Petikan Pelajaran Kolaborasi Literasi Bermakna

Setahun sudah kami bersama menjalankan program Kolaborasi Bermakna. Ada banyak kegiatan, tapi lebih banyak lagi pelajaran. Setiap anggota tim dan peserta program mempunyai banyak pemaknaan personal yang beragam terhadap perjalanan ini. Kami mencoba merangkum petikan pelajaran yang didapatkan dari program Kolaborasi Literasi Bermakna. Pelajaran yang akan kami bawa dalam program yang lain, dan menurut kami penting juga dipelajari oleh penggiat pendidikan di seluruh penjuru negeri. Dari Sendiri Menuju Kolaborasi  Tantangan pertama dan utama dari Kolaborasi Literasi Bermakna adalah mengubah pola kerja dari yang biasanya asyik sendiri menjadi seru berkolaborasi. Kolaborasi itu indah diucapkan. Begitu mudah disampaikan dalam pidato-pidato, tapi kenyataannya begitu menantang.  Kolaborasi Literasi Bermakna digawangi empat organisasi yang mempunyai bidang fokus yang berbeda. Kampus Guru Cikal yang menangani guru. Keluarga Kita yang menangani orangtua. Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan yang menangani riset dan advokasi kebijakan. Inibudi yang menangani pembuatan konten belajar. Masing-masing organisasi mempunyai keahlian tersendiri. Setiap organisasi melayani segmen dengan agendanya sendiri. Melalui program Kolaborasi Literasi Bermakna, kami belajar mensinergikan agenda dan prioritas sekaligus membangun relasi saling percaya. Banyak gesekan dan perdebatan untuk menentukan pilihan yang bisa mengakomodasi semua. Pelajaran penting yang kami dapatkan adalah berpihak kepada anak. Menjadikan kepentingan anak sebagai kriteria untuk mengambil keputusan. Bila antar-organisasi sulit mengalah, tapi ketika berpihak kepada anak menjadi kriteria, maka organisasi bisa lebih melonggarkan agenda dan menerima kesepakatan.  Kolaborasi Literasi Bermakna bisa berjalan jauh dan mengerjakan banyak kegiatan semata-mata karena mengedepankan kepentingan anak. Cita-cita menyaksikan anak-anak Batu dan Probolinggo bisa belajar karena cinta, bukan karena terpaksa. Bila ada perbedaan, pemersatunya adalah anak.  Dari Penunjukan Menuju Partisipasi  Pada sebagian besar program, keterlibatan orangtua dan guru sering kali ditentukan melalui jalur penunjukan. Dinas Pendidikan menunjuk kepala sekolah. Kepala sekolah menunjuk guru dan orangtua untuk mengikuti program. Kebanyakan guru dan orangtua akan terlibat program karena takut melanggar penunjukan tersebut. Takut mendapat sanksi.  Kampus Guru Cikal dan Keluarga Kita punya pengalaman berbeda. Jalur penunjukan memang membuat orang terlibat program, tetapi bukan karena kesadaran sendiri, sering kali karena terpaksa. Oleh karena itu, kami mencoba jalur partisipasi dalam melibatkan guru dan orangtua dalam program pengembangan. Kami percaya bahwa guru dan orangtua yang berniat belajar pasti mencari cara agar bisa mendapat kesempatan belajar. Dalam lima tahun, kami membangun komunitas guru dan orangtua berdasarkan prinsip partisipasi dan kerelawanan dengan segala dinamikanya.  Pada Kolaborasi Literasi Bermakna, keyakinan tersebut kami praktikkan dalam sebuah program yang terukur dan terencana secara ketat. Sebuah pilihan yang mengandung risiko tentunya. Apakah dengan kesibukan orangtua dan guru mau meluangkan waktu terlibat dalam program yang tanpa memberi imbalan apa-apa? Bagaimana kalau yang awalnya sukarela mengikuti program kemudian punya kesibukan lain? Apakah guru dan orangtua yang menjadi peserta program akan menjalankannya dengan sungguh-sungguh? Berdasarkan bukti dari pengalaman sebelumnya, kami memilih untuk mengambil risiko dari jalan partisipasi.  Setelah membereskan hati sendiri, langkah kami berikutnya adalah meyakinkan pemangku kepentingan dari program Kolaborasi Literasi Bermakna. Tidak mudah karena pemangku kepentingan punya pengalaman yang berbeda. Tidak percaya bahwa ada guru dan orangtua yang sukarela mau belajar. ‘Dipaksa saja susah, kok, diminta sukarela,’ mungkin itu pikiran yang terlintas. Namun, setelah dengan sejumlah argumentasi dan cerita pengalaman kami sebelumnya, jalur partisipasi diterima dengan sejumlah catatan. Di akhir program Kolaborasi Literasi Bermakna, kami sungguh bahagia bisa menunjukkan bahwa guru dan orangtua belajar banyak dengan semangat sukarela, bukan dipaksa. Dari Hadiah dan Hukuman Menuju Kesempatan dan Dukungan Keterlibatan dalam program yang berdurasi satu tahun tidaklah mudah. Menjaga konsentrasi dalam hitungan menit saja susah. Karena itu, pengelola program mempunyai sejumlah strategi untuk memotivasi peserta program terlibat secara penuh mulai dari awal hingga akhir. Meski ada banyak strategi, secara umum kesemuanya berdasarkan prinsip hadiah dan hukuman. Hadiah untuk yang menunjukkan perilaku baik, hukuman bagi yang menyimpang.  Tantangan bagi Kolaborasi Literasi Bermakna adalah menemukan strategi yang tidak menggunakan prinsip hadiah dan hukuman yang biasa dipakai. Pelibatan dalam program dimulai dari partisipasi, kesadaran dari dalam diri, tentu kami butuh mencari strategi memotivasi yang selaras.  Tantangan terbesar bukan mencari strategi memotivasi yang tepat, tetapi pengelolaan diri dari keseluruhan kami, seluruh anggota tim Kolaborasi Literasi Bermakna, baik yang bertugas di Jakarta maupun daerah. Sering kali yang terjadi adalah khawatir gagal yang berlebihan. Semua pengelola program pasti ingin berhasil mencapai target. Keinginan yang wajar, tetapi bila berlebihan akan menggoda kami menggunakan strategi memotivasi berdasarkan hadiah dan hukuman.  Bersikap empati terhadap orangtua dan guru yang menjadi peserta program membantu kami keluar dari tekanan menggunakan hadiah dan hukuman. Kami menempatkan diri menjadi peserta program dan berpikir apa yang kami butuhkan untuk berubah lebih baik. Lahir kesadaran bahwa peserta program lebih butuh kesempatan dan dukungan untuk berubah. Kesempatan berbagi praktik baik, kesempatan untuk unjuk diri, dukungan berupa umpan balik, pengakuan terhadap apa yang sudah baik dan koreksi mana yang perlu diperbaiki. Kesadaran yang membuat kami melakukan tambahan kegiatan berupa pendampingan sesuai kebutuhan guru dan orangtua. Dari Penyeragaman Menuju Berjenjang  Dalam program yang terukur dan direncanakan secara ketat, sering kali fokus pengelola program adalah pada pelaksanaan kegiatan dan pencapaian target. Program yang sudah direncanakan sejak awal dilaksanakan sebagaimana pakemnya. Persoalannya kemudian, apakah yang sudah direncanakan di awal sesuai dengan tantangan di lapangan dan kebutuhan peserta program?  Kolaborasi Literasi Bermakna sedari awal sebenarnya sudah melakukan sejumlah kegiatan untuk memahami tantangan di lapangan dan kebutuhan peserta program. Pemahaman yang kami gunakan untuk melakukan penyesuaian rancangan program agar lebih efektif. Namun, pemahaman awal pun ternyata masih belum cukup kaya dibandingkan dengan pemahaman yang didapatkan selama pelaksanaan program. Intensitas interaksi dan percakapan bermakna menghasilkan pemahaman baru yang lebih luas. Jangankan antar-personel, kemajuan program antar-daerah pun tidak sama. Pelaksanaan program Kolaborasi Literasi Bermakna yang berawal dari pendekatan yang seragam pada perjalanannya disesuaikan. Penyesuaian strategi menjadi lebih personalisasi pada tujuan, cara, dan alat bantu refleksi. Peserta program yang lebih dahulu menguasai sasaran program mendapat kesempatan lebih luas. Sementara, peserta program yang butuh waktu tambahan mendapat dukungan sesuai kebutuhan mereka untuk berkembang.  Dengan memfasilitasi proses refleksi, kami mengajak orangtua dan guru memahami kemampuan dan kecepatan belajarnya. Jadi, bukan kami yang menentukan kebutuhan belajar, tapi peserta program sendiri yang melakukan penilaian diri untuk menyusun agenda belajarnya. Partisipasi bukan hanya saat pelibatan awal, tapi juga hingga menentukan intensitas belajar. Dari Berbasis Sekolah Menuju Berbasis … Read more

