Merdeka Belajar Harus Diwujudkan?

Komunitas Guru Banjarnegara mengadakan Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar pada 25/08/2019. Kegiatan ini bertempat di Rumah Baca Komunitas Banjarnegara. Kegiatan ini berjalan dengan baik dan mampu memberikan banyak hal kepada peserta. Meskipun peserta yang datang tidak terlalu banyak, tetapi kegiatan nonton dan diskusi tetap berjalan dengan baik. Nonton bareng dimulai dari pukul 13.00-14.30 WIB. Peserta kebanyakan terdiri dari guru PAUD dan sebagian guru SD. Latar belakang yang berbeda ini nampaknya tidak menjadi sebuah masalah. Perbedaan latar belakang dan tempat mengajar justru mampu dimanfaatkan para peserta. Perbedaan karakter dan ilmu yang dimiliki saling dibagikan pada saat diskusi. Kegiatan nonton bareng ini sebenarnya berfokus pada beberapa salah paham (miskonsepsi) dan cara pikir para guru. Guru memiliki berbagai pemahaman dan motivasi yang masih belum kuat dalam meningkatkan minat belajar. Kebanyakan para guru juga merasa bahwa proses belajar seharusnya dilakukan dengan para ahli. Dengan belajar melalui para ahli maka ilmu yang didapatkan akan lebih banyak. Hal senada disampaikan oleh salah satu peserta nonton bareng. Menurut Bella “Kesalahan persepsi yang selama ini saya alami adalah anggapan bahwa proses pembelajaran harus dilakukan dengan para ahli. Dengan demikian maka berbagai ilmu yang disampaikan dapat lebih mampu dicerna dengan baik”. Tutur salah satu peserta Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar. Anggapan demikian sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Pasalnya, sebuah pendidikan dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Sama seperti prinsip proses belajar yang sesungguhnya. Belajar dilakukan sepanjang hayat dari mulai belajar berjalan sampai pada proses belajar memakai tongkat. Semuanya dilakukan melalui proses belajar. Proses belajar ini tidak dilakukan dengan para ahli melainkan dengan sesama atau diri sendiri. Sama dengan hal tersebut, menjadi seorang guru merdeka belajar maka harus mau dan siap belajar dengan sesama guru. Kegiatan diskusi dan tukar pengalaman seputar proses pembelajaran dirasa lebih efektif. Efektif karena berbagai masalah yang dihadapi disampaikan langsung dari si guru. Hal ini tentu sangat membantu dalam proses pemecahan masalah. Selain pandangan mengenai proses belajar harus dilakukan dengan para ahli, muncul juga miskonsepsi bahwa belajar harus mendapatkan insentif. Insentif berupa uang merupakan salah satu motivasi semangat belajar. Hal ini bukan rahasia lagi karena sistem pendidikan dan pelatihan yang banyak dilakukan beberapa dinas pendidikan memang demikian. Peserta ikut program pelatihan karena tuntutan pimpinan atau karena diberi uang saku. Beberapa peserta juga menyatakan hal demikian “Saya merasa proses belajar harus dilakukan ketika mendapat insentif berupa uang. Percuma kita jauh belajar dan tidak mendapatkan apa-apa” pungkas Yogo. Anggapan demikian bukanlah hal yang aneh karena memang motivasi para guru dalam belajar memang uang. Contoh nyata yang berkembang dalam dunia pendidikan adalah dalam Komunitas guru Belajar, kegiatan belajar yang dilakukan oleh guru merdeka seharusnya dapat dilakukan secara mandiri dan alamiah. Motivasi dari proses pembelajaran adalah ilmu itu sendiri. Betapa pentingnya sebuah ilmu dalam kehidupan. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk tidak belajar meskipun tidak mendapatkan bayaran. Merdeka belajar berarti memiliki keinginan dan kemerdekaan untuk menentukan sikap dalam hal mengembangkan kemampuan diri. Setelah menonton video guru merdeka belajar, para peserta mulai termotivasi dan memiliki keinginan untuk menjadi guru yang merdeka belajar. Menurut Tati “Menjadi guru merdeka belajar sangat diperlukan sebagai wujud menerima tantangan pendidikan di masa mendatang. Menjadi merdeka belajar memang harus diwujudkan. Hal ini dilakukan agar pendidikan di Indonesia menjadi semakin maju.” Sebagian Guru yang menjadi peserta nonton bareng memiliki keinginan yang hampir sama. Keinginan mereka adalah menjadikan suasana kelas yang menyenangkan sekaligus mencerdaskan. Percuma pintar kalau tidak cerdas dan percuma senang kalau materi tidak masuk. Perubahan-perubahan kecil di dalam kelas sangat ingin dilakukan para peserta agar suasana kelas menjadi lebih kondusif dan murid juga merasa antusias menerima pembelajaran. Keinginan dan harapan dari para peserta tentunya tidak akan datang begitu saja. Perlu proses pembelajaran secara terus-menerus berkaitan dengan pengkondisian kelas sebagaimana mestinya. KGB diharapkan dapat menjadi wadah bagi para guru muda Banjarnegara dalam mengembangkan kompetensi yang dimiliki. Pada kesempatan diskusi, peserta juga menyampaikan keinginan untuk mengembangkan kemampuan berbicara di depan umum dan juga menulis. Menjadi seorang guru memang dituntut memiliki kemampuan berbicara di depan umum yang baik. Tidak hanya berbicara di depan para peserta didik melainkan berbicara di depan para orangtua juga. “Berbicara di depan umum menjadi masalah pribadi saya dan ingin dipecahkan mulai sekarang.” tutur Kinanti. Peserta juga menghendaki adanya pelatihan kepenulisan untuk mengembangkan bakat dan minat pada bidang kepenulisan. Tidak cukup rasanya menjadi seorang guru yang hanya mengikuti tuntutan kurikulum dan berbagai kegiatan administratifnya. Kegiatan dan aturan yang ada terasa mengkerdilkan pola pikir dan nalar para guru. Tidak ada inisiatif dalam melakukan perkembangan karena semuanya sudah diatur sedemikian rupa. Berbagai kegiatan pembelajaran dan diskusi yang dilakukan secara rutin diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi perkembangan pendidikan di Banjarnegara. Semoga KGB dapat menjadi wadah belajar dan tukar informasi terkait pendidikan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Pendidikan adalah Urusan Kita Bersama – Kolaborasi Komunitas Banjarnegara

Tanggal 2 Mei 2019, kita semua memperingati Hari Pendidikan Nasional. Pendidikan yang dinilai sebagai salah satu tolak ukur kemajuan bangsa, seringkali dianggap sebagai urusan sebagian orang saja. Pendidikan dianggap sebagai urusan dinas pendidikan, guru, sekolah dan pemerintah. Padahal semua orang yang pernah merasakan pendidikan, sejatinya memiliki kewajiban untuk mendidik. Semua orang sebenarnya bisa terlibat di dunia pendidikan. Berbagai kegiatan mulai dari rumah baca di sekitar lingkungan rumah kita, sampai komunitas-komunitas sosial pendidikan banyak bermunculan dengan inisiatif sebagian orang. Terkadang banyak orang seolah menutup mata dengan keberadaan rumah baca dan komunitas sosial pendidikan di sekitar mereka. Sehingga perlu diadakan kegiatan yang melibatkan semua penggerak komunitas untuk bersama-sama mengajak lebih banyak orang untuk bergabung. Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2019, beberapa komunitas sosial pendidikan dan rumah baca mengadakan sosialisasi di area Car Free Day Alun-alun kota Banjarnegara. Acara dimulai dari pukul 06.00 sampai 09.00 WIB. Penggerak masing-masing komunitas ternyata memiliki kendala yang sama dalam menjalankan program-programnya, yaitu kurangnya relawan yang mau terjun langsung bergerak untuk pendidikan. Oleh karena itu, mereka berinisiatif bergerak bersama untuk menunjukkan pada masyarakat, bahwa di kota Banjarnegara memiliki berbagai organisasi dan komunitas yang sangat terbuka untuk semua orang yang ingin berkontribusi di dunia pendidikan. Beberapa komunitas yang terlibat di acara ini antara lain, Sekolah Inspirasi Pedalaman Banjarnejara, Kampung Dongeng Banjarnegara, Sahabat Difabel Banjarnegara, Rumah Baca Komunitas Kauman Banjarnegara, Sekolah Cerdas (Ceria, Damai, Siaga) dan Komunitas Guru Belajar Banjarnegara. Rumah Baca Komunitas Kauman Banjarnegara mengadakan baca buku gratis untuk anak- anak dan orang dewasa. Kampung Dongeng Banjarnegara mengedukasi anak-anak melalui cerita menarik oleh Kak Mifta Resti dan boneka kecilnya Kia. Cerita yang disampaikan sesuai dengan tema dari Sekolah Cerdas, yaitu mengajarkan anak-anak untuk siap siaga terhadap bencana alam gempa bumi dan tanah longsor. Hal ini penting karena Banjarnegara sendiri adalah daerah yang rawan terhadap bencana alam gempa bumi dan tanah longsor. Sekolah Cerdas juga memberikan edukasi kesiapsiagaan bencana melalui permainan papan (board game) yang sangat menarik untuk anak-anak. Ada juga Komunitas Sahabat Difabel yang bekerjasama dengan Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia), mengadakan Kelas Bahasa Isyarat kepada para pengunjung Car Free Day secara gratis. Banyak masyarakat belum mengetahui cara berkomunikasi yang nyaman dengan teman-teman penyandang difabel rungu. Para pengunjung terlihat antusias mengikuti Kelas Bahasa Isyarat dan mengusulkan agar kegiatan ini diadakan secara rutin. Sekolah Inspirasi Pedalaman Banjarnegara melakukan sosialisasi kegiatan dan penggalangan dana dengan menjual merchandise yang keuntungannya untuk donasi kegiatan di desa Pesangkalan. Komunitas Guru Belajar Banjarnegara mengajak masyarakat khususnya yang berprofesi sebagai guru untuk mengikuti Temu Pendidik Daerah yang akan dilaksanakan setelah Car Free Day di Rumah Baca Komunitas Kauman. Temu Komunitas Pendidikan se-Banjarnegara yang awalnya hanya diinisiasi oleh 4 orang penggerak akhirnya berhasil mengajak banyak orang yang terlibat dengan sukarela. Walaupun kegiatan ini berlangsung mendadak dan terkesan kurang persiapan yang matang, namun kami yakinini tetap memberikan dampak positif untuk masyarakat Banjarnegara. Setidaknya banyak orang yang lebih mengenal komunitas sosial pendidikan dengan lebih dekat. Banyak juga relawan yang merasa lebih ringan jika bekerja bersama-sama. Karena urusan pendidikan bukan hanya urusan segelintir orang saja, maka kami memilih kerja barengan untuk pendidikan yang lebih baik.