Kecerdasan Buatan akan Menggantikan Guru

Apakah judul tulisan tentang kecerdasan buatan ini mengada-ada?Apakah Bapak Ibu guru sudah merasakan “ancaman” kecerdasan buatan? Kecerdasan buatan atau istilah kerennya Artificial Intellegence (AI) semakin mudah ditemui. Sebut saja Google Asisten di Android, Siri di perangkat Apple, Cortana di Microsoft Windows dan Alexa di Amazon. Betapa mudahnya kita meminta bantuan pada kecerdasan buatan ini, dari aktivitas sebagai mesin pencari, pemandu jalan, melakukan panggilan, bahkan menyalakan perangkat listrik di rumah yang sudah tersambung.“Ah itu kan aktivitas sederhana”Oke, coba lihat betapa “mengerikannya” kecerdasan buatan. Di media sosial kita bisa disuguhkan informasi yang didasarkan apa yang kita suka. Iklan-iklan yang muncul berdasarkan kebiasaan kita, dengan memanfaatkan kecerdasan buatan yang mampu mengenali karakteristik jenis foto/gambar yang kita sukai, juga notifikasi/pemberitahuan yang disesuaikan sehingga kita betah berlama-lama. Bahkan ada kecerdasan buatan yang dapat “berkembang kecerdasannya” seperti yang ditanam pada game sepak bola. Pemain yang dijalankan komputer bisa memahami kondisi lapangan, berhati-hati agar melakukan tackle tanpa melanggar aturan. Sadar akan waktu pertandingan dan bahkan menyesuaikan cara bermain lawan. Terdapat pula fitur yang dapat menganalisis hingga memberikan gelar man of the match pada pemain terbaik di pertandingan. Kecanggihan kecerdasan buatan juga sudah dihadirkan di berbagai film baik dokumenter maupun fiksi ilmiah. Mulai dari The Social Dilemma di Netflix, film terkenal Terminator, tayangan anak Kamen Rider Zero-One, hingga AI yang bisa menyembuhkan orang sakit di Transcendence. Bayangkan, bagaimana jika anak bisa difasilitasi belajarnya oleh kecerdasan buatan?Kecerdasan buatan yang akan memberikan informasi baik teks, gambar, video hingga simulasi digital sesuai topik yang sedang dipelajari.Kecerdasan buatan yang akan memberi notifikasi agar murid tenang saat belajar. Kecerdasan buatan yang akan menunjukkan warna merah, suara mengerikan, saat murid melanggar aturan. Kecerdasan buatan yang akan memberikan banyak bintang saat murid berbuat baik. “Kan kecerdasan buatan tidak ada sentuhan personal yang memanusiakan?”Lho, justru teknologi bisa melakukan diagnosis perilaku, dan memberikan personalisasi yang dapat disesuaikan dengan pengguna secara cepat. Bukankah personalisasi yang memanusiakan itu malah jadi tantangan berat jika kita melakukan pembelajaran sekadar dengan cara ceramah? Lalu bagaimana agar guru tidak digantikan kecerdasan buatan? Semangat menghadirkan teknologi masa depan, di pembelajaran masa kini dilakukan oleh #1000Pembicara beserta 3460 peserta saat #BelajarDiTPN7 (Temu Pendidik Nusantara). Terdapat lebih dari 380 kelas di acara yang diselenggarakan Komunitas Guru Belajar Nusantara dan Kampus Guru Cikal ini. Pada 12 – 13 Desember 2020 para guru saling belajar dan berbagi praktik baik pembelajaran. Alih-alih menyalahkan teknologi, para guru justru mengombinasikannya dengan pedagogi. Para guru yang tidak sekadar menggunakan teknologi untuk mempermudah pembelajaran direpetisi. Tidak sekadar menjadikan teknologi sebagai alat mengalirkan informasi. Bukti bahwa kecerdasan buatan tidak bisa menggantikan para guru ini. Baca Juga: Pasar Praktik Baik itu Bernama Kelas Kemerdekaan Seperti apa pembelajaran yang dibagikan dan dipelajari di Temu Pendidik Nusantara ke-7?Seperti apa guru yang sulit digantikan kecerdasan buatan?Yaitu guru yang menerapkan pembelajaran 5M (Memanusiakan Hubungan, Memahami Konsep, Membangun Keberlanjutan, Memilih Tantangan, Memberdayakan Konteks). 1. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Memanusiakan HubunganPara guru memanfaatkan teknologi untuk membangun relasi dengan murid dan orangtua. Sehingga pembelajaran yang dirancang menyesuaikan kondisi mereka. Seperti apa penerapannya?Pembuatan media pembelajaran yang diawali dengan proses empati. Memanfaatkan media untuk memahami emosi murid. Penggunaan formulir asesmen diagnostik untuk menentukkan cara yang akan digunakan dalam pembelajaran. Juga pemanfaatan teknologi untuk menghadirkan belajar dengan kegembiraan. Sehingga guru mampu mengajak murid belajar tanpa iming-iming reward seperti bintang, maupun hukuman. Apakah hal serupa sudah Bapak Ibu lakukan? 2. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Memahami Konsep“Kalau hanya memberi informasi, google lebih jago.”Saat ini jika orang penasaran, maka google di genggaman tangan akan menjadi jawaban. Para guru belajar di Temu Pendidik Nusantara ke-7 tidak ingin menjadi guru yang sekadar memberi informasi. Para guru ini melawan miskonsepsi, tidak mau jika hanya memindahkan ceramah ke media virtual. Alih-alih demikian, guru memodifikasi permainan, lagu, video, dan bahkan strategi pembelajaran dengan mengangkat konteks lingkungan untuk membantu murid membangun pemahaman. 3. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Membangun KeberlanjutanJika sekadar memberikan tanda benar dan salah pada jawaban murid, serta memberi nilai berupa angka pada lembar soal, tentu beragam tools sudah tersedia. Nah, saat #BelajarDiTPN7 para guru membahas cara memberikan umpan balik, proses refleksi, hingga memperluas manfaat pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi. Dari proses memberi umpan balik melalui permainan, hingga menyebarkan praktik baik pembelajaran ke lebih banyak jangkauan. 4. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Memilih Tantangan“Mengapa banyak orang kecanduan gawai, tapi sedikit yang kecanduan belajar?”Tahukah Bapak Ibu apa yang membuat game bikin ketagihan? Dan mengapa pembelajaran membuat bosan?Game memberikan berbagai pilihan dan jenjang tantangan. Karena jika hanya ada satu pilihan yang terlalu sulit, maupun satu pilihan saja yang terlalu mudah, sama-sama membuat bosan dan bahkan stres.Apakah pembelajaran di kelas kita juga demikian? #BelajarDiTPN7 menghadirkan para guru yang sudah memberikan pilihan jenis dan cara mengerjakan tugas. Karena para guru ini sadar, bahwa tidak mungkin semua murid diminta membuat tugas berupa video, atau bahkan hanya boleh menulis di kertas folio. Apalagi di saat pandemi mewabah, fasilitas belajar di rumah tidak seperti di sekolah. 5. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Memberdayakan Konteks Bapak Ibu bisa melihat beragam kelas kolaborasi di TPN ke-7, silakan klik di sini. Para guru berbagi bagaimana tetap berdaya di tengah pandemi. Tidak hanya sendiri, namun menggerakkan orang lain dan batas jarak pun dilampaui. Gerakan membagikan praktik baik selama pandemi dengan komik digital, media sosial, hingga berbagi panggung virtual. Banyak sekolah yang saling belajar bersama, meskipun berasal dari daerah yang berbeda. Panduan Pembelajaran 5M bisa diunduh di sini Jadi, apakah Bapak Ibu siap digantikan kecerdasan buatan?Atau pembelajaran 5M akan Bapak Ibu terapkan?Poin mana yang akan Bapak Ibu lakukan?Yuk tulis di komentar, dan juga sebarluaskan!

Literasi Menantang: Dari Aksara ke Sinema

Yeay senangnya!Mengangkat topik literasi, Komunitas Guru Belajar (KGB) Depok mengadakan TPD (Temu Pendidik Daerah) lagi. setelah 3 bulan off. Kali ini TPD berlokasi di kediaman Pak Pandji (salah satu pembicara yang juga anggota KGB) yakni di Kebun Biru, Jl. H. Suaib, Krukut, Limo Depok dengan jumlah peserta 14 orang yang berasal dari TK dan SD di Depok. Seperti biasanya kami juga menyepakati untuk potluck, yakni membawa makanan masing-masing untuk dimakan bersama. TPD yang ke-15 ini kami mengangkat dua materi. Materi pertama adalah “Literasi Menantang: Dari Aksara ke Sinema“. Materi ini dibawakan oleh Pak Uhan Subhan dari SMP Islam Fitrah Al Fikri. Yang kedua berjudul “Keterlibatan Orang Tua dalam Kegiatan Belajar di PAUD”. Dibawakan oleh Pak Pandji Widya dari TK Islam Dian Didaktika. Namun, sebelum materi pertama dan kedua, ada sekilas info tentang TPD dan TPN (Temu Pendidik Nusantara) yang dibawakan oleh Pak Arifin dari SD Binakheir. Dan, yang membuat TPD kali ini makin seru, setelah materi inti selesai ada sesi sharing tentang pendidikan di Finlandia bersama Pak Muhammad Tholchah yang merupakan kandidat Doktor di Tampere University Finland. Wow! Acara dimulai pukul 08.55 WIB dan selesai pukul 12.50 WIB (padahal rencana awal jam 12.00 selesai, karena saking asyiknya diskusi jadi kebablasan, hehe ☺ ) dengan dipandu oleh Bu Handayanih dari SDIT Mutiara Islam sebagai MC. Pembukaan oleh MC dan Pembacaan Ayat suci Al Qur’an oleh Pak Faiz Biamrillah dari SD Islam Kamila Insan Cita hingga jam 09.15. Setelah itu dilanjutkan dengan info TPD dan TPN hingga jam 09.50. Saat memberikan info-info Pak Arifin menggunakan slide yang diantaranya terdapat foto-foto yang membuat peserta tertarik. Salah satu info yang disampaikan adalah bahwa TPN 2019 diadakan tanggal 25-27 Oktober 2019 di Sekolah Cikal, temanya adalah . Aktivitas Literasi dengan Komik dan Youtube Akhirnya materi inti yang pertama pun digelar, yakni tentang Literasi Menantang yang disampaikan berdasarkan pengalaman Pak Uhan di sekolahnya yang notabene adalah siswa SMP. Di awal materi, beliau memaparkan literasi dalam pandangan awam, diantaranya adalah: membaca bukan aktivitas penting, membaca hanya membuang waktu, dan membaca adalah aktivitas berbahaya. Beliau pun memaparkan tahapan menjadikan bacaan menjadi sebuah film yang bisa dinikmati oleh lebih banyak orang dan bernilai seni tinggi serta membuat bangga orang-orang yang berkontribusi di dalamnya. Diawali dengan membaca semua novel yang berjudul sama, siswa kemudian diminta untuk membuat alur grafis dalam sebuah kertas besar, lalu dibuat menjadi komik. Setelah itu, siswa menjadikan komik itu sebuah film pendek dengan produser, sutradara, pemeran, dan semua kru berasal dari siswa dan diunggah ke youtube. Apakah berakhir sampai disini? Oh tidak! dewan guru masih ingin memberikan tantangan pada siswa dengan mengadakan festival dan mengundang banyak orang. Selain itu tiap ada kegiatan di luar para siswa juga mempertontonkan film hasil karyanya hingga membuat mereka bahagia. Pak Uhan memberikan inspirasi baru bagi kita semua, ternyata dari sebuah bacaan dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang jauh lebih menarik. Beliau juga menekankan pentingnya guru hingga mencoba membuat buku sebagai sebuah karya. Melibatkan Orangtua di Sekolah Pemaparan materi kedua dimulai pukul 10.45 hingga 11.15, yakni tentang pengalaman Pak Pandji selama bergelut dengan dunia PAUD dan TK. Beliau memberikan banyak tips pada para peserta bagaimana caranya agar orangtua dapat terlibat aktif di sekolah. Tips diantaranya: saat pertemuan awal dengan orang tua ada akad (perjanjian). Salah satu isinya tentang kewajiban orang tua hadir saat ada kegiatan parenting. Menugaskan kordinator kelas (korlas) sebagai seksi dokumentasi saat ada kegiatan. Berikan wewenang pada mereka untuk menyebarkan hasilnya ke orang tua siswa yang lain; memberikan tantangan pembelajaran di rumah untuk siswa bersama orang tuanya. Tips dan trik dari Pak Pandji sangat membantu kami mendapatkan ide-ide baru dalam upaya merangkul orang tua. Sehingga orangtua bisa terlibat aktif dan membantu dalam proses pendidikan anak-anak. Sesi terakhir adalah sharing dari teman pak Pandji, pak Tholchah. Beliau tinggal di Finlandia dan saat ini sedang pulang ke Indonesia. Selama 3 bulan di Indonesia melakukan penelitian tentang guru TK laki-laki. Beliau memberikan pencerahan pada kami tentang pendidikan di sana. Banyak hal yang selama ini belum kami ketahui terutama tentang tidak mudahnya negeri kita mengikuti sistem seperti di sana. Karena banyak perbedaan antara Indonseia dengan Finlandia. Ada beberapa hal yang bisa kita adopsi namun ada juga yang tak bisa. Dan tentu saja kita harus bersyukur dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh bangsa ini. Insyaallah bisa menjadi modal untuk kemajuan pendidikan kita ke depannya. Alhamdulillah, setelah sekian lama tidak mengadakan TPD, di hari itu kami semua merasa puas. Dan mendapat banyak pencerahan dan inspirasi. Terima kasih Bu Widhya dan Pak Arifin sebagai Koordinator. Terima kasih kepada panitia, terima kasih para pembicara, dan terima kasih pada semua peserta. Mari senantiasa semangat belajar untuk menjadi Guru yang Merdeka Belajar! Ingin Memahami Tentang Literasi Lebih Lanjut? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 19Miskonsepsi LiterasiUnduh Gratis klik

Murid Sekarang Tak Tahu Aturan, Dijadikan Teman Malah Kebablasan, Bagaimana Mengatur Kelas?

Mas Hartawani, KGB Kotawaringin Barat Bertahun tahun mengajar, Tantangan terasa semakin berat. Murid jaman sekarang lebih aktif dan kritis. Hukuman tak lagi mempan. Memposisikan murid sebagai teman pun, justru malah tak di hormati. Capek pasti ya mengalami hal tersebut setiap hari? Ingin mengatasinya? Bagaimana mengatur kelas? Mari kita belajar bersama  Ibu Ely Virgijanti yang berasal dari KGB Surabaya, Beliau sudah  5 Tahun menjadi pendidik di Sekolah Cikal Surabaya.  Silahkan bu Ely Virgijanti untuk menyapa Bapak ibu  yang ada diskusi kali ini sekaligus menyampaikan praktik baiknya dalam melaksanakan pengelolaan kelas. Ely Virgijanti, KGB Surabaya Langsung ke berbagi praktik ya 1. Ajak murid membuat kesepakatan kelas. Ini bisa dilakukan di waktu kapanpun. Tidak ada kata terlambat. Tetapi memang lebih tepat di awal tahun ajaran. Saya ajak murid murid berbagi tentang kenyamanan belajar. Saya berikan kesempatan kepada mereka memberikan usulan aturan aturan yang diperlukan supaya situasi kelas bisa nyaman dan aman. Tekankan pada kenyamanan dan keamanan bersama. Dalam kelas yang besar mereka bisa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk berdiskusi dan setelah itu ajak diskusi dalam kelompok besar. Saya kupas satu per satu. Kenapa aturan itu diperlukan? Apa yang akan terjadi apabila tidak dilakukan? Jadi murid saya ajak memahami  konsekuensi dari sebuah tindakan. Ingat konsekuensi bukan reward atau hukuman. Mas Hartawani, KGB Kotawaringin Barat  Wah, sangat menarik  konsepnya. Saya akan buka diskusi dengan 2 Termin, Pada termin saya akan  pilih tiga Penanya untuk menyampaikan pertanyaan. saya persilahkan kepada : Salsabila Dhea Hilal Rizki Nur Syifa 18 1. Salsabila Dhea Pertanyaan saya, bagaimana kalau anak anak ini datang dari culture yang tidak paham namanya kesepakatan,bagaimana jika anak anak ini malah memberi kesepakatan yang maaf malah nyeleneh atau di luar yang kita harapkan seperti, “bu saya tidak mau banyak menulis dan latihan” tapi dalam prakteknya saat ulangan mereka tidak menyerap materi apapun. 2. Ely Virgijanti KGB Surabaya Selalu ada pengalaman pertama ,  kerja sama yang baik antara sekolah, guru dan orang tua memang diperlukan. “Kesepakatan yang nyeleneh”, makanya disini ada diskusi bersama bu salah satunya membahas perlu tidaknya aturan tersebut untuk menjamin kenyamanan belajar. Jadi bukan berarti apa yang diusulkan murid langsung diterima. Setelah diskusi ini aturan aturan yang disepakati akan mengerucut bu. Dalam diskusi pemahaman akan aturan dan konsekuensinya harus benar benar didapatkan oleh murid dan ini membutuhkan waktu. “Anak tidak mau menulis dan latihan, padahal tidak menyerap materi.” Yang perlu ditanyakan disini adalah apakah itu gejala atau masalah sebenarnya. Apa yang membuat dia tidak mau menulis. Sudahkah ada diferensiasi. Pertanyaan ini lebih tepat dijawab saat diskusi materi diferensiasi. Hilal Rizki Cara ini sudah pernah saya terapkan Bu tetapi tidak berhasil, malah terkadang siswa sering kali melanggar,dan penyebabnya ya dari siswa sendiri yang sepele akan kesepakatan yang dibuat apalagi disekolah saya bisa dibilang si pembuat masalah anak yayasan, Jadi gimana itu Bu Ely Virgijanti KGB Surabaya Penerapan dan pemahaman konsekuensi perlu dilakukan secara konsisten. Biasanya pendiskusian masalah akan dilakukan hanya pada saat pelanggaran terjadi. Padahal seharusnya dilakukan rutin, jangan menunggu ada masalah. Saya selalu memulai kelas dengan melakukan ngobrol ringan dengan murid dan saya selipkan diskusi kesepakatan kelas. Diskusi ini juga bisa dilakukan di akhir pelajaran, menjelang pulang. Ajak mereka merefleksikan pengalaman mereka belajar di hari tersebut apa yang perlu ditingkatkan, apa yang perlu diperbaiki. Biasanya diskusi ini saya lakukan 15 menit. Nur Sifa 18 Saya punya murid masih belum mengenal padahal usia sudah cukup aja Bu dan anak ini diberitahukan ortunya sekolah duduk saja. Nah anak ini sering tidak mematuhi peraturan Bu contohnya sering terlambat. Diberikan kesepakatan tidak ada perubahannya Bu masih seperti anak TK perilakunya  padahal sudah kelas 1 SD. Ely Virgijanti KGB Surabaya  Kesepakatannya berupa apa bu? Diskusi dengan orang tua perlu dilakukan, kenapa datang terlambat. Apakah benar masalahnya di murid tersebut? Atau justru keterlambatan tersebut diakibatkan pihak lain. Saya pernah memiliki murid seperti ini, dan keterlambatan mereka lebih diakibatkan hal yang diluar kendali mereka, seperti orang tua yang berangkat terlambat atau perlu mengantar adik dulu. Apabila sudah diketahui penyebabnya perlu dilakukan diskusi dengan murid dan orang tua untuk mencari solusi. Saya ajak murid ini reflektif akibat dari keterlambatan test. Nyaman tidak kalau terlambat. Alhamdulillah keadaan berubah bahkan murid tsb bisa mengatur waktu bagaimana supaya tidak terlambat dan mengingatkan orang tuanya kalau utk masalah duduk saja, sepertinya perlu dicari tahu penyebabnya. Jangan jangan dia merasa tidak nyaman dengan situasi belajar atau ada permasalahan lain.  Hilal Rizki Hampir setiap pertemuan saya memberikan konsekuensi terhadap mereka yang melanggar kesepakatan,dan saya juga melakukan refleksi ya walaupun masih belum bisa konsisten, itu karena kadang saya merasa kesal sendiri akibat ulah si anak yayasan Bu Karena setiap saya beri konsekuensi dia merasa ada dukungan dari orang tuanya, Jadi gimana caranya mengatasi anak yang seperti itu Bu Soalnya saya khawatir anak yang lain pada ikutan Ely Virgijanti KGB Surabaya Memberikan konsekuensi? Disini saya memahaminya seperti sebuah hukuman pak. Konsekuensi menurut artinya adalah akibat dari perbuatan tersebut. Saya pernah memiliki murid yang juga anak pemilik sekolah. Di awal saya diwanti wanti untuk hati hati. Saya menerapkan hal yang sama ke semua murid. Pemahaman dan penerapan konsekuensi dari sebuah perbuatan. Apabila dirasa masih belum cukup, diskusi dengan orang tua memang diperlukan. Diskusi bertiga juga diperlukan untuk mencari sumber masalah dan solusi yang tepat. Bisa juga dibuat kontrak antara guru, orang tua dan murid. Oh ya kesepakatan kelas (aturan kelas yang sudah disepakati) saya infokan juga ke orang tua melalui surat karena setiap orang tua diharapkan memahami cara belajar dan aturan yang telah disepakati di sekolah. Mas Hartawani KGB Kotawaringin Barat Baiklah, untuk 3 Penanya saya  rasa sudah cukup dulu untuk jawaban yang sudah disampaikan Bu Ely Virgijanti. Berikutnya untuk termin kedua saya  persilahkan dua orang penanya lagi untuk menyampaikan pertanyaan terkait dengan pengelolaan kelas. Yaitu : Amalia dari KGB Rembang Choifah dari Jepara Amalia dari KGB Rembang Kami biasanya memperlakukan anak didik layaknya teman,… kami berharap dengan begitu akan muncul rasa nyaman pada diri anak, agar proses pembelajaran bisa menjadi menyenangkan…. Namun saat ini, yg terkesan malah guru sering diabaikan dan anak cenderung tdk hormat… mohon solusinya bu.. terimakasih. Mas Hartawani   KGB Kotawaringin Barat Baiklah Ibu Amalia, sudah … Read more

Bermain Sambil Belajar, Perlukah?

Bermain sambil belajar. Hal ini sering dianggap sebagai solusi untuk agar tertarik belajar. Sebelum kita bahas lebih lanjut, yuk lihat percakapan berikut:A: “Si W ternyata setiap pulang sekolah kalau tidak ke warnet gim, ya ke rental playstation, pantas nilainya turun”B: “Lhah kalau Si X, Y, Z kata orangtua si X kalau di rumah suka main game di HP bersama di teras sampai maghrib, kewalahan buat memberi tahu”A: “Pantas nilai mereka turun, kapan belajarnya “ Familiar dengan percakapan ini?Kita mungkin pernah menyimpulkan bahwa murid lebih mementingkan hobi, atau bahkan bermain dibanding sekolahnya. Lalu guru tertentu justru menjadikan hobi murid, dan bermain sambil belajar sebagai media atau sumber belajar. Seperti yang bisa dilihat pada kolom komentar post instagram.com/kampusgurucikal ini View this post on Instagram A post shared by Kampus Guru Cikal (@kampusgurucikal) on Nov 3, 2019 at 4:19am PST Dari kolom komentar kita dapat temui guru yang bercerita pernah membahas permainan kesukaan murid, dan bahkan mengajak murid bermain sambil belajar di kelas. Namun sebenarnya perlukah kita memakai permainan di dalam kelas saat proses pengajaran? Pada Temu Pendidik Nusantara 26 Oktober 2019 yang lalu. Kampus Guru Cikal menyajikan topik “Aktivitas Belajar Bermakna Melalui Permainan Papan”. Kelas ini menjadi salah satu kelas kompetensi yang bisa dipilih peserta. Ada 27 orang termasuk 6 orang guru Jeneponto dari Program Playground of Ujung Pandang menjadi peserta kelas ini. Kami belajar mengurai miskonsepsi belajar melalui permainan. Belajar sambil bermain. Kita juga belajar menyusun pengajaran bermakna melalui permainan papan Jelajah Nusantara Edisi Ujung Pandang. Kelas ini dipandu oleh 2 orang pelatih, Guru Maman Basyaiban dan Guru Hadrawi. Guru Maman dari Kampus Guru Cikal sedangkan Guru Hadrawi dari Komunitas Guru Belajar Regional Sulawesi Selatan. Agar membangun keakraban antarpeserta yang juga berasal dari berbagai daerah. Di sesi awal pelatih mengajak bermain peserta melalui berkenalan dengan menyusun kalimat berima. “Perkenalkan nama saya Maman, saya suka menyiram tanaman”. Setelah mencari diksi yang tepat untuk kalimatnya, peserta “berburu.” Apa yang diburu? Peserta berburu untuk berkenalan satu sama lain. Muncullah kalimat seperti “Nama saya Misbah yang tetap Tabah”. Adapula “Saya biasa dipanggil Joko, dan saya orang jowo” dll. Usai perkenalan dan pembagian kelompok. Kelas dilanjutkan dengan drama dua cara pengajaran bermain sambil belajar dengan Tema Jual Beli. Peserta berperan sebagai murid, pelatih sebagai guru. Tidak hanya bertindak sebagai murid, peserta akan mendiskusikan perbedaan pengajaran 1 dan pengajaran 2 dari sudut pandang murid. Saat pengajaran satu, guru mengajak murid bermain sambil belajar. Permainan dilakukan dengan bernyanyi lagu Naik Delman membentuk lingkaran. Sembari lagu dinyanyikan kartu bergambar barang-barang yang dijual di pasar diedarkan. Barang kemudian berpindah tangan antarmurid. Saat lagu berhenti maka kartu yang dipegang adalah kartu yang didapat murid. Guru kemudian mengajak murid menulis barang yang didapat sesuai gambar di kartu. Guru meminta murid secara acak untuk segera mengumpulkan tugas dengan batasan waktu 3 menit. Berpindah ke pengajaran 2. Guru membuka kelas dengan menanyakan aktivitas apa yang sering dilakukan saat di rumah. Murid menyebutkan berbagai aktivitas dari bermain, berkumpul keluarga, hingga dimintai tolong orang tua. Obrolan guru murid ini berlanjut pada topik membantu orangtua, hingga guru mengajak murid melakukan bermain sambil belajar. Permainan dilakukan dengan kartu membantu orangtua belanja. Pemain harus menghapal daftar belanjaan dari kartu yang teks dan gambarnya berbeda. Selesai permainan guru mengajak murid mendiskusikan. “Apa yang sulit saat berbelanja dalam permainan?” Murid mengatakan lupa daftar belanja. Guru pun meminta murid berdiskusi bagaimana tips agar bisa belanja dengan baik. Beragam jawaban dipresentasikan oleh murid. Dari mengucap berulang, fokus, membawa catatan, membawa contoh barang dll. Guru dan murid memberikan umpan balik atas jawaban yang muncul. Setelah mengalamai dua cara pengajaran dengan permainan. Peserta pelatihan mengidentifikasi perbedaan dari pikiran, perasaan, perilaku murid. Peserta pun menyatakan bahwa cara pengajaran 1 bagian seru hanya di awal saat menyanyi. Namun pengajaran 1 saat penugasan tidak dikoreksi. “Guru memburu-buru pengerjaan tugasnya jadi kadang takut.” “Tugas akhirnya hanya begitu saja.” Sedangkan di pengajaran 2 permainan mengajak murid merasa tertantang. Murid boleh berpikir menemukan cara sendiri untuk solusi permasalahan yang ada sehari-hari. Peserta menyepakati bahwa pengajaran nomor 2 adalah pengajaran dengan bermain yang bermakna. Kelas berlanjut dengan diskusi bagaimana desain strategi belajar dengan permainan yang bermakna. Peserta menyusun puzzle kanvas desain pengajaran. Puzzle disusun di kelompok masing-masing kemudian dipresentasikan. Diskusi begitu dinamis. Beberapa peserta menyusun sambil berargumen dengan memaparkan struktur RPP. Adapula yang mengurutkan dengan alur aktivitas yang biasa dilakukan saat merancang RPP. Di tengah diskusi, bapak Nadiem Makarim. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Datang mengunjungi kelas kami. Beliau ingin mendengar apa yang dirasakan para guru di daerah masing-masing.”Ketika harus mengurus berkas ke provinsi, kadang harus meninggalkan kelas, karena jarak dari sekolah ke provinsi sampai lebih dari 3 jam, belum lagi jika mengurusnya tidak bisa sehari jadi.” Ujar Guru Vivi dari Pesisir Selatan. Dengan antusias kami kemudian melakukan foto bersama. Ada peserta yang mengatakan “Saya pasang foto ini di medsos, kemudian diberi komentar, jadi orang Jeneponto pertama berfoto dengan Mas Menteri yang baru dilantik”. Belajar Memandu Permainan Papan menjadi topik selanjutnya. Peserta mempelajari panduan permainan. Secara bergantian mencoba menjadi pemain dengan pemandu yang berbeda antarkelompok. Pada percobaan pertama beberapa pemandu nampak langsung mengeluarkan semua komponen permainan papan dan menjelaskannya. Peserta tampak menunggu, karena permainan tidak segera dimulai. Pada percobaan kedua, semakin banyak pemandu yang fokus mengikuti alur yang ada pada panduan pemainan. Selesai bermain kami melakukan refleksi. Kondisi apa yang membingungkan peserta? Penjelasan seperti apa yang akhirnya membuat paham? Salah satu peserta mengatakan “Tadi saya bingung, karena melihat pemandu membolak-balik komponen, mengeluarkan semuanya, namun belum dipakai. Pemandunya bingung pemainnya ikut bingung. Sedangkan kami jadi paham ketika pemandu tidak buru-buru dan menjelaskan alurnya satu persatu.” Kami kemudian membuat simpulan Tips Memandu Permainan Papan dengan tabel tampak seperti dan tidak tampak seperti. Selesai sesi memandu permainan papan, peserta menanyakan lebih lanjut tentang permainan papan Jelajah Nusantara. Kita membahas tentang ilustrasi yang dibuat murid-murid Cikal, serta tokoh yang ada dalam permainan. Guru Syam, peserta dari Jeneponto ikut berbicara “Kami orang Sulawesi jadi tahu, tentang Karaeng Pattingalloang, ternyata ada raja dari Gowa-Tallo yang cinta pengetahuan, tadi saya juga mengabarkannya lewat chat ke teman-teman guru yang lain tentang tokoh ini.” Permainan ini menjadi media yang dibongkar … Read more

Bagaimana Cara Memahami Kebutuhan Khusus Murid?

Bagaimana jika di kelas yang kita ajar ada Anak Berkebutuhan Khusus?Apa yang harus kita lakukan?Dan bagaimana agar antarmurid bisa saling menghargai. Yuk SimakTemu Pendidik MingguanKGB Pekalongan ke-22 “Memahami Kebutuhan Khusus Murid” yang menghadirkanGuru Suhud Rois dari KGB Cimahi, dan moderatorMaman Basyaiban dari KGB Pekalongan. Suhud Rois Pergi ke laut naik kapal selamKe laut, kenapa sarungan?Assalaamu’alaikum, selamat malamApa kabar Pekalongan? Maman BasyaibanGula jawa dari arenRasa manisnya begitu kayaMalam Pak SUHUD KerenIzin belajar bareng ya Suhud RoisSiapakah sih , Anak Berkebutuhan Khusus Itu?Kalau membincangkan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) pasti dalam benak kita yang terbayang adalah yang fisiknya tidak sempurna, atau ada disfungsi di satu atau beberapa organ tubuh. Iya?Kemudian berkembang sebuah stigma, yang saya yakin karena latah, anak-anak penyandang learning disability atau learning disorder digeneralisasi sebagai penyandang autism.Sebenarnya, setiap anak (orang), itu berkebutuhan khusus. Tidak ada yang punya kebutuhan sama. Sudah makan malam? Sendirian atau sama orang lain? Misalnya sama satu atau beberapa orang. Makan ditempat yang sama, menunya sama. Bahkan porsinya pun sama, pakai ditakar segala. Apakah benar-benar sama semuanya? Tidak kan? Sama, dalam belajar pun tidak ada yang kebutuhanannya sama persis. Meskipun IQnya sama, bahkan minatnya sama sekalipun, pasti ada sesuatu yang membedakan yang kemudian disebut kebutuhan khusus.Namun karena kelas adalah kumpulan individu, maka tidak mungkin semua kekhususan diakomodir. Dibuatlah pengelompokkan besar untuk memetakan dan memudahkan pelayanan. Maka munculllah istilah kesulitan belajar spesifik (learning disability). Mereka yang termasuk dalam kategori berkesulitan belajar adalah penyandang disleksia, ADHD, dan ADD.Apa Saja yang Dihadapi Siswa Berkesulitan Belajar?• Masalah bahasa• Masalah perhatian dan aktivitas• Masalah ingatan• Masalah kognitif• Masalah sosial-emosi Apa yang Harus Dilakukan?Ketika sekolah membuka pintu bagi ABK, itu berarti suatu langkah mulia. Mengapa? Dalam banyak kasus ABK tidak mendapatkan tempat di sekolah-sekolah. Seolah-olah mereka itu menjadi beban. Namun, menerima saja tidak cukup. Kalau ABK sudah masuk, mau bagaimana? Gurunya siap? Teman-temannya siap? Lingkungannya siap? Tanpa ada kesiapan sekolah, menerima ABK justru mengundang petaka bagi sekolah dan anak tersebut. Nah, apa saja yang perlu dipersiapkan? Yang pertama dipersiapkan adalah gurunya. Guru harus benar-benar memahami dan menghargai keberagaman. Mindset guru tentang kesuksesan sekolah juga harus sudah harus lebih maju. Kesuksesan sekolah bukan diukur oleh pencapaian akademik yang indikatornya adalah nilai UN. Sekolah yang sukses adalah sekolah yang mampu mengembangkan anak, sekolah yang membuat anak berdaya. Guru harus siap untuk melakukan perubahan metode maupun materi pembelajaran. Sebenarnya tidak ada metode yang paling unggul. Yang diperlukan adalah kejeilian guru dalam memilih metode yang paling efektif. Yang kedua adalah orangtua. Orangtua harus didorong menjadi pendidikan anaknya. Mereka harus dilibatkan dalam pembuatan program bagi anaknya. Keterlibatan ini penting untuk menjaga konsistensi. Yang ketiga, mempersiapkan murid yang lain. Ini juga sangat penting, karena merekalah yang akan berinteraksi dengan ABK. Interaksi itu bisa bersifat positif, namun tidak menutup kemungkinan anak berdampak negatif. Oleh karena itu, sebelum ABK masuk kelas, warga kelas harus dipastikan sudah siap menerima teman yang berkebutuhan khusus. Apa yang Harus Dilakukan?• Jangan terburu-buru melakukan judgment. Misalnya ada anak yang sangat aktif, langsung kita ambil kesimpulan anak itu hiperaktif. Tetap lakukan observasi. Jangan lupa, anak tersebut harus dites oleh psikolog.• Bila sudah didapat hasil tes dari psikolog dan juga mendapatkan rekomendasi untuk treatmennya, segeralah membuat program bagi ABK dan juga seluruh kelas. Program yang diberikan kepada ABK harus mendapat support dari lingkungan.• Buatlah pembelajaran yang berdiferensiasi.• Berubahlah. Jangan terpaku pada praktik pembelajaran yang klasik (membaca, menulis, tes). Mulailah mengusung pembelajaran yang mengembangkan banyak aspek pada diri anak. Asesmen dan evaluasi juga jangan terpaku pada paper and pencil test. Pelajari dan praktikkan asesmen dan evaluasi yang lebih relevan dan memberdayakan.• Ini sangat penting : hindari memberi label pada anak. Sekalipun anak tersebut dinyatakan berkebutuhan khusus oleh psikolog. Biarlah itu menjadi bank data yang kita simpan rapat. Apalagi kalau label tersebut keluar dari teman-temannya, maka inklusivitas bisa dikatakan gagal. Pertanyaan Termin 11. Kinanti – BanjarnegaraBagaimana memberi pemahaman kepada anak TK kalo ada teman yg berkebutuhan khusus? Bagaimana mengajak teman2 lain mau main bersama dg ABK penyandang autis yg belum bisa berbicara, dan cenderung memukul teman.2. Yuli – BatangMindset apa saja yg harus dimiliki guru, kongkritnya bagaimana pak?3. Nita – Pekalongan” jangan terpaku pada paper dan pencil test “Ketika ada anak ABK yg agak sulit berkomunikasi, tertarik dgn kertas dan pensil, tapi hanya bisa sebatas coretan yang tak beraturan, seperti benang kusut (coretan semaunya sndri). Langkah apa yang harus dilakukan agar anak tersebut dapat lebih terarah kemamuan menulisnya?Suhud RoisPertanyaan1. Kinanti – BanjarnegaraBagaimana memberi pemahaman kpd anak TK kalo ada teman yg berkebutuhan khusus? Bagaimana mengajak teman-teman lain mau main bersama dg ABK penyandang autis yg belum bisa berbicara, dan cenderung memukul teman?Jawaban :Anak TK, ya? Waduh. Mungkin karakter anak TK hampir sama dengan anak kelas 1. Untuk anak usia awal sekolah, perlu penjelasan yang konkret. Bisa pakai ibarat. Misalnya, apakah mereka punya kakak atau adik di rumah?Apakah sama antara dia dengan adik atau kakaknya?Intinya pada akhirnya anak paham bahwa setiap orang itu berbeda.Bagaimana kalau ada ABK melakukan agresi?Yang pertama jangan sampai keluar kata “nakal”. Apalagi anaknya belum lancar bicara. Kita pahamkan ke anak yang lain bahwa mungkin anak yang berkebutuhan khusus ini ingin mengatakan sesuatu tetapi belum bisa. Akhirnya muncullah kekesalan, dan kemudian memukul. Tapi harus dipastikan juga bahwa memukul orang lain itu tidak boleh. Yang kedua kasih praktik bagaimana berinteraksi dengan anak tersebut. Ketika dia melakukan agresi, kita bisa tanya, “Kamu ingin apa? Kesal,ya? Kenapa kesal?” Karena anak blm bisa bicara, maka guru mencari apa yang ingin dilakukan atau dikatakan anak tersebut dengan mengajukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan anggukan atau geleng kepala.Pertanyaan2. Yuli – BatangMindset apa saja yg harus dimiliki guru, kongkritnya bagaimana pak?Jawaban :Mindset guru tentang kesuksesan sekolah? Masih banyak guru yang memandang keberhasilannya dalam mengajar adalah ketika murid-muridnya mendapat nilai yang tinggi, terutama saat ujian. Tentu saja tidak salah bisa mendapat nilai yang tinggi. namun harus diingat, bahwa tujuan pendidikan yang utama bukan nilai. bahkan dlm UU PendidkanNasional disebutkan yang pertama dari tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang bertakwa. Nah, sudah saaat guru memandang kesuksesan sekolah itu ketika mampu mengembangkan semua muridnya sesuai dengan kapasitasnya, di semua ranah pendidikan.Pertanyaan3. Nita – Pekalongan“Jangan terpaku pada paper dan pencil test “Ketika … Read more

Guru Berkolaborasi Menguatkan Pesan dengan Video

Berangkat ke Temu Pendidik Komunitas Guru Belajar di Bogor sambil bertanya dalam hati “Saya pernah ke sana belum ya?” Sebab meski merasa belum ke sana sebelumnya, bisa jadi saat kecil pernah. Sudah, nanti coba kutanya orang tua di rumah saat pulang kampung. Perjalanan saya lalui dengan kondisi Matahari yang betah dibalik mendung. Dan akhirnya bisa bertemu rekan-rekan Komunitas Guru Belajar Bogor, Depok dan Inibudi.org di SDIT Aliya, lokasi Pelatihan Membuat Video Pembelajaran. Sampai di sana cukup pagi pukul 06.30, berharap waktu yang ada sebelum acara bisa saya gunakan untuk mengakrabkan diri dengan panitia. Mengatur layout ruangan jadi satu hal yang seru untuk memulai pagi bersama penggerak Komunitas Guru Belajar Bogor. Mata sambil melihat ke sekeliling, rak-rak di ruang kelas yang kami pakai begitu rapi, karya-karya anak dan beberapa ayat suci juga menjadi dekorasi. Sesekali saya menanyakan tentang kebiasaan komunitas, dan ternyata 1-2 panitia mendadak dibutuhkan oleh sekolah masing-masing, sehingga belum bisa hadir di awal waktu. Setengah jam sebelum acara dimulai tim inibudi.org hadir dan langsung membuka semua peralatan yang akan digunakan nanti, pengecekan proyektor karena kami akan banyak belajar dengan bantuan visual. Pembukaan ditandai dengan sapaan oleh Penggerak KGB Bogor, KGB Depok dan saya, kami menyampaikan tentang identitas Komunitas yang melakukan kolaborasi di pelatihan video ini. Pengalaman di KGB menjadi bahan bahasan. Ada berbagai pilihan kompetensi yang dapat mendukung karier guru, termasuk sebagai penyedia media pembelajaran berupa video, dan bahkan Youtuber.  Kemudian sambutan Ibu Kepala SDIT Aliya menjadi penanda acara dimulai. Inibudi.org memberikan apersepsi sebelum pelatihan dimulai,  sambil menularkan semangat untuk memberikan variasi cara belajar, salah satunya dengan menghadirkan video sebagai media belajar yang menarik. Perkenalan kami lakukan bersama dengan menyebutkan tontonan favorit. Keberagaman kami begitu tampak dari sini meski banyak Pak Guru yang menyukai bola, namun kanal youtube yang kami ikuti tak selalu sama. Ada yang suka mendengar siraman rohani, tutorial memasak, review, hingga sesuatu yang tampaknya jarang kita temui, hobi menonton proses menempa logam. Semua dalam ruangan semakin semangat saat menentukkan topic video, beragam pilihan muncul. Saking semangat ada kelompok  berkeinginan untuk memasukkan banyak konten, namun tentu saja harus mengurungkan niat karena durasi video yang pendek. Dari sini kami belajar, video yang menguatkan pesan adalah yang merincikan dan mencirikan topik. Salah satu peserta berpendapat, bahwa ini seperti strategi pengajaran yang beliau lakukan. “Murid jadi lebih paham dengan materi, saat satu KD saya bagi lagi dan mendalamkannya. Misal saat pembahasan kata tanya, saya akan memilih untuk membahas kata ‘apa’ hingga anak menyusun lima kalimat menggunakan kata tersebut, dibanding langsung mengajak mereka membuat dua kalimat menggunakan kata ‘apa’, dua kalimat menggunakan kata ‘kapan’, dan satu kalimat menggunakan kapan.” Kreatifitas kami kembali tertantang saat menentukkan properti apa yang akan digunakan dalam video. Salah satu kelompok meminjam rukuh dan bantal milik sekolah, saya kira rukuh akan dipakai untuk memeragakan salat, ternyata malah dijadikan sarung bantal serta selimut. Semua kelompok berusaha jeli melihat sekeliling, selain mencari alat bantu penjelasan materi juga tentu saja setting lokasi pengambilan gambar. Pengalaman mengambil video yang penuh perjuangan meski hanya 2 ½ menit ini, membuat para guru yang menjadi talent belajar banyak melatih intonasi, raut muka, bahkan gesture. Rekan-rekan jadi tahu, untuk membuat video yang berkualitas, latihan perlu dilakukan terus menerus, dan tentu didukung naskah yang disusun dengan sungguh-sungguh. Sembari mengamati proses pengambilan gambar secara profesional, Guru-guru juga didampingi mengatur komposisi ketika melakukan perekaman dengan kamera ponsel. Usai semua rekaman yang kami butuhkan diperoleh, kami belajar editing video sederhana dengan handphone melalui aplikasi KineMaster, saya mengajak melakukan pemanfaatan efek transisi, peletakkan teks dan membahas bersama teks dengan ciri bentuk dan warna seperti apa yang nyaman di baca di video. Antusiasme untuk belajar editing tetap ada, meskipun sudah berada di sesi foto-foto untuk pulang. Acara pelatihan memang sudah berakhir di pukul 16.00 namun Penggerak Komunitas Guru Belajar Bogor melakukan diskusi dan memetakan gerakan yang akan dilakukan ke depan, dimulai dari analisis kebutuhan rekan-rekan, sampai rencana untuk berbagi oleh-oleh Temu Pendidik Nusantara. Sebelum pulang saya dihentikan, dititipi buah tangan berupa buku dari Pak Eka Wardana dan Pak Asep memberi Brownies Bogor, lalu Pak Angga mengajak saya untuk menumpang, karena beliau akan pergi ke Jakarta. Proses belajar di tanggal 27 Oktober 2018 ini membuat saya semakin yakin, semakin banyak kolaborasi yang dilakukan di bidang pendidikan, akan semakin kaya dan menarik hal-hal yang bisa kita bawa ke dalam kelas. Ingin belajar membuat video? Mari bergabung di Klub Guru Belajar Komunikasi Visual