Penggunaan Teknologi yang Lebih Humanis

Bagaimana penggunaan teknologi yang dapat menciptakan hubungan lebih humanis dengan adanya yang hampir semua kegiatan manusia menggunakan teknologi. Ditambah lagi dengan kondisi darurat Covid-19 yang mengharuskan untuk menjaga jarak?  ini mungkin yang menjadi pertanyaan besar bagi kita, apa bisa? melihat bahwa hampir semua kegiatan manusia ada penggunaan teknologi, bahkan karena begitu canggihnya teknologi sekarang ini sampai-sampai muncul slogan bahwa “Teknologi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.” Bagaimana tidak terkadang kita sebagai pengguna teknologi terkadang sibuk dengan “gadget” sampai melupakan hal-hal yang ada disekitar kita dan sibuk berselancar di dunia maya. Inilah yang menjadi kekhawatiran dari guru dan orang tua selama masa pembelajaran jarak jauh (PJJ) akan kehilangan sisi humanismenya, karena kondisi memaksa murid dalam proses pembelajaran menggunakan teknologi. Kali ini KBG Makassar Menghadirkan Bapak Ismail Nur Lc, M.Ag sebagai pembicara dalam kegiatan temu pendidik daerah ke 36 yang dilaksanakan secara live youtube di kanal Guru Belajar Makassar. Membahas tentang “Bagaimana Penggunaan Teknologi Menciptakan Hubungan Lebih Humanis? Antara Guru, Murid dan Orangtua kegiatan ini berlangsung pada hari Sabtu, 3 Oktober 2020 yang berlangsung satu setengah jam lebih.  Kegiatan ini berlangsung antara dua negara yakni indonesia dan Mesir. Ibu Anita Taurisia Putri yang bertindak sebagai medorator kegiatan membawa diskusi semakin menarik, diskusi ini mengenai praktik baik dalam proses PJJ antara kedua Negara, Baik dari metode pembelajaran yang menggunakan teknologi maupun sistem pembelajaran yang dilaksanakan di Sekolah Indonesia Kairo – Mesir dimana Bapak Ismail merupakan kepala sekolah disana. Bapak Ismail memulai materinya dengan memaparkan bahwa teknologi sangat dekat dan familiar dengan kita sebagai guru, murid dan orang tua, bagaimana cara mendampingi pembelajaran murid-murid generasi Z yang diajar oleh guru-guru generasi Y yang lahir dan baru mengenal teknologi mungkin di jenjang Sekolah Menengah, berbeda dengan generasi Z yang sejak balita sudah diperkenalkan dengan teknologi oleh orang tuanya. Bapak Ismail juga menjelaskan bahwa tantangan menjadi seorang guru adalah bagaimana menggali kemampuan berpikir kritis murid yang merupakan salah satu keterampilan esensial murid abad 21 Metode belajar abad 21 dimana murid menjadi fokus dalam pembelajaran bukan lagi guru sebagai sumber belajar satu-satunya, melainkan murid bisa menjadi sumber belajar di antara sesama murid saling belajar dengan saling berkolaborasi antara murid dan guru. Berbeda halnya dengan model pembelajaran sebelumnya yang mengedepankan nilai daripada proses dan rangking menjadi tolak ukur keberhasilan pembelajaran. Sehingga untuk pembelajaran abad 21 rangking tidak menjadi penting lagi karena dianggap bahwa rangking tidak dapat menentukan murid dapat bersosialisasi dan berkolaborasi dengan baik. Tetapi yang diharapkan adalah bagaimana murid dapat berkolaborasi sehingga perlu adanya penilaian autentik. Bagaimana menjadi guru abad 21 ? Pertanyaan yang sering kali muncul sekarang ketika harus dihadapkan dengan PJJ yang memaksa para guru untuk mau tidak mau, suka atau tidak suka harus berdamai dengan teknologi. Bapak Ismail dalam materinya membagikan tipsnya yakni dengan “Belajar Dengan Siapa Saja”, mudah namun apakah bisa terapkan. Salah satu pelajaran yang dapat dipetik dari praktik baik pembelajaran bapak ismail tentang “Ahli Waris” bapak Ismail melepaskan egonya untuk bertanya dan belajar kepada muridnya tentang bagaimana cara perhitungan matematika (metode pembagian) dalam materi pembagian ahli waris. Dari sini tercipta kolaborasi antara guru dan murid dimana murid merasa dihargai oleh guru dan guru banyak mengambil pelajaran dari hal tersebut. Tidak hanya itu bapak Ismail juga membagikan sebuah metode pembelajaran yang menarik untuk diterapkan oleh para guru yakni Metode Belajar Flipped Classroom. Flipped Classroom adalah metode belajar yang diberikan kepada murid dimana murid sudah mengetahui (belajar sebelumnya) materi yang akan dibahas di dalam kelas dari berbagai sumber yang murid peroleh, berbeda dengan tradisional class murid mengetahui materi atau belajar ketika sudah berada di dalam kelas. Menurut bapak Ismail metode ini sangat baik