakultas pilihan yang ditawarkan bagi mahasiswa Difabel diantaranya Fakultas Ilmu Budaya dan Fakultas Komputer , dengan 8 pilihan Program studi.  Dalam perkembangannya UDINUS masih mengakui masih memiliki banyak kekurangan untuk memberikan hak yang sama terhadap mahasiswa disabilitas , keterbatasan sarana dan prasarana yang masih kurang mendukung serta keterbatasan jurusan program studi yang dapat dipilih.  Sementara itu senada dengan harapan orang tua ketika mengikuti sesi tanya jawab  dalam seminar ini, sangat berharap bantuan beasiswa bagi siswa Disabilitas untuk melanjutkan kuliah di PT dapat dialokasikan juga untuk Program Beasiswa Pelatihan Pendidikan  Vokasi bagi anak anak SLB, karena sangat menyadari secara akademik mereka banyak keterbatasan untuk ke jenjang bangku kuliah .Pertanyaan dan harapan senada juga disampaikan Bapak Imanudin   yang berharap program ini berlanjut sampai tahun depan, karena putranya kelas XI yang memiliki prestasi dibidang IT baru tahun depan ingin melanjutkan kuliah. Sementara ibu Kastri Wahyuni, selaku ketua Yayasan YPAC Semarang, dalam sambutanya menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada pihak Kampus Guru Cikal yang telah berkenan menyelenggarakan Seminar yang sangat bermanfaat ini bagi orang tua disabilitas , bahwa masih banyak yang kurang informasi untuk tindak lanjut belajar putra putrinya setelah tamat SMA, sehingga seminar yang serupa sangat diharapkan dapat dilaksanakan lagi, tidak yang pertama dan terakhir dari KGC terhadap YPAC Semarang.  Kehadiran Kampus Guru Cikal dengan NusantaRun telah mampu menggugah semangat orang tua untuk lebih bersemangat mendampingi putra putrinya yang memiliki keistimewaan , Harapan demi harapan terus bertambah dan akan berbuah, Semoga kehadira nya senantiasa memberi berkah kepada sesama dan penyandang disabilitas khususnya. Penulis : Moch. Purwanto (Guru SLB YPAC Semarang)

Menatap Garis Cerah Karier Penyandang Disabilitas

Pertama kali mendengar kabar Angkie Yudistia menjadi staf khusus presiden, saya tertegun. Diam-diam memikirkan perjalanan yang sudah ditempuh dan dukungan yang menjadi penguat beliau sebagai penyandang tuli- untuk sampai di titik itu. Sesekali saya juga membaca berita mengenai peraturan mengenai pekerja disabilitas yang harus ditampung dalam suatu perusahaan, dan beberapa gerai usaha yang inklusif. Namun di sisi lain, selama dua tahun saya menjadi guru di Sekolah Luar Biasa, lebih banyak alumni yang ‘dirumahkan’ ketimbang hadir di tengah masyarakat.  Sebuah ironi, mengingat sekolah luar biasa pada hakikatnya memiliki peran yang sama dengan sekolah lainnya. Sekolah bertanggung jawab akan kualitas peserta didiknya agar kelak mampu mengambil perannya di masyarakat. Sekolah luar biasa bertujuan untuk membentuk pribadi berkebutuhan khusus yang mandiri.  Definisi mandiri tersebut tentunya beragam, disesuaikan dengan tingkat kemampuan, bisa jadi mandiri cukup dengan mampu beraktivitas keseharian. Namun tidak menutup kemungkinan penyandang disabilitas juga memiliki karier pendidikan maupun pekerjaan, bukan? Sayangnya, sampai saat ini angka partisipasi penyandang disabilitas di pendidikan tingkat tinggi maupun lapangan pekerjaan masih rendah.  