Orangtua Hilang Percaya, Guru Tak Berani Bicara

Tanggapan saat tahu anak berdarah karena murid lain di Sekolah, pasti berbeda antara satu wali murid dengan yang lain. Guru Heni Surya memaparkan cerita berkait hal tersebut pada Temu Pendidik Mingguan Edisi 115. Kemudian beliau melanjutkan dengan bagaimana hubungan antara guru dan dan orangtua dibangun di sekolahnya. Yuk simak liputan berikut. Membangun Relasi dengan Orangtua Halo perkenalkan kembali, saya Dhea yang akan memoderatori diskusi ke depan. Salam kenal semuanya berhubung saya di lokasi waktu Indo bagian barat, selamat menunaikan ibadah salat magrib bagi yang menjalankan. Saya perkenalkan dulu Narasumber kita bu Heni Surya. Beliau bergerak di Divisi Pendidikan di Yayasan Indria Jaya, Penggerak KGB Solo Raya, Relawan Keluarga Kita, Ketua Pokja IV PKK Kec Pasarkliwon dan juga Pengelola TaBAH(Taman Belajar Anak Hebat) di Rusunawa Putri Cempo. Dengan pengalamannya yang cukup panjang ini, beliau menemui berbagai macam karakter wali murid dengan berbagai background. Langsung saja kita panggil, Bu Heni. Narasumber : Halo selamat malam bapak ibu yang baik. Terima kasih sudah sangat semangat menyambut diskusi dengan tema “Membangun Relasi dengan OrangTua” malam hari ini. Saya ingat dengan tulisan saya di SKGB edisi 15 mengenai hal ini. Saya bagikan sebagai materi ya [ Inti Diskusi ] Moderator :   Terima kasih bu Heni atas materinya.Untuk teman-teman, silahkan dipelajari dahulu. Kami beri waktu 5-8 menit setelah itu sesi diskusi termin 1 akan dibuka. Berikut pertanyaan terpilih di termin pertama :  Purwani Febri dari Bekasi :  Bagaimana baiknya menyampaikan kepada orang tua murid bahwa sekolah dan rumah harus sinergis karena banyak sekali orang tua sekarang taunya sekolah itu yang membentuk akhlak siswa. Orang tua terima beres jadi pendisiplinan di sekolah dan dirumah tidak sejalan. Alhasil anak selalu mengandalkan orang tua. Bagaimana menyampaikan misi ini kepada orang tua? Narasumber :  Yang kami lakukan ada beberapa tahapan.  1. Ketika orang tua mendaftarkan anaknya di sekolah kami, kami minta untuk mengisi angket tentang kebutuhan anak dan juga kebutuhan orang tua dalam belajar. Ini kami gunakan supaya kami paham, apa yang diinginkan orang tua dan apa yang dibutuhkan anak. 2. Kami undang para orang tua baru sebelum hari pertama masuk sekolah. Ini bisa di hari Sabtu jika hari senin adalah pertama masuk sekolah. Di pertemuan ini kami sampaikan visi, misi dan tujuan sekolah menerima anak mereka. 3. Kami bentuk Komite Tambahan, Kami juga membuat grup WA per kelas yang anggotanya para orang tua ini. Sebagai pengaman Buku Penghubung. Kami sangat memahami apa maksud mereka menyekolahkan anaknya dan ini hal wajar. Purwani Febri dari Bekasi :   Untuk komite sebaiknya arahan yang bagaimana ya bu agar terlibat dan bisa satu visi juga? karena terkadang komite suka bikin acara sendiri dan di sekolah kami juga sudah ada buku penghubung bu, tapi memang pengecekannya masih kurang maksimal. Terimakasih sarannya bu jadi diingatkan kembali. Narasumber :  Saya lebih merekomendasikan grup WA bu. Oh iya. Jangan lupa save nomor para wali murid ini, kalau perlu sesekali komentar story WA nya. Ini akan lebih mendekatkan hubungan guru dan orang-tua murid. Moderator :  Baik. Sepertinya sudah bisa dilanjut ke pertanyaan kedua ya bu Heni.  