diterapkan karena mengurangi jumlah jam pelajaran di dalam kelas sehingga murid dapat aktif berkegiatan di luar kelas. Lanjut ke sesi tanya jawab, ibu lisnur Aiziah bertanya tentang “Bagaimana menghadapi masyarakat yang lebih cenderung berhati-hati dalam penggunaan teknologi karena mereka ingin mengunggulkan sisi Humanisasi itu sendiri? Dengan mengontrol dan membekali pengetahuan sejak dini dan bersosialisasi minimal dengan melakukan Video Conference (selama masa pandemi) terhadap keluarga atau teman dekat. Untuk di sekolah sendiri harapannya pembelajaran dibuat berkolaborasi sehingga sisi humanismenya muncul serta selalu mendampingi anak saat belajar. hal menarik yang disampaikan bapak Ismail bahwa keluarga dari orang-orang yang tinggal di Kairo sulit berkomunikasi dengan tetangga karena mungkin tidak memiliki halaman yang luas atau kebanyak dari mereka tinggal di apartemen berbeda dengan di Indonesia tetangga bisa saling menyapa di halaman rumah. Bagaimana Sekolah Indonesia-Kairo Membangun komunikasi dengan Orang tua ? Justru selama PJJ sekolah lebih muda dikendalikan dan umumnya keluarga diplomat yang bekerja adalah suami dan istrinya bertugas dirumah dan lebih banyak mendampingi murid dalam melaksanakan aktivitas PJJ. Di awal PJJ masalah Sekolah alami yakni banyak keluhan terhadap teknologi yang digunakan sekolah dan kurangnya updatenya orang tua terhadap hal tersebut. Namun sekolah berinisiatif untuk memberikan training kepada orang tua sebelum teknologi/aplikasi digunakan. Membuat grup-grup kelas dimana guru dan orang tua bisa saling berkomunikasi terkait kendala yang dihadapi sehingga terjadi komunikasi yang harmonis antara orang tua, murid dan guru.  Jumlah murid di sekolah juga sangat mempengaruhi hal tersebut dimana jumlah murid di sekolah Indonesia Kairo hanya sekitar 20 orang berbeda dengan jumlah murid di Sekolah Indonesia yang biasanya lebih dari 30 murid. Sehingga hal ini sangat sulit untuk membagun komunikasi bagi guru-guru yang berada di tanah air ditambah lagi dengan latar belakang pendidikan orang tua sehingga pada saat mendampingi anak-anaknya dapat menimbulkan kebingungan sehingga perlu ada kebijakan. di Sekolah indonesia-Kairo sendiri menurut Bapak Ismail pembelajaran untuk satu mata pelajaran tidak boleh lebih dari 60 menit sehingga tidak membuat murid dan orang tua lelah. mata pelajaran yang diberikan dalam sehari maksimal dua mapel setiap hari. tidak memberikan tugas yang banyak serta tidak terlalu mengejar target ketercapaian kurikulum namun lebih pada prosesnya. Bagaimana ketika guru mengajar menggunakan aplikasi berbeda dengan tujuan murid merasa nyaman atau sesuai dengan passionnya ?  Di awal PJJ menyebabkan banyak orang tua yang komplain dengan begitu banyaknya aplikasi yang harus digunakan murid. Sehingga sekolah memutuskan untuk menggunakan satu aplikasi sebagai aplikasi utama dan sisanya adalah aplikasi pendukung. Memanfaatkan teknologi ibarat mengendarai mobil yang berbeda setiap hari, hanya perlu penyesuaian sehingga … Read more

Mencari Cara Belajar di Masa Pandemi

Masa pandemi membuat kegiatan belajar Temu Pendidik Daerah terkendala, karena imbauan untuk tidak berpergian,  menghindari keramaian, dirumah saja dan sebagainya. Hal tersebut membuat kami penggerak Pesisir Selatan  tidak berani melakukan pertemuan tatap muka. Meskipun demikian semangat belajar di masa pandemi dan rasa ingin mencoba hal yang baru membuat kami tidak kehilangan akal untuk bertemu dan berbagi.  Mulai dari membuat video di Kinemaster, belajar menjadi youtuber dan terakhir membuat media komik dengan menggunakan aplikasi Komik Master. Semuanya kami lakukan dengan daring melalui media zoom dan stream yard. Belajar dari kegiatan daring yang  diadakan KGB Sijunjung,  kami penggerak KGB Pesisir Selatan tidak mau ketinggalan dan ingin mencoba.  Berdasarkan kesepakatan penggerak Pesisir Selatan, maka kami  membuat dua kegiatan daring  yaitu guru berbagi (GUSHARE) dan guru berkisah. Program Gushare  merupakan kegiatan   guru yang berbagi ilmu tentang cara pengajaran di  dunia pendidikan. Sedangkan program guru berkisah merupakan  kegiatan tentang berbagi kisah suka dan duka menjadi guru serta perubahan yang telah dilakukannya. Hari Jumat tanggal  2 Oktober 2020 pada pukul 14.00 s.d 15.00 WIB  kami penggerak Pesisir Selatan  akan mengadakan Temu Pendidik Daring melalui aplikas stream yard.  Karena cuaca buruk dan listrik sering mati membuat kami khawatir juga mengadakan acara ini, takut gagal. Namun rasa percaya diri dan optimis kita bisa. Bu Salmiati, S.Pd bertugas sebagai coordinator, bu Elva Deni sebagai moderator dan bu Yeni Fitri bertugas sebagai narasumber. Saya kartini bertugas membuat liputan kegiatan.  Sehari sebelum kegiatan Temu Pendidik Daring kami petugas kegiatan melakukan gladi resik. Saat uji coba dilakukan cuaca hujan petir  namun sinyal tetap stabil, sehingga komunikasi lancar dan suara terdengar jelas. Mengingat kondisi cuaca demikian bu Salmiati selaku koordinator yang mengerti IT menyarankan kami untuk berbagi tugas jika sinyal kurang stabil nantinya. Jangan panik jika diantara kita nanti terkendala dengan sinyal usahakan kita santai dan tenang pesan bu Salmiati. Siap komandan ujar kami serentak sambil tertawa. Baca Juga: Sekolah Lawan Corona Saat yang dinanti pun tiba, pukul 13.50 WIB kami mulai  masuk ke ruang Stream Yard bersiap untuk live. Cuaca sangat bagus sinyal oke, semoga kegiatan yang kami adakan sukses. Pukul 14.00 WIB bu Salmiati selaku koordinator membuka kegiatan  dan mempersilahkan bu Elva Deni selaku moderator  untuk memperkenalkan diri serta memandu kegiatan. Sebagai pembuka acara bu Elva Deni memperkenalkan diri dan bercerita tentang kegiatan ini diadakan. Acara selanjutnya bu Elva Deni mengundang bu Yeni Fitri untuk masuk ke ruang Stream Yard. Buk Yeni Fitri pun sudah hadir dan siap berbagi ilmu dengan kami.  Melihat senyum manis dan semangat bu Yeni Fitri membuat kami semakin bergairah untuk mengikuti acara.  Bu Yeni Fitri mulai memperkenalkan diri dan dilanjutkan dengan bercerita tentang  latar belakang merancang media komik saat PJJ. Disaat bu Yeni Fitri sedang semangatnya  bercerita awal mengenal media komik, yang katanya diajari oleh Bapak Felix Catur dari KGB Wonosobo karena melihat unggahan beliau di FB.  Tiba-tiba bu Yeni Fitri hilang dari ruang  stream Yard, ditunggu tidak muncul-muncul, kami langsung panik dan cemas. Ternyata di tempat  bu Yeni Fitri listrik mati sehingga sinyal hilang.dan tidak bisa gabung lagi bersama kami.  Sesuai skenario yang diatur bu Salmiati kami harus berbagi tugas untuk  menghadapinya. Bu Elva Deni harus bicara mengambil alih peran bu Yeni Fitri, saat yang bersamaan saya dimunculkan ke depan layar oleh Bu Salmiati agar mengalihkan perhatian penonton. Sayangnya saat saya dimunculkan di layar pada waktu itu saya juga terkendala dengan jaringan sehingga apa yang dibicarakan bu Salmiati dan Bu Elva Deni  tidak  bisa saya dengar dengan jelas. Menyadari saya juga terkendala dengan jaringan bu Samiati ambil tindakan dengan bercerita tentang awal mula berkenalan dengan KGB yang disambut tertawa oleh bu Elva Deni. Mereka berkisah betapa besar perubahan yang dialami setelah mengenal KGB.  Alhamdulillah jaringan saya stabil kembali dan bisa mendengar percakapan antara Bu Salmiati dengan Bu Elva  dengan jelas. Hal itu segera kulaporkan sehingga mereka meminta saya untuk  bercerita  tentang pengalaman yang didapat setelah bergabung dengan KGB. Karena baru aktif di KGB jadi saya belum punya banyak pengalaman untuk diceritakan. Namun selama belajar di masa pandemi, saya mempunyai cerita tersendiri saat melakukan pembelajaran jarak jauh dengan secara daring menggunakan RPP yang dikeluarkan oleh KGC.  Saat kami sedang berusaha mencari cara untuk mengalihkan perhatian penonton, sungguh  diluar dugaan kami mendapat dukungan dari teman-teman yang ikut live bersama kami. Malu dan panik dapat kami kendalikan, rasa percaya diri muncul kembali setelah membaca pesan dan dorongan dari teman-teman di luar sana. Meskipun tema yang kami sampaikan sangat melenceng jauh dari tema sebelumnya, namun teman-teman  tetap menonton kami sampai selesai.  Kegiatan GUSHARE yang diadakan secara live selesai juga. Walau tidak sesuai dengan rencana namun kami puas dan bahagia karena sudah  melaksanakan amanah dari komunitas guru belajar Pesisir Selatan. Meski malu menghampiri diri namun kami tidak peduli karena kesalahan bukan dari kami tapi situasi yang sedang menguji. Kami banyak mengambil hikmah dan pelajaran yang bermakna dari kegiatan ini, apapun yang terjadi jika kekompakan dan kerjasama tetap terjalin semua dapat diatasi. Semangat belajar guru merdeka belajar, sekali merdeka belajar, tetap merdeka belajar.

Pembelajaran Jarak Jauh Menyenangkan

Apakah murid dapat merasakan pembelajaran jarak jauh yang menyenangkan? Apakah benar pembelajaran jarak jauh yang guru lakukan sudah menyenangkan? Pertanyaan memang kerap membuat guru resah, karena murid banyak mengeluh mengenai pembelajaran jarak jauh. Selain karena adanya jarak, beban tugas juga ikut andil memberikan beban psikologis pada murid. Ihwal ini, guru sepertinya memang harus putar strategi untuk melakukan Pembelajaran jarak jauh yang menyenangkan dan bermakna bagi murid. Alih-alih murid belajar, justru kadang murid tertekan karena satu-satunya tolak ukur keberhasilan hanya ketika murid mengerjakan banyak tugas yang kadang tidak disadari tujuanya oleh guru.  Nah, kali ini kita akan mendengar cerita dari anak-anak yang menjalani PJJ selama pandemi ini. Di Ransel 4 ini, KGB Pekalongan mengadakan Kelas Murid yang bertujuan untuk mendengar cerita murid dari berbagai sekolah mengenai pembelajaran jarak jauh.    Sebagai kelas pembuka, Ransel 4 ini dipandu oleh Lilik Nur Indah Sari dari KGB Pekalongan, tiga narasumber yakni Ayunda Damai Fatmarani. M. Fedrik Manzela yang ditemani wali kelasnya Bu Badriyah, dan Maryam Adelia saling berbagi cerita mengenai Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang sedang mereka hadapi.  Pagi itu Guru Lilik membuka cerita dengan dengan bertanya pada 3 narasumber.  “Gimana sih perasaan kalian saat menghadapi PJJ ini?” Zela dan Damai kompak menjawab bahwa mereka lebih suka belajar dirumah, karena selain belajar mereka juga dapat menjalankan hobi. Zela yang hobi menggambar, selama PJJ ini ia makin rajin menggambar dan membuat komik. Sambil tersenyum, Damai pun menuturkan hal hampir serupa. “Saya merasa senang, soalnya dari belajar dirumah ini lama-lama bisa belajar untuk jadi lebih mandiri untuk membuat prioritas tugas dan kegiatan-kegiatan lainya”. Saat ditanyai lebih lanjut mengenai PJJ yang sedang mereka jalani, murid di Sekolah Cikal Surabaya ini menuturkan jika ia lebih tahu mana yang harus ia dahulukan sehingga dapat memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk melakoni agenda yang sudah ia susun. “Yang pertama tugas-tugas sekolah. mungkin do date atau pengumpulanya yang paling cepat sampai yang paling terakhir. Selain itu, saya sendiri juga punya blog, sehingga saya menyempatkan waktu untuk menulis disitu (blog) dan untuk selingan-selingan ada hobi yang lainya juga.” imbuh Damai. Namun, lain halnya dengan Maryam Adelia atau yang akrab disapa Adel. Murid di SMK Karangdadap ini mengaku justru sedih saat belajar dirumah. “Karena kalau misalnya belajar dirumah kayak sendiri belajarnya. Kemudian juga merasa ada yang kurang, suasananya juga lebih beda” ungkap Adel. Diakui Adel, bahwa ia lebih suka belajar bersama teman-temannya di kelas. Untuk mengusir rasa jenuh ia melakukan hal disukai, seperti menyanyi.  Di kolom komentar, akun Nur Muzdalifatul Ummiyah menuturkan bahwa ia lebih suka belajar dirumah, karena lebih leluasa dan enjoy mengerjakan tugas, dan bisa memiliki lebih banyak waktu untuk belajar lebih produktif. Kemudian, pemilik akun Marsiha Daily mengungkapkan, “Tadinya senang, jadi lebih punya banyak waktu dengan mama-papa masak bareng buat kreasi. Tapi sekarang sudah agak bosan jadinya.”    Selanjutnya, Guru Lilik melempar pertanyaan kepada 3 narasumber, “Apakah kalian rindu dengan teman-teman di sekolah?”  “Saya rindu sekali sama teman-teman, sahabat, kangen sama kantin, kangen sama pelajaran, kangen sama semuanya yang ada disekolah.” Jawab murid di MI Kranji 1 Kedungwuni ini. Meski ia mengaku rindu belajar di sekolah, ia tetap lebih menyukai belajar di rumah.  Terakhir, Guru Lilik bertanya pada Bu Badriyah, “Ibu pernah gak memasukan hobinya anak-anak ke dalam rancangan pembelajaran?” “Sering bu, misalnya seperti pembelajaran umum ketika belum pandemi itu biasa saya masukan. Misalkan, saya kasih materi tentang otot manusia dan manfaatnya itu anak saya kelompokkan jadi beberapa kelompok untuk membuat gubahan lagu biar anak-anak (ingat). Otomatis ketika anak-anak membuat gubahan lagu kan sering baca materinya terus dinyanyikan lagi-dinyanyikan lagi otomatis dia (murid) akan teringat terus dan hafal dengan sendirinya. Terus juga membuat tampilan drama, kadang juga  membuat komik.” Ungkap Bu Badriyah. Hal ini dilakukan untuk menghadapi hobi anak yang sangat bermacam-macam, jadi anak-anak merasa senang di kelas dan tidak monoton.    “Kalau yang akhir-akhir ini di pelajaran bahasa diminta untuk analisis dan review literatur. Nha dari sini, saya dan teman-teman saya bisa memilih karya sastra favorit. Dari situ dibuat analisis literaturnya, jadi gak Cuma memilih karya sastra yang disukai. Akhirnya saya sendiri biasa menulis resensi buku jadi dari pelajaran ini bisa belajar bagaimana bisa improve dalam review buku itu.” Meski hal tersebut hanya kebetulan, namun menurut penuturan Damai bahwa di pelajaran lain ada guru yang membebaskan muridnya untuk membuat apapun yang mereka sukai.”Biasanya setiap 3 bulan sekali ada refleksi akhir pembelajaran gitu, dan disitu karena murid kan beda-beda. ada yang suka menulis, ada yang suka menggambar. Jadi dari situ dibebaskan untuk cerita  selama 3 atau 6 bulan itu belajar apa aja dan dirangkum. Karena saya suka menulis jadi saya membuat esai, teman saya ada yang bikin komik, bikin poster  jadi beda-beda sih tiap muridnya. memang diberikan  kebebasan.  “Kalau di pembelajaran biasanya sih, ada beberapa kayak olahraga saya juga ada sedikit hobi di olahraga sering jadi materi. Kalau di seni budaya kelas X juga pernah masuk dalam materi. Untuk akhir-akhir ini, kemarin beberapa pelajaran mengenai hobi. Disitu kami diminta merencanakan suatu usaha dari hobi yang kita punya.” Ketika ditanya oleh Guru Lilik mengenai sekolah setelah pandemi, Zela menjawab bahwa ia ingin sekolah seperti biasa namun juga diimbangi dengan pembelajaran online.  Lebih suka balance soalnya kalau misalnya di sekolah itu bisa belajar bareng. Diskusi juga lebih lancar bertanya dengan guru juga lebih enak, karena bisa tatap muka. Cuma memang kalau belajar di rumah sendiri juga enaknya bisa lebih fleksibel  terkait pengaturan prioritas pribadi jadi suka kalau misalnya ada balance dari keduanya.  Menutup kelas murid ini, sepertinya kita masih perlu mengingat bahwa makna belajar bukan berarti mengerjakan tugas sebanyak mungkin. Cerita Zela, Damai, dan Adel  memberikan guru sedikit gambaran bagaimana PJJ membuat murid justru lebih menikmati waktu belajarnya atau justru PJJ membuat murid merasa jenuh? 

Critical Thinking Skill dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Pandemi Covid-19 ini telah memberikan dampak luar biasa kepada kegiatan pembelajaran yang kita jalani. Pembelajaran jarak jauh yang beberapa waktu ini kita jalani pun, tidak lepas dari berbagai permasalahan: (1) tempat belajar murid yang kurang kondusif (2) akses gawai yang tidak memadai (3) kendala konektivitas internet (4) tidak siapnya institusi pendidikan dengan pembelajaran jarak jauh (5) dukungan keluarga dan pihak sekolah terhadap kondisi belajar murid (6) kurangnya kemampuan murid dalam critical thinking skills serta (7) kurang beragamnya sumber belajar yang inspiring. Pada Temu Pendidik Daring KGB Surakarta, Selasa, 07 Juli. 2020, Ibu Rizky Setyaningrum menyampaikan materi mengenai Critical Thinking Skill dalam pembelajaran jarak jauh. Menurut data OECD, 1 dari 9 murid di Indonesia mampu membedakan fakta dan opini berdasar clue implisit dari sumber informasi. Apa artinya? Artinya bimbingan dan bantuan guru sangat penting untuk mengarahkan murid melakukan cara berpikir lebih tinggi (HOTS) dalam PJJ ini. Apa saja poin yang mesti guru perhatikan dalam Pembelajaran Jarak Jauh yang mengarahkan pada Critical Thinking Skills? Mendemostrasikan keterampilan yang akan diajarkan. Menyediakan kesempatan untuk berpikir lebih tinggi (HOTS). Menganjurkan dan mendorong murid untuk bertanya. Pembelajaran dan penilaian lebih berfokus pada pelaksanaan assessment for learning (formatif). Memberikan sumber belajar tambahan yang mengeksplor critical thinking skills. Menyediakan aktivitas ‘guided writing’ dan dorongan untuk berpikir. Memberikan feedback yang memberi contoh critical thinking skills. Lebih focus pada penilaian yang menggabungkan HOTS dan mengevaluasi kerja murid berdasarkan analisis, aplikasi, dan kreasi (penciptaan) daripada penilaian yang bersifat penggalian memori. Meyakinkan murid bahwa tidak ada satu-satunya jawaban yang benar, selama murid memberikan alasan yang valid dalam tugas mereka. Bila murid gagal dalam menunjukkan penguasaan suatu konsep atau keterampilan, guru dapat memberikan kesempatan untuk mencoba kembali dengan memasukkan refleksi yang mendorong murid untuk mempertimbangkan ‘bagaimana’ dan ‘kenapa’. Keterampilan apa saja yang bisa digunakan guru saat membuat worksheet yang mengarah pada critical thinking skills? Mengidentifikasi Fakta dan Opini (identify facts and opinions) Memiliki kemampuan untuk membedakan fakta dan opini adalah hal penting untuk mengembangkan critical thinking skills. Opini bersifat subjective, sementara fakta adalah kebenaran yang dapat dibuktikan.  Contoh fakta: Musim gugur dimulai bulan September. Contoh opini: Musim gugur adalah musim terindah sepanjang tahun. Mencari persamaan dan perbedaan (compare and contrast) Analisis comparatif (mencari persamaan) dan analisis kontras (mencari perbedaan) adalah latihan yang baik untuk mengembangkan critical thinking skills. Contoh: guru dapat meminta murid untuk mencari persamaan dan perbedaan musim semi dan musim gugur. Mensortir dan mengklasifikasi (sort and classify) Mengkategorikan objek berdasar kriteria tertentu juga merupakan latihan yang baik untuk mengembangkan critical thinking skills.  Contoh: guru memberikan murid daftar kota dan atau negara dan meminta mereka untuk mensortir ke dalam kelompok-kelompok tertentu berdasarkan kriteria-kriteria yang bervariasi.  Membuat prediksi (making predictions) Mintalah murid untuk berhenti sejenak dan membuat prediksi ketika membaca. Keterampilan berpikir ini dapat dipraktikkan dengan memberikan beberapa kalimat kepada murid dan meminta murid untuk memprediksikan apa yang akan terjadi atau meminta murid untuk menuliskan ending nya. Selanjutnya guru meminta murid untuk membagikan prediksi mereka dan mendiskusikan perbedaan pendapat antar murid serta alasan dibalik pendapat mereka. Menduga dan menyimpulkan (inferring & drawing conclusions) Menduga adalah membuat kesimpulan berdasarkan bukti. Contoh: ada sepiring kukis di dapur. Satu-satunya yang masuk ke dapur adalah anjingmu. Kukis-kukis tersebut hilang. Apa menurutmu yang terjadi dan kenapa kamu berpikir demikian? Mempraktikkan keterampilan-keterampilan berpikir tersebut dapat membantu murid mengembangkan kemampuan mereka menganalisis informasi. Berikut ini contoh kegiatan pembelajaran yang melibatkan critical thinking skills untuk materi narrative. Tanya-Jawab Bagaimana tips jitu mengaktifkan siswa saat kita menggunakan hots ini ? (Ibu Yayu Arundina) Ketika seorang murid menjawab, akan saya lempar balik ke teman lainnya untuk setuju/tidak setuju dan alasannya. Lama-lama mereka membuat reasoning dan terciptalah nuansa HOTS. Bagaimana cara ibu membuat critical thinking terasa mudah dijalani bagi murid? (Bapak Dewo Uwo KGB Surakarta) Biasanya, saya tidak akan bilang bahwa ini adalah langkah berpikir tingkat tinggi supaya anak tidak khawatir dan takut. Saya Cuma bilang, bahwa siapa pun boleh berpendapat dan tidak boleh ada teman yang saling mengejek pendapat teman lainnya karena semua jawaban bisa jadi benar asalkan disertai alasan yang masuk akal. Bagaimana mengkomunikasikan pembelajaran HOTS pada ortu? (Ibu Kristijorini KGB Surakarta) Biasanya sih saya hanya menjelaskan materi pada ortu dan siswa dan mempersilakan mereka untuk bertanya. Asalkan mereka mengikuti steps by steps kegiatan pembelajaran, mereka tidak akan terasa bahwa sebenarnya sudah masuk kegiatan yang bersifat critical thinking skills Ingin mengikuti PelatihanMerancang Pembelajaran Jarak Jauh Merdeka Belajar?

Solusi Pembelajaran Jarak Jauh

Melihat kebingungan terkait solusi Pembelajaran Jarak Jauh, KGB Pekalongan menyelenggarakan TPD dengan topik PJJ, Aduh. Bagaimana solusinya?. Temu Pendidik Daerah (TPD) Daring 44 ini dilaksanakan secara daring pada hari Rabu, 1 Juli 2020 pukul 19.30 – 21.00 WIB di Grup Whatsapp. Dengan narasumber Guru Musyafiah KGB Pekalongan, SMKN 1 Karangdadap dan moderator Guru Niken Emiria Faradelia KGB Pekalongan, SMA N 1 Kajen, dan Guru Zienaat Rif’aty sebagai reporter.  Kebutuhan Psikologis Murid Narasumber memulai diskusi dengan mengajak peserta untuk masuk dan voting ke mentimeter. Kemudian mempelajari materi yang disampaikan narasumber. Banyak peserta diskusi yang sudah mengerti esensi pembelajaran jarak jauh yang fokus pada kebutuhan psikologis murid, dll. Kaitannya dengan miskonsepsi Pembelajaran jarak jauh, berdasarkan jawaban dari peserta diskusi, banyak yang sudah tahu bahwa pembelajaran tidak hanya memberikan tugas, pembelajaran jarak jauh tak harus online.  SESI TANYA JAWAB Termin Pertama Pak Wahyu Pertanyaan 1. Apakah murid yang Bu Fiah semuanya memiliki hp? 2. Jika tidak memiliki semuanya, bagaimana pembelajaran yang dilakukan untuk murid yang tidak memiliki HP? 3. Jika punya semua, mungkin punya tips yang bisa dilakukan apabila beberapa murid tidak memiliki HP Jawaban 1. Mayoritas murid saya memiliki HP. Kebetulan ketika pembelajaran jarak jauh kemarin saya hanya mengajar 2 kelas. Dari total murid (72), yang tidak punya HP hanya 1-2. Dalam perjalanan pembelajaran jarak jauh selama kurang lebih 3 bulan, ada yang HP nya rusak/ hilang, jumlahnya sedikit. hanya 1-2  2. pembelajaran jarak jauh lalu, murid yang tidak memiliki HP menyusul tugasnya saat menjelang ulangan semester. Hanya ada satu murid yang tidak memiliki HP hingga akhir semester.  3. Berdasarkan yang saya pelajari dari berbagai diskusi TPD dan kurikulum sekolah lawan Corona. Bagi murid yang tidak memiliki HP, guru inisiatif untuk mengunjungi rumah muridnya kemudian memberikan rangkaian kegiatan selama satu minggu. Atau pun memberikan rangkaian kegiatan bermakna dengan melihat TV atau mendengar siaran radio.  Bu Dias Pertanyaan Bagaimana teknik berkomunikasi dengan orang tua murid agar bisa ikut mendukung proses pembelajaran jarak jauh? Jawaban Sebenarnya saya bukan termasuk orang yang mudah membangun komunikasi. Saya masih harus banyak belajar dari teman-teman tentang cara membangun komunikasi yang efektif. Kalau yang saya lakukan dengan murid saya (ini terutama anak wali), saya membangun obrolan tentang dampak corona terhadap pekerjaan mereka dan apa kendala yang dialami anak atau orang tua dalam mendampingi anaknya belajar. Ini saya lakukan via WA. juga membuat WAG Wali Murid. mungkin di beberapa sekolah sudah umum ya, seperti sekolah anak saya. Namun, di sekolah saya sepertinya belum sampai kesitu. ketika saya membuat WAG ini membernya cuma 10. karena kebanyakan tidak punya HP/WA. Namun, dengan media ini, saya bisa mengkomunikasikan agenda-agenda sekolah. untuk kendala dan dampak corona lebih via japri. Jadi saya memulai membudayakan  komunikasi dengan orang tua. Jika belum bisa mengikuti ig keluarga kita atau sesi keluarga kita di sekolah.mu dan pelatihan sekolah lawan corona untuk lebih lanjutnya Bu Nia Pertanyaan Adab, ilmu, amal. Yang saya tahu itu harus urut. Kaitannya dengan pembelajaran jarak jauh, kita belum tahu nih apakah murid juga gurunya ketika online dalam keadaan  glusar-glusur on the bed belum mandi atau sudah berpakaian rapi dan beradab. Nah bagaimana esensi dalam hal ini ya, mengutamakan adab. Benarkah pembelajaran jarak jauh akan selalu menjadi solusinya? (Refleksi kegelisahan dengan sikap-sikap murid secara umumnya yang seperti itu sama gurunya, maksudnya sudah jadi  rahasia umum) Jawaban Berbicara tentang perilaku atau kebiasaan murid selama pembelajaran jarak jauh, memang kita sebagai guru tidak memiliki kendali penuh akan itu. Oleh karena itu, penting untuk melibatkan orang tua yang merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Berbicara tentang pembelajaran jarak jauh adalah solusi. pembelajaran jarak jauh bukanlah solusi untuk segala masalah pendidikan. Namun, pembelajaran jarak jauh adalah hal terkecil yang bisa guru lakukan untuk tidak menyerah terhadap keadaan. Karena kita tidak tahu kapan corona akan berakhir. Menjadi pilihan kita untuk menyerah kepada keadaan atau bergerak, beradaptasi dengan kondisi.  Baca Juga: Sekolah Lawan Corona Termin Kedua Bu Eki  Pertanyaan  1. pembelajaran jarak jauh itu RPP nya sama tidak dengan RPP Tatap muka biasa?  2. Biasanya ketika tatap muka, saya mengandalkan media boardgame agar murid lebih bersemangat dan interaktif. Dengan pembelajaran jarak jauh, bagi saya menjadi kurang helpful. Adakah rekomendasi media yang cocok digunakan di segala keadaan?  Jawaban 1. Esensi RPP tatap muka dan daring sebenarnya sama. Mencakup tujuan, asesmen dan strategi pembelajaran. Perbedaannya pada strategi atau langkah-langkah pembelajaran yang perlu disesuaikan dengan kondisi. Untuk tujuan dan asesmen juga hendaknya lebih disederhanakan, tidak semata mengejar materi. tapi lebih memberdayakan konteks. dalam asesmen juga perlu memberikan keleluasaan waktu dan pilihan jenisnya. Lebih lanjut bisa, melihat referensi RPP Daring di “Guru Berbagi” 2. Sama dengan pernyataan bahwa tidak ada strategi yang sempurna, tidak ada juga media yang sempurna yang cocok digunakan di segala keadaan. Harus menyesuaikan dengan kompetensi yang ingin dicapai. Sebagai referensi, bisa melihat berbagai contoh pembelajaran jarak jauh yang sudah launching di YouTube sekolah.mu nggih. Bu Niken  Pertanyaan Di infografis disebutkan salah satu miskonsepsi pembelajaran jarak jauh adalah dilaksanakan secara online atau daring. Nah kalau itu miskonsepsi yang benarnya yang seperti apa Bu? Jawaban pembelajaran jarak jauh bisa dilakukan meskipun tanpa koneksi internet. Salah satu contohnya yang dilakukan Pak Iwan KGB Bandung. Beliau melakukan kunjungan ke murid melalui program guru kunjung, atau yang dilakukan salah satu guru di Paninggaran, Bu Vika Inayati. Contoh lain, misalnya dengan membuat kelompok belajar antara murid yang rumahnya dekat (tapi dengan cara tidak berkerumun, misalnya maksimal 3/4). Semua ‘obat nya bisa diperoleh jika kita sudah memetakan kondisi murid di awal. Bu Rayinda Pertanyaan Selama pembelajaran jarak jauh bagaimana kira-kira seorang guru bisa mendukung gerakan pendidikan karakter selama mengajar dari rumah? Apakah masih perlu kita sebagai guru menanamkan gerakan penguatan pendidikan karakter selama murid di rumah? Kalau iya, ada saran caranya?  Jawaban  Pendidikan karakter saat memang tantangan tersendiri ya Bu. pelajaran tatap muka saja, terkadang saya kewalahan mendampingi murid-murid. Dengan kondisi ini, kita dipaksa untuk “mengembalikan keluarga/orang tua ke khittah-nya” yakni tempat pertama dan utama berlangsungnya pendidikan. Lembaga pendidikan hanyalah opsi, bukan kewajiban. Oleh karenanya, perlu banget membangun hubungan yang baik dan melibatkan orang tua. Bicara perlu atau tidak, jelas sangat perlu Bu. Sementara ini yang bisa saya lakukan … Read more