Personalisasi Belajar Merdeka Belajar

Sering pusing menghadapi murid beragam? Dalam pembelajaran melibatkan murid dengan segala keragamannya, guru terkadang bingung merancang pembelajaran yang memfasilitasi keunikan setiap murid. Alhasil beberapa guru cenderung menyeragamkan proses pembelajaran dan mengabaikan kebutuhan personal murid, sehingga tidak terjadi personalisasi belajar. Setiap murid memiliki keunikan dan karakteristik yang beragam. Ada murid yang hobi bernyanyi, menggambar bahkan menari. Guru tidak dapat menyamaratakan hobi dan minat murid yang beragam. Bagaimana cara memfasilitasi keunikan murid yang beragam dalam proses pembelajaran? Guru perlu memfasilitasi pembelajaran yang dapat mengembangkan potensi dan membuat murid berpetualang melalui personalisasi belajar. Pada 17 Agustus 2021 yang juga bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia, Obrolan Guru Merdeka Belajar membahas petualangan murid dalam proses belajar dengan judul Personalisasi Petualangan Merdeka Belajar.  Pemandu membuka obrolan dengan menanyakan apa sih sebenarnya personalisasi belajar itu? Pak Mohammad Rizky Satria sebagai salah satu narasumber menjelaskan bahwa personalisasi belajar itu artinya proses penyesuaian aktivitas belajar dengan keunikan dan kebutuhan setiap individu. Tentu saja maknanya lebih dalam dari itu, dengan personalisasi belajar ini kita sebisa mungkin harus kembali pada hakikat belajar itu sendiri. Bahwa pada hakikatnya belajar itu adalah suatu yang alamiah, sesuatu yang melekat dalam diri setiap manusia, seperti anak-anak yang banyak bertanya, serta belajar banyak hal tanpa diminta. Paradigma belajar seperti ini yang perlu dibangun dalam personalisasi belajar. Namun selama ini terkadang karena belajar itu didominasi oleh sekolah atau guru kesannya belajar menjadi sesuatu yang formal & prosedural, padahal sebetulnya tidak demikian. Setelah memahami hakikat belajar sebagai proses alamiah, lalu muncul pertanyaan belajar seperti apa yang paling sesuai, paling tepat, serta dapat optimal? Jawabannya adalah belajar yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan kita, disitulah muncul personalisasi belajar. Pak Rizky juga mengungkapkan dengan momen hari kemerdekaan ini menjadi waktu yang baik untuk kita mereflesikan kembali makna belajar, mengembalikan hakikat belajar dari keterkungkungan dan miskonsepsi belajar-belajar yang prosedural. Lebih luas dari itu kita bisa menyesuaikan aktivitas belajar seperti apa yang sesuai dengan diri kita, ini yang menjadi makna persoanalisasi belajar lebih jauh. Pa Rizky yang juga seorang guru dari SMP Cikal Serpong menyampaikan berkaitan dengan makna personaliasasi belajar secara umum, dalam konteks pembelajaran peran guru menjadi lebih krusial. Bahwa selain guru bisa mempersonalisasi belajar untuk dirinya sendiri, harus membantu murid juga untuk memfasilitasi aktivitas belajar sesuai dengan kebutuhan setiap murid. Guru perlu mengupayakan pembelajaran yang memberi ruang untuk murid sesuai gaya belajarnya sendiri, punya semangat belajar yang baik, punya pemikiran terhadap belajar yang tepat, dan kemudian bisa memahami dirinya sendiri. Menariknya dalam Obrolan Guru Merdeka Belajar berjudul Personalisasi Petualangan Merdeka Belajar juga menghadirkan murid sebagai narasumber yaitu Ayunda Damai Fatmarani. “Kalau dari aku mungkin mengajar dan memberikan tugas itu satu bagian sendiri tapi di sebelum itu biasanya aktivitas belajar dalam satu semester kali ya, itu dimulai dari menetapkan tujuan belajar (goal setting) masing-masing murid termasuk aku” ungkap Damai membuka cerita pengalaman personalisasi belajarnya.   Damai sebagai murid dari sekolah Cikal Surabaya juga menjelaskan setelah mengetahui ekspektasi masing-masing di awal yang sudah ditetapkan melalui tujuan belajar, selanjutnya bisa disesuaikan juga dalam proses pembelajarannya. Misal yang suka diskusi akan dibuat group diskusi, bagi yang lebih suka membaca akan dicarikan sumber bacaan untuk dibaca sebelum diskusi. Pemberian tugas juga sama bisa dipersonalisasikan dengan melihat dari tujuan belajar yang sudah ditetapkan. Selain itu Damai pun menceritakan pengalaman personalisasi belajar saat mengerjakan asesmen sumatif tahun lalu, untuk pembelajaran bahasa inggris materinya sendiri tentang literatur. “Jadi kami diminta untuk membaca salah satu buku, kebetulan bukunya sama, tetapi setelah itu diminta untuk menganalisa isi bukunya dengan topik yang sesuai minat murid-muridnya. Menganalisa apa sih yang paling menarik dari buku tersebut, untuk aku sendiri menganalisa bagaimana tata bahasa dan diskursus itu bisa digunakan untuk mengontrol masyarakat. Tapi teman-teman aku ada yang menganalisa tentang emosi karakternya dan bagaimana itu membentuk ceritanya, ada juga yang membahas sejarah dan menganalisa betapa pentingnya masa lalu, ada juga tentang relasi antar karakter dan itu benar-benar dipersonalisasi sih akhirnya per murid” cerita Damai terlihat semangat menikmati proses dan petualangan belajarnya.  Setelah mendengar cerita Damai Bu Fatrica sebagai pemandu obrolan bertanya apakah personalisasi belajar hanya akan menambah beban guru? Pak Rizky pun menegaskan “jika pertanyaannya apa menambah beban guru? Jawabannya iya, tapi apakah hanya menambah beban guru? Tentu saja tidak, karena upaya lebih yang dilakukan guru untuk memahami muridnya akan setimpal di akhir nanti ketika bisa melihat karya-karya murid seperti karya Damai dan teman-temannya tadi. Dengan personalisasi belajar potensi murid bisa muncul, murid bisa punya pilihan memanfaatkan ruang yang guru berikan dan memanfaatkan aktivitas belajar yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan setiap murid. Namun saya lebih suka menyebutnya tantangan atau tanggung jawab bukan beban. Tantangannya meningkat yang tadinya hanya mengajar sesuai dengan yang saya inginkan menjadi sesuai dengan yang murid-murid inginkan, kompromi dengan apa yang sudah saya susun. Atau tanggung jawabnya lebih yang tadinya hanya menyampaikan materi saja sekarang tanggung jawabnya membantu mengoptimalkan potensi setiap individu, kalau seperti itu jadinya lebih positif” ungkapnya dengan lugas. Bagaimana Ibu dan Bapak guru, apakah Anda sudah siap memilih tantangan melakukan personalisasi belajar? Tenang, berikut ada dua tips dari Pak Rizky Satria untuk mempersiapkan personalisasi belajar, yaitu: Merancang strategi untuk bisa memahami karakteristik dan kebutuhan setiap murid Disini kita bisa melakukan berbagai cara seperti asesmen diagnostik di awal untuk bisa membuat pemetaan bagaimana komposisi murid-murid di kelas, selain itu diagnostiknya tidak hanya di awal tapi berlanjut seiring proses pembelajaran. Bisa juga melakukan observasi dengan menjadikan murid teman ngobrol. Dengan berteman dan sering ngobrol kita dapat memahami karakter murid lebih baik. Strategi menerapkan personalisasi dengan diferensiasi Bahwa dalam satu kali aktivitas belajar itu ada beragam cara yang dapat kita hadirkan. Ada yang dibedakan kontennya, ada yang prosesnya, dan ada juga dibedakan produknya. Memberikan beragam pilihan kepada murid, untuk itu pentingnya memahami murid di awal. Dengan memahami kita bisa mendesain pembelajaran yang memfasilitasi keberagaman murid.  Selanjutnya pemandu mengarahkan obrolan untuk menjawab pertanyaan peserta yang menyaksikan baik dari platform youtube Kampus Guru Cikal maupun dari sekolah.mu program Obrolan Guru Merdeka Belajar. Sebagian peserta bertanya kepada Damai mengenai pengalamannya mendapatkan dan melakukan personalisasi belajar. Damai pun menceritakan mulai dari pengalaman personalisasi belajar paling berkesan yaitu setiap proses diskusi dalam hal apapun bersama guru … Read more

Asesmen Diagnosis adalah Langkah Agar Murid Gemar Belajar!

Sebal menghadapi murid yang malas belajar saat pandemi? Sudah menggunakan Asesmen Diagnosis? Asesmen Diagnosis adalah langkah menyelenggarakan pembelajaran yang berorientasi pada murid. Lalu bagaimana merancangnya di situasi pandemi? Pembelajaran berorientasi pada murid dalam situasi ruang kelas yang sama saja masih manjadi keresahan dan tantangan guru, apa lagi saat pandemi. Dimana keberagaman situasi setiap murid sangat mempengaruhi pembelajaran. Ketersedian sarana prasarana memadai, pendampingan orang dewasa untuk murid jenjang bawah, juga kondisi keluarga setiap murid menjadi tambahan pertimbangan guru merancang strategi pembelajaran berorientasi pada murid. Tentunya setelah guru memahami pribadi setiap murid, minatnya, modalitas belajarnya, juga tahapan perkembangan kognitifnya. Untuk itu hal yang penting bagi guru lakukan adalah asesmen diagnosis, untuk mengetahui dan memahami profil setiap murid. Dari hasil asesmen diagnosis tersebut menjadi acuan guru merancang strategi pembelajaran yang sesuai bagi murid. Kamis, 8 Juli 2021 rekan guru di Kabupaten Lamongan mempersiapkan melakukan asesmen diagnosis dengan mengadakan Temu Pendidikan Daerah (TPD) Kabupaten Lamongan dalam Webinar Asesmen Diagnosis bersama Ibu Elisabet Indah Susanti sebagai narasumber dari Kampus Guru Cikal Webinar dibuka dengan mendengar sambutan dari Bapak Chusnul Yuli Setyo selaku Kadisdikbud Kabupaten Lamongan yang menekankan soal upaya mempersiapkan PTM terbatas dengan aman. Menurut beliau ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu: 1) Persiapkan Lembaga; 2) Persiapan Guru; dan 3) Persiapan Strategi Pembelajaran. Bapak Setyo juga mengungkapkan bahwa persiapan yang dilakukan perlu didukung oleh literasi digital. Hal ini dikuatkan oleh Kepala Kemenag Kabupaten Lamongan Bapak Firdaus Markus dalam sambutannya yang mengungkapkan, “ajarilah anak sesuai zamannya”. Menurut beliau sesungguhnya murid mudah beradaptasi dengan literasi digital, namun guru juga harus berapatasi sehingga mampu menemukan formula dan strategi pengajaran tepat pada masa pandemi. Hal yang tidak kalah penting diungkapkan Pak Firdaus dalam sambutannya ialah semangat dan motivasi belajar murid-murid yang perlu dipertahankan dengan merancang strategi pembelajaran sesuai kondisi setiap murid.  Setelah melakukan refleksi mengenai kata belajar & asesmen, Bu Elisabet Indah Susanti sebagai narasumber menyampaikan “sayangnya dalam praktik pembelajaran masih terdapat miskonsepsi belajar”. Setidaknya terdapat dua kriteria miskonsepsi berlajar, yaitu:  strategi pembelajaran yang masih berorientasi pada target, dengan hanya mengacu pada kurikulum, penyampaian satu arah untuk mengejar ketuntasan konten dan  asesmen pembelajaran yang masih berorientasi pada asesmen sumatif sebagai nilai akhir tanpa membedakan dengan pengambilan nilai asesmen formatif.  Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Seharusnya guru dalam merancang strategi pembelajaran berorientasi pada murid, dengan memadukan kurikulum dan kebutuhan murid. Aktivitas yang dilakukan beragam untuk penguasaan kompetensi, serta tentunya dengan pertimbangan kemampuan awal murid. Dalam proses dari merancang, manjalankan, sampai mencapai tujuan belajar untuk kompetensi diperkuat dengan asesmen pebelajaran. Tentunya dengan prinsip asesmen yang ideal. Terdapat 3 prinsip asesmen, yaitu:  asesmen untuk belajar, melalui asesmen diagnosis untuk menggali & menganalisis kebutuhan setiap murid dalam merancang pembelajaran. asesmen sebagai proses belajar, melalui asesmen formatif salah satunya menggunakan beragam metode yang menggali strategi belajar dan cara berpikir murid. asesmen terhadap hasil belajar, untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan orangtua dan pihak lain terkait capaian kurikulum. Ini baru berbicara soal nilai akhir rekan guru belajar melalui asesmen sumatif. Selama ini kita salah kaprah terhadap proporsi dari ketiga prinsip asesmen tersebut. Kita lebih banyak fokus pada asesmen terhadap hasil belajar dengan mengejar nilai. Kurangnya asesmen sebagai proses belajar, bahkan tidak melakukan asesmen untuk belajar dengan mendiagnosis kebutuhan belajar murid. Ada beragam cara untuk melakukan asesmen diagnosis, salah satunya bisa dengan tes, wawancara, atau observasi.  Dengan demikian tujuan asesmen untuk mendapatkan informasi bagi guru dan murid mengenai proses belajar dan pencapaian belajar secara berkala akan tercapai. Jadi kalaupun melihat kurikulum hanya dijadikan acuan untuk meningkatkan kompetensi yang kontekstual. Sehingga diharapkan rekan guru dapat membangun keberlajutan dengan mengaitkan antara rancangan pengajaran, pembelajaran, dan juga asesmen menjadi satu kesatuan proses yang saling berhubungan.  Jika kita memperhatikan arah perubahan pendidikan dengan adanya penyederhanaan aturan administrasi, orientasi pada murid, serta perubahan sistem asesmen rasanya kita diberi ruang dan waktu lebih banyak untuk mengenali masing-masing murid melalui asesmen diagnosis. Dalam melakukan asesmen ini, guru dapat dianalogikan bagai dokter bagi murid-muridnya. Seorang dokter itu tugasnya melakukan asesmen, bentuknya pemeriksaan kalau dokter. Pemeriksaan terhadap gejala, kemudian mengevaluasi, lalu tindak lanjut dengan memberikan resep obat sebagai solusi. Ketika kita sebagai guru melakukan asesmen diagnosis, berarti kita melakukan medical check up kepada murid-murid kita. Dengan hasil asesmen diagnosis, kita punya indikator analisis untuk mendapatkan informasi tentang kebutuhkan murid masing-masing. Lalu apa yang harus dilakukan setelah itu? Maka sama seperti dokter akan melakukan tindak lanjut dari gejala yang didapatkan. Guru pun akan melakukan tindak lanjut dengan merancang strategi pembelajaran yang berorientasi pada murid. Setelah Bu Susan selesai menyampaikan materi, rekan guru yang tergabung dalam Webinar Asesmen Diagnosis antusias bertanya dan berdiskusi. Pertanyaan yang cukup penting  adalah yang ditanyakan moderator dalam akun zoom Anis Ceha, apakah asesmen diagnosis hanya dilakukan kepada murid saja atau orang tua juga? “Pertanyaan bagus Bu” ungkap Bu Susan memberikan apresiasi. Asesmen diagnosis selain dilakukan kepada murid juga perlu dilakukan pada orang tua, karena latar belakang orang tua akan mempengaruhi proses belajar murid. Pengaruhnya terhadap inisiatif murid dan juga dukungan orang tua selam proses belajar. Pertanyaan berikutnya dari Bu Fatma, kalau untuk murid baru pada tingkat SD/MI pendekatan seperti apa yang digunakan untuk mengenali karakter murid pada saat PJJ? Secara kan murid barunya dari TK. “Perlu interaksi personal pada setiap murid lebih banyak. Strateginya bisa dengan kelas dikelompokan kecil” jawab Bu Susan yang juga mengingatkan untuk memberi waktu lebih banyak mendengarkan murid bercerita. Diskusi dan tanya jawab yang tidak semua dapat dituliskan, ditutup oleh penyataan penutup dari Bu Susan, “Asesmen diagnosis hal yang mungkin tidak kita alami dulu sebagai murid, namun untuk pembelajaran yang berpihak pada murid hal ini sangat esensial dan perlu dilakukan. Apalagi pada situasi pandemi saat ini.” Bagaimana rekan guru belajar  metode apa yang akan dipilih untuk melakukan asesmen diagnosis? Metode apapun yang akan Anda pilih, pada intinya hasil dari asesmen diagnosis diperlukan untuk merancang pembelajaran berorientasi pada murid. Sehingga akhirnya akan tercipta pembelajaran yang merdeka belajar. Salam Merdeka Belajar Neneng Nurbaeti