Ada beberapa hal yang melatarbelakangi fakta tersebut, diantaranya rendahnya pemahaman karier pada murid berkebutuhan khusus, kurangnya kemampuan guru dalam menggali potensi murid, serta persepsi orangtua, keluarga, maupun masyarakat yang cenderung memanjakan, menyepelekan, dan pada akhirnya berujung pada perilaku diskriminatif. Syukurlah muncul satu garis cerah. Berangkat dari konsep pendidikan adalah tanggung jawab bersama, Kampus Guru Cikal berkolaborasi dengan Yayasan Nusantara telah menyelesaikan program NusantaRun 6. Sebanyak 201 pelari menempuh jarak 160 km dan berhasil mengumpulkan dana sebanyak 2,6 milyar yang ditujukan untuk membantu penyandang disabilitas di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Salah satu penyaluran dari dana tersebut adalah beasiswa untuk penyandang disabilitas. Alih-alih memberikan beasiswa secara langsung kepada murid berkebutuhan khusus, Kampus Guru Cikal memilih untuk mengedukasi guru sekolah luar biasa/inklusi, orang tua murid berkebutuhan khusus, dan murid berkebutuhan khusus terlebih dahulu. Pada tanggal 17 Desember 2019, diadakan Seminar Karier Murid Penyandang Disabilitas Program yang diadakan di SLB N Kota Tegal. Para orang tua murid berkebutuhan khusus dari beberapa sekolah luar biasa, dan perwakilan guru sekolah menengah diberikan pemahaman mengenai karier murid berkebutuhan khusus, utamanya pada aspek pendidikan tinggi.   Materi dibuka oleh Bapak Joko Yuwono (dosen Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Sebelas Maret) yang menjelaskan bahwasanya regulasi mengenai inklusivitas perguruan tinggi diawali sejak tahun 2014 (Permendikbud No.46 tahun 2014). Dilanjutkan dengan sarana prasarana bagi mahasiswa disabilitas, dan skema penerimaanya baik melalui jalur SNMPTN, SBMPTN, maupun seleksi mandiri. Beliau juga menegaskan para orangtua tidak perlu khawatir, karena di awal masa adaptasi, pihak kampus akan mendampingi baik melalui advokasi, organisasi, serta konseling. Pemateri kedua, Mas Misbahul Arifin merupakan seorang mahasiswa penyandang disabilitas di Pascasarjana UNS. Hambatan penglihatan yang dimilikinya tidak menghalangi ruang geraknya. Beliau aktif di berbagai organisasi, bahkan saat ini beliau sedang menjabat sebagai ketua Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia. Mas Misbah menggarisbawahi peran orang tua dan keluarganya dalam membentuk regulasi dirinya sejak kecil. Motivasi, nasehat, dan pemberian layanan yang tepat dari orangtua, diakuinya sangat membantu dalam menghadapi problem perundungan dan diskriminasi di lingkungan sekitarnya. Dilanjutkan oleh Ibu Sepholindarsih selaku perwakilan SLBN Kota Tegal yang telah mengikuti pelatihan dari Kampus Guru Cikal sebelumnya. Beliau memaparkan betapa pentingnya proses asesmen supaya potensi murid bisa dikembangkan dengan optimal, dan mengajak orangtua untuk berkolaborasi bersama untuk membersamai persiapan karier murid.  Pak Rizqy Rahmat Hani sebagai pemateri terakhir menayangkan video kolaborasi Kampus Guru Cikal dan Yayasan Nusantara untuk memberikan gambaran mengenai tujuan dan tahapan program NusantaRun 6. Beliau juga memaparkan agenda setelah seminar untuk orang tua, yaitu berupa pelatihan Murid Belajar. Sebanyak 120 murid berkebutuhan khusus akan mengikuti pelatihan keterampilan belajar untuk selanjutnya diseleksi menjadi 16 penerima beasiswa di beberapa kampus inklusi, diantaranya Universitas Sebelas Maret, Universitas Sunan Kalijaga, dan Universitas Negeri Yogyakarta. Pemaparan tersebut menumbuhkan keyakinan para orang tua bahwa anak-anak berkebutuhan khusus juga memiliki masa depan. Respon dari peserta seminar beragam. Beberapa orang tua mulai mempertimbangkan apakah setelah lulus, anak melanjutkan pendidikan tingkat tinggi atau bekerja, serta menanyakan