Temu Inovasi Karya : Langkah Awal Meniti Karier Guru

Saya pernah mengikuti lomba guru berprestasi dan menjuarai kejuaraan tersebut. Namun setelah saya mendapat piala dan beberapa hadiah, tidak ada proses setelah itu. Apa yang saya ciptakan sekadar untuk lomba tersebut. Lomba selesai, kegiatan berinovasi selesai. Membuat inovasi pengajaran lagi ketika ada lomba lagi. Seakan inovasi pengajaran bukan berdasar kepada kebutuhan belajar murid, tapi keinginan saya mendapat piala. Saya tidak memiliki kemerdekaan dalam merancang inovasi pengajaran, saya hanya fokus kepada track record juri, sejarah pemenang inovasi pengajaran tahun-tahun sebelumnya, hadiah yang jumlahnya tentu tidak sedikit.  Saat Kampus Guru Cikal diajak Wardah untuk merancang Wardah Inspiring Teacher 2019 hal yang paling pertama dibicarakan adalah bagaimana agar kegiatan ini dihilangkan kesan kompetisinya. Maka sedari awal walau ada hadiah studi banding ke New Zealand bagi 2 guru di akhir program, kami tidak pernah menyampaikan hal tersebut. Kami ingin guru yang mengikuti program ini bukan semata-mata karena hadiahnya. Awalnya sih sangsi, apakah kegiatan tanpa iming-iming dan akan berlangsung cukup lama (Maret – September) peserta akan bertahan hingga akhir? Jangan-jangan di tengah peserta berguguran dan tidak melanjutkan hingga akhir program? Proses demi proses kami jalani, dari pelatihan dasar yang mana guru diajak berempati kepada murid untuk membuat media. Pra pelatihan lanjutan, guru dikenalkan kepada berbagai jenis media, canvas media ajar hingga diajak untuk membuat prototipe. Menariknya pada pra pelatihan lanjutan ini dilakukan secara online, namun peserta masih saja antusias mengikuti dan mengirimkan tugas demi tugas. Dilanjutkan pelatihan lanjutan mengenai validasi karya. Peserta diajak membuat poin-poin penilaian dari karya yang dibuat, dan melakukan uji coba kepada beberapa pihak, terutama kepada murid. Dari proses uji coba ini membuat media yang dibuat guru peserta program mendapat umpan balik baik dari narasumber ahli, murid, dsb. Tidak disangka sampai tahap akhir ada sekitar 60 guru yang masih bertahan. Kami melihat 60 guru ini mewakili guru-guru yang memiliki kemerdekaan. Mereka sadar akan tujuan, merasa apa yang dilakukan sesuai kebutuhan belajar. Bukan semata-mata karena hadiahnya.  Di sesi akhir sebagai apresiasi, kami undang sekitar 40 guru untuk melakukan pameran karya di Temu Pendidik Nusantara 2019, dimana banyak guru dari berbagai daerah datang ke sini. Harapannya dari sini, guru-guru peserta Wardah Inspiring Teacher 2019 bisa mengenalkan media ajar yang dibuatnya dan awal guru-guru memulai karier protean. Pameran digelar di Gedung Serba Guna Sekolah Cikal Cilandak pada tanggal 26-27 Oktober 2019. Berbagai media guru yang dibuat dipamerkan beserta poster proses pembuatan media tersebut. Banyak guru dari berbagai daerah berdatangan untuk mencoba media yang dipamerkan. “Di Temu Inovasi saya memasang media saya dan poster ‘How to Play’, tidak disangka ternyata banyak yang tertarik, dan kemudian saya jelaskan bagaimana proses membuat media ini. Mereka semakin tertarik dan kemudian membeli media saya. Dan laku sekitar 20 buah Pak. Tidak berhenti sampai di situ, banyak yang repeat order melalui Instagram@kadoka_edu …” Itulah cerita dari Guru Puspita Demy Amalia, seorang guru dari Homesantren Kebaikan Surabaya yang menjadi salah satu peserta Wardah Inspiring Teacher 2019.  Guru Imam Setiawan dari Sekolah Alam Atifa Bogor pun sama, setelah pameran Guru Imam memoles kembali media ajar yang ia buat untuk dipasarkan. Saat ini, media yang ia buat yaitu berupa buku, masih dalam tahap pengurusan ISBN. Kampus Guru Cikal percaya kunci pengembangan guru ada 4 yaitu kemerdekaan, kompetensi, kolaborasi dan karier. Tidak berhenti saat guru mendapat piala, namun mengajak guru untuk mengembangkan kariernya sebagai guru.

Inovasi Pembelajaran dengan Berempati kepada Murid

Suatu hari di pertengahan tahun 2013 saat menjadi guru di sebuah sekolah menengah negeri di Pekalongan saya mendapatan ide untuk saya sampaikan di dalam kelas. “Pasti ide ini berhasil.” batinku Seminggu setelahnya saya putarkan video yang saya buat. Video yang berisi cerita biografi orang-orang sukses seperti Bill Gates, Mark Zuckenberg dan saya kemas secara menarik. Namun entah kenapa murid biasa saja, seakan media yang saya buat sekadar menjadi media hiburan. Saat sesi membedah biografi tokoh, tidak ada ketertarikan. Murid malah mengobrol sendiri, bemain gawai, beberapa memperhatikan namun terlihat tidak antusias. “Video yang saya buat sudah bagus, sudah memakai beberapa animasi yang saya buat sendiri. Lalu apa yang salah. Mengapa murid saya tidak tertarik dengan pembelajaran yang kekinian.” Apa yang salah? Mungkin bukan saya saja yang pernah mengalami masalah di atas. Merencanakan sesuatu untuk murid di kelas namun tidak melibatkan murid. Bukan sesuatu yang murid butuh, tapi sesuatu yang guru ingin. Salah satu kutipan di produk adalah “Apakah murid Anda merasa dipahami?”. Kutipan tersebut mengingatkan guru untuk terus melibatkan murid, menjadikan murid subjek pembelajaran. Pertanyaanya selanjutnya adalah bagaimana cara melibatkan murid? Oleh karena itulah dalam Wardah Inspiring Teacher 2019, Kampus Guru Cikal memasukkan sesi melibatkan murid dalam pelatihan Mendesain untuk Perubahan. Mengajak guru berempati pada murid sebelum membuat inovasi pembelajaran. Melibatkan MuridPelatihan dua hari (13-14 April) yang diadakan di Hotel Ibis Style Jemursari, Surabaya ini diikuti kurang lebih 51 guru dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah dalam rangka Wardah Inspiring Teacher 2019. Di awal sebelum pelatihan dimulai, ada asesmen awal yang perlu diisi oleh guru. Dari data pra pelatihan, banyak guru yang masih belum melibatkan murid sebelum mendesain sesuatu untuk murid, baik media maupun metode belajar. Oleh karena itu kami melihat bahwa pelatihan ini diperlukan oleh guru. Pelatihan dimulai dengan mengajak guru untuk memahami tentang zaman yang sudah berkembang dan perlunya guru untuk terus belajar untuk bisa berinovasi. Karena menjadi inovator adalah sarana mencapai karier guru. Pada sesi ini Guru Ely dari Sekolah Cikal Surabaya yang memandu sesi. Untuk menjadi inovator pembelajaran yang perlu diperhatikan seperti di awal tulisan ini yaitu memahami murid. Memulai dengan berempati dengan murid yang kita ajar, tentang tahap perkembanganya serta aspek kemampuan yang murid miliki. Dalam sesi ini guru dibagi kelompok berdasar jenjang kelas yang diampunya. Guru TK – SD rendah (kelas 1-3 SD), guru SD besar (kelas 5-6 SD), guru SMP, dan guru SMK. Dari pembagian kelompok terlihat bahwa jumlah guru SMA dan SMP lebih banyak daripada guru SD. Oleh karena itu kelompok SMA dan SMP menjadi kelompok yang gemuk. Tiap kelompok mempelajari tahapan perkembangan yang sudah ada dalam modul. Kemudian, Guru Rizky Satria yang memandu sesi ini mengajak guru-guru untuk mengisi peta empati. Guru-guru diajak memahami muridnya. “Seandainya Anda jadi murid Anda apa yang murid Anda dengar, lihat, rasakan, pikir dan lakukan?” Guru-guru terlihat antusias dalam menyampaikan pendapatnya, terlihat bahwa sebenarnya guru sudah mengetahui bagaimana murid yang mereka ajar. Namun memang belum menyadari tentang tahap tersebut penting dilakukan untuk merancang sesuatu untuk pembelajaran. “Saya biasanya ya ikut-ikutan yang sedang trends saja di kalangan guru” kata seorang guru saat kami wawancara. Ada pula yang menjawab bahwa biasanya dalam merancang sesuatu dalam pembelajaran dari pelatihan yang baru saja diikuti yang biasanya hanya menjelaskan cara. Sehingga tujuan utama yaitu murid tidak menjadi fokus utama guru. Sesi mengisi peta empati ini guru seperti menemukan AHA! Momen. Sebuah cara yang sederhana namun berdampak. “Sesi ini membuka mata saya untuk lebih berempati kepada murid saya untuk menciptakan pembelajaran yang lebih peka terhadap murid saya.”, ujar Guru Yosef salah satu peserta dari Malang. Dari empati tersebut guru diajak mencari permasalahan yang dialami murid. Dalam sesi ini guru merasa kesulitan, masalah-masalah yang guru jabarkan kebanyakan berkaitan dengan sistem, metodu guru sendiri, dan lingkungan. Fokus masalah murid jarang yang ditulis guru. Seperti awal tulisan ini guru jarang memikirkan apa yang murid butuhkan, lebih sering kepada apa yang guru inginkan. Sistem, lingkungan, dan cara. Pelatih kemudian membantu guru untuk lebih memfokuskan masalah kepada murid. Akhirnya banyak masalah yang muncul seperti murid yang lebih asyik tertarik dengan hal yang lebih menarik seperti bermain gadged, mengobrol dengan teman, murid yang kesulitan dalam mengekspresikan diri, murid yang tidak mengetahui manfaat dari membaca dan lain sebagainya. Permasalahan tersebutlah yang kemudian membantu guru dalam membuat solusi yang sesuai. Banyak ide solusi yang ditawarkan guru yang muncul dari masalah tersebut, seperti : 1. Go-Viral, pemanfaatan media sosial untuk media belajar murid yang muncul dari permasalahan murid yang lebih suka bermain gawai daripada memperhatikan guru menyampaikan materi. 2. Perang Bintang, pemanfaatan permainan tukar bintang dengan bermain peran untuk mengatasi permasalahan murid-murid yang kesulitan konsentrasi. 3. Coll Laborate Acton Advanture, pembelajaran yang mengajak menciptakan petualangan antarkelompok dalam pengerjaaan soal-soal kritis yang dibuat karena latar belakang murid yang memiliki banyak minat yang berbeda. 4. Jam putar, pembelajaran matematika dengan jam yang bervisualisasi tokoh favorit murid untuk memudahkan pembelajaran matematika, inovasi ini dibuat untuk mengatasi masalah murid yang frustasi ketika menemui angka dalam pembelajaran matematika. Senang sekali rasanya melihat guru mulai berinovasi dengan cara memahami murid terlebih dahulu, Jadi pertanyaan dalam kaus Guru Belajar Esensial “Apakah murid Anda merasa dipahami?” sudah bisa terjawab dari apa yang guru lakukan di atas.