Pelatihan Manajemen Kelas Merdeka Belajar di Rembang

Kelas semacam apa yang memfasilitasi guru dan murid menjadi merdeka belajar? Apa saja aspek yang perlu dikelola? Bagaimana strategi mengelolanya?  Berawal dari rencana mudik akhir tahun melalui jalur darat yang kebetulan sesuai dengan permintaan dari Komunitas Guru Belajar Rembang untuk mampir dan mengadakan TPD lagi, sebagaimana dulu ketika mudik lebaran. Saya menyanggupi dengan pertimbangan toh apa susahnya mampir beberapa jam di Rembang, titik tengah perjalanan, sambil istirahat. Capek kan ya mengendarai mobil dari Jakarta ke Surabaya.  Ide awal tersebut berkembang. Penggerak Komunitas Guru Belajar Rembang mengkomunikasikan ide awal tersebut. Lalu dari pihak Sekolah Islam Umar Harus melemparkan usulan untuk sekalian mengadakan pelatihan Guru Merdeka Belajar. Jreng! Saya minta Tim Manajemen Belajar Kampus Guru Cikal melakukan Analisis Kebutuhan Belajar. Berdasarkan hasil analisis, kami pun menyanggupi permintaan tersebut dengan menawarkan modul Guru Merdeka Belajar dan Manajemen Kelas.  Persiapan pun dilakukan. Urusan kontrak da administrasi, ketersediaan pelatih, peralatan, serta perencanaan kegiatan dan perjalannya. Saya berangkat ditemani Ari Wibowo, Guru Sekolah Cikal Cilandak menempuh perjalanan darat (Follow IG-nya di @ShinodaAri). Berangkat Sabtu pagi yang direncanakan sampai sabtu petang karena pelatihan akan diadakan dua hari, minggu dan senin. Rencana berjalan tidak mulus. Macet menghadang, kami baru bisa melewati Cikampek sore jam 16 WIB dan tiba di Rembang lewat jam 1 dini hari.  Saya dan Ari membuka pelatihan dengan aktivitas perkenalan yang dikemas menjadi permainan. Setelah suasana cair, peserta pelatihan dibagi menjadi beberapa kelompok agar terbentuk kelompok yang beragam baik dari asal sekolah, pengalaman dan jenis kelamin. Setelah itu pembagian peran dalam kelompok untuk memastikan setiap peserta terlibat aktif. Setiap peserta diminta menyebutkan benda kesayangan dan mengkaitkannya dengan harapan mereka terhadap pelatihan. Harapan pelatih ditulis di kertas dan ditempelkan di dinding kelas sebagai masukan bagi pelatih dalam membawakan modul pelatihan.  Pelatih lalu memandu pelatihan dengan struktur belajar yang serupa: agenda belajar, pemicu belajar, membongkar miskonsepsi, dan diakhiri dengan pemahaman esensial beserta praktiknya di ruang kelas. Sesi pertama membicarakan tentang tujuan pendidikan sebagai acuan dalam melakukan pengajaran maupun dalam menjalankan profesi sebagai guru.  Sesi berikutnya adalah sesi guru merdeka belajar. Apa pentingnya guru merdeka belajar? Peserta diajak untuk menganalisis sistem kebut semalam sebagai fenomena dari orientasi belajar demi ujian semata. Analisis tersebut membawa peserta pada miskonsepsi belajar yang menjauhkan belajar dari tujuan pendidikan senyatanya. Miskonsepsi tersebut yang ingin dibongkar melalui guru merdeka belajar.  Guru merdeka belajar adalah guru yang senantiasa merefleksikan dan menyesuaikan pemikiran dan perbuatan terhadap perubahan sekitar dalam upaya mencapai tujuan. Guru yang belajar untuk mencapai tujuan dari dalam diri, bukan karena faktor eksternal. Guru merdeka belajar yang mampu menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan profesi sebagai guru sekaligus mengajarkan merdeka belajar pada murid. Pengajaran merdeka belajar yang memandu murid untuk menjadi pelajar sepanjang hayat. Merdeka belajar terdiri dari 3 elemen yang membentu suatu siklus yaitu komitmen terhadap tujuan belajar, mandiri menentukan cara belajar dan melakukan refleksi belajar.  Setelah mendapatkan pemahaman mengenai merdeka belajar, peserta diajak melakukan permainan produksi pesawat agar mendapatkan pengalaman terkait siklus merdeka belajar. Dari permainan tersebut, peserta diajak memikirkan  penerapannya dalam pengajaran di kelas.  Makan siang selesai, pelatihan masuk pada modul manajemen kelas. Peserta diajak melakukan refleksi melalui metafor kelas untuk menemukan miskonsepsi manajemen kelas. Dari miskonsepsi, peserta diajak memahami konsep kelas sebagai sistem fisik, sistem psikologi dan sistem sosial. Kelas bukan sebentuk ruang dan perlengkapan tapi juga sistem psikologi yang melibatkan emosi dan kebutuhan manusiawi dan sistem sosial dengan dinamika kelompok dan sosialnya. Setelah itu dijabarkan elemen kelas yang perlu dikelola yaitu tata ruang, kesepakaran kelas, kebiasaan kelas, strategi pengelompokkan, strategi menumbuhkan kedisiplinan dan strategi pengajaran. Pada pelatihan ini akan dibahas semua elemen kecuali strategi pengajaran yang diajarkan pada pelatihan berbeda.  Sesi tata ruang kelas dipandu Ari Wibowo yang mengajar peserta merefleksikan tata ruang pada zaman dulu kala. Setelah itu peserta diajak memahami konsep tata ruang kelas. Penting untuk memikirkan tata ruang kelas yang dapat mewujudkan merdeka belajar. Tata ruang kelas yang keliru akan membatasi seagian besar murid untuk terlibat dalam proses belajar. Sementara tata ruang yang efektif akan membantu murid terlibat aktif dan mendapat stimulasi belajar yang kaya dan beragam.  Pada sesi terakhir di hari pertama, peserta diajak membicarakan tentang kesepakatan kelas. Grup WA tanpa ada tujuan dan kesepakatan kelas saja bisa menimbulkan kekacauan, apalagi kelas yang interaksinya lebih intensif. Karena itu penting membangun kesepakatan kelas yang akan menjadi panduan bagi semua penghuni kelas dalam berperilaku. AGar berjalan efektif, penyusunan kesepakatan kelas dilakukan dengan melibatkan murid secara penuh. Kesepakatan kelas adalah cara untuk mencapai tujuan belajar kelas yang direfleksikan terus menerus. Pelatihan hari pertama diakhiri dengan refleksi yang mengajak peserta mengkaitkan makan malam idaman dengan pelajaran yang didapatkan dari pelatihan pertama. Refleksi membantu peserta mengingat dan mengorganisir semua pelajaran yang didapatkan dalam sehari.  Sesi pertama hari kedua membahas tentang kebiasaan kelas. Bila kesepakatan kelas adalah jangkar yang mengatur pergerakan semua penghuni kelas, maka kebiasaan kelas berperan sebagai cara untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi dalam kelas. Perubahan kelas sering dan terjadi secara berkala, semisal murid mau ke toilet, transisi antar pelajaran, pergantian jenis aktivitas belajar, atau pun mengakhiri dan mengawali kelas. Dengan adanya kebiasaan kelas, maka penghuni kelas mempunyai tradisi dan kebiasaan yang dijalankan bersama.  Sesi strategi pengelompokan dibawakan oleh Ari Wibowo yang mengajak peserta mengingat kembali posisi duduk ketika SD dan pengelompokkan yang terjadi akibat posisi duduk. Dari pengalaman peserta ditarik pelajaran bahwa pengelompokkan murid seringkali diabaikan guru padahal sangat menentukan dinamika dan efektivitas proses belajar sosial di kelas. Ari Wibowo lalu menceritakan contoh strategi pengelompokkan yang dilakukan di kelasnya dan bagaimana setiap strategi digunakan untuk mencapai tujuan yang berbeda. Setelah itu, peserta mendapat tantangan untuk memnyusun strategi pengelompokan yang sesuai dengan tujuan.  View this post on Instagram A post shared by Ari Wibowo Shinoda (@shinodaari) on Dec 24, 2018 at 5:35am PST Setelah makan siang, peserta diajak menyaksikan video pendek yang diambil dari kasus nyata tentang kelas tanpa guru. Dari video tersebut, peserta diajak untuk memikirkan makna kedisiplinan. Ternyata selama ini kedisiplinan mensyaratkan adanya guru. Tanpa guru, kedisiplinan menghilang. Padahal penting untuk membangun kedisiplinan yang tumbuh dari dalam diri murid. Kedisiplinan sejati. Bagaimana caranya? Dibahas pada sesi berikutnya.  Sesi berikutnya membicarakan strategi menumbuhkan kedisiplinan. Peserta diajak menyaksikan video … Read more

