Orangtua Hilang Percaya, Guru Tak Berani Bicara
Tanggapan saat tahu anak berdarah karena murid lain di Sekolah, pasti berbeda antara satu wali murid dengan yang lain. Guru Heni Surya memaparkan cerita berkait hal tersebut pada Temu Pendidik Mingguan Edisi 115. Kemudian beliau melanjutkan dengan bagaimana hubungan antara guru dan dan orangtua dibangun di sekolahnya. Yuk simak liputan berikut. Membangun Relasi dengan Orangtua Halo perkenalkan kembali, saya Dhea yang akan memoderatori diskusi ke depan. Salam kenal semuanya berhubung saya di lokasi waktu Indo bagian barat, selamat menunaikan ibadah salat magrib bagi yang menjalankan. Saya perkenalkan dulu Narasumber kita bu Heni Surya. Beliau bergerak di Divisi Pendidikan di Yayasan Indria Jaya, Penggerak KGB Solo Raya, Relawan Keluarga Kita, Ketua Pokja IV PKK Kec Pasarkliwon dan juga Pengelola TaBAH(Taman Belajar Anak Hebat) di Rusunawa Putri Cempo. Dengan pengalamannya yang cukup panjang ini, beliau menemui berbagai macam karakter wali murid dengan berbagai background. Langsung saja kita panggil, Bu Heni. Narasumber : Halo selamat malam bapak ibu yang baik. Terima kasih sudah sangat semangat menyambut diskusi dengan tema “Membangun Relasi dengan OrangTua” malam hari ini. Saya ingat dengan tulisan saya di SKGB edisi 15 mengenai hal ini. Saya bagikan sebagai materi ya [ Inti Diskusi ] Moderator : Terima kasih bu Heni atas materinya.Untuk teman-teman, silahkan dipelajari dahulu. Kami beri waktu 5-8 menit setelah itu sesi diskusi termin 1 akan dibuka. Berikut pertanyaan terpilih di termin pertama : Purwani Febri dari Bekasi : Bagaimana baiknya menyampaikan kepada orang tua murid bahwa sekolah dan rumah harus sinergis karena banyak sekali orang tua sekarang taunya sekolah itu yang membentuk akhlak siswa. Orang tua terima beres jadi pendisiplinan di sekolah dan dirumah tidak sejalan. Alhasil anak selalu mengandalkan orang tua. Bagaimana menyampaikan misi ini kepada orang tua? Narasumber : Yang kami lakukan ada beberapa tahapan. 1. Ketika orang tua mendaftarkan anaknya di sekolah kami, kami minta untuk mengisi angket tentang kebutuhan anak dan juga kebutuhan orang tua dalam belajar. Ini kami gunakan supaya kami paham, apa yang diinginkan orang tua dan apa yang dibutuhkan anak. 2. Kami undang para orang tua baru sebelum hari pertama masuk sekolah. Ini bisa di hari Sabtu jika hari senin adalah pertama masuk sekolah. Di pertemuan ini kami sampaikan visi, misi dan tujuan sekolah menerima anak mereka. 3. Kami bentuk Komite Tambahan, Kami juga membuat grup WA per kelas yang anggotanya para orang tua ini. Sebagai pengaman Buku Penghubung. Kami sangat memahami apa maksud mereka menyekolahkan anaknya dan ini hal wajar. Purwani Febri dari Bekasi : Untuk komite sebaiknya arahan yang bagaimana ya bu agar terlibat dan bisa satu visi juga? karena terkadang komite suka bikin acara sendiri dan di sekolah kami juga sudah ada buku penghubung bu, tapi memang pengecekannya masih kurang maksimal. Terimakasih sarannya bu jadi diingatkan kembali. Narasumber : Saya lebih merekomendasikan grup WA bu. Oh iya. Jangan lupa save nomor para wali murid ini, kalau perlu sesekali komentar story WA nya. Ini akan lebih mendekatkan hubungan guru dan orang-tua murid. Moderator : Baik. Sepertinya sudah bisa dilanjut ke pertanyaan kedua