fakultas yang sesuai. Adapun perwakilan guru sekolah luar biasa menyatakan pendapat perlu adanya penyesuaian bahkan modifikasi kurikulum SMALB, jika murid menginginkan untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas. Pak Joko dan Pak Rizqy menjawab kedua respon tersebut dengan kembali ke prinsip memahami murid melalui asesmen, sehingga intervensi menjadi tepat. Peserta dari SMA/SMK menyimak dengan antusias karena di Kota Tegal belum ada sekolah inklusi di tingkat menengah, namun tidak menutup kemungkinan mereka menerima murid berkebutuhan khusus di masa mendatang.  Program NusantaRun 6 menjadi pemantik optimisme dan juga pemahaman baru para guru, orang tua, dan murid berkebutuhan khusus. Setelah acara selesai, ada salah satu orang tua murid yang berpamitan kepada saya sambil mengatakan, “Sebelumnya saya tidak ada bayangan anak saya melanjutkan kuliah. Selama ini dia hanya bilang mau kerja di Jakarta. Nanti saya coba tawarkan ke dia, kebetulan suka masak, barangkali rejeki dia dan bisa jadi koki hebat.” Saya hanya bisa mengamini kalimat beliau. Optimisme beliau menular ke saya, berharap pula ini menjadi garis start dari perjalanan panjang individu penyandang disabilitas mendapatkan hak pendidikan dan penghidupan yang layak sebagaimana tertulis dalam Undang-Undang Dasar 1945.  Penulis : Meisayu Dwitami (Guru SLBN Tegal)

Ikuti Temu Pendidik Nusantara, Guru Murid Penyandang Disabilitas Dapatkan Beasiswa Penuh Nusantarun

Apa yang terjadi jika ada orang yang benar-benar  haus, ia menginginkan segelas es teh manis, tetapi yang ada dihidangkan di meja hanya gulai ayam berkuah santan kental ? Orang itu tentu saja tidak akan menikmati sajian gulai tersebut. Beranjak dari meja gulai, ia pergi ke meja berikutnya untuk mencari pelepas dahaga yang ia butuhkan. Lagi-lagi, yang ia temukan hanyalah lauk pepes pindang, tempe mendoan dan tongseng kambing. Orang tersebut lantas frustasi. Ia makan sajian yang dihidangkan di meja. Meskipun ia telah melahap banyak hidangan, rasa hausnya tak juga sirna. Ia pasrah, karena ia tak dapat memilih makanan apa yang ia mau. Kondisi tersebut merupakan analogi dari pelatihan guru yang selama ini didapatkan oleh guru. Selama ini pelatihan yang didapat hanya bertema seputar kurikulum, perangkat pembelajaran yang sebenarnya kurang dibutuhkan oleh guru. “Selama ini pelatihan hanya berkisar seputar kurikulum. Padahal yang kami butuhkan adalah bagaimana cara untuk memperbaiki pembelajaran di kelas” ujar Dyah Erna, guru SLB Tawangsari Jawa Tengah. Berangkat dari permasalahan tersebut, Guru-guru Guru BK SMA/SMK/SLB  asal Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang tergabung dalam Program Pendidikan Untuk Semua diberangkatkan menuju Temu Pendidik Nusantara yang diselenggarakan di Jakarta, 25-28 Oktober 2019 melalui jalur Beasiswa Nusantarun. Program Pendidikan Untuk Semua merupakan project kolaborasi antara Nusantarun bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal untuk memberikan pelatihan kepada guru-guru Di Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta dalam mempersiapkan karier murid penyandang disabilitas di masa depan. Ada sekitar 125 guru yang terlibat dalam program ini melalui mekanisme seleksi yang panjang. Dari keseluruhan peserta, selanjutnya dipilih 28 peserta yang diberangkatkan untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara. 28 peserta tersebut mendapat beasiswa penuh dari Program Pendidikan Untuk Semua untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara (TPN). Beasiswa tersebut meliputi biaya Tiket TPN, Akomodasi, Transportasi dari daerah asal dan selama di Jakarta. Pagi masih buta kala itu, semua peserta TPN dari Program Beasiswa Nusantarun melanjutkan perjalanan ke Wisma Handayani di daerah Cilandak, tempat penginapan yang disediakan oleh panitia Penyelenggara TPN. Antusiasme peserta terlihat di raut wajah seluruh peserta. Pendamping Program Pendidikan untuk semua, Rofiqoh Nur Istiqomah dan Winda Dyah Uningrumjati menyambut peserta di Wisma Handayani. Rofiqoh dan Winda memberikan pengarahan singkat mengenai rundown acara esok hari dan memberikan informasi bahwa peserta harus segera bersiap-siap untuk berangkat menuju lokasi TPN. Selepas subuh, antuasiasme peserta sangat tinggi, terbukti mereka berkumpul di lobby tepat waktu. Mereka kemudian terbagi menjadi 2 rombongan dengan 2 shuttle bus yang berbeda. Rombongan guru Tingkat Pendidikan Dasar (SD) dan Guru Tingkat Pendidik Menengah (SMP dan SMA/SMK). Rombongan Tingkat Dasar diantar shuttle bus ke Sekolah Cikal Cilandak, Jakarta Selatan. Rombongan kedua diantar shuttle bus Ke Sekolah Cikal Setu, Jakarta Timur menggunakan shuttle bus. Tahun ini antusiasme peserta TPN yang mengangkat tema “Literasi Menggerakkan Negeri” begitu luar biasa. TPN diikuti oleh 1000 peserta yang berasal dari 120 daerah di Indonesia. Ada 4 jenis kelas yang dapat diikuti peserta : Kelas Kemerdekaan, Kelas Kompetensi, Kelas Kolaborasi dan Kelas Karier. Dari Empat jenis kelas tersebut, ada ratusan kelas yang bisa dipilih peserta sesuai kebutuhan masing-masing. Uniknya lagi, hampir seluruh pembicara di TPN adalah guru yang siap berbagi praktik baik pembelajaran. Jadi ilmu yang dibagikan tidak melulu tentang teori, tetapi ilmu dari hasil pengalaman guru-guru di lapangan yang langsung dapat di praktikkan oleh peserta.         Hari pertama TPN terdapat 3 jenis kelas yang dapat diikuti peserta. Ada Kelas Kemerdekaan, Kelas Kolaborasi dan Kelas Kompetensi. Kelas Kemerdekaan ialah kelas yang memantik inspirasi peserta untuk menemukan kebutuhan belajarnya. Kelas Kolaborasi adalah kelas yang berkolaborasi dengan sesama pendidik, komunitas, maupun perusahaan. Kelas kolaboKelas kompetensi adalah kelas yang membantu guru mengembangkan kompetensinya. Zuzina Nur Susanti, Guru SLBN Negeri Sukoharjo Jawa Tengah yang merupakan peserta TPN jalur beasiswa Nusantarun mengaku sangat senang menjadi bagian dari TPN 2019. “Baru kali ini mengikuti pelatihan guru yang ia dapat merdeka belajar dengan memilih topik kelas sesuai kebutuhan mengajar saya di kelas” ujarnya. Ia memilih  kelas Asesmen Pengajaran Merdeka Belajar. Ia berharap ilmu yang ia dapat di TPN dapat ia gunakan sebagai dasar asesmen pemetaan peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah tempat Ia mengajar. Sejalan dengan yang dirasakan oleh Zuzina, Kadiyono juga senang sekali dapat belajar di TPN. Guru SLB Kendal ini memilih kelas yang sesuai dengan kebutuhanya agar dapat melakukan pembelajaran yang lebih inovatif kepada siswa-siswa nya. Ia memilih kelas Aktivitas Belajar Bermakna dengan Permainan Papan (Board Game) Antusiasme peserta meningkat saat mengetahui kehadiran Nadiem Makarim di hari pertamanya setelah ia dilantik menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ia hadir ditengah-tengah guru dan mendengar aspirasi langsung dari guru. Moment ini dimanfaatkan oleh para guru untuk menyampaikan aspirasi seputar pendidikan. Hari Kedua TPN merupakan acara