Program Literasi Sudah Terlaksana, Anak Mahir Baca, Namun Tak Paham Artinya

Sudah mengadakan banyak program Literasi di kelas. Niatnya sih meningkatkan kemampuan literasi anak. Mulai dari membuat pojok baca, kegiatan membaca 15 menit di kelas, membaca bersama di pagi hari, berkunjung ke perpustakaan. Waktu dites sih bisa baca eh kok waktu dikasih soal pertanyaan bacaan salah semua hasilnya. Sebelum kita masuk ke materi , saya akan memperkenalkan narasumber kita pada malam hari ini. Guru Indah Nova Ida Manurung dari penabur Internasional Jakarta, KGB Jakarta Barat. Tulisannya telah terbit di media lokal dan nasional  dan Guru Ari Wibowo, Sekolah Cikal Cilandak, KGB Jakarta Selatan. Menggeluti bidang videografi dan menjadi youtuber channel pendidikan. Untuk materi yang pertama kita persilahkan pak ari untuk menyampaikannya dan dilanjutkan oleh bu Indah. Program Literasi Digital yang Memanusiakan Hubungan Ari Wibowo Malam kita akan mengelaborasi literasi. Saya akan berbagi area literasi digital. Materi yang saya sampaikan saya ambil dari buku memanusiakan hubungan dan saya sesuaikan dengan perkembangan kurikulum abad 21.  Terkait dengan literasi digital yang akan saya bagi malam ini saya akan mulai dari pengalaman belajar saya di awal karir menjadi guru di Sekolah Cikal. Apa reaksi anda jika anda bukan seorang yang berlatar belakang pendidikan dengan gelar ahli teknologi / ICT dan anda diminta untuk mengajar atau membawakan materi ajar dengan menempatkan penggunaan teknologi di ruang kelas anda? Atau sebaliknya. Tantangan inilah yang 9 tahun terakhir sampai sekarang terus saya alami di sekolah. Sejak awal, Sekolah sangat terbuka untuk memasukan teknologi dalam basis kurikulumnya. Terasa sekali waktu itu ketika tahun 2010 administrasi sekolah dan pelaporan hasil belajar siswa/i setelah kita buat dengan program Ms, Excel kita laporkan ke kepala sekolah untuk mendapat persetujuan lalu kita cetak (itu jika laporannya 100% benar maka bisa langsung cetak). Saya dan guru-guru lainnya kemudian terbantu dengan sistem akademik sekolah berbasis online yang tentunya membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menguasai program tersebut. Yang mau saya sampaikan adalah ketika label Digital immigrant melekat di diri kita , itu membuat saya termotivasi untuk belajar, Iya, belajar mengenai teknologi yang khususnya akan bersentuhan di lingkungan sekolah dan tentunya murid-murid. Namun, pertanyaanya apakah proses pendidikan terjadi begitu saja di depan layar komputer atau ipad? Apakah murid-murid akan mendapatkan pengalaman yang sama seperti di ruang kelas ketika mereka sedang mengakses Gawai mereka? Lalu bagaimana dengan orang tua yang notabene memberikan pengaruh besar kepada murid ketika mengakses teknologi dirumah? Hubungan-hubungan inilah yang juga menjadi tantangan besar saya sebagai pengajar di abad 21 ini. Tak pernah terbayangkan dalam hidup saya bahwa profesi sebagai seorang guru yang saya jalani sekarang begitu menyenangkan dan menantang. Institusi pendidikan tempat dimana saya bernaung jika saya boleh memberikan dua jempol, kenapa? Karena selama 9 tahun saya mengajar di Sekolah ini saya sangat merasakan perubahan perubahan signifikan terhadap diri saya sebagai seorang pendidik. Oh iya, di kalimat kedua saya katakan profesi saya sebagai guru sangat menyenangkan sekaligus menantang. Kenapa demikian? Saya sadar bahwa saya hidup di abad 21 dan berhadapan dengan situasi pendidikan yang juga berevolusi dan beradaptasi dengan teknologi pendidikan yang pastinya saya dan murid-murid saya temui setiap hari. Saya sadar bahwa saya ini dikategorikan sebagai Digital immigrant sebutan untuk orang-orang yang lahir dibawah tahun 2000-an yang masa hidupnya berlangsung sebelum berkembangnya teknologi komputer seperti sekarang dan murid-murid yang saya ajar konon disebut Digital natives atau mereka sejak lahir sudah akrab dengan teknologi canggih seperti komputer, Ipad, animasi dan sebagainya. Lalu bagaimana saya menempatkan diri sebagai pengajar zaman now yang harus dan mau tidak mau meningkatkan kemampuan tidak hanya dalam menerapkan strategi belajar mengajar namun bagaimana menerapkan dan menggunakan teknologi pendidikan di kelas serta mengkomunikasikannya kepada orang tua. Harapanya setelah TPM malam ini bapak ibu bisa menerapkan kembali di lingkungan masing-masing bagaimana menjadi CERDAS DIGITAL  Beberapa “Salah Kaprah” seputar anak dan Dunia Digital Anak tidak perlu belajar keteramoilan di dunia digital, nanti akan mahir sendirinya Etika di dunia maya beda dengan dunia nyata Semua yang dipublikasikan didunia maya akan hilang dengan sendirinya Transisi antara angkatan analog dengan digital Reaksi wajah terhadap hal baru: CEMAS atau ACUH Jadi jika dianalogikan internet itu seperti pasar. Apakah bapak ibu pernah menyuruh anaknya ke pasar sendiri? Iya sendiri. Bayangkan juga jika pasar itu jauh, bayangkan juga di pasar itu ada apa saja?hmmm iyak tentu ada pedagang, pembeli,orang lain yang tidak kita kenal, penjahat, polisi dan lain lain. Bagaimana peran, guru, dan orang tua dipasar itu? Apa yang dapat anak capai di pasar itu? Bagaimana membuat dan mengatur program literasi digital di rumah dan di sekolah? WAKTU DI DEPAN LAYAR DIGITAL Pastikan waktu berimbang antara waktu di depan layar dan tidak di depan layar, serta jenis kegiatan yang dilakukan saat di depan layar. Sebagai contoh, bermain game selama 30 menit tentu berbeda dengan Skype bersama eyang selama 30 menit, walaupun sama-sama di depan layar. Selain itu membuat suasana belajar di kelas menyenangkan itu bukan datang dari teknologinya saja loh, tapi itu hasil kerja keras kita para guru dalam mempersiapkan materi ajar berminggu-minggu sebelumnya, butuh diskusi panjang untuk merencanakan kegiatan  serta memikirkan media belajar yang sesuai. Dalam memilih dan mencari video pembelajaran misalnya, saya paling sering menggunakan portal youtube untuk mencari video-video pembelajaran dan butuh waktu untuk melihat serta mensortir isi video tersebut apakah layak untuk dimasukan ke rencana pengajaran atau tidak. Murid akan sangat senang memang jika materi ajar disampaikan dan ditambah dengan adanya video tadi karena saya yakin tidak semua murid betah untuk didongengi gurunya tentang Bencana alam, Komunikasi visual, Ekonomi dan lain lain tanpa adanya bantuan teknologi visual. Dalam literasi digital ada istilah 4K dalam proses belajar efektifnya (CERDASDIGITAL.COM) yaitu: KRITIS : Berpikir sebelum berbicara/posting/kirim pesan/gambar Benar : Memeriksa apa yang dibaca, didengar, dan dilihat, di Internet (Nami, 8 tahun) Memberikan dan menyebarkan informasi dengan sadar, siapa yang meminta dan kenapa diperlukan (Liam, 13 tahun) Salah: Sekadar melarang dan berkata tidak, tanpa menjelaskan alasan atau membantu meluruskan tindakan yang tidak tepat (Fia, ibu 2 anak usia 11 tahun dan 9 tahun)  KEAMANAN: Bertanggung jawab dengan menghormati privasi, reputasi, dan etika Benar : Tidak memalsukan usia saat bermain media sosialSalah: Mengirim video/foto untuk mengejek dan mempermalukan orang lain di grup chat/pesan singkat (Amel, 13 tahun)  KOLABORASI: Bertanggung … Read more

Orangtua Memaksa Murid, Guru Bagaimana?

Pernah menghadapi orangtua memaksa murid.Orangtua inginnya anaknya A.Eh kita tahu kalau anaknya sebenarnya minatnya di bidang B.Bagaimana ya guru mengkomunikasikannya? Yuk simak Liputan Temu Pendidik Mingguan ke 125 dengan tema orangtua memaksa murid.(#SeminarOnline Telegram). Jumat, 31 Januari 2020. Pengalaman Menghadapi Orangtua yang Memaksa Murid Ermaida: Teman teman adakah orangtua yang memaksa murid dengan keinginannya dalam belajar. Alinnila:Ada Bu. Orangtua memaksa murid Anak dituntut dapat peringkat 1. Kalau dapat nilai kurang memuaskan yang disalahkan gurunya.  Imroatus Solikah:Pernah orangtua memaksa murid. Membawa anak ke tempat les dan memarahi anak ketika tidak mau belajar di tempat les bu biasanya. Ermaida:Bu Alinila apakah pernah ditegur sama orangtua yang memaksa murid. Karena murid tidak dapat rangking 1? Cerita dong saya penasaran membayangkanya  Alinnila: Bukan saya sih Bu yang menghadapi orangtua memaksa murid. Tapi rekan guru saya. Kebetulan jadi wali kelas.  Ermaida:Sepertinya diskusi kita sebentar lagi kita mulai ya  Sebelumnya saya minta maaf kalau nanti tiba saya terlihat menghilang ini karena pengaruh sinyal. Ini profil narasumber kita hari: Kristijorini mengajar di KB / Tk Kr. Widya wacana Pasar Legi Surakarta. Hobi menulis Menulis beberapa buku kolaborasi (Memanusiakan Hubungan, Literasi Menggerakkan Negeri, Menenun Rinai Hujan, dll dan 1 buku karya sendiri : CPR (salah satu solusi memahami orangtua dan murid) Tinggal di Solo dan punya anak 1 usia 8 tahun Kristijorini:Selamat malam bapak ibu. perkenalkan saya Rini. Narasumber hari ini yang ingin belajar bersama bapak ibu semua. Ermaida:Silakan ibu narasumber  Refleski Narasumber Kristijorini:Terima kasih bu Linda.  Ternyata kita mengalami hal yang sama. Orangtua memaksa murid ☺☺  Tulisan berikut adalah tulisan saya yang di muat di buku Memanusiakan hubungan. silakan dibaca dulu pengalaman saya ini: Menjadi guru yang berbaur dengan berbagai karakter anak adalah tantangan yang menyenangkan. Menyelami tiap pribadi yang unik butuh keahlian khusus yang tidak hanya didapat ketika kuliah. Namun butuh juga menyelami pribadi mereka. Anak adalah duplikat orangtuanya. Mereka adalah bentuk mini dari orangtua. Memahami karakter anak tidak bisa tanpa memahami orangtua. Untuk itulah sekolah perlu melakukan komunikasi yang intens dengan keluarga. Dalam komunikasi dengan orangtua, pasti sering terjadi kesalahpahaman. Kenapa? Karena ekspektasi orangtua pada anak berbeda dengan keinginan anak. Kadang kala guru juga begitu pada anak. Bagaimana guru, murid dan orangtua dapat bersinergi untuk memahami kebutuhan murid? Untuk memahami bakatnya? Untuk memahami keinginan murid? Gunakan data anak. Makin banyak data yang kita punya, makin mudah kita memahami mereka. Hasil asesmen kita sangat penting. Penting untuk membuka kesadaran guru tentang bakat dan keinginan anak. Jika guru sudah menyadari apa yang dimiliki oleh anak, pasti akan mudah mengkomunikasikannya pada orangtua.  Tidak hanya guru, orangtua dan murid saja yang harus saling memahami. Tapi juga pihak lembaga secara keseluruhan. Nah inilah tantangan nya. Tidak mudah. Butuh waktu untuk bisa saling memahami. Menerima kelebihan dan kekurangan murid? Tidak memaksakan kehendak baik orangtua, guru apalagi lembaga sekolah hanya dengan dalih peringkat sekolah  Baca juga: Amalia Jiandra:Silakan dibaca ya bapak-ibu Kami beri waktu 10 menit untuk membaca  Amalia Jiandra:Atau adakah yang mau cerita tentang pengalaman yang serupa yang pernah di alami di sekolah/kelas? Sambil kita menunggu teman-teman lain membaca materinya  Ermaida:Teman teman guru setelah membaca karya tulis Bu Rini. Adakah yang ingin bertanya? Silakan 2 orang penanya tunjuk tangannya. Kristijorini:Paling susah kalau orangtua memaksa ya bu pakai banget. Merasa paling benar. Nah gimana tuh? Kristijorini:Seru nih. Kita berdua ngobrol bu linda. Cerita serunya diomeli orangtua  Umi Hani:Boleh ya bu cerita sedikit, dulu teman satu sekolah pernah diomeli orangtua murid. Gara- gara peraturan sekolah yang tidak sesuai dengan keinginan orangtua.  Kristijorini:Silakan bu Umi. Bagi yang baru online juga boleh curhat. Kita curhat bersama. Kita cari solusinya  Umi Hani:Di sekolah kami dilarang bawa HP. Tetapi saat sidak murid tersebut membawa HP. Maka guru menindaklanjuti hal tersebut sebagai pelanggaran, dengan ketentuan yang sudah disampaikan di awal. Yakni HP tersebut disita selama 1 bulan. Namun belum genap 1 bulan, ibu murid tersebut marah dan mengatai hal yang tidak sepantasnya.  Kristijorini:Boleh tanya bu? Aturan itu disepakati bersama kah dengan orangtua dan anak?  Atau memang aturan itu yang buat pihak sekolah saja? Sudah disosialisasikan kah?  Umi Hani:Iya aturan tersebut sudah disampaikan di awal bu. Namun sepertinya beliau tidak mau tahu.  Juga sudah disosialisasikan.  Kristijorini:Maaf sekolahnya Jenjang SD, atau SMP, atau SMA bu?  Umi Hani:SMP bu Ternyata setelah melakukan penelusuran, bunda dari murid tersebut memang seperti itu. Karena di jenjang sebelumnya, apabila anaknya salah akan selalu membela. Atau menuruti kemauan sang anak (memanjakan). Bagaimana ya mengatasi orangtua yang menganggap sang anak (murid) selalu benar? Mungkin bisa dibagi ilmunya  Kristijorini:Masa remaja memang masa paling seru. Masa-masa membangkang dan menjadi jati diri. Pun begitu juga orangtua. Sering dibikin pusing dengan si anak. Tipe orangtua juga perlu diperhatikan. Kalau saya biasanya melihat aturan tersebut berpihak pada anak atau belum. Relevankah konsekuensi dengan kesalahan anak? Bolehkah kita mendisiplin murid dengan menghukumnya seperti itu? Adakah konsekuensi itu sudah disepakati oleh semua pihak? Sudah tepatkah dengan undang-undang perlindungan anak?  Nah jika memang sudah ada sosialisasi dan disepakati bersama semua pihak tapi anak nekat dan orangtua marah-marah, bagaimana pendekatan kita?  Daciel Junior:Maaf klo sedikit keluar jalur hehheee  Saya punya teman main (sebutan murid bagi saya) dia anaknya cerdas kemandiriannya tinggi, bahkan jika ada home challenge dari sekolah dia bisa mengerjakannya dengan mandiri, temen saya ini anaknya nga enakan, jadi apa yang orangtuanya suruh pasti selalu dilakukan, bahkan hal-hal yang terkadang temen saya ini nggak suka tetap ia lakukan demi orangtuanya. Untuk tahun ini kegiatan dia semakin banyak, mulai dari les akademik, les olahraga, sampai les agama. Kegiatan hariannya full.  Pernah suatu ketika orangtua nya minta pelajaran tambahan ke saya. Saya sudah coba komunikasikan kalau anak itu cerdas dan mandiri. Tapi orangtuanya tetap minta anaknya untuk les. Akhirnya saya tetap ngelesi dia. 40% belajar , 60%nya saya coba ajak dia untuk bermain edukasi yang ringan. Saya tahu dia udah terlalu capek, kadang dia lebih berani curhat kesaya dari pada ke orangtuanya, karna dia takut mengecewakan orangtuanya)  Kalau seperti itu ada tips mengkomunikasikan ke orangtuanya, pak, bu ? Saya sudah coba, tapi karena orangtuanya idealis jadi merasa cara mereka benar, dan itu semua demi kebaikan anaknya  Memahami Murid dan Orangtua Kristijorini:Biasanya di awal tahun ajaran atau tengah tahun ajaran, … Read more

Murid Sekarang Tak Tahu Aturan, Dijadikan Teman Malah Kebablasan, Bagaimana Mengatur Kelas?

Mas Hartawani, KGB Kotawaringin Barat Bertahun tahun mengajar, Tantangan terasa semakin berat. Murid jaman sekarang lebih aktif dan kritis. Hukuman tak lagi mempan. Memposisikan murid sebagai teman pun, justru malah tak di hormati. Capek pasti ya mengalami hal tersebut setiap hari? Ingin mengatasinya? Bagaimana mengatur kelas? Mari kita belajar bersama  Ibu Ely Virgijanti yang berasal dari KGB Surabaya, Beliau sudah  5 Tahun menjadi pendidik di Sekolah Cikal Surabaya.  Silahkan bu Ely Virgijanti untuk menyapa Bapak ibu  yang ada diskusi kali ini sekaligus menyampaikan praktik baiknya dalam melaksanakan pengelolaan kelas. Ely Virgijanti, KGB Surabaya Langsung ke berbagi praktik ya 1. Ajak murid membuat kesepakatan kelas. Ini bisa dilakukan di waktu kapanpun. Tidak ada kata terlambat. Tetapi memang lebih tepat di awal tahun ajaran. Saya ajak murid murid berbagi tentang kenyamanan belajar. Saya berikan kesempatan kepada mereka memberikan usulan aturan aturan yang diperlukan supaya situasi kelas bisa nyaman dan aman. Tekankan pada kenyamanan dan keamanan bersama. Dalam kelas yang besar mereka bisa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk berdiskusi dan setelah itu ajak diskusi dalam kelompok besar. Saya kupas satu per satu. Kenapa aturan itu diperlukan? Apa yang akan terjadi apabila tidak dilakukan? Jadi murid saya ajak memahami  konsekuensi dari sebuah tindakan. Ingat konsekuensi bukan reward atau hukuman. Mas Hartawani, KGB Kotawaringin Barat  Wah, sangat menarik  konsepnya. Saya akan buka diskusi dengan 2 Termin, Pada termin saya akan  pilih tiga Penanya untuk menyampaikan pertanyaan. saya persilahkan kepada : Salsabila Dhea Hilal Rizki Nur Syifa 18 1. Salsabila Dhea Pertanyaan saya, bagaimana kalau anak anak ini datang dari culture yang tidak paham namanya kesepakatan,bagaimana jika anak anak ini malah memberi kesepakatan yang maaf malah nyeleneh atau di luar yang kita harapkan seperti, “bu saya tidak mau banyak menulis dan latihan” tapi dalam prakteknya saat ulangan mereka tidak menyerap materi apapun. 2. Ely Virgijanti KGB Surabaya Selalu ada pengalaman pertama ,  kerja sama yang baik antara sekolah, guru dan orang tua memang diperlukan. “Kesepakatan yang nyeleneh”, makanya disini ada diskusi bersama bu salah satunya membahas perlu tidaknya aturan tersebut untuk menjamin kenyamanan belajar. Jadi bukan berarti apa yang diusulkan murid langsung diterima. Setelah diskusi ini aturan aturan yang disepakati akan mengerucut bu. Dalam diskusi pemahaman akan aturan dan konsekuensinya harus benar benar didapatkan oleh murid dan ini membutuhkan waktu. “Anak tidak mau menulis dan latihan, padahal tidak menyerap materi.” Yang perlu ditanyakan disini adalah apakah itu gejala atau masalah sebenarnya. Apa yang membuat dia tidak mau menulis. Sudahkah ada diferensiasi. Pertanyaan ini lebih tepat dijawab saat diskusi materi diferensiasi. Hilal Rizki Cara ini sudah pernah saya terapkan Bu tetapi tidak berhasil, malah terkadang siswa sering kali melanggar,dan penyebabnya ya dari siswa sendiri yang sepele akan kesepakatan yang dibuat apalagi disekolah saya bisa dibilang si pembuat masalah anak yayasan, Jadi gimana itu Bu Ely Virgijanti KGB Surabaya Penerapan dan pemahaman konsekuensi perlu dilakukan secara konsisten. Biasanya pendiskusian masalah akan dilakukan hanya pada saat pelanggaran terjadi. Padahal seharusnya dilakukan rutin, jangan menunggu ada masalah. Saya selalu memulai kelas dengan melakukan ngobrol ringan dengan murid dan saya selipkan diskusi kesepakatan kelas. Diskusi ini juga bisa dilakukan di akhir pelajaran, menjelang pulang. Ajak mereka merefleksikan pengalaman mereka belajar di hari tersebut apa yang perlu ditingkatkan, apa yang perlu diperbaiki. Biasanya diskusi ini saya lakukan 15 menit. Nur Sifa 18 Saya punya murid masih belum mengenal padahal usia sudah cukup aja Bu dan anak ini diberitahukan ortunya sekolah duduk saja. Nah anak ini sering tidak mematuhi peraturan Bu contohnya sering terlambat. Diberikan kesepakatan tidak ada perubahannya Bu masih seperti anak TK perilakunya  padahal sudah kelas 1 SD. Ely Virgijanti KGB Surabaya  Kesepakatannya berupa apa bu? Diskusi dengan orang tua perlu dilakukan, kenapa datang terlambat. Apakah benar masalahnya di murid tersebut? Atau justru keterlambatan tersebut diakibatkan pihak lain. Saya pernah memiliki murid seperti ini, dan keterlambatan mereka lebih diakibatkan hal yang diluar kendali mereka, seperti orang tua yang berangkat terlambat atau perlu mengantar adik dulu. Apabila sudah diketahui penyebabnya perlu dilakukan diskusi dengan murid dan orang tua untuk mencari solusi. Saya ajak murid ini reflektif akibat dari keterlambatan test. Nyaman tidak kalau terlambat. Alhamdulillah keadaan berubah bahkan murid tsb bisa mengatur waktu bagaimana supaya tidak terlambat dan mengingatkan orang tuanya kalau utk masalah duduk saja, sepertinya perlu dicari tahu penyebabnya. Jangan jangan dia merasa tidak nyaman dengan situasi belajar atau ada permasalahan lain.  Hilal Rizki Hampir setiap pertemuan saya memberikan konsekuensi terhadap mereka yang melanggar kesepakatan,dan saya juga melakukan refleksi ya walaupun masih belum bisa konsisten, itu karena kadang saya merasa kesal sendiri akibat ulah si anak yayasan Bu Karena setiap saya beri konsekuensi dia merasa ada dukungan dari orang tuanya, Jadi gimana caranya mengatasi anak yang seperti itu Bu Soalnya saya khawatir anak yang lain pada ikutan Ely Virgijanti KGB Surabaya Memberikan konsekuensi? Disini saya memahaminya seperti sebuah hukuman pak. Konsekuensi menurut artinya adalah akibat dari perbuatan tersebut. Saya pernah memiliki murid yang juga anak pemilik sekolah. Di awal saya diwanti wanti untuk hati hati. Saya menerapkan hal yang sama ke semua murid. Pemahaman dan penerapan konsekuensi dari sebuah perbuatan. Apabila dirasa masih belum cukup, diskusi dengan orang tua memang diperlukan. Diskusi bertiga juga diperlukan untuk mencari sumber masalah dan solusi yang tepat. Bisa juga dibuat kontrak antara guru, orang tua dan murid. Oh ya kesepakatan kelas (aturan kelas yang sudah disepakati) saya infokan juga ke orang tua melalui surat karena setiap orang tua diharapkan memahami cara belajar dan aturan yang telah disepakati di sekolah. Mas Hartawani KGB Kotawaringin Barat Baiklah, untuk 3 Penanya saya  rasa sudah cukup dulu untuk jawaban yang sudah disampaikan Bu Ely Virgijanti. Berikutnya untuk termin kedua saya  persilahkan dua orang penanya lagi untuk menyampaikan pertanyaan terkait dengan pengelolaan kelas. Yaitu : Amalia dari KGB Rembang Choifah dari Jepara Amalia dari KGB Rembang Kami biasanya memperlakukan anak didik layaknya teman,… kami berharap dengan begitu akan muncul rasa nyaman pada diri anak, agar proses pembelajaran bisa menjadi menyenangkan…. Namun saat ini, yg terkesan malah guru sering diabaikan dan anak cenderung tdk hormat… mohon solusinya bu.. terimakasih. Mas Hartawani   KGB Kotawaringin Barat Baiklah Ibu Amalia, sudah … Read more

Murid Bosan, Ice Breaking Tak Mempan, Muridku Kenapa Ya?

Lia Leonita KGB Depok Setiap murid punya keunikannya masik-masing, dan ruang kelas adalah tempat berkumpulnya karakter unik ini. Terkadang kita sudah berusaha untuk membuat proses pembelajaran menyenangkan, tapi kok masih ada saja siswa yang tidak mau terlibat? masih ada saja siswa yang tetap bosan meski sudah dilakukan ice breaking? Murid saya kenapa ya? Sebelum kita masuk ke materi, saya akan memperkenalkan narasumber kita malam ini. Beliau adalah Ibu Titis Kartikawati. Guru yang mengajar di kelas 5 SDN 09 Sanggau ini mempunyai cara tersendiri dalam memahami karakter murid. Mari kita dengarkan sharing materi dari ibu Titis yang telah 16 tahun menjadi guru. Kepada Ibu Titis, saya persilakan  Titis Kartikawati KGB Sanggau Assalamualaikum, selamat malam teman-teman guru berdaya di seluruh Nusantara!! Apa kabar nih. masih semangat ya? senang dan sangat berterima kasih kepada Kampus Guru Cikal yang mengundang saya untuk berbagi praktik cerdas di TPM malam ini.Pernah punya punya murid yang berkarakter unik dan perlu perhatian khusus tidak? Kalau punya kita diskusi yuk malam ini. Alhamdulillah saya sudah mengajar selama 16 tahun dan sudah mempunyai pengalaman diberi keragaman karakter siswa. dari mulai anak yang karakter pendiam, pemarah, hiperaktif dan lain-lain. Nah saya mempunyai cerita menarik yang mungkin bisa menginspirasi teman-teman semua. dulu ketika saya mengajar di kampung saya mempunyai anak bernama Onal sebut saja seperti itu. Anaknya aktif, sering bikin onar dan kurang sopan. Kadang membuat ribut dan bermain-main di kelas. Kalau saya mengajar dan anak-anak yang lain senang, dia selalu bilang tidak tertarik bahkan pernah mendoakan saya ketika mau ke Jakarta pesawat saya meledak. Ehm rasanya menghadapi dia sangat stres waktu itu. Sering saya berdiskusi dengan teman dan suami saya bagaimana cara menghadapinya. Kata teman-teman saya mereka juga stres menghadapi di Onal ini. Dan mereka memyarankan untuk tidak memperdulikannya. Di cuekin aja bu. Nti juga dia yang akan minta maaf dan baikin ibu kata mereka Tetapi setelah saya renungkan kalau saya ikuti saran mereka nanti tingkah laku Onal akan semakin menjadi. Nah untuk mengatasi hal tersebut saya punya strategi menggunakan Buku Kejujuran (Bujur) Buku ini adalah buku tulis biasa yang saya berikan kepada Onal untuk di tulis permasalahan yang dia hadapi maupun unek-unek yang mungkin sedang memenuhi pikirannya. Bisa juga ditulis apa yang menjadi harapannya terhadap saya selaku gurunya. Saya guru yang terbuka. Tidak mudah tersinggung dengan kritikan karena itu akan menjadi bahan masukan untuk kebaikan saya Lia Leonita KGB Depok Menarik nih bu, lantas bagaimana bujur ini dalam menyelesaikan masalah anak? Titis Kartikawati KGB Sanggau Baiklah… Pertama saya sudah menyiapkan bujur itu untuk setiap siswa. Ketika ada siswa yang bermasalah saya panggil dan saling berdiskusi (hanya berdua) dan tempatnya tidak di kantor. Saya bilang ke murid saya toling kamu isi buku ini dengan tulisan unek-unek atau permasalahan yang sedang kamu hadapi. Kamu bisa cerita sama ibu tentang keluargamu dan harapan kamu terhadap ibu. Nulisnya dirumah saja sambil santai-santai. Singkat cerita, bujur itu sudah diisi sama Onal sebanyak 1 halaman. Dia menceritakan keluarganya. Ternyata dia anak angkat di keluarganya dan dia merasa kurang kasih sayang. Setiap hari tidak diberi uang jajan dan tidak boleh main sepulang sekolah. Aktivitasnya mengurus babi peliharaannya. Mencari umpan, memasaknya dan memberikannya pada babi-babinya (maaf saya mengajar di kampung yang mayoritas non muslim waktu itu). Jadi kesempatan bermain hanya di sekolah dan dia berharap saya menjadi ibu yang lain tidak seperti ibunya yang galak dan suka marah-marah Waktu itu saya sempat menangis membaca tulisannya, saya menyesal sekali sering marah dan menyalahkan Onal serta tidak berusaha memahaminya. Akhirnya saya balas juga tulisannya di buku itu sebanyak 1 halaman juga, seperti berbalas surat. Saya membalasnya dengan meminta maaf sama dia karena selama ini saya kurang memahami dan memperhatikannya. Saya juga berjanji akan menjadi ibu yang tidak galak seperti mamaknya. Tempat curhatnya Akhir cerita kami sudah sepakat untuk menjadi yang terbaik. Dia akan menjadi anak yang baik dan saya akan menjadi guru yang baik Lia Leonita KGB Depok Dari bujur, menjadi sebuah komitmen bersama. kita buka termin pertanyaan ya bu Titis Kartikawati, untuk teman-teman yang mau bertanya, silahkan untuk menyebutkan nama dan asal daerahnya. Pada termin pertama saya buka untuk 3 penanya Tya KGB Kediri Raya Nurul KGB Tulungagung Choifah KGB Jepara Tya KGB Kediri Raya Karakter siswa kan beda ya Bu. Nah buat siswa yang belum mau terbuka bagaimana apalagi baru kenal? Dan bagaimana mengatasi anak yang malas menulis misalnya, dan mempertanyakan buat apa sih Bu begitu. Intinya bagaimana mengatasi penolakan dari siswa tentang program curhat lewat buku itu? Titis Kartikawati KGB Sanggau Di sekolah yang baru saya juga pernah mengalami ini bu. Dia cenderung cuek dan tidak mau menulis bujur. Lalu saya beri pengertian kamu lebih suka cerita secara lisan atau menulis. Kalau secara lisan resikonya nti di dengar kawan-kawan dan guru yang lain. Lalu kita kasih pandangan dan alternatif lain. Nurul KGB Tulungagung Terima kasih. Ide yang super ni dari bu Titis. Dulu saat mengajar di SD dan SMA saya pernah terapkan metode ini dan alhamdulillah memang berhasil. Nah, sekarang saya mengajarnya di TK/RA Bu. Bagaimana ya secara mereka terkadang juga belum bisa memahami perasaan mereka sendiri apalagi menuliskan nya. Kalo diajak main atau ice breaking hanya sesaat saja kadang mau kadang tidak? Titis Kartikawati KGB Sanggau Memang agak susah untuk anak usia RA bu. Karena memang blm bisa menulis. Jadi strategi bujur ini memang untuk anak yang sudah bisa menulis. Tapi menurut saya kalau anak usia RA memang harus banyak diajak bercerita, menggambar emosinya dan kita ajak main. Diajak makan juga mereka akan senang. Intinya memang kita harus berhasil jadi temannnya dulu. Jadi org yang menarik perhatian dan kepercayaannya dulu Nurul KGB Tulungagung Kalo boleh menanggapi nih, misal kan ada tuh anak anak saya yang kalo diberi cerita eh, malah ngantuk padahal saya juga dah bawa boneka dan bersuara aneh aneh seperti binatang gitu heheh… Atau mungkin memang mood nya lagi ga bagus ya. Terima kasih Titis Kartikawati KGB Sanggau Mungkin cari aktifitas lain Bu, bisa kita ajak gantian dia yang bercerita Choifah KGB Jepara Menurut ibu bagaimana cara yang paling tepat menghadapi anak-anak yang butuh perhatian khusus tidur dan tidak peduli apalagi saya mengajar … Read more

Menjadi Guru Merdeka Belajar di Sekolah Biasa Saja

View this post on Instagram A post shared by Kampus Guru Cikal (@kampusgurucikal) on Jun 28, 2019 at 2:04am PDT Mendengar nama sekolahnya saja aku udah malas membayangkan ada di dalamnya. Apalagi menjadi guru di sana, nggak pernah terpikirkan sama sekali. Sebuah sekolah yang dianggap sekolah buangan. Sekolah yang muridnya merupakan buangan dari sekolah lain yang tidak menerimanya.  Namanya SMA 1 Sragi, sekolah negeri yang terletak di pinggiran Kabupaten Pekalongan, 17 Km menuju Kota Pekalongan. Tapi apa dikata, waktu lulus kuliah hanya sekolah itu yang membuka lowongan pekerjaan guru Bahasa dan Sastra Indonesia. “Coba daftar di sana ya!” pinta bapakku. “Tapi kan SMA Sragi Pak..” jawabku Hampir seminggu aku mengurungkan diri dan memikirkan ajakan bapakku untuk mendaftar menjadi guru di sana. Akhirnya setelah menimbang-nimbang, aku pun mendaftarkan diri di sana. Dan mungkin sudah jalannya, aku diterima di sekolah itu menjadi guru. Mau seneng karena keterima sebagai guru, tapi ngajarnya di sekolah yang nggak favorit. Bakal ketemu murid-murid yang “bermasalah”. Ditambah soal fasilitas, pasti ketinggalan jauh sama sekolah-sekolah favorit. Aku bakalan susah menjadi guru kreatif. Akhirnya aku menjadi guru di sana. Di awal-awal mengajar memang selalu menyalahkan banyak hal, seperti : “Ah seandainya ngajar murid-murid kayak sekolah itu, pasti nggak bakal secapek ini.” “Ah seandainya fasilitasnya lengkap, aku pasti udah ini.. Pasti udah itu..” “Ah sedandainya di sekolah sana, guru-gurunya pasti bisa diajak berdiskusi..” Di tahun kedua kemudian saya mulai berefleksi, bagaimana agar aku bisa mengajar dengan baik tanpa menyalahkan faktor-faktor lain? Aku mulai belajar, mengamati murid. Lalu yang aku lakukan adalah menggali tentang siapa yang saya ajar saat ini, dengan melakukan proyek berbicara Kemudian membuat formulir identitas diri yang bisa di isi murid. Saya baca satu per satu bagaimana murid saya, ternyata memang dari latar belakang yang berbeda, ada seorang murid yang hanya tinggal dengan neneknya di rumah, murid yang setelah pulang sekolah bekerja sebagai pembuat batu bata, murid yang bekerja sebagai pencuci piring, murid yang orangtuanya cerai, dsb. Selain itu, banyak murid yang memiliki kebergaman kesukaan, dari yang suka nyanyi, main handphone, mengaji, menggambar, balap motor, mekanik, dsb. “Aku harus buat sesuatu yang membuat apa yang mereka miliki bisa berkembang.” Akhirnya aku mulai merancang pembelajaran dengan memperhatikkan hasil observasi yang aku lakukan untuk mengakomodir murid-murid tersebut. Aku membuat pembelajaran gurindam menjadi panggung rap murid. Aku membuat pembelajaran pantun seperti layaknya Indonesian Idol dengan memanfaatkan diksi-diksi hal-hal yang ada di sekitar murid. Aku mengajak membuat video reportase tentang apapun yang ada di sekitar mereka. Aku mengajak murid membuat video reka ulang adegan perjuangan seseorang yang ada di sekitar mereka. Aku mengajak murid membuat penelitian/karya yang bisa membantu diri mereka/lingkungan mereka. Walau SMA Sragi tidak banyak memiliki fasilitas untuk melaksanakan itu semua, yang aku lakukan adalah memanfaatkan fasilitas yang ada. “Menggunakan laptopku untuk mengganti ketidakadaan proyektor” “Menggunakan handphone untuk mengganti ketidakadaan kamera dan perekam suara” “Menggunakan alat-alat sekitar untuk mengganti ketiadaan alat musik” Akhirnya dari mendobrak keterbatasan itu, lahir banyak karya dari murid-murid dari sekolah yang katanya buangan itu. Karya-karya murid SMA 1 Sragi bisa dilihat di akun Ngeselin Cinema Bagus Satria: Saya rasa waktu membaca sudah cukup. Diskusi kali ini saya buka 2 termin ya… setiap termin saya tunjuk 2 penanya. Bila ingin bertanya, tolong sebut nama. Lilik Nur Indah Apa yang membuat Pak Rizky akhirnya berefleksi? Ada hal apa hingga Pak Rizky terdorong berefleksi hingga bisa menemukan mekanisme belajar yang memanusiakan murid?  Rizky Rahmat Hani Pertayaanya bagus! Hal yang belum saya tulis di atas. Pertama melihat murid yang belajar di sekolah. Aku melihat sekolah sekadar untuk formalitas dapat ijazah. Datang tepat waktu, belajar, dapat nilai, pulang. Namun apa yang dipelajari tidak bisa bantu murid. Aku sedih melihat murid seperti tidak tau tujuan apa yang mereka ingin dapatkan dari sekolah. Sekadar ikut orangtua?Sekadar ingin dapat rangking 1, 2 dapat piala? Kalau belajar membuat mereka senang, pasti nggak perlu ditakut-takuti dulu dengan hukuman. Kalau mereka benar-benar mau belajar, tidak perlu diming-imingi peringkat, hadiah dulu. Itulah yang buat saya refleksi. Kemudian mencoba menghubungkan dengan apa yang disuka murid untuk mejadi jembatan mereka belajar. Fauzan Fajar Bagaimana Pak Rizky mengajak murid membuat suatu karya? Dan bagaimana bapak mengakomodir murid-murid menjadi tertarik dengan bapak?  Rizky Rahmat Hani  Kuncinya,  Jangan memaksa. Saya percaya tiap murid itu unik dan punya peran. Dan yakinkan bahwa setiap peran itu unik. Observasi yang saya lakukan membantu mengetaui peran-peran itu. Saya tahu ada yang suka dance, fotografi, mengaji, suka nulis, suka akting. Dari situ saya mulai berpikir. Bagaimana agar bakat-bakat itu tersalurkan dengan mengakomodir semua.  Jadi bukan kebalikan. Kita punya ide apa, lalu mengajak murid. “Bukan Mau Guru, Tapi Mau Murid” Sayangnya kadang kita kebanyakan gitu. Pengen ini pengen itu, tapi tidak tau sebenarnya apa yang kita (guru) pengen itu, beneran murid pengen tidak? Diah Nurtiara Apakah selama ini ada tekanan sosial terkait keputusan Bapak yang tidak bekerja di sekolah favorit, baik dari segi prestise maupun gaji yang tidak seberapa? Bagaimana bapak menyikapinya? Rizky Rahmat Hani  Ada Bu. Dari teman satu sekolah yang nggak suka lihat saya bikin ini itu. Dari keluarga juga, yang katanya gajinya dikit tapi malah sibuk banget bikin ini itu. Karena menjalaninya dengan senang, malah itu semua membuahkan hasil.Mungkin gaji nggak tinggi. Namun di belakang itu ternyata banyak yang didapat. Bisa masuk Metro TV, Net Tv, jadi pembicara di beberapa pelatihan. Bisa mengembangkan karir jadi guru pelatih, guru videografer. Umi Azizah Kalau untuk anak sekolah dasar yang punya kelebihan hiperaktif bagaimana cara mengaturnya? Karena seringkali mengganggu aktivitas teman lainnya. Rizky Rahmat Hani  Wah ini murid saya banget.Masak pas saya ngajar di kelas ada yang lari. Ada yang main meja. Pokoknya tidak bisa diam. Seperti tadi diawal, akomodir itu semua mejadi aktivitas pembelajaran.Aku pernah bikin kelas Jelajah Sekolah buat belajar Karya Ilmiah. Murid jadi bisa jalan-jalan sambil belajar. Dwi Rudi Seringkali guru-guru di sekolah tidak favorit ogah-ogahan dan  malas berkreasi. Bagaimana supaya kita istiqomah di jalan mengajar yang benar?Bagaimanakah tanggapan dari guru-guru lainnya? Rizky Rahmat Hani  Setuju Pak. Untung saya ikut Komunitas Guru Belajar Pekalongan. Saat lagi down, malas. Ikut temu pendidik di KGB serasa di-charge. Muncul semangat baru. Sering juga kok saya down, beruntung banyak … Read more