Nobar Video Guru Merdeka Belajar Najelaa Shihab

Saya menghadiri TPD yang mengadakan acara Nonton Bareng Video Guru Merdeka Belajar Najelaa Shihab, yang bertempat di aula Dinas Pendidikan Kabupaten Sijunjung. TPD tersebut berlangsung dari pukul 10.00 – 12.00 dan dihadiri oleh lebih kurang 15 peserta yang terdiri dari guru-guru yang mengajar di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, dan SMK. Kegiatan ini dimoderatori oleh ibu Novi Edmawati selaku ketua KGB Sijunjung dan dipandu oleh dua guru penggerak KGB Sijunjung, yaitu ibu Desy Delarosa selaku narasumber untuk topik Merdeka Belajar dan ibu Sri Hastuti selaku narasumber untuk topik Miskonsepsi Belajar. Tahun 2020 menorehkan sejarah baru bagi dunia. Munculnya virus Corona ( Covid-19 ) membuat perubahan yang sangat besar dalam tatanan kehidupan masyarakat. Sebagai seorang guru, saya sangat merasakan efek dari hadirnya virus ini. Mulai dari diliburkannya sekolah sampai pada pengenalan pembelajaran dengan metode daring, yang sepertinya akan terus digunakan sesuai kondisi zaman saat ini. Tetapi, salah satu kejadian yang sangat berkesan bagi saya selama masa pamdemi ini adalah untuk pertama kalinya saya kenal dengan KGB Sijunjung. Dan semua itu bermula saat saya ikut ambil bagian dalam pembuatan RPP PJJ yang diadakan oleh KGBN dan KGC. Ini adalah TPD pertama yang diadakan setelah hampir 4 bulan diberlakukannya PSBB di kabupaten Sijunjung dengan tetap mematuhi protokoler kesehatan. Kegiatan ini diawali pembukaan oleh ketua KGB dan dilanjutkan dengan menggenalkan diri masing masing peserta sambil sedikit menceritakan awal bergabung dengan KGB. Banyak sekali cerita-cerita inspiratif yang mengalir dalam waktu yang sesingkat itu. Kegiatan selanjutnya adalah nonton bareng video Guru Merdeka Belajar. Semua guru yang hadir, khususnya guru guru yang baru bergabung dalam KGB sangat fokus dalam memperhatikan setiap slide dan penjelasan Merdeka Belajar dari ibu Najelaa Shihab pada video tersebut. “ Yang kita inginkan adalah anak-anak yang punya aspirasi tinggi, yang punya cita cita melampaui langit, sebetulnya. Melampaui batas kelas, melapaui batas dunianya. Dan ini hanya akan terjadi pada saat anak-anak memiliki kemerdekaan belajar. Dan kemerdekaan murid-murid hanya akan terjadi pada saat kita sebagai pendidik juga memiliki kemerdekaan.“. “Apakah Ibu dan Bapak Guru merasa merdeka?”.  Pernyataan dan pertanyaan yang diucapkan oleh ibu Najelaa Shihab pada menit menit awal video membuat saya tersentak. “Dalam Komunitas Guru Belajar, kita percaya pendidik yang merdeka itu punya komitmen, memiliki kemandirian dan selalu refleksi. Dan ini susahnya minta ampun.” Lanjut beliau. Setelah itu dilanjutkan dengan penjelasan beliau mengenai “Miskonsepsi Belajar” yang terasa menjadi teguran bagi para guru yang menonton pada saat itu. Setelah menonton video tersebut, saya menjadi tersadar bahwa selama ini saya belum merdeka. Padahal guru yang merdeka belajarlah yang sangat dibutuhkan oleh murid murid untuk bisa merdeka belajar juga. Begitu juga dengan Miskonsepsi Belajar yang saya lakukan selama menjadi guru. Pada sesi diskusi, ibu Sri Hastuti menjelaskan bahwa banyak pendidik yang melakukan Miskonsepsi Belajar. Hanya mau belajar bila ada insentif, hanya mau belajar dari para ahli saja, Belajar cukup terbatas “How to”, belajar diburu target yang dipaksakan, Kompetensi bersifat individual. Miskonsepsi yang paling sering saya lakukan adalah Belajar diburu target yang dipaksakan. Bahkan dalam mengajarpun yang lebih saya dulukan adalah mengejar target untuk menyelesaikan semua KD dalam pelajaran saya. Tanpa mempertimbangkan apakah murid nyaman atau tidak. Para guru yang lain pun turut menyampaikan miskonsepsi belajar yang sering mereka lakukan. Misalnya ibu Hilda, salah satu guru yang baru bergabung di KGB, menyampaikan bahwa miskonsepsi yang beliau lakukan adalah Belajar hanya dari ahli saja. Menurut beliau ada kebanggaan bila menghadiri pelatihan yang narasumbernya seorang professor dari universitas terkenal. Dan akhirnya beliau menyadari bahwa narasumber terbaik justru adalah guru guru di sekitar kita yang belajar dari banyak kegagalan sebelum akhirnya berhasil. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Saya sangat bersyukur dan bahagia, dipertemukan dengan komunitas ini. Dipertemukan dengan gurur-guru penggerak yang sangat luar biasa dan menginspirasi. Guru-guru penggerak yang merubah cara pandang saya melihat murid, melihat proses belajar, dan yang bersedia membagi praktik baik pengajaran. Masa pandemic ini membawa berkah tersendiri bagi saya. Saya akan berusaha keras untuk mematahkan miskonsepsi yang selama ini saya lakukan. Saya bertekad untuk menjadi guru yang merdeka belajar. Dan saya yakin, KGB ini adalah wadah yang tepat untuk mewujudkan hal tersebut. Saya akan turut memberikan kontribusi bagi komunitas ini karena disini kompetensi tidak bersifat individual. Kita akan sama-sama belajar, saling berbagi ilmu, sama sama menjadi guru yang memerdekakan murid-murid. Teruslah bergerak bagi pendidikan, Komunitas Guru Belajar Indonesia!! Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk ikuti pelatihan Guru Merdeka Belajar

Berbagi Praktik Mengajar Kreatif

Agar para guru bisa saling berbagi inspirasi praktik mengajar yang kreatif. Komunitas Guru belajar (KGB) Probolinggo mengadakan Temu Pendidik Daerah (TPD). Acara diselenggarakan di aula Korwil Dinas Pendidikan Kecamatan Krejengan. Ada tiga kelas di antaranya yang pertama: mencari teman duduk dengan menggunakan kartu bilangan atau kartu benda, kedua: miskonsepsi literasi dan literasi bermakna menumbuhkan empati, dan yang ketiga: Gambar Bercerita – Media Belajar SPOK. TPD kali ini dihadiri oleh kurang lebih 50 guru dari berbagai sekolah yang ada di Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo.  Mengajar Kreatif: Mencari Teman Duduk Silvia Eka Putri, guru kelas 1 di SDN Sumberkerang, Kecamatan Gending berbagi praktik baik mengajar kreatif tentang mencari teman duduk. Setiap ajaran baru, murid kelas 1 di dalam kelas selalu berebut tempat duduk, dan tak jarang pula orang tua mereka rela mengantarkan pagi-pagi sekali hanya untuk mendapatkan kursi baris depan. Para orang tua beranggapan bahwa anak yang duduk di kursi depan cenderung lebih cerdas dan memiliki kompetensi lebih unggul dibandingkan anak yang duduk di belakang. Kejadian ini membuat kelas bu Silvi tidak kondusif. Setelah mendiskusikannya dengan wali kelas yang lain, akhirnya beliau menemukan cara untuk meminimalisir agar kejadian tersebut tidak terulang lagi. Cara ini juga sebagai media pembelajaran untuk anak-anak kelas1 lebih mengerti bilangan dan nama benda sekitar. Caranya setelah bel masuk sekolah berbunyi, anak-anak harus mengambil kartu di depan kelas. Kartu tersebut bisa berupa bilangan atau gambar benda seperti buah, hewan, dan lainnya. Kartu tersebut disesuaikan dengan kebutuhan murid. Jika kebanyakan murid kurang mengerti tentang bilangan, maka bisa menggunakan angka. Sebelum itu, setiap bangku di dalam kelas sudah ada satu kartu yang sama dengan kartu yang ada di depan kelas. Jadi, secara keseluruhan ada 3 kartu yang sama yakni 1 kartu dibangku dan 2 kartu lagi di depan kelas untuk anak-anak menemukan tempat duduk dan teman duduknya secara adil dan tanpa saling iri. Sehingga tercipta kelas yang kondusif. Orang tua pun bisa memahami dan tidak mempermasalahkan tempat duduk anak-anaknya. Media mencari tempat duduk ini juga bisa digunakan para guru untuk membagi kelompok-kelompok dalam kelas.  Literasi Bermakna Menumbuhkan Empati Kelas kedua yang berbagi praktik baik mengajar kreatif adalah bu Yulia yang mengajar di SDN Krejengan. Awalnya beliau menceritakan pengalamannya menjadi guru kelas tinggi, yang menurutnya seorang guru harus bisa memberikan apa yang dibutuhkan oleh murid. Baginya untuk menjadi guru merdeka belajar harus bisa mengaplikasikan 5M. Memahami murid merupakan praktik salah satu 5M yakni memanusiakan hubungan. Ketika di dalam kelas, kita sebagai seorang guru harus bisa memahami apa kebutuhan murid. Hal ini bisa dilakukan dengan membuat kesepakatan kelas. Meskipun untuk bisa menjalani kesepakatan kelas ini butuh ketelatenan dari guru itu sendiri. Dengan begitu rasa empati akan tumbuh, dan suasana pembelajaran akan semakin  menarik. Selain kesepakatan kelas, bisa juga melalui 5 posisi kontrol menjadi seorang guru merdeka belajar. 5M yang berikutnya adalah memahami konsep, membangun keberlanjutan, memilih tantangan dan memberdayakan konteks. Ada juga strategi literasi untuk empati di antaranya berlatih perspektif, identitas moral, kesempatan untuk berempati serta memperluas lingkaran kepedulian. Gambar Bercerita: Media Belajar SPOK Kelas ketiga yang berbagi praktik baik mengajar kreatif adalah bu Iva yang mengajar di SDN Rawan, Kecamatan Krejengan. Awalnya bu Iva menceritakan keresahannya saat mengajar tentang unsur-unsur kalimat. Bahwa tidak semua murid paham akan unsur-unsur yang ada pada kalimat. Padahal di awal pembelajaran bu Iva sudah menjelaskan definisi dari kalimat dan unsur-unsur yang terdapat di dalamnya yakni subjek, predikat, objek dan keterangan. Akan tetapi mereka masih saja kesulitan dalam menulis sebuah kalimat yang benar. Oleh karenanya, beliau berinisiatif membuat media SPOK guna memudahkan murid dalam memahami materi yang diterima. Bu Iva menggunakan media gambar pada masing-masing unsur kalimat. Misal untuk subjek menggunakan gambar kucing, untuk predikat menggunakan kartu bertuliskan memakan, objek dengan gambar ikan, dan untuk keterangan menggunakan gambar dapur. Sehingga jika digabungkan akan terbentuk kalimat “Kucing memakan ikan di dapur”. Dan ternyata dengan penggunaan media SPOK, murid menjadi lebih mudah memahami materi, lebih aktif dan berani menjawab pertanyaan. Selain  itu, suasana belajar jadi lebih menyenangkan. Sebagai penutup, bu Iva juga menyampaikan bahwa media yang digunakan memang dibuat sederhana jadi dipersilakan jika ada yang memodifikasinya atau ingin mempraktekkan media yang sama di sekolah masing-masing. Di sesi akhir dibuka sesi tanya jawab dan sharing antar sesama guru. Anda ingin mempelajari praktik mengajar yang Merdeka Belajar? Yuk ikuti pelatihan daring (online)Klik link di bawah ini

Pelatihan Merdeka Belajar bersama KGB Kudus

Bertepatan dengan hari guru Internasional, KGB Kudus mengadakan pelatihan Guru Merdeka Belajar (GMB) bertempat di Pusat Belajar Guru (PBG) Kudus. Pelatihan tersebut diikuti 36 peserta dengan latar belakang mahasiswa dan guru di jenjang PAUD, TK, SD, SMP, maupun SMA. Antusiasme peserta untuk mengikuti pelatihan sangat tinggi, terbukti dengan dimulai acara pukul 12.00 WIB bertepatan waktu pulang mengajar, tanpa lelah para peserta hadir dengan semangat untuk mengetahui lebih jauh apa makna merdeka belajar itu. Semangat Peserta Pelatihan Guru Merdeka Belajar Pelatihan Guru Merdeka Belajar Kudus didampingi oleh bu Anik Puspowati seorang narasumber yang ramah, energik dan sangat inspiratif dari KGB Semarang. Kegiatan pelatihan ini diawali dengan sambutan bapak Drs. Imam Santosa, M.Or selaku ketua PBG dan bapak Suharto, S.Pd, M.Pd selaku Manager PBG. Dalam sambutannya, beliau berdua mengapresiasi kegiatan pelatihan GMB sebagai semangat peserta untuk belajar secara bermakna dan kegiatan seperti ini harus rutin dilakukan untuk memajukan pendidikan khususnya di daerah Kudus itu sendiri.  Menginjak kegiatan inti, untuk memupuk semangat dan menjalin keakraban sesama peserta dan panitia diadakan perkenalan dengan ice breaking yang berjalan ramai dan seru. Setelah itu peserta diminta membuat 6 kelompok untuk mendiskusikan drama 2 kelas dengan situasi model pengajaran guru yang berbeda, pemateri sebagai guru dan peserta sebagai murid. Pengajaran yang Merdeka Belajar Diskusi berjalan santai dan beberapa perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi. Disini dibahas tuntas tentang perbedaan pengajaran langsung yang memiliki ciri-ciri : tujuan yang hanya mengacu pada kurikulum, metode belajar yang ditentukan hanya oleh guru dan penilaian dilakukan hanya oleh guru, dengan pengajaran merdeka belajar dengan ciri-ciri : memadukan tuntutan kurikulum dengan kebutuhan murid, cara belajar ditentukan guru dan murid, dan penilaian melalui berbagai cara dan mengajak murid melakukan refleksi. Setelah bertukar pikiran mengenai perbedaan tersebut para peserta menuliskan refleksi diri dengan tiga hal yaitu : “apa yang akan dilanjut”, “apa yang harus diubah”, dan “apa yang harus dihentikan”. Menuju sesi pelatihan berikutnya peserta diajak menonton sebuah video inspiratif dari ibu Ameliasari Kesuma dari KGB Salatiga yang melakukan perubahan pengajaran langsung menjadi merdeka belajar dan dilanjutkan diskusi oleh peserta. Ada beberapa peserta menanggapi video tersebut, salah satunya guru Septi berkata “harus memahami karakter siswa, tidak boleh memaksakan tujuan tanpa adanya kesepakatan dengan murid’. lalu ada tanggapan lainnya dari guru Laili, “ harus lebih menjalin komunikasi dengan murid dan tidak mengacu keberhasilan murid dari hasil nilai akademiknya saja”. Miskonsepsi Guru Belajar Narasumber juga mengajak peserta untuk mengulik tentang miskonsepsi Guru Merdeka Belajar. Miskonsepsi yang sering terjadi dilingkungan sekitar yaitu : Guru belajar menunggu instruksi sekolah/dinas atau mendapat intensif. Miskonspesi yang kedua guru hanya mau belajar dari pakar dan ahli. Guru hanya belajar “how to” bagaimana cara mengajar. Guru berharap belajar bisa instan. Miskonsepsi yang kelima guru bisa belajar sendirian. Miskonsepsi ditelaah dengan tujuan dapat memahami lebih dalam apa makna Merdeka Belajar. Harapannya menjadi Guru Masa Depan yang mandiri mengembangkan kompetensi, aktif berkolaborasi, mengembangkan jalur karirnya,terus mengembangkan kompetensi. Memiliki kesesuaian potensi dan aspirasinya, tak ketinggalan tentunya Merdeka Belajar. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Pada pukul 17.00 yang menjadi akhir sesi pelatihan Guru Merdeka Belajar. Peserta diminta untuk menilai diri sendiri sudah sampai tahap apakah mereka berada. Dalam jenjang atau tahapan sebagai guru merdeka belajar jika diidentifikasi dari empat kunci pengembangan guru atau bisa disebut 4K; yaitu : Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi dan Karier. Hal ini berguna untuk menjadi landasan dan tolak ukur apa yang harus dilakukan kedepan. Dan apa kebutuhan yang harus dipenuhi untuk menjadi guru yang merdeka belajar. Para peserta berharap selalu diadakannya pelatihan yang berkelanjutan. Sehingga ada wadah yang membuat mereka semangat untuk selalu belajar secara bermakna. Dan membuat mereka berkarya dan mengembangkan karier mereka untuk kedepannya. Ingin Menjadi Peserta Pelatihan Guru Merdeka Belajar? Yuk ikuti pelatihan daringGuru Merdeka Belajar – Kampus Guru CikalKlik di link di bawah ini

Sekolah Lawan Corona Jawa Tengah

Corona membuat tidak sedikit guru merasa kebingungan untuk melakukan pembelajaran. Karena Corona pembelajaran tidak lagi dilakukan Sekolah. Dari hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengenai Pembelajaran jarak jauh, berikut adalah kendala-kendala yang guru hadapi : 67,11 % kendala guru terkait kemampuan mengoperasikan perangkat digital, 29, 45% kendala guru terkait sarana dan prasarana, 14,47% terkait faktor internal murid dan sebagainya. Melihat masalah tersebut Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar sejak awal menunjukkan komitmennya dalam membantu guru. Komitmen tersebut bisa dilihat dari inisiasi yang dibuat, yaitu Sekolah Lawan Corona yang mulai berjalan sejak 16 Maret 2020. Inisiasi ini memulai dari pembuatan kegiatan rutin yaitu Temu Pendidik Spesial, membuat panduan pembelajaran jarak jauh hingga membuat surat kabar guru belajar yang berisi praktik baik pembelajaran jarak jauh para guru. Namun seiring berjalannya waktu, kami melakukan refleksi. Temu Pendidik Spesial yang kami adakan rutin setiap pukul 18.30 – 20.30 tiap harinya masih kurang efektif, kurang membangun keberlanjutan bagi para guru yang mengikuti. Banyak peserta yang mengulang-ulang pertanyaan, ada yang memulainya dari awal juga walaupun materi sudah sampai pada level tertentu. Dari refleksi ini, kemudian kami berpikir, bagaimana membantu guru belajar dari hal yang paling dasar, hingga ia bisa membuat pembelajaran jarak jauh yang bermakna untuk murid? Akhirnya dari refleksi tersebut, lahirlah kurikulum Sekolah Lawan Corona yang bisa dilihat di bawah. Kurikulum ini dimulai dari asesmen, tujuannya agar mengetahui pemahaman dan kompetensi guru mengenai pembelajaran jarak jauh. Jika dari asesmen guru tersebut berada pada level 1, maka guru masih perlu mengembangkan kompetensinya dalam penguasaan teknologi, seperti Whatsaap, Gmail, Google Meet, dsb. Sehingga para guru tidak memulai kurikulum Sekolah Lawan Corona ini pada level yang sama, ada yang memulai dari level 2, 3, bahkan ada yang bisa mulai dari level 5 jika guru tersebut melalui asesmen menunjukkan kompetensi yang perlu dimiliki guru level 5. Kurikulum Sekolah Lawan Corona pertama kali dijalankan yaitu di Jawa Tengah, hal tersebut dilakukan karena Wakil Gubernur Jawa Tengah, Bapak Taj Yasin Maimoen beserta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah sangat mendukung inisiasi ini. Program Sekolah Lawan Corona di Jawa Tengah Sendiri dibuka langsung oleh bapak Wakil Gubernur dan Bu Najelaa Shihab selaku inisiator pada tanggal 19 Mei 2020. “Inisiatif Sekolah Lawan Corona ini sebetulnya diluncurkan sebagai gerakan oleh Komunitas Guru Belajar, Kampus Guru Cikal, SekolahMu dan Keluarga Kita yang akan berlangsung di berbagai daerah.” tutur Najelaa Shihab dalam kegiatan launching tersebut. Najelaa Shihab juga menambahkan bahwa Jawa Tengah adalah daerah pertama yang mendapatkan kesempatan mengikuti Sekolah Lawan Corona, adapun pelaksanaanya akan dibagi menjadi 3 tahap berdasarkan keaktifan dan keberdayaan Komunitas Guru Belajar dalam berkolaborasi dan menggerakkan ekosistem pendidikan, yang bisa dilihat pembagiannya sebagai berikut. “Saya mendukung Sekolah Lawan Corona di Jawa Tengah ini, inisiasi ini akan membantu guru dalam beradaptasi dengan budaya baru pembelajaran.” ungkap Wakil Gubernur Jawa Tengah.  Pelaksanaan Sekolah Lawan Corona Setelah dibuka secara formal oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, inisiasi Sekolah Lawan Corona mulai dijalankan di 5 daerah yaitu Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Semarang, Kota Semarang dan juga Kota Surakarta. Adapun jumlah peserta yang mendaftar dari 5 daerah tersebut berjumlah 881 peserta, dan dibagi ke dalam 3 tahap. Tahap 1 dimulai bulan Juni, tahap 2 dimulai Juli bersama daerah yang berada pada tahap berkembang dan tahap 3 dimulai Agustus dimulai bersama daerah yang berada pada tahap perluasan. Di tahap 1 sendiri ada 392 peserta yang memulai program dengan mengisi asesmen, dari asesmen yang diisi peserta, ternyata ada beberapa peserta di 5 daerah tersebut memulai program dari level 1, 2, 3 bahkan ada yang memulai dari level 5. Peserta yang memulai program dari level 1 mendapat pendampingan khusus oleh fasilitator melalui grup Whatsapp. Ada sebuah cerita menarik dari fasilitator Kota Surakarta, karena peserta di grup ini mengalami kesulitan koordinasi melalui Whatsapp, maka diadakan pertemuan langsung dengan mematuhi protokol kesehatan. Dalam pertemuan tersebut, Guru Nasrudin mendampingi 5 guru yang ingin menyelesaikan level 1. Ada dua tipe program dalam kurikulum Sekolah Lawan Corona, yang otomatisasi dan program diperlukan interaksi. Selain program level 1, program level 3B, 4A, dan juga 5B membutuhkan interaksi. Sehingga peserta-peserta yang sudah melewati level tersebut, akan mendapat pendampingan langsung dari fasilitator. 3B misalnya akan mendapatkan sesi refleksi mengenai pembelajaran, sesi 4A akan mendapatkan pendampingan tentang pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, dan sesi 5B akan mendapat pendampingan bagaimana membuat program di SekolahMu. “Saya senang sekali dengan modul 4B, karena di sini saya belajar banyak mengenai karakter, kebutuhan anak, dan belajar mengajak murid bertanya. Pembelajaran akan lebih aktif nantinya.” tutur guru Ambar. Yuk unduh GRATISSurat Kabar Guru Belajar EdisiSekolah Lawan CoronaKlik link di bawah ini Ingin sekolah Bapak Ibu mengikuti program Sekolah Lawan Corona juga?Yuk daftar! klik 👉 Daftar Sekarang!

Orangtua Hilang Percaya, Guru Tak Berani Bicara

Tanggapan saat tahu anak berdarah karena murid lain di Sekolah, pasti berbeda antara satu wali murid dengan yang lain. Guru Heni Surya memaparkan cerita berkait hal tersebut pada Temu Pendidik Mingguan Edisi 115. Kemudian beliau melanjutkan dengan bagaimana hubungan antara guru dan dan orangtua dibangun di sekolahnya. Yuk simak liputan berikut. Membangun Relasi dengan Orangtua Halo perkenalkan kembali, saya Dhea yang akan memoderatori diskusi ke depan. Salam kenal semuanya berhubung saya di lokasi waktu Indo bagian barat, selamat menunaikan ibadah salat magrib bagi yang menjalankan. Saya perkenalkan dulu Narasumber kita bu Heni Surya. Beliau bergerak di Divisi Pendidikan di Yayasan Indria Jaya, Penggerak KGB Solo Raya, Relawan Keluarga Kita, Ketua Pokja IV PKK Kec Pasarkliwon dan juga Pengelola TaBAH(Taman Belajar Anak Hebat) di Rusunawa Putri Cempo. Dengan pengalamannya yang cukup panjang ini, beliau menemui berbagai macam karakter wali murid dengan berbagai background. Langsung saja kita panggil, Bu Heni. Narasumber : Halo selamat malam bapak ibu yang baik. Terima kasih sudah sangat semangat menyambut diskusi dengan tema “Membangun Relasi dengan OrangTua” malam hari ini. Saya ingat dengan tulisan saya di SKGB edisi 15 mengenai hal ini. Saya bagikan sebagai materi ya [ Inti Diskusi ] Moderator :   Terima kasih bu Heni atas materinya.Untuk teman-teman, silahkan dipelajari dahulu. Kami beri waktu 5-8 menit setelah itu sesi diskusi termin 1 akan dibuka. Berikut pertanyaan terpilih di termin pertama :  Purwani Febri dari Bekasi :  Bagaimana baiknya menyampaikan kepada orang tua murid bahwa sekolah dan rumah harus sinergis karena banyak sekali orang tua sekarang taunya sekolah itu yang membentuk akhlak siswa. Orang tua terima beres jadi pendisiplinan di sekolah dan dirumah tidak sejalan. Alhasil anak selalu mengandalkan orang tua. Bagaimana menyampaikan misi ini kepada orang tua? Narasumber :  Yang kami lakukan ada beberapa tahapan.  1. Ketika orang tua mendaftarkan anaknya di sekolah kami, kami minta untuk mengisi angket tentang kebutuhan anak dan juga kebutuhan orang tua dalam belajar. Ini kami gunakan supaya kami paham, apa yang diinginkan orang tua dan apa yang dibutuhkan anak. 2. Kami undang para orang tua baru sebelum hari pertama masuk sekolah. Ini bisa di hari Sabtu jika hari senin adalah pertama masuk sekolah. Di pertemuan ini kami sampaikan visi, misi dan tujuan sekolah menerima anak mereka. 3. Kami bentuk Komite Tambahan, Kami juga membuat grup WA per kelas yang anggotanya para orang tua ini. Sebagai pengaman Buku Penghubung. Kami sangat memahami apa maksud mereka menyekolahkan anaknya dan ini hal wajar. Purwani Febri dari Bekasi :   Untuk komite sebaiknya arahan yang bagaimana ya bu agar terlibat dan bisa satu visi juga? karena terkadang komite suka bikin acara sendiri dan di sekolah kami juga sudah ada buku penghubung bu, tapi memang pengecekannya masih kurang maksimal. Terimakasih sarannya bu jadi diingatkan kembali. Narasumber :  Saya lebih merekomendasikan grup WA bu. Oh iya. Jangan lupa save nomor para wali murid ini, kalau perlu sesekali komentar story WA nya. Ini akan lebih mendekatkan hubungan guru dan orang-tua murid. Moderator :  Baik. Sepertinya sudah bisa dilanjut ke pertanyaan kedua ya bu Heni.  Erwan Hermawan KGB Sukabumi : Di beberapa wilayah, Orang tua wali murid sebagai buruh pabrik bahkan ada buruh migran. Komitmen bersama dalam pendidikan anak diwakilkan kepada penanggung-jawab anak yang bukan ayah ibunya. Bagaimana membangun komitmen dengan wali murid (paman bibi kakek nenek) yang perhatiannya tidak sebesar ayah ibunya? Narasumber :  Halo bapak Erwan Hermawan. Sekolah kami ada di area dampak sosial, profesi para orang tua juga mayoritas buruh pabrik garmen dan plastik. Banyak anak yang dihandle oleh nenek atau tantenya. Kita sadar betul bahwa orang tua ini butuh mencari nafkah untuk keluarga. Juga menyadari bahwa para orang tua wali pun punya prioritas utama yakni keluarganya masing-masing.  Jika memang mereka yang mengasuh anak didik kita. Maka sebaiknya mereka semua diminta waktunya untuk diskusi di awal tahun ajaran baru. Jika berhalangan karena berbarengan dengan jam kerja. Kiat bs diskusikan malam hari. Ketika sudah lengang. Kita wapri, atau bahkan khusus bikin grup WA untuk guru, orang tua dan orang tua wali. Sebab kita butuh kerjasama mereka dalam hal mendidik anak mereka. Kembali lagi kekuatan ada di penyampaian kita di awal tahun ajaran baru. Yakni ketika pertemuan orang tua murid. Membangun kesepakatan dengan orang tua murid terlebih dahulu bisa kita jadikan acuan dalam mengasuh.  Di sekolah kami, yang bertugas dalam hal ini adalah saya. Bukan guru kelas anak mereka dan bukan kepala sekolah. Menurut kami memang harus ada orang ketiga yang lebih paham dan banyak waktu mengurusi ini. Orang tua murid punya banyak harapan kepada sekolah. Tugas sekolah adalah memfasilitasi dengan kesepakatan yang memanusiakan hubungan Purwani Febri : Yup betul sekali bu Heni, memang harusnya ada pihak ketiga agar wali kelas tidak terlalu terbebani, bahkan kadang sampai malam pun masih menanyakan anak. maaf malah curcol 🙏😄 Fitriyani Mustafa : Wah…menarik sekali. Bentuk angketnya seperti apa ya bu? Narasumber :  Kita bisa bikin angket yang ringan ya, tidak perlu banyak narasi. Karena kita tahu orang tua suka malas baca. Seperti jam berapa dia tidur dan makan, apa mainan favoritnya, apa tujuan orang tua menyekolahkan. Lia Camelia :  Pihak ketiga ini maksudnya siapa yah bu ? 😊 Narasumber :  Bukan guru kelas dan bukan kepala sekolah bu. Posisi saya adalah penasehat komite di struktur yayasan saya pegang divisi pendidikan Purwani Febri : Bisa diusulkan ke pengurus supaya divisi pendidikannya bisa lebih terlibat… 👍👍 Maaf bu Heni untuk yang penasehat komite ini apakah ibu mengurus semua kelas atau bagaimana ya bu? Narasumber :  Betul .Semua orang tua murid. Karena memang sudah ditugaskan. Oh iya, tips supaya para orang tua murid ini mau menjalankan perannya sebagai komite sekolah adalah Kepala Sekolah wajib membuatkan SK, struktur dan job desk untuk mereka. Adalah kebanggan jika foto mereka terpampang di ruang komite. Siti Umi Choiriyah : Kadang ada wali murid yang dari strata ekonomi rendah tidak mampu menyentuh anaknya apalagi bersinergi dengan sekolah dikarenakan sibuk mencari nafkah, jadi undangan dari sekolah dalam rapat apapun tidak bisa hadir. Maka sedikit berbagi pengalaman kadang kami pihak sekolah melakukan pendekatan sampai di tempat kerja wali murid tersebut. Misal ke pasar tempat wali murid berjualan. Duduk santai … Read more

Guru Merdeka Belajar di Pesisir Selatan

Pelatihan guru merdeka belajar yang ke-2 diselenggarakan bersama Komunitas Guru Belajar Pesisir Selatan. Pagi yang cerah dengan awan yang agak gelap dimana dengan semangat yang tinggi. Semangat untuk membangun peradaban bangsa indonesia menuju indonesia emas. Kami berjalan di waktu terbit matahari menuju tempat kami menambah ilmu. Oleh karena itu dengan ilmu yang sangat terbatas yang dimiliki disebabkan fasilitas yang serba kekurangan. Tepat pukul 08.30 guru yang datang hanya beberapa orang. Saya sangat pesimis akan sepi. Dikarenakan guru tidak difasilitasi dengan sertifikat dan biaya transportasi hanya dengan keinginan dari diri guru itu sendiri. Dan alhamdulilah rentang 1 jam ternyata banyak guru yang datang. Akhirnya mencapai 100 orang. Dengan semangat pengawas Kecamatan IV Jurai yang ingin menggerakkan guru untuk hadir dalam rangka menyukseskan pendidikan di Pesisir Selatan. Pukul 09.30 moderator Salmiati dengan membuka kegiatan pelatihan guru merdeka belajar (GMB) dengan mengucapkan Basmallah. Acara dilanjutkan sepatah kata dari ibu Rahmyanti selaku ketua Komunitas Guru Belajar. Kemudian pelatihan Guru Merdeka Belajar dibuka oleh bapak Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pesisir Selatan, Suhendri, S.Pd, M.Si. Tiga Dimensi Merdeka Belajar Usai pembukaan dilanjutkan guru berdiskusi terkait materi. Pelatihan difasilitatori oleh bapak Muhammad Abdurrahman Basyaiban yang akrab disapa pak Maman. Ada beberapa poin penting terkait ciri guru merdeka belajar, yaitu Guru yang komitmen akan tujuan terhadap kemajuan pendidikan tidak hanya mengajar tetapi mendidik dan menanamkan pendidikan karakter terhadap anak. Poin kedua mandiri, adalah guru yang mampu mengubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik, dan berani menghadapi tantangan. Guru yang reflektif, guru yang mengevaluasi dirinya sendiri, terhadap dunia pendidikan yang lebih baik. Kemerdekaan berarti guru mempunyai komitmen pada satu tujuan, dan konsisten pada dunia pendidikan. Guru yang merdeka adalah guru masa depan dengan mengembangkan kompetensi yang dimiliki serta aktif berkolaborasi antara guru dengan pendidik yang lain dan mengembangkan jalur karir yang sesuai dengan potensi dan aspirasinya. Paham akan penting suatu pendidikan yang terbaik, dan bisa menghadapi tantangan di masa yang akan datang. Guru merdeka tidak mengenal kata sulit dalam menghadapi cobaan di dunia pendidikan terutama terhadap perubahan kurikulum yang saat ini sering merubah pola pikir guru terhadap ketercapaian keberhasilan pendidikan. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Kemerdekaan Belajar Sebagai Kunci Kemerdekaan belajar adalah kunci utama untuk guru bisa meningkatkan kompetensi dan menyelesaikan permasalahan pembelajaran di kelas. Oleh sebab itu guru tidak hanya menerima perintah dari kepala sekolah mengikuti pelatihan yang diadakan oleh dinas pendidikan. Tetapi seharusnya guru lebih memperluas pengetahuan dan mencari sumber informasi. Menambah pengetahuan di dalam dunia pendidikan dan menjadi sumber inspirasi yang baru. Bekal yang akan digunakan dalam menyampaikan ilmu secara baik dan konsisten dalam mencapai kesuksesan. Nyatanya terjadi dilapangan yang dilihat ternyata guru mengikuti pelatihan dan tanpa diiming-imingi uang maupun sertifikat. Guru mengikuti pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensinya. Aktivitas belajar yang perlu diberi perhatian lebih agar dapat mewujudkan tujuan dengan sistem pendidikan yang lebih terarah yaitu : Guru cenderung ingin belajar karena adanya dorongan lain (godaan sertifikat, insentif, dan sebagainya). Sebut saja ini profesi guru bukan passion guru. Tidak mengakui kelebihan orang lain, terlebih jika bukan seorang ahli atau tokoh terkenal. Guru dengan “How to” hanya terbatas kepada cara atau teknis. Guru perlu lebih ekstrim dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan esensial dan fundamental. Terpaku pada administrasi, seperti Ujian Nasional yang dijadikan alat ukur kecerdasan seseorang hanya dengan tiga hari pelaksanaan.  Guru yang masih bersifat individualis. Guru merdeka belajar harusnya dapat bekerja dengan tim serta mampu berkolaborasi dalam menyatukan atau menyamakan pendapat. Pelatihan kali ini memberikan pengalaman dan ilmu yang luar biasa terhadap guru pesisir selatan. Bermanfaat demi menambah pengetahuan baru dalam rangka memajukan pendidikan di pesisir selatan yang madani. Anda ingin mempelajari praktik Merdeka Belajar? Yuk ikuti pelatihan daring (online)Klik link di bawah ini

Menumbuhkan Kemandirian Anak

Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya menjadi pribadi yang memiliki kemandirian. Akan tetapi terkadang justru sikap over protektif orang tua dalam mendidik anak menjadikan anak menjadi pribadi yang manja. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kebutuhan anak yang dipenuhi orang tua. Orangtua pasti berdalih ini bentuk kasih sayang. Bagaimana Komunitas Guru Belajar Solo Raya memandang kemandirian anak ini? Orangtua Ingin Anak Mandiri Selamat malam sahabat Ria di manapun berada, kami dari komunitas guru belajar (KGB) Solo Raya melihat fakta yang sama di lapangan, bahwa terkadang justru over protective kita sebagai orangtua dalam mendidik anak akan menjadikan mereka pribadi yang manja dan jauh dari kemandirian. Tidak ada yang salah sebenarnya, asalkan tidak over (berlebihan). Seperti pada pertemuan di bulan Juni tentang generasi Z dan Alfa, bahwa sebenarnya anak-anak zaman sekarang ini sudah memiliki naluri untuk hidup mandiri. Tetapi kita sebagai orangtua juga tetap harus melatih anak-anak kita menjadi pribadi yang mandiri agar mereka siap menghadapi apapun tantangan hidup saat mereka jauh dari kita. Sehingga kami memandang bahwa kemandirian sangat penting untuk dilatih ke anak-anak. Ciri – Ciri Anak Sudah Mandiri Kemandirian sangat penting untuk dilatihkan sejak dini. sejauh mana kita bisa mengetahui bahwa anak-anak sudah mandiri? Apakah ada ciri-ciri yang menunjukkan hal tersebut? Kita bisa mengenali bahwa seorang anak menunjukkan kemandirian berdasarkan beberapa hal. Menurut banyak ahli ada hal-hal yang kasat mata bisa kita lihat sebagai ciri kemandirian anak, antara lain: Kepercayaan pada diri sendiri. Rasa percaya diri, atau dalam kalangan anak muda biasa disebut dengan istilah ‘PD’ ini sengaja ditempatkan sebagai ciri pertama dari sifat kemandirian anak, karena memang rasa percaya diri ini memegang peran penting bagi seseorang, termasuk anak usia dini, dalam bersikap dan bertingkah laku atau dalam beraktivitas sehari-hari. Anak yang memiliki kepercayaan diri lebih berani untuk melakukan sesuatu, menentukan pilihan sesuai dengan kehendaknya sendiri dan bertanggung jawab terhadap konsekuensi yang ditimbulkan karena pilihannya. Kepercayaan diri sangat terkait dengan kemandirian anak. Dalam kasus tertentu, anak yang memiliki percaya diri yang tinggi dapat menutupi kekurangan dan kebodohan yang melekat pada dirinya. Oleh karena itu, dalam berbagai kesempatan, sikap percaya diri perlu ditanamkan dan dipupuk sejak awal pada anak usia dini ini. Motivasi intrinsik yang tinggi. Motivasi intrinsik adalah dorongan yang tumbuh dalam diri untuk melakukan sesuatu. Motivasi intrinsik biasanya lebih kuat dan abadi dibandingkan dengan motivasi ekstrinsik walaupun kedua motivasi ini kadang berkurang, tapi kadang juga bertambah. Kekuatan yang datang dari dalam akan mampu menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang diinginkan. Keingintahuan seseorang yang murni adalah merupakan salah satu contoh motivasi intrinsik. Dengan adanya keingintahuan yang mendalam ini dapat mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang memungkinkan ia memperoleh apa yang dicita-citakannya. Dengan keinginan dan tekad yang kuat, orang biasanya menjadi lupa waktu, keadaan, dan bahkan lupa diri sendiri. Mampu dan berani menentukan pilihan sendiri. Anak mandiri memiliki kemampuan dan keberanian dalam menentukan pilihan sendiri. Misalnya dalam memilih alat bermain atau alat belajar yang akan digunakannya. Kreatif dan inovatif. Kreatif dan inovatif pada anak usia dini merupakan ciri anak yang memiliki kemandirian, seperti dalam melakukan sesuatu atas kehendak sendiri tanpa disuruh oleh orang lain, tidak ketergantungan kepada orang lain dalam melakukan sesuatu, menyukai pada hal-hal baru yang semula dia belum tahu, dan selalu ingin mencoba hal-hal yang baru. Bertanggung jawab menerima konsekuensi yang menyertai pilihannya. Di dalam mengambil keputusan atau pilihan tentu ada konsekuensi yang melekat pada pilihannya. Anak yang mandiri dia bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya apapun yang terjadi tentu saja bagi anak Taman Kanak-kanak tanggung jawab pada taraf yang wajar. Misalnya tidak menangis ketika ia salah mengambil alat mainan, dengan senang hati mengganti dengan alat mainan yang lain yang diinginkannya. Menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Lingkungan sekolah (Taman Kanak-kanak) merupakan lingkungan baru bagi anak-anak. Sering dijumpai anak menangis ketika pertama masuk sekolah karena mereka merasa asing dengan lingkungan di Taman Kanak-kanak bahkan tidak sedikit yang ingin ditunggui oleh orang tuanya ketika anak sedang belajar. Namun, bagi anak yang memiliki kemandirian, dia akan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Tidak ketergantungan kepada orang lain. Anak mandiri selalu ingin mencoba sendiri-sendiri dalam melakukan sesuatu tidak bergantung pada orang lain dan anak tahu kapan waktunya meminta bantuan orang lain, setelah anak berusaha melakukannya sendiri tetapi tidak mampu untuk mendapatkannya, baru anak meminta bantuan orang lain. Seperti mengambil alat mainan yang berada di tempat yang tidak terjangkau oleh anak. Ciri ciri kemandirian anak berkebutuhan khusus ditambah 2 komponen lagi yaitu: Mandiri sehubungan dengan kekhususannya. Mampu menghadapi tantangan sehubungan dengan kekhususannya. Upaya Menumbuhkan dan Menjaga Kemandirian Anak Melihat banyaknya ciri-ciri yang dapat kita lihat tersebut, bagaimana upaya yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan dan menjaga kemandirian anak? Sahabat ria yang berbahagia, untuk mendorong pertumbuhan dan kemandirian anak, Tracy Hogg dan Melinda Blau dalam bukunya “Secrets of the Baby Whisperer for Toddlers” memperkenalkan konsep baru yang disebut dengan HELP (Hold yourself back, Encourage exploration, Limit, and Praise), menjelaskan lebih lanjut bahwa:  Dengan menahan diri kita akan mengumpulkan banyak informasi dengan memperhatikan, mendengarkan, dan menyerap seluruh gambar untuk menentukan apa dan siapa anak kita, sehingga kita dapat mengantisipasi kebutuhan dan memahami bagaimana respon anak tersebut pada lingkungan sekitar. Dengan menahan diri, kita juga dapat mengirimkan sinyal bahwa ia kompeten dan kita mempercayainya anak melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya. Dengan mendorong penjelajahan, kita menunjukkan pada anak bahwa kita percaya pada kemampuannya untuk mengalami apa yang ditawarkan oleh kehidupan yang ia alami, dan kita ingin agar anak kita bereksperimen dengan benda-benda, orang, dan pada akhirnya ide-ide yang baru. Dengan demikian anak akan lebih terdorong untuk melakukan semua tindakan tanpa merasa takut dihantui oleh kita sebagai orang tuanya. Kegiatan membatasi (limit), orang tua mengemukakan dengan benar peran kita sebagai orang dewasa, menjaga anak dalam batas aman, membantunya membuat pilihan yang tepat, dan melindungi anak tersebut dari situasi berbahaya baik secara fisik maupun secara emosional. Dengan memuji (praise), kita mengukuhkan pembelajaran yang telah kita berikan, pertumbuhan, dan perilaku yang bermanfaat bagi anak ketika ia memasuki dunia dan berinteraksi dengan anak-anak dan orang dewasa lainnya. Hasil riset menunjukkan bahwa anak-anak yang diberikan pujian dengan benar, ia semakin terdorong untuk belajar lebih, dan dapat menikmati kerjasama yang terjalin antara dirinya dengan orang tuanya.  Tips Melatih … Read more

Literasi Menantang: Dari Aksara ke Sinema

Yeay senangnya!Mengangkat topik literasi, Komunitas Guru Belajar (KGB) Depok mengadakan TPD (Temu Pendidik Daerah) lagi. setelah 3 bulan off. Kali ini TPD berlokasi di kediaman Pak Pandji (salah satu pembicara yang juga anggota KGB) yakni di Kebun Biru, Jl. H. Suaib, Krukut, Limo Depok dengan jumlah peserta 14 orang yang berasal dari TK dan SD di Depok. Seperti biasanya kami juga menyepakati untuk potluck, yakni membawa makanan masing-masing untuk dimakan bersama. TPD yang ke-15 ini kami mengangkat dua materi. Materi pertama adalah “Literasi Menantang: Dari Aksara ke Sinema“. Materi ini dibawakan oleh Pak Uhan Subhan dari SMP Islam Fitrah Al Fikri. Yang kedua berjudul “Keterlibatan Orang Tua dalam Kegiatan Belajar di PAUD”. Dibawakan oleh Pak Pandji Widya dari TK Islam Dian Didaktika. Namun, sebelum materi pertama dan kedua, ada sekilas info tentang TPD dan TPN (Temu Pendidik Nusantara) yang dibawakan oleh Pak Arifin dari SD Binakheir. Dan, yang membuat TPD kali ini makin seru, setelah materi inti selesai ada sesi sharing tentang pendidikan di Finlandia bersama Pak Muhammad Tholchah yang merupakan kandidat Doktor di Tampere University Finland. Wow! Acara dimulai pukul 08.55 WIB dan selesai pukul 12.50 WIB (padahal rencana awal jam 12.00 selesai, karena saking asyiknya diskusi jadi kebablasan, hehe ☺ ) dengan dipandu oleh Bu Handayanih dari SDIT Mutiara Islam sebagai MC. Pembukaan oleh MC dan Pembacaan Ayat suci Al Qur’an oleh Pak Faiz Biamrillah dari SD Islam Kamila Insan Cita hingga jam 09.15. Setelah itu dilanjutkan dengan info TPD dan TPN hingga jam 09.50. Saat memberikan info-info Pak Arifin menggunakan slide yang diantaranya terdapat foto-foto yang membuat peserta tertarik. Salah satu info yang disampaikan adalah bahwa TPN 2019 diadakan tanggal 25-27 Oktober 2019 di Sekolah Cikal, temanya adalah . Aktivitas Literasi dengan Komik dan Youtube Akhirnya materi inti yang pertama pun digelar, yakni tentang Literasi Menantang yang disampaikan berdasarkan pengalaman Pak Uhan di sekolahnya yang notabene adalah siswa SMP. Di awal materi, beliau memaparkan literasi dalam pandangan awam, diantaranya adalah: membaca bukan aktivitas penting, membaca hanya membuang waktu, dan membaca adalah aktivitas berbahaya. Beliau pun memaparkan tahapan menjadikan bacaan menjadi sebuah film yang bisa dinikmati oleh lebih banyak orang dan bernilai seni tinggi serta membuat bangga orang-orang yang berkontribusi di dalamnya. Diawali dengan membaca semua novel yang berjudul sama, siswa kemudian diminta untuk membuat alur grafis dalam sebuah kertas besar, lalu dibuat menjadi komik. Setelah itu, siswa menjadikan komik itu sebuah film pendek dengan produser, sutradara, pemeran, dan semua kru berasal dari siswa dan diunggah ke youtube. Apakah berakhir sampai disini? Oh tidak! dewan guru masih ingin memberikan tantangan pada siswa dengan mengadakan festival dan mengundang banyak orang. Selain itu tiap ada kegiatan di luar para siswa juga mempertontonkan film hasil karyanya hingga membuat mereka bahagia. Pak Uhan memberikan inspirasi baru bagi kita semua, ternyata dari sebuah bacaan dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang jauh lebih menarik. Beliau juga menekankan pentingnya guru hingga mencoba membuat buku sebagai sebuah karya. Melibatkan Orangtua di Sekolah Pemaparan materi kedua dimulai pukul 10.45 hingga 11.15, yakni tentang pengalaman Pak Pandji selama bergelut dengan dunia PAUD dan TK. Beliau memberikan banyak tips pada para peserta bagaimana caranya agar orangtua dapat terlibat aktif di sekolah. Tips diantaranya: saat pertemuan awal dengan orang tua ada akad (perjanjian). Salah satu isinya tentang kewajiban orang tua hadir saat ada kegiatan parenting. Menugaskan kordinator kelas (korlas) sebagai seksi dokumentasi saat ada kegiatan. Berikan wewenang pada mereka untuk menyebarkan hasilnya ke orang tua siswa yang lain; memberikan tantangan pembelajaran di rumah untuk siswa bersama orang tuanya. Tips dan trik dari Pak Pandji sangat membantu kami mendapatkan ide-ide baru dalam upaya merangkul orang tua. Sehingga orangtua bisa terlibat aktif dan membantu dalam proses pendidikan anak-anak. Sesi terakhir adalah sharing dari teman pak Pandji, pak Tholchah. Beliau tinggal di Finlandia dan saat ini sedang pulang ke Indonesia. Selama 3 bulan di Indonesia melakukan penelitian tentang guru TK laki-laki. Beliau memberikan pencerahan pada kami tentang pendidikan di sana. Banyak hal yang selama ini belum kami ketahui terutama tentang tidak mudahnya negeri kita mengikuti sistem seperti di sana. Karena banyak perbedaan antara Indonseia dengan Finlandia. Ada beberapa hal yang bisa kita adopsi namun ada juga yang tak bisa. Dan tentu saja kita harus bersyukur dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh bangsa ini. Insyaallah bisa menjadi modal untuk kemajuan pendidikan kita ke depannya. Alhamdulillah, setelah sekian lama tidak mengadakan TPD, di hari itu kami semua merasa puas. Dan mendapat banyak pencerahan dan inspirasi. Terima kasih Bu Widhya dan Pak Arifin sebagai Koordinator. Terima kasih kepada panitia, terima kasih para pembicara, dan terima kasih pada semua peserta. Mari senantiasa semangat belajar untuk menjadi Guru yang Merdeka Belajar! Ingin Memahami Tentang Literasi Lebih Lanjut? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 19Miskonsepsi LiterasiUnduh Gratis klik

Implementasi Merdeka Belajar di Pesisir Selatan

Kegiatan nonton bareng komunitas guru belajar adalah kegiatan yang menyenangkan. Hal ini terlihat dari antusias peserta yang hadir. Kali ini kita akan membahas tentang ciri guru yang melakukan implementasi Merdeka Belajar. Peserta terlihat semangat dan aktif dalam proses kegiatan. Kegiatan dilaksanakan di Upt SDN 04 Nanggalo yang terdiri dari guru-guru baik guru kelas maupun bidang studi. Narasumber pada kegiatan Nobar adalah Ermaida, S.Pd, SD, M.Pd, dimoderatori oleh Darmayuni, S.Pd dan Pemandu Nobar Wella Agnes Alba, S.Pd. kegiatan diawali pembukaan oleh moderator, kemudian membaca Alquran yang dibacakan oleh Diki Yulhendra dan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang di pimpin oleh Yolanda Adri, S.Pd. Acara berikutnya dilanjutkan penyampaian materi oleh Ibu Ermaida, S.Pd, SD, M.Pd beliau menayangkan link untuk pengisisan absen secara online. Kegiatan dilanjutkan dengan bertanya tentang ciri guru yang melakukan implementasi Merdeka Belajar kepada peserta yang hadir. Peserta menuliskan pengetahuannya tentang Guru Merdeka Belajar pada kertas yang dibagikan. Setelah guru menuliskan pengetahuannya tentang guru merdeka belajar, mereka menempelkan ke depan. Guru Ermaida membacakan beberapa jawaban dari peserta dan memberi beberapa ulasan. Kegiatan dilanjutkan dengan menonton bersama video dari ibu Najelaa Shihab tentang guru merdeka belajar. Peserta sangat antusias. Setelah selesai penanyangan video peserta diminta menyampaikan informasi yangdidapat dari video yang ditayangkan. Bagaimana Ciri Guru yang Melakukan Implementasi Merdeka Belajar? Peserta sangat antusias menyampaiakan pendapatnya tentang guru merdeka belajar, di antaranya ada guru Darmayuni dan guru Wella. Mereka saling bertanya jawab tentang apa guru merdeka belajar. Menurut Guru Darmayuni guru merdeka belajar adalah guru yang dalam mengajar memiliki kebebasan dalam melaksanakan proses pembelajaran yang selama ini guru belum memiliki kebebasan seperti banyaknya tuntutan administrasi, sehingga guru cendrung menyelesaikan administrasi dari pada melaksanakan pembelajaran, jadi guru merdeka belajar itu adalah guru yang bebas dalam implementasi pembelajaran tanpa tuntutan administrasi yang begitu banyak tetapi dapat mencapai tujuan pembelajaran. Menurut ibu wella Guru merdeka belajar dilihat dari segi kata yaitu Guru merdeka, adalah pendidik yang memilki kebebasan dalam implementasi pembelajaran. Yaitunya bebas memilih media, metode, kegiatan dan tempat pembelajaran yang sesuai dengan aturan dan tanpa adanya tekanan dari atasan tapi harus sesuai dengan aturan yang ada. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Menurut bapak Eliwardi guru merdeka belajar adalah guru yang memiliki dan melakukan implementasi 3 hal, yaitu: komitmen, mandiri dan refleksi. Komitmen adalah seorang guru yang merdeka adalah guru yang memiliki komitmen yang teguh pada tujuan. Guru yang memiliki belajar yaitu guru yang terus belajar menambah pengetahuannya agar meningkatkan proses pembelajaran. Belajar disini yaitu guru yang selalu belajar tak pernah putus belajar sepanjang hayat. Guru merdeka belajar adalah guru yang mandiri yaitu guru yang mampu menemukan sendiri sumber belajarnya baik itu melalui buku, media social, internet, teman sebaya. Dan menerapkannya dalam pelaksanaan pembelajaran. Guru merdeka belajar adalah guru yang mampu merefleksi pelaksanaan belajar. Hasil refleksi tersebut dijadikan tindak lanjut untuk memperbaiki proses pembelajaran. Penindaklanjutan tersebut harus dilaksanakan dengan komitmen, mandiri dan kembali refleksi. Setelah melaksanakan kegiatan Guru Ermaida mengajak semua peserta untuk mengubah tindakan dalam peranan sebagai seorang pendidik. Yaitu menjadi guru yang melakukan implementasi merdeka belajar. Tidak hanya melaksanakan pembelajaran dengan metode ceramah tapi gunakanlah berbagai metode pembelajaran. Belajarlah dengan berbagai cara yaitu membaca buku, bertanya kepada teman. Guru merdeka belajar adalah guru yang komitmen pada tujuan, memiliki proses pemikiran yang secara mandiri, memiliki kompentensi seorang pendidik, dan senantiasa melakukan refleksi. Guru merdeka belajar itu penting untuk meningkatkan proses pembelajaran di sekolah. Anda ingin tahu praktik guru yang melakukan implementasi merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik: 

Video Guru Merdeka Belajar – Pendidikan yang Lebih Unggul

Video Merdeka Belajar menjadi hal yang kami perbincangkan pada Senin, 30 September 2019. Mengikuti satu kegiatan Komunitas Guru Belajar (KGB) yang merupakan bentuk dari sosialisasi sebuah Komunitas, seyogyanya kegiatan berbentuk Nonton Bareng (Nobar) Video Guru Merdeka Belajar ini dilaksanakan pukul 09.20 – 11.00 WIB. Tapi berhubung karena bersamaan dengan Kegiatan Tengah Semester (KTS) beberapa teman guru mengikutinya secara bergantian karena menyelingi KTS tersebut, sehingga durasi jadi terasa lebih Panjang. Menggerakkan Guru di Karo Sumatra Utara Kegiatan saya buka sendiri karena di Karo belum ada KGB dengan menyampaikan tujuan kegiatan Nobar hari ini, harapan saya setelah menyaksikan video tentang Guru Merdeka Belajar ini akan ada guru penggerak-penggerak selanjutnya yang senantiasa akan saling mendukung. Kemudian saya sebagai pemandu meminta pendapat awal dari 3 temanguru tentang “Apa itu Merdeka Belajar?”. “Merdeka itu tidak terikat dan variasi biar gak bosan” Yang lain berpendapat bahwa “Merdeka Belajar itu bebas tapi masih dalam koridor RPP”. Lalu yang lain lagi mengungkapkan bahwa “Merdeka Belajar itu bebas. Bebas memberikan pendapat, memberi jawaban, tidak didikte dan tidak dituntut. Sesi awal ini peserta nobar hanya bisa berpendapat. Lalu dilanjut dengan sesi pemutaran video guru merdeka belajar. Tampak pada layar bu Najelaa Shihab dengan tampilan yang sederhana. Beliau mengatakan bahwa tidak ada yang lebih ekspresif dibanding anak-anak. Pernyataan bu Najelaa sangat benar. Mendengar ini peserta mulai terlihat semakin serius. Mereka meminta video guru merdeka belajar untuk dibagi ke grup wa sekolah atau wa pribadi, dengan alasan supaya bisa diulang-ulang di rumah. Menarik, respon yang lumayan bagus meski suara Bu Najelaa kadang-kadang menghilang di tengah suara peserta didik yang lumayan hilir mudik di depan kantor karena lomba vokal grup bertempat di sekitar kantor. Namun, kata-kata Bu Najelaa tentang anak-anak yang merdeka belajar yang memiliki aspirasi setinggi langit seperti menggugah hati teman guru sehingga mereka mulai tampak semakin menyimak setiap kata yang diucapkan ibu Najelaa. Merdeka belajar pada peserta didik hanya akan terjadi pada saat anak-anak punya kemerdekaan belajar. Kemerdekaanbelajar peserta didik hanya akan terjadi pada saat pendidik atau guru juga memiliki kemerdekaan. Refleksi Para Guru Deg, rasanya di jantung. Sudahkah selama ini menjadi guru/pendidik yang merdeka? Banyak tanya menggelayuti. Walaupun sebenarnya saya sendiri belum paham betul apa yang dimaksud merdeka belajar. Pendapat saya masih sama seperti pendapat 3 teman guru di atas. Peserta lainpun sudah semakin serius menyimak setiap kata yang disampaikan hinggavideo guru merdeka belajar selesai. Lalu masuk ke sesi refleksi, ada 5 pertanyaan yang harus kami jawab tentang merdeka belajar. Pertanyaan pertama,”Di antara miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri anda?” Salah satu di antara kami menyatakan “Selama ini menurut saya kita harus belajar sama yang sudah ahli, ya bu De” Rata-rata jawaban secara umum begitu. “Lalu kalau tidak ada yang ahli, apa kita jadi berhenti belajar?” tanya saya. Serentak meskipun lirih mereka menjawab “Ya tidak lah,” dan kami pun meluruskan miskonsepsi itu. Belajar tidak harus menunggu keberadaan sang ahli, terkadang yang kita sebut sebagai ahli hanya mampu secara teoritis tapi tidak pada praktiknya. Seorang ahli atau pakar kadang hanya melihat di lingkungannya, sementara hal itu bisa jadi tidak sama dengan kondisi di lingkungan yang lain. Kita para guru, kitalah yang mengetehui permasalahan anak didik kita. Jadi kita (guru) lah yang menemukan cara yang cocok dalam mengajar, apa dan bagaimana praktik baik di dalam kelas untuk setiap pokok bahasan. Jadi tidak harus ada penyeragaman. “Iya kan,” celetuk salah satu teman guru. Diskusipun berlanjut hingga kami menemukan kesepakatan bahwa belajar butuh waktu, belajar tidak bisa dipaksakan mengejar target kurikulum, belajar harus memberi efek perubahan bagi peserta didik ke arah yang positif. Kompetensi peserta didik harus tumbuh dari lingkungan bukan secara individu. Ciri Guru Merdeka Belajar Pertanyaan kedua saya bacakan, “ciri guru merdeka belajar adalah komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara belajar dan melakukan refleksi. Apakah Anda setuju dengan pernyataan tersebut? Apa alasannya?”. “setujuuuu, jawab mereka kompak. Bu Peber memberi alasan, kita memang harus komitmen pada tujuan, seperti maksud dari pemaparan Bu Najelaa Shihab bahwa guru merdeka belajar itu harus paham mengapasebuah materi itu perlu diajarkan dan apa kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, agar peserta didik merasa materi yang dipelajari ini bermakna untuk dirinya dan mampu menumbuhkan motivasi secara instrinsik bahwa belajar itu memang perlu. Guru Merdeka Belajar itu mandiri, selalu bersemangat menyelesaikan setiap tantangan, tidak mudah menyerah dan menyalahkan orang lain atau keadaan. Guru merdeka belajar harus bisa melakukan refleksi, berani meminta umpan balik secara aktif dan menilai diri sendiri secara subjektif. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Pertanyaan ketiga untuk sesi refleksi ini adalah “Apakah Anda ingin menjadi Guru Merdeka Belajar? Apa Alasannya?”, “mauuuuu” lagi-lagi mereka menjawab serentak. “Hanya saja kadang-kadang kami kehilangan semangat, kadang-kadang lagi mood baik kami lakukan praktik baik pembelajaran sehingga belajar menjadi bermakna tapi kadang-kadang kami bad mood. Sambil tersenyum salah seorang dari teman guru menjawab, dan yang lain angguk-angguk tanda setuju bahwa yang dialami adalah sama. Tapi kami mau kok menjadi Guru merdeka belajar dan kami perlu waktu untuk itu. Kami harus merubah mindset kami tentang belajar dan peserta didik. Kami akan mencoba mencari solusi dari permasalahan tentang peserta didik ketimbang menyalahkan mereka. Mudah-mudahanseiring berjalannya waktu kami pun akan menjadi guru merdeka belajar”. Ungkap Bu Meini. “Sip, beri tepuk tangan untuk diskusi hari ini, seru ya”, kata saya memberi semangat kepada Bu Meini dan peserta yang lain, meskipun yang tepuk tangan hanya saya. Masuk pertanyaan keempat “Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa perubahan yang ingin Anda lakukan di kelas?”. “Kami akan memulai dengan menata kelas, berdialog dengan peserta didik tentang aturan kelas, membuat ice breaking di sela-sela pembelajaran agar tidak bosan, mencoba melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan dan tidak lupa mengadakan refleksi di akhir pembelajaran”. Guru Merdeka Belajar, Guru yang Mengembangkan Diri Pertanyaan terakhir, “Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa pengembangan diri yang ingin Anda lakukan Bersama Komunitas Guru Belajar?”, “Kami ingin belajar menulis, kami ingin bisa menulis PTK sendiri” Kata salah seorang peserta. “Hmmm, bagus sekali itu Bu”, jawab saya. Akhirnya sebagai penutup sesi saya mengulas sedikit bahwa guru merdeka belajar adalah guru yang berkomitmen pada tujuan belajar, mengetahui kenapa melakukan sesuatu dan apa manfaatnya serta bagaimana cara mengaplikasikan hasil belajar tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari sehingga peserta … Read more