puncak TPN. Najeela Shihab memberikan inspirasi dan suntikan semangat kepada lebih dari 1000 guru pada acara puncak TPN. Acara ini diiringi oleh berbagai pertuntukkan seni yang dibawakan oleh murid-murid sekolah cikal. Seusai acara puncak, acara dilanjutkan dengan kelas karier yang dapat dipilih peserta sesuai kebutuhan belajar masing-masing peserta. Ada beberapa pilihan yang dapat dipilih peserta saat mengikuti kelas karier, diantaranya, Membangun Layanan, Membangun kelas, Guru berdaya dengan menulis buku, & permainan untuk mengembangkan karier guru. Sore hari setelah kelas puncak dan kelas karier, Peserta TPN Beasiswa Nusantarun kembali ke daerah masing-masing dengan gelas terisi penuh. Mereka merasa senang karena telah terbuka wawasanya. Mengisi penuh gelas yang mereka sebelumnya mereka kosongkan dengan suntikan energi dan inspirasi. Meninggalkan Jakarta naik kereta dari stasiun Pasar Senen, mereka berjanji tidak akan meninggalkan kenangan mengikuti TPN hanya di memori saja. Tetapi mereka siap berbagi pengalaman kepada guru-guru di daerah masing-masing. Tak hanya itu, melalui pembelajaran TPN, mereka semakin memiliki bekal untuk mempersiapkan karier dan masa depan peserta didik berkebutuhan khusus.

Pelatihan Pemetaan Potensi Karir ABK Pasca Pendidikan Menengah

Pelatihan ini dilaksanakan selama 3 hari yaitu pada hari Kamis sampai Sabtu, 3 – 5 Oktober 2019 yang bertempat di LPP Garden Hotel, Yogyakarta. Peserta yang ikut  sejumlah 26 orang ,19 orang perempuan dan 7 orang laki-laki. Sebagai gambaran, bimbingan karir untuk anak berkebutuhan khusus adalah hal penting yang prosesnya tidak terjadi begitu saja. Berbagai persiapan untuk membimbing anak berkebutuhan khusus adalah proses yang cukup panjang yang harus dilalui oleh seorang guru untuk membuat analisa, profil dan Program Pembelajaran Individu. Pelatihan Pemetaan Potensi Karier Murid ABK ini merupakan sebuah pelatihan tatap muka yang diselenggarakan oleh Kampus Guru Cikal dan Nusantarun dengan tujuan memberikan pembekalan guru-guru di Jawa Tengah untuk bisa memetakan potensi ABK dan membuat Program Pembelajaran Individu. Pelatihan dibuka dengan pemaparan mengenai Kampus Guru Cikal (KGC), Komunitas Guru Belajar (KGB), dan profil tim KGC yang akan mendampingi peserta selama pelatihan. Aktivitas selanjutnya adalah para  peserta diminta  untuk berkenalan melalui kegiatan “Sepatu Bicara”. Peserta diminta untuk melepas sepatu sisi kiri dan meletakkannya di tengah. Setelah itu, kembali ke tempat duduknya masing-masing. Setelah duduk, peserta diminta mengambil sepatu secara acak yang bukan sepatunya sendiri. Setelah itu, mereka diminta untuk mencari pasangan sepatunya. Ketika menemukan jodoh pasangan sepatunya, peserta diminta untuk saling bercerita. Pada pelatihan sebelumnya, peserta belajar mengenai asesmen, wawancara, observasi, serta minat berdasarkan teori Holland. Beberapa peserta juga mengemukakan perasaan dan pengalamannya dalam melakukan asesmen dan membuat laporan profiling, seperti kesulitan menyesuaikan kosakata saat wawancara dengan anak tunagrahita. Setelah review, pelatih memaparkan mengenai alur pelatihan dan meminta peserta untuk menuliskan apa yang sudah mereka ketahui (S) dan apa yang ingin mereka ketahui (I) mengenai bimbingan karir ABK pada kertas post-it. Peserta lalu diminta untuk mengisi kolom S, I dan P. Berikutnya peserta dijelaskan tentang tujuan dan alur pelatihan, sebelum akhirnya sesi ini ditutup dengan menyepakati kesepakatan bersama tentang