Mengajar yang Efektif Saat Pandemi

Bagaimana cara mengajar efektif saat Pandemi? Pandemi mendatangkan beragam tantangan baru bagi para pendidik, baik guru, kepala sekolah, hingga orang tua murid. Ada kekhawatiran tidak dapat memberikan pembelajaran bermakna karena sekolah tatap muka ditiadakan. Merespon hal tersebut, Kampus Pemimpin Merdeka (KPM) bersama NusantaRun menginisiasi program #TerusBelajar. #TerusBelajar salah satunya diadakan di Ponorogo, untuk memfasilitasi ratusan pendidik agar belajar bersama menghadapi situasi yang sudah berubah sejak pandemi. #TerusBelajar diadakan sejak bulan Agustus 2021, semua peserta mendapatkan beberapa modul yang dapat diakses secara online. Dari modul itu, pendidik dapat belajar bagaimana caranya untuk menerapkan prinsip merdeka belajar untuk proses belajar yang berpihak pada anak. Baca Juga: Pembelajaran Jarak Jauh yang Menyenangkan Hari Selasa (22/02/2022), 176 peserta penggerak dari Kabupaten Ponorogo merayakan proses belajarnya di STKIP PGRI Ponorogo. Perayaan tersebut dihadiri oleh Imam Muslimin, Ketua Bidang Sekolah Dasar, Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo, Bukik Setiawan, ketua Yayasan Guru Belajar, dan Rizqy Rahmat Hani selaku ketua KPM. Rizqy, sapaan akrabnya, menjelaskan, selama masa pandemi murid kesulitan belajar hingga mengalami learning loss  yang semakin parah. Pasalnya, ekosistem pendidikan belum siap untuk memberi dukungan belajar yang kondusif pada murid. Bahkan mungkin sejak sebelum pandemi, banyak pendidik yang masih mengalami miskonsepsi mengajar. “Guru masih beradaptasi membuat pelajaran yang bermakna, kepala sekolah terus mencari cara untuk menjadi pemimpin saat pandemi, serta orangtua yang kebingungan dengan situasi ini. Akhirnya, dampak terbesarnya ada pada murid,” terang Rizqy. Inilah Cara Mengajar yang Efektif Saat Pandemi Salah satu peserta dan penggerak #TerusMengajar, Maria Kurniawati mengungkapkan, setidaknya terdapat dua hal yang harus diperhatikan agar mengajar yang efektif dapat memberikan pembelajaran yang bermakna pada murid. “Pertama yaitu tentukan dulu tujuannya dengan melibatkan murid. Ini menjadi penting karena tujuan adalah motivasi yang menggerakkan seseorang untuk belajar. Hal ini bisa meliputi apa pentingnya mempelajari ini atau mengapa hal ini yang dipelajari?,” terang Maria yang juga merupakan Kepala TK Merak Ponorogo. Sejak penentuan tujuan ini, Maria menegaskan memang perlu mengutamakan prinsip memanusiakan manusia dengan memetakan empati. Guru harus sadar bahwa murid tumbuh dengan kemampuan, minat, bakat, dan lingkungan yang berbeda. “Bagaimana dengan lingkungan keluarga besarnya, ayah, ibunya. Ini perlu waktu untuk belajar memahaminya. Namun tidak boleh terlewat karena dampaknya akan sangat besar,” tukasnya. Dari analisis tersebut, guru dapat memahami, setiap murid memiliki potensinya masing-masing. Potensi tersebut akan mengantarkan mereka untuk mencapai tujuan pembelajarannya. Selain itu, Maria menyarankan agar guru maupun kepala sekolah untuk rajin bergabung dengan gerakan-gerakan pendidik, seperti misalnya Temu Pendidik Daerah dan Temu Pendidik Nusantara. “Setelah belajar modul, saat itu saya ikut Temu Pendidik Daerah. Di situ saya mendapatkan penguatan dari yang sudah dipelajari. Tepatnya, saat itu mendapatkan pencerahan mengenai pembelajaran project dan STEAM,” jelas Maria. Tidak hanya berhenti di situ, Maria aktif untuk menularkan cara mengajarnya ke guru lain hingga menerapkan prinsip merdeka belajar ke muridnya. Baginya saat ini, pembelajaran tatap muka maupun jarak jauh tidak menjadi masalah. “Saya dan guru lainnya tidak lagi terkungkung harus home visit, Zoom, atau sejenisnya. Pembelajaran tatap muka mungkin cukup satu hingga dua kali seminggu. Selebihnya dapat dilakukan secara mandiri dan kami mendampingi dari jauh. Dari modul-modul itu, saya belajar untuk bisa bergerak mengajar dengan lebih fleksibel,” pungkasnya. — Kampus Pemimpin Merdeka merupakan lembaga pendidikan yang mendampingi jajaran pimpinan sekolah untuk menjadi penggerak dan pemimpin perubahan demi pendidikan yang #MerdekaBelajar dan berpihak pada anak.  Kampus Pemimpin Merdeka telah mendampingi lebih dari 100.000 pendidik dari 40 daerah yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Kampus Pemimpin Merdeka (KPM) bersama NusantaRun menginisiasi program #TerusBelajar di lima daerah di Jawa Timur, salah satunya Kabupaten Ponorogo. Program ini memfasilitasi ratusan pendidik agar belajar bersama menghadapi situasi yang sudah berubah sejak pandemi. Salah satu peserta penggerak #TerusBelajar Kabupaten Ponorogo, Maria Kurniawati, berbagi bagaimana caranya agar dapat tetap memberikan pembelajaran yang bermakna untuk murid di masa pandemi. Hal tersebut ia dapatkan pasca mengikuti program #TerusBelajar sejak Agustus 2021 lalu.

Media Ajar yang Menarik untuk Asesmen

“Memori HP sudah penuh, Pak. Sudah gak bisa instal aplikasi lagi. “ “Aplikasi yang digunakan guru kok beda-beda, ya, Pak? Kami jadi bingung cara menggunakannya.” Bapak dan Ibu Guru sedang bingung mencari media ajar yang sesuai untuk pembelajaran jarak jauh? Hingga bingung asesmen apa yang cocok dilakukan? Jangan khawatir pertanyaan tersebut akan terjawab pada pengalaman Pak Virandy Putra. Pak Virandy Putra adalah guru dari SMA Negeri 1 Sijuk. Ketika pandemi Covid-19 membuat Pak Virandy harus memikirkan cara dan ide-ide inovatif untuk tetap melaksanakan pembelajaran. Pak Virandy sangat keteteran karena harus menggunakan beberapa aplikasi yang  menunjang pembelajaran jarak jauh. Dalam proses pembelajaran, sering terjadi apa yang dipikirkan oleh Pak Virandy tidak sesuai dengan yang dipikirkan murid-muridnya. Harapannya membuat pembelajaran menarik dan efisien, ternyata murid kurang antusiasnya. Hambatannya bukan karena aplikasi pembelajaran yang kurang canggih, tetapi ada beberapa kendala seperti guru tidak melibatkan murid dalam pemilihan media ajar yang akan digunakan ketika pembelajaran dilaksanakan. Kurang semangatnya murid di sekolah juga terlihat ketika sedikitnya yang ikut pertemuan virtual maupun pada kelas maya yang Pak Virandy buat. Ada juga berbagai alasan murid terkait dengan kurangnya semangat ketika mengikuti kegiatan pembelajaran seperti adanya beberapa murid yang mengeluh karena banyak aplikasi yang harus diunduh di gawainya. Pak Virandy lalu memikirkan cara untuk membuat pembelajaran lebih menarik dan membuat murid-muridnya antusias dalam pembelajaran jarak jauh. Dari Survei yang dilakukan Tanoto Foundation pada tahun 2020 menunjukkan bahwa 47% murid merasa kurang senang belajar di rumah karena banyaknya tugas yang diberikan, serta kegiatan pembelajaran membosankan karena tidak adanya interaksi yang baik antara guru dan murid. Kondisi tersebut selaras dengan yang dilakukan guru terhadap murid. Survei tersebut menunjukan, 85% guru memberikan tugas kepada murid. Hanya sebagian kecil yang memberikan pengajaran, meminta murid membuat penelitian sederhana atau kreativitas. Baca Juga : Asesmen Diagnosis adalah Solusi Dari survei tersebut setidaknya menunjukkan gambaran bahwa banyaknya tugas yang diberikan kepada murid dan tidak adanya umpan balik terhadap murid membuat kebosanan dalam belajarnya. Pak Virandy adalah pengguna aktif sosial media. Sehingga ada beberapa guru yang bilang kalau Pak Virandy sedikit narsis, karena apapun selalu diunggah ke media sosial. Pak Virandy  juga sering mengamati perilaku muridnya ketika menggunakan media sosial. Ternyata muridnya banyak belajar dari medsos. Contohnya belajar membuat kue di saluran YouTube, belajar membuat konten unboxing melalui Instagram, dan lainnya. Fenomena belajar dari internet membuat Pak Virandy berpikiran untuk menggunakan media sosial sebagai media ajar untuk asesmen pembelajaran. Harapannya, antusias murid meningkat dan lebih senang belajar, seperti pada masa pandemi yang mengharuskan pembelajaran jarak jauh. Pak Virandy memilih Instagram sebagai media ajarnya karena aplikasi tersebut adalah salah satu media sosial yang paling banyak digunakan. Selain itu, Instagram juga masih jarang digunakan untuk media ajar dalam pembelajaran. Menurut Pak Virandy Instagram menyediakan fitur-fitur yang keren. Berikut ini langkah-langkah yang dilakukan Pak Virandy menggunakan media ajar Instagram dalam pembelajaran jarak jauh NO KEGIATAN 1 Menggunakan postingan di feed Instagram untuk memberikan materi pembelajaran dan menginformasikan kepada murid tentang tugas proyek yang akan kerjakan. 2 Pak Virandy berkomunikasi dengan muridnya secara langsung (sinkronus), menggunakan fitur live di Instagram. Beberapa kali, ketika live, Pak Virandy melakukan simulasi praktik tentang listrik. Murid dapat bertanya secara langsung di kolom komentar. 3 Pak Virandy menghubungkan melalui tautan yang ada di biodata Instagram, yang terkoneksi langsung dengan Google Form untuk pemberian daftar hadir secara daring. 4 Pak Virandy melakukan asesmen menggunakan fitur kuis yang ada di story Instagram. Langkah-langkah Pak Virandy Menurut Pak Virandy asesmen berupa kuis itu paling keren. Murid-muridnya merasa mendapat pengalaman baru dalam proses belajar. Sebelum membuat kuis, Pak Virandy menyiapkan bank soal, kemudian membuat kunci jawaban. Setelah itu, mendesain bentuk soal. Agar terlihat menarik, dalam mendesainnya menggunakan aplikasi desain grafis,  seperti Canva. Setelah itu Pak Virandy mengunggah soalnya di story Instagram pribadinya. Beberapa soal dibuat lebih menarik dengan menampilkan suatu karakter gif di salindia soal tertentu. Pak Virandy merasa senang sekali, ternyata murid-muridnya sangat antusias mengikuti kuis melalui story Instagram. Pembelajaran melalui Instagram membuat Pak Virandy lebih memahami bahwa pembelajaran jarak jauh tidak harus dirancang melalui aplikasi pembelajaran yang konvensional. Dengan media sosial, ternyata dapat membuat pembelajaran lebih menarik. Harapan Pak Virandy adalah pembelajarannya semoga dapat lebih bermakna. Fitur kuis dalam Instagram sangat membantu dalam proses asesmen. Seperti statistik atau analisis butir soal dapat dilihat melalui fitur tersebut. Beberapa rekan Pak Virandy ternyata juga ikut menyelesaikan kuisnya. Pak Virandy percaya bahwa jika guru mau berinovasi sedikit saja, proses pembelajaran akan lebih bermakna. Dengan memanfaatkan fungsi fitur-fitur media sosial, seperti Instagram. Bagaimana Bapak dan Ibu Guru apakah pengalaman Pak Virandy menjawab permasalahan pembelajaran dan memberikan inspirasi? Bapak dan Ibu Guru mari ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Mari daftar di Temu Pendidikan Nusantara VIII!  Klik : https://tpn.gurubelajar.org Sumber : Surat Kabar Guru Belajar Edisi 3 Tahun Keenam

Temu Pendidik Nusantara VIII, Ada Apa?

Bapak dan Ibu Guru sudah mempraktikkan merdeka belajar? Ingin menambah inspirasi? Mengembangkan kompetensi dan karier? Atau ingin melakukan perubahan dalam dunia pendidikan?. Dalam Temu Pendidik Nusantara VIII akan menjadi momen refleksi menyeluruh terhadap merdeka belajar, menjadi sebuah asesmen formatif untuk penggerak perubahan pendidikan, karena merdeka belajar sebagai cita tidak hanya membutuhkan peran pendidik saja tetapi juga membutuhkan ekosistem yang merdeka belajar. Tidak hanya guru yang belajar, tetapi juga kepala sekolah, kepala madrasah, bahkan pengawas yang yang sering ditakuti oleh guru, tetapi ternyata dapat berjumpa dan berkolaborasi dalam semangat yang sama yaitu merdeka belajar.  Dalam Temu Pendidik Nusantara guru tidak hanya ikut begitu saja, tetapi guru dapat memilih. Setiap guru dapat memilih perannya dapat sebagai peserta, pembicara atau relawan panitia.  Setiap guru yang memilih menjadi peserta, juga bisa memilih topik yang ingin dipelajarinya. Berbeda dengan kebanyakan kegiatan lainnya, biasanya guru dituntut belajar topik yang ditentukan pihak lain, bukan pilihannya sendiri. Di Temu Pendidik Nusantara VIII, guru dapat memilih topik yang sesuai kebutuhan dan keinginannya. Topik yang dipilih yang dapat membantu dalam mengatasi permasalahan di kelas maupun sekolah. Guru yang sudah memiliki pengalaman mengajar juga mendapatkan kesempatan untuk menjadi pembicara. Guru yang menjadi pembicara dapat menyampaikan pengalaman dan keadaannya ketika di lapangan. Guru yang menjadi pembicara diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi guru lain, memberikan dampak yang luas dan memberikan perubahan, mengawali karier menjadi pelatih, dan dikenal oleh 30.000 guru se-nusantara.  Tidak hanya belajar, tetapi guru juga mengembangkan karir. Karena sejak tahun lalu, Temu Pendidik Nusantara sudah dirancang sebagai kegiatan pengembangan karier guru. Pembagian kegiatan di Temu Pendidik Nusantara dilakukan untuk memberi pengalaman dan tantangan karier yang beragam. Peserta Temu Pendidik Nusantara akan belajar mencoba suatu strategi pengajaran di kelas kemerdekaan, mengembangkan potensi di kelas kompetensi, dan memperluas kesempatan dan jejaring belajar di kelas kolaborasi. Peserta Temu Pendidik Nusantara juga bisa belajar dan mengetahui bahwa menjadi kepala sekolah bukanlah satu-satunya pilihan karier guru. Di kelas karier, peserta Temu Pendidik Nusantara dapat belajar bahwa profesi guru dapat menghasilkan banyak spesialisasi. Dengan mempelajari perjuangan setiap pembicara dalam merintis kariernya. Di Pameran Karier, peserta Temu Pendidik Nusantara juga bisa menyaksikan dan mendapatkan karya dan layanan guru. Harapannya setelah mengikuti Temu Pendidik Nusantara, peserta mendapatkan pelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan karier untuk merintis dan mengembangkan kariernya. Peserta tidak hanya menjadi pendengar, tidak hanya dimintai kartu nama untuk tindak lanjut presentasi produk atau layanan. Tetapi peserta menjadi berdaya karena mendapatkan kesempatan menghasilkan karya yang bermanfaat baik untuk sesama guru maupun masyarakat luas. Peserta Temu Pendidik Nusantara diajak untuk berdaya, dalam melangkah dari jenjang ke jenjang lebih lanjut hingga menghasilkan karya. Baca Juga : Inilah 5 Keistimewaan Temu Pendidik Nusantara Tidak hanya berkembang, tetapi juga melakukan perubahan. Meski terbuka untuk umum, sebagian besar peserta Temu Pendidik Nusantara adalah guru-guru dari beragam organisasi profesi dan komunitas yang menjadi bagian dari perubahan pendidikan Indonesia. Seperti dari Yayasan Guru Belajar, Cerita Guru Belajar, Kampus Guru Cikal, Sekolah Merdeka Belajar, Komunitas Guru Nusantara, Komunitas Pengawas Belajar, Jaringan Sekolah Madrasah Belajar, Ikatan Guru Indonesia, Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia, Lingkar Daerah Belajar, Federasi Guru Independen Indonesia, Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia, PERGUNU, Forum Guru Muhammadiyah, dan Badan Musyawarah Perguruan Swasta. Disponsori oleh Nusantarun, Sekolah.mu, Wardah Inspiring Teacher, dan Nutrifood. Serta diliput oleh media-media Kumparan.com, Tempo.com, dan Kompas.com. Organisasi-organisasi ini hadir bukan sekedar belajar untuk kepentingan dan capaian pribadi, tetapi juga untuk mengubah praktik pengajaran dan menyebarkannya ke guru-guru yang lain. Tidak semua bertahan, namun mereka yang hadir adalah mereka yang berkomitmen kuat pada tujuan, yang menunjukkan ciri dari guru merdeka belajar. Konten pada Temu Pendidik Nusantara diharapkan dapat menjadi konten yang menjawab kebutuhan ekosistem guru dan pendidikan di Indonesia. Konten Temu Pendidik Nusantara dirancang dan dipilih sesuai dengan topik Temu Pendidik Nusantara juga selaras dengan semangat merdeka belajar. Konten yang dapat membantu guru memandu murid menjadi pelajar merdeka. Namun keistimewaan yang utama pada Temu Pendidik Nusantara bukan berkaitan dengan konten, kelas, maupun pembicara. Temu Pendidik Nusantara istimewa karena menjadi wadah perjumpaan antar guru yang berbagi cerita dan membahas bagaimana momen asesmen nasional dapat digunakan oleh semua pemangku kepentingan untuk mendesain, mengembangkan, mewujudkan ekosistem yang membantu semua dan setiap murid untuk mengalami pengalaman merdeka belajar di rumah, di kelas, dan di komunitasnya.  Apakah Bapak dan Ibu Guru berminat untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII?  Yuk jangan lupa untuk mengikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem belajar.  Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara.  Mari daftar di Temu Pendidik Nusantara VIII!  klik : https://tpn.gurubelajar.org

Praktik Asesmen pada Perilaku Murid

Bapak dan Ibu Guru sedang mengalami permasalahan perilaku murid? Seperti murid sering marah-marah, teriak, guling-guling, dan sampai menangis? Praktik asesmen apa saja yang perlu dilakukan? Jangan khawatir pertanyaan tersebut akan terjawab dalam pengalaman Bu Amalia Ahadini. Bu Amalia Ahadini adalah guru yang mengajar di Sekolah Luar Biasa Negeri Pembina, Yogyakarta. Ketika bulan Agustus, Bu Amalia mendapatkan informasi bahwa akan ada murid pindahan dari sekolah lain. Secara prosedur, praktik asesmen kepada murid baru dilakukan oleh tim asesmen sekolah, seperti mendata murid tentang profil keluarga dan kemampuan umum yang akan menjadi bahan materi dalam praktik asesmen yang dilakukan oleh tim sekolah. Hasil data dari tim sekolah selanjutnya diserahkan kepada Bu Amalia yang akan menjadi guru kelas bagi murid baru pindahan dari sekolah lain. Setelah diamati hasil datanya, ternyata masih banyak hal yang perlu Bu Amalia ketahui sebagai guru kelasnya.  Bu Amalia mulai menghubungi Ibu calon murid barunya melalui WhatsApp. Bu Amalia meminta ibu calon muridnya untuk mengisi asesmen non-kognitif, asesmen kemampuan bahasa, asesmen kemampuan berhitung, asesmen prakarya, dan asesmen kemampuan kemandirian melalui Google Form. Sebelumnya murid Bu Amalia juga mengisi instrumen asesmen yang sama pada awal tahun ajaran baru. Ibu calon murid menjelaskan perilaku anaknya yang sering marah di rumah dalam asesmen non-kognitif. Bu Amalia juga melakukan komunikasi yang intensif dengan ibu calon murid, serta melakukan asesmen non-formal melalui pesan WhatsApp. Dengan begitu Bu Amalia mengetahui gambaran tentang kemampuan murid dalam bidang menghitung, bahasa, prakarya, dan kemandirian. Tetapi, ternyata Bu Amalia juga mengetahui bahwa murid barunya memiliki beberapa hambatan. Ibunya bercerita tentang perilaku anaknya yang tidak ingin belajar dan setiap hari selalu minta uang jajan sampai tiga kali sambil marah-marah, berkata kurang baik, dan suka bermain di luar rumah seharian. Beberapa tetangga sering menegur ibu calon murid untuk mendidik anaknya dengan benar. Bu Amalia meminta tolong kepada ibu calon murid barunya untuk merekam perilaku anaknya di rumah secara diam-diam, karena untuk mendapatkan informasi dan gambaran yang lengkap tentang perilaku murid barunya. Setelah menerima rekaman, ternyata benar bahwa murid barunya marah-marah dengan berteriak, berguling-guling sampai menangis karena meminta uang. Bu Amalia mengirimkan pesan motivasi untuk memberikan dukungan dan menguatkan ibu calon murid supaya tabah dan sabar. Menurut Bu Amalia mungkin, anggapan murid barunya ketika ibunya menolak untuk memberikan uang, permintaannya dianggap sepele bagi ibunya, sehingga murid barunya berperilaku marah-marah sampai menangis. Bu Amalia bersama ibu calon murid membuat prioritas masalah yang harus ditemukan solusinya. Sebelumnya ibu calon murid ingin memperbaiki kemampuan kognitif anaknya.Bu Amel menyakinkan ibu calon murid bahwa ketika belum ada kepatuhan dari anaknya, pasti tetap tidak mau belajar. Bu Amalia akhirnya membuat beberapa pertanyaan dasar tentang perilaku, lalu dilanjutkan berkomunikasi menggunakan WhatsApp. Setelah itu, Bu Amalia mencari instrumen yang sudah sesuai terkait perilaku. Bu Amalia mempraktikan asesmen menggunakan skala asesmen motivasi yang juga dapat disebut motivation assessment scale (MSA) yang didapatkan pada waktu mengikuti diklat. Bu Amalia mencoba mencari tahu penyebab perilaku yang kurang baik pada murid barunya dengan bertanya tentang pola pengasuhan, trauma masa kecil, dan hukuman yang pernah dialami murid barunya. Data praktik asesmen yang didapatkan langsung dianalisis dan dikonsultasikan dengan guru yang memiliki pengalaman tentang permasalahan perilaku. Hasil praktik asesmen Bu Amalia lalu disampaikan kepada ibu calon murid barunya. Bu Amalia menyampaikan bahwa perilaku anaknya yang suka marah-marah terjadi karena objek atau kegiatan tertentu (tangible). Maka agar tidak terjadi perilaku tersebut harus menghindari pemicunya. Berdasarkan asesmen, menunjukan bahwa ibu calon murid baru adalah single parent yang tinggal bersama orang tuanya. Tantangan terbesar mendidik anak dengan kakek dan nenek biasanya disebut inkonsistensi pengasuhan. Baca Juga :  Meningkatkan Motivasi Belajar pada Praktik Merdeka Belajar Ibu calon murid juga bercerita bahwa sering terjadi, pada saat anaknya meminta uang dan tidak diberi, anaknya akan teriak-teriak, marah dan menangis, tetapi neneknya terburu-buru menenangkan anaknya dengan memberikan uang. Alasan neneknya bertindak seperti itu karena tidak tega mendengar cucunya menangis minta uang. Pola pengasuhan yang berbeda dalam satu rumah akan membuat anak kebingungan. Anak akan mencari dan memilih tempat yang nyaman ketika merasa terancam seperti dimarahi. Ibu calon murid setuju perbedaan pola pengasuhan adalah penyebab yang mempengaruhi perilaku anaknya. Bu Amalia meminta ibu calon muridnya dalam memastikan anaknya menjadi bagian dalam keluarganya serta melibatkan anak berperan aktif di dalam rumah. Bu Amalia mengajak ibu, nenek, dan murid baru untuk membuat kesepakatan bersama. Contohnya pada saat murid tidak menunjukkan perilaku yang kurang baik, maka murid berhak mendapatkan kesempatan untuk menonton selama 15 menit. Proses perubahan perilaku pasti tidak mudah. Maka Bu Amalia selalu menguatkan ibu calon murid untuk sabar. Setelah itu, seluruh anggota keluarga diajak untuk membuat rutinitas yang terprediksi. Contohnya, ketika pagi hari setelah ibadah, mandi, dan makan, murid baru diajak neneknya ke warung. Murid baru diajarkan perilaku pengganti yang wajar. Jika biasanya murid berteriak dan berkata kurang baik ketika meminta sesuatu, murid diajari untuk berkata baik dan sopan saat meminta sesuatu. Peran nenek adalah memberikan motivasi cucunya. Setelah strategi dicoba ternyata perubahan perilaku murid belum terlihat. Akhirnya Bu Amalia membuat kesepakatan baru yaitu setiap hari, tugas murid adalah melakukan tiga kebaikan dengan bukti foto ketika murid melakukan kebaikan, dan ibunya memberikan pujian yang sesuai setelah anaknya melakukan kebaikan. Ternyata, strategi tersebut berhasil. Setiap hari murid baru dengan senang hati melakukan tiga tugas kebaikan. Kebaikan yang dilakukan seperti makan sendiri, mengembalikan piring ke tempat cuci piring, membantu mencuci sepeda motor, dan kegiatan baik lainnya. Tugas melakukan kebaikan ini merupakan strategi yang berfokus pada kegiatan perilaku baik. Solusi dalam menangani permasalahan perilaku yang kurang baik adalah dengan menumbuhkan perilaku yang baik melalui kegiatan kebaikan. Ibu calon murid merasa senang atas perubahan perilaku anaknya, meskipun terkadang masih marah ketika keinginan anaknya tidak dituruti, tetapi sudah tidak berkata kotor lagi. Bu Amalia menyadari pentingnya asesmen yang diterapkan seiring proses belajar akan membuat perubahan perilaku murid menjadi lebih baik. Bagaimana Bapak dan Ibu Guru apakah pengalaman Bu Amalia menginspirasi? Bapak dan Ibu Guru mari ikuti Temu Pendidik Nusantara VIII 19-21 November 2021 dengan tema merayakan asesmen, mendesain ekosistem belajar. Dapatkan inspirasi pembelajaran lainnya dari #1000 Pembicara. Mari daftar di Temu Pendidik Nusantara VIII!  Klik : https://tpn.gurubelajar.org

Diferensiasi Pembelajaran yang Disukai Murid

Diferensiasi pembelajaran itu apa sih? Lalu bagaimana menerapkannya? Apa dampaknya bagi murid? Temu pendidik daerah Makassar berjalan dengan penuh semangat saat pemandu acara membuka dan memperkenalkan narasumber ibu Dina Marta Aulia Ningrum seorang guru SMK Negeri 1 Kedungwuni Pekalongan. Ibu Dina membagi pengalaman mengajarnya dalam menghadapi beragam karakter murid. Saat ibu Dina memaparkan presentasinya yang membahas tentang deferensiasi. Inilah yang membuat saya dan beberapa teman KGBN Makassar turut ambisius untuk menyimak isi materi tentang pengalaman ibu Dina mampu membuat murid merasa nyaman dan semangat dalam belajar. Sekalipun pelajaran sulit, namun ibu Dina berhasil mengambil hati para muridnya dengan ide kreatifnya. Berikut ulasan terkait pengalaman ibu Dina dalam menerapkan diferensiasi pembelajaran. Berawal dari pembelajaran anekdot yang diberikan ibu Dina Marta Aulia Ningrum kepada muridnya, ia mendapat beberapa pengalaman sebagai bahan refleksi terhadap proses pembelajaran yang diterapkan. Dengan pembelajaran yang berfokus pada satu arah yaitu sekadar instruksi kepada murid mengerjakan “tugas” membuat anekdot menggunakan video. Namun, Ibu Dina belum memahami bahwa tidak semua murid bisa menggunakan video atau cenderung kurang berminat dalam menggunakan video. Serta ketidakpahaman murid terhadap pelajaran tentang anekdot.  Saat tiba hari pengumpulan tugas, hanya sebagian murid menyetor tugasnya dengan alasan sulit membuat anekdot dan video. Melihat hasil kerja murid yang jauh dari harapan, ibu Dina mulai berpikir langkah strategis untuk mencapai pembelajaran yang menyenangkan dan dapat mendorong semangat murid dalam belajar dan mengerjakan tugas anekdot yang diberikan. Ibu Dina mencari tahu kesukaan, kemamapuan, serta keahlian para muridnya. Jawaban murid beragam dengan berbagai pendapat. Ada yang suka menggambar, puisi, dan membuat pantun. Ibu Dina sontak melihat keberagaman bakat minat muridnya, namun dari situlah ibu Dina memberi kesempatan murid untuk memilih tantangan belajarnya sendiri sesuai potensi yang dimiliki.  Baca Juga: Jurus Jitu Lulus Asesmen Nasional Tantangan terbesar ibu Dina dalam menerapkan diferensiasi yaitu murid merasa aneh, karena penerapan murid berbeda dalam mengerjakan tugasnya. Namun Ibu Dina telah menjelaskan manfaat dari model deferensiasi ini. Deferensiasi dapat memaksimalkan potensi masing-masing murid dengan mambawa kedalam ranah pembelajaran agar bakat, minat murid dapat berkembang dan pembelajaran juga bisa menyenangkan.  Sebagai guru kita mengetahui bahwa setiap murid memiliki latar belakang bakat dan minat yang berbeda. Dan hal itulah yang membuat ibu Dina menyadari bahwa dalam menerapkan pembelajaran di kelas kita perlu melakukan diferensiasi/memahami kebutuhan murid. Maka dari itu, ibu Dina mengemas pembelajaran tentang anekdot dengan kolaborasi kemampuan murid. Artinya, murid mengerjakan tugas sesuai dengan hobi/passion masing-masing.  Sebagai contoh, murid yang suka musik bisa menyusun lagu menggunakan kata-kata anekdot. murid yang suka menggambar bisa menuangkan ide gambarnya ditambahkan kata anekdot di dalamnya. murid yang suka puisi, bisa menyusun puisi  menggunakan kalimat-kalimat anekdot. Bahkan ibu Dina memiliki murid yang bisa mendesain, maka ia membuat sebuah desain baju dengan kata-kata anekdot. Setelah selesai murid tersebut mencoba untuk mengirim ke sosial media. Alhasil baju yang ia desain dengan kata-kata anekdot yang dibuatnya menjadi laris. Ini adalah salah satu pencapaian yang sangat menakjubkan baik kepada guru maupun murid. Dalam hal ini bisa meningkatkan motivasi murid, semangat belajarnya, dan dapat juga memberi sumbangsih yang positif terhadap hasil belajar mereka. Tentu hal tersebut juga menjadi motivasi terhadap murid lainnya. Dan langkah yang inovatif ini bisa menjadi cerminan bagi guru-guru lain dimanapun berada. Bahwa kita perlu mengembangkan pelajaran menjadi menyenangkan dan bermakna.  Selain dari model pembelajaran yang diterapkan ibu Dina terkait diferensiasi/pembelajaran sesuai kebutuhan murid. Ibu Dina juga menerapkan sistem pengumpulan tugas sesuai keputusan bersama murid. Dengan melakukan musyawarah seperti ini, membuat murid juga ikut terlibat menyumbangkan ide mereka, dan murid merasa keberadaan mereka dihargai oleh guru. Bukan hanya perintah satu arah dari guru. Tapi kita mencoba mendiskusikan setiap kegiatan kelas dengan murid. Bahkan dalam menentukan durasi pengerjaan tugas. Meskipun mereka sudah sepakat mengumpulkan dalam waktu sepekan, namun beberapa murid telah menyelesaikan tugas sebelum deadline. Sebagai salah satu alasan murid bisa mengerjakan tugas sebelum deadline adalah mereka menganggap bahwa tugas yang diberika ibu Dina menyenangkan, karena mereka bebas membuat anekdot sambal memadukan passion mereka.  Dari sinilah kita mengerti, bahwa pembelajaran yang inovatif, kreatif menyenangkan bagi murid akan mendorong murid semangat dalam belajar. Untuk menjadikan murid kita paham dan berminat untuk belajar tentu yang pertama kita lakukan adalah menjamah hati mereka, mencari hal-hal yang mereka suka seperti hobi dan minat mereka. Dari minat itulah kita padukan dengan pelajaran. Dengan penuh yakin, point pelajaran yang hendak kita sampaikan dapat diterima dengan baik disebabkan pengemasannya juga bagus dan menarik perhatian murid. Ibu Dina berpesan sebagai seorang guru kita harus sering merefleksi diri dengan memberikan pertanyaan yang memantik agar dapat memacu semangat kita dalam mengajar dan mendidik yaitu “Apa upaya saya sebagai guru membantu murid dalam memahamkan pembelajaran dengan menciptakan beberapa inovasi selain pemberian teks saja yang kadang membuat anak-anak jenuh”.  Langkah yang diterapkan ibu Dina dalam hal diferensiasi ini lebih kepada empati kepada murid, memanusiakan hubungan dengan menjalin hubungan yang komunikatif dengan murid. Empatinya adalah berusaha memahami kebutuhan belajar murid yang memadukan pembelajaran sesuai dengan passion/hobi murid. Dan langkah memanusiakan hubungan yaitu kita dapat mengajak murid ikut terlibat dalam menentukan kesepakatan kelas, kesepkatan deadline pengumpulan tugas dan kegiatan-kegiatan belajar. Dipenghujung acara temu pendidik daerah komunitas guru belajar Makassar, beberapa peserta memberi apresiasi melalui kolom komentar di youtube dan termotivasi untuk menerapkan model pembelajaran yang diterapkan Ibu Dina. Selain dari itu, beberapa peserta juga melakukan sharing dengan bertanya apa yang menjadi kelebihan serta kekurangan dari model diferensiasi ini. Yang menjadi kelebihan serta kekurangannya telah dipaparkan pada paragraph sebelumnya bahwa diferensiasi pembelajaran tentu membuat murid senang dalam mengerjakan tugaas karena mereka bebas berkreasi tanpa mengurangi makna dari inti pembelajaran tentang anekdot misalnya. Kita juga bisa merasakan bahwa murid yang mengerjakan tugas dengan persaan senang dan semangat tentu berpengaruh pada kecepatan mereka mengerjakan tugas, serta pembelajaran akan mudah berkesan dalam hati dan ingatan mereka. Adapun kekurangannya kami merasa tidak begitu nampak, karena murid mengerjakan dengan senang hati, hanya saja dikembaalikaan pada murid terkait biaya dalam mengerjakan tugas tersebut seperti membuat desain baju menggunakan kata-kata anekdot tentu itu membutuhkan biaya untuk mendesain. Berbeda jika murid menulis anekdot di buku tulis tentu biayanya berbeda jauh dan lebih murah. Namun kembali lagi pada kualitas kerja. Tentu dengan pekerjaan yang berkualitas juga akan … Read more

Menjemput Beasiswa Guru Merdeka Belajar

“Wah…banyak teman rupanya di Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) ini. Baru sadar aku,  ternyata sangat seru sekali bergabung di sisi.” Ucap seorang teman yang baru bergabung di KGBN. Ya, pada hari ini tepatnya Minggu, 28 Maret 2021 kami mengadakan Temu Pendidik Daerah KGBN Pesisir Selatan dengan materi Sosialisasi Program Beasiswa Guru Merdeka Belajar dengan narasumber Bu Linda Ermaida. Beliau adalah ketua KGBN Pesisir Selatan. Semangat beliau sangat luar biasa sekali dalam berbagi ilmu dengan teman-teman di KGBN. Beliau tidak hanya mengobarkan waktu dan pikiran, tapi juga mengobarkan materi demi kegiatan di KGBN. Jauh-jauh beliau datang dari kecamatan Koto Sebelas Tarusan menuju kecamatan Linggo sari Baganti. Membutuhkan waktu 3 jam untuk beliau sampai di Kecamatan Linggo Sari Baganti. Semangat merdeka belajar beliau memang patut diacungi jempol. Tanpa memikirkan biaya, tanpa dibayar sepeser pun  beliau bersedia datang dan berbagi ilmu dengan teman-teman di KGBN. Bahkan saya sering beliau telpon, “Dani kapan kita sosialisasi mengenai beasiswa guru merdeka belajar ini?”. Saya bilang, “tunggu  ya Bu” . Beliau juga sering mengajak teman-teman di KGBN mengadakan zoom, guna mencari solusi bagaimana anggota KGBN bisa berkembang di kabupaten Pesisir Selatan. Beliau menargetkan tiap-tiap anggota penggerak agar mencari teman sebanyak mungkin untuk dijadikan anggota KGBN atau Penggerak KGBN. Kebetulan beliau menyuruh saya mencari teman sebanyak tiga orang, maklum saya baru menjadi anggota KGBN. Belum menjadi penggerak karena sampai saat sekarang ini saya belum mengadakan nonton bareng video merdeka belajar.  Alhamdulillah sekali saya bisa bergabung di KGBN ini. Karena saat sekarang ini mencari teman-teman yang mau belajar dan berbagi ilmu itu sangat susah. Nah KGBN adalah salah  satu tempat mencari ilmu dan berbagi ilmu. Belajar dimana saja dan dari siapa saja tidak harus dari ahli. Teman sejawat  yang punya praktek baik,  berhasil setelah mengalami kegagalan bisa kita jadikan sumber belajar. Memang kalau saya lihat teman-teman penggerak di KGBN mempunyai semangat luar biasa sekali dalam belajar. Salah satu Bu Rini Suriati, Beliau juga jauh-jauh datang dari kecamatan Lunang ke Kecamatan Linggo Sari Baganti untuk menjadi moderator pada kegiatan TPD kali ini yang menempuh jarak perjalanan tiga jam. Tanpa di bayar sepeser pun. Salut banget sama teman-teman di KGBN. Kegiatan TPD kali ini kami mencari tempat rekreasi, alasan ini dipertimbangkan supaya setelah selesai belajar bisa refreshing juga.  Akhirnya dibuatlah kesepakatan di salah satu pantai di tempat kami namanya Pantai Kito. Tidak berapa lama setelah itu saya mendapatkan informasi kalau di Pantai Kito itu ramai sekali. Untuk belajar rasanya tidak terlalu bagus karena bising dengan orang-orang yang ramai. Akhirnya kami dengan bu Azizah selaku tuan rumah mencari tempat yang lain. Hari Sabtu tanggal 27 Maret  Pukul 17:30 satu hari sebelum acara saya dengan bu Azizah survei ke tempat pantai yang lain. Sesampainya di Pantai tersebut kami langsung disambut dengan merdunya suara azan magrib. Kami pun langsung menuju tempat wudu. Ternyata tempat berwudu tersebut kurang bersih sehingga kami memutuskan untuk menumpang salat magrib di  tempat menantu beliau. Ketika kami akan menuju rumah menantu bu Azizah, kami melihat sebuah tempat yang rasanya nyaman untuk belajar. Tapi, orang yang punya tempat tersebut tidak ada. Kami pun bertanya kepada orang yang ada di sebelah.  Ketika kami berbincang- bincang, Datanglah yang punya tempat tersebut. Rupanya dia seorang operator SD. Kami pun langsung numpang salat. Setelah selesai salat akhirnya kami membicarakan mengenai Temu Pendidik Daerah (TPD) yang akan dilaksanakan. Rencananya kami mau memakai tempat tersebut untuk kegiatan TPD. Alhamdulillah dia bersedia memberikan izin. Akhirnya saya dengan bu Azizah pulang ke rumah masing-masing dan juga tidak lupa menyampaikan kepada teman-teman tentang perubahan tempat pertemuan.  Pukul 10:00 bu Linda Ermaida sudah sampai ke kecamatan kami, sementara saya dan bu Azizah selaku tuan rumah belum juga sampai karena pada saat itu saya menunggu teman. Jadi malu juga sama bu ketua. Singkat cerita akhirnya kami semua telah berkumpul di lokasi. Namun, kenapa yang punya tempat belum datang. Ada apa gerangan?. Tentu kami tidak bisa mulai acara karena yang punya tempat belum datang. Akhirnya saya telepon, tapi nomor hpnya tidak aktif. Akhirnya kami buat keputusan jika dalam waktu lima belas menit yang punya tempat tidak datang, kami akan cari tempat yang lain. Waktu itu rasa bersalah saya semakin meningkat. Udah terlambat, nah sekarang ditambah lagi tempat yang  bermasalah. Namun, belum lima belas menit kami menunggu, yang punya tempat datang. Alhamdulillah, ucap saya. Tidak jadi pindah. Jadi malu juga sama teman-teman kalau seandainya pindah tempat lagi. Acara pun kami mulai dengan pembukaan dari moderator. Selanjutnya bu Linda Ermaida menyampaikan tentang cara membuat akun di sekolahmu. Kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi Beasiswa Guru Merdeka Belajar. Setelah pembahasan beasiswa guru merdeka belajar, Pak Nofri Mayasril selaku narasumber dua langsung mempraktekkan cara membuat akun sekolah mu kepada peserta. Setelah selesai pembuatan akun di sekolahmu semua peserta di bimbing lagi untuk lanjut menyelesaikan program Guru Merdeka Belajar. Saat Nofri Mayasril sibuk mengajarkan teman-teman, sementara saya sibuk sedang membuat video kegiatan tiba-tiba bu Azizah menarik saya. “Tolong bantu Ibuk” kata beliau. saya menjawab “apa yang mesti saya bantu bu?”. Beliau menjawab lagi “Untuk menyelesaikan ini”. “Ibu sayang, ini untuk teman-teman yang baru bergabung, Ibu kan sudah penggerak”. Jawab saya sambil tersenyum. “Oh begitu,” jawab beliau sambil tersenyum. Saya salut juga sama bu Azizah ini. Beliau juga penggerak di KGBN yang mempunyai semangat yang tinggi untuk belajar. Bahkan di TPN 2019 beliau datang ke Jakarta dengan biaya mandiri. Jarang-jarang ada kepala sekolah seperti beliau. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Tak terasa azan zuhur sudah berkumandang, saya minta izin teman-teman untuk salat dulu. Setelah selesai salat tak terasa Sumatera Tengah sudah lapar. Akhirnya kami pun memesan makanan. Setelah selesai makan acara pun ditutup oleh bu Rini Suryati selaku moderator. Sesi selanjutnya yaitu dokumentasi. Dengan gaya masing-masing kami berfoto ria. Klik…kliik begitulah bunyi kamera. Kegiatan terakhir kami lanjutkan dengan jalan-jalan di tepi pantai. Kameranya bunyi lagi deh, klik, klik, klik dan kliik. Tak terasa waktu begitu cepat. Sekitar pukul 14:00 kami memutuskan pulang ke rumah masing-masing dengan membawa semangat merdeka belajar. Banyak teman, dapat ilmu dan banyak lagi manfaat yang lain yang kami rasakan bergabung di KGBN. “Orang yang berhak mengajar adalah orang yang mau belajar.” Itulah kutipan yang saya … Read more