Murid Sekarang Tak Tahu Aturan, Dijadikan Teman Malah Kebablasan, Bagaimana Mengatur Kelas?

Mas Hartawani, KGB Kotawaringin Barat Bertahun tahun mengajar, Tantangan terasa semakin berat. Murid jaman sekarang lebih aktif dan kritis. Hukuman tak lagi mempan. Memposisikan murid sebagai teman pun, justru malah tak di hormati. Capek pasti ya mengalami hal tersebut setiap hari? Ingin mengatasinya? Bagaimana mengatur kelas? Mari kita belajar bersama  Ibu Ely Virgijanti yang berasal dari KGB Surabaya, Beliau sudah  5 Tahun menjadi pendidik di Sekolah Cikal Surabaya.  Silahkan bu Ely Virgijanti untuk menyapa Bapak ibu  yang ada diskusi kali ini sekaligus menyampaikan praktik baiknya dalam melaksanakan pengelolaan kelas. Ely Virgijanti, KGB Surabaya Langsung ke berbagi praktik ya 1. Ajak murid membuat kesepakatan kelas. Ini bisa dilakukan di waktu kapanpun. Tidak ada kata terlambat. Tetapi memang lebih tepat di awal tahun ajaran. Saya ajak murid murid berbagi tentang kenyamanan belajar. Saya berikan kesempatan kepada mereka memberikan usulan aturan aturan yang diperlukan supaya situasi kelas bisa nyaman dan aman. Tekankan pada kenyamanan dan keamanan bersama. Dalam kelas yang besar mereka bisa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk berdiskusi dan setelah itu ajak diskusi dalam kelompok besar. Saya kupas satu per satu. Kenapa aturan itu diperlukan? Apa yang akan terjadi apabila tidak dilakukan? Jadi murid saya ajak memahami  konsekuensi dari sebuah tindakan. Ingat konsekuensi bukan reward atau hukuman. Mas Hartawani, KGB Kotawaringin Barat  Wah, sangat menarik  konsepnya. Saya akan buka diskusi dengan 2 Termin, Pada termin saya akan  pilih tiga Penanya untuk menyampaikan pertanyaan. saya persilahkan kepada : Salsabila Dhea Hilal Rizki Nur Syifa 18 1. Salsabila Dhea Pertanyaan saya, bagaimana kalau anak anak ini datang dari culture yang tidak paham namanya kesepakatan,bagaimana jika anak anak ini malah memberi kesepakatan yang maaf malah nyeleneh atau di luar yang kita harapkan seperti, “bu saya tidak mau banyak menulis dan latihan” tapi dalam prakteknya saat ulangan mereka tidak menyerap materi apapun. 2. Ely Virgijanti KGB Surabaya Selalu ada pengalaman pertama ,  kerja sama yang baik antara sekolah, guru dan orang tua memang diperlukan. “Kesepakatan yang nyeleneh”, makanya disini ada diskusi bersama bu salah satunya membahas perlu tidaknya aturan tersebut untuk menjamin kenyamanan belajar. Jadi bukan berarti apa yang diusulkan murid langsung diterima. Setelah diskusi ini aturan aturan yang disepakati akan mengerucut bu. Dalam diskusi pemahaman akan aturan dan konsekuensinya harus benar benar didapatkan oleh murid dan ini membutuhkan waktu. “Anak tidak mau menulis dan latihan, padahal tidak menyerap materi.” Yang perlu ditanyakan disini adalah apakah itu gejala atau masalah sebenarnya. Apa yang membuat dia tidak mau menulis. Sudahkah ada diferensiasi. Pertanyaan ini lebih tepat dijawab saat diskusi materi diferensiasi. Hilal Rizki Cara ini sudah pernah saya terapkan Bu tetapi tidak berhasil, malah terkadang siswa sering kali melanggar,dan penyebabnya ya dari siswa sendiri yang sepele akan kesepakatan yang dibuat apalagi disekolah saya bisa dibilang si pembuat masalah anak yayasan, Jadi gimana itu Bu Ely Virgijanti KGB Surabaya Penerapan dan pemahaman konsekuensi perlu dilakukan secara konsisten. Biasanya pendiskusian masalah akan dilakukan hanya pada saat pelanggaran terjadi. Padahal seharusnya dilakukan rutin, jangan menunggu ada masalah. Saya selalu memulai kelas dengan melakukan ngobrol ringan dengan murid dan saya selipkan diskusi kesepakatan kelas. Diskusi ini juga bisa dilakukan di akhir pelajaran, menjelang pulang. Ajak mereka merefleksikan pengalaman mereka belajar di hari tersebut apa yang perlu ditingkatkan, apa yang perlu diperbaiki. Biasanya diskusi ini saya lakukan 15 menit. Nur Sifa 18 Saya punya murid masih belum mengenal padahal usia sudah cukup aja Bu dan anak ini diberitahukan ortunya sekolah duduk saja. Nah anak ini sering tidak mematuhi peraturan Bu contohnya sering terlambat. Diberikan kesepakatan tidak ada perubahannya Bu masih seperti anak TK perilakunya  padahal sudah kelas 1 SD. Ely Virgijanti KGB Surabaya  Kesepakatannya berupa apa bu? Diskusi dengan orang tua perlu dilakukan, kenapa datang terlambat. Apakah benar masalahnya di murid tersebut? Atau justru keterlambatan tersebut diakibatkan pihak lain. Saya pernah memiliki murid seperti ini, dan keterlambatan mereka lebih diakibatkan hal yang diluar kendali mereka, seperti orang tua yang berangkat terlambat atau perlu mengantar adik dulu. Apabila sudah diketahui penyebabnya perlu dilakukan diskusi dengan murid dan orang tua untuk mencari solusi. Saya ajak murid ini reflektif akibat dari keterlambatan test. Nyaman tidak kalau terlambat. Alhamdulillah keadaan berubah bahkan murid tsb bisa mengatur waktu bagaimana supaya tidak terlambat dan mengingatkan orang tuanya kalau utk masalah duduk saja, sepertinya perlu dicari tahu penyebabnya. Jangan jangan dia merasa tidak nyaman dengan situasi belajar atau ada permasalahan lain.  Hilal Rizki Hampir setiap pertemuan saya memberikan konsekuensi terhadap mereka yang melanggar kesepakatan,dan saya juga melakukan refleksi ya walaupun masih belum bisa konsisten, itu karena kadang saya merasa kesal sendiri akibat ulah si anak yayasan Bu Karena setiap saya beri konsekuensi dia merasa ada dukungan dari orang tuanya, Jadi gimana caranya mengatasi anak yang seperti itu Bu Soalnya saya khawatir anak yang lain pada ikutan Ely Virgijanti KGB Surabaya Memberikan konsekuensi? Disini saya memahaminya seperti sebuah hukuman pak. Konsekuensi menurut artinya adalah akibat dari perbuatan tersebut. Saya pernah memiliki murid yang juga anak pemilik sekolah. Di awal saya diwanti wanti untuk hati hati. Saya menerapkan hal yang sama ke semua murid. Pemahaman dan penerapan konsekuensi dari sebuah perbuatan. Apabila dirasa masih belum cukup, diskusi dengan orang tua memang diperlukan. Diskusi bertiga juga diperlukan untuk mencari sumber masalah dan solusi yang tepat. Bisa juga dibuat kontrak antara guru, orang tua dan murid. Oh ya kesepakatan kelas (aturan kelas yang sudah disepakati) saya infokan juga ke orang tua melalui surat karena setiap orang tua diharapkan memahami cara belajar dan aturan yang telah disepakati di sekolah. Mas Hartawani KGB Kotawaringin Barat Baiklah, untuk 3 Penanya saya  rasa sudah cukup dulu untuk jawaban yang sudah disampaikan Bu Ely Virgijanti. Berikutnya untuk termin kedua saya  persilahkan dua orang penanya lagi untuk menyampaikan pertanyaan terkait dengan pengelolaan kelas. Yaitu : Amalia dari KGB Rembang Choifah dari Jepara Amalia dari KGB Rembang Kami biasanya memperlakukan anak didik layaknya teman,… kami berharap dengan begitu akan muncul rasa nyaman pada diri anak, agar proses pembelajaran bisa menjadi menyenangkan…. Namun saat ini, yg terkesan malah guru sering diabaikan dan anak cenderung tdk hormat… mohon solusinya bu.. terimakasih. Mas Hartawani   KGB Kotawaringin Barat Baiklah Ibu Amalia, sudah … Read more

Merdeka Belajar – Apakah Merdeka Berarti Bebas?

Pada tanggal 10 september 2019 kemarin, saya Intan Rizki dan rekan saya Suhaimi mengadakan kegiatan nonton bareng Guru Merdeka Belajar bersama seluruh guru di sekolah tempat kami mengajar yaitu IVS ALFATA Banda Aceh. Alhamdulillah, turut serta hadir salah satu guru dari Al-Fityan Islamic School Banda Aceh yang bernama Bu Dian. Di awal saya informasikan kepada teman-teman mengenai kegiatan ini, banyak diantara mereka yang bingung, sehingga ada yang bertanya: “Nonton bareng?” “Film kah?”, atau “Ohh.. nonton bareng film yang ada unsur pendidikannya ya?” dan berbagai pertanyaan lainnya.  Sedikit informasi, di sekolah kami yang namanya upgrading ilmu bagi guru-guru bukanlah hal yang langka. Setiap hari kamis merupakan hari training bagi guru-guru di sekolah, yang dipimpin langsung oleh Ketua Yayasan dan Kepala Sekolah dengan berbagai materi kependidikan dan ilmu pola asuh.  Nah, ketika kami (pihak penyelenggara) menyampaikan tentang judul nobarnya yaitu Guru Merdeka Belajar, semua teman-teman guru sangat excited dengan kata MERDEKA. Sehingga memunculkan pertanyaan “Apakah karena kita baru saja merayakan 17 Agustus sehingga judulnya seperti itu?” atau “merdeka apa ini?” Saat nonton bareng di mulai, saya melemparkan beberapa pertanyaan pemantik bagi para peserta yaitu: Apa itu merdeka? Kebebasan seperti apa ? Lantas, apa kaitannya merdeka dengan belajar? Awalnya mereka sedikit bingung dan takut untuk menjelaskan maksud dari merdeka itu sendiri. Akhirnya setelah saya persilakan satu per satu baru ada yang menjawab bahwa merdeka itu adalah bebas. Ms. Nisa, salah satu peserta saat itu menjelaskan bahwa merdeka belajar itu adalah kebebasan seseorang dalam proses belajar mengajarnya. Ms. Julika juga menambahkan makna dari merdeka belajar adalah kebebasan seorang anak dalam belajar sehingga tidak ada intervensi dari orang tua, keluarga, lingkungan hingga siapapun, dan jawaban-jawaban serupa dari para peserta lainnya, sehingga menimbulkan diskusi dan tanya jawab diantara para peserta. Menarik! Nah, untuk lebih memantapkan lagi diskusi ini, kami pun langsung saja memutarkan video dari Ibu Najelaa Shihab mengenai apa itu guru merdeka belajar. Video berdurasi 15 menit ini berhasil mencuri hati dan mengalihkan sudut pandang beberapa orang peserta. Maklum saja, di sekolah kami ada guru-guru yang fresh graduated sehingga banyak sekali informasi-informasi dan ilmu-ilmu baru bagi mereka atau bahkan ada yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya. Setelah menonton video ini, kegalauan dan kebimbangan mulai terlihat di raut wajah peserta. Langsung saja kami selaku pihak penyelenggara menunjukkan pertanyaan refleksi yang tersedia sebagai ajang refleksi bagi diri sendiri. Para peserta sudah mulai mesem-mesem sendiri, karena mereka mulai menilai ke diri mereka masing-masing. “Ternyata banyak sekali miskonsepsi yang terjadi di diri kita selama ini” papar salah seorang dari mereka. Diantaranya adalah masih adanya rasa ego yang tinggi dalam menuntut ilmu dan mengembangkan ilmu; sehingga terkesan seperti sedang berkompetisi satu diantara lainnya yang tujuannya adalah untuk terlihat hebat di mata teman atau atasan. Kemudian, masih adanya pemahaman belajar kepada yang lebih senior tanpa mempertimbangkan kesesuaian ilmu tersebut apakah layak atau tidak untuk diterapkan di era seperti sekarang ini. Ada juga guru yang ilmu dan pemahamannya akan pendidikan sudah mumpuni, namun kurang cukup waktu untuk merefleksi diri dikarenakan banyaknya pekerjaan sampingan yang ingin mereka kerjakan. Maka dari itulah, miskonsepsi ini terus terjadi di lingkungan tenaga pendidik.  Situasi semakin jelas, ketika mereka mulai menuliskan jawaban atas pertanyaan refleksi yang kami berikan. Sesi refleksi ini, menjadi ajang muhasabah diri bagi para peserta. Alhasil, membutuhkan waktu lebih dari 20 menit. Di tengah-tengah kegiatan, Bu Dian, pamit undur diri dari acara ini karena mendapatkan kabar bahwa anaknya sakit. Sehingga, Bu Dian tidak bisa menyelesaikan tulisan hasil refleksi pada saat itu. Yang di kemudian waktu, dikirimkan melalui pesan whatsapp kepada kami.  Setelah sesi menulis refleksi selesai, para peserta terlebih guru-guru fresh graduated mulai menyadari kendala yang mereka dapatkan di diri mereka selama ini, yaitu selama ini mereka “dibesarkan” dengan pemahaman konservatif yang membuat mereka sendiri belum merdeka belajar. Sehingga semua peserta sangat setuju sekali dengan istilah Guru Merdeka Belajar. Yang mana tidak memenjarakan diri akan keingintahuan suatu ilmu dan mematikan kreativitas seseorang yang mengikuti alur miskonsepsi selama ini.  Diakhir acara, para peserta menyimpulkan bahwa mereka sangat setuju dengan 3 poin penting yang dipaparkan Ibu Najelaa Shihab, yaitu: 1. Komitmen pada tujuan Bahwa selama ini, para peserta belum sepenuhnya berkomitmen pada diri sendiri apa tujuan akhir mereka belajar. Pun, apa tujuan mereka menjadi guru selain karena mengikuti jejak orang tuanya yang berprofesi guru dan menambah pendapatan bulanan. 2. Mandiri terhadap cara belajar Selama ini begitu banyak kita menjiplak gaya dan cara belajar seseorang yang tanpa kita sadari sebenarnya kita bisa saja lebih menarik daripada itu. Secara otomatis kita lupa, bahwa Tuhan menciptakan manusia itu penuh dengan keunikan dan keberagaman sehingga di setiap diri seseorang terdapat gayanya sendiri dalam belajar atau mengajar. 3. Melakukan refleksi Inilah poin yang sangat sulit atau bahkan hampir tidak pernah dilakukan oleh tenaga pendidik yaitu merefleksi diri. Terkadang kita terlalu bangga akan status guru yang melekat di diri kita sehingga kita merasa tidak ada yang kurang atau salah pada diri seorang guru. Padahal dengan melakukan refleksi diri kita bisa terus berubah dan berbenah diri untuk kemajuan anak didik kita nanti. Inilah tiga poin penting yang mengubah sudut pandang para peserta. Yang mana di akhir acara mereka masih mendiskusikan ilmu dan pemahaman yang luar biasa ini. Semoga dengan adanya kegiatan nonton bareng ini, para peserta menjadi paham akan esensi mengembangkan semangat belajar bagi tenaga pendidik seperti kita. Sebagai kalimat penutup, saya mewawancarai salah satu peserta dengan bertanya “Apa pengembangan diri yang ingin mereka capai sebagai  Guru Merdeka Belajar?” Sebuah jawaban yang meluluhkan hati saya yaitu “Saya ingin peserta didik saya merasakan kebermaknaan dari apa yang ia pelajari”. Ya inilah, Merdeka Belajar!

Apa Arti Merdeka Belajar?

“Apa sih arti Merdeka Belajar itu?”Pertanyaan yang muncul dari rasa penasaran saya setelah membaca frasa “Merdeka Belajar”. Saya mendapat informasi mengenai Pelatihan Guru Merdeka Belajar yang dilaksanakan di Kota Makassar dimana akan dibahas Arti Merdeka Belajar. Info pelatihan pada Sabtu 14 September 2019 tersebut, saya peroleh dari Story Whatsapp salah seorang teman. Agar memahami apa arti merdeka belajar. Akhirnya saya pun mengikuti pelatihan tersebut dengan menempuh jarak ±120 km. Menggunakan sepeda motor dari Kabupaten Jeneponto tempat saya tinggal dan mengabdi sebagai seorang guru honorer di sekolah menengah negeri.  Setelah mengikuti pelatihan tersebut, akhirnya saya memahami bahwa Merdeka Belajar memiliki 3 dimensi : 1. Komitmen pada tujuan, 2. Madiri pada cara, 3. Refleksi. Selain itu saya juga megetahui tentang adanya Komunitas Guru Belajar yang diinisiasi oleh Kampus Guru Cikal Jakarta. Komunitas Guru Belajar (KGB) ini sendiri sudah tersebar di lebih dari 145 daerah di seluruh Indonesia, guru belajar bersama berbagi praktik pengajaran untuk mencapai cita-cita bersama. Egois namanya ketika seorang pendidik seperti saya telah mendaptkan ilmu baru namun pelit untuk membagikannya ke sesama, olehnya saya sangat tergerak untuk bisa membagi ilmu dan pengetahuan saya mengenai KGB dan Merdeka Belajar kepada rekan-rekan pendidik di sekolah saya. Mengenal Komunitas Guru Belajar “Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”, seperti itulah bunyi sebuah pepatah yang menginisiasi saya untuk melakukan kegiatan nonton bareng Merdeka Belajar. Hingga sepakatlah saya dengan guru-guru SMP Negeri 1 Arungkeke untuk melaksanaknnya pada Jumat, 4 Oktober 2019 di SMP Negeri 1 Arungkeke, Kabupaten Jeneponto sebagai langkah awal mengenalkan tentang Komunitas Guru Belajar dan konsep Merdeka Belajar. Segala sesuatu pun saya siapkan dibantu oleh rekan guru dari sekolah lain yaitu Muh. Akbar Adnan (Guru IPA SMPN 1 Tarowang) dan dibimbing oleh Pak Maman Basyaiban (sapaan akrab bapak Muhammad Abdurrahman) dari Kampus Guru Cikal Jakarta melalui Whatsapp. Acara nobar ini berlangsung selama ±90 menit. Diawali dengan pembukaan oleh saya sendiri, menceritakan sekilas tentang KGC dan KGB. Mengajak peserta untuk mengisi daftar hadir online. Hingga akhirnya sebelum masuk pada acara inti yaitu nobar, saya melontarkan sebuah pertanyaan “Mendengar frasa Merdeka Belajar, apa yang timbul dalam pikiran bapak ibu?”. Salah seorang peserta menjawab “Arti Merdeka Belajar adalah Belajar tanpa tekanan” (Ibu Rahmawati Salim, guru mapel Bhs. Indonesia). Kembali seorang staff berpendapat “Arti Merdeka Belajar yaitu Belajar kapan dan di mana saja”. Sementara guru mapel SBD, Hj. Nuryanti Bahar menjawab bahwa Merdeka Belajar berarti bebas belajar. Sungguh jawaban yang luar biasa dari rekan-rekan guru. Ahirnya saya pun mengajak mereka untuk nobar video Merdeka Belajar. Video diawali dengan munculnya ibu Najelaa Shihab memberikan statement “Selalu tidak enak bicara sesudah anak-anak karena saya yakin tidak ada pembicara yang lebih baik dan lebih ekspresif dibandingkan anak-anak yang sudah tampil tadi”. Melihat dan mendengar hal ini ternyata menarik perhatian peserta yang hadir hari itu, mereka begitu Nampak serius menyaksikan video tersebut, beberapa pernyataan dari ibu Najelaa Shihab dalam video termasuk arti merdeka belajar diiyakan oleh peserta.  Baca juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Setelah video tersebut selesai diputar dan dinonton bersama, tibalah saatnya tahap refleksi. Selaku pemandu acara, saya melontarkan beberapa pertanyaan terkait isi video : “Di antara semua miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri anda?” Beberapa peserta hampir bersamaan menjawab tentang miskonsepsi yang paling pertama yaitu bahwa guru hanya mau belajar karena ingin mendapatkan insentif atau sertifikat. Hal ini mengundang peserta lain untuk bersuara. Salah seorang guru mapel IPS (Rahmiati, S.Pd) menambahkan bahwa miskonsepsi yang terjadi selama ini ialah guru belajar diburu target yang dipaksakan, sementara belajar sebenarnya butuh waktu, butuh waktu untuk memahami inovasi dan butuh waktu untuk memiliki inovasi, pun butuh waktu untuk mebuktikan bahwa inovasi itu sesuai atau tidak sesuai. Dua miskonsepsi tersebut ialah yang paling menggambarkan diri para guru yang ada di SMPN 1 Arungkeke. Apakah anda ingin menjadi Guru Merdeka Belajar? Selanjutnya pertanyaan yang membuat bapak ibu guru antusias ialah saat ditanyakan “Apakah anda ingin menjadi Guru Merdeka Belajar? Apa alasannya?” Semua peserta menjawab “Mau”. Bapak Mukhtar salah seorang guru mapel Bhs. Inggris mengatakan bahwa sesungguhnya kita telah merdeka dalam belajar, hanya saja kita belum merasa merdeka karena keinginan dari dalam. Pernyataan ini membuat peserta lain terpancing dan merasa bingung. Hingga ibu Sutriani, salah satu guru mapel Bhs. Indonesia memberikan tanggapannya “Iya, saya ingin Merdeka Belajar. Kita seringkali terkendala dengan begitu banyaknya birokrasi yang harus dipenuhi. Kita sebagai guru hampir tidak merasa merdeka atau bahkan belum bisa dikatakan merdeka.” Pernyatan ibu Sutri tersebut mendapat anggukan dari sebagian besar peserta yang hadir dalam acara nobar tersebut, hingga suasana pun semakin hangat dan cair. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 WITA. Sebentar lagi memasuki waktu sholat Jumat hingga kegiatan refleksi pun kami akhiri. Kami mengajak peserta untuk menuliskan hasil refleksi Nobar Merdeka Belajar di media sosial masing-masing. Dan terakhir mengajak mereka untuk foto bareng. Di penghujung acara salah seorang peserta melontarkan sebuah pertanyaan tentang apa follow up dari kegiatan KGB maupun KGC itu sendiri? Apa dampak positifnya, apakah pemerintah mau mendengar suara kita? Hal ini merupakan pertanyaan yang cukup berat sehingga harus dikomunikasikan dengan pak Maman. Melalui panduan beliau saya pun menyampaikan bahwa KGC sudah sering bekerja sama dengan pihak pemerintah. Konsep berbagi praktik baik pengalaman masing-masing juga mulai diterapkan pemerintah di program tertentu. Nampaknya jawaban ini belum memberikan rasa puas kepada ibu Sutri. Saya dan pak Akbar mengajak dia dan rekan guru yang lain untuk ikut bergabung dalam grup Komunitas Guru Belajar Jeneponto untuk lebih mengenal program-program yang bisa membawa dampak positif. Salam Merdeka Belajar! Ingin Mengikuti Pelatihan Guru Merdeka Belajar? Klik link di bawah ini

Guru Merdeka Belajar adalah Pelajar Sepanjang Hayat

Siang terik tak menyulutkan semangat pada calon penggerak untuk melaksanakan kegiatan Nobar Merdeka Belajar, TPD III – Komunitas Guru Belajar Sidoarjo (KGB). Perubahan kondisi tempat, membuat ide-ide kreatif calon penggerak untuk tetap mempersiapkan acara Nobar tetap terlaksana, mulai dari mengkondisikan tempat, menyiapkan perlengkapan yang unik karena layar proyektor menggunakan kain polos kepunyaan pendidik yang tergabung dalam KGB yang kemudian disandarkan pada etalase Warung Barokah yang di atasnya diberi tumpukkan minuman supaya kain tidak bergeser tempat. Selain itu, tidak lupa menyiapkan camilan dan minuman sederhana yang nantinya akan menemani kegiatan sampai selesai, dan dibeli dari dana pribadi pak Zen penggerak KGB Sidoarjo.  Saya hanya berdecak kagum dalam hati, begitu berdaya teman-teman calon penggerak yang mau ikut berkontribusi agar acara bisa terlaksana. Agenda nonton bareng Film Merdeka Belajar hadir untuk memfasilitasi para pendidik merefleksikan diri dan berbagi solusi tentang keresahan yang dihadapi saat pembelajaran dikelas. “Agenda nonton bareng ini tidak hanya sekadar menjadi agenda nonton bareng, tapi punya aspek yang bermanfaat lainnya, yang berguna bagi para pendidik yang tergabung dalam KGB,” ungkap Zen Penggerak KGB Sidoarjo.  Ternyata kegiatan nonton bareng ini mampu menghidupkan forum, untuk bersama-sama sesama pendidik merefleksikan diri dan berbagi pengalaman bagaimana menjadi guru merdeka belajar. Satu persatu teman pendidik menyampaikan bahwa apa motivasi mereka mengikuti kegiatan nonton bareng yang difasilitasi KGB Sidoarjo, seperti halnya bu Ainun yang menjawab “Motivasi saya ikut kegiatan nonton bareng KGB Sidoarjo adalah agar bisa belajar dan mempunyai motivasi menjadi pembelajar”. “Belajar tidak memandang usia, karena usia bukan pembatas untuk berhenti belajar”, ujar Bu Nafisa guru dari sekolah AN-NAHL Sidoarjo.  “Jejaring komunitas seperti ini, ibarat lilin seketika lilin yang menyala salah satunya padam, maka masih ada lilin lainnya yang tetap menyala dan menyinari”, ungkap Bu Anggi calon penggerak KGB Sidoarjo. Kegiatan yang membawa manfaat ini sangat berdampak bagi kami yang siang itu datang mengikuti kegiatan nonton bareng video Merdeka Belajar sampai selesai. Guru Merdeka belajar mempunyai 3 makna yaitu komitmen, mandiri dan refleksi. Komitmen terkait pengakuan dalam diri untuk mampu dan mau menjadi guru pembelajar dengan ikhlas ingin memberikan ilmu yang bermanfaat, mandiri dalam arti bagaimana mencari solusi keresahan yang dialami pendidik, menggali kebutuhan dan minat belajar murid. Yang ketiga adalah refleksi, dan mempunyai makna bahwa setiap pendidik harus bercermin apakah model, media, cara pembelajaran yang sudah diterapkan sesuai atau tidak dengan kebutuhan peserta didik, sudah nyamankah mereka belajar bersama kita di dalam kelas.  Baca Juga: Merdeka Belajar Bukan Jargon Masuk pada sesi refleksi ada ungkapan yang mendalam diucapkan oleh beberapa pendidik terkait pertanyaan moderator yaitu “Apa perubahan di dalam kelas yang ingin dilakukan setelah mengikuti KGB?”.  “ Komitmen terkait menjaga dan menata niat kita, yang mengutip pernyataan KH. Maimoen Zubair, bahwa ketika kita menjadi guru jangan menuntut murid kita pintar, nanti yang ada malah kita marah-marah, cukup doakan saja agar kelak dia bermanfaat”, ungkap Bu Ainun.  Rangkaian kegiatan hari ini yang begitu membawa banyak manfaat bagi teman-teman pendidik maupun diri saya pribadi, bahwa dengan bersama-sama merefleksikan diri secara tidak langsung kita bergegas dan bergerak menjadi Guru Merdeka Belajar. Dan mulai sekarang kami bersepakat bahwa menjadi guru merdeka belajar adalah mengawali diri untuk mau menjadi guru pembelajar sepanjang hayat bukan hanya memenuhi kewajiban tetapi berkomitmen menjalankan kewajiban untuk ikut berperan dalam tujuan pendidikan nasional. Terima Kasih KGB Sidoarjo, terima kasih teman-teman pendidik, terima kasih Kampus Guru Cikal yang telah mempertemukan dan memfasilitasi kami para pendidik dengan kegiatan yang sangat bermanfaat. Salam Guru Merdeka Belajar Ingin Tahu Bagaimana Praktik Merdeka Belajar di Kelas? Klik link di bawah ini

Harapan Menuju Merdeka Belajar

Keberhasilan pendidikan tidak mutlak berada di tangan guru. Tetapi membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa guru memegang peranan penting. Keberhasilan pendidikan akan mudah dicapai apabila tercipta Merdeka Belajar. Untuk menciptakan kondisi tersebut, maka perlu pemahaman tentang Merdeka Belajar. Setelah aktif mengikuti akun media sosial  Kampus Cikal Guru, saya tergerak untuk bergabung membuat perubahan menuju Merdeka Belajar. Khususnya di daerah tempat tinggal saya, yaitu di Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Sebagai langkah awal, saya mengajak guru-guru di Langkat untuk nonton bareng video motivasi dari Kampus Cikal Guru. Ajakan saya tujukan kepada guru-guru yang mengajar di sekolah tempat saya mengajar. Undangan untuk nonton bareng juga saya sebarkan melalui grup MGMP IPS Langkat, sesuai mapel yang saya ampu. Guru-guru di sekolah kami sangat antusias untuk nonton bareng. Hal tersebut menjadi cambukan semangat buat saya. Sementara guru-guru yang tergabung dalam MGMP IPS Langkat, tidak hadir. Karena keterbatasan jarak dan waktu. Acara nonton bareng diadakan pada hari Sabtu tanggal 24 Agustus 2019. Saya sebagai tuan rumah menjadi moderator pada Temu Pendidik ini.  Untuk bantuan teknis dukungan diberikan oleh operator sekolah. Kegiatan nonton bareng ini diadakan di aula kantor guru di SMP Negeri 2 Tanjung Pura. Setelah banyak guru yang sudah berkumpul, acara langsung saya mulai. Sebagai kata-kata pembuka, saya menggugah rasa ingin tahu peserta nonton bareng. Sebagian besar peserta tergelitik mendengar judul Merdeka Belajar. Mereka menduga, kegiatan ini terkait dengan HUT RI ke 74. Karena kegiatan ini diadakan bertepatan dengan momen peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Sebagian besar peserta berpendapat bahwa “Merdeka” berarti bebas dari penderitaan.  Dan “Merdeka Belajar” mereka tafsirkan sebagai kebebasan dalam belajar yang tanpa aturan. Ibu Umi Hidayah, Guru mapel Matematika, mengatakan : “Merdeka Belajar berarti libur, tidak ada pembelajaran.” Dan hal tersebut mengundang gelak tawa peserta yang lain. Pemutaran video pun segera dimulai. Saya ajak peserta untuk menyaksikan video dengan seksama dan meresapi setiap kata-kata ibu Najelaa Shihab selaku pembicara dalam video tersebut.  Setelah video selesai diputar, sebagian besar peserta mengungkapkan sedikit kekecewaan. Karena video yang ditayangkan terasa sangat singkat. Mereka butuh lebih banyak penjelasan. Mereka butuh contoh konkrit untuk mewujudkan “Merdeka Belajar”. Mereka menyadari banyak miskonsepsi yang mereka lakukan selama ini. Terlihat dari gerak mulut dan sedikit suara “Oo…” pada saat mereka menonton bagian miskonsepsi. Pada sesi refleksi, saya mengajak peserta untuk kembali mengingat miskonsepsi  yang dijelaskan dalam video. Lalu saya bertanya kepada mereka :” Di antara semua miskonsepsi tadi, mana yang paling menggambarkan diri Anda?”. Beberapa peserta mempunyai jawaban yang sama yaitu belajar perlu insentif eksternal. Sebagai pembelajar Andragogi, guru perlu motivasi yang dianggap menguntungkan secara ekonomi agar mau belajar. Dan melalui forum nonton bareng ini, mereka menyadari bahwa belajar sebagai kebutuhan alamiah. Mereka bersedia hadir mengikuti kegiatan nonton bareng tanpa imbalan insentif ataupun sertifikat. Mereka aktif mengikuti sesi refleksi dan tanya jawab. Tanpa mereka sadar bahwa kegiatan ini juga merupakan suatu pembelajaran. Pak Gunawan, wakil kepala sekolah berkata: “Miskonsepsi yang paling menggambarkan diri saya yaitu beranggapan bahwa kompetensi bersifat individual. Karena karakteristik manusia itu berbeda-beda. Dan pastinya tingkat kompetensinya juga berbeda.” Pernyataan Pak Gunawan ditanggapi oleh Pak Syufri Effendi, guru mapel Bahasa Inggris, “ Saya juga sependapat dengan Pak Gunawan. Apalagi dengan pernyataan bahwa Guru adalah kunci. Saya rasa hal itu  benar. Tanpa guru, maka pendidikan tidak akan berhasil, maka guru adalah kuncinya”. Saya memberi tanggapan terhadap pernyataan mereka. Jika guru adalah kunci, berarti output pendidikan yang dihasilkan menjadi tanggung jawab guru. Jika baik hasilnya, berarti kuncinya baik. Jika buruk hasilnya, maukah guru dikatakan tidak baik? Mereka serempak menjawab.”Tidak!!”. Oleh karena itu, saya ajak peserta untuk bersama memahami miskonsepsi yang selama ini terjadi. Dan berusaha untuk merubah miskonsepsi tersebut. Dalam video dijelaskan bahwa ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen pada tujuan, Mandiri terhadap cara belajar, dan Melakukan refleksi. Sebagian besar peserta setuju dengan pernyataan tersebut. Karena ketiga hal tersebut merupakan kunci menjadi guru yang baik bagi sebagian besar peserta.  Namun ada tantangan di balik pernyataan mereka. Tantangan yang sedikit menciutkan semangat saya untuk melakukan perubahan. Mereka beranggapan bahwa usia merupakan hambatan menuju Guru Merdeka Belajar. Sebagian peserta adalah guru yang sudah mengabdi puluhan tahun di sekolah kami. Mereka mendukung gerakan Guru Merdeka Belajar. Tetapi mereka pesimis dengan kemampuan mereka. Karena usia yang sudah tidak muda lagi. Dan tidak cakap dalam penguasaan IT. Mereka sudah beberapa kali mengikuti pelatihan untuk mengasah kompetensi pedagogik maupun profesional. Hasilnya hanya beberapa yang mereka terapkan dalam proses pembelajaran. Dan akhirnya kembali ke metode pengajaran konvensional. Karena rasa pesimis yang begitu besar. Walau kadar semangat menurun, saya berusaha bangkit. Kembali menyampaikan motivasi bagi mereka. Saya kaitkan dengan pernyataan pembicara dalam video.  Saya harus yakin bahwa ada setitik asa untuk mewujudkan perubahan dalam pola pikir mereka. Salah satu nya yaitu kesediaan mereka untuk hadir dalam forum ini. Dan juga dukungan dari beberapa orang guru baru di sekolah kami. Kehadiran 4 orang guru baru di sekolah kami, membawa angin segar dalam mewujudkan gerakan Guru Merdeka Belajar. Selain karena usia yang masih muda, semangat mereka juga masih menyala. Mereka menyatakan ingin menjadi Guru Merdeka Belajar. Bu Risma Muntia dan Pak Surya Aldi menyatakan kesiapan mereka menjadi Guru Merdeka Belajar. Alasan Bu Risma adalah karena dirinya belum memiliki banyak pengalaman dalam dunia pendidikan, sehingga ingin sekali belajar lebih banyak lagi. Sementara alasan Pak Surya ingin menjadi Guru Merdeka Belajar adalah karena dia ingin siswanya merasakan Merdeka Belajar. Belajar tanpa paksaan. Bu Wahyuni Hasibuan berkata: ”Saya sangat ingin menjadi Guru Merdeka Belajar. Saya akan berusaha membuat teknik mengajar yang menyenangkan. Dan menyelipkan ice breaking di sela-sela pembelajaran. Sehingga siswa tidak jenuh.” Sementara Pak Edy Hermawan menyatakan akan menciptakan suasana kelas yang nyaman, bersih dan indah. Sehingga siswa betah belajar dalam ruangan. Dia juga akan membuat pojok baca di dalam kelas, yang didesain unik dan menarik. Sehingga memotivasi siswa untuk tertarik berliterasi. Mendengar pernyataan dari beberapa guru baru tersebut, sedikit mengubah mindset guru yang lain. Terlihat dari pernyataan Bu Debbie Sukraini yang bertanya  tentang kelanjutan kegiatan ini. Apabila ada forum lanjutan ataupun komunitas penggerak Guru Merdeka Belajar, ia bersedia untuk bergabung. Bu Zulfah Riza juga menyatakan kesediaannya untuk mengikuti forum lanjutan. Dan akan menyebarkan informasi … Read more

Merdeka Belajar dan Passion Guru

Berawal dari kata Remedial. Remedial kali ini tidak mengartikan kekecewaan karena saya harus mengulang, namun menjadikan saya lebih semangat atas dukungan dan energy positif yang diberikan Bapak Ibu Guru dari Komunitas Guru Belajar Makassar.  Remedial kali ini berbeda dengan makna ujian ulang yang saya kenal sejak dulu. Melainkan sebuah simbol, bahwa belajar tidak mengenal kata STOP. Saya dengan segenap keberanian mengajukan jadwal Nonton Bareng Video Guru Merdeka Belajar, tepat pada hari Kamis 8 Agustus 2019 bertempat di Sekolah Lazuardi Athaillah GIS. Kegiatan ini serangkaian dengan jadwal sharing di Sekolah saya sebut saja Teacher to Teacher, hampir semua guru Lazuardi ikut dalam kegiatan nonton bareng. Narasumber dari kegiatan ini adalah Ibu Guru Najelaa Shihab, pendiri Kampus Guru Cikal saat mengisi acara sebagai pembicara di Temu Pendidik Nasional (TPN) 2016. Sebelum pemutaran Video Ibu Guru Elaa dimulai, terlebih dahulu saya sebagai fasilitator sekaligus moderator memberikan pengantar terkait narasumber dan video yang akan ditonton. Antusias teman-teman guru membuat saya harus segera memulai pemutaran videonya yang merupakan acara inti dari kegiatan ini. Setelah video selesai ditonton, saya pun membuka sesi diskusi dengan pertanyaan awal, “Sebenarnya makna kata merdeka itu seperti apa teman-teman?’ Setiap teman guru memiliki persepsi dan jawaban yang berbeda-beda, salah satu nya diungkapkan oleh Pak Guru Nas “Merdeka itu memiliki definisi yang luas, saya pernah mendengar sebuah ungkapan terkait pendidikan di lingkungan Sekolah bahwa Sekolah itu lebih buruk dari penjara, mengapa? Karena seseorang yang terkurung dalam penjara cukup duduk diam saja, tidak sama halnya dengan sebuah sekolah di mana kita terkurung di dalamnya dan membaca buku secara terpaksa dalam hal ini sekolah dengan aneka ragam aturannya”. Ada tiga poin penting terkait ciri guru merdeka belajar, yaitu Guru yang komitmen akan tujuan Guru yang mandiri, yang pada akhirnya berada pada puncak di mana guru yang memegang kendali atas dirinya Guru yang reflektif, guru yang mengevaluasi dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan terkait miskonsepsi yang dipaparkan pada video, kemudian menjadi sesi yang alot kami diskusikan setelah pemahaman kata merdeka sebelumnya. “Cukup bayar saya dengan kopi!” Ungkap salah satu guru. Pak Guru Alamsyah adalah salah satu guru Bahasa Indonesia di Unit SMP, sebelum bergabung dengan Lazuardi hingga saat ini beliau mengelolah salah satu blog yang menampung tulisan-tulisan menarik namun mengkritik ☺. Pak Anca sapaan akrabnya, sangat senang jika diajak menjadi relawan dengan bayaran Kopi plus diskusi, “Saya mengajar bukan karena butuh uang melainkan karena ingin belajar dari pengalaman dan siswa saya nantinya bisa mengingat apa yang telah saya ajarkan, itulah tujuan saya”. Salah satu ciri guru merdeka belajar yang disampaikan oleh Ibu Elaa adalah komitmen akan tujuan. Memang tidak mudah untuk menjadi guru yang komitmen akan tujuan namun yang saya pahami  tentang makna seorang guru yang merdeka belajar adalah guru yang mampu memerdekakan dahulu anak didik di dalam kelasnya. Fasilitas dan sarana belajar yang lengkap belum bisa menjadi indikator seorang anak merdeka dalam belajar, lalu bagaimana dengan anak pelosok? Anak yang tinggal di daerah yang sulit dalam penggunaan teknologi?, pertanyaan saya ini dijawab langsung oleh Ibu Guru dian Ayu “Guru merdeka belajar adalah guru yang menemukan solusi dalam kesulitan!”.  Miskonsepsi yang terjadi di sekitar kita, dirasakan oleh setiap guru  dengan banyak cerita dan pengalaman dalam menghadapinya. Banyak rintangan untuk menjadi seorang guru yang merdeka belajar, bukan hanya guru Karena profesi melainkan guru yang merupakan passion. Passion yang tidak pernah bosan untuk dilakukan, mengorbankan segala hal demi mencapai tujuan mulia, serta tidak pernah memperhitungkan untung rugi yang telah dilakukan. Miskonsepsi yang perlu diberi perhatian lebih agar dapat mewujudkan tujuan dengan sistem pendidikan yang lebih terarah yaitu : Guru cenderung ingin belajar karena adanya dorongan lain (godaan sertifikat, insentif, dan sebagainya). Sebut saja ini profesi guru bukan passion guru. Tidak mengakui kelebihan orang lain, terlebih jika bukan seorang ahli atau tokoh terkenal. Guru dengan “How to” hanya terbatas kepada cara atau teknis. Guru perlu lebih ekstrim dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan esensial dan fundamental. Guru fokus administrasi, seperti Ujian Nasional yang dijadikan alat ukur kecerdasan seorang anak hanya dengan tiga hari pelaksanaan.  Guru yang masih bersifat individualis. Guru merdeka belajar harusnya dapat bekerja dengan tim serta mampu berkolaborasi dalam menyatukan atau menyamakan pendapat. Dari serangkaian kegiatan Nobar ini, saya dan teman-teman dapat menarik kesimpulan bahwa menjadi seorang guru yang merdeka belajar tidak semudah seperti yang dipikirkan. Banyak hambatan dan rintangan yang harus dihadapi. Kami sepakat bahwa cukuplah profesi guru itu disandang sebelum kegiatan ini, sekarang mari sama-sama kita aplikasikan “Guru adalah Passionku dan Passionmu”. Semangat ini akan menjadi pendorong dan motivasi dalam mengembangkan diri dan mandiri demi mencapai sebuah tujuan pendidikan “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”

Guru Merdeka Belajar di Lamongan, Apa Tugas Utama Guru?

Nonton bareng atau umumnya dikenal dengan istilah nobar. Nobar ala Komunitas Guru Belajar Lamongan salah satunya adalah menyaksikan video tentang Guru Merdeka Belajar berisi rekaman Ibu Najelaa Shihab pada Temu Pendidik Nusantara di Oktober 2017. Saya siap mengadakan nobar dan siap menjadi penggerak Komunitas Guru Belajar. Optimis saja meski di nobar pertama, yang hadir hanya saya dan bu Sarah Aulia. Tetapi di nobar kedua ini, alhamdulillah bertambah peminatnya. Alhamdulillah kami berdua tak kenal kata putus asa. Semangat kami bergerak semoga berbuah hasil maksimal. Saya, Anis Choirun Niswah, dari MAN 1 Lamongan. Pada hari Jumat, tepatnya tanggal 21 Juni 2019, jam 13.00, saya mengadakan nobar guru merdeka belajar bersama teman-teman penggerak KGB Lamongan, acara nobar di awali dengan sosialisasi KGB dan dilanjutkan nobar. Kami mengadakan nobar, bertujuan untuk mensosialisasikan Komunitas Guru Belajar, agar kita sebagai pendidik maupun praktisi pendidikan menyebarkan semangat yang lebih untuk terus belajar. Belajar bagaimana memahami pendidikan yang terus menerus berubah seiring perkembangan zaman dan perkembangan teknologi. Kegiatan nobar kali ini dihadiri oleh sebelas orang, alhamdulillah meningkat jumlahnya dari acara nobar guru merdeka belajar pertama kali di Lamongan yang hanya dihadiri oleh tiga orang saja. Sebagai guru pada khususnya, kegiatan guru belajar di Lamongan, masih jarang sekali peminatnya, kalaupun ada tentu kami berasal dari daerah yang menyebar dari berbagai penjuru kecamatan di Kabupaten Lamongan. Pada waktu itu, kami sudah menyebar banner undangan acara sosialisasi KGB Lamongan ini. Acara sosialisasi dan nobar Guru Merdeka Belajar ini dipandu oleh saudari Sarah Aulia dari KGB Lamongan. Meskipun berdomisili di Malang, ia senantiasa menjadi pendukung saya dalam kegiatan KGB ini.  Acara pertama dipandu oleh saudari Sarah Aulia tentang nobar “Apakah KGB Itu dan Kampus Guru Cikal”. Tampak di layar, ada ibu Najelaa Shihab yang sedang bertutur panjang tentang lebar tentang pertemuan guru se-nusantara. Ya Allah, merinding hati ini, ingin juga bisa berjumpa dengan para guru, pendidik, dan praktisi pendidikan yang loyalitasnya tanpa batas.  Acara kedua yaitu sosialisasi dan sharing dari saya tentang bagaimana bergabung ke KGB Lamongan. Keikutsertaan saya menjadi penggerak di KGB Lamongan. Saya mengenal KGB dari salah seorang teman diklat di lingkungan Kemenag. Kemudian saya mencari tahu siapa saja anggotanya, kemudian mata saya tertuju pada sebuah nama dan ternyata dia adalah anak murid saya. Tertariklah saya kemudian saya hubungi dan menanyakan lebih lanjut tentang Komunitas Guru Belajar. Selanjutnya saya menceritakan bagaimana nyamannya belajar di grup guru belajar. Bagaimana mengikuti diklat gratis yang hampir setiap hari dan bagaimana mengikuti diklat online jarak jauh. Meskipun jarak jauh, ilmu yang didapatkan tetap daging kualitas terbaik hal ini dikarenakan para tentor yang ilmunya tak pelit untuk dibagi-bagi dengan tujuan semuanya mendapatkan manfaat terbaik. “Setelah mengikuti nobar ini mengatakan bahwa garis besar dari komunitas ini adalah menyadarkan guru akan tugas utamanya, kemudian adanya momen-momen seperti KGB ini sangat baik untuk guru-guru karena bisa sharing dan hearing, berdiskusi, berbagi cerita, berbagi solusi, menambah tali silaturahmi demi terlaksananya pendidikan yang lebih baik”. Demikian menurut Pak Alif yang mengajar di MTs. Al Hidayah (Lamongan) dan SMA Saudi Nusantara (Solo), yang waktu itu ikut hadir pada nobar setelah melihat banner yang berseliweran di medsos kami.  Baca Juga Merdeka Belajar Bukan Jargon Ibu Lathifa Akmaliyah (Guru MI Thoriqul Ulum) pun mengutarakan kesenangannya mengikuti kegiatan nobar ini. “Dengan mengikuti kegiatan nobar guru belajar, saya bisa mendapatkan pengetahuan baru tentang dunia pendidikan berdasarkan kebutuhan siswa, metode dan cara mengajar yang baik bagi siswa, serta teknik belajar yang benar. Selain itu saya juga bisa sharing dengan teman-teman nobar guru belajar tentang kesulitan-kesulitan belajar siswa yang saya alami berikut solusi dari segala permasalahan yang saya alami selama menjadi guru”. Begitupun dengan Bu Ade Amiroh (SMP Al Amin, Paciran-Lamongan) yang menyatakan rasa bersyukurnya bisa ikut nobar dan meski sedikit kecewa karena tidak sesuai bayangannya sebab pesertanya hanya sedikit. Kenapa hanya sedikit yang datang? Karena tidak semua guru mau bergerak ketika sudah berada pada posisi aman dan sejahtera. Meski demikian, Bu Ade Amiroh tetap bersemangat dan mengaku ingin terlibat dengan Komunitas Guru Belajar ini. Tak ada gading yang tak retak, tetapi bagaimana kita sebagai guru harus membuat diri untuk belajar agar dapat memenuhi kebutuhan murid belajar. Semua murid semua guru, saya sebagai peserta KGB juga sebagai manusia yang bergerak untuk acara nobar dan sosialisasi Komunitas Guru Belajar, senantiasa berdoa agar hari-hari ke depan semakin banyak para guru yang terbuka. Terbuka terhadap perputaran dunia yang tak bisa dipungkiri bahwa pergeseran manfaat itu semakin hilang. Tetapi dengan adanya KGB ini, kami berharap dapat mengembalikan citra pendidikan yang memanusiakan hubungan dan mengerti kebutuhan murid demi murid-murid itu sendiri, salah satunya adalah menjadi murid dan guru yang merdeka belajar. Ingin Tahu Bagaimana Praktik Merdeka Belajar di Kelas? Klik link di bawah ini

Merdeka Belajar, Belajar Tanpa Paksaan

Rabu siang (01/05) kami dari berbagai penjuru kota Cimahi berkumpul di SD Prima untuk melakukan Temu Pendidik Daerah “Nonton bareng merdeka belajar”. Tidak ada kata lelah yang tersirat dari raut muka Bapak / Ibu guru yang hadir meskipun menempuh jarak belasan kilometer dari sekolah tempat mengajar,  karena kami datang berdasarkan kesadaran pribadi untuk terus mengembangkan kompetensi dalam mengajar. Acara TPD Nonton bareng dibuka oleh Guru Suhud dengan menampilkan beberapa gambar unik untuk mencairkan suasana dan  memantik semangat untuk belajar. Guru – guru nampak bersemangat dalam melihat gambar tersebut untuk menjawab pertanyaan yang diberikan. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan penayangan beberapa video yang membahas berbagai masalah di bidang pendidikan, terlihat perubahan raut muka dari beberapa guru hal ini karena permasalahan yang muncul di dalam video tersebut sangat nyata di dalam proses pembelajaran di kelas. Setelah itu kami diberikan beberapa pertanyaan yang harus ditulis di kertas kecil untuk kemudian kami diskusikan bersama. Pertanyaan pertama yang muncul adalah apa itu kemerdekaan belajar ?  Ada yang mendefinisikan, “Merdeka belajar adalah belajar atas dasar kesadaran sendiri dan tanpa paksaan.“ Ada juga yang berpendapat “Merdeka belajar adalah menjalani belajar sebagaimana fitrah manusia, alamiah dan muncul dari internal dari diri sendiri” “ Apakah Ibu dan Bapak guru sudah merasa merdeka belajar? Kalau tidak merasa merdeka belajar tidak perlu ada, datang dan belajar, karena itu resep dasar sebetulnya,” Kata Najelaa Shihab Kalimat tersebut mengawali sesi nonton bareng merdeka belajar, guru – guru nampak membetulkan posisi duduknya untuk fokus memahami kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Bu Elaa sapaan akrab bu Najelaa Shihab. Pertanyaan besar muncul di benak saya, lantas apa itu kemerdekaan belajar ? “Kemerdekaan berarti guru mempunyai komitmen pada tujuan. Guru yang merdeka paham kenapa harus mengajar suatu materi dan kaitannya dengan aplikasi sehari – hari. Guru yang merdeka itu mandiri, selalu bergantung pada dirinya untuk mengatasi tantangan, tidak mudah menyerah menghadapi tantangan atau menyalahkan orang lain dan keadaan. Guru yang merdeka itu reflektif, berani meminta umpan balik secara aktif dan menilai diri sendiri dengan objektif.” kata Bu Elaa, seakan  menjawab pertanyaan di benak saya. Kemerdekaan belajar adalah kunci utama untuk guru – guru bisa meningkatkan kompetensi dan menyelesaikan permasalahan pembelajaran di kelas. Guru tidak menunggu perintah dari kepala sekolah untuk mengikuti pelatihan dan tidak perlu diiming- imingi uang dan sertifikat untuk terus meningkatkan pengetahuannya. “Pada saat kita bicara merdeka belajar, Ibu dan Bapak. Saya tuh selalu terbayang anak – anak. Sebagian besar anak Indonesia itu dunianya hanya sebatas ruang kelasnya, mimpinya hanya terbatas tingginya tangan untuk menjawab pertanyaan gurunya” kata Bu Elaa “Yang kita inginkan adalah anak – anak yang punya aspirasi tinggi, yang punya cita – cita melampaui langit. Melampaui batas ruangan kelas, melampaui batas dunianya. Dan  ini hanya akan terjadi pada saat anak – anak punya kemerdekaan belajar. Tapi kemerdekaan belajar murid – murid hanya akan terjadi pada saat kita sebagai pendidik memiliki kemerdekaan “ lanjut Bu Elaa. Ada beberapa miskonsepsi yang dijelaskan dalam pemaparan video tersebut yang kerap dikaitkan dengan guru yaitu guru hanya mau belajar apabila mendapatkan sertifikat atau uang dan guru belajar dari ahli atau pakar pendidikan, faktanya melalui temu pendidik daerah guru – guru melawan miskonsepsi tersebut dengan belajar secara sukarela dan tanpa paksaan, dan guru belajar dari rekan sesama guru yang sudah berhasil dalam melakukan praktik baik dalam mengajar. Ada tiga ciri utama seorang pendidik yang merdeka belajar yaitu memiliki komitmen, memiliki kemandirian dan selalu reflektif. Hal tersebut sangat esensial bagi guru untuk mendorong semangat mengembangkan kompetensi dan belajar kapanpun dan dimanapun tak terbatas dari seminar atau workshop yang diselenggarakan oleh pemerintah dan kegiatan guru – guru di KGB dilakukan untuk memenuhi kebutuhan belajar guru. Ada beberapa pertanyaan tambahan yang diberikan, dari beberapa pertanyaan yang diberikan terdapat topik hangat yang ingin diselesaikan yaitu mengenai target belajar yang masih dipaksakan dan tuntutan administrasi yang bisa membuat tujuan pendidikan melenceng sehingga guru kerap kali lebih disibukkan perihal masalah administrasi dibandingkan dengan membuat metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Pertanyaan terakhir yang menjadi topik diskusi adalah “Apakah yang ingin teman – teman lakukan bersama Komunitas Guru Belajar (KGB) ? Kemudian diskusi berkembang mengenai tujuan dan nilai – nilai dasar yang melatarbelakangi terbentuknya KGB. Juga berbagai situasi yang dialami KGB khususnya di KGB Cimahi. dan bahasan mengenai KGB Cimahi menjadi penutup dalam TPD Nonton Bareng KGB Cimahi sekaligus menjadi awal bergabungnya Gilang dan saya terlibat sebagai penggerak di KGB Cimahi. Saya harap dapat lebih berkontribusi untuk meningkatkan kemerdekaan belajar guru – guru di kota Cimahi. Karena saya percaya kota Cimahi mempunyai potensi yang besar di bidang pendidikan ini terlihat dari banyaknya sekolah yang terdapat di kota Cimahi serta adanya dua Sekolah tinggi keguruan dan ilmu pendidikan di Kota Cimahi sebagai sumber pencetak guru – guru berkualitas khususnya di kota Cimahi.

Membangun Semangat Melawan Miskonsepsi Belajar dari Sanggau

Minggu, 8 September 2019 dimulai pada pukul 08.00 WIB, merupakan suatu momen yang sangat bermakna dan tak akan terlupakan bagi para guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Belajar Kabupaten Sanggau. Pada hari libur tersebut, tak menyurutkan semangat para guru untuk belajar, memaknai semangat merdeka belajar yang selama ini sering mereka dengar. Komunitas Guru Belajar Kabupaten Sanggau sangat berbangga dan berbahagia karena masuk kedalam list daerah yang menjadi wilayah terkunjungi event Roadshow TPN 2019 oleh tim Kampus Guru Cikal. Pada kesempatan ini, Pelatihan Guru Merdeka Belajar Angkatan I di Kabupaten Sanggau, didampingi oleh ibu Amalia Jiandra dari Kampus Guru Cikal Jakarta, wanita muda yang sangat energik, inspiratif dan memotivasi semangat para guru di Kabupaten Sanggau. Pelatihan GMB Angkatan I ini diawali dengan pembukaan oleh pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sanggau, dalam hal ini diwakili oleh bapak Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sanggau, Drs. Maskun Hamri, MM. Beliau dalam sambutannya sangat mengapresiasi semangat para guru untuk terus meningkatkan kompetensi diri mengikuti pelatihan ini, meski dalam suasana libur. Beliau juga dalam event ini turut berkontribusi mengikuti pelatihan dengan semangat.  Kegiatan Pelatihan ini, diisi dengan berbagai aktivitas yang diikuti dengan antusias dari para peserta pelatihan. Melalui bermain peran, diskusi, presentasi, curah pendapat bahkan beberapa games, yang diikuti peserta hingga selesai atau berakhir pada pukul 15.00 WIB. Pelatihan Guru Merdeka Belajar sendiri adalah upaya untuk memfasilitasi dan menggali informasi dari para guru terkait kebutuhan mereka akan peningkatan kompetensi diri, dan pemahaman mereka terkait Merdeka Belajar. Merdeka belajar sendiri memberikan pemahaman kepada para guru untuk melawan atau menghentikan miskonsepsi belajar yang selama ini banyak terjadi.  Adapun miskonsepsi belajar tersebut adalah Belajar hanya untuk ujian, kendali belajar berada pada pengajar, pelajar mempunyai kebutuhan dan minat belajar yang sama, belajar itu menghafal dan menggunakan rumus, keberhasilan belajar dimulai ditandai dengan nilai angka terstandar dan penilaian belajar sepenuhnya wewenang pengajar, itu adalah 6 (enam) dari miskonsepsi belajar. Selain miskonsepsi belajar, adapula miskonsepsi guru belajar. Miskonsepsi tersebut yaitu Guru belajar menunggu instruksi sekolah/dinas atau mendapat intensif, Guru hanya mau belajar dari pakar dan ahli, guru hanya belajar “how to” bagaimana cara mengajar, Guru berharap belajar bisa instan dan guru bisa belajar sendirian. Melalui Pelatihan Guru Merdeka Belajar ini, diharapkan guru-guru tersadarkan bahwa sudah waktunya miskonsepsi tersebut dihentikan dan diperbaiki menuju arah yang yang lebih baik, tentunya dimulai melalui refleksi diri, sedang berada di tahap apakah kita sebagai guru.  Karena pada hakikatnya Guru Masa Depan yang sangat dinantikan itu adalah guru yang memiliki kesesuaian potensi dan aspirasinya, mengembangkan jalur karirnya, aktif berkolaborasi, terus mengembangkan kompetensi dan tentunya Merdeka Belajar. Di akhir sesi Pelatihan GMB Tahap 1 ini, peserta diminta untuk menilai diri sendiri sudah sampai tahap apakah mereka berada dalam jenjang atau tahapan sebagai guru merdeka belajar jika diidentifikasi dari empat kunci pengembangan guru; yaitu Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi dan Karier. Hal ini berguna untuk mengetahui kebutuhan dasar apa yang diperlukan para guru. Memasuki sesi makan siang, Ketua KGB, ibu Titis Kartikawati beserta para penggerak KGB mendesain kegiatan Pelatihan GMB ini dengan konsep yang menarik. Berlatar di SMAN 1 Sanggau, di sesi makan siang digelar juga galeri kuliner daerah khas Sanggau dengan konsep Makan Berami, menu khas daerah dibawa masing-masing peserta disajikan untuk dinikmati bersama. Kegiatan pelatihan GMB ini berakhir pada pukul 15.00 WIB, para peserta berharap kegiatan pelatihan ini akan tetap berlangsung secara berkelanjutan, karena mereka merasa dengan menanamkan kesadaran merdeka belajar mereka lebih merasa dapat bermakna, berdaya dan berkarya, tentunya dengan semangat kolaborasi yang selalu ada.

Sudahkah Kita Merdeka Belajar?

Komunitas Guru Belajar Makassar mengadakan kegiatan Temu Pendidik Daerah dengan tema “ Merdeka Belajar “ pada Kamis, 20 Juni 2019 di Kafe Temang. Kegiatan  tersebut diawali dengan nonton bareng video narasumber Najelaa Shihab, lalu dilanjutkan dengan diskusi bersama yang dipandu moderator Emi Hardiyanti yang akrab disapa miss Emy.  Acara tersebut berlangsung sejak pukul 16.00 Wita – 18.00 WITA. Miss Emy membuka diskusi dengan kalimat “Sudahkah kita merdeka belajar? lalu bagaimana anak dapat merdeka belajar?” Yang kemudian direspon oleh para peserta dengan cukup antusias.  Salah seorang peserta mengatakan bahwa menjadi guru yang paling penting adalah seorang guru harus merasa merdeka terlebih dahulu karena kalau tidak ada rasa itu dalam diri seorang guru pasti akan menimbulkan kendala. Katanya, saya berkegiatan dengan anak-anak berkebutuhan khusus, dan buat saya kelas reguler dan berkebutuhan khusus sama. Alhamdulillah saya banyak sepakat dengan konsep dari sekolah cendikia  karena dari awal kami telah melaksanakan ujian berbasis oriented. Demikian halnya dengan ibu Nurfadilla, dari SMK YPLP mengatakan mengenai masalah pendidikan. Saya dan beberapa teman saya di Pascasarjana berdiskusi dengan dosen, menemukan ada masalah dalam sistem pendidikan kita. Oleh karena itu, sebagai anak muda yang berusaha ingin menyelesaikan masalah pendidikan yang benar-benar konflik, saya dan teman-teman sedang menyelesaikan proyek konten pembelajaran berbasis psikologi. Jadi kita membuat konten pembelajaran sesuai dengan karakteristik kekuatan pembelajaran anak.  Apa yang menjadi kekuatannya serta apa yang menjadi kelemahannya. Guru Usman Djabbar juga mengatakan bahwa apakah selama ini proses belajar mengajar kita di hari pertama sekolah langsung gas materi?. Jika demikian, saya bisa bayangkan betapa stresnya anak-anak di hari pertama sekolah.  Mengubah pertanyaan anak-anak dari How to menjadi Why. Menurut Usman Djabar, guru merdeka belajar adalah guru yang mampu mengubah pertanyaan How to menjadi why.  Tidak jauh berbeda dengan guru Erni Marlina, guru SMK 7 Makassar, mengatakan miskonsepsi yang harus kita pecahkan di kelas ketika anak terpakem bahwa dia sebenarnya butuh nilai. Kalau guru mampu membangun keyakinan bahwa sebenarnya belajar untuk masa depan maka tanpa disuruh pun mereka akan belajar, tapi yang selama ini terjadi karena mereka akan belajar karena membutuhkan nilai dan hal tersebut yang harus diubah. Riset juga membuktikan bahwa mereka yang unggul secara akademis mungkin susah menyesuaikan diri dengan orang lain kenapa karena mereka cenderung mengabaikan yang lain. Ketika kita menerima rapor jangan melihat deretan angka yang ada di rapor tetapi ketika kita bertanda tangan tutup rapor kemudian berikan apresiasi kepada anak kita. Kenapa karena kadang kita juga orang tua egois selalu mengukur prestasi dari apa yang ada di rapornya. Saya rasa mari kita bersama-sama memberikan sugesti-sugesti positif ini kepada anak-anak kita, kepada orang tua kita dan kepada diri kita sendiri karena kita adalah orang tua  di rumah dan orang tua di sekolah bahwa pendidikan itu atau belajar itu harus terus menerus dilakukan bukan untuk mengejar nilai tetapi bagaimana pelajaran itu kita butuh karena kenapa ? ketika anak-anak merasa bahwa dia membutuhkan pelajaran itu maka tanpa disuruhpun dia akan termotivasi. Saya memberikan contoh salah satu sekolah di Malaysia, sekolah di Malaysia itu terbalik dengan kita. Kalau kita menunggu anak-anak di depan pagar dan segala macam untuk dia menyalami. Sekolah itu justru anak-anak yang menunggu dan menyalami gurunya. Mereka berbaris di depan kelas kemudan menunggu gurunya masuk. Saya sangat merindukan itu apakah kemungkinan suatu saat nanti di Indonesia atau di sekolah kita sendiri bisa terjadi. Guru Luktfi Alam mengatakan bahwa tanpa bertanya saya harapkan adalah bagaimana hubungan guru dan pesera didiknya. Makanya rekan-rekan guru menyiapkan hal yang administratif. Sebagai contoh ; sebelumnya pemerintah mengambil alih kelulusan tetapi tiga tahun belakangan pemerintah telah mengembalikan kelulusan ke sekolah, semestinya pihak guru dan sekolah memahami sebenarnya hal tersebut apa esensinya . Bahwa sebenarnya kurikulum nasional telah memberikan sinyal untuk merdeka belajar contohnya peniadaan rangking, pengembalian kelulusan ke satuan pendidikan dan perangkat-perangkat pembelajaran yang lain, hanya saja pihak guru dan pihak sekolahnya saja yang biasa kurang paham apa sih maksud kurikulum meniadakan ranking? padahal maksudnya adalah bagaimana setiap anak itu semua punya potensi. Apa coba maksudnya pemerintah mengembalikan kelulusan ke satuan pendidikan,, yah pihak sekolah diberikan kemerdekaan untuk mengapresiasi muridnya. Mengapa kurikulum menginstruksikan agar penilaian sebaiknya lebih banyak portofolio itu tidak lain agar penilaian menjadi utuh yg mampu merekam aktifitas pelajar secara komprehensif, Nilai 80 yang dilengkapi dengan narasi dan catatan yang merekam potensi murid lebih bermakna dibanding dengan nilai 95 tanpa keterangan, diam,membisu. Demikian halnya dengan guru Maurensyiah yang akrab disapa Permata Hati guru SMK Darussalam “hal yang pertama kita harus lakukan sebelum memerdekakan anak-anak dalam belajar adalah memerdekakan diri sendiri terlebih dahulu. Bagaimana caranya ? lepaskan beban-beban administratif, perasaan harus sama dengan orang lain, cukup menjadi diri sendiri jika ingin menjadi Guru Merdeka Belajar, karena mengajar itu bukan menyenangkan manusia dalam hal ini kepala sekolah tetapi mengajar bagian dari amanah yang kelak akan kita pertanggungjawabkan di akhirat, jadi mengajarlah dengan ikhlas  untuk memanusiakan manusia”  Diskusi ditutup oleh moderator dengan kutipan dari narasumber Najelaa Shihab “Guru tidak bisa belajar sendiri”-“Ciri Guru Merdeka Belajar adalah Komitmen akan tujuan, Guru yang mandiri, dan Guru yang Bercermin (refleksi)”.  Pendidikan, dalam hal ini pendidikan di sekolah, pada era modern (atau postmodern) ini memiliki tantangan yang lebih berat daripada masa sebelum tahun 2000-an. Pada masa dahulu, seperti masa kita sebagai guru berada pada posisi murid kita, bersekolah adalah bagaimana agar murid dapat melanjutkan pendidikan pada tingkat universitas atau secepatnya mendapatkan pekerjaan selepas sekolah menengah atas. Sekolah menjadi tempat bagi pembentukan, dengan term Althusser, know-how. Sekolah menjadi perpanjangan tangan pemilik modal bagi penyiapan tenaga-tenaga kerja potensial yang kelak akan digunakan oleh pemilik-pemilik modal tersebut melanjutkan nafas perusahaannya. Apakah pada saat ini, di era milenium, peran sekolah sebagai ladang penyemaian bibit-bibit potensial bagi tenaga kerja dalam sistem kapitalistik sudah tidak terjadi lagi?. Sayangnya, hal tersebut masih berlanjut, bahkan lebih parah lagi. Persaingan ekonomi global, terutama pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean, menjadikan sekolah-sekolah semakin giat dalam mereproduksi tenaga kerja dengan spesifikasi keahlian kualitas tinggi. Pertanyaannya, apakah hal tersebut adalah sesuatu yang salah?. Menjawab “ya” atau “ tidak” secara bulat bukanlah jawaban yang pas. Pada kenyataannya realitas adalah campur aduk antara benar dan salah. Kenyataan dunia yang semakin kapitalistik, tidak serta merta diikuti sekolah dengan mereproduksi … Read more