Titik Balik Perubahan

Titik Balik Kembali pada persepsiBerserah tanpa amarahMenata langkah dan mimpiMengejar matahariDapatkan asa dan rasaTuhanlah yang berkuasaMenghapus perih dan lukaDi setiap masalahTerus bertahan melawanKitalah sang juara Dibanding Virgoun, saya lebih nyaman dengan AbsurdNation. Keduanya berkisah tema yang sama. Tentang titik balik. Dengan alunan Jazz, titik baliknya AbsurdNation, rasanya lebih reflektif. Tentang ini, tak perlu debat panjang. Hanya soal selera. Soal persepsi saja. Saya setuju bahwa refleksi bisa dilakukan dari sudut pandang apapun, dengan gaya apapun. Silakan mendengarkan keduanya. Catatan ini hasil refleksi saya mengikuti Temu Pendidik Nusantara VII, tahun ini. Sesi ‘’. Ditujukan untuk diriku sendiri. Jika bisa menjadi pesan kepada kawan-kawan penggerak perubahan lainnya, anggaplah sebagai bonus. Sebagai catatan refleksi, sangat disarankan dibaca oleh kawan yang pernah dan atau masih diabaikan. Juga kawan yang pernah dan atau masih merasa sendirian atau kawan yang sementara menyusun persekongkolan melawan pengabaian atau kesendirian atau perlawanan atas keduanya. Versi lengkapnya bisa didalami langsung modulnya, klik gambar di bawah ini Catatan ini hanya fokus pada salah satu tema yakni titik balik perubahan Apa itu titik balik? — Dalam modul itu dijabarkan bahwa alur perubahan itu mengalami tiga tahapan. Dimulai dari tahap inseminasi, penularan dan penyebaran. Temu Pendidik Nusantara adalah momentum inseminasi. Benih-benih penggerak biasanya lahir dari momentum ini. Para penggerak mulai menerapkan dan memperagakan praktik baik di sekolahnya masing-masing sesuai kelas yang pernah diikuti atau inovasi yang ingin diterapkan. Praktik tersebut dimodifikasi, menyesuaikan dengan dengan situasi konteks murid dan sekolah masing-masing. Ada yang konsisten melakukan pengembangan, terus bergerak, tapi tidak banyak yang kembali seperti semula. Mundur pelan-pelan. Beberapa sumber hanya menjelaskan secara singkat. Titik yang menjadi batas kenaikan dan mulai berbalik menurun pada kurva hasil. Ilmu matematika menamainya sebagai titik perubahan kecekungan. Cekung ke atas atau ke bawah. Ahli motivasi menyebutnya sebagai momentum menemukan kekuatan untuk bangkit. Kembali berjuang setelah terpuruk beberapa waktu. Tahap kedua adalah penularan. Bagi penggerak yang konsisten, maka mulai menginisiasi pertemuan, mengundang peserta, menyelenggarakan sesi kelas berbagi atau sebutlah dengan temu pendidik. Harapannya, mendapatkan pendukung praktik yang telah diinisiasi atau diadopsi itu mengalami nasib baik. Memberi kesempatan untuk diterapkan pada situasi yang berbeda. Tahap ketiga adalah tahap penyebaran. Para pengikut atau peserta temu pendidik mengajak orang lain di ekosistemnya untuk menerapkan praktik yang sama. Teori perubahan yang kita anut menyebutnya sebagai peristiwa titik balik. Pada tahap inilah seharusnya kita berharap banyak. Menunggu keajaiban bekerja. Inovasi mengalami nasib baik, mampu bergerak masuk mempengaruhi kelompok mayoritas akhir. Masyarakat pendidikan yang awalnya hanya sebagai pengamat, mulai mempraktikkan inovasi tersebut dalam kesehariannya. Pada titik balik inilah, inovasi dikisahkan sedemikian rupa, dari satu sumber ke sumber lain. Sebagai penggerak perubahan, kita berada di level mana?Banyak pertanyaan-pertanyaan dari kawan-kawan. Saya cantumkan beberapa. “Saya sudah bergerak dari tahun lalu sejak TPN 2019, tapi sepertinya tidak ada yang tertarik pak. Saya sendirian saja sampai sekarang.” “Dari lima penggerak awal, saat ini, hanya saya sendiri pak. Bahkan pengurus pun sudah tidak bergerak lagi.” “Tampaknya tidak ada yang berubah. Masih seperti semula. Apa yang salah? Di mana masalahnya, pak?” Teman-teman, mari kita periksa satu persatu. Inovasi yang bisa berdampak luas adalah adalah