Merdeka Belajar di Tengah Kepungan Asap

Siang itu (21/09/2019), setelah anak-anak kembali ke rumahnya masing-masing, Guru-gurunya menggantikan posisi mereka di tengah ruang kelas, mereka memenuhi ajakan saya untuk mengadakan temu pendidik daerah pertama, nonton bareng video Guru Merdeka Belajar.  Ini bukan Riau ataupun Kalimantan belakangan ini menjadi pusat perhatian kita semua karena kekelabuan keadaan yang menyandera mereka akibat aktivitas pembakaran hutan. Tempat ini adalah sebuah dusun kecil yang menjadi sebuah batas desa, Kampung Jawa namanya, sebuah daerah yang ditempuh Sembilan jam  dari Kota Terbesar ketiga di Indonesia yaitu Kota Medan. Bersentuhan dengan pendidik adalah rutinitas saya sehari-hari kini dan beberapa waktu ke depan. Namun di  tempat ini saya melihat ada kesenjangan antara semangat belajar dengan kesempatan yang hadir diantara mereka. Awal saya membersamai mereka, Salah seorang guru mengatakan  ini adalah penantian yang cukup panjang buat mereka. Selama ini kami ingin mengembangkan diri sebagai seorang guru, tetapi bingung mau ke mana dan ke siapa. Di mereka saya menemukan nyala kesadaran Merdeka Belajar telah hadir dan harus diperkuat, sehingga awal Temu Pendidik Daerah ini saya mengawalinya dari mereka.  Temu Pendidik Daerah pertama di Kabupaten Labuhanbatu menjadi langkah awal untuk mendekatkan kesempatan belajar ke guru-guru daerah, dimana seringkali perhatian untuk pengembangan guru hanya mendatangkan guru bukan mendatangi mereka. Seringnya juga pelatihan untuk pengembangan guru sering hanya untuk guru itu-itu saja, tidak ada ruang kesempatan ke guru-guru yang lain, sehingga sungguh perlu memang menghadirkan temu pendidik daerah ini mengakomodir keinginan-keinginan guru daerah yang turut ingin berkembang.  Temu Pendidik Daerah pertama yang kita laksanakan pada hari Sabtu, 21 September 2019 di MTs Uswatun Hasanah, Kampung Dalam Labuhanbatu. Sengaja Temu Pendidik Daerah ini dilaksanakan di sana karena wilayah tersebut adalah perkampungan yang cukup jauh dari Ibukota Kabupaten dan beberapa sekolah juga berdiri di sana.  Madrasah ini menjadi pemutus mata rantai persoalan anak-anak putus sekolah, didirikan dari sebuah kepedulian seorang Ibu yang melihat banyak anak-anak di sana yang tak melanjutkan sekolah karena ketiadaan sekolah dan jikalau ada sekolah tersebut sangat jauh dari pemukiman mereka.  Kegiatan Temu Pendidik Daerah ini dilaksanakan selama dua jam, tanpa aktivitas yang terlalu formal. Di buka dengan mengenalkan apa itu Kampus Guru Cikal, menyampaikan misi tentang kedepan kita harus optimis, pengembangan guru akan menjadi upaya terus-terusan, guru-guru bisa punya kesempatan belajar dan membahas persoalan-persoalan apa saja yang membuat guru sulit berkembang.  Peserta yang tengah hadir antusias melihat sambutan Bu Najelaa Shihab di dalam Video Guru Merdeka Belajar. Mereka mencatat poin-poin yang disampaikan Bu Elaa mengenai 3 Karakteristik Guru Merdeka Belajar diantaranya adalah Komitmen, Mandiri, Relflektif.  Dalam kesempatan itu lewat Miskonsepsi yang diutarakan oleh Bu Elaa kita melaksanakan refleksi mengenai keadaan hari ini. Di tengah kegiatan muncul pertanyaan, sudahkah kita semua menjadi Guru Merdeka Belajar? Berbagai jawaban baik muncul dari peserta dan saya yang berperan dalam memoderatori pertemuan tersebut sangat tersentuh dengan masing-masing jawaban peserta.  Salah seorang yang hadir adalah Pak Supriadi, Pak Supriadi merefleksikan diri sebagai merdeka belajar dengan mengutarakan betapa ia selama ini salah menilai bahwa belajar harus ke ahli, sehingga dalam benaknya begitu sulit untuk menemukan tempat belajar, begitu sulit baginya untuk menemukan sosok yang tepat untuk ditanyai, lewat pertemuan pendidik daerah ia membuka pemahamannya mengenai guru bisa belajar ke guru.  “Saya yakin Bapak/Ibu Guru yang hari ini akan merdeka belajar, akan menjadi tempat belajar saya kelak”, ujarnya. Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Salah seorang pendidik lain Ibu Kasni mengirimkan pesan optimis kedepan lewat Komunitas Guru Belajar dan kesempatan Temu Pendidik Daerah mendatang ia akan menemukan dirinya yang baru, dirinya akan terbekali hal-hal baik agar proses mengajar di kelas menjadi sesuatu hari baik untuk siswa/i nya.  “Kualitas saya kedepan semoga menjadi lebih baik untuk anak-anak murid saya, ini seperti menjawab penantian panjang yang mendera kami semua”, katanya.  Setelah refleksi, peserta diajak narasumber untuk menganalisis diri mereka sendiri sebagai seorang guru yang akan merdeka belajar, analisis ini dilaksanakan dengan SWOT, Menjawab segenap harapan yang muncul dalam kegiatan Temu Pendidik Daerah tersebut, mampukah kita semua menjawabnya? Besarkah kemungkinan untuk menghadirkan ruang-ruang belajar murah-mudah yang berkualitas untuk para pendidik-pendidik di daerah ini?  Ini menjadi satu pertanyaan yang mendasar dan tidak sekadar untuk bisa dijawab. Ke depan barangkali kesadaran untuk mendekatkan kesempatan belajar menjadi hal penting untuk kita himpun bersama, agar optimisme-optimisme guru-guru yang hadir pada temu pendidik daerah itu bisa kita sambut bersama.  Gagasan yang lahir adalah kita bisa berbagi dengan apa saja, tidak melulu dengan kompetensi yang kita miliki, tapi dengan hal-hal yang bisa kita fasilitasi. Saat ruang belajar guru sudah hadir barangkali kita bisa menitipkan semangat lewat berbagai titipan hal-hal yang akan mendukung dari ruang belajar tersebut.  Kita bisa memfasilitasi banyak hal, dari kebutuhan pembelajaran seperti ATK, kebutuhan Transportasi dan lain-lain. Kita juga bisa melakukan upaya berbeda lainnya. Mengutip kalimatnya Bu Elaa tidak cukup dengan hanya mengatakan jika guru adalah kunci pendidikan, karena kunci pendidikan justru ada pada Guru yang Merdeka Belajar. Mari kita dorong bersama. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik:

Merdeka Belajar itu yang Seperti Apa?

Pertanyaan tentang “Apa itu Merdeka Belajar?”, kami bahas pada Rabu, 18 September 2019, melalui aktivitas temu pendidik yang tidak biasa dilakukan di sekolah kami. Bertempat di ruang kelas IA pukul 13.00-14.30 WIB, guru-guru SD Muhammadiyah 1 Muntilan, Magelang berkumpul untuk menonton bareng video Merdeka Belajar. Ini merupakan kegiatan yang tergolong baru di sekolah kami, karena sebelumnya belum pernah dilakukan. Pertemuan Kelompok Kerja Guru yang dilakukan secara rutin setiap bulan biasanya hanya sekadar membahas administrasi guru, agenda kegiatan sekolah dalam waktu sebulan ke depan, atau tentang laporan keuangan selama satu bulan.  Istilah tentang Guru Merdeka Belajar masih terasa asing di keseharian kami. Saya sendiri, Titik Nur Istiqomah, berperan sebagai moderator untuk membuka kegiatan nonton bareng ini. Bahkan ketika mau memulai kegiatan ini, ada peserta yang bertanya “Kita mau menonton bareng film apa? Lho, guru kok diajak nonton bareng?”  Saya lalu menjelaskan sebentar tentang video apa yang akan kami tonton di pertemuan hari itu. Sebelum pemutaran video, saya juga bertanya apa yang diketahui sebelumnya oleh peserta tentang Merdeka Belajar, hampir semuanya saling memandang satu sama lain, meminta bantuan pertimbangan dari yang lainnya untuk menjawab pertanyaan. Kemudian, pertanyaan saya ubah dengan meminta peserta mengungkapkan kira-kira apa arti Merdeka Belajar. Dari delapan peserta yang hadir, ada yang menjawab dengan kesempatan untuk belajar seluas-luasnya dan setinggi-tingginya. Ada yang menjawab belajar yang bebas dan tidak tertekan. Ada juga yang menjawab belajar tanpa terjajah oleh siapapun. Jawaban yang menarik. Dari jawaban-jawaban tersebut, pertanyaan menjadi merambah ke beberapa hal tentang siapa yang berhak mendapatkan kemerdekaan dalam belajar, bagaimana menjadi guru yang merdeka belajar, praktik merdeka belajar itu yang seperti apa. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kami melanjutkan sesi selanjutnya, yaitu mengamati video merdeka belajar oleh Ibu Najelaa Shihab.  Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Usai 15 menit mengamati video merdeka belajar, sesi paling menarik selanjutnya adalah refleksi. Refleksi dibuka dengan mengutip kata-kata ibu Najelaa Shihab, “Yang kita inginkan adalah anak-anak yang punya aspirasi tinggi, yang punya cita-cita melampaui langit, melampaui batas ruang kelas, melampaui batas dunianya. Dan itu hanya akan terjadi pada saat anak-anak punya kemerdekaan dalam belajar. Tapi kemerdekaan belajar murid-murid hanya dapat terjadi pada saat kita sebagai pendidik juga memiliki kemerdekaan. Apakah ibu-ibu sudah merasa merdeka dalam belajar?” Semua peserta mengungkapkan secara jujur bahwa mereka baru tahu kali ini tentang ciri-ciri Guru Merdeka Belajar. Ciri guru yang Merdeka Belajar adalah memiliki komitmen, memiliki kemandirian, dan melakukan refleksi. Namun, semua juga sepakat bahwa ternyata selama ini, masih banyak miskonsepsi yang kami lakukan dalam belajar maupun dalam mengajar. Kami mengakui, ternyata selama ini, kami belum menjadi guru yang merdeka belajar.  Salah satu peserta, guru Tesa Erma Yussie mengungkapkan bahwa di antara semua miskonsepsi yang disebutkan dalam tayangan, yang paling menggambarkan dirinya adalah terjebak pada tugas-tugas administratif, ketentuan-ketentuan birokrasi, hingga ujian, akreditasi, seleksi, nilai, yang sebetulnya semuanya hanya cara, kemudian menjadi tujuan, dan menjadi prioritas utama. Bahkan lebih tinggi dari prioritas tujuan pendidikan nasional sendiri atau prioritas kita masing-masing, mengapa kita memilih menjadi pendidik.  Guru Umi Nur Hanifah mengamini bahwa banyak dari kita yang menolak untuk melihat cermin dan terkesan menyalahkan pihak lain. Kita bilang masyarakat belum paham, kita bilang anak-anak tidak mengerti, kita bilang orang tua akan menentang. Padahal itu sebenarnya alasan dari ketakutan diri kita sendiri untuk menuju perubahan. Banyak kompetensi guru yang sama sekali tidak berdampak pada siswa, kesempatan peran dan jenjang karir guru yag masih terbatas, dan kesempatan kolaborasi di antara guru yang belum berkembang utuh. Guru Wiwin Setiyana memberikan kesimpulan dari hasil tayangan video yang beliau pahami adalah bahwa ternyata guru belajar paling efektif sebetulnya dari sesama guru lain yang belajar, mempraktikkan apa yang dipelajari, dan yang belajar banyak dari kegagalan sebelum akhirnya berhasil. Guru Indah Sulistyaningsih lalu menambahkan, “Sejak kemarin saya bertanya-tanya, guru yang merdeka belajar itu yang seperti apa? Sekarang terjawab sudah. Ternyata saya belum merdeka, namun saya ingin belajar menjadi guru yang merdeka belajar.” Forum diskusi kami tutup dengan kesepakatan dan kesepahaman bahwa kami sebagai pendidik akan melawan miskonsepsi guru merdeka belajar bersama-sama. Bahwa guru belajar bukan karena ada insentif, bukan juga untuk mendapatkan sertifikat, namun guru belajar karena kebutuhan alamiah. Kami sepakat bahwa guru merdeka belajar tidak diburu target yang dipaksakan. Namun, menyadari bahwa belajar butuh waktu untuk memahami apakah inovasi itu sudah sesuai dengan kondisi siswa ataukah malah tidak bisa dipakai. Guru yang merdeka belajar adalah kunci. Sehingga kompetensi bukan bersifat individual, namun potensi individu yang didukung oleh ekosistem yang baik. Tidak ada guru yang kompeten sendirian, bisa merdeka belajar sendirian. Ketika sampai pada pertanyaan terakhir di akhir sesi dalam kegiatan nonton bareng Guru Merdeka Belajar ini tentang kata-kata apa yang terngiang-ngiang dalam video dan harapannya akan dipraktikkan selanjutnya secara bersama-sama, guru Hesti Tri Rahayu mengungkapkan beliau sangat setuju dengan kalimat ibu Najelaa Shihab tentang mimpi kita adalah untuk membalik piramida pendidikan di Indonesia, sehingga bisa adaptif dan ada umpan balik yang berjalan. Apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk mendukung pemerintah, dan apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk meningkatkan cara, praktik-praktik baik yang sudah ada di masyarakat. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik:

Apa Pentingnya Merdeka Belajar?

Apa sih Komunitas Guru Belajar itu?Pada minggu siang, 4 Agustus 2019 Sekitar 30 Pendidik dari Solo Raya berkumpul dalam rangka Temu Pendidik Daerah, Acara ini diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar Soloraya dengan mengadakan nonton bareng atau nobar video guru merdeka belajar oleh Najelaa Shihab salah satu pendiri Kampus Guru Cikal dan Inisiator Komunitas Guru Belajar di Kecamatan Pasar Kliwon. Acara ini dihadiri para guru, pegiat pendidikan dan akademisi yang dimoderatori oleh Joko Utomo Seberapa Pentingnya Merdeka Belajar? Sebelum acara dimulai, moderator membuka acara dengan menjelaskan tentang profil apa itu komunitas guru belajar dan apa pentingnya merdeka belajar. Beliau menjelaskan bahwa Komunitas guru belajar  merupakan salah satu komunitas yang bertujuan untuk mewadahi para guru dalam belajar bersama – sama. Selama beberapa dekade ini mengenai kompetensi guru dipandang masih kurang visioner disebabkan faktor guru sendiri yang belum bersemangat dalam belajar untuk meningkatkan kualitas dirinya dan guru juga masih berstigma bahwa yang perlu belajar adalah siswanya serta guru masih belajar hanya kepada pakar pendidikan saja. Bahwa sebenarnya guru tidak hanya belajar kepada pakar pendidikan saja akan tetapi bisa belajar dengan sesama rekan guru yang lainnya. Mengenal Komunitas Guru Belajar Misi Komunitas Guru Belajar dalam berbagi praktik cerdas pengajaran dan pendidikan diwujudkan melalui: Temu Pendidik Mingguan melalui aplikasi TelegramTemu Pendidik Daerah baik daring maupun tatap muka.Temu Pendidik Nusantara yang dilaksanakan sekitar bulan Oktober setiap tahun. Komunitas Guru Belajar bertujuan untuk Menegakkan KEMERDEKAAN belajar: membangun guru berkomitmen pada tujuan belajar, mandiri belajar, merefleksikan proses & capaian belajar Mengembangkan KOMPETENSI: mendukung guru mengembangkan potensi diri melalui beragam cara, secara bertahap dan berjenjang Memperluas KOLABORASI: mendukung guru untuk saling berkolaborasi, mengenalkan dengan berbagai kerjasama untuk menerapkan kompetensinya  Mengembangkan KARIER: mendukung guru memilih dan mengembangkan pilihan karier protean Adapun manfaat dari bergabung di dalam Komunitas Guru Belajar adalah; pertama, Mendapatkan kesempatan saling berbagi berbagi praktik pengajaran dan pendidikan yang mutakhir dan terbukti di ruang kelas, Kedua Mendapatkan kesempatan pengembangan kompetensi melalui berbagai macam bentuk kegiatan kanal komunikasi, Ketiga Mendapatkan kesempatan berkolaborasi dengan rekan guru dan komunikasi dari berbagai daerah dengan latar belakang beragam, Keempat Mendapatkan kesempatan mengembangkan karier potensi dengan beragam pilihan peran dan kontribusi. Dan uniknya komunitas ini terbentuk dari para guru yang tergerak hatinya yang peka terhadap  tentang akan pentingnya belajar tentang pentingnya guru untuk menambah skill, ilmu dan lain sebagainya. Kampus Guru Cikal sebagai inisiator memberi dukungan berupa menyediakan fasilitator yang memandu proses pengembangan komunitas, pemandu yang mengelola dan menerbitkan pengetahuan, serta pelatih yang memberikan pelatihan yang dibutuhkan Komunitas Guru Belajar. Kolaborasi Komunitas Guru Belajar dan Kampus Guru Cikal menawarkan jalan lain dalam pengembangan guru untuk perubahan pendidikan Indonesia, jalan yang lebih penuh harapan.  Nonton Bareng Video Guru Merdeka Belajar Sesi berikutnya adalah sesi pemutaran video merdeka belajar. Peserta langsung memfokuskan pandangan ke proyektor layar. Tampak dalam video itu Najelaa Shihab mengenai apa dan mengapa “Merdeka Belajar”. Pada saat kita berbicara merdeka belajar, ibu dan bapak. Saya tuh selalu terbayang anak-anak. Sebagian besar anak Indonesia itu dunianya hanya sebatas ruang kelas, mimpinya hanya terbatas tingginya tangan untuk menjawab gurunya”. Kata bu Najelaa Shihab.  Dalam paparan video itu, terdapat lima miskonsepsi guru belajar disampaikan najelaa, diantaranya guru hanya dapat belajar dari para ahli, guru hanya mau belajar jika ada insentif, sertifikat,dll, dan belajar itu soal kompetisi, bukan kolaborasi. “Permasalahan pendidikan memang sangat kompleks. Untuk mereformasinya pasti butuh waktu dan kesempatan dari berbagai kepentingan”lanjut Najelaa. Refleksi Belajar Para Guru Akhirnya sampai pada menit terakhir, setelah nobar. Para peserta merefleksikan bersama-sama  dengan membagikan kertas kecil kepada para peserta. Dari refleksi peserta, didapati banyak didapati seputar konsep pendidikan dan pentingnya merdeka belajar sendiri.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Lanjut sesi selanjutnya bersama mas catur ayudiono tentang music toys composer. Sebelum acara workshop. Beliau memaparkan tentang materi tentang musik toys. Belia memaparkan bahwa Music yang dikomposisikan sendiri berasal memanfaatkan barang –barang mainan anak yang dikombinasikan dengan mengedit edit setiap bunyi mainan yang dimainkan.  Membuat Musik dengan Mainan “Untuk membuat composer musik dari mainan anak-anak itu sendiri bahan peralatan yang diperlukan yaitu mainan anak, recorder bisa melalui recorder handphone maupun lainnya, kamera handphone, laptop (aplikasi edit foto video  di laptop)” ucap catur Penjelasan  materi dari mas catur ayudiono, peserta tampak antusias melihat menyaksikan video yang ditayangkan mas catur di layar. Peserta begitu antusias bertanya kepada pembicara mengenai, “Hal apa saja yang pertama harus dilakukan dalam composer music dari mainan anak-anak? Bagaimana cara mengkolaborasikan setiap bunyi pada mainan anak-anak”.  Setelah acara materi, pembicara mengajak para peserta membuat  bersama music toys composer dengan memainkan music mainan anak-anak bersama selepas itu  dilanjut foto bersama para peserta. Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik:

Merdeka Belajar, Bolehkah Mengajar, Jika Tidak Mau Belajar?

Siang itu, Selasa (28/5) matahari Semarang begitu terik namun tidak menjadi penghalang bagi peserta yang terdiri dari para guru yang mengajar di SMPN 10 Semarang dan para anggota KGB Semarang untuk menghadiri acara “Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar”. Istimewanya lagi, ada peserta yang datang jauh-jauh dari Jepara dan Demak khusus untuk mengikuti acara ini.  Acara ini dibuka langsung oleh Kepala SMPN 10 Semarang Bapak Erwan Rachmat. Dalam pembukaannya Pak Erwan Rachmat, menyampaikan pesan bahwa sebagai seorang pendidik sudah seharusnya kita belajar, kalau tidak mau belajar jangan coba-coba menjadi pendidik yang mengajar. Pak Erwan yang sering mengisi kegiatan pelatihan pada guru-guru pun menjelaskan bahwa saat ini anak-anak lebih cerdas dibandingkan gurunya. Oleh karena itu, guru harus terus meningkatkan kapasitas pengetahuannya.  Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar Acara nonton bareng kai ini dipandu oleh bu Anik Puspowati. Para peserta dengan antusias menyimak video yang dipaparkan oleh Bu Najelaa Shihab tentang merdeka belajar. Tujuan dari Guru Merdeka Belajar adalah sebuah tantangan untuk melawan miskonsepsi yang sering disematkan kepada guru bahwa guru hanya mau belajar jika mendapat insentif baik dalam bentuk uang ataupun sertifikat.  Selain itu, terdapat miskonsepsi bahwa guru hanya bisa belajar dari para ahli atau pakar. Selesai menonton, bu Anik memberikan pertanyaan reflektif seputar merdeka belajar. Seperti pemahaman tentang merdeka belajar, penerapan merdeka belajar termasuk saat mengajar, dan bagaimana cara agar merdeka belajar ini terus diterapkan. Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Peserta saling berdiskusi. Hasil diskusi tersebut mematahkan miskonsepsi-miskonsepsi belajar guru yang selama ini diyakini. Seperti yang disampaikan bu Ida Guru BK bahwa beliau dapat belajar hal baru yang sebelumnya ia tidak bisa dari anak-anak. Apalagi anak-anak mempunyai pergaulan yang luas sehingga ia bisa tau beragam komunitas dari anak-anak. Dalam menerapkan merdeka belajar perlu adanya komitmen, kemandirian, dan refleksi. Tentunya hal ini harus diupayakan semua pihak dengan menyebarkan virus merdeka belajar. Merdeka belajar tentunya memiliki tantangan namun bukan berarti tidak bisa bukan? Anda masih penasaran tentang apa itu merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Berisi praktik para Guru yang mengajar dengan menerapkan merdeka belajarUnduh GratisKlik:

Pelatihan Guru Merdeka Belajar – Sudahkah Kita Merdeka Belajar?

KGB Makassar mengadakan kegiatan Pelatihan Guru Merdeka belajar pada Sabtu, 14 September 2019. Pelatihan kali ini dilaksanakan dengan berkolaborasi dengan Yayasan Pendidikan Darussalam Makassar, yang berlangsung di Meeting Room Kenanga SMK Darussalam Makassar. Acara pelatihan ini dimulai tepat pukul 09.00 WITA sampai pukul 17.00 WITA. Dalam pelatihan kali ini tampil pak Baja Seto dan pak Maman Basyaiban dari Kampus Guru Cikal selaku narasumber.  Pelatihan Guru Merdeka Belajar adalah proses belajar bersama para guru. Beberapa guru mengatakan bahwa awalnya sebelum pelatihan mereka mengira bahwa merdeka adalah bebas berekspresi. Awalnya mereka ingin tahu tentang apa itu Guru Merdeka Belajar. Belajar dari Pelatihan Guru Merdeka Belajar Menurut para peserta apa yang mereka pelajari dari Pelatihan Guru Merdeka Belajar adalah bagaimana guru sebagai seorang guru harus bisa merefleksi diri baik melalui kolaborasi sesama pendidik maupun melalui timbal-balik dari peserta didik. Oleh pak Maman mengatakan bahwa terdapat kolaborasi antar siswa  demikian halnya antar guru, jika guru ingin murid berkolaborasi, sebagai teladan, kita sebagai guru juga perlu berkolaborasi antarmata pelajaran. Beberapa guru juga masih mengingat dengan jelas ketika merefleksi hasil pelatihan Guru Merdeka Belajar salah satunya adalah pelajaran Matematika dengan materi bangun datar. Salah satu guru juga dalam refleksi pelatihan ketika pak Baja seto bertanya menyebutkan materi yang mereka dapatkan adalah diantaranya tentang Intentional Learning (Pengajaran langsung) dan Self Regulated learning. Materi lain penilaian diri dalam 4K. Oleh Anita Taurisia Putri salah seorang penggerak mengatakan bahwa dalam keseharian banyak hal yang berkaitan dengan Matematika, akan tetapi kita terpaku pada rumus atau angkanya, kita tidak memasukkan dalam realita kehidupan, sehingga menganggap peralatan Matematika susah, padahal keseharian kita penuh dengan Matematika. Penggerak lain, Erni Marlina mengatakan bahwa selaku guru  Bimbingan & Konseling, anak-anak selalu senang jika belajarnya tidak monoton berupa ceramah, jadi hendaknya belajar selalu diakhiri dengan ungkapan dan keinginan siswa, dan siswa pasti bahagia karena diberikan kesempatan untuk berpendapat.  Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Persoalan dunia pendidikan adalah persoalan kita bersama, kemajuan pendidikan adalah kebanggaan dan sekaligus harapan  kita bersama, oleh karena itu sudah siapkah kita mencetak generasi harapan bangsa? Sudahkah kita merasa merdeka dalam belajar? Jika belum bangunlah dan bangkitlah, mari belajar bersama Komunitas Guru Belajar untuk berkolaborasi dan saling berbagi praktek mengajar,saling menginspirasi satu sama lain. Ingin ikut pelatihannya secara online? Klik link di bawah ini

Guru Merdeka Belajar, Tidak Malu Belajar dari Sesama Guru

Menumbuhkan rasa membutuhkan ilmu dan belajar itu bagi seorang guru di sekitar saya masih cukup sulit, hingga saya membuat sebuah acara dengan judul “Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar Pendidik Purworejo”. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 September 2019 bertempat di Laboratorium Komputer SMK Kesehatan Purworejo. Saat merencanakan acara tersebut saya sedikit pesimis akan ada yang tertarik untuk bergabung. Benar saja acara yang seharusnya dilaksanakan pada pukul 10.00 WIB. Saya tunggu baru 3 orang saja yang hadir. Sambil menunggu rekan lain hadir, saya mengarahkan yang sudah hadir untuk melakukan presensi secara online menggunakan google form yang telah disediakan. Presensi online seperti ini bagi rekan guru yang sudah hadir bukan sesuatu yang baru memang, karena mereka telah mengenal cara tersebut dari beberapa pelatihan yang pernah diikuti di daerah Purworejo. Tak lama kemudian seorang rekan guru datang dan kami sambut dengan isian presensi juga. Ternyata keterlambatan beliau dikarenakan rumah beliau yang memang jauh dari lokasi nobar, yang ditempuh hingga 1 jam perjalanan. Karena waktu yang sudah terlalu mundur. Acara pun saya mulai dengan moderator sekaligus fasilitator saya sendiri Arini Fadhilah. Saya mulai acara dengan berdoa agar banyak perubahan yang terjadi setelah acara ini. Sebelum pemutaran video dari bu Elaa mengenai merdeka belajar dan berbagai miskonsepsi guru, saya menanyakan dulu tujuan mereka datang jauh-jauh sampai kesini. Kata salah satu peserta yaitu Ibu Diah, “Saya senang dengan acara kumpul guru seperti ini, jadi bisa dapat ilmu baru dari guru lain”. Selanjutnya interaksi dan komunikasi dua arah saya lakukan. Berbagai tanggapan mengenai guru merdeka belajar dari mereka sangat beragam. Ada yang belum begitu mengerti kenapa seorang guru harus merdeka belajar dan ada pula yang berpandangan bahwa seorang guru harus merdeka belajar atau dalam arti lain mau terus belajar dan berkembang tanpa batas. Masuklah ke acara inti yaitu pemutaran video merdeka belajar. Durasi video hampir 15 menit terlihat mereka sangat antusias memperhatikan. Setelah video berakhir, ternyata beberapa kalimat cukup menarik perhatian peserta yaitu ”Pada saat kita bicara merdeka belajar, Ibu dan Bapak. Saya tuh selalu terbayang anak – anak. Sebagian besar anak Indonesia itu dunianya hanya sebatas ruang kelasnya, mimpinya hanya terbatas tingginya tangan untuk menjawab pertanyaan gurunya” kata Bu Elaa “Yang kita inginkan adalah anak – anak yang punya aspirasi tinggi, yang punya cita – cita melampaui langit. Melampaui batas ruangan kelas, melampaui batas dunianya. Dan  ini hanya akan terjadi pada saat anak – anak punya kemerdekaan belajar. Tapi kemerdekaan belajar murid – murid hanya akan terjadi pada saat kita sebagai pendidik memiliki kemerdekaan“ lanjut Bu Elaa. Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Kalimat itulah yang membuat beberapa dari mereka sedikit mengerti kenapa seorang pendidik harus memiliki kemerdekaan dalam belajar juga. Selanjutnya saya sambung topik tersebut dengan miskonsepsi yang sering terjadi dalam dunia pendidikan disekitar mereka. Kata salah satu guru yang hadir, Bu Restu, “Guru disini kebanyakan hanya akan bertanya pada yang memiliki pendidikan lebih tinggi dari mereka, lebih tua dari mereka dan punya gelar yang keren saja, sedangkan yang di bawah mereka dianggap tidak layak untuk berbagi ilmu” Dari yang saya tangkap ternyata guru muda era milenial masih ada yang pikirannya tidak terbuka dan tidak mau merdeka dalam belajar hanya karena orang disekitarnya dianggap tidak kompeten. Berangkat dari curhatan Bu Restu tersebut, maka beliau berniat untuk menjadi guru yang merdeka belajar dengan cara berusaha membuka pikiran mereka yang masih sempit pemikiran agar terbuka dan bisa menjadi guru merdeka belajar. Beliau berharap dengan nanti adanya Komunitas Guru Belajar di Purworejo menjadi wadah untuk saling berbagi antar sesama guru, tanpa memandang usia, gelar, pendidikan mereka. Pendapat itu pun kemudian disetujui oleh semua peserta yang hadir saat itu. Mereka sangat ingin komunitas seperti ini benar-benar ada, agar Purworejo memiliki tempat /wadah untuk mencari berbagai ilmu baru mengenai pendidikan yang disampaikan oleh sesama guru dari berbagai kalangan. Setelah proses refleksi selesai, saya menarik kesimpulan bahwa di Purworejo guru-gurunya masih belum sepenuhnya merdeka belajar, itulah siswa mereka juga belum bisa merdeka belajar. Maka agar mampu membantu siswa merdeka belajar, maka Komunitas Guru Belajar yang nantinya akan hadir di Purworejo dapat mulai mengubah pemikiran guru untuk menjadi guru yang merdeka belajar juga. Untuk menyakinkan mereka mengenai pentingnya menjadi guru yang merdeka belajar, saya menampilkan cuplikan tentang perkembangan Komunitas Guru Belajar melalui Temu Pendidik Nusantara dari tahun ke tahun yang jumlah pesertanya semakin meningkat dan datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Lalu saya memberi penjelasan juga mengenai salah satu materi yang pernah saya dapatkan dalam Temu Pendidik Nusantara mengenai permainan dalam evaluasi pembelajaran. Dari video yang saya putar semua merasa tertarik dengan permainan tersebut dan penasaran cara membuatnya dan semakin bersemangat untuk menantikan adanya Temu Pendidik Daerah. Demikian kegiatan nonton bareng yang saya dan rekan-rekan guru dari Purworejo adakan. Saya berharap acara singkat yang dilaksanakan ini dapat mengubah pandangan mereka dan membuka pemikiran mereka untuk menjadi guru yang merdeka belajar, mampu mengubah siswa mereka menjadi siswa yang merdeka belajar pula.  Ingin Tahu Bagaimana Praktik Guru Merdeka Belajar? Klik link di bawah ini

Merdeka Belajar, Mengubah Keresahan Menjadi Keberdayaan

Guru adalah figur perubahan pendidikan yang penuh cita-cita. Tapi di ruang kelas, seringkali keresahan-keresahan membuat guru seolah tidak berdaya. Beberapa pekan sebelumnya, ruang percakapan di Grup Whatsapp Guru Belajar Tegal dipenuhi obrolan anggota grup tentang keresahan-keresahan yang paling sering ditemui guru di ruang kelas. Ada yang menemui keresahan yang berbeda, tak sedikit juga ternyata menemui keresahan yang serupa. Lalu, bagaimana guru bisa mengubah keresahan menjadi keberdayaan? Minggu (15/9), keresahan-keresahan tersebutlah yang menggerakkan guru-guru berkumpul dalam agenda Temu Pendidik Daerah kedua Komunitas Guru Belajar Tegal yang bertajuk “Ngobrolin Guru Belajar”. Agenda yang berlokasi di Spasi Kreative Space ini dihadiri oleh guru-guru dari kabupaten dan kota Tegal. Jenjang dan jalur pendidikannya pun beragam, mulai dari guru SD, MI, SMA, guru bimbel, hingga guru dari kelas kreatif. Miskonsepsi Guru Belajar Agenda berlangsung dari pukul 09.00 wib yang diawali dengan menonton bersama video Bu Najelaa Shihab tentang “Merdeka Belajar” yang dipandu oleh Bu Erna dari SDIT Alam Bina Insani. Seusai menyimak pemaparan “Merdeka Belajar” dari video, peserta antusias mendiskusikan refleksi bersama tentang miskonsepsi guru belajar yang sering ditemui atau dirasakan sendiri oleh peserta. Yang paling banyak direfleksikan peserta adalah bahwa selama ini guru dianggap perlu belajar hanya karena insentif eksternal (sertifikat, uang, dan sebagainya), padahal guru belajar adalah sebuah kebutuhan alamiah guru. Seperti agenda belajar di Temu Pendidik Daerah ini yang berangkat dari keresahan di ruang kelas masing-masing guru yang ingin dicari solusinya dengan belajar lewat saling berbagi praktik baik.  Guru Berdaya lewat Berkolaborasi Agenda dilanjutkan dengan sharing pengalaman Bu Dini dari Spasi Kreative Space tentang kolaborasi yang pernah dilakukan dengan Komunitas Guru Belajar. Menurut bu Dini, guru-guru yang merdeka belajar seringkali punya mindset yang antimainstream dalam pendidikan. Ketika tahun 2018 lalu muncul sebuah ide tentang kegiatan yang memberi dampak baik dengan mengajak anak-anak menjelajahi tempat-tempat ibadah di kota Solo bertajuk “Piknik Anak Hebat”. Ide tersebut ternyata disambut baik oleh guru-guru belajar untuk berkolaborasi bersama sehingga akhirnya sukses terselenggara.  Kolaborasi menjadi kunci yang penting dalam pendidikan. Kolaborasi guru dengan sesama guru maupun dengan komunitas atau pihak lain menjadikan pembelajaran untuk murid semakin kaya, tidak terbatas hanya di ruang kelas. Peserta antusias menanggapi bahkan mengungkapkan pendapat agar kegiatan kolaborasi guru dengan berbagai pihak juga harapannya bisa diselenggarakan di Tegal. Kekuatan Refleksi Salah satu sesi yang tidak kalah seru adalah saat sesi refleksi sebelum agenda diakhiri. Masing-masing peserta menyampaikan refleksi dari sesi-sesi agenda belajar. Bu Eva, peserta yang merupakan seorang guru bimbel mengungkapkan bahwa baru saat itu benar-benar merasa diakui sebagai guru. Beliau menyadari bahwa ternyata walau beliau hanya guru bimbel, ada tantangan yang sama, keresahan yang sama saat mendampingi murid. Pertemuan guru dengan berbeda bidang dan jenjang semacam ini juga bisa jadi sarana menyamakan persepsi, saling terbuka, saling melengkapi, dan bersinergi. Refleksi lain dari Bu Nurlina yang berasal dari kecamatan yang cukup jauh dari lokasi Temu Pendidik. Meski harus menempuh kurang lebih 1,5 jam untuk berangkat ke lokasi, tidak menyurutkan semangat beliau untuk belajar. “Saya ingin lebih memahami permasalahan dalam kelas dan belajar cara mengatasinya. Saya sangat senang dapat wawasan baru juga, kegiatan seperti ini sangat bermanfaat.” Ungkap Bu Nurlina di sesi refleksi. “Tidak ada guru yang bisa belajar sendirian. Tidak ada guru yang bisa kompeten sendirian. Dan tidak ada guru yang bisa merdeka belajar sendirian.” Begitulah kutipan kalimat bu Najelaa Shihab dalam video “Merdeka Belajar”. Maka agar bisa mengubah keresahan menjadi keberdayaan, mana jalan yang seharusnya dipilih guru: terus sibuk seorang diri mengeluhkan keadaan atau merdeka belajar bersama rekan seperjuangan?

Merdeka Belajar, Mengapa Guru Harus Belajar?

Mengapa guru harus belajar? Kalimat tersebut membuka sesi Nobar di SDIT Bina Insani kali ini. Membersamai murid dalam kegiatan demi kegiatan pasti menemukan dinamika pertumbuhan dan perkembangan mereka. Hal-hal baru tentang murid bisa jadi guru temui tanpa disadari. Guru merasakan perubahan tingkah laku murid, guru mendapati nilai ulangan semakin membaik, guru mengerti betul kronologi murid yang semakin dewasa. Itu semua merupakan perubahan-perubahan yang perlu disikapi dengan baik dan tepat. Jika perubahan murid yang positif saja perlu penyikapan yang tepat agar bertahan dan bertambah baik, apalagi perubahan peserta didik kita yang justru makin buruk. Tentu saja kedua fenomena tersebut perlu kompetensi guru yang semakin meningkat. Belajar Bersama Komunitas Guru Belajar Tanggung jawab kita untuk memberi pelayanan yang tepat tentunya membutuhkan kemampuan yang sesuai dengan perubahan yang terjadi. Apalagi jika kita punya keinginan menjadi guru yang semakin profesional. Kita perlu merespon semua perubahan dengan lebih tepat. Itulah alasan mengapa kita masih perlu belajar bersama Komunitas Guru Belajar. Komunitas Guru Belajar Semarang mempersembahkan Nonton Bareng Guru Merdeka Belajar dan Manajemen Kelas. Kami bukanlah kekuatan satu-satunya, kami KGB Semarang hanyalah satu dari sekian komunitas yang peduli akan pergerakan pendidikan pun dimulai dari langkah yang terkecil yang banyak digandrungi dan tak bisa ditolak orang. Ya, nonton bareng. Nonton Bareng GMB ini diselenggarakan di Aula SDIT Bina Insani pada hari Sabtu, 7 September 2019. Nonton bareng ini dihadiri oleh kurang lebih 50 peserta yang terdiri dari para guru TK, SD dan manajemen Bina Insani.  Acara nonton bareng guru merdeka belajar ini berlangsung kurang lebih selama 2,5 jam. Nobar ini dikoordinatori Pak Teguh, salah seorang guru SDIT Bina Insani, dipandu dan diliput oleh Elvrida Rosalia Indraswari, salah satu penggerak dan host KGB Semarang. Dari 2,5 jam yang ada, acara ini diawali dengan pembukaan dan ice breaking. Pemandu lantas memberikan cuplikan kata singkat tentang merdeka belajar, apa yang diketahui peserta tentang merdeka belajar dan mengapa penting. Mengapa kita harus menjadi guru yang merdeka belajar. Berbekal Surat Kabar Guru Belajar edisi 6 dan 7 tentang merdeka belajar dan refleksi belajar, sejak dari awal acara ini sudah sangat menyita perhatian para peserta. Kemudian tentunya sesuai judul maka selanjutnya adalah sesi nonton bareng. Video berdurasi 15 menit yang cukup menggugah hati ini disaksikan secara hitmat oleh 15 pasang mata yang ada. Salah satu komponen yang dibahas adalah komponen dari merdeka belajar itu sendiri. Ibu Najeela Shihab mengemas kata-kata yang cukup menggelitik para peserta dan hatinya. Sesi terakhir yang tentunya berlangsung cukup lama dan interaktif adalah pada sesi diskusi dan refleksi. Para peserta diajak untuk merefleksikan apa yang sudah dipahaminya dari menonton video tadi.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang kami bahas pada sesi refleksi: 1. Di antara semua miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri Anda? 2. Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen pada tujuan, Mandiri terhadap cara belajar dan Melakukan refleksi. Apakah Anda setuju dengan pernyataan tersebut ? Apa alasannya?3. Apakah Anda ingin menjadi Guru Merdeka Belajar ? Apa alasannya?4. Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa perubahan yang ingin Anda lakukan di kelas?5. Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa pengembangan diri yang ingin Anda lakukan bersama Komunitas Guru Belajar? Selama kurang lebih 2 jam yang tersisa kami berusaha membuat sesi refleksi ini bermakna, tak hanya memainkan pemikiran kami tapi juga membuat hati kami lebih bergelora, memaknai setiap pertanyaannya sebagai suatu pembelajaran yang dikemas melalui konsep nonton bareng. Diantara miskonsepsi yang disebutkan dalam video nobar, sebagian besar adalah sama pada dikejar target dinas. Lalu apakah peserta setuju bahwa ciri dari guru merdeka belajar adalah 3 tersebut? Ya, mereka sangat setuju. Karena berawal dari tujuan yang jelas dan komit akan tujuan tersebut, seorang guru akan mandiri untuk belajar dan kemudian merefleksinya untuk suatu progres yang semakin baik. Ketika ditanya apakah ingin menjadi seorang Guru Merdeka Belajar? Maka tampak dari bibir dan sorot mata para peserta berkata “Ya”. Penuh semangat yang bergelora, tergambar dari sorot mata dan refleksi ini. Para peserta semakin belajar bahwa guru harus belajar, memanajemen kelas sebaik mungkin, menjadi guru yang merdeka belajar. Peserta berucap syukur sebab memahami merdeka belajar. Kami mengakhiri nonton bareng ini dengan memekikkan semangat kemerdekaan, sebagai titik balik bahwa kami sudah berada di depan gerbang merdeka belajar dan siap untuk berpetualang. Foto bersama pun semakin mempermanis sesi nobar kami kali ini. Anda masih penasaran tentang merdeka belajar? Yuk pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi 6Unduh GratisKlik:

Tutor Merdeka Belajar – Memang Bisa?

Pendidikan Kesetaraan kian diminati oleh masyarakat Banda Aceh. Selain proses belajar yang efisien, materi pelajaran yang diajarkan juga tidak terlalu menuntut peserta didik, tidak seperti sekolah formal pada umumnya. Sehingga kebanyakan peserta yang mendaftar ialah yang sedang bekerja. Melihat kondisi ini, sangat diperlukan Pengajar / Tutor yang tidak biasa pula, tutor yang merdeka belajar. Namun faktanya, Tutor di tempat saya mengajar masih sangat konservatif dan meremehkan kepentingan tujuan dasar pendidikan, bahkan termasuk saya sendiri. Hal ini pula yang mendasari saya mengajak rekan-rekan Tutor, baik yang di Sekolah Pendidikan Non Formal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Banda Aceh maupun tidak, agar bergabung dengan Komunitas Guru Belajar (KGB) untuk saling membagi ilmu, mengamalkan ilmu, dan menyerap ilmu. Nonton Bareng (Nobar) Guru Merdeka Belajar adalah kegiatan pertama yang berhasil saya adakan pada tanggal 06 September 2019 di SPNF SKB Kota Banda Aceh. Kegiatan ini diikuti oleh Tutor-tutor Bantu sebagai tenaga pengajar di lembaga tersebut. Saya belum bisa mengundang Tutor dari lembaga lain karena instruksi yang diberikan oleh Kepala Sekolah SPNF SKB Kota Banda Aceh, Pak Budi Pramono, agar kegiatan nobar merdeka belajar ini dikhususkan kepada tutor di lembaga sendiri terlebih dahulu. Mungkin untuk tahap selanjutnya akan diadakan dalam skala luas.  Rangkaian acara yang direncanakan akan dimulai pukul 09.00 WIB telah saya persiapkan mulai dari pembukaan, ice breaking, materi yang akan disampaikan, slide presentasi, refleksi yang akan ditampilkan, perkiraan pertanyaan serta jawaban yang akan diberikan. Akan tetapi, ketika saya tiba di kantor, rekan-rekan saya mengajak untuk nongkrong terlebih dahulu. Maka berubahlah ide ice breaking tadi menjadi bersantai di warung kopi sambil menikmati pemandangan dan sarapan. Dan ternyata sangat membantu saya dalam menyampaikan materi ketika acara dimulai.  Sekitar pukul 10.00, kami sudah tiba kembali di kantor. Saya langsung mempersiapkan segala alat yang diperlukan; proyektor, laptop, speaker, dan alat tulis untuk refleksi. Alhamdulillah, rekan Tutor membantu saya menyiapkan tempat duduk dan perlengkapan juga untuk mendukung nobar merdeka belajar. Sebelum saya membuka acara, saya pastikan terlebih dahulu teman-teman sudah siap mendengarkan apa yang akan disampaikan. Ada yang sudah siap dengan memeluk bantal, dengan melipat tangan di atas meja, bahkan ada yang sudah santai dengan kaki terlipat di bangku depan. Setelah memastikan peserta siap mendengarkan, saya memulai acara dengan pembukaan salam dan menanyakan kabar. Dikarenakan pesertanya juga teman-teman saya sendiri, maka gaya yang saya bawa pun santai dan tidak terlalu menekan. Pertama, saya memulai acara nonton bareng ini dengan menanyakan teman-teman saya apa itu merdeka. Berikut jawaban yang diberikan teman-teman: “Bebas, Mentari” jawab Pak Ade, Tutor Penjas. Bu Laida, Tutor Sosial, menjawab “Tanpa ada ikatan!”  “Tidak ada hambatan”, ujar Pak Munawir, Tutor Penjas. Saya membenarkan untuk semua jawaban yang telah diberikan. Kemudian saya mengaitkannya dengan Guru Merdeka Belajar untuk membuat teman-teman lebih paham mengenai makna Guru Merdeka Belajar (GMB). Setelah itu, baru saya jelaskan kaitan GMB, KGB dan Temu Pendidik. Dari sesi penjelasan pertama ini, banyak yang menyela untuk memastikan keyakinan pemahaman mereka. Jadi, sesi Nobar Merdeka Belajar ini lebih seperti diskusi sesama tutor. Walaupun demikian, teman-teman saya kelihatan agak sedikit ragu dengan penjelasan saya mengenai temu pendidik dan guru belajar. Terlihat jelas dari raut wajah tak percaya mereka seolah bertanya memang bisa?. Solusinya menurut saya adalah dengan menonton video Guru Merdeka Belajar yang disampaikan oleh Ibu Najelaa Shihab. Video berdurasi kurang lebih 14 menit yang membahas tentang kunci sukses menjadi Guru yang merdeka belajar serta miskonsepsi kebanyakan guru di Indonesia saat ini.   Pada awal pemutaran video ini, teman-teman saya memperhatikan dengan kurang penuh perhatian. Hilir mudiknya pendatang yang keluar masuk pintu, pendatang yang masuk selalu bersuara dan bertanya, dan anak-anak yang berlalu lalang berhasil memecah konsentrasi teman-teman saya yang sedang menyaksikan Ibu Elaa berbicara. Fokus teman-teman saya itu kembali ketika Bu Elaa sedang membahas mengenai miskonsepsi yang selama ini hinggap pada guru-guru di Indonesia. Guru hanya mau belajar jika mendapat insentif, guru harus belajar dari ahlinya, guru hanya belajar jika disuruh, guru hanya belajar jika dipaksa, dan guru belajar hanya untuk diri sendiri. Mereka semuanya terdiam dan fokus sekali pada apa yang dikatakan oleh Ibu Elaa tentang bagaimana ada guru di luar sana yang melakukan hal yang berlawanan dengan miskonsepsi di atas. Alhamdulillah, sampai video selesai, fokus mereka tidak hilang dan tetap fokus pada pemaparan Ibu Elaa.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Video selesai diputar dan saatnya sesi tanya jawab. Ada beberapa pertanyaan yang muncul.  Bu Laida bertanya, “Berarti Mentari, di kegiatan ini, kita gak akan belajar dari ahlinya?” Saya menjelaskan kembali konsep yang saya paparkan di awal ketika pembukaan kegiatan ini. Bahwa fungsi dari terbentuknya forum temu pendidik ini ialah sharing ilmu dan pengalaman sehingga bisa saling memberikan manfaat dan membantu. Saya memberikan contoh bagaimana metode Bu Laida pernah mengajar di kelas. Nanti metode itu diceritakan ke teman yang lain, yang mana tau bisa digunakan di kelas juga. Bahkan kita bisa belajar dari PKBM lain yang ada disekitar kita seperti PKBM Ruman Aceh dan PKBM Kiat Usaha. Oleh sebab itu, sangat bermanfaat jika ada forum tutor ini. Bila ada dukungan, bisa jadi kita mendatangkan ahli juga untuk menguatkan apa yang telah dilakukan. Bu Laida juga bertanya lagi mengenai konsep kemitraan di poin pembahasan mengenai kemandirian guru merdeka belajar. Saya mencoba menjelaskan dengan contoh yang memang sudah pernah teman-teman lakukan di kantor. Yaitu bagaimana kebingungan Bu Amidiah ketika dibebankan pelajaran keterampilan. Bu Laida dan Bu Zuhra sepakat sama-sama akan membantu Bu Amidiah untuk mengisi kelas. Sudah dilakukan, Bu Elaa hanya menyampaikan dalam bentuk bahasanya saja, yaitu kemitraan. Pak Ade tidak bertanya, hanya memastikan kembali mengenai tangga kemandirian. Bahwa kemandirian guru selama ini baru sampai pada tahap konsultasi saja. “Guru yang merdeka belajar akan memberdayakan dan memegang kendali atas proses belajar yang kita lakukan” begitu kata Bu Elaa. Setelah selesai sesi tanya jawab, dilanjutkan dengan sesi refleksi. Saya memberikan empat pertanyaan yaitu: Diantara semua miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri teman-teman? Ciri Guru Merdeka Belajar adalah komitmen pada tujuan, mandiri terhadap cara belajar, dan melakukan refleksi. Apakah teman-teman setuju? Mengapa? Apakah teman-teman ingin menjadi Guru Merdeka Belajar? Mengapa? Sebagai Guru Merdeka Belajar, apa perubahan yang ingin teman-teman lakukan di kelas? Mungkin dikarenakan jam sudah menunjukkan … Read more

Merdeka Belajar – Terus Menerus Belajar

Seru dan menyenangkan. Itulah kata-kata yang dapat menggambarkan kegiatan Nonton Bareng (Nobar) Guru Merdeka Belajar Komunitas Guru Belajar (KGB) Binjai pada hari Selasa, 27 Agustus 2019 lalu. Kegiatan ini adalah kerjasama KGB Binjai dengan salah satu organisasi mahasiswa Kota Binjai yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Binjai dan dilaksanakan di Sekretariat HMI Cabang Binjai Jalan T. Amir Hamzah Binjai. Karena menggandeng HMI sebagai organisasi mahasiswa, maka awalnya acara nobar ini dilaksanakan dengan target peserta yaitu mahasiswa-mahasiswa jurusan kependidikan dari universitas dan sekolah tinggi ilmu pendidikan yang ada di Kota Binjai. Namun ternyata antusiasme guru-guru Kota Binjai terhadap kegiatan ini cukup baik, yang ditandai dengan hadirnya peserta guru selain mahasiswa. Bahkan sebagian besar mahasiswa yang hadir pun ternyata bukan hanya mahasiswa yang kuliah di kampus semata, namun juga mahasiswa yang sudah terjun sebagai guru honorer dan sudah mengajar di sejumlah sekolah di Kota Binjai.  Kesempatan ini dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Moderator Acara sekaligus calon penggerak KGB Binjai, Surya Herdiansyah untuk melakukan jaring pendapat dari seluruh peserta. Kegiatan yang awalnya hanya diperuntukkan untuk sosialisasi KGB Binjai dan memperkenalkan konsep Guru Merdeka Belajar lewat Nonton Bareng (Nobar) kepada mahasiswa, akhirnya diarahkan menjadi diskusi interaktif seputar permasalahan mengajar yang dihadapi guru dalam kesehariannya. Setelah nobar selesai, acara menjadi seru dan menyenangkan karena hampir seluruh peserta terlibat secara aktif dalam diskusi.  Diskusi interaktif diawali dengan diskusi mengenai merdeka belajar. Menurut Hayatus Sahidah, guru dari SDIT Al Fityah Binjai, merdeka belajar itu adalah merdeka belajar kapanpun dan dimanapun. Guru harus terus menerus belajar dan tidak mengenal kata berhenti belajar. Belajar juga bukan harus terbatas pada pelatihan-pelatihan kedinasan yang diadakan, tapi guru harus tetap membuka diri untuk belajar hal-hal baru kapanpun dan dimanapun.  Menurut Lusiana Matondang, guru dari SMPIT Al Fityah Binjai, merdeka belajar adalah kondisi ketika guru tidak hanya terpaku pada buku teks. Merdeka belajar selaras dengan ruh dari Kurikulum 2013 (K13/ Kurtilas) dimana murid yang lebih aktif daripada guru. Demi merangsang keaktifan murid, guru tidak boleh hanya terjebak di metode ceramah saja. Guru yang merdeka belajar berarti mampu memfasilitasi murid untuk juga merdeka belajar dengan berbagai metode.  Menurut Yusi Wijayanti, pengurus KOHATI HMI Cabang Binjai, merdeka belajar adalah kondisi dimana guru mampu melaksanakan proses belajar mengajar dengan menggunakan hati nurani/ perasaan sehingga guru akan peka dan memahami apa yang murid butuhkan. Bila guru memahami kebutuhan murid, maka kreatifitas murid dapat ditingkatkan sesuai dengan potensi, minat dan bakat murid tersebut.  Mayoritas para peserta menarik sebuah kesimpulan bersama bahwa sebagai guru merdeka belajar, maka pengembangan diri yang dapat dilakukan oleh seorang guru adalah tidak bergantung kepada minimnya sarana dan prasarana sekolah, atau halangan lainnya, melainkan harus berupaya memberdayakan diri sendiri untuk bisa melakukan yang terbaik bagi peserta didik.  Selain berdiskusi tentang merdeka belajar, ada pula sharing moment mengenai permasalahan mengajar dari mahasiswa yang juga menjadi guru honorer, Maya dari SMA Karya Agung, yang bertanya mengenai bagaimana tips dan trik menghadapi murid yang lebih sering memperhatikan guru daripada memperhatikan mata pelajaran yang diajarkan oleh guru. Usia peserta didik yang tidak terlalu jauh dengan usia guru honorer ini membuat guru Maya terkadang gelisah dengan perhatian berlebihan para muridnya ketika ia mengajar.  Ada beberapa saran dari guru-guru yang hadir. Susiana, guru SMPIT Al Fityah menyampaikan bahwa guru perlu mematut diri di cermin dan mempertimbangkan gaya/ style yang menunjukkan kewibawaan seorang guru sebelum masuk ke ruang kelas. Gaya/ style ini bukanlah gaya jaim yang berjarak dengan murid, namun seperti yang disampaikan salah seorang penggerak KGB Binjai yang hadir, Lisza Megasari dari SLB Negeri Binjai, gaya yang dimaksudkan dapat dianalogikan dengan gaya tarik ulur ketika bermain layangan. Bila selalu ditarik, maka layangan tidak akan terbang tinggi. Namun bila selalu diulur, maka layangan akan lepas dan malah tidak bisa dimainkan. Bermain layangan membutuhkan proses seimbang antara gaya tarik dan ulur yang disesuaikan dengan arah dan kecepatan angin ketika bermain layangan. Begitulah kira-kira analogi dari hubungan guru-murid yang terjadi selama pembelajaran maupun selama berinteraksi di luar jam pembelajaran. Sejalan dengan hal ini, Lusiana Matondang dari SMPIT AL Fityah Binjai menyampaikan bahwa guru perlu untuk menyeimbangkan kapan waktu menegakkan aturan yang tegas. Apapun yang dilakukan guru perlu didasarkan kepada keinginan luhur untuk mendukung murid menjadi pribadi yang lebih baik. Proses belajar mengajar bukan hanya transfer ilmu dari guru kepada murid, tapi yang lebih penting adalah dalam rangka pembangunan karakter positif pada diri murid. Salah satunya dapat dilakukan lewat Kontrak Belajar di hari pertama kegiatan pembelajaran (di Komunitas Guru Belajar, istilah Kontrak Belajar ini lebih dikenal dengan Kesepakatan Kelas).  Di akhir acara, moderator mengarahkan peserta untuk berdiskusi seputar literasi. Apakah peserta menganggap bahwa literasi adalah sama dengan membaca buku semata? Itu pertanyaan yang diajukan ke forum acara. Peserta diajak untuk mengkritisi praktik literasi yang pada pelaksanaannya cenderung terbatas pada membaca 15 menit sebelum memulai kegiatan pembelajaran di kelas.  Mayoritas peserta ternyata memiliki pemahaman yang menarik mengenai literasi. Devi Agustina, guru dari SMPIT Al Fityah menyampaikan bahwa saat ini terjadi masalah besar bagi anak-anak Indonesia, yaitu turunnya minat anak untuk membaca buku. Dan menurut Lisza Megasari, guru SLB Negeri Binjai, orangtua di Indonesia cenderung berlomba-lomba agar anaknya sudah bisa membaca di usia balita. Para balita ini diajari membaca huruf demi huruf, kata demi kata dan bukannya diajarkan untuk menyukai membaca lewat buku bergambar dan metode yang menarik lainnya. Sehingga budaya cinta membaca bertukar menjadi budaya cepat-cepat balita bisa baca. Padahal baca tulis hitung (calistung), idealnya diajarkan di bangku SD di usia lebih dari 6 tahun (bukan balita).  Menyikapi diskusi tentang minat baca di Indonesia yang rendah, Ramadhani, guru dari SDIT Al Fityah menyampaikan bahwa ada perbedaan besar antara belajar membaca dan membaca untuk belajar. Belajar untuk membaca hanya akan memberikan tuntutan bagi anak untuk bisa cepat baca, sedangkan membaca untuk belajar adalah sebuah upaya menjadikan membaca sebagai salah satu cara belajar. Belajar perlulah dilakukan seumur hidup. Karena itu, membaca juga idealnya dilakukan bukan hanya pada buku-buku teks pelajaran sekolah, tapi lebih dari itu semua. Bagi Ramadhani, literasi itu lebih dari sekedar membaca semata, literasi adalah sebuah keterampilan mengolah informasi secara lebih bijaksana.  Andrian Firdaus, mahasiswa dari STKIP Budidaya Binjai yang juga guru SMP Karya Agung, … Read more