Pelatihan Pemetaan Potensi Karir ABK Pasca Pendidikan Menengah

Pelatihan ini dilaksanakan selama 3 hari yaitu pada hari Kamis sampai Sabtu, 3 – 5 Oktober 2019 yang bertempat di LPP Garden Hotel, Yogyakarta. Peserta yang ikut  sejumlah 26 orang ,19 orang perempuan dan 7 orang laki-laki. Sebagai gambaran, bimbingan karir untuk anak berkebutuhan khusus adalah hal penting yang prosesnya tidak terjadi begitu saja. Berbagai persiapan untuk membimbing anak berkebutuhan khusus adalah proses yang cukup panjang yang harus dilalui oleh seorang guru untuk membuat analisa, profil dan Program Pembelajaran Individu. Pelatihan Pemetaan Potensi Karier Murid ABK ini merupakan sebuah pelatihan tatap muka yang diselenggarakan oleh Kampus Guru Cikal dan Nusantarun dengan tujuan memberikan pembekalan guru-guru di Jawa Tengah untuk bisa memetakan potensi ABK dan membuat Program Pembelajaran Individu. Pelatihan dibuka dengan pemaparan mengenai Kampus Guru Cikal (KGC), Komunitas Guru Belajar (KGB), dan profil tim KGC yang akan mendampingi peserta selama pelatihan. Aktivitas selanjutnya adalah para  peserta diminta  untuk berkenalan melalui kegiatan “Sepatu Bicara”. Peserta diminta untuk melepas sepatu sisi kiri dan meletakkannya di tengah. Setelah itu, kembali ke tempat duduknya masing-masing. Setelah duduk, peserta diminta mengambil sepatu secara acak yang bukan sepatunya sendiri. Setelah itu, mereka diminta untuk mencari pasangan sepatunya. Ketika menemukan jodoh pasangan sepatunya, peserta diminta untuk saling bercerita. Pada pelatihan sebelumnya, peserta belajar mengenai asesmen, wawancara, observasi, serta minat berdasarkan teori Holland. Beberapa peserta juga mengemukakan perasaan dan pengalamannya dalam melakukan asesmen dan membuat laporan profiling, seperti kesulitan menyesuaikan kosakata saat wawancara dengan anak tunagrahita. Setelah review, pelatih memaparkan mengenai alur pelatihan dan meminta peserta untuk menuliskan apa yang sudah mereka ketahui (S) dan apa yang ingin mereka ketahui (I) mengenai bimbingan karir ABK pada kertas post-it. Peserta lalu diminta untuk mengisi kolom S, I dan P. Berikutnya peserta dijelaskan tentang tujuan dan alur pelatihan, sebelum akhirnya sesi ini ditutup dengan menyepakati kesepakatan bersama tentang apa yang dapat dilakukan agar pelatihan berjalan secara lancar. Peserta telah paham mengenai tujuan dan metode-metode asesmen (seperti observasi, wawancara, dan tes). Pada saat aktivitas refleksi profiling pelatih membuka dengan membagi kelompok menjadi berpasangan dengan kegiatan mencari jodoh melalui potongan kertas dalam kalimat. Masing-masing anggota kelompok berdiskusi mengenai keberhasilan dan tantangan yang dihadapi dalam membuat profiling asesmen yang mereka jalani sebelum pelatihan ini. Kemudian peserta diminta untuk menempelkan profiling asesmennya di meja, dan melakukan gallery walk, yaitu membaca profiling assessment yang lain, dan memberikan umpan balik dengan menuliskan post it dan menempelkan di kertas profiling assessment temannya. Kemudian setelah semua peserta menerima umpan balik dari peserta lainnya, peserta kembali kepada pasangannya dan bersama merumuskan kunci keberhasilan dan tantangan dalam membuat profiling assessment. Lalu dalam kelompok besar, pelatih membuat daftar dari hasil diskusi dalam tabel tampak seperti dan tidak seperti. Kemudian masing-masing peserta membuat catatan untuk revisi profil assessment yang sudah dibuat oleh masing-masing. Kegiatan ini berhasil membuat para peserta untuk berpikir kembali mengenai apa saja yang harus dilakukan dan penting dilakukan untuk membuat profiling assessment. Kegiatan selanjutnya adalah  Analisa Hasil Profiling  dengan mengajak para peserta bermain peran dengan menjadi detektif.  