temuan yang mampu menjawab persoalan yang muncul. Temu Pendidik Nusantara telah berlangsung lima tahun. Ratusan praktik baik telah dihasilkan. Tertulis di puluhan surat kabar, buku bahkan setiap waktu disebar di postingan media sosial. Sesungguhnya, saat ini, kita tidak lagi kekurangan praktik baik. Saya ingin bercerita satu saja. Di sebuah sekolah negeri, dengan keterbatasan fasilitas belajar, salah satu guru honorer menggunakan sampah plastik sebagai sumber belajar IPA. Praktik ini menyelesaikan dua masalah sekaligus. Solusi keterbatasan fasilitas, sekaligus mengantar murid dari pengetahuan konten menjadi kompeten. Murid belajar dari pengalaman kekinian dan diaplikasikan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Dengan belajar Kimia, maka murid jadi tahu makanan apa saja yang layak dan sehat untuk dikonsumsi. Saya tidak dalam posisi mengukur apakah temuan tersebut berguna atau tidak. Tanpa debat, semua sepakat, bahwa temuan bapak guru kimia sangat esensial bagi murid. Layak diteruskan. Lalu kenapa ratusan praktik tersebut tidak berdampak luas di ekosistemnya? Itulah masalah kita bersama, para penggerak perubahan. Inseminator atau penggerak perubahan biasanya terlalu fokus untuk bertahan, lupa menyerang. Strategi perang mengajarkan, tidak ada yang bisa bertahan begitu lama menerima serangan. Siapapun itu, akan babak belur, kehabisan energi, kemudian layu perlahan-lahan, absen pada TPN berikutnya. Benar, penggerak Komunitas Guru Belajar terus melakukan kampanye, sosialisasi, publikasi, temu pendidik tapi melupakan hal esensial: merekrut pengikut pertamanya. Bagi yang memiliki pengikut, masih kadang khilaf, bahwa pengikut itu memiliki kebutuhan yang berbeda, butuh update informasi, pendampingan, percakapan dan pelatihan tingkat lanjutan. Belajar dari peristiwa sejarah apapun, setiap gerakan, ideologi, atau apapun namanya, sukses bukan di tahap inseminasinya. Tapi ketika inovasi tersebut mulai diadopsi oleh para pengikut. Ketika praktik tersebut mulai mendapatkan pengakuan. Semakin banyak pengikut pertama, maka peluang gerakan menuju titik balik akan semakin besar. Mari belajar dari kisah-kisah manusia langit. Konsep Assabiqunalawwalun, Al Hawarriyuu, gerakan murid-murid pertama. Kesuksesan ajarannya karena berhasil menghimpun pengikut pertamanya. Ketika para pengikut pertama mulai menyebarkan, bersuara, maka pada saat itulah titik balik kejayaan dimulai. Fokus pada kawan, bukan lawan. Saya pernah meyakini sebaliknya. Perjelas lawanmu, kawanmu akan menyatu. Belajar dari masa perjuangan tempo bahula. Kita cenderung menyatu dan kuat jika lawan kita jelas. Siapa melawan siapa. Siapa menang siapa yang kalah. Tapi jarak peristiwa itu dengan situasi yang sekarang sudah terlampau jauh. Situasinya berubah. Pengalaman berkomunitas justru mengajarkan mengambil posisi win to win, bukan lagi win to lose. Jika bisa berteman, kenapa harus jadi lawan? Kolaborasi adalah sebaik-baiknya strategi perang, saat ini. Tujuan kita jelas: menjadi guru belajar. Untuk mewujudkan itu, tentukan siapa sekutu kita. Sebagai penggerak perubahan di Komunitas Guru belajar, akan ditemukan lima jenis kelompok perubahan. Kelompok-kelompok inilah yang akan terus bertaut dari hari ke hari. Inovator, pengadopsi awal, mayoritas awal, mayoritas akhir dan para penghambat. Asumsinya, level kita saat ini sebagai inovator. Di komunitas kita, mudah mengenalinya. Kelompok yang tidak takut gagal. Berani mencoba tantangan baru. Saya sering membaca kisah-kisah kelompok ini pada perhelatan Temu Pendidik Nusantara dari tahun ke tahun. Melakukan perjalanan dari daerahnya menuju Jakarta menemui orang yang belum pernah ditemui sebelumnya.Teman-teman, kita adalah tipikal ini. Selalu antusias dengan tantangan baru. Merasa hidup dengan pengalaman baru. … Read more

