Mengajar yang Efektif Saat Pandemi

Bagaimana cara mengajar efektif saat Pandemi? Pandemi mendatangkan beragam tantangan baru bagi para pendidik, baik guru, kepala sekolah, hingga orang tua murid. Ada kekhawatiran tidak dapat memberikan pembelajaran bermakna karena sekolah tatap muka ditiadakan. Merespon hal tersebut, Kampus Pemimpin Merdeka (KPM) bersama NusantaRun menginisiasi program #TerusBelajar. #TerusBelajar salah satunya diadakan di Ponorogo, untuk memfasilitasi ratusan pendidik agar belajar bersama menghadapi situasi yang sudah berubah sejak pandemi. #TerusBelajar diadakan sejak bulan Agustus 2021, semua peserta mendapatkan beberapa modul yang dapat diakses secara online. Dari modul itu, pendidik dapat belajar bagaimana caranya untuk menerapkan prinsip merdeka belajar untuk proses belajar yang berpihak pada anak. Baca Juga: Pembelajaran Jarak Jauh yang Menyenangkan Hari Selasa (22/02/2022), 176 peserta penggerak dari Kabupaten Ponorogo merayakan proses belajarnya di STKIP PGRI Ponorogo. Perayaan tersebut dihadiri oleh Imam Muslimin, Ketua Bidang Sekolah Dasar, Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo, Bukik Setiawan, ketua Yayasan Guru Belajar, dan Rizqy Rahmat Hani selaku ketua KPM. Rizqy, sapaan akrabnya, menjelaskan, selama masa pandemi murid kesulitan belajar hingga mengalami learning loss  yang semakin parah. Pasalnya, ekosistem pendidikan belum siap untuk memberi dukungan belajar yang kondusif pada murid. Bahkan mungkin sejak sebelum pandemi, banyak pendidik yang masih mengalami miskonsepsi mengajar. “Guru masih beradaptasi membuat pelajaran yang bermakna, kepala sekolah terus mencari cara untuk menjadi pemimpin saat pandemi, serta orangtua yang kebingungan dengan situasi ini. Akhirnya, dampak terbesarnya ada pada murid,” terang Rizqy. Inilah Cara Mengajar yang Efektif Saat Pandemi Salah satu peserta dan penggerak #TerusMengajar, Maria Kurniawati mengungkapkan, setidaknya terdapat dua hal yang harus diperhatikan agar mengajar yang efektif dapat memberikan pembelajaran yang bermakna pada murid. “Pertama yaitu tentukan dulu tujuannya dengan melibatkan murid. Ini menjadi penting karena tujuan adalah motivasi yang menggerakkan seseorang untuk belajar. Hal ini bisa meliputi apa pentingnya mempelajari ini atau mengapa hal ini yang dipelajari?,” terang Maria yang juga merupakan Kepala TK Merak Ponorogo. Sejak penentuan tujuan ini, Maria menegaskan memang perlu mengutamakan prinsip memanusiakan manusia dengan memetakan empati. Guru harus sadar bahwa murid tumbuh dengan kemampuan, minat, bakat, dan lingkungan yang berbeda. “Bagaimana dengan lingkungan keluarga besarnya, ayah, ibunya. Ini perlu waktu untuk belajar memahaminya. Namun tidak boleh terlewat karena dampaknya akan sangat besar,” tukasnya. Dari analisis tersebut, guru dapat memahami, setiap murid memiliki potensinya masing-masing. Potensi tersebut akan mengantarkan mereka untuk mencapai tujuan pembelajarannya. Selain itu, Maria menyarankan agar guru maupun kepala sekolah untuk rajin bergabung dengan gerakan-gerakan pendidik, seperti misalnya Temu Pendidik Daerah dan Temu Pendidik Nusantara. “Setelah belajar modul, saat itu saya ikut Temu Pendidik Daerah. Di situ saya mendapatkan penguatan dari yang sudah dipelajari. Tepatnya, saat itu mendapatkan pencerahan mengenai pembelajaran project dan STEAM,” jelas Maria. Tidak hanya berhenti di situ, Maria aktif untuk menularkan cara mengajarnya ke guru lain hingga menerapkan prinsip merdeka belajar ke muridnya. Baginya saat ini, pembelajaran tatap muka maupun jarak jauh tidak menjadi masalah. “Saya dan guru lainnya tidak lagi terkungkung harus home visit, Zoom, atau sejenisnya. Pembelajaran tatap muka mungkin cukup satu hingga dua kali seminggu. Selebihnya dapat dilakukan secara mandiri dan kami mendampingi dari jauh. Dari modul-modul itu, saya belajar untuk bisa bergerak mengajar dengan lebih fleksibel,” pungkasnya. — Kampus Pemimpin Merdeka merupakan lembaga pendidikan yang mendampingi jajaran pimpinan sekolah untuk menjadi penggerak dan pemimpin perubahan demi pendidikan yang #MerdekaBelajar dan berpihak pada anak.  Kampus Pemimpin Merdeka telah mendampingi lebih dari 100.000 pendidik dari 40 daerah yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Kampus Pemimpin Merdeka (KPM) bersama NusantaRun menginisiasi program #TerusBelajar di lima daerah di Jawa Timur, salah satunya Kabupaten Ponorogo. Program ini memfasilitasi ratusan pendidik agar belajar bersama menghadapi situasi yang sudah berubah sejak pandemi. Salah satu peserta penggerak #TerusBelajar Kabupaten Ponorogo, Maria Kurniawati, berbagi bagaimana caranya agar dapat tetap memberikan pembelajaran yang bermakna untuk murid di masa pandemi. Hal tersebut ia dapatkan pasca mengikuti program #TerusBelajar sejak Agustus 2021 lalu.

Gus Ipin dan Yayasan Guru Belajar Diskusikan Learning Loss di Kabupaten Trenggalek

Bukik Setiawan selaku Ketua Yayasan Guru Belajar (YGB) melakukan audiensi kepada Bupati Trenggalek, Moch. Nur Arifin, yang akrab disapa Gus Ipin, pada hari Rabu (23/02/2022). Kunjungan tersebut merupakan upaya YGB untuk mempererat relasi pasca diadakannya program #TerusBelajar di Kabupaten Trenggalek sejak Agustus 2021. #TerusBelajar merupakan program Kampus Pemimpin Merdeka, salah satu unit kerja YGB, dan NusantaRun di lima daerah di Jawa Timur guna pemulihan pembelajaran dari learning loss akibat pandemi. Total 132 pendidik di Trenggalek ikut serta untuk belajar pada program tersebut. Peserta penggerak mendapatkan beberapa modul yang dapat diakses secara online. Dari modul itu, pendidik dapat belajar bagaimana caranya untuk menerapkan prinsip merdeka belajar untuk proses belajar yang berpihak pada anak. Prinsip ini terbukti efektif untuk memberikan pembelajaran yang bermakna meskipun pada situasi pandemi. Ipin yang baru mendapat laporan #TerusBelajar mendukung penuh keberlanjutan program tersebut. Ia mengungkapkan, mempunyai cita-cita besar tentang pendidikan di Trenggalek. Selain itu, Ia juga menyampaikan visi pembangunan daerahnya saat ini yakni menekankan pemberdayaan perempuan dan kolaborasi terbuka. Oleh karenanya, gerakan kolaborasi yang mendorong adanya peningkatan kualitas pendidikan akan disambut dengan tangan terbuka. “Guru-guru yang punya semangat, ada kreativitas, harus ditampung dan diberi ruang untuk bergerak,” tukasnya. Dalam pertemuan tersebut, Bukik membicarakan kesempatan kerjasama yang lebih pada bidang pendidikan. Tidak hanya pemulihan pembelajaran dari learning loss, tapi juga peningkatan kualitas pembelajaran yang terukur melalui asesmen nasional, penerapan kurikulum merdeka atau pendidikan penggerak merdeka belajar. Baca Juga: Learning Gap & Transformasi Visi Pendidikan untuk Mengatasinya “Upaya pemulihan pembelajaran membutuhkan waktu yang lama, ada proses yang harus berkelanjutan dan kolaborasi lintas daerah. Harapannya pemerintah daerah Kabupaten Trenggalek juga dapat bergabung untuk berproses di dalam Lingkar Daerah Belajar,” jelas Bukik. Lingkah Daerah Belajar (LDB) merupakan inisiatif kolaboratif pemangku kepentingan untuk mendukung dan mendorong praktik dan kebijakan pendidikan daerah yang berpihak pada anak untuk menciptakan pemerataan kualitas pendidikan. Bukik mengatakan, melalui LDB nantinya pemerintah daerah Trenggalek juga dapat memiliki kesempatan untuk berbagai praktik baik terkait kebijakan dan pengelolaan pendidikan daerah di berbagai forum pendidikan. “Situasi sulit di masa pandemi bukan penghalang murid untuk belajar asalkan ekosistemnya siap, termasuk guru, kepala sekolah, hingga pemerintah daerah,” jelasnya. Pada akhir kunjungan, keduanya menyepakati untuk memajukan pendidikan daerah dengan program penggerak merdeka belajar yang berorientasi pada murid dan peningkatan indikator kinerja pendidikan daerah, hingga menjajaki kemungkinan kerjasama pendirian sekolah tinggi keguruan merdeka belajar di kawasan Dilem Wilis.

Bagaimana Pembelajaran Campuran Menjadi Solusi Pembelajaran Pada Masa Pandemi Covid-19?

Sudah lebih dari satu tahun kita hidup dalam situasi Pembatasan Sosial Berskala Besar. Hal ini memberikan dampak perubahan besar-besaran dalam dunia pendidikan. Sekolah ditutup sehingga pola pembelajaran yang selama ini dilakukan oleh guru dan murid secara tatap muka di dalam kelas harus berubah menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), dengan memanfaatkan berbagai pilihan teknologi baik dalam jaringan maupun luar jaringan. Tentu saja hal ini dilakukan untuk tetap memenuhi hak murid dalam mendapatkan layanan pendidikan selama pandemi Covid-19.  Meskipun demikian, dalam pelaksanaannya, banyak sekali tantangan Pembelajaran Jarak Jauh yang dihadapi di lapangan. Motivasi dan keterlibatan murid yang terus menurun, kesiapan dan penyesuaian guru dalam mempersiapkan PJJ, kesenjangan akses dan kualitas PJJ, bahkan kesenjangan capaian belajar. Dalam keadaan lelah dan jenuh menghadapi Pembelajaran Jarak Jauh, rasanya lumrah ketika murid, guru, bahkan orang tua, kemudian melontarkan pertanyaan “Kapan pandemi ini berakhir?”  Sayangnya hingga saat ini pandemi Covid-19 belum dapat diprediksi kapan akan berakhir. Oleh karena itu, semua tindakan akan perubahan pendidikan selama masa pandemi menjadi pilihan guru sebagai garda terdepan. Jika diberikan pilihan untuk menekan tombol “pause” atau “restart” mana yang akan Anda pilih? “Pause”, menunggu hingga keadaan dunia kembali normal seperti sedia kala sebelum masa pandemi terjadi dengan resiko learning loss, dimana murid kehilangan minat belajar karena berkurangnya intensitas interaksi dengan guru saat proses pembelajaran? Atau “restart”, memulai sebuah kenormalan baru? Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menjelaskan bahwa diberlakukannya new normal (kenormalan baru) bukan berarti masyarakat bebas seperti sebelum adanya pandemi Covid-19. New normal artinya bertindak produktif namun tetap memastikan aman dari penularan virus corona. Kementerian Pendidikan, Kebudayan, Riset, dan Teknologi telah meluncurkan buku panduan pembelajaran pada masa pandemi Covid-19 sebagai dukungan untuk kenormalan baru pendidikan di Indonesia. Pada buku panduan tersebut pemerintah mendorong dilakukannya Pertemuan Tatap Muka (PTM) terbatas dengan berbagai ketentuan protokol kesehatan, dan penggunaan strategi pembelajaran campuran untuk memaksimalkan pembelajaran pada masa pandemi. Apa yang dimaksud dengan pembelajaran campuran?  Baca Juga: Memulai Blended Learning Pembelajaran Campuran seringkali disalahpahami sebagai pembelajaran yang mengutamakan teknologi kekinian dalam pembelajaran. Namun benarkah demikian? Bukik Setiawan, pegiat pendidikan dan Ketua Yayasan Guru Belajar dalam Program Obrolan Guru Merdeka Belajar yang diselenggarakan oleh Kampus Guru Cikal pada Selasa, 8 Juni 2021, menjelaskan bahwa Pembelajaran campuran atau Blended Learning adalah suatu program pendidikan yang memfasilitasi murid untuk belajar dengan 4 cara , yaitu: Setidaknya mengikuti pembelajaran asinkron yang memungkinkan murid merdeka mengatur waktu, tempat, alur dan tempo belajarnya. Setidaknya mengikuti pembelajaran sinkron dengan pendampingan guru pada suatu waktu dengan moda belajar tertentu. Menghubungkan beragam modalitas program/ mata pelajaran menjadi suatu pengalaman belajar terintegrasi Membantu murid menjadi pelajar merdeka (komitmen pada tujuan, mandiri pada cara dan reflektif) dalam mencapai sasaran belajar yang disepakati.  Komposisi pembelajaran sinkron dan asinkron ini lah yang kental menandai suatu pembelajaran sebagai pembelajaran campuran. Bukik Setiawan juga menjelaskan lebih lanjut mengenai pembelajaran sinkron sebagai pembelajaran yang menghadirkan interaksi langsung antara guru dan murid, murid dan murid, atau murid dan narasumber yang dipandu oleh guru. Meskipun pembelajaran sinkron seringkali diasosiasikan dengan cara luring, namun pembelajaran sinkron dapat pula dilakukan secara daring. Sementara itu pembelajaran asinkron memungkinkan murid untuk belajar tanpa butuh kehadiran guru pada waktu bersamaan sehingga memungkinkan murid untuk mengatur waktu, tempat, alur dan tempo belajarnya. Pembelajaran asinkron ini dapat dilakukan secara daring dan luring. Lihat postingan ini di Instagram Sebuah kiriman dibagikan oleh Bukik Setiawan (@bukik) Dari penjelasan tersebut, pembelajaran campuran mampu memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih kaya pada murid. Pembelajaran campuran memfasilitasi murid untuk mendapatkan pendampingan, umpan balik dan bimbingan langsung secara interaktif, yang selama pandemi seringkali absen dalam PJJ. Di sisi yang lain pembelajaran campuran juga memberikan kesempatan murid untuk dapat melakukan personalisasi belajar sesuai tingkat pemahaman, latar belakang pengetahuan, minat dan cara belajar, serta tingkat kemandiriannya. Dengan demikian, apakah Pembelajaran Campuran berarti Merdeka Belajar? Dalam implementasinya pembelajaran campuran merupakan sebuah pembelajaran yang mendukung murid untuk merdeka belajar, jika tetap dilakukan dengan mempertimbangkan cara 5M yaitu; Memanusiakan Hubungan, Memahami Konsep, Membangun Keberlanjutan, Memilih tantangan, dan Memberdayakan konteks. Sebagai guru belajar, apa solusi yang Anda pilih untuk melakukan perubahan? Menunggu pandemi berakhir atau memulai kenormalan baru dengan pembelajaran campuran? Salam Merdeka Belajar! Ketua Kampus Guru CikalElisabet Indah Susanti