Memetakan Potensi ABK dengan Asesmen

Apa jadinya seorang ahli bedah yang dikenal hebat, terlempar ke masa di mana alat-alat bedah tidak ada. Apakah ia masih bisa melakukan praktik membedahnya?  Namanya Jyin Hyuk, seorang dokter bedah yang hidup dan tinggal di masa modern yang mengalami kejadian aneh, yang membuatnya harus terlempar jauh ke masa Dinasti Joseon. Dalam masa itu, teknologi medis masih dalam tahap awal. Banyak kasus yang dialami Jyin Hyuk ketika ia terlempar ke waktu yang berbeda. Salah satunya adalah ketika ia menemui seorang anak yang sakit perut, mual, mata tampak cekung, dan juga kulit kering.  Dari sekilas melihat kondisi anak tersebut, Jyin Hyuk meminta warga untuk menjaga kebersihan dan melakukan beberapa tindakan. Namun tak disangka, wabah melebar, ada beberapa warga yang meninggal karena penyakit tersebut. Di masa belum ada peralatan medis tersebut, Jyin Hyuk membuat alat alternatif, obat alternatif dan melakukan beberapa keputusan agar virus tersebut tidak tersebar. Asesmen, saya melihat apa yang Jyin Hyuk sebagai seorang dokter melakukan asesmen, dia memperkirakan apa yang sedang dialami si anak dari mengobservasinya, seringnya mual, sakit perut hingga kulit kering membuatnya mendiagnosis bahwa si anak terkena kolera. Ia pun tahu kalau virus itu akan cepat menyebar dan mengambil beberapa keputusan sampai membuat beberapa obat dan alat untuk mengobati yang sudah terkena dampak. Sebagai seorang guru, salah satu yang perlu dimiliki adalah kemampuan seperti dokter Jyin Hyuk, yaitu melakukan asesmen. Oleh karena itulah dalam program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas pelatihan pertama difokuskan mengajak guru peserta program untuk bisa melakukan asesmen. Pelatihan bertema  “Pemetaan Potensi ABK Pasca Pendidikan Menengah” ini diikuti sekitar 40 guru pembimbing khusus dari SMALB, dan guru BK dari  SMA/SMK/Madrasah Inklusi di Jawa Tengah. Pelatihan yang berlangsung selama 3 hari ini (5-7 Agustus 2019) bertujuan untuk peserta memiliki persepsi yang sama mengenai tujuan pendidikan inklusi, dan mampu melakukan asesmen untuk mengidentifikasi ABK. “Sering banget terjadi miskonsepsi diantara guru mengenai pendidikan inklusi”, ujar Vitriani Sumarlis salah satu pelatih dari Kampus Guru Cikal. Oleh karena itulah di bagian awal pelatihan, peserta diajak untuk berpikir dan berdiskusi mengenai miskonsepsi pendidikan inklusi, seperti : Murid dengan disabilitas/ berkebutuhan khusus tidak akan mampu mengikuti kurikulum yang sama seperti anak-anak pada umumnya  Kurikulum khusus perlu dirancang untuk anak-anak dengan disabilitas/ kebutuhan khusus Menerima murid disabilitas/berkebutuhan khusus dalam kelas reguler hanya akan menghambat pencapaian murid-murid yang lain di kelas tersebut  Pernyataan-pernyataan tersebut membawa peserta berbeda pendapat, ada yang setuju ada pula yang tidak setuju. Dari proses inilah, kami melihat beberapa guru memang masih kebingungan mengenai tujuan pendidikan inklusi. Untuk lebih memberikan gambaran mengenai pendidikan inklusi, pelatih memutarkan sebuah video tentang praktik pendidikan inklusi di negara-negara eropa. Peserta kemudian diajak berdiskusi antarkelompok. “Saya jadi mulai memiliki gambaran sebagai guru BK menerapkan pendidikan inklusi di sekolah saya. Kalau memang pendidikan untuk semua, mengapa perlu kurikulum khusus. Saya mulai memahami bahwa untuk mencapai itu, salah satu yang perlu dilakukan adalah kolaborasi..” ujar salah satu peserta guru BK. Setelah itu pelatihan yang berlangsung di Gedung BP-Diksus, Semarang ini mengajak peserta untuk mengenali keragaman ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Karena jika guru mengetahui tentang keragaman ABK, guru bisa lebih mudah memberikan tindakan yang tepat sesuai ragam ABK-nya. Dalam sesi ini, peserta diajak bermain kartu Murid Istimewaku, kartu permainan yang bertujuan mengajak peserta tahu dan mengerti ragam ABK. Melalui permainan, ragam ABK yang berjumlah banyak memudahkan untuk dimengerti oleh peserta dan kemudian mengelompokkannya ke dalam area-area disabilitas, mana ragam disabilitas yang masuk area disabilitas fisik, mana yang masuk disabilitas sensori, mental, dan intelektual. “Permainannya seru, mengasah peserta untuk bisa merancang strategi agar mendapat skor banyak. Selain itu, penggunaan perbedaan warna memudahkan kami memetakan area disabilitas murid..” ujar salah satu peserta program. Harapannya setelah mengetahui tujuan pendidikan inklusi dan ragam ABK, guru bisa melakukan asesmen yang tepat untuk murid. Oleh karena itulah sesi selanjutnya yang berlangsung di hari kedua membahas tentang prinsip, tujuan dan cara asesmen.  Jika diandaikan seorang dokter Jyin Hyuk yang terlempar ke masa belum mengenal peralatan medis, dan menggunakan apa yang ada di lingkungannya untuk membantu mengobati pasien, maka sebenarnya tantangan guru adalah itu. Tidak bergantung asesmen-asesmen dari lembaga lain yang biasanya berharga tinggi melalui serangkaian tes. “Tantangannya adalah mengajak guru menggunakan apa yang ada untuk melakukan asesmen. Dari sesederhana melakukan pengamatan kepada murid, melakukan wawancara. Karena selama ini yang terjadi di kalangan guru adalah cara melakukan asesmen menggunakan alat berupa tes, yang terkadang berbiaya..” ujar Rizqy salah satu pelatih dalam tahap ini. Lewat berbagai simulasi permainan, peserta diajak untuk saling mengamati satu sama lain. Mencatat apa yang dilakukan, bagaimana perilakunya, menanyainya untuk mendapat gambaran orang tersebut.  “Memang tantangannya dalam asesmen, bagaimana melakukan asesmen tidak secara langsung dan murid mengetahui bahwa mereka sedang diamati/diwawancarai.” ujar Vitriani Sumarlis kepada peserta setelah melakukan simulasi observasi dan wawancara. Di hari terakhir, peserta diajak mengenali bakat dan minat murid melalui teori Holland. Di sesi ini peserta antusias sekali mempelajari mengenai Teori Holland, yang membagi minat menjadi 6 yaitu realistik (sang pekerja), investigatif (sang pemikir), artistik (sang kreator), sosial (sang penolong), wirausaha (sang pembujuk), dan konvensional (sang pengatur). Harapannya, para peserta memiliki pengetahuan mengenai minat sehingga bisa menumbuhkan minat-minat yang murid miliki. “Pelatihan yang berbeda dari pelatihan lainnya. Tiap hari hampir 8 jam pelatihan namun tidak terasa.” Ujar Nanik Qomariyah, salah satu peserta 

Udinus Berdayakan Teknologi untuk Mahasiswa Penyandang Disabilitas

“Sepuluh tahun yang lalu, ada salah satu orangtua mahasiswa yang meminta anaknya yang notabennya penyandang disabilitas untuk bisa mengenyam pendidikan di Udinus. Kami belum punya pengalaman untuk mendampingi anak berkebutuhan khusus belajar, namun bagi kami ini tantangan. Akhirnya kami terima, dan kami kemudian mencari cara agar anak tersebut bisa belajar dengan maksimal.” , tutur Prof Dr Ir Edi Noersasongko M.Kom Rektor Universitas Dian Nuswantoro Semarang (Udinus) yang kami temui Kamis (16 Mei 2019) di Gedung rektorat Udinus, Semarang. Dalam pertemuan bertajuk audiensi program Pengembangan Murid Penyandang Disabilitas untuk NusantaRun 6 ini rektor Udinus menceritakan bagaimana Udinus memulai kepeduliannya dengan mahasiswa penyandang disabilitas. Seperti cerita di atas, untuk menghadapi tantangan tersebut pak Edi meminta beberapa dosennya untuk belajar, membuat riset mengenai penyandang disabilitas. Ternyata, usahanya tidak sia-sia, banyak dosen yang akhirnya tergerak membuat riset mengenai penyandang disabilitas. Misalnya Muljono S.Si, M.Kom dosen Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) yang mengembangkan Sistem Sintesis Ujaran Audio-Visual (SSUAV) untuk Bahasa Indonesia yaitu sebuah sistem yang dapat membangkitkan ujaran audiio visual secara simultan dari teks yang diinputkan, sistem tersebut memanfaatkan alat bernama Job Access With Speech (JAWS). Sistem dan alat ini mampu membantu para tunanetra untuk menggunakan komputer. Dalam kerjanya aplikasi tersebut membaca layar komputer dan mampu melafalkan teks. Selain Muljono, mahasiswa Teknik Biomedis Udinus juga menciptakan kursi roda berteknologi modern yaitu bisa berjalan hanya dengan kendali jari. Dari riset tersebut banyak mahasiswa penyandang disabilitas terbantu, salah satunya adalah Eka Pratiwi Taufanti, mahasiswa jurusan S1 Sastra Inggris Udinus ini berhasil menemukan jalan kariernya sebagai penulis saat belajar di Udinus. Berikut salah satu tulisan Eka : “Aku tentu bangga dan bahagia dengan apa yang kudapat sekarang ini. Memang yang kudapat ini belum apa-apa jika dibandingkan dengan teman-teman lainnya, namun aku tetap bersyukur karena meskipun aku harus tinggal berpisah dengan orang tuaku yang berjualan pecel serta nasi di luar jawa, namun aku bisa tetap melanjutkan pendidikanku. Pelita di kedua mataku kini memang telah tiada , terganti gulita yang sesakkan dada. Namun berkat rasa syukur dan mimpi yang berpijar dalam jiwa, gulita itu seolah bukan apa-apa. Pelita lain, pelita baru yang lebih benderang dari cahaya optic pada indera penglihatanku kini berpijar, menyinari kehidupan seorang anak manusia yang dianugerahi sebuah ketunanetraan, seorang anak manusia yang meski memiliki keterbatasan namun tetap memiliki mimpi sebesar bahkan lebih besar dari mereka; individu-individu yang sempurna secara fisik. Seseorang dengan keterbatasan nyatanya dapat menembus keterbatasan tanpa batas, berlari mengejar mimpi dengan keyakinan penuh dalam hati. Bagiku hidup adalah berawal dari mimpi, maka jangan takut bermimpi karena ketika kita takut bermimpi, kehidupan ini tak akan ada untuk kita. Kuncinya, ikhlas dengan takdir yang ada and do believe that God will give a hand for us!!” Udinus memang tak main-main dengan apa yang mereka lakukan untuk penyandang disabilitas, pada tahun 2017 Udinus mengundang perwakilan organisasi dan komunitas difabel untuk mengikuti Focuss Group Discussion (FGD) untuk menyusun bahan ajar yang aksesibel bagi mahasiswa difabel netra. Dalam audiensi tersebut, Kampus Guru Cikal yang diwakili Bukik Setiawan dan Rizqy Rahmat Hani ini mengajak Udinus menjadi salah satu perguruan tinggi tujuan calon mahasiswa penyandang disabilitas untuk program Pengembangan Murid Disabilitas. Gayung bersambut, pak rektor menyambut hangat ajakan kami.

Pendidikan adalah Urusan Kita Bersama – Kolaborasi Komunitas Banjarnegara

Tanggal 2 Mei 2019, kita semua memperingati Hari Pendidikan Nasional. Pendidikan yang dinilai sebagai salah satu tolak ukur kemajuan bangsa, seringkali dianggap sebagai urusan sebagian orang saja. Pendidikan dianggap sebagai urusan dinas pendidikan, guru, sekolah dan pemerintah. Padahal semua orang yang pernah merasakan pendidikan, sejatinya memiliki kewajiban untuk mendidik. Semua orang sebenarnya bisa terlibat di dunia pendidikan. Berbagai kegiatan mulai dari rumah baca di sekitar lingkungan rumah kita, sampai komunitas-komunitas sosial pendidikan banyak bermunculan dengan inisiatif sebagian orang. Terkadang banyak orang seolah menutup mata dengan keberadaan rumah baca dan komunitas sosial pendidikan di sekitar mereka. Sehingga perlu diadakan kegiatan yang melibatkan semua penggerak komunitas untuk bersama-sama mengajak lebih banyak orang untuk bergabung. Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2019, beberapa komunitas sosial pendidikan dan rumah baca mengadakan sosialisasi di area Car Free Day Alun-alun kota Banjarnegara. Acara dimulai dari pukul 06.00 sampai 09.00 WIB. Penggerak masing-masing komunitas ternyata memiliki kendala yang sama dalam menjalankan program-programnya, yaitu kurangnya relawan yang mau terjun langsung bergerak untuk pendidikan. Oleh karena itu, mereka berinisiatif bergerak bersama untuk menunjukkan pada masyarakat, bahwa di kota Banjarnegara memiliki berbagai organisasi dan komunitas yang sangat terbuka untuk semua orang yang ingin berkontribusi di dunia pendidikan. Beberapa komunitas yang terlibat di acara ini antara lain, Sekolah Inspirasi Pedalaman Banjarnejara, Kampung Dongeng Banjarnegara, Sahabat Difabel Banjarnegara, Rumah Baca Komunitas Kauman Banjarnegara, Sekolah Cerdas (Ceria, Damai, Siaga) dan Komunitas Guru Belajar Banjarnegara. Rumah Baca Komunitas Kauman Banjarnegara mengadakan baca buku gratis untuk anak- anak dan orang dewasa. Kampung Dongeng Banjarnegara mengedukasi anak-anak melalui cerita menarik oleh Kak Mifta Resti dan boneka kecilnya Kia. Cerita yang disampaikan sesuai dengan tema dari Sekolah Cerdas, yaitu mengajarkan anak-anak untuk siap siaga terhadap bencana alam gempa bumi dan tanah longsor. Hal ini penting karena Banjarnegara sendiri adalah daerah yang rawan terhadap bencana alam gempa bumi dan tanah longsor. Sekolah Cerdas juga memberikan edukasi kesiapsiagaan bencana melalui permainan papan (board game) yang sangat menarik untuk anak-anak. Ada juga Komunitas Sahabat Difabel yang bekerjasama dengan Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia), mengadakan Kelas Bahasa Isyarat kepada para pengunjung Car Free Day secara gratis. Banyak masyarakat belum mengetahui cara berkomunikasi yang nyaman dengan teman-teman penyandang difabel rungu. Para pengunjung terlihat antusias mengikuti Kelas Bahasa Isyarat dan mengusulkan agar kegiatan ini diadakan secara rutin. Sekolah Inspirasi Pedalaman Banjarnegara melakukan sosialisasi kegiatan dan penggalangan dana dengan menjual merchandise yang keuntungannya untuk donasi kegiatan di desa Pesangkalan. Komunitas Guru Belajar Banjarnegara mengajak masyarakat khususnya yang berprofesi sebagai guru untuk mengikuti Temu Pendidik Daerah yang akan dilaksanakan setelah Car Free Day di Rumah Baca Komunitas Kauman. Temu Komunitas Pendidikan se-Banjarnegara yang awalnya hanya diinisiasi oleh 4 orang penggerak akhirnya berhasil mengajak banyak orang yang terlibat dengan sukarela. Walaupun kegiatan ini berlangsung mendadak dan terkesan kurang persiapan yang matang, namun kami yakinini tetap memberikan dampak positif untuk masyarakat Banjarnegara. Setidaknya banyak orang yang lebih mengenal komunitas sosial pendidikan dengan lebih dekat. Banyak juga relawan yang merasa lebih ringan jika bekerja bersama-sama. Karena urusan pendidikan bukan hanya urusan segelintir orang saja, maka kami memilih kerja barengan untuk pendidikan yang lebih baik.

Menuju Kolaborasi #PendidikanUntukSemua

Dalam pelaksanaan program Pengembangan Murid Disabilitas di Jawa Tengah dan DIY, butuh beberapa pihak untuk membuat program tersebut berjalan baik. Selain perguruan tinggi sebagai lembaga yang akan menerima murid penyandang disabilitas, butuh pihak sebagai sistem pendukung murid disabilitas tersebut, yaitu sekolah, guru dan orangtua. Oleh karena itulah langkah berikutnya yang kami lakukan adalah melakukan audiensi kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah dan Kementrian Agama Kanwil Jawa Tengah. Dalam audiensi tersebut, kami juga bertemu dengan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen. Beruntunglah kami, karena Jawa Tengah sedang membangun diri menjadi pioner pendidikan inklusi di Indonesia. Sebulan sebelum kami mengajak bekerjasama, ternyata sudah ada pertemuan yang dilakukan oleh pemerintah Provinisi Jawa Tengah berkaitan dengan inklusi. Artikel bisa dibaca di sinihttps://jatengprov.go.id/publik/sekolah-inklusi-dorong-abk-tak-minder-bersosialisasi/ “Saya ingin Jawa Tengah yang menjadi pionir tumbuhnya pendidikan inklusi. Kami ingin mendorong bahwa Jawa Tengah peduli dan tidak membeda-bedakan antara anak yang berkebutuhan khusus dan anak-anak yang normal,” ucap Gus Yasin dalam pertemuan tersebut. Gus Yasin juga menceritakan anak keduanya yang bersekolah di sekolah inklusi di sebuah sekolah di Rembang, terlihat berbeda dalam bersikap. Lebih peduli dan berjiwa sosial. Apa yang menjadi mimpi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sejalan dengan misi program Pendidikan Murid Disabilitas. Mimpinya sama-sama mencipttakan ekosistem pendidikan untuk semua. Sehingga apa yang Kampus Guru Cikal presentasikan di depan 3 pihak, langsung disepakati untuk dijalankan bersama. “Bagaimana kalau kegiatan tersebut kita laksanakan di Balai Pengembangan Pendidikan Khusus, karena kami memiliki gedung BP-Diksus di Jalan Elang. Sehingga kegiatan 3 acara tersebut bisa dilaksanakan di satu tempat. Lebih efisien.” Ungkap Dr. Padmaningrum, kepala bidang Pembinaan Pendidikan Khusus (Diksus) Dindikbud Jawa Tengah. Setelah berpamitan dengan Wakil Gubernur dan Kabid Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Jawa Tengah, akhirnya tim Kampus Guru Cikal dan tim Bidang Pendidikan Khusus Dindikbud menuju lokasi. Gedung yang berjejeran dengan SLBN Semarang ini sering digunakan untuk kegiatan-kegiatan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Ada beberapa kamar dan aula untuk pertemuan. Pertemuan dengan berbagai pihak, dari perguruan tinggi hingga dinas yang terkait semata-mata untuk mewujudkan pendidikan inklusi. Harapannya dengan adanya murid-murid disabilitas yang menempuh hingga perguruan tinggi, bisa menjadi bukti, menjadi penyemangat bagi semua pelaku pendidikan, baik orangtua, guru bahwa murid disabilitas pun punya potensi dan harus diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi.

Mengelola Keragaman Dalam Kelas Inklusi

Moderator: Guru Filla Nova Mariyana (Sekolah Islam Umar Harun, Rembang) Narasumber : Guru Yanuar Khaldun (Sekolah Cikal Surabaya) Profil Narasumber : Anggota KGB Surabaya, mengajar di Sekolah Cikal Surabaya sebagai guru SSC ( student support center),  memberikan pelayanan kepada anak anak yang membutuhkan layanan khusus. Kegiatan : Diskusi Online Hari / Tanggal : Minggu, 10 Februari 2019 Pukul : 15.30 – 17.30 WIB PEMBUKAAN Narasumber : Sebelumnya saya ke materi, gambaran  pendidikan inklusi menurut bapak dan ibu itu seperti apa sih? TANGGAPAN PESERTA Bu Lia : Pendidikan Inklusi adalah pendidikan untuk semuaBu Shaumi : Pendidikan yang bebas untuk siapa sajaPak Shoffa: Kalau saya, pendidikan inklusi itu yang semua model latar belakang anak bisa sekolah. Fisik, ekonomi, ras, suku, agamaPak Joko : Pendidikan Inklusi menurut hemat saya adalah pendidikan yang tidak memandang beda pada muridnya. Semuanya tetep mendapatkan jatah pendidikan yang sama, namun dengan cara yang beda-beda karena semua anak memiliki tahapan perkembangannya masing-masingBu Partilah : Pendidikan yang melayani anak berkebutuhan khususBu Shaha: Sekolah dengan anak yang memiliki kebutuhan berbeda dari biasa sampai luar biasa, dari khusus sampai sangat khususBu Ulya : Pendidikan yang menghargai keberagamanBu Nisa : Pendidikan yang menfasilitasi berbagai keragaman.Bu Fiqoh : Pendidikan inklusi adalah pendidikan untuk semua tanpa pilih kasihBu Muflihah : Pendidikan inklusi adalah  pendidikan yang tidak membeda-bedakan keadaan (kondisi) anak, baik ABK atau non ABK.Bu Riroh : pendidikan untuk siapa sajaBu Mufidah : Semua murid diperlakukan samaBu Zahro : Menurut saya pendidikan inklusi adalah pendidikan yang tidak membatasi keberagaman peserta didiknya.Bu Hani’ : Sebuah pendekatan untuk membangun dan mengembangkan sebuah lingkungan yg semakin terbuka, mengajak masuk dan mengikutsertakan semua orang dgn berbagai perbedaan latar belakang MATERINarasumber : Wah, keren keren jawabannya. Pendidikan inklusi menerapkan model diferensiasi  dalam pembelajaran. Jadi pendidikan inklusi juga menerima anak anak yang berkebutuhan khusus. Ketika sekolah menjadi sebuah sekolah inklusi, maka secara tidak langsung sekolah tersebut harus siap dengan kedatangan ABK di sekolah tersebut. Namun banyak kejadian di lapangan sekolah umum masih bingung dengan model pelayanan di sekolah inklusi seperti apa. Banyak guru juga masih  kesulitan bagaimana memodifikasi kurikulum, menentukan bagaimana model penilaian yang akan digunakan dan cara mengajar bagi anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di sekolah inklusi. Di SKGB 18 saya menceritakan tentang bagaimana saya menghandle siswa ADHD di kelas inklusi. Dia berusia 3 tahun pada saat itu sangat aktif sekali. Setiap hari ada kejadian temannya yang tertarik, terdorong dan tertendang. Saya mempelajari pola siswa saya. Dengan mengidentifikasi permasalahan siswa saya terlebih dahulu, merancang program, melibatkan orang tua untuk program dirumah, dan monitoring di tiap tengah semester. Prosesnya cukup panjang. Hampir satu tahun, saya juga mencari taktik untuk meyakinkan orang tua. Dikarenakan siswa saya anak tunggal, jadi perilaku tersebut tidak muncul di rumah. Munculnya ketika di sekolah. Hasilnya memang tidak instant, perlu proses. Saya juga berusaha mengkondisikan teman-temannya agar selalu berfikiran positif pada siswa dampingan saya. Orang tua cukup kooperatif jadi dari rekomendasi yang saya berikan dillakukan. Nah ini tugas dasar dari seorang guru :1. Memperoleh kerja sama dengan siswa 2. Mencapai keteraturan dengan melakukan kerja sama dengan siswa dan memeliharanya dalam kegiatan pembelajaran 3. Tidak sekedar menangani “perilaku mengganggu” secara efektif, namun juga : – Membuat tuntutan perilaku dan akademis yang sesuai dengan siswa– Memberikan petunjuk yang jelas bagi siswa – Memperlancar peralihan pelajaran – Memprediksikan permasalahan dan mencegahnya – Memilihkan & mengurutkan kegiatan sehingga tercapai keteraturan & kelancaran belajar, dll  4. Kegiatan berbeda membutuhkan keterampilan pengelolaan kelas yang berbeda DISKUSIBu Rodliyah : Di kelas saya ( kelas 1 SD), ada 20 anak dengan 1 anak berkebutuhan khusus ( dulu diagnosanya autis). Saya ingin tanya bagaimana perencanaan kegiatan pada ABK, apakah ada rencana B dan C, mengingat apa yang kita rencanakan ternyata anak tersebut belum siap  mengikuti kegiatan? Mengingat juga kebutuhan yang berbeda, seringnya bentuk kegiatan juga berbeda dari mayoritas anak2 di kelas, meski beberapa kali juga terlihat bisa bergabung Narasumber : Dalam memberikan materi pembelajaran ke anak ABK kita perlu melihat usia mental anak. Jika anak kelas 1 dengan usia 7 tahun, tetapi kemampuannya seperti anak usia 5 tahun berarti kita menyiapkan materi sesuai dengan anak usia 5 tahun. Kita merencanakan program sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh anak. Misalnya anak sudah bagus di berbahasa tetapi kemandirian, berhitung dan sosial masih kurang baik. Maka kita harus buat program untuk berhitung, kemadirian dan sosial. Bu Rodliyah : Menurut bapak, apakah dalam kelas itu, memungkinkan kegiatan ABK butuh pendampingan khusus? Sebenarnya dari saya, perencanaan pembelajaran ABK belum begitu optimal, tapi kami juga mempertimbangkan usia tahap perkembangannya pak. Narasumber : Tidak semua ABK perlu didampingi. Kita melihat kondisi dan karakteristik siswa. Jika anak memiliki perilaku yang masih tiba-tiba marah dan bisa melukai teman-teman lainnya maka dia perlu didampingi. Tetapi jika siswa tersebut memiliki masalah akademik, kita lihat yang perlu pendampingan di mata pelajaran apa. Bu Rodliyah : Memang observasi anak itu penting untuk merencanakan programnya hingga tercapai tujuan dan tahapan perkembangan. Terima kasih banyak, pak Bu Khoridah : Di kelas kami ada ABK. Sudah ada program yg didiskusikan bersama orangtua, tapi kami merasa program tersebut sulit tercapai karena seakan-akan hampir tidak ada effort dari si anak. Dan pernah kami berkunjung ke rumahnya, ternyata program yang sudah disepakati bersama itu kurang diindahkan oleh pihak keluarga di rumah. Dari situ kami berpikir, mungkin karena program sekolah dan rumah ini tidak berjalan beriringan jadi sulit perkembangannya. Bagaimana kami sebagai guru menyikapi ini pak? 🙏🏼 Narasumber : Orang tua memang terkadang kurang kooperatif. Membebankan kepada guru pembelajaran anak-anaknya. Nah, untuk menyiasati seperti ini, saya biasanya membuat checklist tugas untuk di rumah dan mana yang di sekolah. Dari checklist tersebut kita dapat mengevaluasi kenapa perkembangan anak stagnan. Jika dari checklist ternyata pihak ortu yang tidak melakukan dengan baik, kita bisa merefleksikan. Mengundang orang tua  ke sekolah, apa kesulitan yang di hadapi di rumah. Bu Lia : Terimakasih atas kesempatan berharga sore ini. Menarik sekali materi sore ini tentang keragaman. Sungguh indah sekali apabila kita bisa memahami keragaman yang ada di kelas. Di kelas saya ada 2 anak ABK (sama-sama linguistiknya yang masih perlu ditingkatkan) apabila diajak berbicara keduanya sudah memahaminya. Dari keseharian bersama mereka saya … Read more