Erwan Hermawan KGB Sukabumi : Di beberapa wilayah, Orang tua wali murid sebagai buruh pabrik bahkan ada buruh migran. Komitmen bersama dalam pendidikan anak diwakilkan kepada penanggung-jawab anak yang bukan ayah ibunya. Bagaimana membangun komitmen dengan wali murid (paman bibi kakek nenek) yang perhatiannya tidak sebesar ayah ibunya? Narasumber :  Halo bapak Erwan Hermawan. Sekolah kami ada di area dampak sosial, profesi para orang tua juga mayoritas buruh pabrik garmen dan plastik. Banyak anak yang dihandle oleh nenek atau tantenya. Kita sadar betul bahwa orang tua ini butuh mencari nafkah untuk keluarga. Juga menyadari bahwa para orang tua wali pun punya prioritas utama yakni keluarganya masing-masing.  Jika memang mereka yang mengasuh anak didik kita. Maka sebaiknya mereka semua diminta waktunya untuk diskusi di awal tahun ajaran baru. Jika berhalangan karena berbarengan dengan jam kerja. Kiat bs diskusikan malam hari. Ketika sudah lengang. Kita wapri, atau bahkan khusus bikin grup WA untuk guru, orang tua dan orang tua wali. Sebab kita butuh kerjasama mereka dalam hal mendidik anak mereka. Kembali lagi kekuatan ada di penyampaian kita di awal tahun ajaran baru. Yakni ketika pertemuan orang tua murid. Membangun kesepakatan dengan orang tua murid terlebih dahulu bisa kita jadikan acuan dalam mengasuh.  Di sekolah kami, yang bertugas dalam hal ini adalah saya. Bukan guru kelas anak mereka dan bukan kepala sekolah. Menurut kami memang harus ada orang ketiga yang lebih paham dan banyak waktu mengurusi ini. Orang tua murid punya banyak harapan kepada sekolah. Tugas sekolah adalah memfasilitasi dengan kesepakatan yang memanusiakan hubungan Purwani Febri : Yup betul sekali bu Heni, memang harusnya ada pihak ketiga agar wali kelas tidak terlalu terbebani, bahkan kadang sampai malam pun masih menanyakan anak. maaf malah curcol 🙏😄 Fitriyani Mustafa : Wah…menarik sekali. Bentuk angketnya seperti apa ya bu? Narasumber :  Kita bisa bikin angket yang ringan ya, tidak perlu banyak narasi. Karena kita tahu orang tua suka malas baca. Seperti jam berapa dia tidur dan makan, apa mainan favoritnya, apa tujuan orang tua menyekolahkan. Lia Camelia :  Pihak ketiga ini maksudnya siapa yah bu ? 😊 Narasumber :  Bukan guru kelas dan bukan kepala sekolah bu. Posisi saya adalah penasehat komite di struktur yayasan saya pegang divisi pendidikan Purwani Febri : Bisa diusulkan ke pengurus supaya divisi pendidikannya bisa lebih terlibat… 👍👍 Maaf bu Heni untuk yang penasehat komite ini apakah ibu mengurus semua kelas atau bagaimana ya bu? Narasumber :  Betul .Semua orang tua murid. Karena memang sudah ditugaskan. Oh iya, tips supaya para orang tua murid ini mau menjalankan perannya sebagai komite sekolah adalah Kepala Sekolah wajib membuatkan SK, struktur dan job desk untuk mereka. Adalah kebanggan jika foto mereka terpampang di ruang komite. Siti Umi Choiriyah : Kadang ada wali murid yang dari strata ekonomi rendah tidak mampu menyentuh anaknya apalagi bersinergi dengan sekolah dikarenakan sibuk mencari nafkah, jadi undangan dari sekolah dalam rapat apapun tidak bisa hadir. Maka sedikit berbagi pengalaman kadang kami pihak sekolah melakukan pendekatan sampai di tempat kerja wali murid tersebut. Misal ke pasar tempat wali murid berjualan. Duduk santai … Read more

Banyak Program Gemar Membaca, Murid Masih Sulit Mengeja, Solusinya?