Peserta diminta untuk menyimak baik-baik  kasus, alat bukti dan dugaan yang dilakukan. Selanjutnya peserta diminta untuk menjelaskan motifnya dan siapa pelakunya.  Melalui kegiatan bermain peran ini para  peserta terlihat sangat antusias pada saat kegiatan menonton video. Beberapa peserta bisa memberikan jawaban pertanyaan dari video yang telah ditonton seperti apa saja hal yang diamati oleh sang detektif, menjelaskan kesimpulan yang diambil oleh sang detektif, bagaimana cara detektif bisa membuat kesimpulan dan apa yang bisa dipelajari dari cara detektif mengambil kesimpulan tersebut. Di hari  kedua Jumat, 4 Oktober 2019 para peserta belajar tentang Program Pembelajaran Individu (PPI): Konsep, Tujuan, Cara Kerja. Sesi dimulai dengan diskusi bersama peserta mengenai analisa profil yang sudah mereka buat sudah dapat langsung dibuat menjadi PPI. Sebagian peserta menjawab belum cukup, harus dibicarakan lagi dengan orang tua. Lalu dilanjutkan dengan apa yang mereka ketahui tentang PPI. Setelah itu pelatih memaparkan tujuan, konsep, dan prinsip PPI. Setelah itu, sesi pun diakhiri dengan contoh lembar PPI beserta penjelasan mengenai isinya. Beberapa peserta sudah familiar dengan istilah konferensi. Beberapa peserta juga memiliki pengalaman melakukan konferensi kelas dengan orang tua. Saat menuliskan apa yang ada di pikiran mereka mengenai PPI, sebagian besar sudah memiliki pandangan yang sesuai dan sama mengenai PPI. Peserta mengetahui bahwa PPI bersifat individu sesuai dengan kebutuhan dan minat anak, berisikan identitas, target/rencana perilaku yang ingin dicapai, waktu pelaksanaan, kemampuan anak saat ini, materi yang diberikan, strategi pengajaran, serta evaluasi yang dilakukan. Mereka juga sudah tahu kalau PPI merupakan program yang disusun berdasarkan informasi dari berbagai pihak yang terlibat dengan anak.  Pada saat materi tentang keterampilan komunikasi dengan murid dan orangtua ABK  dimulai dengan diskusi apa saja yang peserta ketahui tentang keterampilan komunikasi, terutama dengan ABK dan orang tua ABK. Kegiatan berikutnya adalah berbagi pengalaman melihatkan orangtua murid ABK dalam merencanakan karirnya. Dilanjutkan dengan diskusi tantangan terbesar dalam berkomunikasi dengan orang tua dan murid saat merencanakan karirnya diteruskan  dengan paparan tentang konferensi 2 dan 3 arah. Pada saat masuk materi PPI, peserta diberikan  penjelasan tentang elemen dalam PPI seperti deskripsi kemampuan siswa saat ini yang bisa diperoleh dari lembar konferensi, menentukan tujuan umum yang akan dicapai dan harus  relevan, fungsional dan rasional. Pelatih menjelaskan setelah menuliskan tujuan umum peserta bisa membuat tujuan pembelajaran khusus dan deskripsi tentang pembelajaran yang menunjang tujuan pembelajaran. Dengan ini program pembelajaran individual setidaknya bisa diukur tingkat keberhasilannya.  Penentuan waktu pelaksanaan program dan berakhirnya kapan  juga perlu dituliskan di awal dikarenakan akan menentukan kapan akan dilakukan evaluasi program.  