Mengajar yang Efektif Saat Pandemi

Bagaimana cara mengajar efektif saat Pandemi? Pandemi mendatangkan beragam tantangan baru bagi para pendidik, baik guru, kepala sekolah, hingga orang tua murid. Ada kekhawatiran tidak dapat memberikan pembelajaran bermakna karena sekolah tatap muka ditiadakan. Merespon hal tersebut, Kampus Pemimpin Merdeka (KPM) bersama NusantaRun menginisiasi program #TerusBelajar. #TerusBelajar salah satunya diadakan di Ponorogo, untuk memfasilitasi ratusan pendidik agar belajar bersama menghadapi situasi yang sudah berubah sejak pandemi. #TerusBelajar diadakan sejak bulan Agustus 2021, semua peserta mendapatkan beberapa modul yang dapat diakses secara online. Dari modul itu, pendidik dapat belajar bagaimana caranya untuk menerapkan prinsip merdeka belajar untuk proses belajar yang berpihak pada anak. Baca Juga: Pembelajaran Jarak Jauh yang Menyenangkan Hari Selasa (22/02/2022), 176 peserta penggerak dari Kabupaten Ponorogo merayakan proses belajarnya di STKIP PGRI Ponorogo. Perayaan tersebut dihadiri oleh Imam Muslimin, Ketua Bidang Sekolah Dasar, Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo, Bukik Setiawan, ketua Yayasan Guru Belajar, dan Rizqy Rahmat Hani selaku ketua KPM. Rizqy, sapaan akrabnya, menjelaskan, selama masa pandemi murid kesulitan belajar hingga mengalami learning loss  yang semakin parah. Pasalnya, ekosistem pendidikan belum siap untuk memberi dukungan belajar yang kondusif pada murid. Bahkan mungkin sejak sebelum pandemi, banyak pendidik yang masih mengalami miskonsepsi mengajar. “Guru masih beradaptasi membuat pelajaran yang bermakna, kepala sekolah terus mencari cara untuk menjadi pemimpin saat pandemi, serta orangtua yang kebingungan dengan situasi ini. Akhirnya, dampak terbesarnya ada pada murid,” terang Rizqy. Inilah Cara Mengajar yang Efektif Saat Pandemi Salah satu peserta dan penggerak #TerusMengajar, Maria Kurniawati mengungkapkan, setidaknya terdapat dua hal yang harus diperhatikan agar mengajar yang efektif dapat memberikan pembelajaran yang bermakna pada murid. “Pertama yaitu tentukan dulu tujuannya dengan melibatkan murid. Ini menjadi penting karena tujuan adalah motivasi yang menggerakkan seseorang untuk belajar. Hal ini bisa meliputi apa pentingnya mempelajari ini atau mengapa hal ini yang dipelajari?,” terang Maria yang juga merupakan Kepala TK Merak Ponorogo. Sejak penentuan tujuan ini, Maria menegaskan memang perlu mengutamakan prinsip memanusiakan manusia dengan memetakan empati. Guru harus sadar bahwa murid tumbuh dengan kemampuan, minat, bakat, dan lingkungan yang berbeda. “Bagaimana dengan lingkungan keluarga besarnya, ayah, ibunya. Ini perlu waktu untuk belajar memahaminya. Namun tidak boleh terlewat karena dampaknya akan sangat besar,” tukasnya. Dari analisis tersebut, guru dapat memahami, setiap murid memiliki potensinya masing-masing. Potensi tersebut akan mengantarkan mereka untuk mencapai tujuan pembelajarannya. Selain itu, Maria menyarankan agar guru maupun kepala sekolah untuk rajin bergabung dengan gerakan-gerakan pendidik, seperti misalnya Temu Pendidik Daerah dan Temu Pendidik Nusantara. “Setelah belajar modul, saat itu saya ikut Temu Pendidik Daerah. Di situ saya mendapatkan penguatan dari yang sudah dipelajari. Tepatnya, saat itu mendapatkan pencerahan mengenai pembelajaran project dan STEAM,” jelas Maria. Tidak hanya berhenti di situ, Maria aktif untuk menularkan cara mengajarnya ke guru lain hingga menerapkan prinsip merdeka belajar ke muridnya. Baginya saat ini, pembelajaran tatap muka maupun jarak jauh tidak menjadi masalah. “Saya dan guru lainnya tidak lagi terkungkung harus home visit, Zoom, atau sejenisnya. Pembelajaran tatap muka mungkin cukup satu hingga dua kali seminggu. Selebihnya dapat dilakukan secara mandiri dan kami mendampingi dari jauh. Dari modul-modul itu, saya belajar untuk bisa bergerak mengajar dengan lebih fleksibel,” pungkasnya. — Kampus Pemimpin Merdeka merupakan lembaga pendidikan yang mendampingi jajaran pimpinan sekolah untuk menjadi penggerak dan pemimpin perubahan demi pendidikan yang #MerdekaBelajar dan berpihak pada anak.  Kampus Pemimpin Merdeka telah mendampingi lebih dari 100.000 pendidik dari 40 daerah yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Kampus Pemimpin Merdeka (KPM) bersama NusantaRun menginisiasi program #TerusBelajar di lima daerah di Jawa Timur, salah satunya Kabupaten Ponorogo. Program ini memfasilitasi ratusan pendidik agar belajar bersama menghadapi situasi yang sudah berubah sejak pandemi. Salah satu peserta penggerak #TerusBelajar Kabupaten Ponorogo, Maria Kurniawati, berbagi bagaimana caranya agar dapat tetap memberikan pembelajaran yang bermakna untuk murid di masa pandemi. Hal tersebut ia dapatkan pasca mengikuti program #TerusBelajar sejak Agustus 2021 lalu.

Gus Ipin dan Yayasan Guru Belajar Diskusikan Learning Loss di Kabupaten Trenggalek

Bukik Setiawan selaku Ketua Yayasan Guru Belajar (YGB) melakukan audiensi kepada Bupati Trenggalek, Moch. Nur Arifin, yang akrab disapa Gus Ipin, pada hari Rabu (23/02/2022). Kunjungan tersebut merupakan upaya YGB untuk mempererat relasi pasca diadakannya program #TerusBelajar di Kabupaten Trenggalek sejak Agustus 2021. #TerusBelajar merupakan program Kampus Pemimpin Merdeka, salah satu unit kerja YGB, dan NusantaRun di lima daerah di Jawa Timur guna pemulihan pembelajaran dari learning loss akibat pandemi. Total 132 pendidik di Trenggalek ikut serta untuk belajar pada program tersebut. Peserta penggerak mendapatkan beberapa modul yang dapat diakses secara online. Dari modul itu, pendidik dapat belajar bagaimana caranya untuk menerapkan prinsip merdeka belajar untuk proses belajar yang berpihak pada anak. Prinsip ini terbukti efektif untuk memberikan pembelajaran yang bermakna meskipun pada situasi pandemi. Ipin yang baru mendapat laporan #TerusBelajar mendukung penuh keberlanjutan program tersebut. Ia mengungkapkan, mempunyai cita-cita besar tentang pendidikan di Trenggalek. Selain itu, Ia juga menyampaikan visi pembangunan daerahnya saat ini yakni menekankan pemberdayaan perempuan dan kolaborasi terbuka. Oleh karenanya, gerakan kolaborasi yang mendorong adanya peningkatan kualitas pendidikan akan disambut dengan tangan terbuka. “Guru-guru yang punya semangat, ada kreativitas, harus ditampung dan diberi ruang untuk bergerak,” tukasnya. Dalam pertemuan tersebut, Bukik membicarakan kesempatan kerjasama yang lebih pada bidang pendidikan. Tidak hanya pemulihan pembelajaran dari learning loss, tapi juga peningkatan kualitas pembelajaran yang terukur melalui asesmen nasional, penerapan kurikulum merdeka atau pendidikan penggerak merdeka belajar. Baca Juga: Learning Gap & Transformasi Visi Pendidikan untuk Mengatasinya “Upaya pemulihan pembelajaran membutuhkan waktu yang lama, ada proses yang harus berkelanjutan dan kolaborasi lintas daerah. Harapannya pemerintah daerah Kabupaten Trenggalek juga dapat bergabung untuk berproses di dalam Lingkar Daerah Belajar,” jelas Bukik. Lingkah Daerah Belajar (LDB) merupakan inisiatif kolaboratif pemangku kepentingan untuk mendukung dan mendorong praktik dan kebijakan pendidikan daerah yang berpihak pada anak untuk menciptakan pemerataan kualitas pendidikan. Bukik mengatakan, melalui LDB nantinya pemerintah daerah Trenggalek juga dapat memiliki kesempatan untuk berbagai praktik baik terkait kebijakan dan pengelolaan pendidikan daerah di berbagai forum pendidikan. “Situasi sulit di masa pandemi bukan penghalang murid untuk belajar asalkan ekosistemnya siap, termasuk guru, kepala sekolah, hingga pemerintah daerah,” jelasnya. Pada akhir kunjungan, keduanya menyepakati untuk memajukan pendidikan daerah dengan program penggerak merdeka belajar yang berorientasi pada murid dan peningkatan indikator kinerja pendidikan daerah, hingga menjajaki kemungkinan kerjasama pendirian sekolah tinggi keguruan merdeka belajar di kawasan Dilem Wilis.

Learning Gap dan Transformasi Visi Pendidikan untuk Mengatasinya

Apa itu Learning Gap? Mengapa kita perlu memberi perhatian pada Learning Gap? Murid yang kesulitan belajar serta guru kesulitan mengajar adalah tantangan besar yang dihadapi di masa pandemi. Banyak yang tidak siap ketika pembelajaran yang biasa dilakukan dengan tatap muka, dilakukan dengan cara-cara baru. Hal ini berdampak langsung pada kualitas pembelajaran yang diperoleh murid. Terkait fenomena ini, “Darurat Learning Gap” menjadi salah satu topik forum pada Konferensi Pendidikan Indonesia 2022 (KPI). Forum yang diselenggarakan oleh Jaringan Semua Murid Semua Guru sejak Jumat (25/02/2022) ini melibatkan komunitas organisasi pendidikan, pemangku kebijakan, korporasi hingga media. Anindito Aditomo, Kepala Badan Standar, Kurikulum & Asesmen Pendidikan yang akrab dipanggil Nino menyatakan, “learning gap atau kesenjangan kualitas pendidikan, sebenarnya dan sayangnya bukan sesuatu yang baru, bukan yang muncul karena pandemi, (namun) pandemi memperparah itu dan membuat kita sadar itu masalah yang besar.” Nino menyampaikan, sistem pendidikan Indonesia begitu kompleks, baik kualitas maupun kesenjangan merupakan masalah sistemik, tidak akan mungkin dipecahkan oleh pemerintah saja. Sehingga pihaknya membutuhkan kritik substantif dari berbagai komunitas pendidikan. Sependapat dengan Nino, Bukik Setiawan, Ketua Yayasan Guru Belajar (YGB) mengajak para hadirin untuk menyalakan tanda bahaya. “Indonesia telah mengalami krisis pembelajaran bahkan sejak sebelum pandemi, banyak anak Indonesia yang bersekolah namun tidak banyak yang mengalami pembelajaran bermakna,” ungkap Bukik. Kerja keras yang sudah dilakukan untuk memaksa murid belajar, namun penguasaan kompetensi murid Indonesia justru masih jauh dari yang diharapkan. Bukik melengkapi pernyataan ini dengan mengungkapkan hasil riset Bank Dunia yang menunjukkan bahwa murid yang lulus kelas 12 hanya menguasai kompetensi setara kelas 8. “Learning loss telah terjadi sebelum pandemi, kenyataan yang sering tidak terlihat karena kaburnya pandangan ya kita, akibat terjebak pada salah kaprah pembelajaran. Kita gembira murid juara padahal itu tidak menggambarkan capaian keseluruhan murid. Kita gembira melihat murid mendapat nilai tinggi padahal kita tahu murid tersebut belum menguasai kompetensi, kita gembira melihat murid mengerjakan latihan soal berulang, meski kita tahu latihan soal tersebut tidak relevan dengan kehidupan.” papar Bukik. Pandemi covid menghajar di tengah pendidikan yang sebenarnya sudah goyah berdiri di situasi biasa. Riset yang dilakukan Pusmenjar dan Inovasi menunjukkan bahwa learning loss selama pandemi membuat 5-6 bulan hilang dalam 1 tahun pembelajaran. Dampak terbesar learning loss dialami oleh anak-anak dalam kelompok rawan, dibandingkan anak-anak yang mempunyai akses dan dukungan orangtua, jurang pembelajaran semakin lebar. Krisis pembelajaran tersebut menjadi ancaman yang nyata bagi murid Indonesia. Anak mengalami penurunan kapasitas untuk mengelola informasi dan relasi, siap hidup mandiri, berkarya, maupun berkontribusi pada negara. “Pada ujungnya berakibat pada turunnya kapasitas bangsa kita untuk berkontribusi secara global,” jelas Bukik. Baca Juga: Yayasan Guru Belajar Ajak Orprof Kolaborasi Merdeka Belajar Merespon krisis tersebut, Bukik mengajak peserta yang hadir di forum untuk melakukan tiga aksi. Pertama transformasi visi, adakan kegiatan untuk mendiskusikan dan memikirkan ulang tujuan esensial dari pendidikan Indonesia. “Dari memperbanyak kompetisi menjadi memperbanyak kolaborasi, dari latihan soal berulang menjadi pembelajaran berbasis proyek, dari berorientasi nilai dan piala menjadi berorientasi karya nyata,” tukasnya. Kedua transformasi aksi, adakan program yang mendorong transformasi pembelajaran, prioritaskan pada program yang berdampak sebesar-besarnya pada kelompok yang rentan. Ketiga transformasi daya, alihkan sumber daya termasuk prioritas, personil anggaran untuk mengadakan program transformasi belajar. “Ayo serentak bergerak, wujudkan merdeka belajar, belajar bergerak bermakna, semua murid, semua guru,” pungkas Bukik.

Praktik Asesmen Diagnosis, Tatap Maya Seindah Tatap Muka

Bapak dan Ibu guru merasa praktik asesmen diagnosis saat tatap maya tak seindah tatap muka? Merasakan banyak yang hilang dan memengaruhi proses belajar di kelas? Yap, pandemi yang datang ternyata menjungkirbalikkan kebiasaan-kebiasaan bapak dan ibu guru. Mungkin banyak para guru yang sudah memiliki kebiasaan pembelajaran dengan praktik asesmen diagnosis tatap muka namun tiba-tiba harus menjalankan pembelajaran praktik asesmen diagnosis tatap maya.  Tapi tenang bapak dan ibu guru, di dalam tulisan ini kita akan bahas lebih lanjut bagaimana sih membuat praktik asesmen diagnosis saat tatap maya seindah tatap muka. Tanpa berlama-lama, kita akan dengarkan cerita dari Ibu Anggi Rizka Pustika, yang mana anggota KGB Klaten dan mengajar di SD Negeri Bogem 2. Baca Juga: Praktik Asesmen Formatif dalam Pembelajaran Jarak Jauh “Lah, bikin nilai anak, ya tinggal kasih soal, beri nilai. Udah, deh. Beres! Ngapain repot mikir lainnya? Jawaban anaknya itu, ya udah itu nilai dia. Titik!” Proses belajar itu ya murid datang ke sekolah, guru membuka pertemuan, memberikan penjelasan, berlatih soal, membahas soal. Sudah cukup. Ketika materi habis, oh, ini artinya murid akan guru berikan ulangan untuk tahu capaian belajar mereka. Ulangan, koreksi, beri nilai selesai. Ya, semudah itulah saat awal-awal kegiatan Ibu Anggi dalam melakukan penilaian kepada murid. Apalagi belia seringkali mendengar kalimat-kalimat seperti ini. “Ah, guru itu gak bikin ulangan, gak koreksi aja udah tahu mana murid yang pinter mana yang enggak” atau “Hanya melihat wajahnya saja sudah hafal. Sudahlah tidak perlu repot. Seperti teman pada umumnya saja)”. Lagi-lagi tidak usah repot adalah kata sakti yang sempat membuat Ibu Anggi meyakini ketika melakukan penilaian kepada murid: yo wes (ya sudah). Gak usah repot. Lalu, tiba-tiba pandemi datang dan menjungkirbalikkan kebiasaan-kebiasaan yang selama ini Ibu Anggi lakukan. Ibu Anggi, guru yang sudah memiliki kebiasaan mengajar lebih dari delapan tahun, merasa bingung seketika. Tidak ada interaksi fisik langsung. Tidak ada teriakan, yang dari jauh dulu beliau tahu ini adalah suara si A. “Ya ampun….! Ini lembar kerja milik siapa? Kenapa gak dikasih nama, sih?” Ibu Anggi benar-benar merasa kebingungan, padahal sebelumnya beliau hafal tulisan setiap muridnya. Ibu Anggi merasa ada banyak yang hilang dan memengaruhi proses belajar di kelas. Beliau pun sempat menganggap jika tatap maya tak seindah tatap muka. Termasuk dalam proses penilaian. Keyakinan beliau bahwa penilaian gak usah repot, goyah.  “Si B suaranya kenceng. Mengerjakan tugas pasti dengan mengetuk-ngetuk meja. Kekuatannya ada pada numerasi, lemah dalam seni.”. Suara, gestur, tulisan, sifat, sikap, cara mengerjakan biasanya bisa beliau kenali dengan interaksi langsung. Lalu saat pandemi? Benar-benar menjadi big problem bagi Ibu Anggi. Beliau gak bisa mengetahui perkembangan si A ini bagaimana, si F seperti apa, si C kuat di bagian apa. Beliau merasa asing dengan murid-murid. Lantas beliau  bertanya kepada dirinya sendiri, “Kalau begini caranya, bagaimana bisa saya melakukan penilaian tanpa repot?”. Beruntunglah pada 2017, Ibu Anggi dipertemukan dengan Komunitas Guru Belajar. Kebingungannya tentang proses belajar kala pandemi mendapat jawaban dari komunitas ini. Termasuk tentang penilaian. Asesmen diagnosis menjadi jawaban atas masalah beliau dalam mengenal murid. Melalui KGB, Ibu Anggi menjadi paham bahwa penilaian untuk murid itu menyeluruh. Bukan hanya kasih soal, koreksi, beri nilai, selesai. Asesmen bagi murid itu hal yang kompleks dan butuh beragam cara untuk mendapat hasil yang akurat. Mudahnya, asesmen bisa diibaratkan seperti proses ketika kita sakit dan butuh pergi ke dokter. Ketika kita datang, dokter tidak akan langsung memvonis, “Oh, kamu sakit X”. Dokter akan memberikan beberapa pertanyaan terlebih dahulu. “Apa yang Anda rasakan? Sejak kapan? Bagian mana yang sakit?” Setelah itu, barulah pemeriksaan dimulai. Dokter akan mengaitkan hasil pemeriksaan dengan gejala yang nampak. Jika diperlukan, didukung dengan hasil tes laboratorium untuk menegaskan diagnosisnya. Ibu Anggi pun sadar, proses yang dilakukan oleh dokter ini seharusnya beliau lakukan pula kepada muridnya. Sayangnya, beliau tidak lakukan. Hasil belajar di KGB kemudian Ibu Anggi terapkan, refleksi. Apa yang selama ini bisa dengan mudah beliau ketahui ketika tatap muka, lantas beliau catat. Apa yang butuh beliau ketahui dari murid, beliau jadikan acuan untuk membuat asesmen diagnosis, membuat profil murid. Ibu Anggi kemudian membuat daftar pertanyaan melalui Google Form. Pertanyaan tersebut beliau klasifikasikan menjadi dua jenis, berupa daftar pertanyaan yang umum dan daftar pertanyaan yang khusus serta detail. Daftar pertanyaan yang umum itu seperti ketika kita membuat biodata bagi murid baru. Pertanyaannya seputar nama orang tua, nama anak, alamat tinggal, serta pekerjaan. Jika biasanya dalam biodata isian diwakilkan data ayah, maka dalam data ini Ibu Anggi meminta diisi baik data ayah maupun ibu. Untuk apa? Untuk mendapatkan gambaran detail apakah anak ini tinggal bersama orang tua atau keluarga lainnya. Data pekerjaan membuat beliau memahami apakah orang tua bekerja semua atau ada salah satu yang di rumah. Jika di rumah, apa yang dia kerjakan? Dilanjutkan dengan pertanyaan khusus. Ibu Anggi mulai dengan menanyakan jumlah anggota keluarga serta dengan siapa tinggal dalam satu rumah. Data ini bermanfaat untuk mengetahui orang dewasa yang berpotensi untuk menjadi pendamping belajar murid selain ayah atau ibunya. Berapa jumlah gawai yang dimiliki dan apa saja juga beliau tanyakan. PJJ dalam gambaran Ibu Anggi pastinya akan sangat membutuhkan gawai. Oleh karena itu kepemilikan gawai ini sangat penting untuk beliau ketahui agar beliau dapat menentukan bagaimana proses belajar yang sesuai dengan kondisi mereka. Salah satu pertanyaan penting lainnya adalah berapa rupiah yang digunakan seluruh keluarga dalam satu bulan untuk kuota internet. Akan sangat tidak bijak jika Ibu Anggi tidak tahu hal ini, lalu setiap hari mengajak murid menggunakan video conference, padahal untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari orang tua masih mengalami kesulitan. Oh, iya, Ibu Anggi tanyakan hal ini sebelum ada kuota dari Kemendikbud. Ibu Anggi merasa tetap penting juga untuk mengetahui meskipun saat ini telah ada kuota bantuan dari Kemendikbud.  Setelah Ibu Anggi kirimkan tautan Google Form ini ke grup WhatsApp, orang tua merespon dengan sangat baik. Tak berapa lama, beliau sudah mendapatkan data anak-anak dari orang tua. Ibu Anggi juga meminta murid untuk menceritakan dirinya untuk mendapatkan data diri yang lebih personal. Beliau ajukan pertanyaan panduan seperti yang beliau ajukan kepada orang tua mereka. Ada pertanyaan umum dan khusus juga. Pertanyaan umum seperti nama diri, alamat tinggal, nama orang tua, dan pekerjaan orang tua. Pertanyaan khusus seperti … Read more

Personalisasi Belajar Merdeka Belajar

Sering pusing menghadapi murid beragam? Dalam pembelajaran melibatkan murid dengan segala keragamannya, guru terkadang bingung merancang pembelajaran yang memfasilitasi keunikan setiap murid. Alhasil beberapa guru cenderung menyeragamkan proses pembelajaran dan mengabaikan kebutuhan personal murid, sehingga tidak terjadi personalisasi belajar. Setiap murid memiliki keunikan dan karakteristik yang beragam. Ada murid yang hobi bernyanyi, menggambar bahkan menari. Guru tidak dapat menyamaratakan hobi dan minat murid yang beragam. Bagaimana cara memfasilitasi keunikan murid yang beragam dalam proses pembelajaran? Guru perlu memfasilitasi pembelajaran yang dapat mengembangkan potensi dan membuat murid berpetualang melalui personalisasi belajar. Pada 17 Agustus 2021 yang juga bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia, Obrolan Guru Merdeka Belajar membahas petualangan murid dalam proses belajar dengan judul Personalisasi Petualangan Merdeka Belajar.  Pemandu membuka obrolan dengan menanyakan apa sih sebenarnya personalisasi belajar itu? Pak Mohammad Rizky Satria sebagai salah satu narasumber menjelaskan bahwa personalisasi belajar itu artinya proses penyesuaian aktivitas belajar dengan keunikan dan kebutuhan setiap individu. Tentu saja maknanya lebih dalam dari itu, dengan personalisasi belajar ini kita sebisa mungkin harus kembali pada hakikat belajar itu sendiri. Bahwa pada hakikatnya belajar itu adalah suatu yang alamiah, sesuatu yang melekat dalam diri setiap manusia, seperti anak-anak yang banyak bertanya, serta belajar banyak hal tanpa diminta. Paradigma belajar seperti ini yang perlu dibangun dalam personalisasi belajar. Namun selama ini terkadang karena belajar itu didominasi oleh sekolah atau guru kesannya belajar menjadi sesuatu yang formal & prosedural, padahal sebetulnya tidak demikian. Setelah memahami hakikat belajar sebagai proses alamiah, lalu muncul pertanyaan belajar seperti apa yang paling sesuai, paling tepat, serta dapat optimal? Jawabannya adalah belajar yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan kita, disitulah muncul personalisasi belajar. Pak Rizky juga mengungkapkan dengan momen hari kemerdekaan ini menjadi waktu yang baik untuk kita mereflesikan kembali makna belajar, mengembalikan hakikat belajar dari keterkungkungan dan miskonsepsi belajar-belajar yang prosedural. Lebih luas dari itu kita bisa menyesuaikan aktivitas belajar seperti apa yang sesuai dengan diri kita, ini yang menjadi makna persoanalisasi belajar lebih jauh. Pa Rizky yang juga seorang guru dari SMP Cikal Serpong menyampaikan berkaitan dengan makna personaliasasi belajar secara umum, dalam konteks pembelajaran peran guru menjadi lebih krusial. Bahwa selain guru bisa mempersonalisasi belajar untuk dirinya sendiri, harus membantu murid juga untuk memfasilitasi aktivitas belajar sesuai dengan kebutuhan setiap murid. Guru perlu mengupayakan pembelajaran yang memberi ruang untuk murid sesuai gaya belajarnya sendiri, punya semangat belajar yang baik, punya pemikiran terhadap belajar yang tepat, dan kemudian bisa memahami dirinya sendiri. Menariknya dalam Obrolan Guru Merdeka Belajar berjudul Personalisasi Petualangan Merdeka Belajar juga menghadirkan murid sebagai narasumber yaitu Ayunda Damai Fatmarani. “Kalau dari aku mungkin mengajar dan memberikan tugas itu satu bagian sendiri tapi di sebelum itu biasanya aktivitas belajar dalam satu semester kali ya, itu dimulai dari menetapkan tujuan belajar (goal setting) masing-masing murid termasuk aku” ungkap Damai membuka cerita pengalaman personalisasi belajarnya.   Damai sebagai murid dari sekolah Cikal Surabaya juga menjelaskan setelah mengetahui ekspektasi masing-masing di awal yang sudah ditetapkan melalui tujuan belajar, selanjutnya bisa disesuaikan juga dalam proses pembelajarannya. Misal yang suka diskusi akan dibuat group diskusi, bagi yang lebih suka membaca akan dicarikan sumber bacaan untuk dibaca sebelum diskusi. Pemberian tugas juga sama bisa dipersonalisasikan dengan melihat dari tujuan belajar yang sudah ditetapkan. Selain itu Damai pun menceritakan pengalaman personalisasi belajar saat mengerjakan asesmen sumatif tahun lalu, untuk pembelajaran bahasa inggris materinya sendiri tentang literatur. “Jadi kami diminta untuk membaca salah satu buku, kebetulan bukunya sama, tetapi setelah itu diminta untuk menganalisa isi bukunya dengan topik yang sesuai minat murid-muridnya. Menganalisa apa sih yang paling menarik dari buku tersebut, untuk aku sendiri menganalisa bagaimana tata bahasa dan diskursus itu bisa digunakan untuk mengontrol masyarakat. Tapi teman-teman aku ada yang menganalisa tentang emosi karakternya dan bagaimana itu membentuk ceritanya, ada juga yang membahas sejarah dan menganalisa betapa pentingnya masa lalu, ada juga tentang relasi antar karakter dan itu benar-benar dipersonalisasi sih akhirnya per murid” cerita Damai terlihat semangat menikmati proses dan petualangan belajarnya.  Setelah mendengar cerita Damai Bu Fatrica sebagai pemandu obrolan bertanya apakah personalisasi belajar hanya akan menambah beban guru? Pak Rizky pun menegaskan “jika pertanyaannya apa menambah beban guru? Jawabannya iya, tapi apakah hanya menambah beban guru? Tentu saja tidak, karena upaya lebih yang dilakukan guru untuk memahami muridnya akan setimpal di akhir nanti ketika bisa melihat karya-karya murid seperti karya Damai dan teman-temannya tadi. Dengan personalisasi belajar potensi murid bisa muncul, murid bisa punya pilihan memanfaatkan ruang yang guru berikan dan memanfaatkan aktivitas belajar yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan setiap murid. Namun saya lebih suka menyebutnya tantangan atau tanggung jawab bukan beban. Tantangannya meningkat yang tadinya hanya mengajar sesuai dengan yang saya inginkan menjadi sesuai dengan yang murid-murid inginkan, kompromi dengan apa yang sudah saya susun. Atau tanggung jawabnya lebih yang tadinya hanya menyampaikan materi saja sekarang tanggung jawabnya membantu mengoptimalkan potensi setiap individu, kalau seperti itu jadinya lebih positif” ungkapnya dengan lugas. Bagaimana Ibu dan Bapak guru, apakah Anda sudah siap memilih tantangan melakukan personalisasi belajar? Tenang, berikut ada dua tips dari Pak Rizky Satria untuk mempersiapkan personalisasi belajar, yaitu: Merancang strategi untuk bisa memahami karakteristik dan kebutuhan setiap murid Disini kita bisa melakukan berbagai cara seperti asesmen diagnostik di awal untuk bisa membuat pemetaan bagaimana komposisi murid-murid di kelas, selain itu diagnostiknya tidak hanya di awal tapi berlanjut seiring proses pembelajaran. Bisa juga melakukan observasi dengan menjadikan murid teman ngobrol. Dengan berteman dan sering ngobrol kita dapat memahami karakter murid lebih baik. Strategi menerapkan personalisasi dengan diferensiasi Bahwa dalam satu kali aktivitas belajar itu ada beragam cara yang dapat kita hadirkan. Ada yang dibedakan kontennya, ada yang prosesnya, dan ada juga dibedakan produknya. Memberikan beragam pilihan kepada murid, untuk itu pentingnya memahami murid di awal. Dengan memahami kita bisa mendesain pembelajaran yang memfasilitasi keberagaman murid.  Selanjutnya pemandu mengarahkan obrolan untuk menjawab pertanyaan peserta yang menyaksikan baik dari platform youtube Kampus Guru Cikal maupun dari sekolah.mu program Obrolan Guru Merdeka Belajar. Sebagian peserta bertanya kepada Damai mengenai pengalamannya mendapatkan dan melakukan personalisasi belajar. Damai pun menceritakan mulai dari pengalaman personalisasi belajar paling berkesan yaitu setiap proses diskusi dalam hal apapun bersama guru … Read more

Asesmen Diagnosis: Trik Jitu Supaya PJJ Tidak Lesu

“Bingung, nih. Rasanya sudah berusaha supaya PJJ-nya efektif. Ternyata murid-murid  pada bosan, pasif, dan susah ngertinya. Harus bagaimana lagi?” Pernah mengeluh atau mendengar keluhan seperti itu? Sebagai sesuatu yang baru dan tidak terduga, PJJ memang memberi banyak kisah. Umumnya berupa kebingungan dan penuh tanda tanya.  Namun, show must go on. Bagaimanapun, kegiatan belajar harus berjalan.  Tapi tidak bisa asal jalan saja kan? Harus ada usaha supaya PJJ berjalan efektif.  Tentu ingin tahu kiat-kiatnya kan? Nah, Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar pada 3 April 2021 mengangkat topik yang ditunggu-tunggu banyak pemimpin dan guru merdeka belajar, yakni bagaimana kiat jitu pemimpin saat PJJ. Bu Natalia Lilipaly dari TK Aletheia Jember dan Bu Elisabet Indah Susanti dari Kampus Guru Cikal berbagi pengalaman dan membedah kiat jitu pemimpin dalam PJJ. Dipandu Pak Andrie Firdaus dari Sekolah Cikal, obrolan pada malam Minggu ini terasa lebih hidup. Ternyata, memang banyak guru dan sekolah yang bingung menghadapi PJJ sebagai imbas  pandemi COVID-19. Tidak ada satu pun yang siap. Semuanya sama-sama belajar dari titik nol. Bu Natalia menuturkan, menghadapi PJJ, sekolahnya memilih membuat video sebagai media belajar.  Di awal tidak ada masalah. Namun, lama kelamaan murid-murid bosan. Mereka kehilangan sesuatu. Apa itu?  Murid-murid kehilangan kesempatan berinteraksi dengan gurunya. Mereka tidak lagi bisa menyapa atau bertanya. Hanya bisa menatap wajah guru di video, tak bisa say hello. Tentu saja bukan seperti itu yang diinginkan murid. Mereka butuh terhubung dengan gurunya. Keresahan dan dan kebutuhan murid terdeteksi oleh guru-guru. Setelah mendengar informasi dan masukan dari  orang tua, guru-guru melakukan refleksi. Bagaimanapun, kebutuhan murid harus terpenuhi. Mengirimkan video pembelajaran bukan sebuah solusi holistik. Perlu cara lain agar interaksi guru dengan murid terjalin kembali. Dipilihlah untuk melakukan panggilan video per murid. Di sekolah Bu Natalia disebutnya one on one.  Di samping one on one, ada juga sesi kelompok dan sesi kelas besar. Panggilan video per murid durasinya paling lama 30 menit. Dalam satu hari, satu guru bisa berinteraksi lewat panggilan video dengan lima murid.  Sesi kelompok dilaksanakan selama 40 menit.  Ada sesi kelompok kecil yang terdiri dari 3-5 murid (25-50% dari jumlah murid).  Pada sesi ini murid-murid  bisa belajar dan berinteraksi dalam kelompok. Pembagian kelompok kecil ini di bentuk berdasarkan kesamaan tipe (gaya) belajar. Ada juga sesi untuk satu kelas, di mana mereka bisa berinteraksi dengan teman sekelas. Sedangkan sesi kelas besar merupakan gabungan dari semua kelas. Sesi ini dilaksankan dalam bentuk ibadah bersama. Nah, setelah dipraktikkan, ternyata murid-murid lebih bersemangat mengikuti PJJ. Ada sisi lain dari pelaksanaan PJJ ini. Menurut Bu Natalia, beberapa guru harus mengganti gawainya karena tidak kompatibel. Pun demikian dengan orang tua. Bukan hanya guru dan orang tua, manajemen sekolah juga harus meng-up grade kapasitas wifi sekolah supaya bisa dipakai untuk PJJ. Ternyata yang berubah bukan hanya sumber daya manusia, perangkat dan fasilitas pendukung juga perlu ditingkatkan. Sementara itu, Bu Susan menyampaikan pentingnya selalu melakukan refleksi. Ketika secara tiba-tiba pembelajaran harus berubah, mau tidak mau guru harus cepat belajar dan berusaha menemukan solusi terbaik. Bu Susan mengibaratkan, apa yang dilakukan guru sama dengan apa yang dilakukan dokter. Untuk mengetahui kondosi kesehatan seseorang secara akurat, doktek melakukan medical check up.  Semua organ tubuh diperiksa. Dari hasil pemeriksaan itulah dokter membuat diagnosis  kondisi kesehatan seseorang. Kemudian memberikan treatment yang tepat berdasarkan diagnosis tersebut. Guru pun perlu melakukan check up yang komprehensif terhadap murid-muridnya. Aspek yang diperiksa meliputi sisi kognitif, nonkognitif, emosi, dan lingkungan.  Bukan hanya tentang diri murid, kondisi keluarganya juga perlu diketahui.   Kegiatan seperti itu merupakan bagian dari asesmen diagnosis. Hal penting yang membuat asesmen diagnosis perlu dilakukan adalah agar guru tidak salah memberikan treatment kepada murid. Di samping itu, dari hasil asesmen diagnosis guru akan mengetahui kebutuhan setiap murid sehingga bisa merancang program belajar yang efektif. Asesmen diagnosis merupakan asesmen untuk pembelajaran. Bisa dilaksanakan kapan saja, tidak mesti di awal tahun pelajaran. Bisa di awal semester atau di awal materi baru. Bagaimana caranya? Strategi untuk melakukan asesmen diagnosis tergantung tujuannya. Jadi, tentukan dulu tujuannya, baru memilih strategi yang tepat.  Asesmen diagnosis bisa dilakukan lewat kuis, pretest, game, wawancara, observasi, angket, dan lain-lain. Sekali lagi, stategi yang dipakai tergantung tujuannya. Bagi  pemimpin sekolah, asesmen diagnosis merupakan bekal untuk mengambil kebijakan yang tepat. Harapan, kondisi,  serta  kebutuhan murid dan orang tua terpetakan sehingga lebuh mudah dipahami. Di akhir obrolan, Bu Natalia menyampaikan supaya sekolah (guru) berani mencoba dan membuka komunikasi dengan orang tua.  Sedangkan Bu Susan menegaskan pentingnya dilakukan asesmen diagnosis untuk lebih memahami murid. Baca Juga: Siap AN, Siap Berubah? Nah, setelah mendapatkan paparan tentang strategi pemimpin merdeka belajar saat PJJ, inspirasi apa yang Anda dapatkan? Perubahan apa yang ingin Anda lakukan? Jurus jitu apa yang akan Anda tampilkan?  selalu bergerak: membuat dan mengusahakan perbaikan. Yuk! Ingin mengikuti program pelatihan kepemimpinan sekolah?Klik tombol di bawah ini!

Guru Merdeka Belajar dan Berkarier di Sekolah Lawan Corona Al Fityah

Guru Merdeka Belajar di Tengah Pandemi “Merdeka Belajar sering diartikan bebas belajar, dan tanpa aturan. Merdeka belajar itu  terjadi jika kita bisa mengatur sendiri proses pembelajaran, baik itu pihak sekolah, guru, orang tua dan maupun murid. Dan hal tersebut ditunjukkan oleh guru dan pemimpin sekolah di Yayasan Al Fityah saat mengikuti program Sekolah Lawan Corona. Karena belajar adalah kebutuhannya, kemauannya sendiri, rekan-rekan di Al Fityah mencari cara untuk bisa belajar program-program dan menyelesaikannya.”, Ujar Bukik Setiawan yang mewakili Yayasan Guru Belajar pada Perayaan Belajar Sekolah Lawan Corona Yayasan Al Fityah pada Minggu 17 Januari 2020. Program Sekolah Lawan Corona di Yayasan Al Fityah sendiri berjalan mulai pertengahan bulan November, dimulai dengan kegiatan sosialisasi dan pengisian asesmen program untuk mengetahui kebutuhan belajar guru dan pemimpin sekolah. Kemudian pelaksanaan program otomatisasi dan interaksi dilaksanakan hingga awal Desember.  Baca Juga: Sekolah Lawan Corona Jawa Tengah Awal pelaksanaan di Yayasan Al Fityah ada beberapa guru yang mengalami kendala dalam pelaksanaan : ada guru yang harus mengurus bayi sehingga pengerjaan program terhambat, ada kendala sinyal dan banyak tantangan lainnya. Peran mentor untuk terus memberi semangat, mengajak peserta melakukan refleksi, dan kemudian mencari cara sangat membantu terselesaikannya program oleh peserta SLC Al Fityah. Buktinya 100% dari 50 peserta baik guru maupun pemimpin sekolah menyelesaikan program ini. Guru Emi Yayusari salah seorang Guru di SDIT Al Fityah Kota Binjai mengungkapkan bahwa awalnya pembelajaran jarak jauh, murid merasa bosan belajar, orang tua menganggap pembelajaran menjadi beban. Setelah mengikuti Sekolah Lawan Corona saya mendapat ilmu banyak, terutama mengenai pembelajaran jarak jauh. Peran mentor di SLC sangat membantu. Setelah ikut Sekolah Lawan Corona menjadi lebih menyenangkan pembelajarannya, lebih bisa kolaborasi dengan orangtua. Sejalan dengan Guru Emi Yayusari, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang hadir pada Perayaan Belajar tersebut mengatakan bahwa memang banyak sekali tantangan di masa pandemi. Namun banyak yang mulai beradaptasi, salah satunya Yayasan Al Fityah. Pandemi tidak menghalangi kreativitas guru. Guru Meniti Karier Jika program pendidikan lain penanda selesainya program biasanya dengan sertifikat. Lalu program benar-benar selesai. Namun di program Sekolah Lawan Corona ini tidak berhenti setelah program selesai. Di Yayasan Al Fityah awalnya bergerak karena persoalan yang dihadapi selama pandemi ini. Namun setelah mengikuti SLC dan persoalan yang dihadapi bisa terselesaikan, bukan berarti selesai bergerak. Guru dan pemimpin sekolah yang memiliki harapan, dan cita-cita yang tinggi terus akan bergerak menuju merdeka belajar. Ini terbukti dari banyaknya guru yang mulai melebarkan sayapnya dalam bergerak. Ada 4 guru yang menjadi pembicara Temu Pendidik Nusantara (TPN) 7, ada 4 guru yang menjadi pemandu TPN 7, bahkan ada 5 guru yang mendaftarkan diri dan menjadi pendamping guru lainnya di program SLC DKI Jakarta dan juga seorang guru yang mengembangkan kariernya menjadi penulis dengan dipublikasikan tulisannya di Surat Kabar Guru Belajar edisi 26. Baca Juga : a Ingin bergabung di program Sekolah Lawan Corona?Yuk gabung!Klik slc.kampusgurucikal.com

Kecerdasan Buatan akan Menggantikan Guru

Apakah judul tulisan tentang kecerdasan buatan ini mengada-ada?Apakah Bapak Ibu guru sudah merasakan “ancaman” kecerdasan buatan? Kecerdasan buatan atau istilah kerennya Artificial Intellegence (AI) semakin mudah ditemui. Sebut saja Google Asisten di Android, Siri di perangkat Apple, Cortana di Microsoft Windows dan Alexa di Amazon. Betapa mudahnya kita meminta bantuan pada kecerdasan buatan ini, dari aktivitas sebagai mesin pencari, pemandu jalan, melakukan panggilan, bahkan menyalakan perangkat listrik di rumah yang sudah tersambung.“Ah itu kan aktivitas sederhana”Oke, coba lihat betapa “mengerikannya” kecerdasan buatan. Di media sosial kita bisa disuguhkan informasi yang didasarkan apa yang kita suka. Iklan-iklan yang muncul berdasarkan kebiasaan kita, dengan memanfaatkan kecerdasan buatan yang mampu mengenali karakteristik jenis foto/gambar yang kita sukai, juga notifikasi/pemberitahuan yang disesuaikan sehingga kita betah berlama-lama. Bahkan ada kecerdasan buatan yang dapat “berkembang kecerdasannya” seperti yang ditanam pada game sepak bola. Pemain yang dijalankan komputer bisa memahami kondisi lapangan, berhati-hati agar melakukan tackle tanpa melanggar aturan. Sadar akan waktu pertandingan dan bahkan menyesuaikan cara bermain lawan. Terdapat pula fitur yang dapat menganalisis hingga memberikan gelar man of the match pada pemain terbaik di pertandingan. Kecanggihan kecerdasan buatan juga sudah dihadirkan di berbagai film baik dokumenter maupun fiksi ilmiah. Mulai dari The Social Dilemma di Netflix, film terkenal Terminator, tayangan anak Kamen Rider Zero-One, hingga AI yang bisa menyembuhkan orang sakit di Transcendence. Bayangkan, bagaimana jika anak bisa difasilitasi belajarnya oleh kecerdasan buatan?Kecerdasan buatan yang akan memberikan informasi baik teks, gambar, video hingga simulasi digital sesuai topik yang sedang dipelajari.Kecerdasan buatan yang akan memberi notifikasi agar murid tenang saat belajar. Kecerdasan buatan yang akan menunjukkan warna merah, suara mengerikan, saat murid melanggar aturan. Kecerdasan buatan yang akan memberikan banyak bintang saat murid berbuat baik. “Kan kecerdasan buatan tidak ada sentuhan personal yang memanusiakan?”Lho, justru teknologi bisa melakukan diagnosis perilaku, dan memberikan personalisasi yang dapat disesuaikan dengan pengguna secara cepat. Bukankah personalisasi yang memanusiakan itu malah jadi tantangan berat jika kita melakukan pembelajaran sekadar dengan cara ceramah? Lalu bagaimana agar guru tidak digantikan kecerdasan buatan? Semangat menghadirkan teknologi masa depan, di pembelajaran masa kini dilakukan oleh #1000Pembicara beserta 3460 peserta saat #BelajarDiTPN7 (Temu Pendidik Nusantara). Terdapat lebih dari 380 kelas di acara yang diselenggarakan Komunitas Guru Belajar Nusantara dan Kampus Guru Cikal ini. Pada 12 – 13 Desember 2020 para guru saling belajar dan berbagi praktik baik pembelajaran. Alih-alih menyalahkan teknologi, para guru justru mengombinasikannya dengan pedagogi. Para guru yang tidak sekadar menggunakan teknologi untuk mempermudah pembelajaran direpetisi. Tidak sekadar menjadikan teknologi sebagai alat mengalirkan informasi. Bukti bahwa kecerdasan buatan tidak bisa menggantikan para guru ini. Baca Juga: Pasar Praktik Baik itu Bernama Kelas Kemerdekaan Seperti apa pembelajaran yang dibagikan dan dipelajari di Temu Pendidik Nusantara ke-7?Seperti apa guru yang sulit digantikan kecerdasan buatan?Yaitu guru yang menerapkan pembelajaran 5M (Memanusiakan Hubungan, Memahami Konsep, Membangun Keberlanjutan, Memilih Tantangan, Memberdayakan Konteks). 1. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Memanusiakan HubunganPara guru memanfaatkan teknologi untuk membangun relasi dengan murid dan orangtua. Sehingga pembelajaran yang dirancang menyesuaikan kondisi mereka. Seperti apa penerapannya?Pembuatan media pembelajaran yang diawali dengan proses empati. Memanfaatkan media untuk memahami emosi murid. Penggunaan formulir asesmen diagnostik untuk menentukkan cara yang akan digunakan dalam pembelajaran. Juga pemanfaatan teknologi untuk menghadirkan belajar dengan kegembiraan. Sehingga guru mampu mengajak murid belajar tanpa iming-iming reward seperti bintang, maupun hukuman. Apakah hal serupa sudah Bapak Ibu lakukan? 2. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Memahami Konsep“Kalau hanya memberi informasi, google lebih jago.”Saat ini jika orang penasaran, maka google di genggaman tangan akan menjadi jawaban. Para guru belajar di Temu Pendidik Nusantara ke-7 tidak ingin menjadi guru yang sekadar memberi informasi. Para guru ini melawan miskonsepsi, tidak mau jika hanya memindahkan ceramah ke media virtual. Alih-alih demikian, guru memodifikasi permainan, lagu, video, dan bahkan strategi pembelajaran dengan mengangkat konteks lingkungan untuk membantu murid membangun pemahaman. 3. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Membangun KeberlanjutanJika sekadar memberikan tanda benar dan salah pada jawaban murid, serta memberi nilai berupa angka pada lembar soal, tentu beragam tools sudah tersedia. Nah, saat #BelajarDiTPN7 para guru membahas cara memberikan umpan balik, proses refleksi, hingga memperluas manfaat pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi. Dari proses memberi umpan balik melalui permainan, hingga menyebarkan praktik baik pembelajaran ke lebih banyak jangkauan. 4. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Memilih Tantangan“Mengapa banyak orang kecanduan gawai, tapi sedikit yang kecanduan belajar?”Tahukah Bapak Ibu apa yang membuat game bikin ketagihan? Dan mengapa pembelajaran membuat bosan?Game memberikan berbagai pilihan dan jenjang tantangan. Karena jika hanya ada satu pilihan yang terlalu sulit, maupun satu pilihan saja yang terlalu mudah, sama-sama membuat bosan dan bahkan stres.Apakah pembelajaran di kelas kita juga demikian? #BelajarDiTPN7 menghadirkan para guru yang sudah memberikan pilihan jenis dan cara mengerjakan tugas. Karena para guru ini sadar, bahwa tidak mungkin semua murid diminta membuat tugas berupa video, atau bahkan hanya boleh menulis di kertas folio. Apalagi di saat pandemi mewabah, fasilitas belajar di rumah tidak seperti di sekolah. 5. Pembelajaran dengan Teknologi untuk Memberdayakan Konteks Bapak Ibu bisa melihat beragam kelas kolaborasi di TPN ke-7, silakan klik di sini. Para guru berbagi bagaimana tetap berdaya di tengah pandemi. Tidak hanya sendiri, namun menggerakkan orang lain dan batas jarak pun dilampaui. Gerakan membagikan praktik baik selama pandemi dengan komik digital, media sosial, hingga berbagi panggung virtual. Banyak sekolah yang saling belajar bersama, meskipun berasal dari daerah yang berbeda. Panduan Pembelajaran 5M bisa diunduh di sini Jadi, apakah Bapak Ibu siap digantikan kecerdasan buatan?Atau pembelajaran 5M akan Bapak Ibu terapkan?Poin mana yang akan Bapak Ibu lakukan?Yuk tulis di komentar, dan juga sebarluaskan!

Kuota Semangat Belajar yang Tidak Habis-Habis

Semangat belajar dan kerja keras ibu pengawas kami memang berbeda dari pengawas yang lain, kalau diibaratkan kuota internet, kuota semangat belajar beliau tidak pernah habis. Walau seorang perempuan yang tidak muda lagi namun tidak menghalangi  beliau berkarya dan berkontribusi dalam berbagai kegiatan. Selalu ingin mencoba hal yang baru dan menerima tantangan. Di saat melakukan supervisi sekolah dan guru, jangan harap kedekatan hubungan dengan beliau akan memuluskan pemeriksaan, tidak ada keistimewaan dalam hubungan disaat bekerja, semua rata dan adil. Masyaallah prinsip yang patut diacungi jempol. Melihat tidak habis-habisnya kuota semangat belajar belajar bu Makhdalena, nama pengawas kami, timbul keinginan saya untuk mengajak beliau untuk ikut bergabung di KGB. Dengan ikutnya beliau jadi penggerak akan memudahkan kami bergerak menyebarkan semangat merdeka belajar kepada guru-guru Lunang.  Disamping itu bu Makhdalena  selaku pengawas dan Kordikcam Lunang akan memiliki ruang yang lebih luas lagi untuk bergerak dan bertindak menyampaikan guru merdeka belajar dibandingkan dengan kami yang harus minta izin dulu jika ingin mengadakan kegiatan. Karena haus akan ilmu tanpa pikir panjang ibu Makhdalena  menerima tawaran yang saya berikan. Beliau minta kapan waktunya akan ikut nobar sesuai syarat awal sebagai penggerak.  Karena pada waktu itu kami akan melakukan ujian akhirnya semester tahun ajaran 2019/2020,  maka kami sepakat setelah  libur semester diadakan dikarenakan ibu Makhdalena akan ikut pelatihan ke LPMP Padang.  Waktu terus berlalu namun kegiatan nobar untuk bu Makhdalena juga belum terlaksana, terlalu sulit menghubungi dan mengatur waktu dengan beliau. Disaat  beliau bisa  untuk nobar namun saya sebagai reporter yang tidak bisa atau bu Rini Suryati sebagai koordinator  sekaligus narasumber tidak  bisa. Saya dan Bu Rini sepakat saat nobar bu Kordikcam kami harus lengkap sebab kami akan mengadakan nobar di hadapan seluruh kepala sekolah SD Lunang. Sehingga memudahkan kami dalam menarik  kepala sekolah untuk ikut aktif menyebarkan merdeka belajar di sekolahnya. Sayangnya, rencana tinggal rencana kegiatan nobar tidak kunjung diadakan untuk bu Makhdalena, sampai akhir datang wabah Corona melanda daerah kami. Lockdown, dilarang mengadakan acara, dilarang mengunjungi keramaian, di rumah saja dan aturan protocol kesehatan lainnya yang harus kami patuhi demi keamanan dan keselamatan. Di tengah pandemi yang melanda negeri kami guru penggerak Pesisir Selatan tetap semangat walau dari rumah, seolah kuota semangat belajar mengajar sangat banyak. Dengan menggunakan RPP PJJ yang di sediakan KGC, kami bisa mengajar dari Rumah melalui daring. Lain dari yang lain, sebagian besar guru-guru memberikan tugas kepada murid secara luring antar jemput tugas ke sekolah.  Melihat gebrakan kami guru penggerak berbeda dengan yang lain, sebagai pengawas dan Kordikcam Lunang  beliau merasa bangga. Bahkan minta digabungkan ke grup WA Paguyuban kelas 3, kelas yang  saya among untuk melihat bagaimana penerapan  belajar secara daring. Rasa penasaran bu Makhdalena semakin menjadi-jadi terhadap KGB, waktu kami mengadakan pertemuan penggerak di rumah bu Rini Suryati, beliau hadir  meskipun bukan  terdaftar sebagai penggerak. Beliau ikut nonton video Nobar bersama Bu Najelaa Shihab. Akhirnya waktu itu tiba juga, disaat Pandemic mulai berkurang di daerah kami, kami sudah diizinkan ke sekolah dan mengadakan pertemuan di kecamatan untuk membahas pembuatan soal ujian tengah semester  dengan mengikuti protocol kesehatan.  Hari Jumat tanggal   25 September 2020, kami mengadakan pertemuan guru kelas rendah 4-6 di kecamatan. Kesempatan ini tidak kami sia-siakan,  disaat menjelang kegiatan dimulai kami minta bu Mahkdalena menyampaikan sedikit informasi bahwa kita akan mengadakan nobar guru merdeka belajar. Saat video merdeka belajar  diputarkan oleh bu Rini Suryati, semua peserta focus menontonnya. Ada yang tertawa melihat gambar telunjuk anak sampai menembus atap rumah. Sebagian peserta ada yang berkata mungkinkah apa yang disampaikan oleh bu Najelaa Shihab itu bisa kita laksanakan di sini? Ada sebagian peserta kagum dengan terobosan yang disampaikan bu Najelaa Shihab.  Selesai video diputar, Bu Rini Suryati selaku coordinator tampil ke depan memandu diskusi. Diskusi diawali dengan pertanyaan “ diantara miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan Anda”?  dengan tertawa peserta menjawab uang saku, sertifikat dan menginap di hotel. Pertanyaan kedua pun bergulir” Apakah Anda ingin menjadi guru merdeka belajar”?  sebagian besar peserta menjawab ingin, apa alasan ibu bapak sambung bu Rini? Alasanya beragam tapi intinya ingin mengikuti jaman. Pertanyaan ketiga “ Sebagai guru merdeka belajar apa perubahan yang ingin anda lakukan”? ada yang menjawab, belajar lagi, bertanggung jawab atas tugas yang diberikan, ingin merubah sikap dan perlakuan kepada murid dan sebagainya. Mengingat waktu bu Rini mengakhiri diskusi tentang guru merdeka belajar. Baca Juga: Sekolah Lawan Corona, Sebuah Inisiasi untuk Membantu Pengajaran Jarak Jauh Acara dilanjutkan oleh bu Makhdalena selaku pengawas SD dan Kordikcam Lunang, diawali cerita beliau yang suka dengan gebrakan KGB dan manfaat yang dapat kita peroleh jika mengikuti perkembangan dunia dan pelaku pendidikan. Tak henti-hentinya beliau mensuport peserta untuk ikut gabung KGBD Pesisir Selatan kapan perlu jadi penggerak. Sungguh saya terharu mendengar semangat beliau dalam memperkenalkan KGB pada peserta. Semoga dengan bergabungnya bu Makhdalena sebagai penggerak Pesisir Selatan gerakan guru merdeka belajar dapat berkembang di Lunang. Acara demi acara telah selesai dilaksanakan dengan lancar, tak terasa pukul 12.00 WIB.  Saatnya istirahat sholat dan makan. Karena tidak ada kegiatan lagi maka kegiatan ditutup oleh moderator.  Di daerah kami  kondisi  wabah Corona masih belum pulih, selesai acara kami langsung pulang tanpa adanya poto bersama. Alhamdulilah sekali mengayuh sampan dua tiga pulau terlampaui, sekali mengadakan kegiatan nobar guru merdeka belajar dapat selesai. Guru semangat belajar guru merdeka belajar, merdeka. Salam Merdeka Belajar