Suhud Rois  Jauh sebelum gerakan literasi menjadi viral, di awal menjadi guru (awal dekade 2000-an), untuk kelas yang saya pegang, saya sudah punya program membaca setiap pagi. Persis seperti sekarang yang banyak dipraktikkan, yakni sebelum mulai jam reguler. Waktu itu saya sangat yakin akan pentingnya kebiasaan membaca. Tentu saja sampai saat ini saya pun masih tetap yakin. Begitu bersemangatnya, saya sampai membawa beberapa koleksi pribadi ke kelas dan selalu menyempatkan berburu koleksi bacaan yang cocok bagi anak-anak. Tak ketinggalan, saya mengerahkan orang tua –lewat anak-anak tentu saja― untuk merelakan sebagian buku bacaan disimpan di kelas. Mendapat beragam bacaan, anak-anak tentu saja antusias. Menceritakan hal-hal asyik dari sebuah buku menjadi sarana efektif memantik rasa penasaran anak-anak, yang mendorong mereka membaca dan membaca lagi. Tentu saja hati saya berbunga-bunga. Keinginan saya menyebarkan kegemaran membaca tercapai sudah. Wow! Sama sekali tidak ada yang salah dengan kegiatan membaca. Namun apa yang saya lakukan, seiring berjalannya waktu, memunculkan titik-titik jenuh. Semakin lama, titik-titik itu semakin banyak dan membesar. Awalnya saya berpikir itu sebuah kejenuhan yang wajar. Untungnya, saya cepat sadar. Ada sesuatu yang salah. Bukan semua. Bukan kegiatan membacanya yang salah. Sesuatu yang lain. Apa itu? Saya belum tahu.  Suhud Rois  Fenomena itu membuat saya harus berhenti sejenak. Saya perlu jeda untuk melangkah lebih jauh. Jeda yang saya maksud tidak dengan menghentikan kegiatan membaca. Alih-alih menghentikan, saya justru mencari kegiatan lagi yang dilakukan setelah membaca. Ide-ide beterbangan. Muncul sangat banyak dan dari berbagai sumber. Saya sangat bergairah kalau sudah begini. Maka, kegiatan membaca bertambah. Bukan sekadar membaca, ada kegiatan setelahnya. Menuliskan kembali isi buku tidak saya masukkan sebagai alternatif kegiatan. Itu sudah sangat mainstream dan punya potensi besar membuat kebosanan. Saya cari ide-ide yang lebih “gila”. Menurut saya, hal terpenting membaca bukan mengerti apa yang dibaca. Saya ulangi: hal terpenting membaca bukan mengerti apa yang dibaca. Kok? Ada yang lebih penting dari mengerti apa yang dibaca, yaitu mendapatkan ide baru. Ini bukan lagi penting, tapi sangat penting. Setidaknya menurut saya. Ide adalah barang mahal. Tidak semua kelas dan sekolah bisa menghadirkan ide-ide baru dalam proses belajarnya. Nah, membaca harus menghasilkan ide. Itu yang saya pikirkan. Bahkan membaca cerita fiksi pun harus membuat anak berkembang kreativitasnya. Ternyata, ketika satu pintu terbuka, maka pintu-pintu yang lain akan terlihat dan terbuka. Kita tinggal memasukinya. Ketika saya mencoba sebuah kegiatan setelah membaca, maka saya menemukan alternatif kegiatan yang semakin beragam. Dimulai dengan meneruskan cerita versi anak-anak, saya punya ide-ide lain. Misalnya, dibalik ceritanya. Misalnya bagaimana jika tokoh antagonis menjadi tokoh protagonis, dan sebaliknya. Mendapat sesuatu yang baru, anak tertantang. Mereka antusias dan bebas mengembangkan imajinasinya. Satu hal lagi yang saya pelajari, yakni tantangan. Anak-anak perlu tantangan.  