Definisi Merdeka Belajar

Berawal dari pertanyaan teman tentang kegiatan saya bersama beberapa teman di Komunitas Guru Belajar. Definisi Guru Merdeka Belajar beberapa kali menjadi topik pembicaraan kami. Karena mau mememenuhi rasa ingin tahu teman saya, saya pun memberanikan diri untuk menawarkan nonton bareng (nobar) video Guru Merdeka Belajar. Video berisi pembahasan definisi Merdeka Belajar yang disampaikan oleh ibu Najelaa Shihab. Senin, 27 Januari 2020 atas nama Komunitas Guru Belajar (KGB) Sijunjung saya dan teman teman mengadakan Nonton Bareng bertempat di SMP Negeri 28 Sijunjung. Kegiatan dilaksanakan setelah proses belajar mengajar yaitu jam 13.30 sampai dengan 16.30. Kegiatan ini dipandu oleh saya sendiri Desy Delarosa dan Alia Yovica sebagai moderator. Peserta yang hadir 15 orang, seluruhnya berasal dari SMP Negeri 28 Sijunjung, guru maupun pegawai TU. Tiga komponen yang menjadi penanda merdeka belajar dibahas dalam video Merdeka Belajar tersebut. Peserta nobar oun merefleksikan kembali bahwa tiga komponen Merdeka Belajar tersebut adalah Komitmen pada tujuan, Mandiri dengan cara dan refleksi untuk memantau proses belajar. Merdeka Belajar menjadi dambaan guru dan siswa, karena merdeka belajar siswa dapat mengemukakan hasil maksimalnya.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Selain nobar juga disampaikan tentang Komunitas Guru Belajar Sijunjung dan kegiatannya. Pada Komunitas Guru Belajar kita berjejaring dengan sesama guru lintas sekolah dan jurusan. Kegiatan dalam Komunitas Guru Belajar menularkan praktik baik pembelajaran, membangun kolaborasi antar anggota dan luar anggota, berbagi dan saling dorong untuk dapat meniti karier dan selalu berusaha meningkatkan kompetensi guru. Komunitas Guru Belajar membuat guru bisa menjadi pembelajar dengan bergantian menjadi narasumber untuk teman. Dengan memperkenalkan Komunitas Guru Belajar sekaligus mengajak kawan kawan di SMP Negeri 28 Sijunjung untuk bergabung di Komunitas Guru Belajar Nusantara. Miskonsepsi Belajar Guru Dengan kegiatan Nonton Bareng video merdeka belajar ibu Najelaa Shihab, diharapkan guru memahami miskonsepsi belajar guru. Beberapa miskonsepsi guru belajar yang disebutkan adalah kegiatan belajar hanya untuk mengetahui how to nya saja, dimotivasi dengan adanya insentif, hanya bisa belajar dari pakar, belajar dengan target, perubahan terjadi seketika dan capaian hanya dinilai secara individual. Bu Imma, kepala SMP Negeri 28 Sijunjung mengatakan “Miskonsepsi yang dia alami adalah belajar harus dari ahli dan hari ini saya sadar bahwa belajar bisa dengan siapa saja, terutama sesama guru”. “Kita harus patahkan dengan belajar dengan siapa saja, dengan murid juga dengan teman guru,” sambung beliau. Bu Deri juga menyampaikan “Pencerahan dari video ini diharapkan dapat memberikan perubahan bagi saya nantinya”. “Perubahan yang sangat penting bagi saya adalah belajar tidak mengharapkan sertifikat atau uang”, kata bu Deri. Ada juga yang berpendapat berbeda dan sedikit menggelitik yang disampaikan oleh guru senior bernama pak Jasril. Pak Jasril berkata, “ Boleh merdeka asal jangan kebablasan.”Saya menanggapi bahwa definisi merdeka belajar yang dimaksud memiliki tiga komponen merdeka belajar. Saya pun mengulangi penjelasan tentang iga komponen tadi. Komitmen terhadap tujuan dengan mengetahui mengapa tujuan (kompetensi) itu harus dicapai. Mandiri menentukan cara mencapainya dan merefleksi sejauh mana cara tersebut telah mencapai tujuan. Peserta ingin Menjadi Guru yang Belajar Lagi Terakhir sebelum kegiatan berakhir, bu Imma menyampaikan bahwa sangat berterima kasih dengan adanya kegiatan Nobar guru merdeka belajar ini. Beliau  merasakan pentingnya untuk saling berbagi sesama guru untuk memecahkan masalah di kelas.  Peserta juga menyampaikan masih penasaran dengan merdeka belajar dan kaitannya dengan RPP satu lembar. Bagaimana merancang pembelajaran yang merdeka belajar. Kita menawarkan untuk bergabung di komunitas guru belajar Sijunjung dan mendaftar di KGBN melalui link .  Harapannya peserta dapat mengikuti kegiatan komunitas guru belajar secara luring maupun daring. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Apa Itu Merdeka Belajar?