Manfaat Guru Belajar Membuat Video

oleh Rizqy Rahmat Hani Pernahkah Anda melihat murid Anda belajar memakai hijab dari video di youtube? Atau belajar kunci gitar lagu-lagu Nisa Sabyan dengan melihat tutorial  di internet? Di zaman sekarang, murid terbiasa belajar melalui video yang ada di internet. Selain itu murid juga tidak sekadar menjadi konsumen. Beberapa di antaranya menggunakan video sebagai media berkarya dan berpendapatnya. Ada Agung Hapsah yang mulai membuat video youtube dari sejak SMP. Lifia Naila, youtubers anak yang fokus videonya adalah tentang permainan anak-anak. Pun anak Deddy Corbuzier yaitu Azka Corbuzier yang beberapa kali menyampaikan pendapatnya di videonya. Tantanganya ialah sebagai guru apakah sudah memahami murid dengan belajar dari anak? Memfasilitasi apa yang menjadi ketertarikan anak seperti video? Video can be a powerful professional learning tool for nurturing the culture of teaching, learning, and connecting ideas and innovations. Ultimately, the more we develop and grow as teachers, the more we grow our students as learners. – Edutopia Melihat fenomena saat ini, keterampilan membuat video menjadi keterampilan yang penting dimiliki oleh guru. Oleh karena itu Inibudi.Org dan Kampus Guru Cikal mengadakan pelatihan pembuatan video bagi Guru Belajar. Beberapa daerah yang sudah kami sambangi bersama antara lain Labuan Bajo, Bali, Palembang, Tangerang, Jakarta Timur, Bogor dan sebagai pamungkas road show tersebut kami memilih Solo. Komunitas Guru Belajar Solo Raya sangat antusias dalam mempersiapkan kegiatan ini, terlihat dari penyambutan yang dilakukan yaitu adanya penampilan gamelan, paduan suara hingga angkulng dari murid-murid SD Kristen Widya Wacana Jamsaren. Guru-guru yang datang dari berbagai daerah sekitaran Solo pun ikut terbius dengan penampilan murid-murid tersebut. Guru pun mulai belajar membuat skenario dengan kelompoknya, pengambilan gambar, hingga editing sederhana menggunakan handphone. Keterampilan-keterampilan di atas bisa digunakan guru sebagai modal dalam memfasilitasi anak di kelas. Di dalam kelas dengan video guru bisa membuat pembelajaran yang berpusat pada murid.  Ada beberapa jenis video yang bisa guru gunakan untuk membantu memfasilitasi murid, antara lain  1.Tutorial  VideoBanyak tutorial yang  dibuat anak-anak ada di youtube, seperti tutorial hijab, tutorial game, tutorial foto, tutorial alat musik, bahkan membagikan resep-resep masakan yang mereka rancang. Berikut contoh-contoh video tutorial buatan murid : Resep Makanan – Adit Sekolah Cikal Tutorial foto makanan oleh murid SMA 1 Sragi, Pekalongan 2. Membuat Produk Video Guru bisa memfasilitasi murid dengan menggunakan video sebagai tugas akhir dalam pembelajaran. Seperti tugas akhir dari murid saya ini. Video tersebut merupakan tugas yang mengintergrasikan beberapa kompetensi dasar antara lain menulis biografi, wawancara, menyampaikan isi berita, dsb.  3. Video TanggapanGuru bisa menggunakan video sebagai media untukmengumpulkan pendapat murid mengenai sesuatu. Seperti misalnya pendapat murid tentang puisi Chairil Anwar, pendapat murid tentang fenomena yang terjadiakhir-akhir ini. Video tersebut pun bisa digunakan guru sebagai bahan penilian. 4. Video RefleksiGuru bisa menggunakan video sebagai bahan refleksi. Guru bertanya tentang pembelajaran dan meminta murid untuk menyampaikan hasil refleksinya. Video tersebut bisa dilihat lagi untuk refleksi guru di pembelajaran selanjutnya. Video saya di atas membantu saya untuk menjadi guru yang lebih baik di pertemuan berikutnya.  Banyak jenis video yang bisa guru gunakan seperti contoh-contoh di atas, namun yang terpenting adalah  apakah kita siap menjadi guru bagi murid zaman now? Jika siap, yuk belajar membuat video bersama kami. Silakan tulis ‘mau’ beserta alasannya di kolom komentar ya!