ya bu Heni. Erwan Hermawan KGB Sukabumi : Di beberapa wilayah, Orang tua wali murid sebagai buruh pabrik bahkan ada buruh migran. Komitmen bersama dalam pendidikan anak diwakilkan kepada penanggung-jawab anak yang bukan ayah ibunya. Bagaimana membangun komitmen dengan wali murid (paman bibi kakek nenek) yang perhatiannya tidak sebesar ayah ibunya? Narasumber : Halo bapak Erwan Hermawan. Sekolah kami ada di area dampak sosial, profesi para orang tua juga mayoritas buruh pabrik garmen dan plastik. Banyak anak yang dihandle oleh nenek atau tantenya. Kita sadar betul bahwa orang tua ini butuh mencari nafkah untuk keluarga. Juga menyadari bahwa para orang tua wali pun punya prioritas utama yakni keluarganya masing-masing. Jika memang mereka yang mengasuh anak didik kita. Maka sebaiknya mereka semua diminta waktunya untuk diskusi di awal tahun ajaran baru. Jika berhalangan karena berbarengan dengan jam kerja. Kiat bs diskusikan malam hari. Ketika sudah lengang. Kita wapri, atau bahkan khusus bikin grup WA untuk guru, orang tua dan orang tua wali. Sebab kita butuh kerjasama mereka dalam hal mendidik anak mereka. Kembali lagi kekuatan ada di penyampaian kita di awal tahun ajaran baru. Yakni ketika pertemuan orang tua murid. Membangun kesepakatan dengan orang tua murid terlebih dahulu bisa kita jadikan acuan dalam mengasuh. Di sekolah kami, yang bertugas dalam hal ini adalah saya. Bukan guru kelas anak mereka dan bukan kepala sekolah. Menurut kami memang harus ada orang ketiga yang lebih paham dan banyak waktu mengurusi ini. Orang tua murid punya banyak harapan kepada sekolah. Tugas sekolah adalah memfasilitasi dengan kesepakatan yang memanusiakan hubungan Purwani Febri : Yup betul sekali bu Heni, memang harusnya ada pihak ketiga agar wali kelas tidak terlalu terbebani, bahkan kadang sampai malam pun masih menanyakan anak. maaf malah curcol 🙏😄 Fitriyani Mustafa : Wah…menarik sekali. Bentuk angketnya seperti apa ya bu? Narasumber : Kita bisa bikin angket yang ringan ya, tidak perlu banyak narasi. Karena kita tahu orang tua suka malas baca. Seperti jam berapa dia tidur dan makan, apa mainan favoritnya, apa tujuan orang tua menyekolahkan. Lia Camelia : Pihak ketiga ini maksudnya siapa yah bu ? 😊 Narasumber : Bukan guru kelas dan bukan kepala sekolah bu. Posisi saya adalah penasehat komite di struktur yayasan saya pegang divisi pendidikan Purwani Febri : Bisa diusulkan ke pengurus supaya divisi pendidikannya bisa lebih terlibat… 👍👍 Maaf bu Heni untuk yang penasehat komite ini apakah ibu mengurus semua kelas atau bagaimana ya bu? Narasumber : Betul .Semua orang tua murid. Karena memang sudah ditugaskan. Oh iya, tips supaya para orang tua murid ini mau menjalankan perannya sebagai komite sekolah adalah Kepala Sekolah wajib membuatkan SK, struktur dan job desk untuk mereka. Adalah kebanggan jika foto mereka terpampang di ruang komite. Siti Umi Choiriyah : Kadang ada wali murid yang dari strata ekonomi rendah tidak mampu menyentuh anaknya apalagi bersinergi dengan sekolah dikarenakan sibuk mencari nafkah, jadi undangan dari sekolah dalam rapat apapun tidak bisa hadir. Maka sedikit berbagi pengalaman kadang kami pihak sekolah melakukan pendekatan sampai di tempat kerja wali murid tersebut. Misal ke pasar tempat wali murid berjualan. Duduk santai … Read more