Selanjutnya para peserta diminta untuk membuat PPI dari studi kasus Wira dan setelah itu mereka mempresentasikannya kedepan. Kegiatan selanjutnya adalah membuat lembar konferensi 3 arah dari profiling murid masing-masing dan berlanjut membuat program pembelajaran individual  dari lembar konferensi 3 arah yang telah mereka buat. Pada hari ketiga peserta  belajar tentang Program Bimbingan Karir dengan tujuan   Menggali pemahaman peserta  tentang apa itu bimbingan karir bagi abk.   Pada  materi Perencanaan Bimbingan Karir dan Menyusun Rancangan Bimbingan Karir. Sesi awal,  peserta diminta diskusi mengenai perbedaan pendidikan vokasional dan pendidikan akademik, beserta karakteristik anak yang direkomendasikan pada masing-masing pendidikan tersebut. Setelah itu pelatih memaparkan mengenai hal penting dalam menyusun rancangan bimbingan karir, … Read more

Kerja Barengan untuk Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas

“Saya sangat senang sekali dengan program ini. Bahwa benar seorang guru harus belajar dan belajar terus, karena saya ingin sekali mengoptimalkan kembali potensi yang dimiliki oleh anak, biar anak-anak itu bisa.” ungkap Septi Mardianti seorang guru dari SLBN Kota Tegal yang mengikuti kegiatan Sosialisasi Program Pengembangan Murid Disabilitas oleh Kampus Guru Cikal, Jumat 3 April 2019 di Gedung B Aula Ki Hajar Dewantara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah yang dihadiri 120 Kepala Sekolah SMA, SMK, MA Inklusi serta SLB di Jawa Tengah Kegiatan sosialisasi ini merupakan kegiatan awal dari serangkaian kegiatan dalam program Pengembangan Murid Disabilitas yang dilakukan oleh Kampus Guru Cikal. Pendanaan dari program ini didapatkan dari donasi yang digalang melalui lari ultra marathon yang diadakan NusantaRun pada 7-9 Desember 2018 lalu. Upaya penggalangan dana oleh para pelari tersebut berhasil mengumpulkan dana sejumlah 2,65 miliar. Hasil donasi tersebut yang digunakan untuk membiayai Program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas di Jawa Tengah dan DIY. Ada 3 subjek yang menjadi sasaran dalam program ini, yaitu murid penyandang disabilitas, guru BK dan orangtua. Murid penyandang disabilitas selain mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, juga mendapat pelatihan keterampilan belajar untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Guru BK mendapatkan pelatihan pendidikan inklusi dan pelatihan bimbingan karier. Harapannya dari pelatihan tersebut guru BK memiliki keterampilan dalam mendampingi murid penyandang disabilitas untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Orangtua juga menjadi sasaran program karena dukungan orangtua penting bagi keberhasilan pendidikan murid penyandang disabilitas. Dalam sosialisasi program pengembangan murid disabilitas, Bukik Setiawan selaku ketua Kampus Guru Cikal menyatakan bahwa ekosistem pendidikan kita membutuhkan murid penyandang disabilitas yang melanjutkan pendidikan tinggi sebagai kisah sukses agar semakin banyak dukungan bagi pendidikan inklusi. “Layaknya seorang petani yang menanam bibit tanaman dengan metode yang ia gunakan, maka jika berhasil akan bisa ditiru oleh petani lainnya. Program ini akan berjalan jika ada keterlibatan banyak pihak, baik dinas, sekolah, guru, dan juga masyarakat” ujar Bukik dalam acara tersebut. Sejalan dengan Bukik Setiawan, wakil gubernur Jawa Tengah Taj Yasin yang hadir dalam acara tersebut mengatakan bahwa perlu jangkauan yang lebih luas untuk pendidikan inklusi, jika pemerintah provinsi saja jangkauannya kecil. Program yang digagas NusantaRun merupakan dukungan nyata dari masyarakat dalam mendukung cita-cita pendidikan untuk semua.

Mengelola Keragaman Dalam Kelas Inklusi

Moderator: Guru Filla Nova Mariyana (Sekolah Islam Umar Harun, Rembang) Narasumber : Guru Yanuar Khaldun (Sekolah Cikal Surabaya) Profil Narasumber : Anggota KGB Surabaya, mengajar di Sekolah Cikal Surabaya sebagai guru SSC ( student support center),  memberikan pelayanan kepada anak anak yang membutuhkan layanan khusus. Kegiatan : Diskusi Online Hari / Tanggal : Minggu, 10 Februari 2019 Pukul : 15.30 – 17.30 WIB PEMBUKAAN Narasumber : Sebelumnya saya ke materi, gambaran  pendidikan inklusi menurut bapak dan ibu itu seperti apa sih? TANGGAPAN PESERTA Bu Lia : Pendidikan Inklusi adalah pendidikan untuk semuaBu Shaumi : Pendidikan yang bebas untuk siapa sajaPak Shoffa: Kalau saya, pendidikan inklusi itu yang semua model latar belakang anak bisa sekolah. Fisik, ekonomi, ras, suku, agamaPak Joko : Pendidikan Inklusi menurut hemat saya adalah pendidikan yang tidak memandang beda pada muridnya. Semuanya tetep mendapatkan jatah pendidikan yang sama, namun dengan cara yang beda-beda karena semua anak memiliki tahapan perkembangannya masing-masingBu Partilah : Pendidikan yang melayani anak berkebutuhan khususBu Shaha: Sekolah dengan anak yang memiliki kebutuhan berbeda dari biasa sampai luar biasa, dari khusus sampai sangat khususBu Ulya : Pendidikan yang menghargai keberagamanBu Nisa : Pendidikan yang menfasilitasi berbagai keragaman.Bu Fiqoh : Pendidikan inklusi adalah pendidikan untuk semua tanpa pilih kasihBu Muflihah : Pendidikan inklusi adalah  pendidikan yang tidak membeda-bedakan keadaan (kondisi) anak, baik ABK atau non ABK.Bu Riroh : pendidikan untuk siapa sajaBu Mufidah : Semua murid diperlakukan samaBu Zahro : Menurut saya pendidikan inklusi adalah pendidikan yang tidak membatasi keberagaman peserta didiknya.Bu Hani’ : Sebuah pendekatan untuk membangun dan mengembangkan sebuah lingkungan yg semakin terbuka, mengajak masuk dan mengikutsertakan semua orang dgn berbagai perbedaan latar belakang MATERINarasumber : Wah, keren keren jawabannya. Pendidikan inklusi menerapkan model diferensiasi  dalam pembelajaran. Jadi pendidikan inklusi juga menerima anak anak yang berkebutuhan khusus. Ketika sekolah menjadi sebuah sekolah inklusi, maka secara tidak langsung sekolah tersebut harus siap dengan kedatangan ABK di sekolah tersebut. Namun banyak kejadian di lapangan sekolah umum masih bingung dengan model pelayanan di sekolah inklusi seperti apa. Banyak guru juga masih  kesulitan bagaimana memodifikasi kurikulum, menentukan bagaimana model penilaian yang akan digunakan dan cara mengajar bagi anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di sekolah inklusi. Di SKGB 18 saya menceritakan tentang bagaimana saya menghandle siswa ADHD di kelas inklusi. Dia berusia 3 tahun pada saat itu sangat aktif sekali. Setiap hari ada kejadian temannya yang tertarik, terdorong dan tertendang. Saya mempelajari pola siswa saya. Dengan mengidentifikasi permasalahan siswa saya terlebih dahulu, merancang program, melibatkan orang tua untuk program dirumah, dan monitoring di tiap tengah semester. Prosesnya cukup panjang. Hampir satu tahun, saya juga mencari taktik untuk meyakinkan orang tua. Dikarenakan siswa saya anak tunggal, jadi perilaku tersebut tidak muncul di rumah. Munculnya ketika di sekolah. Hasilnya memang tidak instant, perlu proses. Saya juga berusaha mengkondisikan teman-temannya agar selalu berfikiran positif pada siswa dampingan saya. Orang tua cukup kooperatif jadi dari rekomendasi yang saya berikan dillakukan. Nah ini tugas dasar dari seorang guru :1. Memperoleh kerja sama dengan siswa 2. Mencapai keteraturan dengan melakukan kerja sama dengan siswa dan memeliharanya dalam kegiatan pembelajaran 3. Tidak sekedar menangani “perilaku mengganggu” secara efektif, namun juga : – Membuat tuntutan perilaku dan akademis yang sesuai dengan siswa– Memberikan petunjuk yang jelas bagi siswa – Memperlancar peralihan pelajaran – Memprediksikan permasalahan dan mencegahnya – Memilihkan & mengurutkan kegiatan sehingga tercapai keteraturan & kelancaran belajar, dll  4. Kegiatan berbeda membutuhkan keterampilan pengelolaan kelas yang berbeda DISKUSIBu Rodliyah : Di kelas saya ( kelas 1 SD), ada 20 anak dengan 1 anak berkebutuhan khusus ( dulu diagnosanya autis). Saya ingin tanya bagaimana perencanaan kegiatan pada ABK, apakah ada rencana B dan C, mengingat apa yang kita rencanakan ternyata anak tersebut belum siap  mengikuti kegiatan? Mengingat juga kebutuhan yang berbeda, seringnya bentuk kegiatan juga berbeda dari mayoritas anak2 di kelas, meski beberapa kali juga terlihat bisa bergabung Narasumber : Dalam memberikan materi pembelajaran ke anak ABK kita perlu melihat usia mental anak. Jika anak kelas 1 dengan usia 7 tahun, tetapi kemampuannya seperti anak usia 5 tahun berarti kita menyiapkan materi sesuai dengan anak usia 5 tahun. Kita merencanakan program sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh anak. Misalnya anak sudah bagus di berbahasa tetapi kemandirian, berhitung dan sosial masih kurang baik. Maka kita harus buat program untuk berhitung, kemadirian dan sosial. Bu Rodliyah : Menurut bapak, apakah dalam kelas itu, memungkinkan kegiatan ABK butuh pendampingan khusus? Sebenarnya dari saya, perencanaan pembelajaran ABK belum begitu optimal, tapi kami juga mempertimbangkan usia tahap perkembangannya pak. Narasumber : Tidak semua ABK perlu didampingi. Kita melihat kondisi dan karakteristik siswa. Jika anak memiliki perilaku yang masih tiba-tiba marah dan bisa melukai teman-teman lainnya maka dia perlu didampingi. Tetapi jika siswa tersebut memiliki masalah akademik, kita lihat yang perlu pendampingan di mata pelajaran apa. Bu Rodliyah : Memang observasi anak itu penting untuk merencanakan programnya hingga tercapai tujuan dan tahapan perkembangan. Terima kasih banyak, pak Bu Khoridah : Di kelas kami ada ABK. Sudah ada program yg didiskusikan bersama orangtua, tapi kami merasa program tersebut sulit tercapai karena seakan-akan hampir tidak ada effort dari si anak. Dan pernah kami berkunjung ke rumahnya, ternyata program yang sudah disepakati bersama itu kurang diindahkan oleh pihak keluarga di rumah. Dari situ kami berpikir, mungkin karena program sekolah dan rumah ini tidak berjalan beriringan jadi sulit perkembangannya. Bagaimana kami sebagai guru menyikapi ini pak? 🙏🏼 Narasumber : Orang tua memang terkadang kurang kooperatif. Membebankan kepada guru pembelajaran anak-anaknya. Nah, untuk menyiasati seperti ini, saya biasanya membuat checklist tugas untuk di rumah dan mana yang di sekolah. Dari checklist tersebut kita dapat mengevaluasi kenapa perkembangan anak stagnan. Jika dari checklist ternyata pihak ortu yang tidak melakukan dengan baik, kita bisa merefleksikan. Mengundang orang tua  ke sekolah, apa kesulitan yang di hadapi di rumah. Bu Lia : Terimakasih atas kesempatan berharga sore ini. Menarik sekali materi sore ini tentang keragaman. Sungguh indah sekali apabila kita bisa memahami keragaman yang ada di kelas. Di kelas saya ada 2 anak ABK (sama-sama linguistiknya yang masih perlu ditingkatkan) apabila diajak berbicara keduanya sudah memahaminya. Dari keseharian bersama mereka saya … Read more

Menemukan Teman Seperjalanan di Jalan Sepi #PendidikanUntukSemua

Hamzah (32 tahun) seorang tuna netra dari Makassar, mengatakan ia sering menerima komentar negatif dari para guru yang mengeluhkan kinerjanya di kelas tetapi ia tidak pernah mendapatkan dukungan atau materi yang disesuaikan untuk membantu dirinya untuk terlibat. Meskipun kurangnya dorongan dari gurunya, Hamzah bersikeras untuk mengejar pendidikan tinggi seperti teman-temannya yang tidak cacat, dan bermimpi menjadi guru di sebuah sekolah Islam. Tetapi Hamzah ditolak pada tahun 2003 oleh fakultas pendidikan (tarbiyah) di Alauddin UIN. Dia diberi tahu bahwa orang buta tidak bisa menjadi guru dan institut itu tidak bisa menampungnya. Dia akhirnya diterima ke departemen sastra Inggris di UNM. Sosok Hamzah yang dituliskan oleh Dina Afrianty, peneliti La Trobe University, Australia dalam artikel berjudul “People with Disability: Locked out of Learning?” adalah salah satu contoh berhasil seorang disabilitas bisa mengenyam pendidikan tinggi. Namun masih banyak pekerjaan rumah berkait dengan akses masuk perguruan tinggi bagi murid disabilitas. “Usaha-usaha memang sudah dimulai, tapi di seluruh Indonesia belum banyak. Hanya beberapa perguruan tinggi yang mampu menyediakan fasilitas yang memudahkan civitas academica dalam belajar dan mencapai semua tempat dengan menjaga keselamatannya,” kata Staf Ahli Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) bidang Akademik, Paulina Pannen. Itulah salah satu alasan program #PendidikanUntukSemua dijalankan, memberikan akses perguruan tinggi kepada murid-murid penyandang disabilitas. Tantanganya adalah mencari perguruan tinggi yang sudah menjalankan pendidikan inklusi. Selasa (19/2/2019) Kampus Guru Cikal mulai melakukan audiensi dengan berbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Audiensi ini bertujuan untuk mempelajari, sejauh mana perguruan tinggi tersebut peduli dengan mahasiswa penyandang disabilitas. Perguruan tinggi yang menjadi kunjungan awal oleh tim Kampus Guru Cikal adalah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pemilihan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta karena perguruan tinggi tersebut yang menjadi pelopor perguruan tinggi yang memfasilitasi penyandang disabilitas sejak tahun 2007. Dalam audiensi tersebut tim Kampus Guru Cikal diwakili oleh Bukik Setiawan selaku ketua Kampus Guru Cikal dan Rizqy Rahmat Hani selaku ketua program #PendidikanUntukSemua . Audiensi dilakukan di gedung PAU lantai 2 UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kami disambut dengan hangat oleh bapak Waryono, selaku wakil rektor bidang kerjasama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Arif Maftuhin selaku ketua Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Keseriusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam menjalankan pendidikan inklusi di perguruan tinggi tidak main-main. Pusat Layanan Difabel menjadi tonggak dalam memperjuangkan pendidikan inklusi. “Mahasiswa difabel belajar bersama mahasiswa lainnya, tidak ada kelas khusus, tidak ada program khusus bagi mereka. Tugas Pusat Layanan Difabel adalah memastikan bahwa proses mereka dalam kegiatan belajar mengajar dan kegiatan akademik yang lain itu dapat terlibat secara penuh.  Misalnya kalau ada mahasiswa tuli, kita mengirimkan pendamping, baik berupa no taker maupun juru bahasa isyarat. Misalnya ada mahasiswa tuna netra, kita memfasilitasi mereka untuk mengakses materi-materi kuliah dengan proses digitalisasi. Kita mencoba agar proses menjadi inklusif itu bisa benar-benar dirasakan oleh mahasiswa yang belajar di UIN SUKA.” kata Arif Maftuhin. Dalam audiensi tersebut Kampus Guru Cikal juga menjajaki kemungkinan kerjasama untuk program #PendidikanUntukSemua dengan memberikan beasiswa NusantaRun Enam kepada murid penyandang disabilitas potensional. Gayung bersambut, PLD juga mengakomodir beasiswa untuk mahasiswa penyandang disabilitas. Namun selama ini mengalami kendala, sedikit yang mengikuti seleksi tersebut. “Kami sudah lama membuka pendaftaran mahasiswa difabel, bahkan sudah ada jalur khusus dan berbeasiswa, tapi justru yang daftar tidak banyak. Ada kuota 15, pendaftar maksimal 20” ujar Waryono. Hal tersebut dikarenakan orangtua yang masih merasa takut dan tidak percaya bahwa anaknya mampu melanjutkan ke perguruan tinggi. Tantangan ini terjawab oleh program #PendidikanUntukSemua yang menyiapkan guru, orangtua dan murid penyandang disabilitas untuk siap melanjutkan ke perguruan tinggi. “Jadi yang lebih penting sebenarnya adalah adaptasi kelas itu terhadap difabel, bukan pada prasarana fisik atau apa yang mungkin jika disiapkan belum tentu digunakan.” ujar Arif mengakhiri sesi audiensi siang itu. Apa yang UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta perjuangkan selama ini sesuai dengan program #PendidikanUntukSemua Kampus Guru Cikal, pertemuan ini seperti menemukan teman seperjalanan di jalan sepi #PendidikanUntukSemua.