Sadar bahwa anak-anak selalu butuh tantangan dan hal baru, maka kegiatan setelah membaca pun beragam. Beberapa yang saya ingat adalah:1. Merancang kaus sesuai dengan karakter tokoh2. Membuat menu makan siang kesukaan tokoh3. Menulis surat kepada penerbit tentang buku yang dibaca4. Membuat cover baru5. Kalau ceritanya difilmkan, siapa aktor dan aktris yang cocok memerankan tokohnya?6. Kalau kamu jadi tokohnya, apa yang kamu lakukan? Mengapa?7. Kalau kamu jadi penulisnya, bagaimana membuat akhir ceritanya lebih dramatis?8. Membuat boneka9. Membuat buku pintar10. Tidak mungkin saya sebutkan semuanya. Semua kegiatan itu ada benang merahnya. Benang merahnya adalah hal tersebut tidak akan dapat dilakukan kalau anak sekadar mengerti apa yang dibacanya. Anak harus punya ide baru, seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Ini saya sebut mengikat makna. Sesuatu ada maknanya kalau mempunyai daya guna. Sebuah bacaan akan bermakna kalau mempunyai daya menggerakkan pembacanya. Membaca akan bermakna bila setelahnya muncul kekuatan untuk bergerak dan produktif. Ketika di usia sekolah dasar mereka mendapatkan stimulasi seperti di atas, perubahan besarnya tidak akan tampak dalam waktu singkat. Yang jelas kelihatan adalah kegembiraan dan antusiasme saja. Namun, dampaknya akan terlihat beberapa tahun ke depan. Saya yakin. So, kegiatan literasi tidak boleh berhenti pada titik membaca dan melaporkan isi bacaan. Membangun generasi literat harus dimulai dari dini, dengan kegiatan yang lebih terstruktur. Jadikan membaca sebagai kegiatan literasi yang menumbuhkan, bukan sekadar prestise yang diukur dengan kuantitas semata tapi miskin kualitas. Itu baru dalam tataran membaca. Keterampilan literasi yang lain juga harus dikembangkan. Literasi bukan sekadar membaca tulisan, tetapi juga membaca tanda-tanda. Tanda yang dimaksud bisa berupa papan petunjuk atau peringatan, bahasa tubuh, mimik muka, gejala-gejala sosial, sampai tanda-tanda (gejala-gejala) alam.  Rofiqoh Wah benar-benar membuka mata kita bahwa keterampilan literasi tidak hanya sebatas membaca saja Sepertinya bapak ibu disini sudah tidak sabar ingin bertanya kepada narasumber kita malam ini.  Rofiqoh  Untuk itu, bagi bapak ibu yang ingin bertanya kami persilahkan untuk 3 penanya terlebih dahulu.. Boleh acungkan tangannya🖐  Makhmudah .  Saya mengajar di kelas 1 jumlah siswanya Ada 15 anak. Ada 6 anak yang belum bisa baca dan tulis. Namun, berjalannya waktu saya coba lebih fokus untuk belajar menulis terlebih dahulu kemudian membaca. Perlahan-lahan kemampuan menulisnya membaik. Namun, dalam membaca untuk membuat anak menghafal a b c d (abjad ) ini saya masih kebingungan bahkan susah membedakannya dan cenderung lupa. Karena, ada beberapa anak yang sulit fokus. Bagaimana ya bu/bapak untuk menangani dan membantu anak-anak supaya kemampuan membaca dan menulis menjadi berkembang lebih baik?  Rofiqoh Untuk Pak Suhud, saya persilahkan untuk bisa langsung menjawab pertanyaan dari bu Makhmudah terlebih dahulu  Pupu Siti Marpuah  Assalamualaikum selamat malam Pak senang bisa bergabung disini. tahun ini saya mendapat kepercayaan untuk mengajar kelas 1 dan semenjak 8 tahun mengajar baru kali ini mengajar kelas 1. di kelas saya ada 24 anak.. pertanyaan yang saya ajukan.. lebih baik manakah qt lebih memfokuskan belajar menulis atau membaca dan pertanyaan kedua ada beberapa murid yang sudah lancar membaca bacalah 2 tapi ketika diperintahkan untuk menulis satu kata dia seperti kebingungan bahkan bertanya hurufnya apa saja.. saya jadi bingung sendiri Pak kenapa bisa begitu apakah menggunakan bacalah sudah tepat atau seperti apa yang lebih baik dalam mengajarkan membaca.. terima kasih Pak😊  Suhud Rois  Kalau pengalaman saya, di rumah maupun di kelas, ketika anak sudah bisa membaca, maka ia bisa juga menulis. Kemampuan membaca dan menulis tiap anak tidak sama. Ini yang harus dipahami. Penyebabnya pun ada beberapa hal. Bisa jadi ada hambatan khusus, disleksia … Read more

Nasehat Tak Mempan, Masuk Kuping Kiri, Keluar Kuping Kanan

Nia Kurniati: Assalamualaikum Bapak dan Ibu Guru Hebatnya Indonesia! Gimana kabarnya malam ini? Semoga Bapak dan Ibu masih terus semangat ya mengikuti ajang sharing mingguan kita, di TPM. Judul diskusi malam ini “Nasihat Tak Mempan, Masuk kuping Kiri, Keluar Kuping Kanan”. Hai, Bapak/Ibu yang sudah gabung, siap berbagi kisahnya terkait dengan tema kita ya? Faristya Eni: Waaaaaah apalagi saya sebagai guru BK, sering sekali mengalami kaya gini Bu. Sehari dinasihati kadang bisa langsung tobat kadang juga masih kumat.  Nia Kurniati: Sadarkah Bapak dan Ibu, anak-anak zaman sekarang , alias anak zaman milenial, mengalami tantangan yang luar biasa dalam hidupnya? Tantangan sekaligus pengaruh dari perkembangan teknologi yang membentuk mereka menjadi generasi yang dinilai canggih dalam hal teknologi, namun mengalami degradasi nilai. Salah satu hal yang sering terjadi adalah sulitnya memberikan masukan atau nasihat kepada anak-anak. Pernahkah Bapak dan Ibu mengalami kesulitan dalam hal ini? Nurul Badriyah: Tantangan yang luar biasa menghadapi sikap anak zaman sekarang. Pasti banyak faktor yang mempengaruhi sikap anak. Nia Kurniati:  Oiya, sebelumnya, perkenalkan, saya Nia yang akan memoderatori diskusi kita malam ini. Ziqi: Kalau dengan anak-anak saya biasanya ajak bertukar pikiran, mendengarkan apa yang menjadi harapan mereka dan kondisi riil yang mereka lakukan. Ya tapi harus siap dengan berbagai jawaban mereka, ada yang bertahan diam, ada yang mendebat kritis, dan ada pula yang mendebat sekenanya. Kharisma Fassra: Memang benar kita sulit sekali memberikan nasihat. Sampai saya menyadari bahwa saya harus masuk ke dunia mereka. Mereka senang membuat film, saya beri layanan membuat film dengan tema-tema yang sesuai dengan perkembangan mereka, yang membuat mereka jauh mengerti apa yang harus dan tidak boleh dilakukan. Oh ya perkenalkan saya Kharisma guru BK SMA N 3 Demak Jateng. Fathiah Salma: Terkadang anak-anak berantem dan ngobrol sendiri, tidak mau untuk mendengarkan penjelasan dari saya, Bu. Nia Kurniati:  Selama ini bagaimana penanganannya jika siswa Bapak/Ibu tidak juga berubah setelah diberi nasihat ? Ziqi: Setiap sekolah tentu memiliki treatment berbeda menyesuaikan karakteristik dan lingkungan, semangat berbagi semuanya. Waniy: Nggeh, Bu. Mereka minta didengarkan harapannya dan perasaannya tapi masih lupa untuk mendengarkan nasihat. Novi: Dipenuhi kebutuhannya, Bu. Kalau perlu ngobrol dengan temannya dipersilahkan tapi di luar kelas Umy Adhwa (Fitriani): Menurut Pandangan saya, banyak faktor yang menyebabkan hal demikian. Baik pengaruh personal siswa karena kebiasaan pola asuh dan pola didik yang salah, atau karena kurangnya strategi dan metode yang dilakukan oleh Guru. Terkadang kita harus mampu melihat duduk persoalannya. Karena tidak selamanya letak kesalahan terletak pada anak. Terkadang pengamatan saya siswa demikian karena figur guru dan cara pengajarannya kurang berkenan di hati siswa. Siswa merasa tidak nyaman dengan guru tersebut, sehingga apa yang diberi kepada Siswa tidak bisa diterima dengan Baik. Mohon koreksi jika ada yang salah pada perkataan saya. Kharisma Fassra: Sebenarnya jika kami sebagai guru BK, kita lebih mengajak atau mengeksplor apa yang terjadi pada dirinya.sehingga mereka menyadari apa yang dilakukannya itu tidak benar. Dan mereka juga kami ajak untuk mendapatkan solusi dari konsekuensi yang telah mereka lakukan. Memang tidak mudah dan butuh waktu konseling beberapa kali untuk mencapainya. A.Ninik Angraeni M: Perkenalkan saya A.Ninik Angraeni guru Bid. Studi Bhs. Inggris di SMPN 1 Arungkeke, KAB. Jeneponto, Sulawesi SelatanBaru-baru ini,  di sekolah saya ada siswa pindahan dari sekolah Madrasah. Kebetulan dimasukkan ke kelas saya. Jadilah yang bersangkutan anak wali saya,..nah ternyata setelah 2 minggu di sekolah, udah beberapa pelanggaran yang dia lakukan, seperti tidak ikut sholat dhuhur berjamaah, yang ini alasannya karena gak tahu, jadi saya jelaskan ke dia tentang jadwal sholat kelasnya. Terus yang kedua, selama pindah, ternyata dia tidak pernah masuk pada mapel Matematika. Saya tanya kenapa alasannya. Gak jelas, Bu. Terus sudah berjanji mau ikut, tapi terakhir kemarin jadwal MTK ternyata gak ke sekolah lagi, katanya telat bangun. Terus yang terakhir dia kedapatan sedang merokok di area kebun sekolah pada saat jam istirahat, siswa tersebut dibuatkan surat perjanjian oleh Bagian kesiswaan sebagai peringatan terakhir. Nah, Bu, kira-kira saya selaku wali kelasnya, bagusnya bagaimana yah dengan siswa tersebut? Nia Kurniati : Bapak/Ibu, bagaimana perasaan Bapak dan Ibu menghadapi siswanya yang sepertinya kok ya ga mendengarkan nasihat kita sebagai gurunya ? Novi Cakra: Sedih tapi harus evadir (evaluasi diri) Umy Adhwa (Fitriani): Saya merasa tertantang Bu. Selain sebagai Guru Agama, saya juga harus berperan sebagai Guru BK. Saya senang melakukan terhadap siswa yang demikian. Ternyata banyak penyebabnya. Namun setelah berbagai pendekatan kita bisa menentukan langkah untuk mendapatkan solusi terbaik. Entah dengan kolaborasi ataupun Referal jika perlu tenaga khusus A.Ninik Angraeni M: Iya bu, saya bahkan jadi jaminannya kalau dia berbuat kesalahan lagi…. Sejauh ini saya hanya melakukan pendekatan personal ke dia, kalau dia tidak ke sekolah, saya chat dan tanyain alasannya, selain itu saya harus gimana lagi yah, Bapak/Ibu? Nia Kurniati:  Sedih pasti ya Bapak dan Ibu. Tapi sebagai guru, itu jadi tantangan yang luar biasa….Dan seperti Bu Novi sampaikan, sebagai guru, perlu juga kita melakukan evadir   Nah, Bapak dan Ibu, untuk membahas lebih jauh tentang hal ini, kita akan ditemani 2 narasumber untuk menggali lebih dalam tentang topik malam ini. Untuk itu, saya perkenalkan narasumber-narasumber hebat kita Pak Huda dan Bu Rani. Pak Huda dari Sekolah MI Al Huda Malang, Bapak dan Ibu. Dan Ibu Rani dari Sekolah Menengah Cikal Jakarta Timur. Huda : Assalamu’alaikum bapak/ibu guru Indonesia.. selamat datang d acara diskusi temu pendidik mingguan. Rani Indirani : Assalamu’alaikum Bapak dan Ibu semuaaa.. Haiii.. Saya Rani, dari Sekolah Menengah Cikal Amri Setu, Jakarta Timur. Huda: Terimakasih ibu moderator atas kesempatan yang diberikan, sungguh kesempatan yang luar biasa bagi kami di malam hari ini untuk berbagi dan belajar bersama-sama dalam temu pendidik mingguan seri ke 113. Pada kesempatan ini saya ingin mengambil tema “MotivAksi-Menyelaraskan antara semangat dan Aksi” Suatu hari saat menjelang Ujian akhir nasional, kami mengumpulkan siswa kelas 6 untuk mengikuti kegiatan motivasi di aula, kami mendatangkan motivator yang berpengalaman, banyak materi yang disampaikan oleh motivator, saat sesi renungan para siswa pada nangis karena tersentuh dengan kata-kata sang motivator, mereka menangis sambil memeluk orangtua dan bersalaman meminta maaf bapak/ibu guru. Hari itu suasana haru di aula begitu berkesan, tapi selang beberapa hari kemudian bisa ditebak bagaimana ceritanya, mereka kembali … Read more

Fokus Murid Mudah Teralihkan Guru Bingung Mengarahkan. Muridku Kok Beda Ya?

Saat ini saya mengajar di SD N 2 Nongsa, Saya mempunyai murid yang bicaranya masih belum lancar bahkan menulis  juga belum lancar,saya sangat kebingungan sekali. Bagaimana menyelesaikan permasalahan saya ini bu? Shanti KGB Surabaya  Mengenai murid yang belum bisa bicara dengan lancar, bisa dicari terlebih dahulu apakah karena kosakata yang kurang, atau pelafalan yang kurang jelas. Jika masalah kosa kata bisa disebabkan oleh gadget atau memang jarang diajak berkomunikasi di lingkungannya dll. Solusinya dengan kita mengajaknya mengobrol pada saat istirahat, membacakan buku dan tentu bekerjasama  dengan orang tuanya juga. Jika masalah dengan pelafalan, mungkin bisa minta bantuan dari ahli misalnya terapis wicara dan dokter THT. Mengenai membaca dan menulis belum lanca bisa jadi berkaitan dengan masalah komunikasinya, ketika dia tidak mampu mengucapkan kata dengan benar untuk teman-temannya bisa dikondisikan dengan saling mensuport, misal teman diajak mengobrol dengan anak tersebut. Sebagai PR belajar membaca dengan bisa Desi  Diana Bisa dijelaskan bagaimana memulai proses sistem buddy? Bisakah meningkatkan kemampuan belajar siswa? Shanti KGB Surabaya  Awalnya kami menawarkan pada anak-anak,siapa yang suka membantu temannya (bisa dibilang semua anak pasti ingin membantu temannya) nah, dari keinginan sederhana untuk membantu temannya, kami infokan juga syaratnya, untuk bisa bantu, harus bisa selesai tugasnya. Dan selesainya juga harus oke hasilnya, dan bukan asal selesai tapi tugasnya salah semua. Selain itu kami juga cerita bahwa anak yang bisa bantu itu adalah anak yang hebat karena bisa mengelola emosi (tidak mudah marah dan tersinggung ketika teman yang dibantu malah jadi “tidak menyenangkan”) dan itu kami seleksi juga  walau akhirnya semua anak bisa mendapat giliran menjadi buddy buat teman lain. Ada beberapa macam buddy ada yang menjadi buddy di bidang akademis (membantu anak kesulitan belajar) ada di bidang sosial (menemani saat break time) yang kami lihat saat itu adalah anak-anak yang dibantu maupun terbantu,sama-sama makin termotivasi belajar untuk belajar. Shandy KGB Jaksel Apa Buddy sistem jauh lebih efektif diterapkan di kelas dengan variasi anak yang beragam atau kelas yang homogen? Apa standar ketercapaian buddy sistem dikatakan berhasil? Pada kelas atau individu? Shanti KGB Surabaya  Bisa diterapkan pada kelas yang beragam juga pak, saat itu standar keberhasilan kami adalah peningkatan kemandirian anak. Di akhir tahun ajaran, lebih banyak anak yang ingin menjadi buddy dan membantu temannya. Anak-anak mandiri dalam mengerjakan tugas, bisa lebih bertanggungjawab dan saya lihat nilainya juga oke. Guru subjek juga memberi penilaian positif terhadap kelas kami dan menyatakan enak dan nyaman saat mengajar dikelas kami karena anak-anak sangat kooperatif. Dalam pendampingan akademis kami sangat melarang untuk memberikan jawaban apabila kesulitan menjawab soal itu,hanya boleh membantu membacakan atau mengajari caranya saja. Shandy KGB Jaksel Untuk kelas homogen dengan multiple intelegent gimana bu? Saya setuju jika standar yang diterapkan tidak melulu standar kognitif, hampa apa dapat menjadi capaian akhir dari kegiatan buddy ke arah sana? Untuk anak-anak berprestasi tentu bisa belajar mandiri,pada dasarnya buddy sistem kami tunjukkan untuk saling membantu. Jika punya kemampuan yang setara saya rasa ada pendekatan lain yang bisa digunakan misalnya collaborative learning. Kalau buddy terbatas hanya one on one relation maka collaborative lebih ke arah grouping. Irma KGB Pasuruan  Saya mau bertanya, apakah Buddy system bisa diterapkan ke anak jenjang SMK. Kalau iya bagaimana kira-kira melakukannya? Terimakasih Shanti KGB Surabaya  Bisa ditawarkan dulu bu, karena aktivitas tersebut tidak berjalan optimal kalau anak-anak tidak mau karena merasa malu,atau malas.tetapi untuk menciptakan suasana kelas yang berdaya, bisa memakai metode collaborative learning seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Agar lebih menarik,tambahkan pula bumbu kompetisi. Bumbu kompetisi kelas (grup vs grup) atau kompetisi personal (melihat perkembangan tiap individu tanpa harus diekspos hasilnya, jadi grup harus berusaha meningkatkan kemampuannya sendiri) Lailia  Dikelas saya, ada anak yang mirip seperti Gita yang masih butuh arahan terkait dengan penggunaan anggota tubuh sesuai fungsi (tangan untuk menolong teman, kurangi mencubit) Beberapa kejadian kami menemukan anak tersebut menyelesaikan masalah dengan mencubit dan mencakar yang membuat temannya menangis dan tidak nyaman dengannya. Penerapan buddy sistem untuk peristiwa ini bagaimana ya Bu? Atau ada solusi lainnya? Shanti KGB Surabaya  Bisa melihat karakteristik anaknya dulu, Gita saya adalah gita yang dominan sehingga ketika diberi tanggung jawab sebagai buddy, itu afirmasi positif buat dia karena dia biasa “menjadi teman yang baik buat orang lain”. Tetapi ada pula yang suka mencubit, tetapi tidak dominan sehingga bisa jadi dialah yang membutuhkan  buddy. Kita kenali dulu karakter anak tersebut. Saya mempunyai murid yang cenderung bersikap kasar. Kami tidak membentuk sistem buddy disaat itu, tetapi saya menggunakan problem solving chart jika anak punya masalah yang membuat melakukan kontak fisik yang negatif pada temannya. Tuti Noor  Jika melihat ulasan  tersebut,apakah masuk kategori memberdayakan siswa?siswa merasa nyaman dikelasnya sehingga bersama guru berkolaborasi untuk menciptakan suasana kelas yang positif. Shanti KGB Surabaya  Menjawab pertanyaan dari bu Tuti, salah satu tujuannya adalah memberdayakan siswa juga. Mereka juga belajar untuk bisa berinteraksi dengan teman yang berbeda. Karena terus terang di awal tahun ajaran beberapa orangtua dan murid memandang teman yang berbeda ini sebagai hambatan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Namun adanya buddy system ini ternyata meningkatkan interaksi positif diantara mereka. Di Akhir tahun ajaran jeremy yang di diagnosa ADHD dan autis ringan sudah bisa mengingat  nama semua temannya, dan dapat menyebut Gita karena mereka sering bersama. View this post on Instagram Guru Shanti bercerita tentang muridnya yang belum dapat berkomunikasi dengan lancar. Dia juga kesulitan melakukan kontak mata dengan lawan bicaranya. Selain itu adapula murid yang suka mencubit, hingga membujuk temannya untuk pilah pilih dalam berteman. Dengan keragaman murid seperti itu Guru Shanti bersama guru lain menerapkan Buddy Sistem untuk membangun kemampuan sosial antarmurid. Usai belajar bersama Guru Shanti di Temu Pendidik Mingguan ke 109, dengan topik “Fokus Murid Mudah Teralihkan, Guru Bingung Mengarahkan, Muridku Kok Beda Ya?” para guru berikut turut melakukan refleksi Guru Rifa M – Pati Guru Erlina Eka – Sumbawa Guru Tuti – Depok Guru Djuangsih – Bandung Guru Jamal – Pekalongan Guru Ipin – Pekalongan Guru Sarah – Lamongan Guru Irma – Pasuruan Guru Mas Hartawati – Kotawaringin Barat Guru Rizki – Jakarta Guru Theo – Surabaya Guru Erma – Bekasi Guru Irma – Kab. Bandung Guru Vivin – Mojokerto Guru Abdul Mudjib … Read more