Apa merdeka belajar itu berpengaruh pada peran pendidik?Kehadiran dan peran seorang pendidik merupakan aspek penting dalam dunia pendidikan. Dalam mengajar, sosok guru yang menginspirasi dan mencerahkan juga sudah selayaknya mampu memahami dan mengupayakan adanya proses belajar. Namun, bagaimana jika seorang pendidik belum mengerti makna proses belajar itu sendiri? Hal ini banyak terjadi karena umumnya belajar hanya dipahami sebagai kegiatan membaca dan menghafal. Akibatnya, daya untuk berkarya, kreasi dan berekspresi menurun. Mempelajari Apa itu Merdeka Belajar Sebelum ke anak didik, saya paham bahwa proses belajar harus saya kuasai dan jalankan dengan baik. Akan tetapi, saya merasa belum bisa merinci langkah demi langkah dan tahapan-tahapan proses belajar tersebut dengan efektif. Akhirnya kegelisahan ini terjawab ketika saya mulai bergabung dengan Komunitas Guru Belajar (KGB) Bojonegoro dan KGB Surabaya beberapa tahun lalu. Hingga tahun 2019 ketika sudah menikah dan mengikuti suami saya juga ikut dengan KGB Jombang. Saya sangat tertarik dan bersemangat untuk selalu belajar hal baru di komunitas ini dan di KGB ini lah saya mengenal merdeka belajar. Saya sangat penasaran dengan apa itu merdeka belajar dan penerapannya. Oleh karena itu, saya mengunduh,  mencetak, dan membaca semua Surat Kabar Guru Belajar (SKGB), khususnya edisi yang memuat tentang merdeka belajar.  Melihat apa manfaat dan pentingnya merdeka belajar itu bisa mempengaruhi dan mendorong motivasi, inovasi dan menuju ke pendidikan yang lebih baik, saya ingin gagasan dan praktik merdeka belajar menebar ke pendidik lain yaitu lewat Nonton Bareng (Nobar) Guru Merdeka Belajar. Awalnya saya merasa kesulitan mencari kawan sejawat yang mau menerima ide saya ini, alasannya saya dibilang idealis lah, ribet dan tidak penting. Dengan tekad kuat dan dorongan teman penggerak KGB lain ini saya tetap maju. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mencoba membuat poster dan mengunggah ke sosial media dan it works, banyak teman-teman pendidik di Jombang yang bersedia hadir.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Tak hanya Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar, pada hari Rabu, 18 September 2019 pukul 18.30 di rumah saya yang berlokasi di sekitar lingkungan Ponpes Bahrul Ulum Jombang, saya juga memanfaatkan acara ini sebagai wadah untuk saling berbagi. Guru Berbagi Praktik Pembelajaran Diawali oleh Guru Asep, beliau berkeluh kesah bahwa mengajar pelajaran Matematika di kelas khusus putra pondok merupakan tantangan yang sangat berat. Menurutnya, siswa-siswa memerlukan perhatian khusus karena tidak bisa mengikuti pelajaran dengan metode pembelajaran biasa. Ketika Guru Asep mengajar di kelas, banyak siswa-siswa nya tidur dan mengantuk di kelas karena kegiatan mereka di pondok yang cukup padat. Oleh karena itu, Guru Asep berpikir bahwa proses belajar serta pemahaman, penguasaan atas pengetahuan yang efektif adalah yang secara langsung terkait dengan pengaruh kehidupan dan pengalaman siswa itu sendiri (apa yang dilakukan dan apa yang dialami) keseharian. Dengan demikian proses belajar, pembelajaran di kelas harus kontekstual karena pengalaman belajar seperti ini diperlukan dan sangat penting ketika mereka bertumbuh menjadi orang dewasa.  Senada dengan Guru Asep, Guru Eko juga berpendapat bahwa proses belajar harus dimulai dengan mempelajari keadaan nyata lingkungan sekitar atau pengalaman seseorang atau kelompok yang terlibat dalam keadaan nyata tersebut. Tantangan berat dan sulit tentunya untuk mengedepankan upaya-upaya yang menumbuhkan, bagaimana menjadi seorang pendidik mampu mendorong dalam diri siswa agar dapat melakukan proses belajar untuk menyelesaikan masalah, persoalan apa saja yang dibutuhkan. Guru Eko sangat yakin bahwa adanya siswa yang mengantuk, tidur dan rendahnya motivasi adalah bukti nyata bahwa proses belajar di sekolah harus mampu memenuhi kebutuhan anak yakni mendapatkan pengalaman dalam proses-proses perubahan yang terus ada dan tidak berhenti.  Keresahan Guru Ekonomi Sementara itu, Guru Barik dengan wajah kesal, lelah dan gundahnya bercerita bahwa kegiatan pembelajaran dan proses belajar yang baik masih menjadi problematis. Beliau resah karena biasanya guru datang ke kelas lalu membacakan, mempertunjukkan, atau membagikan lembar tugas yang sebelumnya sudah dipersiapkan. Sedangkan siswa diharuskan untuk mendengar sambil mencatat dengan teliti. Kadang-kadang guru memberi pertanyaan atau menyuruh siswa untuk mengerjakan soal-soal tertentu tentang apa yang sudah diterangkan tadi. Padahal, proses belajar demikian tidak mendorong proses berpikir yang memungkinkan siswa menggali pengalamannya dan menemukan sesuatu hal dan peristiwa yang penting dari pengalaman hidupnya.  Guru Barik adalah seorang guru mata pelajaran Ekonomi di sekolah MAN 3 Jombang. Menurutnya, materi terkait teori akuntansi dan penerapannya sangat sulit dipahami siswa-siswanya. Kemudian, guru Barik menjelaskan dan menunjukkan tentang solusi atas masalah yang dihadapinya. Beliau tidak menyalahkan pihak manapun dan siapa pun atas tidak adanya fasilitas belajar yang bagus oleh sekolah. Guru Barik mencari alternatif cara yakni membuat media praktikum E- corner.  Dengan antusias, Guru Barik memaparkan bahwa E-corner merupakan singkatan dari Entrepreneur Corner, konsep ini mirip dengan kantin kejujuran. E-corner ini  menjual kebutuhan siswa dan diletakkan di pojok kelas dan siswa akan menjadi pengelolanya. Pengelolaan yang dilakukan siswa salah satunya adalah pembuatan pembukuan keuangan beserta administrasinya yang mana hal ini akan sejalan dengan materi akuntansi yang mereka dapatkan. Menonton Video Merdeka Belajar Lalu saya sebagai moderator mengajak semua peserta untuk nobar video merdeka belajar. Acara dilanjut dengan sesi diskusi dan refleksi. Di akhir diskusi semua peserta setuju bahwa: Pendidikan tidak lagi merupakan sebuah kegiatan yang hanya ditujukan pada siswa saja. Tanggung jawab penyelenggaraan proses belajar (menetapkan tujuan apa yang harus dipelajari dan diajarkan), seharusnya melibatkan peserta belajar itu tentunya dan orang tua.  Beberapa kompetensi yang tertuang dalam merdeka belajar sangat penting untuk diterapkan karena mendukung ekosistem proses belajar yang menumbuhkan. Siswa dan guru harus merdeka belajar untuk menciptakan dunia yang lebih baik dan lebih bermakna. Guru merdeka belajar harus memiliki komitmen jelas dan mampu menentukan tujuan proses belajar dengan tepat. Agar tidak terfokus pada hal-hal yang sebenarnya bisa dikompromikan seperti nilai, akreditas, dan hal-hal administratif lainnya.  Siswa dan guru merdeka belajar senantiasa mandiri dalam pembaharuan proses belajar. Sudah seharusnya semua pihak yang terlibat dalam proses belajar menyadari pentingnya pembaharuan. Oleh karena itu, media belajar yang digunakan disesuaikan menurut tahapan yang dipikiran matang. Siswa dan guru merdeka belajar harus selalu refleksi. Karena suatu pelaksanaan belajar-mengajar adalah proses yang harus mencerdaskan dan bermakna. Maka dibutuhkan refleksi dan evaluasi untuk mengerti sejauh mana perkembangan potensi, apakah proses belajar yang sudah dilaksanakan sudah berjalan efektif. Refleksi juga sangat penting untuk mengetahui hal-hal mana yang harus diperbaiki dan ditingkatkan.  Sesi Nobar dan saling berbagi ini sungguh menyenangkan. … Read more

Apakah Merdeka Belajar Itu?

Apakah merdeka belajar adalah jargon baru?Tidak dipungkiri setelah Mas Menteri membumikan merdeka belajar banyak guru yang masih asing meskipun sebenarnya bukan hal yang baru lagi. Merdeka belajar ini sudah pernah dibumikan oleh Ki Hajar Dewantara. Dengan penggantian UN menjadi asesmen belajar banyak guru yang mulai bertanya-tanya apakah merdeka belajar itu?. Oleh karena itu, untuk menjawab ini KGB Tulungagung mengadakan temu pendidik daerah yang mengangkat topik merdeka belajar ini. Selanjutnya penggerak dan rekan guru sepakat mengadakan temu pendidik pada Minggu 22 Desember 2019 di MI Sakti modern. Mudik hari ini dihadiri 19 guru. Alhamdulillah guru yang bisa hadir di mudik hari ini bisa bertambah dari sebelumnya. Hal ini menambah motivasi kami untuk saling berkolaborasi dengan rekan seperjuangan yang mempunyai misi yang sama yaitu menjadi guru yang merdeka belajar. Perlukah Kompetisi Pada Proses Belajar? Pemantik diskusi dimulai oleh pak Anam dengan Learning is not about competition. Pak Anam memulai diskusi dengan menceritakan pendidikan di Singapura dan Finlandia. Selanjutnya pak Anam mengajak guru guru untuk berefleksi apakah pendidikan yang diwarnai dengan kompetisi bisa membuat murid bahagia dan mengerti tujuan belajarnya? Kompetisi memiliki banyak dampak diantaranya lemahnya kolaborasi murid. Kompetisi tidak selalu buruk, kompetisi juga dapat melatih murid dalam hal menghadapi tantangan. Namun, value itu tidak bisa dapat dirasakan oleh semua murid. Murid yang berhasil melalui kompetisi dianggap berhasil sedangkan murid yang gagal melalui kompetisi dianggap tidak sukses selain itu hanya murid tertentulah yang dapat mengikuti kegiatan kompetisi ketika di sekolah. Di sini letak miskonsepsi itu, semua murid berhak belajar dan berhasil setelah gagal. Kompetisi adalah satu bagian kecil dari proses belajar tentang tantangan. Sekarang saatnya guru-guru bisa mengajak murid-muridnya untuk memperbanyak kolaborasi daripada kompetisi diantaranya merancang kegiatan pembelajaran yang mendukung kerjasama antara murid yang satu dengan yang lainnya, mengadakan kegiatan belajar bersama dengan instansi atau kegiatan berbasis proyek. Tentunya kegiatan kegiatan seperti ini tidak hanya menantang murid, menyenangkan dan bermakna tentunya juga dapat melatih siswa untuk dapat survive dengan memahami bahwa keberhasilannya dalam belajar tidak semata karena usaha mandirinya tetapi teman, guru dan keluarga juga ada keterlibatan disana. Jadi murid pun juga mengerti makna bahwa manusia itu adalah makhluk sosial yang tidak cukup hidup sendiri dan hanya mengedepankan kompetisi. Apakah Merdeka Belajar Itu? Pemantik diskusi kedua oleh bu Evy Ramadina dengan topik merdeka belajar. Diskusi topik kedua ini bu Evy mengajak teman teman guru menuliskan apa yang telah diketahui tentang apakah merdeka belajar yang saat ini hangat dibicarakan se Indonesia. Menarik, ternyata sangat beragam jawaban dari teman guru. Ada yang menjawab “Merdeka belajar itu bebas, tidak ada aturan, santai, menyenangkan dsb.” Selanjutnya bu Evy memulai diskusi dengan memaparkan apa poin penting dari merdeka belajar yaitu komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara dan mau berefleksi. Tiga hal ini merupakan suatu siklus yang saling terhubung. Selanjutnya, kami mendiskusikan contoh pembelajaran di kelas seperti apakah yang merdeka belajar itu?. Merdeka belajar bukan tanpa aturan tetapi melibatkan anak anak dalam membangun kesepakatan untuk komitmen pada tujuan belajar. Merdeka belajar merupakan pembelajaran yang mandiri terhadap cara yang memungkinkan setiap murid bahagia dengan caranya dan tetap dijalan kesepakatan bersama. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Acara terakhir rekan rekan guru melakukan refleksi bersamaApakah selama ini masih berkutat di kompetisi murid saja?Lalu apakah murid murid sudah diajak saling berkolaborasi dengan rekannya?Apakah pembelajaran di kelas selama ini sudah merdeka belajar?Dan apakah gurunya sudah merdeka belajar?Dari sini kami sepakat bahwa guru yang merdeka belajar bisa mendampingi muridnya untuk merdeka belajar. Jadi, berikutnya guru guru kembali ke sekolahnya masing masing dan menerapkan merdeka belajar di kelas. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar?

Beasiswa Murid Penyandang Disabilitas

Beasiswa Murid Penyandang Disabilitas yang diberikan oleh NusantaRun melalui program Pendidikan untuk Semua tidak seperti membalikkan telapak tangan. Ada serangkaian aktivitas sebelum murid mendapatkannya. Ada proses pelatihan guru, agar murid yang akan menerima beasiswa murid penyandang disabilitas ini bisa mendapatkan asesmen dan intervensi yang tepat pula. Beasiswa ini juga tidak sekadar menuntuk guru untuk melakukan sesuatu, juga mengajak orangtua untuk peduli. Karena sebelumnya banyak orangtua tidak tahu akan karier murid penyandang disabilitas setelah lulus nanti. Setelah melakukan seleksi terhadap 175 murid yang mendaftarkan diri untuk mendapatkan beasiswa murid penyandang disabilitas. Maka diputuskan sebanyak 80 murid yang akan mendapat kesempatan ke tahap berikutnya. Delapan puluh murid inilah yang akan mengikuti pelatihan keterampilan belajar. Silakan bisa diunduh undangan serta pengumuman di tautan di bawah ini. PENGUMUMAN JAWA TENGAHPENGUMUMAN YOGYAKARTA

Membahas Arti Merdeka Belajar

Apakah arti Merdeka Belajar itu? Bagaimana melaksanakannya? Apa yang didapatkan oleh guru dan siswa dengan merdeka belajar? Lalu bagaimana “Meneropong Konsep Merdeka Belajar Kemendikbud” dalam hal ini guru merdeka belajar melalui  Kebijakan Menteri Pendidikan? Pertanyaan –pertanyaan dan rasa penasaran membahas arti merdeka belajar muncul dari guru-guru Yayasan Al Hikmah, Maros. Komunitas Guru Belajar Maros berkolaborasi KGB Makassar meramu Temu Pendidik Daerah (TPD). TPD ini berisi kegiatan Nonton bareng Guru Merdeka Belajar pada Sabtu, 21 Desember 2019 di SDIT Al Hikmah Maros. Dalam diskusi kali ini sebagai narasumber adalah Ketua KGB Makassar dan para penggerak KGB Makassar. Seluruh sesi dipandu oleh moderator Pak Rudy.  Acara nonton bareng dilanjutkan dengan diskusi membahas arti merdeka belajar diantara para guru. Acara Nobar Guru merdeka dibuka oleh ibu kepala sekolah SDIT Al Hikmah, dalam sambutannya beliau mengatakan sangat senang dengan adanya kegiatan seperti ini, karena sebelumnya beliau punya  harapan ingin berdiskusi tentang bagaimana kebijakan menteri yang baru, dan sangat bersyukur Komunitas Guru Belajar hadir menjadi fasilitator dalam kegiatan tersebut. Hal tersebut juga diapresiasi oleh kepala sekolah TKIT Al Hikmah Maros, sangat senang dengan adanya diskusi seperti ini.  Sudahkah kita memahami arti Merdeka Belajar? Oleh Pak Rudy selaku moderator dalam acara nonton bareng tersebut, membuka dengan kalimat sudahkah kita merdeka belajar? Beliau memberikan contoh sebagai guru IPA dengan keterbatasan fasilitas LAB dan bahwa mengajar IPA tidak pumya LAB jatuhnya ke hafalan. Benarkah demikian? Menurutnya tidak seperti itu. harus kreatif dan tidak dibatasi kondisi fasilitas yang ada. Dia kemudian memberikan contoh dengan materi lensa cekung yang menggunakan sendok makan sebagai contoh.  Lanjut Pak Rudy, mengatakan bahwa bagaimana anak dapat merdeka belajar? Caranya sangat mudah, manfaatkan media yang ada di sekitar kita.  Ibu Guru Anita  Taurisia Putri selaku narasumber dalam diskusi nobar tersebut memberikan penjelasan mengenai empat kebijakan baru menteri pendidikan, bapak Nadien.  Termasuk tentang konsep guru merdeka berdasarkan konsep Komunitas Guru Belajar. Oleh Guru Indra dari KGB Maros, dari konsep pemahaman beliau masih terperangkap oleh miskonsepsi merdeka belajar. Oleh  guru Kasmiatang, mengatakan bahwa guru merdeka adalah bahwa membahas tentang guru endingnya adalah berawal dan berakhir di murid, guru merdeka  adalah guru yang bebas berinovasi tanpa tekanan. Tidak terjebak dan terfokus pada tugas administratif guru. Lain halnya oleh pak guru Irfan, menurutnya pendidikan adalah dakwah. Pernahkah guru mengeluh bahwa murid itu nakal ? Mengajar murid yang nakal adalah bagian dari dakwah juga.  Itulah tantangan dakwah. Visi pendidikan membawa murid ke surga, katanya. Dengan meningkatkan potensi amal, mari sinkronkan keinginan antara anak, orang tua dan guru. Memperjelas objek dakwah, kita harus mengambil sudut pandang pada anak-anak, jangan menggunakan sudut pandang pribadi sebagai guru untuk mengukur anak. Oleh pak guru Irfan mengatakan bahwa guru harus mampu memahami murid. Beliau memberikan contoh, kegiatan kepramukaan misalnya membagi pola pendidikan sesuai pola umur (1-4 tahun Siaga, Penggalang umur 5-6-7-8-9 Tahun dan penegak untuk SMA dan Mahasiswa). Pendidik yang Merdeka Belajar Sebagai pendidik harus bisa menyesuaikan dengan objek pendidikan kita dalam hal ini anak didik. Menurut pak Arif, bagaimana guru akan menjadi perwakilan Allah di muka bumi ini? Seorang guru harus memahami murid, mereka belajar (murid) adalah bagian dari tantangan belajar yang juga bagian dari dakwah. Misalnya rasanya keliru anak diminta belajar sementara orang tua sibuk main HP.  Oleh guru Adel, Penggerak KGB Makassar  mengatakan memanfaatkan potensi yang ada, memahami murid sesuai kebutuhan dan keadaan.Memahami murid menjadi rambu bagi muridnya. Guru mengikuti pola yang disenangi, dimasukkan kedalam pelajaran. Apa yang dibutuhkan anak itu yang harus diajarkan. Satu pesan dari Bu Guru Permata dari SMK Darussalam “Cukup jadi diri sendiri jika ingin menjadi ” Menjadi guru merdeka itu harus kreatif tidak mengajar karena tuntutan pimpinan tetapi karena beban moril, bahwa mengajar dengan baik adalah tanggungjawab di akhirat. Menjadi Guru Merdeka adalah guru yang kreatif dan inovatif dalam mengajar, memahami apa yang dibutuhkan oleh seorang murid.  Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Kutipan dari Bu Elaa “Guru tidak bisa belajar sendiri”-“Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen akan tujuan, Guru yang mandiri, dan Guru yang Bercermin (refleksi)” Merdeka belajar adalah proses dimana seorang guru mampu memerdekakan dirinya terlebih dahulu dalam proses belajar mengajar dan mampu memberikan rasa nyaman serta rasa merdeka belajar bagi siswa- siswanya. Atau dengan kata lain Merdeka belajar juga  adalah bagian dari proses belajar seorang guru untuk memiliki komitmen, mandiri serta reflektif, dimana seorang guru ketika belajar dan mengajar tidak terjebak pada persoalan-persoalan administratif tetapi memiliki kesadaran untuk belajar karena kebutuhan alamiah menuju tujuan yang bermakna bagi diri sendiri dan bagi orang lain.

Konsep Merdeka Belajar di Sijunjung

Agar memahami konsep merdeka belajar. Komunitas Guru belajar Sijunjung mengadakan Temu Pendidik Daerah (TPD) ke–18. Acara ini dilaksanakan pada Jumat, 17 Januari 2020 pukul 13.30 – 17.00. Bertempat di kediaman Bu Sri hastuti Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sijunjung. TPD ini memiliki kegiatan nonton bareng. Dimoderatori oleh Ibu Novi Edmawati, sebagai salah satu penggerak dari KGB Sijunjung. Peserta yang hadir lebih kurang 15 orang, berasal dari Guru Kelompok bermain ( KB),SD,SMP, dan SMK. Kegiatan Nobar dipandu oleh Ibu Sri hastuti yang sudah mengikuti (Temu Pendidik Nusantara) tahun 2018 dan tahun 2019. Beliau juga aktif di Komunitas Guru Belajar.  Beliau adalah sosok yang mengayomi dan mampu menjadi teladan bagi Guru–guru yang ada di Sijunjung. Keresahan Guru pada Pendidikan Kegiatan Temu pendidik diawali dengan saling mengenalkan diri. Ada beberapa teman yang baru bergabung di Komunitas Guru Belajar Sijunjung ini. Kegiatan ini berlangsung 15 menit. Kemudian kegiatan dilanjutkan oleh  Bu Sri hastuti tentang Komunitas Guru belajar. Beliau menjelaskan Latar belakang komunitas ini. Komunitas terbentuk karena timbulnya keresahan dari para guru tentang Pendidikan Di Indonesia. Bu Tuti menayangkan tentang video guru Merdeka belajar. Guru–guru yang hadir antusias dalam menonton dandiajak memperhatikan penjelasan Konsep Merdeka belajar dan  miskonsepsi belajar. Setelah selesai menonton, peserta melakukan refleksi “Apakah yang sudah diketahui tentang konsep guru merdeka belajar?” Saya sebagai guru merasa Bahagia bisa berada di Komunitas ini. Berada di antara Guru–guru hebat. Bukan hanya hebat di Sijunjung saja tapi sudah sampai ke Jakarta. Orang–orang pilihan yang dianugerahkan Allah kepada saya untuk bisa bergaul dengan mereka. Komunitas ini membuka cakrawala saya tentang belajar itu seperti apa. Bagaimana Guru yang Merdeka Belajar? adalah guru yang komitmen pada tujuan, guru yang bisa mandiri dalam mengatasi masalah yang dihadapinya dan guru yang selalu refleksi, berkaca diri atas apa yang telah ia lakukan. Merupakan guru yang memerdekakan murid. Guru dan murid merasa merdeka dalam proses pembelajaran. Guru merdeka adalah orang yang selalu mengembangkan dirinya untuk menjadi lebih baik. Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Bu Tuti  juga menjelaskan tentang miskonsepsi selama ini yang terjadi di kalangan pendidik dan dunia pendidikan barangkali. ada pernyataan yang salah kaprah atau miskonsepsi belajar seperti satu, Guru belajar karena insentif eksternal. Dua, Guru belajar harus dari ahli, tiga, Belajar cukup terbatas “How to”. empat, belajar diburu target yang dipaksakan,lima, Kompetensi bersifat individual. Miskonsepsi yang ada pada diri saya yaitu Belajar cukup terbatas “How to”. Selama ini mungkin saya mengajar hanya tahu cara tanpa saya tahu tujuan yang sebenarnya. Saya datang ke sekolah mengajar setiap materi yang dituntut kurikulum tanpa memahami tujuan akhir yang akan dicapai  peserta didik. Maka saya bertekad untuk mematahkan miskonsepsi belajar ini. Saya akan berusaha memahami tujuan dari apa yang akan saya lakukan. Saya akan terus bergabung di komunitas ini dan akan selalu menjadi guru yang merdeka belajar. Guru yang komitmen yang pada tujuan, mandiri dalam menyelesaikan kendala yang dihadapi, dan selalu refleksi atas apa yang sudah dilakukan. Saya akan terus bergabung di komunitas Guru belajar ini karena saya mendapatkan pencerahan dan memberikan energi positif yang harus selalu dipupuk agar berkembang menjadi lebih baik.

Guru Sejarah Merdeka Belajar

Guru Merdeka Belajar menjadi topik yang diangkat Komunitas Guru Belajar Makassar. Kegiatan bertajuk Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar dilaksanakan berkolaborasi dengan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI). Tidak hanya dari satu provinsi, ASGSI yang ikut berasal dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah. Diselenggarakan pada Sabtu, 14 Desember 2019 Pukul 08.00 – 10.00 WITA. Kegiatan bertempat di Gedung Guru Jusuf Kalla Disdik Sulsel, Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10 Makassar. Acara Nonton bareng Guru Merdeka Belajar yang dipandu oleh penggerak KGB Makassar. Aktivitas ini berlangsung di awal kegiatan sebelum acara Seminar Nasional dimulai. Pada sesi ini diputar video Guru Merdeka Belajar Najelaa Shihab. Nobar dipandu oleh guru Maurensyiah P., S.S., M.Pd dari SMK Darussalam Makassar yang biasa disapa Permata Hati.  Berikutnya, acara dilanjutkan dengan diskusi diantara para guru-guru sejarah 3 provinsi yang disebut tadi serta salah satu perwakilan Asosiasi Guru Sejarah Gorontalo. Acara Nobar Guru Merdeka Belajar sangat tepat ditampilkan dalam kegiatan AGSI kali ini, dan sesuai dengan tema yang diusung oleh panitia yaitu Sejarah Lokal : “Tantangan & Masa Depan “. Sudahkah Guru Sejarah Merdeka Belajar? Pemandu mengucap kalimat “Sudahkah guru-guru sejarah merdeka belajar?” Lalu, riuh muncul dari guru sejarah bahwa mereka adalah guru merdeka belajar. Jawaban spontan muncul “Ya, sudah pasti Guru Merdeka Belajar dong!” “Lalu, bagaimana anak dapat merdeka belajar?” “Dan bagaimana seorang guru sebagai guru yang merdeka dalam berinovasi mengajar”. Guru mampu memberikan inovasi-inovasi pembelajaran sejarah yang lebih kreatif. Bagaimana membangun kesan belajar sejarah bukanlah hal yang membosankan? Umpan pertanyaan ini lalu direspon beberapa guru. Guru Wartawati Damar dari  kabupaten Wajo menyatakan, “Guru sejarah itu harus kreatif menciptakan inovasi pembelajaran dan termasuk kreatif dalam mengenalkan literasi melalui karya tulisan sejarah.” Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Pemandu mengatakan “Cukup jadi diri sendiri jika ingin menajadi Guru Merdeka Belajar.” “Tidak perlu menjadi orang lain, perbaiki saja niat, tumbuhkan semangat dan ciptakan hal-hal yang kreatif dalam pembelajaran sehingga siswa akan menjadi nyaman dalam belajar.” Kreatif dalam berinovasi. Sebagai guru sejarah administrasi pembelajaran memang penting akan tetapi jangan dijadikan beban dan momok dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik. Sempat membagi pengalaman inovasi pembelajaran tentang belajar sejarah melalui video dokumenter, komik sejarah dan majalah sejarah yang diberi nama COMAAGTOON.  Guru Zulkifli mengatakan bahwa guru sejarah itu harus energik, karena guru sejarah tidak hanya mengajarkan masa lalu tapi juga mengajarkan masa kini dan masa yang akan datang karenanya dibutuhkan kreativitas mengajar yang baik. Guru Sejarah harus banyak berkarya lewat tulisan sejarah sebagai salah satu bentuk mengenalkan sejarah dan budaya bangsa kita. Dan bahwa literasi menulis dan literasi berupa lawatan sejarah adalah bagian atau wujud dari guru merdeka belajar. Guru sejarah memiliki potensi tersebut.  Diskusi tidak bisa berlangsung lebih lama lagi. Karena agenda utama seminar nasional telah siap dimulai dan dibuka dan presiden AGSI bapak Sumardiansyah Perdana Kusuma. Beliau yang akrab disapa mas Ryan telah tiba di lokasi kegiatan. Iringan musik dan tarian penyambutan telah bersiap-siap. Diskusi nobar guru merdeka belajar akhirnya berakhir. Harapannya diskusi akan hal tersebut akan kembali berulang di waktu yang akan datang. Arti Merdeka Belajar Di akhir diskusi pemandu kembali menyampaikan kutipan dari Bu Elaa “Guru tidak bisa belajar sendiri.”-“Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen akan tujuan, Guru yang mandiri, dan Guru yang Bercermin (refleksi).” Merdeka belajar adalah proses dimana seorang guru mampu memerdekakan dirinya terlebih dahulu dalam proses belajar mengajar. Guru mampu memberikan rasa nyaman serta rasa merdeka belajar bagi siswa- siswanya. Atau, dengan kata lain Merdeka belajar juga  adalah bagian dari proses belajar seorang guru untuk memiliki komitmen, mandiri serta reflektif. Seorang guru ketika belajar dan mengajar tidak terjebak pada persoalan-persoalan administratif. Tetapi memiliki kesadaran untuk belajar karena kebutuhan alamiah menuju tujuan yang bermakna bagi diri sendiri dan bagi orang lain.