Purwokerto, Bicara tentang Pendidikan Seksualitas

Mendobrak Hal Tabu “Kalau kita bicara tentang  Seksualitas  apa yang ada dibenak kita?”, begitu tanya Bu Vitri membuka pelatihan di SMP Permata Hati di Purwokerto. Kebayang nggak sih, Purwokerto bicara tentang Pendidikan Seksualitas? Bahkan di kota besar saja bicara tentang Seksualitas adalah hal yang tabu. Banyak salah kaprah tentang Seksualitas, Seksualitas seringkali dikaitkan dengan hubungan Laki-Laki dan Perempuan.  Sehingga seringkali orang tua tidak membahas seksualitas dengan alasan “Anak Kecil tidak perlu tahu tentang seks. Nanti malah coba-coba, lho” “Malu ngomongin seks sama anak.  Memangnya dia akan mengerti?” Atau “Pendidikan seksualitas diajarkan di sekolah,  bukan tugas orangtua” Padahal  “Seks itu alamiah, tapi perilaku seks yang bertanggungjawab adalah hasil PROSES belajar secara EKSPLISIT” begitu bu Vitri dan bu Sishi membuka pikiran guru dan wali murid yang datang ke pelatihan hari itu.  Semangat Belajar Seksualitas Hawa semangat belajar  terasa di ruangan kelas yang sederhana tetapi hangat hari itu, semua guru dan wali murid semangat berproses dan belajar bersama. Diantara banyak ibu-ibu datang, ada dua bapak wali murid yang semangat  mengikuti pelatihan dari awal sampai akhir. Beliau bercerita kesulitan beliau saat mendampingi anak perempuannya yang telah menstruasi.  Bisa dibayangkan seorang bapak bersama putrinya datang ke pelatihan Pendidikan Seksualitas,  tidak malu belajar dan menceritakan masalahnya untuk mencari solusi bersama. Purwokerto membuktikan bahwa semangat belajar tidak terbatas faktor umur, gender bahkan dari mana kita tinggal. Pendidikan Seksualitas untuk Anak Berkebutuhan Khusus, memang bisa? Sesuai namanya Permata Hati, SMP Permata Hati memiliki “Permata” yang sehari-hari ikut belajar bersama di kelas, mereka adalah Anak Berkebutuhan Khusus.  Sehingga, pelatihan Pendidikan Seksualitas  yang diadakan di Purwokerto lebih memfokuskan pada Pendidikan Seksualitas untuk Anak Berkebutuhan Khusus. Jadi, Apa bisa Anak Berkebutuhan Khusus bisa diajarkan  Pendidikan Seksualitas? Bisa! Ada tiga prinsip yang ditekankan oleh Bu Vitri dan Bu Sishi sebagai pemateri; Kongkrit, Bertahap, Berulang. Ruang Lingkup membahas Pendidikan Seksualitas tidak hanya sebatas jenis kelamin. Kalau kita ingin membahas Pendidikan Seksualitas sebenarnya apa saja sih yang bisa kita bahas dengan anak? Perkembangan manusia: perkembangan tubuh & perubahannya. Kebersihan & perawatan diri. Kesehatan. Hubungan antar pribadi; daerah pribadi vs umum, lingkaran sosial. Perlindungan diri. Untuk Anak Berkebutuhan Khusus Pendidikan Seksualitas bisa menggunakan media yang bersifat visualisasi, misalnya  gambar, video, dan alat peraga, karena dengan media tersebut memudahkan Anak Berkebutuhan Khusus dalam memahami aspek-aspek yang perlu dipelajari terkait Pendidikan Seksualitas. Totalitas untuk yang tercinta Disaat yang bersamaan orang tua belajar Emosi dan Komunikasi  Efektif dengan Rangkul KeluargaKita, guru belajar membuat  kurikulum Pendidikan Seksualitas yang sesuai dengan kebutuhan anak. Kenapa orang tua dan guru sama-sama belajar? Pendidikan tidak hanya tanggung jawab satu pihak. Orang tua atau hanya Sekolah saja. Pendidikan tanggung jawab semua. Bukan saling menyalahkan, bukan saling menuntut. Itulah yang dibahas oleh Rangkul dari KeluargaKita saat orang tua belajar komunikasi. “Seringkali kita itu suka lupa mengucapkan terima kasih ke guru. Coba deh bapak-ibu sekali saja sebulan ngirim ‘Bu/Pak, Makasih banyak ya sudah mendampingi anak saya’. Saya yakin hal sederhana begini saja berharga lho pak/bu ” Ujar Bu Yulia Rangkul KeluargaKita Di kelas sebelah, guru membuat kurikulum Pendidikan Seksualitas dari hasil diskusi guru dan orang tua tentang kebutuhan aspek dalam Pendidikan Seksualitas. Seringkali guru membuat kurikulum berdasarkan sudut padang guru saja, padahal dengan mencocokan  data dari orang tua, kurikulum bisa dibuat sesuai kebutuhan anak baik di sekolah dan di rumah. “Misalnya kalau anak belum bisa menggunakan pembalut dan di rumah hanya ada bapak. Guru bisa membantu” penjelasan bu Vitri  yang menekankan pentingnya hubungan dua arah antara guru dan orang tua.     Masih merasa tabu bicara tentang seksualitas dengan anak? Mari buka pikiran kita tentang seksualitas, mari buka pembicaraan sederhana dengan anak tentang kebutuhan belajar tentang tubuhnya. 

Sudah Jadi Guru Kok Belajar Menulis?

Selepas salat Subuh guru Novi mengambil tas dan meminggulnya, lalu ia menghampiri suami dan anak-anaknya. Ia pamit untuk menuju Painan, sebuah kecamatan di Pesisir Selatan mengikuti pelatihan menulis. Ia harus berangkat Subuh karena memang Kecamatan Tapan, tempatnya tinggal berjarak kurang lebih 140 km dari lokasi pelatihan. “Saya tahu pelatihan ini tidak dapat sertifikat. Saya tahu pelatihan ini tidak menginap di hotel mewah. Saya tahu pelatihan ini tidak dapat uang transport. Tapi saya datang bukan karena itu. Saya datang karena memang ingin bisa menulis” kata Guru Novi di salah satu sesi pelatihan. Tidak hanya guru Novi, rekan-rekan seperjuanganya dari Tapan dan kecamatan lain di Pesisir Selatan pun sama. Harus menempuh ratusan kilometer untuk mengikuti pelatihan yang dilaksanakan di pusat kabupaten.  Karena memang Kabupaten Pesisir Selatan adalah kabupaten yang memanjang, sehingga jarak antarkecamatan pun berjauhan.  Kalau saya bisa menganalogikan, jarak Tapan sampai ke Painan, lokasi pelatihan menulis seperti perjalanan saya naik motor dari Tegal hingga Kudus yang melewati 7 kabupaten. Jadi bisa dibayangkan betapa memanjangnya sebuah kabupaten bernama Pesisir Selatan. Akhirnya Guru Novi dan beberapa rekan seperjuanganya sampai di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Pesisir Selatan pukul 08.00 WIB untuk mengikuti pelatihan menulis dari Kampus Guru Cikal. Pelatihan ini merupakan pelatihan pamungkas dari 3 pelatihan sebelumnya : Pelatihan Merdeka Belajar, pelatihan Memanusiakan Hubungan, dan pelatihan Numerasi dan Literasi. Guru Belajar Menulis Di awal, pelatih dari Kampus Guru Cikal, Mahayu Ismaniar mengajak peserta untuk bersepakat tentang tujuan belajar menulis. Peserta diminta untuk membuat kepanjangan dari akronim kata MENULIS. “Menurut saya, M-enulis itu menyampaikan pikiran, E-nak dan tidaknya N-amun selalu dituliskan, U-ntuk diketahui oleh orang lain, L-alu kita curahkan I-si hati pada S-emua pembaca” tulis seorang peserta di kertas yang kami bagikan. Tidak sampai di situ, akronim yang dibuat kepanjanganya tersebut diolah peserta dan kelompoknya menjadi kemasan yang menarik, seperti pantun, nyanyian, puisi, dan sebagainya. Akhirnya kami bersepakat keterampilan menulis penting dimiliki oleh guru. “Saya kadang ketika akan menulis itu sudah kebayang dulu tulisan orang-orang yang bagus, bagus dari segi kebahasaan, ejaan, serta pemilihan kata yang digunakan. Jadi dalam bayang-bayang saya, menulis itu susah.” Kata pak Afdhal saat sesi membongkar salah kaprah menulis. Dalam sesi membongkar salah kaprah menulis ada kejadian yang menarik. Adanyaperdebatan saat pelatih menyampaikan poin “Menulis seperti masak mie instan”.Guru Erna setuju bahwa menulis itu seperti memasak mie instan “Menulis itubukan hal yang sulit. Misalnya kita mendapat pengalaman waktu ini, bisalangsung dituliskan.” Guru Afdhal memiliki persepsi lain tentang menulis, bahwamenjadi penulis yang profesional tidaklah mudah. Butuh waktu untuk mengasahtulisannya menjadi bagus. Namun diakhir pendapatnya guru Afdhal berucap “Nah perbedaan pendapat dengan Bu Erna pun ini salah satu yang harus penulis punya, yakin dengan apa yang dituliskannya.” Setelah bersepakat tentang tujuan, membongkar salah kaprah menulis akhirnya kami menawarkan sebuah formula menulis yang biasanya kami gunakan untuk formula penulisan di Surat Kabar Guru Belajar, yaitu formula ATAP. ATAP memiliki kepanjangan awal, tantangan, aksi dan perubahan. Mahayu Ismaniar menganalogikan ATAP dengan bentuk gunung. Diawali dengan awal yang biasa saja, kemudian mulai menanjak ketika mendapati tantangan, lalu mulai menurun kembali ketika menemukan aksi untuk mengatasi tantangan sebelumnya, dan kembali normal saat adanya perubahan. Peserta mulai belajar formula ATAP dengan membuat tulisan singkat 4 kalimat proses mereka menuju lokasi pelatihan. Dilihat dari tulisan, peserta sudah mulai mengerti mengenai ATAP. “Saya senang dengan dengan formula ATAP ini. Mudah untuk diaplikasikan. Saya yang sebelumnya tidak suka menulis terbantu dengan formula ini.” Jelas Guru Son di akhir pelatihan. Memang jika dilihat format ATAP bisa dijumpai di alur sebuah novel, pada struktrur jurnal, dan sebagainya. Tantangan mulai menanjak, kalau di awal peserta hanya diminta menulis proses mereka menuju lokasi pelatihan. Di sesi siang peserta diminta mengidentifikasi topik pengajaran yang berhubungan dengan literasi dibantu oleh peserta lain dalam satu kelompok. Setelah mendapat topik yang berkaitan, peserta membuat ATAP 4 kalimat. Saat sesi ini setelah dikoreksi, banyak peserta yang masih kesulitan membedakan antara bagian awal dan tantangan. Di bagian awal peserta banyak yang menuliskan permasalahan yang mereka hadapi, bukan tujuan yang akan dituju atau tanggung jawab sebagai guru. Setelah diberi umpan balik, peserta memperbaikinya. Formula ATAP tersebut dikembangkan menjadi tulisan yang utuh oleh peserta dengan cara didiskusikan bersama kelompok. Peserta menyampaikan 4 kalimat ATAP-nya kemudian peserta lain dalam satu kelompok bertanya apapun untuk menggali tulisan tersebut. Dalam hal ini dimaksudkan agar peserta mengetahui bahwa proses menulis dan pencarian ide juga bisa dilakukan dengan mengobrol dengan orang lain. Akhirnya peserta mengembangkan 4 kalimat ATAP yang mereka buat. Peserta antusias dalam menulis, dalam waktu 30 menit beberapa guru menyerahkan tulisannya. Dan terlihat sudah mulai paham mengenai ATAP. “Pelatihan kali ini membuka pikiran saya, ternyata menulis itu adalah sebuah proses yang memang harus dimulai saja dulu. Saya jadi tahu formula yang memudahkan saya dalam menulis. Saya akan lebih banyak menulis setelah ini.” Kata Guru Rini di sesi akhir pelatihan. Anda Guru, kapan terakhir Anda menulis? Yuk ikut Klub Guru Menulis yuk !

IniBudi, Ini Jaktim, Ini Bekasi, Ini Kami yang Berdaya

Halo. Selamat Sore Penggerak KGB Jakarta Timur dan Bekasi! Kita Mudik yuk barengan sama INIBUDI bikin video pembelajaran. Gimana? Siap? Pelaksanaan Pembuatan Video Pembelajaran INIBUDI dilaksakan di 25 Agustus 2018. Mau tahu berapa lama persiapannya? 2 bulan! Koordinasi dilaksanakan selama dua bulan Bersama Bu Mitha, Pak Rachmad, Pak Bayu, Bu Ana dan Bu Ida. Persiapan awal, menentukan tempat. Ada dramanya? Ada! Rupanya tempat kegiatan mendadak berganti dua minggu sebelum pelaksanaan. Terima kasih ya MAN 14 Jakarta Timur untuk kesediaannya! Persiapan lainnya adalah menentukan konsumsi, mau makan apa? Sungguh, menentukan makanan butuh waktu lama sampai akhirnya memutuskan untuk memesan pie, arem-arem, pistel, ayam bakar dan diakhiri dengan donat. Tak lupa dibawakan cucur oleh Pak Yasin dan juga teh dan kopi hangat oleh MAN 14. Terima kasih loh Pak Bu! Lanjut ke persiapan berikutnya, konfirmasi peserta dimulai dari H-7 sampai H-1. Begitulah, banyak yang berguguran tapi tak menggugurkan minat guru lain untuk ikut belajar. Kita melakukan diskusi via WAGroup tentang persiapan pembuatan video pembelajaran dengan Pak Rizqy Rahmat. Mau tahu apa yang dipertanyakan banyak guru, “Besok bawa apa saja ya? Kenapa materinya Bahasa Indonesia untuk SD?” Besok bawa handphone ya Pak Bu dan juga semangat untuk belajar barengan! Tenang, sampai pagi acara dimulai pun masih pada bertanya bawa apa saja. Kenapa Bahasa Indonesia? Menurut riset dan riset, materi pembelajaran Bahasa Indonesia masih sangat minim, jadi ini salah satu bentuk untuk menyebarkan kepada guru-guru lain yang membutuhkan inspirasi dan metode pembelajaran yang seru. Peregangan agar senang belajar hari ini sekaligus perkenalan, ternyata banyak sekali Bapak Ibu Guru yang hadir tidak hanya dari Bekasi atau Jakarta Timur dan ada yang dari Jakarta Selatan juga loh! Selanjutnya acara dipandu langsung oleh Bu Upi dan Tim INIBUDI untuk menyampaikan proses pembuatan video pembelajaran, mulai dari pencarian ide, format skenario, sampai teknis dalam pengambilan gambar. Lalu bagaimana prosesnya? Beberapa yang mengambil peran sebagai Talent deg-degan, beberapa lainnya gemeteran memegang kamera, beberapa lainnya ikut merasakan deg-degan kapan gilirannya tiba dan lain sebagainya. Proses pengambilan video selesai di jam 14.30 WIB. Ada yang mengambilnya di dalam aula, di lapangan, di ruangan kelas dan juga di masjid. Keren kan! Lebih keren lagi saat penjelasan tentang proses editing, dimana peserta diminta mendownload aplikasi. Pertanyaan demi pertanyaan keluar dan juga pernyataan di sesi refleksi. Oh, ternyata bisa semudah ini ya, bisa diterapkan juga ke siswa, bias mempermudah proses pembelajaran. Terima kasih Bapak Ibu Guru sudah mau menggunakan waktu luangnya untuk belajar Bersama. Beberapa meyakini bahwa teknologi itu menyusahkan tetapi kali ini kita membuktikan bahwa ada teknologi yang juga memudahkan.

Basamo Mangko Manjadi

Biar Lamo Tak Pulang, Ambo Urang Awak Jugo Bisa tebak lagu dari daerah mana? Yep! Minang! Balik ke Sumatera Barat lagi. Tempat yang saya idamkan sejak dulu karena demokrasi lokalnya yang memberdayakan masyarakat sekitar. Kali kedua menuju Painan, Pesisir Selatan dan tak sabar disuguhkan dengan paket komplit, dimana sejauh mata memandang kita akan berucap wah dengan mata berbinar, disana banyak cerita tentang gunung, sawah, laut, sungai, air terjun dan pasti makanannya jadi mau bilang “Tambo cie, uda”. Jangan salah fokus, guru-guru disana juga sungguh jadi candu loh! Mau Ngapain di Pesisir Selatan? Mau bawa pelatih literasi dan numerasi, Bu Puti Hamid dan Bu Anya bertemu dengan guru-guru hebatnya Pesisir Selatan buat Pelatihan di tanggal 28 dan 29 Agustus 2018. Kenapa saya bilang guru-gurunya hebat? Karena seusai pelatihan Merdeka Belajar dan Memanusiakan Hubungan di 26-28 Juli 2018, energi hebat dan positifnya guru-guru yang ikut pelatihan tak hanya diterapkan di ruangan kelas tapi juga disebarkan ke guru-guru lain dengan Temu Pendidik Daerah yang dilakukan di Tapan. Bangga Pesisir Selatan! Penasaran banget sih kalau kesana langsung bagaimana ya energinya mereka? Pelatihan besok diruangan itu lagi, UPTD IV Jurai dimana energi terurai dan tersebar luas. Terima kasih ya Bu Muldifia sudah selalu bersedia menyiapkan ruang belajar untuk kami. Kenapa tempatnya disana lagi? For Your Information, itu daerah yang terjangkau dari semua guru yang tersebar disepanjang 218 km. Kebayang usaha mereka buat belajar gimana? Saya sih, baca chatnya elus-elus mata karena haru. Hari Pertama, dimulai! Pelatihan hari ini dibawakan Bu Puti tentang Literasi “Berpetualang Melalui Membaca”. Kenapa literasi? Dengan memberikan topik ini diharapkan para peserta mengerti mengenai miskonsepsi dari literasi dan membaca, memahami tahapan perkembangan dalam membaca dan dapat digunakan sebagai dasar acuan untuk menentukan atau membuat materi ajar yang sesuai dengan tahapan usia anak. Literasi, apa itu literasi? Apa yang sudah diketahui? Apa yang ingin diketahui? Apa yang sudah dipelajari? Selama 6 jam, selama itu pula Bapak Ibu Guru asik mencari, memahami dan mengangguk-angguk tentang Literasi. Sesi paling menarik ketika pembahasan tentang Konsep dan Miskonsepsi. Kenapa? Karena sesi ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk membuka dan melihat kembali konsep yang dimilikinya mengenai literasi, dalam hal ini membaca. Ada empat pernyataan, yang membuat sebagian setuju, sebagian lainnya tidak setuju dan beberapa diantaranya mengalami fase bimbang dan berpikir mau ada di baris setuju atau tidak setuju. Sesi-sesi yang dilalui hari ini bukan hanya guru yang belajar tapi kami, saya dan pelatih juga belajar banyak dari Bapak Ibu Guru Pesisir Selatan. Refleksi adalah tanda akhir sesi pelatihan literasi hari ini. Semua tulisan mengesankan sekaligus menyenangkan buat saya dan pastinya pelatih saat membacanya. “Rupanya membaca itu tidak saja merangkai kata tapi melihat, menceritakan dan menyampaikan pesan kepada orang lain”. “Saya mendapat berbagai tingkatan pemahaman membaca sesuai usia anak” dan “Membaca itu memahami makna-makna dari sekitar kita”. Hari kedua berlangsung! Pelatihan Numerasi dibawakan oleh Bu Anya, Bu Anya deg-degan nih karena Kepala Dinas Pendidikan Pesisir Selatan Bapak Zulkifli juga hadir di pelatihan sebagai peserta. Guru-gurunya bagaimana? Rupanya,k eikutsertaan Pak Zul merupakan bahan bakar bagi guru-guru karena ini pertama kalinya Beliau hadir sebagai peserta. Apa hal paling menarik dari pelatihan hari ini? Sesi Konsep dan Miskonsepsi memang selalu paling menarik. Pak Zul pun ikut bersuara pengalamannya bahwa numerasi di pelajaran matematika selalu menantang, selain kaku pun tujuan dari belajar matematika cukup abstrak dan belum paham akan digunakan dimana saat bekerja nanti. Betul saja, satu per satu pun berteriak sama termasuk saya. Sesi ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk membuka dan melihat kembali konsep yang dimilikinya mengenai numerasi, dalam hal ini matematika. Selain sesi konsep dan miskonsepsi, sesi pelatihan numerasi sangat menarik dan juga membawa suasana belajar makin riuh. Kenapa? Ternyata belajar matematika tidak abstrak! Bisa seru dan juga membuat ketagihan. Bapak Ibu Guru saja ketagihan, bagaimana murid dikelas nanti ya? Memahami tahapan memahami matematika mempermudah untuk dikembangkan metode apa yang akan diterapkan di kelas misalnya bermain tebakan, bermain peran dan juga bermain estafet. Pulang dengan Kenangan dan Senyuman Sepanjang dua hari pelatihan, kelas kami diiringi lagu yang sedang membakar semangat para Atlet yang sedang berjuang di ASIAN Games 2018. Dua hari melihat Bapak Ibu Guru berjuang mulai dari berangkat sampai pulang untuk belajar di pelatihan yang mereka pilih sendiri. Dua hari, bukan hanya mereka yang belajar, saya juga. Belajar itu adalah kebutuhan, tidak perlu menunggu untuk diberi karena jika kamu butuh kamu akan berusaha mencari. Belajar itu bukan tentang siapa guru dan siapa murid, percayalah bahwa semua murid semua guru. Belajar itu pilihan, karena jika sebuah paksaan tanpa kesadaran, setelahnya akan kececeran. Belajar itu menyenangkan bahkan bias menjadikannya kekuatan untuk menjalani kehidupan. Esok harinya sampai tulisan ini selesai, saya tersenyum bahagia dan percaya ketika menerima berita bahwa Bapak Ibu Guru Pesisir Selatan sedang berjuang untuk Pendidikan yang lebih baik, melalui implementasi di kelas dan juga menyusun strategi agar bisa tersebar untuk guru-guru lainnya! Basamo Mangko Manjadi

Membaca & Menulis, Terampilkah Kita? Mari Belajar Mengembangkannya

Narasumber : Rosmayanti Mutiara & Elisabet Indah SusantiHari, Tanggal : Jum’at – Sabtu, 24-25 Agustus 2018Tempat : Rumah Kreatif Wadas Kelir & SMP Permata Hati, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah. Membaca dan menulis merupakan kegiatan yang selalu ada sejak kita membuka mata pagi hari hingga sebelum kita tertidur kembali. Mulai dari membaca dan menulis pesan melalui gawai, membaca koran media cetak, membaca iklan yang terpampang di sepanjang jalan, membaca jurnal, menulis surat elektronik, menulis catatan singkat, dan masih banyak lagi aktifitas membaca dan menulis dalam kehidupan keseharian kita. Bahkan mulai sebelum kita sekolah dan hingga kini bekerja, baik membaca dan menulis sudah dilakukan sejak dahulu. Karena merupakan kegiatan harian yang selalu ada sejak dahulu, maka mudahkah membaca dan menulis itu? Apakah tetap diperlukan keterampilan untuk membaca dan menulis? Kembali, Kampus Guru Cikal yang diprakarsai oleh NusantaRun memberikan pelatihan kepada guru-guru di SMP Permata Hati Purwokerto. Topik yang diangkat kali ini adalah keterampilan membaca dan menulis. Selama dua hari kegiatan pelatihan ini, tepatnya, 24-25 Agustus 2018, mulai pukul 08.00 – 15.30 WIB. Pelatihan ini dipandu oleh rekan-rekan guru Sekolah Cikal, yaitu Ibu Rosmayanti Mutiara & Ibu Elisabet Indah Susanti. Sedikit mengulas tentang Ibu Rosmayanti, yang kerap disapa Yanti yang kini menjabat sebagai kepala sekolah di Sekolah Cikal Serpong yang memiliki pengalaman mengajar selama kurang lebih 19 tahun, sedangkan Ibu Susan merupakan pengajar di Sekolah Cikal Serpong dan telah memiliki pengalaman mengajar hampir 15 tahun. Selain itu, belajar kali ini sangatlah berbeda, dengan mengambil tempat belajar di Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK), sehingga kami harus mengendarai transportasi umum “angkot” untuk menuju ke sana. Biasanya kami hanya berjalan kaki ke Sekolah Permata Hati. Kurang lebih 30 menit menuju lokasi RKWK dan tibalah kami di sana. Langsung disambut hangat oleh Bapak Heru Kurniawan M.A, sebagai penggagas RKWK. Didirikan pada tahun 2013 karena keprihatinan pada pendidikan masyarakat sekitar. Dengan fokus pada dunia pendidikan, RKWK menyelenggarakan berbagai kegiatan edukatif pada masyarakat secara berkesinambungan. Dari kegiatan-kegiatan inilah, RKWK kemudian berkembang dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan pendidikan yang dikelola oleh Relawan, Remaja, dan Masyarakat. RKWK terus melakukan berbagai kegiatan pendidikan setiap harinya tanpa henti dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat melalui pendidikan. Harapannya, dengan memberikan pendidikan terbaik pada masyarakat, semoga kelak dari Rumah Kreatif Wadas Kelir akan lahir pemimpin-pemimpin bangsa yang akan memajukan bangsa kita tercinta: Indonesia.   Menulis Dengan RasaTeriknya Kota Purwokerto saat itu tidak menyurutkan keinginan kami untuk belajar bersama. Pelatihan keterampilan membaca dan menulis ini diperuntukkan bagi guru yang kesulitan membantu anak untuk membaca dan menulis, belum memahami tujuan dari kegiatan membaca dan menulis, memaknai membaca sebagai tugas perkembangan yang hanya selesai pada usia sekolah dasar, demikian pula halnya dengan menulis, serta tidak memiliki atau mengetahui strategi apa saja yang bisa digunakan untuk membaca dan menulis bersama anak di kelas.Selama kurang lebih 3 jam, Pak Guru begitu sapaan bersahabat rekan relawan kepada Pak Heru, mengemukakan tentang dasar-dasar penulisan. Beliau mengemukakan standar tulisan berliterasi harus memiliki 4 syarat, yaitu benar, baik, bermanfaat dan menginspirasi. Ke empat hal ini wajib dalam sebuah tulisan esai. Tulisan dapat membahas suatu masalah di sekolah dari sudut pandang penulis dan dielaborasi dengan pengalaman dan pengetahuan penulisnya. Tambahnya lagi, bawah dalam menulis tidak lupa untuk memasukan unsur rasa, sehingga pembaca dapat pula mengalami atau turut merasakan apa yang dialami atau rasakan oleh penulisnya. Hal ini dialami oleh Bu Yani, salah seorang peserta sampai tidak sanggup membacakan hasil tulisannya karena tulisannya sanggup menyentuh rasa bagi diri dan orang lain yang mendengarnya, sehingga harus dibantu oleh Ibu Gayuh dalam membaca tulisan tersebut. Kegiatan belajar bersama pak guru pun berakhir. Sedangkan Ibu Yanti dan Ibu Susan menambahkan, bahwa ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan dalam menulis, yaitu: Pra-writing: gagasan atau ide tulisan. Drafting: gagasan atau ide tulisannya dibuat dalam bentuk draft (pengorganisasian gagasan/ide). Sharing: penulis mendapat masukan dari pembaca/pendengar terhadap draft kasar yang dibuatnya. Revising: melakukan refleksi terhadap draft dan melakukan perubahan berdasarkan ciri-ciri penulisan. Editing: mengkoreksi tulisan yang meliputi pengecekan tanda baca, huruf besar dan kecil, ejaan, paragraf dan penggunaan grammar. Publishing: tulisan yang sudah dikemas dengan baik Dalam kesempatan pelatihan menulis ini dipaparkan pula tentang salah kaprah dalam menulis dan tingkatan kemampuan anak dalam menulis, sebagai berikut: Emerging/Scribble:  Anda mungkin tidak dapat memahami gambar ini; namun Anda perlu menaruh perhatian pada tahap awal anak mulai menggambar. Pictoral: Anak mulai menggambar lebih jelas dan memiliki arti. Anak mulai dapat mengimitasi gambar. Pre-communicative: Mulai dapat menulis huruf secara acak, namanya, maupun bentuk lain yang dilihat di sekitarnya. Mencoba menuliskan pesan yang tidak dapat dimengerti karena belum memiliki makna. Semi-phonetic: Mulai menggunakan dan menuliskan huruf untuk disamakan dengan bunyinya. Biasanya menulis dari kiri ke kanan. Masih menulis huruf dengan terbalik. Phonetic: Dapat mengeja dan menuliskan kata dengan awalan dan akhiran bunyi konsonan. Anak mungkin menambahkan huruf vokal. Pada tahap ini tulisan anak mulai dapat dimengerti. Transitional: Dapat menuliskan kata sesuai bunyinya. Terkadang menuliskan huruf yang sama dua kali.Dapat menulis lebih dari satu kalimat. Dapat membuat spasi antar kata dan dapat mengeja banyak kata dengan benar. Conventional: Dapat mengeja banyak kata dengan benar; meskipun masih berdasarkan dasar bunyi fonik.Dapat mengeja kata yang sudah dipelajari. Mulai menggunakan huruf kapital, huruf kecil serta tanda baca seperti tanda titik dan tanda tanya. Traditional: Dapat mengeja kata dan  menggunakan banyak kosa kata.  Memakai tanda baca seperti tanda tanya, tanda koma dan tanda seru secara tepat. Membuat paragraf dengan baik. Membaca memahami makna Sejenak beristirahat, kami pun melanjutkan kegiatan pelatihan berikutnya, yakni keterampilan membaca. Ibu Yanti dan Ibu Susan menanyakan kepada para peserta, apa sebenarnya membaca dan peserta kemudian menuliskan serta mengemukakan pendapatnya mengenai membaca. Dipaparkan pula, bahwa masih terdapat konsepsi yang tidak tepat terhadap konsep membaca. Membaca, selain menambah kosakata dan perbendaharaan kata, namun sesungguhnya membaca adalah memahami makna. Untuk memahami makna tersebut ada tahapan-tahapan dalam membaca sehingga pengamalan membaca jadi semakin menyenangkan. Agar pengalaman membaca menjadi menyenangkan, maka dibutuhkan pula strategi yang dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti: bercerita  membaca tanda dan simbol di sekitar sekolah, bermain drama, visualisasi (tulisan ke gambar), atau juga dapat mengajukan pertanyaan yang cukup kompleks untuk melatih dan meningkatkan pemahaman (sebelum, ketika, dan setelah membaca). … Read more

Semangat Merdeka Belajar di Pesisir Selatan

Semangat guru Pesisir Selatan dalam mengikuti pelatihan sungguh luar biasa. Padahal mereka guru PNS yang sering dinilai tidak suka mengembangkan diri. Kok bisa? Saya bersama dua pelatih, Ibu Unun dan Ibu Nuli berangkat ke Pesisir Selatan. Kami akan mengadakan pelatihan Merdeka Belajar dan Memanusiakan Hubungan yang berlokasi di kota Painan yang merupakan ibu kota Pesisir Selatan. Jarak Painan dari kota Padang kurang lebih 72 kilometer yang membutuhkan waktu tempuh 2 jam. Pelatihan tiga hari ini merupakan bagian dari Playground of Minang, program Sekolah Cikal untuk berkontribusi terhadap kualitas pendidikan Indonesia. Pada tahun ini, Cikal memilih Minang sebagai fokus belajar yang dipelajari para murid sehingga disebut sebagai Playground of Minang. Kegiatan ini melibatkan murid, guru, orangtua, manajemen dari Rumah Main Cikal, Sekolah Cikal dan Kampus Guru Cikal. Kami datang di lokasi pelatihan jam 07.00, UPTD kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan. Para peserta pelatihan yang merupakan guru dan kepala sekolah datang dengan semangat membara. Pelatihan dimulai dengan kegiatan penyemangat, setiap peserta mendapatkan kertas dengan berbagai jenis aktivitas dengan maksud agar mengenal satu sama lain. Setelah itu pelatih menyampaikan materi Merdeka Belajar. Mengapa diawali dengan Merdeka Belajar, padahal tema POMIN tahun ini adalah “2000 Anak Sumatera Barat Melek Literasi dengan Memanusiakan Hubungan”? Pelatih menjelaskan pentingnya mempelajari materi dasar sebelum mempelajari literasi. Karena melalui merdeka belajar, guru dapat mengembangkan belajar berkelanjutan baik pada diri sendiri maupun pada muridnya. Ciri merdeka belajar itu sendiri yaitu berkomitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara, dan melakukan refleksi. Pada hari kedua dan ketiga, peserta mempelajari Memanusiakan Hubungan dengan semangat merdeka belajar yang telah dipelajari sebelumnya. Tujuan dari materi ini adalah adanya pemahaman bermakna bahwa keberlangsungan kegiatan belajar mengajar memerlukan interaksi positif antarmanusia yang ada di sekolah. Peserta dipandu membuat kesepakatan bersama, membedakan antara hukuman dan konsekuensi dan menerapkan lima posisi kontrol sebagai acuan komunikasi dalam membangun disiplin positif. Semangat para peserta semakin membara di hari terakhir pelatihan. Semua antusias dan terlibat dalam semua aktivitas yang dipandu oleh pelatih. “Pelatihan ini merupakan pelatihan yang jelas, jelas dalam artian kami jadi tahu tujuan kami,  dimana posisi kami dan apa yang harus kami lakukan untuk mencapai tujuan dan semoga kami tidak bergerak sendirian, tapi juga didukung oleh sekolah” tutur Ibu Rahmi yang juga merupakan penggerak Komunitas Guru Belajar setelah mengikuti pelatihan. Pelatihan ditutup dengan tanya jawab bersama Kepala Dinas Pendidikan Pesisir Selatan. Pada sesi penutup, para peserta mengungkapkan harapan mereka agar pelatihan seperti ini diadakan lebih sering dan dapat dihadiri oleh lebih banyak guru. Mereka juga meminta dukungan dari pihak Dinas Pendidikan agar para kepala sekolah dapat mendukung proses penerapan praktik hasil pelatihan di sekolah mereka. “Pelatihan hebat yang belum pernah saya dapatkan selama kurang lebih 10 tahun saya menjadi seorang pendidik di SD, ternyata selama ini kami pendidik di Pesisir Selatan khususnya, banyak sekali kurangnya dari segala segi, semoga Kampus Guru Cikal selalu membimbing kami baik daring maupun luring” tutur Ibu Elvadeni salah satu peserta pelatihan.

Pelatihan Pembuatan Video dengan Handphone

Setiap mengisi pelatihan video, pertama kali yang ditanyakan guru menjelang pelatihan antara lain : “Apa saja alat yang harus saya bawa? Apakah saya harus membawa laptop? Wah saya tidak punya laptop?” Saya biasanya menjawab, “Cukup bawa handphone saja dan semangat untuk belajar”. Mungkin Anda yang membaca ini langsung mengernyitkan dahi, dan bertanya hal serupa dengan calon peserta pelatihan tadi “Hah! Handphone, memangnya bisa”. Agar percaya silakan lihat video-video di bawah ini. Video yang dibuat oleh guru Dian hanya menggunakan handphone. Oleh karena itulah seminggu sebelum pelatihan pembuatan video pembelajaran di Palembang, 4 Agustus 2018, kami (Kampus Guru Cikal dan Inibudi.org) melakukan diskusi bersama calon peserta. Diskusinya dimulai dari pembuatan kelompok, ide skenario pembelajaran yang akan dibuat, hingga media yang digunakan dalam pembuatan video. Saya menyarankan kepada peserta untuk mengunduh aplikasi Kinemaster di handphonenya masing-masing. Aplikasi tersebutlah yang akan digunakan dalam editing video nanti. Dasar-dasar Kinemaster. Diskusi di grup Whatsapp calon peserta memudahkan kami dalam memetakan kebutuhan guru dan membuat efektif serta efisien waktu pelatihan. Benar saja, saat pelatihan berlangsung di Singapore Indonesia School peserta lebih terkoordinir. Alat dan bahan untuk keperluan shooting sudah dibawa, dan di setiap handphone peserta sudah terinstal aplikasi Kinemaster. Pelatihan dimulai dengan membentuk lingkaran besar, kemudian setiap peserta mencari pasangan untuk mengobrol mengenai tujuan mereka mengikuti pelatihan pembuatan video. Dari hasil obrolan tersebut didapatkan kesimpulan bahwa kebanyakan peserta ingin menjadi Guru Zaman Now yang menyampaikan pembelajaran menggunakan video. “Murid-muridnya sudah canggih, masa’ gurunya ketinggalan” sahut salah satu peserta ketika diminta menyampaikan tujuannya di depan khalayak. Penyampaian tujuan merupakan salah satu bagian dari kunci merdeka belajar, selain merdeka terhadap cara dan refleksi. Setelah itu, peserta langsung menuju ke kelompoknya masing-masing yang sudah dibentuk melalui grup Whatsapp. Bu Upik yang merupakan ketua dari Inibudi.org menyampaikan proses pembuatan video pembelajaran, dari pencarian ide, format skenario, hingga teknis dalam pengambilan gambar. Tak lebih dari satu jam, materi tersebut selesai. Peserta langsung mengonsep apa saja yang perlu ditambahkan dari skenario yang sudah dibuat sebelumnya. Waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB, beberapa peserta sudah mulai mengambil gambar. Ada yang mengambil di kelas, ada yang di dekat musala, ada yang naik-naik ke lantai atas mencari lokasi yang sesuai dengan skenario yang dibuatnya. Ini adalah prinsip kedua dari merdeka belajar yaitu merdeka terhadap cara. Selain bebas menentukan lokasi yang nyaman untuk shooting, peserta juga dibebaskan untuk mengonsep videonya. Ada yang menggunakan role playing, menyanyi, berpuisi, dan ada juga yang menggunakan animasi untuk mengemas pembelajaran dalam video jadi menyenangkan. Pengambilan gambar selesai pukul 14.00 WIB, dilanjutkan materi editing. Terlihat sangat antusias peserta saat materi ini. Karena mungkin rasa penasaran yang besar dengan aplikasi editing video mobile ini. Hal ini terlihat, setelah pemateri menyampaikan materi tentang dasar-dasar Kinemaster, banyak pertanyaan yang muncul dari peserta. “Bagaimana cara menaik-turunkan volume?” “Bagaimana memasukkan video lain di tengah-tengah video yang sudah ada?” “Bagaimana mengganti background?” “Berapa ukuran video agar kualitas masih terjaga?” Akhirnya pelatihan ditutup dengan refleksi oleh peserta. “Pak saya dari Muara Enim, 4 jam perjalanan dari sini. Saya ingin sekali mengembangkan chanel youtube saya setelah mengikuti pelatihan video ini.” sahut salah satu peserta diskusi. Jika kita selalu terbatas, maka kapan kita akan menembus batas?

Guru Belajar Manajemen Kelas bersama NusantaRun

Apa itu manajemen kelas? Dari mana memulainya? Bagaimana menetapkan peraturannya? Strategi apa yang ingin dipakai? Apa pentingnya manajemen kelas bagi guru? Pertanyaan tersebut selalu muncul dan tentu masih banyak pertanyaan lainnya muncul dari para guru, dan hal ini selalu dihadapi dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Mau tahu lebih lanjut mengenai manejemen kelas? Nah, Kampus Guru Cikal bersama NusantaRun memberikan pelatihan kepada guru-guru di SMP Permata Hati Purwokerto. Sudah hampir satu tahun kegiatan pelatihan rutin ini dilakukan, dan guru-guru SMP Permata Hati tetap semangat mengikutinya. Selama dua hari kegiatan pelatihan manajemen kelas ini, tepatnya,  27 – 28 Juli 2018, mulai pukul 08.00 – 15.30 WIB. Pelatihan ini dipandu oleh rekan-rekan guru Sekolah Cikal, yaitu Ibu Boki Nur Astuty & Bapak Mohammad Rizky Satria. Sedikit mengulas tentang Ibu Boki selain sebagai guru di Sekolah Cikal yang memiliki pengalaman mengajar selama kurang lebih 10 tahun & juga menjabat instruktur nasional kompetensi guru, sedangkan Pak Rizky pengajar guru SMP di Sekolah Cikal dan juga menjabat sebagai editor di Kampus Guru Cikal. Kelas pelatihan dimulai dengan melakukan asesmen kepada guru mengenai apa itu manajemen kelas menggunakan KWL chart. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pemahaman dasar mengenai topik yang akan dibahas. Ternyata guru memahami pengetahuan dasar mengenai manajemen kelas hanya sebatas pengaturan ruang belajar sehingga suasana belajar menjadi menyenangkan. Namun, apakah pengaturan ruang saja sudah cukup bisa disebut dengan manajemen kelas? Dan akhirnya berbagai pertanyaan muncul dari para guru terkait dengan manajemen kelas ini. Setelah melakukan perkenalan antara pemateri dan peserta yang diselingi dengan kegiatan pembuka, dan kelas pelatihan pun dimulai. Ibu Boki menjelaskan bahwa manajemen kelas adalah segala sesuatu yang guru lakukan untuk mengorganisasikan murid, ruang, waktu dan materi pembelajaran, sehingga instruksi dalam pembelajaran bisa terlaksana dan murid dapat belajar dengan baik. Tambahnya lagi, bahwa terdapat 3 elemen penting dalam manajemen kelas, yaitu mengatur lingkungan fisik; memelihara iklim belajar yang kondusif; dan menguatkan interaksi positif. Pembahasan dan praktek mengenai 3 elemen ini dilakukan dalam 2 hari pelatihan ini. Mengatur Lingkungan Fisik Bagaimana suasana kelas anda saat ini? Apa yang anda lihat, apa yang anda rasakan dan apa yang anda dengar? Dibuka dengan kegiatan refleksi, guru diminta untuk menggambarkan suasana kelas yang diajarkannya pada saat ini. Ruang kelas guru saat ini adalah menggambarkan guru itu  sendiri. Karena ruang kelas yang diajarkan dapat merefleksikan gaya mengajar dan karakteristik pribadi anda sebagai guru. Kelas berantakan dan tidak teratur, itulah anda, namun sebaliknya kelas yang rapi dan teratur menggambarkan bahwa anda adalah guru yang siap mengajar. Selain itu lingkungan fisik dan suasana/atmosfir kelas yang baik dapat turut membantu murid dalam penguatan aspek akademik, sosial dan emosional, karena: Memaksimalkan kemampuan guru untuk melihat dan terlihat; Memfasilitasi kemudahan bergerak; Meminimalisir gangguan; Menyediakan ruang pribadi; Presentasi dan materi yang ditampilkan dapat mudah terlihat. Berikut ini beberapa ciri pengaturan kelas yang baik: Ada pembagian ruang yang jelas sesuai dengan kegunaannya dan memastikan setiap siswa tahu perilaku yang diharapkan di tiap area tersebut. Pengaturan duduk yang memfasilitasi interaksi sosial antar siswa. Guru mempunyai pandangan yang jelas, dan juga sebaliknya. Tempatkan siswa berkebutuhan khusus atau mempunyai masalah perilaku dekat dengan meja guru. Jaga ruang kelas agar tetap teratur dan terorganisasi dengan baik. Memelihara Iklim Belajar yang Kondusif Pada hari kedua pelatihan dipandu oleh Pak Rizky, yang membahas pentingnya iklim belajar yang kondusif sebagai elemen penting manajemen kelas. Tambahnya lagi bahwa guru yang efektif memperkenalkan kesepakatan, prosedur, dan rutin di hari pertama belajar dan melanjutkannya sepanjang tahun ajaran. Pada sesi ini dibahas mengenai jadwal rutin harian, transisi, pengelompokan, disiplin dan prosedur kelas yang didiskusikan bersama antara guru dan murid. Berikut ini beberapa syarat dalam kesepakatan bersama sebaiknya yang sebaiknya :  Dibuat – Disetujui – Diikuti oleh semua anggota kelas (guru dan murid); dibuat berdasarkan kebutuhan kelas; dan gunakan gambar atau tanda yang menarik perhatian dengan kata-kata sederhana untuk ditampilkan di kelas. Lebih lanjutnya lagi, dalam membuat peraturan sebaiknya memperhatikan hal berikut ini: Peraturan harus dinyatakan secara positif dan fokus pada tujuan jangka panjang; Batasi jumlah peraturan, utamakan hubungan antar individu; Penerapan peraturan tidak secara terburu-buru; Jadilah reflektif, bersedia mengganti peraturan yang tidak berjalan dengan baik; Keterlibatan siswa adalah suatu keharusan dan sebaiknya disesuaikan dengan kelompok usia siswa; Ketika seseorang melanggar peraturan, harus ada konsekuensi logis yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sebaiknya konsekuensi harus relevan, masuk akal dan penuh rasa hormat.   Menguatkan Interaksi Positif Kegiatan pelatihan diakhiri dengan menguatkan interaksi positif. Interaksi antar sesama anggota kelas pasti terjadi, bukan hanya antar sesama murid, namun juga antar murid dan guru atau sebaliknya. Interaksi ini bukanlah merupakan hal yang mudah. Bisa saja terdapat interaksi yang tidak menyenangkan, oleh sebab itu perlu sekali membangun interaksi positif di sekolah. Dijelaskan oleh kedua pemateri bahwa dalam meningkatkan interaksi  positif perlu dilakukan dengan mempertimbangkan hal berikut: intonasi suara dalam berbicara, bahasa dan sikap tubuh, teknik bertanya, pemilihan bahasa dan kontak fisik. Dengan mempertimbangkan ke 3 elemen dalam manajemen kelas tadi, diharapkan akan mampu membuat lingkungan belajar yang kondusif, karena terdapat struktur yang jelas, melibatkan pengaturan ruang fisik dan komunikasi dengan anak, sehingga dapat membangun rasa percaya diri pada anak dan guru dapat dijadikan sebagai panutan, yang terpenting pula adalah persiapan guru di kelas. Narasumber : Boki Nur Astuty & Mohammad Rizky Satria Hari, Tanggal : Jum’at – Sabtu, 27 – 28 Juli 2018 Tempat : SMP Permata Hati, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah