Murid Disiplin Tanpa Hukuman, Ini Caranya

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) memberikan beragam tantangan baru bagi guru, salah satunya yakni menerapkan disiplin pada murid. Pasalnya, PJJ dianggap menghilangkan sebagian besar kontrol guru atas kelola dinamika kelas. Pada dasarnya penerapan disiplin saat pembelajaran tatap muka (PTM) dan PJJ tidak jauh berbeda. Keduanya memiliki prinsip yang sama yakni harus menghindari penggunaan kekerasan, baik kekerasan secara fisik maupun psikis. Banyak guru tidak sadar ketika melakukan kekerasan psikis pada muridnya seperti misalnya memarahi murid di depan teman-temannya ketika terlambat, melabeli murid pemalas ketika tidak mengerjakan PR, dan sebagainya. Kekerasan Bukan Solusi Murid Disiplin Bukik Setiawan, ketua Yayasan Guru Belajar menegaskan, kekerasan bukan merupakan metode pendidikan melainkan hasil endapan pengalaman relasi emosional antara pendidik dengan murid. “Mendengar dan patuh merupakan kewajiban yang hanya berlaku untuk anak. Jika tidak patuh maka sah melakukan pemaksaan bahkan dengan menggunakan kekerasan. Ini adalah pemikiran yang kuno,” jelas Bukik. Lebih lanjut, Bukik mengungkapkan, Ki Hadjar Dewantara pernah mengkritik pemaksaan dalam pendidikan adalah ciri pendidikan kolonial. Murid sebagai seorang manusia memiliki kodratnya sendiri sehingga tugas pendidik adalah mendampingi tumbuh kembangnya, bukan memaksa kodratnya. Bukik berpesan agar guru mulai mengenal dan menerapkan disiplin positif, yakni kedisiplinan yang dibangun bersama antara guru dan murid. Kedua belah pihak harus saling mendengarkan, memahami, dan menghargai untuk mengembangkan kesepakatan serta proses belajar yang bermakna. Langkah Membangun Kedisiplinan Tanpa Kekerasan Saat PJJ Maupun PTM Dihubungi terpisah, ketua Kampus Guru Cikal, Elisabet Indah Susanti menyebutkan setidaknya ada dua langkah esensial untuk menerapkan disiplin positif. Pertama, mengubah peraturan menjadi kesepakatan. Berbeda dengan peraturan, kesepakatan melibatkan kedua belah pihak yakni guru dan murid dalam proses perumusannya. “Pertimbangkan pendapat murid agar kesepakatan tersebut memang merupakan milik bersama. Jika murid belum terbiasa mengemukakan pendapat, guru bisa memancing pertanyaan. Seperti meminta persetujuan pada poin-poin kesepakatan yang disarankan oleh guru,” jelas Susan, sapaan akrabnya. Baik guru maupun murid, keduanya memiliki hak untuk menyanggah poin-poin yang sedang dirumuskan. Penolakan terhadap masukan satu sama lain adalah hal yang biasa, namun tentu harus disampaikan dengan bahasa yang baik dan tidak menyakitkan hati. Selanjutnya, Susan menekankan, dalam disiplin positif tidak ada hukuman melainkan konsekuensi logis. Melalui konsekuensi logis, murid diajak untuk memahami apa saja kerugian yang ia terima jika melakukan pelanggaran. Seperti misalnya seorang murid terlambat masuk ke kelas pasca istirahat. Menyuruh murid lari putar lapangan lima kali bukanlah konsekuensi logis. Baca Juga: Disiplin Positif Cara Mendisiplinkan Murid “Tanyakan terlebih dahulu apa alasannya terlambat masuk ke kelas. Oh, ternyata karena tidak mendengar ada bel masuk. Lalu tanyakan ke murid, kira-kira apa solusinya agar tidak berulang? (Misalnya murid mengatakan) harus istirahat di tempat yang dekat dengan bel. Selain itu mungkin guru bisa mengajak murid lain untuk saling mengingatkan ketika susah bel,” jelas Susan. Mendorong murid untuk memperbaiki keadaan, terang Susan, juga merupakan bagian dari konsekuensi logis. Misalnya ketika murid menumpahkan air maka diminta untuk mengepel dengan mempertimbangkan umur murid adalah tindakan yang tepat. Namun tentu dengan pembahasan bahwa lantai basah yang tidak segera dipel bisa menyebabkan orang terpeleset. “Intinya konsekuensi logis itu merespon kesalahan atau pelanggaran murid namun dengan prinsip berhubungan, menghargai, beralasan, dan membantu. Anak bukan dipaksa melainkan diajak untuk memahami. Baik saat PTM maupun PJJ, kedisiplinan murid bisa dibentuk melalui cara ini” pungkas Susan.__________________ Ingin belajar menangani perilaku melanggar murid di kelas?Ikuti pelatihan online berikut ini

Disiplin Positif Di Sekolah

Bagaimana cara menerapkan disiplin positif di sekolah?Diskusi dengan topik disiplin positif ini dibuka oleh Moderator Guru Nisa. Moderator memulai dengan mengenalkan Narasumber yaitu Guru Adelia Oktoryta, dari KGB Makassar. Diskusi ini diikuti oleh 105 peserta tercatat di WAG. Profil Narasumber adalah sebagai berikut:  Aktif di Komunitas Guru Belajar dan Relawan Keluarga Kita Adelia Octoryta memulai kariernya sebagai guru sejak tahun 2010 karena ajakan seorang teman yang ingin membuat sekolah dengan cara pengajaran berbeda dengan sekolah pada umumnya. Saat itu diamanahi jadi guru kelas 2 SD, kelas tertinggi di Rumah Sekolah Cendekia kala itu. 2 tahun mengajar di SD kemudian diamanahi sebagai Kepala Sekolah SD Rumah Sekolah Cendekia hingga 2017. Sejak itu Adelia diamanahi sebagai Kepala Sekolah TK Rumah Sekolah Sekolah Cendekia, sekaligus wakasek SD Rumah Sekolah Cendekia. Saat ini sedang membuat kurikulum literasi berjenjang mulai dari Kelompok Bermain hingga SD untuk Rumah Sekolah Cendekia. Kesehariannya, selain sibuk di sekolah juga aktif sebagai Penggerak Komunitas Guru Belajar Makassar serta Relawan Keluarga Kita. Silakan, ikuti beliau di Instagram.com/adeliaoctoryta  Disiplin positif dewasa ini menjadi sebuah praktik pendidikan yang dirasakan memberi efek positif bagi anak-anak. Dengan menerapkan di siplin positif di sekolah, di rumah maupun tempat lain diharapkan anak-anak mampu :  mengembangkan perilaku positif yang bertahan untuk jangka panjang mengembangakan kemampuan untuk mengelola diri dan tahan terhadap godaan/kesulitan mengembangkan motivasi internal dengan pembiasaan sejak dini.  Ketiga hal tersebut dapat dibentuk dengan membangun sebuah komunikasi yang positif antara guru-murid atau orangtua-anak. Komunikasi yang positif ditandai dengan saling memanusiakan hubungan sebagai salah satu pondasinya.  Definisi Memanusiakan Hubungan Istilah memanusiakan hubungan sendiri diadaptasi dari kata “characterized” yang definisinya adalah “describes characters or quality of …” (Merriam Webster) atau “describe the nature or features of …” Dalam konteks sebuah interaksi dan komunikasi, memanusiakan hubungan berarti menyadari bahwa setiap pribadi memiliki keunikan. Dalam setiap keunikannya, setiap pribadi memiliki harapan dan layak mendapatkan kepercayaan. Dengan sebuah interaksi yang memanusiakan hubungan, anak-anak akan mampu menumbuhkan rasa :  Saya baik  Mampu melakukan hal baik  Saya bisa dipercaya dan Mampu menguasai diri  Saya mampu menyelesaikan masalah  Dan saya memiliki solusi  Saya dapat berkontribusi  Guru/orangtua mempunyai peran penting dalam proses memanusiakan hubungan, antara lain dengan :  mengenali karakter, keunikan dan kebutuhan setiap anak  menghargai ide/gagasan/ inisiatif/kebutuhan mereka  memfasilitasinya dengan menemukan sebuah kesepakatan bersama  Contoh nyata antara lain: membuat kesepakatan di kelas, membuat kesepakatan di area bermain serta kesepakatan menggunakan gawai.  Komunikasi positif adalah wujud dari upaya memanusiakan hubungan. Hal ini menjadi pondasi dalam menerapkan disiplin positif di sekolah, rumah maupun tempat lain.  Setelah peserta diskusi membaca materi yang disampaikan, Moderator memberi kesempatan pertama bertanya kepada Guru Adelia.  Keresahan Guru dalam Penerapan Disiplin di Sekolah Pak Syarifuddin: ‘’ Jika ada perbedaan kesepakatan antarmurid saat mencari kesepakatan. Bagaimana cara mengatasinya?  Narasumber: “Yuk simak panduan membuat kesepakatan kelas berikut:  1. Berupa pernyataan positif yang fokus pada hasil jangka panjang2. Batasi jumlah peraturan, utamakan yang menyangkut hubungan antaranggota kelas (3-5 poin)3. Libatkan murid sejauh mungkin dalam membuat kesepakatan kelas4. Implementasi kesepakatan kelas tidak perlu terburu buru5. Jika ada yang melanggar, harus segera ditindaklanjuti6. Refleksi dan tinjau kembali bila perlu ubah aturan yang tidak berfungsi Sudirman: ‘’Bagaimana cara mengukur ketercapaian berhasilnya  penanaman kedisiplinan peserta didik pada sekolah yang memiliki murid banyak. Apa saja indikatornya?’’  Narasumber: Ada di poin 6 dalam panduan membuat kesepakatan kelas, Refleksi bersama murid sangat diperlukan secara berkala. Bisa disepakati setiap bulan atau setiap dua bulan. Atau saat aturan2 itu sudah terlihat kendor dilakukan anak-anak Dhani : “Bagaimana apabila kesepakatan telah dibuat tetapi masih dilanggar oleh beberapa murid?” Narasumber : Saat membuat kesepakatan, harus ditentukan juga konsekuensinya.  “Jika ada yang melanggar bagaimana ya?”“Kalau ternyata kamu yang melanggar kesepakatan kita, apa yang kamu akan lakukan?” Kisah Praktik Disiplin Positif Narasumber di Sekolah Di kelas kami, ada kesepakatan menahan kaki dan tangan untuk dirinya sendiri. Kesepakatan tersebut berisi 1. Menahan diri dari memukul teman lain secara sengaja2. Menahan menendang teman3. Menahan diri dari menjahili teman secara sengaja  Jika melanggar  1. Segera meminta maaf 2. Mengobati dan menghibur teman yang tersakiti 3. Tidak diajak bermain jika belum bisa menahan diri Di sekolah pernah ada perselisihan dua murid sehingga mereka saling dorong dan menyebabkan pelipis salah satu anak berdarah kena lantai.  Yang kami lakukan, mengobati anak yg terluka dan merangkul si pelaku. Apapun masalah yg terjadi pada anak, pasti ada kisah di balik itu, anak2 perlu dibantu untuk menyelesaikannya bukan sekedar diberi sanksi / hukuman.  Jadi kami mencari tau cerita dari versi pelaku dan cerita dari versi korban. Membantunya mencari solusi dan mengobati sakit fisik dan sakit hati diantara mereka. Kalau perlu menanyai juga saksi2 yang melihat kejadian.  Konsekuensi yang akan dikenai ke mereka pun, harus datang dari mereka(pelaku dan korban) juga.  Supaya saat mereka menjalani konsekuensi itu, mereka belajar terhadap perilakunya  Musbah: ‘’Bagaimana cara menerapkan Disiplin Positif di kelas secara menyeluruh jika ada beberapa murid yang selalu melanggar, meskipun telah diperingati dsb tetap melakukan pelanggaran sehingga teman sekelasnya yang lain protes? Narasumber: ‘’ Lakukan refleksi lagi kesepakatan bersama di kelas, mana yang masih relevan dan mana yang tidak’’  Kalimat Penutup Narasumber ‘’Penerapan Konsekuensi logis hendaknya melibatkan murid dengan melakukan refleksi sehingga murid menyadari sendiri kesalahan dan cara memperbaikinya’’  Moderator menutup diskusi dengan mengajak peserta membuat Refleksi. Serta ucapan Terima Kasih kepada Narasumber & Peserta. Masih penasaran dengan penerapan Disiplin Positif? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 16 Unduh Gratis Disiplin Positif PDFKlik

Orangtua Memaksa Murid, Guru Bagaimana?

Pernah menghadapi orangtua memaksa murid.Orangtua inginnya anaknya A.Eh kita tahu kalau anaknya sebenarnya minatnya di bidang B.Bagaimana ya guru mengkomunikasikannya? Yuk simak Liputan Temu Pendidik Mingguan ke 125 dengan tema orangtua memaksa murid.(#SeminarOnline Telegram). Jumat, 31 Januari 2020. Pengalaman Menghadapi Orangtua yang Memaksa Murid Ermaida: Teman teman adakah orangtua yang memaksa murid dengan keinginannya dalam belajar. Alinnila:Ada Bu. Orangtua memaksa murid Anak dituntut dapat peringkat 1. Kalau dapat nilai kurang memuaskan yang disalahkan gurunya.  Imroatus Solikah:Pernah orangtua memaksa murid. Membawa anak ke tempat les dan memarahi anak ketika tidak mau belajar di tempat les bu biasanya. Ermaida:Bu Alinila apakah pernah ditegur sama orangtua yang memaksa murid. Karena murid tidak dapat rangking 1? Cerita dong saya penasaran membayangkanya  Alinnila: Bukan saya sih Bu yang menghadapi orangtua memaksa murid. Tapi rekan guru saya. Kebetulan jadi wali kelas.  Ermaida:Sepertinya diskusi kita sebentar lagi kita mulai ya  Sebelumnya saya minta maaf kalau nanti tiba saya terlihat menghilang ini karena pengaruh sinyal. Ini profil narasumber kita hari: Kristijorini mengajar di KB / Tk Kr. Widya wacana Pasar Legi Surakarta. Hobi menulis Menulis beberapa buku kolaborasi (Memanusiakan Hubungan, Literasi Menggerakkan Negeri, Menenun Rinai Hujan, dll dan 1 buku karya sendiri : CPR (salah satu solusi memahami orangtua dan murid) Tinggal di Solo dan punya anak 1 usia 8 tahun Kristijorini:Selamat malam bapak ibu. perkenalkan saya Rini. Narasumber hari ini yang ingin belajar bersama bapak ibu semua. Ermaida:Silakan ibu narasumber  Refleski Narasumber Kristijorini:Terima kasih bu Linda.  Ternyata kita mengalami hal yang sama. Orangtua memaksa murid ☺☺  Tulisan berikut adalah tulisan saya yang di muat di buku Memanusiakan hubungan. silakan dibaca dulu pengalaman saya ini: Menjadi guru yang berbaur dengan berbagai karakter anak adalah tantangan yang menyenangkan. Menyelami tiap pribadi yang unik butuh keahlian khusus yang tidak hanya didapat ketika kuliah. Namun butuh juga menyelami pribadi mereka. Anak adalah duplikat orangtuanya. Mereka adalah bentuk mini dari orangtua. Memahami karakter anak tidak bisa tanpa memahami orangtua. Untuk itulah sekolah perlu melakukan komunikasi yang intens dengan keluarga. Dalam komunikasi dengan orangtua, pasti sering terjadi kesalahpahaman. Kenapa? Karena ekspektasi orangtua pada anak berbeda dengan keinginan anak. Kadang kala guru juga begitu pada anak. Bagaimana guru, murid dan orangtua dapat bersinergi untuk memahami kebutuhan murid? Untuk memahami bakatnya? Untuk memahami keinginan murid? Gunakan data anak. Makin banyak data yang kita punya, makin mudah kita memahami mereka. Hasil asesmen kita sangat penting. Penting untuk membuka kesadaran guru tentang bakat dan keinginan anak. Jika guru sudah menyadari apa yang dimiliki oleh anak, pasti akan mudah mengkomunikasikannya pada orangtua.  Tidak hanya guru, orangtua dan murid saja yang harus saling memahami. Tapi juga pihak lembaga secara keseluruhan. Nah inilah tantangan nya. Tidak mudah. Butuh waktu untuk bisa saling memahami. Menerima kelebihan dan kekurangan murid? Tidak memaksakan kehendak baik orangtua, guru apalagi lembaga sekolah hanya dengan dalih peringkat sekolah  Baca juga: Amalia Jiandra:Silakan dibaca ya bapak-ibu Kami beri waktu 10 menit untuk membaca  Amalia Jiandra:Atau adakah yang mau cerita tentang pengalaman yang serupa yang pernah di alami di sekolah/kelas? Sambil kita menunggu teman-teman lain membaca materinya  Ermaida:Teman teman guru setelah membaca karya tulis Bu Rini. Adakah yang ingin bertanya? Silakan 2 orang penanya tunjuk tangannya. Kristijorini:Paling susah kalau orangtua memaksa ya bu pakai banget. Merasa paling benar. Nah gimana tuh? Kristijorini:Seru nih. Kita berdua ngobrol bu linda. Cerita serunya diomeli orangtua  Umi Hani:Boleh ya bu cerita sedikit, dulu teman satu sekolah pernah diomeli orangtua murid. Gara- gara peraturan sekolah yang tidak sesuai dengan keinginan orangtua.  Kristijorini:Silakan bu Umi. Bagi yang baru online juga boleh curhat. Kita curhat bersama. Kita cari solusinya  Umi Hani:Di sekolah kami dilarang bawa HP. Tetapi saat sidak murid tersebut membawa HP. Maka guru menindaklanjuti hal tersebut sebagai pelanggaran, dengan ketentuan yang sudah disampaikan di awal. Yakni HP tersebut disita selama 1 bulan. Namun belum genap 1 bulan, ibu murid tersebut marah dan mengatai hal yang tidak sepantasnya.  Kristijorini:Boleh tanya bu? Aturan itu disepakati bersama kah dengan orangtua dan anak?  Atau memang aturan itu yang buat pihak sekolah saja? Sudah disosialisasikan kah?  Umi Hani:Iya aturan tersebut sudah disampaikan di awal bu. Namun sepertinya beliau tidak mau tahu.  Juga sudah disosialisasikan.  Kristijorini:Maaf sekolahnya Jenjang SD, atau SMP, atau SMA bu?  Umi Hani:SMP bu Ternyata setelah melakukan penelusuran, bunda dari murid tersebut memang seperti itu. Karena di jenjang sebelumnya, apabila anaknya salah akan selalu membela. Atau menuruti kemauan sang anak (memanjakan). Bagaimana ya mengatasi orangtua yang menganggap sang anak (murid) selalu benar? Mungkin bisa dibagi ilmunya  Kristijorini:Masa remaja memang masa paling seru. Masa-masa membangkang dan menjadi jati diri. Pun begitu juga orangtua. Sering dibikin pusing dengan si anak. Tipe orangtua juga perlu diperhatikan. Kalau saya biasanya melihat aturan tersebut berpihak pada anak atau belum. Relevankah konsekuensi dengan kesalahan anak? Bolehkah kita mendisiplin murid dengan menghukumnya seperti itu? Adakah konsekuensi itu sudah disepakati oleh semua pihak? Sudah tepatkah dengan undang-undang perlindungan anak?  Nah jika memang sudah ada sosialisasi dan disepakati bersama semua pihak tapi anak nekat dan orangtua marah-marah, bagaimana pendekatan kita?  Daciel Junior:Maaf klo sedikit keluar jalur hehheee  Saya punya teman main (sebutan murid bagi saya) dia anaknya cerdas kemandiriannya tinggi, bahkan jika ada home challenge dari sekolah dia bisa mengerjakannya dengan mandiri, temen saya ini anaknya nga enakan, jadi apa yang orangtuanya suruh pasti selalu dilakukan, bahkan hal-hal yang terkadang temen saya ini nggak suka tetap ia lakukan demi orangtuanya. Untuk tahun ini kegiatan dia semakin banyak, mulai dari les akademik, les olahraga, sampai les agama. Kegiatan hariannya full.  Pernah suatu ketika orangtua nya minta pelajaran tambahan ke saya. Saya sudah coba komunikasikan kalau anak itu cerdas dan mandiri. Tapi orangtuanya tetap minta anaknya untuk les. Akhirnya saya tetap ngelesi dia. 40% belajar , 60%nya saya coba ajak dia untuk bermain edukasi yang ringan. Saya tahu dia udah terlalu capek, kadang dia lebih berani curhat kesaya dari pada ke orangtuanya, karna dia takut mengecewakan orangtuanya)  Kalau seperti itu ada tips mengkomunikasikan ke orangtuanya, pak, bu ? Saya sudah coba, tapi karena orangtuanya idealis jadi merasa cara mereka benar, dan itu semua demi kebaikan anaknya  Memahami Murid dan Orangtua Kristijorini:Biasanya di awal tahun ajaran atau tengah tahun ajaran, … Read more

Disiplin Positif Cara Mendisiplinkan Murid

Disiplin positif menjadi hal yang perlu didekatkan dengan guru. Sehingga kami pilih menjadi topik dalam rangkaian tiga gelombang pelatihan. Pelatihan ini sengaja kami bagi menjadi  tiga gelombang. Dengan harapan pelaksanaannya bisa efektif dan berjalan kondusif. Tujuan kami mengadakan kegiatan ini mengenalkan keberadaan KGB Jember.  Selain itu, mencoba mengenalkan penerapan Disiplin Positif sebagai salah satu alternatif solusi cara mendisiplinkan murid/anak. Mengapa Perlu Penerapan Disiplin Positif?  Kita semua tahu masih banyak praktek pengajaran yang menggunakan kekerasan sebagai cara mendisiplinkan murid. Guru menggunakannya karena anggapan bahwa murid tidak akan patuh kalau tidak ada yang ditakuti. Karena itulah, guru perlu menggunakan kekerasan supaya murid takut ketika hendak melakukan pelanggaran. Ada juga yang beranggapan bahwa murid tidak akan menghormati guru yang terlalu sabar. Para murid juga akan menjadi anak-anak yang manja jika terlalu disabari. Tetapi ada juga yang berpendapat sebaliknya berkaitan dengan disiplin ini. Bahwa sebagian guru merasa khawatir adanya UU Perlindungan anak.  Mereka takut ketika hendak menindak murid yang melakukan pelanggaran. Mereka takut dikenai hukuman. Akibatnya para guru banyak yang mengabaikan pelanggaran yang dilakukan muridnya. Mereka bingung harus melakukan apa. Mungkin diatasi, tapi tidak ditangani secara serius. Sehingga pelanggaran demi pelaggaran terus terjadi. Baca Juga: Penerapan Disiplin positif adalah jawaban yang selama ini kami anggap paling efektif sebagai cara mendisiplinkan murid tanpa kekerasan. Disiplin positif adalah cara menumbuhkan disiplin yang bersumber dari dalam diri murid itu sendiri.  Dalam penerapannya tidak mengenal peraturan. Semua ketetapan yang berlaku dibuat berdasarkan kesepakatan bersama. Semua kesepakatan  itu dibuat oleh seluruh warga kelas berdasarkan hasil musyawarah.  Ketika menerapkan disiplin positif juga tidak berlaku adanya hukuman. Yang ada adalah konsekuensi. Jadi ketika ada murid yang melanggar kesepakatan bersama, maka murid tersebut harus menerima konsekuensinya. Konsekuensi ini juga hasil dari musyawarah yang telah disepakati dan berkait langsung dengan pelanggaran. Disiplin positif  mengajak murid tumbuh dan berkembang melewati prosesnya dengan mengutamakan proses berpikir. Jadi bukan dengan menasehati, mendikte, atau mendoktrinnya. Tidak memvonis murid ketika melakukan kesalahan. Karena kami meyakini bahwa yang dibutuhkan anak-anak adalah proses mengalami, memahami, menganalisa, kemudian menyimpulkan sebelum sampai pada tindakan memperbaiki kesalahan. Semua tindakan yang dilakukannya tidak sekedar patuh atau mengikuti seperti orang mabuk, tetapi lebih kepada proses berpikir.  Pelatihan Disiplin Positif KGB Jember Pelatihan gelombang 1 dilaksanakan tanggal  13 September 2019, tempatnya di Perpustakaan Bank Indonesia. Gelombang 2 dilaksanakan tanggal 27 September 2019, yang bertempat di Warung Dalung. Sementara gelombang 3 dilaksanakan tanggal 11 Oktober 2019 di Gedung Telkomsel Jember. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Jumat,  mulai pukul 13.30- 16.00. Peserta yang mengikuti pelatihan ini sangat beragam. Mulai dari orang tua, guru-guru mulai dari jenjang TK sampai SMA/MA/SMK, guru BK, dan juga ada beberapa pemerhati pendidikan.  Pelatihan ini berbentuk diskusi, baik diskusi saat praktek dalam membuat kesepakatan kelas, konsekuensi, maupun dalam mempelajari  contoh kasus di materi video. Video yang kami putar tiap pelatihan tidak sama. Tujuannya agar kami juga bisa mengenali sekaligus mempelajari situasi, kondisi, dan pendapat yg beragam. Kami sengaja memilih metode diskusi karena percaya bahwa setiap peserta memiliki pengalaman yang beragam. Mereka juga sudah terbiasa menangani dan memecahkan masalah-masalah yang terjadi bersama anak/muridnya. Sehingga yang kami harapkan dari diskusi ini adalah semua ide/pendapat/masukan nantinya bisa menjadi kesepakatan bersama untuk kemudian bisa diterapkan di tempat masing-masing.  Berbagai Aktivitas Adapun tahapan-tahapan pelaksanaannya sebagai berikut: Peserta diajak membuat kesepakatan bersama sebelum memulai kegiatan dengan cara berdiskusi. Lalu bermusyawarah untuk membuat/menetapkan konsekuensi dari setiap pelanggaran pada penerapan disiplin positif. Peserta menonton video kasus kekerasan di sekolah, sambil mencari penyebab/sumber permasalahan dari kasus tersebut. Memusyawarahkan /saling tukar pendapat tentang penyebab terjadinya kasus di video tersebut. Kemudian semua pendapat yang telah disepakati ditulis. Setelah menemukan sumber/penyebab permasalahannya, para peserta diajak utuk mencari solusinya.   Seperti dugaan kami, selama diskusi para peserta aktif bertanya maupun berbagi ide/pendapatnya. Meskipun mungkin awalnya banyak yang berupa curhatan. Akhirnya, diskusi bisa mengarah ke pemecahan masalah. Seperti, ada peserta yang bertanya, ” Bukankah kita sudah memiliki aturannya, bahwa kalau mendidik itu tidak boleh menggunakan kekerasan. Tapi mengapa masih banyak yang melakukannya?” Jawaban kami, “Karena itulah KGB Jember hadir di sini. Tujuannya adalah untuk memberikan alternatif solusi cara mendisiplinkan murid yang tanpa menggunakan kekerasan.” Refleksi Peserta Begitu banyak kesan yang mengharukan selama pelatihan maupun sesudahnya. Kami memang sengaja membuka ruang tanya jawab lewat grup atau pribadi, jika masih ada yang ingin ditanyakan berkaitan dengan materi pelatihan.  Seperti yang disampaikan oleh salah satu peserta, beliau guru di salah satu SMP di Ambulu. Beliau mengatakan, “Saya senang mendapat pencerahan hati. Sehingga mengajar tidak perlu marah-marah pada anak yg nakal. Kita harus selalu berpikiran positif pada anak. Karena anak itu belum paham tentang kebenaran yg hakiki. Saya yakin dia akan berubah pikirannya suatu saat karena sadar dan paham tentang sesuatu.” Tujuan yang baik adalah harapan dari semua pendidik. Kami percaya setiap pendidik memiliki tujuan ingin mendisiplinkan muridnya. Akan tetapi, tujuan baik ini tidak diiringi penggunaan cara yang baik. Kita seringkali terjebak pada cara mendisiplikan untuk tujuan sesaat. Seolah-olah  disiplin. Padahal mereka sedang menunggu kesempatan berikutnya untuk melanggar. Mengapa? Karena mereka disiplin bukan karena kesadaran. Tapi disiplin karena faktor dari luar dirinya. Seperti disiplin karena diiing-imingi hadiah atau sogokan. Disiplin yang disebabkan takut dihukum atau sanksi berat. Maka, agar pembiasaan disiplin ini berdampak lama dan  menjadi kebiasaan dalam kesehariannya, penerapan disiplin positif inilah solusinya.

Nasehat Tak Mempan, Masuk Kuping Kiri, Keluar Kuping Kanan

Nia Kurniati: Assalamualaikum Bapak dan Ibu Guru Hebatnya Indonesia! Gimana kabarnya malam ini? Semoga Bapak dan Ibu masih terus semangat ya mengikuti ajang sharing mingguan kita, di TPM. Judul diskusi malam ini “Nasihat Tak Mempan, Masuk kuping Kiri, Keluar Kuping Kanan”. Hai, Bapak/Ibu yang sudah gabung, siap berbagi kisahnya terkait dengan tema kita ya? Faristya Eni: Waaaaaah apalagi saya sebagai guru BK, sering sekali mengalami kaya gini Bu. Sehari dinasihati kadang bisa langsung tobat kadang juga masih kumat.  Nia Kurniati: Sadarkah Bapak dan Ibu, anak-anak zaman sekarang , alias anak zaman milenial, mengalami tantangan yang luar biasa dalam hidupnya? Tantangan sekaligus pengaruh dari perkembangan teknologi yang membentuk mereka menjadi generasi yang dinilai canggih dalam hal teknologi, namun mengalami degradasi nilai. Salah satu hal yang sering terjadi adalah sulitnya memberikan masukan atau nasihat kepada anak-anak. Pernahkah Bapak dan Ibu mengalami kesulitan dalam hal ini? Nurul Badriyah: Tantangan yang luar biasa menghadapi sikap anak zaman sekarang. Pasti banyak faktor yang mempengaruhi sikap anak. Nia Kurniati:  Oiya, sebelumnya, perkenalkan, saya Nia yang akan memoderatori diskusi kita malam ini. Ziqi: Kalau dengan anak-anak saya biasanya ajak bertukar pikiran, mendengarkan apa yang menjadi harapan mereka dan kondisi riil yang mereka lakukan. Ya tapi harus siap dengan berbagai jawaban mereka, ada yang bertahan diam, ada yang mendebat kritis, dan ada pula yang mendebat sekenanya. Kharisma Fassra: Memang benar kita sulit sekali memberikan nasihat. Sampai saya menyadari bahwa saya harus masuk ke dunia mereka. Mereka senang membuat film, saya beri layanan membuat film dengan tema-tema yang sesuai dengan perkembangan mereka, yang membuat mereka jauh mengerti apa yang harus dan tidak boleh dilakukan. Oh ya perkenalkan saya Kharisma guru BK SMA N 3 Demak Jateng. Fathiah Salma: Terkadang anak-anak berantem dan ngobrol sendiri, tidak mau untuk mendengarkan penjelasan dari saya, Bu. Nia Kurniati:  Selama ini bagaimana penanganannya jika siswa Bapak/Ibu tidak juga berubah setelah diberi nasihat ? Ziqi: Setiap sekolah tentu memiliki treatment berbeda menyesuaikan karakteristik dan lingkungan, semangat berbagi semuanya. Waniy: Nggeh, Bu. Mereka minta didengarkan harapannya dan perasaannya tapi masih lupa untuk mendengarkan nasihat. Novi: Dipenuhi kebutuhannya, Bu. Kalau perlu ngobrol dengan temannya dipersilahkan tapi di luar kelas Umy Adhwa (Fitriani): Menurut Pandangan saya, banyak faktor yang menyebabkan hal demikian. Baik pengaruh personal siswa karena kebiasaan pola asuh dan pola didik yang salah, atau karena kurangnya strategi dan metode yang dilakukan oleh Guru. Terkadang kita harus mampu melihat duduk persoalannya. Karena tidak selamanya letak kesalahan terletak pada anak. Terkadang pengamatan saya siswa demikian karena figur guru dan cara pengajarannya kurang berkenan di hati siswa. Siswa merasa tidak nyaman dengan guru tersebut, sehingga apa yang diberi kepada Siswa tidak bisa diterima dengan Baik. Mohon koreksi jika ada yang salah pada perkataan saya. Kharisma Fassra: Sebenarnya jika kami sebagai guru BK, kita lebih mengajak atau mengeksplor apa yang terjadi pada dirinya.sehingga mereka menyadari apa yang dilakukannya itu tidak benar. Dan mereka juga kami ajak untuk mendapatkan solusi dari konsekuensi yang telah mereka lakukan. Memang tidak mudah dan butuh waktu konseling beberapa kali untuk mencapainya. A.Ninik Angraeni M: Perkenalkan saya A.Ninik Angraeni guru Bid. Studi Bhs. Inggris di SMPN 1 Arungkeke, KAB. Jeneponto, Sulawesi SelatanBaru-baru ini,  di sekolah saya ada siswa pindahan dari sekolah Madrasah. Kebetulan dimasukkan ke kelas saya. Jadilah yang bersangkutan anak wali saya,..nah ternyata setelah 2 minggu di sekolah, udah beberapa pelanggaran yang dia lakukan, seperti tidak ikut sholat dhuhur berjamaah, yang ini alasannya karena gak tahu, jadi saya jelaskan ke dia tentang jadwal sholat kelasnya. Terus yang kedua, selama pindah, ternyata dia tidak pernah masuk pada mapel Matematika. Saya tanya kenapa alasannya. Gak jelas, Bu. Terus sudah berjanji mau ikut, tapi terakhir kemarin jadwal MTK ternyata gak ke sekolah lagi, katanya telat bangun. Terus yang terakhir dia kedapatan sedang merokok di area kebun sekolah pada saat jam istirahat, siswa tersebut dibuatkan surat perjanjian oleh Bagian kesiswaan sebagai peringatan terakhir. Nah, Bu, kira-kira saya selaku wali kelasnya, bagusnya bagaimana yah dengan siswa tersebut? Nia Kurniati : Bapak/Ibu, bagaimana perasaan Bapak dan Ibu menghadapi siswanya yang sepertinya kok ya ga mendengarkan nasihat kita sebagai gurunya ? Novi Cakra: Sedih tapi harus evadir (evaluasi diri) Umy Adhwa (Fitriani): Saya merasa tertantang Bu. Selain sebagai Guru Agama, saya juga harus berperan sebagai Guru BK. Saya senang melakukan terhadap siswa yang demikian. Ternyata banyak penyebabnya. Namun setelah berbagai pendekatan kita bisa menentukan langkah untuk mendapatkan solusi terbaik. Entah dengan kolaborasi ataupun Referal jika perlu tenaga khusus A.Ninik Angraeni M: Iya bu, saya bahkan jadi jaminannya kalau dia berbuat kesalahan lagi…. Sejauh ini saya hanya melakukan pendekatan personal ke dia, kalau dia tidak ke sekolah, saya chat dan tanyain alasannya, selain itu saya harus gimana lagi yah, Bapak/Ibu? Nia Kurniati:  Sedih pasti ya Bapak dan Ibu. Tapi sebagai guru, itu jadi tantangan yang luar biasa….Dan seperti Bu Novi sampaikan, sebagai guru, perlu juga kita melakukan evadir   Nah, Bapak dan Ibu, untuk membahas lebih jauh tentang hal ini, kita akan ditemani 2 narasumber untuk menggali lebih dalam tentang topik malam ini. Untuk itu, saya perkenalkan narasumber-narasumber hebat kita Pak Huda dan Bu Rani. Pak Huda dari Sekolah MI Al Huda Malang, Bapak dan Ibu. Dan Ibu Rani dari Sekolah Menengah Cikal Jakarta Timur. Huda : Assalamu’alaikum bapak/ibu guru Indonesia.. selamat datang d acara diskusi temu pendidik mingguan. Rani Indirani : Assalamu’alaikum Bapak dan Ibu semuaaa.. Haiii.. Saya Rani, dari Sekolah Menengah Cikal Amri Setu, Jakarta Timur. Huda: Terimakasih ibu moderator atas kesempatan yang diberikan, sungguh kesempatan yang luar biasa bagi kami di malam hari ini untuk berbagi dan belajar bersama-sama dalam temu pendidik mingguan seri ke 113. Pada kesempatan ini saya ingin mengambil tema “MotivAksi-Menyelaraskan antara semangat dan Aksi” Suatu hari saat menjelang Ujian akhir nasional, kami mengumpulkan siswa kelas 6 untuk mengikuti kegiatan motivasi di aula, kami mendatangkan motivator yang berpengalaman, banyak materi yang disampaikan oleh motivator, saat sesi renungan para siswa pada nangis karena tersentuh dengan kata-kata sang motivator, mereka menangis sambil memeluk orangtua dan bersalaman meminta maaf bapak/ibu guru. Hari itu suasana haru di aula begitu berkesan, tapi selang beberapa hari kemudian bisa ditebak bagaimana ceritanya, mereka kembali … Read more

Disiplin Tak Dipatuhi, Dihukum Malah Mengulangi, Solusinya?

Nurlina : narasumber pada malam ini adalah Nur Hamidah sebagai guru di SDI Ma’mur Ni’mah. Selain itu, seorang Ibu yang diamanahi lima buah hati dua diantaranya kembar special needs. Beliau sangat senang membaca dan menulis.  Motto “Sesungguhnya mengajar itu belajar”  Nur Hamidah: Pernahkan bapak/ ibu mengalami hal semacam ini? Ragil: Hampir setiap hari M. Z Nisa: Pernah, setiap hari setiap pagi  Nur Hamidah: Hampir setiap hari kan? sama berarti, lalu bagaimana sikap kita? langkah apa saja yang kita ambil? apakah langsung memberikan hukuman tanpa klarifikasi terlebih dahulu? anak/ peserta didik langsung di strap?  Amikamizar35: klarifikasi dulu, cari tahu pangkal masalah M. Z Nisa: Pendekatan personal untuk melakukan klarifikasi Nur Hamidah: Dulu saya mengalami bahkan saat ini pun masih saya terus belajar dan memperbanyak referensi membaca tentang disiplin positif tanpa hukuman. Dulu ketika anak tidak mengerjakan PR, tidak piket saya suruh lari mengitari halaman sekolah bahkan pakai denda akan tetapi tidak juga berubah bahkan anak- anak lebih suka memberikan uangnya di kaleng kecil daripada menyapu dan terus mengulanginya. Dan efek hukuman tidak membuat jera malah mengulanginya lagi. Erna: Malah lebih memilih melakukan hukumannya, yah Bu? Nur Hamidah: Iyess, dan yang pertama adalah manajemen emosi kita ketika memulai mengajar harus stabil terlebih dahulu, karena setiap peserta didik itu berbeda- beda, karena “Emotions are at the heart of teaching”. Jadi seorang pendidik itu harus selesai dengan dirinya sendiri terlebih dahulu.  Amikamizar35: betul Bu, kalau belum selesai dengan dirinya pasti nanti emosi menghadapi siswanya Nur Hamidah: Emosi itu sangat mendukung kita dalam mengajar dan kepribadian kita siap tidak untuk menjadi guru karena kalau belum siap yang menjadi guru. Lalu apa solusinya? karena seringnya anak- anak tidak menaati aturan? Praktek yang saya lakukan, yaitu : Pendekatan kepada kedua orangtuanya. Karena ada grup WA untuk memudahkan berkomunikasi. Saya bertanya kepada para Ibu apakah di rumahnya ada jadwal sederhana keseharian anak- anaknya? ketika mereka menjawab “ada” maka saya suruh menuliskan jadwalnya dan dibawa ke sekolah, selanjutnya di cek satu persatu. Saya pilih 5 terbaik jadwal harian anak, dari 5 terbaik itu saya share ke ibu- ibu yang lain. Tidak selesai sampai disitu saya cek lagi untuk ditempel di rumahnya dan harus dipraktekkan  Menulis di sticky notes nama anak. Semua saya suruh temple di rumah dan diingat hari apa tugas piketnya. Setelah mereka selesai piket saya suruh menuliskan namanya lalu ditempel di dinding sekolah. Dan ternyata sangat senang tanpa disuruh pun dilaksanakannya.  Menerapkan kedisiplinan bukan hukuman. Hukuman dibangun atas ketidakpercayaan guru atau orangtua bahwa anak dapat mengembangkan perilakunya dan dapat bertanggung jawab akan tindakan yang dipilihnya. Sementara disiplin dibangun atas relasi kepercayaan guru atau orangtua pada anak. Hukuman bersifat jangka pendek, spontan, negatif, dan pasif. Sementara disiplin bersifat jangka panjang, positif, dan aktif. Jika antara disiplin dan hukuman ada perbedaannya. Hukuman memberikan alternatif lain pada anak, memberikan instruksi larangan pada anak, mengakui dan menghargai upaya anak dan tingkah laku mereka. Baik menanggapi perilaku negatif anak dengan cara yang kurang baik dalam mentaati peraturan. TERMIN DISKUSI M. Z. Nisa: Saya sering menemui anak- anak yang sering melanggar aturan di sekolah. Misalnya, bermain melebihi area sekolah dan dilakukan setiap pagi. Klarifikasi secara personal sudah dilakukan. Dan kami refleksi. Tapi pagi hari masih saja keluar batasan. Akhirnya saya mencoba menerapkan kesepakatan kelas bersama anak. Tapi bagaimana itu juga agar bisa berdampak ke anak? karena sampai detik ini kesepakatan yang dibuat bersama anak masih dilanggar. Nur Hamidah: Kasus seperti ini hampir terjadi di semua sekolah. Di tempat mengajarku juga seperti itu. Kita terapkan prinsip yang keempat, yaitu dialogis. Kita ajak anak- anak berdialog dan lagi- lagi dengan tidak nada emosi dan saya pun masih terus belajar dengan manajemen emosi. Karena di depan siswa kita harus menampilkan emosi positif sebab kita tidak mau kan dilabeli seorang guru yang galak atau jutek.  M. Z Nisa: dialogis ini kira- kira ada tahapannya? juga terkait penggunaan bahasa yang bisa dipahami siswa kelas 1 – 3 sekolah dasar? Nur Hamidah: dialogis ini untuk semua umur dan tentunya penggunaan bahasa yang dipahami anak SD. Karena relasi hangat antara guru dan murid menumbuhkan kebahagian kepada kedua belah pihak. Ada istilah “Ibu bahagia anak juga bahagia” dan ini berlaku pula untuk kita sebagai guru. Makanya kita harus selesai dengan diri kita dulu. Danu: Bagaimana upaya supaya anak-anak menyadari akan ketidak disiplinannya? Padahal ruang diskusi dan peringatan sudah dilakukan.  Nur Hamidah: Untuk bapak Danu sebelumnya saya bertanya peserta didiknya kelas berapa? Kalau untuk anak- anak kelas 1- 2 SD untuk berdiskusi masih harus didampingi karena anak seumuran mereka bisa duduk anteng (tenang), menurut paling lama sekitar 15 menit saja, setelahnya akan ribut lagi. Kalaupun untuk umur 8 tahun ke atas berdiskusi masih ramai berarti ada yang kurang motoriknya.  Danu: peserta didiknya tsanawiyah dan aliyah Nur Hamidah: kalau untuk tsanawiyah dan aliyah ada empat prinsip konsekuensi yang diberikan, yaitu berhubungan (related), menghormati anak (respect), logis (reasonable), dialogis. Konsekuensi logis menekankan kekuatan otoritas personal mengekspresikan realitas kehidupan, saling menghargai. Misalnya dengan menggunakan kata atau kalimat yang baik tanpa ada rasa emosi. Contoh Ahmad tolong selesaikan diskusinya dengan tenang yah, waktu sudah hampir menunjukkan jam istirahat.  Ami Bagaimana mengatasi anak yang sudah tahu bahwa itu salah tapi tetap melakukannya. Dan untuk menutupi kesalahannya dilakukan dengan berbohong dan mengajak beberapa temannya untuk meyakinkan guru bahwa dia tidak bersalah.  Nur Hamidah: Untuk mengatasi anak-anak yang seperti ini kita harus mengetahui latar  belakang keluarganya terlebih dahulu, adakan pendekatan jangan langsung memvonis karena kemungkinan besar anak yang suka berperilaku tidak baik sebenarnya minta untuk diperhatikan karena di lingkungan keluarganya terabaikan, kurang perhatian dari kedua orangtuanya. Jadi berat tugas fasilitator zaman milenial tetapi tetap semangat kita memang dituntut jadi fasilitator dan konselor. Ami: sebenarnya saya sudah berbicara dengan Bundanya, perilaku ini dimulai sejak kelas 1 dan berlanjut sampai sekarang. Saya menyarankan ke orangtuanya agar ada kesamaan kebijakan antara Ayah dan Ibu ketika mengevaluasi sikap anak. Sikap anak terhadap gurunya cukup kurang sopan, terkadang bahasa yang digunakan kurang bagus, egonya cukup tinggi. Sampai saat ini saya belum bisa memberi nasihat secara langsung, jika si anak berbuat tidak baik kepada temannya karena setiap saya mulai memanggilnya dia sudah pasang barrier … Read more

Murid Sekarang Tak Tahu Aturan, Dijadikan Teman Malah Kebablasan, Bagaimana Mengatur Kelas?

Mas Hartawani, KGB Kotawaringin Barat Bertahun tahun mengajar, Tantangan terasa semakin berat. Murid jaman sekarang lebih aktif dan kritis. Hukuman tak lagi mempan. Memposisikan murid sebagai teman pun, justru malah tak di hormati. Capek pasti ya mengalami hal tersebut setiap hari? Ingin mengatasinya? Bagaimana mengatur kelas? Mari kita belajar bersama  Ibu Ely Virgijanti yang berasal dari KGB Surabaya, Beliau sudah  5 Tahun menjadi pendidik di Sekolah Cikal Surabaya.  Silahkan bu Ely Virgijanti untuk menyapa Bapak ibu  yang ada diskusi kali ini sekaligus menyampaikan praktik baiknya dalam melaksanakan pengelolaan kelas. Ely Virgijanti, KGB Surabaya Langsung ke berbagi praktik ya 1. Ajak murid membuat kesepakatan kelas. Ini bisa dilakukan di waktu kapanpun. Tidak ada kata terlambat. Tetapi memang lebih tepat di awal tahun ajaran. Saya ajak murid murid berbagi tentang kenyamanan belajar. Saya berikan kesempatan kepada mereka memberikan usulan aturan aturan yang diperlukan supaya situasi kelas bisa nyaman dan aman. Tekankan pada kenyamanan dan keamanan bersama. Dalam kelas yang besar mereka bisa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk berdiskusi dan setelah itu ajak diskusi dalam kelompok besar. Saya kupas satu per satu. Kenapa aturan itu diperlukan? Apa yang akan terjadi apabila tidak dilakukan? Jadi murid saya ajak memahami  konsekuensi dari sebuah tindakan. Ingat konsekuensi bukan reward atau hukuman. Mas Hartawani, KGB Kotawaringin Barat  Wah, sangat menarik  konsepnya. Saya akan buka diskusi dengan 2 Termin, Pada termin saya akan  pilih tiga Penanya untuk menyampaikan pertanyaan. saya persilahkan kepada : Salsabila Dhea Hilal Rizki Nur Syifa 18 1. Salsabila Dhea Pertanyaan saya, bagaimana kalau anak anak ini datang dari culture yang tidak paham namanya kesepakatan,bagaimana jika anak anak ini malah memberi kesepakatan yang maaf malah nyeleneh atau di luar yang kita harapkan seperti, “bu saya tidak mau banyak menulis dan latihan” tapi dalam prakteknya saat ulangan mereka tidak menyerap materi apapun. 2. Ely Virgijanti KGB Surabaya Selalu ada pengalaman pertama ,  kerja sama yang baik antara sekolah, guru dan orang tua memang diperlukan. “Kesepakatan yang nyeleneh”, makanya disini ada diskusi bersama bu salah satunya membahas perlu tidaknya aturan tersebut untuk menjamin kenyamanan belajar. Jadi bukan berarti apa yang diusulkan murid langsung diterima. Setelah diskusi ini aturan aturan yang disepakati akan mengerucut bu. Dalam diskusi pemahaman akan aturan dan konsekuensinya harus benar benar didapatkan oleh murid dan ini membutuhkan waktu. “Anak tidak mau menulis dan latihan, padahal tidak menyerap materi.” Yang perlu ditanyakan disini adalah apakah itu gejala atau masalah sebenarnya. Apa yang membuat dia tidak mau menulis. Sudahkah ada diferensiasi. Pertanyaan ini lebih tepat dijawab saat diskusi materi diferensiasi. Hilal Rizki Cara ini sudah pernah saya terapkan Bu tetapi tidak berhasil, malah terkadang siswa sering kali melanggar,dan penyebabnya ya dari siswa sendiri yang sepele akan kesepakatan yang dibuat apalagi disekolah saya bisa dibilang si pembuat masalah anak yayasan, Jadi gimana itu Bu Ely Virgijanti KGB Surabaya Penerapan dan pemahaman konsekuensi perlu dilakukan secara konsisten. Biasanya pendiskusian masalah akan dilakukan hanya pada saat pelanggaran terjadi. Padahal seharusnya dilakukan rutin, jangan menunggu ada masalah. Saya selalu memulai kelas dengan melakukan ngobrol ringan dengan murid dan saya selipkan diskusi kesepakatan kelas. Diskusi ini juga bisa dilakukan di akhir pelajaran, menjelang pulang. Ajak mereka merefleksikan pengalaman mereka belajar di hari tersebut apa yang perlu ditingkatkan, apa yang perlu diperbaiki. Biasanya diskusi ini saya lakukan 15 menit. Nur Sifa 18 Saya punya murid masih belum mengenal padahal usia sudah cukup aja Bu dan anak ini diberitahukan ortunya sekolah duduk saja. Nah anak ini sering tidak mematuhi peraturan Bu contohnya sering terlambat. Diberikan kesepakatan tidak ada perubahannya Bu masih seperti anak TK perilakunya  padahal sudah kelas 1 SD. Ely Virgijanti KGB Surabaya  Kesepakatannya berupa apa bu? Diskusi dengan orang tua perlu dilakukan, kenapa datang terlambat. Apakah benar masalahnya di murid tersebut? Atau justru keterlambatan tersebut diakibatkan pihak lain. Saya pernah memiliki murid seperti ini, dan keterlambatan mereka lebih diakibatkan hal yang diluar kendali mereka, seperti orang tua yang berangkat terlambat atau perlu mengantar adik dulu. Apabila sudah diketahui penyebabnya perlu dilakukan diskusi dengan murid dan orang tua untuk mencari solusi. Saya ajak murid ini reflektif akibat dari keterlambatan test. Nyaman tidak kalau terlambat. Alhamdulillah keadaan berubah bahkan murid tsb bisa mengatur waktu bagaimana supaya tidak terlambat dan mengingatkan orang tuanya kalau utk masalah duduk saja, sepertinya perlu dicari tahu penyebabnya. Jangan jangan dia merasa tidak nyaman dengan situasi belajar atau ada permasalahan lain.  Hilal Rizki Hampir setiap pertemuan saya memberikan konsekuensi terhadap mereka yang melanggar kesepakatan,dan saya juga melakukan refleksi ya walaupun masih belum bisa konsisten, itu karena kadang saya merasa kesal sendiri akibat ulah si anak yayasan Bu Karena setiap saya beri konsekuensi dia merasa ada dukungan dari orang tuanya, Jadi gimana caranya mengatasi anak yang seperti itu Bu Soalnya saya khawatir anak yang lain pada ikutan Ely Virgijanti KGB Surabaya Memberikan konsekuensi? Disini saya memahaminya seperti sebuah hukuman pak. Konsekuensi menurut artinya adalah akibat dari perbuatan tersebut. Saya pernah memiliki murid yang juga anak pemilik sekolah. Di awal saya diwanti wanti untuk hati hati. Saya menerapkan hal yang sama ke semua murid. Pemahaman dan penerapan konsekuensi dari sebuah perbuatan. Apabila dirasa masih belum cukup, diskusi dengan orang tua memang diperlukan. Diskusi bertiga juga diperlukan untuk mencari sumber masalah dan solusi yang tepat. Bisa juga dibuat kontrak antara guru, orang tua dan murid. Oh ya kesepakatan kelas (aturan kelas yang sudah disepakati) saya infokan juga ke orang tua melalui surat karena setiap orang tua diharapkan memahami cara belajar dan aturan yang telah disepakati di sekolah. Mas Hartawani KGB Kotawaringin Barat Baiklah, untuk 3 Penanya saya  rasa sudah cukup dulu untuk jawaban yang sudah disampaikan Bu Ely Virgijanti. Berikutnya untuk termin kedua saya  persilahkan dua orang penanya lagi untuk menyampaikan pertanyaan terkait dengan pengelolaan kelas. Yaitu : Amalia dari KGB Rembang Choifah dari Jepara Amalia dari KGB Rembang Kami biasanya memperlakukan anak didik layaknya teman,… kami berharap dengan begitu akan muncul rasa nyaman pada diri anak, agar proses pembelajaran bisa menjadi menyenangkan…. Namun saat ini, yg terkesan malah guru sering diabaikan dan anak cenderung tdk hormat… mohon solusinya bu.. terimakasih. Mas Hartawani   KGB Kotawaringin Barat Baiklah Ibu Amalia, sudah … Read more