Pendidikan adalah Urusan Kita Bersama – Kolaborasi Komunitas Banjarnegara

Tanggal 2 Mei 2019, kita semua memperingati Hari Pendidikan Nasional. Pendidikan yang dinilai sebagai salah satu tolak ukur kemajuan bangsa, seringkali dianggap sebagai urusan sebagian orang saja. Pendidikan dianggap sebagai urusan dinas pendidikan, guru, sekolah dan pemerintah. Padahal semua orang yang pernah merasakan pendidikan, sejatinya memiliki kewajiban untuk mendidik. Semua orang sebenarnya bisa terlibat di dunia pendidikan. Berbagai kegiatan mulai dari rumah baca di sekitar lingkungan rumah kita, sampai komunitas-komunitas sosial pendidikan banyak bermunculan dengan inisiatif sebagian orang. Terkadang banyak orang seolah menutup mata dengan keberadaan rumah baca dan komunitas sosial pendidikan di sekitar mereka. Sehingga perlu diadakan kegiatan yang melibatkan semua penggerak komunitas untuk bersama-sama mengajak lebih banyak orang untuk bergabung. Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2019, beberapa komunitas sosial pendidikan dan rumah baca mengadakan sosialisasi di area Car Free Day Alun-alun kota Banjarnegara. Acara dimulai dari pukul 06.00 sampai 09.00 WIB. Penggerak masing-masing komunitas ternyata memiliki kendala yang sama dalam menjalankan program-programnya, yaitu kurangnya relawan yang mau terjun langsung bergerak untuk pendidikan. Oleh karena itu, mereka berinisiatif bergerak bersama untuk menunjukkan pada masyarakat, bahwa di kota Banjarnegara memiliki berbagai organisasi dan komunitas yang sangat terbuka untuk semua orang yang ingin berkontribusi di dunia pendidikan. Beberapa komunitas yang terlibat di acara ini antara lain, Sekolah Inspirasi Pedalaman Banjarnejara, Kampung Dongeng Banjarnegara, Sahabat Difabel Banjarnegara, Rumah Baca Komunitas Kauman Banjarnegara, Sekolah Cerdas (Ceria, Damai, Siaga) dan Komunitas Guru Belajar Banjarnegara. Rumah Baca Komunitas Kauman Banjarnegara mengadakan baca buku gratis untuk anak- anak dan orang dewasa. Kampung Dongeng Banjarnegara mengedukasi anak-anak melalui cerita menarik oleh Kak Mifta Resti dan boneka kecilnya Kia. Cerita yang disampaikan sesuai dengan tema dari Sekolah Cerdas, yaitu mengajarkan anak-anak untuk siap siaga terhadap bencana alam gempa bumi dan tanah longsor. Hal ini penting karena Banjarnegara sendiri adalah daerah yang rawan terhadap bencana alam gempa bumi dan tanah longsor. Sekolah Cerdas juga memberikan edukasi kesiapsiagaan bencana melalui permainan papan (board game) yang sangat menarik untuk anak-anak. Ada juga Komunitas Sahabat Difabel yang bekerjasama dengan Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia), mengadakan Kelas Bahasa Isyarat kepada para pengunjung Car Free Day secara gratis. Banyak masyarakat belum mengetahui cara berkomunikasi yang nyaman dengan teman-teman penyandang difabel rungu. Para pengunjung terlihat antusias mengikuti Kelas Bahasa Isyarat dan mengusulkan agar kegiatan ini diadakan secara rutin. Sekolah Inspirasi Pedalaman Banjarnegara melakukan sosialisasi kegiatan dan penggalangan dana dengan menjual merchandise yang keuntungannya untuk donasi kegiatan di desa Pesangkalan. Komunitas Guru Belajar Banjarnegara mengajak masyarakat khususnya yang berprofesi sebagai guru untuk mengikuti Temu Pendidik Daerah yang akan dilaksanakan setelah Car Free Day di Rumah Baca Komunitas Kauman. Temu Komunitas Pendidikan se-Banjarnegara yang awalnya hanya diinisiasi oleh 4 orang penggerak akhirnya berhasil mengajak banyak orang yang terlibat dengan sukarela. Walaupun kegiatan ini berlangsung mendadak dan terkesan kurang persiapan yang matang, namun kami yakinini tetap memberikan dampak positif untuk masyarakat Banjarnegara. Setidaknya banyak orang yang lebih mengenal komunitas sosial pendidikan dengan lebih dekat. Banyak juga relawan yang merasa lebih ringan jika bekerja bersama-sama. Karena urusan pendidikan bukan hanya urusan segelintir orang saja, maka kami memilih kerja barengan untuk pendidikan yang lebih baik.

Kobarkan Semangat Merdeka Belajar

Bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional, KGB Semarang mempersembahkan sebuah event berbasis pelatihan bertemakan “Guru Merdeka Belajar”. Pelatihan ini tercipta dari sebuah amanah yang diberikan Kampus Guru Cikal kepada Komunitas Guru Belajar Semarang. bertempat di Qita Yoga Studio Jalan Kyai Saleh 13 Semarang, acara ini berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Guru Merdeka Belajar, sebuah tagline yang tidak asing kita dengar namun, sudahkah semua guru memaknai arti di dalamnya? Pelatihan Guru Merdeka Belajar bertujuan supaya seorang guru mengalami pengalaman merdeka belajar, memahami hakikat belajar dan memahami miskonsepsi guru belajar. Merdeka belajar adalah sebuah pondasi untuk pengembangan diri seorang guru serta sebagai wadah untuk melakukan praktik pembelajaran yang bermakna untuk murid. Diikuti oleh kurang lebih 20 peserta, pelatihan berjalan begitu aktif dan kondusif. Acara yang berlangsung kurang lebih 3 jam ini pertama-tama dipandu oleh Guru Rosa dari KGB Semarang. Tak pernah lupa untuk mencairkan suasana pelatihan GMB ini, maka diawalilah dengan ice breaking dan beberapa games. Memasuki acara selanjutnya, yaitu orientasi yang dibawakan oleh Guru Erna. Orientasi ini meliputi pembahasan kesepakatan kelas, pengisian SIP oleh peserta pelatihan dan memastikan bahwa peserta telah mengisi assessment Pra Pelatihan GMB. Sebuah kata membuka sesi pertama acara inti ini, “Sebenarnya setiap saat seorang guru mempunyai pengalaman yang sangat berharga. namun sayang, tak ada yang mau mendengarkan pengalaman itu, termasuk guru itu sendiri.” Guru Anik sebagai narasumber lantas memaparkan beberapa masalah dan miskonsepsi yang ada di pada dunia pendidikan. Kemudian Guru Anik juga memvisualisasikannya dengan mengajak peserta pelatihan untuk role playing terhadap suatu pembelajaran di kelas menggunakan metode direct instruction dan diferensiasi. Awalnya peserta dibagi menjadi beberapa kelompok, dan setelah role playing usai, peserta diminta untuk mendiskusikan perbedaan yang ada pada dua metode. Dari hal tersebut, Guru Anik menarik benang merah tentang apa itu merdeka belajar dan bagaimana praktiknya dalam kelas. Para peserta juga melakukan refleksi individu, kemudian refleksi berkelompok terkait jenis pengajaran yang bagaiman yang harus dihentikan, mana yang dilanjutkan dan mana yang diperbaiki. Pada sesi kedua, Guru Anik memutarkan sebuah video pendek dari seorang sosok guru yang menginspirasi bernama Ameliasari dari Salatiga. Peserta dibuat terkagum-kagum akan perubahan dari Guru Amel yang awalnya hanya mementingkan hasil semata menjadi guru yang memperhatikan proses juga menginspirasi. Pelatih juga mengajak peserta untuk memahami pengembangan diri guru, kompetensi yang ada pada guru serta karier guru melalui 4 kunci pengembangan guru. Pelatihan semakin terasa kebermanfaatannya setelah memasuki sesi tanya jawab. Bahkan kisah haru pun tercurahkan dari seorang peserta pelatihan yang menceritakan tantangannya mempraktikkan dan mengajak rekan sesama pendidik mengobarkan semangat merdeka belajar dalam kelas. Tak mudah memang, apalagi sampai dibilang “Anak kemarin sore kok begitu”. Sesi pelatihan ini ditutup dengan refleksi dan pemberian challenge untuk peserta pelatihan. Binar mata seorang guru yang merdeka belajar pun mulai terpancar dari para peserta pelatihan GMB ini. Tetap kobarkan semangat merdeka belajar kepada sesama pendidik dan menjadi teladan sepanjang hayat bagi para murid. Mengajar dengan sepenuh hati, bukan lagi tergoda oleh sertifikasi maupun nilai-nilai kompetensi. Saya Guru Merdeka Belajar. Semarang, 2 Mei 2019Komunitas Guru Belajar Semarang.

Guru Merdeka Belajar, Melakukan Refleksi Terhadap Miskonsepsi Belajar

Pada hari Minggu, 5 Mei 2019 jam 09.00 WIB, Komunitas Guru Belajar (KGB) Depok mengadakan kegiatan Temu Pendidik Daerah Depok ke-14 (TPD Depok #14) bertempat di Space room Perpustakaan Umum Kota Depok. TPD Depok #14 ini memiliki kegiatan inti Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Kegiatan TPD Depok #14 ini dimoderatori oleh saya sendiri Lia, sebagai salah satu penggerak dari KGB Depok. Kegiatan yang seharusnya dimulai jam 09.00 ternyata baru dimulai pada pukul 09.30 dikarenakan pada jam 09.00 jumlah peserta yang datang baru 4 orang dari 18 orang yang konfirmasi hadir. Setelah menunggu 30 menit akhirnya kegiatan dibuka dengan peserta yang hadir 6 orang. Setelah Kegiatan ini dimulai dengan pembukaan dan kesepakatan bersama supayakegiatan ini berjalan nyaman dan lancer, peserta diminta untuk mengisi daftar hadir online. Meski mengalami keterlambatan acara, tetapi tidak menyurutkan semangat peserta hal ini terlihat saat saya selaku moderator menanyakan “Apa yang Anda pahami tentang Merdeka Belajar?” Walau sebagian peserta ada yang berkata bahwa mereka baru mendengar kata Merdeka Belajar tetapi mereka mau memberikan pandangannya mengenai Merdeka Belajar itu sendiri. Bagi mereka Merdeka Belajar adalah suatu kebebasan untuk guru berekspresi dalam mengajar dan berkembang dalam belajar serta tidak tertuntut administrasi yang berjubel. Masuk ke kegiatan inti yaitu nonton bareng Guru Merdeka Belajar sebuah video Ibu Najelaa Shihab pada Temu Pendidik Nusantara 2016. Selesai menonton moderator melakukan refleksi. Pada pertanyaan pertama, mengenai miskonsepsi pendidikan, peserta antusias menceritakan kondsi yang mereka alami. Salah satunya adalah Bu Levy dari MTsN 1 Depok. Beliau mengatakan bahwa rekan-rekan guru di sekolahnya masih mencari insentif dan sertifikat dalam belajar, padahal belajar adalah kebutuhan kita sebagai guru. Dan pemerintah pun memaksa kita untuk belajar pada yang ahli, sertifikat menjadi bukti bahwa kita mengikuti pelatihan dan sebagai syarat dalam kenaikan pangkat serta jenjang karir guru. Semua peserta menyetujui dan sepakat bahwa menjadi guru merdeka belajar haruslah memiliki komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara belajar dan melakukan refleksi, walaupun menurut Kak Faiz melakukan refleksi bagi seorang guru itu cukup sulit karena terkadang ego kita seperti tidak mau disalahkan ketika kegiatan tidak berjalan sesuai rencana. Disini, semua peserta mau menjadi Guru Merdeka Belajar dan telah membuat komitmennya masing-masing dan akan melakukan perubahan pada kelasnya, salah satunya adalah Bu Pipit yang mengatakan bahwa beliau ingin lebih berkomunikasi dengan siswa-siswanya di TPA, bahwa belajar adalah kebutuhan mereka bukan karena paksaan orang tua, dan mau lebih variatif dalam mengajar sehingga siswa dapat merasakan pula kemerdekaan belajar. Sebelum kegiatan ditutup moderator meminta peserta untuk melakukan posting barengan, dan dilanjutkan dengan kegiatan foto bersama serta ramah-tamah. Pada kegiatan TPD Depok #14 ini peserta membawa makanan sendiri dan saling berbagi dengan peserta yang lain (potluck).