Merdeka Belajar adalah cita-cita Guru

Merdeka Belajar adalah topik yang akhir-akhir ini menjadi pembahasan berbagai guru. Termasuk Komunitas Guru Belajar Gowa yang juga mengangkatnya, karena Merdeka Belajar adalah cita-cita komunitas ini. Bersama MGMP Sosiologi Kabupaten Gowa dalam Temu Pendidik Daerah kami membahas Merdeka Belajar. Berkumpul sesama guru adalah hal yang lazim dilakukan selama ini. Satu orang bertindak sebagai pembawa berita dan pembawa format. Peserta yang lain siap untuk mengeksekusi format tersebut. Kegiatan guru yang bersifat monoton dan mekanik ini mungkin sudah sejak lama berlangsung. Peserta dan pemateri hanya sibuk mendiskusikan tentang format-format dan kolom-kolom perangkat pembelajaran. Bahkan pada aktivitas tersebut tanpa sedikit pun membahas tentang perasaan-perasaan peserta didik. Perlu pula membincang tentang mimpi-mimpi siswa yang beraneka ragam padahal jumlah merekalah yang paling banyak. Mungkin sebagian guru rasanya ingin berbuat yang luar biasa terhadap muridnya. Namun yang menjadi kendala adalah hantu perasaan yang terlanjur menguasai dirinya sebelum berbuat, semoga dugaan saya salah! Menata kembali Orientasi Guru Hari Minggu 26 Januari 2020, di SMA Negeri 8 Gowa. Setelah Hari Raya Nyepi. Para guru dari berbagai daerah dan tingkatan di Kabupaten Gowa kembali berkumpul. Bukan kumpul biasa melainkan berkumpul untuk menata kembali tentang orientasi guru yang sesungguhnya. Guru yang mampu menjadi solusi terhadap problematika pendidikan. Guru yang sering gagal tapi selalu belajar dari kegagalan itu. Komunitas Guru Belajar Gowa bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran Sosiologi Kabupaten Gowa Menginisiasi Temu Pendidik Daerah. Agenda aktivitas ini adalah “Nonton Bareng Merdeka Belajar.” Merdeka Belajar adalah Jalan Terjal dan berliku menuju esensi pendidikan yang memanusiakan.  Sesaat sebelum Acara Nonton Bareng dimulai. Salah satu peserta perempuan berujar cocok mi inne Lebbak to nakke kulangngere Guru Merdeka Belajar, Apa itu kah (Saya juga pernah mendengar istilah itu, kira-kira apa yah ). Peserta lain berkata bahwa yang namanya Merdeka pasti baik ayo mi kita nonton bersama. Alhamdulilah Karena didukung oleh perangkat sound system yang memadai sesaat selepas moderator memutar Video Merdeka Belajar. Suasana kelas menjadi hening seluruh mata tersorot ke Whiteboard. Mata peserta menonton Video Merdeka Belajar yang berdurasi 15 menit . Terlihat para peserta sangat antusias terhadap putaran video tersebut. Mereka menyaksikan rinci demi rinci untuk berusaha memahami lebih dalam tentang konsep Guru Merdeka Belajar. Didapati dari video tersebut, ada 3 dimensi Merdeka Belajar yakni: Komitmen Pada Tujuan, Mandiri terhadap Cara, dan Melakukan Refleksi. Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Tidak terasa video Merdeka Belajar selesai diputar. Para peserta mengapresiasi video tersebut dengan sontak bertepuk tangan. Sebagian peserta nobar sibuk mencatat, ada pula peserta yang mengangguk dan terlihat juga peserta yang sudah siap untuk bertanya. Tampilan yang saya tangkap ini semoga itu semua adalah dinamika proses guru belajar menuju esensi pendidikan yang sesungguhnya. Moderator Kegiatan Nobar dalam hal ini adalah Luktfy Alam, S.Sos mengucapkan terimakasih kepada para peserta Nobar untuk meluangkan waktunya. Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan sesi refleksi dan diskusi yang akan dipandu oleh Narasumber dan Pemandu Nobar yaitu Ahmad Dharmawan Muslim, S.Pd. Adapun yang bertindak sebagai Koordinator Kegiatan adalah Adelia Octoryta dari Rumah Sekolah Cendikia.  Apa itu Guru Merdeka Belajar? “Terimakasih Bapak Ibu dan rekan-rekan sekalian.”“Mengawali sharing dan refleksi kita kali ini bolehkah saya sedikit bertanya kepada Bapak Ibu yang saya hormati?”Bolehlah Pak! Jawab Peserta.“Baik Bapak Ibu Sekalian kira-kira apa sih itu Guru Merdeka Belajar?” “Silakan dijawab dengan santai tidak usah tegang yah Bapak Ibu.” Kata Pak Ansary yang juga Sekretaris MGMP Sosiologi bahwa “Guru merdeka belajar adalah guru yang mengedepankan kebijaksanaan dalam menjalankan tugas profesinya sebagai guru dan pendidik.”Menurut beliau Guru Merdeka Belajar adalah guru yang peka terhadap lingkungan sekitar. Guru Merdeka Belajar mampu menjadikan lingkungan sekeliling sebagai sumber belajar. Pada sesi refleksi seorang peserta mengkritisi tentang kondisi kurikulum. Dikatakn kurikulum selalu berubah dan cenderung berganti-ganti. Ternyata keluhan tersebut menjadi pintu yang baik untuk berjalannya diskusi yang menarik. Keluhan tersebut langsung saja direspon secara santai oleh narasumber bahwa benar. Sepanjang waktu kurikulum selalu berubah mengikuti tuntutan dan perkembangan zaman.“Nah poin pentingnya adalah apakah ketika kurikulum terus berubah cara mengajar mengajar kita juga berubah?”“Kalau kurikulum berubah terus cara mengajar kita tidak berubah maka bisa dipastikan bahwa ada ruang yang senjang antara kebutuhan murid dengan apa yang kita lakukan di ruang kelas.” Pak Ahmad Dharmawan, S.Pd selaku Narasumber Nobar Kali ini menjawab tegas. Dari penjelasan peserta pun seakan memahami keadaan tersebut.  Dinamika Merdeka Belajar Para peserta sangat antusias dan bersemangat dalam menyambut dinamika Merdeka Belajar. Tidak sedikit yang langsung mengatakan Pak Luktfy pulang dari Nobar ini saya akan berubah. “Saya mencoba untuk melakukan praktek-praktek yang berorientasi pada tujuan pembelajaran dan kebutuhan peserta didik”. Guru Hasdia yang bertugas di SMA Aksara Bajeng mengutarakan bahwa Guru Merdeka Belajar adalah semacam petunjuk anti keliru bahwa ternyata seorang guru itu ketekunannya harus diprioritaskan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang bermakna. Guru yang bukan hanya sekedar tekun tanpa tujuan. Dikatakan bahwa muara dari merdeka belajar adalah kondisi yang bahagia antara guru dan peserta didik karena tujuan mereka tercapai. Guru haruslah merdeka baik dalam berpikir, bersikap dan bertindak. tutur Hasdia, S.Pd  Seirama dengan yang lain Guru Nurul Saada dari SMA Batara Gowa mengatakan bahwa Guru Merdeka Belajar adalah guru yang senantiasa memberikan usaha yang terbaik dalam membuat siswa mampu untuk memahami apa yang mereka pelajari. Guru yang mampu mengkorelasikan dalam kaitannya dengan kehidupan keseharian mereka. Ibu Saada menambahkan bahwa pembelajaran yang kita laksanakan harus menjamin adanya dampak yang signifikan terhadap tumbuh kembang kognitif, afektif dan psikomotorik peserta didik. Beliau menjamin selepas kegiatan Nobar akan melakukan perubahan- perubahan progresif dalam mendesain rencana pembelajarannya.  Ibu Eramiati dari SMA Negeri 14 Gowa memulai pandangannya. “Alhamdulilah dari kelima miskonsepsi tadi sepertinya tidak ada yang terlalu dekat.” Beliau berpendapat bahwa dunia pendidikan adalah segmen yang selalu mengalami perubahan sesuai dengan arus perubahan sosial. Guru yang merdeka adalah guru yang selayaknya mengajarkan hal-hal yang kontekstual. Guru mengajar seiring dengan arus global perubahan sosial dengan tetap berpegang teguh pada kode etik keguruan, nilai dan falsafah pendidikan Indonesia. Beliau sangat berharap kedepannya dunia pendidikan khususnya guru harus beradaptasi. Guru siap dengan berpindahnya sebagian aktivitas pendidikan dalam dunia digital virtual. Sebesar apapun perubahan dunia global guru harus tetap berdiri kokoh dalam menanamkan hal-hal yang baik dan benar. Harapan Baru Bagi Guru Pertemuan hari ini tergolong cukup luar biasa tidak terasa … Read more