apa yang dapat dilakukan agar pelatihan berjalan secara lancar. Peserta telah paham mengenai tujuan dan metode-metode asesmen (seperti observasi, wawancara, dan tes). Pada saat aktivitas refleksi profiling pelatih membuka dengan membagi kelompok menjadi berpasangan dengan kegiatan mencari jodoh melalui potongan kertas dalam kalimat. Masing-masing anggota kelompok berdiskusi mengenai keberhasilan dan tantangan yang dihadapi dalam membuat profiling asesmen yang mereka jalani sebelum pelatihan ini. Kemudian peserta diminta untuk menempelkan profiling asesmennya di meja, dan melakukan gallery walk, yaitu membaca profiling assessment yang lain, dan memberikan umpan balik dengan menuliskan post it dan menempelkan di kertas profiling assessment temannya. Kemudian setelah semua peserta menerima umpan balik dari peserta lainnya, peserta kembali kepada pasangannya dan bersama merumuskan kunci keberhasilan dan tantangan dalam membuat profiling assessment. Lalu dalam kelompok besar, pelatih membuat daftar dari hasil diskusi dalam tabel tampak seperti dan tidak seperti. Kemudian masing-masing peserta membuat catatan untuk revisi profil assessment yang sudah dibuat oleh masing-masing. Kegiatan ini berhasil membuat para peserta untuk berpikir kembali mengenai apa saja yang harus dilakukan dan penting dilakukan untuk membuat profiling assessment. Kegiatan selanjutnya adalah  Analisa Hasil Profiling  dengan mengajak para peserta bermain peran dengan menjadi detektif.  Peserta diminta untuk menyimak baik-baik  kasus, alat bukti dan dugaan yang dilakukan. Selanjutnya peserta diminta untuk menjelaskan motifnya dan siapa pelakunya.  Melalui kegiatan bermain peran ini para  peserta terlihat sangat antusias pada saat kegiatan menonton video. Beberapa peserta bisa memberikan jawaban pertanyaan dari video yang telah ditonton seperti apa saja hal yang diamati oleh sang detektif, menjelaskan kesimpulan yang diambil oleh sang detektif, bagaimana cara detektif bisa membuat kesimpulan dan apa yang bisa dipelajari dari cara detektif mengambil kesimpulan tersebut. Di hari  kedua Jumat, 4 Oktober 2019 para peserta belajar tentang Program Pembelajaran Individu (PPI): Konsep, Tujuan, Cara Kerja. Sesi dimulai dengan diskusi bersama peserta mengenai analisa profil yang sudah mereka buat sudah dapat langsung dibuat menjadi PPI. Sebagian peserta menjawab belum cukup, harus dibicarakan lagi dengan orang tua. Lalu dilanjutkan dengan apa yang mereka ketahui tentang PPI. Setelah itu pelatih memaparkan tujuan, konsep, dan prinsip PPI. Setelah itu, sesi pun diakhiri dengan contoh lembar PPI beserta penjelasan mengenai isinya. Beberapa peserta sudah familiar dengan istilah konferensi. Beberapa peserta juga memiliki pengalaman melakukan konferensi kelas dengan orang tua. Saat menuliskan apa yang ada di pikiran mereka mengenai PPI, sebagian besar sudah memiliki pandangan yang sesuai dan sama mengenai PPI. Peserta mengetahui bahwa PPI bersifat individu sesuai dengan kebutuhan dan minat anak, berisikan identitas, target/rencana perilaku yang ingin dicapai, waktu pelaksanaan, kemampuan anak saat ini, materi yang diberikan, strategi pengajaran, serta evaluasi yang dilakukan. Mereka juga sudah tahu kalau PPI merupakan program yang disusun berdasarkan informasi dari berbagai pihak yang terlibat dengan anak.  Pada saat materi tentang keterampilan komunikasi dengan murid dan orangtua ABK  dimulai dengan diskusi apa saja yang peserta ketahui tentang keterampilan komunikasi, terutama dengan ABK dan orang tua ABK. Kegiatan berikutnya adalah berbagi pengalaman melihatkan orangtua murid ABK dalam merencanakan karirnya. Dilanjutkan dengan diskusi tantangan terbesar dalam berkomunikasi dengan orang tua dan murid saat merencanakan karirnya diteruskan  dengan paparan tentang konferensi 2 dan 3 arah. Pada saat masuk materi PPI, peserta diberikan  penjelasan tentang elemen dalam PPI seperti deskripsi kemampuan siswa saat ini yang bisa diperoleh dari lembar konferensi, menentukan tujuan umum yang akan dicapai dan harus  relevan, fungsional dan rasional. Pelatih menjelaskan setelah menuliskan tujuan umum peserta bisa membuat tujuan pembelajaran khusus dan deskripsi tentang pembelajaran yang menunjang tujuan pembelajaran. Dengan ini program pembelajaran individual setidaknya bisa diukur tingkat keberhasilannya.  Penentuan waktu pelaksanaan program dan berakhirnya kapan  juga perlu dituliskan di awal dikarenakan akan menentukan kapan akan dilakukan evaluasi program.  Selanjutnya para peserta diminta untuk membuat PPI dari studi kasus Wira dan setelah itu mereka mempresentasikannya kedepan. Kegiatan selanjutnya adalah membuat lembar konferensi 3 arah dari profiling murid masing-masing dan berlanjut membuat program pembelajaran individual  dari lembar konferensi 3 arah yang telah mereka buat. Pada hari ketiga peserta  belajar tentang Program Bimbingan Karir dengan tujuan   Menggali pemahaman peserta  tentang apa itu bimbingan karir bagi abk.   Pada  materi Perencanaan Bimbingan Karir dan Menyusun Rancangan Bimbingan Karir. Sesi awal,  peserta diminta diskusi mengenai perbedaan pendidikan vokasional dan pendidikan akademik, beserta karakteristik anak yang direkomendasikan pada masing-masing pendidikan tersebut. Setelah itu pelatih memaparkan mengenai hal penting dalam menyusun rancangan bimbingan karir, … Read more

Persiapkan Karier Murid Disabilitas di Masa Depan lewat Pelatihan Pemetaan Potensi ABK Yogyakarta

Hermawan, Penyandang Disabilitas Grahita asal Solo Jawa Tengah, pasca lulus SMALB 2 tahun lalu merasa bingung dengan arah karir nya. Pasca lulus ia masih datang ke Sekolah untuk sekedar main. Sudah tidak tercatat sebagai murid di sekolah, aktifitas Hermawan hanya duduk-duduk di halaman sekolah. Hingga tiba waktu pulang, Hermawan akan ikut pulang bersama  murid lain. Cerita tersebut tidak hanya dialami oleh Hermawan, tetapi juga dialami sebagian besar murid disabilitas di Indonesia. Pasca lulus di jenjang Sekolah Menengah Atas, sebagian besar anak dan orangtua bingung apa yang harus dilakukan, mau diarahkan kemana karier si anak kedepan. Berangkat dari permasalahan tersebut, Kampus Guru Cikal  bekerja sama dengan Nusantarun menyelenggarakan Pelatihan Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas. Acara yang berlangsung di LPP Hotel tersebut diikuti oleh 40 peserta yang berlatar belakang guru SMALB, Guru BK SMA inklusi dan Guru BK Sekolah reguler. Pelatihan ini adalah rangkaian Acara Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas Jateng & DIY. Pelatihan yang berlangsung selama 3 hari ini (27-29  Agustus 2019) bertujuan untuk peserta memiliki persepsi yang sama mengenai tujuan pendidikan inklusi, dan mampu melakukan asesmen untuk mengetahui arah karier ABK. Sehingga kedepan guru mampu memetakan potensi peserta didik dan membantu peserta didik penyandang disabilitas untuk menentukan arah kariernya. Ada 4 pelatih yang memberikan materi pada pelatihan ini, Dina Febrina Ekasari, Yulita Patricia Semet dan Amalia Jiandra dan Budi Setiawan. Acara pelatihan ini diawali dengan sesi Pesta Permen. Sesi ini bertujuan sebagai sesi perkenalan antar peserta. Setelah sesi perkenalan,  Pelatih Budi Setiawan mengawali sesi pelatihan dengan memberikan gambaran dan alur secara keseluruhan tentang Program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas serta menjelaskan tentang Kampus Guru Cikal. Pelatih Budi menjelaskan, Program ini merupakan program yang sumber dananya berasal dari masyarakat yang digalang oleh pelari Nusantarun. Sumber dana ini digunakan untuk pengembangan murid penyandang disabilitas Jateng & DIY. Sesi selanjutnya diisi materi orientasi pelatihan oleh Pelatih Dina Febriana. Selanjutnya, peserta diminta untuk mengisi kolom S, I dan P.  Berikutnya peserta dijelaskan tentang tujuan dan alur pelatihan, sebelum akhirnya sesi ini ditutup dengan menyepakati kesepakatan bersama tentang apa yang dapat dilakukan agar pelatihan berjalan secara lancar. Pada Sesi Keberagaman Karakteristik ABK, Pelatihan diawali dengan menebak profesi orang dengan kebutuhan khusus dari fotonya (tuna daksa, tuna rungu) lalu berdiskusi dengan tantangan yang dialami oleh orang tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Materi Keragaman karakteristik disampaikan melalui pemainan kartu. Peserta nampak antusias dengan permainan kartu yang diberikan oleh pelatih. Sesi selanjutnya adalah sesi Miskonsepsi Pendidikan Inklusi. Dalam Sesi ini, pelatih Dina mengorek tajam mengenai salah kaprah pendidikan inklusi yang selama ini menjadi opini masyarakat. Hari ketiga, peserta materi diberi materi tentang Prinsip, Tujuan dan Asas asesmen. Tujuan dari penyampaian materi ini adalah diharapkan guru dapat memetakan potensi murid disabilitas. Materi ini dilanjutkan dengan materi Ragam Asesmen yang disampaikan oleh Pelatih Dina. Melalui pasangan janji yang di jam tertentu, awalnya peserta diminta untuk berdiskusi menggunakan kegiatan think-pair-share tentang asesmen sumatif dan formatif. Beberapa peserta diminta untuk berbagi pendapat hasil diskusinya. Lalu peserta diberikan penjelasan tentang asesmen untuk, terhadap dan sebagai proses belajar. Dari penjelasan tersebut, peserta lalu diajak melakukan kegiatan simulasi tentang 3 kegiatan yang berbeda. Untuk kegiatan ini peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Setelah simulasi, peserta diminta untuk menentukan jenis asesmen mana yang dapat dilakukan dari masing-masing kegiatan, sesuai dengan karakteristik asesmen yang telah dijabarkan Sesi selanjutnya adalah praktik pembuatan asesmen. Pembuatan Asesmen ini bertujuan agar peserta dapat memetakan potensi peserta didiknya. Nantinya, hasil asesmen ini akan dijadikan acuan untuk membantu peserta didik menentukan arah kariernya. Pelatihan ini disambut baik oleh peserta. “Alhamdulillah…terima untuk pelatihan yang asyik dari tim Kampus Guru Cikal. Materi yang menarik jadi semakin menyenangkan dibungkus dengan games yang seru. InsyaAllah sangat bermanfaat bagi saya.” Ujar Amelia, peserta pelatihan yang berasal dari SLBN Pembina Yogyakarta. Sejalan dengan pendapat Amelia, Fatrik Marandau, guru SMA Tumbuh mengatakan “Terimakasih kampus Guru Cikal sudah memperlengkapi kami dengan pemahaman yang semakin lengkap dan keterampilan yang baru, untuk kami dapat semakin efektif mendampingi anak-anak. Sukses untuk Bapak Ibu semua. Sukses juga untuk Kampus Guru Cikal. Mari terus tebarkan kebaikan kepada anak-anak kita! Terimakasih”