Komunitas Guru Belajar dan Tradisi Bertanya

Kepada yang TerhormatMas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RIDi Jakarta. Tabik. Semoga Tuhan yang Maha Kuasa meridhoi semua usaha dan aktivitas hari ini. Perkenalkan, nama saya Usman Djabbar Mappisona, mewakili Komunitas Guru Belajar Nusantara. Hari ini, kami bergembira. Betapa senangnya mendapatkan undangan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Perkumpulan guru yang baru saja mendeklarasikan dirinya sebagai organisasi profesi guru, hari ini bisa berkumpul dengan Mas Menteri, kawan-kawan Asosiasi Profesi, para pakar dan tokoh pendidikan di negeri ini. Di undangan yang dikirimkan kepada kami, tertera kesediaan untuk menuliskan dua atau tiga masalah yang mendesak yang harus segera diselesaikan oleh kita semua. Masalah-masalah itu tentu saja versi kami, berdasarkan pengalaman kawan-kawan guru di berbagai daerah. Masalah yang kami ungkap adalah aspirasi yang disampaikan rekan-rekan sejawat kami pada Kongres pertama yang berlangsung baru-baru ini. Pada sesi kebutuhan dan kontribusi daerah. Apa masalah yang dihadapi oleh kawan-kawan guru di daerah dan kontribusi apa yang bisa diberikan. Kebutuhan dan kontribusi tersebut kemudian kami padatkan menjadi tiga poin. Mas Menteri yang terhormat, Poin pertama, sesungguhnya sudah dilakukan pihak kementerian minggu ini: mendengarkan masalah-masalah yang harus segera diselesaikan. Jujur Mas, kami sudah lama menunggu untuk ditanya-tanya. Diajak bicara. Membangun percakapan. Apa saja masalah yang terjadi setiap hari di sekolah, ruang kelas dan ruang lain sepulang murid-murid dari sekolah. Puji Tuhan, hari ini pihak kementerian mewujudkannya. Harapan kami, ini menjadi tradisi saling bertanya. Menjadi budaya dari atas sampai bawah. Dimulai dari kementerian, kepala dinas pendidikan provinsi/kabupaten, kepala sekolah dan para guru di ruang kelas. Betapa berdampaknya tradisi ini: setiap guru akan selalu bertanya pada setiap murid-muridnya. Mohon izin Mas Menteri, kami memberi satu contoh.Tentang kemerdekaan guru memilih pelatihan sendiri. Kami merasa saat ini belum pernah ditanya-ditanya jenis pelatihan apa saja yang paling kami butuhkan. Setiap undangan yang datang ke sekolah hanya untuk menghadiri. Apalah daya kami untuk menolak? Akibatnya jelas. Kegiatan pelatihan bersifat rutin, membosankan dan kehilangan daya tarik sama sekali. Banyak yang merasa terpaksa mengikuti diklat karena perintah pimpinan bukan karena kebutuhannya. Cerita yang berserakan, kerap terdengar. Bagaimana diklat gratis di hotel berbintang hanya untuk memenuhi kuota peserta, bukan karena benar-benar dibutuhkan. Bagaimana seharusnya? Siapkanlah formulir yang berisi pertanyaan: untuk meningkatkan keterampilan Anda sebagai guru, jenis pelatihan apa yang dibutuhkan? Percayalah, kami pasti menjawab sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi di ruang kelas. Hasilnya pasti dahsyat. Tersedia semacam bank data kebutuhan pelatihan. Sebutlah dengan pemetaan. Sudilah pihak kementerian memfasilitasi kawan-kawan guru kami mengikuti satu atau beberapa diklat yang diminati, yang sesuai dengan kebutuhan, yang cocok dengan situasi kelas yang dihadapinya. Percayalah. Jika tradisi bertanya ini terus dirawat, maka akan berlanjut ke ruang kelas. Para guru juga akan terbiasa untuk bertanya pada murid-muridnya: ‘mengapa penting menguasai’, bukannya ‘bagaimana menguasainya’. Mengapa penting untuk belajar, bukan bagaimana harus belajar. Keduanya berbeda. Mas Menteri yang terhormat. Tradisi bertanya yang kami rawat ini kemudian mengarahkan pada soal yang kedua. Menjawab pertanyaan-pertanyaan murid dan sejumlah masalah yang kami hadapi di ruang kelas kemudian berkembang menjadi praktik baik. Besar keinginan kami untuk menyampaikan kepada bapak Menteri bahwa dihari deklarasi kemarin kawan-kawan kami di daerah telah menulis dan berbagi 293 praktik baik pengajaran. Semua praktik baik ini kami rangkum dalam Surat Kabar Guru sebanyak 23 edisi dan empat buku. Praktik baik yang ditulis oleh guru, editornya berasal dari guru dan dipraktikkan kembali oleh guru. Praktik belajar putaran ganda. Kawan kami dari kabupaten Sanggau mengembangkan kecakapan literasi murid-muridnya dengan membuat adonan kue. Dari merumuskan rencana kegiatan, menyiapkan bahan, membuat adonan sampai proses akhir: melakukan refleksi. Pada bagian mana yang harus diperbaiki? Kawan kami dari Makassar memainkan Congklak bersama murid-muridnya untuk melatih keterampilan memutuskan. Guru Pekalongan mengembangkan keterampilan berbahasa Indonesia melalui minat dan kegemaran murid-muridnya. Lalu apa masalahnya? Kawan-kawan kami di daerah masih merasa berjalan sendirian. Praktik baik belum menjadi tradisi sekolah, tradisi dinas pendidikan atau mungkin tradisi kementerian. Kami gembira mendengar bahwa kegiatan berbagi praktik mengajar juga telah diampu pihak kementerian melalui kegiatan pengembangan kompetensi guru berbasis zonasi. Semoga saja program ini berkelanjutan, tidak berhenti hanya sebagai bahan ajar pelatihan. Mas Nadiem Makarim. Poin ketiga yang ingin kami sampaikan adalah terkait dukungan terhadap organisasi profesi. Kami percaya bahwa persoalan pendidikan tidak bisa dilakukan sendirian. Kompetensi guru bukan hanya urusan kementerian saja. Mesti serempak dan berbarengan. Kami ingin terlibat. Setelah melakukan perjalanan panjang selama lima tahun, kami telah telah melakukan ribuan temu pendidik. Akhirnya, pada tanggal 25 Oktober 2019, 1.300 guru sepakat, Komunitas Guru Belajar mendeklarasikan dirinya sebagai salah organisasi profesi guru. Benar. Kami masih sangat muda usia. Harus belajar sebanyak-banyaknya dari berbagai pihak. Tapi percayalah Mas, kami punya niat yang baik untuk mengajak rekan guru saling menguatkan dan berkolaborasi. Kami ingin berdiri dan bergerak bersama kawan-kawan dari perkumpulan guru yang telah berdiri lebih awal. Kami ingin melibatkan diri memajukan profesi guru. Bukankah ini maksud dan tujuan pertemuan kita? Mohon dukungannya. Demikian tiga hal yang menurut kami perlu untuk disampaikan. Terima kasih telah diundang hadir. Jakarta, 4 November 2019Usman Djabbar MappisonaKetua UmumKomunitas Guru Belajar Nusantara

KGB Makassar : Membaca Bawakaraeng (Bagian 2)

Jumat, 1 Maret 2019 10Coffe. Coffeshop. Letaknya depan gerbang ke Royal Sprint, jalan Arupala. Tempatnya tidak terlalu luas, tapi lumayanlah untuk pertemuan yang direncanakan tiba-tiba. Menjelang magrib, kami bertemu di sana. Pak Amran Azis bersama istrinya. Saya kembali berdua dengan Wawan Rurung. Saya pesan kopi susu. Tebal atau tipis? Pilih yang tipis. Akhir-akhir ini tidak kuat lagi dengan yang tebal. Saya juga fakir dengan menu yang lain, walaupun tersedia. Ada Espresso, Capuccino, Latte, Moccacino, Macchiato dan berbagai varian cafe lainnya. Bagiku, ini Makassar bung. Menumu boleh variatif. Racikan kopimu juga boleh beragam. Tapi ingat hukumnya: kopi susu mesti sajian utama. Jika ingin bertahan lebih lama. “Baiklah dinda. Selain koordinasi peserta, apa lagi yang bisa saya bantu”?, tanya Pak Korwil Tinggimoncong. “Hmm. Begini kanda. Kami hanya bisa siapkan narasumber. Ruangan jadi tanggung jawab teman-teman di SMA 4 Gowa. Konsumsi biasanya ditanggung bersama. Budaya yang terbangun selama ini di komunitas guru adalah barengan. Apa saja diupayakan bersama-sama. Konsumsi salah satunya”, jawabku. “Kalau begitu konsumsi saya yang siapkan. Peserta cukup datang belajar saja”, ucap Pak Amran kembali. “Jika ada waktuta, singgah di dinas pendidikan kabupaten untuk menyampaikan kegiatan ini. Hanya mengabarkan saja.” “Siap, kami usahakan.” Setelah persiapan tuntas dibicarakan, kami bubar. Pak Amran pamit kembali ke Malino, kami pun balik ke Pallangga. Dengan perasaan yang penuh. Riang gembira. Kawan, apa yang lebih menggembirakan bertemu dengan sekutu baik hati seperti Pak Amran? Betapa menyenangkannya bercakap dengan guru yang paham tujuannya. Di perjalanan pulang, saya bahagia mendengar Bono dan kawan-kawannya: Beatifull Day. … It was a beatiful dayDon’t let it get awayA beatiful dayTouch me, take to that other placeReach me, sweety, I know I’m not a hopeless case. —Tiga hari sebelum kegiatan, kami mengunjungi dinas pendidikan kabupaten. Janji harus dipenuhi. Mengabarkan pesan seperti permintaan kawan kami. Tiga hari sebelum kegiatan, kami mengunjungi dinas pendidikan kabupaten. Janji harus dipenuhi. Mengabarkan pesan seperti permintaan kawan kami. Luar biasa. Pak kepala dinas pendidikan menerima kami sebaik-baik tamu. Sebagai bentuk dukungan, Wawan Rurung minta jepret-jepret bareng Pak Kadis. Peranku jelas. Tukang foto. Eh, tanpa sengaja, pandangan kami tertuju pada salah satu gambar di ruangan Pak Kadis. Di gambar itu ada Ibu Elaa, Ibu Nisa Felicia, Pak Hamid Muhammad, Pak Kamaruddin dan Pak kadis waktu menjadi pembicara di beranda PSPK jilid XI. Ya, cerita memanjang kembali. Jumat, 8 Maret 2019. Perjalanan ke Malino kali ini terasa lebih panjang. Lebih lama dari tahun-tahun sebelumnya. Beberapa ruas jalan nampaknya butuh perbaikan. Paling parah di sekitar Mala’lang. Tampak para pekerja sibuk membersihkan sisa-sisa longsoran yang menumpuk di ruas jalan. Kami tiba juga di Malino. Jumat malam. Bukan malam jumat. Di depan hotel Celebes Malino, laju kendaraan saya perlambat. Tepat di samping hotel itu kediaman pak Sanusi. Rumahnya saya sebut dengan rumah kopi. Sebelas tahun menyesap kopi, belum ada yang bisa kalahkan aroma dan rasa kopinya. Kopi arabika bisa tumbuh di banyak tempat, ditanam oleh siapa saja. Tidak dengan proses pengolahannya. Butuh ketelatenan, pengalaman dan kemurnian hati. Tidak boleh serampangan. Bara apinya dijaga betul, matangnya mesti merata, tungku dari tanah. Di rumah kopi, tidak sah minum kopi jika tdak ada penganan pisang goreng. Percayalah, pisang gorengnya khas. Anda tidak akan menemukannya di tempat lain. Mengolah pisang hanya sebagian dari keramahan yang dimiliki Dg Lela, istri pak Sanusi. Kami tidak singgah. Besok saja. Di halaman rumahnya masih terparkir motor bebek honda 700 warna merah. Itu sudah cukup menanda bahwa Pak Sanusi sekeluarga baik-baik saja. Rombongan kami langsung ke Puskesmas Tinggimoncong. Depan puskesmas itu pernah mangkal penjual sate madura yang enak. Saus kacangnya kental. Sayang sekali, malam itu tidak lagi ditemukan di sana. Mungkin pindah ke tempat lain. Mungkin sudah tutup. Mungkin juga sudah pulang kampung. Di sini, agak susah menemukan jajanan semacam itu setelah salat Isya. Ada sih, jagung bakar di hutan pinus. Tapi untuk romantisme, kesannya terlalu biasa. Pak Yusuf Islam menelpon. “Dg Kio, posisi di mana sekarang? Kalau sudah di Malino, langsung menuju rumah. Sudah menunggu abahnya Ima sama Pak Zul. Pak Luktfy Alam juga menuju ke sini.” “Siappp.” Dari nomor lain, panggilan ibunda Hj Nurlia juga masuk. Makan malam sudah tersaji katanya. Selain kabar tentang makan malam, beliau juga berkepentingan tahu apa kami sudah sampai di Malino atau belum. Inayah Ridhayanti, anaknya bunda aji, ikut dengan rombongan kami. Anda bingung? Begini: Inayah Ridhayanti itu selain perannya sebagai salah satu penggerak KGB Makassar, selain sebagai aktivis sekolah perjalanan, juga anak sulung bunda Aji Nurlia, rekan kerja di SMA Tinggimoncong dulu. Tujuh tahun lalu masih sebagai murid. Tahun ini sudah jadi rekan kerja. Betapa beruntungnya kami ini. Dikelilingi oleh orang-orang baik dengan hati yang terbuka seluas-luasnya. Salah satu alasan kenapa Malino selalu dirindukan. Malam itu diputuskan akan makan malam di rumah Inayah kemudian ngopi di rumah pak Yusuf. Setelah makan, kami pamit menuju rumah Pak Yusuf. Masih ada persiapan teknis yang harus dibicarakan dengan teman-teman panitia lokal. Ibu Adelia, Ibu Olle Hamid dan Ibu Anita sekeluarga menginap di rumah bunda Hj Nurlia. Di rumahnya Inayah. —Pak Yusuf Islam berasal dari Moncongkomba Takalar. Kuliah Pendidikan Matematika di IAIN Alauddin Makassar. Terangkat sebagai guru di SMA Negeri 1 Tinggimoncong. Menikah dengan gadis Malino. Beliau satu angkatan dengan Pak Saing Omchaa sebagai guru pelopor diawal berdirinya sekolah tersebut. Saat ini jadi kepala sekolah di Bontolempangan. Sebagai kolega yang baik hati, pernah mengajarkan logika dan epistemologi waktu tinggal di asrama sekolah. Beliau yang memperkenalkan Mulla Sadra, Rumi sampai Baqir Sadr. Malam ini pelajaran itu kembali diulas dengan versi yang lebih baru. Rupanya kami sudah ditunggu banyak kawan. Selain Pak Yusuf sebagai tuan rumah, telah berkumpul pula Pak Zulkifly, Pak Madjid dan Pak Luktfy Alam. Dengan Pak Zulkifly saya masih awam. Kepala sekolah SMA Negeri 4 Gowa yang baru. Tapi saya percaya kekuatan jaringan: dari teman ke teman. Benar. Percakapan sampai larut malam, saya mengenal beliau lebih jauh, lebih banyak, lebih dalam. Ternyata, tujuan kita sama. Setiap guru tidak boleh berhenti belajar. Pendidikan tidak boleh menjadi hak sekelompok orang, mesti sebagai milik bersama. Murid tidak boleh lagi diorganisasi berdasarkan pengalaman masa lalu kita semata. Mereka punya masa kini sendiri-sendiri. “Saya senang dengan gerakan Guru Belajar. Apapun kebutuhan teman-teman KGB, tolong disampaikan. Tidak perlu … Read more

KGB Makassar : Membaca Bawakaraeng (Bagian 1)

Akhirnya ke Malino lagi. Selain untuk belajar, saya akan mengunjungi beberapa kawan lama. Pernah mengajar di sini. Sembilan tahun. Berangkat senin subuh, pulang kamis sore. Naik motor bersama Wawan Rurung, Omchaa, Luktfy Alam & Naim Miyala. Tiga tahun lalu, saya pindah ke Pallangga. Kunjungan kali ini masih berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. Bedanya, dulu datang mengajar di sekolah, hari ini sebagai peserta belajar. Saya mau belajar di Temu Pendidik Daerah (TPD) yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar Makassar bekerjasama dengan UPT Pendidikan kecamatan Tinggimoncong. Di Malino. Bagi kawan guru yang masih asing tentang Malino, silahkan googling. Percayalah banyak keajaiban tersedia di sana. Jika Anda ketik ‘Malino’ di mesin pencari, ada 3.210.000 penjelasan. Kalau Anda iseng menambah katanya menjadi ‘Malino Sulawesi Selatan’, tersedia 431.000 pilihan. Jika tidak ada pekerjaan lain, silahkan ketik ‘Malino daerah mana’, Anda akan disuguhi 331.000 petunjuk. Jika dirasa belum cukup, ketiklah ‘Malino kota bunga’, maka muncul 243.000 jawaban. Mau lebih spesifik lagi? Ada 55.400 petunjuk jika Anda masih berminat mengetik ‘Malino Tinggimoncong’. Dengan petunjuk dan penjelasan itu, saya tidak khawatir Anda tersesat. Biarlah catatan ini berisi peristiwa yang belum dikisahkan di sana. —- Pengalaman bertugas Malino menyisakan banyak kenangan. Kecelakaan di Parangloe salah satunya. Malam itu kami mengejar waktu. Leader memutuskan lewat jalur pintas: Parangloe-Pattallassang. Karena rutenya menurun, saya mengerem lebih dalam. Celaka. Tumpahan oli berceceran di badan jalan. Ban depan melincir, motor jatuh meluncur tidak terkendali. Saya tersangkut di pohon jati. Kap motor hancur, sadel tidak ditemukan. Butuh waktu untuk berdiri kembali. Bahuku terkilir. Beberapa luka lecet di lutut, telapak tangan dan juga siku kanan. Masih lekat dalam ingatan. Kami pernah mengunjungi siswa yang ingin berhenti sekolah. Karena jalan belum bisa diakses kendaraan, motor dititip di rumah warga. Kami susuri jalan sempit dan berlumpur. Magrib kami sampai. Orang tuanya menyambut sangat baik. Ada kopi Parigi plus ubi jalar. Tentu saja kami lahap. Sayang, siswa yang dicari sudah merantau ke Kalimantan. Malam itu juga kami pamit pulang. Hujan deras. Derita kami bertambah karena si biru (Suzuki Thunder tersayang) lupa pakai lampu. Pulang bergelap ria. Pengalaman mengajar lainnya nanti saya ceritakan di buku ‘Anak Gunung Membaca Bawakaraeng’. Banyak kisah aneh terselip di sana. Misalnya bagaimana kami para guru yang baru terangkat bisa ditipu oleh pengumpul benda antik. Kami takjub benar dengan emas palsu yang ditengarai dimunculkan dari dunia gaib. Jangan khawatir, kisah berfaedah juga banyak. Kami pernah menyiksa diri melakukan pendakian gunung selama enam jam perjalanan hanya untuk membuktikan bahwa danau Ramma adalah salah satu spot memancing terbaik. Percayalah. Itu hasutan terbaik yang pernah dilakukan Wawan Rurung. Catatan ini dibuat khusus tentang Temu Pendidik Daerah yang dilaksanakan di sekolahku yang lama. SMA Negeri 4 Gowa. Kenapa Temu Pendidik di Malino? Ada beberapa alasan. Pertama, alasan ideologis. Saya percaya. Kawan-kawan saya juga percaya. Hanya guru yang belajar yang pantas mengajar. Kata guru dan belajar tidak boleh terpisah. Saya membaca percakapan antara seniman Asrul Sani dengan guru pamong Taman Siswa: Said Reksohadiprojo. Sejatinya guru adalah seorang pamong. Menjadi pamong berarti harus belajar terus menerus, haus pengetahuan. Jika gurunya berhenti belajar, maka pada saat itu juga dia sudah terbunuh. Di Malino, sangat mudah menemukan guru-guru yang mau belajar. Butuh contoh? Baiklah. Ini cerita kawan kita, Korwil UPTD Dinas Pendidikan kecamatan Tinggimoncong.  “Biasanya guru meminta untuk ditempatkan tidak jauh dari kota kecamatan. Ya, sebutkan dengan kemudahan akses”, cerita pak Amran Azis. “Tidak dengan guruku yang satu itu. Dia minta ditempatkan didaerah terpencil. Saya penuhi permintaannya. Apa yang dia lakukan? Kreativitas guruku itu tidak bisa dibatasi oleh fasilitas yang terbatas. Dinding sekolahnya dipenuhi lukisan mata pelajaran. Ada lukisan tentang benda-benda planet, tentang benda-benda bersejarah, tentang rumus matematika dasar, juga tentang manusia”. Kedua, kami menemukan sekutu. Selain murid, sekutu utama guru adalah sesamanya guru. Saya punya banyak kawan-kawan guru di Malino. Kami ingin membangun persekutuan dengan mereka bahwa pendidikan ini tidak boleh menjadi urusan satu orang saja. Sebagai bagian dari kaum intelegensia, kata Bung Hatta, guru tidak boleh pasif, hanya berdiam diri dalam rutinitas paling membosankan: menghabiskan materi dalam kelas. Kami percaya bahwa kerja-kerja pendidikan butuh dukungan banyak pihak. Di Malino kami yakin bisa mendapatkan dukungan itu. Benar. Malam itu sebelum pembukaan, kami disambut dengan percakapan sampai larut oleh dua kepala sekolah : SMA Negeri 1 Tinggimoncong dan SMA Negeri 1 Bontolempangan. Keduanya bukan hanya teman diskusi. Tapi juga sebagai sekutu utama, turut terlibat mensukseskan kegiatan. Pada bagian lain saya akan sebutkan sebutkan satu persatu siapa saja kawan-kawan guru yang baik itu. Karena alasan-alasan itulah, sehingga Malino diputuskan sebagai tuan rumah TPD. Bersambung ke KGB Makassar : Membaca Bawakaraeng (Bagian 2)

Membela Bu Ela

Kenapa bu Ela harus dibela? Bukan karena Bu Ela tidak berdaya. Sebaliknya, karena berdaya maka tidak boleh dibiarkan sendiri.   Saya sudah tiba di Makassar. Tiga hari di Jakarta mengikuti Temu Pendidik Nusantara 2018. Beasiswa penuh. Semua transportasi dan penginapan ditanggung panitia. Ucap syukur pada kawan-kawan panitia. Sebagai peserta beasiswa, saya berkewajiban membagi pengetahuan, keterampilan dan pengalaman baru selama Temu Pendidik Nusantara. Catatan ini dimaksudkan untuk maksud di atas. Puncak Temu Pendidik Nusantara 2018 dipusatkan di GOR PKP Jakarta Timur. Saya duduk di area 1 C dari tiga area yang disiapkan panitia. Duduk paling depan bersama guru dari KGB Wajo dan perwakilan PGRI.  Di area yang saya tempati dipenuhi kawan-kawan guru dari berbagai daerah di Indonesia.  Acara utama dimulai. Ibu Najelaa Shihab tampil ke panggung utama. Panggungnya luas. Di lantai, terpampang tiga kata: inspirasi, aksi dan refleksi. Tulisan itu adalah pesan. Guru adalah sumber inspirasi di kelas. Untuk menginspirasi, guru terus menerus melakukan aksi-aksi. Dengan apa?  Pembaruan cara mengajar. Setiap guru harus membekali dirinya dengan beragam penguasaan keterampilan mengajar. Jika tidak, cepat atau lambat guru akan ditinggalkan para pengikut.  Muaranya adalah refleksi. Apakah aksi yang sudah dilakukan berdampak atau tidak. Dampaknya bisa besar atau kecil. Harus diukur. Hasil pengukuran akan  menentukan tindakan selanjutnya. Begitulah guru yang merdeka belajar menunaikan tugasnya.  Bukan Ibu Ela yang menyampaikan. Saya yang menafsirnya begitu. Apa yang diucapkan ibu Ela sebagai penggagas TPN tidak mudah saya ingat dengan baik. Saya tidak bisa mengandalkan ingatanku yang bermasalah. Mencatat semua yang beliau sampaikan akan menyulitkanku fokus  dan bertepuk tangan.  Saya tidak bisa menahan haru ketika  ibu Ela mengajak ibu Rahmi dan Ibu Wanti  naik ke panggung. Lelaki macam apa saya: kumisan plus cambang, duduk paling depan tapi berlinang air mata. Percayalah, jika hati bapak-ibu masih ditempatnya, akan mengalami hal yang sama.  Ibu Rahmi dari Pesisir Selatan. Ibu Wanti dari Sanggau. Keduanya mengajar di pedalaman, akses yang terbatas. Jika hujan, Ibu Wanti berjalan kaki cukup jauh untuk sampai di sekolahnya. Saya tidak bisa menahan tangis melihat gambar ibu Wanti mendorong motor di jalan berlumpur. Lumpurnya sampai di lutut. Cerita ibu Rahmi juga menyedihkan. Saya belajar, fasilitas  bukan segalanya. Ibu Ela benar, guru-murid adalah sekutu utama. Ibu Rahmi dan Bu Wanti sudah menunaikan tugasnya sebagai guru yang merdeka belajar.  Kenapa bu Ela harus dibela? Bukan karena Bu Ela tidak berdaya. Sebaliknya, karena berdaya maka tidak boleh dibiarkan sendiri.  Perjuangannya tentang kemerdekaan belajar harus dibagi di seluruh pelosok negeri. Semua guru semua murid harus terasa di setiap ruang waktu. Ibu Najelaa telah memilih berdiri di sisi bu Rahmi dan Bu Wanti, memperjuangkan cita guru yang merdeka belajar. Mendengarkan cerita ibu Najelaa, serasa dibawa kembali masa silam, hadir pada pertemuan Selasa Kliwon  di Puri Pakualaman. Rumah pendiri taman siswa. Ada kegelisahan dan juga banyak harapan. Ki Hajar Dewantara prihatin dengan kemerdekaan berpikir para peserta didik. Ki Hajar kukuh berjuang pada tiga hal: bahwa pendidikan harus mencakup wilayah yang luas. Bahwa perjuangan itu menuntut kemandirian. Bahwa Pendidikan kita harus mengajarkan sistem ketahanan diri.  Guru berdaya tidak lahir dengan tiba-tiba. Guru harus bersentuhan dengan beragam peristiwa dan kesulitan. Semua guru mesti membangun banyak relasi dan hubungan dengan rekan sesama guru di banyak tingkatan. Ini akan menguatkan sekaligus mengayakan. Taman Siswa adalah dialektika. Temu Pendidik Nusantara juga begitu. Kolaborasi dengan banyak unsur adalah kemestian. Karena alasan itulah saya ingin berdiri bersama ibu Ela, Ibu Wanti dan juga Bu Rahmi. Perjalanan dari GOR PKP ke Bandara butuh waktu 1 jam 45 menit. Saya baca di aplikasi transportasi. Saya percaya dampak TPN pada guru, tapi tidak dengan waktu tempuh  perjalanan di Jakarta. Kepastian jarak tempuh di Jakarta hanya Tuhan yang tahu. Karena kepercayaan ini, saya tidak sempat pamit pada panitia. Terima kasih saya ucapkan pada panitia Temu Pendidik Nusantara 2018. Makassar, 8 Oktober 2018 Tulisan ini pertama dipublikasikan sebagai status Facebook.