Guru yang Merdeka Belajar, Guru Adaptif

“Bagaimanakah pendidik yang adaptif itu?”Pertanyaan yang diajukan guru Niam membuat peserta Nonton bareng video Guru Merdeka Belajar dari Najelaa Shihab di TPN 2016 terhenyak. Kemarin tepatnya pada hari Sabtu, tanggal 21 September 2019 telah dilaksanakan nonton bareng video guru Merdeka Belajar yang dipandu oleh saya sendiri, Mahendrayana. Kegiatan ini dilakukan di kediaman saya yang berlokasi di Jl. Pembangunan 2, Pekalongan. Penonton tampak serius menyaksikan menit demi menit video rekaman ibu Najelaa Shihab tersebut. Beberapa penonton nobar terlihat penasaran, ketika sesi diskusi, berbagai ide dan pandangan mulai dituangkan satu per satu oleh para peserta Nobar yang terdiri dari Guru Niam, Guru Madya, Guru Eki, Guru Li’lli, Guru Danny dan Guru Uzly. Ada beberapa pertanyaan yang langsung terbersit begitu mendengar definisi ini, terutama bagi kita yang jarang mempertanyakan tujuan, dan sekadar ikut saja dalam perjalanan. Komitmen seseorang yang Merdeka Belajar adalah ketekunannya dalam perjalanan menuju tujuan yang bermakna bagi diri sendiri. Banyak murid maupun guru yang masuk kelas tanpa tujuan dan kejelasan. Tak heran saat ditanya bagaimana kelas hari ini, atau apa yang dipelajari hari ini, jawaban langganan adalah biasa saja atau malah tidak tahu. Padahal, negara menganggarkan tak sedikit untuk pendidikan dari APBN, bahkan telah diatur di pasal 31 UUD 1945 bahwa sedikitnya 20% anggaran digunakan untuk sektor Pendidikan. Tujuan pendidikan yang mencerdaskan bangsa lewat jalan demokratis tak boleh menyia-nyiakan anggaran tersebut.  Sangat diperlukan proses belajar yang bermakna mensyaratkan kemerdekaan guru dan murid dalam menentukan tujuan dan cara belajar agar menciptakan proses pembelajaran yang sangat efektif. Murid merdeka menetapkan tujuan belajar bersama, memilih cara belajar yang efektif, dan terbuka melakukan refleksi bersama guru.  “Sebagian besar anak Indonesia mimpinya hanya sebatas tingginya tangan saat menjawab pertanyaan guru di kelas” begitu yang disampaikan Ibu Najelaa. Hal ini dibenarkan oleh pendapat Guru Niam yang menceritakan pengalamannya ketika menjadi kepala sekolah. “Sekarang, zaman sudah berubah, guru di sekolah saya harus menjadi guru merdeka belajar…” tuturnya.  Padahal seharusnya lewat pendidikan, anak-anak mampu memiliki aspirasi yang tinggi. Menurut video tersebut, kondisi ini hanya terjadi saat anak-anak memiliki kemerdekaan belajar. “Jadi, tak hanya gurunya saja yang merdeka, namun juga muridnya” begitu pendapat dari guru Eki.  Proses kemerdekaan belajar baik itu dari sisi murid maupun guru, adalah bukan sesuatu yang diberikan melainkan sesuatu yang diusahakan. Ada hal yang sangat esensial dalam kemerdekaan belajar yaitu Komitmen, Mandiri, dan Refleksi.  Komitmen artinya adalah tetap berpegang teguh pada tujuan. Tentu hal ini tak mudah. Pendidik sering terjebak pada tugas-tugas administratif, ketentuan birokratis, akreditasi, ujian, nilai, yang semua itu adalah cara atau teknis pelaksanaan, bukan tujuan. Cara dilakukan untuk mencapai tujuan dari pendidikan, akan tetapi prioritas seolah mengunggulkan cara lebih tinggi daripada tujuan. Kemandirian memiliki banyak tingkatan yang harus dilewati yaitu manipulasi, kesadaran, dialog, kemitraan, masukan, kendali, pemberdayaan. Sebagian dari pendidik tak mampu melewati tingkatan kemandirian karena terhalang bahkan sejak awal langkahnya. Masih banyak manipulasi dan kemandegan dialog serta kemitraan di lingkungan pendidikan.  Refleksi sering susah dilakukan sebab kita takut akan perubahan. Yang ada kita beralasan murid belum paham, orang tua menentang, dan lain sebagainya.  Diskusi makin serius ketika membahas permasalahan ruwetnya kemerdekaan belajar di sistem pendidikan di Indonesia. Ibu Najelaa memaparkan mengenai kompetensi yang beragam dan sering tak sesuai dengan siswa. Hal ini memicu guru Uzly untuk beropini tentang kasus yang pernah ditemui. Bagaimana ada seorang guru mengampu beberapa mata pelajaran yang sangat berbeda dikarenakan kurangnya tenaga pendidik.  Reformasi pendidikan butuh waktu, bahkan dalam video disebutkan “Lebih susah dibanding menerbangkan Apollo”. Hal ini menyangkut pemangku kepentingan, sumberdaya, dan keberhasilan itu sulit dilihat.  Hal yang sekarang perlu dilakukan oleh pendidik adalah melawan miskonsepsi tentang proses guru belajar. Banyak yang bilang guru itu mau belajar jika ada insentif dan sertifikat. Padahal seharusnya belajar adalah proses alamiah, yang akan terjadi terus menerus. Miskonsepsi selanjutnya adalah guru hanya mampu belajar dari ahli atau pakar. Guru yang Merdeka Belajar mampu belajar dengan sesama guru. Dan cara inilah yang paling efektif. “Guru tak perlu figur sempurna, guru itu perlu figur realitis, guru lain yang belajar dan mempraktekkan apa yang dia pelajari” papar Najelaa Shihab. Guru cukup belajar how to nya? Resepnya? Oh ternyata, guru belajar adalah guru yang paham konsep, belajar dengan tujuan dalam konteks. Guru yang profesional adalah guru yang adaptif, sebab kebutuhan setiap murid akan berbeda setiap harinya.  Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Ingin mengubah dunia pendidikan ke arah yang jauh lebih maju adalah impian saya sejak masih di bangku sekolah. Saya tergolong sangat awam di dunia pendidikan, profesi saya yang jauh dari inner circle pendidikan, bahkan beberapa rekan saya menyayangkan saya ketika mendaftar untuk menjadi anggota Komunitas Guru Belajar. Namun ketika mendengar ibu Najelaa bilang “Guru yang merdeka belajar adalah kunci pendidikan” rasanya ini sangat memacu untuk lebih banyak mencari tahu soal ini. Pada saat bicara guru merdeka belajar adalah kunci, maka ini bukan menyangkut individu melainkan ekosistem. Sebab tidak ada guru yang bisa belajar sendirian, perlu adanya jaring-jaring saling mengisi kompetensi antar guru.  “Bahwa kita dan apa yang kita lakukan adalah yang kita nanti-nantikan, jadi kita tak perlu menunggu siapapun untuk merdeka belajar” tutup Ibu Najelaa Shihab yang disambut tepuk tangan peserta nobar. “Sepakat untuk bersama-sama mewujudkan guru merdeka belajar” ucap Guru Niam sebagai refleksi atas video. “Siap melewati tingkatan menuju kemandirian” sambut guru Eki. Saya sebagai pemandu acara nobar ini senang sekali dengan antusiasme yang diperlihatkan teman-teman. Pada nobar Merdeka Belajar ini boleh jadi saya baru bisa mengajak 6 peserta, namun hal ini justru menguatkan semangat saya untuk mengajak lebih banyak lagi teman-teman agar konsep merdeka belajar ini semakin meluas efeknya. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik: